Wah, wah, wah, banyak yang ngamuk ternyata :D *dilempar kursi*

Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena terkesan mengabaikan kalian, readers :( Bukannya saya tidak menghargai kalian–beneran saya nggak berniat begitu sama sekali. Ini gara-gara krisis pulsa, makanya saya susah banget buat bales review Anda-Anda semua :(

Chapter kemarin juga saya upload lewat tablet yang jaringannya lemot abis. Tadinya mau saya upload+balesin review di warnet, tapi komputer warnet nggak bisa buka ffn -_- biasa, internet positif. Jadi, sekali lagi maafkan saya yang sebesar-besarnya *sembah sujud*

Saya kaget banget waktu bacain review di chapter 11 kemarin malam, kebanyakan pada kecewa, ya sama bagian penyakit Karin ketahuan :( Oke deh, untuk yang mau denger (red: baca) penjelasan saya, saya akan jelasin nanti di bawah. Mungkin sekalian bales review juga (untuk yang login maupun tidak) Karena–kalau nggak salah–saya belum bales review dari bab 8 hehehe *nyengir*

Sekarang saya kasih warning deh..


Warning: AU, super duper OOC, alur lambat, SasuKarin, super duper aneh, dll.


BAB 12

Menentukan Pilihan

Sakura sedang duduk di atas kursi meja belajarnya dengan laptop di hadapannya. Kata demi kata tertoreh di layar monitor akibat ulah jari-jarinya yang mengetik keyboard dengan tergesa. Sesekali ia mendesah sambil menekan tombol backspace dengan membabibuta. Sakura memaksakan diri mengerjakan karya ilmiahnya meski perasaannya sedang tidak tenang sehingga konsentrasinya terpecah.

Bagaimana tidak? Sejak tadi sore, setelah Sasuke sampai rumah lebih tepatnya, laki-laki itu bertingkah aneh. Padahal sepanjang waktu mereka bertemu di sekolah, Sasuke masih baik-baik saja. Masih seperti biasanya: poker face, irit bicara, dan juga masih mampu menjawab soal-soal yang guru berikan di papan tulis dengan lancar; Sakura mulai merasakan ada kejanggalan pada tingkah Sasuke sejak ia melihatnya tiba di rumah petang tadi.

Wajah yang biasanya tanpa ekspresi, kini terlihat gurat murung samar-samar. Mulutnya yang jarang bersuara untuk hal-hal yang tidak penting, sekarang malah tambah membisu. Ia bahkan menolak menu makan malam favoritnya dan lebih memilih langsung mengurung diri di kamar. Satu yang paling meyakinkan Sakura adalah Sasuke yang selalu menghindari menatap matanya.

Sakura bertanya-tanya apa yang terjadi sebelumnya? Apa urusannya dengan Choji mengalami masalah? Jujur saja, Sakura belum pernah melihat Sasuke semuram ini, bahkan ketika ia memintanya meninggalkan Karin dulu.

Pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Sakura membenahi alat-alat sekolahnya, memutuskan untuk melanjutkan tugasnya lain kali–setidaknya sampai perasaannya lebih baik. Namun nampaknya kekuatirannya masih akan bertahan cukup lama. Akhirnya, bingung karena belum bisa mengatasinya, Sakura memilih membawa kegelisahannya ke dalam tidurnya. Berharap esok hari akan menjadi lebih baik, meskipun kenyataan tak sesuai harapan.

Sasuke masih terlihat tidak baik-baik saja sejauh Sakura memerhatikan. Masih tetap enggan menatap Sakura ketika dirinya mengajaknya bicara. Kunjungan Itachi beserta istri dan anaknya pun ternyata tak mampu membuat Sasuke–setidaknya–mengulum senyum tipis. Sakura hanya bisa menggeleng lemah menanggapi pertanyaan Itachi melalui isyarat matanya. Di sekolah pun tak jauh berbeda, bahkan sekarang Sasuke terkesan menjauhinya–mengingatkannya akan interaksi mereka dulu yang tidak seperti layaknya interaksi antarmanusia normal. Hanya saja kali ini Sasuke masih bisa menyajikan materi dengan lancar pada diskusi kelompok tentang Hukum Archimedes di kelas.

Sejenak Sakura berpikir untuk menanyakannya tentang ini, tapi ia rasa Sasuke masih butuh waktu.

"Teman-teman, aku ingin ke toilet dulu, ya," Sakura berpamitan dengan teman-temannya ketika mereka selesai makan siang di kantin sekolah.

Tiba-tiba Tenten berdiri, "Biar kutemani, Sakura-chan."

Sakura bisa menangkap maksud yang sebenarnya dari mata Tenten ketika mereka bertatapan. Sakura menghela napas, tak punya pilihan, lalu mengangguk setuju. Dan benar saja dugaannya; ketika Sakura telah selesai buang air kecil, Tenten segera menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah Sakura prediksi.

"Kalian bertengkar? Kulihat Sasuke jadi lebih menyeramkan dibanding biasanya dan dia juga menghindarimu terus!"

"Kami tidak bertengkar sama sekali," jawab Sakura seraya membasuh wajahnya dengan air keran di hadapannya. "Aku juga tidak mengerti. Tiba-tiba saja dia seperti itu."

"Tiba-tiba?" kata Tenten yang dibalas anggukan lemah Sakura.

"Sejak kemarin dia seperti itu. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku khawatir padanya," kata Sakura.

"Aku mengerti, Sakura-chan," Tenten menepuk pelan bahunya. "Mungkin kau harus menanyakannya."

"Tadinya aku juga berpikir begitu, tapi kau lihat sendiri, kan sikapnya bagaimana padaku?" tukas Sakura. "Aku akan memberikannya waktu sendirian dulu, setelah dia membaik aku akan coba menanyakannya."

"Aku harap kalian baik-baik saja," ucap Tenten simpati.

Sakura hanya terdiam; dalam hatinya ia mengamini ucapan Tenten.

Sepanjang hari itu hingga sekolah berakhir, Sakura hanya berusaha mengalihkan pikirannya dari Sasuke dengan sibuk membaca buku atau mengobrol dengan teman-temannya. Walaupun sekarang nampaknya akan terasa semakin sulit tatkala Sasuke kembali beralasan bahwa ada urusan penting yang harus diselesaikannya sehingga ia akan pulang terlambat lagi. Sakura jadi semakin tak mampu membendung rasa penasarannya.

"Kau tidak pulang, Jidat?" tanya Ino ketika mereka hampir sampai di gerbang. "Kulihat tadi Kakashi Sensei sudah jalan duluan."

Sakura memutar otak sebelum akhirnya menjawab, "Kakashi Sensei harus pulang cepat karena ada sesuatu yang harus diurusnya dengan Anko Ba-san, sedangkan aku hari ini mau pergi ke perpustakaan di pusat distrik."

"Kau tak apa pergi sendiri?" tanya Ino. "Aku bisa menemanimu ke sana, Jidat, atau Hinata juga bisa menemanimu. Iya, kan, Hinata-chan?"

Hinata mengangguk, "Iya, Sakura-chan. Kita bisa pergi bersama."

Sakura menggeleng, "Tidak, tidak usah. Aku tahu kalian punya urusan lain, jadi kalian selesaikan saja."

Ino menghela napas, "Ya sudah, hati-hatilah di jalan. Jangan sampai pulang malam, ya."

Sakura membalasnya dengan anggukan serta senyum. Kemudian mereka berpisah di gerbang dan Sakura mulai berjalan menuju halte bersama murid-murid SMA Konoha yang lain; lagi-lagi Sakura kepikiran Sasuke di tengah heningnya hingga ia tiba di tempat tujuan.

Sakura mengambil beberapa buku yang menurutnya dapat mendukung karya ilmiahnya, juga sebuah novel untuk pengisi waktu luangnya. Perpustakaan besar di pusat distrik Konoha ini memang membolehkan seseorang meminjam beberapa buku secara gratis dalam jangka waktu tertentu, asalkan memiliki ID card sebagai tanda bahwa ia merupakan member yang telah terdaftar sebelumnya. Akhirnya Sakura bisa membawa pulang buku-buku tersebut setelah cukup lama mengantri di meja pustakawan. Yah, menjelang akhir tahun ajaran sudah tak mengherankan jika perpustakaan lebih padat dari biasanya.

Sebelum pulang, Sakura mampir terlebih dahulu ke kedai kopi yang paling dekat dengan perpustakaan. Ia berpikir, segelas moccacino dingin bisa membuatnya lebih baik.

-xx-

"Kau bodoh, Karin."

Sasuke meremas jemarinya sendiri seraya menatap gadis berkacamata yang terbaring di ranjang pasien itu. Karin hanya diam; ia memalingkan wajahnya yang basah karena air mata. Hari ini Sasuke baru bisa mengajaknya bicara sebab kemarin Karin masih belum siuman. Sasuke tak bisa menahan kekesalan atas kebodohan gadis itu karena telah menyembunyikannya selama ini.

"Bagaimana bisa kau menyembunyikannya dariku? Kau anggap aku apa selama ini, hah?" suara Sasuke meninggi. "Bagaimana bisa kau membiarkanku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Kau pikir kau malaikat?"

Napas Sasuke memburu, menahan ledakan kemarahannya. Tak hanya terhadap kebodohan Karin, tapi juga reaksi gadis itu yang masih saja memalingkan wajahnya, enggan menatap Sasuke.

Ingatan tentang ucapan dokter yang menangani Karin kembali memenuhi pikirannya.

"Kanker perut atau yang lebih spesifik disebut kanker lambung memang memiliki gejala yang samar-samar sehingga biasanya orang yang sudah terdiagnosa, kankernya telah mencapai stadium lanjut, seperti kasus Uzumaki-san.

"Saya perkirakan Uzumaki-san telah menjalani kemoterapinya sejak beberapa bulan yang lalu. Namun sepertinya, Uzumaki-san juga telah melewatkan kemotrapinya selama beberapa kali secara berturut-turut, yang saya takutkan adalah kankernya akan menjadi lebih kebal terhadap kemoterapi maupun obat-obatan."

Sasuke menggeram dalam hatinya. Apalagi kini Karin yang sedari tadi hanya diam, tak mengucapkan apapun atau–setidaknya–kata-kata penyesalan karena telah berbohong padanya. Berbohong dan juga seenaknya menghakimi dirinya sendiri dengan menghentikan pengobatannya begitu saja.

"Maafkan aku ..." Karin akhirnya bersuara dengan lirih. "Aku hanya ... tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Aku tidak sanggup jika kau tahu tentang ini. Kau adalah salah satu alasanku tetap hidup selain pengorbanan orang tuaku, Sasuke-kun ..."

Sasuke terdiam. Ia tak mampu bereaksi apa-apa, masih terus mendengarkan ucapan Karin dengan seksama.

"Enam bulan ini," Karin meneruskan, "aku berusaha melawan penyakitku melalui kemoterapi dan obat-obatan. Aku bertahan dengan rasa sakit itu, berharap bahwa suatu saat nanti dokter menyatakanku sembuh dan bisa melewati hari-hari bahagia bersamamu lagi sebagai orang yang sehat.

"Tapi waktu kau bilang kalau kau tak ingin bertemu denganku lagi, aku merasa ... inilah akhirnya. Walaupun sempat terlintas di benakku untuk memberitahumu tentang kanker ini agar kau tetap tinggal, tapi aku tetap tak bisa menahanmu jika kau memang sudah tak menginginkanku lagi di sisimu," Karin terisak pelan. "Kau, penyemangat hidupku, telah pergi meninggalkanku dan kurasa ... aku juga merindukan Ayah dan Ibuku. Jadi, kupikir tak ada alasan lagi untukku bertahan."

Sasuke mendekat ke arah ranjang pasien. Kini ia bisa melihat perubahan fisik gadis itu. Pipinya lebih tirus daripada yang Sasuke bayangkan selama ini. Ia sekarang juga mengerti alasan Karin mengubah gaya rambutnya secara tiba-tiba (Sasuke melihat rambut Karin menjadi lebih pendek dan tipis beberapa hari setelah pesta dansa; setelah Sasuke memutuskannya).

Sasuke kini merasa tak sanggup bernapas. Hatinya sungguh tertohok. Bagaimana bisa ia menjadi sebrengsek ini? Ia tak menyangka, bisa-bisanya ia berbahagia (anggaplah seperti itu) dengan orang lain, sementara gadis malang ini–yang masih sangat ia cintai dan ia tinggalkan dengan tega–merana seorang diri. Sekarang ia tak tahu apa yang harus dilakukannya selanjutnya.

Ia bimbang. Lagi.

Sungguh, Sasuke belum pernah dihadapkan dengan masalah seperti ini. Oh, ayolah, ia masih enam belas tahun! Belum banyak pengalaman yang ia dapatkan selama enam belas tahun hidupnya. Jika ia memilih Karin, ia jadi terkesan mempermainkan Sakura. Namun jika ia memilih Sakura, siapa yang akan merawat Karin?

Sasuke marah.

Tetapi ia harus marah pada siapa? Siapa yang harus ia salahkan? Dirinya sendiri? Orang tuanya yang telah menjodohkannya dengan Sakura? Atau Tuhan yang berkuasa mendalangi semua ini?

"Ck, sial!"

-xx-

"Hai."

Sakura mendongak dan langsung mendapati Gaara tengah tersenyum ke arahnya. Otomatis, Sakura balik membalas senyumnya.

"Hai, sedang apa di sini?"

"Tentu saja ingin beli kopi," balasnya. Gaara lalu duduk di kursi menghadap Sakura. "Kebetulan sekali, ya–ah, atau mungkin ini takdir."

Sakura tertawa geli, "Takdir? Apa maksudmu?"

Gaara menyeringai, "Tidak, hanya bercanda. Ngomong-ngomong, kau habis pinjam buku dari perpustakaan?"

"Oh, ya, begitulah," balas Sakura. "Untuk rujukan karya ilmiahku. Apa kau barusan dari sana juga?"

"Ya, bisa dibilang begitu," jawab Gaara. "Kalau tahu kau akan ke sini juga, seharusnya kita pergi bersama saja."

"Yah, mungkin lebih baik begitu," kata Sakura, lalu tertawa. "Coba saja kalau tadi kau meneleponku dulu."

"Ah, aku jadi ingat kalau kita belum bertukar nomor telepon sejak pertama pertemuan kita, Sakura-san."

"Oh, begitukah?" ucap Sakura tak percaya.

Gaara menyambar handphone Sakura yang terletak di atas meja, lalu mengetik sesuatu di sana dan menunggu sesaat. Bunyi dering ponsel lain terdengar; Gaara segera mengeluarkan handphone dari kantung celana sekolahnya dan mengutak-atik miliknya sendiri.

"Simpan nomorku," kata Gaara, menyerahkan ponsel Sakura.

Sakura hanya mengangguk. Kemudian Sakura teringat sesuatu; ia berkata, "Temari-nee tak pulang bersamamu? Apa dia pulang dengan Kankuro-san?"

"Tidak, dia sedang kencan dengan seseorang yang bernama Nara Shikamaru," jawabnya.

Sakura terkejut. Nara Shikamaru? Bukankah dia orang yang sama, yang pernah menjadi guru les dadakan Tenten? Dan orang yang juga adalah teman baik Sasuke?

"Maksudmu anak kelas XII Sains 3 itu? Yang berdansa dengan kakakmu itu, kan?" tanya Sakura penasaran.

Gaara hanya mengangguk. Sakura terperangah. Jadi, mereka benar-benar berkencan? Padahal Temari selalu mengelak jika disinggung tentang itu. Dalam hati Sakura ikut bahagia mendengarnya.

"Sudah lama aku tak mendengar Temari-nee dekat dengan seorang cowok," kata Sakura.

"Ya, dia terlalu sibuk belajar dan mengurus Kankuro yang agak liar itu," jawab Gaara. "Jadi, mana sempat pacaran?"

Sakura terkikik sambil mengangguk. Kemudian Sakura nyeletuk, hanya berniat menggoda Gaara saja, "Kau sudah ada pacar? Menurutku dengan wajah seperti itu tak akan sulit menarik gadis-gadis."

Gaara menaikkan sebelah alisnya, "Tidak. Namun sepertinya ada seseorang yang kusukai."

"Wah, benarkah? Siapa?" tanya Sakura tersenyum.

"Kukira kau mengenalnya," jawab Gaara.

"Masa sih? Hmm, siapa, ya?" Sakura berpikir sejenak. "Jangan bilang kalau itu salah satu sahabatku. Mereka sudah ada yang punya loh–mungkin kecuali Hinata."

Gaara menyeringai. Sekarang Sakura merasa seringaiannya mirip sekali dengan Sasuke.

"Bagaimana jika orang itu ada di depanku?" katanya.

"Eh?" Sakura terkejut. Di depannya? Itu berarti ... Sakura membelalak seketika, baru menyadari apa maksud cowok rambut merah di hadapannya itu.

"Ya, kau," kata Gaara santai.

Sekarang Sakura benar-benar terkejut; pipinya memanas. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ini terlalu mengejutkan. Dan akhirnya Sakura hanya berusaha menganggapnya sebagai lelucon.

"Leluconmu lucu sekali, Gaara-san!" tukas Sakura, tertawa keras sambil memukul pelan bahu Gaara. Ia tak peduli meski pengunjung yang lain menatap heran padanya.

Gaara tersenyum miring, lalu berkata, "Lucu sekali, kan? Yah, yang tadi itu memang hanya lelucon saja. Tapi yang sebenarnya adalah aku tidak menyukaimu; aku mencintaimu, Sakura-san."

Tawa Sakura seketika memudar. Gaara menatapnya lekat; Sakura sedikit salah tingkah karena ditatap seperti itu. Nampaknya ia harus meralat bagian mana yang paling membuatnya terkejut. Ya, bagian inilah yang terlalu mengejutkan.

Sakura tak tahu apa yang ada dalam dirinya sehingga Gaara bisa menyu–oh, salah, mencintainya begini. Bahkan mereka jarang bertemu! Jadi, bagaimana bisa?

Sakura menghela napas. Cowok yang satu-satunya ia cintai hanya Sasuke. Maka dari itu, Sakura harus tetap menolaknya. Walaupun ia sendiri bingung bagaimana mengatakannya.

"Err, Gaara-san, aku tidak–"

"Tak perlu menjawabnya sekarang," potong Gaara. "Aku mengerti ini sangat mengejutkan. Aku akan menunggumu."

"Ti-tidak, bukan begitu, Gaara-san," kata Sakura cepat-cepat. "Aku ... sudah punya orang lain yang kusukai."

Gaara terlihat terkejut sedikit, tapi ia tersenyum, "Tak masalah. Aku hanya tinggal membuatmu beralih menyukaiku saja."

Sakura menggigit bibir bawahnya. Ternyata sekarang terasa lebih sulit daripada Naruto dulu. Ia tak ingin gegabah dengan menunjukkan cincin kawinnya lagi. Semakin banyak yang tahu, semakin berbahaya. Lagipula Sakura sudah pernah berbohong padanya tentang cincin itu.

"Dengarkan aku, Sakura-san," kata Gaara tiba-tiba dengan wajah paling serius yang pernah diperlihatkannya pada Sakura. "Apapun alasan yang akan kau berikan untuk menolakku, aku tak akan menyerah begitu saja."

Sekarang Sakura tak bisa memastikan apakah ia sedang dalam masalah besar atau tidak.

-xx-

Sasuke berjalan pelan dari garasi menuju pintu utama kediaman Uchiha. Wajahnya tak pernah terasa sekaku ini, selain karena angin yang membuat wajahnya kebas, pikirannya yang kusut juga ambil andil. Sasuke bahkan sampai susah menggerakkan mulutnya sendiri ketika hendak membalas sapaan Obito yang berpapasan dengannya di jalan setapak menuju pintu utama. Laki-laki itu hanya tersenyum di sudut bibirnya melihat tingkahnya; Sasuke tak terlalu peduli. Ia langsung melihat Itachi dan Sang Ayah setelah melewati pintu. Mereka berdua tengah berbincang mengenai–sejauh yang ia dengar–perusahaan dengan secangkir teh di atas meja yang uapnya masih mengepul. Seluruh perhatian langsung tertuju padanya; Sasuke bergumam aku pulang, ber-ojigi pada keduanya cepat, lalu segera melesat menuju kamarnya.

Sasuke menjatuhkan badannya ke atas ranjang besar yang telah menjadi alas tidurnya sejak ia berumur tiga belas tahun. Menghela napas panjang beberapa kali, berharap semoga pikirannya menjadi lebih jernih–walaupun ia tahu itu percuma. Wajah Karin, Sakura, Itachi, dan kedua orang tuanya berseliweran di benaknya beserta bayangan-bayangan mengerikan yang suatu saat bisa saja terjadi.

Selagi ia menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan selanjutnya, Itachi tiba-tiba muncul dari ambang pintu. Sasuke segera menutupi wajahnya menggunakan bantal. Sesungguhnya ia sedikit waswas, kalau-kalau Itachi hendak menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ia hindari. Kemudian Sasuke bisa menebak Itachi telah berada di dekatnya; ia bisa mengendus parfum Itachi.

"Hey, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

Tuh, kan! Sasuke membatin. Sekarang Sasuke tak tahu apakah bisa mengelak atau tidak.

"Hn, tak ada apa-apa," setidaknya ini pertahanan awal, meskipun Sasuke tahu–

"Kau tak bisa membohongiku, Sasuke,"–percuma saja.

Sasuke enggan menimpali lagi, itu bisa memancing pertanyaan-pertanyaan mendesak lain keluar dari mulut kakaknya. Walaupun sebetulnya ia juga tahu, diam ataupun bicara tak akan ada bedanya. Itachi tetap akan bertanya sampai Sasuke mau buka mulut.

Sasuke kini merasakan tekanan di sisi lain kasur, pertanda Itachi telah menempatkan dirinya di sana. Ia sebal karena Itachi merenggut bantal dari wajahnya dengan paksa.

"Apaan sih, Nii-san!" tukasnya kesal.

"Kau yang apaan, Sasuke. Sejak pagi kau bertingkah tidak seperti biasanya," balas Itachi.

"Memang biasanya aku bagaimana? Aku memang begitu dari dulu," Sasuke kembali mencoba mengelak dengan tetap memasang tampang datarnya seperti biasa.

Itachi mendecak pelan, "Kau kira kau sedang bicara dengan siapa, hah? Jangan harap kau bisa membodohi kakakmu."

Ya, aku tahu itu, baka aniki! Sasuke tak pernah berniat membodohi atau membohonginya. Sama sekali tidak. Ia hanya butuh–sedikit–waktu untuk merenung. Merenungi segala konsekuensi yang akan ia tanggung nanti.

Keheningan melanda. Sasuke bersyukur dalam hati karena kakaknya tak mendesaknya lagi untuk bicara. Yah, setidaknya untuk saat ini. Sasuke tidak tahu harus mulai dari mana dan bagaimana mengatakannya. Ia tak tahu apakah Itachi akan mendukungnya atau tidak.

"Nii-san," gumam Sasuke kemudian. Ia tak akan tahu sebelum ia mencoba.

"Hn?" balas Itachi. Laki-laki itu kelihatan penasaran sekali, tetapi enggan mendesaknya.

"Kalau aku berbuat kesalahan, apa yang akan kau lakukan?"

Sasuke berkata dengan hati-hati. Ia masih bingung memulai dari mana sehingga kalimat itulah yang bisa ia suarakan saat ini. Selain itu, ia juga penasaran pada jawaban Itachi.

Itachi memandang penuh selidik padanya, tapi ia menjawab, "Tentu membantumu memperbaikinya."

"Kalau aku tidak berniat memperbaikinya?" tanya Sasuke lagi.

Sekarang Itachi mengerutkan dahinya samar. Nampaknya keheranannya bertambah besar. Kendati begitu, Sasuke tetap menunggu jawaban dari kakaknya dengan sabar sekaligus waswas.

"Aku akan membencimu," jawab Itachi setelah beberapa saat.

Sasuke menegang dalam diamnya. Namun ia tetap mempertahankan ekspresi wajah dan posisi tubuhnya. Ia cukup terkejut dengan jawaban kakaknya. Apa Itachi akan benar-benar membencinya jika suatu saat Sasuke berbuat kesalahan fatal? Apa Sasuke akan kehilangan kakak yang disayanginya jika nanti pilihannya jatuh pada Karin? Apa ia siap dibenci Itachi dan–mungkin–juga keluarga besarnya?

Sasuke merasa perutnya mual.

"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?" tanya Itachi.

"Aku tak bisa memberitahumu sekarang," balas Sasuke pelan, kepalanya ia tundukkan.

Itachi juga memiliki kisah yang sama sepertinya. Awalnya Sasuke pikir semuanya akan berjalan baik-baik saja, tapi nasib baik enggan berpihak padanya. Ia kembali memikirkan segalanya. Ia sekarang baru menyadari bahwa tak semua berjalan sesuai keinginannya.

Ia dan Itachi berbeda. Sakura bukanlah Konan, dan Karin bukanlah Inuzuka Hana.

Dan ketika ia mendapati Itachi keluar dari kamarnya dalam diam, Sasuke sadar bahwa akhir kisah mereka juga berbeda.

Pada akhirnya Sasuke juga harus mencari jalan keluarnya sendiri. Namun bukan seperti yang kakaknya lakukan, Sasuke tak seberuntung itu. Maka dari itu, Sasuke harus melakukannya, dan ia harus siap menanggung segala konsekuensinya. Sakura pastilah membencinya, begitu pula kedua orang tua Sakura. Dan tak menutup kemungkinan orang tuanya dan Itachi juga membencinya, tapi Sasuke yakin suatu saat mereka pasti mengerti posisinya.

Malam itu, Sasuke telah mengambil keputusan bahwa ia akan merawat Karin sampai sembuh.

Maafkan aku...

Sakura...

-xx-

Sakura keluar dari kamarnya saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Ia mendapati semua anggota keluarga telah duduk di kursi masing-masing untuk sarapan–kecuali Sasuke. Menoleh ke belakang sejenak, ke arah tangga yang lenggang tanpa menunjukkan tanda-tanda Sasuke akan melewatinya. Sedetik Sakura berpikir untuk memanggilnya, tapi ia urungkan. Akhirnya ia memilih melanjutkan langkahnya menuju dapur.

"Ohayou, minna-san!" sapa Sakura sambil mengambil tempat.

"Ohayou, Sakura-chan," balas Ibu mertua dan kakak iparnya, sedangkan Ayah mertua dan Itachi hanya tersenyum tipis.

Aneh. Sudah lima menit berlalu, yang Sakura lewati dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Itachi dan Mikoto mengenai Sasuke yang tak kunjung turun dari kamarnya. Sejujurnya, Sakura telah merasa tidak tenang sejak ia bangun tidur. Awalnya ia pikir itu hanya karena mimpi buruknya semalam, tapi mengetahui Sasuke tak memunculkan batang hidungnya hingga saat ini, Sakura menjadi tambah gelisah. Apa mimpi buruknya semalam berhubungan dengan ini?

"Biar kucoba tengok dia di kamarnya," ujar Itachi mengambil tindakan. Wajahnya terlihat mengeras dan kaku, seakan merasakan kejanggalan yang sama seperti Sakura.

Namun baru saja Itachi melancarkan satu langkah setelah bangkit dari duduknya, Sasuke muncul. Ekspresinya masih sama seperti kemarin, tapi Sakura tak mengerti mengapa Sasuke tidak memakai seragam sekolah.

"Kau tidak pergi sekolah?" tanya Itachi. "Dan untuk apa koper itu?"

Sakura segera mengalihkan fokusnya ke koper sedang yang berada di sebelah kaki Sasuke. Apa yang akan Sasuke lakukan? Sakura bertanya-tanya dengan cemas.

"Sasuke-kun, ada apa ini sebenarnya?" Sakura bertanya, ia berusaha menekan nada penasaran yang bisa saja keluar dari pita suaranya tanpa terkendali.

Sakura sekarang merasakan hawa tegang yang melanda ruangan itu. Sasuke telah menempati kursinya, duduk dengan kaku seraya menatap semua orang yang ada di sana, kecuali dirinya. Kecurigaan Sakura sejak kemarin kini bertambah besar. Mikoto dan Konan menatap bingung sekaligus khawatir–kurang-lebih sama seperti Sakura. Berbeda dengan mereka, Fugaku dan Itachi menatap tajam Sasuke, menuntut penjelasan.

"Jelaskan ada apa ini sebenarnya, Sasuke," suara tegas dari sang kepala keluarga memecahkan keheningan.

"Aku ingin menyudahi pernikahanku dengan Sakura."

Sakura merasa seperti dirinya disambar petir. Jantungnya terasa berhenti dua detik, lalu berdegup lagi dengan lebih keras dari sebelumnya.

"Ap-apa maksudmu, Sasuke-kun?" tanya Sakura, masih tetap berusaha mengendalikan nada bicaranya. "Jangan melawak di hari sepagi ini."

Nampaknya yang lain memutuskan diam, menunggu kelanjutan dari ucapan Sasuke, meskipun Ibu mertuanya menutup mulut dengan tangannya karena shock.

"Aku tahu ini terlalu terlambat dan mengejutkan untuk kalian, tapi ..." Sakura melihat Sasuke mengerlingnya selama setengah detik, "... aku punya kekasih lain dan setelah sejauh ini, aku sadar aku tak bisa meninggalkannya."

Sakura tak sanggup berkata-kata, bahkan bernapas pun rasanya sulit sekali. Jadi, selama ini Sasuke membohonginya? Sakura langsung merasakan matanya memanas. Ia tak tahu–dan tak ingin tahu bagaimana reaksi yang lain atas pernyataan Sasuke.

"Apa yang kau katakan, anak bodoh?" seru Itachi. Sakura bisa merasakan kemarahannya, meski ekspresinya datar seperti biasa.

"Aku telah bersamanya sejak lama. Maafkan aku karena tidak pernah mengenalkannya pada kalian," Sasuke mengatakannya dengan begitu enteng.

Sakura benar-benar tak mampu mengeluarkan suaranya di saat begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang hendak ia lontarkan. Lebih dari itu, ia malah tak bisa menahan lelehan air matanya. Sasuke hanya mempermainkannyakah? Kata-katanya selama ini bahwa ia akan berusaha menerima Sakura sepenuhnya hanyalah omong kosong? Atau Sasuke memang tak pernah memutuskan Karin sejak awal?

Ini terlalu mengejutkan hingga Sakura pun tak mampu mengeluarkan kemarahannya.

"Sasuke, kau tak tahu apa yang kau bicarakan ini?" kini Fugaku mengeluarkan tanggapannya. Pria itu menatap Sasuke semakin tajam.

"Aku tahu persis apa yang sedang kubicarakan ini, Tou-san," jawab Sasuke tanpa gentar.

Laki-laki bodoh! Tahukah kau betapa hancurnya aku? Sakura membatin pilu seraya menahan isakkannya. Ia bahkan baru menyadari Konan yang tengah menggendong Konohamaru sudah berada di belakangnya, mengusap-usap punggung dan pundaknya.

"Konan, temani Sakura ke kamarnya, biar aku dan Fugaku yang menyelesaikan ini," Ibu mertuanya berkata dengan suara bergetar.

"Sakura, ayo kita pergi," ujar Konan menariknya bangkit.

Sakura hanya mengikutinya dengan hampa. Badannya sudah lemas, ia hampir tak sanggup berdiri. Hanya sakit di dadanya yang terasa sampai menusuk sendi-sendi tulangnya. Sakura sudah tak bisa menahan isakkannya yang semakin mendesak sehingga ia mengeluarkannya saat itu juga. Di dalam kamarnya. Di pelukan Konan. Konohamaru pun ikut menangis, seakan mengerti terhadap situasi saat ini.

-xx-

"Kenapa baru kau katakan sekarang setelah semuanya terjadi?" Ayahnya berkata tajam yang langsung menusuk hati Sasuke.

"Aku berencana mengenalkan Karin pada kalian saat aku sudah tujuh belas tahun ..."

Sasuke bisa mendengar kakaknya mendengus sambil bergumam, "Jadi, namanya Karin."

"... dan sekaligus mengajaknya bertunangan, tapi aku tak pernah menduga perjodohan itu akan terjadi," lanjut Sasuke lantang. Ia tidak boleh dan tidak akan ragu lagi.

"Apa kau tak memikirkan Sakura, Sasuke-kun?" tanya Ibunya dengan tatapan terluka.

"Dia sudah mengetahuinya sejak lama, Kaa-san."

"Apa?" kata Ibunya tak percaya.

"Bahkan sebelum perjodohan ini diberitahukan," lanjut Sasuke. "Aku memang bersalah karena telah menyakiti Sakura, tapi aku tak punya pilihan."

"Oh, tentu kau punya pilihan," sahut Itachi. "Putuskan dia, minta maaflah pada Sakura!"

"Tidak bisa, Nii-san!" seru Sasuke.

"Kakakmu bisa. Kenapa kau tidak?" tukas Ayahnya.

"Jangan samakan aku dengan Nii-san!"

"Jangan berteriak pada Ayahmu, Sasuke!" tegur Ibunya.

Oke, kali ini Sasuke khilaf. Sasuke menarik napas panjang sebelum akhirnya berucap lagi.

"Dia sakit," kata Sasuke. Ia memberikan jeda sejenak, tapi Itachi maupun kedua orang tuanya tak menyela. Jadi, ia melanjutkan, "kanker lambung stadium lanjut."

Semuanya membisu. Nampaknya hal ini menjadi skak mat bagi ketiganya. Uchiha memang terkenal dingin dan minim ekspresi, tapi bukan berarti mereka tidak berperikemanusiaan.

Karena semuanya diam, Sasuke kembali melanjutkan, "Aku juga baru mengetahuinya kemarin dan itu membuatku putus asa."

"Tapi, bagaimana dengan Sakura?" tanya Ayahnya. "Bagaimana dengan orang tuanya yang anaknya kau sakiti?"

"Aku sudah memikirkannya," jawab Sasuke. "Sakura sehat dan ada orang tua yang menjaganya. Aku pun siap jika mereka membenciku."

"Bukan hanya kau saja, tapi juga kami yang akan mereka benci, Sasuke," balas Ayahnya.

"Persahabatan kalian tak ada hubungannya dengan masalahku dan Sakura," kata Sasuke. "Aku akan menjelaskannya pada mereka."

Itachi mendecih pelan, "Kau mengatakannya dengan sangat mudah," lalu berlalu dari sana dengan gusar.

Pandangan Ayahnya teralihkan ke koper yang ia bawa. Kemudian Ayahnya berkata, "Jadi, kau mau pergi dari sini?"

"Itu yang kupikir terbaik untuk saat ini," jawabnya. "Karin yatim piatu. Hanya aku yang bisa diandalkannya."

Ibunya segera menyambung, "Sasuke-kun, jangan pergi!"

"Pergilah kalau kau ingin pergi," kata Ayahnya segera.

"Apa?" Ibunya memandang Ayahnya tak percaya. "Tidak, Sasuke tidak boleh pergi!"

"Tapi selesaikan urusanmu dengan Sakura," sambung Ayahnya. "Jangan hanya meninggalkannya begitu saja seperti laki-laki pengecut."

Sasuke menelan ludah, "Sakura akan menjadi urusanku, tapi biarkan dia tinggal di sini selama orang tuanya belum kembali."

"Tentu saja," balas Ayahnya. "Dan kekasihmu itu sepenuhnya tanggungjawabmu. Jangan pernah berharap aku mau membantu pengobatannya."

Sasuke sedikit terhenyak. Memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk pengobatan Karin jika sewaktu-waktu jatah yang diberikan paman angkat Karin habis. Namun akhirnya Sasuke menjawab, "Ya. Aku akan mencarinya sendiri," meskipun sebetulnya ia belum punya rencana apa-apa tentang itu.

Sasuke sedikit tak tega melihat Ibunya meraung atas kepergiannya. Tapi ia harus. Beruntung Ayahnya masih membolehkannya membawa motornya. Dan hal yang harus dipikirkannya saat ini adalah cara bagaimana mendapatkan uang untuk pengobatan Karin sekaligus untuk kelangsungan hidupnya.

Oh, mungkin permasalahannya dengan Sakura juga patut dipirikan.

-xx-

Beberapa belas meter dari jalan raya yang Sasuke lalui, tampak seorang laki-laki berjaket hitam yang kepalanya ditutupi tudung jaketnya, memerhatikannya sambil menyeringai.

Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya, hendak menelepon seseorang.

"Bagaimana?" tanya seseorang di seberang sana.

"Sukses," jawab laki-laki itu senang, seringaiannya lebih lebar dan nampak jahat.

"Awasi terus sampai tiba saatnya aku yang ambil peran," perintah seseorang itu lagi.

"Tentu."


A/N:

Oke, kita mulai...

Kebanyakan pada minta saya buat bikin Sasuke cemburu geliat Sakura sama cowok lain, tapi sebetulnya saya nggak ada rencana buat itu di fic ini. Terus juga banyak yang minta saya buat nonjolin chara lain, tapi sekali lagi, saya nggak ada rencana buat itu. Dan lagi, banyak yang beranggapan kalau "rumit/complicated" itu harus melibatkan banyak chara, tapi menurut saya tidak.

Karena apa?

Sasuke itu–jelas–masih mencintai Karin. Jadi, saya nggak akan bikin Sasuke semudah itu berpaling ke Sakura, apalagi di sini SasuKarin udah bersama sejak lama, dan pribadi Karin yang saya buat–dengan usaha keras–dewasa pasti mau nggak mau membuat Sasuke klepek-klepek sama dia *ceileh* Meskipun sekarang Sasuke udah mulai ada rasa simpati dan rasa ingin melindungi ke Sakura, tapi tetep aja, kan, yang namanya cinta pertama susah dilupakan?

Saya tahu Sasuke terkesan plin-plan di sini–saya akui itu. Tapi saya berpikir kalo itu wajar untuk anak16 tahun. Enam belas tahun, pengalaman apa yang mereka dapet di umur segitu? Palingan cuma pacaran, main, belajar, sahabat, dihukum guru, dll. Yah, meskipun karakter Sasuke di Naruto Shippuden itu memang dewasa (terlalu dewasa malah), tapi kembali ke genre fic ini, AU. Alternate Universe. Kalian pasti menganggap Sasuke saya buat OOC (ya, memang bener), tapi pikirkan lagi apa yang akan anak ABG (seperti Sasuke di fic ini, dan mungkin seperti readers juga) pikirkan dan lakukan jika dihadapkan dengan persoalan yang seharusnya terjadi pada orang dewasa seperti konfilk fic ini? Saya membuat fic ini lebih real (seperti kehidupan nyata sehari-hari), makanya saya gak akan bikin protagonis saya–siapapun itu charanya menjadi mary sue/gary stu, cerita/konfliknya pun gak akan saya buat super rumit kayak sinetron.

Sasuke akan tetap saya buat seperti ini, dingin, irit bicara, pemikir, tapi cepat goyah kalo berhubungan dengan orang-orang penting dalam hidupnya. Dan Sakura juga tetap seperti yang saya buat. Tapi tenang aja, saya nggak akan bikin Sakura jadi cewek lemah yang hanya bisa meratap :) Dan juga, saya mau coba buat plot twist yang bagus dan mengejutkan. Doakan saya semoga berhasil ^^

Oh ya, banyak juga yang pada minta saya bikin Sasuke menderita sebagai balasan atas sakit hati Sakura :D Menurut saya nggak perlulah karena Sasuke juga udah sangat pusing dan menderita mikirin Karin dan Sakura yang nggak bisa dia tinggalkan begitu saja XD

Kemudian soal chara lain yang dituntut untuk saya tonjolkan lebih lanjut. Sebetulnya saya kurang tahu "chara lain" yang kalian maksud itu siapa. Apakah Karin dan Gaara? Atau Obito? Atau siapa? *sorry, gagal paham* Tapi siapapun itu, saya sebetulnya gak mau buat itu karena di sini saya pakai 3rd POV tunggal (Sasuke dan Sakura). Saya memfokuskan pada sudut pandang orang ketiga/pengarang HANYA pada seluruh indera, perasaan, dan pikiran Sasuke/Sakura saja. Walaupun di bab 7 ada satu scene tentang Karin dan Tobi, tapi itu hanya sebagai clue kecil aja kok, sedikit petunjuk untuk konflik utama di bab-bab akhir nanti. Jadi, jelas dong, Sasuke/Sakura nggak akan tahu kejadian lain, SELAIN yang mereka lihat, dengar, dan ketahui. POV yang aku pake ini terinspirasi dari novel Harry Potter ^^

Lalu untuk soal "rumit/complicated" seperti judul fic ini. Menurutku kerumitan suatu konflik dalam cerita nggak harus selalu melibatkan banyak chara. Lihat? Hanya SasuSakuKarin aja menurutku udah cukup. Aku gak mau cerita ini berasa kayak sinetron-sinetron yang plot awalnya aja yang bagus, tapi ke sananya nambah nggak jelas -_- Mungkin suatu saat ada yang bilang Gaara hanya menjadi "peran nggak kepake" di sini, tapi nggak akan kok karena saya berniat bikin sequel fic ini, dan fokus triangle love di sana adalah SasuSakuGaa. Baru niat loh, walaupun saya sudah punya gambaran ceritanya XD

Dan untuk yang bilang kalo saya ini SUPER KARIN CENTRIC, maaf saja, saya BUKAN fans Karin kok, saya fans trio Sharingan: Sasuke, Kakashi, dan Itachi! *hebring sendiri XD*

Oh ya, banyak yang nanya juga sampe berapa chapter fic ini. Saya nggak tahu tepatnya, tapi mungkin nggak akan lebih dari dua puluh chapter kok :) Kebanyakan menebak fic ini bakalan sampai lebih dari dua puluh chapter, malahan ada loh yang bilang seratus XD Mungkin karena saya membuat alurnya lambat. Bosenin, ya? Yah, terserah sih. Saya akan tetap konsisten dengan jalan cerita dan plot seperti ini, apalagi chapternya udah sejauh ini. Dan sekali lagi, saya nggak ada niat mengabaikan review kalian, saya sangat menghargai itu. Sejauh ini pun saya sudah berusaha memperbaiki beberapa hal yang saya rasa perlu diperbaiki. Maaf (lagi) kalo masih jauh dari harapan *sembah sujud lagi*

Saya membuat dan melanjutkan fic ini sampai tamat nanti atas keinginan dalam hati saya dengan bonusnya keinginan readers yang masih sudi mendukung kelanjutan fic ini ^^ Kalo nggak suka, monggo klik back or close di laman browser Anda ^^

Nah, sekarang ngerti, kan? Kalo mau ngerti, ya alhamdulillah. Kalo nggak mau, ya no problem :) Saya serahkan kepada Anda semua ^^ Saya nggak merasa benar, tapi saya memang nggak salah kok hahaha :D

Ngomong-ngomong, ini A/N terpanjang yang pernah saya tulis hihihi :D


Semoga chapter ini tidak mengecewakan, dan juga semoga feelnya dapet karena sebenernya saya kurang jago mengungkapkan perasaan yang campur aduk ke dalam kata-kata ^^

Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua yang memuji dan masih mendukung cerita aneh ini *tebar kiss* Maaf juga karena balesan reviewnya gak nyebutin username/penname kalian masing-masing. Tapi semua yang saya tulis di atas sudah menjawab semua pertanyaan kalian, kan?

Sekali lagi terima kasih, dan sampai ketemu di chapter depan ^^