Harry Potter © JK Rowling

The Standard You Walk Past © bafflinghaze

.

CHAPTER 12

.

Harry melihat saat Teithwr terbang rendah dan mendarat di depan Draco. Draco mengambil suratnya dari cakar Teithwr dan memberinya senyum sayang. Teithwr balas mendekut sebelum meninggalkan mereka hanya ditemani para peri rumah.

"Bagaimana?" tanya Harry.

"Surat dari Mother dan Father," jawab Draco bimbang.

Harry hanya bisa menahan diri untuk diam sebentar saja. "Dan?" Ketika Draco tak menjawab, dia bergerak-gerak dan maju mendekati Draco. Draco balas menyenggolnya.

Harry mencoba untuk bersabar, tapi… "Bagaimana?"

Draco menoleh padanya, dengan ekspresi suram di wajah. "Harry, kau harus mengerti…"

Harry merasa perutnya jatuh.

"Orangtuaku, untungnya, menerima hubungan kita," lanjut Draco, dengan nada serius yang sama.

Harry berkedip. Lalu, dia berkedip lagi. Draco balas menatapnya.

"Kau—" Harry menerjang Draco, memeluknya di pinggang. "Hampir saja membuatku kena serangan jantung."

Draco tergagap saat dia setengah runtuh ke atas meja, tapi hampir dengan segera, Harry merasakan dada Draco bergetar saat dia mulai tertawa.

"Merlin, harusnya kau lihat wajahmu tadi!" kata Draco, di antara tawanya.

Harry memeluknya lebih erat, berniat untuk memeras badan atas Draco sepenuhnya. "Tidak lucu," rengutnya.

Tatapan Draco menusuknya. "Tidak, itu cukup lucu." Dia menggelengkan kepalanya takjub. "Kau tahu bahwa Mother menyukaimu, kan? Saat di rumah Andromeda." Draco menggeliut di lengan Harry, memaksa Harry untuk melemahkan cengkeramannya. Bukannya Harry mampu terus meremasnya sih, wajahnya sendiri hampir tergencet sisi tubuh Draco.

"Aku tak bisa membaca isi pikiran ibumu," gumam Harry.

"Hmm." Draco menepuk-nepuk kepalanya. "Kalau begitu percayalah pada kata-kataku, Potter. Beliau menyukaimu, tak usah khawatir soal Father. Well, mungkin kau harus sedikit khawatir."

Harry merengut, baru sekarang mengingat Lucius Malfoy. "Well, kalau kau bilang begitu," kata Harry pelan-pelan.

Draco bergumam, dan dialah yang memecah keheningan. "Kau ini tukang peluk, ya?" katanya, dengan nada polos yang terlalu-penasaran.

Harry menggerutu, tapi tidak bergerak untuk memisahkan dirinya dari Draco. Dalam keheningan yang mengikuti kata-kata Draco, Harry berpikir betapa nyamannya melakukan hal seperti ini—berada dekat dengan seseorang tanpa membutuhkan kata-kata.

Draco menepuk-nepuk kepalanya lagi. "Harry Potter sungguh manis," katanya enteng. "Aku percaya bahwa bentuk animagus-mu pasti seekor binatang yang sangat kecil dan enak dipeluk."

Harry memutar mata. "Dan bentukmu pasti seekor burung merak yang suka berkotek, sangat berisik dan sangat menjengkelkan."

Draco bergidik. "Merlin, tidak. Kau tak tahu saja betapa merak senang melukaimu. Dan mereka sangat territorial. Aku tak bisa pergi ke kebun tanpa Father, karena mereka akan menyerang orang-orang lain."

Kali ini giliran Harry yang menepuk-nepuk kepala Draco. "Aww, Dwaco yang malang," senandung Harry. "Apakah merak nakal besar membuatmu terluka?"

Dan kali ini giliran Harry yang tertawa pada ekspresi terhina Draco.

xxx

"Draco," kata Harry, tidak mau melepaskan lengan baju Draco. Dia tak akan membiarkan Draco untuk membuatnya menghadapi Slughorn sendirian. Cara Draco tersentak mundur ke lengan Harry cukup lucu dan Harry mencuri pelukan sebentar.

Draco menegak dengan segera dan menatap langit-langit. "Ya, Harry?" katanya, dengan suara yang paling sedih.

"Jangan tinggalkan aku," bisik Harry. Dia mengerling koridor dan, tepat waktu, Slughorn muncul di tikungan.

"Ramuan berusaha menangkapmu lagi ya?" tanya Draco.

Harry mengangguk dengan serius. "Ya, ramuan dan Slughron. Keberadaanmu dan bantuanmu diperlukan demi keamananku. Sebagai Penyelamat Dunia Sihir, aku menghendaki bantuanmu."

Draco mendengus dengan tidak elegan, tapi dia tak pergi dari sisi Harry. Akan tetapi, dia menjentik dahi Harry. "Aku mengerti, Scarhead."

"Hanya perasaanku, atau kita memang selalu ada pelajaran Ramuan ganda tiap Senin pagi?" gerutu Harry.

Jawaban apapun yang hendak Draco utarakan terpotong saat Sughorn menghampiri Harry dengan langkah besar dan menepuk bahu Harry.

"Harry, kau melakukan dengan sangat baik pada tugasmu yang sebelumnya," kata Slughorn sambil tersenyum lebar.

Harry mengintip Slughorn. "Terima kasih, Profesor." Dia menoleh pada Draco, yang wajahnya sedang memasang ekspresi tak tertarik. "Terima kasih sudah membantuku, Draco."

Mata Draco jelas berkata pada Harry—Kau ini apa-apaan sih? Harry balas menatap dengan polos.

Draco balas sedikit memutar mata, tapi dia mengikuti permainan Harry. "Sama-sama, Harry."

Harry menoleh lagi pada Slughorn, yang sedang menatap tak nyaman pada Draco.

"Kurasa aku—kau juga mengerjakan tugasmu dengan baik, Mr. Malfoy," kata Slughorn, salah tingkah.

Draco sedikit menganggukkan kepala. "Terima kasih, sir."

Slughorn memberi Harry tatapan aneh yang bertabrakan dengan senyum di wajahnya. "Baiklah. Mari kita masuk."

Harry mengangguk patuh, menunggu Slughorn untuk membuka pintu dan masuk duluan. Dia menangkap lengan baju Draco lagi sebelum dia bisa kabur.

"Potter," desis Draco.

"Tidak bisakah kau membantuku merebus juga? Aku akan duduk denganmu di barisan belakang."

Draco menggelengkan kepala sedikit dan mengerling Slughorn di dalam ruangan. "Buat apa kau butuh bantuanku?" bisiknya.

"Hibur aku," kata Harry, serendah dan sedalam mungkin. Dia nyengir di dalam saat napas Draco tercekat dan pupil matanya melebar.

"Aku—baiklah. Baiklah." Draco berpaling dari Harry dengan sedikit menggerutu.

Harry memutar mata tapi mengikuti Draco ke barisan belakang. Dia menaruh tas di bawah meja dan duduk.

"Ayo, Harry, kau harus mencuci tanganmu sebelum merebus ramuan," kata Draco.

"Yang benar?" jawab Harry.

"Kontaminan, Harry." Draco tampak siap untuk menyeretnya ke tempat cuci tangan.

Harry merengut dan menatap kedua tangannya dengan penuh pemikiran. Ada kotoran di bawah kukunya, dan salah satunya jarinya lengket gara-gara bekas selai. "Baiklah."

Draco menghela napas. "Ternyata kau benar-benar butuh bantuanku."

"Yep," Harry balas tersenyum cerah.

xxx

Murid-murid lain tidak memperhatikan dia dan Harry pada awalnya, ketika mereka memasuki ruangan kelas. Lagipula, Draco biasanya duduk sendirian di barisan belakang—apanya yang mau diperhatikan? Slughorn terus-terusan melirik mereka, meski Harry tampak tak menyadarinya. Draco menyadarinya, tapi dia pura-pura tak tahu, sambil menginspeksi tangan Harry untuk memastikan tangannya bersih. Draco merapal mantra pembersih supaya yakin.

Ketika Weasley dan Granger tiba, mereka menatap dia dan Harry dengan penasaran. Granger berjalan ke barisan belakang, diikuti oleh Weasley yang tampak tak semangat.

Seluruh kelas mulai berbisik-bisik, mata mereka semua mengerling ke belakang. Draco merasa ingin menggeleng-gelengkan kepala. Pertemanan dia dengan Harry sudah disebutkan di Daily Prophet setiap hari selama beberapa minggu, dan pertemanan dia dengan Trio Emas sudah diberitakan selama beberapa hari. Tidak biasanya mereka menatapnya dengan tampang iri.

"Harry, Draco," sapa Granger ramah.

"Hi, Hermione," jawab Harry. Dia masih tersenyum berseri-seri.

Granger menatap mereka penasaran. "Apa ada alasan khusus?"

"Draco menawarkan untuk membantuku hari ini."

Draco memutar mata. "Tolong jangan percaya kata-kata Harry. Aku telah dipaksa untuk melayani dia."

Dia terkejut saat Weasley tertawa tiba-tiba. "Malfoy, kau baik juga ternyata," katanya.

Draco mengendus terhina.

Harry menepuknya lengannya kasihan. "Aww, kau melukai perasaan Dwaco yang malang."

Weasley tertawa lebih keras lagi, dan Granger nyengir.

Draco mendelik pada mereka semua, terutama Harry. "Kelas akan segera dimulai, jadi duduklah dan lihat ke depan," katanya, mengerahkan semua ketenangan yang dia punya.

Dia punya timing yang luar biasa, karena pada saat itu, Slughorn berdeham keras dan mulai menyapa kelas. Sesuai dugaan, Granger langsung mengalihkan perhatiannya ke depan, dan Harry serta Weasley mengikuti contoh.

Draco menyeringai di dalam, puas bahwa dia yang berhasil bicara paling akhir.

xxx

Setelah pengenalan singkat, Slughorn menyuruh mereka untuk mengerjakan ramuan yang dipakai untuk membantu pasien hipotermia.

"Draco, bukannya kita harus mengambil bahan-bahannya sekarang?" tanya Harry, sedikit khawatir. Ron dan Hermione sudah antri di lemari bahan-bahan.

Draco selesai menulis di jurnalnya dulu. "Aku lebih suka untuk memilih bahan-bahan dengan tidak terburu-buru," katanya datar. "Kau boleh pergi duluan."

Harry menggelengkan kepala. "Kurasa." Draco menghindari keramaian.

Draco berdiri. "Nyalakan api kualimu. Untuk ramuan semacam ini, air murni lebih baik. Mulai didihkan dan suling airnya."

"Aguamenti saja tidak cukup?"

"Kita harus menghapus jejak sihir kita sebaik mungkin. Itulah fungsi proses penyulingan," jawab Draco sambil memutar mata. "Kau kan memanggil air dari ketiadaan—"

"Kontaminan, betul?" Harry merasa senang.

Draco mengangguk. "Kau belajar dengan baik, wahai penerusku."

"Apa, haruskah aku memanggilmu 'Master Draco' sekarang?"

Draco mengangkat dagu. "Yah, tentu saja."

Harry terkekeh, dan mengikuti pergerakan Draco. Draco tampak mengacuhkannya, tapi Harry melihat Slughorn menghampiri mereka dengan gugup dari sudut matanya.

"Harry, baik-baik saja dibelakang sana?" tanya Slughorn. "Kau masih belum mengambil bahan-bahan yang diperlukan." Tangannya sedikit bergerak-gerak di samping.

Harry memasang senyuman, yang Slughorn balas. "Ya. Draco baru saja memberitahuku bahwa lebih baik untuk memurnikan airnya dulu."

Tatapan Slughorn berkelip pada Draco. "Ah, ya, sangat bagus."

Setelah Slughorn berjalan menjauh, Draco mendengus.

"Kau ini Gryffindor kecil Slughorn," cemooh Draco.

"Selalu saja canggung berat," kata Harry, mendesah sombong. "Lagipula, kaulah masterku sekarang," kata Hary nakal. "Jadi aku Gryffindor kecilmu."

"Aku harus menampar pantatmu untuk itu," gumam Draco sambil menjilat bibir.

Harry nyengir. "Anda harus fokus pada ramuan Anda, Master Draco."

Drao menyeringai. "Sebuah elixir Harry Potter bukan ide buruk."

"Hey, sepertinya Slughorn menatap kita lagi. Menurutmu butuh waktu berapa lama sampai dia datang ke sini lagi?"

Draco mengerutkan dahi. "Tak akan pernah lagi, kuharap."

"Mungkin itulah kenapa ramuanku selalu jelek," kata Harry mengira-ngira.

Draco menggelengkan kepala. "Maafkan aku karena harus mengatakan ini padamu, Mr. Potter, tapi Ramuan adalah makhluk hidup yang keluar untuk menangkapmu."

"Tapi sekarang aku memiliki Master Draco yang luar biasa untuk membantuku melewati semak belukar yang begitu tebal ini."

"Fokus, Gryffindork kecil. Kecilkan apimu." Meski sambil menegur, mata Draco tampak terhibur.

Harry membuat ramuan yang bagus pada pelajaran itu; tapi yang lebih bagus lagi, Draco tak sendirian di belakang kelas.

xxx

Draco menuju Perpustakaan setelah pelajaran Arithmancy, bermaksud mencari sebuah buku spesifik sebelum makan malam. Granger sudah pergi ke ruang rekreasi Tahun Kedelapan di arah berlawanan. Kelas Ramuan pagi itu berjalan baik, dan Draco bersuka-ria, hanya sedikit, melihat ekspresi Slughorn saat dia harus mengakui hasil kerja Draco di depan Trio Emas tercintanya. Pada waktu itu, Slughorn menampakkan ekspresi terlilit luar biasa. Tampak terjebak antara menatap penuh harap pada Harry dan meringis pada Draco.

Mereka berempat memasuki Aula Besar untuk makan siang bersama-sama, meski Draco berpisah jalan dengan mereka saat dia menuju meja Slytherin. Di sana, Amelia dan gerombolannya duduk di sekeliling Draco, terang-terangan menunjukkan dukungan dan affiliasi. Itu adalah pertama kalinya Draco tidak pergi buru-buru dari makan siang.

Draco merasa nyaman. Orang-orang bicara padanya, ingin berada di sekelilingnya dan mendengarkannya. Dan perasaan puas itulah, Draco pikir, yang menjadi alasan kenapa dia tidak menyadari mereka hingga terlambat. Dia terlalu terbenam dalam mengingat kejadian-kejadian hari itu sehingga saat dia menyadari penangkalnya mengeluarkan bunyi ping, jalan di depannya telah terhalang oleh sekelompok Hufflepuff, Ravenclaw, dan Gryffindor. Dan saat dia menyadari hal itu, dia juga menyadari bahwa mereka juga menghalangi jalan di belakangnya.

Seorang anak Gryffindor melangkah maju dari jajaran. Hooper, pikir Draco, merasakan amarah di tenggorokan.

Hooper mengangkat tongkat sihir dan mengarahkannya tepat ke wajah Draco. "Apa yang kau lakukan pada Harry Potter?"

Draco menyelipkan tongkat sihirnya ke tangan. Hooper adalah salah satu orang yang telah mengutuk Draco bisu untuk kedua kalinya.

"Imperius? Ramuan?"

"Bukan yang manapun," kata Draco dingin.

Hooper mencibir. "Aku lihat kau sudah mendapatkan suaramu kembali. Sayang sekali, sungguh. Kalau kau mengerti apa yang bagus buatmu, kau akan menjauh dari Harry Potter."

Draco memasang ekspresi yang lebih dingin lagi. "Mungkin kaulah yang tidak mengerti."

"Mengerti apa? Apa kau benar-benar percaya bahwa Harry Potter bersedia berteman dengan seorang Pelahap Maut? Padahal dia sendiri yang bertarung dan membunuh Voldemort?" Hooper mengerling murid-murid lainnya, yang juga menganguk-angguk bersamanya. Itu membuat si Gryffindor sialan berdiri lebih tegak dan melotot pada Draco dengan kepercayaan diri yang lebih memuakkan dari Harry, dulu saat Draco masih membencinya.

Draco menghitung. Ada terlalu banyak murid. Mereka berdiri hampir membentuk lingkaran di sekelilingnya, membuat mereka menjadi target satu sama lain kalau mantra mereka tidak mengenai Draco. Tapi itu juga berarti punggung Draco hanya dilindungi oleh sihir bandul—dan bandul itu hanya bisa menahan kekuatan dan serangan mantra pada jumlah tertentu.

Draco menyempitkan mata. "Dan bagaimana kalau aku memberitahu Harry soal aksimu, Geoffrey Leonard Hooper?"

Hooper tertawa pelan. "Kalau benar begitu, lalu kenapa kau belum lapor pada Harry Potter?" Dia menatap kelompoknya lagi dan kembali menghadap Draco dengan seringai angkuh. Dan lalu dia melempar kutukan pertama berwarna merah-ungu.

Draco menghindar dengan mudah menggunakan mantra pembalik non-verbal. Dia menghindari kutukan pertama, membelokkan yang kedua, membelokkan yang ketiga. Detak jantungnya naik, dan dia mulai merasakan bulir keringat di pelipis. Dia mencengkeram tongkat sihir lebih erat dan menyempatkan Expelliarmus di antara sebuah mantra defleksi dan mantra perisai. Dia hampir berhasil, menggoyahkan salah satu tongkat sihir, tapi Draco tak bisa menahan mantra pelucut senjatanya hanya sedikit lebih lama dari yang waktu dibutuhkan.

Udara menjadi pekat oleh mantra pelumpuh berwarna merah, dan itu membuat perut Draco bergulung dan jantungnya memompa lebih keras. Dia berada dalam posisi yang tak menguntungkan, tidak bisa maju, tidak bisa menakuti mereka dan berjalan pergi dengan punggung yang tak terjaga. Dia bisa merasakan wajahnya memasang ekspresi bergemuruh, tak peduli betapa dia ingin tampak kalem dan tenang. Sebuah getar ketakutan mengaliri dirinya saat dia melewatkan sebuah mantra dan mantra itu meneleng pertahanan bandulnya. Tetap tenang! Geramnya pada diri sendiri. Ingat Pangeran Kegelapan? Ingat Belatrix? Ini harusnya hanyalah permainan anak kecil.

Draco mendorong sebuah mantra defleksi, terus dan terus hingga mantra itu balik mendorong Hooper sialan. Hooper terhuyung, dan untuk sejenak, serangannya berkurang. Lalu mantranya pecah berkeping-keping dan Draco harus merapal mantra perisai lainnya.

Hanya gara-gara selang waktu sedikit saja, hanya sedikit jeda sialan dalam rapalan mantranya saat dia pikir mungkin akan sedikit lebih mudah bila dia merapal mantra keras-keras alih-alih memaksakan mantra non-verbal. Tapi jeda itu cukup bagi sebuah mantra pelumpuh untuk mengenainya. Mantra itu bertabrakan keras dengan sihir bandul dan perisainya dan membuatnya membeku alih-alih membuatnya jatuh tak sadarkan diri. Sebuah rahmat kecil, karena itu berarti dia sadar ketika kutukan itu mengenainya.

Dia tidak meringis pada rasa sakit saat kutukan mengenainya—dia tak bisa. Sebagai gantinya, dia memaksa dirinya untuk konsentrasi melepas mantra pelumpuh; dia masih bisa merasakan tongkat sihirnya, dan dia memutar-mutar mantra pembalik dalam benaknya dan menekan sihirnya keluar.

"Satu-satunya tempat yang layak untukmu adalah Azkaban!" cemooh Hooper. "Ini, ini untuk setiap luka dan rasa sakit yang kau sebabkan pada kami bersama dengan teman-teman Pelahap Maut sialanmu!"

Draco mengabaikan dia dan berhasil memecah mantranya. Dia tak punya waktu untuk merapal mantra perisai non-verbal sebelum sebuah ledakan cahaya mendorongnya jatuh dan membakar lengan pemegang tongkatnya. Dia menahan sebuah teriakan.

Hooper melangkah maju. "Kau tak akan pernah merasakan rasa sakit yang kami alami, semacam kematian singkat yang menyakitkan. Karena hal seperti itulah yang terjadi pada saudariku."

Hooper sudah cukup dekat hingga yang lain berhenti menyerang, dan saat kakinya makin dekat ke wajah Draco, Draco mencengkeram tongkat sihirnya lebih erat dan berguling dan bangkit dalam gerakan yang membuat rasa sakit di lengannya makin menjadi.

"Apa kau merasakan penyesalan terkutuk, Malfoy?"

Draco mengerucutkan bibir. Tentu saja dia menyesal, tapi percuma saja mengatakannya pada mereka.

Hooper mengangkat tongkat sihir dan merapal mantra ke arah titik buta Draco. Draco memaksa sihirnya untuk membentuk perisai, mengangkat lengannya untuk memblok secara insting.

Gerakannya terlalu tajam, dan lengannya terbakar oleh rasa sakit dan jari-jarinya mengejang di sekeliling tongkat sihirnya. Mantra itu mengenai tubuhnya dan Draco merasakan es menyebar dari dadanya, begitu dingin hingga menyakitkan. Jantungnya melewatkan satu detakan saat dia membeku di tempat.

Hooper balas mengerucutkan bibir. "Apa kau sudah merasakan rasa sakit? Apa rasa bersalah masih belum mencekikmu?"

"Hey!"

Draco bahkan tak bisa menggerakkan matanya untuk melihat dari mana suara itu datang.

"Pergi! Menjauh! Expelliarmus!"

Terdengar teriakan kemarahan dan paduan suara Expelliarmus. Amelia dan anak-anak Slytherin, Draco menyadari.

"Oh, kau membuatku marah sekarang!" teriak salah satu suara yang terlalu rendah, tak mungkin suara salah satu anak Slytherin.

Hooper melempar mantra es pada Draco lagi sebelum melangkah dan menoleh ke belakang. "Well, bukankah ini para bayi ular kecil," gumamnya.

Draco membayangkan dirinya melotot pada Hooper: bahkan bayi ular juga punya bisa. Tapi apa yang dia dengar berikutnya adalah mantra perisai dan mantra pelucut melawan berbagai kutukan. Para Slytherin tak akan bisa bertahan. Mereka tak akan bisa membebaskannya.

Hooper mengeluarkan suara dengusan dan berbalik lagi pada Draco. "Sekarang, apa yang harus kulakukan padamu?"

Jantung Draco berdebar dalam dadanya dan perutnya jatuh. Dalam kebingungan aktifitas mental, dia berusaha untuk merapal mantra pembalik non-verbal tanpa tongkat sihir.

Hooper tampak menyadari kesulitan Draco; dia menyeringai dan mengangkat tongkat sihirnya.

.

tbc