Title: Tuan Tampan Dan Nona Pemalu
Rating: T
Characters/Pairings: Sasuke-Hinata
Genre: Romance / Friendship
Warnings: AU. Agak OOC. Selamat membaca cerita ini sebagaimana saya menulisnya. Cerita ini hanya diperuntukkan untuk hiburan semata.
Summary: "Benar, lho. Si teme itu orangnya posesif, tapi jangan harap dia mau mengakuinya. Aku yakin, tak peduli siang atau malam, dia akan ke rumahmu, mengetuk pintu dan meyakinkanmu kalau dialah yang terbaik, bukan si Kakashi ini." AU
Disclaimer: Sekali lagi, Naruto bukan milik saya. Kalau saya yang punya, gak bakalan deh saya nulis fanfiksi.
…
Chapter 12
.
Oke, bukan Hanabi yang berpacaran dengan Sasuke. Sang kakaklah yang bersama dokter muda yang tampan itu. Tapi, boleh dong gadis SMA itu punya pemikiran tentang hubungan Hinata dan Sasuke.
Menurut Hanabi, Sasuke bukan tipe pria romantis. Yah, dia tidak tahu pastinya, dia bukan pacarnya, namun karena sebagai manusia dia juga dibekali otak, Hanabi jadi berpikiran seperti itu. Sasuke memang ganteng, jangkung dan ciri-ciri lain yang jika disebutkan akan membuat orang bosan dan tidak fokus pada jalan cerita ini. Adik Presdir itu punya nyaris semuanya. Tapi Hanabi berpikir, bahwa sebenarnya Naruto mungkin lebih oke dengan kakaknya.
Sasuke termasuk pria kalem, sama seperti Hinata. Kebanyakan orang berpikir bahwa Hinata cocoknya dengan orang yang lebih ceria dan cerewet. Nah, Naruto memenuhi kriteria itu. Orangnya cerewet, ramai dan gemar bicara (entah karena suka bercerita atau karena memang suka mendengarkan suaranya sendiri). Bagi Hanabi, Naruto juga menyenangkan. Ayah yang baik pula. Tipe pria seperti ini memang tidak semisterius Sasuke atau semenawan Neji, sepupu favorit Hanabi, namun dicintai dan disukai.
Tapi Hanabi tidak komplain tentang kekasih sang kakak. Dia menyimpan pendapatnya itu dalam hati. Toh yang namanya opini tidak mengenal benar atau salah. Walau begitu, gadis itu mendukung kakaknya dan Sasuke. Asal Hinata bahagia, Hanabi setuju saja. Bukannya si adik tidak menyukai Sasuke. Hanabi bahkan sudah menganggapnya seperti kakak sendiri.
Karena Sasuke sering membelikannya es krim dan snack. Dokter itu tidak pelit.
Karena saat Hinata sakit, Sasuke memberinya vitamin cuma-cuma. Otomatis Hanabi juga kecipratan permen tanpa gula dan kudapan bergizi yang sesuai dengan standar kesehatan. Intinya, kalau ada sogokan, Hanabi oke-oke saja.
…
Menurut Hinata, Sasuke kekasih yang lumayan unik. Beberapa waktu lalu ibu Sasuke memintanya untuk menemani belanja baju. Kebetulan saat itu Sakura Haruno, rekan kerja Sasuke, juga berada di butik yang sama. Melihat Hinata yang berkulit putih nyaris pucat, tiba-tiba saja Sakura mendapat ide aneh. Dia menyodorkan beberapa potong baju yang bukan selera Hinata. Sakura gemar berpakaian seksi saat tidak sedang bertugas. Dia bereksperimen dengan Hinata dan baju-baju yang mempertontonkan pusar dan kaki mulus, seperti yang biasa dikenakannya. Mikoto hanya tersenyum kecil menyaksikan Hinata yang walau risih tapi mau mencoba gaya baru. Sasuke? Dokter itu hampir pingsan kehabisan darah karena mimisan melihat pacarnya seksi.
Mati-matian Sasuke meminta Hinata kembali ke gaya lamanya, yaitu blus dan baju-baju yang lebih banyak menutup kulit. "Aku tidak ingin pacarku dipelototin banyak pria," dalihnya. Kesal, dia mendelik ke arah Sakura yang terkikik.
Hah, Hinata terbiasa melihat pasangan bergandengan di pusat perbelanjaan. Sementara si gadis berpakaian seksi, sang pria terlihat menggamit lengan atau pinggang pacarnya dengan raut bangga. Sasuke kebalikannya. Karenanya Hinata berpikiran kalau kekasihnya itu bukan seperti pria kebanyakan.
…
Bagi Sasuke, Hinata wanita yang unik. Dulu sekali, ketika banyak pasien yang dengan sukarela membuka baju untuk mempertontonkan perut mereka (untuk diperiksa tentunya), Hinata malah marah dan menyebutnya mesum saat Sasuke hendak memeriksanya. Huh, dia seorang dokter. Sasuke sudah kebal melihat kulit!
Dan baru kali ini adik Itachi itu sampai harus berjuang demi seorang wanita. Biasanya para wanita yang menghampirinya, dengan Hinata, sebaliknya. Malah, dia sampai bersaing dengan Kakashi. Apa kata dunia kalau tahu Sasuke nyaris dikalahkan oleh pria lain demi mendapatkan wanita?
…
Sejauh yang bisa diingatnya, Gaara hanya kenal sedikit orang: papanya, kakek neneknya dan beberapa gelintir orang di tempat penitipan anak dan kawan-kawan Naruto. Gaara tahu dia punya seorang ayah, namun akhir-akhir ini ada yang mengganggunya.
Ada yang mulai disadari bocah cilik itu. Kakeknya, Minato, punya Kushina. Ayah Dokter Sasuke, Fugaku, memiliki Mikoto. Teman-temannya di tempat penitipan anak kerap bercerita tentang ayah dan ibu mereka. Gaara bingung, kenapa dia hanya punya ayah dan tidak mempunyai ibu?
Tentu saja anak kecil itu penasaran. Pernah pertanyaan mengenai hal itu dilontarkannya pada Naruto. Herannya, sang papa malah megap-megap tidak bisa menjawab. Gaara tidak berpikir yang macam-macam. Dia hanya sekedar ingin tahu. Walau penasaran, dia puas hanya dengan Naruto. Bagi anak sekecil dia, dia tidak merindukan seseorang yang tidak pernah dipunyai.
Sampai kemudian dia bertemu Hinata. Bocah itu mulai melihat Hinata sebagai ibunya sejak dia tinggal bersama kakek dan neneknya karena sakit dan Naruto kewalahan. Tepatnya sejak Kushina merecoki Naruto dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Hinata. Gaara tidak tahu persis detil yang didesakkan sang nenek pada Naruto, tapi dia mendapat gambaran bahwa Kushina bermaksud menjadikan Hinata sebagai pendamping papanya. Yang artinya Gaara akan mendapat seorang ibu.
…
Naruto merasa tidak enak pada Sasuke. Malah, pria pirang itu agak keder pada kawannya itu. Kenapa? Jelas karena Kushina yang sangat antusias ketika bertemu Hinata di Konoha Tempo Dulu. Ibunya itu sungguh membuatnya malu. Tanpa basa-basi atau menggunakan bahasa yang implisit, Kushina bertanya apakah gadis itu kekasih Naruto. Setelah ibunya, giliran anak angkat Naruto yang membuat perutnya mulas. Betapa tidak! Tanpa berdosa Gaara memanggil Hinata dengan sebutan 'Mama'. Mama Hinata. Ouh. Naruto tak tahu mau ditaruh di mana mukanya. Saking malunya. Lebih buruk lagi, kejadian itu terjadi di depan batang hidung Sasuke, yang jelas-jelas mendekati Hinata dan saat itu sudah jadi pacar gadis Hyuuga itu.
Kalau saat ini Naruto masih bernapas dengan organ-organ vital yang lengkap dan masih berfungsi dengan baik, itu suatu keajaiban. Walau hanya dari pandangan mata, Naruto tahu bahwa si teme itu amat posesif terhadap pacarnya. Untung Gaara imut. Bocah berumur lima tahun pula. Naruto curiga karena alasan-alasan itulah Sasuke tidak mendelik dan mengingatkan Gaara bahwa anak itu tidak lagi boleh menyebut gadis itu dengan sebutan 'Mama'.
…
"Mama Hinata!"
Jantung Naruto nyaris terlompat lewat mulutnya. Cepat-cepat pria itu celingukan, mencari gadis yang dipanggil anaknya.
"Halo Gaara," sapa Hinata balik.
Gaara nyengir. Dia menghambur dan memeluk lutut Hinata.
Naruto nyengir salah tingkah.
Dalam hati Hinata menganggap hal itu lucu. Dia tahu Naruto berjengit ketika Gaara memanggilnya mama. Pria itu dihinggapi perasaan tidak enak, malu dan risih. "Tumben kita ketemu di sini, Naruto." Gadis muda itu tersenyum simpul, menikmati Naruto yang salah tingkah. Hei, Hinata juga bisa agak usil.
"Eh, iya. Takdir, mungkin," balas Naruto. "Mana Sasuke?"
"Aku sendiri," jawab Hinata, membuat Naruto lega. Pria bermata biru itu was-was, khawatir Sasuke ada di tempat kejadian perkara ketika Gaara memanggil Hinata 'Mama'. Suasana hypermart itu tidak terlalu ramai. Walau terlihat sambil lalu, Naruto mengedarkan pandangan dengan penuh perhitungan. Dia menghembuskan napas lega saat matanya tak menemukan secuil pun bayangan sahabatnya itu.
"Papa membelikanku mainan, lho," cerita Gaara.
"Oh ya? Bagus, tidak?" Hinata mengusap kepala Gaara. "Aku cari biskuit dulu."
"Aku ikut!" sahut Gaara segera.
"Jangan, kita mau pulang, Gaara," tutur Naruto memperingatkan.
Gaara merengut. Bocah itu malah menarik tangan Hinata dan menggenggamnya erat, seakan menantang siapa pun yang mau mencoba membujuknya untuk pulang.
"Aku tidak akan lama, Naruto," ujar Hinata menenangkan. Tangan kirinya berat karena ditarik Gaara, sedang tangan kanannya menjinjing keranjang belanja.
"Aku main ke rumahmu, ya, Tante?" tanya Gaara, akhirnya tidak lagi memanggil Hinata 'Mama' setelah Naruto setengah mengancam akan mengajaknya pulang bila anak itu tidak memanggil Hinata 'Tante'.
"Minta ijin dulu sama Papa," jawab Hinata. Dia tersenyum pada anak kecil itu.
Naruto membayar belanjaannya sementara anaknya mengikuti Hinata. Pria itu duduk di bangku di depan hypermart, menunggu. Saat gadis itu selesai, Gaara menghampiri papanya. Dengan bujukan akan memainkan film yang dibeli di toko kaset sebelumnya, Gaara setuju untuk pulang bersama Naruto.
Setelah melambai pada ayah dan anak itu, Hinata mengambil tempat duduk Naruto dan menata belanjaannya. Tidak banyak yang dibelinya. Hanya roti, coklat, biskuit dan es krim. Supervisor itu mengeluarkan belanjaan dan dompetnya, kemudian menatanya lagi di dalam tas kresek.
"Hinata."
Gadis itu mendongak. Pria menjulang yang berdiri di depannya tersenyum ramah. Bukannya senang, mendadak Hinata gugup. Matanya membulat, bibirnya terbuka. "Ka-Kakashi-san?" ucapnya terbata.
Kakashi mengangguk. "Lama tidak bertemu," sapanya basa-basi. "Lho, sudah selesai belanja?"
Hinata mengangguk. Dia pucat. Siapa yang tidak bila bertemu dengan laki-laki yang pernah ditolaknya? Apalagi jika sang pria sudah amat dewasa, seumuran dengan salah seorang juri di Master Chef yang pernah dilihat Hinata di tv kabel. Di suatu negara antah berantah bernuansa tropis. Kalau tidak salah namanya Juna.
"Aku sudah selesai. Kau mau belanja?" balas Hinata.
Kakashi tersenyum lebar. "Tidak sih, hanya jalan-jalan, siapa tahu bakal ketemu gadis cantik," sahutnya enteng.
Hinata tertawa tidak enak.
Kakashi tidak tampak marah atau murka setelah penolakan Hinata. Tapi Hinata tidak tahu lagi sesudahnya, karena setelah itu dia tidak pernah ketemu Kakashi lagi. Sampai sekarang. Pria itu tetap memakai masker yang menutupi wajah bagian bawahnya. Walau saat itu dia berpakaian santai: jeans dan atasan abu-abu yang serasi dengan rambut peraknya, Kakashi tidak kurang tampan. Banyak pengunjung hypermart yang menelengkan kepala dan celingukan, sekedar mencuri pandang pada pria itu.
"Mau kuantar pulang?" Kakashi menawarkan.
Hinata terkejut. "A-aku bawa mobil sendiri," tolaknya halus. Entah mimpi apa dia tadi malam, bisa-bisanya bertemu Naruto, Gaara dan Kakashi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mendadak Hinata khawatir. Bagaimana kalau tiba-tiba Sasuke muncul entah dari mana? Kemudian dia melihat Kakashi. Akhirnya terjadi konfrontasi yang membuat hypermart terbesar di kota mereka itu heboh. Banyak pengunjung menonton dan melerai Sasuke dan Kakashi. Ugh.
Sebelum imajinasinya bertambah liar, Hinata buru-buru bangkit. "Es krim pesanan Hanabi keburu mencair. Aku duluan, Kakashi-san."
Kakashi menaikkan sebelah alis. "Oh, oke. Sampai jumpa Hinata. Kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya."
Setelah melempar senyum tipis, Hinata segera menaiki eskalator. Rasanya dia mendengar Kakashi memanggil namanya namun gadis itu menepisnya. Mungkin hanya perasaannya saja.
…
Hinata mengaduk isi dashboard mobilnya. Setelah mengecek sepuluh kali sampai yakin bahwa benda yang dicarinya tidak ada, Hinata kembali ke kamarnya, mulai mengacak isi tasnya.
"Cari apa, Sista?" tanya Hanabi heran.
Hinata menyeka peluh yang bermunculan di kening dan hidungnya. "Dompetku," jawabnya singkat.
Masih dengan es krim di tangan, Hanabi masuk dan duduk di kasur. "Coba cari di mobil," usulnya.
"Sudah."
"Tas?"
"Sudah sampai empat kali."
"Di dalam lemari mungkin?"
"Pakaian sudah kuaduk tapi nihil."
"Uangnya banyak, ya?"
Hinata terduduk lesu. Dia memijat keningnya yang lembab. "Bukan masalah uang. Hanya sedikit duitnya, tapi di sana ada KTP dan SIM-ku." Kepala Hinata mulai pusing.
Hanabi termangu. "ATM-nya juga hilang?"
"Tidak, untung ATM-nya ada di dompet satunya."
Tak heran kalau Hinata cemas. Semua ID-nya ada di dompet hitamnya. Terlebih, dompet itu adalah hadiah ulang tahun dari Hanabi. Ada nilai historisnya.
Hinata mencoba menelpon bagian hypermart yang tadi dikunjunginya. Ketika dikonfirmasi, ternyata tidak ada dompet yang tertinggal, atau pun ada yang melaporkan telah menemukan sebuah dompet hitam yang tebal.
Dengan rambut kusut masai karena ditarik terus-terusan, Hinata menuruni tangga menuju dapur dan meneguk air mineral dingin. Gadis itu sudah membayangkan harus pergi ke kantor polisi dan membuat berita kehilangan. Merepotkan! Tapi bagaimana lagi, dia butuh KTP dan SIM-nya.
…
Tak dinyana malam itu Kakashi bertandang ke rumah. "Aku sudah janjian dengan Mr. Hyuuga," terangnya tanpa diminta.
Hinata terperanjat mendapati pria itu di rumahnya. "Oh, silahkan masuk, Kakashi-san."
Kakashi tersenyum dan melangkah masuk. Dia menyisir rambut dengan jarinya dan mengucek matanya.
"Kau tampak lelah," tegur Hinata.
"Begitulah. Setelah kita ketemu tadi, aku pulang ke rumahku. Di ujung Suna sana," jelas Kakashi. "Setelah itu kembali ke Konoha. Jadi, yah, agak lelah." Perjalanan dengan durasi beberapa jam itu memang jelas sekali bikin badan capek.
"Aku buatkan minuman dulu," kata Hinata. Berada dekat Kakashi membuat perasaan tidak nyaman, namun pria itu ramah sehingga Hinata mulai merasa sungkan. Dia beranjak ke dapur, tapi baru beberapa langkah, Kakashi memanggilnya. "Ya?"
Kakashi menepuk telapak tangannya sendiri. "Aku baru ingat. Dompetmu ada padaku."
Hinata benar-benar terkejut. "Kok bisa?"
"Kau meninggalkannya di bangku hypermart tadi." Kakashi tersenyum minta maaf. "Maaf Hinata, aku membuka dompetmu. Karenanya aku tahu itu milikmu, dari ID yang ada."
Hinata dibanjiri lega yang luar biasa. Dia urung ke dapur dan mendekati pria jangkung itu. "Tak apa, Kakashi-san," ujarnya nyaris kehabisan napas karena lega.
"Aku memanggilmu, tapi kau sudah terlalu jauh," lanjut Kakashi.
"Kau bawa sekarang, kan?" cecar Hinata, agak tak enak karena sepertinya dia menggebu-gebu.
Kakashi menggaruk pelipisnya dengan telunjuk. "Ah, itu…. Ketinggalan di rumahku di Suna."
Senyum Hinata memudar. "Kapan kau pulang lagi?"
Kakashi tampak berpikir. "Kira-kira empat hari dari sekarang."
Hinata mulai panik. "Empat hari?" dia membeo. "Ta-tapi, semua tanda pengenalku ada di dompet itu, aku tak bisa kemana-mana," ujarnya terbata, memelas.
Kakashi menegakkan badan. Dengan wajah yang terlihat sigap dan postur siap, pria itu berujar, "Yang kulihat pengenalmu tadi adalah SIM-mu. Tak usah cemas, Hinata. Beberapa hari ini aku tinggal di apartemenku di Konoha. Aku akan mengantar jemputmu ke kantor."
Semua warna meninggalkan wajah Hinata. Gadis itu memucat demi mendengar ketegasan Kakashi yang rela jadi sopirnya.
Ugh. Masalah baru saja dimulai.
…
TBC
A/N: Yosh! Kakashi muncul lagi. Pria itu terlalu disayangkan untuk sekedar jadi cameo. Selamat membaca! Good night (literally karena saat ini sudah hampir tengah malam.)
