Hy ^^
Maaf menunggu lama. Sebagai permintaan maaf saya bikin agak panjang, walau mungkin membosankan =.=a
Dan terima kasih atas semua reviewnya, maaf saya gak bisa balas satu-satu ^^a
Hope you like it ^^
.
Summary : 2 tahun setelah perang dunia shinobi keempat berakhir, Sasuke, Kakashi, Sakura, dan Sai mendapat misi untuk mencari Naruto yang menghilang saat perang berakhir. dengan Mangekyo milik Sasuke, mereka berempat melompati lubang hitam dan sampai di dimensi lain. sebuah Konoha yang sangat berbeda dengan Konoha tempat asal mereka. dimana disini Minato, Kushina, Obito, Rin bahkan Itachi masih hidup. dan Naruto yang mereka temui di dunia itu adalah seorang perempuan. jadi dimana Naruto yang sesungguhnya mereka cari?
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei.
Warning : OOC, OC, Gaje, Typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!
Pairing : SasuFemnaru!
I Don't Own Naruto!
.
.
Langit masih gelap pagi itu, tak ada tanda-tanda matahari akan segera terbit. Bulan yang tak lagi purnama bersinar terang di sisi lain. Sedang sisi timur masih berwarna kelabu gelap dengan mendung hitam.
Minato tengah merundingkan beberapa strategi untuk menghadapi para anggota Akatsuki palsu dengan Orochimaru dan Yahiko saat terdengar ketukan dari pintu kantornya. Sebelum sang Hokage bisa menjawab, pintu itu sudah terbuka diikuti masuknya anggota Akatsuki yang lain.
"Huh, para penyamar itu benar-benar licin seperti belut," gerutu Kisame sambil berjalan masuk.
"Mengingatkanku pada seekor ular brengsek," sosok berambut merah itu duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut tanpa memandaang tiga sosok yang sebelumnya telah ada di dalam ruangan.
"Itu karena kalian saja yang terlalu payah, Un,"
"Coba katakan sekali lagi, Sialan. Kukirim kau untuk persembahan Jashin-sama!"
"Hm... uang-uangku,"
Sosok berambut oren yang duduk di depan Minato memijat keningnya melihat para anggotanya yang kini memenuhi ruangan dan saling bertukar makian.
"Tak bisakah kalian berhenti bertingkah seperti anak-anak? Aku mencoba berpikir disini." Kata Yahiko dengan nada jengkel. Namun tak seorangpun dari para ninja berjubah awan merah itu mendengar dan tetap melanjutkan kegiatan mereka 'bercengkrama'.
"Kalian kehilangan mereka?" tanya Orochimaru pada sosok wanita berambut biru yang kini berdiri disamping Yahiko.
"Kami tak menemukan apapun, tapi kami sudah menyebar klon untuk memeriksa hingga perbatasan," jawab Konan yang kini ikut duduk di kursi yang telah disiapkan Minato.
"Kita harus menyiapkan strategi segera," kata Yahiko dengan alis berkerut.
"Ya, kita bisa memikirkannya bersama, Oyaji, kau pasti lebih mengerti mengenai anak didikmu daripada kami," tanya Minato pada Orochimaru.
"Hm... aku tak menyebutnya anak didikku lagi," kata Orochimaru sambil mengerutkan alis mengingat tentang Kabuto, "Tapi aku tak menyangkal kesalahanku mendidiknya,"
"Itu bukan kesalahanmu, tak semua murid akan mengikuti jejak gurunya. Selain itu, aku penasaran tentang dugaanmu tentang jurus yang ia gunakan," kata Minato serius.
Orochimaru mengerutkan alis dan memandang keluar jendela.
"Itu adalah eksperimenku dulu sekali, untuk membuat tubuh abadi dan menguasai seluruh jurus di dunia ini," kata Orochimaru memulai, "Tapi itu terlalu beresiko dan membutuhkan manusia sebagai kelinci percobaan. Aku menghentikan penelitian itu tak lama setelah bergabung dengan Akatsuki, dan sepertinya aku membuat kesalahan fatal hingga semua ini bisa terjadi,".
"Kesalahan?" tanya Minato.
"Yah..."
Orochimaru tak melanjutkan kata-katanya saat merasakan aura cakra yang tiba-tiba muncul dari sisi utara dimana Rumah Sakit Konoha berada. Seluruh ninja yang ada diruangan itu terdiam dan menoleh ke arah jendela kaca yang masih terlihat gelap dini hari itu. Aura chakra itu terasa sangat asing namun juga familiar di satu sisi.
Dalam sekejap Minato sudah menghilang dalam kilatan kuning.
Seluruh anggota Akatsuki saling pandang hingga tak lama kemudian terdengar ledakan dari arah aura itu berasal. Dari jendela kaca besar di ruangan Hokage itu mereka bisa melihat bangunan rumah sakit yang kini sedikit mengepulkan asap. Tak lama kemudian, bayangan kuning terlihat menyebar ke seluruh desa dari bangunan itu.
Yang salah satunya menuju ke arah mereka.
Para ninja elit itu masih belum bergerak dari posisinya saat bayangan kuning itu melesat melewati jendela yang terbuka dan mendarat di tengah ruangan.
"BAA-CHAN!" Teriak gadis berambut pirang panjang itu sambil memandang sekeliling. Dan terkejut saat menatap para ninja berjubah awan merah yang memenuhi ruangan.
"Halo, Naru-chan. Aku senang kau baik-baik saja." Kata Orochimaru sambil berdiri dan berjalan mendekat.
Sosok putri Namikaze itu mengerut marah sebelum berbalik dan berniat kabur, hingga sebuah kilatan kuning muncul dan sosok gadis itu sudah menghilang dalam kepulan asap. Digantikan dengan sosok Minato yang terlihat sama murkanya.
Sebelum salah satu dari mereka bertanya apa yang terjadi, sang Hokage itu kembali menghilang dalam kilatan kuning.
Meninggalkan para anggota Akatsuki yang kini hanya saling pandang.
.
.
.
### Searching for The Sun ###
By : Ayushina
.
Chapter 12
.
.
Langit masih terlihat pucat pagi itu, awan tipis berwarna kelabu berarak menyambut mentari pagi yang baru saja terbit di ufuk timur. Beberapa burung gereja terdengar berkicau riang di antara pepohonan yang tersebar di seluruh desa Konoha. Begitu pula suara riuh para penduduknya yang mulai terdengar saat mereka mengawali aktifitas pagi mereka saat itu.
Jauh dari riuh keramaian di pusat desa itu, sesosok gadis berpiama oren kusut terlihat berjalan terseok di salah satu gang terpencil di sudut desa. Rambut pirang panjangnya terlihat lembab dengan beberapa bagian yang kotor terkena lumpur yang kini mulai mengering. Dari jauh sosok itu terlihat seperti seorang gelandangan.
Tubuh yang terlihat gemetaran itu bersandar di dinding bangunan sembari perlahan berjalan, mencoba menjauh dari lalu lalang jalan utama yang masih terlihat dari tempatnya berada.
"Sial! Bagaimana mungkin aku terperangkap jurus seperti ini lagi!" desis sosok itu dengan sepasang safir yang menatap tajam ke depan. Kedua alis pirangnya bertaut menampakkan kemarahan yang tengah ia rasakan.
"Apa Uchiha brengsek itu berhasil menjebakku dalam Mugen Tsukuyomi?" gumam gadis itu sembari terus berjalan. Ia berjengit pelan saat merasakan kepalanya kembali berdenyut nyeri. Apa yang terjadi? Ia tak bisa mengingat bagaimana ia bisa terjebak disini...
"Sial! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Chakraku benar-benar sedikit sekarang. Aku tak mungkin bisa mengalahkannya dengan keadaan seperti ini..."
Sosok gadis itu berhenti berjalan dan bersandar pada sebuah tiang listrik sambil berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan. Ia memejamkan mata sejenak sebelum mendongak, menatap gunung Hokage yang hanya berukirkan empat wajah. Tak seperti sebelumnya, sepertinya genjutsu ini tetap menjadikan sang Ayah sebagai Hokage ke Empat.
Ia kembali berjengit saat memori dari klon-klon yang ia buat terkirim ke otaknya. Hampir semua klon miliknya telah menghilang sekarang. Beberapa dari mereka tertangkap para Anbu namun sebagian besar dari mereka menghilang saat sosok sang Ayah menyentuhnya dengan segel chakra yang sekejap membuat mereka menghilang dalam kepulan asap. Bayangan wajah sang ayah yang berkerut penuh emosi saat tiap klon yang ia sentuh menghilang, membuat Naruto berjengit. Walau sepertinya ia bisa mengecoh semua orang dengan kagebunshin untuk kabur, ia yakin tak butuh waktu lama untuk sang Hokage yang jenius itu untuk menemukannya. Apalagi jika Madara dan Tobi ada dibalik semua ini.
Sebuah memori tentang seluruh anggota Akatsuki yang memenuhi kantor Hokage berkelebat di matanya. Membuat sosok itu menggeram marah. Jadi Madara benar-benar telah menguasai dunia ini.
Apa yang harus ia lakukan? Ia harus keluar dari jebakan jutsu ini.
Dengan sedikit harapan yang terpancar di mata birunya, Naruto menyatukan kedua tangan dan membentuk segel.
"Kai!" bisiknya hampir tanpa suara.
Tak ada yang berubah.
"Kai!" ulangnya lebih keras.
Masih sama.
"KAI!" teriaknya dengan marah. Menghentikan dan mengalirkan chakranya dalam gelombang untuk menghilangkan genjutsu yang ia yakini tengah menyerangnya. Dan seperti yang ia duga, trik seperti itu tak akan bisa mematahkan genjutsu sekelas Mugen Tsukuyomi yang ia yakini tengah memerangkapnya kini.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tak seperti sebelumnya, ia benar-benar sendirian sekarang.
Tak ada peringatan apapun selain kelebatan kuning saat sosok itu sudah muncul di hadapannya dalam sekejap. Selama sepersekian detik, Naruto tak sadar bahwa kini tubuhnya sudah terhimpit ke dinding dengan kedua tangan berada di belakang punggung. Hingga ia menoleh ke belakang dan mendapati sosok Minato yang kini menatapnya tajam.
"Cobalah bersikap tenang, atau aku akan berubah kasar," desis sang Yondaime penuh ancaman saat Naruto mencoba meronta melepaskan diri.
"Lepaskan!" bentak Naruto balik. Masih kembali meronta.
Sang Yondaime itu memandang sosok sang putri selama beberapa saat.
"Naruto... kau tak mengenaliku?" tanya Minato pelan.
"Huh! Tentu saja aku mengenalimu, siapa yang tidak akan kenal pada Hokage ke Empat! Dasar palsu!" bentak Naruto dengan safir yang melirik kebelakang tajam.
"Palsu?"tanya Minato sambil menatap sosok sang putri lama. Cengkramannya mengendur dan ia membalik tubuh sang putri agar bisa melihat wajahnya dengan jelas. Naruto masih meronta, jadi dia menggenggam dua lengan itu di samping tubuh sang putri dan menguncinya.
"Naruto... lihat Tou-chan baik-baik. Aku asli," kata Minato sambil memandang Naruto lekat-lekat, "Tenanglah. Kau bisa terluka jika terus seperti ini. Ayo kita kembali ke rumah sakit, biar Rin-chan yang akan mengobatimu," kata Minato sambil tersenyum. Ia berusaha meredakan kekesalannya karena harus melompati setiap segel Hiraishin yang berada di tubuh –setiap klon- putrinya sebelum bisa menemukan tubuh yang asli. Dan kau pasti akan merasa kesal jika harus mengulangi jurus yang sama ratusan kali. Darimana Naruto bisa menciptakan klon sebanyak itu?
Sosok sang Putri itu akhirnya berhenti meronta. Dan terdiam dengan wajah tertunduk.
"Naruto?" panggil Minato saat sosok itu terdiam cukup lama.
"Aku tak butuh-" gumam Naruto pelan.
"Apa?" tanya Minato sambil menatap Naruto sebelum iris birunya melebar, dan ia harus melompat kebelakang untuk menghindari sebuah tendangan dari sang Putri.
"Sudah cukup. Aku tak butuh ilusi kotor seperti ini lagi. Aku tak ingin merasakan hal itu lagi," desis Naruto tajam dengan sepasang iris berwarna kuning dan bayangan berwarna oren di atas matanya.
Dengan sekali hentakan kecil, Naruto melompat dan berdiri di atap bangunan, memandang ke bawah dimana Minato berada.
"Aku sudah tak peduli lagi," desisnya lagi dengan wajah penuh kemarahan. Dengan tambahan chakra dari Sage-Mode, Naruto bermaksud kembali kabur sebelum kelebatan kuning terlihat dan ia berputar untuk menghindari sang Yondaime yang kembali berusaha meraihnya.
Ia balas menendang yang dengan mudah dihindari Minato, namun keuntungan dari Sage-Mode adalah ia bisa memperlebar jarak serangan dengan chakra alam. Dan itu membuat Minato terlempar sebelum kembali mendarat di atap diseberang bangunan tempat Naruto berdiri. Sebuah bekas pukulan terlihat memerah di wajah Minato.
Ketidak-percayaan terlihat jelas di wajah sang Hokage. Wajah Minato itu berkerut penuh konsentrasi. Ia tak bisa sembarangan mendekat dengan Hiraishin jika musuh memiliki Sage Mode. Latihannya dengan Sang Sensei sudah cukup membuatnya harus berpikir ulang untuk menyerang.
'Tunggu! Sejak kapan putriku berubah menjadi musuh?' batin Minato sambil menatap sosok sang Putri yang berdiri dengan pose siap menyerang.
"Siapa kau?" tanya Yondaime serius dengan aura membunuh yang menguar di seluruh tubuhnya. Beraninya dia menggunakan tubuh putrinya untuk jurus yang berbahaya. Apa tubuh putrinya dikendalikan? Tapi itu tak bisa menjelaskan tentang chakra dan jurus-jurus yang dimilikinya. Semua jurus yang ia gunakan sejauh ini adalah jurus khas milik Konoha. selain Rasengan, Kagebunshin, dan kini Sage mode. Ia hanya tahu satu orang yang bisa menggunakan jurus itu bersamaan.
Naruto sedikit terperangah merasakan aura itu, ilusi atau bukan, Hokage ke Empat memang tak bisa diremehkan.
"Namaku Uzumaki Naruto-ttebayo!" jawab Naruto sambil kembali memasang pose menyerang, "Dan aku berjanji akan menghancurkan ilusi ini walau aku harus mati."
Jawaban itu membuat iris Minato melebar, dan sebuah pemahaman seakan berkelebat dimatanya. Ia hanya diam saat merasakan beberapa aura chakra mendekat.
Sebuah suara hentakan kecil dan Naruto menoleh. Tubuhnya membeku saat ia mendapati sosok itu. Berdiri di ujung atap diseberang tempatnya berada kini. Sosok pucat berambut raven yang sangat familiar.
Uchiha Sasuke.
Atau sosok yang mungkin dikenalnya. Naruto harus mengingatkan diri sendiri bahwa semua yang ada di dunia ini adalah palsu.
Sial. Bagaimana mungkin ia bisa menemukannya secepat ini? Ia yakin tak satupun klonnya bertemu dengan Sasuke.
Naruto memandang sosok itu lebih seksama dan mulai bertanya dalam hati, sosok seperti apa yang akan genjutsu ini ciptakan kali ini. Apa Sasuke akan jadi seorang playboy sama seperti sebelumnya? Ataukah sifat yang lain? ia tak akan bisa membayangkan jika Sasuke ini mengidap sifat 'Semangat Muda' seperti Lee dan guru Guy. Belum memikirkannya saja sudah membuat seluruh tubuhnya merinding.
Sosok sang Sahabat itu tak banyak berubah. Ia masih terlihat dingin dengan tatapan tajam yang seolah bisa mengetahui segalanya. Meski wajahnya terlihat sedikit lebih kurus dan rambut hitamnya lebih panjang dari yang terakhir ia ingat. Dan rompi Jounin yang ia kenakan -Sejak kapan si brengsek itu sudah menjadi Jounin? Ia pasti mencurinya dari suatu tempat!-. Dan kenapa ia hanya diam saja menatapnya dengan pandangan menyeramkan itu?
Suara hentakan yang lain membuat Naruto kembali memasang posisi defensif saat sosok Kakashi, Sakura dan Sai muncul dan berdiri di sisi kanan kiri Sasuke. Sama seperti Sasuke, mereka bertiga hanya diam sambil menatapnya dengan pandangan yang bisa dibilang sama menyeramkan. Setidaknya, tidak ada 'Semangat Muda versi Kakashi' atau 'Seni payah Sai' seperti sebelumnya.
Hal itu semakin membuat Naruto waspada, jika dunia ini menciptakan mereka sama atau lebih hebat dari yang ia kenal, ia dalam masalah besar sekarang. Ia harus kabur, dan mencari jalan keluar mengingat ia tak akan bisa mengalahkan mereka berempat dengan kondisinya saat ini.
'Dimana Kurama saat dibutuhkan seperti ini?' batin Naruto dengan peluh yang menetes di dahinya.
Naruto baru menggeser sedikit lututnya untuk bersiap melompat pergi sebelum sosok Sasuke itu menghilang dan dalam sekejap sudah berada di depannya. Detik itu Naruto harus menahan sebuah tendangan yang disarangkan sang Uchiha sebelum ia melompat mundur untuk menghindari kepalan tinju yang kembali terarah ke arahnya.
Dengan chakra dan insting yang masih tersisa, Naruto mencoba menahan setiap serangan sambil sesekali membalas tendangan dan pukulan dari sosok yang mirip dengan rivalnya tersebut. Ia tak memiliki waktu untuk membuat klon cadangan untuk Sage-mode. Jadi kalau ia tak bisa menyelesaikan ini sebelum chakranya menghilang, ia akan berada dalam masalah besar.
Sebuah dorongan kuat membuat Naruto harus kembali melompat mundur dan berpijak di tanah sebelum sebuah pukulan lain membuatnya menubruk dinding dan sedikit terbatuk. Sedetik kemudian ia berputar untuk menghindari tendangan lain yang disarangkan olehnya.
Dengan cepat ia membuat beberapa klon yang dalam sekejap sudah menghilang dalam kepulan asap. Sosok Sasuke melangkah mendekat dengan sebuah chokuto di tangan dan sharingan menatap tajam.
Keduanya kembali bertukar serangan dalam kecepatan tinggi hingga Naruto tak punya waktu untuk membuat klon.
Sulit. Entah mengapa tubuhnya terasa berat, ia tak bisa bergerak secepat biasanya. Dan ia sadar gerakan sosok Sasuke di depannya ini jauh lebih cepat dari yang terakhir ia ingat. Kalau seperti ini bisa-bisa-
"Akan kubunuh." Desis suara yang sangat dikenalnya itu membuat Naruto tersentak. Ia memandang wajah pucat yang berkerut marah di depannya sambil kembali menahan pukulan yang semakin lama semakin kuat.
"Akan kubunuh kau kali ini... dan akan kuciptakan dunia ideal tanpa idealismu yang konyol itu," sosok itu kembali berkata sambil terus menyerang. Naruto melompat menjauh. Berusaha lari melewati jalanan yang ramai. Seolah itu bisa menahan sosok yang mirip sang sahabat yang kini terlihat murka. Sosok Sasuke itu masih mengejar melewati para penduduk dengan mudah. Naruto kembali melompat dengan Rasengan ditangan, berusaha melumpuhkan sang Uchiha, namun sosok raven itu dengan mudah menghindar dan jurus itu mengenai bangunan yang berada di sampingnya hingga hancur berantakan.
"Kyaaaa!" seseorang berteriak dan beberapa orang terlihat berlari menjauh dengan panik.
Naruto tak peduli, toh mereka hanya ilusi. Jadi dia memanfaatkan asap ledakan dan berniat kabur sebelum sebuah suara terdengar.
"Kana-chan!" suara seorang wanita berteriak panik. Diikuti suara tangisan.
Refleks Naruto menoleh dan melihat seorang anak kecil yang duduk diantara reruntuhan bangunan. Menangis keras dengan atap yang akan rubuh di atasnya. Sambil mengumpat pelan Naruto segera meraih anak itu dan berusaha keluar sebelum rasa pusing mendera kepalanya dan membuatnya terduduk lemas. Sage mode miliknya dengan cepat menghilang.
Naruto mendongak dan mendapati kayu penyangga atap itu telah patah dan membuat bongkahan bangunan itu terjun bebas di atasnya. Ia kembali mengumpat dan membungkuk melindungi gadis kecil dalam pelukannya. Berdoa semoga punggungnya kuat menahan bongkahan itu dan memejamkan mata.
Ilusi atau tidak, ia benar-benar tak bisa membiarkan seorang anak kecil terluka di depannya.
Naruto mengutuki kebodohannya sambil menunggu rasa sakit yang akan ia rasakan. Namun tak ada apapun.
Jadi ia membuka mata dan menoleh ke belakang. Iris birunya melebar saat mendapati sosok Sasuke yang kini setengah berdiri diatasnya. Menahan bongkahan besar itu sambil menunduk menatapnya.
"S-Sasuke?" panggil Naruto tak percaya. Gadis kecil dalam pelukannya meronta pelan sebelum merangkak pergi menuju sang Ibu lewat celah besar di antara reruntuhan bangunan. Mereka berpelukan sebelum menjauh dan menghilang dari pandangan Naruto.
"Padahal kau sudah berjanji, Dobe!" desisan marah itu membuat Naruto kembali mendongak dan melihat cairan berwarna merah perlahan menuruni wajah pucat itu. Sosok gadis itu membeku kaku menatap sharingan yang berputar pelan di iris sang Uchiha. Suara ribuan burung perlahan terdengar diikuti sebuah ledakan saat bongkahan bangunan itu hancur berkeping-keping.
Saat Naruto kembali membuka mata, chakra petir terlihat menyelimuti seluruh tubuh Sasuke yang kini berdiri tegak di atasnya. Tanpa sadar Naruto merangkak mundur dengan nafas tersengal. Hampir tak ada chakra yang tersisa dan ia masih tak bisa merasakan Kurama. Sosok Sasuke itu berjalan mendekat hingga Naruto tak bisa menjauh lagi saat punggungnya menabrak dinding. Ia berusaha berdiri dan dengan cepat menyilangkan tangan di depan wajah saat kepalan tangan yang kali ini bersaput chakra terarah ke arahnya.
Bum!
"Dasar Pembohong Busuk! "
Mata biru itu melebar saat tangan bersaput petir itu menembus dinding samping wajahnya. Dan ia mulai merasakan rasa lemas karena ia menggunakan Sage mode dalam kondisi tubuh lemah. Safir itu beralih menatap sepasang Sharingan yang menatapnya tajam. Aura chakra yang meletup-letup keluar dari sosok di depannya terasa sangat familiar. Dan kilasan tentang pertarungan terakhirnya dengan sang raven sekilas kembali terbayang.
Oh.
"S-Sasuke?" Tanya Naruto terbata. Memandang wajah yang familiar di depannya tanpa berkedip. Sosok didepannya tak bergeming.
"I-Ini benar-benar kau? Bukan tipuan genjutsu ini kan?" tanyanya lagi dengan nada penuh harapan.
Sepasang Sharingan itu masih menatap tajam. Berwarna merah darah yang seakan berkilau saat terpantul sinar mentari di ujung horizon.
"Kali ini, aku benar-benar akan membunuhmu," jawab Sasuke dalam desisan. Namun ia tak bergerak. Masih memerangkap sang blonde diantara dinding yang separuh hancur.
Safir itu melebar sebelum perlahan, sebuah senyuman terukir diwajah berhias tiga goresan itu. Sebuah tawa kecil terdengar diikuti kepala berambut pirang yang bersandar di bahu sang Raven.
"Syukurlah ini benar-benar kau..." bisik Naruto sambil menumpukan berat tubuhnya di tubuh Sasuke. Tubuhnya terasa sangat lemas setelah perkelahian kecil mereka. Dan sesuatu terasa sangat aneh.
"Kita harus segera keluar dari sini," kata Naruto lagi sambil mendongak, membuat helaian pirangnya terjatuh di depan wajah.
"Apa kau tahu cara keluar dari genjutsu ini? Apa kau sendirian? Bagaimana dengan yang lainnya?" gadis itu berhenti bicara saat angin berhembus pelan, meniup helaian pirangnya di depan wajah.
" Etto... Sejak kapan rambutku jadi sepanjang ini?" tanya Naruto sambil memegang sejumput rambutnya yang panjang menjuntai hingga pinggang. Ia mengerutkan alis dan menunduk menatap sekujur tubuhnya. Sesuatu benar-benar aneh sekarang.
Perlahan ia meraba seluruh tubuhnya dan berhenti di daerah dada. Wajah tan itu perlahan memucat diikuti keringat dingin yang mengalir di dahinya.
Naruto terdiam sesaat sebelum menyatukan tangannya untuk melepas jurus yang ia kira tengah ia gunakan. Apa tanpa sadar ia menggunakan 'Oiroke no Jutsu'? namun tak ada yang berubah meski ia telah menggumam 'Kai!' untuk melepas jutsu itu. Ia kembali meraba dadanya.
"S-Sasuke! K-Kenapa aku b-bisa punya p-payudara?" tanya sosok gadis itu sambil mendongak menatap sang Uchiha yang masih memasang ekspresi stoic.
"Itu karena kau seorang wanita, Idiot!"
"Hee... kepalamu terbentur terlalu keras ya, brengsek?"
Safir itu menatap lama wajah Sasuke yang masih tanpa ekspresi sebelum melirik jendela kaca yang berada jauh di seberang dinding. Mendapati sesosok gadis berwajah familiar yang menatap balik.
"HEEEEE?"
Dan sosok gadis itu jatuh pingsan.
###
Sang Yondaime Hokage itu menatap tajam sekelompok ninja dari dimensi lain yang kini tengah mengerumuni ranjang kecil di tengah ruangan rumah sakit. Terutama sosok mantan missing nin yang dengan wajah datar tengah membaringkan tubuh putrinya yang tak sadarkan diri di atas ranjang. Ia memandang ekspresi setiap ninja dari dimensi lain itu lekat-lekat sebelum memalingkan muka. Mengingat apa yang dikatakan sang putri saat bertarung dengannya tadi.
Pasti ada kesalahan kan? Tidak mungkin-
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kushina yang langsung membuyarkan pemikiran Minato. Ia memandang Tim tujuh yang masih mengelilingi ranjang tempat sang putri berbaring dengan Sakura yang terlihat tengah mengobati sang putri dengan chakra berwarna hijau di tangannya.
"Ia baik-baik saja, Namikaze-sama. Aku akan membangunkannya sekarang." Jawab kunoichi berambut pink itu tanpa mengalihkan tatapan dari sosok sang putri.
Minato dan Kushina serta Obito dan Rin sudah akan melangkah mendekat sebelum Kakashi menghalanginya dengan wajah tersenyum di balik maskernya.
"Lebih baik jangan membuat Naruto merasa terperangkap, Sensei. Berikan ia ruang." Kata Kakashi sambil memandang mereka berempat sebelum memandang Obito lebih lama.
Minato menatap tajam sosok berambut putih itu.
Siapa dia berani menghalanginya melihat putrinya sendiri?
"Percayalah padaku kali ini, Sensei," Pinta Kakashi dengan nada serius.
Alis Minato mengerut tajam, tapi ia tak beranjak mendekat setelah merasakan usapan lembut Kushina di lengannya yang mengepal kaku.
"Lebih baik kau tak melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal," ancam Minato dengan gigi mengatup rapat. Ia masih belum bisa percaya pada empat ninja dari dimensi lain itu.
"Aku berjanji," jawab Kakashi menenangkan.
"Ugh!"
Perhatian seluruh orang di ruangan itu langsung terarah pada sosok gadis yang kini perlahan menggerakkan tangannya sebelum akhirnya meraba dahi yang terlihat basah oleh keringat. Minato hanya bisa melihat sisi samping sang putri mengingat seluruh tim tujuh berdiri melingkar mengelilingi ranjang. Dengan Sakura yang masih duduk di sisi samping.
Beri sedikit ruang katanya? Cih!
"Sakura-chan..." suara sang Putri terdengar saat ia memandang sosok berambut pink itu.
"Naruto... kau bisa mengenaliku?" tanya kunoichi itu serius.
"Tentu saja-ttebayo, memang kenapa aku bisa lupa? Ukh... dimana aku?" tanya sang Putri.
"Kau ada di rumah sakit, apa kau ingat apa yang terjadi?" tanya Sakura lagi dengan wajah serius.
"Uh... tidak. Kepalaku serasa mau pecah," jawab Naruto sambil mengernyit, "Apa yang terjadi?".
"Katakan padaku Nama, Umur, Gender dan hal terakhir yang kau ingat," Pinta Kakashi sambil sedikit menunduk. Membuat gadis berambut pirang yang tengah berbaring itu menyipitkan mata untuk melihat sang ninja berambut putih lebih jelas.
"Sensei... apa maksudnya itu?" tanya Naruto tak mengerti.
"Jawab saja," kata Kakashi dengan nada yang lebih santai. Mata abu-abunya terlihat menyipit saat tersenyum.
"Hm... Uzumaki Naruto, 16 tahun, laki-laki, hm... ukh- Aku tak ingat," gumam Naruto di akhir yang membuat seluruh penghuni ruangan itu terdiam.
"Eh? Kenapa?" tanya Naruto saat melihat ekspresi empat ninja di depannya.
"Kau tak ingat sama sekali?" tanya Sakura.
"Hm... aku tak yakin... tapi aku merasa baru saja bermimpi aneh sekali... kupikir aku terkena genjutsu dan aku berubah jadi wanita ha...ha.. ha aneh sekali kan?" kata Naruto sambil tertawa pelan.
Sunyi.
Hening itu membuat senyum di wajah sang putri menghilang sebelum ia dengan segera bangun dan memandang sekeliling. Mata birunya melebar memandang sosok sang Ayah dan Ibu yang berdiri di ujung ruangan. Sebelum menunduk menatap tubuhnya.
"GAAAAH! ITU BUKAN MIMPI?" teriak Naruto sambil bangkit duduk dan memandang sekeliling.
" SAKURA-CHAN! APA YANG TERJADI? KENAPA AKU JADI WANITA?"
"SIAL! SI UCHIHA BRENGSEK ITU PASTI SEDANG MENJEBAKKU DALAM GENJUTSU!"
"TEME! APA-APAAN WAJAHMU ITU! PASTI KAU YANG MELAKUKAN SESUATU PADAKU! IYA KAN!"
Tiga sudut siku-siku muncul di kepala Sasuke.
"Berisik! Usuratonkachi! Kau yang harus menjelaskan kenapa kau bisa ada di tubuh itu, dasar idiot otak udang!" Desis Sasuke.
"Apa? Apa kau bilang? COBA KATAKAN SEKALI LAGI? BRENGSEK PANTAT AYAM!" bentak Naruto dengan kedutan tiga siku-siku di dahinya.
"Kubilang. Kau. Idiot. Tak berotak. Yang bahkan tak bisa mengingat hal bodoh yang sudah kau lakukan," desis Sasuke sambil mencondongkan tubuhnya.
"Hei... Teme! Kau mengajakku berkelahi ya? Akan kuhajar wajah tembokmu itu!" balas Naruto sambil meraih kerah sang Rival hingga wajah mereka nyaris bersentuhan.
"Maa... maa... Naruto, Sasuke. Tenanglah." Kata Kakashi sambil menyentuh pundak keduanya. Membuat Naruto melepas cengkramannya dan menoleh menatap ninja berambut putih itu.
"Walau sulit, Naruto... aku ingin kau mengingat hal terakhir yang terjadi," pinta Kakashi serius.
Sosok putri Namikaze itu menatap sang Hatake sebelum mengerutkan alis dengan pose berpikir. Gadis itu terdiam selama beberapa saat.
"Ah... Perang. Kita sedang berperang kan? Tobi, Madara... S-Sasuke... ukh- apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Naruto sambil memegang dahinya.
"Huh- Setidaknya kau masih ingat hal itu," kata Sasuke sambil mendekatkan wajahnya.
"Sekarang setelah aku menemukanmu, Ayo pergi. Akan kubuat perhitungan denganmu nanti," kata Sasuke sambil menarik tangan gadis itu hingga berdiri dan mulai menyeretnya pergi.
"Oi Sasuke, jika kau belum sadar... sekarang ini aku jadi wanita... WANITA!" Teriak Naruto histeris.
"Aku tak peduli,"
"AKU PEDULI, BRENGSEK!" Teriak gadis itu dengan mata bulat berwarna putih dan wajah kesal.
"Diam atau kubungkam mulut lebarmu," kata Sasuke lagi. Sekejap setelah ia mengatakan itu, sekumpulan ANBU sudah mengelilinginya dengan masing-masing kunai terarah ke leher Sasuke.
"Kemana kau pikir kau akan pergi?" tanya Yondaime dingin dengan sosok Naruto yang sudah ada di belakang punggungnya.
Sasuke melirik kesamping dimana sebelumnya Naruto berada sebelum memandang sekeliling. Ia balas menatap sang Hokage dengan wajah tanpa ekspresi.
"Jangan menghalangiku," desis Sasuke diikuti aura membunuh yang menguar dari tubuhnya. Mata hitamnya perlahan memerah dengan tomoe yang berputar pelan. Sebelum perlahan berganti bentuk menjadi bintang segi enam dan shuriken berujung tiga di dalamnya.
Hawa diruangan itu menurun drastis. Diikuti aura keunguan yang perlahan terbentuk di sekeliling tubuh Sasuke. Membuat para ANBU yang sebelumnya tengah mengepungnya terdorong mundur. Ia sama sekali tak berjengit saat aliran merah itu perlahan menuruni pipinya.
Sebelum sang Yondaime bisa bergerak, dalam sekejap Naruto sudah berada di depan Sasuke. Dengan sebelah tangan berada di dada sang Raven, dan tangan kanan terangkat kedepan sambil memandang sosok sang Ayah yang telah mengambil kunai berujung tiga miliknya.
"Bisakah kita tenang sekarang?" pinta sosok gadis itu sambil memandang sekeliling dan terhenti di wajah sang Hokage yang familiar.
"Bisakah kau menurunkan senjatamu Tou-ukh maksudku Hokage-sama?" pinta Naruto dengan wajah serius. Yang dibalas dengan tatapan tak percaya dari sosok di depannya.
"Nah... setelah semuanya tenang, kita bisa-" kata-kata gadis itu terhenti dan ia terdiam. Menatap telapak tangan kanannya selama beberapa saat sebelum berbalik menghadap sang Uchiha di belakangnya.
Ia terdiam beberapa saat, hingga ia menyentuh bahu Sasuke, menyusuri lengan kirinya hingga tangannya menyentuh telapak tangan sang raven yang tertutup perban. Ia mengangkat tangan kiri Sasuke dan menyatukannya dengan tangan kanannya.
Sekilas memori berkelebat di mata Naruto dan membuat gadis itu menyentuh dahinya yang berkedut nyeri.
"Kau tahu? Kalian seperti sepasang kekasih yang lama terpisah dan baru bertemu kembali," komentar Obito tiba-tiba. Mencairkan suasana yang tegang dan membuat Naruto refleks melepaskan tangan Sasuke dan berbalik menatap ninja dengan gogle oren di kepalanya itu.
"BERISIK! AKU BELUM MEMBUAT PERHITUNGAN DENGANMU! TOBI!" bentak Naruto sambil bersiap membentuk segel jutsu sebelum kelebatan memori yang lain membuatnya membeku. Kali ini tubuh itu limbung ke samping sebelum segera ditangkap oleh Sasuke. Hawa dingin itu menghilang, begitu pula dengan mata Sasuke yang kembali normal.
"Kupikir lebih baik kau istirahat dulu, Naruto." Kata sebuah suara yang membuat Naruto menoleh ke samping. Memandang sosok Itachi yang berdiri tak jauh dari sisi sang Ayah.
"ITACHI!" teriak Naruto kaget sambil menunjuk sosok itu dengan jari telunjuk. Sosok Uchiha bermata kelam itu menatap balik dengan wajah tanpa ekspresi.
Naruto kembali memandang sekeliling sebelum berjalan kembali ke ranjang tidur dibelakangnya.
"Ah, lebih baik aku tidur. Besok pasti aku sudah bangun dari mimpi bodoh ini," Gumam sosok itu sambil berbaring dan memejamkan mata. Sama sekali tak peduli pada sekumpulan ninja yang tegang di sekelilingnya.
"Nah, biarkan Naruto istirahat. Sasuke, tahan emosimu. Yondaime-sama, lebih baik kita bicarakan ini di tempat lain," kata Kakashi sambil tersenyum.
Mata biru Minato menatap sosok muridnya itu sebelum melirik Naruto yang berbaring membelakanginya.
Sekejap saja, Hokage ke Empat itu menghilang dan sudah berdiri di samping ranjang Naruto. Menyibak selimut dan memaksa sosok sang putri untuk bangun.
"Tidak, kau harus menjelaskan siapa kau, dan apa yang telah kau lakukan pada putriku," perintah Minato dalam desisan.
Kedua Safir itu saling tatap dalam diam. Sebelum Naruto mengalihkan pandangan dari wajah sang Ayah ke bahunya dimana tangan Minato berada. Merasakan hangat itu menembus kain oren yang membungkus tubuhnya.
"Kau benar-benar nyata..." gumam gadis itu masih menunduk, "Huh, tapi sebelumnya juga terasa sangat nyata,".
"Apa maksudmu?" tanya Minato sambil mengerutkan alis.
Naruto tersenyum dan mendongak menatap wajah familiar sang Ayah.
"Kau tahu, Aku pernah mengalami ini sebelumnya. Kau, Kaa-chan, bahkan Sasuke. Semua terasa sangat nyata... tapi akhirnya, itu semua tak lebih dari sebuah ilusi," jawab gadis itu masih tersenyum.
"Jadi intinya... Aku tak peduli siapa kau! biarkan aku tidur, Damn it!" lanjut Naruto dengan alis berkerut marah.
Minato hanya terdiam menatap sosok sang putri.
"Please, Tou-chan... kepalaku serasa mau pecah." Bisik Naruto sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang sang Ayah.
Minato terdiam sesaat sebelum perlahan mengusap rambut pirang sang putri.
"Um'm... tidurlah, kau akan merasa lebih baik nanti," kata Minato sambil perlahan membaringkan sang putri yang dengan segera memejamkan mata.
Kakashi membuka pintu sambil memandang ninja yang berada di ruangan itu.
"Biarkan Naruto istirahat, kita bicarakan ini di tempat lain," Pinta Kakashi membiarkan pintu itu terbuka lebar. Satu-persatu persatu ninja diruangan itu melangkah keluar. Hingga hanya Sasuke dan Minato yang masih tersisa.
"Sasuke..." panggil Kakashi.
"Aku tak akan sebodoh itu meninggalkan Idiot ini sendiri," desis Sasuke.
Kakashi menghela nafas sebelum berpaling menatap Minato.
"Sensei..."
"Aku tak akan meninggalkan putriku dengannya," desis Minato balik.
"Kita harus membicarakan ini bersama," kata Kakashi pelan.
Dua bunyi 'poff' terdengar dan sepasang safir dan oniks itu saling menatap tajam saat masing-masing klon yang mereka ciptakan berjalan keluar melewati pintu. Kakashi kembali menghela nafas sebelum menutup pintu. Meninggalkan sosok gadis yang terlelap di ranjang bersama dua ninja yang kini saling melempar deathglare.
###
Ruangan kosong yang berada di sebelah kamar rumah sakit Naruto itu kini dipenuhi para ninja yang berwajah tegang. Sosok –klon- Minato terlihat berdiri bersedekap dengan Kushina yang tak henti mengusap lengannya, berusaha menenangkan sang Suami yang seakan bisa meledak kapan saja. Di ujung ruangan, seluruh anggota tim tujuh dan –klon- Sasuke juga berdiri dengan Kakashi yang duduk di salah satu kursi. Di tengah ruangan, Obito dan Rin duduk di ranjang sementara Itachi berdiri di samping pintu.
Minato membuat segel dan dan sekejap ruangan itu berkilau kuning tanda kekai pelindung telah aktif.
"Nah, sekarang bisa kau jelaskan padaku kenapa putriku menjadi seperti itu?" geram Minato sambil menatap tajam keempat ninja dari dimensi lain itu.
Kakashi menatap serius sang Sensei tanpa gentar.
"Sejujurnya kami juga tak mengerti apa yang terjadi," jawab Kakashi sambil mengusap belakang kepalanya, "Kita harus menunggu Naruto menjelaskan semuanya, hanya dia yang tahu apa yang telah terjadi,".
"Tapi yang jelas, Naruto yang ada di sebelah ruangan ini adalah Naruto kami," kata Sai sambil tersenyum.
"Apa maksudmu Naruto kalian?" tanya Kushina sambil mengerutkan alis dan menatap tajam ninja pucat yang selalu tersenyum itu.
"Kalau aku jadi kau, aku akan menjaga mulut itu," desis Minato tak kalah serius.
"Kau pasti buta jika tak bisa melihatnya," jawab Sai tanpa senyum.
"Kaulah yang buta, sudah jelas dia adalah putriku," jawab Kushina tak kalah sengit.
"Maa... kalian tenanglah, kita putuskan itu nanti setelah Naruto bangun," kata Kakashi mencoba meredakan ketegangan.
"Si Idiot itu melupakan semuanya," Desis Sasuke kesal.
"Masih ada kemungkinan ini hanya Amnesia sementara, kejadian traumatis sering membuat penderita melupakan beberapa kejadian untuk melindungi dirinya," kata Sakura.
"Itu masih tak bisa menjelaskan kenapa Naruto kalian bangun di tubuh Naruto kami," kata Obito menimpali.
"Hokage-sama... apa ada Fuuinjutsu yang bisa menyegel jiwa ke dalam makhluk hidup lain?" tanya Itachi tiba-tiba.
Minato terdiam.
"Tidak ada, kita tak bisa semudah itu memindahkan jiwa seseorang ketubuh lain, kita hanya bisa memindahkan chakra dan menginfestasikannya sesuai wujud pengirim. Itupun hanya sebatas di dalam alam bawah sadar. Tidak pernah sampai bisa berpengaruh pada jiwa penerima," jawab Minato.
"Bahkan penyegelan bijuu bisa berhasil karena mereka adalah kumpulan chakra," Lanjut Minato.
"Mengingat yang kita bicarakan adalah Naruto, aku tak akan mengatakan itu tidak mungkin," kata Kakashi. Yang di jawab kerutan alis oleh Minato.
"Di dunia kami, Naruto terkenal sebagai 'Ninja nomor satu yang tak dapat di prediksi'. dia bisa mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin," kata Kakashi dengan sedikit nada bangga terselip di dalamnya. Hal itu membuat Minato merenung sesaat.
"Dia bisa menggunakan Sage Mode," kata Minato.
"Dia- Apa?" tanya Kushina terkejut.
"Ya, Jiraiya-sama yang mengajarinya," kata Kakashi
"Si pertapa mesum itu?" tanya Kushina tak percaya, "Lebih baik Ia tak mengajari sesuatu yang buruk atau aku akan menghajarnya saat Ia kembali nanti," geram Kushina sambil menggeretakkan tangan.
"Jiraiya-sama ada disini?" tanya Kakashi cepat.
"Tidak, dia pasti sedang mengintip di salah satu pemandian di luar sana, kenapa kau bertanya?" kata Kushina.
"Tidak, bukan apa-apa," jawab Kakashi sambil tersenyum.
Kushina menatap wajah tertutup masker itu berapa lama sebelum iris hijaunya melebar.
"Jangan bilang Jiraiya juga sudah mati di duniamu," kata Kushina. Kakashi tak menjawab.
"Duniamu benar-benar payah," kata Kushina pelan sambil memeluk Minato dan menyandarkan kepalanya di bahu sang Suami.
"Naru-chan tidak mengenaliku tadi. Jadi... aku juga sudah mati?" tanya Rin tenang sambil menatap wajah Kakashi yang balik menatapnya tanpa ekspresi. Pelukan Obito di pinggangnya mengerat.
Itachi hanya diam. Memandang wajah Sasuke yang tak mau menatapnya sedari tadi.
"Tunggu! Tadi Naruto mengenaliku," kata Obito sambil menatap Kakashi, "Kau bilang aku juga sudah mati," lanjutnya dengan alis berkerut. Rin memandangnya tak percaya.
"Dan dia memanggilku Tobi. Nama apa itu?" tanya Obito lagi.
Iris biru Minato melebar, menatap sosok Obito lalu memandang Kakashi yang kini memejamkan matanya. Ia masih ingat dengan jelas apa yang dikatakan Kakashi di kantornya beberapa waktu lalu.
Itu tidak mungkin kan?
"Aku akan menjelaskannya nanti, Sensei," kata Kakashi.
"Menjelaskan apa? Kau bisa mengatakannya sekarang!" kata Obito dengan alis berkerut.
"Bukan apa-apa, Obito. Bukan hal penting," jawab Kakashi sambil tersenyum.
"Kau bohong." Desis Obito.
"Obito,"
"Kenapa kau bohong padaku?" bentak Obito sambil berjalan cepat menuju Kakashi dan menarik kerahnya.
"Kubilang. Itu bukan hal penting." Jawab Kakashi sambil menatap Obito tanpa ekspresi.
"Apa kenyataan bahwa aku masih hidup tidak penting untukmu?" tanya Obito pelan.
Kakashi hanya balik menatap tanpa menjawab. Membuat Obito semakin marah.
"Dasar Brengsek!" bentak Obito sambil mengarahkan tinjunya.
"Kaulah yang memulai perang dunia shinobi ke empat. Di dunia kami," kata Sai, menghentikan gerakan Obito.
"Apa?" tanya Obito sambil menoleh. Kakashi hanya memejamkan mata.
"Kau menggunakan nama samaran Tobi, dan menghidupkan kembali Madara Uchiha," lanjut Sai dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kau benar-benar harus menjaga mulutmu, Sai." Kata Kakashi sambil menghela nafas. Obito melepas cengkramannya dan menatap ninja pucat itu tak percaya.
"Tapi di akhir kau berbalik membantu kami memenangkan perang," kata Sai. Kali ini sambil tersenyum.
"Semuanya sangat berbeda disini," Sakura menimpali, "Apa kalian tahu bahwa anggota Akatsuki di dunia kami adalah sekelompok kriminal level S yang menjadi buronan di seluruh negara ninja?"
Obito mengerutkan alis dan berjalan mundur.
"Kalian sudah gila," kata Obito sambil kembali ke sisi Rin.
"Ya, kami hampir gila berada disini," jawab Sakura sambil memalingkan muka.
"Kalian tak akan percaya, betapa berbedanya... semua ini," lanjut Sakura lirih.
Ruangan itu menjadi hening.
###
Di sisi lain ruangan itu, mentari telah bersinar terik di ujung langit. Membawa angin segar yang meniup korden putih di di dalam ruangan rumah sakit.
Sosok Hokage ke Empat itu duduk diam sambil menatap tajam ninja berambut raven yang berdiri bersedekap sambil bersandar di sisi jendela. Kedua matanya terpejam, namun Minato bisa melihat betapa tegangnya punggung berbalut rompi jonin itu. Seakan ia bersiap menerima serangan kapanpun.
Minato mengerutkan alis, hingga ia sadar apa yang Sasuke lakukan. Posisi itu, dia yang tak mau beranjak dari sisi jendela, dan aura chakra yang menguar di sekelilingnya. Dia seperti Anbu yang tengah dalam misi perlindungan.
Pandangan Minato melembut. Ia memandang sosok sang putri yang tengah tertidur -ia sedikit berjengit mendengar suara dengkuran halus dari putrinya- sebelum kembali memandang wajah pucat di seberang ruangan. Menatap darah kering di ujung dahi sang Uchiha. Dan teringat bagaimana ninja itu melindungi putrinya dari reruntuhan bangunan. Meski ia harus menahan geraman saat mengingat bagaimana ninja itu menyerang putrinya. Tapi ia bisa sedikit mengerti mengapa Sasuke melakukannya. Minato sendiri masih tercenung mengingat bagaimana Naruto yang seharusnya tak bisa menggunakan chakra, bisa berkelit, menggunakan Rasengan dan Sage Mode.
Minato menghela nafas, ia berdiri dan berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan. Mengambil sebuah kotak kecil sebelum berjalan menuju kursi lain tak jauh dari sosok Uchiha yang masih berdiri kaku.
"Sasuke-san," panggil Minato.
Sasuke tak menjawab, hanya membuka mata dan menatap sang Hokage.
"Duduklah," kata Minato sambil menunjuk kursi di depannya. Sasuke hanya menatapnya tak bergeming.
"Ini perintah," kata Minato serius. Sasuke masih diam.
"Aku masih Hokage disini,"
"Aku tak peduli,"
"Aku bisa menangkapmu,"
"Kau bisa mencoba,"
Tiga sudut siku-siku bertengger di dahi Minato.
"Gezz... kau benar-benar mirip ayahmu," gerutu Minato.
"Kau tak tahu apapun tentang ayahku," desis Sasuke.
"Setidaknya Ayahmu di dunia ini," lanjut Minato sambil tersenyum.
Sasuke tak menjawab.
"Ayolah, aku hanya ingin melihat lukamu," kata Minato sambil tersenyum.
"Ini bukan apa-apa," kata Sasuke dingin.
"Kau tahu, aku pernah menjalankan sebuah misi bersama Fugaku, dan dia menolak saat aku ingin mengobati kepalanya yang terluka. Saat kembali, ia harus dirawat di rumah sakit selama sebulan karena pendarahan otak," kata Minato sambil tersenyum.
"Si Uchiha bodoh itu sama sekali tak mengeluh selama perjalan pulang. Tak berkata apapun. Dan lihat apa yang ia dapat. Aku menertawakannya setiap hari selama sebulan penuh," kata Minato sambil tersenyum lebar.
Sasuke menghela nafas pelan sebelum akhirnya duduk.
Minato hanya tersenyum sebelum membuka kotak obat lalu memeriksa kepala Sasuke yang terluka.
"Bilang padaku jika terasa sakit," kata Minato sambil menekan beberapa bagian. Sasuke hanya diam. Dengan sengaja Minato menekan beberapa bagian cukup keras yang langsung dibalas desisan oleh Sasuke.
"Oh, disini rupanya," kata Minato sambil menahan senyum.
"Lakukan itu lagi dan aku akan menikammu," Ancam Sasuke.
"Ho~ Anbu-ku tak akan membiarkanmu melakukannya, selain itu... kau tak akan dengan mudah menikam 'Yellow Flash'" kata Minato tersenyum lebar.
Sasuke hanya menggerutu pelan sebelum tubuhnya berubah kaku saat Minato mengalirkan chakranya. Refleks tangannya menggenggam chokuto yang terpasang di pinggang sebelum tangan Minato menahannya.
"Tenanglah, aku hanya menyalurkan sedikit chakra penyembuh. Ini tak akan melukaimu." Kata Minato tenang. Memberi sinyal kepada para Anbu yang tiba-tiba muncul disekelilingnya agar mundur.
Sasuke masih tetap menggenggam chokuto miliknya saat Minato melepaskan tangannya, sebuah chakra hijau muncul di tangannya yang berada di kepala Sasuke, sebelum menghilang dan ia mengambil salep dan perban dari dalam kotak di pangkuannya. Perlahan ia mengoleskannya di bekas luka yang hampir menutup sebelum membalutkan perban.
"Lihat, ini tidak menyakitkan," kata Minato sambil tersenyum. Ia berdiri dan mengembalikan kotak obat itu di tempatnya sebelum kembali duduk di dekat ranjang Naruto. Sementara Sasuke kembali berdiri di sisi jendela.
Saat memandang sosok sang putri, senyum Minato melembut saat mendapati mata biru itu terbuka lebar.
"Kau sudah bangun?" tanya Minato sambil duduk di sisi ranjang. Sekejap Sasuke sudah berdiri di sisi satunya.
"Kalian berdua terlalu berisik-ttebayo," gerutu Naruto pelan.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Minato sambil memeriksa dahi sang putri, tapi Naruto berjengit dan menjauhkan kepalanya. Membuat tangan Minato terhenti, ia memandang sang putri selama beberapa saat sebelum menjauhkan tangannya dan berbailk memanggil salah satu Anbu. Memintanya untuk memanggil yang lain.
"Apa kau sudah ingat, Idiot?" tanya Sasuke dingin.
"Berisik, Brengsek. Kau membuat kepalaku tambah pusing," kata Naruto sambil menatap tajam sang Raven. Bersamaan itu pintu kamar terbuka. Diikuti masuknya Kushina, Rin, Obito, dan Itachi.
"Hn, Idiot memang tak bisa diharapkan," kata Sasuke sambil mendengus.
"Katakan sekali lagi dan akan kutendang bokongmu keluar jendela," geram Naruto kesal.
"Coba saja kalau kau bisa, Dobe!"
"Kau akan menyesal, Teme!"
"Na-ru-to! Aku tak peduli kau sedang sakit atau tidak, jaga bicaramu," kata Kushina sambil mencubit pipi Naruto. Yang dibalas pekikan kaget dari sosok sang putri.
"Bagaimana keadaanmu? Bagian mana yang sakit?" tanya Kushina sambil menyentuh dahi Naruto dan membelai pipinya.
Iris biru itu menatap sosok sang ibu lama sebelum menjauh dari sentuhannya, "Aku baik-baik saja," jawabnya singkat sambil memalingkan muka. Membuat sosok Kushina membeku. Ia menatap Minato yang menggeleng pelan.
"Halo, Naru-chan. Bagaimana perasaanmu?" tanya Rin sambil berjalan mendekat.
"Dimana Sakura-chan?" tanya Naruto balik sambil memandang sekeliling. Senyum Rin sedikit memudar.
"Aku disini," kata Sakura sambil memasuki ruangan diikuti Sai dan Kakashi. Kunoichi berambut pink itu kemudian duduk di kursi di samping ranjang menggantikan Rin.
"Sakura-chan... aku merasa aneh sekali," kata Naruto memelas.
"Huh," Sasuke mendengus.
"Apa yang kau tertawakan, Teme!" bentak Naruto.
"Bisakah kau diam? Aku sedang mencoba memeriksa disini," kata Sakura sambil tersenyum. Namun salah satu tangannya mengepal dengan otot menyembul di permukaan kulitnya.
"Baik," jawab sang putri cepat dengan wajah yang memucat.
Sakura mengangguk dan mengalirkan chakra hijau untuk memeriksa keadaan Naruto.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Sakura. Naruto memejamkan mata.
"Kepalaku pusing, dan rasanya aku ingin muntah," jawab gadis itu pelan. Sakura mengangguk dan menyelimuti kepala dan perut Naruto dengan chakra hijau.
"Lebih baik?" tanya Sakura.
"Ya, Thanks, Sakura-chan," kata Naruto sambil tersenyum lebar.
"Kau masih belum bisa ingat apa yang terjadi?" tanya Kakashi. Naruto perlahan bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Nah... Aku ingat sudah membawa Sasuke pulang, kemudian kita berangkat menuju medan perang kan?... si Brengsek ini bilang punya suatu rencana, dan kita berpisah... Obito... Madara...," gadis itu terdiam dan memejamkan mata, " A-aku tak ingat," kata gadis itu sambil memegang dahinya.
"Pelan-pelan saja," kata Sakura menenangkan.
Sosok pirang itu menghela nafas.
"Aku benar-benar bingung," kata Naruto sambil mengusap belakang kepalanya dan ia membeku saat menyadari rambut pirangnya yang kelewat panjang. Ia terdiam dan memandang telapak tangannya yang terlihat kecil dan halus.
"Kau tak perlu memaksakan diri," kata Minato sambil mengusap kepala Naruto. Membuat gadis pirang itu berjengit pelan.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Kushina yang kini berdiri disamping Minato.
"Dia akan baik-baik saja, Namikaze-sama. Ia hanya butuh banyak istirahat untuk memulihkan chakranya," Jawab Sakura.
Perlahan Naruto menepis tangan Minato dan bergumam, "Aku baik-baik saja," . Tanpa memandang sosok Minato dan Kushina.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Sakura lagi.
"Aneh," jawab Naruto sambil menyentuh dadanya. Ia meraba-raba seluruh tubuhnya hingga perlahan aura hitam muncul di sekeliling Sakura.
"Berhenti menyentuh dirimu sendiri, dasar mesum!" bentak Sakura sambil meninju dinding yang kini terlihat retak. Tiga sudut siku-siku bertengger di dahinya.
"M-mau bagaimana lagi, rasanya aneh sekali," jawab Naruto dengan muka pucat dan dua tangan yang terangkat ke udara.
"Dasar Idiot," gumam Sasuke yang dibalas juluran lidah oleh Naruto. Ia terdiam sejenak sebelum senyum lebar terlukis di wajah berhias tiga goresan itu.
"Ah! Aku tahu!" teriak gadis itu sambil menautkan kedua tangannya, "Henge!"
Sebuah 'Poff' terdengar. Dan saat asap putih itu menghilang, yang berbaring disana bukan lagi seorang gadis berambut pirang panjang. Melainkan seorang pemuda dengan rambut pendek jabrik yang berantakan.
"Nah... sekarang lebih nyaman," kata sosok itu sambil mengeliat.
Sekejap suasana di ruangan itu menjadi hening.
Hingga terdengar gemeretak dari jari-jari Sakura seakan ia bersiap menghajar seseorang, dan Aura hitam di sekeliling kunoichi itu menebal. Wajah Naruto sekejap berubah biru.
"Sa-sakura-chan, A-apa yang mau kau lakukan? A-apa salahku kali ini?" tanya sosok pemuda itu sambil sedikit menjauh. Tau betul sesuatu yang buruk akan terjadi kalau sang Haruno memasang pose seperti itu.
Hingga Kunoichi berambut pink itu memeluk sosok pemuda dan menangis terisak.
"Ee-eeeh! Sa-Sakura-chan! Apa yang terjadi?" tanya sosok itu panik.
"Naruto-Baka!" bentak Sakura sambil menjitak kepala pirang itu.
"Auww... Sakura-chan, aku sedang sakit," rintih Naruto sambil mengusap kepalanya yang benjol.
"Aku tak peduli, Aku bisa menyembuhkanmu nanti!" jawab Sakura dengan berlinang air mata.
"Apa burung kecilmu sudah kembali, Naruto?" tanya Sai sambil tersenyum.
"Diamlah, Sai. Atau kusumpal mulutmu itu." Geram Naruto sambil menutup mukanya yang memerah.
Sasuke dan Kakashi hanya memandang sosok itu dalam diam.
"Nee, Sakura-chan. Aku Lapar sekali. Boleh aku makan ramen?" tanya Naruto sambil tersenyum.
"Tidak sampai kau bisa berdiri tegak," kata Sakura tegas.
"Aku bisa-" kata Naruto sambil melompat berdiri sebelum rasa pusing mendera kepalanya dan akan jatuh kalau saja Minato tak segera menangkapnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Minato dengan raut wajah khawatir dan segera membaringkan sosok pemuda itu di atas ranjang.
"Berhenti jadi seorang Idiot dan memecahkan batok kepalamu," Desis Sasuke disampingnya.
"Aku baik-baik saja, aku akan kembali tidur," kata Naruto sambil memejamkan mata dan berbalik memunggungi sosok Minato dan Kushina yang menatapnya khawatir.
Sakura menatapnya sedih sebelum kemudian tersenyum.
"Panggil kami jika kau butuh sesuatu," kata Sakura yang di jawab anggukan pelan.
"Lebih baik biarkan dia istirahat," kata Sakura sambil menatap pasangan suami istri Namikaze. Mereka semua berjalan keluar ruangan kecuali Sasuke. Minato menatap sosok itu sejenak sebelum akhirnya menutup pintu.
###
"Apa-apaan itu tadi?" desis Minato sambil memasuki ruangan.
"Sensei..."
"Apa yang terjadi pada Putriku?"
"Sepertinya tubuh Naru-chan diambil alih oleh jiwa Naruto yang lain," kata Itachi berspekulasi.
"Dan dimana jiwa putriku?" Bentak Minato sambil menggebrak meja yang ada di ruangan.
"Kita harus tetap tenang, Minato-sensei," kata Kakashi.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau putriku berubah menjadi orang asing?" kata Minato memandang ninja dari dimensi lain itu tajam. Tak ada yang berani menjawab.
"Aku bersumpah jika putriku tak bisa kembali... dia... kalian... akan menyesal pernah datang ke dunia ini." ancam Minato.
Suhu di ruangan itu tiba-tiba mendingin.
"Namikaze Minato," Desis Kakashi pelan. Untuk pertama kalinya Ia mengeluarkan aura membunuh pada seluruh ninja di ruangan itu. Membuat semua orang membeku.
Minato mengerutkan alis menatap sosok sang ninja berambut putih, level aura membunuh ini sangat berbeda dengan yang ia ingat. Walau masih jauh di bawahnya, level ini sudah selevel seorang Kage.
"Aku harus mengingatkanmu bahwa yang ada di seberang ruangan ini adalah Putramu," lanjut sang Hatake.
Minato terdiam menatap sosok murid yang telah mati di dunianya itu. Ini pertama kalinya, ada yang berani menyebut namanya tanpa embel-embel Hokage ato –sama selain Kushina.
"Kau mungkin tak bisa membayangkan apa saja yang sudah dilaluinya di dunia kami. Tapi aku tak akan membiarkan kalian melukainya walau hanya seujung jari," desis ninja berambut putih itu dingin.
Biru dan abu-abu itu saling menatap tajam.
"O-oi... Minato-sensei... Bakashi..." kata Obito tiba-tiba menengahi. Panggilan bodoh yang sudah lama tak di dengarnya itu membuat Kakashi mengerjapkan mata. Dan memandang ninja bergogel oren itu selama beberapa saat. Aura membunuhnya hilang sama sekali.
"Bukan waktunya untuk saling bertengkar, lebih baik kita bicarakan ini dengan tenang dan mencari jalan keluar, aku yakin Naruto juga sedang gusar sekarang," kata Obito serius.
"Maa... aku tak pernah berpikir akan mendengar kau bicara sepintar ini, Tuan Cengeng," kata Kakashi sambil tersenyum.
Tiga sudut siku-siku segera bertengger di kepala Obito.
"Berhenti memanggilku begitu, Bakashi brengsek!" teriak Obito dengan wajah kesal.
Memandang dua sosok muridnya itu membuat Minato terdiam sebelum menghela nafas.
"Aku minta maaf," Kata Minato.
"Kau bilang kami meninggal saat Naruto masih bayi," kata Minato pelan sambil menutup mata. Ia berjalan dan duduk kursi panjang dalam ruangan itu. Sosok Kushina ikut duduk disampingnya sambil memeluknya erat. Helaian merah itu menutupi wajahnya yang bersandar di bahu Minato. Tubuh berbaju oren dengan luaran berwarna krem itu bergetar sementara tangan Minato tak hentinya mengelus lengan Kushina.
"Ya," jawab Kakashi sambil menghela nafas.
"Lalu kenapa Naruto terlihat seakan tak mau melihat kami?" Tanya Minato mencoba terdengar tenang.
"A-apa ia membenci kami?" Tanya Kushina dengan suara bergetar. Minato menutup mata saat mengingat mereka tak hanya meninggalkan Naruto sebatang kara tapi juga menyegel Kyuubi di tubuhnya.
"Tidak, Naruto tak pernah membenci kalian meski tahu bahwa kalian yang menyegel Kyuubi di tubuhnya," jawab Kakashi tak mengerti.
"KAMI- APA?" bentak Kushina sambil menatap Minato.
Kakashi langsung bungkam saat sosok Kushina menatap tajam Minato dengan rambut merah yang bergerak-gerak seperti ekor Kyuubi.
"KENAPA KAU TAK MEMBERITAHUKU?" Bentak Kushina,"KITA MENYEGEL MONSTER ITU DALAM TUBUHNYA DAN MENINGGALKAN DIA SENDIRIAN?"
"Sshh... Tenanglah Kushina, kau bisa membangunkannya," kata Minato sambil memeluk Kushina erat.
"Aku akan membunuhmu!" desis Kushina penuh amarah.
"Aku juga ingin membunuh diriku sendiri," bisik Minato di telinga Kushina.
"Naruto tak pernah menyalahkan kalian," Kata Kakashi berusaha menenangkan.
"Bagaimana kau bisa yakin?!" tanya Kushina setengah berteriak.
"Dia sendiri yang berkata padaku," kata Kakashi sambil tersenyum, "Bahwa ia merasa bangga menjadi anak kalian. Dan ia mengerti mengapa kalian melakukan itu,"
"Ia tak akan bisa berteman dengan Kyuubi kalau Ia tak bisa memaafkan kalian," lanjut Kakashi. Membuat Kushina menatapnya tak percaya.
"Dia berteman dengan Kyuubi?" tanya Kushina pelan. Kakashi mengangguk.
"Dia benar-benar sesuatu, benar kan, Kushina?" kata Minato sambil tersenyum.
"Nah... ini mengingatkanku. Tak bisakah kau bicara dengan Kyuubi milikmu, Kushina-nee?" tanya Kakashi serius.
Kushina mengerutkan alis.
"Aku bisa mencoba, sudah lama aku tak bicara dengan rubah itu," kata Kushina.
"Mungkin ia tahu sesuatu tentang kejadian ini," kata Kakashi menimpali.
"Ya, rubah itu bertingkah sedikit aneh sejak 2 tahun lalu," gumam Kushina.
"Kau sempat koma, dua tahun lalu. Iyakan, Kushina-nee?" tanya Obito.
"Ya, aku masih ingat." Kata Kushina sambil memandang keluar jendela.
Hari itu ia berada di rumah dengan Rin-chan dan Kakashi kecil. Ia hanya bisa mondar-mandir di dalam ruangan tanpa bisa melakukan apapun saat putrinya menghilang sementara Minato mengitari seluruh negara api mencarinya. Kushina sudah akan ikut mencari namun Minato memohon agar ia menunggunya di rumah. Ninja berambut pirang itu berjanji akan membawa putrinya kembali apapun yang terjadi. Jadi sang Uzumaki itu hanya berdiam di dalam rumah dengan penjagaan ketat sepasukan Anbu. Berjaga jika masih ada musuh yang berniat kembali menyerang.
Hingga ruangan itu terasa bergetar diikuti suara ledakan dari kejauhan. Kushina segera menoleh ke arah jendela dan melihat cahaya merah di ujung horizon. Wajahnya memucat saat merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Dan berdoa semoga putri dan suaminya baik-baik saja.
Dan tiba-tiba semuanya terasa sunyi.
"Kushina,"
Suara siluman rubah yang ada di dalam tubuhnya terdengar dengan nada memperingatkan. Dan semuanya menjadi gelap.
Saat ia bangun, ia tengah berada di dalam rumah sakit dengan Minato yang terduduk di kursi dan sang Putri yang terbaring di ranjang di seberangnya. Ia tak pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah Minato sejak perang berakhir.
"Apa yang terjadi?" suara Kakashi membuyarkan lamunan Kushina.
"Setelah koma, aku mencoba bicara dengan rubah itu, tapi ia tak mau bicara dan hanya memandangku. Ia bahkan tak menggeram marah seperti biasa. Atau melempar ancaman membunuh. Sekarang ia jadi pendiam, dan aku mengabaikannya," jawab Kushina.
"Bisakah kau mencoba bicara dengannya sekarang?" pinta Kakashi.
Kushina memandang Minato yang kemudian mengangguk, sebelum memejamkan mata.
Sekejap ia sudah berada di alam bawah sadarnya. Mendongak menatap siluman rubah ekor sembilan yang tersegel di langit-langit dunia itu dengan pasak yang menancap di setiap ekor dan kakinya.
Mata merah dengan pupil menyempit itu menunduk dan menatapnya.
"Kushina,"
"Kyuubi," panggil Kushina tanpa takut.
"Apa maumu?" tanya sosok siluman itu tak tertarik.
Kushina menatap sosok monster itu tajam.
"Apa kau tahu sesuatu tentang kejadian dua tahun lalu? Tentang putriku?" Tanya Kushina.
Kyuubi menatapnya dalam diam.
"Kau tahu sesuatu kan? Cepat katakan! Rubah brengsek!" teriak Kushina.
Sosok rubah itu menyeringai, menampakkan taring di sepanjang mulutnya dan terkekeh.
"Kau akan tahu nanti, sekarang enyahlah," kata sang Rubah.
Sekejap kemudian Kushina membuka mata dan mendapati seluruh ruangan itu menatapnya.
"Bagaimana?" tanya Minato.
"Dasar Gumpalan Bulu Brengsek! Dia mengusirku keluar," desis Kushina dengan wajah murka dan rambut merahnya yang bergerak-gerak.
"Dia tak mengatakan apapun?" tanya Kakashi.
"Dia hanya bilang agar kita menunggu," kata Kushina sambil bersedekap kesal.
"Tak ada pilihan lain, kita harus menunggu Naruto ingat." Kata Kakashi sambil memejamkan mata.
Kushina memandang jonin berambut putih itu selama beberapa saat.
"Kau bilang Naruto kalian bisa berteman dengan Kyuubi?" tanya Kushina.
"Ya, mereka bahkan bekerja sama saat perang," jawab Kakashi.
"Bagaimana mungkin? Ia tak membencinya?" tanya Kushina lagi.
"Maa... Naruto hampir tak bisa membenci siapapun. Ia bahkan bisa memaafkan Pein yang telah membunuh Jiraiya-sama dan menghancurkan seluruh Konoha," kata Kakashi sambil tersenyum.
"Apa yang terjadi?" tanya Minato. Siapa Pein?
"Dia bicara dengannya, dan berhasil membujuknya menghidupkan seluruh penduduk desa yang menjadi korban saat penyerangan," jawab Kakashi.
"Whoa... kalian bisa melakukan itu?" tanya Obito tak percaya.
Kakashi hanya tersenyum.
"Duniamu terlihat... berbahaya," kata Minato dengan alis berkerut. Dan menyedihkan.
"Lalu kenapa ia membenci kami sekarang?" tanya Kushina lirih.
"Aku percaya dia tak membenci kalian," jawab Kakashi pelan.
"Sepertinya aku tahu alasannya," kata Sakura pelan. Semua orang langsung menatapnya.
"Aku dan Naruto pernah terkena genjutsu seperti ini sebelumnya," kata Sakura.
"Oh," Kakashi menggumam pelan. Mengingat kejadian yang terasa sangat jauh itu.
"Genjutsu?" tanya Minato.
"Ya, Tobi-maksudku Madara. Pernah memerangkap kami dalam dunia ilusinya. Dimana kalian berdua juga masih hidup." Kata Sakura sambil tersenyum sedih,
"Meski kami berdua berhasil keluar. Itu... tidak terlalu berakhir baik untuk Naruto," jawab Sakura pelan.
"Oh," gumam Minato pelan. Ia bisa membayangkan bagaimana Naruto saat kembali kedunia nyata dan mendapati mereka berdua kembali tak ada.
"Maaf, Hokage-sama," gumam Sakura pelan.
"Bukan salahmu," jawab Minato sambil tersenyum dan memeluk Kushina yang kembali bergetar dalam pelukannya,
"Bukan salahmu,"
Di sudut ruangan itu, sosok Uchiha Sasuke hanya terdiam sementara angin membelai surai hitamnya pelan.
###
Malam telah larut dan jam di dinding telah menunjukkan waktu tengah malam saat iris biru itu akhirnya terbuka. Sosok Henge berwujud pemuda berambut pirang itu menolehkan wajahnya ke samping. Memandang kursi panjang di sisi tempat tidur yang sebelumnya di tempati sosok yang menyerupai sang Ayah dan Ibu kini kosong. Ruangan itu hanya di terangi lampu kecil di langit-langit tengah ruangan. Korden berwarna putih terdiam disamping jendela kaca yang tertutup, mencegah angin malam masuk namun masih bisa membuatmu melihat langit malam cerah di luar.
Naruto perlahan bangun dan membeku saat mendapati sosok itu masih ada disana. Berdiri di samping jendela dengan tangan bersedekap. Wajah pucat itu terlihat agak gelap karena wajahnya yang menunduk. Di belakangnya, ujung pepohonan terlihat bergerak tertiup angin yang terhalang kaca.
"Sasuke?" panggil Naruto itu tak percaya. Sang Uchiha itu sama sekali tak beranjak dari tempat terakhir ia melihatnya.
Iris oniks itu melirik ke arahnya tanpa menggerakkan sedikitpun tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan berdiri seharian disana?" tanya Naruto sambil mengernyitkan alis.
Sosok berambut raven itu hanya menatapnya.
"Kau tidak tidur?" tanya Naruto lagi.
Tak ada jawaban.
"Gezz... setidaknya kau bisa duduk," kata pemuda beriris biru itu sambil mengedikkan kepalanya di kursi yang kosong.
"Teme...kau tidak bisu kan?" tanya Naruto kesal.
Sasuke menolehkan wajahnya ke arah sang Blonde.
Naruto balas menatap oniks itu. Baru menyadari betapa berbeda sosok itu dengan yang terakhir ia ingat. Terutama bayangan hitam di bawah mata kelam itu.
"Kapan terakhir kali kau tidur, Sasuke?" tanya Naruto serius.
"Hn,"
"Kau masih brengsek seperti biasa," gerutu Naruto pelan. Ia perlahan turun dari ranjang dan berjalan ke arah sang raven yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya. Ia meraih lengan Sasuke dan menyeretnya menuju kursi panjang di sisi ranjang. Ia duduk di sofa empuk itu sambil memegang dahinya yang kembali berdenyut pusing.
"Akan kupanggil Sakura," kata Sasuke sambil beranjak pergi sebelum di tahan Naruto.
"Tidak usah, ini tak apa," kata Naruto sambil mendongak, ia menepuk permukaan sofa di sampingnya, "Duduklah, Teme,".
Sasuke memandangnya sesaat, memastikan ia tak berbohong sebelum akhirnya ikut duduk dengan bahu yang hanya berjarak sejengkal.
Naruto bangun sejenak untuk mengambil selimut di atas ranjang sebelum kembali duduk dan menyelimuti tubuh mereka berdua.
"Sekarang, tidur!" perintah Naruto sambil menyenderkan kepala di punggung kursi dan memejamkan mata.
"Apa kau bodoh?" tanya Sasuke pelan. Menatap sosok pirang yang menguap di sampingnya.
"Ayolah, Teme! Apa aku perlu menyanyikan Nina bobo?" tanya Naruto mengejek dengan sebelah mata terbuka. Seringaian menghiasi wajah berhias tiga goresan miliknya.
Sasuke memandang sosok disampingnya, sebelum oniksnya memandang sekeliling dimana para Anbu berjaga dalam bayangan.
"Kau pikir kita berdua tak akan bisa menanganinya?" tanya Naruto skeptis. Mengerti maksud dari pandangan sang Raven. Walau masih lemah, ia yakin masih bisa menghadapi para Anbu itu jika bersama Sasuke. Bukannya ia mau kabur atau apa, hanya berjaga-jaga saja.
Sasuke memandang Naruto dalam diam. Naruto balas memutar matanya.
"Serius, Sasuke. Semuanya akan baik-baik saja-dattebayo! Seperti waktu dulu." Kata Naruto sambil tersenyum.
Jika diingat, situasi mereka sama seperti saat Naruto berhasil membawa Sasuke pulang ke desa. Setelah bertarung hingga masing-masing sebelah tangan mereka terbakar –dan lukanya membekas meski dengan chakra penyembuh Kyuubi- dan mereka harus dirawat di rumah sakit –yang dibangun sementara setelah bangunan yang asli hancur karena serangan Pein-. Naruto meminta mereka ditempatkan dalam satu ruangan –dengan alasan tak akan membiarkan Sasuke kabur- dan mendapati sang Raven tak tidur selama berhari-hari. Ia melihat bagaimana mata oniks itu akan menatap keluar jendela penuh curiga juga para Anbu yang menjaga mereka. Ia baru sadar bagaimana para Anbu itu menatap Sasuke. Mereka masih menatapnya sebagai kriminal kelas S yang mengkhianati desa dan memulai perang dengan menyerang pertemuan Lima Kage.
Dan jelas sekali teman ravennya itu tak akan semudah itu mempercayai para ninja yang masih menganggapnya musuh. Yang bisa saja menikamnya dari belakang jika ia lengah.
Jadi saat itu Naruto ikut duduk di ranjang Sasuke dan tidur bersandar di punggungnya.
'Tenanglah, Aku dibelakangmu,'
Kata yang tak terucap itu sesaat membuat punggung sang raven menegang, sebelum akhirnya ia menoleh kebelakang dan menghela nafas pelan.
'Hn, Idiot,"
Dan Sasuke kini memandang sosok pirang yang kali ini tertidur disampingnya. Masih mengenakan piama oren yang terlalu kecil. Dengan kedua bahu yang saling bersentuhan. Dan mendengkur di samping telinganya.
Untuk pertama kali setelah perang berakhir, Sasuke bisa memejamkan mata dengan tenang. Merasakan hangat menyebar di seluruh tubuhnya, dan mendengarkan detak dari tubuh di sampingnya.
.
.
.
To be Continue...
.
.
Yosha! ^o^
Maaf kalu alurnya lambat. Saya udah berusaha bikin target alur buat chap ini dan belum sampai sana ini chap udah 9ribu word panjangnya =.= mungkin saya terlalu banyak nulis hal gak penting ^^a
Oh ya, saya akan menjelaskan, bahwa fic ini berbeda dengan versi manga. *susahnya bikin head canon yang endingnya ternyata beda =.=* *reader: itu mah kamunya yang kelamaan gak namatin ini fic* *ditendang rame-rame*
Nah... saya pertama bikin fic ini bahkan sebelum ketahuan kalau Tobi itu Obito ^^a #digeplak
Jadi ini perbedaan dengan versi manga.
1. Pertarungan Naruto dan Sasuke di lembah akhir terjadi sebelum pertarungan final melawan Tobi-Madara. Dan disini tangan mereka gak buntung. Cuma luka parah sampai bekasnya gak bisa sembuh dan harus ditutup pake perban karena terlihat mengerikan.
2. Kakashi masih memiliki sebelah sharingan milik Obito. Dan soal ia bisa pakai susanoo atau tidak di fic ini, masih saya pertimbangkan.
3. Sasuke tidak memiliki mata Rinnegan –ato belum- masih mata normal uchiha dan level tertinggi masih eternal mangekyou.
4. Soal Kaguya dan Hagoromo masih saya pikirkan ^^ #ditendang.
Nah saya minta maaf jika selalu membuat menunggu lama untuk update. Saya punya banyak alasan yang gak perlu dibahas ^^.
Saya gak bisa berjanji untuk update kilat. Tapi saya janji akan update hingga fic ini tamat *kalau masih diberi umur sama yang di atas* jadi Terima kasih ^^.
Sampai jumpa di chap depan ^^.
.
Review?
