Kris adalah orang pertama yang aku hubungi tepat setelah aku sampai di rumah sepulang perjalananku dari Gangwondo. Aku menceritakan seluruh kejadian yang aku alami kemarin tentang bagaimana aku yang mencoba mengorek kebenaran dengan menanyakan sesuatu tentangnya pada Soojung, dan Soojung yang tiba-tiba menggerayangiku seperti ulat bulu hingga Soojung yang bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa setelahnya, aku juga membenarkan perkataannya yang mengatakan kalau Soojung itu bukan wanita baik-baik. Kris berasumsi kalau Soojung merasa terancam karena dia tahu kalau aku tahu sesuatu tentang keburukannya, karena itu dia berusaha untuk merayuku sehingga aku sendiri termakan keburukannya dan tidak akan berani untuk memberitahu siapapun tentang hal itu. Aku pikir itu cukup masuk akal. Dan kami berdua sepakat kalau Soojung benar-benar gila karena telah berani melakukan itu padaku yang merupakan teman kekasihnya sendiri.
"tapi, apa dia benar-benar bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa setelah itu?"
Bayangan wajah Soojung yang terlihat datar seperti biasa sepulangnya Wendy dan Jongin dari membeli makanan, melintas di otakku.
"ya, dia tidak menunjukkan tanda-tanda panik atau gelisah sama sekali"
"heol, hebat sekali, aku rasa dia cukup yakin kalau kau tidak akan buka mulut pada Jongin"
Tapi, persetan dengan pendapat Soojung tentangku dan apa yang dia rasakan setelah apa yang dia lakukan, aku benar-benar tidak perduli. Satu-satunya orang yang aku perdulikan diantara semua ini adalah Jongin dan semua perasaannya yang tulus pada Soojung. Aku tidak bisa tidak merasa marah setiap kali mengingat wajah putus asa Jongin malam itu hanya karena seorang gadis seperti Soojung.
Kris terus berkata tentang betapa Jongin berhak mengetahui itu semua, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan?! Kris mengerti dan menyuruhku untuk memikirkan segalanya matang-matang. Untuk selanjutnya, Kris berpamitan karena ada suatu hal yang harus dia kerjakan dan berjanji akan datang kesekolahku hari senin nanti untuk menyaksikan babak penyisihan live contest yang diadakan oleh sekolahku sebelum kemudian mengakhiri panggilan kami.
Aku menghela napas panjang.
Apa yang harus kulakukan?
Aku menyeret langkahku memasuki kelas dengan tampang lesu. Semalam, tidak terasa aku menelepon dengan Kris sampai pukul 3 dini hari. Tidak heran jika mataku rasanya berat sekali. Aku mengabaikan kegaduhan yang dibuat anak-anak saat menyambut kedatanganku. Aku mendengar Chanyeol berkata sesuatu tentang betapa aku tidak berhak menunjukkan tampang lesu karena aku adalah orang yang baru saja pulang berlibur, adapun orang yang harusnya kelihatan lesu adalah dirinya, dia yang mengurus semua tugasku dalam klub selama aku tidak ada, dan dia juga yang susah payah mencari alasan kepada Mrs. Choi supaya aku tidak mendapat nilai bolos. Chanyeol terus mengoceh sampai aku memutar bola mataku dan melemparkan sekantung makanan (yang Jongin dan Wendy beli di Gangwondo kemarin) ke atas meja. Mendadak, Chanyeol yang menyebalkan berubah menjadi kucing yang mengibas-ibaskan ekornya kesenangan. Tentu saja, semua yang kubutuhkan hanya sekantung makanan.
"Oh Yes! Ternyata kau tidak melupakanku, Kyung. Jongdae! Hongbin! kesini!" dan dalam hitungan detik, makanan itu dikerumuni oleh mahluk-mahluk yang haus akan darah. Memang benar yang Chanyeol panggil hanya Jongdae dan Hongbin. Tapi yang berlari ke mejaku adalah semua yang ada di kelas ini. Kau tahu film 'Train To Busan'? Dimana semua Zombie berkumpul untuk memakan satu manusia? ya, seperti itulah keadaan mejaku sekarang. Menyeramkan.
Chanyeol merobek secara brutal pelastik pembungkus cumi-cumi kering menggunakan giginya, aku hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala melihat tingkahnya itu.
"jadi, bagaimana perjalanan kalian ke Gangwondo kemarin? Apa ini liburan pertama kalian sejak kalian pacaran?" Jongdae memulai topik baru saat aku baru saja mendudukkan tubuhku di kursi. Chanyeol mengangguk mendukung pertanyaan Jongdae dengan snack cumi-cumi terantung-antung di mulutnya.
"tidak banyak, kami hanya bermain dipantai dan tidur di sebuah resor mewah"
"jadi, apa kau dan Wendy berada dalam satu kamar?" kini giliran Hongbin yang bertanya dengan sebuah ekspresi penasaran di wajahnya.
"jangan gila! Kau pikir aku ini lelaki macam apa?! Lagipula kalian tahu sendiri aku tidak menyukai Wendy dengan cara seperti itu. Aku sekamar dengan Jongin, dan Wendy dengan Soojung" jawabku tidak terima.
"Jadi, kau melakukannya dengan Jongin?" aku mengerutkan kening ke arah Chanyeol yang masih sibuk dengan makanan-nya itu disampingku.
"Melakukan apa?"
"oh ayolah, jangan pura-pura tidak tahu Kyung, melakukan... ini.." Chanyeol menyatukan kedua telapak tangannya yang kemudian dia buka lalu dia tutup secara bergantian. Saat itulah aku sadar apa yang sebenarnya dia maksud. Aku langsung meremas dan menarik kedua tangannya sekuat tenaga hingga dia berteriak kesakitan.
"aku memang sekamar dengan Jongin, tapi bukan berarti aku melakukan apa-apa dengannya, bodoh! Kenapa kau terus berpikiran kotor seperti itu tentang aku dan dia?!" Aku menggerutu seraya meraih sepotong cumi-cumi untuk diriku sendiri dan menggigitnya dengan jengkel. Serius, tidak bisakah mereka berpikir tentang aku dan Jongin dengan cara yang normal saja? Anak-anak yang lain terdiam cukup lama dengan sebuah ekspresi serius diwajah mereka sebelum sesaat kemudian Minseok bersuara dengan ragu-ragu.
"Karena… keakraban kalian.. Terlihat aneh." Aku merindukan Minseok kami yang pendiam T-T
"aku setuju. Kalian jadi sangat akrab secara tiba-tiba. Sebelumnya, kalian berdua hanya sekedar saling melempar senyum satu sama lain, dan seperti itu saja, tidak lebih. Tapi sekarang? Setiap kali bertemu, kau selalu melompat bahagia ke dalam pelukannya." Jika ada suatu ajang penghargaan untuk orang yang selalu melebih-lebihkan keadaan, maka aku yakin Jongdae lah yang akan jadi pemenangnya. Anak ini tidak hanya pintar membual, tapi membuat kesal orang juga. Lagipula kapan aku pernah berlari ke pelukan Jongin? -_-
"berhenti mengada-ada Jongdae, aku dan Jongin hanya teman biasa. Dan jangan lupa, dia adalah orang yang sudah membantu keuangan klub kita"
"tapi tetap saja, aku merasa hubungan kalian lebih dari itu. bukankah memang tugasnya mengurusi hal-hal seperti itu? kenapa kau bertingkah seolah-olah dia telah menyelamatkan hidupmu? Kalian bahkan sering menghilang berdua sampai-sampai kekasih kalianpun tidak tahu keberadaan kalian dimana" Chanyeol menyambung tuduhan Jongdae dengan analisanya yang cukup kuat. Aku terdiam untuk memikirkan apa yang harus kulakukan, tidak sadar kalau aku telah menggigit bibirku selama itu sampai ahirnya Chanyeol menunjuk wajahku seperti menemukan bukti, "lihat, kau gugup!"kadang, aku menyesal kenapa Chanyeol harus mengetahui diriku sebaik ini.
Belum sempat aku membuka mulut untuk membantahnya, suara Hyunsik menggema memanggil namaku dari ambang pintu.
"Kyungsoo! Jongin mencarimu!" demi gigi tonggosnya Kris! kenapa anak itu selalu datang disaat yang paling tidak tepat?! Keadaan disekitarku pun menjadi gaduh seketika.
"Lihat? Aku bilang juga apa! Kalian berdua itu tidak terpisahkan! Huhh, dia datang terahir, tapi sudah bisa merebutmu dariku. Kau itu memang sesuatu, Jongin." Chanyeol menggodaku namun juga terdengar sedih disaat bersamaan dengan apa yang terjadi. Aku menghela napas seraya menyeret kakiku keluar kelas dimana Jongin berada, dia langsung melambaikan tangannya saat melihatku dan menghampiriku dengan cepat. Aku sempat mendengar suara siulan yang riuh dari dalam kelas, anak-anak itu.. -_-
"Ada apa?"
"apakah bandku berhasil lolos di babak penyisihan?" jadi dia kesini untuk membicarakan hal itu?
Aku mengangguk padanya, tapi seingatku, aku sudah memberitahu Taemin (dia adalah ketua sekaligus vokalis utama band mereka) tadi pagi. "sebenarnya aku sudah memberitahu Taemin, apa dia tidak memberitahumu?"
"kau tahu Taemin orangnya pelupa, dia tidak ingat apa yang kau katakan dan malah menyuruhku untuk menanyakannya sendiri padamu" aku mengangkat satu alisku, kedengarannya aneh. Dia tertawa kecil sebelum melanjutkan, "jadi, kapan babak selanjutnya diadakan?"
"hari ini sepulang sekolah. Di ruang auditorium" aku berkata santai tapi Jongin jadi nampak sangat terkejut.
"Apa?! Secepat ini?! Kenapa mendadak sekali? Kami belum menyiapkan apa-apa!" aku mendengus seraya memutar bola mataku.
"lalu, apa itu salahku? Aku sudah memberitahu ketua band mu sebelumnya jadi, itu masalah kalian. Ah.. dan jangan lupa, jika kalian tidak datang maka itu artinya kalian di diskualifikasi" hah, kapan lagi seorang ketua club bisa mengintimidasi anggota staff osis seperti sekarang ini? aku tertawa dalam hati melihat ekspresi panik di wajah Jongin yang tampan itu. hmm, aku tidak bermaksud memujinya, sungguh.
"Apa kau serius akan melakukan itu padaku, Soo?~" Jongin cemberut dan menarik narik lenganku seperti anak kecil yang sedang minta eskrim pada ayahnya. Serius, ada apa dengan anak ini? Aku bergidik melihat tingkahnya namun Jongin malah meraih kedua tanganku dan menatapku dengan tatapan anak anjingnya, mencoba terlihat imut (padahal tidak sama sekali, sungguh) dan melanjutkan, "Untuk seseorang yang... kau cintai?" dia mengerjapkan matanya berkali-kali dan aku sontak menarik tanganku darinya, eww menjijikan.
"dasar gila"
"Oh tidak mempan ya? Um, kalau begitu.. untuk seseorang yang mencin- oh tunggu sebentar"
Belum sempat Jongin mengganti kalimatnya, handphonenya berbunyi dan membatalkan apapun itu yang akan dia katakan sebelum kemudian dia mengangkatnya. Aku menggelengkan kepala seraya bersandar pada tiang pintu untuk menunggunya dan mulai menebak-nebak apa sebenarnya yang akan dia katakan tadi.
Apa dia akan mengatakan kalau dia, mencintaiku?
Aku tersenyum memikirkannya.
"Hallo, Soojung."
Namun senyumku lenyap sesaat setelah Jongin menyebut nama itu. Aku tidak mengerti, tapi aku tiba-tiba saja merasa marah membayangkan bahwa gadis itulah yang menelepon Jongin saat ini, dan itu mungkin tergambar jelas di wajahku karena selanjutnya, Jongin menatapku dengan salah satu alisnya yang terangkat. Dia mungkin kebingungan melihat wajahku yang cemberut secara tiba-tiba.
"Soojung, maaf tapi sepertinya aku tidak bisa hari ini. ternyata audisi untuk live contest akan diadakan sore ini sepulang sekolah, ya, aku juga baru tahu, maaf ini mendadak sekali." Meskipun Jongin sedang berbicara dengan Soojung di telepon, tapi pandangannya tidak pernah lepas dariku dan terlihat hawatir, mungkin dipikirannya dia bertanya-tanya, 'apa ada yang salah?'.
"hm? Kyungsoo? tentu saja dia datang, dia kan ketua klub musik." Kini giliran aku yang mengangkat alis saat namaku disebut-sebut. Kenapa wanita itu bertanya tentangku? Untuk apa? "memangnya kenapa?" untuk sesaat, Jongin terdiam dengan sebuah kerutan dikeningnya, aku tidak tahu apa yang Soojung katakan hingga membuat Jongin sebingung itu. "kau mau kesini? Kenapa?" kini, aku tahu apa penyebabnya. Aku rasa aku juga tahu kenapa gadis itu bersikukuh ingin kesini tidak peduli dengan bujukan Jongin yang mengatakan kalau disini hanya ada anak laki-laki dan Soojung bisa saja merasa kesepian, itu karena, dia ingin menjaga Jongin dariku. Apa kini ahirnya dia merasa cemas jika aku akan memberitahu Jongin tentang keburukannya?
"baiklah kalau begitu, beritahu aku kalau kau sudah sampai, aku akan menjemputmu di gerbang"
Kami berdiri disini untuk beberapa saat ketika Jongin mengucapkan salam perpisahan sebelum akhirnya menutup telepon. Aku melihatnya saat dia memasukan ponsel ke kantung celananya. Dia melihatku dengan ekspresi tidak tenang di wajahnya seperti tengah merasa bersalah, "Apa kau marah… karena Soojung akan datang kesini?"
Aku mengerutkan kening atas pertanyaannya, karena apa yang Jongin pikirkan itu, salah.
Jika Jongin pikir aku marah karena cemburu atau sejenisnya, maka aku bisa mengatakannya dengan percaya diri kalau itu tidak benar. Tidak pernah sekalipun terlintas di pikirkanku kalau dia harus menjadi milikku. Tidak sedikitpun ada pikiran seperti itu. Aku marah karena aku tahu apa yang sudah terjadi.
Aku sudah cukup puas dengan jenis hubungan yang kumiliki bersama Jongin sekarang ini. Aku puas dengan fakta bahwa kami memiliki perasaan yang indah terhadap satu sama lain, tanpa harus mendefinisikan hubungan yang kami miliki, atau harus memikirkan tentang hal-hal yang telah terjadi di kamar tidur.
Aku mencintai apa yang sudah kami miliki, tapi aku benci apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku tidak akan membiarkan ada orang lain yang menyakiti seseorang yang sangat penting bagiku.
Aku menggeleng lemah. "tidak, aku tidak marah. Berhenti mengada-ada" aku tahu jawabanku ini membuatku, terdengar seperti sedang menghindari topik pembicaraan, tapi aku sudah berusaha sebaik mungkin agar Jongin tidak khawatir.
"benarkah kau tidak marah? Aku minta maaf." Jongin meremas ringan jari-jari tanganku yang membuat aku mengangguk padanya, mencoba menegaskan kembali ucapanku sebelumnya.
"oh iya, aku harus pergi sekarang, ada banyak sekali tugas yang harus aku salin dari teman-temanku karena tidak datang jumat kemarin." Pada akhirnya, aku harus berbohong (karena Chanyeol memberitahuku kalau dia sudah menyalin semua tugas untukku) sebagai sebuah alasan. Aku menyadari lebih baik pergi dari sini daripada berdiri dengan amarah yang terpampang jelas di wajahku. Aku tidak ingin Jongin salah paham dan berpikir kalau aku marah padanya.
"baiklah. Sekali lagi maaf, Soo" Dia mengulanginya sendiri. Aku mengangguk dengan cepat sambil melambaikan tanganku padanya.
"Jangan terlalu dipikirkan." Aku memberi tahunya dengan senyum kecil sebelum kemudian berbalik ke dalam kelas.
Mengabaikan ekspresi hawatir di wajah Jongin.
...
Ms. Jessi membubarkan kelas tepat saat teleponku bergetar di laci meja. Untungnya, kelas sedang gaduh saat itu terjadi, sehingga beliau tidak menyadari ada suara getaran iPhone di mejaku.
Aku melihat ke arah layar dan menemukan nama Kris terpampang disana, aku mengangkatnya setelah memastikan Ms. Jessi keluar dari kelas. "Kau dimana?"
"sudah dekat, jemput aku." Aku mendengus, dia bertingkah seperti tidak pernah sekolah disini saja.
"Lucu sekali. Temui aku di ruang klub di gedung F. Aku harus menyiapkan babak penyisihan awal, aku tunggu disana, oke?"
"Tidak mau! Aku sudah merelakan waktuku untuk menemuimu, padahal waktuku bisa kupakai untuk menggoda gadis-gadis. Jadi sebaiknya, bawa tubuh malasmu ke gerbang dan jemput aku. Aku sudah dekat, sampai ketemu nanti!" Dan si brengsek ini adalah salah satu orang dari sekian banyak orang dalam hidupku yang selalu memutuskan segala hal sendiri tanpa memikirkan apakah aku keberatan atau tidak. Kris mengakhiri panggilan dan aku tidak bisa apa-apa selain menghela napas menerima kekalahan sebelum kemudian beranjak menemuinya di gerbang. Tidak lupa memberitahu Chanyeol untuk menyiapkan semuanya dulu sementara aku pergi.
"memangnya kau mau kemana?" Chanyeol terlihat akan protes. "acaranya sebentar lagi akan dimulai"
"Iya, aku tahu. hanya sebentar. Aku akan menjemput Kris, dia sudah dalam perjalanan menuju ke sini."
Brak~
Perhatian kami teralihkan sesaat pada sumber suara dimana si ceroboh Yixing menjatuhkan tumpukan buku tugas yang kalau tidak salah Ms. Jessi suruh untuk dia kumpulkan ke ruang guru. Yixing menatapku dengan terkejut sebelum kemudian seperti tersadar akan sesuatu dan dengan cepat memunguti buku yang dia jatuhkan dengan gugup. Aku baru sadar apa yang membuatnya seperti itu saat Chanyeol menyenggolku dan kami saling bertukar pandang satu sama lain.
Pasti karena Kris.
Chanyeol berdehem canggung, "ya, kalau begitu pergilah. Biar aku yang mengurus semuanya lebih dulu"
Dengan itu, aku mengangguk dan dengan cepat pergi ke gerbang untuk menjemput Kris. Namun saat aku sampai disana, bayangannya saja belum terlihat. "Si brengsek itu, bukannya dia bilang sudah hampir sampai tadi?" Aku menggerutu.
Sementara aku menunggunya, pandanganku menemukan sesosok gadis berkulit cerah, bertubuh tinggi semampai dengan rambut panjang sepunggung, megenakan seragam sekolah khusus perempuan (dia terlihat mencolok karena dia satu-satunya anak gadis di sekitar sini), sedang berdiri tidak jauh dari tempatku berada.
Aku sudah bisa menebak dengan yakin siapa gadis itu dan tebakanku terbukti seratus persen benar saat dia menoleh dengan ekspresi datarnya yang sedingin ratu es kepadaku. Jung Soojung.
Bisa kulihat dari gelagatnya dia sedang menunggu seseorang, siapa lagi kalau bukan Jongin?
Aku memaksakan diri untuk berpura-pura tidak mengenalinya dan hanya berdiri disana tanpa ekspresi, mencoba memfokuskan pandanganku pada setiap mobil yang lewat berharap Kris segera datang dan aku tidak harus berada di tempat ini bersamanya terlalu lama. Soojung juga nampaknya tidak berkeinginan untuk menyapaku atau sesuatu, dengan itu, aku menyimpulkan kalau hubungan perkenalan kami berakhir di Gangwondo kemarin. Yah, siapa juga yang ingin bertingkah seperti saling kenal setelah kejadian seperti itu terjadi?
Aku bersandar pada pintu gerbang seraya mengetukkan kakiku ke tanah secara tidak sabaran menunggu kedatangan Kris, di tengah-tengah itu, aku sempat melirik kearah Soojung dan aku baru sadar kalau dia mengenakan riasan yang lebih tebal dari biasanya, saat itulah aku berpikir, mungkin saja Soojung datang kesini bukan karena takut aku akan membocorkan keburukannya pada Jongin (karena dia pasti tahu betul kalau aku bukan orang seperti itu, adapun kalau iya, aku pasti sudah mengatakannya saat di Gangwondo kemarin), tapi karena, dia hanya ingin menjaga Jongin 'dariku'.
Aku mengerutkan kening atas pikiranku sendiri. Kenapa dia ingin menjaga Jongin dariku?
Saat itulah taksi berwarna biru terparkir tepat dihadapanku. Aku bisa melihat sosok Kris yang tinggi melangkah keluar dari taksi dengan seringai yang lebar (dalam kasus Kris, dia tersenyum sedikit saja akan terlihat lebar karena yah.. kau pasti tahu) masih mengenakan pakaian bebas, karena sekolahnya mengijinkan hal itu.
"apa kau menunggu lama?" Dia buru-buru merangkul bahuku yang mana langsung aku tepis (aku sungguh benci saat Kris melakukan itu, karena itu membuat perbedaan tinggi kami terlihat semakin kentara) yang membuatnya tertawa kecil.
"Sangat lama! Ayo!" aku mengajaknya untuk cepat-cepat pergi ke kelas karena acara live contest sebentar lagi akan dimulai. Namun, belum sempat aku berjalan, Kris lebih dulu menghentikan langkahnya membuatku terpaksa berhenti juga, kulihat dia sedang tersenyum penuh arti memandang sesuatu dan saat aku mengikuti arah pandangnya, aku melihat Soojung yang matanya membulat nampak terkejut saat melihat Kris. Oh, tentu saja dia akan terkejut. Aku tersenyum miring saat menyadari kalau Soojung pernah bertemudengan Kris sebelumnya, dan dia tidak tahu kalau dulunya Kris bersekolah disini. Sepertinya akan menyenangkan.
Keadaan menjadi semakin lengkap saat seseorang yang harusnya jadi tokoh utama di cerita ini datang di waktu yang tepat, "Oh, Kyungsoo. Ternyata kau disini. Chanyeol terus mengeluh tentangmu."
Aku menoleh untuk tersenyum pada Jongin saat dia masih berlari kecil menghampiri tempat kami berada. Aku bisa melihat kalau dia kehabisan nafas. Mungkin dia terburu-buru datang kesini untuk menjemput Soojung.
Jongin menarik napas panjang sebelum dia menyadari orang yang berdiri disampingku. "Kris! Kau juga datang?"Aku berani bertaruh kalau Soojung akan sangat ketakutan saat ini, pikiran itu tidak bisa untuk tidak membuatku tersenyum puas.
Kris juga nampaknya menikmati momen-momen ini, dia menyeringai sebelum menjawab, "Yeah, Kyungsoo memintaku datang, jadi akhirnya aku mampir kesini. Kau sedang apa disini? Bukankah harusnya kau bersiap-siap?"
"Oh, aku kesini menjemput Soojung. Soojung, ini Kris. Dia dulu sekolah disini. Dia teman dekat Kyungsoo. Aku dan teman-temanku juga sering kumpul dengannya"
Pada titik ini, aku dan Kris menantikan dengan penasaran apa respon Soojung selanjutnya.
"Oh begitu. Senang bertemu denganmu." Seperti yang ku kira, Soojung memang pintar memasang topeng, tapi ini menyenangkan karena aku dan Kris bisa melihat dengan jelas apa itu yang ada di balik topengnya.
"Kau tidak terlihat asing, Soojung." Kris melempar pukulan pertamanya. HA!Aku ingin memberinya sebuah penghargaan saat ini juga, karena situasi ini sungguh membuatku puas.
Soojung sedikit tersentak, tapi tentu saja dia tidak akan menyerah semudah itu. "Jongin pernah mengajakku kesini sebelumnya, mungkin kita pernah berpapasan satu sama lain." Oh well, siapa sebenarnya yang sedang kita ajak bercanda disini? Jung Soojung si ratu kepalsuan yang penuh dengan kebohongan, tentu saja ini bukan perkara sulit baginya. Dan harus ku akui dia memang benar-benar hebat dalam hal ini sampai-sampai aku harus menahan diriku untuk tidak bertepuk tangan saat ini juga.
Sebelum kami sempat melanjutkan percakapan ini, teleponku lebih dulu berbunyi dan menampakkan wajah buruk rupa Chanyeol di layar ponselku, aku tidak menunggu sampai deringan ketiga untuk mengangkatnya.
"Apa?"
"KAPAN KAU AKAN KESINI, BERENGSEK!? SUDAH WAKTUNYA MULAI!" Suara bass Chanyeol terdengar cukup keras untuk membuatku tuli sehingga aku harus menjauhkannya sebelum itu terjadi membuat Kris dan Jongin menoleh kearahku.
Aku mengatakan kalau aku sedang dalam perjalanan menuju kesana saat Kris mendorong punggungku dan dengan santainya berkata, "Chanyeol benar Soo, kau itu ketua klub, mana boleh terlambat" aku mendelik padanya seketika.
"apa kau bilang?! Ini semua kan gara-gara dirimu!"
...
Aku cepat-cepat kembali ke ruang klub, disambut dengan gerutuan Chanyeol yang tidak ada hentinya dan dia menatapku dengan pandangan megancam.
"apa? aku 'kan hanya pergi sebentar, jangan bertingkah seperti aku telah menghancurkan semuanya" aku memutar bola mataku dan menerima sebuah toyoran dikepalaku dari Chanyeol. "HEI!"
"kau memang tidak merusak semuanya, tapi hampir. Lihat! ampli nya bermasalah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan! Dan satu menit lagi acaranya akan dimulai!" aku mendesis, hanya karena itu kenapa harus marah-marah? Dengan cepat aku berbalik pada Kris dan menyuruhnya untuk duduk di kursi belakang juri, sebelum kemudian menghampiri amplitudo yang Chanyeol bilang bermasalah.
Dan itu bukanlah bermasalah, tapi dia hanya lupa menghubungkan kabelnya. Dasar bodoh.
Tidak butuh waktu lama untukku menyelesaikan semuanya sebelum aku membuka acara ini. Babak penyisihan awal adalah acara tertutup untuk umum dimana kami akan memilih band mana yang berhak berkompetisi di live contest nanti. Aku sudah memberitahu ke seluruh-35 band untuk bertemu di ruang klub yang sesak ini. Untuk menghemat waktu, kami membuat peraturan dimana keseluruh kontestan dilarang menggunakan instrumen sendiri melainkan instrumen yang telah kami sediakan. Dengan itu mereka tidak harus repot-repot membongkar dan memasang alat musiknya (kalau iya, mungkin kami bisa-bisa menyelesaikan semua ini tengah malam nanti, aku tidak mau itu terjadi). Tapi sepertinya, itu tidak terlalu efektif karena aku ingat kalau aku memperbolehkan para kontestan untuk menampilkan 2 lagu, dan itu sama saja. "Aargh… Kenapa aku memperbolehkan mereka memainkan dua lagu?" Aku mulai menggerutu pada diriku sendiri di meja juri ketika sedang mengira-ngira berapa lama lagi acara ini akan berlangsung. Dengan cepat, Chanyeol mengomeliku.
"kan sudah kubilang, satu lagu saja cukup! Kau itu terlalu rumit sih! Hah, sepertinya kita akan menginap disini lagi, sial!"
Itu karena aku pikir rasanya tidak adil menilai sebuah band hanya dengan menampilkan satu lagu. Tapi sekarang, aku mulai merasa menyesal dengan keputusanku itu. Y_Y
Waktu berjalan dengan lambat, setidaknya bagiku. Walaupun band-band ini penampilannya tidak terlau buruk, harus duduk disini dan menilai mereka dengan lagunya masing-masing sangatlah melelahkan.
Aku meregangkan badan untuk mengusir rasa kantuk seraya melirik kearah dimana Jongin dan anggota bandnya berada, dan aku juga tentu saja tidak melewatkan seorang gadis cantik dengan seragam sekolah khusus wanita di tengah-tengah mereka, Soojung.
Jongin dan Soojung baru saja kembali dari suatu tempat dengan banyak minuman dan makanan di tangan mereka. Jika diingat-ingat, mereka sering sekali keluar masuk ruangan ini dari tadi, kadang mereka akan kembali dengan tangan kosong, kadang juga seperti sekarang, membawa banyak makanan untuk di bagikan kepada teman-temannya. Aku jadi curiga apa Soojung memang sengaja mengajak Jongin ke banyak tempat untuk membuatnya sibuk dan tidak terus menerus mencuri pandang padaku? Karena, ya, setiap kali aku melirik ke arahnya, aku akan menemukan Jongin yang sedang menatap sedih kearahku. Seolah dia tengah meminta maaf akan sesuatu.
Berapa kali aku harus bilang padanya kalau aku tidak kecewa, marah, cemburu atau apapun? Aku hanya kesal melihat wanita yang telah membohonginya itu, duduk di sana disampingnya bertingkah seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Aku menghela napas saat lagi-lagi pandangan kami bertemu dan Jongin masih memandangku dengan pandangan yang sama, kali ini dia bahkan melepaskan tangan Soojung yang berada di lututnya, seolah tidak ingin aku menyaksikan kemesraan mereka.
"Aku rasa Jongin berpikir kalau kau kecewa kepadanya karena dia membawa seseorang ke acara yang harusnya tertutup untuk umum. Dia terus melihatmu dengan ekspresi sedih seperti itu." Lihat? Bahkan Kris, yang duduk dibelakangku saja menyadarinya. Kris berpindah ke sampingku saat aku menggelengkan kepala sebelum dia berbicara dengan nada yang serius. "Rasanya aku ingin sekali kesana dan memberitahu Jongin tentang semuanya sekarang juga, bagaimana menurutmu?"
"hey, tenanglah" aku mencegah Kris yang sudah akan beranjak ke tempat dimana Jongin berada, dia adalah anak yang suka terburu-buru. Aku tidak bisa membiarkannya melakukan sesuatu seperti ini dengan gegabah. Disini, perasaan Jongin yang jadi taruhannya.3
Saat itu, band kelas 9 telah selelai memainkan lagunya, jadi aku harus melepaskan tanganku dari lengan baju Kris dan mengumumkan band selanjutnya yang akan bermain.
"Selanjutnya adalah band nomor 15.. Guardian Band. Nama yang cukup unik, Junmyeon." Aku berkata dengan tersenyum seraya menoleh pada Junmyeon dan anggotanya yang sedang bersiap-siap naik ke panggung. Junmyeon mengangkat satu alisnya padaku sambil tersenyum juga seolah mengatakan, 'siapa dulu, Junmyeon..'
Aku terkekeh. Ya, dia kan Junmyeon, si malaikat penjaga, begitu anak-anak menyebutnya karena dia selain tampan dan kaya raya, juga punya kepribadian yang baik layaknya malaikat. Ingat saat dia dengan Cuma-Cuma memberiku pinjaman untuk membayar tagihan drum club ku? aku jadi tidak begitu heran saat Pretty Boy's geng berteriak histeris ketika melihat Junmyeon, dia memang pujaan banyak orang. Jadi, nama Guardian memang paling cocok untuknya. Anggotanya juga tidak jauh berbeda, mereka adalah kelompok yang terdiri dari orang-orang pendiam, tampan, bersinar dan baik hati. Jangan berpikir aku sedang melebih-lebihkan keadaan, karena begitulah kenyataannya.
Junmyeon dan anggotanya melakukan pengecekan suara sesaat (tidak terlalu lama, karena klub kami sudah mempersiapkan segalanya). Sebelum kemudian mereka memulai lagu pertama, yaitu Unintended dari Muse.
Aku tidak terlalu asing dengan lagu ini karena Chanyeol sering memainkannya. Dari senyum yang aku lihat di wajah Chanyeol, aku rasa mereka bisa mendapat skor tinggi dengan mudah. Dan ngomong-ngomong, jangan remehkan Chanyeol (walaupun aku sendiri sering melakukannya) karena meskipun wajahnya nampak seperti orang bodoh (atau mungkin memang iya, aku tidak yakin) tapi dia punya bakat yang cukup besar di bidang musik. Bisa ku katakan Chanyeol memang terlahir untuk musik. Kalau tidak, mana mungkin aku mengijinkannya untuk menjadi salah satu juri acara kontes ini.
Aku melirik kartu skor miliknya dan menyeringai.
"Itu curang."
"Mereka memainkannya dengan bagus!" Chanyeol menyangkal sambil berusaha menyembunyikan kartu skornya. Aku hanya tertawa melihatnya. Memang benar, band Junmyeon bermain dengan sangat bagus. Vocal Junmyeon jugatidak buruk. Tapi sayangnya, lagu ini terlalu lambat dan penuh dengan emosi, aku sampai mengantuk mendengarnya.
Tepat saat aku membiarkan kantung mataku yang berat untuk tertutup sesaat, aku mendengar namaku disebut menggunakan pengeras suara. "Kyungsoo, tolong jangan tidur dulu. Masih ada satu lagu lagi."
Sial Junmyeon, apa dia benar-benar harus melakukan itu? aku malu sekali!Aku tersentak kembali kealam nyata dan menatapwajahnya. Sementara itu, semua orang tertawa terbahak-bahak. Aku meneguk sedikit air untukmenyembunyikan rasa maluku.
Junmyeon menyeringai dengan sangat lebar, menunjukkan lesung di pipinya sebelum dia lanjut dengan lagu berikutnya. "Dengarkan ini baik-baik, Kyungsoo." Aku rasa dia takut kalau aku mengantuk lagi.
Jisoo sang drummer, dengan ritme tetap dia memukul stik drumnya sebelum gitar memainkan nada-nada awal dan lagu berikutnya pun dimainkan.
Lagu ini terdengar asing di telingaku (meskipun pada nyatanya lagu ini berbahasa Korea), apakah ini lagu baru ataukah lagu ciptaan mereka sendiri, aku tidak yakin. Untuk lagu yang kedua, aku memang membiarkan para kontestan untuk bebas membawakan lagu apapun termasuk lagu ciptaan sendiri. Nada-nada gabungan yang dihasilkan dari petikan gitar SeungYoon, pukulan lambat drum Jisoo dan suara Junmyeon yang halus membuat lagu ini terdengar menenangkan, tapi anehnya aku tidak mengantuk seperti tadi, sebaliknya aku penasaran dan merasa penampilan mereka terlalu bagus untuk dilewatkan. Aku terlalu larut pada nada-nada yang mereka mainkan, sehingga aku tidak sadar bahwa lagu sudah akan mencapai bait terakhir,
The way you cry, the way you smile
How much of a bug deal is it to me?
The things i wanted to say, the chances i lost
I'll confess, and it might be awkward but
Just listen, i'll sing for you, sing for you
Just listen i'll sing for you
-dan lagu pun selesai dengan indahnya. Aku suka bagaimana instrumen-instrumen itu melembut diakhir nadanya
Tapi..
Kenapa Junmyeon terus menatapku sejak tadi? Atau aku hanya salah lihat? Aku membalas tatapannya dan aku tahu aku tidak salah lihat karena Junmyeon kini tersenyum padaku. Aku sungguh malu sekali sampai-sampai aku harus menghindari tatapannya sesaat kemudian.
Ada apa dengan anak itu?
Sepertinya tidak hanya aku saja yang menyadari hal ini.
"Hei Junmyeon! Apa kau sedang melamar ketua kami dengan menyanyikan lagu cintadi depan keramaian seperti ini?!"Chanyeol berteriak cukup keras untuk di dengar oleh seluruh penghuni diruangan ini sesaat setelah lagu itu langsung menendang kakinya yang ada di bawah meja hingga dia meringis kesakitan. Berani-beraninya dia membuatku malu!
Aku menghalau wajahku dari sorakan manusia-manusia berhati bejat di ruangan ini yang termakan omongan Chanyeol sambil melirik Junmyeon meminta bantuan. Setidaknya dia harus membantah semua ini. Tapi yang aku dapatkan malah sebuah senyuman yang semakin lebar, dia nampak menerima begitu saja apa yang di ucapkan oleh Chanyeol.
Karena Junmyeon tidak mengatakan apapun, Chanyeol kembali melanjutkan celotehannya.
"tapi sayang sekali, Junmyeon! Kekasih ketua kami yang sebenarnya sudah beranjak menuju ke tempatmu! Lihat, Jongin akan segera menghabisimu" Dasar berengsek! Ingatkan aku untuk merobek mulutnya nanti. Tapi, Chanyeol tidak sepenuhnya salah juga karena Jongin memang sedang berjalan kearah Junmyeon, hanya saja bukan untuk menghabisinya seperti apa yang si bodoh Chanyeol katakan, melainkan karena bandnya memang tampil setelah band Junmyeon, dan mereka sedang bersiap-siap disana.
Aku lihat Jongin tidak banyak bicara bahkan saat teman-temannya mulai tertawa karena ocehan Chanyeol, dia hanya melewati Junmyeon begitu saja untuk meraih posisi keyboard, dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya Jongin tidak senang akan sesuatu.
"hah, sekarang bagaimana caranya aku menilai band ini? Jika aku tidak membiarkan mereka lolos maka ketua ku akan merasa sedih- aww" aku tidak bisa membiarkan orang gila ini terus mengoceh dan membuat keadaan makin ricuh, karena itu aku mencubit pinggangnya kuat-kuat memaksanya untuk berhenti. Chanyeol meringis kesakitan sambil meminta pengampunanku. Aku melepasnya saat merasa sudah cukup. Tapi Minho sang ketua Osis yang juga merupakan anggota dari band Jongin, masih saja harus meladeni obrolan tidak penting ini.
"Aku tidak peduli kau akan meloloskan band-ku atau tidak. Tapi kalau kau berani melawanku, maka aku akan mengurangi anggaran klubmu hahaha." Aku mendengus mendengar Minho tertawa terbahak-bahak melalui pengeras suara, menggunakan kelemahan kami sebagai ancaman, tapi kemudian, Chanyeol menyuarakan sebuah kemenangan.
"Aku tidak takut! Toh, Jongin sudah memberi kami uangnya! Hahaha!" Bodoh! Kenapa dia harus mengatakan hal itu?
"Benarkah?!" Nampaknya Minho tidak tahu apa-apa tentang apa yang sudah di lakukan anggotanya karena itu dia terlihat terkejut saat Jongin mengangguk.
Minho menggumamkan sesuatu didekat mic, yang mana bisa di dengar oleh seluruh penghuni ruangan ini dengan sangat jelas. "Damn Jongin. Jadi kau benar-benar menyukai Kyungsoo?"
Daaaan, keadaan kembali ricuh seperti sebelumnya, bahkan lebih parah. Kini, adik kelas dan kakak kelas yang bahkan tidak kukenal sama sekalipun ikut tertawa. Keadaan macam apa ini? kenapa selalu aku yang tertindas?
Hilang sudah harga diriku. Semuanya langsung terjun bebas ke neraka berkat para manusia berengsek mengacungkan jari tengah ke orang-orang ini, tidak tahu siapa saja nama yang bisa ku sebut. Jongin nampak tenang ditengah kericuhan ini, dengan santai dia memeriksa Keyboard sebelum menoleh pada Ravi dan Vocalistnya Taemin lalu mengangguk menyetujui sesuatu, sebelum kemudian mereka mengatakan sudah siap untuk memulai.
Bagaimanapun, aku menyadari kalau Jongin tidak pernah sekalipun melihat kearahku. Tidak sama sekali.
...
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat acara akhirnya selesai. Aku menghela napas panjang karena tugasku tidak hanya sampai disini. Ruangan ini masih perlu untuk di bersihkan dan siapa lagi yang akan melakukannya jika bukan kami, para Panitia?
Kris dan beberapa anak kelas 10, yang merupakan anggota band terakhir yang tampil, masih tinggal disini untuk membantu. Band-band lainnya langsung pergi setelah penampilan mereka selesai. Mereka tidak sebaik itu untuk menunggu sampai acara selesai dan membantu kami, Well.. kecuali Junmyeon (Si malaikat penjaga yang baik hati dan suka membantu). Kulihat dia sedang membantu Chanyeol membersihkan salah satu sudut ruangan dengan senyum cerah diwajahnya, aku ragu apakah dia pernah merasa lelah dalam hidupnya sekali saja? seingatku aku hampir tidak pernah melihat dia mengeluh atau cemberut selama ini. Junmyeon menolak saat teman-temannya mengajaknya pulang dan memilih untuk tinggal dengan alasan kalau dia ingin menyaksikan audisi hingga ahir, padahal aku tahu dia hanya ingin membantu, dan tentu saja kami tidak keberatan, sebaliknya aku merasa senang karena lebih banyak bantuan lebih baik ^^
Dan untuk Jongin, dia sudah pergi sesaat setelah band nya tampil tadi, aku mengetahuinya karena Jongin sempat menitip pesan kepada Jinhwan, anak kelas 10 yang kebetulan adalah anggota marching band, dia mengatakan kalau dia akan pergi sebentar setelah itu akan kembali lagi. Aku yakin Jongin pergi untuk mengantar Soojung pulang, aku menyuruh Jinhwan untuk menyampaikan pada Jongin kalau dia tidak harus kembali lagi, tapi Jinhwan bilang Jongin sudah pergi bahkan sebelum dia menemuiku.
Aku sedang membereskan deretan kursi saat aku merasakan ada seseorang yang menarik kerah baju bagian belakangku dengan paksa, cukup untuk membuatku menjinjit, aku menoleh dan menemukan Kris sedang menyeringai dibelakangku. Sialan!
Aku langsung menginjak kakinya keras-keras membuatnya berteriak kesakitan. Itulah balasan untuk orang yang selalu mempermainkan tinggi badanku.
"ada apa?" aku mendelik kearahnya.
"Hey, aku hanya ingin pamit pulang, hari sudah sangat larut, aku takut ayahku akan marah" setelah menggosok-gosok kakinya yang kuinjak, Kris menyodorkan sebuah kaset DVD ke tanganku. Benar, alasan kenapa Kris kesini bukan semata-mata untuk main-main, menonton audisi dan membantu kami beres-beres saja, ada yang lebih penting dari hal itu. Aku menerima benda itu dengan perasaan berat.
"apa ini?" meskipun aku sudah tahu jawabannya, tapi aku tidak tahu harus mengatakan apa selain hal itu. Kris sempat menoleh kekanan dan ke kiri sebelum menarikku ke tempat yang lebih sepi.
"aku tahu bagaimana susahnya dirimu memberitahu Jongin tentang kebenaran, jadi ini, kalau-kalau kau membutuhkan bukti, aku sudah mengumpulkan beberapa diantaranya dari temanku, sekarang didalamnya ada total 4 file."
"EMPAT?!" aku terbelalak tak percaya, menonton satu saja sudah membuatku geram apalagi ini, empat? Aku tidak yakin bisa menahan diri untuk tidak mencekik gadis itu jika aku menonton semuanya.
Kris mengangkat bahu, "sebenarnya ada lebih banyak tapi aku tidak tega untuk membiarkan Jongin menonton semuanya, satu saja sebenarnya sudah cukup"
Aku mengeratkan genggaman tanganku pada benda ini, Kris sepertinya mengerti apa yang sedang kupikirkan, karena itu dia menepuk bahuku "aku tahu ini tidak akan mudah, tapi kuharap kau tidak menyimpannya terlalu lama, kau bisa menghubungiku kapanpun kau butuh, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu"
Aku mengangguk dengan sebuah senyum tipis, karena aku sendiri masih tidak yakin apa yang harus kulakukan. "jika aku melakukannya, tidakkah itu akan terlihat seperti aku seorang penghancur hubungan untuk mereka?"
"tentu saja tidak. Itulah kenapa aku menyiapkan bukti ini, Kyung. Dan ingat, kau tidak bisa membiarkan ular itu berada didekat teman kita terlalu lama" sebagian dari diriku merasa kagum dengan semangat Kris, dia dan Jongin bahkan tidak terlalu dekat (hanya sesekali berkumpul saja) tapi dia bertingkah seolah Jongin adalah bagian dari sahabat masa kecilnya. Itulah yang aku sukai dari anak ini, tidak peduli siapapun, baginya teman adalah teman yang harus dibantu saat dia membutuhkan bantuan. Tapi sebagian dari diriku yang lain juga merasa takut, semakin aku memikirkan bagaimana cara untuk memberitahu Jongin, semakin ekspresi sedih Jongin berputar-putar dikepalaku dan aku tidak menyukainya. "dan ngomong-ngomong tentang ular itu, aku bertaruh kalau dia datang kesini hari ini agar kau tidak bisa berbicara dengan Jongin. Aku sempat melihat Jongin berjalan mendekatimu tapi Soojung terus mengalihkan perhatiannya." Kris melanjutkan perkataannya membuatku tertarik kembali ke alam nyata. Jongin sempat akan menghampiriku?
Aku tidak menyadari itu karena terlalusibuk dengan urusan penjurian. Tapi haruskah Soojung melakukan hal itu? tidakkah dia sadar kalau aku dan Jongin berada disekolah yang sama dan aku bisa pergi menghampirinya kapanpun aku mau. Lagipula, bukankah sudah jelas kalau aku ini bukan orang yang suka membocorkan rahasia orang lain karena sampai sekarang saja Jongin masih tidak tahu apapun tentang hal itu.
"Aku akan memberitahunya diwaktu yang tepat." Hanya itu yang bisa aku katakan pada Kris dan membuatnya tersenyum penuh dukungan. Sekali lagi dia menepuk pundakku.
"aku percayakan semuanya padamu. Kalau begitu, bisakah kau antar aku menemukan taksi? aku harus cepat pulang kalau tidak ayahku bisa mengomel" aku mendengus tidak percaya padanya, dia bertingkah seperti gadis polos tidak tahu apa-apa yang harus di antar kesana kemari oleh pacarnya. Aku sudah akan menolak dengan kata-kata sarkastik ku namun pandanganku terlebih dulu menangkap sosok Yixing yang kebetulan berjalan melewati kami dengan kepala menunduk. Aku tersenyum saat sebuah ide melintas di otakku. "Yixing!" yang ku panggil namanya menoleh dan melotot sesaat setelah dia melihat siapa orang yang ada disampingku. "kau mau pulang sekarang?"
Yixing nampak ragu-ragu sebelum kemudian mengangguk, "kebetulan sekali. Yixing! bolehkah aku menumpang denganmu? Kau masih suka membawa sepeda motor kan? Aku ikut pulang denganmu ya?" Aku menyeringai puas saat Kris tanpa harus ku sarankan pun sudah melakukan apa yang aku rencanakan dan berlari kearah Yixing dengan riang. Aku lihat Yixing berdiri di posisinya tidak tenang dan menatapku dengan pandangan penuh permohonan. Eyyy, aku tahu kau akan berterimakasih padaku nanti karena hal ini.
"wah benar-benar kebetulan, tadinya aku berniat untuk mengantarmu sampai gerbang tapi karena sudah ada Yixing jadi tidak perlu. Kalau begitu, hati-hati dijalan yaa" aku melambaikan tanganku pada Kris yang tersenyum senang dengan Yixing yang menggerutu di tangannya. Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan ini. Aku tersenyum lebar. Sebaiknya Yixing menraktirku makanan yang mahal besok.
Aku berbalik hanya untuk menemukan Chanyeol dan beberapa adik kelas sedang bersiap-siap untuk pulang. "kau mau pulang juga?"
"ya, maaf Kyung, Noona-ku menelpon, dia bilang tidak bisa masuk rumah karena aku membawa kuncinya. Aku harus cepat-cepat pulang kalau tidak dia akan mengulitiku hidup-hidup" sebelum aku sempat mengatakan apapun, Chanyeol sudah lebih dulu melesat kearah pintu keluar sambil meneriakkan sesuatu seperti "Dan tolong jahit sofa yang robek di belakang itu, aku tidak sempat menyelesaikannya tadi" lalu, diapun menghilang dibalik pintu. Beberapa adik kelas juga berpamitan padaku, sebenarnya aku ingin meminta mereka untuk setidaknya menemaniku disini, tapi kulit wajahku tidak setebal itu untuk mengatakannya pada para adik kelas, jadi aku hanya bisa mengangguk dengan pasrah dan berpesan pada mereka untuk berhati-hati.
Pada akhirnya, disini hanya ada aku yang tersisa ditemani seonggok jam dinding yang menunjukkan waktu sudah hampir jam 11 malam. Aku mulai berpikir, apakah sebaiknya aku menghabiskan malam disini atau tidak, karena aku juga masih harus memperbaiki bantalan sofa yang robek (Chanyeol memang pintar menambah beban seseorang).
"Kyungsoo! Ayo kita selesaikan sofa itu agar kita bisa pulang!"
Aku terperanjat di tempatku karena suara yang tiba-tiba muncul itu. Aku menoleh untuk menemukan Junmyeon dengan peralatan jahit ditangannya.
"Kau masih disini?!" Aku bertanya, masih merasa terkejut.
"Mana mungkin aku pulang? Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian" Dia mengatakan hal itu seraya menyunggingkan senyuman. Aku sangat gembira mengetahui ada seseorang yang akan menemaniku disini.
"terimakasih,Junmyeon"
Waktu berlalu dengan cepat dan aku masih berkutat dengan jarum juga benang, berusaha memperbaiki bantalan sofa berwarna biru yang robek ini. Hampir selesai, tapi rasanya masih butuh waktu yang lama. Aku rasa aku terus mengacaukan jahitannya karena aku sudah sangat mengantuk. Segalanya terlihat buram.
Junmyeon masih menunggu didekatku dengan setia. Aku bisa mendengar suara kertas manga yang dibalik. Awalnya, dia bilang kalau dia mau membantuku menjahit ini, tapi setelah melihatnya yang lebih seperti akan menjahit tangannya sendiri, kami memutuskan untuk akan lebih baik jika dia cukup duduk disana saja menemaniku.
"Kau tahu kau itu cukup menganggumkan Kyungsoo. Kau bisa memasak, kau juga bisa menjahit. Daripada menjadi ketua klub musik kenapa kau tidak melamar kerja di rumahku saja?" nampaknya, Junmyeon sudah merasa bosan membaca komik dan memutuskan untuk menggodaku, yang menurutku tidak lucu sama sekali karena satu, aku sudah sangat mengantuk untuk menanggapi candaannya dan kedua, apa dia menyuruhku untuk jadi pembantunya?
Aku memaksakan diri untuk tertawakecil tanpa melihat kearahnya.
"boleh saja, tapi aku orang yang cukup terkenal, jadi bayaranku tidak murah."
"Kalau untukmu, aku rela membayar dengan apapun yang kau mau."
"Hm?!"Aku cepat-cepat mendongakkan kepalaku kearahnya mendengar apa yang ia katakan, Junmyeon hanya tersenyum dan menatapku lekat-lekat.
"aku suka saat matamu membulat seperti itu, terlihat sangat lucu" aku mengerutkan kening tidak suka mendengar pujian yang lebih terdengar seperti ejekan itu darinya.
"Junmyeon, maaf, tapi bisakah kau tidak bercanda dengan cara seperti ini lagi? Kau membuatku geli." Aku berkata terus terang, kembali teringat pada saat dimana dia menyanyi lagu cinta sambil menatapku tadi, karena dia aku jadi bahan candaan orang-orang. Tapi Junmyeon malah tertawa dan menyangga dagunya menggunakan sikut seraya kembali menatapku yang sedang bekerja. "Dan satu lagi, berhenti menatapku seperti itu, sana lanjutkan baca komikmu"
"kenapa? Apa kau gugup?" Junmyeon terkekeh dan aku memutar bola mataku.
"terserahlah" kini dia tertawa tapi tidak mengatakan apa-apa setelahnya lalu kembali memperhatikanku, aku tentu saja bisa merasakannya karena dia berada tepat didepanku, dan meskipun aku sudah berusaha untuk mengabaikannya, tapi tetap saja aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, itulah kenapa jarum yang harusnya menusuk kain bantalan sofa malah menusuk jariku.
"Aah!"
"Kyungsoo, kau tidak apa-apa?" aku sudah akan menyumpah serapahinya, karena sudah sangat jelas tanganku berdarah dan itu gara-gara dirinya yang terus memperhatikanku tapi dia masih berani menanyakan hal itu? hanya saja,sebelum aku sempat mengatakan apapun, Junmyeon sudah terlebih dulu meraih tanganku yang berdarah dan membawanya kemulutnya.
Dia menghisap jariku.
"Junmyeon.." aku yang sempat terkesiap untuk beberapa saat ahirnya tersadar dan dengan cepat menarik tanganku dari mulutnya. "a-apa yang kau lakukan?!"
"nenekku bilang saat kau tertusuk jarum, darahnya harus cepat dikeluarkan agar tidak menyebabkan infeksi" Junmyeon berkata dengan nada rendah terdengar menyesal dan aku tidak bisa membawa pikiranku ke tempat yang lebih normal lagi. Maksudku, aku sempat mengira kalau Junmyeon sedang berbuat mesum padaku padahal kenyataannya dia hanya ingin membantu, tapi serius, haruskah dia menghisap darahku seperti itu?
"tapi tetap saja, kau tidak seharusnya melakukan itu. kau.. membuatku takut" aku mengomelinya cukup keras dan membuat Junmyeon terkejut sebelum kemudian menunduk dan meminta maaf, "aku tidak berpikir kearah situ tadi" melihatnya seperti itu, membuatku mau tidak mau merasa bersalah.
"lagipula, aku tidak akan mati hanya karena tertusuk jarum kau tahu?" aku memaksakan diri untuk tertawa pada candaan garingku dan memukul bahunya berusaha untuk membuat suasana agar tidak menjadi terlalu canggung. Untungnya Junmyeon mengerti dan dia perlahan-lahan ikut tertawa juga.
"itulah yang aku takutkan, aku takut kau mati tertusuk jarum dan aku yang jadi tersangkanya karena hanya ada aku disini" candaan ini makin lama makin aneh, tapi kami masih memaksakan diri untuk tertawa. Aku mendorong bahunya sekali lagi sambil menggumam 'dasar bodoh'. Tidak menyangka Junmyeon akan membalas dengan mendorongku tidak kalah kuatnya membuatku nyaris terjungkal dari sofa (untung saja aku sempat berpegangan pada lengan sofa).
"HEI!" aku pura-pura tersinggung dan balas mendorongnya. Junmyeon tertawa dan kembali membalas doronganku. Awalnya memang terasa tidak ada yang lucu sama sekali, tapi lama kelamaan terasa menyenangkan juga. Rasa kantukku perlahan menghilang seiring dengan perang-dorong-bahu antara aku dan Junmyeon berlanjut.
"Kau berani mendorong ketua klub ya? Apa kau mau membuat bandmu di diskualifikasi huh?" aku mengancam dengan nada bercanda seraya mendorong tubuhnya menggunakan kedua tanganku. Junmyeon tertawa kecil.
"yah, coba saja, aku hanya akan mengadukannya pada para penggemarku dengan begitu kau akan di serang oleh mereka" uuh, ancaman yang menakutkan. Aku bisa membayangkan Jokwon si ketua geng Pretty Boys menjambak rambutku. Aku bergidik ngeri. Dan Jumnyeon menggunakan kesempatan itu untuk mendorongku lagi, kali ini dengan tiba-tiba membuatku tidak memiliki kesempatan untuk berpegangan pada apapun dan tubuhku terjatuh dari sofa. Aku sudah bersiap untuk merasakan rasa sakit di pantatku karena terjatuh ke lantai dengan menutup mataku, hanya saja rasa itu tidak kunjung datang, sebaliknya, aku merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangku. Aku membuka mata dan menemukan wajah Junmyeon berada tidak jauh dari wajahku. Dia menangkap tubuhku. Aku jelas-jelas sudah pernah ada dalam posisi ini sebelumnya tapi dengan orang yang berbeda dan tanpa harus berpikir panjang, aku bisa tahu kalau hatiku merasakan hal yang berbeda. Karena itu, dengan cepat aku berusaha melepaskan tubuhku darinya. Namun tepat saat itu juga, pintu ruangan tiba-tiba menghambur, terbuka, tanpa peringatan atau bahkan sebuah ketukan.
Aku dan Junmyeon terperanjat (berpikir itu hantu atau sesuatu) sehingga secara reflek tubuhku lepas darinya dan kini aku benar-benar jatuh membentur lantai.
Aku meringis kesakitan sebelum kemudian menoleh kearah pintu hanya untuk menemukan sosok tinggi seorang Kim Jongin, berdiri disana menatapku tanpa ekspresi.
Jongin berdehem."Masih belum selesai ya? Kalo begitu… Aku tunggu diluar saja." Itu yang dia ucapkan sedetik setelahnya, sebelum kemudian pergi lagi dari ruangan ini tanpa menunggu respon apapun dariku.
Aku dan Junmyeon berkedip bersamaan, sadar bahwa ini waktunya untuk berhenti main-main dan menyelesaikan jahitan bantalan sofa secepat mungkin sebelum hari semakin larut.
"maaf, aku tidak sengaja menjatuhkanmu" Junmyeon membantuku untuk berdiri dan duduk kembali di Sofa guna melanjutkan lagi pekerjaanku. "ngomong-ngomong, mau apa dia kembali kesini?" Junmyeon bertanya dengan suara rendahnya saat aku memusatkan perhatianku pada jahitan sofa, mencoba sekuat tenaga untuk tidak dulu memikirkan Jongin.
Aku hanya mengangkat bahu, "aku juga tidak tahu." itu benar, aku memang tidak tahu, karena siapa yang akan menyangka kalau Jongin benar-benar akan kembali kesini seperti apa yang dia katakan tadi? Aku kira dia hanya berbasa-basi.
Untuk beberapa detik selanjutnya, aku tidak mendengar Junmyeon mengatakan apapun. Dan karena aku sibuk menunduk pada tugasku, jadi aku tidak tahu ekspresi apa yang sedang dia buat sampai ahirnya dia berkata lagi, "Baiklah, aku akan menghampirinya. Harusnya dia menunggu disini, diluar sangat dingin sekali."
Aku mengangguk menyetujui keputusannya. Diluar memang sangat dingin sekali apalagi tengah malam seperti ini, bisa-bisa dia berubah jadi es batu nanti. Hanya saja, belum sempat aku mengatakan apapun, Junmyeon sudah lebih dulu meninggalkan ruangan ini dan menutup pintu. Meninggalkan aku yang sendirian di tempat yang sunyi ini.
Oke. Jadi, pada dasarnya aku berada diruangan sepi ini, tengah malam, sendirian, dan hanya ditemani oleh berbagai alat musik yang mengelilingi sekitarku. Mendadak, aku merasa seperti tengah membintangi sebuah film horror saat aku teringat Jongdae pernah bercerita kalau di sekolah ini dulu pernah ada yang meninggal karena bunuh diri.
Aku meningkatkan kecepatan menjahitku karena harus berhadapan dengan situasi seperti ini. Dengan Junmyeon yang tidak berada disini lagi, senyapnya ruangan ini menjadi sangat mengerikan. Aku terus melihat kesekitarku dengan penuh ketakutan.
Aku menghibur diri sendiri dengan mencoba bernyanyi lagu Justin bieber yang aku suka. Tapi itu tidak membantu sama sekali karena suaraku menggema di ruangan ini dan itu malah terdengar lebih menyeramkan. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah diam dan mempercepat jahitanku. Tidak peduli lagi apakah jahitannya rapi atau tidak, yang penting, aku harus cepat pulang ke rumah!
Waktu terus berlalu tapi Junmyeon tidak kunjung datang. Kemana anak itu pergi? Bukankah tadi dia bilang hanya ingin mengajak Jongin masuk? Tapi kenapa lama sekali?
Aku terus mengoceh dalam hati dan bersumpah akan mencekik Junmyeon jika dia secara sengaja meninggalkan aku disini.
Tidak terlalu lama, ahirnya aku berhasil menyelesaikan bantalan sofa ini. Memang kelihatannya tidak rapi (maksudku, yang penting sobekannya sudah tertutup), tapi masih lebih baik dari pada harus membayar orang lain untuk melakukan ini. Anggaran kami masih harus digunakan untuk keperluan lainnya.
Aku menatap hasil karyaku yang mana membuatku rasanya cukup bangga pada diri sendiri, sebelum membereskan peralatan menjahit termasuk benangnya dan dengan cepat meraih tas sekolahku lalu pergi dari ruang klub itu tanpa menoleh kearah manapun lagi.
Saat aku sedang mengunci pintu, tiba-tiba jantungku rasanya akan copot saat aku merasa sebuah tangan yang dingin menyentuh bahuku.
Tubuhku bergetar sangat hebat dan saat tangan itu menarik bahuku hingga membuat tubuhku berputar, secara reflek aku memejamkan mataku erat-erat seraya mulai berteriak dan memberontak sekuat tenaga, "AAAAAAAAAKKKK JANGAN BUNUH AKU. JANGAN BUNUH AKU AAAAAK.. TOLONG!"
"Kyungsoo. Kyungsoo! HEI! Ini aku! Jongin!"
Eh?
Perlahan-lahan aku membuka sebelah mataku dan menemukan Jongin sedang menundukkan kepalanya membuat posisinya sejajar dengan wajahku. Aku menghembuskan napas kasar, setengah lega, setengah kesal karena dia sudah membuatku ketakutan.
"BERENGSEK! Aku kira tadi kau hantu!"
Jongin tertawa terbahak-bahak mendengar umpatanku."apa? jadi kau takut hantu?"
Aku memukul perutnya hingga dia memekik kesakitan tapi tidak sampai membuatnya berhenti cekikikan menertawakanku. Sial, aku pasti terlihat bodoh saat ini.
Saat itu aku mengedarkan pandanganku kesekitar Jongin dan aku sadar kalau tidak ada Junmyeon dimana-mana. jangan bilang dia berbohong tentang akan menemui Jongin dan sebenarnya dia hanya beralasan untuk pergi meninggalkan aku? Aku memperkuat tekadku untuk mencekiknya saat aku bertemu dengan Junmyeon besok.
"Kau mencari Junmyeon?" aku terlalu sibuk menyumpah serapahi Junmyeon hingga aku tidak sadar kalau Jongin kini sudah berhenti tertawa dan menatapku dengan serius.
"itu karena tadi dia ijin padaku untuk menemuimu dan mengajakmu masuk kedalam. Tapi sampai sekarang dia tidak menampakkan batang hidungnya" aku menggerutu seraya melanjutkan mengunci pintu ruang klub, saat sudah selesai, aku memasukkan kunci itu kedalam saku celanaku dan berbalik menghadap Jongin.
"tadi dia memang menemuiku, kami sempat mengobrol beberapa saat tapi saat dia tahu kalau aku kesini untuk menjemputmu, dia langsung pamit pulang dan menyuruhku menyampaikannya padamu"
Aku mengangkat satu alisku merasa heran, bukankah itu terdengar aneh? Kenapa dia langsung pamit pulang sesaat setelah dia tahu kalau Jongin datang untuk menjemputku? Tapi aku tidak mengatakan apa-apa pada Jongin dan hanya mengangguk tanda mengerti.
Sekarang, hanya tersisa aku dan Jongin, berdiri di depan gerbang menunggu taksi untuk tumpangan pulang. Aku meliriknya, mengamati detail-detail wajahnya yang sekilas menujukkan rasa lelah, aku jadi kasihan padanya, harusnya dia tidak usah kembali kesini untuk menjemputku.
"Kau tidak lelah, harus pulang pergi seperti ini?" Aku bisa melihat keletihan di wajahnya yang semakin kentara dan aku tidak ingin tuan muda ini jatuh sakit lagi, orang tuanya pasti akan menuduhku telah menyiksanya.
"Tidak apa-apa. Mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian?" oh lihatlah anak ini yang sedang mencoba menjadi seorang ksatria untukku. Dia bahkan menatapku dengan pandangan manisnya seperti itu.Aku mendengus keras. "Biasanya aku juga selalu pulang sendiri, tidak usah berlagak seperti pahlawan seperti itu" Jongin tertawa kecil atas keluhanku, dan saat itulah sebuah taksi berwarna biru tiba dihadapan kami.
Jongin memberi tahukan alamatku kepada supir taksinya. Aku bisa mendengar pak supir menggumamkan jawaban, kemudian Jongin membuka pintu lebar-lebar untuk membiarkanku masuk terlebih dahulu. Lagi-lagi dia memperlakukanku layaknya tuan puteri. Aku terlalu mengantuk dan terlalu lelah untuk berdebat dengannya, sehingga aku langsung masuk begitu saja.
Suara argo berbunyi bersamaan dengan suara radio yang bersenandung pelan. Lagu lambat yang sedang kami dengarkan ini membuatku semakin mengantuk. Aku berpikir untuk membiarkan diriku tidur sebentar, toh Jongin tahu jalan menuju rumahku.
Setelah otakku memprosespernyataan itu, mataku langsung terpejam.
Tepat saat aku nyaris terlelap, aku mendengar sebuah suara rendah yang berasal dari Jongin, berkata, "Hari yang panjang, ya?"
"Mmm…" aku menggumam sebisanya.
Jongin melanjutkan pertanyaannya. "bagaimana dengan band-ku? Kami tampil dengan bagus kan?"
"Mmm…" lagi-lagi aku menggumam, sepertinya tenagaku hanya tersisa untuk melakukan hal itu.
"apa kau lapar? Haruskah kita cari makan dulu?"
Ugh, kenapa pertanyaan ini tidak kunjung berakhir? Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban kali ini. Aku benar-benar mengantuk.
Namun, Jongin sama sekali tidak mengerti dan malah melanjutkan, "bagaimana kalau kita makan Ssamgyeopsal di kedai persimpangan rumahku?"
"Tidak…" aku sudah sangat mengantuk, tidakkah kau menyadarinya?
Jongin terdiam sesaat sebelum mulai berbicara lagi, kali ini dengan volume suara yang kecil membuatku nyaris tidak mendengarnya, tapi bagaimana bisa aku tidak mendengarnya jika yang dia katakan adalah, "Kyungsoo… apa kau marah padaku?"
Pertanyaan itu seketika menghilangkan sedikit rasa kantukku. Aku heran, kenapa dia harus berpikir kalau aku marah padanya? Aku sama sekali tidak mengerti. Sungguh tidak masuk akal. Dan lagi, Aku masih terlalu mengantuk untuk memikirkan hal lainnya lagi. "tidak."
"Hey, aku minta maaf… tentang Soojung."
Aku mengrenyit tapi masih tidak memberikan jawaban karena menurutku itu tidak terlalu penting. Tapi nampaknya Jongin salah paham dengan tingkahku.
Alih-alih membiarkanku, kini dia malah memberikan alasan yang kelewat panjang. "Soojung tipe orang yang – saat dia ingin pergi ke suatu tempat, maka tidak peduli bagaimana caranya atau keadaannya, dia harus pergi ke tempat itu. Walaupun aku sudah menolaknya, pada ahirnya dia tetap akan memaksa untuk datang. Kau mengerti maksudku 'kan, Kyungsoo?"
"Mmm…" oh jadi dia ingin menjelaskan hal itu.sebenarnya aku tidak memikirkannya tapi aku menggumam untuk membuat Jongin tahu kalau aku mengerti maksudnya.
"Kyungsoo. Ayolah, jangan seperti ini…" Yah, jika seperti ini terus, aku yang tadinya tidak marah pun kini mulai merasa kesal.
"Apa?" Ada sedikit nada jengkel di suaraku.
"Aku mengantar Soojung karena terpaksa. Tapi kalau denganmu.. Aku datang padamu karena memang aku menginginkannya, Kyungsoo. Ayolah jangan marah seperti ini lagi."
Si sekretaris OSIS ini sudah sangat kelewatan. Harus berapa kali lagi aku katakan kalau aku ini tidak marah?! Kapan dia akan berhenti dan mengerti?! Saat ini, kesabaranku sudah mulai habis. Aku sontak membuka mataku lebar-lebar dan menatap tajam padanya.
Bibirku bergerak lebih cepat dari kemampuan berpikirku. "Dengar, Jongin! sudah aku bilang aku tidak marah. Aku tidak keberatan. Pada kenyataannya aku tidak peduli sama sekali. Aku tidak peduli kau mau mengajaknya atau mengantarnya pergi kemana pun kau mau. Itu hakmu. Dan aku sama sekali tidak tertarik untuk mencampuri keputusanmu. Apa kau mengerti sekarang? Aku benar-benar tidak peduli dengan apapun yang kau lakukan!" Setelah aku mengatakan semua hal itu, aku menganggap kalau aku telah membuat semuanya sudah cukup jelas untuk Jongin mengerti sehingga aku memutuskan untuk kembali memejamkan mataku, berharap bisa beristirahat sejenak.
Namun belum sempat aku membawa otakku ke zona yang lebih nyaman, aku mendengar suara Jongin berkata dengan nada dingin.
"Benar. Bodohnya aku telah berpikir kalau kau mungkin peduli padaku bahkan sedikit. Aku lupa kalau aku sebenarnya tidak berarti apa-apa bagimu. Bahkan tidak cukup berharga untuk dibandingkan dengan Junmyeon."
Eh? Bicara apa sebenarnya anak ini?
Aku bangkit dengan menggerutu dan menatap raut wajahnya yang aneh ketika mendengar kalimat terakhir itu.
335
"Tadi kau bilang apa?" Tapi sebelum aku mendapatkan jawaban, taksi yang kami tumpangi ini berhenti tepat di depan rumahku.
Jongin meraih tas sekolahku dan menyodorkannya kepadaku seraya berkata, "Mimpi yang indah, Kyungsoo." Namun, aku tidak buta untuk menyadari kalau raut wajahnya saat ini sungguh berlawanan dengan apa yang ia katakan padaku.
Aku terlalu mengantuk. Aku terlalu bingung. Apa aku telah melakukan kesalahan?!
Tapi terserah lah. Aku benar-benar mengantuk saat ini untuk memikirkan berbagai macam hal. Satu-satunya hal yang aku inginkan adalah kasurku yang hangat dan nyaman.
Jadi, tanpa banyak berkata apa-apa lagi, aku meraih tasku dari tangan Jongin dan mengangguk sebelum kemudian keluar dari taksi ini.
Setelah tidur selama enam jam, tubuhku mulai terasa segar dan berenergi seperti sebelumnya. Tidur ternyata bisa membantu mengangkat suasana hatiku. Aku juga merasa senang karena acara pre-eliminasi kemarin berjalan lancar. Sungguh melegakan.
Aku berjalan ke sekolah dengan senyum lebar terpasang diwajahku pagi ini. Saat aku bersenandung riang, aku melihat Jongin dengan tumpukan berkas di tangannya, sedang berjalan menuju kantor utama. Dan seperti biasa, aku secara otomatis melambaikan tanganku ke arahnya.
Tapi… dia tidak membalas lambaian tanganku. Dia sempat berhenti sesaat untuk menatapku sebelum melanjutkan langkahnya dan menghilang dibalik pintu kantor utama. Menyisakan aku yang berdiri kebingungan karena tingkahnya. Aku berpikir mungkin Jongin tidak melihatku tadi, atau mungkin sesuatu sedang merasukinya lagi? Oh serius, terserahlah.
Aku berbalik dan memutuskan untuk tidak memikirkannya dulu saat ini (meskipun sebagian dari diriku masih merasa penasaran) karena bel masuk sudah akan berbunyi beberapa menit lagi.
Setelah kejadian itu, hari ini berjalan dengan – yang anehnya – tidak terlalu asing. Aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya karena Jongin jelas-jelas tengah mengabaikanku. Perkiraanku semakin diperkuat saat kami lagi-lagi berpapasan saat aku keluar dari kelas, dan Jongin bahkan tidak melirik kearahku sama sekali.
Aku mulai sadar kalau aku diabaikan olehnya, tapi aku tidak merasa sedih seperti sebelumnya, karena aku masih bingung. Apa sebenarnya salahku padanya?!
Aku memutuskan untuk membuktikan, sekali lagi, bahwa memang benar-benar ada yang salah dengan cara mengumpulkan proposal kegiatan acara menggunakan tanganku sendiri ke kantor OSIS (biasanya aku menyuruh adik kelas, untuk urusan semacam ini) karena aku ingin tahu, apakah dia benar-benar mengacuhkanku atau tidak. (aku bahkan sampai mengajak Chanyeol, sekedar untuk berjaga-jaga).
Setibanya kami disana, dia sedang mengetik sesuatu di komputernya. Perhatiannya terpusatkan pada layar, dan seperti yang aku perkirakan, dia bahkan sama sekali tidak melirik kearahku. Dengan nada dingin dia berkata, "silahkan letakkan dokumennya dimeja."
Apa kau benar-benar serius mengabaikanku seperti ini Kim Jongin?! Jangan harap aku akan berbaikan denganmu!
Aku meninggalkan kantor OSIS dengan perasaan yang luar biasa kesal karena sudah sangat jelas kalau Jongin mengacuhkan keberadaanku. Dan tanpa alasan yang jelas juga (setidaknya aku tidak mengingat apapun). Bahkan, Chanyeol yang bodoh saja sampai bisa mencium gelagatnya. "kalian kenapa? Bertengkar lagi? Oh Please, Kyungsoo, tidak bisa ya kau rukun dengan suamimu sehari saja?" APA?! KENAPA HARUS AKU YANG MELAKUKAN ITU?! JELAS-JELAS DIA YANG MEMULAI DULUAN!
Hari ini menjadi hari yang sangat menyebalkan, karena si brengsek Jongin terus saja memperlakukanku seperti ini. Setiap kali kami berpapasan, dia akan menunduk dengan ekspresi kecewa.
Aku tidak tahu apakah sikapnya itu telah menular padaku, tapi sejak dia bertingkah seperti itu, aku memutuskan untuk memberi perlakukan yang sama terhadap dirinya. Persetan dengan kata 'rukun'.
Tapi masalahnya, aku adalah orang yang tidak bisa membiarkan satu masalah untuk satu orang saja, karena itu hampir semua orang yang ada didekatku kena dampak atas sikapku ini. Aku akan langsung mengamuk saat ada seseorang yang melakukan sesuatu yang aku tidak suka (seperti Yixing yang berusaha mengomeliku karena masalah Kris kemarin, tapi melihat aku yang melotot lebih dulu padanya dia langsung mundur dan tidak berani megatakan apa-apa). Suasana hatiku sedang buruk tapi aku tidak pernah berpikir efeknya akan sampai separah ini.
"coba pikirkan lagi, apa sebenarnya yang sudah kau lakukan padanya?" Akhirnya, Chanyeol sudah tidak tahan lagi menerima semua tindakan burukku (karena dia adalah orang yang paling dekat denganku, jadi dia yang terkena dampak paling parah) lalu memutuskan untuk bertanya kepadaku saat istirahat makan siang. Dia mungkin juga ikut kesal karena aku selalu marah-marah sejak tadi pagi. Kalau aku tahu apa yang menyebabkan si berengsek itu mengabaikanku, aku tidak mungkin jadi se-kesal ini.
"apa aku terlihat mengetahui sesuatu?! Aku tidak apa-apa Chanyeol. Sial, dia mengabaikanku begitu saja. siapa yang tidak akan kesal?!" aku menyeruput Bubbletea-ku dengan ganas setelah menjawab Chanyeol. Chanyeol mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti (tapi aku meragukan hal itu).
"tapi, apa dia benar-benar kembali kesini untuk menjemputmu kemarin malam?"
"hmm" aku menggumam acuh tak acuh seraya mengunyah jelly dari bubbleTea yang aku makan.
"Kalian berdua ini benar-benar bertingkah seperti pasangan suami-istri. Apa kau melakukan sesuatu yang membuatnya marah saat kalian sedang berhubungan intim?"
"Fuck you! Kami naik taksi dan dia mengantarku sampai depan rumah. Aku mengantuk saat itu, jadi aku tidak terlalu ingat. Iya benar, Aku terlalu mengantuk, tapi dia terus mencoba berbicara denganku saat perjalanan pulang. Tapi Aku tidak bisa mengingat dengan pasti apa yang dia bicarakan."
"lalu? Pikirkan terus, masalahnya pasti ada padamu." Chanyeol nampak mempedulikan masalah ini terlalu banyak dibanding diriku (meskipun dia mengatakan itu dengan acuh tak acuh sambil memakan sup yang ada di mangkuknya).
Tapi bagaimanapun, apa sebenarnya yang terjadi di taksi kemarin? Aku mulai mencoba mereka ulang kejadian kemarin, dari mulai aku dan Jongin yang memasuki taksi bersama, Jongin memberitahu alamatku pada supir taksi, aku yang mengantuk setengah mati..
"setelah itu... dia terus berusaha membicarakan sesuatu denganku lalu amarahku terpancing membuat Aku… Aku… Aku…"
"Dengar, Jongin! sudah aku bilang aku tidak marah! Aku tidak keberatan! Pada kenyataannya aku tidak peduli sama sekali. Aku tidak peduli kau mau mengajaknya atau mengantarnya pergi kemana pun kau suka. Itu hakmu. Dan aku sama sekali tidak tertarik untuk mencampuri keputusanmu. Apa kau mengerti sekarang?! Aku benar-benar tidak peduli dengan apapun yang kau lakukan!"
Oh sial! ternyata masalahnya memang benar-benar ada padaku.
Sekarang aku mengerti apa yang sedang terjadi. Kata-kata itu berputar berulang kali dikepalaku seperti sebuah komedi putar. Aku dalam masalah. Aku baru menyadari betapa kasarnya kata-kataku itu padanya.
"Hey…" Aku diam-diam meminta perhatian Chanyeol sekali lagi, sesudah mengetahui apa yang telah aku lakukan.
"Apa?"
"Aku ingat apa yang aku lakukan…"
"Dan? Apa kau melakukan sesuatu yang salah?"
"Iya benar…" Chanyeol mendesah panjang. Dia menggelengkan kepalanya seraya berdecak padaku.
"Kalau begitu, cepat minta maaf pada suamimu. Aku sudah cukup muak melihatmu seperti ini. Kau terus marah-marah pada semua orang, tapi saat kau berbalik wajahmu menyerupai anak anjing yang sedang bersedih. Kau benar-benar kacau, mirip seperti Noona-ku saat dia sedang datang bulan. Aku tidak mau tahu, pokoknya, selesaikan permasalahan rumah tangga kalian sekarang juga." Aku sudah akan merasa terharu karena ternyata Chanyeol memerhatikanku sampai se-detail itu, tapi dia malah mengusirku dan menendang kaki kursiku. Dasar berengsek.
Kursi yang aku duduki saat ini adalah kursi yang lumayanpanjang, jadi beberapa adik kelas yang duduk di ujung lain tersentakkarena Chanyeol menendangnya dengan cukup keras.
"YA! kau menakuti mereka."
"Iya, iya. Sudah sana cepat pergi. Aku harus ke ruang klub untuk mengajari Baekhyun bermain terompet"
"Baekhyun?"
"anak baru yang ku ceritakan"
"bukannya Sehun yang menanganinya? Kenapa itu jadi tanggung jawabmu?"
"karena Sehun tidak tahu caranya bermain terompet, jadi dia meminta tolong padaku. Bisakah kau tidak banyak bicara dulu? Selesaikan saja perseteruanmu dengan suamimu itu." Chanyeol berkata seraya mengibaskan tangannya untuk mengusirku. Dia berdiri untuk menumpuk dan membawa mangkuk kami, jadi aku ikut berdiri dan menepuk pundaknya dua kali.
"Baiklah, sampai bertemu nanti siang."
"Iya, iya." Dia mendorongku sebelum kami berdua berpisah menuju jalan kami masing-masing.
Aku meninggalkan kantin dalam keadaan linglung karena tidak tahu dimana aku bisa menemukan orang yang Chanyeol sebut dengan 'suamiku' itu. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kantin tapi tidak ada satupun tanda-tanda keberadaan Kim Jongin disini.
Aku tidak bisa menemukannya.
Aku mulai berpikir kalau dia mungkin makan di kantin sekolah husus perempuan seperti biasa dan memutuskan untuk meneleponnya saja. Tapi, jika aku jadi Jongin, dan seseorang berkata sekasar itu padaku aku sudah pasti akan memblokir nomor orang itu, secara langsung, tepat setelah dia selesai bicara. Kenapa mulutku tidak bisa dikendalikan saat aku sedang mengantuk?! Rasanya aku bisa gila sekarang.
Aku mengutuk seraya memukul-mukul sendiri mulutku sebagai sebuah hukuman. Ketika aku sedang berjalan tanpa tujuan, aku menangkap keberadaan sang ketua OSIS berdiri tidak jauh dari tempatku berada.
Aku berlari kearahnya dengan tergesa-gesa. "Minho!"
"Yo! Kau mengagetkanku, Kyungsoo. ada apa? Oh! Apakah Bandku lolos untuk babak selanjutnya?!"Aku cemberut sambil menggeleng menatap orang yang menyeringai denganlebar dihadapanku saat ini.
"bukan, bukan itu. Jongin.. aku ingin bertanya soal Jongin, dimana dia sekarang?"
Minho memberikan tatapan bingung seolah-olah aku mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya aku katakan. "bukankah ahir-ahir ini dia selalu bersamamu? Jadi, kalau kau sendiri saja tidak tahu, bagaimana aku bisa tahu?"
"Sebenarnya dia sedang marah padaku, lalu dia mengabaikanku. Jadi aku tidak tahu dimana dia berada. Bisakah kau meneleponnya dan mencari tahu keberadaannya untukku? Please?" Aku mulai bertingkah seperti anak kecil umur tiga tahun yang merengek pada orang tuanya karena menginginkan sebuah mainan. Karena aku cukup yakin tidak ada yang bisa menolakku jika aku sudah seperti ini (meskipun aku benci melakukan ini setengah mati) Untungnya, Minho cukup berbaik hati untuk mengerti.
"Memang kalian berdua kenapa? Seperti pasangan yang sedang bertengkar saja. ugh, beri aku waktu sebentar." Aku mengangguk dengan cepat dan menunggu Minho menghubungi sekretarisnya. Tidak butuh waktu lama, ujung lain saluran itu menerima panggilannya.
"Iya, Jongin. Kau dimana? Aula olahraga? Oh baiklah. Apa kau masih lama berada disana? tidak apa-apa. hanya saja ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Iya, jangan pergi kemana-mana dulu, oke? Ya, bye."
Minho menggoyangkan ponselnya padaku sebagai isyarat kalau dia telah selesai melakukan tugasnya.
"Terimakasih banyak Minho!" Aku memeluknya dileher dan menggoncangkannya dengan cukup keras untuk menunjukkan rasa terima kasihku. Setelah itu, aku dengan cepat bergerak menuju aula olah raga.
Setibanya disana, aku bisa benar-benar melihat Jongin ada dalam jangka pandanganku sekarang.
Nampaknya dia sedang bersiap-siap untuk pelajaran olah-raga karena kulihat dia sudah berganti celana. Aku tahu kalau dia sempat melihatku, karena pandangan kami sempat bertemu untuk sesaat, sebelum kemudian dia kembali mengalihkan pandangannya.
Aku berdiri dengan canggung disini, berharap seseorang memanggil namaku, "Oh! Kyungsoo!" Tapi sayangnya, itu bukan Jongin, melainkan Moonkyu, teman sekelasnya Jongin. Dulu dia adalah anggota klub kami, tapi dia harus keluar semester lalu karena ayahnya berpikir kalau dia harus lebih fokus belajar.342
"Hey Moonkyu, apa kabar?" aku memanfaatkan relasiku dengannya dan membalas sapaan Moonkyu saat dia berjalan menghampiriku, "Kau tidak pernah mampir lagi ke ruang klub." Aku melihat kalau Jongin berlari menjauh untuk bermain bola basket dengan teman-temannya tanpa mau repot-repot melihat kearahku.
Moonkyu mendorong pundakku dengan ringan. "eyy, aku sering mampir kesana. Kau saja yang tidak pernah kelihatan disana ahir-ahir ini. Kau itu ketua klub macam apa, huh?"
Memang benar kalau aku selalu keluar masuk ruang klub akhir-akhir ini. Untungnya, ada Chanyeol yang selalu tinggal disana seperti setan penunggu. Dia orang yang selalu memberiku kabar terbaru, kalau tidak, aku pasti sudah di telan bulat-bulat oleh para senior. Aku tertawa garing dan dia melanjutkannya dengan pertanyaan.
"Jadi ada perlu apa kau kesini? Ingin bertemu dengan seseorang?"
"ya, aku mencari Jongin. Bisakah kau panggilkan dia untukku? Dia sedang marah padaku sekarang" aku berkata dengan hati-hati.
"Memangnya kalian berdua kenapa?" Moonkyu terlihat bingung tapi ahirnya dia berbalik juga untuk memanggil Jongin. "Jongin! Hey Jongin! Kim Jongin! Jonginaaa.. Oh si berengsek itu" Aku tidak bisa untuk tidak setuju dengan umpatan Moonkyu, karena Jongin benar-benar bertingkah berengsek bahkan pada teman sekelasnya kasihan padaMoonkyu karena harus berteriak kencang hanya untuk mendapat perhatianJongin, sekarang suaranya hampir serak.
"Oke, dia benar-benar berengsek. Aku akan menghampirinya sendiri." Kali ini Moonkyu terlihat sangat kesal berlari ke tengah lapangan basket untuk menghampiri Jongin. 43
Mereka berdua beradu argumen cukup sengit sebelum akhirnya Jongin berjalan ke tempat dimana aku berada, dengan raut wajah masam. Untuk sesaat, aku kehilangan kata-kata saat melihat wajahnya berada dihadapanku.
"Ada yang bisa saya bantu, Kyungsoo?" Dan Jongin yang berlagak bicara sopan padaku tidak membantu sama sekali. Ugh si berengsek ini, tidak bisakah kau membuat posisiku sedikit lebih mudah?
Aku mencoba bersabar dan mulai bertanya dengan satu pertanyaan yang pertama melintas di benakku, "Jadi… kau sedang apa?"
Namun, jawaban Jongin sangatlah tidak menyenangkan. "sedang berenang, mungkin?" aku menggeram kesal nyaris mengumpat padanya, tapi aku memutuskan untuk menghentikan diriku, karena aku ingat kalau tujuanku yang sebenarnya datang kesini adalah untuk berdamai dengannya. Aku harus bertingkah dengan baik. aku menarik napas panjang sebelum memaksakan sebuah senyuman di bibirku untuk di perlihatkan pada Jongin, "Sepertinya kau sedang bersenang-senang?"
Jongin nampaknya sedikit tersentak dengan pertanyaanku ini, mungkin karena dia tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Biasanya dia adalah pihak yang mengatakan sesuatu yang menyebalkan sebagai jawaban. Tapi kali ini dia diam saja. Dia tidak lagi menantangku seperti tadi. Semangatku jadi mulai patah. Aku memutuskan untuk menggaruk kepala dan langsung ke pokok pembicaraan. "Hey… kenapa kau marah seperti ini? Aku tidak bermaksud apa-apa saat mengatakan itu kemarin malam. Kemarin malam… Aku benar-benar mengantuk. Ayolah, jangan seperti ini lagi. Hm?" aku ingin menggenggam tangannya seperti apa yang dia lakukan di depan kelasku kemarin, tapi melihat banyaknya orang di sekitar kami membuatku mengurungkan niatku.
Senyap.
Jongin kelihatannya sama sekali tidak ingin mendengar apapun penjelasan dariku, terlihat dari dirinya yang alih-alih berbalik untuk melambai membalas panggilan temannya – yang berada di tengah lapangan – sebelum barbalik lagi padaku dengan raut wajah dingin.
"Apa ada lagi yang kau butuhkan? Aku harus pergi sekarang." Bohong! Ini masih jam istirahat, tidak ada hal penting apapun yang harus kau lakukan di jam seperti ini. kecuali kau sengaja ingin menyibukkan dirimu untuk menghindariku.
Bagaimanapun, aku tidak ingin terus menerus mendesaknya, karena dia mungkin akan merasa terganggu.
"ya kalau begitu, pergilah" Walaupun aku mengatakan hal itu, aku tidak bisa menyangkal kalau ada rasa sedih yang muncul di dalam hatiku. Saat Jongin berbalik, berniat untuk berjalan menjauh, tiba-tiba aku merasa panik luar biasa.
Tanpa kusadari, tanganku bergerak begitu cepat dan menggenggam lengannya "H-hey…"
"Apa?" Dia bertanya padaku terlihat marah dan kesal.
Tidak ingin menyerah begitu saja, aku merogoh isi kantungku untuk menemukan sebuah permen (yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi) lalu memberikannya pada Jongin.
"Ini… bisa membantu saat suaramu terasa serak" aku rasanya ingin menghantam kepalaku sendiri karena sadar kalau itu terdengar konyol. Tapi hey! Itu adalah harta karunku yang bernilai cukup tinggi!
Aku tidak tahu apakah ini hanya hayalanku saja atau aku memang menemukan Jongin tersenyum tipis, sangat tipis tapi cukup untuk bisa kulihat (meskipun itu tidak lama) sebelum kemudian wajahnya kembali berubah menjadi es batu sekali lagi. "Yeah… terimakasih." Dia berkata dengan singkat sebelum menerima permen itu lalu berjalan menjauhiku.
Aku menghela napas panjang.
...
"Jadi bagaimana? Apa kalian sudah baikan?" Chanyeol langsung bertanya sesaat setelah aku menginjakkan kakiku kedalam kelas. Aku sempat bingung karena seingatku Chanyeol bilang dia akan mengajari anak baru, tapi kenapa dia bisa sampai lebih dulu dariku?
"tidak usah dipikirkan. Kau sendiri? Kenapa kau ada disini? Bukannya kau harus mengajari anak baru main terompet sekarang? siapa namanya?"
"Baekhyun, dia seumuran dengan kita tapi dia masuk sekolah satu tahun lebih lambat karena suatu masalah, itu yang kudengar. Tadi aku mengusirnya dan menyuruhnya belajar lebih banyak cara memainkan terompet dengan benar, baru kita akan bertemu lagi."
Chanyeol menekuk wajahnya terlihat muram dan kesal, tapi aku menemukan itu sangat lucu. Jarang-jarang ada orang yang bisa membuat wajah si Hiperaktif Chanyeol jadi semurung ini. Dia memang tampak bodoh danselalu bercanda saat ada disekitar teman-temannya, tapi kalau sudah menyangkut tentang adik kelas, dia akan berubah jadi orang yang super profesional dan tegas. Bahkan, kadang dia terlihat lebih mampu untuk fokus daripada aku. Aku tidak bisa menahan tawa kecilku ketika memikirkan betapa kurang beruntungnya si adik kelas itu, sebelum mendudukkan diriku di kursi sebelahnya dan mulai mencari buku yang diperlukan untuk pelajaran yang akan datang.
Saat itu aku mendengar Chanyeol menggumam pada dirinya sendiri seraya mengeluarkan buku-buku dari tasnya. "sepertinya dia belum baikan, ekspresi wajahnya terlihat aneh"
Aku cepat-cepat menoleh ke arahnya. "Kenapa?! Apa yang salah dengan wajahku?!"
"wajahmu seperti kotoran sapi" aku menoyor kepalanya seketika. Kurang ajar."Tapi serius. Apa sebenarnya yang terjadi antara kau danJongin?" Chanyeol ahirnya menanyakan sesuatu yang sangat tidak ingin aku bicarakan saat ini. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, jadi aku hanya bisa menatapnya dengan penuh keraguan.347
"Apa… y-yang kau maksud dengan 'sebenarnya'?"
Kini giliran Chanyeol yang mendorong kepalaku menggunakan jari telunjuknya yang panjang, "Lihatlah dirimu ini. apa kau bisa lebih mencurigakan lagi daripada sekarang? Mungkin dari seluruh orang yang ada di dunia ini, kau adalah orang yang paling mudah ditebak. Jadi? Apa yang sebenarnya terjadi diantara kau dan Jongin? Akhir-akhir ini aku menyadari ada hal-hal aneh yang terjadi diantara kalian." Chanyeol bersikukuh dan bertanya hal yang sama, kali ini dengan penekanan di setiap kata yang dicetak menatap Chanyeol, yang membalasku dengan tatapan tajamnya. Saat ini aku tahu kalau aku tidak bisa lagi menghindar dari pertanyaannya.
"Kami berteman…"
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Jadi mari katakan, aku marah padamu saat ini. Apa kau juga akan bertindak sejauh ini, seperti sekarang, demi diriku?"
"Yah… aku pasti juga akan melakukannya." Mungkin? Aku tidak terlalu yakin.
Sesaat Chanyeol memenatapku dengan ekspresi serius, sebelum melanjutkan. "Kalau aku marah padamu, aku tidak akan melakukannya sejauh ini, kau tahu? Itu bukan sesuatu yang biasa dilakukan antara sahabat." Ughh..
Sekali lagi Aku menghindari tatapan Chanyeol dan mengulangi apa yang sudah kukatakan sebelumya.
"Kami hanya berteman, sungguh…"
Hal itu membuat Chanyeol mendengus cukup keras. Dia menggelengkan kepalanya dan mengalihkan perhatiannya kembali ke buku dihadapannya.
"baiklah, terserah kau saja kalau begitu. Kalau kau memang tidak ingin memberi tahu, ya sudah, itu keputusanmu."
"Oh, ayolah!" aku sama sekali tidak membutuhkan tambahan manusia yang marah padaku T_T
Aku duduk diam saat mulai berpikir mengenai hubunganku dengan Jongin. Yah, kami memang berteman! Mungkin kami sudah melakukan sesuatu yang sudah melewati batas 'sekedar teman', tapi kalau dilihat-lihat lagi, kami memang masih hanya sebatas teman saja. Haah. Memikirkan ini sungguh membuatku lemas.
Sebelum aku menyelesaikan renunganku, aku merasakan sebuah tangan yang besar menepuk lembut kepalaku beberapa kali.
"Kapanpun kau siap untuk memberitahuku, aku akan mendengarkannya." Chanyeol berkata dengan nada lembut. Walaupun dia tidak melihat ke arahku, aku selalu tahu bahwa temanku yang satu ini adalah teman yang sangat baik.
Setelah jam sekolah berakhir, aku dan para panitia yang lain berkumpul di ruang klub untuk menghitung poin dan memutuskan band mana yang bisa ikut tampil di acara Live Contestnanti. Rasanya cukup memusingkan karena ada banyak band yang penampilannya bagus, tapi kalau kami membiarkan ke-35 band untuk tampil, semua orang yang menonton – termasuk jurinya –pasti akanmuntah, karena muak mendengar suara musik (kemarin aku hampir pingsan).
Setelah terjadi perdebatan panjang diantara kami tentang siapa saja yang boleh lolos dan tidak, tentunya dengan disertai candaan disana sini (seperti Hanbin misalnya yang membahas penampilan Junmyeon yang mereka anggap sebagai lagu cinta persembahan untukku, membuat seisi ruangan menggodaku habis-habisan -_-), kami mendapatkan hasil dimana dari yang tadinya ada 35 band, menjadi 15 band saja.
Aku menyodorkan daftar band yang sudah lolos pada Jimin (si pesuruh di klub ini) supaya dia bisa mengetiknya saat kami ngobrol dan tertawa (Ini proses yang sangat penting). Setelah daftar itu selesai dicetak, kami menempelnya di pintu klub supaya semua orang bisa memeriksa sendiri hasilnya dengan mudah.
Aku melihat salah satu nama yang terpampang disitu, The Mafia (ya, itu adalah nama band dari anggota staff osis, aku bersukur mereka cukup sadar diri) sesaat, aku teringat akan pemain keyboard mereka, yang raut wajahnya sangat dingin itu. Aku tidak bisa menyangkal kalau aku ingin…
Tidak… Aku tidak akan menemuinya dan berlagak baik seperti tadi lagi.
Tidak.51
Aku, hanya akan menemuinya untuk memberi tahu kalau band-nya berhasil lolos…
Ya… itu saja.
Aku berpamitan ke semua orang di klub, mengatakan kalau akan pergi ke kamar kecil sebentar, walaupun sebenarnya, aku berencana untuk pergi ke tempat yang lebih jauh dari itu. Dengan cepat aku memakai sepatuku dan berlari keluar dari ruang klub, menuju gedung administrasi baru. Namun… di perjalanan, aku menemukan si brengsek itu sedang tiduran di kursi penonton lapangan sepak bola.
Aku mulai keheranan, sedang apa dia tiduran disitu? Apa dia sedang berjemur? Tidak seperti kulitnya kurang cokelat, 'kan? (jangan salah sangka, aku tidak sedang menghinanya).
Aku mengayunkan kaki menghampiri tuan muda Jongin, yang sedang berbaring disitu membiarkan kulitnya yang kecokelatan mengkilap di terpa sinar matahari, nampak tidak peduli jika seragamnya akan kotor atau berhenti tepat dihadapannyadan melihat kalau mata Jongin sedang tertutup rapat. Tepat saat aku mengulurkan tanganku untukmembangunkannya, Jongin secara tiba-tiba membuka matanya.
"Argh!" Tapi, malah aku sendiri yang terkejut, sialan! -_-
Jongin nampak sama terkejutnya melihatku berdiri disini. Dengan perlahan, dia bangun dan menepuk-nepuk bajunya – menyingkirkan debu yang menempel. Aku bisa melihat kalau dia tidak berhasil menyingkirkan semua debunya, karena itu aku memutuskan untuk membantu, tapi Jongin dengan cepat menjauh, menghindariku.
Ugh, kau masih marah ya?
"Ada apa?" Suaranya masih terdengar dingin. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatnya dengan tatapan kesal, sebelum kemudian aku memutuskan – dengan seenaknya – duduk disebelahnya.
"Kenapa kau tidur sendirian diluar sini? Bukannya kau lebih suka ruangan ber-AC di kantor OSIS?" Aku bertanya berusaha terdengar se-biasa mungkin padanya, mencoba bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami. Jongin tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Mmm." Dia bahkan tidak menanggapi ejekanku dan aku tahu ini pertanda buruk.
Aku melirik Jongin, yang masih tidak melihat kearahku. Aku mulai bertanya-tanya, apa bagusnya hamparan lapangan hijau kosong yang luas ini, sehingga Jongin tidak melepaskan pandangannya darinya?
Dari sini, aku bisa melihat raut wajah Jongin yang sangat datar dan aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menghadapi situasi seperti ini. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah memandang ke arah sepatuku sendiri, rasanya lebih baik daripada wajah Jongin yang terlihat tanpa ekspresi.
"Jadi kapan kau mau pulang?" Aku bertanya padanya, berharap aku akan mendapat Jackpot dan dia setuju untuk pulang bersama.
"Tidak tahu."
"Mau pulang bersama?"
"…." Dia diam saja. Apa artinya ini? T_T
Aku tidak menyerah dan terus maju, pantang mundur. "apa kau sempat memakan permennya?"
"…." Yang ku dengar hanyalah suara angin yang berhembus dengan kencang dan daun-daun yang berjatuhan, tidak ada tanda-tanda Jongin akan mengeluarkan suaranya.
Kini aku kehabisan akal membuatku memutuskan untuk menatap wajahnya, tepat saat itu aku bisa melihat ada seberkas senyum terpasang disana – namun dengan cepat menghilang lagi.
Tunggu. Apa mungkin dia sudah tidak marah lagi padaku?
Aku menganggapnya sebagai pertanda baik, jadi aku memutuskan untuk bergerak mendekatinya dan menyentuh punggung tangannya menggunakan jari kelingkingku, "Hey… Aku minta maaf. Jangan marah lagi. Aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa dengan yang aku katakan semalam. Aku hanya mengantuk, itu saja. Jangan marah lagi, ya? Ya? Ya?"
Sementara aku terus menekan-nekan punggung tangannya dengan jari kelingkingku, aku bisa melihat pemilik tangan itu berusaha menahan tawanya sambil menoleh kearah lain, menghindari pandanganku.
Aku memutuskan untuk meloncat turun dari tempatku duduk, dan berdiri satu tingkat dibawah, membuat wajahku sejajar dengan wajahnya. Walaupun aku berusaha untuk masuk ke jangkauan penglihatannya, Jongin terus menghindariku dengan menoleh kesana kemari. Dasar, memang kau pikir kau itu imut, apa? Apa kau mempelajari ini dari Yeri?!
"Ayolah tuan tampan, kita baikan, ya? Aku akan menraktirmu es krim. Ayolah, ayolah, ayolah~" Aku mencoba merayunya dengan lebih gencar saat ini, aku bahkan menambahkan aegyo disana sini (lihat betapa besar pengorbananku untuk si keparat ini) tapi Jongin masih tetap jual mahal. Dia mendesah panjang dan memasang wajah cemberut. Aku mulai benar-benar merasa kesal sekarang.
Waktu untuk diskon spesial sudah selesai.
"Baik, tersererah! Lakukan apapun sesukamu! Aku menyerah. Aku kesini hanya ingin memberi tahu kalau band-mu berhasil lolos. Selamat."
Aku mendesis saat lagi-lagi tidak mendapat respon apa-apa sebelum berbalik dan menghentakkan kaki untuk kembali ke ruang klub, tapi kemudian Jongin meraih tanganku dan menghentikan langkahku.
"Ah, ayolah. Seharusnya kau berusaha sedikit lebih keras lagi. Tingkahmu tadi itu sunguh menggemaskan." Si brengsek ini, jadi dia mempermainkanku?!
Aku mendengus kesal dan menghempaskan tangannya dengan kasar. Kali ini giliran Jongin yang merajuk padaku dengan bergelayut di lenganku, memintaku untuk berbalik. "Hey, Aku sudah tidak marah. Aku sudah tidak marah lagi padamu. Sungguh! Kyungsoo, jangan seperti ini. Bukankah kita sudah baikan? Ayo berbaliklah, hm? Hm? Hm?." Dia terus menggoncangkan lenganku, tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Dia sebenarnya terdengar sangat lucu sekali. Tapi kali ini, giliranku untuk membalasnya. "bagaimana kalau aku traktir es krim? Di toko dekat sekolah kita?" Penawaran yang menarik, tapi itu tidak terlalu baik untuk menggugah seleraku.
"Oishi Buffet." Aku membalasnya dengan penawaran yang lebih tinggi. Jongin melepaskan pelukannya di pinggangku. "Yah! dua makanan itu kan harganya jauh berbeda!"
Aku berdecih, sudah bisa menebak , aku merasa lelah berdiri terus menerus seperti ini, jadi aku menyerah dan memutuskan untuk duduk kembali disebelahnya tanpa banyak bicara.
Jongin menoleh dengan sebuah cengiran lebar diwajahnya. "mendekatlah seperti tadi. Aku menyukai itu." Lucu sekali.
Aku memberinya tatapan bingung. "yang seperti apa? Aku tidak ingat."
"Aku akan membalasmu lain kali." Dia mengeluh dalam gumaman, dan aku mulai tertawa. Kemudian kami duduk dalam diam dan menyaksikan anak-anak kelas 10 berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing.
Aku memutuskan untuk menjadi orang pertama yang melontarkan pertanyaan. "Hey. Kau tidak merasa terganggu dengan apa yang terjadi tadi malam, kan?" Aku bertanya karena merasa ada banyak kesalahpahaman yang telah terjadi.
Jongin membalasnya dengan sebuah senyuman. "Yang mana?"
Benar, ada banyak hal.
"Semuanya…"
Pada titik ini, Jongin tertawa kecil. "Kalau kau bertanya tentang, saat dimana kau berteriak padaku di taksi, maka aku tidak marah. Hahaha. Maafkan aku, saat itu aku benar-benar sudah mengganggumu. Aku harusnya mengerti kalau kau sangat kelelahan dan membutuhkan istirahat." Oh, jadi kenapa dia bertingkah menyebalkan padaku seharian ini? Aku menendang kakinya dengan lembut sebagai sebuah hukuman. "Tapi, kau benar-benar tidak bermaksud lain, saat mengatakan hal itu 'kan?" Dia bertanya seraya memiringkan kepalanya untuk melihatku dengan lebih baik. Aku mengangkat satu alisku sebagai balasan.
"tentu saja. Karena itu adalah urusanmu dengan Soojung dan itu sama sekali tidak mengangguku. Sungguh, itu adalah hak-mu sendiri." Aku tahu dengan baik kalau hubunganku dengan Jongin, tidak semacam itu. Aku sudah cukup senang dengan apa – yang sudah kami miliki – saat ini. Namun, aku menemukan Jongin kembali terdiam.
Dia mendesah panjang sebelum melanjutkan, "tadinya aku memang benar-benar marah… tapi tentang Junmyeon." Aku sedikit tersentak dan mengerutkan keningku tidak habis pikir kenapa Jongin membawa nama seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini. "Apakah band-nya juga lolos?" dia bertanya secara tiba-tiba membuatku semakin bingung.
"Ya, mereka juga lolos. Tapi, kenapa kau marah tentang itu? Jangan bilang, gara-gara hal yang super konyol itu? asal kau tahu, Jongin. Aku dan Junmyeon, tidak ada apapun yang terjadi diantara kami" Aku cepat-cepat meluruskan segala kesalah pahaman yang konyol ini, tentu aku pernah beberapa kali memuji dan mengagumi Junmyeon tapi aku tidak punya pemikiran lain karena hal itu. Ugh, memikirkannya saja sudah sangat membuatku geli. Jongin masih memasang raut wajah serius.
"tidak… Aku.. aku marah pada diriku sendiri." Kali ini, aku menatap dengan penuh tanda tanya pada Jongin, menemukan ekspresi wajahnya yang dipenuhi dengan kesukaran. Kemudian, Jongin menoleh kearahku juga dan mata kami bertemu. "Aku marah karena aku tidak bisa menyanyikan lagu untukmu. Aku harusnya tidak bermain Keyboard. Aku juga marah karena… aku tidak bisa tinggal disana dan menemanimu sepanjang malam. Aku… minta maaf." Jongin mengatakan semua itu seraya menatapku dengan penuh ketulusan dan kejujuran, membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku sendiri darinya.
"tidak, kau tidak harus minta maaf" Aku menggeleng duakali dan menempatkan tanganku di atas lututnya, "tidak ada satupun dari itu semua yang membuatku terganggu. Lagipula, kau bahkan rela kembali kesini untuk menjemputku, ingat?" Tatapannya masih mengunci pandanganku dengan kuat.
"Itu bukan hal yang rela kulakukan. Itu adalah hal yang memang ingin ku lakukan."Oh, sekarang aku tidak tahu lagi harus menjawab apa.
Sekali lagi Jongin mendesah panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Kyungsoo… seandainya, Junmyeon menghampirimu dan mengatakan bahwa dia menyukaimu. Apa yang akan kau lakukan?" aku menjawabnya dengan sebuah toyoran di dahinya menggunakan jari telunjukku. Apa maksudnya bertanya padaku tentang sesuatu seperti itu?
"Aku bukan gay, Jongin! Jadi jangan sembarangan menganggapku bersedia kencan dengan pria manapun, yang kelihatan tertarik kepadaku…"
"Maaf.." Jongin bergumam seperti orang yang merasa bersalah. Dia menunduk terlihat sangat murung dan tidak berani menatapku lagi seperti sebelumnya sehingga dia tidak bisa melihat kalau aku kini sedang tersenyum.
Aku berdiri membelakanginya, menarik napas panjang sebelum mengucapkan sesuatu yang ingin aku sampaikan padanya sejak lama.
"Hanya satu pria yang aku sukai di dunia ini… dan itu adalah.. kau, Kim Jongin."
Aku langsung kabur merasa jantungku akan meledak saat itu juga setelah menyelesaikan kalimat itu. Aku berlari ke gedung dimana ruang klubku berada (yang mana tidak terlalu jauh dari bangku penonton, jadi kami masih bisa melihat satu sama lain) dan berhenti tepat didepan pintu gedung hanya untuk berhenti dan berbalik melihat Jongin yang berdiri mematung. Dia terlihat sangat terkejut atas jawabanku sebelum kemudian sebuah seringai lebar muncul diwajahnya dan dia meneriakkan sesuatu padaku.
"Do Kyungsoo! Aku juga menyukaimu!"
Sialan, kenapa dia harus berteriak seperti itu?! Sungguh memalukan!
Aku mengacungkan jari tengah padanya menyembunyikan rona merah di pipiku sebelum melanjutkan langkah kakiku dengan cepat memasuki ruang klub.
...
Hari jumat telah datang dan aku sedang sibuk mengerjakan tugasku (lebih seperti menjiplak tugasnya Jongdae) bersama Chanyeol yang sedang menjiplak tugasnya Yixing (wow, lama-lama kami terlihat seperti anak kembar) di sampingku. Perhatianku terpusatkan seluruhnya pada tugas yang menumpuk ini sampai-sampai aku tidak memperdulikan keadaan sekitar. Ini adalah hari Jumat yang mana biasanya memang merupakan hari ahir minggu yang keramat, tempat semua tugas dikumpulkan bersama.
Aku terlalu berkonsentrasi mengeja kata-kata bahasa inggris di buku catatan Jongdae saat aku merasakan Chanyeol menyenggolku dengan sikutnya, "teleponmu bergetar terus, Kyung. Angkat sana"
Huh? Aku melongo melihat handphone ku yang kuletakkan di kolong meja hanya untuk menemukan nama Wendy disana. Aku memutar bola mataku sebelum kembali melanjutkan mengerjakan (menjiplak) tugas.
"kenapa tidak diangkat?" Chanyeol bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari catatannya.
"tidak penting"
"Majikanmu ya?" aku menghela napas dan mengangguk (Chanyeol selalu punya cara tersendiri memberi nama panggilan untuk orang-orang yang ada disekitarku, dan aku mengerti) "Kalau begitu kenapa tidak dijawab? Aku bertaruh ujung-ujungnya pasti aku juga yang harus berhadapan dengan majikanmu itu" Chanyeol menggerutu, tapi teleponku sudah berhenti bergetar. Satu tarikan napas kemudian dan suara getar ponsel yang berbeda kini terdengar dari area meja Chanyeol.
Chanyeol menatap tajam kearahku seolah mengatakan 'lihat kan?' tanpa pikir panjang dia merogoh ponselnya dan memberikannya padaku tanpa meilhat lebih dulu ID siapa yang menelepon. "Angkat ini sendiri. Aku bukan sekretarismu."
"oh, ayolah. Matikan ponselmu kalau begitu" Sambil berkata seperti itu, aku mencari tombol untuk menolak panggilan, tapi kemudian, Chanyeol merampas ponselnya dan menatapku dengan penuh ancaman.
"Jawab atau aku akan memberitahunya kalau kau sakit parah supaya dia datang kesini!"
Dasar kau sahabat sialan, apa kau serius mengancamku dengan ancaman bodoh seperti itu, untuk memaksaku mengangkat panggilannya?! Aku memasang raut muka jengkel sebelum menerima kembali smartphone Chanyeol dan menatap layarnya yang bertuliskan 'majikan Kyungsoo' aku mendengus dan mengangkatnya.
Jika tugasku tidak selesai sebelum waktunya, biarlah kucekik leher Chanyeol sebagai gantinya.
"Ya, Wendy?" Aku bisa mendengar suara cempreng Wendy di seberang sana terdengar sangat ceria.
"Hai Soo! Apakah sore ini kau ada acara?" Sudah kuduga.
"Sore ini? hmm sepertinya tidak." Aku berpikir setelah menganggap – paling tidak –Chanyeol akan tinggal disini untuk menggantikanku mengurus urusan klub (aku hampir kehilangan keseimbangan saat Chanyeol menoyor kepalaku).
Wendy lanjut berbicara. "kalau begitu, bisakah nanti kau menemaniku membeli kado untuk Dad? Daddy ku sebentar lagi ulang tahun" kini aku tahu alasan kenapa Wendy meneleponku. Tidak sopan rasanya jika aku menolak sesuatu yang di peruntukkan untuk orang tua.
"Baik, kita akan pergi kemana?
"Ayo bertemu di myeongdong sepulang sekolah. Aku akan menunggumu disana, oke?." Dia memberi tahu sebelum menutupteleponnya. Aku mengembalikan telepon Chanyeol dan dia bersiul menggodaku.
"Wow, sepertinya kau mendapat job baru ya?" Dia berbicara seolah aku ini adalah semacam pria bayaran atau sesuuatu-_-
Tanpa harus diminta, aku memukul kepalanya dengan keras menggunakan buku tebal milik Jongdae.
...
Kami bertemu di Myeongdong seperti yang direncanakan. Alasan kenapa Wendy ingin aku membantunya adalah karena dia tidak punya gambaran apapun tentang apa yang harus dia berikan kepada ayahnya. Dan mengingat dia adalah anak gadis, jadi hal-hal yang bisa dia pikirkan hanya sebatas, 'bagaimana dengan penindih kertas hello kitty?' (aku bersyukur karena aku menerima ajakannya, kalau tidak, bisa di pastikan Tuan Son akan meringis melihat kado pemberian dari puterinya) yang kubalas dengan tawa, dan menerima cubitan manis di pinggang sebagai balasan.
Setelah sedikit berdiskusi tentang apa yang disukai dan dibutuhkan oleh ayahnya, kami memutuskan untuk membeli sesuatu yang bisa digunakan bekerja. Jadi, kami memasuki sebuah toko husus untuk orang dewasa (setelah sebelumnya aku berusaha membuat Wendy fokus dan tidak dulu ingin berbelanja untuk dirinya sendiri). Karena Ayah Wendy adalah seorang pebisnis dan pekerja kantoran, aku menyarankannya membeli penjepit dasi atau paling tidak jam tangan.
"Kyungsoo, yang itu, yang itu!" aku hanya pasrah saat Wendy menyeret lenganku dengan semangat menuju sebuah etalase penjepit dasi dan menunjuk salah satunya yang kulihat memang memiliki desain cukup bagus.
"Lumayan bagus."
"Kalau jam tangan ini?" Dia menunjuk sebuah Jam tangan yang kebetulan etalasenya bersebelahan dengan penjepit dasi. Pada titik ini, aku sedikit merasa tidak yakin. "Susah untuk memilih." Dua-duanya terlihat bagus dan cocok untuk hadiah orang dewasa, jadi aku hanya bisa menghela napas tidak tahu harus memilih yang mana.
"jika misalnya ini adalah ulang tahunmu, kado mana yang akan lebih kau sukai?" Wendy bertanya dengan tatapan memohon padaku yang kubalas dengan senyuman.
"mari kita lihat. Karena aku adalah seorang pelajar dan tidak membutuhkan penjepit dasi, jadi sepertinya aku akan lebih menyukai jam tangan. Tapi kalau ayahmu, aku tidak tahu. Dua-duanya terlihat cocok"
"Kalau begitu, aku akan membeli penjepit dasi-nya untuk Dad, dan jam tangannya untukmu." Dia langsung memutuskan sendiri seenaknya. Secara naluri, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dengan cepat aku menggeleng mencegahnya, "TIDAK! Maksudku, aku tidak menginginkannya. Lagipula aku tidak terlalu menyukai aksesoris" Wendy cemberut mendengar jawabanku.
"Tapi aku juga ingin membelikan sesuatu untukmu sebagai tanda terimakasih."
Jika sebelumnya aku terdengar membentak, maka kali ini aku mengubah nada suaraku menjadi sebuah rayuan. "Kumohon, jangan. Ya? Aku tidak menginginkan apa-apa sebagai tanda terimakasih. Aku membantumu dengan tulus, jadi kau tidak harus memberiku apa-apa, oke?"
Wendy menyerah. Dia mengangguk kemudian meminta seorang pegawai untuk mengambilkannya penjepit dasinya lalu membungkusnya didalam kotak yang indah.
Wendy menatapku seperti anak kecil, "Aku lapar, ayo cari makan." Dia berkata seraya menerima hadiah yang sudah di bungkus dari salah satu pegawai. Kali ini aku setuju dengannya karena perutku sendiri juga terasa sangat lapar.
Kami berakhir di CFC yang berada di lantai bawah tanah. Kami sama-sama memesan burger ukuran sedang dengan cola sebagai minumannya. Sebenarnya aku sedang ingin makan jajangmyeon tapi mengingat di tempat seperti ini tidak tersedia makanan-makanan seperti itu jadi aku mengikuti pesanan Wendy saja.
Pesanan kami datang dan aku menyantapnya lebih cepat dari yang aku kira. Aku mendengar Wendy terkikik geli melihat cara makanku. "kau sepertinya lapar sekali Kyungsoo, makanmu seperti anak kecil. Apa seharusnya kita memesan paket jumbo tadi?" aku mendelik kearahnya, dan gara-gara siapa aku seperti ini? Aku tidak sempat makan apa-apa saat istirahat kedua tadi (karena ternyata ada banyak sekali tugas yang belum aku kerjakan), dan saat pulang sekolah aku langsung bergegas kesini, ditambah lagi sekarang hari sudah sore, apa yang dia harapkan?
Namun bukannya takut, Wendy malah terkikik semakin geli dan memeletkan lidahnya padaku sebelum dia menggigit burgernya sendiri. Tapi kini, giliran aku yang menertawakannya.
"Lihat siapa yang baru saja memanggilku anak kecil." Aku mengejeknya saat melihat ada banyak mayonase belepotan di sudut bibirnya, meskipun begitu aku menyodorkan tisu padanya. Wendy awalnya bingung tapi saat melihat aku menyodorkan tisu padanya dia sadar dan tertawa.
"sepertinya kita memang sepasang anak kecil" dia terkekeh dan menerima tisu yang kutawarkan. Dia mengelap mulutnya tapi dasar Wendy, dia makan terlalu berantakan sehingga selembar tisu belum bisa membersihkan semua mayonase nya.
"masih ada"
"huh? Disebelah mana?"
"Sedikit kekanan. Keatas sedikit. Tidak, tidak. Turun. Kekanan, sedikit lagi. Haah. Kemari, biar aku yang membersihkan." Kesabaranku habis, jadi aku memutuskan untuk membersihkannya sendiri. Aku mengambil tisu lain dan menyeka area bibirnya selembut yang kubisa. Tapi itu sepertinya tidak cukup lembut karena kini Wendy mengeluh,
"Kyungsoo, ini wajahku, bukan kupon gosok. Kenapa kau menyekanya kasar sekali" Oh, jadi aku menggunakan tenaga terlalu banyak ya.
Aku meringis meminta maaf dan kembali mencobanya, kali ini memastikan untuk bersikap lebih lembut lagi. Tapi, sosok pria bertubuh tinggi di seberang sana yang sedang menatapku dengan tajam mengalihkan perhatianku, saat aku berhasil memfokuskan pandanganku dan menyadari siapa pria itu, secara reflek aku menarik tanganku dari wajah Wendy.
Jongin..
"Oh, Jongin! Ayo gabung disini!" Ya Tuhan! Wendy kumohon jangan panggil dia! Tapi sudah terlambat, Wendy kini sudah melambai dengan liar ke arah Jongin, yang langsung menurut dan tanpa ragu berjalan menghampiri kami. Dia menatapku dengan aneh dan aku merasa tidak bisa membalas tatapannya terlalu lama, jadi dengan cepat aku mengalihkan pandanganku darinya.
Tubuhku mendadak gemetaran karena gugup, aku takut Jongin salah faham dan merasa sakit hati dengan keadaan ini. Tapi sekali lagi, suara didalam otakku berkata kalau kami tidak memiliki hubungan yang seperti itu.
Jongin berjalan mendekatiku dan meremas bahuku dengan lembut. Aku tidak tahu apa maksudnya itu.
"Apa kau mau bertemu dengan Soojung disini, Jongin?" Wendy –seperti biasa- bertanya dengan riang mengenai temannya. Jongin nampak sedikit ragu untuk menjawab.
"Oh… tidak. Aku tidak ada janji dengan Soojung." Dia duduk disebelahku seraya menatap wajahku.
"Eh? Lalu kau sedang apa disini?" Wendy melanjutkan pertanyaan sementara aku berusaha diam sesenyap mungkin. Sesekali aku melirik Jongin menggunakan ekor mataku. Rasanya aneh, karena ekspresi wajahnya masih terlihat ceria seperti biasa.68
"Aku kesini untuk bertemu dengan adikku, kami memiliki rencana untuk melakukan sesuatu bersama"
"Ah, Yeri?" Aku bertanya sebagai reflek, yang dibalas dengan sebuah anggukan oleh Jongin seraya tersenyum. Aku hampir lupa kalau Yeri memang bersekolah di dekat sini. "Kapan? Dimana?" Aku melanjutkan pertanyaanku dengan lemah, berpikir akan menjadi hal yang buruk jika Yeri sampai melihat kami semua disini. Tapi, Jongin sama sekali tidak terlihat hawatir.
"Jam enam, di gerbang sekolah – oh, terima kasih." Seorang pegawai memberikan pesanan Jongin yang telah dibungkus saat dia tengah berbicara. Jongin menerima kantug berukuran besar itu (kurasa dia memesankan untuk Yeri juga) lalu memeriksa isi tasnya sebelum mendongak lagi dengan sebuah senyuman. "Aku harus bertemu dengannya. Sampai bertemu nanti." Dia melanjutkan kalimatnya sambil berdiri dan melambaikan salam perpisahan.
Wendy melambai sebagai balasannya, tapi kemudian raut wajahnya berubah menjadi merasa terganggu saat Jongin menghilang dari pandangan kami.
"Dia bohong…" Aku tersentak dengan apa yang tiba-tiba Wendy katakan.
"Eh? Kenapa kau bicara seperti itu?" Dia cemberut kemudian meneguk sedikit minumannya sebelum berbicara. "Karena tadi Jongin memberi tahu Soojung kalau dia tidak bisa melihat film bersamanya hari ini, dia bilang karena ada urusan penting. Tapi nyatanya dia malah kesini menggoda para gadis"369
Aku mengernyit atas tuduhan tak berdasar Wendy yang dia tujukan pada Jongin dan langsung menyanggahnya. "Tunggu dulu, adiknya memang benar-benar sekolah didekat sini." Tapi nampaknya Wendy menolak untuk mendengarkanku.
Wajahnya yang cerah itu masih cemberut. "Dia akhir-akhir ini sering bertingkah seperti itu… sejak kejadian saat itu." Aku tahu dengan baik, kejadian apa yang dia maksud. Aku juga berpikir kalau aku tahu apa yang sedang terjadi dengan Jongin. Aku hampir merasa bersalah, hampir. Karena kemudian apa yang Soojung lakukan di Gangwondo waktu itu muncul dalam benakku. "Aku merasa kasihan pada Soojung. Tidak seharusnya dia menerima perlakuan seperti ini dari pacarnya." Wendy melanjutkan.
Namun, aku terus memakan burger yang ada ditanganku, berusaha sebisa mungkin untuk tidak mendengus keras-keras.
"Kadang, kau tidak bisa begitu saja menimpakan semua kesalahan pada pria, Wendy."
Pada titik ini, gadis dengan wajah ke-barat-baratan itu menatapku seolah ingin beradu argumen. Aku menggelengkan kepala tanda tidak ingin membicarakan ini lebih lanjut.
Kita semua menyayangi teman-teman kita.
Jadi, aku anggap Wendy menyayangi temannya itu.
Ya,
Dan aku menyayangi Jongin.
...370
Aku tahu kalau takdir itu tidak bisa kutebak saat aku menemukan berpasang-pasang sepatu berserakan di teras rumahku. Ini bukan pameran, ini juga bukan pedagang kaki lima, ini, sudah sangat jelas adalah komplotan teman-temanku. Dugaanku terbukti seratus persen benar saat aku mendengar bocah-bocah brengsek itu tertawa terbahak-bahak dari dalam rumahku.
"KEJUTAN!" mereka semua berteriak menyambut kedatanganku, aku memutar bola mata malas dan melipat tangan didada melihat kekacauan yang terjadi. Kelihatannya rumahku akan sekali lagi berubah jadi kapal pecah. Aku perkirakan ada sekitar 10 orang lebih disini. Beberapa sedang duduk mengelilingi Hot pot di atas meja; Jongdae, Hongbin, Minseok dan Luhan (teman Minseok dari kelas lain). Ada yang sedang bermain game di ruang TV yaitu Chanyeol, Hanbin dan Sehun juga seseorang yang menonton mereka di samping Sehun, seingatku namanya Tao. Dan beberapa lagi sedang sibuk membuat keributan di dapur, aku bisa mendengar suara Yixing, Ken, dan Hyunsik sedang membicarakan sesuatu tentang menyiapkan sebuah salad mie pedas. Jadi sekarang setelah aku mendapat kesempatan untuk menghitung… mereka semua berjumlah 11 orang.
Tapi ini masih lebih baik, dulu aku pernah mendapat 'kejutan' dengan jumlah 17 orang memenuhi rumahku (saat itu rumahku nyaris meledak).
"Jadi siapa yang memberitahu kalian kalau ayah dan ibuku sedang pergi?" aku bertanya sekedar basa-basi karena aku tahu pasti siapa yang melakukannya seraya menaruh tas sekolahku disembarang tempat sebelum ikut bergabung dengan kelompok main game, merebahkan diri disofa disebelah Chanyeol.
"tentu saja Yuri Noona-ku tersayang" tepat seperti dugaanku-_- Chanyeol tersenyum bangga sambil membusungkan dadanya. Yuri Noona sangat memuja Chanyeol, jadi bukan hal aneh jika dia selalu memberikan informasi-informasi menguntungkan secara gratis padanya. Ini bukan kali pertama dia melakukan ini, setiap kali ayah dan ibuku pergi (mereka sesekali akan dinas ke luar kota) Yuri Noona akan menelepon Chanyeol dan menyuruhnya untuk main ke rumahku sekalian mengajak teman-teman yang lain untuk menghancurkan rumah ini. kadang aku heran apakah di kehidupan sebelumnya Yuri Noona dan Chanyeol adalah sepasang kriminal yang penuh siasat karena kerja sama mereka selalu berjalan dengan mulus sekali.
Awas saja Noona, aku tidak akan memaafkanmu -_-
"ngomong-ngomong Kyung, Chanyeol bilang kau pergi kencan, kenapa pulangnya cepat sekali?" Jongdae yang sedang mengaduk-aduk hotpot yang terlihat sangat lezat dihadapannya, bertanya. Aku mengambil satu mangkuk kosong diatas meja dan menyodorkannya pada Jongdae membuat Jongdae mengerti dan mengisi mangkukku dengan hotpot buatannya, aku juga meminta Luhan untuk menambahkannya dengan mie yang terletak tidak jauh darinya serta Minseok yang memberikan aku sumpit membuatku berpikir; lama-lama aku terlihat seperti seorang raja dengan banyak selir! Haha (Aku memang sudah makan burger tadi, tapi memangnya kenapa? Toh, perutku masih terasa lapar) sebelum kemudian menjawab pertanyaannya dengan acuh tak acuh.
"Itu bukan kencan. Aku hanya menemaninya mencari sesuatu"
"bukankah itu sama saja?" aku sudah akan menoyor kepala seseorang yang berani-beraninya menjawab alibiku, tapi saat aku melihat bahwa Tao yang melakukannya, aku mengurungkan niatku (dia adalah adik kelas yang super sensitif, terakhir kali Sehun tidak sengaja memukulnya dengan stik drum, Tao menangis tersedu-sedu sampai jam kumpulan klub berakhir) lagipula dia tidak terdengar sedang mengejekku.
"tentu saja beda Tao-ya. Dalam kasus Kyungsoo, kencan adalah sesuatu yang kau lakukan saat malam hari, dikamar, bersama seseorang yang-" kini aku tidak ragu lagi untuk menoyor bahkan menyubit dengan keras orang yang sedang berbicara dimana kebetulan itu adalah Chanyeol. "AW!"
"lanjutkan kata-katamu dan aku sumpahkan kau akan berkencan dengan Nanhee si Piranha"
Aku mengeluarkan senjata rahasia dan menyeringai saat Chanyeol menjatuhkan stik gamenya karena terkejut setelah mendengar nama itu. HA! Kena kau!
"JAGA BICARAMU!" Dia berdiri dan membuat kegaduhan tentang betapa dia lebih memilih mendapat nilai jelek seumur hidupnya di sekolah daripada harus berkencan dengan Piranha, membuat semua orang yang ada di rumah ini termasuk Yixing, Ken, dan Hyunsik yang baru kembali dari dapur (dengan salad pedas ditangan mereka) tertawa terbahak-bahak.
"Chanyeol, kau tidak harus memilih mendapat nilai jelek karena kau memang selalu mendapat nilai jelek" pernyataan Jongdae, si pintar berbicara mengundang tawa semakin keras dari kami semua. Chanyeol cemberut dan kembali duduk dengan mood berantakan. Rasakan itu. memangnya kau saja yang boleh selalu menyudutkanku?
"tapi aku tetap tidak mau berkencan dengan Piranha"
Piranha, orang yang sedang kami bicarakan adalah seorang murid perempuan yang bersekolah tepat disekolahan yang berlawanan dengan sekolah kami. Sebenarnya dia cukup cantik, dia juga lucu, tapi tingkahnya sangat agresif. Apalagi kepada Chanyeol. Piranha sudah mengejar-ngejar Chanyeol selama kurang lebih 4 bulan sekarang, dan artian mengejar disini adalah benar-benar mengejar, setiap ada kesempatan, dimana dia dipertemukan dengan Chanyeol, keadaan selalu berakhir dengan Chanyeol yang lari terbirit-birit mencoba kabur dari jangkauannya, kadang aku kasihan padanya tapi kadang kenyataan itu juga menguntungkan untuk saat-saat seperti ini.
Nama aslinya sebenarnya Choi Nanhee, tapi kami menyebutnya sebagai Ikan Piranha karena menurut kami, dia terlihat sangat lucu tapi akan berubah menjadi mahluk ganas yang kelaparan jika sudah menemukan mangsanya (dalam konteks ini adalah Chanyeol). Persis seperti piranha.
Kami membicarakan tentang Nanhee setelahnya untuk beberapa saat di selingi dengan gerutuan Chanyeol disana-sini sebelum kemudian Hanbin menghentikan kami.
"Chanyeol Hyung tidak akan tertarik dengan Ikan piranha, karena dia lebih menyukai Bacon"
Kami semua menoleh bersamaan dengan pertanyaan yang sama juga di benak kami 'apa maksudnya Bacon?' pada Hanbin yang kini tengah dipelototi oleh Chanyeol seperti sedang mencegahnya mengatakan sesuatu. Tapi satu hal yang aku suka dari Hanbin adalah, anak itu kelewat kurang ajar untuk takut akan sebuah ancaman dari seorang senior (meskipun aku kerap kali jadi korbannya). Jadi, dia menyeringai sebelum berpura-pura tidak mengerti kode dari Chanyeol dan mengatakan, "apa Hyung? Aku tidak boleh membicarakan tentang Baekhyun Hyung ya?"
Nyaris seluruh dari kami menarik napas tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh Hanbin. Byun Baekhyun adalah anak baru yang masuk ke sekolah kami di pertengahan smester ganjil kemarin, aku sempat tidak tahu menahu tentangnya karena dia memang adik kelasku (yang mana satu angkatan dengan Hanbin, Jimin dan jinhwan) tapi karena dia mendaftarkan diri untuk masuk klub kami, kini aku mengetahuinya. Aku sudah pernah melihatnya saat kami mengadakan acara kumpulan klub drumband hari rabu kemarin dan menurutku dia memang manis. Dia juga tidak terlalu banyak bicara dan sedikit pemalu membuatnya terlihat semakin imut. Seperti kata Chanyeol, dia sebenarnya memiliki usia yang sama dengan kami hanya saja karena suatu alasan, dia masuk sekolah satu tahun lebih lambat. Aku tidak tahu jika dibalik "aku akan pergi ke ruang klub untuk mengajari si anak baru bermain terompet" yang selalu Chanyeol katakan setiap jam istirahat tiba, memiliki maksud kelam didalamnya.
Aku memicingkan mata penuh penyelidikan pada Chanyeol yang kini wajahnya semerah tomat dan tengah menendang-nendang bokong Hanbin sebagai pelampiasan hingga dia berteriak minta ampun. Dia berhenti menendanginya hanya untuk membentak dan melotot padaku. "APA?!"
"katakan padaku, sudah sejauh mana hubunganmu dengan anak baru itu?"
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya!"
"Lebih tepatnya belum. Karena aku yakin mereka sudah saling menyukai tapi masih belum berani mengungkapkan perasaan masing-masing" Meskipun kini dia ada dibawah tekanan Chanyeol, Hanbin tidak berhenti mengutarakan kebenaran dan aku sangat bangga padanya.
Kami semua semakin gencar menggoda Chanyeol sampai pada titik dimana dia menyerah dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, membiarkan kami mengejeknya sepuas hati. Aw, jika sudah seperti ini aku jadi kasihan juga padanya.
"sudah teman-teman, si mulut besar sudah kehilangan akalnya, mari kita pindah ke topik lain"
Aku tidak menyangka jika niat baikku ini akan dibalas dengan kotoran oleh Chanyeol, dia tersenyum dengan lebar sebelum mengatakan, "ya, contohnya tentang bagaimana Kyungsoo akan selalu menghabiskan siang harinya dengan Wendy dan malam harinya dengan Jongin. Juga tentang apa yang sekretaris osis itu teriakkan pada ketua kita di depan gedung klub!" Aku terbelalak mendengar penuturan Chanyeol, bagaimana bisa dia tahu itu semua? Wajahku terasa sangat panas secara tiba-tiba saat Chanyeol tersenyum penuh ancaman padaku. Aku tidak sadar jika reaksiku malah mengundang rasa penasaran yang semakin tinggi dari teman-teman berengsek di sekitarku itu.
"apa? apa itu Chanyeol! ceritakan pada kami!" Sehun bertanya dengan penasaran yang diikuti oleh antusiasme tidak normal dari yang lainnya.
"benar, apa yang dia teriakkan?" Hongbin mendekat pada Chanyeol terlihat sama penasarannya.
"sial, aku harap aku tahu apa itu, jadi aku bisa mengancam Kyungsoo Hyung" si kurang ajar Hanbin menyambung.
"beritahu kami, beritahu kami"
"apa dia melamarnya?"
"mungkin mereka saling meneriakkan 'aku menyukaimu' pada satu sama lain"
Jongdae, Hyunsik, bahkan Tao yang harusnya menghormatiku pun ikut-ikutan menghebohkan suasana. Dan apa itu? kenapa tebakannya terdengar sangat akurat?
Chanyeol hanya tertawa terbahak-bahak melihat reaksi teman-teman kami seraya menatapku dengan satu alisnya yang terangkat seolah mengatakan 'bagaimana? Haruskah aku memberitahu mereka?'
Yang kujawab dengan, "TERSERAH!" sambil berteriak dan berhambur ke dapur untuk melarikan diri, meninggalkan tawa teman-temanku yang terdengar membahana di ruang tengah.
Aku terus mengulur-ulur waktu di dapur, mengerjakan apapun yang aku bisa dari mulai mencuci perabotan yang sudah terpakai, menyapu dapur, sampai membereskan telur di dalam kulkas, semua kulakukan hanya untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin disini sampai mereka lupa dan mengalihkan topik pembicaraan.
Aku berjalan kesana kemari untuk mencari apalagi yang bisa kulakukan saat setumpukkan lemon tertangkap pandanganku. Meskipun tidak terlalu berguna, aku memutuskan untuk memotong lemon-lemon itu dan mengambil sebilah pisau dari rak piring. Apapun akan kulakukan demi terbebas dari celaan-celaan para berengsek itu. Namun sialnya (entah karena aku terlalu ceroboh atau memang lemonnya membenciku) cairan dari lemon itu menyiprat masuk ke mataku tepat saat aku memotongnya, dan rasanya perih bukan main.
Reflek aku mengucek mataku menggunakan punggung tangan, saat itulah aku mendengar suara pintu dapur yang dibuka membuat tawa teman-temanku dari ruang tengah terdengar nyaring sebelum kembali meredup seiring dengan suara langkah kaki yang mendekat.
Aku penasaran tapi tidak bisa benar-benar melihatnya karena mataku terasa sangat perih seperti terbakar saat ini (lemon sialan). Aku memutuskan untuk terus mengelap mataku menggunakan punggung tangan berharap dengan begitu rasa perihnya akan hilang (saat itu aku sadar seseorang telah berdiri disebelahku), namun kemudian sebuah tangan menghentikan aktifitas tanganku.
"Matamu akan semakin merah jika kau menyekanya seperti itu." Aku mendengar suara yang sangat ku kenal muncul dari pemilik tangan itu sebelum kemudian dia menarikku ke arah westafel. Belum sempat aku bertanya bagaimana bisa dia berada disini, aku lebih dulu merasakan sebuah tangan yang sudah dibasahi menangkup sebelah wajahku dan mengusap kelopak mataku dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
"Kau harus menyekanya seperti ini." dia mengulangi hal yang sama pada mataku yang lain sampai ahirnya aku tidak merasa perih lagi.
Aku mengedipkan mataku dengan cepat untuk kemudian membasuhnya dengan air, memastikan kalau kini mataku sudah tidak apa-apa, Jongin kemudian dengan hati-hati menyeka wajahku menggunakan sapu tangannya, menghilangkan sisa-sisa air disana.
"Kukira kau pintar memasak, tapi apa itu? kau bahkan tidak tahu cara memotong lemon?" aku hendak berteriak 'BUKAN AKU YANG SALAH TAPI LEMONNYA!' padanya, tapi kemudian aku sadar bahwa itu akan sangat terdengar konyol jadi aku hanya mengangkat daguku untuk menatap Kim Jongin yang berada dihadapanku dihadapanku.
"Bagaimana kau bisa ada disini?"
"Dengan naik taksi?"
"Bukan itu, maksudku-" Pada titik ini, aku tidak tahu bagaimana cara menyatakan kalimat yang kumaksud tanpa membuatnya terdengar terlalu kasar. Apa kau tidak marah padaku karena kejadian tadi sore?
"kenapa? Apa aku tidak boleh ada disini? Baiklah kalau begitu aku akan pergi" Tanpa bahkan memikirkan apa yang harus kulakukan, aku dengan cepat menangkap pergelangan tangannya mencegah dia untuk pergi, ugh dia mulai bertingkah seperti anak kecil lagi! Jongin berbalik padaku tanpa ekspresi. "Apa?"
"Jangan lupa sapu tanganmu." Aku tidak tahu kenapa malah hal itu yang keluar dari mulutku, tapi saat melihat ekspresi kesal di wajah Jongin, aku merasa kalau aku telah melakukan hal yang benar. Rasanya ingin sekali aku tertawa melihat wajah tampannya yang terlihat bodoh itu tidak lama karena kemudian Jongin tersenyum dengan sangat lebar.
"sayangnya, aku hanya bergurau haha. Aku tidak akan pergi meskipun kau mengusirku" aku mendengus saat Jongin, tanpa tahu malu berjalan melewatiku untuk kembali ketempatnya semula dimana lemon-lemon itu berada. "ngomong-ngomong, apa yang akan kau lakukan dengan lemon-lemon ini?"
Sekarang, aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, tidak mungkin aku mengatakan padanya kalau aku memotong lemon hanya untuk menghindari teman-temanku yang sedang bergosip tentang hubungan kami. Tidak, itu akan sangat memalukan.
"untuk teman-temanku, kami suka cairan lemon, kau tahu lemon sangat bagus untuk tenggorokan. Dan itu sangat membantu bagi para pecinta musik seperti kami" pada ahirnya aku mengatakan itu sebagai jawaban yang mana tidak terlalu salah juga, karena kami memang sesekali akan meminum cairan lemon yang super masam sebagai hukuman bagi anggota yang terlambat saat hari perkumpulan sesama anggota, tapi tentu saja tidak ada satupun diantara kami semua yang menyukai itu meskipun pada kenyataannya jus lemon sangat bagus untuk kesehatan tenggrokan kami. Meskipun begitu, Jongin mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"kalau begitu biarkan aku membantumu"
"tidak usah! Maksudku, kau tidak harus melakukannya, karena aku pemilik rumah ini jadi sudah seharusnya aku yang menyiapkan itu untuk mereka" aku tidak bisa membiarkan Jongin melakukan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu akan kugunakan untuk apa. Tapi Jongin memaksa dengan mengatakan kalau aku jelas-jelas tidak bisa memotong lemon, terbukti dari aku yang baru saja melukai mataku sendiri. Pernyataannya itu membuatku kesal dan merasa direndahkan. Jadi aku membiarkannya memotong lemon-lemon itu untuk menyaksikan apakah dia sendiri lebih baik dariku atau tidak (lalu aku akan mengejeknya habis-habisan karena aku yakin dia tidak bisa melakukan itu). Dia hanyalah seorang pangeran yang mempunyai banyak pembantu di rumahnya, aku bertaruh dia bahkan tidak bisa menggenggam pisau dengan benar.
Hanya saja, hal-hal tidak berjalan seperti yang kuperkirakan karena ternyata Jongin cukup handal dalam melakukan hal itu.
"Darimana kau belajar memotong lemon seperti itu?" aku bertanya setengah takjub setengah kesal (karena ternyata dia memang lebih baik dariku). aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari seringai mengejeknya.
"Oh ayolah, siapapun bisa memotong lemon, kau saja yang bodoh. Masa memotong lemon saja tidak bisa"
"YAK!" Jongin tertawa seraya menghindari pukulanku (ya, aku tadinya akan memukulnya menggunakan tinjuku tapi sayang, dia terlalu gesit).
" Bercanda. Aku sering membantu Yeri belajar masak di dapur. Aku bertugas memegang pisau karena kalau dia yang memegangnya, dia bisa memotong tangannya sendiri." Jongin terkekeh pelan mungkin mengingat bagaimana cara adiknya belajar memasak, dia selalu terlihat sebahagia ini setiap kali membicarakan tentang Yeri. Tidak butuh kata-kata apapun untuk mengetahui betapa Jongin menyayangi adik kecilnya itu.
Melihat itu aku tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum, "jadi Yeri bisa memasak? Kapan-kapan beri aku hasil masakannya, ya? Aku ingin mencicipinya" Aku berkata seraya meraih sebuah roti dari keranjang dan menaiki meja dapur untuk duduk diatasnya. Aku mulai menggigit roti itu karena membicarakan makanan membuatku lapar (Aku rasa sistem pencernaanku bekerja terlalu baik hari ini).
Jongin berjalan melewatiku untuk mengambil sebuah lemon lagi dengan sebuah senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya, "jangan, nanti kau bisa sakit perut. Terakhir kali bibi Choi mencoba masakannya, beliau sampai terkena diare selama tiga hari"
"seburuk itu?!" aku turut prihatin untuk bibi Choi
Jongin mengangguk dan aku tertawa sebelum kemudian memasukkan potongan terakhir roti itu kedalam mulutku. Aku tidak sadar kalau Jongin ternyata memperhatikanku sampai kemudian dia menegurku,
"hey, makanlah dengan pelan-pelan, kau sungguh seperti anak kecil!"
Kenapa semua orang yang kutemui hari ini memanggilku anak kecil?! Aku, yang tentu saja tidak terima sudah di katai anak kecil oleh Jongin, bersiap-siap akan menyemburnya dengan berbagai sumpah serapah tapi semua niatku luntur seketika, karena kini Jongin berjalan kehadapanku dan mengelap bibirku dengan lembut menggunakan ibu jarinya. "lihat, sangat berantakan" dia bergumam, aku merasa jarak wajah kami sangat dekat sampai-sampai aku bisa merasakan napasnya di permukaan wajahku. Untuk sesaat, jantungku rasanya berhenti berfungsi karena aksi Jongin yang tak terduga ini, entah berapa lama aku mematung dan tanpa sadar mengunci pandanganku dengannya saat Jongin (dengan tangan masih diwajahku) berkata, "aneh, rasanya aku sudah pernah melihat adegan seperti ini disuatu tempat"
Mendadak, roti yang baru saja menuruni tenggorokanku kini tersangkut disuatu tempat disekitar situ membuatku tak bisa menelan dengan baik dan mulai terbatuk cukup parah.
Aku tersedak!
Dengan cepat Jongin mengambilkan segelas air untukku. "sudah kubilang makanlah pelan-pelan" Sekarang aku dimarahi seperti anak kecil, tapi aku tidak peduli lagi karena pikiranku kini hanya terpusat pada satu hal. Ada sesuatu yang harus kukatakan padanya.
"J-jongin. Apa yang kau lihat antara aku dan Wendy tadi, itu tidak seperti apa yang kau pikirkan" aku berkata setelah susah payah mendorong roti yang tersangkut itu dengan air pemberian Jongin dalam sekali teguk.
"apa?"
"Maksudku… tadi Wendy makan dengan sangat berantakan, jadi aku membantunya membersihkan- umm, maksudku, aku tidak sedang.. Ugh! aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan ini!"
Nampaknya hanya aku yang berusaha membuat alasan-alasan seperti orang bodoh. Karena kulihat, Jongin hanya tertawa.
"ah, tentang itu. Tenang saja, aku mengerti" Dia memberitahuku masih sambil tertawa kecil, tapi aku melihatnya seperti dia tengah berbohong dan hanya berusaha menenangkanku saja.
"Tidak. Dengarkan aku! Kau harus tahu kalau tidak ada apapun yang terjadi antara aku dan Wendy. Tolong jangan seperti ini" Aku mencegah tangannya saat dia berusaha kembali memotong lemon. Jongin melihatku dengan tatapan bingung sebelum dia tetawa sekali lagi.
"Soo, aku sama sekali tidak masalah dengan itu, aku bersumpah!" kau pikir aku akan percaya begitu saja huh? Tapi Jongin malah tertawa lebih keras membuatku cukup kesal.
"Apanya yang lucu?!"
"Kau"
"ada apa denganku?" Jongin menggelengkan kepalanya dan meraih lemon lagi. Dia memotong sambil berbicara.
"ingat saat aku berusaha menjelaskan tentang keadaanku padamu di Taksi malam itu? Kau, saat ini, sangat mirip denganku"
Berpikir untuk beberapa saat, ahirnya aku mengerti apa yang di maksud Jongin, dan aku tidak bisa untuk tidak tertawa. Kini Jongin menoleh padaku dan kami tertawa bersama. Benar, ini sangat lucu. Aku benar-benar mirip dengan Jongin malam itu, saat dimana dia terus menerus meminta maaf padaku didalam taksi.
Aku rasa aku memahaminya lebih baik sekarang, dan aku yakin kalau dia juga memahamiku dengan lebih baik.
Bagi kami… tidak peduli harus hidup dengan siapa masing-masing dari kami di dunia nyata ini nanti, kami sudah cukup puas dengan menghabiskan hidup kami di sebuah dunia kecil yang hanya dimiliki oleh Jongin dan aku… selama kami tetap ada di samping satu sama lain.
Aku tersenyum sendiri sebelum tersentak karena tiba-tiba aku teringat akan sesuatu.
Aku hampir melupakan sesuatu yang sangat penting. Kemarin, aku memutuskan untuk memberi tahu Jongin tentang Soojung, jadi aku mengunduh video-nya ke ponselku, tapi aku tidak punya keberanian untuk memberi tahunya. Aku meraba ponsel yang berada di saku celanaku untuk mengembalikan ingatan yang berusaha mati-matian ingin ku lupakan.
Bagaimana aku bisa memberi tahu Jongin sesuatu yang akan sangat menghancurkan hatinya? Atau mungkin, aku tidak harus memberitahunya? Tapi aku pikir aku tidak akan bisa kuat menahan diri melihatnya terus menerus dibodohi.
"Jongin…" Bibirku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Hanya karena mengingat tentang keadaan orang yang berada didepanku ini – yang terus dibohongi oleh wanita itu, aku tiba-tiba ingin menyatakan kebenarannya. Jongin menoleh padaku dengan penasaran. Tapi saat ini, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Aku tidak pernah berada dalam posisi ini sebelumnya.
"Uh…"
"apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" sepasang mata yang tajam itu dan senyuman yang selalu dia berikan padaku malah semakin memperkuat rasa takutku. Bagaimana bisa aku menyakitinya?
Aku terdiam untuk beberapa saat sebelum mulai mengatakan sesuatu. "…Aku rasa lemonnya sudah cukup. Sini biar aku peras sekarang" Pada akhirnya, aku memotong pendek pembicaraan kami. Aku turun dari meja dan mengambil alat pemeras jeruk sebelum mulai memeras lemon itu satu persatu dengan pikiran yang berkecamuk. Untungnya Jongin tidak banyak bertanya dan hanya membantuku mengambilkan gelas-gelas. Aku berusaha membuat segalanya berjalan seperti biasa. Dan disamping akan kenyataan bahwa aku mengetahui apa yang terjadi, aku tidak terlalu berani untuk menghentikannya.
Aku tidak cukup kuat untuk menghancurkan senyum Jongin.
"Yak! Kenapa lama sekali? Aku kira kalian sudah diam-diam pergi ke hotel berdua!" Chanyeol berteriak cukup kencang saat kami kembali dengan nampan berisi beberapa gelas lemon di tanganku. Aku mengabaikannya dan meletakkan nampan itu di atas meja (dengan sedikit menendang bokongnya) karena kini mereka semua sudah berpindah posisi jadi mengelilingi meja, kulihat Hotpotnya hanya tersisa kuahnya saja. Hanya ada beberapa potong daging Ham diatas pemanggang yang tersisa. Aku hanya bisa menelan ludah karena aku tahu kalau jatahku sudah tak terselamatkan sekarang ini. salahku sendiri karena berlama-lama di dapur.
"untuk apa lemon-lemon ini?" Chanyeol bertanya mengalihkan perhatianku, dan aku baru sadar kalau aku harusnya menyiapkan jawabannya sejak tadi.
"bukankah kalian menyu-" belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya itu (yang mungkin akan membongkar kebohonganku) dengan cepat aku memotongnya. "Lemon sangat bagus diminum setelah makan makanan berminyak. Aku tidak ingin kalian terkena radang setelah makan semua ini, jadi aku berbaik hati membuatkan kalian ini" aku tersenyum bangga saat tidak ada satupun diantara mereka yang terlihat protes dengan alasanku itu (meskipun Chanyeol masih sedikit terlihat seperti tidak yakin).
"oh, dimana yang lain?" setelah ku perhatikan ulang ternyata jumlah mereka sedikit berkurang, ada sekitar tiga sampai empat orang yang hilang.
"Sehun dan Tao sedang merokok diluar, Yixing sedang mengangkat telepon, sedangkan Hanbin dan Hyunsik sedang membeli sesuatu di mini market" Jongdae menjawab dengan lengkap daftar-daftar orang yang hilang tanpa tersisa. Aku terkekeh dan mengangguk saat dia bergeser untuk memberi ruang yang cukup untukku dan Jongin seraya melanjutkan, "Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa ada disini, Jongin? Apa Kyungsoo meneleponmu secara khusus dan mengundangmu kesini?"
Sayang sekali tadi aku membiarkan Jongin duduk disebelah Jongdae jadi kini jarak Jongdae dan aku terhalang olehnya sehingga aku tidak bisa leluasa mencubit pinggang kurus si cerewet itu tanpa harus sedikit mendorong tubuh Jongin dalam prosesnya, karena, apa-apaan itu? siapa juga yang mengundang siapa!
Jongin tertawa seraya meletakkan sepotong daging panggang di piringku sebelum menjawab. "dia tidak mengundangku, aku yang datang kesini atas keinginan sendiri, karena kebetulan aku sedang diusir dari rumah" Jawaban Jongin cukup membuatku kebingungan.
"Kenapa? Kau bertengkar dengan ayahmu?" Aku bertanya, meskipun aku sendiri meragukan hal itu.
Jongin dengan cepat menggelengkan kepala, tapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut lagi membuatku semakin penasaran, "lalu kenapa?" belum sempat aku melihat Jongin merespon, tiba-tiba Chanyeol memotong pembicaraan kami tepat saat pintu rumahku terbuka.
"UWAH! Lihat apa yang datang!" dia berteriak antusias saat Hanbin memasuki ruangan diikuti oleh Hyunsik dibelakangnya dengan dua kantung keresek berisi botol soju masing-masing ditangan mereka, semua orang ternganga (terutama aku).
"YAK! Bukankah sudah kubilang tidak ada alkohol?! Aku bisa mati jika orang tuaku tahu!" Aku protes dengan cepat setelah Hanbin meletakkan botol-botol itu diatas meja didepan tertawa sangat keras. "tenang saja Kyung, aku sudah mengaturnya! Kau lupa kalau aku punya Yuri Noona tersayang disini?"
"TAPI TETAP SAJA!" aku bersikeras namun Chanyeol hanya mengabaikanku dan mulai mengeluarkan botol itu satu persatu, yang disambut dengan riang oleh yang lainnya.
Dasar para berengsek sialan!
"lagipula daripada lemon-lemon tidak bergunamu ini, Soju jauh lebih menyenangkan, benarkan?"
"Benar sekalii~"
Tentu saja. tentu saja aku akan kalah. Apalah daya Do Kyungsoo yang selalu tidak dianggap bahkan pada saat dirinya menjadi seorang tuang rumah sekalipun -_-
Pada ahirnya, aku tidak punya pilihan lain selain pasrah.
Aku duduk disini memasang wajah masam dengan satu sumpit yang berada dimulutku. Sementara yang lainnya kupakai untuk membolak-balik daging diatas pemanggang. Satu gelas berisicairan berwarna putih di sodorkan padaku "ini, sudahlah Kyungsoo, nikmati saja" Minseok (orang yang menyodorkan gelas itu) menepuk punggungku beberapa kali mencoba menenangkanku. Aku hanya menghela napas sebelum menerima gelas itu dan meneguknya satu kali saja, karena wajah Ayah dan Ibu yang penuh amarah tiba-tiba muncul dibenakku.
Tidak lama kemudian, anak-anak yang tadi sempat menghilang mulai bergabung dengan kami. Membuat formasi kami kini jadi lengkap. Keadaan menjadi sangat gaduh dipenuhi dengan suara obrolan yang keras dan gelak tawa dari satu sama lain. Bahkan Jongin, yang aslinya tidak terlalu akrab dengan teman-temanku pun sudah bisa berbicara dengan santai tanpa ada rasa canggung.
Sementara semua orang sedang bersenang-senang, aku menyadari kalau Jongin terus menerus meletakkan beberapa potong daging dan ssam di piringku. Terlalu banyak, sampai-sampai aku harus memberitahunya untuk berhenti.
"hey, sudah cukup. Anak-anak yang lain belum memakannya." Jongin tertawa kecil sebelum memasukkan potongan terakhir yang aku yakin tadinya akan dia letakkan di piringku juga, ke mulutnya. "hey, ngomong-ngomong, siapa yang mengusirmu dari rumah?" Aku tidak bisa menahan untuk tidak menanyakan hal itu padanya karena aku sangat penasaran. Aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakannya, karena perhatian semua orang sedang terpecah kemana-mana. Aku pikir mungkin Jongin benar-benar bertengkar dengan keluarganya dan terlalu malu untuk membicarakannya tadi.
Namun, dia kembali tertawa kecil sebelum menelan makanannya, terlampau tenang. "Yeri melihatmu bersama Wendy tadi." Aku nyaris tersedak makananku sendiri.
"Apa?! Lalu bagaimana? Apa dia sekarang sudah tahu?"
"Tahu apa?" Jongin bertanya seraya memiringkan kepalanya berlagak tidak mengetahui maksudku.
Bagaimanapun, aku kesulitan mencari kata-kata yang tepat. "Tahu.. kalau sebenarnya tidak ada yang terjadi diantara... kita" Rasanya aneh mengatakan hal itu padanya secara langsung.
Lebih buruk lagi, kini Jongin menatapku. Matanya berkilat dengan senyum penuh godaan padaku.
"Oh? Benarkah tidak ada yang terjadi?"aku memukul lengannya pelan sebagai balasan.
"berengsek, seriuslah sedikit. Apa yang dia ketahui?" meskipun begitu, gurat kehawatiran tidak pernah lepas dari wajahku.
Jongin menggelengkan kepala dan tersenyum. "Tidak banyak. Dia hanya menganggap kita sedang bertengkar, jadi dia mengusirku dan menyuruhku berbaikan denganmu. Aku tidak boleh pulang sebelum semuanya kembali seperti semula. Awalnya, aku takut kalau kau juga akan mengusirku. Tapi Aku merasa baikan setelah tiba disini. Terima kasih sudah memberi tahuku tentang pesta ini." dia mengahiri kalimatnya dengan sebuah ucapan sarkastik dan aku mendengus.
"aku juga tidak tahu apapun tentang semua ini, ok? Mereka merencanakannya sendiri tanpa sepengetahuanku. Dan, kenapa kau berpikir kalau aku akan mengusirmu saat kau sendiri tidak pernah mengusirku?"
Jongin memberikan sebuah senyum kegembiraannya untuk beberapa saat. Sebelum kemudian, suara Chanyeol kembali menginterupsi. Kali ini lebih menggelegar dari sebelumnya.
"Yo, yo, yo! Ayo main game Truth-or-Dare!" kami biasa melakukan permainan ini saat sedang berkumpul.
Yang lainnya menyetujui dengan antusias dan mulai mendekat. Bahkan Jongin, yang tidak tahu apa-apa, juga terlihat ikut antusias. Aku melihat Chanyeol nampak puas sendiri.
Yixing, Jongdae dan Luhan membereskan barang-barang diatas meja untuk mempermudah permainan.
Chanyeol mulai menjelaskan bagaimana cara permainan ini berjalan, Hanbin sempat protes karena dia merasa tidak setuju dengan bagaimana orang yang tertunjuk botol harus menjawab pertanyaan dengan jujur tapi jika tidak, dia harus mencium orang yang ada disampingnya. "Tapi Hyung! Aku bukan gay!"
"kalau kau tidak mau mencium Sehun atau Hongbin," Chanyeol menunjuk dua orang yang ada di masing-masing sisi tubuh Hanbin dengan telunjuknya, "kau harus menjawab semua pertanyaan dengan jujur. Gampang kan?"
Pada saat dimana Chanyeol menyeringai, aku langsung tahu siapa orang pertama yang dia incar.
Hanbin hanya mengangguk dengan lesu.
Chanyeol sangat ahli dalam hal ini, dia bisa membuat botol berhenti tepat menuju orang yang dia inginkan. Sampai saat ini, aku tidak tahu mantra apa yang dia gunakan.
Tepat seperti dugaanku, botol itu berhenti berputar dan mengarah pada Hanbin.
Chanyeol tersenyum puas dan setelah berpikir beberapa saat, dia mengeluarkan pertanyaannya. "ada berapa jumlah gadis dari sekolah khusus perempuan yang pernah kau tiduri?"
Hanbin sempat merengek meminta Chanyeol mengganti pertanyaannya. Tapi Chanyeol tetap saja tidak memberikan kemudahan padanya. "kalau kau tidak mau menjawab, tinggal pilih. Cium Hongbin atau Sehun" yang disebut namanya reflek menggeser duduk mereka dengan ekspresi wajah jijik.
Hanbin menghela napas, tidak tahu harus pergi kemana lagi, dia ahirnya menjawab dengan kepala tertunduk. "tidak ada"
Nyaris semua orang didalam ruangan terkejut mendengarnya, karena kami tahu betul kalau Hanbin itu adalah playboy (selama ini dia selalu pamer kalau ada banyak sekali anak gadis yang dia kencani). Mengatakan bahwa dia tidak pernah meniduri satupun dari gadis-gadis itu rasanya sulit dipercaya, tapi melihat raut kekecewaan dan rasa malu yang tergambar diwajahnya membuat kita tahu kalau dia tidak berbohong.
Sehun yang ada disampingnya menepuk-nepuk sedikit pundaknya menenangkan.
Chanyeol nampak kasihan dan sedikit menyesal melemparkan pertanyaan itu pada Hanbin, dia berdehem canggung sebelum melanjutkan permainan.
Botol berhenti pada Yixing. Chanyeol tersenyum puas saat Yixing melemparkan tatapan memohon padanya. "Yixing! Sudah sejauh mana hal-hal berjalan antara kau dan... orang yang kau sukai?" aku tidak bisa tidak ikut tersenyum saat Chanyeol memberiku tatapan mengetahui. Karena aku sendiri juga penasaran bagaimana keadaan hubungannya dan Kris sekarang.
Yixing menghembuskan napas lega karena Chanyeol tidak menyebutkan namanya secara langsung. Tapi itu tidak mengubah kenyataan kalau kini wajahnya memerah. Dia tersenyum malu-malu saat menjawab "berpegangan tangan"
"lalu?"
"d-dia memelukku" pada saat ini, Yixing dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangan menyembunyikan rasa malu. Aku dan Chanyeol tersenyum, ikut bahagia mendengarnya.
"jawaban diterima" yang lainnya hanya diam tidak mengerti.
Sebelum aku bahkan sempat melihat Chanyeol memutar botolnya, botol itu berhenti dan mengarah pada Jongin… yang duduk disebelahku.
"Jongin…" Aku memanggil namanya pelan dan dia terperanjat. Dia menatapku untuk beberapa saat sebelum kembali membalas tatapan Chanyeol. Nampak sebuah senyum jahat terpampang diwajah Chanyeol sebelum kemudian dia mengeluarkan pertanyaan. "Apa yang kau teriakkan hari itu… apakah kau sungguh-sungguh?" Dasar berengsek!
Aku langsung panik dan buru-buru melihat Jongin. Aku tidak bisa mengendalikan raut wajahku. Nampaknya Jongin masih tidak memahami pertanyaannya dengan baik. "Meneriakkan apa?" Dia bertanya.
"Di depan gedung klub, beberapa hari yang lalu. Jangan bilang kau tidak ingat, atau kau akan mendapatkan hukumannya. Meskipun sepertinya kau akan lebih memilih dihukum" Chanyeol menyeringai nakal padaku yang kubalas dengana cungan jari tengah, oh sungguh Park Chanyeol keparat!
Jongin berpikir sejenak kemudian matanya bertemu dengan Chanyeol dan saat itulah Jongin nampaknya mengingat semuanya. Dia bahkan menoleh kearahku (aku tidak ada hubungannya dengan ini!) Secara alami, aku pura-pura tidak tahu apa-apa dan meneguk minumanku seperti biasa, seolah benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Maafkan Aku, tapi aku harus melarikan diri.
"jadi bagaimana? Apa kau benar-benar serius dengan ucapanmu saat itu?" Chanyeol mengulang pertanyaannya.
Aku tidak melihat ke wajah Jongin, sehingga aku tidak tahu ekspresi macam apa yang dia gunakan saat ini. Jongin menjawab pertanyaan Chanyeol dengan jelas menggunakan suara beratnya.
"Aku serius."
"YA! Bisakah kau membuat pertanyaan menjadi sedikit jelas? Jangan terus membuat pertanyaan yang jawabannya hanya kalian yang mengerti!" Hyunsik berteriak protes sementara semua orang masing tenggelam dalam kebingungan. Aku mendesah cukup keras karena nampaknya tidak ada orang lain yang mengetahui hal ini. Aku rasa Chanyeol benar-benar bisa menyimpan hal ini untuk dirinya sendiri.
Chanyeol tidak menjawab pertanyaan dari bocah-bocah lainnya. Dia hanya tersenyum pada Jongin, "Bagus. Dan kau ternyata mau mengakuinya. Kau mendapatkan dukunganku, kawan. Semangat!" Oke, nampaknya sekarang bukan waktu yang tepat untuk merasa lega.
Aku benar-benar harus menpertimbangkan tatapan aneh Chanyeol yang sekarang ditujukan kepadaku… Aku bisa menebak siapakah korban selanjutnya.
Tepat saat dia memutar botol itu, aku langsung melarikan diri ke toilet.
"YAK! KAU MAU KEMANA?" suara Chanyeol menggelegar.
Aku melambaikan tangan seraya berteriak "sudah tidak tahan! Nanti aku akan kembali" sebelum memasuki toilet dan menutup pintunya dengan keras. Ini adalah tempat pelarian paling ampuh disaat seperti ini. aku sebenarnya tidak masalah jika saja tidak ada Jongin disana. Untuk beberapa alasan, aku tidak ingin Chanyeol mempermalukanku dihadapannya.
Aku menurunkan tutup toilet dan duduk diatasnya untuk beristirahat. Kusandarkan kepalaku pada tembok, merasa sedikit pusing. Aku rasa ada hubungannya dengan banyaknya alkohol yang sudah ku konsumsi tadi.
Aku masih bisa mendengar anak-anak itu membuat kegaduhan sesekali. Rasa penasaran berhasil menguasaiku. Aku merasa sedikit menyesal karena melepaskan kesempatan untuk mengetahui rahasia orang lain. Salah satu aturan game ini adalah kau tidak boleh membicarakan informasi yang kau tahu dari permainan itu, diluar permainan itu sendiri. Jadi kesempatanku untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan sekarang adalah nol besar. Sedikit membuatku kesal, tapi aku rasa lebih baik daripada harus berada disana dan membiarkan Chanyeol menginterogasiku.
Saat aku memejamkan mataku untuk beristirahat sejenak, tiba-tiba jawaban Jongin sebelumnya kembali terngiang di telingaku membuatku tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Sebuah senyuman yang tidak bisa kuhapus dari wajahku tak peduli sekeras apapun aku berusaha.
Walaupun Aku tidak bisa melihat wajahnya – dan sebenarnya tidak berharap terlalu tinggi juga – aku masih bisa membayangkannya. Jongin selalu seperti ini. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia akan tetap setia dengan perasaannya sendiri. Tidak sepertiku. Kadang, aku akan terus kabur seperti orang bodoh. Persis seperti apa yang aku lakukan saat ini.
Waktu sudah berlalu cukup lama sejak aku memasuki kamar mandi (aku bahkan sempat tertidur pulas). Aku memeriksa jam tanganku dan sadar kalau ternyata sudah hampir 45 menit berlalu (pantas saja aku mulai kesulitan bernapas didalam sini). Jadi aku menyimpulkan bahwa permainan bodoh itu mungkin sudah berakhir sekarang, sebelum aku keluar dari ruangan itu.
Didetik dimana aku menampakkan wajahku di depan mereka, aku langsung dihujani dengan berbagai protes, terutama Chanyeol (dia bahka sampai melempariku dengan kulit kacang).
Aku hanya duduk di tempat yang kosong disebelah Tao dengan santai setelah memberikan alasan kalau aku benar-benar tidak bisa berhenti buang air. Bahkan sampai aku ketiduran. Untungnya, mereka mau melepaskanku, lagipula tidak ada untungnya terus menerus protes padaku, toh permainannya sudah berakhir haha
Aku meraih segelas Soju dari hadapan Tao sebelum menyadari sesuatu. Aku mengamati keadaan sekitar, dan sadar kalau Jongin tidak ada dimanapun ditempat ini.
"Dimana Jongin?" Aku langsung bertanya pada siapapun yang bisa mendengarku dengan baik.
"Oh, Jongin-ssi sudah pulang duluan" Luhan, yang saat ini sedang mengobati bibir Minseok menjawab. Aku mengerutkan kening. Meskipun aku penasaran dengan apa yang terjadi pada bibir Minseok, tapi rasa penasaranku tentang Jongin lebih besar lagi.
"dia pulang? Kenapa tidak pamitan padaku?" aku bertanya lebih pada diriku sendiri sedikit merasa kecewa dan bingung disaat bersamaan yang cepat-cepat kusembunyikan dengan meneguk isi dari gelas kecil itu.
Aku melihat Minseok yang bibirnya nampak seperti habis menabrak sesuatu. Luhan dengan telaten memberikan salep dibibirnya.
"ada apa dengan Minseok?"
"tadi dia terpaksa harus berciuman dengan Jongdae karena tidak ingin menjawab pertanyaan Chanyeol. Mereka berdua sama-sama tidak mau karena itu Chanyeol dan Sehun harus memaksa keduanya sampai mereka terbentur dan jadilah seperti ini"
Aku meringis ngeri mendengar nya. Aku yakin sekali mereka akan menjadi bulan-bulanan Chanyeol disekolah nanti. Kulihat Jongdae yang sudah terkapar disisiku yang lain juga memiliki luka yang sama di bibirnya. Mendadak aku merasa bersyukur karena aku melarikan diri tadi, kalau tidak nasibku tidak akan jauh beda dari mereka. Saat itulah aku menyadari kalau ponselku tergeletak begitu saja disamping tubuh Jongdae.
"Oh, itu ponselku" aku dengan cepat meraihnya. Pantas saja aku tidak bisa menemukannya di toilet tadi dan tidak bisa bermain game (menyebabkan aku ketiduran). Saat aku menyalakannya layarnya, aku langsung ditnjukkan pada sebuah folder Video. Ada beberapa video baru yang ditambahkan, tapi yang paling menyita perhatianku adalah, daftar video yang baru saja ditonton, dimana itu tidak lain dan tidak bukan merupakan video yang belum lama ini kudownload dari CD yang diberikan oleh Kris. mendadak tenggorokanku terasa kering dan wajahku jadi panas dingin. Kegugupan menghantui seluruh tubuhku saat aku bertanya dengan suara gemetar.
"s-siapa yang terakhir kali memegang ponselku?" aku bertanya dengan takut. Aku takut sekali kalau apa yang terjadi sama dengan apa yang aku perkirakan saat ini. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.
Hongbin menjawab dengan acuh tak acuh, "Jongin, tadi Chanyeol menyuruhnya untuk merekam adegan ciuman Minseok dan Jongdae menggunakan ponselmu," didetik saat aku mendengar nama itu, aku merasa tubuhku lemas bukan main sampai-sampai aku harus berpegangan pada sisi meja. Ternyata benar, Jongin yang melihatnya.
"ya, dan setelah dia berhasil merekamnya, dia memainkan handponemu sebentar, lalu aku mengejeknya dengan mengatakan kalau dia terlihat seperti pacar yang protektif. Aku tidak tahu kalau dia akan langsung berdiri dan pamitan pada kami dengan wajah yang dingin. Kurasa pacarmu marah padaku Kyung" aku tidak bisa lagi menanggapi candaan Chanyeol. semua informasi dari mereka semakin memperjelas kalau apa yang paling aku takutkan telah terjadi. Dengan cepat aku berdiri dari tempatku dan mengabaikan semua teman-temanku yang terperanjat kebingungan.
"YAK! Apa kau marah padaku juga?!" kudengar Chanyeol berteriak yang kubalas dengan lambaian tanganku.
Aku tidak bisa memikirkan apapun lagi selain Jongin saat ini. Pikiranku sudah tertuju ke gerbang rumahnya, bahkan sebelum aku bisa menyalakan sepeda motorku.
Jongin, kumohon bertahanlah.
TBC
Admin Gi note : maaf udah bikin kalian nunggu lama.. ada banyak banget hal yang harus admin lakuin hehe. tapi untuk kedepannya admin bakal ngusahain buat update lebih cepat. sekali lagi maaf yaaa
salam sayang, salam jagi, salam Kaisoo.
see you in next Chapter~
xoxo
