Disclaimer : I Don't Own The Characters
Warnings : OOC, AU, Typo dll.
Song : Try Hard – 5 Second Of Summer (recomended banget didenger pas adegan nya )
.
.
.
Piece 12
Semua murid berlarian menuju auditorium. "hei" Tenten mengambil tempat duduk didekat teman-temannya. Sedikit penasaran mengingat ini adalah kelas Neji. Panggung auditorium telah dihias dengan manis. Ada banyak hiasan berbentuk hati berwarna pink dan maroon, pita-pita, balon-balon, dan juga mawar merah. Lalu acara pun dimulai, ada banyak acara, ada baca puisi romantis dan drama Romeo dan Juliet.
Sampai pada akhirnya apa yang ditunggunya muncul. Neji tampil dengan setelan jas dengan mawar yang tersemat didada kanannya. Keyboardnya dihias dengan balon dan bunga mawar. Neji menekan tuts, seketika balon-balon itu terlepas dan terbang, membuat yang lain begitu kagum. Lalu Neji mulai bernyanyi dan seluruh perhatian terpusat padanya. Jangan salahkan para siswa yang matanya saat ini kosong, saking kerennya Neji, mereka hanyut.
Neji sekarang hanya memainkan nada penutup, dia sedikit mengimprovisasi bagian akhir, saat nada terakhir dia mainkan, mawar-mawarnya terbang kearah peonton membuat sedikit kehebohan. Para siswi berteriak kesenangan saat mendapatkan bunga itu. Neji berdiri dan membungkuk, matanya menatap, Tenten yang melambaikan mawar padanya, dia tidak bisa untuk tidak tersenyum, setelah membungkuk sekali lagi dia mengundurkan diri.
Hinata sedang berjalan kearah lapangan, sambil berpikir betapa ada-ada saja ide kakaknya. Tapi dia tertegun saat melihat podium. Naruto sedang berdiri disana sambil menenteng gitar listriknya. Naruto tersenyum ditengah lapangan kosong. Lalu, "one, two, three, four" teriaknya, dan memainkan gitarnya.
"She dropping outta school 'cause she don't need the grades.
The colours in her hair don't seem to fade.
I get dressed up when I go out, but she gets dressed down."
Hinata menaikkan sebelah alisnya, hei, aku bukan tipe cewek seperti itu, protesnya. Namun dia tidak bisa menahan senyum samar saat mendengar lirik Try Hard- 5 second of summer- yang terdengar sedikit lucu.
"waah, itu Naruto, dia sedang main" teriakan beberapa siswa sama sekali tidak mengganggu Naruto. Murid-murid merhamburan kearah Naruto, membuat Hinata terkepung didalamnya.
"It's obvious,
She's so out of reach, and I'm finding it hard
'Cause she makes me feel, makes me feel,
Like I try, like I try, like I'm trying too hard,
'Cause I'm not being me, and it's getting me down
That she makes me think, makes me think,
That I try, that I try, that I'm trying too hard again"
Naruto mengunci pandangannya pada Hinata. Sebenarnya lirik ini adalah sedikit curahannya.
She's got a rose tattoo but she keeps it covered,
I play guitar but she's into drummers,
She's seen my face around but she doesn't even know my name
I pierced my lip so she thinks I'm cool,
I ripped my jeans and dropped out of school,
I followed her 'round the town but she thinks that I'm a weirdo now
Lirik lagu ini sedikit banyak mengingatknya pada saat awal bertemu Hinata.
But now, who knew?
That she's in the crowd of my show
Nothing to lose,
She's standing right in the front row
The perfect view,
She came along on her own,
And there's something that you should know...
Naruto terus menatap Hinata tanpa kedip, Hinata sendiri tersenyum geli, Naruto membuat suasana yang pas dengan lagunya saat ini. Lalu break solo gitar, dimana disini lagu lebih pelan
You're so out of reach, and I'm finding it hard
'Cause you make me feel, you make me feel,
Yeah she makes me feel, she makes me feel
Naruto benar-benar membuat penonton histeris. Akhirnya lagu itu selesai. Hinata lalu memutar tubuh dan keluar dari kerumunan. Naruto tersentak dia segera melepaskan gitarnya dan turun kearah penonton. Berusaha mengejar Hinata. Tapi tentu saja itu tidak mudah,dia ditahan oleh fansnya, membuatnya sedikit bingung saat ini,pandangannya yang terus lekat pada gadis indigo itu mulai kesulitan mencari sosoknya.
Akhirnya dia bisa keluar juga dari kerumunan itu tapi dia sama sekali tidak melihat Hinata, dia menoleh kiri dan kanan, nihil, kosong. Naruto berlari kearah koridor menuju kelas. "that I'm trying too hard again". Naruto menoleh dan berhenti saat mendengar suara nyanyian. Safir Naruto akhirnya mendapati Hinata yang sedang bersandar. "kau tidak seharusnya kabur begitu saja" ucap Naruto pura-pura kesal. Hinata menanggapinya dengan bahu mengangkat acuh.
"jadi bagaimana, apa kau puas tuan putri?" tanya Naruto. Hinata memiringkan kepala pura-pura berpikir, "not bad". "begitu saja" protes Naruto. "bersiaplah, aku masih punya dua hari lagi" ucap Hinata lalu berdiri tegak dan berlalu. Naruto manyun, tapi lalu tersenyum. Apapun untuk mu tuan putri.
Hinata berjalan menuju lokernya. Hari ini hari valentine, terlihat dimana-mana, murid yang memberikan coklat atau bunga. Yah, tapi dia mengabaikan semua itu. Dia membuka lokernya, tertegun melihat sesuatu didalamnya. Sebuah glassball kecil, didalamnya ada patung seorang putri dengan gaun lavender dan rambut gelap panjang. Hinata meraihnya dan memperhatikannya dengan saksama. Sedikit digoyangkannya bola kaca itu, membuat ada serpihan seperti salju yang memenuhinya. Cantik memang.
Dia pasti tidak akan menyadari ada surat jika saja surat itu tidak terjatuh, dia terlalu fokus pada bola kaca itu. Dipungutnya selembar kertas itu. Hadiah untuk sang putri es, hope you like it. Hinata tersenyum, sepertinya dia tahu siapa pengirim hadiah ini.
Hinata melangkah menuju mobil Neji. Saat ini suasana hatinya sedang baik. Diintipnya kaca belakang mobil silver itu dan tersenyum. Dia membuka pintu di samping kemudi. "hai kak" lalu duduk dan memasang seatbelt. "sepertinya mobil penuh" lirik Hinata pada kursi belakang yang ditumpuki kotak hadiah, yang dapat ditebak coklat, serta beberapa bunga dan surat.
"sebenarnya aku tidak menyangka akan dapat sebanyak ini" sahut Neji. "kenapa?". Neji menghidupkan mobilnya "kau tahu, ada band Shipuden saat ini, kukira para gadis hanya akan memperhatikan mereka". Hinata memutar matanya. "kakak lupa ya,sebelum valentine kakak membuat pertunjukan hebat, tentu saja fans kakak akan bertambah lagi".
"tapi aku minta ya, nanti kakak diabetes kalau kebanyakan makan coklat" pinta Hinata. Neji meliriknya sekilas, "kau sendiri tidak takut gemuk?". Hinata menggeleng "kan dikit". Neji menghela nafas menatap adiknya jengkel. "bukankah memang biasanya kau mengambil bagianku ". Hinata tertawa pelan. Neji melirik adiknya, "itu apa?". Hinata menoleh, mencerna apa maksud perkataannya. "ini?" tanyanya sambil mengancungkan bola kaca yang sedari tadi dipegangnya. Neji mengangguk.
Hinata tersenyum memperhatikan benda itu. "aku menemukannya diloker". Neji mengangkat alisnya, "apa nggak salah alamat itu pengirim" celetuknya. Hinata cemberut, tapi lalu menggeleng, "tentu saja tidak". Neji menaikkan dagunya, "yakin sekali".
Sedang asyiknya memperhatikan jalan, iris abu Hinata menangkap sesuatu di dashboard. Diraihnya benda itu, "wah lucu". Sebuah kotak berwarna hitam dengan bagian depan transparan, didalamnya ada coklat berbentuk beruang, dengan pita coklat cerah kotak-kotak disudut kiri bawah dan kanan atas.
"kak kok yang ini nggak dibelakang?" tanyanya sambil menoleh pada tumpukan dibelakang. "oh itu, tadi kudapat terakhir sebelum masuk mobil" jawab Neji sambil menarik kotak itu dari tangan Hinata. "boleh untukku?" pinta Hinata. "tidak" jawab Neji cepat. "eh?, kenapa?" protes Hinata. "karena kau menginginkanya" Neji memasang wajah jahil didepan Hinata. Hinata cemberut dan melipat tangan didepan dadanya, membuat Neji terkikik, wajah adiknya terlihat lucu sekali.
Mobil Neji memasuki halaman rumah mereka. Neji mematikan mesin, saat perhatian Neji teralihkan, Hinata secepat kilat mengambil kotak coklat didashboard dan berlari keluar dari mobil. Neji terkejut mendapati adiknya yang keluar tanpa permisi dan coklatnya yang raib. Dia segera mebuka pintu dan menyusul adiknya, Hinata yang sedang berlari menoleh dan menjulurkan lidah sambil tertawa.
"Hinata kembalikan" seru Neji, mengejar Hinata yang berlarian diseputaran halaman. "nggak" sahut Hinata sambil berkelit dari kakaknya yang segera menyusul dan berusaha merebut kembali miliknya. "kamu boleh ambil semua coklat Cadburry-nya deh" sahut Neji frustasi mengeluarkan kartu andalannya, Hinata paling suka coklat Cadburry. "yeay" seru Hinata melemparkan coklat beruang itu pada Neji dan berlari kearah mobil. Neji berusaha menangkap coklat itu, lalu memasukkanya kedalam tas dan menyusul Hinata.
Neji menghampiri Hinata yang membuka pintu belakang. "bantu bawa kedalam ya" pinta Neji. Ya, mana mungkin dia sanggup membawa semuanya sendiri. Hinata mengangguk, "coklat Delfi-nya juga boleh untukku?" tanya Hinata sembari meraup beberapa kotak coklat. "nggak" jawab Neji tegas. Tentu saja, Delfi kan coklat kesukaannya. Hinata terkikik,memang hanya ingin menggoda kakaknya.
Mereka berdua membopong coklat yang menggunung masuk rumah. Saat ingin menaiki tangga mereka berpas-pasan dengan ayah mereka. Hiashi kembali kerumah untuk menjemput dokumen penting yang tertinggal dikamar. "hai ayah" sapa Hinata dan berlalu kelantai dua tempat kamar mereka. "dari penggemarmu lagi?" tanya Hiashi pada Neji. Neji mengangguk,agak kepayahan melangkah.
Hiashi hanya bisa geleng-geleng. Pemandangan yang biasa dia lihat semenjak Neji SMP. Dia sudah maklum, sulungnya itu tipe orang yang populer. Yah, mengingat anaknya itu punya wajah cakep, rapi, sopan, kalem dan pandai bermusik, tak heran anaknya selau membawa banyak barang pulang, hadiah para fansnya.
Hinata memasuki kamar Neji dan meletakkan semua bawaannya keatas kasur Neji, kakaknya menyusul. Hinata memilih coklat Cadburry jatahnya. "makasih kak" ucapnya mengedipkan mata jahil. Neji sebal dengan tingkah jahil adiknya yang tak berubah dari kecil. "sana kekamar mu sendiri!" serunya. Hinata tersenyum geli, "dadah, kakak ku tersayang" lalu buru-buru pergi sebelum dilempar bantal karena kebanyakan menggoda kakaknya.
Neji menghela nafas, kok, bisa ya, dia punya adik senakal itu. Tapi dia heran bagaimana caranya Hinata menjadi gadis dingin di sekolah, padahal sifat aslinya seperti ini. Pemuda itu mengangkat bahu lalu duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Dia melihat tumpukan coklat Valentine-nya dan meringis. Entah kenapa dia masih belum yakin terbiasa dengan hal semacam ini.
Dia meraih tasnya, mengambil coklat beruang yang tadi digunakan Hinata untuk mengambil semua coklat Cadburry-nya. Neji memperahatikan coklat lucu itu sambil tersenyum.
Flashback on.
Akhirnya Neji bisa tenang. Pemuda berambut panjang itu sedari tadi kewalahan menerima hadiah valentine, dari hampir lebih dari separo siswi disekolah, ralat lebih dari empat perlima siswi di sekolahnya. Akhirnya dia bisa keruang musik pada saat pulang sekolah, jam istirahat tadi dimanapun dia melangkah, pasti dicegat cewek untuk menerima hadiah. Lagi pula Hinata masih ada kelas, sebaiknya menenangkan diri di ruang musik saja.
Saat sampai didepan piano, dia melihat sekotak coklat dan selembar kertas. Coklat itu berbentuk beruang yang imut. Diraihnya kertas itu dan dibacanya. Aku sudah lama nunggu kakak, tapi kakak nggak datang juga. Tapi aku yakin kakak bakalan keruang musik. Aku meletakkan coklat diatas piano, kalau kakak ambil tolong balas dikertas ini, nanti aku akan cek sehabis dari studio. Tenten.
Neji tersenyum, kau ini, kalau diambil orang lain bagaimana?,. Pemuda itu duduk, meletakkan kembali coklat dan kertas tadi ketempat semula dan mulai bermain. Pemuda itu menutp matanya dan mengisi atmosfer denga nada yang indah.
Tenten berlari kearah ruang musik dari studio. Sebenarnya tadi dia sudah kesana hanya saja orang yang ditunggu tidak juga datang, sedangkan dia sudah mendapat pesan dari Sakura untuk kestudio. Dia membuka pintu dengan cepat, lalu tertegun, mendapati pemuda bermata abu-abu yang sedang bermain piano. Pemuda itu menoleh dan berhenti bermain.
"oh kau sudah datang" sahut Neji. Tenten manyun, "seharusnya aku yang bilang begitu", mengingat betapa lamanya menunggu Neji tadi. "tapi kenapa belum pulang kak?" tanya Tenten mendekat. "Hinata masih dikelas, lagipula..." Neji melirik Tenten, "kau pasti ingin memberikannya langsung". Tenten tersipu, memang niatnya begitu.
Tenten mengambil coklat itu. Lalu mengulurkannya pada Neji. "mohon diterima, ini ucapan terima kasihku". Neji mengambilnya, "thanks", lalu merogoh tasnya. "nih". Neji menyodorkan sebuah boneka ber gaun lolita dengan rambut dicepol dua. Tenten ternganga. "untuk ku?" tanyanya tidak yakin. "untuk siapa lagi". "tak kusangka kakak tipeorang yang memberi hadiah pada hari valentine" komentar Tenten sambil meneriam dan menimang boneka itu.
Neji kembali mengahadap piano dan bermain. "tidak kok, hanya kebetulan kemarin melihat ini ditoko, aku rasa dia mirip denganmu, aku sendiri tidak ingat hari ini hari valentine.". "ooh" sahut Tenten yang lebih fokus pada bonekanya. "bagaimana dengan latihan lagu klasik mu?" tanya Neji tiba-tiba membuat Tenten menoleh. "jujur sih, masih sulit tapi sudah lumayan lah". Neji mengangguk, "coba kudengar", lalu berdiri membiarkan Tenten duduk.
Flashback off.
Neji meringis, "rasanya jadi sayang untuk dimakan" gumamnya membalas tatapan beruang yang datar tersebut.
Sasuke sedang berusaha menghindari para fansnya yang semangat memberikan coklat valentine. Dia merasa terganggu dengan mereka mengerumuninya, dan menyodorkan makanan manis yang tidak disukainya. Setelah berusaha keras akhirnya dia bisa lolos ke taman belakang sekolah. Terima kasih pada teman-temannya yang lain yang telah mengalihkan perhatian siswi-siswi di lapangan.
Sasuke menghela nafas, tidak sangka valentine day bisa seheboh ini. "tunggu dulu!". Sebuah suara membuyarkan pikirannya. Keningnya berkerut, dia berdecak, cowok itu lagi. Onixnya memperhatikan Kizame yang sedang bicara dengan Sakura. Memaksa mungkin menjadi kata yang lebih tepat. Cowok itu memojokkan Sakura, membuat Sakura hanya bisa mundur ketakutan.
Sasuke menggelengkan kepala dan melangkah. "sepertinya kau tidak kapok ya" ucapnya. Kizame dan Sakura menoleh. Sakura langsung berlari kebelakang Sasuke. Kizame menatap Sasuke sengit, "kau lagi". Sasuke mengangguk, tidak peduli, toh ancaman Kizame baginya hanya gertak sambal saja. Dia hanya kesal pada cowok yang susah dibilangi ini.
"memaksa cewek lagi, kau benar-benar tidak gentleman" sindir Sasuke. Kizame mengangkat bahu lalu melangkah maju dengan santai,Sasuke mengangkat alis. Aneh, dia kira Kizame akan langsung beringas seperti sebelumnya, tapi saat ini dia kelihatan lebih tenang. "memang nya apa peduli gue soal gentleman,kalau gue bisa dapat apa yang gue mau" katanya dengan ekspresi menantang.
"kalau begitu jangan keberatan kubilang kau banci" sahut Sasuke sarkas. Kizame merapatkan rahangnya. Tapi lalu dia mengulas senyum palsu dengan emosi tertahan. "wah, kasar sekali, kau tidak takut nama mu jatuh". Sasuke mengangkat bahu acuh, kepopuleran baginya hanya suatu bonus dalam bermain musik.
Kizame terus berjalan kearah Sasuke dan berhenti dengan jarak setengah meter. Insting Sasuke memperingatinya untuk bersiaga. Tubuhnya menegang, "Sakura mundur!" perintah Sasuke yang langsung dituruti Sakura. Kizame melayangkan pukulan, Sasuke menunduk dan mengayunkan kaki, berusaha menjegal Kizame. Tapi Kizame reflek melompat, Sasuke berdiri, Kizame kembali melayangkan tinjunya kearah wajah Sasuke, Sasuke menahannya dengan lengan bawahnya, tapi Kizame mengayunkan tangannya yang bebas, tepat mengenai pipi Sasuke.
Sakura tersentak, reflek menutup mulutnya. Sasuke sedikit mundur dan mengelap dagunya yang berkeringat sambil terengah. Kizame tersenyum puas. "jangan merasa menang dulu" desis Sasuke tajam. Lalu pemuda itu merengsek maju, melayangkan pukulan tapi ditangkis. Sekarang dia memutar tubuhnya cepat mengayunkan kakinya tepat keperut Kizame membuat cowok itu terlempar.
"masih mau lagi?" tantang Sasuke. Kizame berdiri memegangi perut menggerutu lalu pergi. "cih pengecut" cela Sasuke. Sakura menghampiri Sasuke. "terima kasih". Sasuke berbalik dan memasukkan tangan kedalam saku. "kau tak apa?" tanya Sakura cemas melihat pipi Sasuke yang lebam. "hn" Sasuke mengangguk, memar sedikit sudah biasa baginya.
"kau harus diobati" ucap Sakura masih memperhatikan lebam Sasuke. Sasuke memegang memarnya hati-hati. "sepertinya tidak usah". "harus, nanti bisa gawat" tegas Sakura, gadis itu menarik tangan Sasuke kearah UKS. Sasuke kaget diseret begitu, tapi tidak bisa melawan. Sakura memasuki UKS, menyuruh Sasuke duduk sementara dia mencari kotak p3k. Sasuke melirik papan srtuktur organisasi UKS. Ternyata cewek ini ketua UKS, pantas.
Sakura kembali dengan kotak P3K. "kenapa kau tidak melawan sih, kemana sisi galak kau yang biasanya?" tanya Sasuke memulai obrolan. Sakura mendengus, "kau tidak tahu ya reputasinya, bagimu mungkin bisa melawan tapi aku nggak bisa berantem". "halah tinggal bentak, nanti juga keder" cibir Sasuke. Sakura menggeleng, "dia itu tipe yang keras kepala".
Sakura memberi zambuk dikapas dan megoleskannya pada pipi Sasuke. "ouch, pelan sedikit" protes Sasuke. "tahan sebentar, kau kan cowok" balas Sakura. Lalu memotong perban melipatnya dan menempelkan ke pipi Sasuke dengan plester.
"sepertinya kau butuh bodyguard dari fans gila" sahut Sasuke. Sakura menaikkan bola matanya. "memangnya kau mau jadi bodyguard ku?". Sasuke mendengus, "memang kau bayar berapa?". Sakura mengernyit, ternyata Sasuke juga bisa materealistis. "nggak ah, kalau kau pasti mahal" tukas Sakura. "nggak kok" sahut Sasuke tiba-tiba membuat Sakura heran. "emang berapa?". "melihat kau kesal sepertinya cukup" seringai Sasuke membuat Sakura manyun.
"sudah selesai kuobati, kau bisa pergi" ucap Sakura melipat tangan didada. Sasuke berdiri sambil menggeleng, "aku sudah menolongmu dua kali lho". Sakura menaikkan alis, "lalu?". "setidaknya bersikap manis sedikit". Sakura memandangnya sangsi, "memang ngaruh?". "nggak sih" lalu cowok itu pergi tanpa menoleh. Sakura hanya bisa bengong.
TBC
.
. A/N ": berapa pair nih dipiece ini?, tiga ya?. nah buat yang suka ketiga pairnya selamat dinikmati, buat pair lain dipiece lain jugaya ^^.
AI
XOXO
