"Bambam, kau yang bawa kunci, ya?"
"kunci? Ku-kunci apa?"
"kunci rumah dan kunci mobil. Jangan sekali-kali memperbolehkan Mark keluar tanpamu dan Lauren."
Bambam menatap beberapa kunci yang baru saja diberikan oleh bibi Rin. Dia memegang kunci rumah dan mobil yang bukan miliknya? Semudah itu ibu Mark mempercayainya?
"kenapa harus aku?" Bambam berguman, entah bertanya pada siapa.
"tidak mungkin 'kan, bibi menitipkannya pada Lauren?"
Cukup masuk akal.
"tapi bagaimana kalau Mark hyung memaksa?" Bambam menatap wanita seumuran ibunya itu.
Ah, Bambam, sadarkah kau seharusnya kau tidak perlu mengkhawatirkan itu? Dari apa yang kulihat, kau lebih galak daripada Mark.
"laporkan pada bibi, arrachi? Dihandphone-mu, sudah ada nomor bibi. Tenang saja."
"begitu? Baiklah," Bambam mengangguk.
"oh iya, dikartu ini—" bibi Rin mengeluarkan sebuah kartu atm, "—berisi uang yang dapat kalian gunakan selama liburan. Tenang saja, isinya tidak sedikit. Cukup untuk kalian gunakan jika ingin bermain. Mark juga punya uang dan kartunya sendiri. Kau tidak perlu minta uang pada ibumu lagi, oke? Aku yang memaksa ibumu agar mengijinkamu untuk tetap tinggal, jadi aku harus bertanggung jawab. Kau tidak perlu malu-malu menggunakannya, oke?"
Bambam kembali mengangguk, kali ini dengan ragu. Tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan kecuali menyetujui ucapan bibi Rin.
Siang ini, dia belum melihat ibunya sama sekali. Mungkin sedang sibuk mengecek apa yang kurang untuk pergi sebentar lagi.
Dari luar, Bambam mendengar suara klakson mobil yang Bambam tebak adalah mobil milik orangtua Lauren.
"ah, itu mereka datang. Kau temui mereka dulu, ya? Ajak Lauren masuk. Aku akan memanggil ibumu."
.
.
.
.
GOT7 © JYP
Player © Dii Zee
MarkBam fanfiction with slight JackBam and JaeJin.
Mark and Jaebum : 19 years; Jackson and Jinyoung : 18 years; Yugyeom and Bambam : 17 years
New support cast : Lauren Hanna Lunde (Ulzzang kid)
Backsong : Lee Hi – Rose & BTS – I Need U
Ada beberapa kata-kata kasar didalamnya. If you don't like the pairing or the story, please click 'back' or 'close'. Stay away from this fanfic.
.
.
.
.
"Lolen punya teman banyaaaaaak sekali disekolah. Mereka baik tapi juga ada yang nakal. Huh, Lolen tidak suka kalau teman-teman laki-laki menjahili Lolen. Mentang-mentang Lolen ini perempuan, mereka jadi suka menarik-narik rambut Lolen. Apa mereka iri, ya, sama rambut Lolen?"
Bambam tersenyum menahan tawa mendengar seluruh celotehan Lauren. Ekspresi Lauren yang berganti-ganti membuat Bambam gemas. Jauh dalam hati Bambam, dia tidak menyalahkan teman laki-laki Lauren yang suka menarik-narik rambut Lauren ataupun menjahili Lauren, karena mungkin jika Bambam masih sekecil Lauren dan belajar dikelas yang sama, Bambam juga akan melakukannya.
Lauren hampir sudah menceritakan semuanya. Dari mulai dia masih tinggal di Kanada hingga dia berpindah ke Korea. Dan tebakan Bambam benar, Lauren adalah seorang anak yang ceria dan mudah berteman. Lauren adalah tipe anak yang tidak bisa diam, sama seperti dirinya dulu. Bambam jadi ingin tahu, kira-kira jika Lauren didudukkan dan dihadapkan berdua dengan Mark, apa yang akan terjadi?
Lauren yang banyak bicara akan membuat Mark kesal. Bambam yakin dia akan menikmati setiap ekspresi Mark yang tidak suka dengan celotehan Lauren. Atau mungkin Mark akan berteriak —mengabaikan sifat dinginnya karena terlalu kesal— tepat dimuka Lauren dan akhirnya Lauren menangis.
Ah, Mark tidak mungkin setega itu.
Setelah ini, Bambam akan menarik Mark duduk disebelahnya dan meminta Lauren beralih bercerita pada Mark. Bambam akan berpura-pura pergi ke dapur —atau kamar mandi— padahal diam-diam mengamati setiap ekspresi yang akan Mark keluarkan. Rencana yang bagus sekali.
"p'Baaam, phi ini mendengarkan Lolen tidak, sih?" Lauren merengut, melipatkan kedua tangan didepan dada.
"tentu saja, phi mendengarkan."
"kalau begitu, kenapa senyum-senyum sendiri? Lolen 'kan, sedang tidak bercanda."
Bambam tertawa pelan, "karena phi sedang—"
"ah, Lolen tahu! Jangan-jangan p'Bam sedang memikirkan orang yang phi suka, ya?"
Blush.
Aku tidak menyukai Mark, batin Bambam.
Sialan! Kenapa hanya karena mendengar godaan—kekanakan—yang—polos dari seorang bocah bisa membuat wajah Bambam memerah seperti ini? Lagipula, kenapa seorang bocah seperti Lauren bisa memikirkan hal seperti itu?
"wajah p'Bambam memerah. Wae? P'Bambam sakit?" Lauren menatap khawatir kearah Bambam.
"ani, gwenchana." Bambam menggeleng, menunjukkan kenyataan bahwa dia tidak sakit.
"hum, begitu?" Lauren mengangguk, "ngomong-ngomong, dimana Mark gege?"
"Lauren mau bertemu bertemu —atau mengobrol— dengan Mark hyung?" tanya Bambam.
Matanya mulai bersinar. Bayangannya tadi sepertinya akan segera terjadi.
"hu'um.." Lauren mengangguk, "sejak tadi Lolen tidak bertemu Mark gege sama sekali. Dimana dia?"
"akan phi panggilkan. Lauren tunggu disini, ya?"
Setelah mendapat anggukkan setuju dari Lauren, Bambam segera naik keatas tangga. Berjalan menuju kamar Mark dan berhenti tepat didepan pintunya. Kira-kira apa yang sedang dilakukan Mark didalam kamar sendirian?
Bambam mengangkat tangannya lalu mengetuk pintu kamar Mark. Tapi setelah beberapa kali dia mengetuk pintu, dia tidak melihat tanda-tanda kamar akan dibuka. Mendengar langkah kaki yang mendekat saja tidak. Akhirnya, Bambam memutuskan untuk langsung membuka pintu kamar tersebut. Karena setelah diingat-ingat, Bambam juga memiliki sedikit hak untuk memasuki kamar luas kepunyaan Mark Tuan ini.
Ketika pintu telah terbuka sepenuhnya, Bambam dapat melihat Mark yang bergelung dengan selimut tebal diatas kasur tanpa pergerakan —dapat dipastikan Mark sedang tidur.
"Mark Tuan, cepat bangun."
Bambam menyibak selimut yang dipakai Mark. Membuat sang pemilik bergerak tak nyaman lalu kembali menarik selimutnya.
"aish, shireo."
Bambam terdiam beberapa saat. Mengumpulkan segenap emosi yang ingin dia luapkan sebelum akhirnya,
"PALLI-YAA!" Bambam berteriak. Cukup kencang untuk membuat Mark spontan mendudukkan diri diatas kasur karena terkejut.
Mark lalu mengusap matanya sambil menguap. Siapa yang membangunkannya dengan berteriak-teriak seperti ini?
Mark mendongak, menatap laki-laki yang berdiri disamping kasurnya. Lampu kamar yang begitu terang membuatnya memicingkan mata, dan berkata,
"kau siapa? Kenapa terang sekali disini?" mata Mark melirik kekanan dan kiri, "ini dimana?"
Bambam menghela nafas. Dia tahu ini akan terjadi.
"kau bisa diam disini sampai kau ingat semuanya. Jika kau sudah ingat, cepat basuh mukamu itu lalu turun kebawah. Ada yang ingin kubicarakan."
Mark hanya mengangguk, matanya mengikuti Bambam yang berjalan keluar lalu menghilang dibalik pintu. Meninggalkan Mark yang mulai bergelut dengan pikirannya sendiri.
.
.
"apa?! Tidak! Aku tidak mau!"
Mark menolak mentah-mentah permintaan Lauren yang mengajak mereka—dia dan Bambam— pergi ke sungai Han. Terima kasih sekali, tapi Mark dapat memastikan udara diluar akan dingin. Mark lebih memilih kembali tidur dikamarnya yang hangat daripada pergi keluar.
"jebaal~ gege, ayolah~" Lauren mulai mengeluarkan aegyo-nya. Berharap Mark akan luluh karena itu.
"andwae!" Mark berucap penuh penekanan.
Wajah Lauren sedikit demi sedikit berubah menjadi sedih. Dia ingin pergi bersama Mark dan Bambam malam ini, hitung-hitung untuk perkenalan. Apalagi dia belum bicara dengan Mark sama sekali. Tapi tolakan Mark itu membuatnya harus mengubur keinginannya dalam-dalam. Dia tidak akan bisa pergi tanpa persetujuan Mark.
Bambam yang melihat wajah sedih Lauren, tidak bisa terima. Apa susahnya bagi Mark untuk menuruti permintaan Lauren? Toh, uang yang akan mereka gunakan bukan uang yang dihasilkan dari keringat Mark, melainkan milik orangtua Mark. Walau Bambam ragu menggunakan kartu yang diberikan ibu Mark, Bambam mau tidak mau harus menggunakan itu jika dia ingin hidup. —Bambam tidak berani meminta uang pada ibunya, selain karena ucapan ibu Mark, juga karena Bambam tahu ibunya sedang mengumpulkan uang untuk renovasi rumahnya yang terbakar beberapa waktu lalu.
"Mark hyung, ikuti saja mau Lauren. Apa susahnya?" Bambam angkat bicara.
"jangan ikut bicara, Bambam."
"aku tidak akan diam sebelum kau mengiyakan mau Lauren."
Lauren menatap dua laki-laki didepannya. Dia senang Bambam membantunya, tapi dia tidak mau Bambam bertengkar dengan Mark hanya karena ini.
Oh, Lauren, kau saja yang tidak tahu bahwa mereka memang sering bertengkar.
"ck. Apa maumu?"
"seperti yang kubilang, ikuti mau Lauren."
"kalau aku tidak mau, kau akan apa?"
Bambam menatap Mark tajam. Mark kembali bersikap menyebalkan.
"aku akan pergi sendiri,"
Mark mendengus mengejek, nyaris tertawa mendengar ancaman Bambam, apa yang bisa dia gunakan untuk pergi sendiri?
"—menggunakan mobilmu." Kunci mobil milik Mark yang menggantung tepat didepan mata Mark membuatnya terdiam.
Sialan, bagaimana kunci itu bisa ada ditangan Bambam?, pikir Mark.
"bagaimana? Masih tidak mau mengantar?" Bambam tersenyum angelic, tapi terlihat mengesalkan dimata Mark.
"jangan harap aku memperbolehkanmu menggunakan mobilku, Bambam."
"begitu, ya? Tapi aku juga tidak punya pilihan lain selain mengantar Lauren sendiri. Kau bilang 'kan, kau tidak mau pergi. Jadi sekarang aku harus apa?" Bambam memaniskan nada bicaranya dan mempoutkan bibirnya diakhir kalimat. Memang manis, manis sekali hingga membuat Mark ingin mencekik leher laki-laki didepannya itu.
"baiklah, kalian menang. Aku akan mengantarkan kalian."
Bambam bersorak senang dalam hatinya. Dia punya dua alasan penyebab sorakannya tersebut. Satu, karena akhirnya Mark mengalah, dan dua, karena sebenarnya Bambam tidak bisa menyetir mobil.
Hari pertama Lauren berada dirumah, Lauren telah berhasil menjadi sekutu Bambam dan membuat Mark tidak dapat menolak sedikitpun. Entah permainan monopoli macam apa yang akan mereka lakukan esok hari. Mark tidak menunggu dan tidak ingin menunggu. Membayangkan saja sudah membuat Mark muak, apalagi melakukannya.
Sayang sekali Mark Tuan, ibumu dan dewi fortuna tidak berpihak padamu. Liburanmu hanya akan dikuasai oleh Bambam. Dan mungkin.. menjadi pecundang dalam permainanmu—dulu—..?
.
.
.
Bersambung...
Maaf Zee telat u.u Zee gak ada waktu buat publish kemaren u.u sibuk ngurusin hari raya/? oh iya, selamat hari raya yaaaa xD maafin semua salah Zee u.u
Buat yang kemaren review, bilang gak suka sama Lau dan jadi males baca fanfc ini, yaudah gak usah baca yaaa. Zee gak mau Lau terpojok(?) disini^^ makasih loh buat saran pas bilang "pake temen2nya bambam aja udah cukup"^^ tapi gak segampang itu loh, bikin alur yang gak ngebosenin dengan cast tambahan yang sama^^ Zee suka Lau dan menurut Zee, Lau cocok dijadiin cast^^ untung cuma kamu yang gak suka, kalo semua yang gak suka, Zee mungkin bakal nge- uncontinue fanfic ini^^ jangan dipaksain baca yaaaaa~
Last word,
Review, please?
