Mugen no Tenma, hadir~

Gomen karena sudah terlalu lama hamba nggak update…

Banyak faktor yang menghambat, misalnya kuliah, project novel hamba, dan juga karena faktor kemalasan hamba… (sebenarnya ini yang paling bener) mohon mangap… eh maap :v

Sebagai permintaan maaf hamba, hamba bakal update 3 chapter sekaligus!

Yosh, minna, silahkan membaca! :v


Chapter 12

"I Will Protect You"

(Ichigo POV)

Aku menghela napas saat aku berjalan bersama Rukia di tepi pantai Arclight. Kami hanya tinggal kembali ke penginapan Shinkirou, dan memberitahu semua orang kalau kami, khususnya diriku, baik-baik saja.

Maklum, sudah dua hari aku tak kembali ke penginapan, siapa tahu ada yang mulai cemas dan mencarinya. Terutama Tatsuki dan Naruto.

Tapi alih-alih pulang cepat, kami malah berjalan-jalan santai di tepi pantai. Aku dan Rukia saling mengobrol tentang banyak hal, walaupun kebanyakan Rukia yang bertanya padaku, dan aku pun menjawabnya dengan cukup rinci.

Aku memberitahunya soal kehidupanku, bagaimana aku hidup hanya berdua dengan Yuzu, Akulah yang harus mencari kerja sambilan untuk kehidupan sehari-hari kami, dan Yuzu yang bertugas untuk mengurus semua urusan rumah tangga kami.

Hidup yang cukup merepotkan, tapi aku menikmatinya.

"Ayah dan ibumu…?" Rukia bertanya.

"Ibuku sudah meninggal karena kecelakaan bertahun-tahun yang lalu. Sedangkan ayahku, pergi entah kemana setelah upacara pemakamannya." Aku memberitahunya dengan senyum pahit.

"Oh…aku tidak tahu. Maaf, kamu jadi teringat…" Rukia terlihat menyesal.

"Tidak apa-apa, kok."

Aku memberitahunya bahwa meskipun orangtua kami sudah tidak mengurus mereka lagi, kami masih saling memiliki satu sama lain sebagai keluarga. Selama aku dan Yuzu masih bersama, itu sudah cukup. Untuk saling menjaga, itulah yang membuat hubungan persaudaraan kami hangat.

Saat itu aku teringat sesuatu. Kalau tidak salah, Rukia pernah menyebut kakaknya dalam beberapa kesempatan. Dilihat dari ekspresinya saat menyebut kakaknya, sepertinya hubungan mereka tidak sebaik diriku dan Yuzu. Aku tidak yakin apa sebaiknya kutanyakan hal ini pada Rukia, takutnya dia tidak akan senang, tapi pada akhirnya rasa penasaranku mengalahkanku.

"…bagaimana dengan kakakmu?"

Rukia berhenti melangkah, sementara Aku mendahului berjalan beberapa langkah di depannya sebelum aku sadar kalau diriku sudah menginjakkan kaki ke dalam hal yang bukan urusannya

Wajah Rukia menjadi suram saat ia hanya menunduk, menolak mengatakan sepatah katapun.

"Maaf. Kalau kau belum bisa bilang, tidak usah bilang." Kataku sambil mendekatinya. "Aku terlalu ikut campur, ya? Aku tahu itu urusan pribadimu…"

"Tidak, Ichigo…bukan begitu…bukannya kamu terlalu ikut campur…"

Rukia berhenti di tengah kata-katanya, dan aku menepuk bahunya pelan untuk menyemangatinya agar melanjutkan. Wajahnya masih muram saat ia mendongak.

"Tapi…beri aku waktu sedikit lagi saja…" lanjutnya pelan. "Aku akan memberitahumu segalanya saat aku sudah siap…tidak apa-apa kan?"

"Tentu saja tidak apa-apa." Aku tersenyum. "Aku akan menunggu."

Dia tersenyum balik padaku, dan seketika itu juga wajahnya menjadi jauh lebih cerah.

Merasa agak lelah setelah berjalan-jalan cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat istirahat. kutemukan sebuah batu karang dengan bentuk yang cocok untuk dijadikan tempat duduk, dan jadilah kami istirahat disana. Aku dan Rukia duduk berdampingan, sekarang kami membicarakan tentang dirinya.

Dia mengatakan bahwa sebagai Vampire yang dilahirkan dengan Kekuatan Kegelapan, dia mempunyai banyak keistimewaan dibandingkan dengan rasnya yang lain. Kekuatannya tidak melemah saat berada di bawah sinar matahari, dan dia tidak perlu menghisap darah manusia untuk mempertahankan hidupnya. Dia bisa bertahan dengan hanya meminum darah hewan saja, itupun tidak banyak.

Dan juga, tubuhnya hangat, tidak sedingin es seperti Vampire biasanya. Itulah yang membuatku pertama kali menyangka kalau dia hanyalah gadis biasa, manusia biasa. Darahnya bahkan merah seperti manusia.

Berkat semua keistimewaan itu, dia bisa hidup di antara manusia, berbaur sempurna dengan mereka untuk mengelabui para Vampire yang mengejarnya. Mereka semua memburunya karena menginginkan kekuatannya juga, menginginkan kekuatan Kegelapan miliknya.

Walau dia sendiri muak akan kekuatannya itu dan ingin membuangnya, dia tidak bisa. Karena itu adalah hal yang membuatnya terus hidup, bagaimanapun bencinya dia. Kekuatan itu sudah menyelamatkan nyawanya ratusan kali, menurut ceritanya.

Orang-orang yang dibunuhnya, yang menjadikannya dijuluki pembunuh massal, ternyata adalah para Vampire, bukan manusia. Itupun Rukia membunuh mereka untuk mempertahankan dirinya.

Dia menolak untuk bercerita lebih jauh lagi tentang orang-orang yang dibunuhnya, dan aku maklum. Tak ada orang yang mau membunuh atau dibunuh dengan sukarela, untuk alasan apapun. Segera kuganti topik menjadi hal sepele yang lebih menyenangkan untuk dibicarakan.

Waktu berjalan begitu cepat tanpa kami sadari, aku mendongak ke langit dan mendapati kalau hari telah menjadi sore, sekarang matahari mulai condong ke arah barat. Kurasa kami sudah kelamaan disini, sudah saatnya kembali ke penginapan. Yang lainnya mungkin sudah mencari-cari.

Aku menggigil saat dia kusadari kalau udara di sekitarnya mulai terasa dingin. Padahal ini sama sekali belum malam, apalagi sekarang ini musim panas. Tapi kenapa rasanya dingin, dan dinginnya ini terus bertambah? Seakan, musim dingin mendadak datang menggantikan musim panas. Suhunya terus dan terus menurun…

Hembusan nafasku mengeluarkan uap sekarang. Hawa dingin yang menusuk tulang kurasakan di sekujur tubuhku. Aku mungkin tidak ahli di bidang cuaca dan iklim atau semacamnya, tapi setidaknya aku tahu suhu seperti ini sama sekali tidak normal, apalagi dalam keadaan sekarang. Sesuatu…pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Tidak ada kesimpulan lain.

Sesuatu tiba-tiba mencengkram lenganku. Ternyata itu Rukia, dia berpegangan padaku dengan erat, badannya menggigil hebat seakan terkena demam tinggi. Seakan rasa dinginnya yang dia rasakan bukan hanya hawa dingin yang menyebar di sekeliling kami, melainkan juga rasa ngeri pada sesuatu. Sesuatu, yang menyebabkan rasa dingin tidak normal ini, telah membuatnya takut.

Rasa takutnya bukanlah sesuatu yang baru baginya. Dia telah sering merasakan takut seperti ini, apapun yang menyebabkannya gemetar ketakutan seperti ini telah membekas di pikiran dan ingatannya, seperti trauma yang sulit diatasi.

Ketakutannya juga menulari diriku, apalagi saat telingaku menangkap suara yang sangat familiar.

Dari awal, alasan kenapa aku tidak menghubungi saja teman-temannya yang lain untuk membantu dirinya keluar dari gua itu adalah karena ponsel milikku terjatuh saat aku berusaha meloloskan diri dari para Vampire yang berniat menangkap Rukia dan diriku sendiri. Tapi kini, suara nada dering ponselku berdering keras entah darimana, menusuk telingaku.

"Apa kau yang menjatuhkan ini?"

Suara dengan nada dingin itu membuatku otomatis langsung menoleh ke arah sumbernya.

My mixed emotions,where'd you come from?
Rolling soul is missing now
Don't you know?
Dark with light
Reflection...into you
Inside...discover me
I'm lost in the dark
Affection and hatred are living in everyone

Aku terbelalak tak percaya.

Lagu 'Dark Side of The Light' dari Faylan yang merupakan nada dering ponselku berdering makin keras, dan secara refleks dia menangkap benda metalik hitam yang masih berdering itu saat si pembuat suara melemparkannya padanya.

"Berterima kasihlah padaku, karena sudah susah payah membawakannya untukmu…" kata si pembuat suara. "Well, berkat itu juga aku bisa menemukan kalian lagi…"

Sosok pucat yang sudah tak asing lagi menunjukkan dirinya di hadapan kami. Seorang pria berambut pirang yang berantakan, dengan jubah merah gelap yang panjang menyunggingkan seringai penuh kemenangan saat dia melihat kami, seringai yang membuatku merinding.

"Akhirnya aku menemukanmu, Lady Rukia." Findor Calius melambaikan tangannya pada kami, yang jelas dimaksudkan bukan sebagai sapaan yang ramah. "Kuharap setelah semua masalah yang kautimpakan padaku, kau mau ikut bersamaku…Dengan SANGAT tenang."

"Ti…tidak mau."

Jika Rukia terlihat sangat ketakutan sebelum melihatnya secara langsung, kini reaksinya sudah lebih dari itu. Dia bagaikan melihat setan dari neraka, setan yang kini menyeringai di hadapan kami. Aku menggertakkan gigiku, menghilangkan semua ketakutan dalam diriku, untuk melangkah maju di antara Rukia dan pria pucat itu. Dia begitu ketakutan melihat pria ini, apakah sebabnya?

"Jangan…bawa aku…kembali…"

Rukia sangat ketakutan hanya dengan melihat sosok pria pucat di hadapan kami. Apakah yang telah dilakukannya pada Rukia, yang tidak kuketahui? Yang jelas itu bukan hal yang bagus, melihat reaksinya saja. Aku tidak bisa membiarkannya begini…

"Nah, namamu Ichigo Kurosaki, kan?" kata Findor, mengulurkan satu tangannya. "Aku akan biarkan kau pergi kalau kau mau menyerahkan gadis itu padaku tanpa melawan."

"Apa katamu…?" aku bertanya.

"Kataku aku akan membiarkanmu pergi kalau kauserahkan dia." Findor mengedikkan kepalanya ke arah Rukia. "Pilihlah dengan bijak, manusia. Aku tidak mau tambah masalah untuk diriku sendiri…"

"Heh. Kalau begitu maaf ya…" aku menyeringai. "Tapi masalahmu akan bertambah sekarang, Vampire."

"Apa…katamu?" Kini giliran Findor yang bertanya.

"Kataku aku akan membuat masalahmu bertambah sekarang…!" aku mengaktifkan SF-ku dan memanggil gunsword ke tanganku. "Karena aku takkan menyerahkannya padamu!"

"Jadi, kau lebih suka mati untuknya…" Findor menggertakkan tanganya. "Tidak masalah yang manapun pilihanmu. Aku akan berikan kematian untukmu juga."

"Juga…?"

"Aku sudah membereskan temanmu itu…ah, siapa namanya ya..."

Hatiku serasa mencelos. Aku merasakan firasat buruk.

"Oh, iya." Findor menjentikkan jarinya. "Sasuke Uchiha, kalau tak salah."

"A…apa?!"

"Dia mengalahkan semua anak buahku, orang-orang tak berguna itu dibunuhnya." Katanya. "Tapi sekarang dia sudah selesai. Dia terkubur di dalam reruntuhan gua itu saat bertarung denganku!"

Rasanya aku seperti tersambar petir. Sasuke dikalahkan dengannya…itu tidak mungkin. Sasuke tidak mungkin mati semudah itu, dia lebih kuat dari kelihatannya. Orang ini tidak akan bisa mengalahkan Sasuke…aku tidak akan percaya kata-katanya! Untuk apa aku percaya pada makhluk penghisap darah busuk sepertinya?

"Sepertinya kau tak percaya apa yang kukatakan. Terserah kau." Kata Findor. "Apa kau pikir seorang Valkyrie sepertinya memang pantas menyandang posisi sebagai Komandan Divisi? Dia cuma sampah."

Kemarahan mulai bergolak dalam diriku. Aku mengepalkan tanganku menjadi sebuah tinju.

"Sejujurnya, aku penasaran. Apa semua Komandan Divisi selemah dia?" Findor terus saja berbicara. "Kalau itu benar, harusnya kami tidak pernah ragu untuk menghancurkan kalian semua tanpa tersisa-"

Emosiku memuncak: aku menerjangnya tanpa pikir panjang lagi, menyerangnya dengan kepalan tinjuku yang berlapiskan dust hitam mengarah tepat pada wajahnya. Pria pucat itu terdiam, dan menangkap pukulanku dengan tenang. Dia terkekeh dengan suara tawa yang melengking tinggi, tapi aku bahkan sudah tidak takut lagi padanya. Pikiranku saat itu hanya satu: menghajar orang ini sampai habis!

"Sorot mata yang bagus."

"Apa?!"

Findor melancarkan pukulan balasan, dan aku melompat mundur untuk menghindarinya. Dia hanya tersenyum sadis di tempatnya, senyum yang membuatku muak.

"Kalau kau pikir aku tidak tahu tentang dirimu, kau salah besar, Ichigo Kurosaki." Ujarnya. "Kau adalah Pemegang Kekuatan Kegelapan yang kekuatannya jauh lebih menjanjikan daripada buruanku saat ini. Setidaknya, itulah yang Aizen-sama beritahukan padaku…"

"Siapa itu Aizen?!" tanyaku keras.

"Kau takkan kuberitahu."

"Apa yang dia tahu tentangku?"

"Segalanya. Dia tahu segalanya, karena dia bisa melihat segalanya." Kata Findor. "Khususnya kau. Matanya telah mengamatimu selama ini, tanpa kau sadari…"

"Keparat!"

Aku menerjangnya, menebasnya dengan gunsword-ku. Dia melompat mundur untuk menghindarinya, dan senyum sadis itu tak lenyap dari wajahnya yang pucat. Dia mendarat di tanah, mengepalkan tangannya menjadi sebuah tinju. Bagi kami berdua, pertarungan rupanya sudah tak bisa dihindarkan lagi.
Aku menoleh pada Rukia, yang masih ada di belakangku beberapa meter jauhnya.

"Sembunyilah, Rukia. Cari tempat yang aman, dan jangan keluar sampai aku bilang boleh." Kataku cepat-cepat. "Aku akan mengalahkan keparat ini dengan cepat. Sampai saat itu, pergilah…!"

"Tapi…aku tidak bisa…" Rukia bergeming disana, tidak bergerak. "Kabur…sendirian…"

"Aku akan menyusulmu!" balasku mulai panik. "Cepat pergilah! Kumohon, pergi sekarang juga!"

"Ba…baiklah…"

Mau tak mau, pada akhirnya dia mengikuti kata-kataku juga. Dia pergi secepat dia bisa, suara langkah kakinya di pantai berpasir terdengar makin lama makin sayup-sayup. Setelah yakin benar bahwa dia sudah pergi ke tempat yang cukup jauh, aku memusatkan kembali perhatianku pada pria pucat yang berdiri di hadapanku dengan seringai sadisnya.

"Kau berusaha jadi pahlawan, ya?" ucapnya pelan. "Baik sekali kau."

"Bukan urusanmu." Aku menjawabnya dengan dingin.

"Kau tahu, aku berterima kasih padamu karena telah menyegel kekuatan kegelapannya…itu akan membuatnya lebih mudah ditangkap setelah aku selesai denganmu."

"Darimana…kau tahu tentang hal itu?"

Hal ini membuat perhatianku teralih sejenak. Aku memang menyegel kekuatan kegelapan Rukia, itupun dengan petunjuk Kaladbolg. Saat aku melakukan itu…SF-ku membuat segel pada jiwanya dan membuat kegelapan dalam dirinya terkunci untuk sementara. Itu berarti, dia hanyalah Vampire biasa tanpa kekuatan kegelapan sekarang, kekuatannya telah berkurang banyak. Itu tidak masalah selama aku bisa melindunginya, tapi ada hal lain yang menggangguku…

Kenapa dia bisa tahu kalau aku telah menyegel kekuatannya?

"Aizen-sama yang memberitahuku." Kata Findor. "Sudah kubilang, dia bisa melihat segalanya dengan matanya. Melihat kalian berdua bukanlah hal sulit baginya."

"Kau…!" aku mengacungkan gunsword-ku padanya. "Siapa sebenarnya 'Aizen-sama' yang kau maksud itu? Kenapa dia bisa tahu tentang itu?"

"Hahaha…kau benar-benar berpikir aku akan memberitahumu?"

Dia berkelebat dalam sekejap, dan dia menghilang dari tempatnya berada barusan. Aku menyilangkan gunsword-ku di depan dadaku, bersiap memblokir serangan apapun yang akan datang. Tapi ternyata, tempat dia menyarangkan serangannya ada di luar dugaanku.

KRAKK!

Tendangannya yang tak tanggung-tanggung menghantam pergelangan tanganku yang menggenggam gunsword sampai senjataku itu terlepas dari tanganku dan jatuh ke tanah. Belum lagi, sendi pergelangan tanganku terasa mati rasa dan lumpuh karena serangannya barusan. Selagi aku tidak bisa bertindak untuk beberapa detik, Findor menambahkan sebuah tendangan yang membuatku terlempar beberapa meter ke belakang.

"Ugh…!"

Aku tidak terjatuh karena tendangan itu. Aku segera meluruskan diri, dan memegang pergelangan tanganku yang mati rasa dengan tanganku yang bebas. Untuk mengembalikannya agar bisa bergerak lagi, maka aku harus melakukan sedikit hal yang menyakitkan.

KREK!

"Gh!"

Aku memelintir tanganku sendiri, untuk sesaat rasanya sakit luar biasa. Tapi begitu rasa sakit itu hilang, tanganku sudah bisa bergerak normal kembali. Belum sempat aku menghela nafas lega, Findor menerjangku lagi, memaksaku untuk berguling di tanah, menghindari serangannya sekaligus mengambil kembali gunsword -ku yang tergeletak tak jauh dari sana.

Aku menggenggam gunsword-ku seperti senapan, mengarahkannya pada Findor. Aku menembaknya dengan peluru perak beberapa kali, tapi dia bisa dengan mudah menghindarinya. Beberapa tembakan lagi, dan tiba-tiba saja dia menghilang entah kemana.

Aku melihat sekeliling, berusaha untuk mencari tahu kemana dia menghilang. Namun…

"Mencariku?"

Untuk bereaksi saja tak sempat, apalagi menghindar. Sebuah hantaman keras bersarang di perutku, membuatku merasa tertohok hebat. Sambil menyeka darah yang keluar dari mulutku, setelah terlempar karena serangan itu aku langsung berguling, berusaha menyerang balik… hanya untuk mendapati kalau lawanku yang ini terlalu cepat.

"Lambat sekali."

Sebuah tendangan menyapuku dari samping, aku berhasil menangkisnya dengan punggung tanganku. Belum puas dengan serangan yang bisa ditahan, Findor melakukan putaran di udara dan menghantamku lagi dengan tendangannya, membuatku terdorong ke belakang.

Dia melompat ke udara, lagi-lagi melancarkan tendangan padaku. Aku menahan tendangannya dengan gunsword -ku, dan dengan cepat Findor mengganti serangannya. Kepalan tangannya melewati penjagaanku, dan mengenai wajahku dengan keras.

"Ugh!"

Selagi tangannya masih menempel di wajahku, aku mencoba balas memukulnya. Tapi Findor menangkap tanganku dengan cekatan, dan menendang perutku dengan lututnya. Selagi erang kesakitan keluar dari mulutku, aku kembali memuntahkan darah. Aku berlutut di tanah, dan saat aku mendongak, Findor sudah menghilang dari hadapanku.

"Hahaha…" suara tawa Findor terdengar. "Apakah kau benar-benar Ichigo Kurosaki yang dibicarakan oleh Aizen-sama? Tidak sehebat yang kubayangkan."

Findor muncul agak jauh di hadapanku, mengangkat bahunya dengan ekspresi merendahkan di wajah kurusnya. Dia memang kuat, aku bahkan tidak bisa membaca gerakannya dengan kekuatanku yang sekarang.

Aku masih cukup kelelahan karena pertarungan di gua itu, luka yang kuterima saat itu masih belum pulih sepenuhnya. Itu alasan yang masuk akal, tapi apa aku akan ditolong kalau aku hanya bisa mengeluh terus? Tidak. Aku masih bisa sedikit lebih kuat lagi untuk mengalahkannya.

"Beri aku kekuatan, Kaladbolg." Batinku. "Lebih dari yang sekarang…!"

"Aku mulai bosan. Sebaiknya aku mengakhirinya saja…" kata Findor. "Matilah, serangga busuk."

Sebuah tangan pucat bercakar mencoba menikamku dari depan, tapi tangan kiriku bereaksi untuk menangkapnya sebelum itu mengenaiku. Dia sedikit terkejut melihat aku bisa menangkap tangannya, dan kumanfaatkan sekejap kelengahannya untuk menebas dadanya, melukainya walau tebasanku tidak dalam. Darah hitam mengalir dari luka di dadanya, dan tanpa memberikannya waktu tambahan untuk terkejut, aku maju menerjangnya.

"Aku adalah kekuatanmu. Aku adalah pedangmu. Kau adalah Masterku."

Suara Kaladbolg bergema dalam diriku selagi aku merasakan kekuatanku meningkat dengan drastis. Aku mengayunkan gunsword-ku pada Findor, dan dia melompat untuk menghindarinya. Aku menyusulnya melompat ke udara, hanya untuk mendapati kalau dia tiba-tiba lenyap.

Kalau tadi aku tidak bisa menangkap gerakannya sama sekali, kini aku bisa tahu kemana dia pergi. Aku menendang ke arah belakang, dan terdengar suara hantaman keras yang menandakan bahwa instingku tepat. Findor terjatuh ke tanah, dan langsung bangkit lagi dengan terkejut.

"Kekuatanmu langsung meningkat seperti ini…!" kata Findor setelah aku mendarat. "Hebat. Memang seperti yang dikatakan Aizen-sama…"

Dia berkelebat lenyap, gerakannya lebih cepat dari yang sebelumnya tapi masih bisa kutangkap. Aku mengangkat satu tangan setinggi bahu, dan menangkap pukulan keras dari Vampire pucat yang kini ada di hadapanku. Aku mengambil langkah mundur, lalu menancapkan gunsword-ku ke tanah. Aku memberinya isyarat dengan tanganku agar dia maju menyerangku, gaya yang sama seperti yang sering kulakukan saat berkelahi melawan berandalan di kotaku.

Walaupun kali ini musuhnya berbeda tingkatan, seratus bahkan seribu kali jauh lebih kuat.

"Kau besar kepala juga, bocah manusia!"

Aku menerima pukulan Findor dengan tangan kiriku, dan balas melayangkan pukulan dengan tangan kananku. Dia juga menangkis seranganku, dan dengan segera pertarungan kami menjadi saling adu jotos dengan kecepatan dan kekuatan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Pertarungan itu masih terus berlanjut.

Aku dan Vampire berambut pirang itu masih bertarung dengan tangan kosong, pukulan kami saling menyerang satu sama lain. Saat giliranku menyerang, dia menangkis dan sebaliknya. Kadang juga pukulanku berhasil mengenai wajahnya, tapi tak sedikit juga kali wajahku terhantam tinjunya. Aku merasakan kalau kemampuanku masih sedikit di bawahnya bahkan setelah Kaladbolg menambah kekuatanku…ditambah lagi, dia ini Vampire yang notabene makhluk berumur panjang. Pasti pengalaman bertarungnya jauh lebih banyak dariku.

Tidak hanya satu-dua kali, belasan, bahkan puluhan kali tinjuku beradu dengan tinjunya, membuat suara hantaman yang keras seperti batu yang saling berbenturan. Sambil mengelak dari pukulannya, aku menarik tanganku ke belakang, mengumpulkan tenaga untuk membalasnya. Aku melesatkan tinjuku…

"Heah!"

DUAGH!

Aku sedikit kalah cepat. Pukulan Findor menghampiri wajahku sebelum pukulanku sendiri mengenainya. Pukulan yang ini jauh lebih kuat daripada yang sebelumnya, untuk sesaat kepalaku terasa pusing dan tubuhku melayang karena tenaga pukulan itu.

Benar-benar berbeda dengan Sekirou, Vampire yang pertama kali kulawan…dia jauh, jauh lebih kuat daripada Vampire itu…

Tapi…! Aku juga bisa jadi lebih kuat lagi!

"Kaladbolg, pinjamkan aku kekuatanmu lagi."

Selagi aku melayang di udara, aku melakukan salto dengan cepat dan melepaskan satu tendangan yang mengenai wajah pucat sang Vampire dengan telak. Dia juga terlempar ke belakang, dan dengan peristiwa saling hantam di wajah ini, pertarungan tangan kosong kami berakhir dengan kami berdua sama-sama terjatuh ke tanah.

"Vampire brengsek."

"Manusia keparat."

Sambil melemparkan umpatan pada satu sama lain, kami berdua bangkit berdiri. Sudut mulut kami sama-sama mengalirkan darah, bedanya darahku merah dan darahnya hitam. Kami saling menatap dengan penuh kemarahan, mata manusia dengan mata Vampire yang semerah darah.

"Lumayan juga kau. Padahal aku ini salah satu dari S.E.V, Special Elite Vampire, tapi kau bisa mengimbangiku…" kata Findor. "Kau sampah yang kuat, kau bisa menahanku tanpa memakai kekuatanmu yang sebenarnya."

"Kau juga. Tidak kusangka akan ada lintah penghisap darah yang merepotkan sepertimu, aku cukup terkejut." Aku membalas pujiannya dengan sama sinisnya.

"Well, kau pikir ini merepotkan, kan?" Findor mengangkat sebelah tangannya. "Aku juga. Jadi bisakah kau minggir saja dan biarkan aku menangkap gadis itu? Itu menguntungkan untuk kita berdua."

"Langkahi dulu mayatku."

"…Apa katamu?"

"Kalau kau begitu bodohnya sampai tidak mengerti perkataanku, maka biar kuperjelas saja." Aku meninggikan suara. "Aku takkan menyerahkan Rukia padamu atau Aizen, atau siapapun itu. Paham?"

"Hah, dasar manusia bodoh." Ejek Findor. "Kau buang-buang nyawamu saja."

"Masa bodoh."

"Kau tidak peduli nyawamu sendiri? Kalau begitu kenapa kau tidak mati saja dan berhenti ikut campur urusanku?!"

"Ikut campur? Apa maksudmu?"

"Yeah…untuk apa kau melindungi makhluk tak berharga seperti gadis itu? Tak ada untungnya!"

"Apa?!"

Mataku membelalak. Tanganku mengepal menjadi tinju…kemarahan tiba-tiba saja bangkit di dalam diriku.

"Kau…kau bilang dia apa?!"

"Makhluk tak berharga." Findor menyeringai lebar. "Dan biar kutambahkan. Dia makhluk tak bernilai yang dilahirkan untuk jadi bahan percobaan kami! Makhluk tingkat rendah yang setelah kami 'pakai', akan kami buang seperti sampah! Kami akan mengekstrak kegelapan dalam dirinya, dan itu akan mencabut nyawanya juga! Setelah itu, tubuhnya akan kami-"

"DIAM!"

Teriakanku bergema keras di pantai itu, dan selanjutnya hening untuk sesaat.

"Kenapa wajahmu seperti itu? Kau marah cuma karena kukatakan itu?" Seringai Findor makin lebar. "Oh, iya. Kau juga Pemegang Kekuatan Kegelapan sepertinya. Sesama makhluk yang dikucilkan, pantas kalian saling mengasihani. Hahaha…"

"Dasar keparat…hina dia sekali lagi dan akan kuhabisi kau!"

Kemarahan, bukan, kemurkaan sudah mengalir di dalam diriku. Apapun yang terjadi, aku akan mencabik pria pucat di hadapanku ini untuk membayar hinaannya pada Rukia! Aku memanggil Kaladbolg kembali ke tanganku, bersiap untuk meneruskan pertarungan kami.

"Hahaha…seperti kau bisa membunuhku saja." Cemooh Findor. "Baiklah, kalau memang itu maumu, akan kuakhiri riwayatmu sebelum aku menangkapnya…"

Cahaya biru yang samar dari kedua tangannya sekilas tertangkap oleh mataku, dan instingku membuatku memutuskan untuk melompat tinggi ke udara. Benar saja…

Kilatan cahaya biru menyambar tepat setelah aku menjejakkan kaki untuk melompat.

Cahaya biru itu membekukan tempat dimana aku berdiri sebelumnya menjadi bongkahan es. Tidak hanya itu saja, cahaya biru itu menyebarkan es di tanah sekelilingnya sehingga hampir semua tanah di bawahku menjadi beku oleh es. Semuanya…semuanya membeku.

"Apa itu…?!"

"Hahaha…kau beruntung bisa menghindarinya."

Aku mendarat di tanah yang tertutup oleh es, sedikit tergelincir oleh licinnya es itu. Aku melihat kearah Findor, dan di kedua tangannya sudah ada diagram sihir yang bercahaya biru secerah lautan, sinarnya yang lembut terlihat indah namun juga mematikan. Aku hanya bisa menggertakkan gigi.

"Apa ini pertama kalinya kau melihat Ilmu Sihir…?" Findor menyeringai. "Kalau begitu biar kuperkenalkan. Eis de Magica, Sihir Es Pembeku Segalanya…!"

Diagram sihir yang baru bercahaya di bawah kakiku, membuat hatiku mencelos. Aku melompat ke udara, saat diagram sihir itu mengeluarkan duri es tajam yang akan membuatku jadi sate kalau saja aku tidak mengayunkan Kaladbolg untuk menghancurkannya.

Saat aku mendarat ke tanah, Findor sudah siap melancarkan serangan susulan. Belasan diagram sihir lain tercetak di tanah yang membeku, dan melepaskan duri-duri es yang sama seperti sebelumnya. Aku tak sempat melompat, aku hanya berlari sepanjang tanah membeku yang licin untuk menghindari tertusuk duri-duri itu.

Duri-duri itu bermunculan dari tanah, mengejarku kemana pun aku melangkah. Merasa tak ada artinya untuk terus menghindar, aku mengerem laju langkahku, memasang kuda-kuda dan mengisi dust hitam di gunsword-ku.

"Black Moon Slash!"

Sambil berseru aku mengayunkan Kaladbolg di tanganku, melepaskan gelombang dust hitam raksasa yang berbentuk seperti bulan sabit. Serangan balasanku ini melibas habis seluruh duri-duri es yang mengejarku sampai semuanya hancur seperti kaca yang pecah.

Black Moon Slash. Ini bukanlah nama yang diberikan oleh Kaladbolg, tapi aku yang menamai jurus ini sendiri. Karena dia sendiri belum mau memberikan nama untuk jurus ini, maka untuk sementara kunamai saja begitu.

Aku mengedarkan pandangan ke tempat musuhku, tapi Findor sudah tak ada lagi di tempatnya berada sebelumnya. Aku melihat sekelilingku, kiri kanan, depan belakang, tak ada tanda-tanda Vampire berambut pirang itu sedikitpun. Dimanakah dia…?

"Hey!"

Teriakan yang berasal dari atas itu membuatku spontan mendongak.

"Kau mau aku memberimu hadiah?" Findor melayang diudara, ditopang oleh diagram sihir birunya. "Hmm… bagaimana kalau kuberi kau…hujan stalaktit?"

Dalam sekejap aku sadar akan apa yang berniat dilakukannya. Dari kata-katanya saja sudah jelas.

Diagram sihir biru berjumlah lebih dari yang sebelumnya dia munculkan bersinar terang di udara di sekitarnya. Lalu, saat Findor menjentikkan jarinya, duri-duri es seperti stalaktit ditembakkan dari diagram-diagram sihir itu, semuanya ditujukan untukku.

Aku melakukan manuver gila-gilaan untuk menyelamatkan diri. Aku berlari secepat mungkin, berguling di tanah, sampai melompat liar ke tempat yang lebih aman untuk menghindari diriku tertusuk oleh duri-duri es itu. Walaupun badanku sesekali tergores oleh duri-duri es itu, setidaknya aku tidak tertusuk langsung.

"Biar kutambah seru sedikit lagi!"

Teriakan Findor dari kejauhan membuat semua indraku masuk ke dalam mode siaga. Tidak puas hanya dengan duri-duri es, dia juga kini melepaskan tombak-tombak es yang panjang ke arahku. Beberapa tombak es berhasil kuhindari dengan berguling ke samping, namun saat aku berlari ke depan untuk menjaga jarak, beberapa tombak es lagi menghalangi jalanku.

"Kau terlalu lambat!"

Lebih banyak lagi tombak es meluncur ke arahku. Tak ada jalan untuk menghindar, jadi dengan nekad kuhancurkan saja semua tombak es itu dengan ayunan liar gunsword-ku. Berhasil, dan-

Tanpa sempat kusadari, dua tombak es meluncur menyusul tombak-tombak yang tadi kuhancurkan, keduanya dengan telak mengenai bahuku. Keduanya menusuk dalam bahuku, sampai darahku mengucur. Walaupun tahu akan terasa sakit, aku dengan cepat mencabut kedua tombak yang menancap itu.

"Ukh!"

Menyakitkan. Tapi kalau kubiarkan saja dua benda itu menancap, bisa lebih bahaya lagi. Darahku masih terus mengalir, dan aku hanya bisa menahan diri untuk tidak mengerang. Benar-benar sakit.

"Hey, aku tidak bilang kau boleh istirahat!"

Teriakan itu membuatku kembali siaga. Findor sudah tidak melayang di udara lagi, dia berdiri di tanah dengan jarak beberapa puluh meter di depanku. Sebuah pilar es yang panjangnya sekitar 10 meter melayang horizontal di atas kepalanya tanpa ada yang menopang, dan saat Vampire berambut pirang itu mendorong tangannya ke depan, pilar es itu meluncur ke arahku.

Aku mengumpulkan dust hitam di tanganku, lalu menghunjamkan tinjuku menuju pilar es yang mengancam akan menabrakku sampai remuk itu. Pilar es tersebut hancur terkena tinjuku, suara gemanya saat hancur memenuhi pantai itu bergaung mengerikan.

"Haah…haah…"

"Kau keras kepala sekali ya, manusia."

Findor melangkah mendekati dengan santai, tak tergoyahkan. Lukanya cuma sedikit, sedangkan aku cukup parah begini. Dia sepertinya sadar kalau dirinya ada di atas angin, makanya ia begitu tenang. Seringai sinis yang tipis menghiasi wajah pucatnya, lebih membuatku muak daripada takut.

"Kau banyak bicara…" kataku pelan.

"Padahal sudah kuberi jalan aman untukmu. Malah ngotot melindungi gadis itu."

"Kau tidak tahu apa-apa tentang Rukia." Aku menatap Findor tajam.

Findor hanya mengangkat bahu, balas menatapku dengan tatapan sedingin es.

"Aku memang tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak mau tahu." Seringainya kembali melebar. "Apakah karena kau tahu segalanya tentangnya, kau jadi sengotot itu melawanku?"

"Diam…itu bukan urusanmu." Aku mengacungkan gunsword-ku pada Findor. "Pokoknya…aku sudah berjanji padanya…akan melindunginya. Pasti."

"Heh. Kau sama saja seperti orang itu! Kau pasti akan mati juga!" teriak Findor, ketenangannya tampak sedikit terganggu. "Sama seperti Kaien Shiba itu, akan kupastikan kau juga mati di tanganku! Semua yang dekat dengan gadis pembawa bencana itu pasti sudah ditakdirkan untuk mati tragis!"

"Apa katamu?!"

"Aku benar-benar akan menghabisimu…akan kupastikan kau tidak akan ikut campur lagi!" Mata merah darah Findor berkilat-kilat. "Akan kuhancurkan kau berkeping-keping!"

Tiba-tiba, angin yang sangat dingin berhembus dengan kencang. Angin itu semua berkumpul di sekitar Findor, lebih tepatnya lagi di tangan kirinya. Di tangan itu terpusat energi berwarna biru gelap yang terasa begitu dingin. Dari jarak sejauh ini saja, aku bisa merasakan dinginnya yang menusuk tulang.

"Eis de Magica!" Findor berteriak lantang. "Frostenhorn!"

Energi bercahaya biru gelap seperti lautan dalam itu melesat ke arahku. Apa yang bisa kulakukan sekarang? aku hanya bisa menyilangkan Kaladbolg di depan tubuhku sebagai pertahanan nekad.

"Sial!"

Dingin…rasanya begitu dingin. Segalanya dingin…

Semuanya membeku…aku tak bisa merasakan apapun. Semuanya mati rasa…

Tubuhku membeku dalam es yang bening, tapi aku masih sadar dan bisa merasakan dinginnya. Kalau ini kubiarkan lebih lama…akan jadi lebih fatal lagi untukku. Walaupun seluruh tubuhku mati rasa, aku memaksakan diri untuk bergerak menyentakkan semua es yang membungkus tubuhku.

BRUAAAK!

Aku terbebas dari kungkungan es itu, tapi rasa dingin yang menusuk sampai sumsum tulang masih bisa kurasakan. Aku melihat sekeliling, dan semuanya kini sudah menjadi bongkahan es yang bening, sampai radius beberapa ratus meter. Walaupun benci mengakuinya, tapi aku kagum.

Kekuatan es milik Sasuke saja tidak sampai begini. Kini aku mengerti kenapa Sasuke bisa kalah oleh orang yang jadi lawanku sekarang. Tingkat kekuatan mereka benar-benar berbeda…! Kalau saja aku tidak menangkisnya sedikit memakai Kaladbolg, tentu keadaanku bisa lebih buruk lagi.

Hawa dinginnya kini begitu terasa, dan aku bahkan merasa lebih merinding lagi saat Findor melangkah mendekatiku, dia sama sekali tak terpengaruh oleh jurusnya sendiri. Jangankan menggigil, bergetar saja dia tidak. Dia pantas dapat pujian untuk ini.

"Hebat juga kau masih bisa bertahan." Katanya sambil tersenyum sinis. "Aku penasaran sampai kapan kau bisa terus berdiri seperti itu."

Tubuhku menggigil karena dingin yang begitu menusuk. Suhu udara juga begitu rendahnya sampai aku sulit bernafas, nafasku putus-putus. Rasanya semua organ dalam tubuhku nyaris membeku, entah apa yang akan terjadi kalau aku terkena sihir itu dengan telak.

Andai saja Kaladbolg tidak ada, mungkin aku sudah mati. Sekarang pun aku hanya bisa bertumpu padanya untuk terus berdiri. Pandanganku mengabur dan tenagaku yang makin melemah, apa ini tanda kalau aku tidak akan menang disini? Apakah aku akan mati?

"Hahaha…bagi Valkyrie biasa sepertimu, kau sudah cukup merepotkanku…" Findor melangkah lebih dekat lagi. "Tapi semuanya akan berakhir sekarang."

Dia sudah ada di depanku. Tangannya yang bercakar terangkat, siap menikam titik vital tubuhku yang akan menjadi serangan penghabisan. Seringainya melebar, mungkin dia merasa sudah menang sekarang. Dan sepertinya memang akan begitu, aku bahkan tidak kuat lagi untuk membuka mata. Pandanganku mengabur, semuanya menjadi gelap…

"Bunuh. Bunuh semuanya…"

Sebuah suara nyaring, melengking tinggi bergaung dalam kepalaku.

(Normal POV)

Di dunia dalam diri Ichigo Kurosaki, seseorang membuka matanya yang diselimuti kegelapan.

Bukan seseorang… 'sesuatu' ini jelas-jelas bukan manusia.

"Hahahaha…aku bisa susah kalau kau mati sekarang…" sosok itu terkekeh jahat. "Dasar manusia lemah…biar kupinjam tubuhmu sesaat saja!"

Sosok itu mengeluarkan dust hitam dari tubuhnya, memenuhi seluruh dunia dalam diri Ichigo dengan kegelapan pekat yang kelam, benar-benar hitam.

Tangan Findor nyaris menikam Ichigo, saat tangan kiri pemuda itu tiba-tiba menangkapnya dengan cekatan, mencegahnya menyarangkan serangan yang akan menghabisi nyawanya. Belum sempat Findor bereaksi atas tindakan itu, gunsword hitam milik sang pemuda menyambar tubuhnya, menebas dalam bahu sampai dadanya. Darah hitam terciprat ke tanah yang diselimuti es sementara Findor mengambil langkah mundur dengan terkejut, tak menyangka akan diserang balik.

Tapi yang tak disangka sang Vampire adalah mata musuhnya yang kini warna iris matanya menjadi perak, dan ekspresi wajahnya yang dingin tanpa emosi, raut wajahnya hampa tak dapat ditafsirkan.

Tapi itu semua hanya bertahan sekejap saja.

(Ichigo POV)

Aku bahkan tak tahu apa yang telah kulakukan. Yang terakhir kuingat hanyalah suara melengking tinggi aneh dalam benakku, dan tahu-tahu musuhku sudah melompat mundur beberapa meter dariku, dadanya terluka tebas cukup dalam. Gunsword-ku berlumuran darahnya yang hitam, apakah aku yang telah melakukannya?

Tapi selagi aku memikirkan jawabannya, Findor melompat ke arahku lagi dan menghantamku dengan keras sampai aku terjatuh. Badanku entah kenapa terasa kaku dan tak mau bergerak, karena itulah kini Findor mulai menendangi tubuhku yang terjatuh di tanah dengan geram sekaligus juga senang.

"Berani sekali kau, manusia!" seru Findor di tengah kegiatannya menendangiku. "Kau punya nyali juga melakukan ini padaku…kau pasti akan membayarnya! Kau akan membayar!"

Walaupun dia menendang dengan penuh kekuatan amarah, entah kenapa tak terasa sakit sedikitpun. Tubuhku…semuanya mati rasa. Tenagaku benar-benar sudah habis kali ini dan pandangan mataku kembali memburam. Apakah ini pertanda aku akan segera mati?

Bukankah…kematian itu rasanya menyakitkan? Kenapa aku tidak merasakan apapun…?

"Hentikan!"

Suara itu. Apakah aku bermimpi…?

Tidak.

Tendangan Findor padaku telah berhenti, dan suara teriakan yang kudengar itu adalah suara Rukia. Kenapa dia kembali lagi kesini? Padahal sudah kusuruh dia pergi!

Aku yang terbaring di tanah perlahan melihat ke atas, melihat sosok Rukia yang merentangkan tangannya di depan tubuhku, melindungiku dari Findor. Dari sudut mataku, kulihat Findor tersenyum penuh kemenangan, apa yang diburunya sampai saat ini telah muncul di hadapannya.

Lalu Rukia berteriak lagi.

"Sudah cukup, Jangan sakiti dia lebih dari ini!"

"Hmm…tergantung keputusanmu." Findor menyeringai. "…Jadi?"

Rukia hanya menunduk terdiam. Kemudian…

"Baiklah…" katanya pelan. "Aku akan menyerahkan diri…"

"JANGAN!"

Kepala Rukia tersentak kaget saat aku tiba-tiba bangkit dari tanah dengan seluruh tenagaku yang tersisa. Apa peduliku dengan tubuhku ini? Aku rasa tubuh ini lebih baik hancur berkali-kali daripada membiarkan Rukia ditangkap dan direnggut kebebasannya! Aku takkan membiarkannya!

"Jangan…Pergi!"

"Tapi kamu bisa mati kalau begini terus!" kata Rukia, matanya berkaca-kaca. "Kumohon, Ichigo… lebih baik begini saja…"

"Aku sudah bilang…JANGAN PERGI!"

Aku menatap mata birunya yang mulai digenangi air mata dengan tajam, dan saat itu juga aku tahu kalau dia sendiri tak mau kembali ke tempat dimana dia hanya akan merasa sedih dan kesepian. Apa dia pikir bisa membohongiku dengan matanya yang penuh kesedihan itu? Tidak.

"Hahaha, drama kalian ini sungguh mengharukan, tapi…"

Sebuah sinar biru menyilaukan mataku, dan seketika naluriku merasakan bahaya.

"Aku diperintahkan untuk menangkap targetku hidup atau mati…" Findor menyeringai. "Jadi kalau aku bisa melakukannya dengan cara yang lebih mudah, kenapa tidak?"

Tubuhku menegang, menyadari bahaya di ujung tanduk, yang akan diantarkan oleh sinar biru di tangan Vampire itu.

"Matilah kalian berdua. Frostenhorn!"

(Rukia's POV)

Kematian akan selalu datang padaku, tapi tak pernah sekalipun ia mengambil nyawaku. Dia begitu dekat, tapi tak pernah sekalipun ia mengangkat tangannya yang kejam untuk mencabut nyawaku…dia selalu mengambil orang-orang yang berusaha untuk melindungiku, orang-orang yang memahami perasaanku.

Kali ini, kurasakan kematian itu kembali datang. Dengan wujud sinar biru sihir yang dilancarkan Findor kepadaku dan Ichigo yang baru saja selesai berdebat, kematian sekali lagi mendatangiku.

Jika ada yang kutahu tentang sihir itu, hanyalah jika sihir itu menghantam kami berdua, maka dapat dipastikan kami akan mati dalam sekejap mata. Aku yang terkejut tak bisa berbuat apa-apa dan kupikir kali ini aku benar-benar akan tamat, sebelum kurasakan kehangatan yang sangat kukenal mendorongku minggir.

Bongkahan es yang sangat besar tercipta di tempat dimana aku berdiri sebelumnya. Tapi alih-alih aku yang jadi sasaran utamanya, seorang pemuda dengan rambut hitam berantakan dengan senjatanya membeku di dalamnya. Matanya yang hijau-ungu masih terbuka, dan dari posisi tangannya yang terjulur ke depan, aku langsung tahu kalau dialah yang tadi mendorongku agar tak terkena serangan sihir itu.

Ia menyelamatkan nyawaku, dan inilah akibat yang dia terima.

Dia membayarnya dengan nyawanya sendiri.

"TIDAAAAK!"

Kupukulkan tanganku ke bongkahan es itu, berusaha memecahkannya dan mengeluarkan Ichigo dari sana. Tapi dinding es itu tidak bergeming, retak pun tidak. Kekuatan kegelapanku juga tidak mau keluar seperti biasanya, ini karena Ichigo sudah menyegelnya.

Kenapa harus jadi begini? Aku tak bisa membiarkannya mati!

"ICHIGOOOO!"

Kumunculkan pedang dari udara kosong untuk menghancurkan es itu. Ini bukanlah Gram milikku, ini hanyalah pedang biasa yang rapuh. Itu terbukti saat pedang itu mencoba menusuk bongkahan es tersebut, pedang itu patah menjadi dua tanpa bisa merusak es itu segores pun.

Putus asa, aku hanya bisa memanggil namanya sekeras yang kubisa. Kuulang panggilanku, dan hanya hening yang menjawabku. Mungkin Ichigo sudah tak bisa mendengarku lagi…

Tidak!

Tidak mungkin dia sudah mati. Tidak, aku percaya dia masih hidup, dia masih ada disana! Aku percaya dia akan keluar dari es itu dengan gagah, dan dengan gayanya yang seakan tak peduli, ia akan mengatakan ini semua bukan apa-apa.

Dia tidak mungkin mati. Aku tak mau percaya ini!

"Hentikan semua rengekanmu, Putri!" seseorang menjambak rambutku tanpa perasaan. "Manusia itu sudah mati… MATI! Sama seperti Kaien Shiba tersayangmu itu!"

"Tidak, Ichigo! Kumohon bangunlah, Ichigo! Tolong aku!"

"Dasar berisik! DIAM!"

PLAK!

Tamparan Findor yang tak berperasaan menghampiri wajahku, yang membuat pipiku merah. Darahku kurasakan menetes dari bibirku, menetes ke tanah yang diselimuti es.

"Kau sudah membuatku kerepotan selama ini, dasar gadis jalang." Findor mendekatkan wajahnya yang menyeringai sadis ke wajahku. "Sekarang kau akan ikut denganku, dan takkan kubiarkan kau protes!"

Dengan cara menjambak rambutku dengan kasar, Findor menyeretku. Tapi aku masih bertahan di tempatku, aku tidak mau berpisah dengan pemuda itu. Setelah Kaien, dialah satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum. Hatiku sudah jatuh untuk pemuda yang bernama Ichigo Kurosaki ini. Aku tidak mau hidup tanpa dia di sampingku!

"Apa aku harus mencambukmu sampai pingsan untuk membawamu?! Jalan!" Seru Findor sambil menampar wajahku sekali lagi. "Cepat jalan!"

Sementara air mataku menetes lagi, bisa kudengar suara sayup-sayup entah dari mana.

"Lepaskan…"

Suara apa ini? Apakah aku sedang bermimpi?

"Lepaskan…dia…"

Apa ini hanya harapan kosongku saja? Kenapa aku masih ingin terus berharap? Padahal… kupikir semua yang telah kualami selama ini cukup untuk mematikan harapanku. Tapi kenapa…?

Kenapa aku masih berharap padanya?

"S…suara apa itu?" Findor bertanya, wajahnya yang memang pucat terlihat makin pucat.

Dia ketakutan oleh sesuatu.

Aku menoleh kembali ke bongkahan es itu. Dengan getaran yang dahsyat, rasanya es itu membuat segalanya berguncang seperti mengalami gempa bumi. Di permukaan es yang bening itu, sebuah retakan muncul, makin lama makin panjang dan lebar.

BLARRR!

Dengan suara gemuruh hebat yang penghabisan, seluruh es yang dingin itu hancur berkeping-keping seperti kaca. Aku hanya bisa terkesima melihat pemandangan menakjubkan itu.

DUAAAGGH!

Sebuah kelebatan hitam melewatiku, lalu terdengar suara dentuman yang keras, seperti suara batu karang yang berbenturan. Kemudian aku merasa jambakan pada rambutku terlepas.

Sebuah tangan hangat yang sangat kukenal menyentuh bahuku dengan lembut.

"Sudah tidak apa-apa..." Suara yang penuh kekuatan itu berbisik sangat dekat dengan telingaku. "Akan kuakhiri semua ini sekarang juga."

(Ichigo's POV)

Rasa dinginnya tangan-tangan kematian…

Rasa kantuk tak tertahankan yang akan menyeretku ke dalam tidur yang abadi…

Bisikan malaikat kematian yang menggumamkan balasan akan dosa-dosaku…

Semuanya buyar begitu aku melihat pria itu menampar Rukia. Kepasrahan sekaligus ketakutanku akan kematian semuanya berganti dengan kemurkaan begitu melihatnya disakiti. Dengan tangan kotornya ia menyentuh Rukia! Dengan tangan kotornya ia menyakiti Rukia!

Aku takkan mengampuninya!

"Lepaskan dia, dasar Vampire keparat!"
Begitu aku terlepas dari kurungan es yang dingin menusuk tulang itu, kugunakan tinju tangan kiriku untuk menghantam wajah pucat sang Vampire dengan sekuat tenaga, dan ia pun terpental jauh ke belakang.

"Sudah tidak apa-apa... Akan kuakhiri semua ini sekarang juga."

Aku menyambar tubuh Rukia, lalu mundur ke belakang untuk meletakkannya di tempat yang lebih aman, di belakang sebuah pohon. Tidak bagus memang, tapi daripada dia berada di tengah pertarunganku, ini jauh lebih baik. Aku tersenyum padanya dan menepuk kepalanya sebelum pergi.

Dengan segera aku kembali berhadapan dengan pria pucat berambut pirang yang mengancam keselamatan Rukia dengan tangannya yang kotor. Aku mengangkat ibu tangan kiriku, lalu kuacungkan ke bawah, memberinya peringatan bahwa aku takkan memberi ampun padanya.

"Kaladbolg, Limit Drive…Level 7."

Setelah kuucapkan kata-kata yang bahkan aku tak paham artinya untuk apa, aku merasakan kekuatan dalam diriku bergejolak. Sarung tangan di tangan kiriku berubah menjadi sarung tangan baja berwarna hitam, menutupi tanganku sampai pergelangan tangan. Di bagian punggung tangannya kini berhiaskan kristal ungu dengan angka 7 hijau berpendar di dalamnya.

"Master. Kini kau sudah mencapai tingkatan kekuatan yang berbeda." Suara Kaladbolg berbicara dengan lembut dalam benakku. "Kau akan memiliki teknik-teknik dan kemampuan baru. Gunakanlah kekuatanmu dengan bijak, Master. Aku, kekuatanmu, akan membantumu."

Aku tersenyum dalam pikiranku. Kehangatan dalam tubuhku berubah menjadi kekuatan yang menggebu-gebu, semangat tak tertahankan memenuhi diriku.

"Bersiaplah." Aku mengacungkan jari telunjukku padanya. "Riwayatmu sudah berakhir."

"Dasar…Keparat!" Findor mencerca, tapi kali ini bisa kudengar ketakutan dalam suaranya.

Aku melangkah maju menuju dirinya, melintasi dataran pantai yang tertutup oleh es yang dingin. Vampire berambut pirang itu mengangkat tangan kirinya yang memancarkan sinar biru, dan belasan diagram sihir biru pun tercipta di udara.

"Matilah kau, manusia rendahan!"

Harus kuakui, bahwa pertarungan ini benar-benar telah membuatku sekarat. Daripada mati konyol, bukankah tadi seharusnya aku pergi saja dan membawa Rukia bersamaku menuju tempat yang lebih aman? Bukankah itu lebih baik daripada meneruskan pertarungan yang sepertinya akan berakhir dengan kematianku? Memang lebih baik begitu, tapi…

Maaf saja kalau terdengar mengecewakan, tapi aku takkan mundur. Ichigo Kurosaki takkan mundur semudah itu… Ichigo Kurosaki takkan pernah mundur dari pertarungan apapun.

Aku berhenti melangkah. Puluhan duri es yang runcing muncul dari diagram-diagram sihir milik Findor, semuanya meluncur ke arahku, siap menembus tubuhku tanpa ampun. Mungkin aku benar-benar akan mati kalau terkena rangkaian serangan ini…

Mungkin? Pikirkan lagi.

"Cleaving Wave!"

Teknik ini diajarkan oleh Kaladbolg dengan hanya memberitahu namanya saja, dan tiba-tiba aku sudah tahu bagaimana cara melaukannya. Gelombang hitam seperti kelebatan tebasan pedang dilepaskan dari gunsword-ku, mengenai duri-duri es yang mengarah padaku dan mencincang mereka menjadi serpihan-serpihan es kecil. Duri-duri es yang lain diluncurkan, dan aku mengulangi jurusku untuk menangkalnya.

Semua duri es itu hancur sebelum bisa mengenaiku.

Aku tersenyum tipis ketika kulihat wajah Findor memucat, lebih pucat dari sebelumnya. Pemandangan yang buruk sekali di mataku ini semakin parah ketika aku melancarkan serangan balasan. Aku mengumpulkan dust hitam di gunsword-ku, lalu kutebas udara dua kali

"Black Tornado!"

Angin ribut yang tidak normal, karena berwarna hitam menerjang ke depan dengan ganas menuju Findor. Entah karena apa, dia lambat merespon seranganku. Mungkin dia terkejut melihat serangannya diatasi semudah itu.

Angin hitam itu mengangkat Findor beberapa meter ke udara, menggasak tubuhnya. Luka sayatan muncul satu-persatu di tubuh Findor, angin hitam itu tampaknya memiliki ketajaman layaknya pisau belati, dan Findor melayang di dalam angin itu, tak mampu melepaskan diri. Dan baru saja aku mulai menikmati pemandangan menyedihkan di hadapanku saat angin hitam yang kulepaskan itu berhenti, menjatuhkan Vampire berambut pirang itu dengan keras ke tanah.

"Aarggh!"

Aku kembali tersenyum tipis, dan aku melanjutkan langkahku mendekati Vampire itu. Sayang sekali langkahku harus terhenti lagi, karena Findor sudah melompat bangun dan melompat ke udara. Dia melayang di udara, ditopang oleh diagram sihirnya, dan belasan diagram sihir biru muncul di udara, lebih banyak dari yang sebelumnya.

"Jangan sombong kau, dasar manusia…!" Teriak Findor. "Jangan kau pikir itu saja sudah cukup untuk mengalahkanku!"

Puluhan es runcing dan tombak-tombak es yang panjang ditembakkan kepadaku, dan ini mendesakku untuk mengeluarkan sebuah teknik demi menangkis serangan itu. Sebuah teknik pertahanan yang akan melindungi diriku bagai sebuah perisai.

"Dark Aegis!"

Aku menancapkan gunsword-ku ke tanah. Aku menyalurkan dust yang kumiliki kepada Kaladbolg, dan dengan cepat dia menciptakan pelindung untukku. Sebuah dinding kegelapan yang hitam pekat membentang di hadapanku, berdiri kokoh dan padat.

Mau setajam apapun duri stalaktit dan tombak dari es yang menyerangku itu, mereka semua pecah berkeping-keping saat menghantam dinding kegelapan yang kubuat, tak mampu melukaiku sedikit pun. Setelah semua serangan itu ditangkal seluruhnya, aku mencabut gunsword-ku dari tanah dan dinding pertahananku pun runtuh dengan sendirinya.

Wajah Findor kembali diliputi horor. Sebagai respon, kali ini aku tak tersenyum lagi, tapi aku menatapnya tajam dan kembali mengangkat ibu jariku, mengacungkannya ke bawah, memberinya vonis hukuman untuknya karena sudah menyakiti Rukia.

"Tamat riwayatmu."

Dan dengan berlari, tak berjalan lagi, aku menyongsongnya. Findor dengan gigih mempertahankan dirinya. Belasan duri, tombak, pilar, bahkan paku raksasa dari es dia munculkan untuk menghadangku. Aku menghindari serangan-serangan itu dengan mudah, kini aku bisa membaca pola serangannya… apalagi ia sedang dalam keadaan panik. Kalau tidak kuhindari, ya kuhancurkan saja es-es itu.

Saat aku sudah mengatasi semua serangannya, tiba-tiba naluriku memberiku tanda bahaya. Sinar biru dengan intensitas yang begitu dahsyat bercahaya di tangan Findor, membuat suhu sekitarku yang memang sudah dingin menjadi semakin dingin. Perasaan ini…aku tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

"Eis de Magica, Frostenhorn!"

Semuanya bagaikan gerakan lambat, aku melihat sinar biru itu memancar dari tangan pucat Findor, melesat cepat menuju diriku. Semua yang dilewatinya membeku dalam sekejap, bahkan es sekalipun dibuatnya tertutup oleh kebekuan yang dia berikan.

Tak diragukan lagi, aku pasti akan mati kalau aku terkena serangan kali ini. Tapi aku sekarang bahkan tidak merasa takut, bukan karena aku pasrah untuk mati, tapi karena aku tahu aku bisa mengatasinya sekarang. Aku hanya berdiri diam, gunsword-ku kugenggam erat di tangan.

CRAASSSSH!

Dengan satu tebasan vertikal yang kulancarkan sekuat tenaga dari bawah, sinar biru yang mengandung hawa dingin yang luar biasa itu terbelah menjadi dua, dan membekukan daerah di kiri-kananku. Aku sendiri sama sekali tak terpengaruh oleh serangan ini, dan bisa kulihat keterkejutan yang luar biasa di wajah Findor yang pucat.

Jelas sekali dia terguncang, melihat sihirnya yang terhebat bisa kutangkis dengan satu tebasan sederhana.

"Mustahil…kenapa…" katanya sambil melangkah mundur, pelan-pelan. "Kenapa…makhluk rendahan sepertimu… ini…mustahil…"

"Tidak mustahil, kok." Aku memutar-mutar gunsword-ku seperti baling-baling. "Karena kalau itu memang mustahil, aku akan mengubahnya menjadi TIDAK mustahil bagaimanapun caranya."

Aku mempercepat langkahku, dan jarak antara kami semakin dekat. Jarak sekitar 20 meter sepertinya membuatnya yakin kalau nasibnya tidak akan bagus sama sekali, terlihat dari raut wajahnya yang ketakutan sekaligus tak percaya. Tapi kalau dia sudah mengira-ngira bagaimana akhir terburuk baginya, maka itu terlalu cepat, karena aku punya hal terakhir yang bisa kutunjukkan sebelum riwayatnya kuakhiri.

"Kaladbolg." Aku menyandangkan gunsword-ku di bahuku. "Black Distortion, Regalian Mode."

Dust hitam yang pekat menyelimuti pedang di tanganku, mengubah bilah lurus pedang itu menjadi berliku seperti ular. Aku mengeratkan genggamanku, siap untuk melancarkan serangan penghabisan pada musuhku…seorang Vampire berambut pirang yang kini ketakutan di hadapanku.

"Kau takkan kumaafkan." Kataku pelan.

"A..apa?"

Jika aku yang menghadapinya sekarang adalah Ichigo Kurosaki yang dulu, mungkin aku akan pergi dan meninggalkannya begitu saja tanpa membunuhnya. Tapi saat aku mengingat wajah Rukia saat bertemu dengannya, aku menyadari sesuatu. Ekspresi yang penuh ketakutan akan penderitaan…jelas-jelas bukan sesuatu yang ditimbulkan oleh kebahagiaan, akan tetapi rasa sakit, kesedihan dan kebencian…

Aku tahu pria ini adalah salah satu dari penyebabnya. Entah apa yang telah dilakukannya pada Rukia dulu, tapi jelas bukan sesuatu yang menyenangkan, melihat reaksi gadis itu. Untuk itu aku takkan memaafkannya.

"Apa kau tahu sudah berapa lama dia menderita?" aku melangkah lebih dekat padanya.

"Bi…bicara apa kau?" Findor terbata, dia kembali berjalan mundur dengan lambat. "Ma..mana aku tahu… bicaramu itu ngawur…aku—"

"Tutup mulutmu."

Aku menukas dengan suara tajam bagaikan silet, dan walaupun itu kukatakan dengan pelan, aku tahu dia mendengarnya karena dia sudah bungkam seribu kata.

"Kau pasti TAHU. Dan tentunya kau MENGERTI kan apa maksudku?"

Dia mulai gemetar, dan kupercepat langkahku sambil menatapnya dengan tatapan tertajam yang kumiliki.

"Kalian ini Vampire? Masa bodoh dengan itu semua. Bahkan jika kalian Iblis atau Dewa sekalipun, aku tak peduli. Bahkan sekalipun kalian punya sihir ataupun kekuatan kegelapan…itu tak jadi soal." Aku berkata dengan pelan, tapi rasanya suaraku bagai bergema di seluruh tempat itu. "Kalau kalian mencoba menyentuh Rukia dengan tangan kotor kalian, akan KUBINASAKAN kalian sampai tak bersisa dari muka bumi ini!"

Findor melangkah mundur sekali lagi, tapi apa dia pikir aku akan membiarkannya lolos begitu saja? Kegelapan di pedangku semakin bergejolak, makin gelap dan kelam. Aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi, bersiap melancarkan serangan terakhir.

"Dan yang mendapat giliran pertama adalah…KAU."

Aku berlari menyongsong Vampire berambut pirang yang kini gemetaran di tempatnya berdiri, ketakutan menguasai dirinya sampai dia tak bisa bergerak selangkahpun dari sana.

"Ja…jangaaaaan!"

"Serpent Judgement…" keluar dari mulutku begitu saja, seakan aku sudah mengetahuinya, nama sebuah teknik yang menunggu untuk kuucapkan. "World Piercer!"

Pedangku menembus perutnya, dan ledakan dust hitam menggelegar di belakang tubuhnya, ledakan itu juga mengenaiku dan segalanya menjadi hitam pekat…

Segalanya.

(Rukia's POV)

Ledakan kegelapan terjadi saat serangan Ichigo tepat sasaran mengenai Findor. Tapi apakah kegelapan yang pada dasarnya hanyalah kehampaan yang hanya bisa merusak dan membunuh itu bisa kusebut sebagai ledakan?

Sekarang kegelapan yang pekat menggantikan es dan kabut dingin menyelimuti tempat itu. Kegelapan itu juga menghalangi pandanganku, membuatku tak bisa melihat apapun dengan jelas di dalam sana. Mungkin Ichigo itu memang kuat, tapi dia bukanlah Dewa atau apapun yang semacam itu. Tidak mustahil baginya untuk terkena dampak serangannya sendiri. Apalagi sekarang, dust hitam menyelimuti seluruh daerah pantai itu sejauh yang bisa kulihat, mungkinkah…jurus itu juga berbalik mengenainya?

Kemanapun aku melihat, tak ada tanda-tanda keberadaan ataupun kehidupan.

Mungkinkah…dia…?

"Ichigo!" aku meneriakkan namanya. "Dimana kamu…? Ichigo!"

Tak ada jawaban.

Hanya kehampaan kegelapan dan kesunyian yang membalas teriakanku. Jangankan Ichigo, Findor saja tidak kelihatan batang hidungnya. Mana mungkin sih…apa Ichigo benar-benar terkena teknik andalannya itu? Tidak, itu tidak-

Suara langkah yang terpincang-pincang membuatku langsung menoleh kearah sumber suara itu, dan

karena kegelapan yang menyelimutinya masih begitu gelap, aku hanya bisa melihat siluetnya dari jauh. Langkahnya sangat kepayahan dan tertatih-tatih, menandakan bahwa dia, siapapun itu, terluka sangat parah. Aku ingin pergi menghampirinya, tapi aku takut dia bukanlah orang yag kuharapkan. Pikiran itu saja sudah membuatku tertahan di tempatku berada, seakan kakiku terpaku di tanah.

Tapi aku menyadari kesalahanku saat kegelapan akhirnya terhapus, menyibakkan penghalang yang sedari tadi menutupi pandanganku. Sesosok pemuda berbaju hitam yang sudah robek-robek berjalan perlahan ke arahku. Dia benar-benar masih hidup…walaupun terluka parah. Darah dari lukanya menetes ke tanah, rambut jingganya lebih berantakan daripada sebelumnya…

Akan tetapi…separah apapun penampilannya sekarang, wajah pemuda itu tetap tak pernah goyah. Mata hijau-ungu miliknya menatapku dengan tatapan tajamnya yang tak ada duanya. Perlahan, mulutnya melengkung menjadi sebuah senyuman, senyum khasnya yang tak pernah gagal membuatku merona merah, membuat dadaku sesak oleh perasaan yang begitu menyesakkan, tapi menyenangkan…

Cinta. Aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya.

Air mataku mengalir tanpa bisa kuhentikan, untuk apa juga aku menyembunyikannya darinya? Aku ingin menyentuhnya, memastikan bahwa dia masih hidup dan takkan lepas lagi dari pelukanku…aku takkan melepaskannya. Ah…aku ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya padanya!

Dia menancapkan pedangnya di tanah dengan satu tangan, menopang tubuhnya yang terluka sambil menghela nafas panjang. Dengan tangannya yang bebas ia melambai padaku, sambil tersenyum lagi dan berkata,

"Hey, Rukia."

Ini semua belum berakhir…

Sebuah sosok yang diselimuti kegelapan menatap semua yang terjadi dalam pertarungan itu dengan mata merahnya yang hanya sebelah, semuanya telah berjalan sesuai dengan yang direncanakannya, semuanya ada di bawah kendalinya… giginya terlihat saat dia menyeringai dan tertawa pelan.

"Semuanya berjalan sesuai rencana. Tinggal menunggu waktunya…"


END~

Chapter selanjutnya menyusul besok atau lusa ya... perlu editing sedikit :v

Mugen no Tenma,leave~