I'M YOUR MAN, KING!
.
Pairing:
Yunjae
Disclaimer:
Semua karakter milik Tuhan dan milik mereka sendiri.. maxy cuma minjem nama… ide cerita murni dari pemikiran maxy dan ini semua hanya fiksi… ^_^
Rated:
M
Genre:
Comedy, Romance, action, genre bisa bertambah sewaktu-waktu..^^
Warning :
Fiction, YAOI, Yunjae, khayalan tingkat tinggi, ABSURD… bagi yang kurang berkenan, silahkan klick back…maxy cinta damai.. ^^
Cast:
YunJae
YooSuMin
Dan nama-nama lain yang akan muncul sewaktu-waktu
.
.
.
Annyeong... Maxy datang... TOTET.. TOTEETTT.. ^_^
Mianhe jika maxy terlalu lama bersemedi.. #deepbow
Sebenarnya maxy ingin memberitahu alasan maxy menghilang mendadak tapi sepertinya akan sangat panjang melebihi cerita maxy hehehhe… jadi maxy harap teman-teman semua bisa mengerti. Jongmal mianhe.. #deepbow.
Peluk dan cium untuk teman-teman yang bersedia memberikan review.
FlowAraa23, Milkyu, azahra88, meirah.1111, anagyunjae, Ria1, min, Ria2, onkey shipper04, snow drop 1272, Reanelisabeth, joongmax, noona, Cherish Vi, zhe, Yunjae Heart, meyy-chaan, Vic89, rinayunjaerina, de-deshim, hanasukie, MyBabyWonKyu, aprilyarahmadani, queen harkyu, oom komariah 921, jung rere, joongmax, YunjaeDDiction, MyBabyWonKyu, Mickeyrang, yunjae lovers, Dei YunJae, SimviR, MinnaYeong, ILOVEU TaeMinLyn, sexYJae, aiska jung, tri loveyunjae, JungJerin, henyani1, henyani2, narayejea, Hyukkie-chan, yla, magnaeris, yuu, YunjaeZa, njaeje, nidayjshero, yukimaria, zahra32, TriaU-KnowHero, JungHero, jeyneey, Eternal YunJae, uknowme2308, cindyshim07, YunjaeZa, vampireyunjae, Eternal YunJae, alwaysyunjae, ruixi, kim shendy, Ara Krisan, quinniee, Oryn8, Boo Bear Love Chwang, 3kjj, Dhea Kim, PURPLE-KIMlee, Isnaeni love sungmin, bambidola, lovgravanime14, starlight, yoshiKyu, jaena, kyoarashi57, hati , heehee, Jiji Joongie, Byunchannie26, AprilianyArdeta, cha yeoja hongki , renyekalovedbsk, littlecupcake noona, taki-chan , OceanBlue030415, MaxMin, , Fitsoniaaa, jema agassi, niixz valerie 5, FaMinhyuk, Andini010196, rickasanti cucan, cho kyu 549, Kim Eun Seob, YJShinki, misschokyulate2, Lee, nabratz, Dennis Park, Elzha luv changminnie , jaeromone, miss leeanna, kiki aquamarine, Dipa Woon, rizqicassie, alby, t, Shim JaeCho, RistinOk137 Suka YJ NoChangKyu, cminsa, vermilion, ShinJiWoo920202, arikashi, HanYura, kjj, Naritha, KJhwang, Rly C JaeKyu, nin nina, Mami Fate Kamikaze, Kim Eun Seob, Yunjaemin family, sayuri, redyna90, rizkyamel63, hoshi dissy, lipminnie, iche cassiopeiajaejoong, opah fumi, killuablue, ChubbyMinland, Ren, indahjae, dandelionmdeer, JaejaeNyaYunhoNyaJaejae, Rnye, mi gi cassiopeia ot5, ayyaLaksita, Ega EXOkpopers, Liendhanesia, siyunaaa, zhoeuniquee, kimfida62, Zheyra Sky, sugar day, icha teppei, xiaoboo, Oktavian, wulandari apple, Bambaya, Lilin Sarang Kyumin, Angel Muaffi, adityaaja, lee sunri hyun, verlova-yjs, Yulie Choi, ucie cassiopeia, NishaRyeosomnia, ayudesy1222, Iggy Nicki, 3v3, chindrella cindy, Minki Elfishy, ichikameyora, Choi Dande, siyunaaa, reni maniec 1, chkyumin, annisajaejoongie, dims, kc, namikaze key, jung rere, Han Yura, zaladevita, Silvayulianda, yunia, NaturalCandy1994, BooBear1013, Jungyunjae13, wiendzbica732, Lawliet Jung, YunJae, LIZNAMICHI, vichi vhan, renz0112, siyunaa, darkoyah, darkoyah nggaenggae, Qeren, zaimaelfdyodyo, jung hyun mi, liangie, Alif, retno dan para guest.
Terimakasih banyak atas masukan dan saran yang diberikan untuk maxy... jangan bosan ingatin maxy ya jika ada yang kurang pas dalam tulisan maxy.. maxy akan terus belajar agar bisa menjadi yang lebih baik.. maxy sayang kalian semua.. #hug hug hug
NOTE : Mungkin banyak yang sudah lupa cerita epep yang uda lumutan ini. Hehehehe… jadi maxy harap teman-teman bersedia meluangkan waktu untuk membaca chap sebelumnya terlebih dahulu… mianhe jika maxy merepotkan teman-teman semua… #bow
Hope you like this chap, guys.. ^_^
Don porget ripiu ye... :)
.
.
.
.
Preview:
Choi mengeratkan genggaman tangannya kearah pisau.
TES
Darah menetes dari leher Changmin.
Namun Changmin masih tersenyum, "Kita lihat sampai sejauh mana kau mampu melukaiku, appa"
DEG
KLONTAANGG
.
.
.
Part 12
.
.
.
.
Changmin tersenyum melihat ekspresi kaget Choi Ji Woon, pisau itupun terjatuh dari tangannya. "Kau pasti begitu ingin mendengarkan kata itu keluar dari mulutku, bukan?" tanya Changmin tenang.
Tak ada sahutan dari Choi Ji Woon, membuat Changmin kembali tersenyum. "tapi aku tak cukup gila untuk menyandang margamu meski mungkin darahmu mengalir ditubuhku," lanjut Changmin datar.
"Kau," desis Choi Ji Woon geram.
Changmin menatap Choi Ji Woon tanpa ekspresi. "Aku memang tak sempat bertanya siapa ayahku sebenarnya, tapi aku sudah tak peduli lagi. Aku juga tak berminat untuk melakukan tes DNA denganmu, seperti yang pernah kau tawarkan padaku dulu. Jadi, jangan memandangku seolah aku yang bersalah atas sikap yang aku pilih. Bukankah kau seharusnya yang patut dipersalahkan?" ucapan Changmin diakhiri dengan pertanyaan yang memojokkan.
Mata Choi Ji Woon semakin memerah, nampak bahwa ia sangat marah. Ucapan Changmin membuat memori lamanya kembali menguar.
.
.
FLASHBACK
.
BUGHH
"KAU GILA JI WOON_AH! Apa yang kau lakukan? Kau melakukan pembunuhan didepan seorang anak?" Maki Jung Il Woo setelah menghadiahi bogem mentah ke arah Ji Woon. Ga In sempat menelponnya untuk meminta tolong namun ia terlambat, Ji Woon telah berhasil melepaskan tembakan beberapa menit sebelum ia datang.
Ji Woon tersenyum mirip orang kesurupan, tangannya masih memegang pistol yang baru saja digunakan untuk membunuh orang. "Jangan mencampuri urusanku," desis Ji Woon. Sorot matanya benar-benar menunjukkan bahwa ia sedang murka. Ia benar-benar murka setelah mengetahui bahwa Ga In tengah mengandung anaknya saat perceraiannya dulu. Dan parahnya Ga In malah memilih hidup bersama orang lain, bukan dengannya yang notabene adalah ayah dari bayi yang dikandungnya. Ia benar-benar gelap mata hingga ia menembak namja bermarga Shim itu. Dan sekarang Ga In sedang bersimpuh darah memegang mayat suaminya.
"appaaa.." Tangis anak berumur sekitar 7 tahun yang bersimpuh didekat Ga In. Terlihat ia tak bisa menerima kematian ayahnya.
Ga In kemudian memeluk erat anak laki-laki itu, "Changmina..."
"umma"
"Dengarkan umma anak manis, jangan menangis.. kau anak umma, kau harus menjadi namja yang hebat."
Changmin mengangguk kemudian ia menatap ke arah Ji Woon yang tersenyum mirip orang gila kearahnya.
SRAK
TAP
TAP
BUGH
BUGH
BUGH
"AHJUSSIII... KEMBALIKAN APPAKU.. KAU JAHAT! KEMBALIKAN APPAKU! KEMBALIKAN APPAKU!" Changmin berlari menghampiri Ji Woon dan memukul-mukul perut Ji Woon.
GREPP
Ji Woon mencengkeram erat tangan Changmin. Bocah berusia 7 tahun itupun meringis kesakitan namun Ji Woon seperti tak peduli.
"Dia bukan appamu" desis Ji Woon
"DIA APPAKU… KEMBALIKAN APPAKU!" Changmin tetap berteriak sambil mencoba menendang kaki Ji Woon.
"DIA BUKAN APPAMU! AKULAH APPAMU! JADI DIAMLAH BOCAH KURANG AJAR!" Teriak Ji Woon sembari mengangkat kerah baju Changmin dengan satu tangannya.
Changmin terdiam, matanya menunjukkan sorot takut dan tak percaya.
"Brengsek.! Lepaskan anakku.. kau bisa membunuhnya!" Maki Ga In sambil menarik tangan Ji Woon.
Jung Il Woo mencoba membantu.
Terjadi saling tarik menarik antara Ji Woon, Ga In, dan Il Woo.
Changmin berhasil direbut oleh Il Woo
PLAKK
Ga In menampar keras wajah Ji Woon, "Setelah sekian lama, kau masih saja sama! Beginikah caramu memperlakukan anakku? Dia masih kecil... Apa kau tak waras? Kau bahkan tak pantas disebut sebagai seorang appa.." Jeda Ga In dengan memberikan sorot mata tajam ke arah Ji Woon.
Ji Woon semakin meradang
"Ingat, jangan berani kau menyentuh Changmin lagi atau aku akan membuat perhitungan denganmu!" kecam Ga In dengan berani.
"Aku Appanya! Aku berhak melakukan apapun kepadanya!" ucap Ji Woon dengan suara keras.
"KAU BUKAN APPANYA!" Sergah Ga In dengan suara lantang.
Ji Woon melotot tajam
"Changmin bukan anakmu! Namja yang baru saja kau bunuh itulah ayah Changmin! Jadi jangan pernah mengaku bahwa kau ayah dari anakku! Aku tak akan sudi memiliki anak yang menyandang margamu!" ucap Ga In penuh penekanan.
"Kau!" Geram Ji Woon
"kenapa? Kau mau membunuhku juga? Silahkan! Bunuh aku jika itu mampu membuatmu puas, BUNUH AKU!" Teriak Ga In disertai tangan yang memegang pistol di tangan Ji Woon.
Entah apa yang ada di pikiran Ji Woon saat itu, yang jelas ia mengaktifkan pemantiknya.
"JI WOONHYUNG!" Teriak Jung Il Woo
DORR
SRAKK
BRUKK
Entah tangan siapa yang menekan pistol tersebut, yang jelas Ga In telah jatuh tak bernyawa. Beruntung Il Woo sempat menutup mata Changmin agar tak melihat peristiwa tragis itu.
Semua melambat
Bagai adegan Slow Motion dalam film action.
Semua mata memandang tak percaya
"UMAAAA!" Changmin yang menyadari ummanya telah tak bernyawa hanya bisa berteriak pilu.
Jung Il Woo memeluk Changmin erat, air matanya menetes. "Kau gila! Kau bahkan membunuh ibu dari bocah yang kau akui sebagai anakmu? Kau benar-benar gila!" Geram Il Woo.
"Kemarikan Changmin!" teriak Ji Woonmirip orang kesurupan
"Aku tak cukup gila membiarkan anak tak berdosa menjadi pelampiasan kemarahanmu!" ucap Il Woo kemudian menggendong Changmin.
"Kembalikan anak itu atau aku akan memporak porandakan semua yang kau punya! Sudah Cukup kau mengurusi semua urusanku dan merusak hidupku! KEMBALIKAN ANAK ITU, JUNG IL WOO!" teriak Ji Woon marah.
"Tak ada yang merusak hidupmu selain dirimu sendiri, berhenti menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada hidupmu. Kau hyungku, kau satu-satunya keluarga yang aku punya. Meski mungkin kau tak beranggapan sama. Selama ini aku tetap mencoba membantumu meski kau selalu mencoba menutup mata atas semua bantuan yang aku berikan. Tapi kali ini kau telah keterlaluan. Dan aku, benar-benar tak bisa membiarkan kau semakin tak terkendali."
"BERHENTI MENGGURUIKU! DAN KAU BUKAN ADIKKU!"
"Geure.. kalau itu maumu.. kau memang bukan hyungku dan aku juga tak akan lagi repot untuk memikirkanmu...Sungguh Sayang sekali… hubungan baik keluarga kita harus berakhir seperti ini. Aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baiksetelah ini," ucap Il Woo lalu berjalan menuju pintu kediaman Ji Woon sambil menggendong Changmin yang masih setia menangis.
"AKU AKAN MENGHANCURKANMU!" Ancam Ji Woon dengan suara lantang.
Il Woo berhenti dan menoleh, "Kita lihat sampai sejauh mana kau mampu menghancurkanku," ucap Il Woo sambil tersenyum. "Tapi yang jelas aku akan melindungi keluargaku hingga melebihi batas kemampuanku" lanjut Il Woo yang kemudian pergi keluar ruangan.
.
.
.
FLASHBACK END
.
.
.
SRAKK
Choi Ji Woon berdiri sambil menggenggam erat tangannya. Memori lamanya benar-benar membuat luka yang susah payah ia sembuhkan kembali menganga. Luka yang membuatnya selama bertahun-tahun ini diliputi kegelisahan dan rasa bersalah (?). Luka lama yang membuatnya melakukan hal-hal di luar akal normal.
Kesenduan tergambar jelas di wajah pemimpin kelompok dagang wilayah barat itu.
Changmin menatap Choi Ji Woon dalam diam. Entah apa yang ada dipikirannya namun yang jelas Changmin terus menatap namja yang mungkin (?) adalah appanya itu.
Tapi tak lama kemudian terdengar tawa dari mulut Choi Ji Woon. Bibirnya menyunggingkan senyum tak percaya dan mata tuanya menatap Changmin tajam, "Sama seperti ibumu, kau juga sangat pandai membuatku muak."
Changmin memandang Ji Woon tanpa ekspresi.
"Dengarkan aku baik-baik. Pertimbangkan lagi tawaranku, aku akan memberikanmu waktu." Ucap Ji Woon tenang,
Changmin hanya tersenyum tenang yang membuat Ji Woon kembali geram.
"Aku ingin lihat apakah kau masih bisa tersenyum seperti itu jika aku benar-benar akan menghabisi Jung kali ini," ucap Ji Woon tegas.
Pertanyaan Choi Ji Woon membuat senyum Changmin memudar.
BRAKKK
"Tuan Choi!" Panggilan tergopoh-gopoh terdengar setelah pintu ruangan terbuka cukup keras.
Nampak Choi Ji Woon merengut tak suka melihat sikap kurang sopan anak buahnya itu. "Apa yang membuatmu bernyali untuk membuka pintu sepetti itu."
"Mianhe Tuan, hamba hanya ingin memberikan informasi penting," ucap anak buah Choi sambil menunduk hormat.
Choi Ji Woonpun membelakangi Changmin dan mulai berjalan mendekati anak buahnya, "JIka bukan benar-benar hal penting maka bersiaplah untuk mati." Ucap Ji Woon tenang tapi sangat mengancam.
"Hamba yakin ini berita sangat penting dan menggembirakan untuk Tuan," ucap anak buah Choi sangat yakin.
"Katakan secepatnya!"
"Kami berhasil menembak Jung"
DEG
Perkataan anak buah Choi membuat Changmin membelalak kaget.
Ji Woon memandang riang kearah anak buahnya, "Kalian berhasil menembak Jung Yunho?" tanya Ji Woon memperjelas.
"Ne, Tuan..."
Ji Woon terdiam sejenak, matanya memicing tajam dan perlahan menoleh kea rah Changmin seolah sedang mengintimidasi.
"Kau dengar itu?" Tanya Choi Ji Woon yang nyaris mirip dengan ejekan.
Changmin hanya memandang tajam kea rah Ji Woon.
"Ahahhahha.." Tawa Ji Woon menggelegar. "Katakan, siapa yang berhasil menembak si Jung itu?" lanjut Ji Woon dengan antusias.
"Soo Hyun, Tuan"
"Soo Hyun?"
"Ne.. brandalan yang baru Tuan selamatkan di dekat markas beberapa minggu yang lalu." Jelas anak buah Choi.
Ji Woon terdiam, mengerutkan keningnya seolah sedang mengingat siapakah Soo Hyun itu. Namun tak lama kemudian ia tertawa keras. "berguna juga ternyata anak itu… ahahahhaa"
Semua anak buah Choi pun ikut tertawa.
"Suruh dia segera ke sini!" perintah Ji Woon masih dengan tawa puasnya.
Salah satu anak buah Choi mengangguk mengerti.
"Oiya.. satu lagi.. panggil Yoon Hwa juga," ucap Ji Woon memberikan perintah lanjutan.
"Ne Tuan." Sahut salah satu anak buah Choi dan dengan segera keluar ruangan.
Disaat Ji Woon tertawa lepas, tangan Changmin gemetar hebat dan giginya menggigit bibirnya erat, seolah sedang menahan air mata untuk tak keluar. Pikirannya menerawang jauh, mencemaskan kondisi Yunho.
Tak lama kemudian muncullah namja muda yang memasuki ruangan dengan hati-hati. Choi Ji Woonpun dengan tertawa bangga mulai menghampiri Yoon Hwa dan Soo Hyun. Ia bahkan menepuk bahu kedua anak buahnya itu berkali-kali karena senang, "Yah.. kalian hebat!" puji Ji Woon antusias.
Namja bernama Yoon Hwa itupun tersenyum canggung sambil mengangguk pelan. Begitu juga dengan Soo Hyun. Sangat jarang sekali bosnya itu memberikan pujian, terlebih kepada orang baru seperti mereka.
Orang baru?
Ya, Soo Hyun dan Yoon Hwa adalah anak buah Choi yang masih terhitung baru. Belum ada setahun keduanya bergabung dengan kelompok Choi. Namun prestasi mereka sudah mampu membuat Ji Woon bangga. Bagaimana tidak, Yoon Hwa telah berhasil menembak Changmin dan membawanya ke markas, sedangkan Soo Hyun telah berhasil melukai Yunho. Jelas itu membuat Ji Woon sangat senang.
"Kalian benar-benar membuatku bangga." Lanjut Ji Woon yang terus memuji.
Sekali lagi Yoon Hwa dan Soo Hyun hanya mengangguk pelan, "gamsahamnida, Tuan" gumam keduanya yang nyaris bersamaan.
"Yah… kenapa kalian canggung begitu.. kalian sudah melakukan kerja yang bagus. Tertawalah…!" ucap Ji Woon yang masih belum bisa menutupi rasa senangnya.
Beberapa anak buah Choipun ikut tertawa seolah merayakan keberhasilan mereka.
Namun Yoon Hwa dan Soo Hyun masih saja canggung. Keduanyapun secara tidak sengaja menatap kea rah Changmin. Kemudian mereka berdua secara bersamaan segera mengalihkan pandangan, entah kenapa mereka tak berani memandang Changmin terlalu lama. Mereka merasa takut melihat sorot mata Changmin yang seolah siap menerkam mereka sewaktu-waktu.
Changmin memang tengah memandang Yoon Hwa dan Soo Hyun dengan lekat dan tanpa mengalihkan pandangannya. Changmin memandang namja muda itu dengan seksama. Ia tak mengeluarkan sepatah katapun tapi dari tatapan matanya seolah mengatakan banyak hal.
Ji Woon memutar tubuhnya, ia berjalan mendekati Changmin dan berjongkok di depannya. "Kau dengar itu? Kami berhasil melukai hyung yang kau sayangi itu." Ucap Ji Woon sangat tenang dan pelan. Matanya benar-benar sedang memandang tajam ke arah Changmin, "Dengar baik-baik…Aku benar-benar akan menghancurkan Jung, keluarga yang paling kau sayangi melebihi keluargamu sendiri itu. Dan asal kau tahu, seperti halnya kau yang tak peduli siapa appamu, akupun juga sudah tak lagi peduli siapa kau sebenarnya. Persetan kau anakku atau bukan."
Changmin masih mencoba diam
Melihat Changmin yang masih terlihat tak terprovokasi, Ji Woon pun semakin memutar otaknya. "Kami sudah berhasil melukainya dan setelah ini kami akan membunuhnya secara perlahan. Tak perlu membuatnya mati secara cepat, yang aku butuhkan adalah dia mati karena tersiksa." Ji Woon menghentikan sejenak kalimatnya. Tangannya memegang rambut Changmin perlahan.
SRAKK
Beberapa helai rambut Changmin sudah berada di tangan Ji Woon sekarang, bibirnyapun menyunggingkan senyum penuh makna, "Tinggal memberikannya sebuah bukti bahwa kau adalah bagian dari kami, maka itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mati perlahan. Seorang adik angkat yang sangat disayanginya ternyata adalah bagian dari musuh mereka. Fakta itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menderita, bagaimana menurutmu? Hmmm?" Tanya Ji Woon yakin.
DEG
Raut Wajah Changmin kembali menegang.
"ahahahahhaha" tawa Ji Woon menggema ketika melihat Changmin yang mulai terprovokasi. Ji Woon pun kembali mendekat kea rah Changmin, "Wae? Kau tak percaya jika aku akan melakukannya? Atau kau masih ingin mendengarkan hal yang lebih mengejutkan daripada itu? Kau ingin tahu rencanaku selanjutnya?" Tanya Ji Woon percaya diri.
Ji Woonpun merogoh sakunya dan memperlihatkan selembar foto kepada Changmin. Pria berjas hitam dan memakai logo pengawal kerajaan terpampang didepan wajah Changmin. Ji Woonpun tersenyum melihat wajah penasaran Changmin.
"Kau tahu siapa dia?"
Changmin diam namun terus mengamati foto itu.
Ji Woonpun kembali tersenyum, "Dia adalah pengawal Hwangtaeja Kim Jaejoong yang sewaktu-waktu bisa membunuh putra mahkota yang tak berguna itu."
DEG
'Ada penyusup di kerajaan!' Ucap Changmin dalam hati. Mata Changmin memandang Ji Woon tajam, "KAU GILA!"
"AHAHAHAHAHA… Teruslah berkata seperti itu karena hanya itu yang bisa kau lakukan sekarang ini…" ejek Ji Woon jelas.
Changmin memandang garang namun ia tak mampu berbuat apa-apa karena tangan dan kakinya masih diikat.
"Kenyataan tentangmu dan kematian hwangtaeja sudah lebih dari cukup untuk membuat si Jung itu mati perlahan! Tinggal menunggu perintahku dan BOOM..! Semua akan berjalan sesuai rencana… Ahahahahaha…!" Tawa Ji Woon puas.
Gigi Changmin menggigit geram. Sungguh sulit bagi dirinya untuk berpikir jernih sekarang.
"Jadi, tetap ingin berada di posisimu sekarang dan banyak yang terluka, atau berpihaklah kepadaku dan kau mampu melindungi 2 orang yang kau sayangi itu?" tawar Ji Woon sekali lagi
.
.
.
Di sisi lain
"Is it true?" tanya Jaejoong sambil memberikan selembar kertas yang membuatnya pergi di pagi buta ke Gwangju.
Yunho mengamati kertas tersebut. Dari bentuk tulisannya terlihat bahwa skema itu dibuat Jaejoong dalam waktu singkat. Yunhopun tersenyum. "Apa ini yang membuatmu sampai disini tadi pagi?" Tanya Yunho sembari menahan sakit dibahunya.
"Apa itu benar?" Jaejoong balik bertanya
"Jawaban apa yang ingin kau dengar?"
Jaejoong nampak terdiam sesaat, "Aku harap ada yang salah"
Yunho kembali tersenyum, "Kalau kau sendiri tak yakin dengan kesimpulanmu, kenapa kau membawanya kepadaku?"
"Aku..." Jaejoong sedikit ragu dengan kata yang akan ia ucapkan. "hanya ingin memastikan," lanjutnya nyaris tak terdengar.
"Apa ini yang membuatmu murung hari ini?"
"Jujur saja iya," jawab Jaejoong jujur.
"Bagian mana yang mengganggu pikiranmu?"
"Apa harus aku perjelas?" Jaejoong balik bertanya dengan nada sedikit kesal karena melihat Yunho yang tampak tak serius menanggapinya.
Yunho tertawa kecil kemudian ia kembali melihat lembaran skema yang Jaejoong buat.
"Seriuslah.. bukankah kau mau membantuku?" Tanya Jaejoong dengan pout sempurna.
Yunho mengangguk kecil sambil tersenyum ke arah Jaejoong. Sedangkan Jaejoong tak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya mengamati Yunho yang nampak serius memandang lembaran ditangannya itu.
Hening
Yunho masih memperhatikan skema itu dengan seksama. Dari skema yang Yunho lihat, nampaknya Jaejoong sudah mulai mencurigai kelompok Choi yang berada di balik kasus pembunuhan Tuan Seo. Yunho Nampak tersenyum, namun tak lama kemudian senyum itu segera memudar ketika melihat beberapa coretan yang lain.
Jaejoong nampak mengerutkan keningnya ketika melihat perubahan raut wajah Yunho.
"Jae" panggilan Yunho membuyarkan keheningan.
"mmm?"
"Kau yakin dengan skemamu ini?"
"Katakan bagian mana yang membuatmu ragu"
Yunho menggeleng pelan, "Aku hanya merasa sangat takut"
"Takut?"
"Ne…" angguk Yunho
"Apa yang membuatmu takut?"
"Kau"
"Aku?"
"Keselamatanmu"
Jaejoong terdiam sejenak sebelum akhirnya mengeluarkan pendapatnya, "Aku tahu.. penyelesaikan masalah ini mungkin akan berbahaya untukku tapi kerajaan sudah memberikan pengamanan ekstra kepadaku. Lagipula..."
"Lagipula?"
"Aku memilikimu" ucap Jaejoong sambil memegang tangan Yunho
DEG
Yunho menatap Jaejoong haru.
"Aku tahu kau sanggup melindungiku seperti saat di pulau Jeju dulu," lanjut Jaejoong yang membuat Yunho memberikan senyum indahnya.
"Tapi bukan hanya itu yang membuatku takut," ucap Yunho.
"Lalu?"
"Kita"
"Kita?"
"Ne.. kita.. kau dan aku.." jawab Yunho lirih sambil mengangguk pelan, "Aku takut jika pemecahan kasus ini membuat kita tak lagi sama" lanjut Yunho realistis, mengingat siapa dia sebenarnya.
Jaejoong menatap Yunho lekat, "Kenapa harus ada yang berubah antara kita? Apa pemecahan kasus ini berhubungan dengan kita?"
Diam
Yunho tak menjawab. Seolah sedang merancang kalimat yang tepat untuk mengutarakan pikirannya.
Jaejoong menangkupkan kedua tangannya pada kedua pipi Yunho, ia menatap mata Yunho dalam. "Yunho, ada apa sebenarnya?" Tanya Jaejoong yang mencoba mencari tahu alasan dibalik kata-kata aneh yang akhir-akhir ini sering Yunho katakan.
Yunho hanya tersenyum lemah, "Aku hanya takut jika kau akan berada dalam posisi yang sangat berbahaya dan aku… aku takut jika tak mampu melindungimu," ucap Yunho mulai mengutarakan apa yang melintas dalam pikirannya. Sudah waktunya jujur kepada Jaejoong sekarang. Setidaknya itulah yang ada di benak Yunho saat ini.
Jaejoong memandang Yunho dengan seksama kemudian menghembuskan nafas beratnya. "Yunho.." panggil Jaejoong pelan
Yunho tak bersuara namun matanya memandang kedua mata Jaejoong lekat.
"Katakan kepadaku… apa ada sesuatu yang kau tutupi?" Jaejoong mencoba mencari tahu.
Yunho hanya terdiam
"Aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dariku… tak biasanya kau tak percaya diri seperti ini. Dan akhir-akhir ini kau sering mengatakan hal yang aneh kepadaku.."
"Aneh?"
"Ne.. aneh.. kau sering mengatakan bahwa kau adalah orang jahat, kau akan meninggalkanku, dan kau tak akan mampu melindungiku…"
"Benarkah?" Tanya Yunho yang cukup kaget ketika JAejoong mengingat semua ucapannya.
"Entah kau sadari atau tidak, yang jelas akhir-akhir ini aku sering mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu. Apa kau merasa tertekan menjadi anggota kerajaan yang penuh dengan batasan dan larangan? Apa kau akan meninggalkanku? Kau tertarik dengan wanita? Kau bosan denganku? Kau menyesal menjadi pendampingku?" spekulasi yang muncul di benak Jaejoongpun akhirnya keluar.
Yunho tertawa kecil mendengar ucapan Jaejoong, ia tak menyangka jika Jaejoong akan berpikir seperti itu. "Kemarilah!" pinta Yunho sambil membuka kedua tangannya.
"Wae?" Tanya JAejoong yang kemudian mendekat
GREPPP
Pelukan perlahan diterima Jaejoong dari kedua lengan kekar Yunho.
JAejoongpun terdiam di pelukan Yunho, ia hanya meletakkan dahunya dengan nyaman di bahu Yunho.
"Saranghae.." bisik Yunho pelan
"Ck.." decak Jaejoong namun kemudian ia tersenyum. "Kenapa tiba-tiba kau mengatakannya? Apa kau melakukan sesuatu yang membuatku marah? Kau berselingkuh dengan wanita selama tak bertemu denganku?" Tuduh Jaejoong berpura-pura, padahal sebenarnya hatinya sangat berbunga-bunga mendengar kata saranghae keluar dari mulut Yunho.
Yunho tertawa kecil, "Yah! Aku rasa pikiranmulah yang aneh, Boo… Mungkinkah aku akan selingkuh jika aku sudah memiliki kau?" Tanya Yunho masih dengan senyum mengembang.
Jaejoong mempoutkan bibirnya, "Lalu kenapa kau akhir-akhir ini terus mengatakan hal-hal aneh seperti itu. Kenapa kau berkata seolah-olah kau adalah orang yang mengerikan." Ucap Jaejoong menjelaskan.
Yunhopun tersenyum, "Bagaimana kalau aku benar-benar orang yang mengerikan?"
"Asal kau bukan alien saja, aku sudah sangat bersyukur," ucap JAejoong asal.
"Mwoya…" protes Yunho dengan senyum kecil.
Jaejoongpun tertawa kecil dipelukan Yunho.
Nyaman
Pelukan ini yang sudah beberapa hari tak dirasakannya.
"Hei.. Jung Yunho!"
"mmm?"
"Jangan menggigit leherku, atau semua orang akan mentertawakanku lagi. Kau selalu memberikan tanda di tempat yang mudah dilihat banyak orang," keluh Jaejoong ketika Yunho mulai mengendus lehernya,
Yunho tertawa kecil, "Agar semua tahu bahwa kau milikku"
"Hmmfftt.." JAejoong menahan tawa.
"Wae?" protes Yunho
"Berhentilah membual!" Jaejoong menepuk punggung Yunho pelan dan hendak melepaskan pelukannya.
Namun mendadak Yunho mempererat pelukannya.
Jaejoong mengerutkan keningnya, "Yun?"
Bukannya menjawab tapi Yunho malah menarik nafasnya dengan dalam dan semakin erat memeluk JAejoong.
"Yunhoya, kau membuatku tak bisa bernafas." Lirih JAejoong
Yunho mengendurkan pelukannya namun ia masih memeluk Jaejoong. Sedangkan Jaejoong mengusap punggung Yunho, "Gwaenchana?"
"Bisakah kau tak membuatku takut?" gumam Yunho lirih
"Aku?"
"Ne.. keseriusanmu menyelesaikan kasus ini membuatku sangat takut," jelas Yunho pelan.
Jaejoonpun tersenyum, "Bukankah kau yang memintaku untuk serius?"
"Aku tak ingin kehilanganmu" jawab Yunho pelan
Jaejoongpun kembali tersenyum, "Aku tahu jika kau sangat khawatir. Aku tidak akan apa-apa Yun.. Kerajaan akan memberikanku pengamanan ekstra sehingga kasus pembunuhan tim yang menyelidiki kasus ini sebelumnya tidak akan terulang lagi kepada tim yang aku pimpin." Jelas Jaejoong mencoba membuat Yunho mengerti.
Yunho tersenyum 'bukan itu yang aku khawatirkan, Jae.. aku tahu kerajaan akan melindungimu, tapi aku juga tahu bahwa aku tak mampu melindungimu untuk tetap berada di dekatku… aku takut jika kau meninggalkanku setelah kau tahu siapa diriku' ucap Yunho dalam hati. Namun Yunho tak berucap apapun, ia hanya mencoba mencari kenyamanan di pelukan Jaejoong seolah takut bahwa ia tak akan merasakan hal yang sama lagi.
Hening
Cukup lama mereka terdiam dalam posisi yang masih memeluk satu sama lain.
"Aku sungguh sangat takut jika tak mampu melindungimu," Ucap Yunho lirih sambil melepaskan pelukannya.
"Kau mulai lagi mengucapkan kata-kata aneh itu…" protes Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya. "Nan gwaenchana.. Jongmal.. kau hanya perlu istirahat untuk mengembalikan kondisimu…. Berhentilah bertingkah aneh, kau dibawah pengawasanku sekarang… Jadi jika kau tak mampu melindungiku maka aku akan melindungimu, mudah kan?" lanjut Jaejoong dengan nada yang terlihat begitu meyakinkan.
Yunho tertawa kecil, "Kau akan melindungiku?"
"Ne tentu saja" jawab Jaejoong yakin
"Jadi kau akan tetap berada disampingku? apapun yang terjadi?" tanya Yunho sambil memegang salah satu pipi Jaejoong.
"mmm" angguk Yunho. "Tentu saja.. bukankah aku sudah berjanji kepadamu?" lanjut Jaejoong santai.
Yunhopun tersenyum dan tak lama kemudian ia kembali memandang kertas yang dibawanya sedari tadi.
"Nah sekarang bantulah aku mengkoreksi hasil analisisku itu. Bukankah kau bersedia membantuku?" ulang Jaejoong meminta bantuan.
Yunho kembali mengamati skema yang telah dibuat Jaejoong, tak diragukan lagi jika Jaejoong mencurigai Choi dalam kasus Mr. Seo.
"Kenapa kau mencurigai Kelompok Choi?" Yunho mulai mencoba menggali analisis Jaejoong secara mendalam.
"Sejujurnya aku teringat ucapanmu waktu itu.."
"Ucapanku?"
"Iya… waktu itu kau bertanya kepadaku mengapa aku tak mencoba mencari kelompok dengan kasus yang paling sedikit."
"Lalu?"
"Aku menemukan kelompok Choilah yang paling bertanggung jawab atas semua kasus Mr. Seo"
"Kenapa mereka? Bukankah pada dasarnya Kelompok Jung juga bisa kau masukkan kedalam kelompok yang kau curigai?"
Jaejoong cukup tersentak atas pertanyaan yang diajukan Yunho. Kenapa Yunho malah mengusulkan kelompoknya sendiri untuk dicurigai? Bukankah ini aneh?
"Aku dan Mr. Seo kembali bekerja sama dalam beberapa tahun belakangan ini. Jadi tidak ada salahnya jika kau mencurigai kelompok kami juga. Kau tak perlu menutupinya jika kau…
"Karena tidak mungkin kau!" Sergah Jaejoong cepat.
"Kenapa?"
"Kau dan pedagang Seo sedang terlibat kerjasama yang sangat menguntungkan bagi kalian berdua dan kerajaan. Tentu kau tidak mungkin bertindak gegabah untuk membunuhnya meskipun ada konflik sekalipun.". jawab Jaejoong dengan jelas.
Yunho tersenyum, "lalu kau menjatuhkan tuduhan pada kelompok Choi?"
"Ne.. asumsi sementaraku adalah ketidakstabilan kondisi perekonomian kelompok dagang wilayah baratlah yang melatarbelakangi semua itu. Aku baru membaca arsip-arsip kelompok wilayah barat yang cukup terpuruk setelah kembalinya ke kelompok timur. Besar kemungkinan ada ketidakpuasan atau dendam yang memuncak hingga terjadi pembunuhan ini. Tapi itu hanya asumsi sementara. Aku masih harus melakukan penyelidikan lebih lanjut," Urai Jaejoong panjang lebar.
Senyum mengembang dari bibir Yunho, "Analisismu lumayan juga," puji Yunho
"Bukankah itu karena bantuanmu juga," jawab Jaejoong jujur. "Aku hanya ingin kasus-kasus ini segera selesai," lanjut Jaejoong.
Yunhopun menepuk bahu Jaejoong pelan, "Kau pasti akan menyelesaikan banyak kasus jika kau mampu membuktikan bahwa Choi yang berada di balik semua ini." Ucap yunho yakin.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?"
Yunho menatap mata Jaejoong lekat, "Kau masih ingat spider web yang aku katakan dulu?"
"mmm.." Jaejoong mengangguk pelan.
"Itu benar-benar berlaku pada kasus ini.." jelas Yunho sambil menunjukkan skema Jaejoong. "Kasus-kasus yang kau tandai ini, aku rasa memang berkaitan dengan yang ini. Kau mungkin harus menyelidiki pedagang ini jika kau ingin mengetahui apa yang terjadi di sini," lanjut Yunho dengan telunjuk yang menunjuk pasti beberapa pedagang wilayah barat.
Jaejoong nampak memperhatikan penjelasan Yunho dengan serius.
"Jadi jika kau mampu mengupas tuntas kasus ini maka kau akan menguak kasus-kasus lainnya"
Jaejoong mengangguk kecil setelah mulai memahami penjelasan Yunho.
Yunho memandang Jaejoong yang serius dengan senyum kecil. "Kasus ini sangat besar, Jae… Kau harus berhati-hati karena penyelesaian kasus ini mampu mengguncang perekonomian negara ini. Kau tahu sendiri bahwa kelompok Choi adalah pemimpin kelompok dagang wilayah barat dan Mr. Seo adalah top five pedagang terkaya di negara ini. Dengan terkuaknya kasus ini, maka akan terkuak kasus-kasus yang sebelumnya dan akan terbuka juga siapa saja pedagang-pedagang yang terlibat… mungkin diantaranya kau sendiri tak akan menyangka. Jadi kau harus sangat berhati-hati dalam menyelesaikan kasus ini. Banyak pihak yang sedang memperhatikan setiap gerak gerikmu, jika kau tak berhati-hati maka mereka tak akan segan berbuat nekat hanya untuk menyelamatkan diri mereka."
"Banyak pihak yang terlibat dalam kasus ini?"
"Tentu saja!"
"Kasus-kasus sebelumnya juga ada kaitannya dengan kasus ini?"
"Ne…"
"Jadi dengan kata lain kau meyakini bahwa semua kasus yang terjadi di kelompok timur adalah ulah kelompok Choi?" Tanya JAejoong memperjelas.
"Exactly…" Yunho mengangguk dan tersenyum.
Jaejoong masih mencoba mencerna semua kalimat Yunho.
"Tapi…" Yunho menggantungkan kalimatnya, seolah sedang mempertimbangkan semuanya.
Jaejoong memandang Yunho penuh tanya, "Tapi?"
"Analisis itu akan berlaku juga pada kasus yang sebaliknya," lanjut Yunho hati-hati.
"Sebaliknya?"
Yunho hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jaejoong sedangkan Jaejoong hanya diam, mencoba mencerna satu per satu ucapan Yunho.
DEG
Jaejoong membelalakkan matanya kaget, "Tunggu dulu.. Jika kau mengatakan bahwa kelompok Choi benar-benar berada dibalik kasus yang terjadi pada kelompok timur. Lalu, dengan kata lain, apa kau mengakui bahwa tindakan criminal yang terjadi di kelompok barat adalah ulah kelompokmu?"
"Kenapa harus kelompokku yang kau tuduh?" Yunho memancing.
"Karena hanya ada 2 kelompok dagang yang tidak banyak memiliki banyak kasus penculikan dan pembunuhan. Yaitu Jung dan Choi"
"Jadi?"
"Jika Choi bertanggung jawab atas kejahatan di kelompok timur, maka kaulah yang bertanggung jawab atas kejahatan di kelompok barat"
"Tepat sekali," jawab Yunho tanpa ragu. "Seperti yang kau gambarkan pada skemamu ini!" lanjut Yunho sambil menunjukkan skema yang digambar Jaejoong.
Jaejoong mendadak terdiam tak percaya, mulutnya mendadak kelu dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Tubuhnya melemas setelah mengetahui semuanya skemany adalah benar.
Sedangkan Yunho hanya diam, mencoba tenang setelah pengakuan yang ia buat. Ia yakin ini adalah waktu yang tepat untuk terus terang kepada Jaejoong.
Hening
Kedua namja tampan ini sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tak lama kemudian Jaejoong beranjak dari duduknya, ia berdiri dan sedang berkacak pinggang di dekat Yunho. Bibirnya berulangkali menghembuskan nafas berat, ia mencoba menenangkan diri dalam situasi seperti ini.
"Jadi…" Jaejoong memulai berbicara dengan nada yang masih tak percaya, "Jadi kau benar-benar terlibat dalam kasus-kasus mengerikan itu?" tanya Jaejoong yang ingin segera mengetahui semuanya.
"Ne.." Yunho mengangguk pelan
"Kau sungguh melakukan tindakan makar yang merugikan Negara dan kerajaan?"
"Ne…"
"Are you mafia?"
"Yes, I am…"
"Kau yakin bahwa semua kasus criminal yang terjadi di kelompok barat adalah ulahmu?"
"Ne…"
"Termasuk kasus pembunuhan terbesar yang menimpa pemimpin kelompok Daegu?"
"Ne.. that's me.." lagi-lagi Yunho mengangguk dan mengakui semua.
"Kenapa kau melakukan semua itu?"
"Karena mereka telah membunuh appaku."
"Bagaimana kau bisa yakin bahwa mereka yang membunuh appamu?"
"Bukti masih aku kumpulkan, namun aku yakin mereka dibalik semuanya" jawab Yunho pelan.
"Bagaimana jika kau salah?"
"Tidak mungkin"
"Jadi kau melakukan semua tindakan itu hanya untuk balas dendam?"
"Ne…"
"Kau mengerikan!"
"Bukankah sudah aku bilang bahwa aku mengerikan.."
"Apa sampai sekarang kau masih ingin balas dendam?"
"Ne…"
"Meski kau sudah menjadi anggota kerajaan, kau tetap ingin balas dendam?"
"Ne…"
"Apa kau tahu hukuman apa yang akan kau peroleh jika pihak kerajaan tahu kau melakukan makar?"
"Ne…" Yunho mengakui semua perbuatannya tanpa ragu sedikitpun.
"Atau jangan-jangan, kau mendekatiku hanya untuk membuat rencanamu semakin berjalan mulus. Kau mendekatiku lalu menikahiku, dan mencoba menggunakan posisimu sekarang ini untuk membalaskan semua dendammu dengan mudah?"
"NO!" Sergah Yunho cepat.
"LYING!"
"I'M NOT!"
Jaejoong menatap tajam kedua mata Yunho.
"Kau bukan bagian dari rencanaku, Jae..." lanjut Yunho mencoba menjelaskan.
"JANGAN MENCOBA UNTUK BERBOHONG LAGI, JUNG!" Mendadak Jaejoong berteriak keras. Jengkel, kesal, dan perasaan antara percaya dan tak percaya sedang dirasakan Jaejoong sekarang.
"I Swear, I'm not! Believe me!" ucap Yunho yakin.
Hening
Mata Jaejoong masih memandang Yunho tajam seolah ia ingin menguliti pendamping hidupnya atas kebohongan yang baru ia ketahui sekarang.
Sedangkan Yunho berusaha menjelaskan setenang mungkin, "Aku memang melakukan penculikan dan pembunuhan itu, apapun akan aku lakukan untuk memperoleh jawaban dari kematian appa. Tapi kau…" Yunho memberikan jeda sejenak. "Kau sama sekali tak termasuk dalam rencanaku. Tak terbersit sedikitpun niat dalam diriku untuk memanfaatkanmu dalam setiap kasusku. Keputusan yang aku ambil sebagai Jung memang memaksaku berbuat nekat. Tapi kau bukanlah keputusan yang aku ambil sebagai Jung, Kau adalah pilihanku… pilihanku sebagai Yunho. Tak banyak kejujuran yang aku lakukan. Tapi kau bukanlah kebohonganku. Semua yang aku lakukan untukmu adalah benar adanya."
Jaejoong menatap lekat Yunho, seolah mencari kebenaran dari setiap perkataannya. Sungguh, ia tak mampu berpikir jernih sekarang. Ia merasakan cinta dan penghianatan dalam waktu yang sama.
"Bertemu denganmu mungkin memang takdirku, tapi mencintaimu adalah pilihanku." Lanjut Yunho jujur. Cintalah yang membuat Yunho memilih Jaejoong dan cintalah yang membuat Yunho bertahan meski mungkin harus menghancurkan dirinya sendiri.
Perih
Mendengar kalimat manis Yunho dalam suasana seperti ini benar-benar terasa perih.
TES
Air mata Jaejoong jatuh tanpa diminta. Iapun mencoba mengalihkan pandangannya sambil menarik nafas dalam, mencoba bernego dengan emosinya sendiri.
Sakit
Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit. Benarkah cinta yang ia rasakan kepada Yunho mampu menyakitinya sesakit ini?
Sulit
Posisinya sekarang benar-benar dalam keadaan yang sulit.
"Kenapa harus aku?" Tanya Jaejoong pilu.
Yunho terdiam.
"Kenapa kau harus hadir dalam hidupku… kenapa kau memilihku… kenapa melibatkanku dalam semua ide gilamu ini?" cecar Jaejoong penuh emosi. Ia tak mampu lagi membendung pertanyaan yang membludak di kepalanya.
Yunho tak menjawab, yang ia lakukan adalah memandang Jaejoong lekat, mencoba menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Setidaknya tidak ketika kemarahan JAejoong sedang membara seperti sekarang ini.
"KENAPA KAU MENIKAHIKU JIKA KAU MERASA BAHWA INI ADALAH AKHIR DARI HIDUPMU? KENAPA TAK KAU TOLAK SAJA IDE GILAKU WAKTU ITU. KENAPA SETELAH KAU MASUK DALAM KEHIDUPANKU, SETELAH KITA LALUI SEMUA INI, SETELAH AKU MEMPERCAYAIMU, SETELAH AKU MENCINTAIMU LALU KAU MENGATAKAN HAL YANG SEHARUSNYA KAU TUTUPI.. WAE YUNHOYA… WAE….?!" Teriak JAejoong pilu. Ia sudah sangat mirip dengan orang gila, gila karena sulit percaya bahwa namja yang telah dicintainya adalah musuh kerajaan.
Yunho masih memandang Jaejoong dalam diam.
"TELL ME! WHY DID YOU DO THAT? TELL ME… JUNG YUNHO!" jaejoong kembali berteriak sambil memandang nyalang ke arah mata Yunho.
"Because I love you, Jae!" jawab Yunho tenang
DEG
"You make me sick, Yunhoya!" ucap Jaejoong yang masih terdengar kesal.
"Jae"
"These damn feelingsmake me sick.. you make me feel in heaven but you drag me to the hell in no time! This is crazy... DAMN!"
"JUST BELIEVE ME!" Yunho mencoba berteriak, "Arghh.." rintih Yunho ketika ia merasakan ngilu di bahunya.
Tangan Jaejoong hendak membantu Yunho, namun sakit hatinya menghalangi Jaejoong untuk melakukan itu sehingga ia hanya mampu memandang Yunho nanar, 'Jadi, inikah maksud ucapanYunho beberapa minggu belakangan ini yang selalu meminta kepadanya untuk percaya kepadanya?' Tanya Jaejoong dalam hati.
Melihat Jaejoong yang menatapnya kesal, Yunhopun mulai berbicara, "Aku tahu kau membeciku sekarang, tapi tahukah kau bahwa jauh sebelum kau membenciku, aku telah membenci diriku sendiri?"
DEG
Jaejoong terhenyak mendengar ucapan Yunho.
"Kau datang disaat aku tengah serius membalaskan dendamku… Sejujurnya, aku sudah tahu bahwa kau akan menghalangi semua rencanaku. Tapi sungguh… aku tak mampu menolakmu, aku ingin memilikimu, sangat ingin… hingga aku tak peduli lagi bahwa keinginanku itu akan menyakiti diriku sendiri." Yunho memberikan jeda sejenak.
Sedangkan Jaejoong masih memandang Yunho dalam diam, seolah sedang menunggu apa yang akan dikatakan Yunho selanjutnya.
"Aku gila.. sungguh sangat gila…. bahkan Changmin dan Yoochun telah mengatakannya dengan jelas. Tapi aku benar-benar tak mampu menghentikan diriku sendiri untuk tak mencintaimu. Kau benar-benar telah memikatku.." Ucap Yunho sambil menatap mata Jaejoong lekat. Tangan Yunho menjulur untuk memegang pipi Jaejoong, "I'm totally captivated by you.." ucap Yunho jujur.
Jaejoong melihat kejujuran di mata Yunho.
"Kau bahkan membuatku merasakan perasaan yang selama ini tak pernah aku rasakan sebelumnya."
"Apa?" gumam Jaejoong lirih.
"Takut…" Yunho memberikan jeda sejenak. "Kau benar-benar membuatku merasakan rasa takut. Aku takut jika nanti tak bisa melihat wajahmu lagi, aku takut jika kau tak berada disisiku lagi, aku takut jika kau tak lagi menggenggam tanganku, aku takut jika kau menjadi milik orang lain… aku takut… sungguh sangat takut.." Yunho berhenti sejenak, ia menghela nafas seolah sedang bernego dengan nyeri yang dirasakannya.
Jaejoong tahu bahwa Yunho sedang menahan nyeri, ingin rasanya menolong Yunho tapi sebelum Jaejoong bergerak Yunho sudah kembali berbicara.
Yunhopun memandang kedua mata Jaejoong dan tersenyum tipis, "Bukankah aku terlihat menyedihkan? Obsesiku terhadap dirimu sungguh sangat mengerikan… Aku bahkan tak peduli lagi jika cintaku membahayakan orang-orang disekitarku… Changmin, Yoochun, dan Jung benar-benar sedang aku korbankan sekarang. Bukankah ini gila? Tindakanku sungguh sangat tak rasional… Tapi meskipun aku tahu bahwa semua itu tak rasional, aku tetap tak mampu menghentikannya. Dan aku benar-benar membenci diriku sendiri karena tak mampu menghentikan kegilaanku kepadamu…." Jelas Yunho pelan.
Terenyuh
Itulah yang dirasakan Jaejoong sekarang, entah hipnotis apa yang dimiliki Yunho, yang jelas amarahnya tak seperti beberapa waktu yang lalu. Jaejoong melunak sekarang, dapat terlihat jelas dari sorot matanya yang sudah sedikit melunak.
"Jangan membuatku bingung, kenapa kau menceritakan semuanya kepadaku?" ucap Jaejoong pelan.
Yunho menatap Jaejoong lemah, "Aku hanya ingin kau mengerti dan tak menyesali semua keputusanmu setelah ini."
Jaejoong mendekat kepada Yunho, "Kau benar-benar mencintaiku?"
"Sangat," jawab Yunho sambil mengangguk.
Jaejoong meneteskan air matanya untuk kesekian kali. Ia terduduk lemas karena pergolakan batin yang ia rasakan. Jaejoong benar-benar tak mampu berkata apapun sekarang. Ia bahkan tak tahu apa yang akan ia perbuat setelah ia mengetahui semua ini.
.
.
.
.
CUIH
Ludah Changmin mendarat tepat di wajah Ji Woon. Nampak Ji Woon terpejam geram, "Jadi ini jawabanmu?" Tanya Ji Woon sangat geram.
Changmin hanya diam sambil memandang tajam ke arah Ji Woon.
Ji Woonpun mengangkat salah satu tangannya, tak lama kemudian salah satu anak buahnya mendekat. "Lakukan plan B… buat Jung itu menanggung semua keputusan adiknya ini!" ucap Ji Woon kemudian berjalan keluar ruangan.
"TUNGGU!" Teriak Changmin menghentikan langkah Ji Woon.
Ji Woonpun membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah Changmin.
"Aku akan melakukannya!" ucap Changmin singkat namun cukup untuk membuat Ji Woon tertawa keras.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.==.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.==.=.=
Bagaimana? Apa yang akan dilakukan Jaejoong setelah mengetahui siapa Yunho sebenarnya? Dan apakah Changmin benar-benar mampu menghianati Yunho?
Stay Tune Ne…
Next episode akan rilis besok.
Setelah hiatus tanpa pamit dan dengan waktu yang lama pula.. maka maxy akan menebus kesalahan maxy dengan update secepat mungkin.. ^_^
Terimakasih bagi teman-teman yang masih bersedia membaca kelanjutan IYMK ini.. jongmal gomawoyo bagi yang sudah lama menunggu.. maxy sayang kalian semua… #hug hug hug
.
