COSMIC RAILWAY
Biancadeo
.
.
ELEVEN
.
"KELUAR DARI SANA BODOH! CEPAT! KYUNGSOO AKU PERINTAHKAN KAU KELUAR DENGAN CEPAT ATAU—"
Jongdae berhenti berbicara begitu jaringan tiba-tiba terputus, bartender itu mendapati lututnya melemas, air mata mengalir dari pelupuk mata dan ia terduduk dilantai sembari meronta. Tidak pernah terfikir dalam otak bahwa segala gerakannya akan terbaca musuh, Youngha adalah lambang kuasa Korea, tidak ada yang menandingi bahkan itu hukum sekalipun.
Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak!
Kejadian itu berlangsung cepat dan Kyungsoo hanya menyadari dirinya kini ditempatkan diruang gelap dengan keadaan terikat. Apa yang terakhir kali diingatnya adalah penyergapan mendadak oleh beberapa pria besar, mereka dalam jumlah banyak menerobos masuk kedalam ruang dan Kyungsoo tidak punya banyak tenaga untuk melawan. Eunha masih disisi Kyungsoo, gadis itu dengan kelopak yang bengkak sedang menatap lantai. Pikiran Kyungsoo kini kacau, ia mengutuk semua orang, mengutuk rencana busuk Jongdae serta kebodohan didalam otaknya. Namun semuanya sudah terjadi dan Kyungsoo menyadari niat baik dari teman terdekat.
Kyungsoo menoleh kearah gadis dengan tubuh rapuh disamping. Eunha mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis dan mengeluhkan nama Jongdae, maka dengan gerak lamban si pria mencoba untuk menyentuh Eunha dari samping, seakan menyadarkan gadis itu bahwa Kyungsoo akan ada disana.
"tidak apa-apa, kau tidak sendirian. Aku punya banyak pasukan dan kita akan keluar dari tempat bau ini secepatnya" itu adalah sebuah kebohongan. Kyungsoo memang membayar banyak orang untuk keamanan namun saat ini ia bahkan tidak tahu bagaimana menghubungi mereka. Sejujurnya pria itu curiga mengapa orang-orang ini hanya mengikat pergelangan tangan dan kaki tanpa menutup mulut, tentu Kyungsoo dan Eunha bisa berteriak dan mereka bisa ketahuan. Namun ia memutuskan untuk mengabaikan fakta itu, memilih untuk berfokus pada Eunha serta memutar otak untuk memikirkan cara keluar dari sini.
"apa ada cara untuk keluar dari sini?" si gadis bertanya dengan khawatir. Maniknya berkedip begitu melihat Kyungsoo hanya terdiam tanpa mencoba untuk memberi respon berarti.
"apa menurutmu jika kita berteriak, seseorang diluar akan mendengar?" Kyungsoo bertanya. Gadis itu mengkerutkan alis sebelum kemudian memutar bola mata dengan malas
"Oppa, kau akan menghancurkan pita suaramu? Tempat ini kedap suara, bagaimana bisa ada yang mendengar?" dengan itu Kyungsoo melihat sekeliling sembari membenarkan apa yang diucap oleh Eunha. Ini benar kedap suara, pantas saja mereka tidak menutup mulut tawanan, Stupid Kyungsoo.
"Oppa, kita harus mencari benda tajam untuk melepas ikatan sialan ini, ini terlalu kuat" di gadis berucap lagi, maniknya mulai mencari benda tajam yang sekiranya bisa membantu.
"mungkin benda itu berguna! Kita hanya perlu mundur sedikit, kau duluan"
Kyungsoo menunjuk potongan kaca agak jauh dibelakangnya dengan dagu. Pria itu bergeser sedikit untuk mempersilahkan Eunha mundur duluan kebelakang. Gadis itu mengiyakan, namun saat ia memutuskan untuk mundur, tiba-tiba pintu digebrak dengan keras.
Kyungsoo terkejut begitu pintu dibuka dengan agak memaksa, segera ia menggeser tubuhnya untuk menutup Eunha. Panik mulai menerjang namun ia berusaha untuk mengendalikan diri, mengingat Eunha masih perlu perlindungan dibelakangnya.
Beberapa orang berjalan masuk, Kyungsoo berdecih malas begitu sadar orang-orang ini adalah suruhan Youngha. Dan itu adalah kebenaran, karena beberapa saat setelahnya seorang pria bangka dengan manik biru terang masuk kedalam. Youngha membawa kuasanya, tubuh tegap dengan wajah menggelikan, maniknya menatap malas pada Kyungsoo serta gadis yang berlindung dibelakang.
"Surprise?" Youngha mulai berucap, mengerlingkan sebelah mata dengan cara yang paling menjijikan.
"apa maumu?" Designer itu bertanya dengan tenang.
"seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau cari dikantorku?" pria bangka itu kini mendudukan diri pada satu-satunya kursi kayu disana, menyilangkan kaki dan mulai menyalakan merah pada sumbu rokok.
"aku mencarimu"
"PEMBOHONG KEPARAT!" Youngha membentak dengan marah, pria itu menendang meja berukuran sedang disana sampai nyaris mengenai tubuh Kyungsoo. Eunha menatap dengan ngeri bagaimana Kyungsoo bahkan tidak berkedip saat meja kayu itu bisa saja menghantam tubuhnya.
"aku tidak berbohong. Aku dan Eunha mencarimu, dan kamu tidak ada ditempat. Jika tidak percaya kau bisa melihat cctv"
"cctv itu tidak berguna, kau pasti meretasnya!"
"kau pikir dari mana aku punya kemampuan untuk meretas cctv?"
"kau bisa membayar orang untuk melakukan itu"
"yeah, tentu saja aku bisa, tapi siapa yang bisa membobol sistem keamanan dikantormu?" kecuali si otak pintar Jongdae tentu saja.
Seketika Youngha kehilangan kemampuan bicara, sebagian dirinya membenarkan apa yang diucap oleh Kyungsoo bahwa gedung itu dikelilingi oleh sistem keamanan yang tinggi. Belum ada yang mampu membobol apalagi meretas sistem. Namun tetap saja, Kyungsoo adalah manusia dengan seribu mimik wajah, pria sombong itu adalah keparat dengan akting yang bagus, ia punya kemampuan untuk berbohong tanpa sirat ragu dihadapan banyak orang sekalipun.
Kyungsoo tersenyum atas kemenangannya, ia mencintai setiap rupa diam Youngha, itu pertanda bahwa si pria tua kehilangan kata-kata. Sejujurnya, otak Kyungsoo sudah buntu sejak awal, ia percaya bahwa ada jalan untuk keluar, namun penjagaan Younha tidak mungkin selengah itu.
"kau sedang berfikir bukan?" Youngha berucap, bibirnya menciptakan seringaian tipis yang amat dibenci Kyungsoo.
"jangan gunakan otakmu terlalu keras, tidak akan ada yang menolongmu, jadi jangan berharap bisa keluar dari sini" si pria tua berucap lagi guna mengambil kembali fokus putranya.
"apa— dimana mereka?!" manik Kyungsoo kini melebar, tangannya gemetar begitu sang ayah mengatakan bahwa tidak akan yang menolongnya, cukup jelas bagi Kyungsoo bahwa pria tua itu mencoba untuk memberitahu bahwa teman-temannya aman dibawah kuasa Youngha. Keparat sialan!
"mereka aman Kyungsoo, tenang saja" Youngha berucap tenang, jemari bermain dengan cerutu sembari sebelah tangan merogoh ponsel dari saku.
Kyungsoo mengucap doa pada tuhan agar tidak ada yang terjadi pada Kai dan teman-temannya, ia sungguh akan membunuh bajingan ini jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Dari samping Kyungsoo bisa merasakan Eunha bergetar, gadis itu berusaha untuk tenang, menahan air matanya agar tidak terlihat lemah.
"kau mau berbicara dengan kekasihmu?" kini Youngha maju kedepan, dari jarak yang dibuat sepersekian meter, pria tua itu mencondongkan tubuhnya, sebelah tangan masih memegang ponsel.
Kyungsoo masih diam ditempat, berusaha untuk tetap tenang saat layar diponsel terhubung video dengan seseorang disebrang. Jantungnya berburu untuk berdetak, telapaknya mlai dingin dan keringat memenuhi dahi. Kyungsoo tidak pernah tau apa yang akan tersaji dilayar, namun ia meyakini itu bukan sesuatu yang baik.
Dan benar..
Jongin ada disana.
Tubuh lemah itu terduduk dikursi kayu, diikat menyedihkan dengan bercak darah memenuhi sampul pakaian. Manik indahnya setengah terpejam dan masih dengan kosong memandang pada layar.
Jongin penuh luka disana..
Jonginnya. Jongin miliknya..
"JONGIN! BAJINGAN KAU, KEPARAT! LEPASKAN DIA!" Kyungsoo meronta disana, tubuhnya meminta untuk dilepas, manik itu memerah, ia bisa aja menerjang Youngha begitu saja jika tubuhnya tidak diikat mati.
Namun sekalinya Kyungsoo mencoba melawan, ada seseorang disana yang menarik keras rambut Jongin keatas, menyebabkan pria lemah itu berteriak keras. Itu kejam dan Kyungsoo bisa lebih marah dengan mencabik habis tubuh Youngha.
"JANGAN BERANI SENTUH DIA! SIALAN!" Kyungsoo berusaha untuk melawan, tubuhnya menjadi sakit begitu menentang ikat tali, namun ia tidak lagi peduli.
Gerakan itu terlalu cepat dan Kyungsoo segera merasa pukulan keras dipuncak kepalanya, itu cukup menyakitkan dan berhasil melumpuhkannya sampai Kyungsoo terduduk kembali dilantai dingin. Eunha memperhatikan itu dengan ngeri, ia berteriak begitu dilayar pemandangan Kai yang diberi pukulan tepat ditengah perut sampai darah segar keluar dari mulutnya.
"Kyungsoo Oppa, berhenti melawan! Ku mohon berhenti atau Kai Oppa akan lebih tersakiti!" Eunha terus membujuk begitu Kyungsoo masih saja berusaha untuk menegakkan lutut.
Mendengar itu Kyungsoo segera berhenti, sekali lagi ia memandangan rupa Jongin dilayar. Pria itu adalah apa yang terkasih bagi Kyungsoo, dunia dan poros. Kini dunianya hancur, Jonginnya berantakan disana, dan Kyungsoo menangis karenanya. Designer itu terduduk lesu, tangis dan rintih mendominasi ruang. Ia begitu ingin menyentuh Jongin dengan telapaknya, memeluk pria itu dan membawanya pergi bersama, namun tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Tidak ada satupun celah disini. Semuanya dinding, dingin dan mati.
"kumohon, aku akan melakukan apapun. Apa saja, apa saja.. asal lepaskan Jongin.. bebaskan dia.. bebaskan Haneul.. bebaskan teman-temanku.. aku akan memberikan apa saja.. hanya lepaskan mereka" pria pucat itu meraung putus asa. Ia tidak tahan melihat Jongin diantara merah darah, Kyungsoo tidak ingin mendengar teriak histeris Jongin, ia akan rela melakukan apapun. apa saja, asal tidak ada korban.
"aku akan melakukan apa saja, apa saja. Aku bersumpah"
Baekhyun berlari sekuat yang dimampu, darah menjadi bercak diberbagai sudut serta kemeja yang mulai kusut diujung. Pria itu tidak lagi menghiraukan lututnya yang mati rasa. Ia mengambil beberapa obat dari saku dan menelannya dengan cepat. Si dokter berusaha untuk mengambil banyak oksigen, paru-parunya terasa sesak seakan udara sekitar mengambil alih segalanya. Entah sudah berapa menit hingga jam yang digunakan Baekhyun untuk berlari, berulang kali menoleh kebelakang hanya untuk memastikan bahwa tidak lagi ada pengejaran. Air mata mengalir dari sudut kelopak, perlahan dan lama menjadi deras, Baekhyun merasa tidak enak hati meninggalkan Kai sendirian disana, namun jika keduanya tetap disana maka masalah tidak akan selesai. Maka keputusan Baekhyun adalah bulat untuk kabur dari sana dan mencari bantuan, setelah berulang kali memutar otak, dokter itu memutuskan untuk kembali mencari Jongdae,
Beberapa saat dengan berjalan pelan diantara semak, ia berhasil kembali ketempat Jongdae. Berusaha untuk berjalan cepat namun berakhir dengan tertatih, susah payah Baekhyun mencoba untuk membuka pintu hanya untuk terkejut karen pintu tidak terkunci. Kakinya serasa kaku dan pada akhirnya dokter memilih untuk tidak peduli tentang pintu, ia harus memberi tahu teman-temannya bahwa Kai disekap dan mereka bisa memikirkan banyak cara untuk menolong. Namun saat langkah Baekhyun sampai pada ruang tengah, ia sadar betapa mengerikan keadaan disini. Tempat itu kacau, berantakan dan kotor. Ada banyak peralatan dilantai, memori acak yang tersebar serta sofa yang tidak lagi tertata. Disana ada Jongdae yang duduk meringkuk dengan wajah suram, disamping pria rapuh itu adalah kekasihnya. Yerin tersungkur, menangis sampai suara ronta terdengar menyakitkan. Gadis itu memandang Baekhyun dengan manik membulat, sungguh terkejut bagaimana Baekhyun kembali dalam keadaan mengerikan. Dalam hitungan detik, Yerin berlari kearah si dokter, menubrukan tubuh ringannya pada Baekhyun dan segera menangis disana.
"Baekhyun-na, Baekhyun oppa, kau selamat.. kau ada disini.. kau ada disini.. aku pikir.. aku pikir—"
"shhhh, tidak apa-apa. Aku disini sayang, aku disini.." Baekhyun menarik Yerin lebih kedalam pelukan, mencium puncak kepala gadis itu dengan sayang. Jongdae perlahan mendekat, bartender tampan itu mulai menciptakan senyum tipis dari dua sudut bibir.
"Kau selamat Baekhyun, aku pikir—"
"aku ada disini sekarang, aku berhasil kabur. Hanya saja, Kai—" Baekhyun berhasil menyela ada yang akan diucap Jongdae, namun ia tidak berhasil merangkai kalimat yang tepat untuk menggambarkan dimana keberadaan Kai.
"Kai oppa, masih ada disana?" Yerin bertanya dengan lembut, tidak ada nada menuduh dari suara yang gadis itu lontarkan, namun itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa bersalah Baekhyun.
"aku tidak bermaksud meninggalkannya sendirian disana, aku bersumpah. Aku hanya berfikir jika aku tetap berada disana, maka tidak akan ada perubahan" dokter itu membela diri, lututnya mulai lemas dan ia memilih untuk menjatuhkan diri diatas marmer dingin.
"itu benar, kau melakukan hal yang benar. Mari kita cari jalan lain, kita harus menolong semuanya" Jongdae membantu Baekhyun untuk duduk, bartender itu kemudian berdiri hendak mengambil air untuk pria yang baru datang.
"apa yang dimaksud dengan semuanya? Apa Kyungsoo dan Eunha juga tertangkap?" Baekhyun bertanya hanya untuk mendapati Yerin kembali terdiam dan menunduk. Maka dokter itu menarik dagu si gadis perlahan agar manik keduanya bertemu.
"ya, mereka tertangkap, aku— sejujurnya aku tidak tahu pasti. Hanya Jongdae oppa bercerita bahwa Kai menelfon dan mengatakan jika ada bom dikantor Youngha, kemudian Jongdae oppa meminta Kyungsoo untuk segera keluar, hanya saja setelah itu sambungan terputus dan Jondae oppa tidak tahu lagi harus bagaimana. Jika ia mencoba untuk menghubungi kembali, maka keberadaannya akan ketahuan" gadis itu bercerita dengan tenang, air mata kembali mengalir dari kelopak.
"ya tuhan!" Baekhyun memegangi kepalanya, ia ikut tertunduk saat ini. Dokter itu memikirkan keadaan Jongdae, ia kagum dengan ketenangan bartender kaya itu. Jika ia ada diposisi Jongdae dan Yerin yang ada bersama Kyungsoo saat ini, maka ia tidak akan bisa setenang itu.
Jongdae kembali beberapa saat kemudian, kedua tangannya membawa gelas berisi air dan segera mendudukan diri disamping Baekhyun. Tidak ada raut emosi disana, bartender hanya diam ditempatnya, mungkin sedang memikirkan sesuatu. Baekhyun sungguh ingin membantu, hanya kepalanya sudah terlalu sakit bahkan untuk mendongak sekalipun. Yerin disisi lain membuat dirinya berguna, gadis itu perlahan membersihkan kekacauan yang ada dalam ruang, ia meletakkan benda kambali ditempat, merapikan kabel serta memori acak dan kembali mengaktifkan semua komputer dimeja.
"apakah— apakah Youngha mencapai puncaknya dengan cara yang murni?" Jongdae bertanya hanya untuk disambut dengan kerutan alis Baekhyun dan tatap tanya dari Yerin.
"maksudku, apakah selama menjalankan bisnis ini, ia bermain jujur?" kali ini sepertinya Yerin mengerti apa yang dimaksud.
"tidak, tenu saja tidak. Dia melakukan suap, penggelapan dana, pembohongan publik dan pekerjaan yang mengerikan. Dia bahkan pernah tidak membayar gaji pekerjanya selama 2 bulan dan memecat pegawai dengan sembarang"
"benarkah? Dan pekerja itu tidak melapor atau menuntut?" Baekhyun berkomentar
"Baekhyun oppa, apa kau masih tidak sadar? Yang kita sedang bicarakan disini adalah seorang Do Youngha. Pembisnis paling sukses Korea Selatan, dia bisa membeli apapun bahkan hukum Korea, hanya dengan merogoh koceknya dan boom, keadaan akan berbalik!" mendengar itu Baekhyun menghela nafas panjang, ia memang tidak terlalu mengikuti jaman, ia hanya tahu bahwa Cosmic adalah brand besar dengan kualitas mahal. Hanya itu dan sejujurnya Baekhyun tidak ingin tahu lebih banyak bahkan sampai masuk terlalu dalam jika bukan karena kekasihnya yang begitu menyayangi anak dari pemilik Cosmic.
"bisakah kita mendapat bukti-bukti itu?" Jongdae berucap lagi, menyebabkan diam dari pasangan didalam ruang.
"bukti tentang penyuapannya?" itu adalah Yerin yang bertanya dengan ragu.
"yeah, bukti tentang semua pemalsuannya, suap, penggelapan dana atau apapun. Kau pernah bekerja untuknya sebelum dengan Kyungsoo bukan? Apakah kita bisa mendapat bukti-bukti itu?" Jongdae memandang Yerin penuh harap.
Si gadis terlihat sedang berpikir keras, dahulu ia mengetahui semuanya. Tentang semua cara kotor Youngha untuk mencapai puncak yang bahkan Kyungsoo tidak mengetahui semuanya. Yerin sedikitnya tahu dimana Youngha menyimpan semuanya, namun ia tidak yakin apakah semua bukti masih ada disana atau tidak.
"mungkin aku tau, tapi untuk apa kita menemukan bukti-bukti itu?" si gadis bertanya.
"apa kau punya cara lain yang lebih gila untuk menyelamatkan kita semua?" itu adalah Baekhyun, dokter itu mencoba untuk membersih beberapa luka dikaki, menuang alkohol dan menutupnya dengan kasa bersih.
"aku sepertinya punya cara, tapi aku tidak yakin" Jongdae berucap dengan sedih.
"aku akan mendengarkan caramu, aku yakin kau tidak akan mengambil cara ini tanpa berfikir panjang, karena kekasihmu juga menjadi sandera" dokter itu kini mendekat kearah bartender, memberi sentuh lembut pada pundak seakan meyakinkan bahwa segalanya akan menjadi baik.
"oke dan bagaimana agar cara itu berjalan dengan baik?" satu-satunya gadis disana bertanya dengan lugu, duduk bersila seakan siap untuk melakukan banyak misi.
"kita bisa menggunakan semua bukti-bukti itu untuk menjerat Youngha ke kantor polisi. Sejujurnya aku meminta Kyungsoo dan Eunha untuk masuk ke kantor Youngha bukan hanya untuk mengambil petunjuk tentang hilangnya Haneul, namun juga mencari bukti apapun tentang permainan kotor Youngha sehingga kita punya cukup bukti untuk membawa lelaki bejat itu kedalam buih. Kita benar-benar harus mengandalkanmu untuk ini Yerin-na, kau bisa menghubungi anak buah Kyungsoo untuk memenuhi perintahmu, usahakan jangan sampai mengambil banyak perhatian. Kita bisa melepaskan Kai dengan membawa pasukan Kyungsoo. Kemudian, karena cctv kantor masih bisa aku ambil alih, aku bisa mengarahkanmu untuk masuk kesana, mengambil apapun yang bisa dijadikan bukti dan segera keluar"
Mendengar penjelasan Jongdae. Yerin melebarkan manik terkejut. Jika hanya harus membawa pasukan Kyungsoo tanpa mengambil banyak perhatian, itu adalah hal yang mudah. Namun untuk masuk kedalam kantor Youngha, mengambil bukti dan keluar, itu sungguh sulit. Hello, mudah untuk mengatakan ketika bukan kau yang melakukan!
"aku bisa menemaninya untuk masuk kesana—"
"tidak. Kau disini dan atur semua pasukan Kyungsoo untuk mengambil alih Kai. Aku punya prediksi bahwa Youngha pasti ada bersama Kyungsoo dan Eunha" Jongdae menyela sebelum Baekhyun menyelesaikan apa yang akan diucap. Bartender itu mengeratkan tinju ditangan, maniknya menatap kosong kearah jendela, seakan siap meninju siapapun yang berani menyetuh gadisnya. Tentu saja, Eunha ada bersama Kyungsoo dan jika designer itu terancam maka nasib Eunha tidak akan jauh beda.
Melihat itu, baik Yerin maupun Baekhyun saling pandang. Keduanya punya kekhawatiran yang sama untuk Kyungsoo maupun Eunha, namun Jongdae pasti mengalami yang lebih mengingat belum lama sejak ia dan Eunha bersatu menjadi sepasang kekasih.
"baiklah, aku akan masuk kesana. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melepas pantauanku!" Yerin yang pertama memecah hening, berusaha untuk tidak bergetar karena takut dan ragu.
"aku akan mengurus pasukan Kyungsoo dan mengeluarkan Kai meskipun aku malas kembali ketempat sialan itu" Baekhyun kembali membersihkan luka yang tertanam, siap kembali untuk bergerak.
Jongdae kini berfokus pada bagaimana Baekhyun berhasil membalut rapi lukanya hanya dalam hitungan menit, itu bagus dan terlihat pulih. Tentu saja orang ini adalah dokter dan Jongdae tidak terlalu mengkhawatirkan Baekhyun karena pria ini bisa menyembuhkan dirinya sendiri. bartender itu beralih kearah Yerin yang sedang mengutak-atik ponselnya, mungkin mencari kontak atau yang lain, gadis ini adalah yang paling berharga untuk Baekhyun, dokter itu pasti akan membunuhnya jika terjadi sesuatu pada Yerin, tidak hanya Baekhyun, mungkin Kyungsoo juga akan menancapkan pisau daging ke leher jika itu terjadi. Tidak, dia bisa mengendalikan ini. Jongdae bisa menjaga keduanya dengan baik, ia tidak akan kehilangan siapapun lagi.
"kalian mempercayaiku bukan?" bartender itu bertanya.
"tentu saja, kami percaya" Yerin menjawab dengan lunak, kini gadis itu membantu Baekhyun berdiri.
"tidak ada pilihan lain kau tahu, hanya kita yang tersisa. Aku tidak bisa memainkan peralatan canggih itu dan aku juga tidak bisa mempercayai Yerin juga otak burungnya"
"YA!" Yerin memberi pukulan ringan dipuncak kepala sang kekasih, keduanya terkekeh ringan sebelum setelahnya berpelukan.
Jongdae tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, tapi keselamatan pasangan ini sungguh ada ditangannya. Bartender mengeratkan tinju sekali lagi, meyakini dalam hati bahwa ia bisa membuat semuanya kembali.
"Baekhyun, kau bisa mendengarku?" Jongdae berucap dari alat kecil yang mampu menghubungkan komunikasi mereka, kini bartender itu menggunakan alat pelacak agar bisa memindai dimana pun Baekhyun dan Yerin berada.
"yaya aku dengar, sialan alat ini benar-benar canggih! Kau seharusnya bekerja untuk sistem keamanan korea!" sang dokter menjawab dengan girang, maniknya mengamati sebuah chip kecil yang katanya mampu melacak dimanapun dirinya berada.
Ketiga yang tersisa kini mulai menjalankan rencana, Baekhyun sudah berada dekat dengan tempat Kai disekap bersama pasukan Kyungsoo, sementara Yerin sedang dalam perjalanan menuju kantor Youngha. Baik itu Baekhyun maupun Jongdae tidak menyangka bahwa Yerin begitu cerdas mengingat setiap detail kesalahan Youngha dimasa lalu, gadis itu bahkan sempat menulisnya dalam catatan kecil mengenai setiap perbuatan licik Youngha, ia pandai meniti setiap celah bahkan ingatannya masih segar tentang setiap sudut ruang kerja keparat itu. Ditambah dengan Yerin punya cara tersendiri untuk menghubungi pasukan Kyungsoo tanpa menarik banyak perhatian. Kyungsoo juga hebat, pria ini punya banyak cara untuk diambil saat keadaan mendesak, yang lebih menakjubkan bahwa Kyungsoo punya kawanan sendiri untuk membantu saat kesulitan tanpa ada yang mengetahui, namun Yerin cukup pintar untuk mengerti pola pikir Kyungsoo, maka bukan suatu hal sulit untuknya mengendalikan apa saja milik designer itu termasuk dengan pasukannya.
"oke Baekhyun-na, sekarang dengarkan. Aku akan menuntunmu lewat monitor dan jangan lengah, jangan coba untuk melanggar, mengerti?"
"siap kapten! Aku sudah bisa melihat bangunan itu, kau ingin aku melakukan apa?" Baekhyun siap untuk diberi komando, ia kini mengepalai 30 anak buah Kyungsoo, lengkap dengan persenjataan. Sejujurnya dokter itu menyukai saat seperti ini, bekerja tidak dalam ruang penuh obat dan mengepalai proses operasi dengan anggota sedikit, kini ia menjadi kepala suku dari 30 orang kuat diruang terbuka.
"sisakan 10 anggotamu, bagi mereka kedalam 3 kelompok untuk berjaga dari jarak 100 meter, 200 meter dan di sekitar mobil"
"baik"
"lalu ambil lainnya dari mereka untuk ikut denganmu, pastikan kalian bergerak dari jarak jauh, jangan sampai terlihat. Bagi mereka dalam empat tim untuk mengepung setiap sudut bangunan. Sasaran utama adalah penjaga luar, hanya ada dua pintu disana ambil dua orang tiap pintu untuk berjaga"
"wow, kau benar-benar sudah memikirkan ini. Baiklah kapten, kami bekerja!" Baekhyun memutuskan untuk mulai bergerak, penjagaan sudah dibagi rata sesuai dengan arahan Jongdae dan ia merasa bangga karena bisa memimpin pasukan untuk misi.
"Baekhyun!" itu adalah bartender.
"ya?" dokter itu sedikit memperlambat langkah begitu Jongdae memanggil dengan suara khawatir.
"jangan lupa untuk mengambil alat komunikasi mereka dan pastikan tidak alat pelacak disana, suruh mereka untuk menunjukan dimana keberadaan Hanuel dan siapkan pasukan untuk mencari bocah kecil itu, kita juga harus bisa mendapatkan Haneul"
"yaya, aku mengerti"
"dan satu lagi— hati-hati kawan, aku berjanji Yerin akan aman" dengan menampilkan senyum tipis Baekhyun mulai melangkah lagi. Ia percaya dengan Jongdae, dokter itu percaya dengan teman-temannya, Baekhyun juga percaya pada Yerin, ia juga meyakini bahwa gadis pintar itu akan baik-baik saja.
Sementara Baekhyun memulai dengan aksinya, Yerin kini sudah berada didalam ruangan Youngha. Gadis itu memilih untuk mencari jalan belakang, ia masih hafal dengan setiap sudut kantor dan menggunakan Jongdae untuk mengambil jalan teraman tanpa dicurigai banyak pihak. Yerin masih berpakaian formal, rambutnya digelung rapi dengan polesan make up, tidak lupa kartu pengenal miliknya dahulu yang masih tersimpan didompet. Tidak ada raut ragu dari wajah, senyum terus tersaji bahkan saat Jongdae terus bergumam arah ditelinganya.
Tidak sulit untuk masuk kedalam dengan melewati banyak penjagaan, semua cctv kantor sudah dikuasai oleh Jongdae dan kini Yerin bebas berlaku didalam ruang Youngha.
"yerin-na, kau harus cepat bergerak, orang bisa saja tiba-tiba masuk kesana"
"hey, aku baru saja masuk, itulah tugasmu untuk memindai siapa saja yang mencoba untuk masuk" Yerin berucap sembari mengambil catatan kecilnya.
"aku sedang memindai ya tuhan, hanya— cepatlah"
"Ugh! Baiklah-baiklah"
Sesudahnya Yerin mulai bekerja, ia mencocokan setiap file dilaptop dengan catatan miliknya, mengambil data yang perlu serta memeriksa dokumen yang ada. Ada banyak foto yang diambil melalui ponselnya dan Yerin kini merasa bangga dengan daya ingat otak yang masih bisa menyimpan banyak memori. Ia tidak menyangka tua bangka itu masih menyimpan semuanya ditempat yang sama.
Kini si gadis beralih ke kotak brangkas di bawah meja. Yerin ingat bahwa ada beberapa bukti tentang penggelapan dana penjualan disana, tua bangka itu meminta tim audit untuk merubah laporan keuangan dan semua bukti dipastikan ada didalam kotak ini.
"mengapa kau terduduk disana, kau akan mengambil uang dari brangkas itu? Ayolah kita tidak punya banyak waktu!" Jongdae berucap sekali lagi.
"tidak, belum. Pasti ada sesuatu disini yang bisa menjadi bukti utama"
"perlu sandi untuk membukanya, jangan buang waktumu" Jongdae menjadi tidak sabar, ia menjanjikan keselamatan Yerin pada Baekhyun dan bartender itu tidak ingin mengingkari.
"diamlah dan beri aku waktu untuk berfikir"
Dengan itu Yerin mulai fokus dengan pikirannya, ia menekan beberapa angka berulang yang mungkin dijadikan sandi, mulai dari tanggal lahir Youngha, nomor apartemen, tanggal lahir ibu Kyungsoo, telfon rumah sampai beberapa kali angka acak. Gadis itu meyakini Youngha sedikit pelupa, maka pria bangka itu tidak mungkin mengambil sandi yang rumit.
Itu tidak mungkin tanggal lahir Kyungsoo bukan, Youngha membenci bocah itu, jadi mana mungkin. Dengan tenang Yerin meyakinkan dalam hati, tinggal ada satu kali lagi percobaan, jika gagal maka ia harus menyerah.
"Jongdae oppa, apa menurutmu mungkin jika sandinya adalah ulang tahun Kyungsoo?"
"menyerahlah, itu tidak mungkin tanggal lahir Kyungsoo" Jongdae berucap dari sebrang, nadanya terlihat malas bercampur dengan gelisah. Bartender itu melihat dengan geram dari layar kacamata yang dipakai Yerin.
"aku tahu, tapi hanya ini yang tersisa diotak ku maka—" baik itu Yerin maupun Jongdae terdiam ditempat, jemari lentik gadis itu fokus menekan tanggal lahir Kyungsoo disana.
12011993
.
.
.
"Jongdae oppa, ini terbuka"
Kyungsoo masih duduk disana, wajahnya pucat dan terlihat sakit karena terlalu banyak menangisi Kai. Tubuh putih itu kini ternoda dengan banyak bercak darah akibat terlalu banyak melawan. Eunha disisi lain tidak jauh berbeda, kulit mulusnya dipenuhi memar bekas ikat dan manik itu terus berair melihat keadaan Kyungsoo yang kian memprihatinkan.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka, menampilkan sosok Youngha yang menjulang diatas. Eunha mendapati dirinya menyeret tubuh menempel pada Kyungsoo, gadis itu mencium bau amis darah namun tidak menjadi masalah karena dengan berada didekat Kyungsoo, semuanya akan aman.
Menyadari ia berada diruang yang sama dengan ayahnya, dan Eunha meringkuk untuk lebih dekat, Kyungsoo kembali mengendalikan diri untuk tidak terlihat lemah. Sekuat tenaga ia menegakkan punggung kembali dan mencoba menghadapi ayahnya, bocah putih itu tidak ingin dianggap cengeng, meskipun amarah, kesedihan serta kebencian bersarang dalam diri, namun tetap ia tidak ingin menjadi monster seperti hari lalu.
"halo anakku" itu adalah kalimat pertama Youngha, lelaki tua itu mengambil kursi disana dan duduk dengan tenang.
"aku bukan anakmu" jawaban Kyungsoo begitu rendah, ia tidak lagi punya kekuatan untuk bergerak lebih.
"kau anakku dan akan tetap seperti itu" mendengarnya, Kyungsoo tanpa sadar meludah kasar. Manik biru itu melebar memberi tatap bengis pada sang ayah.
Anehnya, tidak ada tatap marah diiris sang ayah. Tidak ada kebencian, hanya biru manik yang terlihat penuh harap. Kyungsoo baru menyadari bahwa tidak ada penjaga diruangan ini, hanya ada dirinya, Youngha juga Eunha. Mungkin kali ini sang ayah tidak ingin ada perlawanan, maka Kyungsoo memilih untuk menurut, kepalanya kembali menunduk dan bergerak lebih erat pada gadis disamping.
"Hanuel dalam keadaan aman. Dia anak yang lucu, maniknya biru sepertimu" Youngha berucap dengan suara rendah, iris birunya menatap kosong langit-langit ruang. Mendengar nama anaknya keluar dari mulut keparat sang ayah, Kyungsoo kembali mendongak, melebarkan maniknya seakan Youngha adalah mangsa terbaik untuk diterkam.
"kau bajingan. Beraninya menculik bocah itu, kau merusak hidupku!" dengan itu Kyungsoo mulai bergerak maju, mengabaikan sakit yang tersisa, ia bisa saja gelap mata jika Eunha tidak menghadang. Si gadis menggeleng keras menandakan bahwa melawan bukan cara yang tepat untuk menghadapi situasi saat ini. Maka kembali Kyungsoo mengurungkan niatnya, duduk ditempat dan membenci dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apapun.
"apa menurutmu selama ini aku tidak tahu bahwa anakmu masih hidup?" sang ayah berucap lagi, masih ditempatnya namun manik itu sama sekali tidak melihat kearah Kyungsoo.
"aku tahu dia masih hidup, aku tahu gadismu menyembunyikannya ditengah tanaman belukar, aku tahu semuanya tapi aku tetap membiarkan bayi itu selamat" menyadari tidak ada respon dari sang anak maka Youngha melanjutkan apa yang akan diucap.
Sementara Kyungsoo masih sibuk dengan dunianya, pria itu melebarkan manik begitu tahu bahwa selama ini ayahnya sadar tentang keberadaan Haneul. Kyungsoo terdiam ditempat, manik itu memandang sang ayah didepan dengan tubuh gemetar.
"sejujurnya aku ingin membunuhnya saat itu juga, namun setelah melihat tampilan anak itu, aku merubah pola pikirku. Anak itu begitu mirip denganmu, kelopaknya yang lebar, iris biru serta bibirnya yang membentuk hati. Ada ruam merah muda saat ia tertawa dan alis tebal melengkung indah mendominasi dahi. Aku benar-benar terdiam disana, memandangi Haneul seperti itu adalah dirimu" Youngha menghembus nafas panjang setelah berucap. Tua bangka itu mengamati Kyungsoo yang masih diam ditempat, tanpa niat untuk memberi respon.
"hari, bulan dan tahun berlalu. Aku pikir keputusanku benar untuk membiarkan Hanuel hidup karena bocah itu adalah satu-satunya yang bisa membuatmu bertahan. Kau tahu apa, aku tahu dimana letak kau sembunyikan Haneul bersama dengan Patricia" dan dengan itu cukup untuk menciptakan sirat terkejut dari wajah Kyungsoo. Designer itu mengepalkan tinjunya, menantang manik pria yang lebih tua dengan penuh rasa dengki. Kyungsoo ingin berucap sesuatu namun untuk beberapa alasan ia tidak mampu berucap kata apapun.
"beberapa kali aku menjenguk bocah itu tanpa sepengetahuan siapapun. Dia adalah anak baik, maniknya benar menjadi biru dengan kulit sepucat susu. Dia sungguh mirip dengan Kyungsoo kecilku" Youngha berucap sembari tersenyum, Kyungsoo melihat itu dan ia merasakan hal yang sama. Mungkin ayahnya mengingat betapa kehidupan masa kecilnya sungguh menyenangkan, namun mendengar kata 'Kyungsoo kecilku' sungguh membuatnya mual.
"kau tidak bisa akan pernah diijinkan untuk menyentuhnya, dia anakku dan bukan milikmu!" pada akhirnya Kyungsoo berhasil mengendalikan pita suara, ia berucap lantang dan lugas.
"tentu dia bukan anakku, tapi dia cucuku jadi Hanuel juga milikku" tua bangka itu menjawab dengan tenang, mengacuhkan bagaimana Kyungsoo kini mulai berapi melawannya.
"apa lagi yang akan kau ambil dariku?!" itu adalah Kyungsoo. Pria pucat itu tidak sabar lagi, ia mengabaikan gadis disamping yang memandang dengan penuh peringatan. Kyungsoo tahu Eunha bermaksud baik untuk tidak berbuat macam-macam karena ini adalah untuk keselamatan Kai, namun amarahnya tidak bisa lagi terkendali.
Begitu menyadari tidak ada respon dari sang ayah, Kyungsoo merasa terabaikan. Ia benci diabaikan dan ia benci bagaimana Youngha memandang dengan sirat kasihan. Cih keparat itu!
"AKU BERTANYA APA LAGI YANG AKAN KAU AMBIL DARIKU?!"
Baik itu Eunha maupun Youngha terkejut dengan ledakan Kyungsoo, designer itu dengan terengah menatap sang ayah dengan keji. Ia tidak lagi mengingat siapa orang tua ini, ayahnya adalah orang paling baik saat masa kecilnya, Kyungsoo tidak pernah ingat kapan Youngha berubah menjadi monster.
"dengar anak muda, jika kau mengikuti aturanku sejak awal, tidak akan jadi seperti ini!" dengan itu sungguh membuat Kyungsoo tertawa, ayahnya bermain dengan lelucon menggelikan.
"sekarang kau menyalahkanku karena semuanya? Kau yang membuat keadaan menjadi seperti ini, kau merebut ibuku, merebut masa kecilku, merebut cita-citaku, merebut teman-temanku, merebut Jisooku, merebut semua kebahagiaanku! Dan sekarang apa? Kau juga akan merebut sahabat-sahabatku? Merebut Kai? Merebut Hanuel? KENAPA TIDAK KAU BUNUH SAJA AKU BAJINGAN?!" nafas Kyungsoo tidak beratur sekarang, ia sungguh ingin menancapkan palu tepat pada ujung kepala ayahnya, namun ya tuhan sungguh pria mengejamkan ini adalah ayah kandungnya.
"ITU KARENA KAU TIDAK MENGIKUTI ATURANKU SEJAK AWAL! AKU SUDAH KATAKAN, IKUTI ATURANKU DAN AKU TIDAK AKAN MENGAMBIL APA YANG SUDAH MENJADI MILIKMU!"
"MENGIKUTI ATURANMU SAMA DENGAN TIDAK MEMILIKI APAPUN! AKU SUDAH SEBATANG KARA SEJAK IBU MENINGGALKAN KAMI, AKU SUDAH KEHILANGAN SEGALANYA SEJAK SAAT ITU, APA KAU TIDAK SADAR HAH?!" baik itu Youngha maupun Kyungsoo diliputi amarah. Tua bangka itu berbicara keras dengan urat yang kentara didahi, wajahnya memucat begitu Kyungsoo tidak juga menyerah untuk melawan.
"tidak tidak, kau adalah asset besar perusahaanku. Kau dibesarkan untuk itu dan aku tidak akan melepasmu begitu saja. Designmu adalah sumber uangku dan jika kau tidak ingin sesuatu yang terburuk terjadi pada dia, teman-temanmu yang lain, kekasihmu atau anak semata wayangmu, maka ikuti perintahku!" Youngha menunjuk kearah Eunha dan gadis itu menatapnya ngeri.
Dengan itu secara tidak langsung Youngha menganggap obrolan ini tuntas karena si tua itu perlahan beranjak dari Youngha melangkah keluar, Kyungsoo mulai berteriak tidak karuan, meronta dan mengutuk sumpah serapah pada ayahnya.
"AKU BAHKAN TIDAK SUDI MEMILIKUMU SEBAGAI AYAHKU, KAU SEORANG BAJINGAN TERKUTUK! APA KAU TIDAK PUNYA AKAL BUDI?! APA HANYA ADA UANG DIDALAM OTAKMU?! A FREAKING MONEY? HAH?!"
Youngha menoleh cepat, memberi pandang mengancam pada Kyungsoo. Tanpa aba-aba yang berarti, sebelah kakinya menendang kursi dengan keras sampai benda kayu itu terbelah karena menabrak dinding. Eunha disamping Kyungsoo meringkuk lebih dekat, ia merasakan bahaya sedang mengancam begitu Youngha melangkah lebih dekat. Si gadis mulai panik, terlebih saat ia merasakan tubuh Kyungsoo menegang didekatnya.
Tiba-tiba pintu dibuka, menampilkan seorang pria dengan senjata yang dipastikan adalah salah satu anak buah Youngha. Dalam hati Eunha bersyukur karena pria itu datang tepat waktu, jika tidak, ia bahkan tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya juga Kyungsoo. Sementara itu, si tua bangka memandang anak buahnya dengan manik mengancam, sebelum kemudian menjauh dari dua korban terikat didalam ruang
"ada sesuatu yang tidak beres bos!" kata si anak buah dengan suara gemetar. Youngha mengerutkan alis sebelum kemudian memutuskan untuk pergi. Pria tua itu menoleh kearah Kyungsoo sekali lagi sebelum benar-benar menutup pintu meninggalkan keduanya dalam ruang sepi.
Begitu hanya tinggal mereka berdua didalam ruang gelap itu, tubuh Kyungsoo secara tiba-tiba melemas, ia menangis dengan suara rintih yang rendah. Melihat itu, Eunha segera meraih kepingan kaca yang sedari dari dimaksud oleh Kyungsoo, dengan gerak gesit si gadis segera melepas tali miliknya tanpa peduli bagaimana telapaknya mulai berdarah karena terlalu keras menekan pecah kaca. Begitu tali temali itu melepas ikatan tangannya, gadis itu berlanjut melepas ikatan dikaki sebelum kemudian beralih memeluk tubuh Kyungsoo. Membiarkan pria itu menumpahkan segala resah dipundak sembari ia melepas tali temali yang mengikat pergelangan tangan Kyungsoo. Meski sulit untuk melepas ikatan Kyungsoo dengan posisi mereka, mengingat tubuh Kyungsoo jauh lebih besar darinya, namun Eunha tetap berusaha.
Pada akhirnya tidak ada lagi tali yang mengingat keduanya, Eunha dengan lembut menangkup wajah Kyungsoo, memindai manik biru indah milik pria itu
"kita akan keluar dari sini. Tidak akan ada yang terluka, kau harus percaya padaku" itu adalah apa yang diucap si gadis.
Meski apa yang diucap Eunha tidak banyak membantu suasana hati Kyungsoo, namun designer itu menyadari bahwa senyum cerah Eunha benar mengubah banyak hal, seakan gadis itu dicipta tanpa ada rasa sesal. Maka Kyungsoo memaksakan diri untuk tersenyum, bernafas teratur dan mereka saling bantu untuk berdiri. Ini sakit mengingat mereka diikat terlalu lama, ditambah dengan tubuh Kyungsoo yang terlalu banyak melawan tali temali sehingga banyak memar dimana-mana, bahkan kemeja pria itu sudah sobek dibeberapa bagian.
Baru saja mereka hendak membersihkan diri dan mencari cara untuk menemukan jalan keluar, dari luar terdengar suara ribut, beberapa orang lainnya berteriak dan banyak suara langkah mendekat. Eunha yang terlihat penasaran memutuskan untuk mengintip dari celah jendela, sejujurnya jendela disana ditutup oleh kayu dan hanya menyisakan sedikit celah kecil untuk melihat keadaan luar. Kyungsoo yang tidak peduli memilih untuk tetap pada posisi, otaknya memutar cara untuk bisa keluar dengan selamat dari ruang gelap ini.
Manik Eunha menyipit begitu ia melihat keadaan luar, ada beberapa orang dengan senjata disana, kemudian datang lagi dengan jumlah yang besar kearah mereka. Sejujurnya tempat ini sudah dikepung dan Eunha bergidik gelisah, ia baru saja hendak melapor hal ini pada Kyungsoo namun urung begitu maniknya menangkap sosok yang tidak asing masuk dalam indra penglihatan, orang itu keluar dari mobil dengan tablet ditangan. Itu adalah kekasihnya, Jongdae! Bartender itu bersama dengan Yerin, Baekhyun, dan seorang wanita paruh baya. Yerin membawa seorang anak dalam gendongan dan manik Eunha fokus pada anak itu. Ia adalah seorang balita paling menggemaskan didunia, kulitnya serupa dengan susu, rambut gelap hitam dan manik gemerlap biru terang. Bahkan dari jarak terjauh sekalipun Eunha seperti telah mengenal anak ini. Begitu mirip dengan seseorang. Begitu mirip dengan Kyungsoo.
"apakah itu.. apakah dia.. Hanuel?" tanpa sadar Eunha berucap pelan, ia masih menatap si anak bermata biru dalam gendongan Yerin, semakin dan semakin dekat tanpa memperhatikan bagaimana Kyungsoo terus melangkah kearahnya.
Dan itu benar..
Disana adalah Haneul.
Anak itu tertawa riang dalam gendongan Yerin.
Kyungsoo masih terus menatap anak semata wayangnya diujung sana. Ia bahkan tidak bisa mengalihkan pandang terhadap apapun, Kyungsoo tidak peduli bagaimana keadaan diluar menjadi ricuh antara pasukannya melawan suruhan Youngha. Designer itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tangis merayap sampai pipi, ia tidak bisa lagi menahan emosinya. Haneul ada disana, tanpa luka, tanpa cacat.
Kyungsoo tidak bergerak disana sampai sosok lain muncul keluar dari mobil, seseorang yang menjadi cintanya, terkasihnya bahkan segala yang ia puja. Kim Jongin ada disana, tubuhnya penuh luka dan wajah itu lebam, namun pria dengan kulit karamel itu terlihat baik dengan perban yang tertanam dibanyak sudut. Ya tuhan, ini adalah keajaiban melihat keduanya dalam keadaan baik!
Designer itu masih menangis haru, itu berlanjut sampai saat Eunha menepuk pundaknya. Telapak si gadis memberi pukulan ringan pada puncak kepala Kyungsoo sebelum kemudian ia tersenyum manis.
"aku sudah bilang semua akan baik-baik saja, mengapa orang sombong sepertimu menangis seperti bayi sekarang?"
"hey, lihat dirimu sendiri. Kau ketakutan seperti Youngha adalah hantu!"
"ayahmu lebih mengerikan dari hantu kau tahu. Sekarang karena kau adalah lelaki, cobalah untuk mendobrak pintu itu sehingga kita bisa keluar dari sini" Eunha mundur begitu Kyungsoo mengiyakan dengan wajah konyol, terkadang Eunha berpikir bahwa wajah Kyungsoo begitu tampan, ia bisa saja merebut Kyungsoo dari Kai jika bukan karena dirinya sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Jongdae.
Baru saja Kyungsoo hendak mendobrak pintu, suara tembakan dari luar membuatnya gemetar, designer itu mundur dua langkah, tubuhnya menutup Eunha, mengantisipasi jika pintu bisa saja tiba-tiba terdobrak dari luar.
Suara-suara tembak semakin terdengar dan kini bercampur dengan suara teriakan, baik itu Kyungsoo maupun Eunha semakin gemetar, masing-masing saling berpegang seakan dunia akan runtuh jika pegangan terlepas. Ada satu langkah yang terburu semakin mendekat pada pintu dan itu membuat Kyungsoo membawa Eunha semakin menjauh dari pintu. Tiba-tiba pintu terdobrak keras dari luar dan Kyungsoo secepat kilat mengambil kayu yang terdekat guna menciptakan pertahanan.
Begitu pintu rusak dan terbuka, muncul sosok yang sungguh ingin dilihat oleh Kyungsoo. Jongdae, Baekhyun dan kekasihnya, Kai ada disana. Itu pemandangan indah yang diharap muncul dalam pandangan Kyungsoo sejak kali pertama menjalankan misi ini, ia sempat mengutuk Baekhyun karena merebut sahabat kecilnya, ia menyumpah Jongdae dengan rencana busuknya, ia membenci Kai karena membuangnya. Namun kini, melihat ketiganya dengan senyum cerah ditengah pintu sungguh membuat Kyungsoo bahagia.
Tanpa diberi perintah lagi, Eunha berlari dari sisi Kyungsoo menuju Jongdae. Mereka berpelukan dan bahkan bartender itu menangis sembari menghirup puncak kepala kekasihnya.
Kyungsoo masih berdiri disana, maniknya memandangi Kai yang masih fokus pada pasangan yang saling berpelukan. Tidak beberapa lama, Kai memutus kontak dan segera melihat pada Kyungsoo. Air mata bisa saja mengalir dari sudut kelopaknya, kembali bertatap seperti ini sungguh membuatnya bersyukur pada tuhan. Kai masih dengan tubuhnya yang indah, wajah memukai dan tampilan kulit karamel yang dipuja. Meski penuh dengan lebam dan luka, sungguh orang ini tetap yang paling cantik bagi Kyungsoo.
"jadi— apa kalian masih akan bertatap seperti itu atau kita akan keluar dari sini bersama-sama?" Baekhyun memecah suasana. Kai sejenak terdiam ditempat, ia menatap manik biru Kyungsoo sebelum kemudian lengannya terangkat, telapak itu menengadah sebagai tanda bahwa ia akan menarik Kyungsoo keluar dari sekap sang ayah.
"mari kita keluar dari sini, Kyungsoo-ya" kata si kulit karamel dengan tenang
Yerin secara tiba-tiba muncul dari samping, gadis itu menempel pada Baekhyun dan segera menaruh fokus kearah designer. Nangis haru keluar dari kelopak Yerin dan Kyungsoo hampir tertawa karenanya.
Sekali lagi, Kyungsoo menaruh tatap kasih pada Kai, seakan meyakinkan pria itu bahwa cinta adalah apa yang begitu ingin Kyungsoo ucapkan saat ini. Designer itu bisa saja menghajar habis apa yang menjadi miliknya, dan Kai adalah apa yang diinginkan Kyungsoo. Namun melihat keadaannya sekarang, Kyungsoo tidak punya keinginan lain selain memeluk Kai untuk dirinya sendiri.
"aku tidak akan keluar dari sini" Kyungsoo tanpa sadar berucap dan itu cukup untuk membuat kelima lainnya menampakan sirat terkejut.
"apa kau gila? Aku ingin kau keluar dari sini dan kau harus keluar dari sini!" itu adalah Kai yang berucap. Pria karamel itu kemudian maju dua langkah hanya untuk kembali dihentikan oleh Kyungsoo.
"berhenti disana"
"Kyungsoo, ini bukan saatnya bercanda—"
"aku akan keluar dari sini, jika kau menjadi pacarku!" Kyungsoo dengan tegas berbicara. Ia menatap langsung pada manik coklat kelam milik Kai seakan memberitahu bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Kai masih diam ditempat, sejujurnya ia tidak lagi mengerti apa yang dipikirkan oleh si tolol Kyungsoo, namun pria karamel itu tetap saja tersenyum. Kini maniknya memandang Kyungsoo dengan sayang, ia bisa saja berlari memeluk lelaki itu dan tidak akan keberatan berada diposisi yang sama sepanjang hari, asalkan itu dengan Kyungsoo dunia akan terasa ada dibawah kuasanya.
"Ew, haruskah kalian melakukan itu disaat seperti ini?!"
"cepat katakan YA, sebelum keadaan semakin buruk disini"
"Oh tuhan Kai, pria itu keras kepala, dia sungguh tidak akan bergerak dari tempatnya sebelum kau mengatakan YA!"
"kalian benar-benar menggelikan!"
"kau akan cepat menjawab tawaran sialan Kyungsoo atau kita mati bersama disini!"
"OKE, YES! I SAID YES! Kita akan menjadi pasangan kekasih, sekarang ambil tanganku dan kita akan cepat keluar dari sini! Fuck you Do Kyungsoo!" mendengar itu dari mulut Kai, Kyungsoo menyerinai nakal.
Pria putih itu meraih tangan Kai dan mengenggamnya erat, mereka berlari keluar dari bangunan dan Kyungsoo seakan lupa dengan sakit luka pada tubuh begitu kulitnya bersentuh dengan tubuh hangat milik Kai.
.
.
to be continue
.
.
Hai, wah ini adalah updateku yang paling lamaa, Semoga menikmati hehe
cerita ini mau selesai loh, mungkin 1 atau 2 chapter lagi, ayo berikan review mau seperti apa cerita ini berakhir hihi!
Terimakasih untuk kalian yang sudah follow, favorite dan yang memberi review💓💓💓 terimakasih juga yang telah memberi saran, saran dierima💓
Jangan lupa berikan review 💓
See You!
