Badai baru saja reda saat Kurenai menemukan anak laki-laki sekarat di pinggir sungai Kurobegawa. Anak itu telungkup memegangi sebatang kayu lapuk. Tubuhnya penuh luka. Sebagian kaos putih yang ia kenakan robek dan ada bercak-bercak darah. Anak laki-laki itu masih bernapas lemah saat Kurenai mendekatinya. Begitu tahu anak itu masih hidup Kurenai berteriak minta tolong. Beberapa nelayan mendekatinya kemudian dan segera melarikan anak itu ke rumah sakit.
Usianya sekitar lima tahun dan tak ada satupun warga desa yang mengenalnya. Tak ada yang tahu bagaimana anak malang itu bisa berada disana. Mugkin saja anak itu hanyut saat sedang bermain di dekat sungai mengingat hujan badai terjadi tadi malam. Kurenai mencoba menguhubungi polisi terdekat tapi tak ada respon yang berarti. Masalahnya kembali menjadi pelik ketika ternyata anak itu tak mengingat apa-apa saat ia terbangun. Jangankan untuk tahu darimana asal anak itu dan bagaimana ia bisa hanyut di sungai Kurobegawa bahkan namanya sendiri pun ia tak tahu.
Kurenai yang bingung hendak melakukan akhinya berinisiatif untuk menitipkan anak itu ke panti asuhan di daerah Tateyama. Berdasarkan apa yang ia kenakan saat itu, Kurenai menamaninya ...
UZUMAKI NARUTO
Namika Arihyoshi
Proudly
.
.
.
Present
.
PROTECTION
Disclaimer : All characters are belongs to Masashi Kishimoto. But the story line is belongs to Me.
Warning : Ditulis oleh author Gaje yang masih baru belajar nulis. Hope u like it!
Chapter 9 : Ragu-ragu
Launching film perdananya harusnya menjadi momen membahagiakan dalam hidupnya seperti yang selama ini ia impikan. Cinema XXI New York city penuh sesak oleh kerumunan orang yang ingin menyaksikan pemutaran perdana Final Fantasy malam itu. sebuah film yang menjadi viral jauh sebelum kabar penayangannya karena kabar kematian tokoh utama serta gosip hubungannya dengan Hinata. Dalam benaknya Hinata ragu apakah film itu akan sebegini dinanti jika tak ada insiden itu. Sekelebat ingatan tentang Naruto membuat dadanya sesak.
Sebelum pemutaran perdana, diadakan meet and greet dengan para pemain. Hinata dan para pemain lainnya mengenakan pakaian berwarna biru duduk di sofa putih panjang di sebuah panggung yang megah. Dibelakang mereka terdapat dinding yang telah dipasangi spanduk bergambar poster film itu. Pembawa acara, Harry Style, menyapa penonton yang kemudian dibalas dengan sorak-sorai. Kemudian mengucapkan kata-kata pembuka dan mulai menanyakan ini dan itu seputar film.
Hinata tak tertarik dengan semua yang ada dihadapannya kini. Dulu ia sempat membayangkan bagaimana berdebar dan bahagianya bisa berada di tempat itu tapi kini semuanya tak lagi berasa apa-apa baginya. Malah ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu karena tak kuat karena si pembawa acara banyak menanyakan hal-hal yang secara tidak langsung mengaitkan dengan kematian Naruto.
"Well, sekarang saya akan membacakan beberapa pertanyaan dari beberapa orang yang beruntung yang telah mengirmkan pertanya-pertanyaan untuk kalian ke fans page Final Fantasy. So let's get started."
Pembawa acara menanyakan banyak pertanyaan pada satu persatu aktor. Dan pertanyaan yang paling dominan adalah tentang insiden Naruto. Setiap kali nama pria itu disebut, rasanya hati Hinata teriris rasa bersalah yang semakin dalam mengingat pria itu harus menjadi imbas kebencian orang lain terhadap Hinata.
"Miss. Hinata, do you hear me?" Hinata tersentak kaget. Ia terlalu larut dalam lamunannya sehingga lupa dimana ia berada saat ini.
"O-oh, sorry could you please repeat your question?"
"Haha, I see. Miss. Hinata there are questions from many fans out there about your relationship with Naruto. You must be a person who is very sad about the insiden, right?"
"Hmm... Naruto merupakan sosok pria sejati yang selalu menepati janjinya. Dia selalu ceria dan saat bersamanya aku selalu merasa aman. Kecelakaan itu tentu membuat banyak orang sedih terutama kami orang-orang yang dekat dengannya sebelum kejadiaan itu. Kepergiannya membuat kami semua merasa sedih. Aku harap dia bahagia disana."
"Ada issue juga yang tersebar mengenai hubungan kalian. Beberapa sumber mengatakan bahwa Naruto sangat mencintai anda tapi anda menolaknya. Benarkah begitu?"
Pertanyaan yang diajukan kepadanya kali ini membuatnya marah tapi sebisa mungkin ia membuatnya tak kentara. "Acara ini dibuat untuk membahas tentang film ini. Pertanyaan yang anda ajukan tidak ada kaitannya sama sekali dengan film ini. Jadi saya tidak akan menjawabnya."
Pembawa acara kemudian berbasa basi yang tak terlalu ditanggapi oleh Hinata. Merasa bahwa Hinata dalam kondisi tak ingin menjawab perihal masalah pribadi, pembawa acara itu kemudian mengalihkanpembicaraan kepada pemain lainnya. Sampai acara selesai Hinata berusaha tersenyum meski matanya telah berat menahan tangis.
Hinata sangat yakin setelah ini pasti banyak gosip tentangnya yang bermunculan. Hinata mengurungkan niatnya untuk mengatakan perihal dirinya yang ingin mengundurkan diri dari Holliwood san kembali ke tanah kelahirannya demi menghindari gosip yang hanya akan menghambat perjalananya. Ia hanya perlu diam dan para pemburu gosip itu akan segera pergi karena bosen tak mendapat komentar.
*PROTECTION*
Hinata telah selesai mengurus dokumen-dokumen kepulangannya dengan dibantu oleh Sai. Film-nya telah sukses karena gosip menyedihkan itu dan membuatnya mengantongi uang yang cukup untuk hidupnya di Jepang sampai ia mendapat perkerjaan baru. Terdengar jahat memang ketika kau mendapatkan banyak keuntungan dari kematian rekan kerjamu. Tapi, toh, ia tak bisa berbuat apa-apa. Pihak manajemen Naruto juga telah memberikan keutungan yang Naruto peroleh kepada Shion sebagai satu-satunya saudara Naruto.
Beberapa hari sebelum keberangkatannya Sai menemui Hinata dan kembali menanyai kebulatan tekadnya untuk kembali. "Dengar Hinata, mungkin semua yang dulu kau tinggalkan saat ini telah berubah. Bukankah lebih baik kalau kau tetap berada disini bersama Ino? Kau punya karir yang bagus disini. Kalau kau kembali aku khawatir keadaanmu tak akan sebaik saat ini."
"Apa kau sedang mencoba membuatku ragu, Sai?" tanya Hinata skeptis.
"Hinata, Sasuke mungkin tidak lagi sama. Empat tahun bisa merubah seseorang, kau tahu maksudku. Lagi pula kau tahu bagaimana Tn. Fugaku dia mungkin akan melakukan sesuatu. Begitu juga Sakura, dia pasti akan menjadi lebih jahat karena kepulanganmu akan dianggap mengancam posisinya. Dan kau juga akan hidup sendirian disana Hinata."
Hinata menarik napas dan menyesap tehnya. Ia memandangi jalanan aspal yang memantulkan panas matahari dan merasakan cahaya matahari yang menyengat meski ia berada dibawah tenda sebuah kafe.
"Kau benar Sai. Sasuke mungkin sudah berubah. Mungkin juga aku akan menemui lebih banyak masalah nantinya. Tapi aku tak bisa terus melarikan diri. Mereka juga masih bisa mengancamku meski aku tak lagi berhubungan dengan Sasuke bahkan tidak juga mengetahui bagaiman kabarnya saat ini. Dan lagi... tempat ini mengingatkanku tentang banyak hal tentang Naruto yang membuatku bersedih. Dan para pengejar gosip itu benar-benar membuatku frustasi."
Hinata mengakhiri kalimatnya dengan sebuah tarikan nafas dalam dan kembali menyesap tehnya.
*PROTECTION*
"Jadi kau tidak akan kembali kesini lagi, Hinata?"
"Ntahlah, Ayame-san, aku belum memikirkan tentang hal itu."
Hari ini Kiba mengajaknya mengunjungi kedai Ichiraku, tempat dulu ia dan Naruto tinggal. Kiba merasa ia harus membawa Hinata kesini sebelum ia berangkat. Kiba dan Hinata telah menjadi teman yang baik setelah kecelakaan Naruto. Mereka selalu memberikan dukungan satu sama lain untuk tetap bersemangat. However, live must go on.
Bukan hanya dirinya dan Kiba, Ayame dan Paman Teuchi juga bersedih. Namun perlahan semuanya dapat kembali melanjutkan hidup mereka dengan mencoba tersenyum meski terkadang menangis diam-diam saat tak ada yang melihat. Tapi, tidak begitu dengan Shion. Gadis itulah yang paling menderita. Ia terus mengurung diri dikamarnya dan sedikit sekali makan. Ia jauh lebih kurus dan jadi semakin pucat.
Hinata pernah mencoba mengunjunginya tapi gadis itu malah histeris dan berteriak-teriak kepadanya. Ayame segera menenagnkan Shion dan meminta Kiba menarik Hinata dari tempat itu dan mengajaknya kebawah untuk menikmati semangkuk ramen.
"Hei, Hinata. Aku dan Naruto juga dulu sempat tinggal di Konoha. Dulu kami pernah menyelamatkan seorang gadis dari tiga orang pria mata keranjang. Naruto berkata bahwa gadis yang kami selamatkan itu sangat cantik sehingga ia tak bisa melupakan wajahnya. Saat ia mengatakan itu aku jadi berpikir ia juga mata keranjang seperti tiga pria itu. haha!" Kiba bercerita dengan tawa dan semua orang tertawa tapi mereka semua juga merasa sedih tapi berusaha seolah tak terjadi apa-apa.
Kiba melanjutkan, "dan ketika dia bertemu denganmu, dia bilang bahwa gadis yang ia selamatkan waktu itu adalah kau. Dan berkata bahwa kalian berjodoh. Haha, Naruto memang suka membual."
"Dia tidak membual. Itu memang aku." Hinata mengakui.
"Heh?"
"Haha. Dia juga pernah mengatakannya padaku."
"Sulit dipercaya aku pikir itu hanya bisa-bisanya Naruto saja tapi ternyata tidak ya."
"Ya begitulah. Eh tunggu sebentar ada telpon."
Hinata menjauh dari meja tempat mereka berkumpul dan mencari tempat yang tenang untuknya menerima telpon.
"Hallo, Sai?"
"Kau dimana?"
"Ramen Ichiraku"
" Aku akan segera menjemputmu."
Sai mematikan telpon tanpa munggu respon dari Hinata. Hinata tak punya pilihan selain menunggu pria itu datang.
*PROTECTION*
"Kenapa kita kesini?"
Sai belum mengatakan apapun sejak ia menarik keluar gadis itu dari kedai ramen. Dalam diam pria itu menuntunnya masuk kedalam mobil dan berkendara ke sungau yang tenang. Berkali-kali Hinata bertanya dan Sai tak mengatakan apapun hingga ia memarkirkan mobilnya.
Bukannya menjawab, Sai malah mengotak-atik ponselnya. Membuat Hinata kesal karena tak diacuhkan.
"Sai, jawab aku. Kenapa kita kesini."
Sai menyodorkan ponselnya pada Hinata. Tampak di layar bahwa Sai sedang mencoba menghubungi seseorang. Hinata tak mengenal deretan angka tanpa nama di layar dan melemparkan tatapan tajam penuh tanya kepada Sai. Sai berisyarat bahwa dirinya akan segera tahu.
Hinata menerimanya dan mendekatkan ponsel ke telinganya. Terdengar nada sambung sesaat kemudian terdengan bunyi beep yang menandakan bahwa seseorang diseberang sana telah mengangkat telponnya.
"Hn."
Bukan sebuah sapaan tapi sebuah gumaman. Jantung Hinata terpacu dan tangannya tiba-tiba terasa lemas seolah handphone layar sentuh Sai beratnya mencapai berkilo-kilo gram. Hinata masih bungkam dan menatap Sai dengan isyarat mata bertanya-tanya. Tapi Sai memberinya isyarat tangan untuk Hinata bicara.
Seseorang diseberang sana menarik nafas tidak sabar dan mendengus, "Sai, kau bisa mendengarku?"
"Ya, aku mendengarmu."
"Hinata?" suara diseberang terdengar terkejut, mungkin juga merasakan sensasi yang sama seperti gelembung krinduan yang pecah terkena udara hangat.
"Ya. Ini aku Hinata."
Sai keluar mdari mobil dan memberikan privasi kepada Hinata untuk bicara.
Suara pria itu menyebutkan namanya menggelitik telinganya seolah pria itu saat ini sedang berada disampingnya dan berbisik ditelinganya. Hinata masih merasakan debaran yang sama seperti ketika untuk pertamakalinya dulu ia telponan dengan Sasuke. Suara berat dan gumaman pria itu masih sama dan begitu juga perasaan Hinata, tak ada yang berubah. Harapannya kembali muncul sampai Sasuke menghancurkannya lagi.
"Jangan kembali ke Jepang." Tidak, bukan ini yang ia harapkan Sasuke katakan. Seharusnya pria itu menanyakan kabarnya dan mengatakan hal-hal positif lainnya tentang kepulangannya. Tapi semua ini sangat jauh dari ekspektasinya.
"Kenapa aku harus menurutimu?"
"Karena semua ini demi dirmu."
"Tidak. Kau tak berhak mengaturku lagi, Sasuke. Tidak sama sekali."
"Hinata, semua tak lagi sama seperti dulu. Kita sudah lama berakhir."
"Tidak, Sasuke. Aku tak pernah menyetujuinya."
"Kau tidak punya siapa-siapa disini, Hinata. Tetaplah disana dan nikmati hidupmu. Dan berbahagialah."
"Aku memilikimu."
"Kita sudah berakhir, Hinata."
"Ck, berhentilah berbohong, Sasuke. Aku tetap akan kembali dengan atau tanpa persetujuanmu."
"Hinata..."
Hinata menutup telponnya sepihak. Meletakkan ponsel itu sembarang dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Merasa frustasi dengan segala hal yang tiba-tiba membuatnya ragu. Cintanya pada pria itu telah membuatnya bertindak bodoh tapi ia tak bisa berhenti mencintainya. Ia ingin melihatnya sekali lagi. Ingin bicara dengannya dan menanyakan banyak hal. Hinata tak masalah jika ia akan kehilangan segalanya karena ia juga awalnya tak memiliki apa-apa. Dan kehilangan satu-satunya cintanya setelah ia kembali berharap mungkin akan menjadi hal yang merepotkan. Hinata menjadi ragu.
Sai kembali masuk ke mobil setelah memastikan Hinata selesai dengan telponnya. "Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak. Aku mulai ragu, Sai."
"Sasuke benar, Hinata. Segalanya tak lagi sama begitu juga hubungan kalian."
"Tapi perasaanku masih sama, Sai."
"Aku akan mengantarmu pulang sekarang. Tenangkan dirimu dulu. Aku akan mendukung semua keputusanmu, Hinata."
"Terima kasih."
*PROTECTION*
Malam itu salju turun. Ayahnya memelukanya dengan bangga. Anak perempuannya telah berhasil menjadi juara balet. Mungkin agak terlihat berlebihan tapi ayahnya selalu mengapresiasi setiap keberhasilan sekecil apapun itu. dan hal itu membuatnya sangat menyayangi ayahnya. Hinata melihat ibunya berdiri di sudut ruangan dengan adik kecilnya, Hanabi di gendongan. Semua tertawa dan bahagia malam itu.
Kemudian suara bel dipintu menginterupsi. Hiashi melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu. Hinata melihat pamannya datang bersama dua orang yang tak Hinata kenal. Satunya wanita berambut merah panjang dan satunya lagi pria berambut kuning. Hinata mengikutinya tapi ayahnya mengatakan kalau ini masalah bisnis. Ayahnya mengambil mantel dannya dan pergi keluar bersama pamannya dan juga dua orang yang Hinata tidak kenal itu. Ia berlari mengejar ayahnya dan ketika ia membuka pintu, tubuhnya terdorong ke belakang dan menabrak dinding. Salju menimpanya dan kemudian berubah menjadi merah. Saat Hinata membuka matanya, ia melihat api membakar rumahnya. Ia mendengar teriakan orang-orang dan suara-suara ledakan yang silih berganti. Ia melihat ayah, ibu dan juga adiknya di tempat itu terbakar dan menjadi abu.
Tring~
Notifikasi pesan masuk menyelamatkannya dari mimpi buruk tentang masa lalu nya yang belakangan ini kembali muncul. Dan kembali membuatnya merasa kesepian mengingat ia tak pernah merasakan kehangatan keluarga lagi sejak kejadian itu.
Hinata kehilangan ingatannya selama bertahun-tahun hingga tak terpikir olehnya untuk mencari tahu tentang keluarganya. Saat itu Hinata masih kecil dan tak ada yang ia ketahui selain ia mempunyai orang tua yang selalu mendukungnya dan adiknya yang masih kecil. Semua itu pun baru ia ingat lagi saat ia hampir mati ditengah badai salju ketika Kimimaru menyerangnya. Hinata beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur untuk menenggak segelas air. Tanpa terlebih dahulu mengecek pesan di ponselnya.
Pagi itu, cuacanya begitu indah. Langit cerah dan matahari bersinar dengan malu-malu di timur. Cahaya jingga menelusup masuk melalu celah jendela. Hinata mengambil dua pil penenang di laci dapurnya dan menenggakknya sekaligus dengan segelas air. Kemudian berjalan menuju kamar mandi dan berendam untuk menenangkan diri.
Hinata keluar setelah ia selesai dan memakai kaos dan celana pendek. Hinata mengecek ponselnya dan mendapat sebuah pesan tapi tak ada nomor yang tercantum. Sedikit agak was-was dan curiga barangkali itu dari Kimimaru atau orang-orang yang menginginkan kematiannya.
Hinata membuka pesan dan mendapati sebuah foto yang membuat lututnya lemas dan kepala mendadak pening. Itu adalah foto rumahnya saat ledakan itu terjadi. Sama seperti yang ia lihat dalam mimpinya tadi pagi.
Ia hendak menelpon orang ini tapi ia tak bisa. Pengirimnya tidak memperlihatkan nomornya. Hinata sedang mengetikkan nomor Sai di tombol panggilnya ketika tiba-tiba satu pesan dari orang yang tak dikenal itu masuk.
'Aku mengetahui tentang dirimu. Kau mungkin akan curiga tapi aku berada dipihakmu. Rahasiakan ini dari siapa pun. Aku akan menghubungimu lagi setelah kau sampai di Jepang. –M. '
Hinata menutup aplikasi pesannya dan kembali mengetikan nomor Sai di tombol panggilnya. Terdengar nada sambung beberapa kali sebelum Sai menganggkat dan menyapa dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Ya?"
"Sai ak u sudah memutuskan aku tetap kembali ke Jepang. Aku akan memesan tiket dan berangkat besok."
"Apa?"
To be Continued-
Akhirnya bisa update sebelum di bulan Januari.
Ahh, adegan SasuHina itu merupakan bagian tersulit untuk ditulis. Aku ingin memberikan yang terbaik tapi sepertinya malah tak sebaik yang aku kira. Sasuke itu sosok yang misterius dan sulit ditebak sedangkan Hinata itu cewe yang terlalu naif. Sedang aku author yang gak akan membuat kisah cinta yang mudah untuk SasuHina. Ditambah lagi peran Sakura yang seperti duri dalam daging yang ngebuat pikiran aku jadi ribet. Haha~ tapi tenang aja I'll try my best!
Wish u like this chapter.
Mungkin kalian punya pendapat mengenai SasuHina? Kasih tau aku di review ya. I'll be waiting for you.
