Sleep With the Devil (KookV version)

Original story by Santhy Agatha

Rated : M

Cast :

Kim Taehyung as Lana

Jeon Jungkook as Mikail Reveno

Kim Namjoon as Norman

Warning : YAOI, M-preg, typo(s).

...

a/n : Seperti yang tertera di atas, semua isi cerita ini adalah milik kak Santhy Agatha. Saya hanya meremake cerita ini dengan tambahan/pengurangan beberapa kata agar lebih cocok dengan tema yaoi-nya. Mohon maaf kalau ada beberapa kata yang tidak teredit. Intinya, saya cuma mau memuaskan para KookV shipper yang barangkali ingin membaca remake novel ini versi KookV-nya.

...

BAB 12

Hari pertamanya dalam kebebasan dan Taehyung luar biasa menikmatinya. Rumah mungil yang disewanya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan sebelumnya. Mungkinkah Jungkook mengirimkan orang-orangnya untuk membersihkan rumah ini? Taehyung menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan Jungkook dari pikirannya. Ia harus melupakan lelaki itu dan melangkah maju.

Pagi itu yang dilakukan oleh Taehyung pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan mengerutkan kening ketika menemukan kulkasnya penuh dengan bahan makanan. Ini pasti pekerjaan lelaki itu, gumam Taehyung, menolak menyebut nama Jungkook demi usahanya untuk melupakannya. Tetapi Taehyung tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari pertama kebebasannya.

Diambilnya sayuran, daging sapi, dan telur. Lalu ia membuat tumis daging dengan sayuran dan telur yang berbau harum, setelah menuang masakan harum itu dari wajan, Taehyung menuang teh hangat yang sudah diseduhnya tadi pagi ke cangkir berwarna putih, dan meletakkan semuanya di meja. Sambil menyantap makanannya Taehyung menyalakan komputernya. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mencari pekerjaan, karena Taehyung harus bertahan hidup. Seperti semula.

Seingat Taehyung, dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak dan memang hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dua bulan setelah dikurangi pembayaran uang sewa rumah kecil ini secara bulanan. Setelah itu Taehyung harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membayar tempat tinggalnya, kalau Taehyung tidak bisa melakukannya, ia akan menjadi gelandangan. Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sempit.

Oh ya, hal kedua yang harus dilakukannya adalah mengambil uang tabungannya, mungkin nanti siang ia akan pergi ke Bank.

Taehyung menghirup tehnya yang terasa harum dan meneguknya dengan tegukan pelan yang terasa nikmat. Lalu mulai menyantap sarapannya sambil membuka situs pencari pekerjaan di komputernya.

Lowongan kerja... lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya... mata Taehyung bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Ia mengirimkan email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut sambil menghabiskan sarapannya.

Ketika Taehyung selesai melakukan kegiatannya, waktu sudah hampir jam dua belas siang. Taehyung teringat bahwa ia harus pergi ke Bank, dengan bergegas Taehyung mengambil tas gendongnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya.

Seketika Taehyung waspada. Ia tidak pernah punya teman sebelumnya. Jadi, itu tidaklah mungkin jika temannya yang bertamu. Lagipula, dalam penyamarannya waktu itu karena berencana membalas dendam kepada Jungkook, tidak banyak yang tahu kalau Taehyung tinggal di rumah mungil ini.

Apakah itu musuh Jungkook yang ingin mencelakainya? Taehyung bergidik ngeri. Kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Tidak, Jungkook pasti sudah mengurus masalah itu sebelum memutuskan melepaskan Taehyung. Jadi, siapa yang sedang mengetuk pintunya saat ini?

Dengan hati-hati Taehyung mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang lelaki dengan setelan jas mahal dan resmi berdiri di depan pintunya. Dari penampilannya, tampaknya lelaki itu lelaki baik-baik. Tetapi penampilan bisa menipu bukan? Taehyung masih tidak bisa percaya bahwa Dokter Park yang begitu baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam.

Taehyung meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan hati-hati, membiarkan rantai tetap menahan pintu itu

"Siapa?" Taehyung menatap pria tampan dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan keningnya.

"Selamat siang, Anda Tuan Kim Taehyung? Saya Kim Seokjin, pengacara yang dikirim kemari."

Pengacara? "Pengacara untuk apa? Saya tidak berkaitan dengan masalah hukum apapun," Taehyung masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Seokjin dengan curiga.

"Saya dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda," Seokjin tampak berdehem memikirkan sesuatu, "Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Tuan Oh Sehun dan Tuan Oh Luhan."

Taehyung tertarik, "Apakah Luhan yang mengirimmu kemari?"

"Sayangnya bukan, meski Luhan menitipkan salam untuk anda dan berharap kalian bisa bertemu di lain kesempatan," Seokjin mengangkat bahu, "saya dikirim oleh Tuan Jeon Jungkook."

Taehyung mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, ia berpendapat bahwa lelaki yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Ia meletakkan pisaunya dan masih dengan waspada, iapun membuka pintunya.

"Boleh saya masuk? Tenanglah, saya bukan orang jahat," Seokjin tersenyum dengan gaya profesional.

Taehyung mempersilahkannya masuk, dan ia duduk menatap lelaki itu yang tengah mengeluarkan berkas-berkas yang tampak penting dari tas kerjanya.

"Ini adalah surat kepemilikan rumah ini, Tuan Jungkook telah membelinya atas nama Anda. Dan ini nomor rekening yang dibukukan Tuan Jungkook atas nama Anda, seluruh kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya," Seokjin meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di atas meja lalu tersenyum lagi, "saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau semua sudah lengkap, saya akan berpamitan," Lelaki itu beranjak dari duduknya meninggalkan Taehyung yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan kaget.

Surat rumah? Rekening tabungan? Matanya melirik sekilas pada surat-surat itu. Semua atas namanya!

"Tunggu dulu! Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat-surat ini! Saya tidak bisa menerimanya!"

"Tuan," Seokjin menyela sudah siap pergi dari rumah itu, "saya hanya menyampaikan apa yang ditugaskan kepada saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa menghubungi langsung Tuan Jungkook."

Dan Seokjinpun pergi meninggalkan Taehyung yang masih tercenung dan bingung menatap berkas-berkas di depannya.

.

Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Taehyung merasakan semua mata memandangnya, seolah ia adalah orang aneh yang salah tempat. Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Seokjin kepadanya tadi siang dan berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionis yang menatapnya curiga.

"Jeon Jungkook kata Anda? Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini..."

"Saya tidak ingin melamar pekerjaan," Taehyung mulai merasa jengkel menerima tatapan meremehkan dari resepsionis itu, "Tolong atur pertemuan saya dengan Jeon Jungkook."

"Tuan, saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Jeon tidak mungkin bisa ditemui semudah itu. Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan sekretarisnya dulu..."

"Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku. Aku ada janji temu dengan Jungkook jam dua," sebuah suara yang dalam di sebelah Taehyung mengagetkannya.

Taehyung menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan lelaki yang berdiri di sebelahnya. Well, satu lagi lelaki dengan anugerah kesempurnaan fisik yang luar biasa. Batin Taehyung sambil menatap Sehun yang memakai jas warna hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Tapi untunglah yang satu ini lelaki baik dan menyayangi isterinya. Mau tak mau Taehyung mengingat kemesraan Sehun dan Luhan di pesta malam itu, dan merasa kagum melihat besarnya cinta yang terpancar dari Sehun dan Luhan ketika mereka bertatapan.

Resepsionis itu menatap Sehun dan sudah pasti mengenalinya.

"Oh, Tuan Oh Sehun, selamat datang," sikapnya berubah ramah dan Taehyung mencibir atas perbedaan perlakuan yang diterimanya, apalagi resepsionis itu menatap Sehun dengan tatapan memuja, "mohon maaf, tadi siang kami sudah mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan, Tuan Jeon mendadak harus ke luar negeri." Sehun dan Taehyung sama-sama mengerutkan keningnya. Jungkook ke luar negeri?

"Aku tidak menerima pesan itu," gumam Sehun tajam, membuat resepsionis itu menunduk gugup hingga Taehyung merasa kasihan. Tetapi kemudian Sehun mengangkat bahunya.

"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mengganti waktuku yang tersia-siakan untuk kemari." Sehun menoleh kepada Taehyung, "kalau waktuku tersia-siakan aku akan terlambat pulang ke rumah."

Taehyung mau tak mau menahan senyum. Sehun tampak lebih kesal karena terpaksa terlambat pulang daripada karena batal bertemu Jungkook.

"Aku akan kembali ke kantor, oh ya, Luhan menitipkan salam untukmu," dengan senyumnya yang mempesona, Sehun mengedipkan sebelah matanya ramah, lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari lobby itu.

Taehyung menatap punggung Sehun yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa beruntungnya Luhan memiliki pasangan yang luar biasa seperti Sehun...

"Tuan Taehyung?" kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Taehyung menoleh dan mendapati Namjoon yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift, "apa yang Anda lakukan di sini?"

Taehyung mengerjapkan matanya, "aku mencari Jungkook," ditunjukkannya amplop berkas itu kepada Namjoon, "ini... aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini."

Namjoon menatap berkas-berkas itu dan mengerti, "Tuan Jungkook ingin Anda menerimanya."

"Aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya."

"Itu uang anda," sela Namjoon tenang, "itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan ayah Anda yang sudah di take over oleh Tuan Jungkook."

Taehyung tertegun. Bagian sahamnya? Ia tidak pernah mendengar ini sebelumnya.

"Bagian saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda begitu usia Anda genap 25 tahun," Namjoon menatap sekelilingnya yang ramai dan tampak tidak nyaman, "mari saya akan jelaskan kepada Anda."

.

Ia dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat yang elegan di lantai dua. Namjoon duduk di sofa di depannya dan mempersilahkan Taehyung duduk.

"Mari duduk dulu, Anda ingin kopi?"

Taehyung menggelengkan kepalanya, terlalu tercengang dengan semuanya yang tampak begitu tiba-tiba.

"Tuan Jungkook saat ini sedang ada di Italia ada beberapa urusan yang mendesak di sana," Namjoon mengubah posisi duduknya supaya nyaman, "seharusnya dari awal saya menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan Jungkook menahan saya."

Cerita apalagi? Kejutan apa lagi? Jantung Taehyung berdegup kencang.

"Tuan Jungkook tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda bangkrut," Namjoon mengangkat bahunya, "Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan Jungkook bukanlah membangkrutkan perusahaan-perusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan Tuan Jungkook."

Taehyung mengerutkan keningnya membantah, "Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja sebelum ayah membuat perjanjian dengan Jungkook, kami sama sekali tidak bangkrut!"

Taehyung teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka, rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!

"Ayah Anda menyembunyikan hal ini dari keluarganya, dia tidak ingin ibu dan Anda merasa cemas," Namjoon menghela nafas, "Anda boleh tidak percaya kepada saya, tetapi biarkan saya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada sedikitpun kaebohongan dari saya kepada Anda."

Mata Namjoon menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita.

"Ayah Anda datang kepada Tuan Jungkook waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian kerja sama. Tuan Jungkook sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benar-benar kolaps akibat manajemen yang kacau balau, akan membutuhkan biaya dan perhatian yang luar biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan penawaran kepada Tuan Jungkook."

"Penawaran?"

Namjoon menatap Taehyung hati-hati, "Ya... penawaran yang sebenarnya sangat konyol, tetapi langsung membuat Tuan Jungkook berubah pikiran."

"Penawaran apa?"

"Anda."

Taehyung tertegun, wajahnya pucat pasi, "Aku?"

"Ayah Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada Tuan Jungkook, saya harap Anda memaklumi," Namjoon menghela nafas, "mungkin Andalah satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkannya kepada Tuan Jungkook, mengingat waktu itu reputasi Tuan Jungkook sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati Tuan Jungkook."

Taehyung hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya? Tidak mungkin! Ayahnya tidak mungkin tega melakukan hal seperti itu!

"Saya tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti akan saya tunjukkan kepada Anda. Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya," Namjoon berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih berganti di wajah Taehyung, "segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan bukan Anda. Tuan Jungkook, saya yakin akan menolak mentah-mentah permohonan ayah Anda. Tetapi Tuan Jungkook langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda."

Fotonya yang sangat mirip dengan Baekhyun. Dada Taehyung terasa perih menyadari kenyataan itu.

"Yah, Anda mengerti kan... walau hanya dengan tatapan sekilas saja pasti mudah menyadari kemiripan Anda dengan..." Namjoon menghentikan kata-katanya, menyadari wajah Taehyung yang pucat pasi, "Anda tidak apa-apa, Tuan?"

Taehyung menganggukkan kepalanya, "Tidak, aku tidak apa-apa," suaranya terdengar serak, susah payah berusaha dikeluarkannya.

"Tuan Jungkook langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut perjanjian itu pada usia 25 tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan Jungkook, sebagai pengantinnya. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan Jungkook tidak pernah melakukan take over pada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda..." Namjoon menatap Taehyung miris, "tetapi ayah Anda rupanya bekerja dengan manajemen yang tidak becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan ayah Anda, bukannya terselamatkan malah semakin hancur. Ayah Anda lalu datang kembali meminta tolong kepada Tuan Jungkook."

Taehyung hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Namjoon sebaik-baiknya. Apakah Namjoon berbohong? Tetapi lelaki itu tampak lurus dan jujur... Taehyung cuma masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Namjoon adalah kebenaran, maka Taehyung harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata.

Taehyung sudah dijual untuk menjadi pengantin Jungkook di ulang tahunnya yang ke 25, itu seminggu lagi. Taehyung mengernyit, ia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya ia berteriak kalau ia bukan barang, ia manusia dan ia punya kehendak yang bebas.

"Tuan Jungkook sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan begitu saja oleh ayah Anda, dan Tuan Jungkook tidak mau memberikan kesempatan kedua lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau lebih hancur. Jadi, Tuan Jungkook membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun ayah Anda tidak berhak menerimanya," Namjoon menatap Taehyung dalam-dalam, "itu semua karena Tuan Jungkook mengkhawatirkan Anda."

Jungkook mengkhawatirkannya? Tidak mungkin! Lelaki itu hanya cemas, karena Taehyung adalah lelaki yang berwajah sama dengan isteri yang dicintainya, lelaki yang diharapkannya bisa menggantikan orang yang dicintainya...

"Saya mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan kepada Anda waktu itu ketika Tuan Jungkook menyela pembicaraan kita," Namjoon bekata-kata lagi, "memang Anda pasti akan berfikir bahwa Tuan Jungkook hanya menganggap Anda sebagai pengganti Tuan Baekhyun. Tetapi tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, yang dilihat Tuan Jungkook adalah benar-benar Anda, diri Anda sendiri."

Seiring berjalannya waktu? Namjoon mengangguk, seolah bisa membaca pertanyaan yang tersirat di mata Taehyung.

"Yah, selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik Tuan Jungkook... Semua sudah diatur agar kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut."

Tiba-tiba Taehyung menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang ia dapat tanpa sengaja, seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat murah...

"Kami bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda," wajah Namjoon melembut melihat pipi Taehyung merona merah, lalu menatap Taehyung dengan menyesal, "kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami, Taehyung-shi. Percayalah, Tuan Jungkook terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia sudah berusaha membantu ayah Anda –demi Anda," Namjoon menekankan kata-katanya, "semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan Jungkook."

Taehyung merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika kata-kata Namjoon itu benar... dan sepertinya memang semua adalah kebenaran... maka Taehyung harus merasa malu. Semua dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini, dan kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang benar-benar salah. Dan Jungkook bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian, dan tuduhannya. Kenapa Jungkook tidak pernah membela diri dan membiarkannya semakin liar dengan emosi dan kemarahan membabi butanya?

"Sebentar lagi ulang tahun Anda... sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah Anda... Tuan Jungkook akan menikahi Anda."

Taehyung membelalakkan matanya. Apakah Jungkook masih menganggap perjanjian bertahun-tahun lalu itu dengan serius? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak sedikit, yang diberikan Jungkook kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu saja. Kalaupun Taehyung menolak Jungkook, maka ia harus menanggung hutang yang sangat besar kepada lelaki itu.

"Apakah... apakah Jungkook memintamu agar mengatakan semua ini kepadaku...?"

Namjoon langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan taehyung itu, "Tidak. Tidak ada satupun perintah dari Tuan Jungkook kepada saya untuk menceritakan ini semua, bahkan Tuan Jungkook terkesan merahasiakan semua ini dari Anda," Namjoon tersenyum, "saya hanya memikirkan cara-cara Tuan Jungkook, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi."

Taehyung mengernyit, "Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya... jadi dia membebaskanku hanya sementara?"

Namjoon mengangguk, meminta permakluman, "Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti -saya bisa menjamin itu- Tuan Jungkook benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda ketahui, Tuan Jungkook benar-benar serius ingin menikahi Anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam Tuan Baekhyun. Meminta izin kepada mendiang isterinya."

Taehyung memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih... kekosongan yang menyesakkan dadanya... hampir seperti... patah hati.

.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Taehyung sudah tahu hari ini akan tiba. Entah kenapa ia tahu, bahwa Jungkook akan datang menjemputnya dan merenggutnya kembali, dan jantungnya berdegup kencang.

Ketukan di pintu rumahnya membuatnya terlonjak, meskipun Taehyung sudah mengantisipasinya. Dan ketika membuka pintu, Taehyung bertatapan dengan wajah Jungkook. Lelaki itu tampak luar biasa tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir kali mereka bertemu. Mengenakan kaca mata hitam dan kemeja biru berlapis jaket khaki dan celana yang senada, dengan rambut hitamnya yang acak-acakan. Dia seperti malaikat yang diturunkan di depan pintu rumah Taehyung.

"Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan," Taehyung berkata, mencoba mencari-cari mata Jungkook, tetapi kesulitan karena kacamata hitam itu menghalanginya.

Jungkook terdiam, "Aku tahu kalau kau tahu, Namjoon sudah menceritakan pertemuan kalian," lelaki itu menoleh ke belakang Taehyung, "bolehkah aku masuk?"

*TBC*

Mind to review?