3 hari setelah kecelakaan Japan Fly ...
"Tadaima," Syo menutup pintu sambil melepas sepatu. Dari sana, ia dapat mendengar suara televisi di ruang keluarga yang sedang menayangkan berita tentang jatuhnya pesawat Japan Fly. Sejak berita itu muncul 3 hari yang lalu, Syo dan Obaachan terus mengikuti perkembangannya.
Saat melewati ruang keluarga, Syo mendapati Obaachan sedang memotong semangka di dapur. Syo melonggarkan dasi seragam sekolahnya sambil terus berjalan menuju tangga. Tepat di anak tangga pertama, suara dari reporter berita berhasil menarik perhatiannya.
'... tim penyelamat kembali berhasil menemukan satu jenazah korban Japan Fly. Setelah diidentifikasi, korban dapat dikenali sebagai Hijirikawa Masato ...'
"Hijirikawa-senpai ..." lirih Syo.
~Only Me~
DISCLAIMER
Uta no Prince-sama is belong to Broccoli
Story is mine
CAST
Nanami Haruka
STARISH member
Kurusu Syo as Nanami Syo
Quartet Night Member
WARNING
AR, gaje, abal, amatiran, OOC
.
^^ Happy Reading! ^^
.
.
.
.
.
'... seperti yang diketahui, Hijirikawa Masato adalah putra dari Hijirikawa Masaomi, pemilik Hijirikawa Financial Group. Hijirikawa Masato digadang-gadang akan menjadi pewaris perusahaan tersebut. Kematiannya tentu menimbulkan rasa kehilangan dari berbagai pihak ...'
Otoya hanya mampu memandang kosong televisi di depan sana. Seorang anak laki-laki yang sedari tadi juga duduk di sampingnya turut menyimak berita tersebut berhasil mengembalikan kesadarannya dengan berujar, "Oto-nii, ada apa? Kenapa kau tampak sedih?"
Otoya menatap anak tersebut dan tersenyum. "Kau lihat orang itu? Otoya merujuk pada foto Masato yang ditampilkan di televisi. "Dia adalah teman Oto-nii. Dia meninggal dalam kecelakaan pesawat. Oto-nii sedih sekali." Mata Otoya berkaca-kaca.
"Huweeeeeee... Oto-nii jangan sedih." Seorang anak perempuan mulai merengek. Hal tersebut membuat anak-anak lainnya mulai merengek hampir menangis.
"Hei, tenanglah. Kalau kalian menangis, Oto-nii jadi tambah sedih." Otoya berusaha menenangkan adik-adiknya.
"Huaaaaaaa... Tomo-nee," seorang anak mengadu pada Tomochika. Tidak berapa lama, gadis itu muncul. Kemunculan Tomochika semakin menambah anak-anak yang mengadu padanya.
"Ne, anak-anak manis, kalian tenang, ya..." Tomochika berusaha membantu Otoya menenangkan anak-anak panti. Ia mengangkat satu anak yang paling kecil untuk digendong.
Otoya memindahkan saluran televisi. Tapi ternyata saluran itu juga sedang memberitakan hal yang sama. Saat itu juga ponselnya bergetar. Otoya mengambilnya dari saku celana. Tomochika juga tampak mencari-cari benda itu dari tasnya.
Pesan dari Ranmaru:
Upacaara pemakaman Hijirikawa Masato dilaksanakan esok hari pukul 08.00 pagi di pemakaman keluarga Hijirikawa.
Otoya dan Tomochika saling bertatapan.
"Kita datang bersama," kata Otoya. Tomochika mengangguk.
~Only Me~
Ketika Haruka membuka matanya, pandangannya dikaburkan oleh sinar matahari yang menyilaukan. Pintu kamar mandi terbuka, Ren keluar dalam keadaan telanjang dada dengan handuk yang tersampir di bahunya. Haruka mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang. Ren tidak berujar satu katapun sampai selesai berpakaian.
Pakaian Ren sangat formal. Ia mengenakan kemeja putih dan setelan jas warna hitam, serta dasi warna orange bercorak. Setelah memakai pantofel hitam mengkilat sebagai alas kakinya, Ren duduk di tepi ranjang.
"Aku dan keluargaku akadan datang ke upacara pemakaman Hijirikawa," ujar Ren.
Haruka tertunduk dan meremas selimut.
"Kau tidak apa-apa, kan, di sini saja?" Ren memastikan.
Dengan cepat Haruka mengangkat kepalanya. "Aku ingin ikut!" Ia berusaha sekeras mungkin untuk mengeluarkan kata-kata yang tertahan. "Untuk terakhir kalinya, izinkan aku ikut mengantar Masato-kun ke peristirahatan terakhirnya."
Ren terdiam. "Kondisimu tidak memungkinkan, Kohitsuji-chan. Apalagi kau datang bersamaku. Jika orang-orang lihat, terutama keluarga Hijirikawa pasti akan-"
"Onegaishimasu!" Haruka memotong kalimat Ren. Meski sungkan, tapi demi upacara pemakaman Masato, Haruka memberanikan diri menggenggam tangan Ren. Pria itu terkejut bukan main, Haruka rela membuang gengsinya hanya demi Masato. "Kumohon, Jinguji-san, kali ini saja," pinta Haruka.
Ren menatap tangan Haruka yang berada di atas tangannya. Kemudian ia menghela napas berat. "Ini demi kebaikanmu," Ren melepaskan tangan Haruka dari tangannya lalu bangkit. "Pelayan akan berikan apapun yang kau butuhkan. Aku pergi." Tanpa mempedulikan Haruka yang mulai mengeluarkan air mata, Ren terus berjalan menuju pintu kamar.
"Kumohon!" rintih Haruka berusaha menahan Ren. "Aku janji akan lakukan apapun yang kau mau. Tapi kumohon ..."
Sebelum membuka pintu, Ren menoleh ke samping. "Tidak apa, kau boleh melanggar janjimu. Simpan saja janjimu untuk hal lain." Ren menarik knop pintu dan keluar.
.
.
.
Syo sudah siap dengan setelan jasnya. Ia membuka pintu kamar Haruka, lalu berjalan ke meja belajar kakaknya. Ada beberapa figura di sana, tapi satu yang menarik perhatian Syo.
Sebuah figura putih membingkai foto Haruka dengan Masato. Syo meraihnya dan menatap lekat-lekat dua sosok yang berada di sana. Masato yang sedang tersenyum tipis dan Haruka yang tersenyum lebar berdempetan di musim gugur tahun lalu. Daun-daun pohon mapel berjatuhan menghujani keduanya.
"Nande ..." lirih Syo. "Nande yo?" satu tangannya yang bebas mulai mengepal. Syo mengangkat wajahnya menatap langit di balik jendela kamar Haruka. "Kenapa jadi seperti ini, Hijirikawa-senpai?" ia kembali menatap foto di figura.
Syo kembali menaruh figura itu di tempat asalnya. Kedua tangannya mengepal menggebrak meja. "Jinguji ..." kata-katanya bergetar. "Semua ini gara-gara kau ..." tuduhnya. "Jika saja kau tidak melakukan itu pada Nee-chan, ia pasti sudah melakukan debutnya bersama Hijirikawa-senpai," Syo mengucapkannya dengan gemetar. "Sialan kau, Jinguji!" geram Syo. Kepalan tangannya kembali ditabrakkan ke meja. "Hijirikawa-senpai tidak akan pergi ke Amerika dan kecelakaan seperti ini." Syo merasakan lutut-lututnya melemas.
"Syo-kun!" Saat suara Obaachan yang memanggil dari lantai bawah terdengar, Syo langsung menguatkan diri.
"Hai!" jawabnya sambil bergegas meninggalkan kamar Haruka.
Ketika menuruni tangga, Syo dapat melihat Obaachan sedang berbincang dengan Otoya dan Tomochika di depan pintu.
"Syo-kun, ada Ittoki-kun dan Shibuya-chan," Obaachan memberi tahu. Syo mempercepat langkahnya. Begitu sudah dekat, Obaachan berjalan kembali ke dalam. "Kalian akan pergi bersama ke upacara pemakaman Hijirikawa-kun, ne? Titipkan salam Obaachan pada keluarganya," kata Obaachan pada Syo.
"Ha-hai!"
Setelah Obaachan menghilang di dalam, Otoya menyapa Syo. "Ne, Syo-kun, syukurlah kau belum berangkat. Kau akan datang ke upacara pemakaman Masa, kan? Kami datang untuk mengajakmu pergi bersama!" ajak Otoya.
Syo memperhatikan Otoya dan Tomochika yang mengenakan pakaian formal mereka. Kemudian Syo menyadari sesuatu. "Hai! Tapi ada sesuatu yang harus kulakukan. Ne, senpai, kalian mau membantuku, kan?"
Otoya dan Tomochika saling berpandangan.
.
.
.
Pemakakam keluarga Hijirikawa sudah ada sejak Zaman Edo. Di tempat inilah para Hijirikawa yang merupakan keluarga bangsawan sejak dahulu kala dimakamkan begitu meninggal. Di Zaman modern seperti ini pun, tradisi pemakaman keluarga tersebut tetap dilestarikan.
Banyak orang yang mengelilingi makam Masato. Dari keluarga, teman, hingga rekan bisnis Hijirikawa Masaomi. Keluarga Jinguji dan Kurosaki terlihat ada di sana, serta Natsuki dan Cecil. Otoya dan Tomochika berada di bagian belakang. Di sekitar mereka juga terlihat Shining Saotome, Hyuuga-sensei, dan Tsukimiya-sensei. Hijirikawa Mai, adik Masato yang masih berusia 8 tahun tampak mendampingi ibunya. Keduanya sama-sama menangis. Hijirikawa Masaomi pun ada di dekat mereka.
Jauh dari kumpulan orang itu, dari balik sebuah pohon, Jinguji Haruka hanya mampu memandangi pusara kekasihnya dari kejauhan. Hatinya terasa pilu ketika peti berisikan Masato diturunkan 15 menit yang lalu. Sampai sekarang pun matanya masih belum behenti mengeluarkan cairan bening.
"Nee-chan, apa kau ingin kembali ke mobil?" Syo yang sedari tadi di sisi Haruka untuk mendampingi kakaknya itu dapat merasakan kesedihan yang sama. Haruka sedikit oleng. Dengan sigap Syo menjaganya agar tak sampai terjatuh. Haruka menatap Syo, mengangguk lemah. Syo sangat yakin bahwa Ren tidak akan mengizinkan Haruka ikut. Jadi, dia meminta bantuan Otoya dan Tomochika untuk menjemput Haruka terlebih dahulu.
Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menyadari keberadaan mereka di balik pohon itu.
.
.
.
Ketika upacara pemakaman usai dan kerabat yang datang berangsur-angsur pergi, Ny. Hijirikawa dan Mai tampak menghampiri Otoya dan Tomochika.
"Maaf, apa kalian teman sekelas putraku di Saotome Gakuen?" Ny. Hijirikawa bertanya penuh rasa hormat.
"Y-ya, ada apa, Ny, Hijirikawa?" jawab sekaligus tanya Otoya.
"Kalau begitu, kalian pasti mengenal Nanami Haruka, kan?"
Otoya dan Tomochika saling melempar pandang.
"Apa ... dia tidak datang hari ini? Sepertinya aku tidak melihatnya." Ny. Hijirikawa tampak sedih.
"Mendengar kabar kematian Masa, Nanami sangat-sangat terpukul hingga tidak sanggup datang ke upacara pemakamannya." Otoya berbohong.
"Dia benar-benar sedih dan terpukul, Nyonya. Dia terlalu terkejut," tambah Tomochika.
Ny. Hijirikawa menatap Mai di sampingnya. "Apakah kalian teman baik?"
"Ya, tentu saja!"
"Kalau begitu, Onii-chan, Onee-chan," Mai maju satu langkah lebih dekat. "Tolong sampaikan ini padanya, onegaishimasu." Ia menyodorkan sebuah kotak seukuran kotak sepatu berwarna biru seperti rambut Masato dengan pita berwarna biru langit sambil sedikit membungkuk. "Kami tidak tahu apa isinya. Tapi Masa-nii bilang itu untuk Haru-nee dan dia sudah menyiapkannya sebelum pergi."
"Dia memang sangat sibuk sehingga belum ada waktu luang. Jadi, dia berencana memberikannya setelah pulang dari Amerika pada Agustus nanti. Tapi takdir sepertinya ..." Ny. Hijirikawa mulai kembali menangis. Mai menguatkan. "Jadi, maukah kalian ..."
"Tentu! Haru-chan adalah sahabat baikku. Aku pasti sampaikan itu padanya," ujar Tomochika cepat sambil menerima kotak tersebut.
"Arigatou gozaimasu," Ny. Hijirikawa dan Mai melakukan ojigi dalam-dalam.
.
.
.
Syo melihat Tomochika dan Otoya keluar dari komplek pemakaman. Saat ini mereka sedang berada di mobil pribadi milik Tomochika bersama supir pribadi keluarga Shibuya.
Tomochika membuka pintu penumpang belakang, duduk tepat di belakang supir. Sementara Otoya di kursi penumpang samping supir. Syo berada di belakang Otoya. Haruka di tengah.
Supir menyalakan mesin. "Kita jalan sekarang, Nona?"
Tomochika mengangguk. "Kediaman Jinguji."
Selama beberapa menit mobil berjalan, masih belum ada yang membuka pembicaraan. Hanya suara napas, mesin mobil, dan lalu lintas jalan utama. Otoya menoleh ke arah Tomochika, Tomochika juga melihatnya. Otoya mengangguk kecil. Seakan mengerti kode yang diberikan Otoya, Tomochika mengangguk sigap.
"Ne, Haru-chan," Haruka menoleh. "Tadi ibu dan adik Masato menanyaimu." Syo juga menoleh. "Kau tenang saja, kami berhasil mengatasinya." Tomochika tersenyum. "Mai-chan memberikan ini untuk disampaikan padamu." Tomochika menaruh kotak biru di atas pangkuan Haruka. "Katanya, itu dari Hijirikawa-kun. Ia sudah menyiapkannya dari sebelum berangkat. Hanya belum ada waktu untuk memberikannya padamu. Rencananya ia akan segera memberikannya padamu setelah kembali dari Amerika."
Haruka menatap kotak di pangkuannya. Jarinya sudah menyentuh ujung-ujung pita untuk membukanya, namun terhenti. Ia mengurungkannya. Matanya kembali menitikkan air mata. Kedua tangannya langsung menutup mulutnya. Haruka menggeleng. "Aku tidak sanggup, Tomo-chan. Pemberian Masato-kun pasti sesuatu yang berharga. Aku belum sanggup membukanya sekarang."
Tomochika langsung memeluk sahabatnya. Otoya menatap sedih. Syo meninjukan kepalan tangannya yang bergetar ke pintu mobil.
~Only Me~
Jarum pendek dan panjang sama-sama berada di angka satu. Masih lama untuk terbitnya matahari dari peraduannya. Tapi ketika tangan Ren bergerak ke samping dalam tidurnya dan tidak merasakan keberadaan seseorang di tempat yang seharusnya, ia terbangun secara tiba-tiba seperti disentak oleh sesuatu. Matanya masih menelusuri seluruh kamar.
"Haruka?" Ren turun dari ranjang, memeriksa kamar mandi yang kosong, jendela kamar yang masih terkunci rapat, sampai akhirnya ia mencari ke luar kamar.
Ren menuruni tangga sambil terus memanggil Haruka. Ia mengunjungi paviliun pribadinya tanpa menemui sosok yang dicarinya. Ren semakin tergesa ketika mendengar suara barang jatuh dari suatu tempat di rumahnya. Ia bergegas menuju ke sumber suara. Begitu langkahnya sudah dekat, seseorang menariknya, membuat Ren terkejut.
"Psstt..."
Ren melihat sosok itu memberi kode untuk diam tetapi dengan pandangan yang tidak tertuju kepadanya, melainkan pada sesuatu di depan sana.
"Okaa-san?"
"Lihat itu, Ren-kun!" seru Renge-san dalam bisikan.
Ren melihat ke arah yang ditunjuk oleh ibunya. Ibu-anak berabut jingga itu tengah berada di balik tembok yang membatasi ruang makan dengan dapur. Keduanya membungkuk. Dari tempat itu Ren dapat melihat Haruka tengah mencari-cari sesuatu di lemari kitchen set. Di jam-jam seperti ini tentu saja para pelayan keluarga Jinguji sudah beristirahat di kamar pelayan.
"Kau tidak tahu ketika dia keluar kamar?" tanya Renge-san sambil berbisik.
Ren menggeleng. "Apa yang dia lakukan?" Ia juga berbicara dalam bisikan.
"Ren-kun, sekarang bulan apa dan tanggal berapa?" Bukannya menjawab, Renge-san balik bertanya.
"Kurasa sudah akhir Juni."
"Anakmu sudah tumbuh cukup besar ya di dalam sana. Sepertinya istrimu mengidam. Jadi dia berusaha membuat makanan yang diidamkannya. Tidak mungkin dia ke dapur dini hari seperti ini jika hanya lapar biasa. Kau tahu? Ketika mengandungmu maupun kakakmu, Okaa-san juga terkadang terbangun di malam larut atau dini hari hanya karena ingin makan sesuatu."
"Nani?! Mengidam?" Mata Ren membulat, tidak menyangka hal manis seperti itu bisa terjadi pada istrinya.
"Ne, ayahmu juga sering dibuat repot karena keinginan yang aneh-aneh. Itu wajar karena ketika hamil ada hormon-hormon tertentu yang meningkatkan nafsu pada makanan tertentu."
"Tapi, Okaa-san tahu sendiri, kan, Haruka sangat susah makan."
Renge-san menggeleng. "Tidak, Kaa-san yakin sebenarnya ia sangat ingin makan. Hanya saja kebenciannya padamu mengalahkan rasa sayang pada bayinya. Jadi, itu tugasmu untuk membuatnya jatuh cinta padamu." Renge-san tersenyum. "Kau lihat Haru-chan menggunakan panci? Tadi dia sempat menjatuhkannya. Sekarang, bantulah dia. Oyasumi~" Ia mengecup pipi putranya sebelum kembali tidur.
Ren masih betah mengamati Haruka yang sedang memotong sosis menjadi kepingan bulat di atas talenan. Di sekitar sana juga ada daging cincang dalam kemasan sterofoam. Haruka beralih ke katel dengan nyala api di bawahnya, wanita muda itu menumis sesuatu. Lalu Ren melihat Haruka meraih ponselnya yang diletakkan tidak jauh dari talenan, seperti memeriksa sesuatu. Ketika Haruka kembali mencari-cari sesuatu di lemari, Ren masuk ke dapur.
"Haruka, apa yang sedang kau lakukan?"
Kedatangan Ren yang tiba-tiba membuat Haruka terkejut. Ia menatap Ren sesaat, lalu pekerjaannya di meja dapur, dan kembali fokus pada barang-barang di lemari. Karena tidak mendapat jawaban, Ren teralih pada ponsel Haruka di dekat talenan. Layarnya menyala dan menampilkan tulisan-tulisan dengan beberapa gambar.
"Kau ingin membuat spaghetti?" tanya Ren setelah membaca resep yang berada di internet.
Haruka masih membisu. Ia hanya mendekat untuk memeriksa tumisannya lalu mengambil daging cincang dalam kemasan sterofoam. Ren melihat panci berisi air dengan api yang belum dinyalakan di bawahnya. Panci itu pasti digunakan untuk merebus pastanya. Ketika Haruka membuka plastik sterofoam, Ren dengan sengaja mematikan kompor yang sedang dipakai untuk menumis. Perbuatannya menginterupsi Haruka yang sedang fokus pada sterofoam yang belum terbuka semuanya.
"Kalau kau benar-benar ingin memakannya saat ini juga, aku bisa membelikannya untukmu. Ada restoran eropa favoritku yang buka 24 jam. Kita bisa pesan antar, atau kalau kau mau aku bisa langsung ke sana."
Haruka terdiam menatap kompor yang Ren matikan. "Iie," responnya sambil menyalakan kompor kembali. Lalu melanjutkan membuka plastik dan menumpahkan isinya ke dalam katel. "Aku ingin membuatnya sendiri." Ia mulai mengaduk agar bumbu yang ditumisnya meresap ke dalam daging cincang. Ren dapat melihat bulatan sosis, potongan bawang bombay, dan material lainnya bersatu dengan daging cincang.
Ren terkekeh jahil. Pelan-pelan ia membungkuk dan menumpukan kedua lengannya di atas meja dapur. "Kau ingin membuatnya sendiri atau kau ingin aku sendiri yang membuatkannya untuk kalian?" Ren menatap Haruka. Dari ujung matanya Haruka dapat menangkap Ren yang tersenyum penuh kemenangan. Haruka juga dapat merasakan tatapan Ren yang beralih ke perut buncitnya.
"Semasa di Saotome Gakuen aku belum pernah melihatmu makan spaghetti. Kau tahu? Itu makanan kesukaanku. Kau mengidam."
Haruka mengambil botol saus tomat, membukanya, dan menuangkan isinya sebagian ke dalam katel. Tidak peduli dengan yang Ren ucapkan, memilih melanjutkan membuat bolognese sauce. Melihat Haruka yang terus tidak mengacuhkannya membuat Ren gemas, tangannya sudah gatal ingin mengelus perut istrinya.
"Ne, Jinguji Junior, sepertinya seleramu dengan Otou-san sama, ne? Kau benar-benar anakku." ujar Ren pada bayinya. "Yosh! Karena ini makanan kesukaan kita, Otou-san juga akan membantu." Ren mengeluarkan ikat rambut dari saku celananya. Setelah mengikat rambut panjangnya, ia menyalakan kompor yang ada panci berisi air di atasnya. Setelahnya ia segera mencari sesuatu di lemari kitchen set. Setelah beberapa lemari mendapat kunjungannya, Ren menyerah. "Haruka, sepertinya kita kehabisan persediaan pasta untuk spaghetti." Ren menoleh untuk melihat respon Haruka. Istrinya itu berhenti mengaduk bumbu dan terdiam sesaat. Sedetik kemudian Haruka mematikan kompor, meraih ponselnya dan keluar dari dapur. "Haruka?" panggil Ren.
Ketika Ren berpikir bahwa Haruka sudah menyerah untuk makan spaghetti pada dini hari, Haruka terlihat menuruni tangga dengan jaket dan menggenggam sebuah dompet. Saat itulah Ren sadar bahwa istrinya berniat mengunjungi minimarket 24 jam hanya untuk membeli pasta spaghetti. Ren segera mematikan kompor yang merebus air dalam panci lalu menghambur keluar dari dapur dan mencegat Haruka.
"Kau mau ke mana?" tanya Ren. Haruka berusaha melewati cegatan Ren. Tapi, Ren menahannya. "Haruka!" desis Ren.
"Hanase," Haruka berusaha melepaskan lengannya yang ditahan Ren.
"Apa kau benar-benar ingin makan spaghetti sekarang juga? Tidak bisa ditunda atau diganti yang lain? Aku lihat masih ada persediaan pasta lasagna di lemari. Kau mau lasagna? Bagaimana kalau kita buat lasagna saja? Bolognese sauce-nya tidak jauh berbeda, sama," Ren terus menyerocos.
"Hanase yo!" Haruka menghentakkan tangannya dan berhasil lepas dari genggaman Ren. Ia mulai menunjukkan tatapan bencinya kepada Ren.
Ren menghela napas. Lalu tangannya ditaruh di kedua pundak Haruka. "Dengar, aku jelas-jelas tidak akan membiarkanmu keluar hanya untuk membeli pasta spaghetti. Jika kau benar-benar sangat menginginkannya sekarang juga, baiklah, aku yang akan keluar untuk membelikannya." Ren mengalah.
"Iie," gumam Haruka.
"Aku yang beli atau tidak ada spaghetti sama sekali. Pilih saja," ancam Ren.
Haruka diam.
"Sekarang ayo buka jaketmu dan berikan dompetmu kepadaku. Aku akan menyimpannya di kamar sekalian mengambil jaket dan dompetku." Jadi, Haruka tidak banyak protes ketika Ren melepaskan jaketnya dan mengambil dompetnya. "Sekarang tunggulah aku di ruang tengah atau di ruang makan." Laki-laki jingga itu pun pergi ke lantai atas.
.
.
.
Ketika Ren kembali dari minimarket dengan sekantong penuh persediaan pasta spaghetti, ia tidak mendapati Haruka di ruang tengah atau di ruang makan. Wanita itu tertidur di meja dapur. Ren melihat jam menunjukkan pukul 01.45 lalu menimbang-nimbang apakah sebaiknya tetap melanjutkan memasak atau membiarkan Haruka beristirahat saja. Tapi begitu Ren mencoba menggendong Haruka, wanita itu terbangun dan masih mengidam spaghetti. Jadi mereka melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Tepatnya Ren yang melanjutkan karena ia tidak mengizinkan Haruka berdekatan dengan dapur. Sepertinya Haruka benar-benar mengidam berat saat ini hingga perkataan Ren mau diturutinya. Jadi, ia menunggu di ruang makan.
Ren keluar dari dapur dengan dua piring spaghetti di tangannya. Entah karena itu memang makanan favoritnya atau karena ikatan batin dengan anaknya Ren juga jadi merasa ingin makan spaghetti.
"Makanlah," ujar Ren setelah menyodorkan piring untuk Haruka dan meletakkan piring untuknya sendiri. Ia kembali ke dapur dan muncul lagi dengan dua gelas air putih.
Haruka makan dengan lahap, membuat Ren diam-diam terkekeh dalam kunyahannya.
"Pelan-pelan, nanti kau tersedak," Ren memperingati.
Haruka selesai lebih dahulu dari Ren. Setelah meminum air putih, Haruka mengamati lekat-lekat jatah Ren yang tinggal sepertiga porsi. Ren menyadari minat Haruka pada jatahnya, ia berhenti makan dan tersenyum. Sengaja, Ren membuat gulungan untuk menggoda Haruka. Ia dapat dengan jelas menangkap perhatian Haruka yang terfokus pada gulungan spaghetti yang akan dimasukkan ke dalam mulutnya. Garpu itu baru sampai di depan mulut Ren ketika Ren membelokkannya ke depan mulut Haruka, membuat Haruka tersadar salah tingkah.
"Iie."
"Makanlah, kau masih menginginkannya."
Haruka menggeleng.
"Kau yakin?" goda Ren.
Diam-diam Haruka kembali menatap jatah Ren yang tersisa. Ren meletakkan garpu berisi gulungan spaghetti di atas piring, dan mendorongnya ke arah Haruka.
"Habiskan," Ren menyuruh. Ia sendiri meminum air putihnya dan karena Haruka masih bergeming, Ren pura-pura ke dapur sambil membawa gelasnya. Dari balik tembok, Ren memperhatikan Haruka yang dalam diam mulai menghabiskan jatahnya yang tersisa.
Setelah Ren memastikan Haruka sudah selesai, ia kembali ke ruang makan.
"Kau segeralah ke kamar, istirahat. Sudah pukul setengah empat. Biar aku yang membereskannya," kata Ren sambil membereskan peralatan makan dan membawanya ke dapur. Tanpa membantah, Haruka segera menapaki tangga.
~Only Me~
Jarum pendek dan panjang sama-sama berada di angka satu. Masih lama untuk terbitnya matahari dari peraduannya. Tapi ketika tangan Ren bergerak ke samping dalam tidurnya dan tidak merasakan keberadaan seseorang di tempat yang seharusnya, ia terbangun secara tiba-tiba seperti disentak oleh sesuatu. Matanya masih menelusuri seluruh kamar. Ia mendapati istrinya terduduk di sofa, sedikit meringkuk.
"Haruka?" Ren turun dari ranjang, mendekati sofa, duduk di samping Haruka.
Dapat Ren lihat dengan jelas istrinya itu tengah meringis kesakitan sambil meremas perut buncitnya.
"Ada apa?" tanya Ren dengan khawatir.
"Ittai yo!" erang Haruka. "Sakit..." Matanya memicing, menunjukkan kebencian pada Ren. Seolah berkata ini semua salahmu!
Haruka mengatur napasnya sendiri sambil terus menahan sakit. Bukan, Haruka belum ingin melahirkan. Hanya saja Jinguji kecil di dalam sana jadi lebih aktif kali ini. Untuk pertama kalinya dalam masa kehamilannya Haruka merasakan sakit yang seperti ini. Jinguji kecil terus bergerak dan menendang-nendang kasar. Ren melihat satu tetes air mata keluar dari sudut mata Haruka. Hati-hati Ren merangkul Haruka.
"HANASE!" bentak Haruka menolak disentuh Ren.
Ren menghela napas, mencoba bersabar, jangan sampai terbawa emosi. "Dia jadi semakin lebih aktif, kan, akhir-akhir ini? Kali ini saja, izinkan aku menenangkannya," pinta Ren.
Pelan-pelan Ren mendekatkan tangannya pada perut Haruka. Meski begitu Haruka malah memandangnya jijik. Dia sangat benci Ren menyentuh tubuhnya terutama mengelus perutnya. Ren menyentuh perut Haruka, mengelusnya perlahan. Sementara itu Haruka merasa tidak nyaman.
"Sssssttt... hei... Jinguji kecil, tenang, ya? Tidurlah dengan nyenyak di dalam sana, ne? Otou-san tahu kau sudah tidak sabar ingin lahir ke dunia ini, tapi tetap tenang, oke? Jangan menyakiti Okaa-san, sayang. Kau tidak mau Okaa-san sedih, kan? Ssstt... tenanglah," Ren mengatakannya sambil terus mengelus perut Haruka. Sejujurnya Haruka malah sangat ingin menghempaskan tangan Ren menjauh dari tubuhnya.
"Sakit ..." eluh Haruka sambil kembali meremas perutnya. "Hiks ..." Saking perihnya, Haruka mulai berkeringat.
"Jangan meremasnya seperti itu, dia akan semakin aktif." Ren menyeka keringat Haruka.
"Kalian terus menyakitiku, aku benci kalian!" umpat Haruka.
"Jangan bilang begitu," lirih Ren sambil terus berusaha menenangkan anaknya.
Selama ini Ren tidak pernah mengelus perut Haruka secara terang-terangan. Ia curi-curi melakukannya ketika Haruka sedang terlelap. Ren merasa sangat bahagia dapat merasakan pergerakan bayinya, rasanya ingin menangis. Pelan-pelan Ren mendekatkan telinganya ke perut Haruka, memastikan sesuatu dengan pendengarannya. Ia tersenyum kecil dan dengan kilat mengecup perut buncit itu, membuat Haruka terbelalak.
Lama-kelamaan Haruka dapat merasakan bayinya mulai tenang, rasa sakitnya berangsur-angsur mereda dan menghilang. Dan tidak lama kemudian ia sudah mendengkur halus dalam pelukan Ren.
Di waktu yang sama, hanya berbeda satu minggu, pasangan suami istri itu kembali terbangun karena anak mereka.
.
.
.
=To Be Continued=
A/N: Kira-kira Masato kasih hadiah apa ya buat Haruka? :3 Nyahaaaa~ Haruka ngidam xD Ren sweet gitu ya :3 Beruntung makanan kesukaan Ren kesukaan Renma juga. Ibunya Renma suka bikin jadi seenggaknya Renma ngertilah dikit-dikit :'3 Omong-omong chapter 11 lumayan pada ramai nge-review ya! Semoga yang ini juga muehehe...
Cam3li4: Kenapa sedih ya? Renma juga ga ngerti kenapa senang banget bikin para chara menderita ._. xD /plak Terima kasih, yaaaa^^
Riren18: Wahaha terima kasih Riren-san xD Tokiya juga chara favorit Renma lho fufufu, jadi dia pasti muncul cepat atau lambat :3 Nggak apa-apa, kok, ayo nanya-nanya aja!^^ Wah kalau buat request Renma belum sanggup nih... Soalnya fanfic masih belum jadi prioritas menulis Renma yang utama hehehe, maaf yaaaa x( Nggak apa-apa kalau panjang-panjang, Renma senang bacanya ^^
Ichiro Vava: Haruka suka sama Ren? Mungkin Ren harus relaksasi di air tejun meneruskan hobi Masato, agar Haruka tercerahkan :3 Terima kasih~ :D
Haru Kirie: Mungkin Masato harus ganti nama jadi Masoto? :'D Iya! Renma juga sukanya Ren yang dulu, ganas-ganas gimana gitu ya :3 Tapi ini character development namanya =w= Terima kasih~
Fujoshi janai desu yo ne: Terima kasih~~ Soalnya kontrak Masato udah selesai di sini hwhwhwh =w=
Terima kasih kepada kalian semua yang masih mengikuti cerita ini. Omatase shimashita 'v')/
RnR?
Aigatchuu gozaimashitaaaa~
