A/N: Hitsuzen nggak mengambil keuntungan apapun dari fic ini. Terutama juga nggak ikut punya SNK, apalagi para tokohnya.
Terima kasih untuk teman-teman yang mau meninggalkan Review di chapter sebelumnya; FayRin Setsuna D Fluorite, Akashi Sorata, VandalaHidan, Akari Kareina dan Guest. Juga semua silent readers dan Visitors yang menyempatkan berkunjung tapi belum sempat meninggalkan jejak.
Warning: Rating M untuk kekerasan, penyiksaan dan darah. Bagi yang tidak suka kepala terpenggal dan semacamnya silakan skip bagian itu turun :D walau tidak menjamin bakal paham ceritanya.
Enjoy it, my dears!
Chapter 11 : Cospiracy
Suara derit kayu terdengar saat aku membuka pintu. Langkahku terhenti saat kulihat pria paruh baya itu berdiri membelakangi sinar matahari sore, membuat seluet keemasan pada rambut putihnya yang dikuncir belakang. Bintik-bintik debu melayang di udara, di antara cahaya yang memberikan kesan gemerlap pada lemari kaca tempatnya menyimpan koleksi senjata, buku-buku dan vas antik dari cina. Aku tak bisa menangkap ekspresi pria itu dibalik bayangan. Saat ia berbalik menghadapku, ia tidak tampak terkejut.
Kenny mematikan rokoknya di asbak sembari berkata, "Apa aku perlu bertanya kenapa kau berdiri di kantorku, Eren?"
Aku menelan ludah. Memutuskan sudah kepalang basah untuk menyembunyikan sesuatu tepat di depan hidung Kenny yang lihai, "Aku butuh senjata."
"Hm..." ia menggaruk dagunya. "Itu bukan kalimat teraneh yang pernah kudengar. Biasanya pelangganku punya penawaran mengiurkan jika mereka mengatakan kalimat itu dan bisanya juga melibatkan sesuatu yang ilegal. Tapi kukira kau tidak ingin menjadi salah satu pelangganku?" ia mengambil sebuah pistol dari lemari pajangan dan meletakkannya di meja di depanku. "Jadi, apa kau akan mengatakan alasannya?"
"Kau mau memberiku senjata?"
"Tergantung alasan yang kau belikan."
Aku memandangnya tak percaya, "Uh... aku akan pergi menemui ayahku, sir."
Kenny duduk di atas meja di sebelah senjata itu, menatapku lama. "Ayahmu... maksudmu Grisha Jaegar? Buat apa kau menemui orang itu? Kupikir kau membiarkan Levi menyelesaikan masalahmu, bocah. Dia sedang menggerakkan hampir seluruh pasukannya ke Pègre."
Mataku membulat mendengarnya. Aku menebak, mereka bukan pasukan seperti di militer, tapi lebih kumpulan geng dibawah komando Levi. "Ini masalahku, mr Kenny. Aku tak kan membiarkan Levi mengatasinya untuku." Aku memandangnya dengan mata penuh tekat. Mataku berkilau keemasan tertimpa cahaya sore. Membuatnya berkilat seperti saat darahku masih dialiri DNA Titan.
Tanpa peringatan pria itu menangkap lenganku memutarnya dalam kuncian di belakang punggung, dan menendang kakiku hingga aku hilang keseimbangan. Daguku membentur lantai saat ia menindihku dengan lututnya, "mr Kenny, sir!" seruku kehabisan napas.
"Apa yang membuatmu percaya diri dengan tubuh tak terlatih macam ini, bocah?" ia melepaskanku. "Aku tak bisa membiarkan senjataku dibawa oleh amatir sepertimu." Aku hampir berseru menghentikannya saat ia mengambil pistol itu di meja dan mengembalikannya ke tempatnya semula.
"Aku seorang prajurit, sir!"
"Tidak lagi." ia menghela napas. "Kenapa kau tidak membiarkan saja Levi mengurusnya, atau jika kau tidak ingin tertinggal, bilang padanya untuk melibatkanmu. Kurasa umpan sukarela cukup dibutuhkan dalam rencananya."
Aku membuang muka, berbisik saat berkata, "Aku tidak ingin dia tahu jika aku sudah ingat, sir... Jika aku mendatanginya sekarang, aku tidak yakin bisa menjaga rahasiaku lebih jauh lagi," kueratkan genggamanku di kedua sisi tubuhku. "Aku tidak ingin egois pada Levi. Kini saat akhirnya kehidupan kami jauh lebih baik, aku selalu membawa nasib sial padanya. Ia akhirnya punya kesempatan kedua untuk mengenal Petra lagi, mendapatkan apa yang pantas baginya, sesuatu yang dulu hanya kemewahan bagi kopral Rivaille." Jika Levi tidak pernah tahu aku ingat, ia tidak akan terbebani dengan janji kami."
"Lalu setelah kau bertemu dengan ayahmu apa yang kau lakukan? Membawanya ke polisi? Membunuhnya dengan tanganmu?" ujar Kenny dengan nada tawa, "Kau sadar jika masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan bicara hati ke hati, kan?" aku mengerutkan dahi. Tentu saja aku tahu. Aku orang yang paling tahu bisa sekejam apa Grisha. Dengan ingatanku yang kembali, aku tahu monster seperti apa orang yang kuhadapi. Tapi Grisha dan komplotannya tidak akan pernah berhenti sampai mereka bisa menangkapku dan kembali menjadikanku tikus percobaan. "Kau tidak berniat kembali," kata Kenny tiba-tiba dengan nada terpekur. Ia berjalan mendekatiku, "Benar bukan? Kau berniat menghancurkan Grisha dengan membuat mereka membawamu dan dengan begitu kau bisa menghancurkan markas mereka beserta dirimu sendiri." ia menarik daguku, membuatku menatapnya. "Kau berniat mengorbankan dirimu."
Aku mendesis dalam seringai kemarahan, "Apalagi yang bisa kulakukan?" seruku. "Mereka tak kan pernah berhenti, bahkan jika Grisha ditangkap, jika bahan percobaan sepertiku masih hidup. Ini satu-satunya jalan."
Kenny mundur selangkah, terkejut dengan reaksiku. Lalu seringai perlahan muncul di wajahnya. "Bagaimana jika aku punya rencana yang jauh lebih menguntungkan untukmu?" Aku mengerjap. Kebingungan mengantikan ekspresi penuh tekadku. "Pertama, kau harus percaya padaku."
"Bagaimana aku bisa yakin kau tidak akan menghianati kami lagi, sir?" kataku padanya.
Pria itu melirikku di ambang pintu, "Jika aku berniat menyerahkanmu, aku sudah punya kesempatan lebih dari 100 kali, Eren. Sebusuk apapun otakku, sebesar apapun ambisiku, aku bukan orang yang melakukan kesalahan yang sama. Konfrontasi terakhir kita sudah mengirimku dalam kematian dan aku tidak ingi lagi menodai hubungan yang akhirnya kembali bisa kujalin dengan Levi."
Aku menatapnya curiga sementara ia menuntunku keluar, menghindari para pelayan yang bisa tiba-tiba keluar masuk diantara ruangan di sepanjang koridor sepi. Aku mengikuti langkah tanpa suaranya menyelinap di antara mereka yang sedang berpesta. Berusaha keluar dari perhatian, sementara pria itu berjalan rapat dibelakangku, agak merunduk sehingga bisa membisikkan rencananya, "Ini rencananya. Aku akan menawarkanmu pada Grisha. Membawamu pada mereka tepat di Pègre. Ada bayaran mengiurkan jika berhasil membawamu hidup-hidup pada mereka," ia mencomot kue dari nampan salah satu pelayan dengan gerakan cepat dan menyelinap tanpa terlihat dari balik punggung para tamu, sementara memaksaku mengikuti langkahnya yang lihai. "Setelah mereka membawamu ke markas, lakukan apapun yang kau rencanakan pada ayahmu. Selama itu, aku akan mengkoordinasi Tim Kenny yang sudah siap menyelamatkanmu kapan saja. Dan aku yakin saat kita sudah pergi dari tempat itu, Tim Levi akan datang dengan pihak berwajib untuk meringkus yang tersisa. Levi tidak akan tahu jika kau terlibat dan dia tidak akan tahu jika kau sudah ingat, juga kau bisa membalaskan dendammu."
Aku mengamati mereka yang menari dalam kedamaian bagai ilusi. Berpaling dari konflik yang mengancam setiap waktu. Berpaling dari dunia dan menenggelamkan diri dalam pesta selayaknya menggenggam erat kedamaian semu yang begitu rentan. Sementara aku disini sedang membicarakan konspirasi, "Bagaimana jika mereka tidak mempercayaimu? Kau seorang Ackerman, mereka tahu Levi melindungiku."
Pria itu mendengus, "Mereka percaya aku menempatkan diriku, pertama sebagai seorang bandit, kedua baru seorang Ackerman." Kami sudah mencapai tempat parkir dimana mobil hitam sudah menunggu dengan pintu terbuka. Kenny membalas anggukan supirnya dan memberikan isyarat padaku untuk masuk.
"Ukh... jika benar, apa yang membuatku bisa mempercayaimu?"
Pria itu menyeringai, "Karena mereka tidak tahu sesungguhnya, pertama aku adalah seorang paman lebih dulu dari pada bandit atau seorang Ackerman. Kau berharga bagi Levi, maka begitu juga bagiku."
Aku menelan ludah dengan susah, "Kenapa baru sekarang kau mau membantuku? Orang sepertimu tidak mungkin tidak punya motif. Sedekat apapun hubungan yang kau akui dengan Levi, aku yakin kau tidak bergerak tanpa keuntungan."
Pria tertawa, "Aku tidak menyangka kau setajam itu, Eren. Tentu aku juga mendapat keuntungan dengan menolongmu," wajahnya berubah gelap saat ia melanjutkan, "Kelompok mereka mengusik Underground yang merupakan wilayah kekuasaanku. Jadi, wajar jika aku ingin melenyapkan para tikus got itu," ia menyeringai dengan tampang mengerikan. Membuatku menelan ludah. Ia mengeluarkan sapu tangan dari balik saku jasnya dan menuangkan cairan berbau tajam disana. "Kau percaya padaku, kan?"
"Aku tak percaya aku akan melakukan ini."
Lalu, tanpa peringatan, Kenny membekap hidung dan mulutku dengan saputangannya dan dalam sekejap bau bahan kimia yang tajam menghapus kesadaranku.
Ketika tersadar, aku tidak langsung membuka mata. Aku mempertajam inderaku yang lain dan merasakan dari getaran disekilingku jika aku berada di mobil yang sedang bergerak. Tak lama setelah mesin mati dan suara pintu terbanting, tubuhku ditarik dalam gendongan seakan barang yang ringan. Kakiku berayun selama penggendongku melangkah. "Eren," bisik Kenny. "Aku tahu efek obat biusnya sudah lama hilang. Jangan buka matamu. Jika kau mendengarku aku ingin kau memberi tanda."
"Woof," bisikku pelan yang dibayar dengan kekehan pelan.
Tak lama Kenny berseru, "Aku membawa apa yang kalian inginkan!"
Lalu terdengar suara-suara langkah kaki mengitari kami dan suara congklangan senjata. Hidungku mencium sesuatu yang lembab, seperti keju busuk atau lumut? Aku mendengar tiap suara menimbulkan gema, membuatku yakin kami berada disuatu tempat yang tertutup, seperti... underground. Kesadaran itu membuat napasku tersenggal, aku berusaha keras menenangkan diri. Kenny berbisik kembali, "Aku memberimu waktu 30 menit untuk mencari ayahmu. Di dalam sol sepatumu ada benda tajam. Pergunakan dengan bijak."
Menit-menit berlalu sampai suara familier membuat darahku berdesir. Neil Dok menyambut Kenny seakan teman lama. Rasa percayaku pada Kenny sedikit tersentil saat mendengar betapa pintar acting pria itu. Tapi aku menelan bulat-bulat rasa cemasku, karena apapun tujuan Kenny, sekarang aku berada disini. Ini yang kuinginkan dan aku akan menghadapinya.
Setelah mereka selesai membicarakan hargaku yang pantas dibayar, aku dibawa menuju ruangan yang jauh lebih dalam lagi, mengingat betapa banyak anak tangganya. Tak lama setelah itu, mereka melemparku pada sesuatu yang keras, yang membuatku sontak membuka mata, terkejut oleh benturannya. Tapi aku tidak bisa melihat apapun di dalam kegelapan itu. Jerami kasar menjadi alasku sementara mataku menyapu penjuru ruangan mencari setitikpun cahaya. Telingaku mendengar gemerincing besi dan rintihan. Aku mengecek saku bajuku, memeriksa barangkali mereka tidak membawa pematik apiku. Dengan rasa syukur karena menemukan benda kecil itu terselip disaku, aku menyalakannya dengan tidak sabar dan menggerakkannya ke asal suara.
Pria itu mengeluh dengan suara familier saat cahaya mengenai matanya, dan itu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Kuperpendek jarak dengan segera sementara suara gemetarku memanggilnya, "Ayah?"
"Eren?" suara seraknya diselimuti kaget. "Oh tuhan mereka berhasil menangkapmu?! Oh tuhan apa yang harus kulakukan."
"Ayah! Ayah!" aku berusaha menenangkan pria malang itu. tangan-tanganku menyentuh lengan berbalut tulang dan kulit itu, menunjukan entah berapa lama ia kelaparan. "Kenapa kau dikurung!?" seruku tak kuasa menahan panik. Segala kemarahanku terasa terguyur oleh kebingungan dan ketidakpastian. Memori menakutkan itu terasa tidak nyata dibandingkan pria lemah di depanku. Apa yang sudah ia lakukan hingga ia terkurung di tempat yang seharusnya menjadi singgasananya?
Lalu pria itu menangis. Tersenggal dan terisak diantara air mata, ingus dan air liur di bahuku sementara ocehan tidak jelas keluar dari bibirnya, "Oh, anakku, Eren. Setelah segala pengorbananku. Aku tahu, aku tahu mereka akan melanggarnya!"
"Ayah! Apa maksudmu." Aku memegangi lengannya, berusaha menggugah kesadarannya. "Kau harus menjelaskan semuanya padaku, ayah. Ini sudah keterlaluan. Kau meninggalkan kami semua, membuat ibu susah sementara kami mencari perlindungan selama perang. Mengetahui kalau telah menghianatiku dengan segala percobaanmu padaku!" kalimat terakhirku berubah jadi seruan. Kuhela napas untuk menenangkan sebelum mampu melanjutkan dengan suara bergetar, "Kenapa kau melakukan itu, ayah? Kenapa kau disini?"
"Maafkan aku, Eren. Maafkan aku! Aku terpaksa! Mereka membuatku melakukan percobaan seperti 1000 tahun lalu."
"mereka mencoba menghidupkan lagi Titan? Siapa mereka?"
Ayahnya menggeleng, "Bukan titan, tapi tentara super. Super human yang mampu sembuh dalam waktu sekejam, semua itu demi kepentingan perang. Tak ada bedanya seperti 1000 tahun lalu," bisiknya penuh teror. "Mereka mengancamku akan melukai ibumu..."
"Jadi kau lebih memilih melukaiku?" teriakku penuh rasa sakit.
"Tidak, nak! Tidak! Aku tidak akan berani melakukan semua itu seandainya mereka tidak menjamin akan membuatmu lupa dan tidak akan pernah menyentuhmu! Mereka hanya butuh hasil percobaannya dan itu satu-satunya cara yang membuat mereka berhenti menyentuhmu!"
"Tapi mereka tidak..." bisik Eren.
"Mereka ya! Mereka tidak menyentuhmu selama aku masih mau melanjutkan percobaan itu pada anak-anak yang lain..." ia menelungkupkan diri sambil memegang kepalanya, "Oh anak-anak itu! anak-anak itu! betapa kejam apa yang aku lakukan!" ia menjerit-jerit sekarang, memaksaku memegang bahu dan menutup mulutnya.
"Tenanglah! Tenang atau kita akan menarik perhatian penjaga!" peringatanku membuat pria itu berubah kaku. Tapi napasnya masih menderu. "Jadi, siapa mereka?" tanyaku setelah ia jauh lebih tenang. Sebelum Grisha sempat menjawab, pintu besi terhempas terbuka, dan dari cahaya keemasan diluar ruangan, seluet pria pendek berbadan gendut itu.
Kemarahan masa lalu menelisik dalam ingatanku.
Suara besi bergemincing menyadarkanku pada tanganku yang terikat pada rantai besi di gua bawah tanah ini. Sementara pria itu meyakinkan Historia untuk memakanku.
Seharusnya aku tahu. seharusnya aku tahu jika pria ini akan selalu berdiri dibawah nasib manusia tak berdaya lain. seharusnya aku tahu tidak ada yang lebih berkaitan dengan The Wall selain pria ini. Tidak ada lagi yang paling menginginkanku selain pria ini.
Rod Reiss.
Para penjaga menarikku keluar diantara rontaan dan makianku. Tanpa menatapku, Rod Reiss memerintahkan orang untuk membungkamku. Cubitan jarum suntik memberiku alaram sebelum kesadaran lenyap seiring dengan morfin mengaliri aliran darahku.
Xxxx
Ketika aku tersadar kembali, aku sudah ditidurkan terlentang di meja baja, dengan kedua tangan dan kaki terikat di setiap sisi meja. Mereka melucuti pakaianku dan menggantinya dengan baju pasien yang tipis. Aku berusaha menarik tanganku dengan sia-sia dan hanya memberikan gemerincing ribut menggela di ruangan beratap rendah itu. deja vu menggugah naluriku untuk berteriak keras dan melarikan diri. Tapi semua kekang itu menghalangiku. Aku tahu mereka sudah melakukan sesuatu padaku saat mencium bau anyir darah dan lenganku yang terasa terbakar. Aku mendesis saat Rod Reiss berdiri dalam jarak pandangku, keluar dari bayangan.
Ia menyeringai melihatku tanpa daya. Saat aku meneriakkan sumpah serapah ia hanya tertawa dan memerintahkan orang untuk memberiku sedatif lagi. Aku tidak menyadari waktu selama kesadaranku hilang timbul. Suara-suara terasa jauh dan tidak nyata. Panca inderaku terasa tumpul sehingga aku tidak bisa memastikan apa yang kulihat atau kudengar nyata atau sebatas imajinasi.
Waktu dimana aku merasa paling sadar, pria itu akan berdiri disana mencemoohku, sementara aku balas mencemoohnya. Semua itu menjadi game bagi kami, satu-satunya hal yang bisa menjagaku dari kewarasan. Karena jika aku masih bisa membencinya, maka tidak semua bagian diriku telah hilang.
"Aku sudah pernah dihancurkan sekali," kataku. "Tapi menghancurkanku hanya membuatku sepuluh kali lebih kuat. Membuatku lebih tabah. Lebih kuat, lebih pintar, keras. Itu membuatku menjadi petarung yang lebih baik. Aku bukan lagi bocah naif seperti saat aku masih kecil!"
"Tentu," balasnya. "Tapi itu tidak pernah menghalangiku melangkahi tubuhmu."
"Kau hanya seorang pengecut. Kau hanya mampu bersembunyi dibalik punggung orang lain, menipu Kenny dalam rencanamu, memanipulasi Historia demi ambisimu. Kau hanya siput, dibandingkan semua orang. Bahkan Kenny jauh lebih baik darimu!"
Pria itu memandangnya dengan sengit sebelum berderap keluar. Tak lama ia masuk dan melemparkan buntelan kain padaku. "Ini maksudmu?"
Aku menatap buntelan itu tidak percaya. Diantara cariknya yang terbuka, wajah Kenny memandangku dengan mata tanpa kehidupan. Hingga aku sadar jika itu kepala terpenggal Kenny Ackerman. Melihat wajah takutku, pria itu menyeringai sambil berkata, "Sekarang kau percaya padaku? Tidak ada yang menyelamatkanmu. Pria itu cukup berani mengerahkan orang-orangnya melawanku. Tapi coba tebak bagaimana ekspresinya saat ia tahu aku adalah musuhnya." Ia terkekeh, "Oh, sungguh menyenangkan melihatnya begitu putus asa melawan para pasukanku."
"Kau sakit!"
"Lebih baik dibandingkan phatetic." Sambil berkata begitu ia meninggalkanku lagi sendirian dalam keadaan terkekang.
Pada waktu-waktu tertentu mereka membuatku dehidrasi dan kelaparan. Pada waktu yang lain mereka menguji daya tahan tubuhku dengan menyayat atau membakarku dalam tingkatan yang berbeda. Jika mereka tidak melakukan serangkaian percobaan, mereka akan mengurungku dalam ruangan yang sempit dan gelap. Aku tidak tahu waktu lagi dan aku tidak mau tahu. Aku hanya berharap mimpi-mimpiku tidak mengulang mimpi buruk yang sama dan membiarkanku istirahat barang sejenak. Tubuhku sudah disiksa diatas kemampuanku menanggungnya.
Aku tidak menyerah. Aku hanya berdamai dalam nasib. Tapi jika ada kesempatan sedikit saja, sesuatu yang bisa membuatku kabur dari tempat ini, aku akan menyambarnya dalam sekejap.
Sampai tiba-tiba suara dering alaram kebakaran menggema. Selama beberapa detik petugas medis disekitarku membeku sebelum bergerak cepat menyelamatkan bahan penelitian mereka. Salah satunya membuka kunci ikatanku dan menarik tubuhku yang sempoyongan. Begitu keluar, kami disambut lorong dengan dinding sempit yang hanya bisa dilalui dua orang, berlangit-langit rendah dengan pipa-pipa berbagai ukuran disekelilingnya.
Tiba-tiba suara lecutan terdengar sebelum salah satu orang yang membawaku roboh dengan darah di kepala. Lalu lecutan lagi dan lagi hingga tinggal aku disana, berdiri bersandar pada tembok.
"Eren." Suara familier menyentak kesadaranku.
"Annie?"
Wanita itu berlari menghampiriku dari ujung lorong dengan pistol berperedam di tangannya "Eren!" ia menarikku, tapi kakiku seperti jeli, membuatnya terpaksa menyeretku. Aku berteriak kesakitan sambil memegangi mata saat cahaya menyentuh retinaku yang sensitif. Sambil berkata Ckc, ia menyobek kemejanya dan mengikatnya disekitar mataku. Lalu kembali menyeretku menuju udara segar. Angin menghembus kulitku yang sensitif, mengirimkan nostalgia sementara kaki telanjangku menjejak di tanah hangat. Lalu tangan dan lengan-lengan yang kuat lainnya memelukku, mengirimku dalam sensasi yang kupikir telah kulupakan. "Levi! Levi!" aku meraihnya, berpegang padanya seakan ia satu-satunya tiang hidupku. Kurasakan deru napasnya di telingaku, seakan ia tak mampu berkata-kata. Lalu tanpa peringatan ia mengangkatku dalam gendongan protektif. "Levi! Kenny!"
"Aku tahu. aku tahu," bisiknya dalam langkah bergegas. Dari mataku yang tertutup, suara-suara terdengar makin jelas. Bisa kurasakan banyak orang disekitarku berlarian sambil melontarkan perintah. Suara sirine memenuhi udara sementara para penegak hukum dan paramedis berlarian.
Aku melepas ikatan mataku, mencoba memberanikan diri membuka mata karena tak sabar bisa melihat Levi kembali. Aku mendesis karena perih tapi kutekadkan diriku hanya untuk melihat pemandangan mengerikan Levi yang dipenuhi percikan darah. Air mata tak terbendung mengalir dari kelopakku, "Levi! Maafkan aku Levi... semua ini gara-gara aku. Aku membuatmu membunuh demi aku!"
"Sssstttt," bisiknya sambil mengusap punggungku menenangkan. "Ini bukan salahmu, Eren. Jika kau harus menyalahkan, salahkan Rod Reiss. Atau Grisha."
Aku menggeleng. "Dimana ayahku? Mereka menyekapnya di salah satu ruangan..." lalu aku menyadari jika sebelumnya aku tidak dikurung di Pègre. Melainkan disebuah bekas barak di masa perang. "Apa kau tahu dimana ayah?"
Levi memandang hanji, melihat wanita itu menggeleng. "Maafkan aku, Eren."
Aku menggeleng dan kembali membenamkan kepalaku di ceruk lehernya. Napasku menghela bau tubuhnya, lapar pada sesuatu yang bisa kuanggap familier.
"Levi, kau harus membawanya ke paramedis." Suara Hanji terdengar, tampak tenang saat meyakinkan Levi aku akan baik-baik saja dibawah penanganan medis. "Paling tidak biarkan mereka mengeceknya, Levi!"
"Aku ikut. Aku tidak akan meninggalkannya."
Paramedis memeriksa mataku dan semua tempat dimana lukaku semula berada. Tidak ada bekas luka berarti, belum tentu itu tidak meninggalkan bekas. Mereka memberitahu kami—well, Levi—jika aku dalam kondisi shock, dan trauma. Entah apa yang mereka maksud karena aku merasa baik-baik saja.
Tapi begitu Levi meninggalkanku sebatas tiga langkah untuk memberikan keterangan pada polisi, tiba-tiba aku mengalami serangan panik. Mereka perlu memberiku sedatif untuk menenangkanku dan memberiku tidur tanpa mimpi.
Xxxx
LEVI POV
Aku memaksa membawa Eren kembali ke Glory Land setelah paramedis mengungkapkan ia tak mengalami luka berarti. Jikapun ia disiksa, luka atau bekas jarum apapun itu seperti yang dikemukakan Eren, tidak membekas dikulitnya. Aku tidak pernah merasa semurka ini mengetahui Eren menghilang. Rencanaku yang kukira sempuna telah kecolongan akibat tidak memperhitungkan Kenny sebagai variabel X. Aku tidak pernah mengira Eren akan mengambil tindakan drastis, kecuali ia sudah teringat kembali. Pembenaran yang diungkapkan Farlan jika Eren kemungkinan teringat masa lalu sebelum pesta dansa membuatku geram mengapa Eren tak pernah mengatakannya padaku, alih-alih bersikap impulsif dengan mengorbankan keselamatannya.
Belum lagi saat aku menyerbu dan mendapati tubuh Kenny tanpa kepala. Tidak menyesal rasanya menusukkan senjataku pada Rod Reiss setelah apa yang diucapkannya,
"kau pikir aku sungguh berniat menculiknya sebelumnya? jika aku sungguh berniat melakukannya, dia sudah ada disini sejak awal. aku melakukannya hanya untuk memastikan siapa saja orang disekitarmu yang mampu mengahalangiku." Ia menyeringai, "Neil atau dr Jaegar hanya bidak. Seharusnya kau sudah belajar dari sejarah Rivaille. Sedangkan Eren tidak lebih dari hewan percobaan. Oh, betapa indah jeritannya saat aku menusukkan berkali-kali paku panas dan berkarat ke dalam tubuhnya. mengetes sejauh mana ia bisa bertahan dari tetanus? Menakjubkan sekali saat melihat kulitnya yang robek dan bersimbah darah itu menutup kembali dalam hitungan detik, sehingga aku bisa menghujamkan padanya berkali-kali, berkali-kali!" ia tertawa keras. "APA KAU TAHU, RASA LUKANYA TIDAK AKAN PERNAH HILANG SECEPAT APAPUN LUKA ITU SEMBUH! IA MENJERIT! TERUS MENJERIT SEPANJANG MALAM—"
Aku menghela napas untuk menghapus ingatan itu dan mengendalikan amarahku. Semua perkataan yang sengaja memicu emosiku dan membuatku pergi berserk. Tidak pernah semenjak kehidupanku di Underground, kucicipi darah manusia sederas itu ditanganku. Tapi tidak ada yang bisa menghentikan kepuasaan saat melihat pria busuk itu tak lagi bernapas. Seharusnya ia juga belajar dari sejarah; jangan pernah membual di depan Prajurit manusia terkuat.
Isabel dan yang lainnya sudah menunggu kami saat aku membawa Eren dengan tanganku sendiri dan dalam kondisi berlumuran darah. Mereka menyerukan keterkejutan, cemas dan penasaran dalam waktu bersamaan. Perasaan meluap-luap itu tak sanggup kuhadapi setelah berjibun tekanan selama tiga hari aku mengorek dan mengais seluruh penjuru Perancis tanpa henti. Jadi, aku mendesis pada mereka supaya minggir dan tidak ikut campur. Syukurlah Hanji segera menghalau mereka dan mengibaskan tangan padaku supaya bergegas membawa Eren ke kamar. Aku serahkan semua penjelasan pada kacamata-tai dengan sepenuh hati. Jika sebelumnya Isabel masih ragu dan menebak-nebak perasaanku pada Eren, kini ia sudah diyakinkan.
Aku tidak meninggalkan kamar sama sekali selama Eren tertidur. Bahkan menit-menit selama aku membersihkan diri di kamar mandi dalam kamar Eren, membuat seluruh uratku kaku ingin segera melompat kesisinya dengan berbagai pikiran paranoid seandainya Eren terbangun dan mengalami serangan panik lagi. Jadi, aku bernapas lega saat mendapatinya masih tidur. Aku duduk di sisinya sambil memeluknya sementara Isabel masuk sambil membawa troli makanan. Ia memaksaku memasukkan sesuatu yang bergizi dalam perutku karena katanya ia bisa melihat pipi tulangku yang menonjol bahkan dari sedotan. Ia tidak berkomentar pada lenganku yang melingkari Eren protektif.
Menjelang malam, dan Eren tidak juga bangun, aku memutuskan untuk membaringkan tubuhku di sisinya. Aku sadar ia pasti sangat kelelahan jika tidur layaknya orang mati seperti ini. Beberapa jam sekali aku memberinya minum dari sendok, sementara matanya mengerjap lemah dan kembali tidur. Aku memastikan air itu masuk ke tenggorokannya, jadi ia tidak dehidrasi. Beberapa jam yang lain kuhabiskan untuk membangunkannya dari mimpi buruk. Eren berakhir bergelung disisiku seperti kucing, membuatku mengeratkan pelukan. Aku berharap saat matahari terbit, ia terbangun dan segalanya baik-baik saja.
Aku berharap.
TBC!
