"The snow in the air, to sing me a lullaby,
My winter, come hither to me
The dark nights to come, so, kiss me for goodbye,
The grace of the godland is near to you
"Show me the flower invisible, sing me the hymns inaudible,
The wind is my voice, the moon is my heart
Come find me, I'm on every hills and fields
I'm here, ever your near...
"The snow in the air, to sing me a lullaby,
The angel of rebirth is here
So let all your pain, sleep whithin' the husha-by
The grace of the godland, grace of the godland,
Grace of the godland is near,
So close to you."
Lagu yang selalu anak itu dengar. Ketika dijemput tautan mimpi tanpa warna, lagu itulah pengatar tidurnya. Kesedihan, kesesakan, keperihan, kesendirian, segala hal buruk yang meyelimuti sekitarnya selalu ditelan bulat sang malaikat terasing di kastil terpencil, melebur cantik karenanya. Terbiasa memakan rasa itu, hingga kenyang, bahkan sangat kenyang sampai ia tidak tahu lagi seperti apa rasanya.
Di bawah alam sadarnya yang selalu menyatu—terhubung dengan alam sadar sosok lain—sang kakak kembar, anak itu menutup mata dan meringkuk di segala tempat ruang kastil itu...
... termasuk di dekat ambang pintu bertirai, tempat ia biasa duduk untuk menunggu orang itu. Selalu. Selalu dan selalu menunggunya datang.
Musim dingin tahun kedua ia tinggal di kastil itu, kedua sayap putih sosok tersebut mengukung tubuh yang hanya terbalut selimut tipis tanpa pakaian. Hujan salju cukup deras diluar. Menebarkan butir-butir rapuh cantik di dunia 'mereka'. Benarlah salju tidak peduli akan malaikat terbuang dari kaumnya, yang haus dan lapar belaian kasih sayang dan cinta.
Malaikat itu bernama Tao.
Hadir di dunia dengan rambut dan kelereng indah berwarna hitam pekat—warna lambang kutukan dan terlarang selain warna merah dan putih, warna identitas yang ibu dan kakak kembarnya miliki.
.
Bab 12 :: Malaikat Jatuh; kekacauan
.
Fallen Angel
.
Screenplays!Kristao with another official pairing
.
I don't own anything, except this storyline
.
Akai Momo (c) 2015
.
T – M
.
Fantasy-Supranatural-Suspense-Mystery-Romance-Psychological
.
Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys love/ Alternative universe with typo(s
.
No Like, Don't Read!
.
Summary!: Yifan Wu yang seorang pengusaha sukses merasa bahwa kehidupan sempurna tanpa celanya terasa membosankan. Karenanya, ia selalu berharap jika setiap ia bangun dari bunga tidur, ia akan mendapatkan sesuatu yang akan merubah poros hidupnya. Lalu, apa yang akan terjadi jika ia menemukan sesosok manusia bersayap yang jatuh di rooftop apartemennya saat senja hari?
/"... Tao. Hanya itu yang kuingat."/
/"Dengar, aku memang berharap jika sesuatu yang menarik datang di kehidupan-sempurna-tanpa-cela-yang-terasa-membosankan-bagiku; tapi bukan berarti jika itu adalah aku harus menjadi baby sitter mahkluk sepertimu, Tao!"/
(My first fantasy multichapter-fiction!)
.
.
Mobil porche milik Jongdae berhenti di halaman depan. Meninggalkan kuncinya di dalam, sebab ia yakin jika pelayan rumah keluarga bisa dipercaya. Maka itu, sehabis ia menyuruh seseorang untuk memarkirkan mobil di tempat biasa, Jongdae berlari secepat mungkin menggapai ruang pertemuan. Tak perlu memastikan, Kai sudah tentu ikut berlari di belakangnya.
Di dalam rumah berarsitektur romawi kuno, mereka berdua tergopoh-gopoh menuju pintu ruang pertemuan—tersembunyi apik di salah satu sudut tak terduga.
Menjelajahi rumah megah tersebut, melewati ruang demi ruang, melewati lorong demi lorong. Lelah menggenggam erat tubuh, namun mengingat suara putus asa dan kepanikan yang menghantam sang kakak, ia berusaha untuk bertahan sadar.
Sesuai yang diperintahkan Heechul dari titah sang ayah, Jongdae kembali pulang dan memboyong serta sang penyihir istimewa—Kai. Jikalau sang ayah berkata demikian, pastilah benar ada sesuatu yang diluar kendali keluarga besar Kim—sebuah kekacauan di dalam kekacauan lain.
Kekacauan di dalam kekacauan lain...
... Kombinasi sangat jelek. Dan buruk.
Menyeramkan.
Hanya sekedar mengulang dalam lisan dan pikiran kata tersebut, Jongdae mulai mengigil. Menenangkan diri, agar ia masih mengenggam kesadaran utuh, lidahnya ia gigit-gigit kecil. Tak jarang, Jongdae hampir saja menabrak beberapa pelayan yang ikut panik—telah tahu situasi genting macam apa yang terjadi mendadak ini. Pria sebagai detektif kepolisian itu mempercepat kejaran, mengingat ia telat beberapa menit dari yang diberikan Heechul untuk batas waktu.
"Kai, cepatlah!" Jongdae melirik ke belakang. Mendapati Kai berlari disertai kuluman permen lolipop dengan gagangnya yang berpita coklat. Kai mengangguk dan berhasil menyejajarkan kecepatan lari Jongdae. "Apa masih jauh, hyung..? Kukira kita sudah di paling ujung rumah ini."
Tepat itu, Jongdae berhenti berlari. Di hadapannya, terdapat bingkai raksasa tanpa foto atau lukisan di sana. Bingkai berwarna pelangi, berpelitur cantik, membuat kilat-kilat menakjubkan apabila ia dicumbu mesra oleh bias cahaya. Jika Jongdae berusaha menetralkan deru nafas, maka Kai menatap biasa bingkai itu dengan telapak tangannya menyentuh salah satu sisi bingkai.
Jongdae melirik sekilas Kai, lantas berdeham kecil. "Apa gerbangnya masih terbuka, Kai...?"
"Ya, masih." Jawab Kai sesaat setelah memasukan sebagian lengannya ke dalam bingkai. Lengan itu masuk dengan mudah—menembus tanpa halangan berarti. Jongdae menepuk sekali pundaknya, mengatakan pujian pada Sang Pemurah karena masih diberi kesempatan. "kalau begitu, ayo kita masuk! Heechul pasti sudah tidak kuat menahannya lagi!"
Kai mengangguk.
Cepat. Cepat, Kai dan Jongdae menembus masuk ke dalam bingkai kosong. Membiarkan tubuh terombang-ambing di kehampaan kecil menuju tempat tujuan—dan beberapa saat setelah itu, mereka berdua jatuh dari langit-langit ruang pertemuan. Membuat beberapa orang yang mendengarkan bunyi debum kecil dan melihat terjunnya dua pria dengan tiba-tiba, memekik tertahan.
Kertas-kertas, pena bulu kuno, beberapa balpoin yang tergeletak dan benda-benda kecil lainnya berpindah tempat. Beberapa piring berisi camilan, beberapa cangkir teh, dan beberapa teko bergetar kecil—menimbulkan dentingan sesaat.
Jongdae dan Kai terjun bebas di atas permukaan meja bundar yang berukuran besar. Hampir seluruh kursi yang tersedia, telah terisi dan menyisakan dua ruang kosong di sana—sesuai jumlah mereka berdua yang baru tiba. "Maaf, kami terlambat. Tadi ada kecelakaan di jalan, jadi sedikit macet." Kai dengan santai beranjak diri dan berjalan menuju bangkunya di ujung sana. Membiarkan jubah hitam semalamnya berkibar-kibar karena gerakan.
Tubuhnya yang licah berhasil menghindarkan diri dari benda-benda yang melayang-layang nakal di udara ruang pertemuan keluarga Kim.
Beberapa orang menatap penyihir istimewa berdarah manusia itu dengan ragam raut wajah. Merendah, jijik, kagum, pandangan datar, dan masih banyak lagi.
Tapi Kai tak acuh, memilih segera duduk, mengambil beberapa gula kotak untuk dicampurkan ke tehnya yang telah dituangkan—masih hangat, dan menjelalati berbagai macam kue-kue cantik yang tersedia. Bahkan sangat santai menangkap setoples marmalade segar yang terlepar di udara—setelah membentur kotak musik entah milik siapa.
Jongdae yang melihatnya mencibir, dengan mulut terkunci rapat, ia tidak beranjak untuk menuju sang kursi di samping kanan si penyihir.
Jongdae melangkah khawatir kearah Heechul yang terduduk lemas. Di belakangnya, Hangeng menenangkan pria cantiknya—mengecup sayang pucuk kepala dan mengusap lembut punggung tangan pria cantik itu di tangkupannya. Pria cantik yang kelelahan karena menahan pintu akses untuk Jongdae dan Kai menyadari kehadiran sang adik, ia tersenyum lemas dan mengibaskan tangannya untuk mendekat.
"Maafkan aku, kak, kau jadi lelah begini. Seharuskan kau lepaskan saja penahannya, karena aku bisa melakukannya sendiri." Jongdae menangkup pipi sang kakak, mengusap peluh yang masih tersemat disana. Heechul meringis kecil. "Tidak masalah, Dae-ah. Nah, karena mereka berdua sudah datang, mari ayah, kita mulai pertemuannya."
Pria berusia nyaris tiga perdelapan abad itu masih duduk termenung—kepalanya tertunduk dengan kedua telapak tangannya yang saling berkaitan jari menopang dahinya yang penuh kerut usia. Namun begitu ia mendengar suara salah satu anaknya, maka iris kembar coklat itu keluar dari tempat persembunyian. Dengan mulut terkatup rapat, matanya menjelajah keseluruh orang-orang yang telah kumpul dan duduk manis di sana. Menunggu apa yang hendak di sampaikan oleh sang penerus dan ketua dari pertemuan perdana kali ini—pertemuan perdana dadakan.
Ragam raut wajah yang sama, penasaran dan kekhawatiran. Dan pria tua itu tidak bisa menahan diri lagi.
"Dengarkan aku baik-baik," bibir pria tua yang disegani itu terucap. Keheningan mencekam mendera mereka di sana—sensasi dingin tak menyenangkan menyelimuti mereka.
"Aku mendapat informasi dari salah satu ksatria milik Duke of The Ravine, Sang Ksatria Penakluk,
... Bahwa ada mahkluk bukan manusia datang ke tempat ini."
Tubuh Jongdae menegang sangat, begitu pula dengan Kai. Bahkan pria serba hitam itu menghentikan sejenak kunyahan permen cokelat dalam mulutnya. Sama seperti semua orang yang duduk manis melingkari meja pertemuan.
Benar-benar kekacauan di dalam kekacauan lain,
... Dan itu sangat menyeramkan.
.
.
Ruang hampa.
Temaram dan sekeliling terdengar dengungan samar.
Namun banyak perabotan cukup normal di tempat itu. Seperti sebuah ranjang berukuran besar dengan kelambu cantiknya yang tergerai bebas. Dua meja nakas di masing sisinya, terdapat satu guci warna hijau kecil tanpa bunga dan satu figura tanpa foto. Sebuah sofa beludu warna merah menggoda ditemani kursi kayu berwarna coklat madu dan sebuah meja bundar, tak jauh dari ranjang tua itu. Dua buah lemari kaca yang menjulang tinggi pada langit-langit gelap, banyak boneka aneh di sana, duduk diam manis—ditemani beberapa pernak-pernik berwarna cantik. Lemari yang dililitkan pita putih menjuntai mengelilingi lantai bermotif papan catur, tak mempersembahkan penantian akhirnya. Sebuah jam klasik kuno berwarna coklat tua berdiri kokoh di samping kanan. Bandulnya terhenti, dan penunjuk jarumnya tertidur tenang.
Sebuah kursi goyang yang bergoyang tanpa siapapun di sana. Menderik-derik bunyi kayunya, berdansa bersama melodi kotak musik bernada lirih.
Classic baby piano berdiri kokoh di sisi ruangan. Si cantik tersebut berwarna merah kecoklatan ditemani beberapa boneka banyak rupa di sekeliling. Terdapat kotak musik kuno diatas permukaan piano—berbunyi lirih memainkan nada sendu menawan kalbu. Kotak-kotak beragam bentuk juga warna di segala ruang, pernak-pernik terhampar tak teracuhkan di lantai dingin. Kain-kain putih berrenda dan berpita diatas sofa dan kursi kayu. Kertas-kertas kosong maupun tergambar dan berwarna berserakan tak akur di segala permukaan. Pensil-pensil warna, krayon yang telah rusak. Cermin perak kecil teranggur di kolong meja bundar. Dan gulungan perkamen-perkamen yang sebagian menganggur terbuka.
Mutiara beragam warna, berkilat-kilat ditujam bias cahaya asing entah asal darimana. Tercerai berai, atau menyatu membentuk jalinan dengan benang dan tali.
Gunting dan pisau kater, menujam pada salah satu boneka yang tak terbentuk lagi rupanya. Terselimuti oleh kapuk lembut yang berceceran di permukaan lantai. Menyelimuti pula beberapa boneka yang hancur bentuknya—tanpa kepala, tanpa lengan, mulut yang robek yang menguar-nguar kapuk dari sana, terbelah dua, atau yang terikat simpul tali cantik tanpa kelereng mata sang boneka. Terkoyak-koyak mengenaskan.
Kelopak bunga di segala tempat, menyapa ramah sang hampa dengan wewangian khas, memanjakan sang indera penciuman.
Nampan porselen bermotif abstrak tertelungkup tak jauh dari lemari kaca. Cangkir-cangkir cantik tergeletak tak berdaya—benda mati itu merenung tanpa suara, teko bulat berdiri terbalik di permukaan meja bundar, cairan wewangian mawar menguar dan membasahi buku-buku cerita di sana. Macam-macam lagi benda yang tak tersentuh lama oleh sang penguasa ruang hampa. Sisa benda melayang jinak di sekeliling ruang.
Ruang hampa tanpa jendela itu kacau balau. Ulah sang empunya.
Dan sang empunya tertidur cantik berselimutkan ujung tirai sebuah pintu tanpa rupa, menjulurkan pada tubuh seputih salju yang selalu berpendarkan cahaya.
Tubuh dengan daya tahan yang cukup lemah, berkulit seputih salju—satu padu dengan mahkota rambutnya yang tersibak mengiasi pahat tubuhnya yang menawan. Bibir curvy semerah—indah, menggoda. Bibir itu terbuka kecil, menjadi akses masuk untuk sirkulasi udara di paru-paru kembarnya. Pipi gembil dan pucuk hidung bangir yang bersemu tipis, bulu mata putih yang lentik dan agak lebat. Tubuh ramping dengan sepasang kaki dan lengan indah.
Sosok eksistensi serba putih tersebut meringkuk ke samping kanan, lalu kiri. Lantas ia tertelungkup, tak lama ia terlentang dan dahinya yang berkeriput menandakan jika dia mulai tak nyaman dengan tidurnya.
Sekejap, kedua iris cantik berwarna putih keabuan yang berpendar tampakan diri. Terdapat cahaya merah menggerayangi lensa keping mata cantik itu. Dan sosok itu tidak terganggu sama sekali—alih-alih mengedipkan mata ataupun panik karena ada cahaya asing bak masuk dan tinggal di dalam bola matanya.
Ia menggumam. Lalu menggumam lagi lebih keras, lalu lagi, lebih lama dan panjang. Lantas ia terkikik dan tertawa—tawa itu membumbung tinggi menggapai langit-langit hitam pekat. Lelaki muda serba putih itu terlonjak girang dalam terlentangnya, bahkan ia menggeplak-geplak kasar lantai dengan kulit tubuhnya yang dingin. Ketika ia tertawa, terdengar gaungan saling bersahut-sahutan, lalu berkoar-koar lebih banyak suara—mengaum, menantang pada sosok itu yang tadi tertawa terbahak-bahak. Membuat si lelaki muda menawan mulai mencebik, merengut kesal, menggeram tertahan.
Mata putih keabuan lembutnya berubah warna menjadi lebih pekat. Ia berpendar lebih kuat—lantas kelereng cantik itu bercahaya terang. Membuka mulut curvy-nya yang agak membengkak karena digigit kesal, ia berteriak kuat dan lantang.
"BERISIK-BERISIK-BERISIK-BERISIK!"
Lantangan itu membuat tekanan sang hampa memberat—menekan ganas semua benda di sana, membuat benda-benda yang melayang menjadi bergerak tak tentu arah—membantingkan satu sama lain atau melenyapkan diri oleh kegelapan pekat di sekeliling. Namun, lantangan tersebut membuat suara itu lenyap seketika.
Kini, ruang hampa disengat kesunyian.
Tak lama, sebab sosok itu terkekeh jahat. Memandang rendah dan tajam pada langit-langit kegelapan pekat yang seolah telah tunduk pada kuasanya.
Bangunlah sosok menawan itu. Melepaskan lilitan ujung tirai, membiarkan pemandangan tubuh telanjang bulatnya yang memikat dinikmati oleh puluhan pasang mata boneka-boneka di lemari. Tak jarang, si cantik bermata putih keabuan itu mendengar selerupan air liur milik salah satu boneka ajaib itu entah yang mana—tergoda dengan bentuk tubuhnya yang ramping, ditambah bokong kembarnya yang tampak kenyal untuk dinodai. Sosok itu tahu pikiran para boneka ajaib, namun dia membiarkannya.
Alih-alih segera memakaikan pakaian pada tubuh, ia malah berdansa nakal dengan manekin tengkorak yang sekejap ada di belakang tubuh telanjangnya. Bergerak mengelilingi ruang hampa yang dihajar cahaya ajaib—berdansa saling menggoda satu sama lain. Juga mengikuti lantunan musik sensual dari baby piano yang memainkan tutsnya sendiri. Riuh sahutan, riuh siulan, dan riuh tepuk tangan menggema di ruang hampa.
Mendengar itu, si cantik bersurai putih memahatkan seringai nakal. Lidahnya memoles bibir curvy, tatapan seduktif dilayangkan untuk si manekin yang beruntung.
Sosok itu, membiarkan sang manekin tengkorak telanjang menjamah tubuh si cantik—mencumbu bibir, dada, penis dan bokongnya, dan dia terhanyut hingga mendesah kecil. Seringlah jari tengkorak itu mencumbui cincin lubang anusnya yang berkedut dan memanas. Membuat dia melirih ditikam nikmat candu.
"ah.. ah.."
Tapi kemudian, manekin tengkorak itu lenyap. Manekin itu meledak cukup keras, memuntahkan darah segar yang mengenai hampir seluruh tubuh telanjang si cantik. Sang manekin dijemput kematian karena dengan lancang memasukan jari-jarinya ke dalam lubang anus pasangan dansanya.
Karena itu, si cantik menatap ganas kepada manekin tengkorak itu dengan kelereng mata yang bercahaya terang, melenyapkan dengan sekali pandangan.
Sorak riuh masih berlangsung—untuk mengumpat kasar dan mengejek jelek kepada manekin tengkorak yang telah lancang menyentuh sang primadona. Boneka-boneka ajaib menghambur keluar dari dalam lemari kaca, menari-nari mengelilingi lelaki muda yang terpaku menatap serpihan-serpihan tubuh sang manekin tengkorak.
Lelaki muda masih berdiri manis di sana, yang kini menatap datar kedua tangannya yang bermandikan darah segar—bau amis menyeruak ganas. Jemari itu bergerak kecil, telapak itu mengatup dan membuka bergantian sesuai perintahnya.
Lelaki muda itu memahat senyum kecil, lantas memahat seringai lebar sekejap pandang.
Ia memekik girang dan melompat-lompat. Berputar-putar di dalam formasi kukungan boneka ajaibnya yang masih menari bahagia. Bibirnya yang sedang dibersihkan oleh lidah terampil dari cipratan darah ikut melantunkan lagu—melantukan lagu perpisahan untuk si manekin tengkorak yang telah lenyap habis menyisakan serpihan tubuh dan percikan darah.
"Semuanya!" seru lantang sosok itu. Ia tersenyum lebar hingga kembar matanya membentuk eyesmile apik.
"Ayo kita berpesta! Mari kita nikmati pesta minum teh! Oh, aku rindu pesta itu!" para boneka hidup bersorak sorai—mengelu-elukan menyebut namanya dengan sebutan My Duke of The Ravine.
Kedua tangan itu terangkat, lantas menghempas ke samping masing-masing, membuat kekacauan di ruang hampa yang ramai sangat menjadi rapi sekejap kedipan mata.
Benda-benda melayang berada di tempatnya masing-masing—di dalam kotak besar dan di dalam meja nakas, di meja bundar dan di meja nakas, di lemari terkumpulnya pernak-pernik, dan di segala tempat yang tersedia. Kekacauan di permukaan lantai papan catur juga tidur cantik di tempatnya masing-masing.
Bersamaan, para boneka mempersiapkan diri sebaik mungkin—membenahi pakaian-pakaian yang mereka kenakan untuk menghadiri undangan pesta minum teh dari sang Duke. Demikian pula dengan sang Duke, yang secepat kilat tubuh telanjangnya telah terbalut pakaian yang biasa di kenakannya—sebuah gaun tidur bergaya layaknya gaun bangsawan wanita. Dililit oleh pita-pita cantik, renda-renda indah, ornamen mawar putih-hitam yang satu padu di kedua sisi pinggul dan lehernya—menghiasi cantik lehernya dengan benang putih yang manis.
Dan salah satu pergelangan kakinya terhias lilitan benang dengan lonceng perak berukuran kecil. Sosok itu, semakin memikat panah asmara pada hati bagi yang melempar pandangan padanya.
Tersedialah meja bulat yang besar di sana. Beserta puluhan kursi yang mengelilinginya—ada seperangkat minum teh lengkap dengan makanan kecil dan berbagai macam kebutuhan lain. Sebuah kolam air mancur yang memancurkan madu kental dengan deras. Sebuah cake cantik berukuran raksasa, di dalamnya bisa dilewati bahkan oleh si lelaki cantik. Hujan biskuit beragam bentuk dan keeping-keping coklat dari langit-langit kegelapan pekat.
Jingkrak sudah lelaki itu—melompat-lompat selayaknya anak kecil, bertepuk tangan dan mengajak para dayangnya yang terpesona oleh pemandangan yang dilihat kancing mata mereka.
"Ayo! Ayo!" serunya. Ia berlari menuju kursi khusus untuknya, diikuti para boneka yang berbondong-bondong tak sabar.
"Kemari-kemari-kemari! Ambil tempat masing-masing! Mari, kita berpesta sepuasnya! Mari pesta minum teh untuk merayakan keberhasilan Long long yang akhirnya telah bertemu dengan saudara kembarku!"
Menggemalah sorakan penuh suka cita dan gelak tawa.
"Oh, saudaraku sayang, aku rindu padamu.
kapan kita akan bertemu lagi..?
Kapan kita akan bersama-sama lagi..?
Oh, ya, Secepatnya tentu saja! Harus secepatnya, harus!
"Nanti, setelah semuanya berakhir, aku akan membawamu kemari.. dan kita akan bersama-sama lagi seperti dulu! Aku akan bermain bersamamu, akan menyayangimu seperti biasanya, dan akan melindungimu, sayang!
Iya, tentu saja akan begitu! Harus!
Bukankah itu yang ibu inginkan dari kita, selalu bersama-sama dalam senang dan duka sekalipun..?" pekikan tawa nyaring menguar dari bibir cantik sang Duke yang berparas persis dengan saudara kembar tercinta.
Sesosok kesatria berbaju zirah abad pertengahan berdiri manis di samping kanan lelaki muda itu, membungkuk hormat, lantas mengecup punggung tangan sang Duke yang dihiasi sarung tangan berjaring. Sang Duke tersenyum anggun, mempersilahkan ksatria berbaju zirah itu mengambil sebuah kursi yang kebetulan melayang damai di atasnya. Hening hanya melahap mereka—Duke cantik serba putih menunggu apa yang hendak terucap di balik topeng besi itu, sambil menikmati sebuah kue macaron hijau.
Deham memulai pembicaraan antara si ksatria dan sang Duke. "Saya ingin melapor pada My Duke, bahwa satu wujud-ingatannya telah masuk ke tubuh. Membaur, dan merenovasi ulang ingatan saudara kembar anda, My Duke."
Sang Duke diam. Pandang lurus dengan tatapan tak terbaca pada sang kstaria. Lantas ia tersenyum kecil, mengambil anggun cangkir tehnya. "Begitu? Syukurlah, saudaraku. Apa kau sudah memberitahu mereka..?" Kstaria itu mengangguk kecil. "ya, saya sudah. Mungkin sedikit membuat mereka terkejut karena mendadak, tapi saya percaya bahwa mereka akan melakukan yang terbaik."
Mendesah lega. "Aku juga berharap sama seperti rasa percayamu."
"Lalu, bagaimana perintah anda selanjutnya, My Duke..?"
"Entahlah," sang Duke memangku dagu. Menatap kosong langit-langit hitam pekat yang masih menghujani biskuit dan coklat-coklat nikmat untuk pesta minum tehnya. "aku belum memikirkan untuk perintah selanjutnya. Tapi, kau tetap mengawasi saudara kembarku dan Long long, my lovely knight."
Ksatria itu mengangguk singkat penuh keyakinan. "ya, My Duke—all of you want to be." Lelaki muda berparas menawan itu menyeringai.
"Kupercayakan padamu, dan sedikit saja kau melakukan hal yang membuatku marah, aku tak segan meleyapkanmu! Meski kau adalah salah satu ksatria kesayanganku." Keping mata putih keabuan itu memicing tajam, mulai berpendar kecil—proses awal sebelum cahaya menyilaukan itu muncul dan membuat lenyap apapun yang ditatapnya.
"Yes, My Duke." Berlutut formal ala ksatria, mengecup hormat kembali punggung tangan seputih salju di genggamannya.
"Maafkan saya jika ini lancang, My Duke, tetapi kalau boleh saya mengetahuinya, kenapa anda tidak segera menyelamatkan saudara kembar anda begitu dia berhasil keluar dari tempat itu..?"
Kelereng mata itu terbuka lebar. Irisnya yang cantik itu bergerak gelisah. Kepala bersurai putih salju itu menunduk perlahan—ia diam tak seketika menjawab, itulah mengapa sang ksatria terbawa gelisah. Hening sesaat, hingga akhirnya kepala itu mulai sedikit mengadah. Dan berubah sendulah mata cantik itu, tersenyum kecil.
Sang Duke menggenggam erat tangan sang ksatria yang masih menangkup sebelah telapak tangannya, ia gemetar dan tubuhnya pun begitu.
Melirih tertahan dengan bibirnya yang terbuka kecil.
.
"Aku tidak bisa. Sangat tidak bisa.
Dengan dia yang hilang ingatan akibat ulahku juga yang lancang bermain-main dengan ingatannya ketika waktu itu,
... Kenangan dan ingatan akan keberadaanku pun ikut menghilang bersama ingatannya yang lain."
.
Bulir-bulir air mata itu akhirnya meleleh. Membelai lembut yang terasa kasar bagi si pemiliknya. Pipi sang Duke memerah, sama dengan pucuk hidungnya yang bangir. Isak-isak kecil terdengar. Isak-isak kecil itu lantas tertelan oleh kebisingan yang tercipta di sekelilingnya dengan lahap penuh rasa lapar. Akan tetapi, sang ksatria berbaju baja itu mendengar lirih menyedihkan tuannya—oleh sebab itu, kedua tangan sang ksatria bergerak demi menghapus lelehan air mata sang Duke.
"Tak adakah cara lain, My Duke..?"
Sang Duke menggeleng pelan. Tanpa daya dan butuh topangan yang menguatkan, ia memeluk tak berdaya tubuh sang ksatria. Melingkarkan tangan rampingnya pada punggung sang ksatria tersayang, menangis di dadanya yang terlindungi zirah besi berjubah merah-hijau di balik punggungnya. Sang Duke menjawab pertanyaan dengan pilu.
.
"A-ak-aku tidak bisa melakukan apapun untuknya saat ini, kecuali jika saudaraku yang meminta,
... kecuali jika dia memanggilku dengan sepenuhnya menyadari keberadaanku.
Jika kesadaran dan keberadaan kami tidak saling terikat erat satu sama lain,
... Aku hanya bisa diam dibalik punggungmu, memerintahmu untuk melakukan apa yang aku ingin lakukan pada saudaraku yang malang."
.
Dan bandul jam klasik kuno yang terbangun dari tidur nyenyaknya itu telah bergerak, begitu pula pada jarum jamnya. Mereka kembali normal dan berputar berkali-kali, sangat cepat, sesuai arahnya dan akhirnya berhenti di angka ketika Long long bertemu dengan saudara kembarnya.
Jam itu bergerak normal, setelah sebelum pesta minum tehnya dimulai, My Duke of The Ravine menjentikkan jarinya untuk menggerakkan waktu di dimensi hampa tersebut.
.
.
See you next chapter!
.
Footnote! 1) song: Lullaby – Kajiura Yuki
.
Special Thanks! a) Readers b) Reviewers c) Favers-Followers
