Suga sudah tertidur di kursi penumpangnya. Hari terlalu pagi baginya untuk bangun. Ia masih mengantuk. Sama halnya dengan Mika yang tengah tertidur lemas di kursi bayinya. Berbeda dengan ketiga orang lainnya yang cukup tegang itu.
Jimin berada di kemudi, tepat di sebelah Suga yang masih tidur. Sedangkan di kursi belakang ada Jungkook dan Taehyung yang terpisah oleh Mika dan kursi bayinya.
Rasanya Jungkook ingin berpura-pura tidur saja untuk mengusir kegugupannya ini. Tapi matanya tak mau terpejam. Membuatnya hanya menengok ke kaca, melihat pemandangan di luar. Ia mengutuk Suga Hyungnya yang mengatur posisi ini. Ia yakin Suga sengaja biar Ia bisa dekat dengan Taehyung.
Walaupum begitu, kesengajaan Suga ini berdampak cukup buruk bagi Jimin yang lumayan susah fokus menyetir itu. Bagaimana tidak, biasanya ia hanya menghindar saja, tapi kini ia berada tepat di sebelahnya, tak bisa kabur-kaburan lagi.
"Kau menyiapkan bekal, Kook?" tanya Jimin mengusir keheningan, lebih tepatnya kegugupan luar biasanya.
"Tidak. Sejak kapan aku bisa memasak, Hyung?" jawab Jungkook santai, masih memandang ke luar jendela.
"Ah, benar juga ya. Kukira setelah menjadi 'ibu', kau jadi bisa tiba-tiba jago masak begitu"
"Mustahil Hyung. Tapi aku membuat kue dan makanan untuk Mikie. Yah, setidaknya aku bisa memasak untuk anakku sendiri"
"Yakin bisa dimakan memang? Ahaha"
Jimin suka sekali menggoda Jungkook begini. Dapat Jimin lihat dari kaca(apaan si namanya lupa), Taehyung yang memandang ke arah Mika yang sedang terlelap. Sekali-kali tangannya akan menyentuh wajah, maupun tangan Mika yang terbungkus selimut itu.
Jimin yakin Jungkook juga bisa melihatnya. Namun Jungkook membiarkannya saja, membuat Jimin tersenyum senang.
"Ah, sudah sampai" ujar Jimin.
"Bangunkan Suga Hyung, Hyung. Dia susah sekali dibangunkan" Jungkook memberi perintah kepada Jimin.
Jimin yang awalnya sudah kembali hidup karena obrolan singkatnya dengan Jungkook itupun kembali kaku.
"Aku? Bagaimana caranya?" Jimin menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya.
"Itu urusanmu, hihihi" Jungkook sama sekali tak membantu, ia malah cekikikan sendiri.
Jungkook sibuk melepas pengaman pada bayinya yang masih tidur itu, sedangkan Taehyung hanya memperhatikannya saja.
"Bawakan tasnya, Tae Hyung" pinta Jungkook setelah berhasil memindahkan Mika ke pelukannya.
Hei, bukankah Jungkook mengajak dua manusia ini untuk membantunya menjaga Mika? Tindakannya sudah benar kan menyuruh-nyuruh Taehyung begitu?
Sedangkan di sisi lain, Jimin masih kaku. Tak tahu harus berbuat apa untuk membangunkan Suga.
Pelan-pelan, Jimin memiringkan badannya menghadap ke lelaki putih bersih itu. Melihat wajahnya sedekat ini membuat Jimin meneguk air liurnya sendiri, ingin khilaf mungkin.
Sebelah tangan Jimin menggoyang-goyangkan lengan Suga pelan dan lembut, seakan lengann itu bisa hancur kalau ia keras sedikit saja.
"Suga, bangun" bisiknya kelewat lirih.
Jungkook yang melihatnya menepuk pelan dahinya sendiri. Apa ini yang orang maksud dengan kiasan 'bucin' itu?
"Mana bisa bangun akalu begitu, Hyung" desisnya kesal.
"Titip sebentar" Jungkook memindahkan Mika ke gendongan Taehyung, kemudian berjalan ke pintu sebelah Suga, membukanya kasar.
"Hyung bangun Hyung!" Jungkook menepuk-nepuk pipi lumayan gembil nan putih mulus milik Suga.
"Hei, jangan keras-keras. Nanti kalau merah bagaimana?!" Jimin tak terima melihat Suga diperlakukan seperti itu oleh Jungkook.
"Kalau tidak begini tak akan bangun, Hyung" ujar Jungkook santai.
Jimin yang akan kembali protes itu, tak jadi bersuara karena Suga sudah bangun. Ya, benar-benar bangun sepenuhnya.
Mata kucingnya menatap tajam ke arah Jungkook, pelaku penamparan dirinya.
"Sudah sampai ini, Hyung" ujar Jungkook sambil berjalan menjauh, sebelum Suga mengamuk padanya.
Suga pun melihat sekelilingnya. Dan saat menoleh ke samping, ia cukup kaget mendapati wajah Jimin yang menatap ke arahnya juga.
"Ayo turun" Ujar Jimin sok cool sambil keluar mobil.
Menatap Suga sedekat itu sangat tak sehat untuk jantungnya.
Suga pun ikut turun dari mobil Jimin itu. Ya, akhirnya mereka jadi juga jalan-jalan ke tempat yang diusulkan Suga. Ya, hanya berlima, dengan Mika yang juga dihitung itu. Tempat liburan baru yang lumayan sepi karena masih belum banyak orang yang tahu, sangat cocok bagi Suga dan Jimin yang berprofesi sebagai public figur itu.
Hanya pantai dengan taman bermain serta ada juga hutan lindung yang masih sangat asri. Masih belum banyak dijamah oleh manusia. Di sekitar sana juga ada restoran serta tempat belanja oleh-oleh.
Karena masih pagi, dan mereka belum sarapan juga. Tujuan pertama adalah restoran. Restoran dengan desain alami dimana terdapat danau kecil di dalamnya. Asri sekali apalagi ditambah angin sepoi-sepoi dari pantai.
"Mau pesan apa?" Jimin membuka suaranya.
Jungkook sudah menurunkan Mika yang telah bangun itu, capek memang lama-lama menggendong bayi besarnya itu.
"Terserahmu saja, Hyung. Aku duduk duluan" ujar Jungkook santai sambil menggiring Mika ke salah satu tempat yang kosong.
Ya, desain disana tak ada kursi alias lesehan. Hanya ada satu meja lebar nan pendek di tengah guna meletakkan makanan. Nyaman sekali menurut Jungkook.
Suga juga mengikuti Jungkook saja, membiarkan dua orang itu memilihkan menu mereka. Ah, sekaligus membayar tentunya. Jungkook dan Suga yakin kalau dompet dua orang yang mereka maksud itu berlipat-lipat lebih tebal daripada dompet mereka sendiri.
"Hyung pintar sekali memilih teman untuk jalan-jalan begini" puji Jungkook.
Suga yang tahu kemana maksud perkataan Jungkook itupun tersenyum kecut.
"Memang kau suka yang gratisan begini ya" celanya pedas.
Jungkook hanya terkekeh saja. Mau membantah tapi memang yang Suga ucapkan benar adanya.
Mika yang baru bangun itu mengomel minta susu pada 'ibu'nya.
"Cucu Ma" pintanya dengan nada merajuk.
"Bentar sayang" ujar Jungkook sambil menunggu.
Ya, tas perlengkapan Mika kan dibawa oleh Taehyung. Dan yang ia bawa hanyalah Mika dan selimut bayinya saja.
"Mama Cucu" rengek Mika kini berguling-guling.
Bukannya kasihan, Jungkook malah terkekeh. Menurutnya bayi gempalnya ini lucu sekali.
"Uga cucu" kini Mika beralih pada Suga.
"Lah, minta Mamamu dong sayang" jawab Suga sekenanya, ikut gemas melihat tampang memelas Mika itu.
Tak mendapatkan susunya, Mika kembali berguling ke arah Jungkook.
"Cucu Mika Ma! Cucu!" bayi besar itu mulai emosi sendiri karena tidak mendapatkan susunya. Hei, dia hanya ingin susu, bukan sesuatu yang susah kan?
"Kenapa dia berguling-guling?"
Taehyung dan Jimin telah selesai memesan plus membayar sarapan mereka. Mereka agak geli melihat ada bayi berguling-guling itu.
"Di haus, minta susu" jawab Jungkook kalem.
"Ya sudah susui saja, Kook" ujar Jimin asal.
"Susu formula maksudnya, Hyung" Jungkook mendesis pelan.
Jimin terkekeh saja mendapati Jungkook, ia suka sekali menggoda kelinci ini.
"Sini tasnya"
Taehyung menurut, ia memberikan tas bayi milik Mika pada 'ibu'nya.
"Aku mintakan air hangat sebentar, titip Mikie Hyung" pesan Jungkook sebelum beranjak bersama botol susu yang sudah lengkap dengan susu bubuknya itu.
Ketiga 'Hyung' yang Jungkook maksud mengangguk bersamaan. Hei, Jungkook hanya menyebut 'Hyung', jadi semua yang merasa 'Hyung' mengangguk, benar kan?
"Cucu Hueeee!"
Melihat ibunya yang malah pergi membawa botol susuya, Mika sontak saja histeris. Ia berpikir kenapa ia dijauhkan dari botol kesayangannya?
Taehyung segera menggendong Mika, membawanya ke pelukan hangatnya. Suga dan Jimin memang sengaja tidak bergerak, mereka membiarkan Taehyung saja yang mengatasi bayi yang sedang rewel-rewelnya itu. Lagipula dia ayahnya kan?
"Ssshhh Mama lagi bikinin susunya Mikie, sabar sebentar ya" ujar Taehyung menenangkan sang bayi.
Ia menimang-nimang bayi besar itu, membawanya ke dekat danau sambil membisikkan berbagai buaian.
"Ehem"
Ya, yang artinya hanya tinggal Jimin dan Suga saja di meja. Sangat canggung.
"Kau memesan apa?" tanya Suga basa-basi.
Sungguh, Suga bukanlah orang yang suka basa-basi. Ia juga bukan tipe orang yang akan memulai percakapan terlebih dahulu, kecuali kalau dia memang membutuhkan sesuatu atau penasaran akan sesuatu. Dan kini ia berbicara duluan, heol!
"Seafood dengan nasi goreng. Tak masalah kan?" ujar Jimin canggung.
Jantungnya tak bisa diajak kerjasama rupanya. Kalau sedang syuting, Jimin bisa mengendalikannya, toh sudah ada skripnya, sehingga dia tahu apa yang harus dikatakan dan dilakukannya. Sedangkan kalau tanpa skrip begini ia harus bagaimana?
"Tidak, aku suka kok"
Shit! Jimin mengumpat dalam hatinya. Mengagumi betapa imutnya jawaban Suga barusan.
'Suka? Shit! Tenang Park Jimin! Dia hanya suka seafoodnya! SEAFOOD!'
-*123*-
Setelah sarapan yang menguras energi Jimin itu, kini mereka menyiapkan tikar dan payung di dekat pantai. Ya, memang tersedia penyewaan payung dan tikar, sehingga pengunjung tidak perlu bersusah payah membawanya dari rumah. Sangat profesional tempat ini. Menyediakan kebutuhan pengunjung.
"Mau berenang?" tanya Suga pada Jungkook.
Jungkook menggeleng, "Aku tidak membawa baju Hyung" jawabnya.
"Kan bisa beli. Disana ada toko pakaian juga kok. Lagipula kan dibelikan juga. Gratis" Suga mengeluarkan bujukan mautnya.
Jungkook tersenyum kecut.
"Lalu Mika?" tunjuknya ke satu arah.
Ya, bayinya itu sedang bermain pasir dengan segala mainan yang lagi-lagi disewa itu. Tak mungkin Jungkook melepas pengawasannya. Bisa-bisa bayinya nanti lari ke air. Kan bahaya.
"Hei, titipkan ke Papanya saja. Pasti dia mau-mau saja" bujuk rayu Suga.
Jimin dan Taehyung memang masih sibuk dengan tikar dan Payung, sehingga tak begitu mendengarkan percakapan Suga dan Jungkook.
"Apa tidak apa-apa?" cicitnya pelan.
Hei, sudah lama sekali rasanya Jungkook tidak berenang di pantai. Mungkin terakhir kali waktu wisata SMA. Berapa tahun yang lalu coba. Jungkook sendiri sanksi apakah dia masih bisa berenang atau tidak. Tapi, ia juga ingin. Refreshing lah hitung-hitung.
"Tentu saja. Tidak mungkin dia menyakiti anaknya sendiri kan" balas Suga.
"Tapi kan, mereka juga berniat liburan kesini" gumam Jungkook.
"Coba saja, Kook" tanpa persetujuan, Suga segera mendorong Jungkook ke arah Taehyung, membuat Jungkook panik sendiri.
"Hyung" panggil Jungkook.
"Ya?" Taehyung dan Jimin menoleh bersamaan.
Jungkook menimbang-nimbang kembali apakah akan mengatakannya atau tidak. Tapi keputusannya sudah bulat.
"Aku dan Suga Hyung akan berenang. Boleh titip Mika sebentar saja?"
Ya, memang itu kan tujuan awal Jungkook dan Suga mengajak mereka, untuk menjaga bayi nakalnya itu.
"Tentu" kini hanya Taehyung yang menjawab.
Wajah Jungkook berbinar, seulas senyum terukir di wajah cantiknya.
"Terima kasih banyak, Hyung. Kalau ada apa-apa panggil saja, ne!"
Tanpa menunggu jawaban Taehyung, Jungkook langsung saja menarik Suga ke bibir pantai, mendekati ombak yang bergulung-gulung ringan itu.
"Hati-hati!" teriak Taehyung yang masih dapat didengar itu.
"Hei, kita belum melepas baju!" ujar Suga mengingatkan, sebelum bajunya terkena air dengan sia-sia.
Jungkookpun menepuk pelan dahinya, menyadari kebodohannya. Benar juga, masa berenang menggunakan baju lengkap nan tertutup begini?
"Hyung mau topless?" tanya Jungkook.
"Tentu tidak bodoh, kan aku memakai kaos lengan pendek di dalam kemejaku" jawab Suga.
Sebenarnya Jungkook juga sedikit malu kalau harus topless, bekas operasi di perutnya akan terlihat nyata asal kalian tahu saja. Untungnya dia juga mengenakan kaos pendek di dalam kemejanya, seperti Suga. Tinggal lepas, dan jadi.
Hanya kaos pendek dan celana selutut yang tersisa.
Jungkook membuang asal bajunya dan baju Suga. Asal tidak kena air saja pikirnya. Dan merekapun berlari ke air.
-*123*-
"Hyung, kau tidak berenang?" tanya Taehyung.
Jimin dengan santainya berjemur sambil membaringkan tubuhnya di bawah payung. Entah darimana, sudaha da kacamata hitam bertengger di wajah tampannya.
"Tidak, bisa mimisan aku nanti" jawab Jimin santai.
Taehyung yang memegang ujung baju Mika, agar tidak lari, itupun mengernyit. Bingung akan jawaban aneh kakk sepupunya ini.
"Kenapa mimisan? Memang Hyung alergi air laut?" tanya Taehyung bodoh.
"Mana mungkin! Dasar bodoh! Memangnya kalau kau memiliki kesempatan berenang dengan mereka, kau bisa yakin tidak khilaf?" ucapan Jimin berhasil membuat Taehyung terdiam.
Mata tajamnya melirik ke Jimin dengan dramatisnya.
"Jangan bilang kau suka Jungkookie Hyung?!" Desisnya.
Jimin melepas kacamata hitamnya, memandang malas ke arah adik sepupu yang otaknya tak pernah benar itu.
"Iya, aku menyukainya. Tapi tidak sampai membuatku khilaf. Aku hanya menyukainya sebagai adikku saja" ujar Jimin datar.
Otak Taehyung berputar lagi, mencari kemungkinan jawaban apa yang sekiranya tepat. Dan setelah itu ia tertegun sebentar sebelum-
"Kau suka Suga Hyung?!"
"Jangan keras-keras bodoh!"
"Wah, sejak kapan Hyung? Kenapa aku baru tahu?"
"Kau saja yang tidak peduli padaku"
Taehyung tersenyum canggung saja, membenarkan apa yang Jimin katakan. Ia yang tak pernah peduli memang.
"Jadi bagaimana ceritanya Hyung?"
"Nanti saja di rumah ceritanya"
Taehyungpun mengangguk saja, kemudian ia melirik ke arah Mika. Oh Tuhan!
"Jangan dimakan pasirnya sayang!" pekiknya tertahan saat mendapati bayi itu akan memasukkan tangan berlumur pasir ke mulutnya.
Mikapun mengulurkan kedua tangan kotornya ke arah Taehyung.
"Beci!"
Taehyung melongo. Memproses apa kemauan anaknya ini. Dan otaknya tak menemukan jawaban sama sekali. Beci? Besi maksudnya? Kenapa besi?
"Beci?" ulang Taehyung tak paham.
"Beci! Pa beci Mika!" ulang bayi itu ngotot.
Otak Taehyung mencerna kalimat tak lengkap itu dan satu kemungkinan yang ia dapatkan.
"Mika benci Papa?!" ujar Taehyung tak percaya akan ucapannya sendiri.
"No no! Beci!"
Bayi itu menepuk-nepukkan kedua tangannya pelan, sehingga pasir yang di tangannya berjatuhan dengan sendirinya. Ah, Taehyung tahu.
"Papa bersihin tangan Mika?"
Mikapun mengangguk mantap. Ya Ampun kenapa susah sekali memahami bahasa bayi? Taehyung harus berinteraksi lebih sering dengan anaknya ini agar lebih paham apa yang diucapkan bayinya ini. Tidak tahu saja Taehyung kalau Jungkook saja juga kadang kesusahan memahami ucapan bayinya itu. Maklumi saja, masih bayi memang.
Setelah bersih, Mika pun berdiri. Kemudian berlari tanpa arah tujuan. Ia hanya lelah duduk saja daritadi rupanya.
"Hei, tunggu Papa" Taehyung segera menyusul bayinya yang berlarian itu.
"Layi layi!" pekik Mika heboh sendiri.
Taehyung di belakangnyapun ikut berteriak.
"Awas Papa tangkap!"
Taehyung tak menyangka bisa bermain sebebas ini dengan puteranya. Ia sungguh bersyukur karena memiliki kesempatan untuk bercanda tawa dengan anaknya itu. Tak pernah ia pikirkan bila waktu ini telah tiba, secepat ini. Dan ia juga harus berterima kasih pada 'ibu' dari anaknya yang telah merawat anaknya ini hingga sebesar sekarang. Ia berjanji akan menjaga momen seperti ini, tak akan pernah melepas mereka lagi. Tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Ia tak peduli jika memang Jungkook tidak mencintainya lagi. Yang harus ia lakukan adalah membuat Jungkook mencintainya kembali dan membuat Jungkook dan anak mereka kembali ke sisinya. Benar kan?
-*123*-
End *-*
Makasih sama yang udah sempetin baca, fav, follow, dan review :)
Maaf atas segala typo dan ketidakjelasan ini :'
