Chapter 12 : First Clash.

Half

Summary:

{Dia, bukan shinobi. Pekerjaannya, seorang Demon Hunter. Rasnya, Demi-Devil. Mimpinya, menemukan dan membuat keluarga yang bahagia. Namanya, Uzumaki Naruto Sparda. Kegiatan barunya, mencari dan memburu Evil Lord serta menjinakkan Spirit.}

Disclaimer:

{Naruto. DMC. Dan Date a Live. Merupakan milik penulis dan penciptanya masing-masing. Saya hanya meminjam karakter dan beberapa hal untuk kepentingan cerita saya.}

{Chapter 12 : First Clash.}

Line Break

Berial bisa merasakan senyum mengembang di wajahnya.

Sesudah ratusan tahun menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu, akhirnya rencananya, rencana yang tak diketahui siapapun selain dirinya dan satu-satunya anak yang ia percaya, akan berhasil tidak lama lagi.

Saat ini, Berial sedang berada di tempat rahasia, dengan lilin sebagai alat penerangan di sana, yang hanya bisa diakses olehnya dan satu orang anaknya, terletak di bawah tanah dengan jalur masuk lewat kuburan terbuka yang telah ditandai sebagai medium untuk melakukan teleportasi.

Dalam penglihatannya, dia melihat semacam gerbang dengan simbol timbangan terukir di depan itu. Dia tahu gerbang apa itu, dan fungsi darinya. Dia bersyukur sebagian besar waktu yang dia gunakan untuk mencari kegunaan hal kuno tersebut tidak berakhir sia-sia.

Berial menghembuskan nafas, membuka telapak tangan dan energi ungu gelap berbentuk bola sepak muncul di tangannya. Dia bergerak lurus ke hadapan gerbang, lalu menyentuh piringan timbangan yang kiri dengan benda mistis tersebut. Tiga detik berikutnya, piringan itu bersinar selama beberapa saat sebelum akhirnya redup, itu yang sebelumnya tak berwarna sekarang berubah menjadi warna hitam.

"Usai unsur sebaliknya ada, maka semuanya selesai sudah," gumamnya pelan.

Merasakan Demonic Power di belakangnya, Berial mengalihkan pandangan ke belakang, di sana, Berial melihat Mephisto datang sesaat setelah cahaya redup ketika dia mendekati Ayahnya.

"Kau mendapatkannya?"

Mephisto mengangguk, mengambil beberapa helai rambut yang berwarna-warni dari kantung celananya, tanpa pikir panjang ia memberikan itu pada Berial.

Puas, Berial mengulurkan lengannya pada piringan timbangan kanan. Mengejutkan, saat Berial menjatuhkan rambut-rambut tersebut, itu "menembus" lalu "mendarat" tepat di atas piringan timbangan kanan. Beralih pada Mephisto, ekspresinya terlihat sedikit canggung.

"Maafkan aku Mephisto, karena telah menyuruhmu yang tidak-tidak."

Mephisto menggeleng, dia pun berkata.

"Bila menyangkut keselamatan keluargaku, aku tak mungkin bisa mengatakan 'tidak'. Lagi pula, hal ini harus dirahasiakan dari mereka, terutama Kakek yang pastinya takkan pernah setuju dengan rencana ini meskipun kita memberitahunya alasan di balik tindakan kita."

Berial tersenyum lembut, yang sangat berbeda dari dirinya yang biasanya.

[Skip]

Sesudah membebaskan dirinya dari "beban kesenangan", Naruto menggerakkan kakinya untuk membawanya menuju kamar mandi, tak ketinggalan handuk pribadinya ia ambil sebelum ke sana. Dalam perjalanannya, Naruto melihat seseorang sedang memasak di dapur, bau harum yang membuat perut berbunyi tercium dari sana. Penasaran, Naruto mendekat lebih jauh, hanya untuk menemukan orang yang dimaksud adalah Mana, terlihat sedang memasak sesuatu di atas sebuah penggorengan.

"Pagi!"

Bahu Mana naik saat mendengar suara dari belakangnya. Berbalik, ia menatap tajam Naruto, yang tersenyum lebar seolah tak ada yang salah dengan tindakannya.

"Tolong jangan ulangi lagi. Itu sangat tidak lucu."

Naruto mengangkat bahu. "Akan kupikirkan baik-baik." Dia menambahkan, kali ini terdengar agak cemas. "Bagaimana kondisi badanmu? Merasa baikan?"

Sambil berbicara, Mana menaruh perhatiannya pada kegiatannya.

"Lebih baik daripada sebelumnya. Maksudku, entah mengapa aku merasa jika aku dapat berlari seharian penuh tanpa berhenti, melompat dari daratan menuju puncak gunung tertinggi yang ada di muka bumi dalam sekali percobaan, terakhir menyelam ke kedalaman laut tanpa takut kehabisan oksigen. Pemikiran yang mengerikan, bukan?"

Sang Demi-Devil tertawa geli.

"Tidak juga. Itu pertanda kalau kau telah benar-benar sehat."

Mendengar balasan semacam itu dari Naruto, membuat senyuman membentang di wajah Mana. Mengingat sesuatu, dia pun berbicara lagi.

"Naruto."

Berhenti di ambang pintu kamar mandi yang baru ia buka, tanpa menoleh ke manapun Naruto membalas.

"Ya?"

"Saat istirahat, bisa kau pergi ke atap? Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."

"Tentu."

Line Break

Setelah mengganti pakaian dengan seragam Raizen High School, Naruto keluar dari kamar tidur dan turun ke lantai utama dan bergerak menuju meja makan, dimana penghuni yang lainnya sudah menunggunya di sana.

"Selamat pagi semua!"

Secara bersama mereka menjawab.

"Selamat pagi, Naru-kun."

"Selamat pagi, Darling."

"Selamat pagi, Master."

"Selamat pagi, Naruto."

Menarik kursi untuk dirinya, Naruto mengambil roti yang habis dipanggang lalu mengolesi itu dengan mentega serta keju tipis. Saat menikmati sarapannya, Naruto menyadari ada sesuatu yang salah saat ini.

"Ke mana Origami? Ada yang melihatnya?" tanyanya kepada mereka.

"Dia pulang ke rumahnya, katanya ada suatu urusan yang harus dia selesaikan." Nia membalas setelah ia menyeruput kopinya dengan ekspresi bahagia.

Naruto [Ohh] lalu menghabiskan makanannya. Kemudian, belum sempat Naruto meraih piring untuk tempat makanan utamanya, ia mengedipkan matanya ketika Miku membawa sumpit dengan tempura di antara itu ke hadapan mulutnya.

"Darling, buka mulutmu dan bilang [Aah]."

Tahu kalau menolak kebaikan seseorang akan terlihat tak sopan, terlebih dari kekasihnya, Naruto [Aah] dan membuka mulutnya, membiarkan Miku menyuapinya dengan mudah. Sibuk mengunyah makanannya, Naruto melewatkan raut Miku yang menyengir dalam kegembiraan.

"Mungkin tak ada salahnya aku ikut mencoba."

Naruto dikejutkan dengan tindakan Nia, yang mencoba memasukkan karaage ke mulutnya, reflek sepasang bibirnya terbuka dan Nia berhasil memasukkan itu.

Mana mengamati kejadian di depannya dengan senyum geli, sementara itu, Touka menggeram hingga ke tahap gelas di tangannya mulai retak akibat melihat aksi mereka.

Untuk beberapa menit ke depan, sang Demi-Devil menemukan dirinya kewalahan akan serbuan dari dua sisi berbeda.

[Skip]

Dalam koridor Raizen High School, sebagian siswa-siswi yang biasa datang lebih cepat nampak di sana. Di antara mereka, Naruto, Shido, Mana, Yamai Bersaudari, Yatogami Bersaudari, terlihat berjalan bersama sembari berbicara satu dengan lainnya.

"Shido, aksimu di depan gerbang barusan sungguh berani kalau boleh aku bilang."

Shido mengerang, merasa malu karena diingatkan tingkah memalukannya lewat perkataan yang mengandung nada kagum dari Naruto. Mau bagaimana lagi, dia yang semenjak kemarin mengkhawatirkan kondisi adik kandungnya tentu saja tanpa pikir panjang memeluknya sesaat setelah dia menyadari keberadaannya. Bila ada yang harus disalahkan, salahkan insting protective-nya!

"Terserah."

Mana terkikik, berpikir kalau kakaknya sangat lucu kalau sedang merasa malu.

"Ka, ka, hal semacam itu tidak lebih dari sekadar kekhawatiran normal seorang kakak kepada adiknya yang baru saja sembuh."

"Terjemahan. Kaguya yang merasa cemburu akibat kedekatan Shido dengan Mana sempat berpikir untuk menggodanya dengan memanggilnya 'Onii-chan' dalam mimpi basahnya setiap saat."

"Itu tidak benar dan kau tahu itu!"

Seperti biasanya, Kaguya dan Yuzuru mulai bertengkar karena hal sepele.

"Ehem!"

Naruto berdehem dengan volume sedikit dibesarkan, sukses membuat Kaguya serta Yuzuru berkeringat dingin dan menyebabkan mereka lupa akan pertengkaran mereka.

"Master."

Naruto melirik ke arah Touka.

"Ada apa Touka?"

"Sesudah sekolah berakhir, a-aku ingin pergi membeli sesuatu di supermarket." Touka tampak gugup, tapi memaksa untuk melanjutkan. "Jika tidak keberatan, maukah kau m-menemaniku ke sana?"

Naruto berkedip, terkekeh geli kemudian.

"Tentu."

Touka tersenyum gembira mendengar balasan Naruto.

Setelah berpisah dengan Kaguya dan Yuzuru dan Mana, keempatnya beralih arah untuk menuju kelas mereka. Masuk ke dalam, Shido dan Tohka melebarkan matanya ketika memandang seorang gadis yang duduk tepat di depan meja Shido. Di sisi lain, Touka mengernyit sementara Naruto tersentak saat melihat gadis ini.

Gadis ini langsung sadar bahwa mereka menemukan kehadirannya. Mata dan bibirnya terangkat beberapa derajat dengan senang.

Rambutnya hitam gelap berkilau dan kulitnya putih bagaikan mutiara. Tidak diragukan lagi kalau gadis ini sangat cantik dan mempesona.

"Kau–"

Saat Shido mulai berbicara, bibir merah gadis itu berubah menjadi senyuman dan merespon.

"Pagi yang cerah merupakan awal yang bagus untuk mengawali sekolah. Benarkan…" Dia beralih pada Naruto. "…Naruto-san?"

"Yah… perkataanmu gak salah sih." Naruto mengirim senyum simpul kepada Kurumi. "Tadinya aku pikir aku takkan bertemu denganmu lagi, ternyata dugaanku salah."

"Ara, jangan bilang Naruto-san kangen dengan kehadiranku."

Kurumi mengatakan itu dengan senyum riang, disertai suara yang terdengar sensual. Naruto mengangkat pundaknya.

"Tanpa kujawab pun aku yakin kau sudah tahu jawabannya."

Shido yang penasaran, bertanya pada Naruto.

"Kalian saling mengenal?"

Naruto mengangguk. "Kami pernah bertemu… dan bertarung bersama. Kejadian waktu itu sudah lama sekali seingatku."

Touka kebingungan. "Aku tidak ingat kau pernah bertemu dengannya, Master."

"Aku berjumpa dengannya sebelum bertemu dirimu," balas Naruto.

"Oh…."

"Fufu."

Kurumi kelihatan tertarik dengan reaksi Shido.

"Shido-san. Caramu berbicara mengenaiku seperti membicarakan orang jahat saja. Bukankah akan lebih baik kalau kau menanyakan keadaan teman lamamu ini yang baru saja kembali ke sekolah?"

Dia meluruskan tubuhnya untuk menunjukkan pakaiannya. Dia tidak memakai Astral Dress merah darahnya, melainkan sebuah jaket yang cocok dengan rok lipatnya, serta seragam umum yang juga dipakai semua rekan sekolahnya.

"Soal itu..."

Shido mengernyitkan alisnya. Tidak diragukan lagi bila Kurumi memang anggota dari kelas ini beberapa bulan yang lalu. Dia bahkan bisa melewati prosedur resmi dan memasuki kelas ini, dan menyembunyikan absensinya dengan istirahat panjang.

Namun, meski begitu, Shido belum bisa menerimanya dengan mudah. Terlebih ketika mengingat pertemuan terakhir mereka.

Whush.

Niat Kurumi mendekati Shido sebenarnya hanya untuk bercanda, namun dia tidak menyangka bila orang yang didekatinya tiba-tiba mengayunkan kaki kirinya dan menghentikan aksinya sebelum dapat mengenai lehernya. Kurumi dibuat terkejut tentu saja.

'Apa yang terjadi dengannya? Aku membiarkan penjagaanku turun dan ini yang kudapat.' Pikirnya.

"Shido?"

Tampaknya bukan Kurumi saja yang berpikir seperti itu, buktinya Tohka yang memperlihatkan ekspresi kaget ketika ia melihat apa yang baru saja dilakukan olehnya.

Di sisi lain, Naruto sweat drop, sangat familiar dengan tindakan Shido.

'Langka juga melihat insting petarung Shido langsung aktif.' Pikirnya. 'Hmm, sepertinya mereka punya sejarah buruk jika dilihat dari tingkah laku Shido yang menganggap Tokisaki sebagai musuhnya.'

Kurumi menyembunyikan keterkejutannya dengan senyum menggoda.

"Aku tidak menduga kalau Shido-san sudah menumbuhkan 'taring' saat aku tiada. Sungguh, ini merupakan perkembangan yang luar biasa."

"…"

Shido berkedip, sebelum tersentak saat menyadari posisinya. Dia mundur beberapa langkah guna menjaga jarak dengan Kurumi. Beruntung, kelas masih belum ramai jadi ia takkan terkena masalah akibat aksinya yang sebelumnya.

'Apa yang baru saja terjadi? Daripada itu, kenapa tubuhku bergerak dengan sendirinya?!'

Khawatir, Tohka pun bertanya.

"Shido, kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Tadi hanyalah reflek… kurasa."

Setelah menjawab pertanyaan Tohka, Shido memusatkan perhatiannya pada Kurumi.

"Kurumi, kenapa kau kembali ke sekolah?"

Kurumi tersenyum miring.

"Alasan pribadi? Aku hanya ingin menikmati kehidupan sekolah lagi. Alasan khusus? Ada hal penting yang harus kuberitahu pada ikemen-kun ini setelah tes renang."

Dia menunjuk Naruto saat selesai berbicara. Naruto tertawa, merasa terhibur dengan kata-katanya.

"Aku anggap itu sebagai pujian."

Tidak lama kemudian, pintu kelas terbuka dan masuklah Origami, yang penampilannya sedikit aneh sebab wajahnya terlihat lelah, tapi ekspresinya puas. Naruto yang menyadari hal ini, langsung merasa cemas lalu bergerak menuju dirinya.

"Origami. Kau kelihatan pucat, apa kau baik-baik saja?"

Menyadari pujaan hatinya menanyakan kondisinya, membuat Origami senang akan perhatiannya.

Dia mengangguk. "Kau tidak perlu risau. Aku baik-baik saja." Pipinya bersemu merah. "Lebih dari baik-baik saja."

Naruto mengerutkan kening.

"Kau yakin?"

"Ya."

"Apa kau minum vitamin sebelum kemari?"

"Ya."

"Menu makan 4 sehat 5 sempurna?"

"Ya."

"Sudah pastikan bahan panganmu higienis?"

"Ya."

"Apa kau bawa obat di tas–"

Origami membanting bibirnya dengan bibir Naruto, mencegahnya untuk bicara lebih banyak. Tanpa peduli dengan sekitar mereka, Naruto dan Origami tenggelam dalam kegiatan panas tersebut, mata keduanya tertutup demi menjangkau kenikmatan yang lebih.

Reaksi teman sekelas mereka sudah bisa diduga.

"Bukan hanya Yatogami-san, Tobiichi-san juga diembat olehnya?!"

"Terkutuklah kalian para pria bishounen!"

"Uzumaki-kun ternyata lebih buas dari kelihatannya."

Mengabaikan perkataan rekan sekelasnya, Shido merona dan memalingkan muka ke samping, mengingat sesuatu ketika melihat kegiatan mereka. Tohka memiringkan kepalanya sementara Touka menggertakkan giginya.

"Ufufu, kurasa keputusanku kembali bukanlah hal sia-sia."

Kurumi menutup mulutnya menggunakan tangan, menyembunyikan senyum miring karena melihat aksi sepasang kekasih itu.

Line Break

Bel Raizen High School berbunyi lebih dari sekali, menandakan istirahat telah tiba. Sebagian besar siswa-siswi bergegas keluar dari kelasnya masing-masing, ada yang menuju kantin bersama temannya, pergi ke perpustakaan untuk menambah pengetahuan, atau diam di kelas sambil bermain game online yang tengah populer di ponsel.

Sementara itu di atap sekolah, Naruto dan Mana terlihat di sana. Mereka hanya berdua disebabkan Shido dan Tohka sedang ada urusan bersama Reine, Kurumi dibawa Tama-chan-sensei ke ruang kesehatan untuk ditanyakan kondisinya, sedangkan Touka dan Origami menjalani hukuman berupa membersihkan toilet(lagi) sebab pertengkaran mereka di kelas dalam rangka mencoba menarik perhatian sang Demi-Devil.

Naruto bertanya. "Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Mana?"

Mana mengangguk, membuka telapak tangannya kemudian semacam pendar merah muncul di situ. Perlahan namun pasti, pendar itu mulai memadat dan mengambil wujud sebuah pedang yang memancarkan hawa "membara" dengan gagang berwarna merah pekat disertai kepala phoenix dan bilah perak.

Melihat lebih dekat senjata mistis tersebut, Naruto tersentak saat tidak merasakan aura "gelap" dari itu, yang menandakan kalau itu adalah…

"[Angel]."

Mana tertawa gugup, seakan sudah menduga balasannya akan seperti itu.

"Ya. Ini [Angel]."

"…"

'Jadi… antara Mana sudah tahu kebenaran, atau dia mengeluarkan itu tanpa sengaja.' Pikir Naruto.

"Aku yakin bukan hanya ini yang ingin kau perlihatkan padaku."

Mana mengangguk, dan Naruto sempat berpikir gadis itu girang entah karena apa.

"Aku mengobrol dengan Ibuku dalam mimpiku."

"…"

Naruto melebarkan matanya.

"Tunggu, apa?!"

Mana tersenyum canggung.

"Aku tahu ini kedengarannya agak gila. Tapi apa yang aku katakan memang benar adanya."

Naruto menggeleng, ekspresi senang tercetak di mukanya.

"Aku hanya terkejut saja Mana, bukannya tidak percaya." Dia pun menambahkan. "Ngomong-ngomong, bisa kau ceritakan pertemuanmu dengannya?"

Mana mengangguk dengan semangat.

Flashback

Kegelapan. Hanya itu dalam penglihatan Mana sekarang. Memandang ke segala arah, hasilnya sama saja.

Sejujurnya, Mana merasakan ketakutan. Sendirian di wilayah asing, ditemani unsur(kegelapan) yang merupakan habitat dari hewan-hewan buas, sudah cukup mengirim teror ke hatinya. Dalam batinnya, Mana berharap, berharap kalau Ratatoskr, kakaknya, dan Naruto, menemukan cara untuk mengeluarkannya dari tempat mengerikan ini.

Sontak sebuah suara yang mengandung nada riang terdengar olehnya.

"Jika bukan karena Ayahmu, kita mungkin tidak bisa bertemu akibat kutukan itu. "

"Siapa di sana?"

Pertanyaan Mana dijawab dengan tawa yang terdengar merdu.

"Ups! Sepertinya aku lupa menyalakan lampu. Bodohnya aku. Tolong tunggu sebentar."

Click.

Mana langsung menutup mata menggunakan lengannya ketika cahaya tiba-tiba menyala, merasa telah membiasakan diri, ia perlahan membuka matanya, dan ruangan putih dengan meja dan dua kursi menyambut pandangannya. Dia menyadari kalau salah satu kursi itu sudah diisi oleh seorang gadis yang kelihatan sangat cantik, menawan serta menarik dari segi wajah maupun tubuhnya. Siapapun yang mengisi tempat spesial di hati gadis ini pastinya orang paling beruntung di dunia.

Gadis itu berseri, menampilkan barisan gigi bersihnya kepada Mana yang kebingungan.

"Aku yakin kau kelelahan karena telah berada di tempat woo-hoo dalam waktu yang cukup lama. Mungkin akan lebih baik kau duduk sebentar dan biarkan aku membuatkan teh untukmu."

Meskipun ini pertemuan pertama mereka, namun entah mengapa Mana merasa kalau dia seharusnya tahu dan kenal gadis ini. Berbagai macam emosi sedang dirasakannya sekarang, mulai dari gembira, senang, bahagia, sedih, sedikit marah, dan… rindu?

'Aneh.' Pikirnya. 'Apa yang salah denganku?'

Mana dikejutkan dengan sebuah teko dan dua cangkir yang mewujudkan diri di atas meja. Selesai mengisi masing-masing cangkir dengan cairan hijau muda hangat, gadis itu memiringkan kepalanya dalam penasaran.

"Apa kau tidak lelah seperti itu terus?" Dia bertanya kepada Mana. "Menurutku bersantai sambil meminum sesuatu yang hangat dapat membuat badan menjadi rileks kau tahu."

Mana mengangguk, menempati kursi yang kosong dan meraih satu cangkir, menuangkan cairan itu ke dalam mulutnya. Matanya melebar tatkala rasa nyaman menyebar ke tubuhnya.

"Bagaimana rasanya?" tanya sang gadis.

"Ini… enak."

Gadis itu tertawa lagi, kali ini Mana menyadari suaranya menyerupai melodi yang indah.

"Umm… kenapa kau tertawa?"

Usai tawanya mereda, gadis itu berkata.

"Tak ada alasan khusus. Hanya saja melihat reaksimu benar-benar mirip seperti ayahmu membuatku lepas kendali atas emosiku."

Deg.

Mana tercengang saat mendengar kalimatnya.

"A-Ayahku? A-Apa yang kau maksud?"

Gadis itu mengerutkan keningnya, berkedip sebelum menepuk dahinya. "Ah, benar juga. Ayah kalian 'kan masih amnesia. Bodohnya aku." Dia menampilkan senyum simpul. "Namaku Mio. [Spirit of Origin]. [The First Spirit]. Meskipun kedua julukan itu bagus, julukan yang paling kugemari dan kusuka adalah… [Mother] dari keluarga Takamiya."

"…"

"…"

Prank.

Mio masih mempertahankan senyumannya, disamping tahu hal ini akan terjadi. Dia mengabaikan wajahnya yang terluka dan mengeluarkan darah akibat terkena lemparan gelas.

"[Mother]… kau bilang?"

Mana sama sekali tak peduli dengan hal buruk yang telah dilakukannya. Tubuhnya mulai bergetar, bukan karena gugup, melainkan marah. Dia menggertakkan giginya dan memandang tajam Mio, akal sehatnya telah dikuasai emosinya sepenuhnya.

"Jika benar kau Spirit dan seorang Ibu… KE MANA KAU DI SAAT AKU DAN NII-SAMA SANGAT MEMBUTUHKANMU!"

Pandangan Mio kepada Mana melembut, ekspresi menyesal terlihat jelas di wajahnya.

"Setiap tindakan selalu didasari alasan," katanya tenang, "bila kau membiarkanku, sekarang dan saat ini juga, aku akan memberitahumu hal-hal yang memang pantas kau ketahui. Dari awal hingga akhir."

Prank.

Mio tidak berkedip, jika ia melakukan itu, bola matanya akan dipaksa menerima goresan akibat serpihan kaca yang menyangkut di salah satunya.

"Kau mau mendengarkan?"

Mana terdiam, menjawab dengan anggukan. Dia mungkin masih marah, tapi mengingat apa yang ia lakukan dan fakta kalau orang di hadapannya sama sekali tak geram setelah menjadi sasaran amukannya membuat hatinya dingin walaupun sedikit.

"Baiklah." Mana melipat lengannya. "Aku akan mendengarkan."

Mio mengangguk.

"Sebelum keluarga kita terpecah belah. Aku membawa kabur kalian bertujuh…"

Mana memotongnya.

"Tunggu, bertujuh? Maksudnya?"

Mio menghela nafas.

"Kau punya empat saudari tiri, dan kakak laki-laki lebih dari satu yang namanya Shinji."

Mana menyipitkan matanya.

"Lanjutkan."

Mio mengelus dagunya.

"…sampai dimana aku tadi? Oh iya, aku membawa lari kalian sementara Ayahmu memberi waktu untuk kita kabur dengan menahan pasukan dan wakil ketua DEM." Dia mulai gelisah. "Setelah memastikan kita aman dan tidak diikuti, aku membuat keputusan rumit untuk menggunakan nyaris semua [Reiryoku] milikku demi menciptakan sebuah benda yang dapat melindungi kalian yang kusebut sebagai [Sephira Crystal]. Saat proses pembagian [Sephira Crystal], aku tak menduga kalau itu punya kesadaran tersendiri hingga ke tahap beberapa darinya menyebar ke arah yang berbeda, aku yang merupakan pencipta itu saja tak tahu akan hal ini. Mengingat [Sephira Crystal] dibuat untuk menjaga kalian, otomatis itu melakukan segala hal untuk memastikan keberadaan kalian aman dari bahaya, termasuk menghilangkan memori dan perjalanan jauh ke tempat yang paling 'aman'."

"…"

"[Sephira Crystal]. Saudari. Spirit." Mana bergumam pelan, sebelum membulatkan bola matanya. "Tunggu sebentar! Itu berarti Tohka dan yang lain adalah… saudariku dan Nii-sama?!"

Mio hanya tersenyum tipis.

"Bingo."

"…"

Keheningan menyerang Mana, otaknya sedang bekerja untuk memproses informasi mengenai serpihan masa lalunya yang didapatnya dari Mio. Merasa sudah beres, Mana mengingat sesuatu yang ganjil dari perkataannya.

"Kalau benar [Sephira Crystal] dibuat untuk melindungi kami… kenapa aku bisa jatuh ke tangan DEM?!"

Mio meringis mendengar nada menuntut yang dipakai putrinya.

"Tidak seperti saudari-saudari kalian yang awalnya manusia, kau, Shido, Shinji, memiliki tiga DNA berbeda yang dua diantaranya… kuat, di tubuh kalian, sehingga menyebabkan [Sephira Crystal] menjadi 'koma' sampai sekarang. Karena itu, aku menggunakan 6% dari 9% [Reiryoku] milikku yang tersisa untuk mengirim kalian berdua jauh. Namun, aku tak menyangka kalau kau yang baru lahir malah muncul tepat di hadapan–"

"–Isaac Westcott."

Saat Mana memotong kata-katanya lagi, Mio mengatupkan bibirnya.

"Ya. Isaac Westcott. Di lain pihak, Shido ditemukan oleh keluarga Itsuka. Sedangkan Shinji… aku bawa bersamaku."

"..."

Sebuah teko melayang dan menghantam Mio tepat di mukanya, beberapa kepingannya menggores pipi, kening, bibir dan hidungnya, pelakunya tidak lain dan tidak bukan ialah Mana yang hatinya "panas" kembali.

"Dan aku pikir aku mulai memaafkanmu… kurasa orang tua yang 'pilih kasih' memang nyata dan bukanlah mitos, huh?"

Mio tidak marah, dia malah kelihatan lega.

"Apapun yang kau lakukan saat ini bukanlah hal yang salah. Aku… memang pantas menerimanya."

Mio mengusap rambut hingga dagunya, semua kerusakan di wajahnya langsung lenyap seakan tak pernah ada di tempat pertama. Dia pun melanjutkan.

"Soal kenapa aku membawa Shinji seorang. Itu disebabkan situasi memaksaku. Sesaat setelah kalian berdua ditelan sinar [Reiryoku], monster yang pernah membuat hidupku menderita datang tiba-tiba di depanku, niatnya menculik saudara kalian akibat Demonic Power-nya yang aktif terlebih dahulu dibandingkan kalian berdua. Aku yang tak bisa melawan balik karena [Reiryoku] milikku yang hampir tak ada sisa, diselamatkan oleh seorang makhluk bernama Azazel sang [Seraphim of Energy] dan Alaya sang [Will of the Planet]. Mereka bukan hanya menolong kami, tapi juga memberi kami tempat untuk hidup sekaligus bersembunyi."

"…"

Mana tertegun, tidak tahu harus merespon apa ketika kebenaran yang sesungguhnya terungkap. Ia menatap Mio dengan pandangan kosong selama beberapa saat, sebelum air mata mulai berkumpul di sekitar kelopak matanya, rasa bersalah dirasakannya sekarang.

Tes.

Tes.

Tes.

"Maaf... aku benar-benar minta maaf… karena sudah berbuat kasar kepadamu… Ibu."

Tak tahan melihat putrinya seperti itu, Mio menghilangkan meja lewat perintah batin kemudian menariknya ke dalam pelukan, dengan lembut dan penuh kasih sayang mengelus rambutnya.

"Ssssh, tidak perlu ditahan putriku. Lepaskan semuanya."

Detik itu juga, Mana menangis, bukan karena kesedihan, melainkan akibat kebahagiaan.

Present

"Itu benar-benar… wow." Naruto berbicara dengan nada yang terdengar takjub. "Ibumu benar-benar membawamu ke alam mimpi?"

"Kesadaranku yang dibawa tepatnya." Mana membenarkan kata-kata Naruto.

"Apalagi yang dia beritahu selain yang itu?"

Entah kenapa, Mana kelihatan gugup saat Naruto menanyakan yang satu itu. Menggelengkan kepalanya, Mana menghela nafas lalu berujar sambil Angel-nya dia mulai angkat ke atas.

"Namanya Lachiel. Ibuku juga bilang kalau Angel-ku tidak lebih dari sekedar perubahan, yang bila diartikan ini bukan wujud aslinya. Bukan berarti ini lemah itupun."

Naruto mengangguk, menyimpan informasi yang baru didapatnya ke otaknya.

"Ngomong-ngomong, Naruto."

"Ya?"

"Jika kau tidak keberatan… apa kau mau latih tanding denganku?"

Dari cara bicaranya, Naruto menyadari jika Mana agak malu-malu. Hanya saja, instingnya mengatakan itu bukan didasarkan atas rasa suka ke lawan jenis, melainkan harapan ingin diperhatikan, layaknya anak kecil kepada orang tua-nya.

Sang Demi-Devil berkedip.

'Dasar pikiran liar!' Pikirnya, kesal pada dirinya sendiri.

Naruto membuka telapak tangannya, memanggil Yamato lewat perintah batin seketika. Lalu dia menyebarkan dan memanipulasi Demonic Power miliknya untuk membuat barrier demi mencegah perhatian yang tidak diinginkan. Dia mengirim senyum simpul pada Mana.

"Kapanpun kau siap."

Mana menyengir gembira.

Line Break

"Dasar Tobiichi Origami, gara-gara dia aku jadi kehilangan jejak Master."

Touka bergumam, memakan rakus burger setelah mengisi tempat yang kosong di kantin dengan kedutan tercetak di keningnya, menunjukkan betapa kesalnya dia saat ini. Bahkan kekesalannya berdampak pada area sekitarnya, sehingga membuat beberapa murid yang melewatinya merinding disko.

"Kau keberatan aku mengisi bangku yang satunya?"

Menengadahkan kepalanya, Touka melihat Reine berdiri di samping meja sambil memegang nampan berisi secangkir kopi serta sebuah piring kecil dengan gula batu di atasnya.

"Rein–maksudku Murasame-sensei, tidak, aku tidak keberatan sama sekali."

Reine lalu melakukan apa yang dikatakannya sebelumnya. Keheningan melanda mereka selama beberapa saat sebelum berakhir ketika Reine membuka percakapan.

"Maafkan aku jika prediksiku salah, tapi sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini. Boleh aku tahu apa itu?"

"…"

Touka tersenyum ambigu.

"Rupanya… Karen tidak berbohong soal kau yang hebat membaca karakter seseorang."

Reine menaikkan sebelah alisnya, memilih mengatakan hal lain ketimbang menjawab yang sebelumnya.

"Aku takkan memaksamu jika kau ingin menjadikan itu sebagai rahasia."

Touka menggeleng, menarik nafas sebelum membuangnya, ekspresi gelisah nampak di wajahnya.

"Ini hanya terjadi ketika Master bersama kekasihnya. Entah mengapa… dadaku sakit ketika melihat mereka berpegangan tangan, berciuman, atau bahkan hanya menggoda satu sama lain. Awalnya aku mencoba mengabaikan itu, namun seiring waktu berjalan, perasaan ini bukannya hilang malah–"

"–semakin besar dan tak terkendali."

Saat Reine menyela kata-katanya, Touka merespon dengan anggukan, menundukkan kepalanya lalu memainkan jari-jemarinya.

"Sebenarnya… apa yang salah denganku?" tanyanya dengan nada rendah.

Reine menyeruput kopinya sejenak. Dia berkata.

"Tak ada yang salah dengan dirimu. Apa yang kau rasakan merupakan hal normal yang juga dirasakan para wanita di seluruh dunia."

Touka menarik wajahnya hingga matanya bertemu mata Reine, keningnya mengerut.

"Ringkasnya?"

Reine tersenyum penuh arti.

"Kau jatuh hati pada Naruto."

"…"

Touka bisa merasakan panas luar biasa menyebar ke seluruh permukaan wajahnya.

"E–Eh?!"

Line Break

Abaddon menaikkan alisnya, mengamati tongkat hitam dengan tengkorak perak terletak di ujung itu memancarkan sinar yang sangat terang di genggamannya.

'Aneh. Seharusnya kutukannya dapat membuat siapapun selamanya koma, tapi kenapa korban Basilick masih bisa bergerak?'

Basilick merupakan salah satu nama dari wujud hidup yang dimiliki tongkatnya. Abaddon mengizinkan Leviathan "meminjam" senjata satu-satunya sebab dia tahu apapun yang dipikirkan cucu perempuannya itu pastinya menyangkut hal yang "menyenangkan".

'Berpikir bahwa ada seseorang yang dengan bodoh memindahkan kutukan Morgana pada dirinya sendiri. Antara orang ini terlalu arogan atau akal sehatnya telah tiada, yang pasti dia benar-benar satu langkah menuju kematian.' Pikirnya.

"Kakek Abaddon, kapan kita akan berangkat?"

Hyperion bertanya dari sebelahnya.

Tidak seperti saudaranya, Mephisto lebih memilih mengayunkan shinai yang sedang dipegangnya dengan ekspresi serius dan anehnya rindu ketika menatap pedang berbahan kayu tersebut.

"Menurutku akan lebih baik kalau kita menunggu Aeolus, Antaeus, Leviathan, menyelesaikan misi mereka sebelum kita menjalankan yang kita."

Hyperion mengerutkan keningnya.

"Kenapa menunggu mereka? Bukankah misi kita itu berbeda?" tanyanya bingung.

Menghentikan aksinya, Mephisto mengutarakan isi pikirannya.

"Kita jadi bantuan tambahan jika mereka kesusahan, benar begitu?"

Abaddon mengirim anggukan pada Mephisto, sedangkan Hyperion [Ohh] setelah paham makna dari perkataan saudaranya tersebut.

Tidak lama kemudian, tongkatnya Abaddon tiba-tiba lenyap dari tangannya, menyebabkan ia berkedip.

Mephisto menaikkan alisnya. "Kakek, apa yang terjadi pada senjatamu?"

Hyperion juga kebingungan menyadari hal tersebut.

Keheningan menyelimuti Abaddon, sebelum bibirnya membentuk seringai tipis.

"Mephisto. Kau pergilah ke tempat mereka. Mereka lebih membutuhkan dirimu saat ini."

Mephisto menyipitkan matanya.

"Perintah Ayah–"

"Jika hal yang buruk terjadi kepada mereka, bagaimana perasaanmu sebagai yang paling tertua?"

Deg.

Ekspresi Mephisto mengeras tiba-tiba, membuat Abaddon puas dengan apa yang dilihatnya. Tiga menit terlewat, sang [Great Demon of Strength] menghilang ditelan lingkaran sihir di bawah kakinya.

Line Break

Jika ada orang yang sangat ingin Origami lenyapkan saat ini, maka inilah orangnya.

"Ara ara, itu bukan ekspresi yang cocok untuk menyambut rekan sekelasmu yang baru saja 'sembuh' dari 'penyakit' loh."

Kurumi mengatakan itu dengan senyum lebar.

Origami menunjukkan raut wajah serius.

"Tokisaki Kurumi. Atas alasan apa kau kembali ke sekolah?"

"Jika aku bilang 'aku ingin menikmati kehidupan sekolah' apa kau akan percaya?"

"Tidak."

Kurumi tertawa geli. "Dingin seperti biasanya. Kalau kau terus seperti itu aku khawatir tidak akan ada lelaki yang mau denganmu."

Origami mengulas senyum tipis–hampir mirip arogan–dan membalas.

"Maaf mengecewakanmu, tapi hanya Naruto, lelaki yang kubutuhkan dalam hidupku."

Kurumi mengangkat sebelah alisnya, tak menyangka balasan semacam itu datang darinya.

"Dari caramu berbicara dan tingkah laku kalian, kelihatannya kau punya hubungan khusus dengan Naruto-san."

"Itu wajar. Kami sepasang kekasih."

Dan kali ini Origami benar-benar terlihat arogan saat mengatakan itu.

Kurumi [Ohh] sebelum tersenyum aneh.

"Dengan kepribadian yang nyaris 'sempurna', aku yakin bukan hanya kau seorang yang menyukai Naruto-san, apa aku salah?"

"Aku tahu hal itu." Origami menjawab tanpa ragu. "Meskipun begitu aku tak peduli. Bersama dengannya saja sudah lebih dari cukup bagiku."

Kurumi berkedip, kemudian menampilkan seringai tipis.

"Aku agak lupa pola kalau pikirmu berbeda dari kebanyakan orang."

Origami memicingkan mata.

"Bila alasanmu menemuiku hanya untuk membahas hal semacam itu, kurasa tak ada salahnya kalau aku berpikir pembicaraan ini membuang-buang waktuku."

Tanpa menunggu jawaban, Origami berbalik, mulai bergerak dan menyatu dengan kerumunan di lorong sekolah, seiring waktu berjalan keberadaannya lenyap dalam penglihatan Kurumi.

Kurumi menutup mulutnya, tertawa geli kemudian.

Line Break

"Ingatkan aku kenapa kita ada di sini, lagi?"

Kalimat itu datang dari mulut Antaeus, yang berdiri tepat di samping jalur mata air yang berasal dari gunung. Di sebelahnya, Aeolus yang fokus memandang sekitarnya dengan ekspresi gembira, menghela nafas mendengar keluhannya lalu berkata.

"Karena Leviathan yang tahu rupa 'orang unik' ini, maka mau tidak mau kita harus menunggunya menyelesaikan kegiatan yang disukainya sebelum beralih pada hal yang penting."

Meskipun sedikit jengkel, Antaeus sadar kalau apa yang dikatakan saudaranya itu memang benar adanya.

Di sisi lain, Leviathan terlihat fokus menuangkan darahnya dalam jumlah tidak sedikit ke air yang mengalir deras. Sebenarnya ini bukan hal yang baru baginya, mengingat dia pernah melakukan hal yang sama tanpa sepengetahuan keluarganya. Merasa cukup, Leviathan tersenyum riang dan berbalik untuk menghadap kedua saudaranya.

"Nah, karena urusan di sini sudah selesai. Sekarang kita laksanakan tugas dari Ayah."

Belum sempat mereka bergerak, lingkaran sihir muncul di depan mereka, membuat mereka terkejut saat Mephisto keluar dan datang melalui itu.

"Mephisto, apa yang kau lakukan di sini?"

"Perubahan rencana. Aku akan membantu kalian dalam misi ini."

Tidak lama kemudian, sebuah senjata yang sangat dikenali mereka berempat muncul di tangan Leviathan, yang membiarkan giginya terlihat.

"Karena aku dapat memanggil Basilick lagi, maka aku tak keberatan dengan ini."

Line Break

Berenang. Merupakan hal yang menarik perhatian Naruto sekarang, terakhir kali ia berenang adalah ketika ia bersama Trish, Lady, dan Dante, berlibur di pantai setelah berburu beberapa Demon liar. Dia masih ingat kejadian lucu yang menyangkut celana renang Dante yang tak sengaja hilang saat ia sedang berselancar lalu terhempas akibat ombak, yang diketahui hanyut dan ketika ditemukan itu mengambang di atas kepala seekor ikan paus.

Saat ini, para murid dari kelasnya sedang berada di salah satu kolam renang di kota Tenguu, dalam rangka memperoleh nilai untuk olahraga bagian praktek. Setibanya mereka di sini, guru mereka langsung menyuruh mereka untuk berganti pakaian di ruang ganti, tentunya dipisah dan dicampur sesuai kelaminnya masing-masing.

"Basah… bikini… oppai… muehehehe."

Naruto, yang baru saja mengganti pakaian dengan celana pendek tanpa mengenakan atasan, menghembuskan nafas ketika mendengar kata-kata mesum dari mulut Kurama. Dia membuka loker lalu memasukkan seragam dan tasnya sebelum menutup loker lagi.

Keluar dari ruangan, Naruto melihat banyak sekali murid dari kelasnya membentuk barisan sambil menunggu giliran mereka. Dengan tangan diletakkan di belakang kepalanya, Naruto menghampiri barisan yang sesuai dengan kelaminnya, berdiri di paling belakang sebelum bersenandung pelan demi menghilangkan kebosanan.

"Mai-chan, kau baik-baik saja?"

"Jangan cemas Ai-chan. Aku baik-baik saja, kok."

Karena posisi yang berdekatan, Naruto bisa (dan tak sengaja) mendengar pembicaraan mereka. Penglihatannya bergerak ke arah Mai dan Ai.

"Tapi kau kelihatan pucat."

Mai memaksakan diri untuk tersenyum lebar.

"Aku baik-baik saja. Jadi jangan khawatirkan aku."

Ai mengerutkan keningnya.

"Kalau kau bilang begitu… ya sudah."

"…"

Lima menit berlalu, Naruto, yang baru selesai menyelesaikan tes dan berniat pergi ke ruang ganti, reflek menutup matanya saat sebuah kilat cahaya datang dari sisi kirinya. Beralih ke arah yang dimaksud, Naruto menemukan Origami yang sedang memegang kamera dan mengambil gambarnya yang entah ke berapa.

Dia berkedip.

"Umm… sudah berapa lama kau melakukan itu?"

Sambil terus menekan tombol shutter, Origami menjawab.

"Lebih dari 8 namun kurang dari 13 menit."

"…"

"Oh… begitu."

Naruto mengedarkan pandangan, mengerutkan kening saat memandang sebagian besar orang dalam penglihatannya terlihat sedikit lesu entah karena apa.

"Naruto?"

Beralih pada Origami yang memanggilnya, sang Demi-Devil berujar.

"Origami, apa kau menyadari ada sesuatu yang aneh di sekitar kita?"

Origami menengok sekitarnya, berkedip selama beberapa saat sebelum kembali pada Naruto.

"Menurutku mereka hanya kekurangan cairan."

Naruto terdiam, cukup lama ia berpikir keras yang diakhiri dengan mengeluarkan desahan pelan.

"Barangkali kau benar." Mengingat sesuatu, dia melanjutkan. "Soal buku catatan yang ingin kau pinjam, kurasa besok baru aku bisa pinjamkan. Karena aku ada urusan penting setelah sekolah berakhir."

Origami memiringkan kepalanya.

"Aku tidak keberatan mengambilnya langsung dari rumahmu."

Naruto terkekeh canggung. "Sekedar pemberitahuan, itu bukan rumahku." Dia tersentak. "Tunggu, bisa kau ulangi apa yang kau katakan barusan?"

"Aku bilang 'Aku tidak keberatan mengambilnya langsung dari rumahmu.'."

"Kau serius?"

Origami mengangguk, sinar aneh terlihat di matanya.

"Kalau benar begitu... ya sudah."

"…"

"…"

"Kau sudah makan?" tanya Origami, sentuhan pink muncul di pipinya.

Naruto menggaruk tengkuk lehernya, merasa sedikit malu tapi memaksakan diri untuk berbicara.

"Belum. Kenapa kau menanyakan itu?"

Sang Demi-Devil bersumpah melihat bintang di mata kekasihnya sebelum dia menghilang dari pandangannya. Belum juga lima detik, Origami tiba-tiba berdiri di depannya dengan kotak bento dan sepasang sumpit di tangannya.

Naruto sweat drop.

"Uuh… apa aku punya pilihan untuk makan sendiri?" tanyanya.

Kurama menyeringai lebar. "Pertanyaan yang benar-benar sudah ketahuan jawabannya."

Origami menggeleng.

"Aku yang membuat ini, jadi aku yang akan menyuapimu."

Gyuki bersiul.

"Oh... baiklah."

Meski sekilas, Naruto melihat Origami tersenyum lebar sebelum kembali datar.

Line Break

Ketika tes berakhir, dan sebagian murid telah kembali ke sekolah melalui jalan kaki maupun jasa kendaraan umum. Naruto, yang berada di belakang gedung kolam renang, menyilangkan lengannya dengan pandangan tertuju pada Kurumi.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan bersamaku?"

Kurumi tertawa anggun. "Langsung ke intinya, eh? Seperti yang diharapkan dari manusia yang biasa menghadapi makhluk supranatural."

Naruto memilih diam, merasa kalau gadis elegan di depannya itu belum selesai berbicara.

Di luar dugaan, Kurumi mengembungkan pipinya, dan Naruto akui sang [Nightmare] kelihatan imut bila seperti ini.

"Mou, kau tidak seru Naruto-san."

Naruto sweat drop.

"Aku kemari karena kau bilang ada hal penting yang ingin kau beritahu padaku. Boleh aku tahu apa itu?"

Kurumi menghela nafas, ekspresi humornya langsung berubah menjadi serius.

"Apa kau membaca berita kemarin?"

Naruto menggeleng. "Kemarin aku sibuk. Aku tak ada waktu untuk menonton televisi." Dia menaikkan alisnya. "Kau bicara seolah aku melewatkan sesuatu yang sangat besar."

Tak ada balasan dari Kurumi, ekspresinya masih sama tanpa ada perubahan sama sekali. Melihat hal ini, Naruto menyadari kalau apa yang dia katakan sebelumnya memanglah nyata.

"Rincian. Sekarang."

Kurumi mengangguk.

Flashback

"Hm?"

Mempercayai apa yang dikatakan "dirinya" dari waktu lain, Kurumi memutuskan untuk melihat sendiri hal yang ditemukan oleh "dirinya". Mengikuti petunjuk terakhir dari "dirinya", Kurumi tiba di sebuah gang, lalu menyembunyikan dirinya di balik tiang ketika melihat seorang pria yang terlihat kesakitan yang terbukti dengan dia memuntahkan isi perutnya. Awalnya, Kurumi berpikir untuk pergi dari sana, sebelum sesuatu yang menarik terjadi pada pria itu.

Present

"Kulit tubuhnya mencair hingga ke tahap hanya menyisakan segumpal darah… huh?"

Sejujurnya, Kurumi mengharapkan Naruto memperlihatkan setidaknya amarahnya, namun, hanya ekspresi serius dan nada tenang yang didapatnya.

Naruto melirik ke arah Kurumi, menampilkan senyum simpul.

"Terima kasih Tokisaki. Informasi ini benar-benar sangat berarti bagiku."

Entah karena apa, Kurumi mendesah kesal, membuat Naruto bingung.

"Err… apa ada yang salah?"

Kurumi cemberut.

"Mou, 'Kurumi' saja tidak apa-apa Naruto-san. Formal itu menjengkelkan."

Naruto berkedip, lalu terkekeh canggung.

"Oh, kesalahanku." Dia menambahkan. "Tetap. Aku merasa harus membalas kebaikanmu. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa menghitung diriku."

Kurumi nampak agak gembira.

"Fufufu, itu berarti kau berhutang dua permintaan kepadaku."

Naruto mengerutkan keningnya, menggaruk pipinya sejenak sebelum sesuatu melintas di benaknya.

"Ah… yang waktu itu masih kau ingat rupanya."

Kurumi menyeringai tipis. "Permintaanku sederhana saja. Aku hanya ingin kau melenyapkan seseorang untukku." Melihat Naruto menyipitkan matanya, dia menambahkan. "Jangan khawatir. Targetku makhluk gaib, bukan manusia.

Naruto menghela nafas, bertanya kepadanya.

"Boleh kutanya makhluk macam apa?"

"Demon bernama Leviathan."

Kurumi mengatakan itu dengan suara dingin, mengejutkan Naruto. Selain karena baru sekarang dia melihat Kurumi yang seperti ini, sebuah ingatan melintas di benaknya di saat bersamaan.

Flashback

"Mereka lama juga."

Naruto bergumam, berdiri di sebelah pintu masuk kediaman Takamiya dengan tangan sibuk memainkan Temple Run di ponsel-nya. Naruto tidak perlu khawatir terlambat ke sekolah, mengingat sekolah dimulai beberapa jam lagi jadi ia tak punya alasan untuk panik.

"Bo!"

Naruto hampir menjatuhkan alat elektroniknya jika bukan karena instingnya aktif sehingga ponsel-nya aman dari bahaya. Menghembuskan nafas, Naruto beralih pada sumber suara, menemukan Nia yang berpakaian rapi menyengir bangga atas tindakannya.

"Aku mungkin akan mengalami serangan jantung jika kau seperti ini."

Naruto mengatakan itu sebenarnya untuk bercanda, terbukti dengan senyum geli di mukanya ketika melihat Nia cemberut.

"Salah kau sendiri terlalu fokus sama ponselmu."

"Wanita yang cemburu itu sangat berbahaya loh Naruto-san." Saiken memberitahu.

'Yeah, tapi itu juga membuat mereka manis di saat bersamaan.'

Usai membalas perkataan sang Rokubi, Naruto menggaruk pipinya dan terkekeh gugup. Dia menaruh ponsel-nya ke dalam tas sebelum berbicara.

"Apa aku diterima?"

Mencoba mengalihkan topik dengan membicarakan pekerjaan, Naruto merasa lega saat Nia berseri.

"Yes! Pendalaman emosi serta caramu mengisi suara karakter benar-benar 'di atas standar' menurut penilaian mereka."

"Itu… sangat cepat." Naruto mengerutkan keningnya. "Bukannya aku tidak suka, tapi boleh kuanggap jika mereka sangat membutuhkan pengisi suara baru saat ini?"

Nia mengangkat bahu. "Mungkin iya, mungkin juga tidak." Dia melanjutkan. "Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu."

Naruto memilih diam, firasatnya mengatakan jika Nia belum selesai berbicara.

"Berhati-hatilah pada seseorang yang bernama Leviathan."

Naruto memiringkan kepalanya.

"Demon, kurasa?"

"[Great Demon of Water] tepatnya."

Naruto mengangguk, menunjukkan senyum simpul kepada kekasihnya.

"Berkat Rasiel?"

Nia hanya tersenyum sebagai responnya.

Present

"Baiklah. Aku akan menghilangkannya di tempat bila bertemu dengannya."

Kurumi menyengir gembira mendengar balasan Naruto.

"Aku mengandalkanmu Naruto-san~."

Naruto terkekeh, mengabaikan nada sensual yang dikeluarkan Kurumi.

"Apa permintaanmu yang terakhir?"

Kurumi mengelus dagunya, mencoba terlihat sedang berpikir keras. Kurang dari sepuluh detik, ia mengangguk pada dirinya sendiri lalu mengirim senyum miring kepada sang Half-Human.

"Kencan. Kau dan aku. Berdua. Waktu dan tempatnya aku yang pilih."

Naruto mengangkat sebelah alisnya, mengangguk dan mengeluarkan ponsel-nya.

"Berapa nomermu?"

[Skip]

Sekitar lima menit setelah sekolah berakhir, Naruto dan Touka terlihat berjalan bersama di trotoar, dengan nama kedua terus menundukkan kepala sementara nama kesatu menatap lurus ke depan.

"Kau tahu, jika kau ingin menanyakan sesuatu, akan lebih baik bila dilakukan sekarang."

Touka tersentak.

"Aku… tidak paham yang kau maksud, Master."

Naruto mengangguk.

"Kau benar. Aku tidak paham." Dia menambahkan. "Tapi kau paham dan kupingku siap mendengarkannya."

"…"

Touka berkeringat dingin. Apapun yang dipikirkannya saat ini pastinya membuatnya cemas dengan alasan bagus.

"Soal itu…"

Melihat betapa gugupnya dia, Naruto menghela nafas.

"Lupakan. Abaikan apa yang aku katakan barusan."

Touka tidak merespon, namun ekspresi leganya memberi Naruto jawaban yang diinginkannya.

"Tapi aku tidak berbohong soal 'kupingku siap mendengarkannya'."

Entah kenapa, sang Inverse Spirit bersemu merah, sesuatu yang menyebabkan Naruto penasaran.

Tidak lama kemudian, mereka berbelok untuk memasuki sebuah supermarket, tak ketinggalan Touka meraih keranjang belanja. Mereka berkeliling sambil melihat-lihat barang-barang yang menarik perhatian mereka.

"Barang apa yang ingin kau beli?" tanya Naruto.

"Sesuatu yang aku suka," balas Touka.

Naruto mengangguk, memilih diam dengan tangan dimasukkan ke dalam sakunya. Dia menghentikan kakinya untuk bergerak saat Touka berhenti. Mengikuti arah mata Touka, Naruto menaikkan alisnya ketika menatap jajaran makanan manis di salah satu rak.

"Choco pie. Sereal bar. Kinder joy." Naruto menyebut beberapa nama makanan manis dalam penglihatannya. "Kau hanya beli ini saja?"

Touka mengangguk.

Naruto mengernyitkan alisnya, melirik ke arah Touka dengan senyum geli di mukanya.

"Hmm…."

Menyadari apa yang dilakukan Naruto, Touka merona.

"K-Kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu, Master?"

Naruto mengangkat bahu, senyumnya masih ada di tempatnya.

"Tak ada alasan khusus."

Touka menyipitkan matanya pada Naruto.

"Itu bohong dan kau tahu itu."

Naruto masih tersenyum, kali ini matanya tertutup.

"Arghh!"

Naruto tertawa mendengar teriakan Touka yang mengandung kekesalan.

Line Break

"Kau ingin pergi ke luar planet?"

Duduk di atas kursi panjang, Naruto bersama Touka saat ini sedang berada di taman, berdua menikmati makanan manis yang dibeli sang Inverse Spirit beberapa menit yang lalu. Mereka berniat beristirahat di sana sambil berbicara satu sama lain.

Touka menggigit choco pie lalu mengunyah pelan itu, dia pun mengangguk malu-malu.

"Kau mau temani aku seperti waktu itu, Master?"

Naruto, yang baru menghabiskan dua sereal bar, berseri.

"Tentu. Mau sekarang?"

Touka berkedip.

"Sekarang? Maksudku, sekarang?"

Naruto menggaruk pipinya.

"Aku ada… kesibukan nanti malam. Jadi sekarang waktu yang tepat menurutku," jelasnya.

Touka terdiam cukup lama, sebelum senyum riang terlihat di wajahnya.

Line Break

Sembari berjalan bersama para manusia yang berlalu-lalang, Baul yang terlihat kesal mengirim tatapan tajam pada Modeus, yang raut wajahnya masam seperti baru menelan ratusan lemon.

"Kau benar-benar pintar kau tahu itu?" sindirnya.

Modeus mengerang. "Oke. Oke. Aku memang salah. Puas?"

Baul menggeram.

"Tidak sebelum kau bilang 'Aku punya uang simpanan. Jangan khawatir.' baru aku puas."

"Berapa kali harus kubilang padamu kalau uangku itu habis!"

"Memangnya kau tidak malu numpang makan lagi di rumah Nona Mana?"

"Semua. Uangku. Habis."

Baul tampak tidak percaya dengan apa yang dikatakan saudaranya. Saat ia tak sengaja melihat toko mainan, sebuah rencana licik dan jahat melintas di pikirannya.

"Gantungan kunci Hello Kitty yang versi terbatas rilis di sini?!"

Mendengar perkataan Baul, Modeus langsung membuka dompetnya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang yang ia miliki, berniat masuk ke dalam sebelum berhenti ketika menyadari kesalahannya.

"…"

"…"

Whush.

"Kemari kau!"

Whush.

Aksi kejar-kejaran terjadi antara dua saudara tersebut. Mereka tak segan melompat ke atap kendaraan roda empat, atap beberapa rumah, atap bangunan besar, hanya karena yang satu ingin uang untuk makan sementara satunya lagi ingin uang demi membeli barang kesukaannya.

"KENAPA KAU MENGEJARKU BUNG! APA SALAHKU!?"

"DASAR MANIAK KUCING! KAU BILANG KAU TIDAK PUNYA UANG TAPI APA ITU DI DOMPETMU!"

"UANG INI UNTUK MENYELESAIKAN TUGAS SUCI! BUKAN UNTUK HAL RENDAHAN!"

"JADI KAU TIDAK KEBERATAN KITA MAKAN MIE TIAP HARI?!"

"TEPAT SEKALI!"

"SON OF A BITCH!"

"VIVA LA HELLO KITTY!"

Berbelok, Modeus kehilangan keseimbangan saat dia tak sengaja menginjak kulit pisang di trotoar, membuatnya terjatuh dan uang di tangannya lepas dari genggamannya. Di belakangnya, Baul berhenti dan terlihat puas melihat nasib saudaranya. Baru ingin mengambil uang yang jatuh, entah dari mana seekor anjing datang dan kencing hingga membasahi kertas bernilai tersebut.

"…"

"…"

Anjing itu menyengir kemudian kabur menuju pemiliknya.

Mereka berseru dalam kemarahan.

""ANJING!""

Line Break

Dengan mengaktifkan Devil Trigger, Naruto dan Touka, yang mengandalkan kemampuan terbangnya, bergerak menuju luar bumi dalam kecepatan tinggi, bersama mereka melewati semua atmosfer yang dimiliki oleh planet. Meski Naruto lebih cepat darinya, Touka mencoba memusatkan [Reiryoku] ke seluruh tubuh agar ia tak tertinggal di belakang.

"Mungkin sampai sini sudah cukup."

"Kau yakin, Touka?"

"Aku yakin, Master."

Mereka berhenti tepat di angkasa gelap, mengamati sekeliling dan melihat benda-benda asing dan aneh melayang di sekitar mereka. Ini mungkin bukan suasana bagus bagi orang normal, namun mengingat keduanya jauh dari kata "normal", maka tidak terlalu aneh bila Naruto dan Touka terkesan dengan apa yang mereka amati.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Naruto pada Touka.

"Luar biasa!" Touka membalas dengan nada gembira.

Naruto tersenyum simpul, tapi tidak mengatakan apapun setelahnya.

Lima menit berlalu, Touka, yang merasa waktunya sudah pas, menarik nafas lalu membuangnya demi mengumpulkan keberanian. Dia pun berkata.

"Ne, Master."

Naruto melirik ke arahnya.

"Ya?"

Sentuhan pink muncul di pipi Touka.

"Sebelumnya tolong maafkan aku."

"Apa maksud-mmph!"

Apapun yang ingin dikatakan Naruto kembali ke tenggorokannya tatkala Touka menempelkan bibirnya pada bibir Naruto. Keduanya hanya diam selama beberapa saat sebelum Naruto membalas dengan mendorong kepalanya ketika ciuman mereka menjadi lebih panas. Touka yang baru pertama kali melakukan hal ini, hanya bisa pasrah saat lidah Naruto menerobos paksa mulutnya dan dengan ganas menyentuh apa yang dapat diraih oleh itu. Mengingat kalau ini merupakan pengalaman pertama sang Inverse Spirit, Naruto menjauhkan kepalanya guna memberi ruang bernafas untuk Touka.

"Kau… juga sama seperti mereka, Touka?" tanya sang Demi-Devil memastikan.

Touka mengangguk perlahan, mukanya benar-benar hampir menyerupai tomat saat ini.

"Mengatakan perasaan lebih susah ketimbang melakukannya secara langsung. Apakah…" Touka mengatakan itu dengan nada malu-malu. "…Master keberatan?"

"..."

Naruto berkedip, menggelengkan kepalanya.

"Sama sekali tidak. Hanya saja kau sadar apa artinya ini bukan?"

Touka tersenyum gembira.

"Berdiri di sisimu, membuatmu bahagia, memberimu kegembiraan, tak ada yang lebih menyenangkan daripada hal tersebut."

"Kyaaaa Touka-chan benar-benar imut!" Matatabi menjerit dalam kegembiraan.

Kurama, Gyuki, Son Goku, dan Shukaku, menyeka air mata palsu mereka.

""All hail Playboy United!"" seru mereka.

'Tukang lawak. Kalian berempat.'

Kokuo mencibir. "Tepatnya kumpulan monster perjaka."

""HEY!""

Naruto menggaruk pipinya, menampilkan senyum simpul kepada Touka.

"Mungkin ada baiknya kau mulai memberitahuku kapan kau punya waktu luang."

Touka tertawa geli, sebelum membulatkan bola matanya ketika melihat bajunya perlahan sirna. Melihat hal ini, Naruto sadar kalau sekarang waktu yang tepat untuk meminta bantuan Bijuu.

'Shukaku.'

"Apa keturunan Sparda?"

'Aku saat ini benar-benar butuh bantuanmu.'

Setelah mengatakan itu, dari ketiadaan muncul pasir yang langsung mengelilingi jari telunjuk Naruto, kemudian lenyap dan meninggalkan sebuah cincin emas dengan replika wajah sang Ichibi di benda tersebut.

Naruto menghembuskan nafas, dibarengi konsentrasi yang kuat, replika wajah Shukaku membuka mulutnya, kemudian pasir dalam jumlah banyak keluar dari sana, mulai mengelilingi Touka dan mengurungnya di dalam sejenis bola pasir yang cukup besar untuk menampung satu orang, secara tak langsung menyelamatkannya dari rasa malu.

Merasa lega, Naruto lalu memasang earphone di telinganya, menghubungkannya dengan kekasihnya.

"Ada apa, Naruto?"

"Singkatnya aku sudah menyegel kekuatan Touka dan aku lupa tidak membawa pakaian ganti untuk dikenakan olehnya."

"Begitu. Fraxinus akan segera menjemputnya dalam waktu sepuluh menit. Ngomong-ngomong, kalian berdua berada di mana sekarang?"

Naruto tertawa gugup.

"Kami berada di luar jangkauan bumi, luar angkasa jelasnya."

"...itu menjelaskan kenapa waktu penjemputannya lebih lama dari biasanya. "

Kemudian, sebuah suara tanpa emosi terdengar dari belakangnya.

"Apakah engkau sadar kalau keberadaan engkau itu mengganggu ketenangan Muku?"

Line Break

Mana merasa ada yang tidak beres saat ini.

Hal ini bermula ketika ia melewati gerbang sekolah. Dia memang terbiasa pulang sendirian, tapi untuk kali ini, dia membawa beberapa orang yang dikenalinya ke kediaman Takamiya.

"Heeh, jadi Mana-chan tinggal di sini."

Natsumi berkata seraya mencermati seisi rumah dengan nada riang. Di belakangnya, Shido, Tohka, Yamai Bersaudari, yang baru saja melepas sepatunya masing-masing, terlihat ikut mengamati dan kagum dengan apa yang dilihat mereka.

"Terkesan. Desain rumah ini benar-benar tradisional." Yuzuru mengatakan.

Berbanding terbalik dengan Yuzuru, Kaguya malah terlihat tidak nyaman seakan dia tengah menahan sesuatu. Tohka yang menyadari hal ini, bertanya kepadanya.

"Mu? Kaguya, kau baik-baik saja?"

Bukannya menjawab pertanyaan Tohka, Kaguya memilih menatap Mana.

"To–Toilet ada di mana?"

Mana sweat drop, mengacungkan jari telunjuknya ke arah suatu pintu.

"T-Terima kasih!"

Dalam kedipan mata, Kaguya lenyap dari penglihatan mereka.

Yuzuru tersenyum. "Terhibur. Itulah akibat dari meminum air kolam dalam jumlah banyak. Kaguya benar-benar cemerlang."

"Urusai!"

Kaguya membalas dari kejauhan.

Shido tertawa gugup, merasa lengan bajunya ditarik lalu ia melirik ke bawah, menyadari Natsumi yang melakukan itu.

"Ada apa, Natsumi?"

"Apa Naru-nii ada di sini?"

Shido berkedip. "Seharusnya ada." Dia bertanya pada Mana. "Mana, apa kau tahu di mana Naruto sekarang?"

Entah kenapa, instingnya memaksanya untuk memanggil sang Demi-Devil dengan sebutan yang lebih pantas ketimbang menyebut namanya, membuatnya meringis.

Mana mengerutkan keningnya. "Kenapa bertanya pada Mana? Bukankah Nii-sama yang sekelas dengannya?"

Shido menggaruk pipinya, merasa malu dengan dirinya sendiri.

"Habisnya kupikir kau yang serumah dengannya pasti lebih mengerti kebiasaannya daripada aku."

Mana mengusap rambutnya, lalu berujar.

"Di saat seperti ini biasanya dia berkencan dengan kekasihnya."

Shido tersenyum rumit saat menatap Natsumi.

"Maaf Natsumi, mungkin di lain waktu."

Natsumi mengembungkan pipinya, menerima apa yang terjadi meski merasa sedikit jengkel. Padahal tinggal sebentar lagi teka-teki Devil Dawn akan terpecahkan. Apabila perkataan developer game memang benar, maka hanya orang pirang yang bisa membantunya memecahkan itu.

"Bisa kau lepaskan aku?"

"Setelah apa yang kau lakukan?! Dalam mimpimu!"

Mendengar suara yang mengandung amarah, mereka mengalihkan pandangan pada itu, hanya untuk memandang Kaguya yang menyeret Origami dengan ekspresi kesal di wajahnya.

"Kenapa Tobiichi ada di sini?" tanya Shido bingung.

"Dia masuk lewat jendela kamar mandi sesaat setelah 'urusan'ku selesai."

Mereka sweat drop saat mendengar penjelasan dari Kaguya.

Di sisi lain, Origami mendecih. Niatnya untuk mencu-meminjam sikat gigi kekasihnya lalu menyusup-memasuki kamar Naruto malah membawanya ke penangkapan ini.

Sementara itu, adik kandung Itsuka Shido itu memijat dahinya, mencoba menghilangkan pusing yang mulai menyerang kepalanya.

Mana, Tohka, Natsumi, Shido, Yamai Bersaudari dan Origami, berhasil keluar dari kediaman Takamiya tepat waktu sebelum ledakan terjadi. Di langit, mereka melihat beberapa orang yang merupakan dalang di balik kejadian tersebut.

"Mana!"

Dalam kepanikan, Shido berhasil menangkap Mana, mencegah wajahnya menghantam lantai.

"Kau baik-baik saja?"

Bukannya menjawab pertanyaan Shido, Mana merespon dengan ekspresi sedikit takut dan tubuh yang bergetar.

"Pergi!"

Shido kebingungan.

"Huh? Apa maksud–"

"KITA HARUS SEGERA PERGI DARI SINI!"

Reflek dan terkejut, mereka langsung keluar dari rumah melalui jalur teleportasi(kecuali Origami yang melompat ke jendela dan menghancurkan itu dalam proses). Muncul(atau dalam kasus Origami mendarat) di tepi jalan, mereka memfokuskan pandangan mereka terhadap empat orang yang mengambang beberapa meter di atas kepala mereka.

Salah satu dari keempatnya menyeringai tipis.

"Terima kasih karena telah meringankan pekerjaan kami. Sekarang, apakah kalian siap untuk benturan?"

Line Break

Dalam kapal Fraxinus, ruangan Petugas Murasame, Reine terlihat sedang duduk di bangkunya sembari menekan tombol di keyboard dengan pandangannya lurus menghadap layar monitor.

"Hmm, pantas saja ada yang aneh. Seharusnya–"

Sesuatu menghentikannya untuk menyelesaikan perkataannya. Lalu Reine melirik ke luar jendela ruangannya.

"Setelah sekian lama akhirnya kekuatanmu pulih juga."

Line Break

TBC

Line Break

A/N: Haah, akhirnya ulangan selesai juga. Jadi bisa update deh. Seperti biasa, kalau ada kesalahan beritahu author :)

deadly god:

Well, bukan DaL namanya kalau tanpa hal-hal romantis di dalamnya, benar bukan?

Kurumi telah dimunculkan di chapter ini. Jadi silahkan teriak horaaaaaay ^_^.

Hahaha, soal update author hanya bisa minta maaf. Soalnya keperluan dunia luar agak banyak di bulan ini. Tapi yah, author tak ada niat untuk mengabaikan fic ini, jadi tidak perlu khawatir.

Nah, tentang Origami. Kelihatan sekali kalau ia sangat terobsesi dengan Naruto, yang terbukti dengan aksinya yang aneh tapi unik ketika menyangkut pemuda pirang kita itu.

Jujur, author selalu ketawa kalau nulis bagian Origami(kepribadian gak kenal takutnya benar-benar lucu kalau dibayangkan dalam kepala).

Soal adegan yang, yah kau tahu lah, mungkin author takkan buat.

namikaze cloud:

Chapter depan baru Naruto dengan Mio akan bertemu kembali(di medan perang tepatnya).

Terima kasih karena telah mau menunggu fic ini update lagi :D.

aminsetya1:

Jujur, sejauh ini author gak pernah kepikiran soal yang ini.

Jadi yah... Gitu deh.

AbL3h Namikaze:

Done. Sudah update ini :)

Schatten der Dunkelheit:

Nah, santai saja reader-san. Mau review atau enggak juga itu haknya pembaca bukan penulis :).

Soal Spirit dari game DaL(Maria, Marina, Rio, Rinne) kurasa tidak, karena yah, membentur plot nantinya.

Fufufu, kalau soal masa lalu Mio dengan Naru(Natsu) akan author pisah(biar kerasa romancenya gitu) dengan kata lain setelah Half tamat baru flashback mereka akan dibahas, hanya saja di fanfic yang lain.

Genesis0417:

Senang kalau reader-san suka :D.

Amin, terima kasih atas doanya.

pain overture:

Hehe, maaf reader-san. Ma, kalaupun nanti terlambat lagi update-nya, itu karena author banyak urusan atau author sedang mencari materi baru, yang biasanya diambil dari berbagai mitologi(nama makhluk, jenis monster, dll), untuk fic ini.

Teruslah mengocok patrick(this joke is so funny XD.)

Haikal-San:

Reader-san bisa saja. Padahal masih banyak fic DAL yang lebih baik ketimbang yang ini. Tapi yah, agak mengecewakan sih karena mereka gak lagi melanjutkan fic mereka.

Oh, benarkah? Kalau begitu adik-adikmu penggemar DaL juga dong?

Soal terlambat update itu karena author ada ulangan(yang udh selesai by the way).

Senang mendengar adik-adikmu menyukai fic saya ^_^

Jamal Uddin:

Yep. Karena ada ulangan jadi agak telat.

Oke. Sudah next ini.

EROstrator:

Mukuro-chan akan tampil di chapter depan. Tunggu saja update yang berikutnya.

Nope. Easter egg-nya bukan Devil Dawn.

Akan diusahakan cepat up untuk ke depannya.

Yadi699:

Soal bagian humor author terinspirasi dari fandom luar. Yang di fic Half malah humornya masih standar kalau dibandingkan yang di sana.

Benar juga sih. Tapi karena sudah terbiasa menulis yang extreme, mau bagaimana lagi. Toh rated-nya sudah M jadi aman-aman saja(menurut author).

RiesA AfieLa:

Awas kepalanya copot :)

Hahaha, sama-sama. Cerita kamu bagus juga kok.

Menginspirasi? Wah! Author sangat sangat gembira mendengarnya :D.

List of Bijuu Arms:

Ichibi: Sand Affinity and Ring

Nibi : Blue Flame Affinity and Twin Desert Eagle

Sanbi : ?

Yonbi : ? and Staff

Gobi : ?

Rokubi : ?

Nanabi : Wind Affinity and Bow

Hachibi : ?

Kyuubi : Red Flame Affinity and Gauntlet.