Kedua pasangan suami istri itu terlihat sedih karena baru saja kehilangan calon bayi mereka. Dan sang istri hanya bisa menangis tersedu didalam dekapan suaminya. "Maafkan aku kak, hiks... Aku gak bisa jaga dia dengan baik." isaknya tertahan. Sasuke hanya diam dan memeluk Sakura penuh kasih, berusaha menenangkan istrinya agar berhenti menangis.

"Tidak apa Sakura ini semua sudah terjadi." kata Sasuke bijak namun jauh didalam lubuk hatinya, ia sungguh terluka dan kecewa. Bayi yang selama ini ia harapkan kehadirannya tidak bisa datang dalam waktu dekat ini dan entah kapan bayi itu akan kembali.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku Ingin Menikah

Chapters 12

By Mitsuki HimeChan

Baturaja, 25 April 2016

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Satu bulan setelah kejadian itu Sasuke dan Sakura kembali menjalani kehidupan mereka seperti biasa namun ada yang berbeda. Mereka jarang bertegur sapa, bertemu pun hanya saat tidur bersama dan juga sarapan bersama setelah itu mereka tidak akan bertemu.

Bibi Suri menyadari tingkah laku majikannya pun tak bisa apa-apa bahkan paman Zuto dan Yuu seolah menutup mata karena tak ingin ikut campur dan hanya mampu melayani dengan baik.

Pada saat wisuda Sakura pun Sasuke datang terlambat dan itu beberapa hari yang lalu. Sasuke hanya tersenyum terpaksa saat ibunya memarihinya bahkan kakaknya Itachi juga ikut-ikutan.

Sakura hanya mampu tersenyum sendu melihat keadaan suaminya yang jarang tidur karena sibuk berkerja bahkan selalu pulang larut dan terkadang perkerjaannya dibawa pulang. Sakura tidak bisa melakukan apapun saat ia tegur, Sasuke seolah menghindar dan mengatakan ini tugas penting dan harus diselesaikan dan pada saat diminta pulang cepat Sasuke bilang ia lembur untuk mengurus sebuah proyek besar.

Sakura bingung. Apakah Sasuke marah padanya karena ia keguguran? Entahlah. Sakura juga merasa bersalah karena hal itu dan terkadang juga menyalahkan diri sendiri karena hal itu namun Sakura tak bisa seperti ini terus, ia harus maju demi masa depannya bersama Sasuke.

Sakura duduk diam seraya mengaduk-aduk ice cream yang baru saja ia pesan. Pandangannya terlihat kosong bahkan untuk memakan ice cream pun ia enggan. Namun suara baritone yang terdengar cempreng mengintrupsi kegiatannya bahkan ia mendengus kesal dan hendak melempar sendok yang dia pegang.

"Hei kau ini melamun atau apa sih?!" seru Yahiko kesal dan menundukkan dirinya dengan kasar dikursi yang berhadapan dengan Sakura.

Sakura menundukkan kepala seraya meminta maaf sedangkan Yahiko diam saja dan memesan jus jeruk kepada pelayan cafe. "Kalau ada masalah cerita saja, aku ini kakak mu Sakura." kata Yahiko dengan nada suara lembut dan tidak terdengar cempreng seperti biasanya.

"Tidak ada kak." kilah Sakura dengan memasang senyum terpaksa diwajahnya dan Yahiko menyadari hal itu.

"Maaf permisi ini pesanan anda tuan." kata seorang pelayan yang baru saja datang dan membawakan pesanan Yahiko. Setelah meletakkan gelas yang berisi jus jeruk, pelayan itu membungkukkan badan lalu pergi menuju dapur.

"Aku datang kesini untuk memberimu kabar bahagia Sakura jadi tersenyumlah dengan lebar." kata Yahiko yang terdengar seperti printah ditelinga Sakura.

"Kabar apa dulu baru nanti aku tersenyum lebar?" tantang Sakura kemudian menyendok ice creamnya kedalam mulut.

"Selamat untuk kesuksessan karya terbarumu." kata Yahiko bangga.

"Yang mana kak? Karya yang mana?" Yahiko menepuk dahinya pelan. Ia baru ingat akhir-akhir ini Sakura sering menerbitkan buku jadi wajar ia bertanya karya yang mana.

"Assalamulaikum Konoha." jawab Yahiko sedikit mendengus.

"Novel itu baru terbit satu bulan yang lalu kak." kata Sakura dan memakan ice cream nya pelan dan melirik kearah Yahiko yang mendengus.

"Aku tahu itu tapi apa kau tahu peminat novel itu berapa banyak?" Sakura menggeleng pelan.

"Ratusan Sakura, bahkan hingga luar negeri. Dan karena inilah aku mengunjungi mu lebih cepat. Aku ingin memfilmkannya sebelum diambil orang ya sekalian mempromosikan Baslamah Entertaiment kepada masyarakat luar baik kota maupun negeri." mendengar penjelasan Yahiko barusan Sakura mengangguk mengerti, maksud sang kakak ingin bertemu dengannya hari ini.

"Silahkan saja kak tapi jangan menyimpang jauh dari alur cerita." sahut Sakura dan Yahiko tersenyum lebar mendengarkannya. "YES!" raungnya keras hingga para pengunjung cafe melihat kearah Sakura dan Yahiko.

"Kakak." ucap Sakura pelan dengan rona merah dipipi karena malu dilihat banyak orang.

"Hehehe maaf Sakura, kakak sangat senang mendengarnya dan kau tenang saja, kakak tidak akan melenceng jauh dari cerita asli bahkan tidak sama sekali apalagi cerita itu penuh dengan makna indah." kata Yahiko panjang lebar seraya membayangkan film yang akan ia rilis sukses besar.

"Berhayalah selagi bisa." kata Sakura diselingi tawa.

"Kau mengganggu imajinsaiku Sakura."

"Biarin."

"Haaaiiisss..."

"Hihihihi..."

.

.

.

.

Sasuke baru saja selesai rapat dengan para dewan direksi dan juga rekan bisnisnya mengenai proyek pembangun resort baru di kota Hokaido yang menjadi sasaran mereka.

Lima menit lagi azan isya akan berkumandang dan setelah itu dia bisa pulang kerumah tapi dia merasa enggan namun, Sasuke tak bisa seperti ini terus. Mengabaikan Sakura sama saja, dia menyakiti wanita itu, wanita yang dia cintai. Sasuke harus menghapuskan egonya. Ia tak boleh seperti ini terus. Karena bukan seperti ini pernikahan yang rosul contohkan.

Setelah azan berkumandang Sasuke segera keluar dari ruang kerjanya dan pergi menuju masjid terdekat untuk melaksanakan sholat isya.

.

.

.

Dimasjid yang lain. Sakura baru saja menyelesaikan sholat isyanya satu menit yang lalu setelah ia berlarian dijalan demi menemukan masjid karena mendengar suara azan dari ponselnya bahkan ia juga tidak menghiraukan ponselnya yang bersuara karena ada telpon dari Ino karena suara yang paling dulu memanggilnya adalah azan bukan telpon jadi suara azan terlebih dahulu yang harus ia jawab.

Setelah sholat ia langsung menelpon Ino balik untuk bertanya mengapa Ino menelpon dan ternyata hanya karena Ino ketakutan dirumah sendiri dengan pemadaman lampu secara serentak didaerah rumahnya. Sakura mendengus geli mendengarnya dikiranya apa. Sakura mengela nafasnya pelan dan berjalan keluar dari masjid.

Setiap langkah kaki yang diambil Sakura entah kenapa ada langkah kaki lain yang mengikutinya. Sakura semakin takut lalu dengan cepat ia mengetik pesan kepada Sasuke berulang kali dan ia memutuskan untuk menelpon.

"Kyaaaaa..."

.

.

.

.

Drrrrt...

Sasuke baru saja mengendari mobilnya menuju arah rumah. Dilihatnya ponselnya bergetar pelan. Sasuke memelankan laju mobilnya lalu mengambil ponselnya dari atas dashboard.

[Sakura]

Kak tolong jemput aku baru saja keluar dari masjid Alim.

[Sakura]

Kak aku takut, ada yang mengikutiku.

[Sakura]

Kak cepatlah datang aku takut sekali kak.

Drrttt...

"Hallo?"

"Kyaaaaa..."

"Sakura!" teriak Sasuke dan mengerem mobilnya secara mendadak. Masjid Alim seratus lima puluh meter dari sini. Sasuke segera menginjak gas secara brutal dan melajukan mobilnya dengan cepat tak peduli sumpah serapah yang dilontarkan orang-orang yang tak sengaja hampir ia tabrak.

Sakura melangkah mundur saat tiga orang pria bertubuh besar yang menatapnya lapar bahkan bau alkohol tercium diudara saat mereka bicara.

"Hallo manis kamu cantik.. hik.. Sekali..." ujar salah satu dari mereka.

Sakura berjalan mundur hingga tubuhnya menghantam beton tinggi dibelakangnya.

"Jangan takut sayang!" mereka tertawa keras melihat Sakura yang semakin terpojok seperti tikus yang berhadapan dengan kucing liar.

"Kakak hiks hikss tolong aku hikss..." Sakura terus menangis dan menggelengkan kepalanya ketakutan.

"Hik..jang..hik..an..takut...hik!" mereka semakin berjalan mendekat dan hendak menyentuh kepala Sakura.

"KAKAK!" raungnya keras penuh ketakutan.

Bugh!

Suara hantaman benda keras terdengar jelas ditelinga Sakura. Perlahan Sakura membuka matanya perlahan dan melihat sosok Sasuke yang susah payah menghajar ketiga pria itu seorang diri dengan bemodal kayu yang di temukan.

Trak!

Kayu yang dipegang Sasuke telempar jauh dan dengan keberaniannya Sasuke menghajar mereka dengan tangan kosong.

Bugh!

Crash!

"Aaaaaakh!" salah satu dari mereka berteriak kesakitan karena tangan kanannya diplintir Sasuke cukup keras dan mungkin saja akan patah kalau Sasuke semakin kuat melintirnya. Mereka segera berlari ketakutan setelah salah satu tangan teman mereka yang mungkin patah karena perbuatan Sasuke. Mereka semua kalah melawan Sasuke. Sasuke membuang nafas lega kemudian menghampiri Sakura yang menatapnya takut.

"Sa-"

Grep..

"Hiks..aku takut kak...hiks aku takut..." Sakura menangis tersedu memeluk Sasuke erat. Sasuke juga menitihkan air matanya. Pasalnya ia juga merasa sangat takut tadi, takut kalau dia akan kehilangan Sakura dari hidupnya. Sasuke membalas pelukan Sakura sama eratnya dan mencium pucuk kepala Sakura.

"Maafkan aku Sakura. Maaf." ungkapnya dengan penuh penyesalan.

"Hiks...Kakak...aku..sang..hiks..at..ta..takut..heeee..hiks..hiks..." Sasuke memeluk erat Sakura dan membawa Sakura menuju mobilnya bahkan Sakura enggan untuk melepaskannya.

"Aku tidak akan meninggalkan mu Sakura, kau tenang saja." kata Sasuke lembut dan Sakura mengangguk lemah dan melepaskan pelukkannya lalu masuk kedalam mobil.

Blam.

Sasuke segera masuk dan duduk dikursi kemudi. Diliriknya Sakura yang masih menangis tersedu. "Tak apa Saku, kita pulang ya." Sasuke mencoba untuk tersenyum agar Sakura baikan meski sulit ia lakukan.

.

.

.

Sasuke menyodorkan segelas teh hangat untuk Sakura kemudian duduk disamping istrinya itu. "Kalau kamu mau pulang apalagi malam, telpon aku, paman Zuto atau paman Yuu. Mereka akan menjemputmu Sakura." Sakura meminum tehnya sedikit kemudian menaruh gelanya diatas meja nakas, tak peduli dengan apa yang Sasuke katakan bahkan dia membaringkan tubuhnya dikasur dengan memunggungi Sasuke.

"Sakura." panggilnya pelan.

"Aku selalu mengirim pesan sama kakak, minta dijemput tapi kakak tak pernah jemput dan menyuruh paman Zuto dan Yuu untuk menjemputku. Padahal hiks...aku rindu kakak hiks.. apa kakak tidak rindu sama aku..." kata Sakura memohok hati Sasuke dengan dalam.

"Maafkan aku." kata Sasuke menyesal dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Sakura namun tertahan. "Maafkan aku." katanya lagi.

"Gak apa kok, kak. Sakura paham. Sakura hanya gadis yang tidak begitu menguntungkan kakak bahkan mungkin memalukan buat-"

"Sakura-"

"Aku gak kaya, aku bukan anak yang pintar, aku ceroboh hingga bayiku...hiks..hiks.." tak tahan mendengarnya, Sasuke memeluk Sakura dengan ikut membaringkan tubuhnya dibelakang Sakura.

"Aku..hiks.."

"Cukup Sakura, cukup. Kau adalah istri yang sempurna bagiku, jangan pernah lagi kau berkata seperti itu." kata Sasuke disela tangisnya.

"Hiks..." suara tangis Sakura semakin kencang dan Sasuke hanya mampu memeluk Sakura dan menangkannya.

.

.

.

.

.

.

Pagi ini Sakura tersenyum manis seraya menghidangkan masakannya untuk Sasuke sarapan. Bibi Suri yang melihatnya pun ikut tersenyum senang dan membantu Sakura.

"Dimana paman Zuto, paman Yuu dan bibi Suri?" tanya Sasuke heran karena tidak melihat ketiganya dimeja makan.

"Hmm pagi ini mereka mau makan didapur saja kak, udah aku paksa untuk makan bareng kita tapi mereka gak mau dan bilang biar aku dan kak Sasuke makan berdua aja privasi." jawab Sakura kemudian duduk disamping Sasuke.

"Ya sudah." Sasuke mengangguk kemudian mengucapkan do'a sebelum makan bersama Sakura lalu setelahnya barulah mereka makan bersama bahkan Sakura tidak malu-malu saat menyuapi Sasuke.

"Makan yang banyak Sakura biar kamu gak kurus."

"Aku gak kurus kak."

"Menurutku kurus." Sakura mempout bibirnya sedikit kesal kemudian makan dengan banyak membuat Sasuke tertawa pelan melihatnya.

"Hari ini kau akan kegedung SMK?" tanya Sasuke kemudian.

"Tidak kak, hari ini aku akan kegedung Basmalah Group. Aku harus mendatangi rapat penting bersama mereka." jawab Sakura.

"Kalau begitu kita pergi bersama karena aku juga ikut rapat." kata Sasuke setelah meminum air putih yang ada digelas sedangkan Sakura menatap Sasuke bingung.

"Aku sponsor untuk novel mu yang akan dijadikan film, Sakura." mendengar perkataan Sasuke barusan membuat Sakura tersenyum lebar. "Novel Assalamulaikum Konoha'kan?" tebak Sasuke dan dijawab anggukan cepat oleh Sakura. "Aku membacanya kemarin, sangat bagus." Sakura tersenyum puas mendapat pujian dari Sasuke.

"Terima kasih kak. Aku sangat senang mendengarnya. kupikir novel itu hanya laku beberapa saja karena kurang menarik." kata Sakura malu-malu.

"Sama-sama. Kata siapa kalau novel itu hanya terjual beberapa hn? Aku bahkan tidak menyangkan novel itu segera dicetak lagi sebanyak dua ratus buku dan dijual ke luar negeri padahal baru terbit sekitar satu bulan yang lalu. Bahkan buku karya ku tidak sampai seperti dan yang lebih kerennya lagi novel mu yang ini, kini mempunyai rating yang tinggi melampaui karya Lavender." kata Sasuke panjang lebar. Sakura sendiri tak menyangkan mendengar Sasuke begitu banyak bicara pagi ini, mungkin kah Sasuke berusaha untuk lebih terbuka?

"Aku juga tidak menyangka kak." timpal Sakura.

"Bahkan non-muslim banyak yang baca." Sakura terdiam dan melihat iris kelam Sasuke yang fokus melihat sup buatannya. Sakura menatap Sasuke tak percaya, dengan apa yang ia dengar barusan.

"Aku tidak berbohong." Sakura tersenyum kecil. "Syukurlah ." ucap Sakura kemudian kembali fokus untuk menghabiskan nasinya.

Setelah menghabiskan makanannya Sakura segera beranjak membereskan piring dan gelasnya kemudian tersenyum saat Sasuke memakan semua masakannya dengan lahap bahkan sup yang ia buat habis oleh Sasuke.

"Aku tunggu didepan." kata Sasuke dan beranjak menuju garasi mobil.

"Iya kak." sahut Sakura.

.

.

.

Sakura terus memperhatikan slide demi slide yang ditunjukkan di layar proyektor dan mendengarkan presentasi Yahiko dan yang lebih mengejutkan lagi Uchiha Sasuke juga terlibat dalam pembuatan film ini. Kini sosok suaminya itu sedang duduk dikursi yang berhadapan dengannya membuat Sakura sedikit gugup saat mata mereka bertemu.

"Dan syuting ini akan dilakukan di tiga negara sesuai dengan isi novel yaitu, Indonesia, Jepang, dan Perancis. Untuk Indonesia kita akan fokus ke kota Yogyakarta. Di Jepang kita akan syuting di kota Konoha dan kota Paris, Perancis." kata Yahiko menjelaskan sebuah slide dibelakangnya.

"Artis dan aktor mana saja yang akan kita kontrak untuk film ini?" tanya Sasuke.

"Karena aktris dan aktor kami hanya sedikit maka sisanya kami akan mengontrak beberapa aktris dan aktor yang ada di Tokyo." jawab Yahiko.

Rapat terus berlangsung hingga mencapai kesepakatan yang disetujui semua orang yang hadir.

.

.

.

.

.

.

Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang tapi hari ini Sakura tidak memiliki perkerjaan yang berat seperti hari-hari sebelumnya seperti mengedit buku dongeng anak-anak, membuat sampul cover untuk novel dan buku dongeng atau mengisi suara untuk anime terbaru. Dan satu jam yang lalu rapat mengenai filmnya telah selesai kini Sakura berjalan pelan menuju rumahnya dan sesekali ia mengirup udara dengan sangat rakus dan mengehembuskan nafasnya berat.

Langkah kakinya terhenti saat melihat sebuah mobil besar membawa banyak barang terparkir disamping rumahnya tepatnya didepan sebuah rumah kosong. Beberapa lelaki bertubuh besar dengan seragam yang sama keluar dari dalam rumah kemudian mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil dan membawanya masuk kerumah.

Sosok wanita berkerudung biru keluar dari rumah kemudian menghampiri Sakura. Sakura tertawa kecil saat melihat wanita itu.

"Kak Hinata." Hinata tersenyum.

"Aku baru saja pindah dan kita tetangga sekarang."

"Kalau begitu asik dong, aku bisa main kesini kalau bosan dirumah."

"Tentu saja Sakura, Emm bagaimana dengan novel mu ku dengar akan dijadikan film."

"Hehehehe iya kak, aku sedikit guguk karena itu."

"Tentu saja ini karya mu yang pertama dijadikan film." Sakura mengangguk setuju dan kedua wanita itu mengobrol masalah rumah dan masakan. Sesekali mereka tertawa kecil. Hinata mengajak Sakura untuk masuk namun Sakura menolak dengan halus jadinya mereka hanya duduk ditaman kecil dihalaman rumah.

"Jangan sedih Sakura dan aku yakin Allah pasti akan kembali mengirimkan malaikat kepadamu dan Sasuke lagi." kata Hinata menghibur setelah mendengar curat Sakura.

"Kakak sendiri sedang hamilkan?"

"Iya baru masuk tiga minggu."

"Selamat ya kak."

"Iya."

"Ngomong-ngomong Sakura apa kau bisa masak kue kering seperti biskuit?" tanya Hinata mengalihkan pembicaraan karena menurut Hinata berbicara tentang bayi didepan Sakura sama saja melukai hati Sakura.

"Bisa ada apa kak?"

"Nanti ajarin kakak ya." Sakura tersenyum seraya mengangguk mengerti. "Tentu."

.

.

.

.

.

.

Sasuke merenggangkan ototnya yang lelah bukan main kemudian dilepasnya jas dan juga kemeja yang ia kenakan.

Cklek.

Sakura baru saja masuk kedalam kamar dan mendapati suaminya kini bertelanjang dada membuatnya pipinya merona bukan main. "Ma-makan malam suda aku siapkan. Apa kakak mau mandi?" kata Sakura gugup.

"Iya aku mau mandi." jawab Sasuke enteng dan hendak melepas celananya juga.

"Tunggu kak!" sergah Sakura cepat sebelum Sasuke benar-benar melepasnya.

"Ada apa?" tanya Sasuke dengan wajah polos.

"Akan aku siapkan air." jawab Sakura dengan cepat lalu masuk kedalam kamar mandi.

Sasuke terkekeh pelan melihat wajah Sakura yang berwarna merah menyala.

Setelah selesai mandi dan makan malam bersama. Sasuke memilih duduk dikursi santai yang menghadap jendela, memperlihatkan langit malam yang indah karena bertabur bintang. "Kemari." katanya pelan dan Sakura berjalan mendekat lalu ditariknya pelan lengan Sakura hingga istrinya itu duduk dipangkuannya. Dengan ragu Sakura menyenderkan kepalanya didada Sasuke dan dengan sangat senang Sasuke menaruh dagunya dikepala Sakura kemudian memeluk istrinya.

"Kakak sudah tahu kalau kak Hinata dan kak Naruto sekarang tetangga kita?" tanya Sakura berusaha memecahkan keheningan.

"Hn. Aku tahu karena Naruto pernah mengatakannya padaku mungkin beberapa hari yang lalu." jawab Sasuke.

Keheningan kembali tercipta diantara keduanya. Mereka tidak tahu harus berkata apa dan memilih untuk saling diam dan menghangatkan. Sasuke merasa sangat canggung dengan suasana seperti ini hingga dia pun bercerita tentang masalah yang dia dapat beberapa hari ini mengenai proyek besarnya di negara asing. Bagaimana repotnya mengurus semua yang ada bahkan ia pernah terjun langsung kelapangan untuk melihat hasil kerja para buruh.

Sasuke kembali bercerita dan meminta pendapat Sakura tapi tak ada jawaban hingga Sasuke sadar bahwa istrinya sudah tertidur pulas seraya memeluk lengan kanannya.

Sasuke tersenyum tipis kemudian ia pun menutup matanya dan jadilah mereka berdua tidur dikursi santai dengan ribuan bintang menjadi saksi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dengan senangnya Sakura menggendong bayi mungil dengan warna rambut pirang yang diwariskan ayah sang bayi. Diciumnya dahi bayi itu dengan sayang kemudian menyerahkan bayi itu kembali ke ibu sang bayi.

"Boruto sangat lucu dan tampan seperti ayahnya." kata Sakura dan mengelus pipi Boruto, nama bayi yang tadi ia gendong.

"Ya, dia memang sangat mirip dengan Naruto-kun." timpal Hinata dan mencium dahi, hidung dan pipi anaknya.

"Semuanya sudah punya bayi." lirih Sakura. Ia cukup iri melihat Hinata baru saja melahirkan beberapa hari yang lalu bahkan Sara istri Menma akan segera melahirkan bayi juga. Ino sahabatnya sudah menikah beberapa minggu yang lalu dan ia juga baru saja dapat kabar bahwa sahabatnya itu kini sedang hamil beberapa hari.

"Sakura, aku kekamar dulu ya mau kasih Boruto, asi." pamit Hinata dan beranjak dari duduknya.

"Iya kak." Sakura mengangguk mengerti dan berusaha untuk tersenyum walau sakit. Ia iri dengan Hinata bahkan ia juga sangat merasa iri dengan para ibu muda lainnya.

Hinata masuk kedalam kamarnya kemudian Sakura kembali keruang keluarga dimana Sasuke sedang mengobrol asik dengan Naruto.

"Sejak kapan kau suka manis, Sasuke?" tanya Naruto heran karena sejak tadi ia melihat Sasuke memakan kue basah yang dibuat istrinya. Yang menurut Naruto sangat manis. Naruto tidak mempermasalahkan jika Sasuke menghabiskan semua kue itu tapi yang ia herankan Sasuke tidak suka manis bahkan dulu pernah ia tawari permen manis dan Sasuke menolak dan sekarang? Laki-laki yang baru saja menginjak usia 28 tahun itu tampak lahap memakan kue manis buatan Hinata.

"Aku tidak tahu, tapi entahlah beberapa hari ini aku suka sekali makan manis." jawab Sasuke kemudian meminum air yang sudah disediakan.

"Aneh." gumam Naruto.

"Kak ayo pulang." ajak Sakura dengan wajah lesu.

"Katanya mau lihat Boruto." kata Sasuke saat melihat Sakura datang menghampiri.

"Ayolah kak." rengek Sakura manja.

"Baiklah-baiklah. Naruto kami permisi dulu ya, assalamu'alaikum." pamit Sasuke undur diri.

"Hm'm waalaikum'salam." sahut Naruto lalu mengatar Sasuke dan Sakura keluar dari rumah.

Sakura dan Sasuke berjalan berdampingan menuju rumah mereka dengan langkah kaki yang sangat pelan. Sasuke hanya dapat diam karena dia sendiri tahu mengapa Sakura seperti ini. Istrinya menginginkan bayi mungil diantara mereka namun sang ilahi belum juga memberikannya kepada mereka. Do'a dan usaha itulah yang terus mereka lakukan.

"Hiks..." Sasuke berhenti berjalan saat mendengar suara tangisan anak perempuan. Sakura juga terdiam kemudian Sakura mulai mencari asal suara tersebut.

"Sakura, mau kemana?" tanya Sasuke mengikuti Sakura dari belakang. Langkah kaki Sasuke terhenti saat Sakura berdiri mematung melihat seorang gadis kecil berambut kuning keemasan menangis sambil memegangi lutut yang berdarah.

"Ya Allah, kamu kenapa sayang?" Sakura segera mendekati anak itu dan berjongkok didepan sang gadis mungil dengan paras cantik seperti boneka.

"Tadi aku jatuh." jawabnya dengan isak tangis. Dengan lemah lembut Sakura membersihkan luka gadis kecil dengan sapu tangan yang selalu ia bawa.

Sasuke menitihkan air matanya. Sungguh miris melihat keadaan Sakura saat ini. Lihatlah, kini istrinya itu berusaha untuk menghibur anak itu bahkan suara yang keluar dari mulut istrinya terdengar sangat lembut dan kata 'sayang' selalu terucap.

Sasuke mengusap wajahnya kasar dan mengusap poni rambutnya kebelakang sambil mengalihkan pandangannya. Matanya berair pun dengan cepat dia hapus. Dia tidak boleh menangis hanya karena ini.

"Nah udah kan, gak sakitkan." kata Sakura lembut setelah mengikat sapu tangannya dilutut gadis kecil itu.

"Rumah kamu dimana hm? Nanti tante anterin." kata Sakura lagi.

"Dicana." kata gadis kecil itu cadel. Sakura tersenyum gemas melihat anak itu.

"Sini tante gendong biar kaki kamu gak sakit." gadis kecil itu mengangguk mengerti lalu merentangkan kedua tangannya kedepan, Sakura dengan senang hati menggendong anak itu dalam dekapannya.

Sasuke hanya diam saja dan mengikuti mereka dari belakang dan mungkin kini istrinya itu sudah lupa dengan keberadaannya karena terlalu memperhatikan gadis kecil itu.

"Ini lumah ku." gadis itu menunjuk sebuah mansion mewah didepan mereka.

"Nona kecil!" seru seorang penjaga gerbang yang baru saja membuka pintu gerbang untuk mobil tuannya yang ingin keluar.

"Mama!" seru gadis itu histeris saat mamanya keluar dari dalam mobil dan menghampiri.

"Hyuuna, kamu dari mana saja sayang?" tanya wanita itu lalu merebut gadis kecil bernama Hyuuna dengan kasar dari dekapan Sakura.

Wanita dengan warna rambut hitam kecoklatan itu menatap Sakura sinis. "Kau mau menculik putriku iyakan?!" bentaknya kesal.

"Ti-tidak, a-ak-ku menolongnya karena kakinya terluka." timpal Sakura dengan suara lemah. Sasuke memperhatikan wajah wanita yang membentak istrinya sebentar kemudian dia berdiri didepan istrinya. Ibu gadis kecil itu merona melihat ketampanan Sasuke bahkan ia sedikit gugup bahkan mulai salah tingkah.

"Kami menemukan putri mu dijalan dengan kaki terluka lalu istriku datang dan mengobati lukanya lalu mengantar putrimu dengan selamat." kata Sasuke menjelaskan dengan nada suara dingin. Wanita itu ber 'o' ria dan sedikit kecewa karena Sasuke telah memiliki istri dan disisi lain ia merasa bersalah karena telah membentak Sakura.

"Aa maafkan aku dan terima kasih telah menolong putriku karena hanya dia yang saat ini aku punya." katanya menyesal.

"Hn. Tak apa kalau begitu kami permisi. Assalamualaikum." Sasuke menarik lengan Sakura pelan dan membawa istrinya pergi.

"Makasih tante." seru Hyuuna. Sakura berhenti berjalan dan menoleh kebelakang melihat Hyuuna yang tersenyum kearahnya.

"Tuan siapa nama anda?" Sasuke terdiam dan menoleh kebelakang sama seperti Sakura.

"Sasuke. Uchiha Sasuke." jawab Sasuke kemudian kembali membawa Sakura pergi. Mengabaikan wanita itu yang terkejut bukan main mendengar nama Sasuke.

"Mati aku." katanya prustasi. Uchiha Sasuke adalah orang yang baru saja menanamkan saham kepada perusahaannya sebayak 50%. Dan hari ini rencananya ia akan bertemu dengan Sasuke untuk pertama kalinya.

.

.

.

.

.

.

Sasuke tak mampu berkata-kata melihat istrinya terus diam sejak pulang dari rumah Hyuuna. Ia sangat tahu kenapa dengan istrinya tapi mereka tidak boleh seperti ini terus. Sakura harus semangat. Sasuke juga ingin memiliki bayi seperti Naruto dan temannya yang lain tapi kalau ia bersikap sama seperti Sakura mungkin hidup mereka akan hancur. Sasuke bangkit dari duduknya membiarkan Sakura sendirian dikamar. Sasuke melangkahkan kakinya keluar kamar. "Kenapa disaat seperti ini aku ingin makan marsmellow." gumam Sasuke kesal seraya menuruni anak tangga menuju dapur. Mungkin saja marsmellow yang Sakura beli kemarin masih ada.

Drrrt...

Sasuke melihat nama yang tertera diponselnya kemudian digesernya kesamping dengan gambar hijau.

"Assalamulaikum." jawab Sasuke.

"Waalaikumsalam."

"Ada apa?" tanya Sasuke disela menguyah marsmellow.

"Jam dua siang ini anda ada pertemuan dengan direkur perusahaan asal Korea."

"Hn. Aku mengerti." setelah berbicara singkat dengan seketaris pribadinya Sasuke segera menyelesaikan makannya saat ini karena jam yang melingkar ditangannya telah menunjukkan pukul dua belas siang.

"Sholat zuhur dulu baru berangkat." katanya kemudian membereskan pelastik marsmellow yang berantakkan diatas meja makan. Sasuke tak percaya ia menghabiskan dua belas marsmellow dengan berbagai rasa buah.

"Aku harus kedokter bisa-bisa aku terkena diabetes." katanya sedikit kesal karena tak bisa menahan nafsunya untuk memakan makanan yang manis.

.

.

.

.

.

.

Sakura mengeriyit heran melihat bungkusan marsmellow didalam kulkas. Didalam bungkusan dengan gambar buah-buahan dan panda lucu itu, tinggal lima buah lagi marsmellow. Padahal Sakura kemarin membelinya dengan susah payah karena harus berdesakkan dengan ibu-ibu yang ingin membelinya untuk anak mereka apalagi ini marsmellow yang baru saja dijual dipasar oleh pabrik makanan berlebel halal.

Sakura mengeluarkan bungkusan tersebut dari dalam kulkas lalu duduk dikursi makan.

"Bi, siapa yang menghabiskan marsmellow didalam kulkas?" tanya Sakura saat bibi Suri baru saja muncul dari pintu menuju halaman belakang.

"Aa tadi saya lihat Sasuke-sama yang memakannya." Sakura melotot tak percaya, Sasuke makan marsmellow yang manisnya bukan kepalang yang benar saja.

"Tidak mungkin." kata Sakura tidak percaya kemudian memakan marsmellow rasa coklat.

"Itu benar, Sakura-sama." Sakura terdiam kemudian menguyah marsmellownya pelan.

"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Sakura dalam hati.

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke tak percaya ternyata wanita yang tadi membentak istrinya adalah pemilik perusahaan QS Group yang baru saja ia tanami modal. Kini wanita dengan nama lengkap Yoon Myung Eun. Terlihat gugup. Gugup bukan karena ketampanan Sasuke tapi gugup karena takut Sasuke akan membatalkan kerja sama mereka bagaimana pun juga saat ini perusahaannya sedang dalam masa krisis dan butuh dana bantuan.

"Maaf soal yang tadi." kata Myung Eun setelah berdiskusi dengan Sasuke.

"Tak apa." timpal Sasuke datar kemudian memanggil pelayan dan memesan jus tomat dan Stroberry Cake. Myung Eun sedikit heran dengan Sasuke yang sejak tadi memesan kue manis. Menurut pengalamannya lelaki yang cenderung dingin seperti Sasuke tidak menyukai manis, seperti mendiang suaminya.

"Sepertinya kau sangat suka kue manis." kata Myung Eun kemudian meminum jus jeruk yang dia pesan.

"Aku tidak suka makan manis." mendengar jawaban Sasuke, Myung Eun mengeriyit bingung. "Tapi beberapa hari ini aku ingin makan manis." lanjutnya. Myung Eun menyeringai tipis. Bagaimanapun juga dulu ia adalah dokter spesialis kandungan sebelum akhirnya ia berhenti dan menjalakan perusahaan kecil milik suaminya dan berhasil ia kembangkan menjadi perusahaan besar.

"Apa anda menginginkan sesuatu juga seperti ingin makan sesuatu atau menginginkan hal yang diluar kebiasaan anda?"

Sasuke terdiam sejenak dan memikirkan semua hal yang ia alami beberapa hari terkahir ini. Sasuke tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih saat pelayan datang membawakan pesanannya. Myung Eun meminum jusnya seraya menunggu jawaban Sasuke.

"Aku tidak suka manis tapi beberapa hari ini aku ingin sekali memakan makanan yang manis. Dua hari yang lalu aku muntah-muntah. Dan tadi sebelum berangkat kesini aku kembali muntah."

"Maaf." kata Sasuke tidak enak karena bicara soal muntah didepan Myung Eun yang sedang menikmati kue keju.

"Tak apa dan aku sarankan kepada anda untuk segera memeriksakan istri anda ke dokter. Ya mungkin saja apa yang aku pikirkan saat ini benar."

"Apa yang kau pikirkan?"

"Mungkin saja istri anda hamil dan yang mengalami masa ngidam dan muntah itu anda. Itu wajar karena anda ayah biologis. Teman ku juga pernah hamil namun yang ngidam dan muntah-muntah adalah suaminya."

.

.

.

Setelah mendengarkan penjelasan Myung Eun tentang kondisinya. Sasuke segera pamit undur diri dan bergegas pulang. Mungkinkah? Itulah kata yang terus terngiang dipikirannya. Sasuke tersenyum sendiri membayangkan bahwa istrinya akan tersenyum lebar dan tertawa kalau ada bayi didalam perut Sakura.

Lampu hijau segera menyala saat lampu merah padam. Sasuke segera melanjutkan laju mobilnya. Ia sedikit mendengus kesal karena mobilnya berada dibelakang sekali barisan bahkan beberapa menit lagi lampu hijau akan padam.

Sasuke tersenyum lega saat mobilnya melawati tiang lampu lalu lintas. Suara sirine mobil polisi berdengung membuat para pengemudia motor dan mobil bergidik mendengar suara itu lalu dari belakang mobil Sasuke, terlihat sebuah mobil box melaju kencang yang disinyalir membawa puluhan kilogram narkoba dan obat-obatan lainnya. Mobil polisi dibelakang mobil box terus mengejar.

"Cih lama sekali." desis pria yang mengemudikan mobil box lalu ia menambah kecepatan mobilnya hingga bamper depan mobilnya menyentuh belakang mobil Sasuke dan karena rasa takut akan ditangkap polisi. Pria itu segera menambrak mobil Sasuke dan melaju kencang. Mobil Sasuke terseret kedepan.

Kepala Sasuke terbentur ke stir. Sasuke menoleh kebelakang dan meliha mobil box terus mendorong mobilnya kedepan. Sasuke hendak banting stir kekanan kearah lorong namun naas, sebuah mobil avanza hitam mucul dari lorong itu hingga kecelakaan itu tidak dapat dihindari.

.

.

.

.

.

.

.

Prang!

Sakura terkejut bukan main saat ia tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga yang terbuat dari kaca. Bibi Suri segera muncul dari dapur dan menghampiri Sakura.

"Biar bibi yang bereskan nyonya." Sakura mengangguk mengerti. Pirasat buruk mulai menyelimuti hatinya. Vas bunga itu adalah vas yang ia beli bersama Sasuke saat mereka kencan untuk pertama kalinya. Sasuke menyukai vas itu karena ukiran bunga yang ada di vas.

Drrrtt...

Sakura tersadar dari lamunannya saat ponselnya bergetar. Dilihatnya nama Sasuke tertera dilayar. Sakura tersenyum senang dan menggeser tombol dial.

"Assalamualaikum." jawab Sakura dengan ceria karena sesuai rencana saat Sasuke pulang nanti dia akan membuatkan Sasuke kue bolu coklat dengan keju terselip dibelahan bolunya.

Tak apakan menggoda Sasuke sesekali apalagi saat ini suami esnya itu sedang mau-maunya makan makanan yang manis. Sakura terkikih geli.

Sakura terdiam saat suara yang terdengar dari ponselnya bukan suara Sasuke. Ponsel Sakura terjatuh bersamaan dengan air matanya yang jatuh. Senyum cerianya menghilang dengan cepat. Bibi Suri memungut ponsel Sakura yang jatuh dan mati.

"Sakura-sama ada apa?" tanya bibi Suri bingung sekaligus heran.

"Kak Sasuke, Sasuke. Tidak mungkin." Dan tangis Sakura pun pecah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi ini alasan mu menerima proyek di Indonesia dan menyuruh kakak mu ke Swedia hah?!" katanya geram memadang pemuda berambut raven.

.

.

.

"Uchiha Sasuke." katanya memperkenalkan namanya.

"Haruno Sakura, salam kenal." Sakura tersenyum kecil.

.

.

.

"'Sekejam apapun orang tua kepada anaknya, anak tidak boleh berkata kasar atau melawan kepada kedua orang tuanya' itulah kata yang ayahmu katakan padaku."

.

.

.

"Iya, dialah Uchiha Sasuke leluhurku dan kata ayah dia sangat mirip denganku mangkanya ia menamaiku sama dengannya dan dia adalah pahlawan dalam perang dunia shinobi ke 4. Ayah ku berharap bahwa diriku bisa seperti dia."

.

.

.

"Menikah tak salah Sasuke dan jangan salahkan rezeki yang belum cukup lalu tidak menikah karena Allah akan mengatur rezeki mu ketahuilah jika kau menikah namun belum ada rezeki yang cukup maka Allah pasti akan memberinya meski tidak sekarang tapi nanti. Dengan syarat usaha dan do'a tentunya. " Sasuke mengangguk paham.

.

.

.

"Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga mereka berdua terutama cinta mereka yang begitu suci." kata Hidan tulus seraya menepuk bahu Kizahi pelan.

.

.

.

"Aku akan mendapatkan kamu lagi Sakura bagaimana pun caranya, kau adalah milikku." katanya dengan penuh kayakinan.

.

.

.

"Aku akan kembali ke Konoha, tunggulah aku Sasuke-kun." katanya dengan penuh percaya diri.

.

.

.

"Mereka malaikat kecil Allah."

.

.

.