Title : Kiseki no Sedai

Cast :

· Kim Jong In a.k.a Kai

· Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo

· Other Cast

Pair / Slight : KaiSoo / Exo Official Couple

Genre : Romance, School Life

Rate : T

Leght : Chapter(s)

.

.

.

.

.

Story by: KazekageLaxy

.

.

.

.

.

WARNING THYPO !

DON'T READ IF YOU NOT LIKE !

.

.

.

.

Happy Reading ^^

.

.

.

.

.

.


"Dia adalah Kris Wu. Sebenarnya dia adalah kapten basket Seirin sebelum pindah ke Kanada dan menyerahkan jabatannya pada Chanyeol."

Semua anggota kelas satu membulatkan bibirnya bersamaan, terkecuali Kai tentunya. Lelaki itu hanya diam dengan wajah datar sementara teman satu angkatannya nampak antusias.

Kris Wu terlihat sangat berbakat. Tubuhnya tinggi dan proposional, sedikit lebih tinggi dari Chanyeol, Kai, Sehun dan Zelo yang memegang predikat anggota tertinggi. Wajah blasterannya nampak menawan dengan rambut pirang, membuat siapapun tidak akan lepas darinya. Termasuk Luhan yang sedari tadi tidak melepaskan rangkulannya pada lengan Kris, gadis itu nampak seperti rusa yang bergelayutan diatas jerapah tanpa mau di pisah sedikitpun.

"Senang bertemu dengan kalian semua." Pria itu menyapa dengan hangat, menatap para anggota satu persatu dengan begitu teliti, lalu pandangannya jatuh pada Kai yang terlihat tidak antusias.

"Ah, jadi kau si mata biru itu." Yang merasa disebut mengangkat kepalanya, mengernyit kearah Kris yang tersenyum tipis.

"Siapa yang kau sebut mata biru?"

"Tentu saja kau, karna kau satu-satunya yang memiliki warna mata itu." Kai mendengus, terlihat tidak suka. Membuat Kyungsoo yang ada disebelahnya harus mencubit perutnya.

"Aw! Kurcaci, kau ini apa-apaan sih?" Kesalnya pada Kyungsoo yang mendelik dengan mata bulatnya.

"Kau itu! Sopanlah sedikit, dia itu seniormu tahu."

"Persetan," Jawab lelaki itu dengan malas tanpa mau peduli.

"Ya, begitulah dia." Komentar Luhan yang hanya dimaklumi oleh si pirang.

"Siapa namanya?"

"Kai."

"Kai ya? Hm, hei mata biru, mau bermain one and denganku?" Kai yang sedang beradu kecil dengan Kyungsoo itu menoleh. Apakah si pirang ini baru saja menantangnya? Sebenarnya, lelaki itu berniat menerimanya. Kris terlihat kuat dan cocok menjadi lawannya, namun moodnya seketika hilang, membuatnya memilih untuk berdiri dan meraih tasnya.

"Mungkin lain kali," Gumamnya tanpa sikap sopan dan berlalu pergi dari lapangan, membuat semua orang hanya bisa menghela nafas, terbiasa melihat tingkahnya yang sombong dan semaunya sendiri itu.

"YA! KIM KAI! DASAR KAU INI YA!" Setidaknya hanya Kyungsoo orang yang berani meneriaki lelaki itu yang tentu saja di abaikan, membuat gadis bermata bulat itu mendengus, mengomel dengan kesal.

"Manager sudahlah, kau bisa terkena darah tinggi jika menghadapinya." Kris berkata dengan senyuman, mencoba menenangkan Kyungsoo.

"Kau sudah bekerja dengan keras. Ah, namamu Kyungsoo bukan?"

"Ah, iya."

"Luhan sudah menceritakan semuanya tentangmu, tidak kusangka yang menggantikan Baekhyun ternyata sepupunya sendiri." Kyungsoo melirik Luhan dan menemukan gadis cantik itu mengangkat bahu.

"Tolong maafkan sikap Kai yang kurang ajar itu ya." Kyungsoo mendesah, tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mengendalikan Kai. Rasanya sudah semua cara dia coba, namun belum berhasil sepenuhnya.

"Tidak apa, orang hebat sepertinya memang pantas bersikap seperti itu." Kris bekata dengan bijak, membuat anggota kelas satu yang memang baru pertama kali bertemu merasa takjub padanya. Jika Chanyeol adalah kapten yang cukup keras, maka dia adalah tipe pemimpin yang tenang dan penuh pengertian.

Diantara anggota kelas satu yang masih terkagum-kagum dengan sosok Kris, Sehun juga demikian, namun lelaki itu memandang Kris tanpa berkedip karna sosok Luhan yang menempelinya. Gadis itu terlihat sangat dekat sekali dengan Kris, hubungan mereka apa?

"Suga hyung," Karna penasaran, lelaki itu memutuskan untuk mendekati Suga dan bertanya. Lelaki itu anggota kelas dua, pasti tahu banyak.

"Ada apa Sehun?"

"Apakah Luhan noona dan Kris itu memiliki sebuah hubungan?" Suga melirik pada Kris dan Luhan yang kini terlihat bercanda kecil dengan bahagia sebelum mengangguk, membenarkan.

"Luhan adalah manager club saat Kris menjabat menjadi kapten. Ya, mereka sangat dekat dan tidak terpisahkan sampai Kris pindah ke Kanada."

"Sangat dekat?"

"Lebih dari itu, mereka bukan sekedar teman Sehun."

Sehun tidak tahu kenapa dia begitu merasa kecewa mendengar penjelasan Suga. Lebih dari teman? Jadi mereka memiliki hubungan yang serius? Si pucat menghela nafas, mengucapkan terimakasih pada Suga yang tidak curiga sama sekali dan bergabung pada anggota kelas satu. Latihan akan dimulai lagi, namun melihat kedekatan antara Luhan dan Kris membuatnya merasa tidak semangat.

Chanyeol dan Baekhyun adalah kapten dan manager, lalu keduanya memiliki sebuah hubungan, hal itu mungkin bisa terjadi juga antara Kris dan Luhan.

Sehun benci mengakui bahwa dia merasa kalah dan cemburu. Semangatnya mendadak hilang, saat latihan melakukan shooting, tidak ada bola yang bisa dia masukkan ke dalam ring, lalu saat melakukan operan, semuanya meleset jauh.

"Sehun, kau baik-baik saja?" Kyungsoo mendekatinya begitu dia menepi ke sisi lapangan, Chanyeol memang menyuruhnya istirahat karna menganggap Sehun sedang tidak enak badan. Lelaki itu melirik Kris dan Luhan yang kini berjalan mendekatinya, masih dengan lengan Luhan yang menggelayut manja di lengan Kris.

"Kyungsoo noona, boleh aku izin lebih awal?"

"Ada apa? Kau sakit? Tidak seperti biasanya kau begini."

"Um, sebenarnya aku sedikit tidak enak badan." Kyungsoo memperhatikannya kemudian menghela nafas sebelum mengangguk.

"Ya, pulanglah dan istirahat. Oke?" Sehun mengangguk, membereskan pakaiannya.

"Sehun, kau kenapa?" Itu suara Luhan yang bertanya.

"Maaf noona, sepertinya aku sedang tidak enak badan." Lelaki itu menjawab tanpa menatap Luhan. Dengan sopan dia kemudian membungkuk kecil dan berlalu dari sana tanpa berkata apa-apa lgi, membuat Luhan bertanya-tanya apakah yang terjadi pada anak itu.

.

.

.

Lapangan indoor Rakuzan masih menyala dengan begitu terang, suara gesekan sepatu berdecit keras sementara tetesan keringat berjatuhan membasahi lantai. Disisi lapangan sana, Jonghyun menatap stopwatchnya sebelum berteriak.

"Latihan hari ini cukup!"

Teriakan itu membuat para anggota yang berada di lapangan itu mengerang lega, kemudian memilih merebahkan tubuh lelah mereka di atas lantai lapangan dengan nafas tersenggal dan keringat membasahi seragamnya.

"Turnamen semakin dekat dan latihan semakin menggila." Daniel mengeluh panjang, merutuki Jonghyun yang kini berjalan kearahnya.

"Aku mendengar racauanmu Kang Daniel. Mau ku tambah porsi latihanmu menjadi tiga kali lipat?" Jonghyun tidak mengancam sebenarnya, dia mengatakan kalimatnya dengan tenang. Namun itu cukup membuat si lelaki bergigi kelinci itu meringis dan langsung meminta ampun.

"Aku akan melakukan evaluasi." Saat Jonghyun mengatakan demikian, semua anggota yang terdiri dari sepuluh anggota inti itu berkumpul didepan si lelaki, bersamaan dengan itu, seorang wanita masuk ke dalam lapangan dan menghampiri mereka.

"Ah, latihannya sudah selesai ya?"

"Yixing noona, kau terlambat."

"Ya, maaf. Aku mencari ini." Gadis manis itu mengangkat beberapa keping CD didepan wajahnya dengan senyuman. Jonghyun melirik dan tersenyum.

"Noona kau memang yang terbaik!" Pujinya kemudian kembali focus pada catatan dan anggota didepannya.

"Oke, untuk evaluasi hari ini, grafik para anggota semakin membaik. Hanya perlu focus dan meningkatkan ketelitian saat kalian sedang bermain. Minhyun, kau masih bermain dengan tenang, itu bagus. Daniel, jangan lengah dan focus. Guanlin, berlatihlah lagi untuk lompatanmu, Baejin dan Jihoon, kalian berdua paham kan apa tugas kalian?" Dua lelaki yang ditunjuk mengangguk dengan kompak. "Baiklah, mungkin hanya itu saja, sisanya sudah melakukan dengan baik. Latihan selesai, kalian sudah bekerja keras."

"Cepat pulang dan istirahat, kalian harus punya tenaga untuk pergi sekolah dan latihan lagi besok." Itu perkataan Yixing, manager club basket Rakuzan yang langsung diangguki oleh semua anggota. Lapangan menjadi sepi dengan begitu cepat, menyisakan Jonghyun dan Yixing yang sedang membereskan sisa latihan.

"Kudengar kau sedang dekat dengan anak Seirin." Yixing membuka percakapan sambil mengumpulkan bola basket didalam keranjangnya bersama Jonghyun.

"Ya, namanya Kyungsoo. Dia manager basket disana."

"Ah, berarti kau berteman dengan calon musuhmu." Yixing tertawa begitu mengatakannya.

"Mungkin begitu noona, tapi diluar urusan basket, aku ingin lebih dekat dengannya."

"Hm, sepertinya kau jatuh cinta padanya ya?" Jonghyun terkekeh pelan menanggapi candaan managernya.

"Entahlah, mungkin saja."

"Ya, kau boleh-boleh saja dekat dengannya. Tapi jangan lupakan tujuan kita." Peringat gadis manis itu.

"Aku tahu noona."

"Bagus, setelah ini kita akan meriview permainan musuh sebelum mempresentasikannya dengan para anggota."

.

.

.

"Eonni, kau dan Kris sudah mengenal baik ya?" Kyungsoo bertanya saat keduanya berjalan beriringan di lorong sekolah, bel pulang sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu dan keadaan sekolah sudah sepi saja.

"Hm bisa dibilang lebih dari itu."

"Lebih dari itu?" Si gadis bermata bulat mengernyitkan alisnya tidak mengerti. "Maksudnya?"

"Kami sudah mengenal satu sama lain sejak SMP."

Ah, jadi keduanya teman dekat? Kyungsoo menggumam dalam hati. Well, setelah latihan kemarin mereka semua kecuali anggota kelas satu memang berkumpul, sekedar berbincang dan melepas rindu. Kris juga bicara banyak padanya, memberikan beberapa nasihat dan hal-hal apa yang harus dia lakukan, meski baru pertama kali bertemu, tapi pria pirang itu sudah seperti sosok kakak yang perhatian, pantas saja dia menjadi kapten dan disayangi oleh anggotanya. Ada satu hal juga yang menarik perhatian Kyungsoo, itu tentang Kris dan Luhan. Keduanya memang terlihat sangat dekat, membuatnya berfikir apakah Kris memiliki hubungan dengan sepupunya itu. Tapi jikapun iya, Luhan pastilah akan bercerita padanya. Ah, tapi entahlah.

Saat keduanya sudah berada di luar sekolah, mereka berpapasan dengan Sehun yang akan kembali memasuki sekolah.

"Sehun?" Luhan menyapa, membuat pria pucat yang tadinya focus berjalan dengan kepala menunduk tanpa melihat sekitar itu mendongak, senyum kecil lantas hadir di bibirnya.

"Luhan noona? Kyungsoo noona? Sedang apa?" Pria itu berjalan mendekat kearah dua wanita tersebut.

"Kau, apa yang kau lakukan? Kau akan kembali ke sekolah?"

"Ya, aku meninggalkan ponselku dimeja." Jawab Sehun, bersamaan dengan itu seseorang dengan motor besar menepi didekat ketiganya dan membuka helmnya.

"Kris?" Luhan berseru dengan antusias sementara pria itu hanya tertawa, merapikan tatanan ramput pirangnya yang berantakan.

"Aku datang tepat waktu ya?" Si pirang lalu menyapa Kyungsoo dan Sehun.

"Kenapa kau kemari Kris?"

"Kau tidak lupa kan Lu?" Kris memutar bola matanya malas. "Kau kan sudah berjanji akan mengantarku jalan-jalan ke kota."

Luhan menepuk jidatnya kemudian tertawa. "Ah iya, aku lupa. Maafkan aku haha." Gadis itu kemudian menatap Kyungsoo dan Sehun bergantian.

"Kyungsoo," Luhan menatap sepupunya dengan rasa bersalah. "Aku lupa mengatakan jika aku memiliki janji dengan Kris hari ini, kau tidak apa-apakan pulang tanpaku?"

"Aku yang akan mengantar Kyungsoo noona." Sehun memotong dengan cepat, kemudian menatap Kyungsoo.

"Noona tunggu disini, aku akan kembali setelah mengambil ponselku." Setelahnya tanpa mengatakan apapun lagi, lelaki itu segera berbalik kembali ke dalam sekolah, meninggalkan Kyungsoo dan Luhan yang sudah naik ke atas motor Kris dan melaju pergi. Entahlah, rasanya dia tidak ingin berlama-lama lagi diantara Luhan dan Kris. Tidak, dia tidak ingin mengakuinya, namun dia merasa cemburu.

Ada apa dengannya?

Tidak sampai lima menit lelaki itu kembali ke depan gerbang dan menemukan Kyungsoo yang masih menunggu.

"Noona maaf, kau menunggu lama?"

"Ah, tidak juga. Kau sudah mengambil ponselmu?"

"Ya."

"Syukurlah. Jadi, kau akan mengantarku menaiki bus atau apa?"

"Aku bawa mobil." Pria itu lalu mengajak Kyungsoo kearah mobilnya berada, itu beberapa meter dari arah gerbang. Setelah Kyungsoo masuk, dia segera menghidupkan mesin mobil dan melaju dijalanan. Sehun hanya diam selama dia menyetir, membuat Kyungsoo diam-diam menatapnya dan mengamatinya.

"Sehun?" Lelaki itu terjingkat kaget sebelum menjawab dengan gugup.

"I–iya noona? Kau membutuhkan sesuatu?"

"Kau baik-baik saja?" Sehun menatapnya dan menemukan managernya itu tengah menatap khawatir padanya, dipaksakannya senyum tipis agar gadis disampingnya itu tidak curiga.

"Ya, aku baik-baik saja."

Kyungsoo mengernyitkan dahi, merasa tidak percaya dengan ucapan Sehun. Namun begitu dia hanya diam, meski sebenarnya dia yakin bahwa Sehun tengah memikirkan sesuatu. Kyungsoo bahkan tahu bagaimana ekspresi lelaki itu saat Kris datang dan membawa Luhan pergi.

.

.

.

Ini malam minggu dan Kyungsoo yang tidak berniat pergi kemanapun memilih menghabiskan waktunya untuk menonton pertandingan Interhigh tahun lalu semalaman. Waktu menunjukkan pukul setengah enam malam saat ponselnya berbunyi, dia bahkan baru mendapatkan beberapa riview pertandingan Kaijou melawan Gakuen.

"Si preman?" Kyungsoo menggumam begitu mengetahui siapa yang menghubunginya. Heh, setan dari mana yang merasuki lelaki itu sehingga menelfonnya?

"Ada apa?"

"Hei kurcaci, dimana kau sekarang?" Dahi Kyungsoo berkedut mendengar pertanyaan tidak sopan yang Kai lontarkan. Sial sekali anak ini. Tidak mengucapkan salam pula.

"Aku dirumah, kenapa?"

"Bagus, cepat berganti pakaian dan turun."

Apa lagi dengan anak ini yang memerintahnya seenak jidat?

"YA! Memang siapa kau berani memerintahku begitu?"

"Ck, cepatlah. Aku menunggu tiga menit dari sekarang!"

"Hei, aku tidak mengerti."

"Dasar pipi babi, lamban sekali. Aku menunggumu dibawah, waktumu tersisa dua menit empat puluh lima detik."

Kyungsoo langsung melompat dari arah ranjang menuju kearah jendela dan mendelik begitu mendapati Kai berdiri di sisi mobilnya di halaman rumah. Apa? Jadi bocah itu serius?

"Waktumu masih dua menit lagi."

"YA! Sialan! Aku butuh waktu lebih banyak lagi."

Oke, dan kenapa Kyungsoo dengan bodohnya mengikuti perkataan lelaki itu? Dengan terburu gadis itu mengganti celana santainya dengan celana jins, memakai sweater, memakai sepatu dan tas. Sial, dia bahkan tidak sempat menggunakan make-up sedikitpun. Hanya mengoleskan sedikit lipbam dan minyak wangi. Preman sialan! Apa sih mau anak itu sebenarnya? Mengganggu malam minggunya saja. Seharusnya jika akan mengajaknya keluar, dia harus mengatakannya satu jam sebelumnya, bukan mendadak dan hanya memberikannya waktu tiga menit. Adik kelas sialan!

Kyungsoo berlari menuruni anak tangga, berteriak pada orang tuanya yang sedang berada diruang santai bersama adiknya.

"AYAH! IBU! Aku pergi dulu ya."

Gadis itu mencapai halaman rumah dimana Kai menunggu di sisi mobilnya sambil bersedekap. Dia terengah dan harus memegang kedua lututnya untuk mengatur nafasnya yang memburu.

"Kau terlambat satu menit lima detik. Ck, dasar kurcaci lelet!"

"YA!" Kyungsoo yang kelelahan hanya bisa berteriak, belum memiliki cukup tenaga untuk mengomeli lelaki didepannya ini. Sementara Kai yang melihat keadaan Kyungsoo diam-diam tersenyum senang karna berhasil mengerjai managernya itu.

"Sebenarnya apa maumu hah?"

"Kemauanku?" Si lelaki mengangkat bahu dengan santai, sesantai gaya pakaiannya malam ini. Dia hanya memakai ripped jeans dan kaos hitam bergambar tengkorak. Tapi kenapa dengan gaya sesantai itu dia terlihat sangat tampan ya? APA? Kyungsoo tolong focus.

"Aku hanya ingin keluar dan kau harus menemaniku." Kai berkata dengan begitu santai, membuat Kyungsoo mendelik dan ingin menendang daerah selatan lelaki itu keras-keras. Gadis itu siap mengomel namun terhenti saat Kai mendekatinya, berdiri dengan menjulang didepannya kemudian mengulurkan tangannya.

Kai merapikan beberapa anak rambut Kyungsoo yang berantakan dan mengusap peluh didahinya efek berlari barusan dengan tangannya.

Deg!

Sial, kenapa jantung Kyungsoo tiba-tiba berdebar begini? Gadis itu mendongak dan matanya mengerjap. Ah, kenapa rasanya dia seperti tengah melakoni adegan romantis di drama ya?

"Apa?" Kai menurunkan tangannya dan menatap Kyungsoo dengan malas. "Jangan salah sangka, aku hanya tidak ingin dibuat malu karna mengajak keluar gadis berkeringat dan berantakan sepertimu."

Baik, mari lupakan pemikiran pertama Kyungsoo karna perkataan jahat lelaki itu sudah menghancurkan fantasynya.

"Cepat masuk! Dasar pipi babi!"

"YA!

.

.

.

Kai sebenarnya tidak tahu dari mana datangnya pemikiran untuk mengajak Kyungsoo keluar seperti ini, dia bahkan tidak punya tujuan akan kemana. Sebenarnya dia memikirkan tentang pesan Jonghyun yang dia hapus di ponsel Kyungsoo seminggu yang lalu, dan tampaknya Kyungsoo juga tidak menyadarinya. Apa Jonghyun melupakannya?

Ah, perasaannya terasa rumit, namun yang jelas saat ini dia ingin Kyungsoo bersamanya, bukan bersama Jonghyun. Dia lalu melirik Kyungsoo yang tengah memandang keluar jendela dengan kesal.

"Hei Kyungsoo,"

"Panggil aku noona! Aku lebih tua darimu tahu." Kai menahan senyum tipis mendengarnya, memanggil Kyungsoo dengan sebutan noona? Membayangkannya saja begitu menggelikan.

"Baiklah kurcaci berpipi babi!"

"YA! KAU!" Gadis itu berteriak kesal, mengalihkan eksistensinya kearah Kai yang memasang wajah malas. Kyungsoo tidak tahu harus mengomel seperti apa lagi pada Kai.

"Tiba-tiba menghubungiku, menyuruhku bersiap dalam waktu tiga menit, aku bahkan tidak sempat memakai make-up dan menyisir ramb–"

"Kau sudah cantik tanpa make-up." Seketika Kai langsung mengatupkan bibirnya erat-erat, tidak menyangka kenapa dia bisa mengatakan hal ini kepada Kyungsoo. Sial, si kurcaci ini pasti akan besar kepala.

"Kau mengatakan apa tadi?"

"Apa? Aku tidak mengatakan apapun." Kyungsoo menatap lelaki disebelahnya dan merengut, dia dengan jelas mendengar bahwa lelaki itu mengatakan cantik kepadanya. Kenapa harus berbohong sekarang? Mobil kemudian menepi disalah satu café terkenal.

"Kenapa kita kesini?" Kyungsoo bertanya begitu mobil berhasil parkir dan Kai mematikan mesin. Lelaki itu menatap gadis disebelahnya dan mendengus.

"Kenapa? Tentu saja untuk makan, aku tidak ingin dituntut karna membawamu pulang dengan keadaan pipi yang tirus."

Sekali lagi Kyungsoo berteriak dengan kesal, sudah lelah rasanya berdebat dengan lelaki ini. Jadi dia memilih keluar dari mobil dan mengikuti Kai masuk kedalam café yang lumayan ramai. Hell, ini malam minggu dan ada banyak pasangan kekasih disini. Gadis itu lalu mengikuti Kai duduk di salah satu kursi yang kosong.

"Kau mau pesan apa?"

"Apa saja." Jawab Kyungsoo asal, dia membawa pandang kearah lain, kemana saja asal jangan kearah Kai. Dia masih kesal.

"Oke." Jawab Kai dan memesan beberapa makanan, lelaki itu melirik Kyungsoo dan kembali tersenyum tipis, membawa pandangannya focus pada gadis tersebut. Kyungsoo yang merasa di perhatikanpun balas menatap lelaki didepannya.

"Apa?" Sahutnya jutek dan itu membuat Kai tidak bisa menahan kekehannya, melihat managernya yang kesal adalah kesukaannya. Karna gadis itu akan terus mengerucutkan bibirnya, itu sangat lucu. Eh?

"Berhenti memasang wajah seperti itu, kekanakan!"

"Ini semua karnamu tau!" Yang disalahkan mengangkat bahu tidak peduli dan Kyungsoo hanya mendengus. Makanan yang dipesan Kai datang tak lama kemudian. Dua paket ayam goreng, kentang, burger dan frapuccino.

"Kenapa kau memesan banyak sekali?"

"Makanmu kan banyak, seperti babi. Lihat saja pipimu yang bulat itu." Kyungsoo yang kesal karna ejekan itu langsung memukul lengan Kai, mengomelinya dengan marah. Lama-lama jika begini dia bisa terkena serangan darah tinggi.

"Berhenti mengomel, cepat habiskan makananmu." Kyungsoo berhenti memukul lelaki itu, lebih memilih menghabiskan makanannya dengan sisa kekesalannya.

"Aku kehabisan saus." Kyungsoo berkata saat dia sudah menghabiskan setengah burgernya. Kai yang mendengar itu menatapnya.

"Lalu?"

"Ck, cepat ambilkan untukku." Kai memutar matanya, tidak pernah selama hidupnya ada orang yang berani memberi perintah padanya. Namun akhirnya dia bangkit menuruti permintaan Kyungsoo untuk mengambil saus. Saat Kai berdiri dan beranjak, diam-diam gadis itu tersenyum. Dia memang kehabisan saus saat akan memakan burgernya. Sembari menunggu, gadis itu memilih meminum frapuccinonya, mengamati keadaan sekeliling sampai matanya tertuju pada seseorang.

"Sehun?" Kyungsoo memastikan bahawa lelaki yang baru datang memakai jaket denim itu memanglah Sehun, tapi wanita yang bersamanya seketika mengalihkan perhatiannya. Gadis itu, Kyungsoo seperti pernah bertemu dengannya.

"Alexa?"

Sehun dan Alexa berjalan masuk dan kebetulan bertemu pandang dengannya. Gadis bersama Sehun itu memang Alexa, gadis yang sama yang dia temui di apertement Kai. Kenapa dia bisa bersama Sehun? Apa mereka punya hubungan?

"Kyungsoo noona?" Kyungsoo melambai kearahnya, membuat Sehun dan Alexa berjalan kearahnya.

"Hai Sehun.. Hai Alexa?"

Lelaki itu menatap Kyungsoo dan gadis disebelahnya bergantian.

"Kalian saling mengenal?"

"Ya, aku bertemu dengannya saat mengunjungi apertement Kai. Iya kan Kyungsoo?" Kyungsoo mengangguk membenarkan. Gadis bermata bulat itu berfikir sejenak. Alexa tempo lalu datang ke apertement Kai, mengira jika dia adalah kekasih lelaki itu. Namun sekarang dia datang bersama Sehun, mereka pasti punya hubungan. Ah tidak, mereka bertiga –Kai, Sehun dan Alexa, namun Kyungsoo belum mengetahui hubungan apa diantara ketiganya.

"Kalian datang kesini juga?"

"Kami ingin makan disini." Jawab Sehun sebelum melanjutkan. "Kyungsoo noona bersama siapa?"

"Aku?" Gadis itu menatap sekitar dan menemukan sosok Kai yang berjalan kearahnya.

"Aku bersama Kai." Tunjuknya kepada seorang lelaki yang berjalan kearahnya dengan sebotol saus. Kai yang sudah mendapatkan apa yang dia inginkan kembali ke mejanya, sangat terkejut menemukan Sehun dan Alexa ada disana.

"Kai?" Itu suara lirih Alexa sementara Kai dan Sehun saling memandang penuh arti. Ada kerutan tidak suka yang ada di dahi Kai saat dia menemukan Kyungsoo tidak sendiri, seketika moodnya menjadi hilang melihat Sehun dan Alexa disini.

"Kalian," Bisiknya dengan tidak suka. "Kenapa kalian ada disini?"

"Mereka akan makan disini, jadi tidak sengaja bertemu. Bagaimana jika kita makan bersama-sama?"

Kai menatap Kyungsoo cepat, meletakkan botol sausnya dengan kasar keatas meja sebelum melirik Sehun dan Alexa dengan tajam.

"Tidak!" Jawabnya. "Ayo pergi." Kemudian menarik Kyungsoo pergi dari sana, mengabaikan penolakan ataupun omelan gadis itu, meninggalkan kesedihan diwajah Alexa.

"Kai! Kau ini apa-apan sih? Aku kan belum selesai makan, ish kau ini!" Kyungsoo mencoba melepaskan genggaman Kai yang begitu kuat ditangannya, seolah ada kemarahan tersimpan disana. Kyungsoo tentu heran, tidak tahu apa yang terjadi pada Kai. Dia tidak bisa memahami apa yang terjadi, terutama tidak peka terhadap sikap Kai yang tiba-tiba berubah saat melihat Sehun dan Alexa ada disana. Apa Kai merasa cemburu karna Alexa bersama Sehun?

"Aw!" Kyungsoo meringis sebal saat Kai memaksanya masuk kedalam mobil begitu saja, lelaki ini kasar sekali sih.

"Dasar kurang ajar! Tidak bisakah kau bersikap lembut sedikit? Lagipula kau ini kenapa sih tiba-tiba mengajak pergi? Padahal kita bisa makan bersama-sama Sehun dan Alexa."

"Diamlah!" Kai tanpa sadar memberikan gertakan, membuat Kyungsoo langsung diam dan memilih memalingkan wajahnya kearah jendela dengan kesal. Mesin mobil hidup dan kendaraan roda empat itu segara melaju meninggalkan café.

Kai mengemudi tanpa arah, mencegkram roda kemudi denga keras, melampiaskan kekesalannya disana. Tentu saja, menemukan dua orang itu disekitarnya apalagi merusak waktunya adalah hal yang paling dia benci. Sehingga tanpa persetujuan Kyugsoo dia langsung menarik gadis itu pergi dari sana.

Kai membutuhkan setidaknya lima belas menit untuk menenangkan diri, mengendalikan emosinya yang sempat meluap. Mata birunya kemudian menatap Kyungsoo yang berpaling kearah jendela dalam diam. Yah, dia memang bersalah karna bersikap kasar pada gadis itu dan tanpa sadar menggertaknya dengan keras. Lelaki itu menghela nafas, memilih sebuah jalanan yang sepi untuk menghentikan mobilnya, dan nampaknya Kyungsoo bereaksi karna dia menggerakkan kepalanya.

"Apa? Sekarang kau memintaku turun disini?" Oke, Kai pantas mendapatkan kemarahan Kyungsoo.

"Tidak, aku hanya… hanya, jangan ambil hati apa yang kulakukan tadi."

"Bagaimana tidak akan kuambil hati? Kau berlaku kasar padaku, bahkan membentakku!" Jawab Kyungsoo mengebu. Lelaki ini, dia ahu dia bersalah, apa susahnya sih meminta maaf? Egonya memang selangit!

"Yayaya, aku tahu aku memang bersalah."

"Jika tahu bersalah kenapa tidak meminta maaf?" Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, menatap Kyungsoo yang mendelik kearahnya dengan dengusan.

"Oke, baiklah maafkan aku." Ah, mungkin ini pertama kalinya bagi seorang Kai meminta maaf karna biasanya dia tidak pernah melakukan itu pada siapapun. Ingat, egonya sangat tinggi! Kyungsoo memberikan sedikit lirikan, tentu saja terkejut karna lelaki ini mau meminta maaf.

"Oke, sebagai permintaan maaf, kau ingin makan apa? Aku akan membayarnya untukmu."

"Kau janji?"

"Ya."

"Oke." Jawab Kyungsoo dan berfikir sejenak, tiba-tiba dia jadi ingin makan sushi.

"Aku ingin makanan Jepang, bawa aku ke Aori Ramen."

Aori Ramen? Itu adalah satu-satunya restoran Jepang disini, tempat yang dijanjikan Jonghyun untuk bertemu Kyungsoo.

"Tidak bisakah tempat lain?"

"Kenapa? Kau tidak mau?"

"Bukan begitu,"

"Lalu? Apa lagi? Jika tidak kesana, maka aku tidak akan memaafkanmu." Kai melirik jam tangannya, ini hampir jam tuju malam dan dia menghawatirkan jika mereka bertemu Jonghyun.

"Kau sungguh ingin ke Aori Ramen?"

"Ya, tentu saja."

Kai menghela nafas, tidak memiliki pilihan. Lelaki itu lalu menghidupkan mesin mobil, melaju ke jalanan menuju restoran Jepang sesuai keinginan Kyungsoo. Mereka hanya butuh waktu sepuluh menit sebelum sampai. Kyungsoo yang bersemangat segera turun diikuti Kai setelah memarkirkan mobilnya.

Keadaan restoran dimalam minggu cukup ramai, belum juga ini adalah restoran baru, pasti ada banyak orang yang ingin mencicipi menu disini. Kai mengikuti Kyungsoo yang mengambil duduk di salah satu meja, menatap sekitar dengan cemas apabila mereka bertemu Jonghyun disini. Ah tapi, jikapun lelaki itu nanti datang, apa pedulinya? Jika dia tidak suka Jonghyun bersama Kyungsoo, maka tidak.

"Pesanlah apa yang ingin kau makan."

"Aku memang akan memesan semuanya." Jawab Kyungsoo ketus dan mulai menyebut pesanannya pada pelayan restoran yang menghampirinya. Kai tidak pernah merasa keberatan untuk itu, tapi dia sengaja menggoda gadis itu.

"Dasar kurcaci rakus!"

Kyungsoo yang tidak peduli hanya menjulurkan lidah, lebih memilih menatap pemandangan sekitar sambil menunggu pesanannya datang. Dua puluh menit kemudian, makanannya datang dan gadis itu dengan semangat mulai memainkan sumpitnya.

"Kau tidak makan?" Kyungsoo bertanya saat melihat Kai hanya menyentuh minumannya, lelaki tan itu menggeleng. Mata birunya menatap Kyungsoo dengan mencemooh.

"Melihatmu makan saja sudah membuatku kenyang!"

"Terserah!" Jawab Kyungsoo dengan cuek, kembali melanjutkan makannya dengan tenang. Mata biru Kai tak lepas dari gadis didepannya yang makan dengan lucu, namun sesekali lelaki itu melirik ke arah pintu masuk. Ini sudah pukul setengah delapan, lewat tiga puluh menit dari waktu yang Jonghyun katakan. Baguslah jika lelaki itu tidak datang.

"Makanlah dengan pelan-pelan, aku tidak akan merebut makananmu kok kurcaci!" Tepat saat mata biru Kai focus pada Kyungsoo, saat itulah seseorang yang tidak ingin Kai lihat muncul, masuk kedalam restoran dengan sedikit terburu, matanya meneliti sekitar dengan ponsel ditelinga mencoba menghubungi seseorang.

"Kyungsoo?" Lelaki itu menatap dengan tidak yakin kearah salah satu kursi, sangsi apakah sosok itu adalah orang yang akan dia temui. Namun setelah fokus, dia merasa yakin jika itu Kyungsoo. Tapi.. dia bersama siapa?

"KYUNGSOO!"


.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

Haiii...

Fanfict ini sudah berapa lama tidak lanjut? Semoga masih ingat dengan jalan ceritanya ya~

Laxy udah up empat hari berturut-turut untuk merayakan Kyungsoo, KaiSoo and Kai Day^^

Semoga usaha meluangkan waktu di sela-sela real life ini nggak sia-sia ya, ngga minta apa-apa ko, cukup apresiasinya aja. Fanfict lain akan menyusul setelah ini, tapi tidak dalam waktu cepat. Entahlah.

Terimakasih.

Selamat malam.