Chapter 11: Again
Sebulan telah berlalu. Tidak sekalipun mereka berdua bertemu; Hijikata sibuk dengan pekerjaannya, sementara Gintoki sibuk dengan 'ulah'nya yang berkedok 'pekerjaan' itu.
Jujur saja, kegaduhan—pekerjaan— yang dilakukan Yorozuya adalah salah satu yang membuat Hijikata sibuk. Sekalipun pada pacar, si sialan Yorozuya itu sama sekali tidak memberitahu Hijikata tentang Kiheitai maupun kelompok Katsura.
Akhir-akhir ini Katsura sering terlihat di sekitar warung ramen langanan Gintoki. Hijikata tidak mau menduga—Karena kesalah pahaman tempo lalu—, tapi mau bagaimanapun Gintoki itu mencurigakan. Kalau bukan karena tingkah anehnya, sudah sejak dulu Shinsengumi menggerebek lantai atas salah satu penguasa distrik Kabuki.
"Jika menjadi pacarnya saja tidak cukup untuk mendapatkan secuil informasi darinya..."
Yamazaki yang berada di ruangan tersebut diabaikannya. Atasannya itu sibuk berpikir sambil komat-kamit di depan laporan yang baru saja diserahkannya. Sebagai bawahan langsung, dia yang paling mengerti kalau tidak boleh menganggu wakil komandan saat dia asyik berpikir.
"Mmm...dia melamarku. Jika aku menerimanya dan menikah dengannya, apa dia akan mengajakku ikut dalam 'pekerjaan'nya?"
Inspektur culun bisa saja membiarkan atasannya itu tenggelam di pikiran anehnya. Sayangnya, meskipun tidak kelihatan demikian, si inspektur itu sibuk dan harus segera kembali ke posnya. Posnya adalah rumah khusus yang dipakai untuk pengintaian kali ini, dan dia harus kembali kesana!
Tidak sekalipun Shinsengumi berhasil menjebloskan Katsura Kotaro ke penjara. Mungkin lelaki berambut panjang itu adalah satu-satunya teroris konyol di dunia ini, tapi julukan yang melekat padanya bukan pajangan. Katsura si ahli melarikan diri, bahkan kapten Okita dengan bazokanya saja tidak bisa membuatnya berhenti berlari.
"Err..Wakil komandan, memang sih kalau kau menikah dengan Danna kau akan mendapatkan banyak informasi. Tapi seharusnya bukan begitu bu..kan..?," Yamazaki berhenti. Menyipitkan matanya lalu menghela nafas lelah, percuma saja dia tidak akan didengar.
Hijikata memegangi kepalanya seolah dia pusing. Bukan pusing karena laporan yang di pegangnya itu, melainkan apa yang baru saja dia pikirkan—ucapkan juga!—. "Kalau seperti itu. aku seperti menipunya bukan?," katanya
"Wakil komandan!..." sudah tidak tahan lagi, Yamazaki berusaha menarik atasannya kembali kedunia nyata "Wakil komandan!"
Hijikata menoleh memberi pria culun itu tatapan tajam "Apa?," tanyanya "Kenapa kau masih disini?"
"Dasar. Apa yang dikatakan komandan dan kapten Okita benar," daripada menjawab, Yamazaki malah mengoceh "Jika kau segitu inginnya bertemu dengan Danna kenapa tidak kau mengambilkan seragam komandan yang tertinggal di rumah nona Shimura. Mungkin kau akan bertemu dengannya"
*BUK!
Tinjuan melayang pada wajah si insepktur malang. Wajah Hijikata memerah dengan segala macam bentuk siku-siku menghiasinya "Apa kau sudah selesai huh?," geramnya. Semua yang dikatakan Yamazaki itu benar, dia ingin bertemu dengan laki-laki itu dan tanpa sengaja memikirkannya, parahnya di tengah pekerjaan.
Tapi kali ini, jika Hijikata dibiarkan mungkin alasan dia menyetujui lamaran Gintoki akan berubah. Atau mungkin dari awal dia berniat memanfaatkan hubungan mereka?.
"Seragam Kondo-san itu seharusnya bukan urusanku— Tunggu!?..Seragam?"
Sambil memegangi matanya yang lebam, Yamazaki mengangguk pelan "Entah apa yang dilakukan Komandan. Tapi kemarin dia pulang dengan keadaan telanjang dengan luka pukulan dimana-mana, sebenarnya permainan macam apa yang mereka lakukan?" terangnya.
Hijikata menyalakan rokoknya yang baru "Mungkin dia membuat Shimura marah lagi. Dengan...muncul seenaknya dari bawah kolong?," ujarnya tak yakin lalu mamasukan batangan putih tersebut dalam mulutnya "Apalagi kerjaan segitu saja bisa diserahkan pada yang lain bukan?"
"Kenapa tidak? Hari ini laporanku sudah selesai, dan kau memiliki waktu istirahat besok"
"...Tidak bisa...Apa matamu buta? Kau lihat tumpukan yang berada di belakangku?"
"Tapi Hijikata-san...Bukannya kau ingin bertemu dengan Danna?," Yamazaki memelas, seperti memohon. Sebenarnya, sebelum dia datang ke ruangan Hijikata untuk melapor dia bertemu dengan Sougo dan Kondo. Mulanya yang dimintai tolong itu seseorang dari devisi pertama, karena jika komandan sendiri yang kesana dia hanya akan dihajar habis-habisan lagi oleh Tae.
Lalu tiba-tiba saja Sougo memanggilnya dan membicarakan masalah 'Hijikata-san yang kelihatannya kesepian', tentu saja Kondo merasakan hal yang sama— dengan maksud baik tentunya— dan meminta Yamazaki untuk meminta Hijikata pergi ke tempat Tae dengan harapan pasangan tersebut bertemu.
"Baju itu tertinggal di rumah Shimura bukan?"
"Danna sering berkeliaran disana"
Hijikata menghela nafas, kelihatannya bawahannya yang satu itu begitu bersikeras memintanya untuk ke rumah Shimura, dan hal tersebut pasti berhubungan dengan Sougo yang ingin mempermainkannya dan Kondo yang berusaha berbuat baik. "Sayangnya tebakan kalian salah," ujarnya "Aku tidak sedang ingin ketemu si sialan itu"
"Bahkan aku tidak ingin melihat wajah idiotnya itu sekarang"
"Hah!? Kalian masih bertengkar? Ayolah Hijikata-san jika kau seperti itu terus kau tidak akan bisa memanfaatkannya untuk menangkap Katsura!"
"Hei, bagian itu aku tidak serius tahu!," Hijikata berteriak lalu mengebrak meja kayu di sebelahnya. Yamazaki cemberut "Lalu apa?," tanyanya "Jika kau tidak kesana mungkin Okita-san akan mengerjaiku nanti"
"Aku tidak peduli, si brengsek itu juga sering menggangguku."
"Kau benar-benar tidak akan kesana?"
"Tidak"
"Meskipun ini perintah langsung dari komandan?"
"..."
"Hijikata-san!..."
"..."
"Hijikata-san?"
"...Aku mengerti...aku mengerti!"
"Kau akan kesana?"
"Hanya jika kau memberikanku satu lagi alasan"
"Alasan?"
"Ya. Kau pikir aku tidak bisa menyuruh orang lain? Aku wakil komandan tahu!, aku bisa menyuruh siapa saja diatas namaku"
"Curang sekali"
"..."
"...Sebenarnya di hari yang lalu, Komandan dan Danna bertemu. Kelihatannya Danna ikut campur lagi dengan sesuatu yang tidak seharusnya, dan komandan meminta penjelasan darinya. Cukup susah membujuknya, tapi akhirnya dia mau memberi penjelasan di atas kertas..."
"Penjelasan diatas kertas? Kita akan melaporkan apa yang dia tulis?"
"...Komandan akan membenahinya. Jadi bisa sekalian kau ambil dokumen itu Hijikata-san?"
"Kau menambahi tugasku!?"
"Kau sendiri yang minta!"
"...Baiklah"
Sementara Hijikata menekankan rokoknya ke asbak, si Yamazaki itu undur diri dengan senyuman menyebalkan di wajah tololnya. Tentu saja, bawahan seperti dirinya menang dalam perdebatannya dengan Wakil komandan.
Sougo berada di ujung koridor, berdiri di depan dua mesin minuman yang berjejer. Selesai memasukan koin dan mengambil kalengnya, dia melihat si inspektur berjalan ringan seolah terbang. Tanpa menyapa, langsung saja si remaja itu bertanya "Apa Hijikata-san akan keluar besok?"
"Iya," jawab Yamazaki. "Daripada itu sebenarnya aku lebih penasaran dengan laporan yang dibuat Danna, apa itu sungguhan?" tanyanya
'Laporan Yorozuya' sebenarnya adalah senjata terakhir untuk mendorong Hijikata menemui Gintoki. Hal tersebut tidak pernah direncanakan, karena Kondo sendiri yang memohon ke pemilik Yorozuya demi kelancaran investigasi Shinsengumi. Tapi setelah berada di tangan Sougo, hal tersebut malah menjadi alatnya untuk me-mak comblangkan pasangan bodoh itu.
"Tapi kalau sampai kau memberitahunya tentang hal itu, apakah dia menolak untuk mengambil seragam Kondo-san?"
"Maa...Dia bilang kalau dia tidak mau bertemu dengan Danna untuk saat ini"
OXO
Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya...
Hijikata masih berada di ruangannya, menumpuk setiap lembaran yang telah di tandainya. Apa yang harus dia lakukan besok? Bagaimana dia harus menghadapi si kepala perak itu?, dia sedang tidak ingin bertemu dengan pacarnya yang lepas kendali tempo hari.
Senang saja sih, kalau ternyata pacarnya itu menginginkannya. Tapi rasanya begitu malu, dia tidak akan bisa melihat Gintoki tepat di mata. Jika dia gugup dan canggung, pacarnya yang sialan itu hanya akan mengodanya nanti.
Merebahkan dirinya, Hijikata melihat langit-langit. Sudah berapa kali dan tahun dia melihat langit-langit kayu di atas sana?. Di saat yang lain dia bertanya; Sudah berapa lama dia menjalin hubungan dengan Gintoki, sudah berapa kali lengan yang kukuh itu mendekapnya?, sudah berapa kali tangan besar itu menyentuhnya?.
Kalau diingat lagi...Itu semua memalukan.
*Duk...
"Wah!"
Kakinya yang dia luruskan sebelumnya, dia tekuk. Dia lupa jika kakinya sedang berada di bawah meja, dan akhirnya dengkulnya terbentur. Tidak sakit hanya saja cukup membuatnya terkejut dan cukup menghentikan lamunannya.
Merasa lelah, dia bangkit berdiri memutuskan untuk berangkat mandi. Seharusnya jam segitu air pemandian masih ada, namun ketika lelaki itu berada disana, dia menemukan kalau air pemandian memang masih panas dan entah kenapa berkurang banyak sekali.
Tidak mengeluh, Hijikata mulai membersihkan dirinya. Tangannya meraba tubuhnya, memunculkan ingatan tentang Gintoki menyentuhnya. Wajahnya memanas, dan tanpa sadar tangannya bergerak berlahan ke dadanya. Ingatan tersebut seolah sedang menyentuhnya lagi, dia ingat betul bagian mana saja yang di sentuh.
Tidak ada orang bukan berarti bisa melakukan hal 'aneh' seperti itu dimarkas!. Seember air dia siram ke atas kepalanya lalu mengusap mukanya untuk menyingkirkan air.
Saat dia beranjak ingin merendam tubuh, hampir saja dia terpeleset.
Sougo sedang berendam. Setengah tubuh bagian atasnya terlihat jelas karena air yang sedikit. Dengan senyum evil dia bertanya "Sedang berpikir mesum Hijikata-san?"
Memasukan salah satu kakinya, Hijikata hanya mengeleng sebagai jawaban. Melihat si wakil komandan yang tiba-tiba saja menjadi pendiam begitu, malah membuat jiwa sadis Sougo membara. Ingin sekali anak itu mengerjai lelaki berambut hitam tersebut, sampai wajah yang selalu terlihat jutek itu menjadi merah padam.
"Hoam..."
Tapi lupakan saja untuk hari ini. Okita Sougo begitu lelah, besok dia harus bertemu dengan wanita pemilik warung ramen yang di curigai berhubungan dengan Katsura.
"Apa Danna menyerangmu?," tanyanya langsung ke inti. Sebenarnya pertanyaan tersebut hanya pertanyaan acak, dan tidak berarti apapun selain tebakan. Namun melihat wajah Hijikata yang semakin memerah dan yang pastinya bukan karena berendam, Sougo semakin yakin kalau alasan 'tidak sedang ingin bertemu si bodoh itu' adalah apa yang baru saja dia tanyakan.
"Kau pikir berapa umurmu? Jangan bertingkah seperti Virgin Hijikata-san"
Setelah mengatakan— entah berniat mengolok atau bukan— remaja berambut coklat itu mentas dan menghilang dari balik pintu geser dengan handuk putih di pinggangnya.
Aku tidak hanya sedang bertingkah! Aku memang masih...Sial!
Hijikata masih bisa melihat bayangan anak itu memakain bajunya. Mungkin setelah anak itu pergi, dia juga akan mentas.
Pokoknya...Bagaimana aku harus menemuinya besok?
OXO
Pukul 08:30
Seharusnya bukan waktu yang terlalu pagi untuk berkunjung ke rumah seseorang, apalagi untuk datang ke sebuah toko. Tapi untuk Yorozuya, butuh waktu lama untuk sang pemilik atau anak buahnya untuk membuka pintu.
Hijikata menekan bel sekali lagi, tidak seperti biasanya dia tidak marah. Bahkan dalam hatinya dia tidak ingin kalau si penghuni rumah membuka pintu kayu di depannya ini.
"Iya, iya tunggu sebentar!"
Akhirnya terdengar suara familiar dari balik pintu ini. Suara yang sudah lama tidak di dengar Hijikata, suara yang...ingin di dengarnya tapi juga tidak ingin.
Di sisi lain, Gintoki yang melihat bayangan lelaki tersebut tersenyum girang, seraya bergegas menuju pintu. Pintu geser terbuka dan mereka saling berhadapan. Hijikata yang belum menyadari jika pintu telah terbuka nampak kikuk, membuat Gintoki tersenyum dan berpikir jika dia manis sekali.
"Ada yang bisa kubantu?," tanya Gintoki mempersilahkan pacarnya untuk masuk. Nampak Hijikata ragu-ragu, dia mengelengkan kepala untuk menolak masuk "Aku datang untuk laporan yang kau janjikan, dan seragam Kondo-san," jawabnya
Jawaban tersebut membuat Gintoki mengembungkan kedua pipinya "Apa?! Kau datang untuk sebuah kertas, terlebih lagi seragam si gorila, bukan untukku?," omelnya lalu masuk kedalam. Tangannya mengambil tangan Hijikata. Mengandeng lelaki tersebut untuk masuk dan menunggu di ruang tengah.
Hijikata masih berdiri di ambang pintu. Pemandangan rumah yang dilihatnya itu membuatnya sedikit segan, keluarga Yorozuya baru saja ingin memulai sarapan, yang disiapkan oleh adik dari Shimura Tae.
Aku datang jam segini untuk menghindari hal ini tahu. Kenapa kalian baru mulai sarapan!?
"Oh Hijikata-san," sapa Shinpachi yang sibuk menata sarapan diatas meja "Apa kau mau bergabung bersama kami?," tawarnya dengan senyuman ramah.
Shinpachi sudah dengan pakaian rapi dan wajah segar. Di sisi lain, gadis di rumah ini masih duduk malas. Masih dengan piyama dan rambut berantakan, Kagura menguap tak melakukan apapun untuk membantu Shinpachi.
Melihatnya Hijikata hanya menghela nafas, lalu menolak tawaran remaja tersebut.
Tidak lama kemudian, Gintoki masuk ruang tengah. Pemuda berambut perak yang sebelumnya masih memakai piyama dan bertampang kusut seperti gadis China disana, sekarang sudah rapi dengan pakaian kesehariannya. Hal tersebut membuat Hijikata keheranan. Tak mengatakan apapun yang berhubungan dengan itu, dia hanya meminta kembali keperluannya "Jadi...dimana kertas yang kuminta,?" tanyanya
Sama sekali tak mengindahkan. Gintoki melambaikan tangannya, meminta Hijikata untuk duduk bersamanya "Sudahlah, yang penting bergabunglah bersama kami dulu," ajaknya membuat si wakil komandan mengeryitkan dahinya.
"Sudah kubilang aku datang untuk—"
"Seragam Kondo-san masih berada di rumahku" sela Shinpachi.
Tidak bisa mengatakan apapun lagi, Hijikata hanya mengangguk lalu bergumam "Oh...". Tentu saja dia masih banyak waktu sebelum aktivitasnya. Tapi melihat wajah Gintoki saat ini...hanya dengan melihatnya rasanya begitu malu. Benar saja, untuk saat ini dia ingin menjauh dari lelaki berambut perak tersebut.
"Maka karna itu Hijikata-san bergabunglah bersama kami. Gin-san akan mengantarkanmu," Shinpachi sudah mengisi sebuah mangkok untuknya "Meskipun Aneue masih ada di rumah, tapi bukannya sudah lama kalian tidak bertemu?"
Dia berbicara seperti dia adalah ibu di rumah ini— Hijikata hampir saja tertawa karena apa yang telah dipikirkannya. Mau bagaimana lagi, remaja yang seumuran dengan Sougo di tempatnya, berlaku sangat dewasa sekali. Seandainya saja ada orang seperti itu di markasnya.
Mau bagaimana lagi?, Hijikata berterima kasih dan bergabung.
Selama sarapan berlangsung, tak ada dari mereka yang berbicara. Kagura masih setengah tidur, Shinpachi selalu menjaga etikanya, dan Gintoki diam hanya karena tak ada topik.
Namun yang menjadi pokok pikiran si pemilik Yorozuya adalah Hijikata yang sepertinya ingin menghindarinya. Bukannya masalah sudah selesai? Apalagi— Oh, benar kejadian kemarin.
Maa... itu juga salahnya karena terbawa suasana, dia harus belajar lebih sabar lagi rupanya.
Gintoki tersenyum tipis di balik mangkoknya. Tidak ada yang menyadarinya.
Hampir bersamaan mereka menyelesaikan makanan mereka. Shinpachi segera memerintah Kagura untuk membersihkan dirinya, sementara pasangan bermasalah segera beranjak dari rumah.
Gintoki dan Hijikata berjalan berdampingan. Anehnya meskipun tahu jika lelaki berambut hitam tersebut menghindarinya, Gintoki masih dengan mood baiknya. Wajah Hijikata memerah, bersamaan dengan dia merasakan sebuah tangan besar menangkap tangan kanannya.
Gintoki mengandengnya, memberikan senyuman bodoh padanya. Sebelum dia bisa mengomel, si kepala perak menariknya. Membuat mereka berdua menjauh dari jalan besar.
Ini jelas jalan yang berlawan dengan jalan ke rumah Shimura. Gintoki tetap menggelendengnya sampai ke sebuah rumah familiar. Mereka mendongak melihat atapnya. Hijikata sama sekali tidak mengingatnya sebelum Gintoki memberitahunya jika disanalah pertama kalinya mereka saling melukai.
Yang satunya terluka karena harga diri, yang satunya terluka karena tebasan.
Mungkin bagi Hijikata tempat tersebut tidak ada apa-apanya, karena memang yang memiliki perasaan pertama adalah Gintoki.
"Di atap itulah semuanya di mulai," Gintoki memberitahu seraya tersenyum pada pacarnya. Itu senyuman terlembut yang pernah dilihat Hijikata, malah membuat kerisauannya semakin bertambah "Mungkin kita harus berterima kasih pada gorilla itu," lanjut Gintoki.
Bahkan hari ini dia belum menghisap rokoknya. Selama dia bersama Gintoki dia tidak akan membutuhkan segalanya, maka karna itu sekali lagi dia mengingatkan "Kau masih berhutang laporan bukan?," entah siapa yang harus di beritahu; dirinya atau Gintoki.
"Nah..." Gintoki mengabaikannya "Komandan juga memintamu untuk mengambilkan seragamnya bukan?," senyuman lembut tadi lenyap entah kemana. Dan digantikan seringaian.
Sekali lagi mata mereka bertemu, segera Hijikata mengalihkannya "Ya...memang, maka karna itu cepat kita mengambilnya!"
Menaikan kedua pundaknya, Gintoki menjawab "Aku tidak membawa laporanku" santai sekali, dia mulai menarik Hijikata ke tempat lainnya "Jika kau menemaniku. Aku akan segera memberikannya padamu,"lanjutnya.
Dia tidak mengancam, namun juga tidak meminta. Dia hanya yakin jika Hijikata akan mengikutinya.
"Apa kau benar-benar sudah membuatnya?"
Memang aneh, si wakil komandan sama sekali tidak menolak, dia mengikuti pacarnya yang egois itu kemanapun.
Gintoki membawa Hijikata dekat sungai. Dimana rumput-rumput hijau tumbuh panjang, dan bunga-bunga putih bertebaran di sana-sini. Dia menarik lelaki berambut hitam yang sedari tadi terlihat gugup, jarang sekali melihat pacarnya yang selalu melawannya dan mengajak berdebat setiap saat, menjadi begitu anteng begini.
Pacarnya duduk di sebelahnya, mereka berdua merasa nyaman dengan dengan alas rumput yang hijau ini. "Anu..." Hijikata membuyarkan kesunyian "Kau akan memberikanku bukan? Seragam dan laporanmu?," tanyanya tak tahan bersama Gintoki lebih lama lagi. Dia yakin wajahnya memerah setiap saat, seperti orang demam saja.
"..."
Tidak menjawab, Gintoki malah menarik Hijikata, dan meletakkan kepala pacarnya itu ke pangkuannya.
Gintoki tersenyum jahil, melihat kedua bola mata biru yang membesar karena perbuatannya yang tiba-tiba. Semenit kemudian wajah lelaki di pangkuannya bertambah memerah, ketika di sentuhnya kulit itu terasa panas "Manis sekali," ujarnya dimaksdkan untuk pujian.
"A..Apa sih!?," Hijikata memberontak tapi Gintoki sama sekali tidak menghentikannya dan hanya tersenyum. Baiklah, bahkan wakil komandan yang di juluki seperti iblis ini juga mengerti suasana.
Hijikata tetap berbaring, mengunakan pacarnya sebagai bantal. Cuaca hari ini cerah, bahkan tak ada awan satupun. Angin sepoi-sepoi meniup rambut mereka berdua, begitu juga dengan rumput dan bunga di bawah mereka.
Nyaman sekali. Berlahan mata Hijikata tertutup, kedua kelopak matanya terasa berat sekali. Sedetik kemudian, lelaki berambut hitam itu tertidur. Gintoki yang melihatnya geleng-geleng kepala "Apa tidak apa-apa untuk seseorang sepertimu tidur seenaknya begitu?'
"Maa...Kau mempercayai Gin-san bukan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kata..."
"Hijikata...Oi"
"Oogushi-kun!"
Setelah beberapa kali Gintoki memanggil namanya. Akhirnya Hijikata membuka matanya, masih setengah sadar dia bertanya "Apa?," dengan nada jengkel.
Gintoki membantu Hijikata mendudukan dirinya, lalu mereka berdua saling bertatapan. "Kau melupakan pekerjaanmu?," tanya si bersurai putih sambil memasukan sesuatu pada jari manis pacarnya. Hijikata yang sudah mendengar kata 'pekerjaan' sama sekali tidak merasakan apapun, dia sibuk merutuki diirnya yang ketiduran.
"...Aku membawa laporanku kok," Gintoki mengecup kening pacarnya. Sebelumnya panik karena waktu, sekarang si surai hitam malah panik menyembunyikan wajahnya.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!?"
"...Kalau aku bilang, nanti kau akan langsung pergi. Kau tahu? Ini sudah sebulan, dan aku sangat ingin bertemu denganmu"
Pengakuan yang sangat jujur itu mendapat jitakan yang cukup keras dari Hijikata.
Hijikata menghela nafas panjang, rona merah di wajahnya juga mulai menghilang. "Kenapa setiap kata-kata yang kau ucapkan itu selalu memalukan!," ketusnya lalu melihat arah lain.
"Aduh," keluh Gintoki sambil mengosok ubun-ubunnya "Kau masih belum menjawab pertanyaanku!"
Entah dia bego atau dia lupa, Hijikata sama sekali tidak mengingat inti permasalah cerita ini. Pemuda itu hanya memiringkan kepalanya lalu menatap pacarnya dengan heran "Pertanyaan apa?," tanyanya polos
"Kau lebih nyaman dengan hubungan kita yang sekarang ya?"
Gintoki membisikan sesuatu, seperti sedang mengeluh. Hijikata tidak mendengarnya dan dia sama sekali tidak peduli.
Gintoki mengambil tangan kanan Hijikata, lalu bertanya "Apakah kau menikah denganku?"
Hijikata melihat jari manisnya. Serentetan bunga putih melingkar dengan cantik di jarinya, dan jika di perhatikan baik-baik, bunga yang dirangkai adalah bunga yang tumbuh di sekitar mereka.
Beberapa kali si pemilik mata biru melihat jarinya dan wajah Gintoki secara bergiliran. Lalu dia tertawa "Hahaha...Miskin sekali"
"Hei...Itu sakit sekali tahu!," protes Gintoki. Tapi Hijikata masih saja tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai air matanya keluar.
Hijikata itu bukan tipe yang akan mengejek kesunguhan seseorang, pasti dia tertawa karena alasan lain.
"Hahaha...Benar-benar khasmu," Hijikata berbicara di tengah tawanya "Jika...Kau datang kembali ke Kondo-san seperti yang pertama kalinya, atau memberiku cincin berlian yang terlihat mahal. Mungkin aku akan menolakmu"
"He?..Eh?"
Gintoki mengangguk, tapi sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Hijikata. Tampangnya seperti orang bodoh, yang bisa dilakukannya hanya menunggu pacarnya itu berhenti tertawa.
Hijikata meliriknya lalu menariknya.
Gintoki diciumnya...
"Lebih singkat daripada aku harus mengatakan jawabannya bukan?"
Lelaki berambut hitam itu tersenyum puas, melihat pacarnya yang sering mengerjainya kini telah mematung dengan wajah semerah tomat.
Tapi setelah memikirkan perbuatan dan jawaban yang telah dipilihnya, Hijikata juga ikut memerah.
"Yang penting...Berikan laporanmu!"
Gintoki tak mendengarkan, dia terlalu senang. Jantungnya berdetak kencang dan cepat, seolah akan meledak. Hijikata berdiri lalu mengulurkan tangannya "Jangan melamun!" bentaknya
Gintoki menerima uluran tersebut dan berdiri. Setelah itu dia bertanya "Nah...Hijikata, apa kita akan merayakannya?!," dengan mata berbinar dan ambisius sekali.
"Merayakannya?...Maksudmu..."
"Pesta pernikahan!," sambung Gintoki
Seruan itu membuat Hijikata menjitakan kepala putih itu sekali lagi "Maaf, kau membuatku kesal sih," ujarnya lalu berjalan duluan untuk kembali ke jalan yang benar.
"Hijikata!"
"Iya...iya. kau tidak ingat? Aku datang untuk laporan dan seragam Kondo-san"
"Apa Gorila itu lebih penting dari pernikahan kita!? Oi Hijikata..."
Mengambil sebatang rokok, dia menoleh ke belakang dan menyeringai pada pacarnya yang mengikutinya seperti anjing "Sudah kubilang. Dari Shinsengumi dan kau—"
"Iya..Iya...Aku masih kalah dengan Shinsengumi"
"Kau sudah mengerti"
"Tapi jangan samakan aku dengan steples dan yang lainnya"
"...Aku akan berusaha mengingatnya"
"Wow!... Lalu tentang pernikahan kita?"
"Ya sudahlah. Ini seperti kita akan menguntungkan satu sama lain, kau akan menguras uangku dan sebaiknya si brengsek itu memberiku bocoran tentang Katsura"
"Ha? Apa katamu?"
"Tidak. Tidak ada"
Setelah itu Hijikata mendapatkan semua yang di butuhkannya untuk kembali ke markas. Si wakil komandan disambut meriah oleh seisi markas tentang 'pernikahan' dan semua itu ulah dari Sougo. Pelaku utamanya masihlah Gintoki, karena si natural-perm itu tidak sabar untuk membagi berita bahagia ini, kelihatannya dia segera menelpon Sougo setibanya di rumah.
Kapan mereka menjadi suami-istri sesungguhnya?
Kurasa mereka tak akan pernah demikian, namun mereka adalah Bad-Couple termanis— Tapi kenyataan kalau mereka bersama saling menguntungkan masing-masih pihak, kurasa itu benar.
END
A/N:
Next Chapter : Extra2
