(Istana Raja Hyonjong)
Suasana malam yang sunyi begitu terasa di belakang istana yang berdekatan dengan kamar tamu dan para kepala dayang. Meskipun terlihat seram tapi tidak menyurutkan keberanian seseorang yang nampak berjalan mengendap-endap menuju bagian belakang dari salah satu kamar tamu, sesekali menoleh ke belakang memastikan tidak ada dayang atau penjaga yang melihat kehadirannya di sini. Setelah sampai, ia langsung membuka tudung yang menutupi wajahnya, bernafas lega lalu menatap pria di hadapannya.
"Apa kau tahu sesuatu yang penting? Apa kau sudah ke kamar yang dulu di tempati NamJoon?" tanya si pria-Sehoon begitu terburu-buru. Si gadis tersenyum, memberikan sebuah kertas pada Sehoon. "Igo mwoya?" tanya Sehoon penasaran sambil membuka kertas itu.
"Aku menemukannya saat aku sedang membersihkan bekas kamar NamJoon. Itu sebuah salinan peta menuju sebuah tempat yang sangat aku yakini markas NamJoon, selain itu aku juga pernah menemukan kertas yang sama persis di kamar Kepala Mentri Kim"
Sehoon tersenyum menatapi peta ini. Ia menyelipkan peta tersebut di saku bajunya. Si gadis semakin tersenyum bahagia melihat Sehoon tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Ia berhambur ke pelukan Sehoon, memeluk tubuh tegap dan hangat itu begitu erat.
"Tubuhmu begitu hangat, apa mungkin karena kau manusia serigala?" tanya si gadis sedikit bercanda, tapi Sehoon hanya diam ia membalas pelukan si gadis dengan hati-hati takut membuat tubuh kecil ini remuk karena terlalu kuat ia peluk.
"Kyungsoo-ah"
"Nde?"
"Sekarang, kau bisa bebas dari pekerjaan mata-mata ini. Aku akan membawamu pergi malam ini"
Si gadis yang ternyata Kyungsoo menengadahkan kepalanya, menatap Sehoon dengan pandangan terkejut tapi juga senang. Perlahan ia mengendurkan pelukannya, menatap dengan tatapan bertanya sekali lagi tapi dibalas anggukan oleh Sehoon.
"Aku tidak bisa. Akan terasa mencolok sekali jika aku keluar dari istana pada malam hari, aku tidak mau membuatmu dalam bahaya. Tunggu lah beberapa hari lagi"
"Kyungsoo-ah" Kyungsoo menggeleng, menolak bantahan dari Sehoon lagi. Ia keras kepala dan sulit membuatnya mengingkari keputusan yang sudah ia buat, perlahan ia menggenggam tangan besar Sehoon dengan tangan mungilnya.
"Aku akan baik-baik saja, meskipun aku kecil aku sama sepertimu" ucap Kyungsoo membanggakan dirinya. Sehoon hanya bisa mengangguk menuruti permintaan Kyungsoo yang memaksa untuk tetap di istana sampai ia menemukan waktu yang pas untuk lari. Ia memeluk tubuh mungil tersebut dengan hati-hati, mengecup beberapa kali puncak kepala Kyungsoo sebagai penyemangat dan jimat keberuntungan.
…
…
…
…
…
Suasana istana pemburu bayangan jauh lebih ceria, bahkan beberapa kali dayang harus menahan senyumnya melihat Taehyung kadang tersenyum bahkan tertawa sendiri. Semua itu semenjak SeokJin kembali, Taehyung kembali seperti yang dulu.
Hoseok yang melihatnya juga ikut bahagia, selain karena Taehyung kembali tersenyum Taehyung juga memutuskan kembali melanjutkan pengobatan untuk punggungnya tentu saja Hoseok yang mendengar itu senang bukan main. Saat Hoseok bertanya kenapa tiba-tiba melanjutkan pengobatannya, Taehyung menjawab dengan polosnya, aku tidak ingin melihat SeokJin khawatir.
"Hoseok-ah, aku harus berapa lama berbaring seperti ini?" tanya Taehyung mulai sedikit bosan karena ia sejak tadi hanya berbaring. Kebiasaannya yang dulu suka bergerak dan bekerja membuatnya cepat bosan dengan pengobatan Hoseok ini. Setelah meminum ramuan super pahit itu Hoseok memerintahkannya untuk berbaring sampai jarum pasir di samping tempat tidurnya habis, itu sangat membosankan.
"Sampai jarum pasir itu habis" Hoseok kembali menjawab dengan jawaban yang sama. Taehyung kembali sebal mendengarnya, ia melirik Hoseok yang sedang membaca buku di kusen jendela. Dia seperti orang yang menunggu kekasihnya pulang, dan wajah itu benar-benar menggambarkannya.
"Kapan Jimin eonni kembali?" tanya Taehyung masih melirik Hoseok yang menghentikan aktivitas membacanya. Pria berdimple smile itu menoleh, wajahnya berubah menjadi keruh lalu menggeleng, "Mollaseo" jawabannya selalu sama. Taehyung menghela nafas berat, menatapi jam pasir di sampingnya tidak habis-habis. Ia kembali melirik keluar jendela, sebentar lagi fajar akan terbenam tapi SeokJin belum juga pulang. Kemana dia?
…
…
…
Di sisi hutan yang lain tepatnya di bibir hutan yang begitu terpencil terdapat gua besar yang dijadikan markas pertemuan rahasia para manusia serigala. Sang pemimpin Sehoon nampak bahagia memberikan hasil kerja dari mata-matanya pada SeokJin.
"Mata-mataku tidak pernah mengecewakan, benar?"
SeokJin mengangguk menyetujui ucapan Sehoon. Ia tatap peta tersebut dengan seksama, tempatnya cukup jauh dari Joseon dan sangat terpencil. Dia benar-benar memikirkan segala kemungkinan yang terjadi dengan membangun markas begitu jauh. Dia benar-benar licik.
"Apa lagi yang mata-matamu dapatkan?"
"Dia bilang di kamar itu ada bagian dinding yang rusak karena sabetan pedangmu dan saat mata-mataku melihat di situ rupanya ada ruangan rahasia. Kemungkinan besar ruangan itu dijadikan sebagai tempat penyekapan Jungkook"
SeokJin menggeram kesal. Pasti Jungkook sudah dipindahkan ke markasnya semula dan ini benar-benar sulit. Ia harus memikirkan cara terbaik agar tidak menimbulkan resiko saat ia mencoba menyelamatkan Jungkook. Ia kembali menatap Sehoon yang masih bisa tersenyum.
"Kau harus lebih memerhatikan mata-matamu itu"
"Arrayo, aku akan membawanya keluar secepatnya" ucap Sehoon sedikit tidak terima mendapat nasihat untuk mata-matanya. SeokJin tersenyum kecil sambil melipat kertas tersebut dan menyelipkannya pada saku bajunya.
"Kau tidak kembali sekarang? Taehyung pasti menunggumu"
…
…
…
Dugaan Sehoon benar. Setelah mendapat pengobatan rutin Taehyung langsung berlari ke kamar SeokJin tapi melihat tidak ada orang ia memutuskan untuk menunggu setelah membersihkan kamar dan sedikit menghiasnya agar lebih terang. Tapi setelah ia selesai menghias dan merapihkan kamar, SeokJin belum juga datang. Taehyung menghembuskan nafas bosan, duduk bersandar pada ranjang SeokJin. Menatap pintu kamar berwarna hijau itu dengan sendu dan juga kesal. Kemana SeokJin sebenarnya?
…
Sesampainya di istana, hari sudah malam. Matahari berganti dengan bulan yang menyinari bumi, ia terlambat dan ia bisa pastikan Taehyung sudah menunggu. Ia sedikit berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya, beberapa kali menabrak dayang yang lewat tapi ia tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya Taehyung.
Saat sampai di depan kamarnya, ia terkejut melihat kamarnya begitu terang ketika masuk ia semakin terkejut melihat kamarnya begitu rapi dan bersih. Selain kedua hal tersebut ada hal lain yang membuatnya terkejut sekaligus tersenyum. Taehyung. Gadis cerewet itu tertidur dengan posisi kaki tertekuk, wajahnya begitu polos saat tidur membuatnya menyunggingkan senyum lebar.
Perlahan tapi pasti SeokJin mendekati Taehyung, berjongkok di hadapan Taehyung yang benar-benar terlelap. Ia semakin tersenyum, perlahan jari-jarinya bergerak menyentuh sisi wajah Taehyung yang halus, lalu turun ke bawah tepat di dagu runcing Taehyung dan terakhir merapihkan beberapa helai rambut Taehyung.
"Eung…" SeokJin semakin tersenyum melihat wajah itu sedikit terganggu. Wajahnya begitu polos dan demi apapun juga ia hanya ingin wajah polos tidur Taehyung hanya dilihat oleh dirinya. Ia putuskan untuk menyelipkan tangannya pada leher dan kaki Taehyung, menggendongnya ke atas kasur dan terakhir ikut berbaring di samping Taehyung. Mengamati dengan lekat wajah Taehyung lalu kembali tersenyum dan ikut memejamkan mata.
Rencana Taehyung mengajak SeokJin makan malam mungkin sedikit berantakan tapi ia mendapat rencana lain tanpa ia duga, yaitu tertidur di pelukan hangat SeokJin. Itu benar-benar rencana yang tidak terduga tapi sangat ia harapkan.
…
…
…
Selain ia selalu duduk di kusen jendela seperti anjing menunggui majikan kebiasaan anehnya yang lain adalah ia selalu berjalan-jalan sendiri di hutan saat malam hari. Seperti malam ini, ia berjalan sendiri menikmati semilir angin malam yang menerpa tubuhnya. Memang angin malam tidak baik untuk kesehatan tapi ia menyukai suasana seperti ini, suasana ini mengingatkannya pada Jimin dan moment terakhir mereka setahun lalu. Moment yang akan selalu ia ingat dan ia tidak pernah menyesal pernah melakukan moment tersebut.
"Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu"
Tiba-tiba saja sebuah suara muncul, membangkitkan ingatannya tentang moment itu. Suara itu seperti memberi perintah bagi pemutar film di otaknya untuk segera bekerja memutar film. Hoseok hampir tidak percaya mendengarnya, tapi karena paksaan otaknya ia berbalik. Dan ia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain diam menikmati ilusi yang ia ciptakan sendiri.
Jimin ada di hadapannya. Tersenyum manis melihat wajah terkejut Hoseok. Perlahan ilusi Jimin mendekat, memperlihatkan dirinya secara utuh. Rambut terurai dengan hiasan jepit rambut berbentuk bunga berwarna putih, hanbok putih dengan perpaduan hijau, dan senyum itu. Senyum lebar Jimin yang hanya tertuju pada dirinya.
Seketika Hoseok menghembuskan nafas lelah, apa ini ilusi yang menipunya lagi tapi melihat Jimin ikut menghembuskan nafas lalu tertawa kecil membuatnya sadar. Ini bukan ilusi, mimpi atau macam-macam kondisi psikology lainnya. Ini benar-benar Jimin, Jiminnya.
"Igo… khum aniya?"
"Aku selalu berharap kau bisa melihatku menggunakan hanbok dengan warna kesukaanmu. Sekarang sudah terwujud, kau melihatku menggunakan hanbok dengan warna hijau" ucap Jimin menatap penampilannya dengan hanbok hijau. Hoseok sendiri masih berdiri di tempat, begitu terkejut karena Jimin tiba-tiba ada di sini mengenakan hanbok dengan warna kesukaannya. Jimin tersenyum tipis, semakin mendekati Hoseok.
"Aku selalu memikirkanmu, aku selalu merindukanmu, dan aku selalu mencintaimu"
Hoseok tidak mengucapkan satu katapun. Ia hanya menarik tubuh Jimin mendekat, memeluknya begitu erat. Menenggelamkan kepala Jimin di dada bidangnya, ia pun melakukan hal yang sama menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Jimin menghirup bau tubuh Jimin yang begitu menenangkan. Ia bisa mendengar Jimin menangis terisak, serta pelukan Jimin pada dirinya begitu erat. Hoseok tersenyum kecil, menepuk-nepuk punggung Jimin berusaha menenangkan wanita yang jauh lebih dewasa darinya ini.
"Jika aku berpergian di malam hari seperti ini, aku bisa merasakanmu melampiaskan seluruh perasaan rinduku padamu. Karena aku tidak bisa mengatakannya langsung, aku takut melukaimu"
Jimin menggeleng keras, menolak ucapan Hoseok bahwa kehadiran pemuda berdimple ini adalah kesakitan. Hoseok adalah kebahagiannya, ia tidak bisa hidup tanpa Hoseok dan setahun ini adalah tahun terburuk yang pernah ia alami karena ia hidup tanpa Hoseok. Tapi sekarang ia tidak akan meninggalkan Hoseok, ia akan mencoba belajar menghadapi semuanya.
…
…
…
"Aigoo…"
Taehyung berucap cukup pelan menikmati pemandangan di hadapannya. Ia sudah terbangun sejak satu jam lalu tapi di dalam dirinya tidak ada niatan untuk beralih satu inchi pun dari samping SeokJin. Ia menikmati pemandangan wajah SeokJin yang sedang tertidur begitu lucu.
Wajah SeokJin yang terkenal sangar ternyata saat tertidur sangat lucu dan sangat sayang dilewatkan. Taehyung semakin mendekatkan tubuhnya secara perlahan, menggunakan tangannya sendiri sebagai bantalan dan ia kembali menikmati bibir itu yang tiba-tiba saja menggumam aneh. Senyum yang awalnya mengembang perlahan memudar mendengar gumaman itu berubah menjadi rengekan.
"SeokJin-ah?"
SeokJin tiba-tiba saja bangun, menatap sekeliling dengan terkejut terutama saat beradu pandang dengan Taehyung. Pandangannya begitu terkejut dan takut, tanpa diperintah Taehyung ikut terbangun memeluk SeokJin, menepuk-nepuk punggung lebar SeokJin, berusaha menenangkannya. Saat di rasa SeokJin mulai tenang Taehyung sedikit merenggengkan pelukannya.
"Wae? Apa kau mimpi buruk?" tanya Taehyung lembut. SeokJin tidak menjawab, ia hanya bisa memeluk tubuh Taehyung kembali, memeluknya begitu erat. Taehyung tersenyum sambil menenangkan SeokJin kembali.
"Aku bermimpi kau berlumuran darah dan pergi dariku" Taehyung berdecih mendengar cerita mimpi SeokJin. Ia melepas pelukan SeokJin, mengapus keringat sebesar biji jagung yang ada di kening SeokJin lalu kembali tersenyum menenangkan.
"Kemana aku akan pergi? Aku akan di sini menemanimu tidur" ucap Taehyung seraya melepas topeng SeokJin, menaruhnya di sisi tempat tidur lalu kembali menatapi wajah itu. "Jangan khawatirkan hal-hal yang aneh. Tidurlah aku akan menyanyikan satu lagu untukmu" lanjut Taehyung sambil menunjuk pahanya. SeokJin diam tapi ia tersenyum dan menurut.
Menidurkan kepalanya di paha Taehyung sebagai bantalan. Setelahnya, Taehyung menepuk-nepuk lengan SeokJin sambil sesekali mengelus kepalanya lalu mulai bernyanyi. SeokJin mulai memejamkan matanya menikmati setiap lirik yang diucapkan Taehyung dan merekam setiap nada dan suara Taehyung di otaknya. Ia akan selalu mengingat lagu ini.
"There's a song that inside of my soul. It's the one that I've tried to writer over and over again. I'm awake in the infinite cold, but you sing to me over and over and over again. So I lay my head back down, and I lift my hands and pray to be only yours I pray to be only yours. I know now you're my only hope…
I give you my destiny. I'm giving you all of me. I want your symphony. Singing in all that I am. At the top of my lungs, I'm giving it back…"
…
…
…
…
…
Matahari mulai menyingsing di ufuk timur secara perlahan, mulai meninggi dan menyinari seluruh setiap sudut tempat tak terkecuali sebuah kamar sederhana di istana pemburu bayangan. Kamar itu sangat sepi, hanya ada satu orang yang masih terlelap di balik selimut putih itu. Merasa terganggu dengan sinar matahari yang begitu silau perlahan ia bangun, matanya begitu terkejut melihat dirinya terbangun sendiri di kamar SeokJin. Helaan nafas kembali terdengar, SeokJin sudah pergi lagi.
…
Ia kembali menjalankan tugasnya seperti biasa tapi ia lebih sering melamun ketimbang mengawasi pekerjaan bawahannya. Sesekali ia terdengar menggerutu dan menghela nafas panjang. Ia menatap beberapa pekerjanya yang sedang menatapinya khawatir. Perlahan ia tersenyum simpul ke arah mereka.
"Taehyung-ah"
Ia kenal suara ini, ia berbalik terkejut setengah mati melihat Jimin ada di hadapannya. Benar-benar ada di hadapannya, tersenyum lebar sambil membawa sebuah nampan berisi teh.
"Eonni…"
"Mau minum teh denganku?"
…
…
…
Di gua tempat tinggal Sehoon dan para teman-temannya terasa begitu mencekam dan terselimuti awan berkabung. SeokJin yang mendengar berita itu dari bawahannya bergegas kemari tanpa memikirkan hal lain, ia harus tahu alasan apa yang membuat gua ini semakin suram. Dan ketika ia sampai, ia bisa melihat begitu banyak manusia serigala yang mengaum, saling berlomba memberitahu keseluruh penjuru hutan bahwa mereka sedang bersedih.
Ia juga melihat Sehoon yang nampak menatap sekitarnya tajam. Dengan perlahan ia menghampiri Sehoon, menatap iba pada seorang Sehoon yang benar-benar terlihat sedih. Perlahan tapi pasti Sehoon kembali dalam wujud manusianya.
"Apa yang terjadi?"
"Rekanku sudah banyak yang mati. Aku tidak memerintahkan mereka. Mereka pergi atas keinginan mereka sendiri dan berakhir mereka semua mati tanpa jejak bahkan mayat mereka tidak ditemukan" Sehoon mengucapkan kalimatnya dengan penuh penekanan menahan amarah. SeokJin mengangguk paham, menyeret Sehoon masuk ke dalam gua dan mendudukannya di sebuah batu.
"Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah membuat Taehyung mengingat kemampuannya sendiri"
SeokJin mengernyit mendengar kata kemampuan yang diucapkan Sehoon. Ia menatap Sehoon yang sedang menghela nafas berat. Seperti seseorang yang sedang mengangkat beban ratusan batu di punggung.
"Kemampuan apa maksudmu?"
"Aku juga tidak tahu tapi dia memiliki kemampuan yang sama seperti Jungkook"
SeokJin semakin mengernyitkan dahinya bingung, kemampuan Jungkook adalah melukis apa mungkin Taehyung memiliki kemampuan melukis seperti Jungkook? Yang terpenting apa NamJoon tahu soal kemampuan yang dimiliki Taehyung.
"Perkiraanmu benar, NamJoon sudah mengetahui semuanya dan karena alasan kemampuan itu dia bersikeras membuat Taehyung mengingat semuanya termasuk kemampuannya"
SeokJin sebisa mungkin menahan geraman marahanya yang jauh lebih mengerikan dari milik Sehoon. Ia mengepalkan telapak tangannya, menatap ke arah Sehoon lalu keluar gua. Ia harus membunuh NamJoon terlebih dahulu sebelum dia membunuh Taehyung dan manusia lainnya.
…
…
…
"Rasanya begitu aneh"
Taehyung memulai ceritanya setelah sekian lama Jimin bercerita soal dimana dia tinggal setahun ini. Taehyung mulai bercerita dari perasaan aneh karena terbangun sendirian di kamar SeokJin setelah mendapat perlakuan hangat dari pemuda bertopeng itu. Ia memainkan jarinya di pinggiran gelas teh merahnya, menghela nafas untuk kesekian kalinya merasakan perasaan aneh ini lagi.
"Aku merasa kosong dan tiba-tiba saja takut tanpa alasan yang jelas"
"Kenapa kau berpikir seperti itu? SeokJin tidak memarahimu atau membentakmu lagi, kan?"
"Anni, SeokJin tidak pernah melakukan itu lagi" Taehyung menggeleng dengan cukup kuat, menatap sebal pada Jimin karena belum mengerti arah pembicaraannya. Jimin sendiri ikut merasa sebal karena Taehyung terlalu berbelit-belit ingin mengucapkan apa.
"Lalu apa?"
"Aku merasa takut untuk memenuhi janjiku, aku takut untuk mengatakan kejujuran. Eonni tahu sendiri terkadang kejujuran itu begitu menyakitkan. Aku takut karena kejujuranku SeokJin akan pergi menjauh"
Jimin tersenyum kecil, mulai mengerti masalah perasaan Taehyung. Perlahan tangannya bergerak menggenggam tangan mungil Taehyung, sedikit meremas lalu mengelusnya. Menyalurkan perasaan hangat di setiap remasan yang ia berikan pada Taehyung. Perlahan Taehyung mulai merasa tenang mendapat kehangatan dari Jimin, ia benar-benar merindukan Jimin dan tentu saja Jungkook.
"Seburuk apapun lebih baik kita berbicara jujur. SeokJin akan berusaha menerima semuanya jika semua itu adalah kejujuran, ini nasihat yang bisa aku berikan"
Taehyung menatap bingung ke arah Jimin, entah kenapa ia merasa arah pembicaraannya dengan Jimin lebih tepat dikatakan meramal. Ia memang berasal dari masa depan tapi ia tidak bisa memerediksi apa yang akan terjadi selanjutnya karena ia tidak pernah mendengar mitos ini kecuali Hoseok.
Pintu kamar Taehyung tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sosok Hoseok yang langsung duduk di samping Jimin dan memberikan sebuah surat pada Taehyung. Taehyung mengernyit bingung tapi melihat Hoseok tersenyum kecil sambil memerintahkan baca surat itu membuat Taehyung percaya bahwa isi surat ini baik-baik saja.
Ia membuka amplop surat tersebut, membacanya dan begitu terkejut bahwa surat ini berasal dari Kyungsoo. Ia sudah lama tidak menemui Baekhyun dan Kyungsoo.
Agasshi, bagaimana kabar agasshi? Aku dan Baekhyun baik-baik saja di sini. Tapi, apa aku boleh meminta satu permintaan darimu? Aku dan Baekhyun tiba-tiba saja dibebas tugaskan karena kami sudah tidak melayani siapapun lagi, apa aku dan Baekhyun bisa pergi ke tempat Agasshi? Aku dan Baekhyun tidak memiliki tujuan akan pergi kemana. Apa agasshi bisa mengabulkan permintaan kami? Kami ingin sekali melayani agasshi lagi.
Taehyung menjatuhkan surat itu, menatap Jimin dan Hoseok yang malah sedang asik tertawa dan tersenyum. Sepertinya bukan mereka berdua yang menentukan keputusan besar seperti ini. SeokJin lebih berkuasa dan sepertinya dia yang mengendalikan perkampungan dan istana ini. Ia tidak bisa membiarkan kedua sahabat baiknya itu hidup terluntang lantung sementara dirinya hidup dengan baik di sini. Lagipula, mereka benar-benar baik dan bisa dipercaya. Ia harus bicara dengan SeokJin.
…
…
…
(Istana Raja Hyonjong)
Entah ia sudah ketahuan atau ada masalah lain penjagaan istana semakin diketatkan dan itu membuat Kyungsoo malam ini sulit bergerak untuk keluar dari kamarnya sekedar untuk mengambil air. Ia selalu ditatap curiga saat ia berjalana ke dapur, bahkan ia hampir ketahuan pergi ke tempat ia biasa bertemu Sehoon.
Intinya, ia hanya bekerja pada siang hari dan malam hari ia hanya diam di kamar. Menatapi bulan dan sesekali mengkhawatirkan keadaan Sehoon diluar sana. Tapi, malam ini ia kembali dibuat terkejut oleh Sehoon.
"Bagaimana bisa kau masuk?"
Ia benar-benar terkejut dibuat Sehoon karena saat pulang dari bekerja, entah darimana Sehoon bisa masuk ke kamarnya yang selalu dilewati penjaga dua puluh empat jam. Bahkan sudah memberesi barang-barang miliknya ke dalam sebuah buntelan kain. Sehoon berusaha tersenyum, menggenggam tangan Kyungsoo yang begitu bergetar ketakutan mungkin karena aksi nekat Sehoon.
"Aku tidak bisa menjelaskan apapun. Yang terpenting kau dan aku harus pergi" ucap Sehoon menarik Kyungsoo mengikutinya untuk keluar lewat jendela tapi Kyungsoo kembali mencegatnya.
"Chakkaman" Kyungsoo mencegat Sehoon yang berniat keluar dari jendela kamarnya. Ia melirik keluar jendela dan pintu kamarnya, setelah merasa aman ia memakai tudung hitam begitu juga dengan Sehoon. Mereka keluar menginjakkan kaki ke tanah dengan begitu tenang tanpa suara.
Saat dirasa aman Sehoon menarik Kyungsoo berlari dan melompati pagar pembatas tapi usaha mereka sedikit berantakan karena beberapa penjaga memergoki mereka. Sehoon berdecih terpaksa berubah ke wujud serigalanya, dan menyuruh Kyungsoo menaikinya. Mereka harus segera menjauh dari kejaran para penjaga istana jika ingin selamat.
…
…
…
"Kenapa kau menyuruhku menggambar?"
Pertanyaan itu terus terlontar dari bibir Taehyung hampir dari setengah jam lalu. Sementara SeokJin yang sejak tadi mendengar dan memerhatikan Taehyung menggambar hanya diam sambil mengulas senyum lebar. Taehyung berdecak sebal, menaruh kuasnya begitu saja, melipat tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya.
SeokJin menghela nafas, menarik Taehyung untuk mendekat tapi Taehyung sama sekali tidak bergerak satu inchi pun. Ia ikut berdecak, merogoh saku bajunya untuk mengeluarkan sesuatu yang akan Taehyung suka. Sebuah kalung dengan liontin giok hijau, Taehyung sempat terpana melihatnya tapi mengingat ia sedang merajuk ia melupakan keindahan kalung itu.
"Aku ingin tahu apa kau pandai melukis? Suatu hari nanti aku ingin kau melukis wajahku"
"Geotjimal"
SeokJin berdecak, ia menarik lengan Taehyung untuk menghadap dirinya. Wajah Taehyung masih tertekuk dan bibir itu mengerucut lucu dan sesekali terdengar umpatan halus dari bibir itu.
"Aku bicara jujur, selain itu aku ingin tahu apa kau memiliki kemampuan khusus seperti Jungkook"
"Kemampuan apa?" Taehyung bertanya dengan nada bingung. SeokJin tersenyum kecil, merapihkan beberapa helai rambut Taehyung dan menyelipkannya di belakang telinga Taehyung.
"Melukis dan membuatnya menjadi nyata. Kemampuan khusus Jungkook yang lain" jawab SeokJin lalu kembali memberikan kuas tadi untuk Taehyung kembali gunakan. Taehyung menggeleng, lalu menunjuk kalung giok yang tadi SeokJin tunjukan padanya. "Ini hadiah dariku, joah?" tanya SeokJin sambil memasangkan kalung itu ke leher Taehyung.
Si penerima kalung tersenyum, menatapi giok tersebut lalu SeokJin secara bergantian. Dan setelahnya ia kembali menuruti perintah SeokJin untuk menggambar sebuah pohon sakura. SeokJin kembali tersenyum mengamati hasil gambar Taehyung yang tidak bisa dibilang jelek. Tapi Taehyung kembali menghentikan gerakan tangannya melukis, ia kembali menatapi SeokJin.
"Apa aku boleh meminta satu hal darimu?" tanya Taehyung hati-hati dengan suara pelan dan sedikit merengek seperti anak kecil.
"Mwondae?" SeokJin kembali balik bertanya tapi Taehyung tidak langsung menjawab, ia mendekati SeokJin dengan pandangan berbinar seperti anak kucing yang minta dikasihani.
"Apa aku boleh meminta Baekhyun dan Kyungsoo tinggal di sini? Aku benar-benar kesepian jika tidak ada dirimu, meskipun ada Jimin eonni dan Hoseok. Lagipula, mereka akan di bebas tugaskan karena tidak melayani siapapun. Jadi, apa aku boleh mengajak mereka?"
SeokJin terkejut mendengar nama Kyungsoo bukankah Kyungsoo akan kabur dengan Sehoon malam ini? Ia menatap kedua mata Taehyung yang tiba-tiba saja bisa membulat, menampilkan sinar seperti anak kucing yang minta dikasihani. Ditambah Taehyung memegangi ujung baju dibagian lengannya.
"Nde, nde?" ditambah dia mengigit bibirnya dan terus mengeluarkan suara merengek sambil berkedip beberapa kali. SeokJin menghela nafas, mengangguk menyetujui dan langsung di hadiahi sebuah pelukan erat di lengan kanannya.
"Gomawoyo"
SeokJin semakin tersenyum, menyamankan posisi Taehyung di pundaknya, sesekali ia sedikit bersenandung menenangkan sambil mengusap tangan halus Taehyung.
"Taehyung-ah"
"Waeyo?" tanya Taehyung sedikit malas, ia lebih memilih menyamankan dirinya di pundak SeokJin dan semakin memejamkan matanya.
"Kau lebih suka anak perempuan atau laki-laki?"
Taehyung seketika membuka matanya, menatap tidak percaya ke arah SeokJin karena sudah membicarakan anak di saat hubungan mereka belum resmi bahkan Jungkook belum tahu hubungannya dengan SeokJin. Mulutnya sedikit membulat membentuk huruf O besar dengan mata membola sempurna.
"Kenapa kau bicara tentang itu tiba-tiba sekali? Bahkan kita belum menikah"
"Kalau begitu ayo kita menikah?"
"Heol! Apa pemburu bayangan bukan orang yang romantis? Apa begini caramu melamarku?" tanya Taehyung sedikit sebal dan cemberut melihat cara melamar SeokJin begitu kasar dan terkesan terburu-buru seperti itu. SeokJin mengedikan bahunya.
"Apa aku harus melamarmu di salju pertama? Atau memberimu setangkai bunga?"
"Bukan seperti itu, cukup yang sederhana tapi tidak norak" elak Taehyung dengan nada sedikit kesal karena SeokJin terdengar seperti main-main soal lamaran. Si pelaku semakin tersenyum lalu menggenggam tangan Taehyung sangat erat.
"Aku ingin menikahimu tapi aku tidak ingin mengungkapkannya sekarang. Jadi, jawab saja pertanyaanku tadi"
Taehyung mendesah kesal. Melepas genggaman SeokJin dan kembali menyandarkan kepalanya di pundak SeokJin kembali serta menjawab pertanyaan SeokJin begitu polos. "Aku suka keduanya tapi aku lebih suka memiliki anak kembar. Kembar laki-laki dan kembar perempuan"
SeokJin terkejut mendengarnya, ia menatap Taehyung yang hanya tersenyum lebar membayangkan semua hal membahagiakan itu. Tanpa diperintah ia ikut tersenyum lebar, memeluk Taehyung sambil sesekali menepuk-nepuk lengan Taehyung membantu wanitanya untuk terlelap lebih dalam dan nyaman. Ia akan terus melakukan ini, melakukan hal yang membuat Taehyung nyaman. Ini janjinya.
…
…
…
…
…
Kali ini ia benar-benar terang-terangan melakukan serangan. Bahkan ia benar-benar memunculkan watak aslinya di depan semua orang termasuk si pangeran tidak berguna yang begitu menyukai Taehyung. Ia menatap si pangeran yang begitu tenang saja melihat NamJoon dalam sosok yang benar-benar menyeramkan.
"Apa ada hal yang ingin kau diskusikan?"
NamJoon tersenyum miring, membuka tudung jubah hitamnya lalu tanpa permisi duduk di hadapan Chanyeol. Memainkan jam pasir berwarna biru milik Chanyeol berulang kali lalu menaruhnya secara mendatar di atas meja.
"Aku akan memberikan Taehyung padamu"
"Mwora?" tanya Chanyeol sekali lagi. Memastikan gendang telinganya tidak rusak atau pecah karena mendengar hal aneh seperti itu diucapkan dari mulut NamJoon. Bukankah NamJoon begitu terobesesi dengan putirnya sendiri tanpa alasan yang jelas.
"Aku akan memberikan putirku dengan senang hati tapi aku ingin mendiskusikan beberapa hal padamu. Apa kau bisa memanggil beberapa dayang untuk membawakan teh?"
…
…
…
Suara pelana kuda saling bersahut-sahutan sejak berjam-jam lalu. Ia sudah kehilangan seluruh kekuatannya, anak buahnya tewas selama perjalanan menuju tempat persembunyian NamJoon yang terletak di bibir hutan berbatasan langsung dengan wilayah Manchu dan Joseon. NamJoon benar-benar mempunyai anak buah yang tidak bisa dibilang remeh karena seluruh anak buahnya mati hanya dengan sekali serangan hanya tersisa dirinya seorang.
Saat ia hampir mencapai bibir hutan, ia menghentikan laju kudanya menatap curiga pada sekumpulan orang berpakaian hitam berbaris rapi seperti menjaga sebuah tempat. Kecurigaannya semakin lebar melihat sebuah kuda tiba-tiba muncul dari balik sebuah bangunan yang begitu gelap tapi juga besar dan megah. Kuda berwarna cokelat itu melangkah sangat pelan dan saat kuda itu berhenti si penunggang masih enggan membuka tudung jubahnya.
"Minggir atau kau akan kehilangan anak buahmu lagi, NamJoon-ssi"
"Siapa yang kau sebut NamJoon?"
Mata SeokJin membulat sempurna mendengar suara si penunggang bukanlah sebuah suara bass berat milik NamJoon, melainkan suara lembut tapi menyeramkan milik Joohyun. Perlahan tangan itu terangkat menyibak tudung kepala jubahnya, menatap ke arah SeokJin mengejek.
"Dia begitu sibuk sampai-sampai dia tidak bisa menemuimu"
SeokJin tersenyum miring, turun dari kudanya diikuti dengan Joohyun. Mereka berdiri saling berhadapan, sekilas SeokJin bisa melihat sebuah tattoo seorang pemburu bayangan di leher Joohyun. Ia kembali tersenyum mengejek, dugaannya benar gadis ini benar-benar berkomplot dengan NamJoon dan Kim Yuk.
"Dugaanku benar selama ini jika kau bersekongkol dengan NamJoon dan Kim Yuk"
Joohyun memutar bola matanya malas, bosan mendengar kecurigaan SeokJin selalu itu-itu saja. Ia kembali menampilkan seringai mematikan, seperti memberitahu SeokJin bahwa mereka sekarang setara dan bisa bersama.
"Kau bekerja sama dengan mereka sejak jebakan mengerikan itu. Bahkan kau sekarang menjadi makhluk paling hina dibumi"
"Kau juga pemburu bayangan"
"Aku bukan pemburu bayangan yang berasal dari NamJoon. Aku berbeda dari kalian semua"
Joohyun kembali berdecih meremehkan, mengambil langkah semakin dekat. Wajahnya yang sejak tadi dingin dan mengintimidasi perlahan mulai berubah, rahangnya mengeras menahan segala luapan emosi tidak terima NamJoon dikatakan seperti itu dan kekeras kepalaan SeokJin.
"Soal pemburu bayangan itu tidak penting yang terpenting sekarang adalah, apa kau tidak ingin menguasai dunia menggunakan cawan itu?"
…
Ia tidak bisa berkata-kata lagi melihat dua orang di hadapannya, ia sangat mengenal dua orang ini tapi bukan karena keadaan mereka yang membuat ia terkejut melainkan penjelasan mereka mengenai identitas mereka sebenarnya. Tubuhnya jatuh terduduk di tempat duduk yang ada di kamarnya, sementara dua orang di sampingnya berusaha menjelaskan semuanya.
"Agasshi!"
Taehyung berusaha mengambil nafas, punggungnya kembali terasa sakit begitu juga dengan sesak di dadanya. Sehun dan Kyungsoo mengambil tempat di hadapan Taehyung, menenangkannya yang begitu shock.
"Jadi, kau adalah mata-mata Sehoon ahjussi dan kau juga manusia serigala?" tanya Taehyung menatap Kyungsoo yang kembali menjawab pertanyaan dengan sebuah anggukan.
"Apa kau bisa menyembunyikan kami di sini semalam saja, jangan beritahu siapapun termasuk SeokJin. Hanya semalam saja" Sehoon kembali memohon padanya. Taehyung hanya diam, memikirkan permintaan Sehoon yang sama saja menyuruhnya berbohong pada SeokJin. Ia ingin menolak permintaan Sehoon tapi ia juga tidak mau membiarkan nyawa Sehoon dan Kyungsoo terancam. Ia kembali menatapi Kyungsoo dan Sehoon, apa yang harus ia lakukan sekarang?
…
"Pasukan NamJoon sekarang semakin diperkuat dengan bantuan prajurit terbaik di Joseon dan koneksi yang aku miliki sebagai putri. Kau akan semakin mudah menjadi penguasa jika memiliki cawan itu dan jika kau bergabung bersama kami"
SeokJin mengangkat alisnya, seakan mengerti dengan maksud pertanyaan Joohyun seperti merayunya untuk ikut ke kelompok NamJoon. Kali ini ia yang berdecih meremehkan dengan pertanyaan Joohyun, ajakan yang membawanya ke lingkaran setan bernama keserakahan.
"Jika aku memiliki cawan itu apa yang bisa aku dapatkan?" tanya SeokJin mengajak Joohyun seperti ingin berdebat. Joohyun sendiri tersenyum puas, mengira SeokJin menerima ajakannya untuk bergabung pada perahu yang sama.
"Apapun yang ada di dunia ini"
"Termasuk hati seseorang?" kali ini Joohyun tidak menjawab. Ia tahu hati yang dimaksud SeokJin adalah Taehyung, gadis tidak berguna tapi sangat ia butuhkan untuk mendapat cawan itu. Ia tidak berdecih atau memutar bola matanya, wajahnya semakin mengeras dengan kepalan tangan semakin menguat.
"Jika memang bisa aku akan mendapat cawan itu dan menjadi penguasa di dunia"
Joohyun membuang nafas tidak percaya, ia memalingkan wajahnya sesaat untuk mengembalikan wajah dinginnya yang semula terkejut dengan ucapan SeokJin untuk menjadi penguasa demi mendapat hati seseorang.
"Kau ingin mendapatkan cawan itu hanya untuk mendapatkan Kim Taehyung? Cawan ini bukan untuk hal sepele dan murahan seperti itu!" ucap Joohyun sedikit membentak dan menolak ucapan SeokJin yang begitu menyepelekan kekuataan dan kekuasaan yang akan cawan itu berikan jika seseorang memilikinya.
"Bagiku, Taehyung adalah cawan itu yang berarti Taehyung adalah duniaku"
"Berhenti bicara omong kosong seperti itu lagi!"
Itu bukan suara Joohyun melainkan suara yang sangat ia ingin dengar dan sangat ia ingin lihat si pemilik suara itu. NamJoon baru saja datang, terlihat marah mendengar SeokJin menyamakan Taehyung dan cawan itu. Ia turun dari kudanya dan tanpa peringatan mengarahkan pedangnya ke leher SeokJin.
"Kembali atau kau mendengar pilihan yang akan aku berikan?"
SeokJin menarik pedangnya keluar, menangkis serangan NamJoon di lehernya dan balik mengarahkan pedangnya ke leher NamJoon. Joohyun terperenjat kaget dan berniat maju tapi melihat kode sebuah tangan dari NamJoon ia urungkan niatnya.
"Jungkook eodinyago?!"
NamJoon yang tersulut emosi menjauhkan pedang SeokJin dengan pedangnya, mereka beradu pedang dan membuat pertahanan yang begitu kuat. NamJoon tersenyum licik melihat pedang yang digunakan SeokJin berlumuran darah anak buahnya. Ia kembali menatapi SeokJin dengan pandangan remeh.
"Kau lebih mirip serigala ketimbang Sehoon. Kau akan selalu mengikuti serigala betinamu bahkan sampai mati"
"Jangan samakan Taehyung dengan binatang!"
"Kalau begitu kau memilih Taehyung untuk diselamatkan dan memilih membunuh Sehoon serta Kyungsoo" SeokJin menggeram menahan amarahnya. Menekan pedang NamJoon semakin ke belakang begitu juga dengan NamJoon yang mendorong pedangnya ke depan. Mata mereka sama-sama menajam dan tidak ada yang mau mengalah.
"Kalau kau tidak membuat pilihan atau memilih keduanya, maka mereka semua mati. Kau sendiri yang mengatakan ingin menjadi penguasa itu berarti kau harus mengorbankan sesuatu untuk menjadi seorang penguasa"
NamJoon menyeringai merasakan pedang SeokJin mulai melemah, perlahan menjauh dan jatuh bersamaan dengan tubuhnya yang merosot ke bawah. Kepalanya tertunduk lemas, ia hanya bisa mengepalkan tangannya menahan segala luapan amarahnya pada NamJoon dan dirinya sendiri.
"Temukan dia secepat mungkin dengan begitu Taehyung akan aman"
SeokJin mendongak mendengar nama Taehyung diucapkan NamJoon, ia tidak sudi mendengar nama Taehyung keluar dari mulut seseorang seperti NamJoon sekalipun dia ayahnya. Ia bangun dari posisi bersimpuhnya, memungut pedangnya yang berlumuran darah dan menaiki kudanya. Meninggalkan perbatasan menuju tempat persembunyian dengan wajah NamJoon yang begitu puas melihat SeokJin lemah hanya karena Kim Taehyung.
"Dia benar-benar mudah dijinakkan"
…
…
…
Ia memutuskan untuk diam sampai Sehoon dan Kyungsoo pergi meninggalkan istana pemburu bayangan. Ia menyembunyikan Sehoon dan Kyungsoo di kamar paling belakang dekat kolam pemandian. Ia baru saja kembali dari kamar Sehoon dan Kyungsoo untuk mengantar makanan.
"Taehyung-ah" Taehyung tekejut melihat SeokJin tiba-tiba saja muncul di dapurnya.
"Kau darimana membawa nampan makanan itu?" tanya SeokJin mengernyit heran melihat Taehyung membawa nampan bekas makan malam. Taehyung terdiam, tangannya sedikit gemetar tapi ia segera tutupi dengan senyum lebarnya.
"Salah satu dayang kakinya terluka dan sulit untuk berjalan. Jadi, aku mengantarkan makanan dan obat untuknya" Taehyung menjawab sambil menaruh nampan itu. SeokJin sendiri tersenyum melihat Taehyung selalu bertindak seperti itu. Taehyung menghampiri SeokJin yang terlihat begitu kacau tapi tetap berusaha tersenyum lebar. Perlahan Taehyung ikut tersenyum, mengelus sisi wajah SeokJin yang tidak tertutupi topeng.
"Gweanchasmikka?" tanya SeokJin seraya menjauhkan tangan Taehyung, menggenggamnya begitu erat lalu mengecupnya cukup lama. Taehyung tersenyum simpul, membalas gengaman tangan SeokJin begitu erat.
"Gweanchana, apa terjadi sesuatu?" Taehyung balik bertanya dengan nada khawatir dan cemas. SeokJin menggeleng, merapihkan beberapa helai rambut Taehyung seperti biasa dan lama kelamaan menjadi kebiasaannya jika bersama Taehyung. Ia tidak ingin kehilangan Taehyung, perlahan ia mencengkram lengan Taehyung.
"Aku tadi bertemu NamJoon dan Wangjo Joohyun, dia sudah menjadi pemburu bayangan dan berada di pihak NamJoon kau harus berhati-hati dengannya. Satu hal lagi, aku akan pergi selama beberapa hari mencari keberadaan Sehoon"
"Apa Abeojie mengancamu dengan hidupku? Apa dia menyuruhmu membunuh Sehoon dan Kyungsoo dengan menggunakanku sebagai ancaman?" SeokJin tersenyum, menjitak sayang kepala Taehyung agar berhenti berpikir macam-macam tentang dirinya. Taehyung terdiam, mencoba membaca mata SeokJin tapi hasilnya ia tidak bisa membaca apapun.
"Jangan coba-coba membaca mataku dan sok tahu tentangku"
Taehyung sedikit cemberut dan sedikit kesal mendapat jitakan seperti itu. Tapi, ia menikmati pelukan yang SeokJin berikan. Pelukan ini begitu hangat, menyamankan dirinya dan ia merasa aman di pelukan SeokJin. Perlahan ia mengangkat tangannya, membalas pelukan SeokJin sambil menepuk-nepuk punggung SeokJin. Mengisyaratkan semua akan baik-baik saja, semuanya.
…
…
Tangan mereka benar-benar tertaut begitu erat. Entah Sehoon atau Kyungsoo benar-benar tidak ingin melepaskan tautan tangan mereka, sejak tadi mereka hanya duduk di dekat jendela kamar sambil mengamati bintang di langit.
"Apa kau tahu impianku yang lain?" Kyungsoo tiba-tiba bertanya, merenggangkan pelukan Sehoon lalu menghadap Sehoon dengan benar. "Aku ingin menjadi seorang guru, kau akan menjadi pelatih bela diri yang handal dan anak kita akan berlari ke sana ke mari dengan riang. Apa impian ku itu bisa terwujud?" Kyungsoo kembali bertanya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Sehoon tersenyum, mengangguk sambil mengelus kepala Kyungsoo dengan lembut lalu beralih mengelus perut rata Kyungsoo. "Aku mengharapkan hal yang sama denganmu" ucap Sehoon sambil mengeluarkan sebuah gelang giok dengan benang berwarna merah. Ia menggenggam tangan Kyungsoo, memasangkannya di pergelangan tangan tersebut dengan sangat hati-hati.
"Ini perlambang hubungan kita, sampai matipun kau harus berjanji tidak akan melepaskannya" Kyungsoo tersenyum sambil mengangguk dan memeluk tubuh Sehoon begitu erat.
"Aku mencintaimu" Ia ingin menjadi orang yang egois sekali saja, ia ingin waktu berhenti agar moment ini tidak berakhir begitu cepat. Ia ingin semua in bertahan lama dan tidak ada lagi pertumpahan darah tapi sayangnya semua itu akan sulit tercapai.
…
…
…
NamJoon menatap Chanyeol dan Kim Yuk yang sedang beradu mulut serta saling menyalahkan karena tidak becus menemukan dayang rendahan seperti Kyungsoo. NamJoon hanya diam menatap pintu ruangannya belum terbuka juga, ia lebih baik menunggu pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Joohyun ketimbang mendengarkan adu mulut Chanyeol dan Kim Yuk.
BRAK
Joohyun membuka pintu dengan tergesa-gesa sambil menyeret mayat seorang manusia serigala. NamJoon menyeringai melihat Joohyun benar-benar berubah menjadi gadis yang beringas dan tidak kenal ampun. Ia bangun dari singgah sananya, menghampiri Joohyun bersama Chanyeol dan Kim Yuk yang jijik melihat mayat manusia serigala itu.
"Besok kita harus menyerang istana pemburu bayangan SeokJin. Sehoon dan Kyungsoo ada di sana berkat manusia menjijikan ini" Joohyun dengan mudahnya melempar mayat itu. Menghampiri NamJoon lalu Kim Yuk seakan meminta bantuan.
"Aku akan memberitahu rencanaku tapi kau harus menikahiku secepat mungkin" pinta Joohyun dengan seringai puas melihat wajah terkejut Chanyeol dan Kim Yuk. Mereka berdua tidak percaya Joohyun bersedia menikah dengan seorang pemburu bayangan dan terlebih masih memiliki seorang istri. NamJoon sendiri menyeringai sama seperti Joohyun sekarang.
…
…
…
…
…
SeokJin berkuda pagi-pagi sekali menuju tempat Joohyun menunggunya, ia berkuda benar-benar seperti orang gila atau seperti orang yang dikejar-kejar perampok. Cara berkudanya begitu cepat dan beringas, ia tidak memedulikan kondisi kudanya yang mungkin saja sedikit lelah atau terluka. Yang ia pedulikan sekarang adalah kebenaran berita yang ia dapat bahawa Joohyun mengetahui tempat persembunyian Sehoon dan Kyungsoo.
"Dimana Sehoon dan Kyungsoo?"
SeokJin bertanya tanpa turun dari kudanya, menatapi Joohyun yang juga sedang duduk di atas kuda menatap SeokJin lalu menyeringai.
"Kenapa kau tidak bertanya lebih dulu pada duniamu, Kim Taehyung. Dia menyembunyikan Sehoon dan Kyungsoo di sebuah kamar paling belakang mirip gudang untuk mengelabuhimu"
…
Dunia SeokJin alias Taehyung kali ini sedang menatap was-was pada keadaan sekitar yang entah mengapa sejak pagi dijaga ketat atas perintah SeokJin. Setalah sampai di gerbang belakang, ia kembali memerhatikan Kyungsoo dan Sehoon. Mereka sudah siap dengan perbekalan mereka serta kuda baru yang lebih besar.
"Kalian hanya perlu melewati satu gunung lalu kalian akan sampai ke daerah Manchu. Sehoon ahjussi tolong jaga Kyungsoo" Taehyung berucap dengan nada khawatir dan was-was dengan keadaan sekitar yang bisa berubah sewaktu-waktu. Sehoon sendiri tersenyum, merengkuh Kyungsoo dengan lembut sambil mengangguk.
"Gomapta, neoumo gomapta Taehyung-ah" ucap Sehoon sedikit menundukkan kepalanya. Ia beralih menatap Kyungsoo yang sedang melakukan hal sama berterimakasih pada Taehyung.
"KYA!"
"TEMUKAN SEHOON DAN KYUNGSOO SEKARANG!"
Taehyung terkejut mendengar suara NamJoon dan beberapa dayang yang berteriak ketakutan di sekitar tempatnya. Ia menoleh khawatir dan kaget, ia kembali menatap Sehoon yang mengeluarkan aura manusia serigalanya. Kyungsoo mencengkram begitu erat tangan Sehoon dan juga perutnya.
"Bawa Kyungsoo keluar lebih dulu"
"Nde?" Taehyung kembali bertanya memastikan perintah Sehoon apa benar atau tidak. Ia beralih menatap Kyungsoo yang terlihat tidak mau di tinggal Sehoon, genggaman tangannya pada Sehoon begitu erat seakan tidak mau terlepas sekalipun Sehoon sudah berusaha. Sehoon tersenyum kecil, mengelus sisi wajah Kyungsoo yang sudah berair karena air mata dan ketakutannya.
"Kajima…"
"Mereka tidak akan bisa membunuhku, aku manusia serigala paling besar dan pemimpin klan aku tidak mungkin kalah. Jadi, jangan khawatirkan aku" Sehoon kembali memberi pengeritannya. Kyungsoo tetap menggeleng keras, menolak perintah Sehoon yang bersikeras menyuruhnya pergi lebih dulu. Sehoon berusaha tersenyum selebar mungkin, mengecup kening Kyungsoo cukup lama dan secara perlahan melepas genggaman Kyungsoo dan langsung berlari pergi menggunakan wujud serigalanya.
Kyungsoo menahan teriakannya. Ia kembali menangis dan Taehyung yang berusaha menariknya pergi tapi ia tidak mau bergerak satu inchi pun.
"Kyungsoo-ah, turuti ucapan Sehoon ahjussi"
"Shireo!" tolak Kyungsoo. Menatap Taehyung dengan pandangan memerah, menggeleng keras sambil melepas cengkraman Taehyung pada tangannya. Ia berusaha tersenyum meskipun rasa khawatir benar-benar menyelimuti wajah dan perasaannya saat ini.
"Aku adalah pasangannya, jika dia mati aku harus mati bersamanya"
"Kyungsoo-ah!"
"Mianhae, agasshi. Aku harus mengikuti aturan manusia serigala"
Taehyung kembali menariknya menjauh tapi Kyungsoo dengan mudahnya melepas tarikannya. Berlari cukup kencang mengejar Sehoon yang sudah ada di tempat pertempuran. Meninggalkan Taehyung yang terdiam di tempat, tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk menahan kepergian Kyungsoo ia tidak bisa.
Ia menatapi tangannya yang gagal memenuhi perintah Sehoon dan SeokJin. Ia yang menuntun Kyungsoo dan Sehoon pada jurang kematian dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.
To Be Continue
(Wind-Jung SeungHwan, A Thousand Years-Chirstina Perri, Forgetting you-Davichi, Only Hope-Mandy Moore, Passionate to Me-Younha & Fall for You-Secondhand Serenade)
Haters Chanyeol sama Joohyun pasti meningkat drastis *hohohoho*
Taehyung bohong dan gimana nasib Sehoon & Kyungsoo? Terus reaksi SeokJin nanti setelah tahu kalau Taehyung selama ini berbohong *ketawanista* *hohohoho*.
Jimin balik dan mereka jadian beneran *ketawabahagia* *hahaha* *siulnggakjelas*.
Moment JinV bertebaran *hahahaha*
Satu lagi fakta bahwa Sehoon dan Jungkook dulu berhubungan adalah hoax alias bohong dan nggak bener sama sekali, karena dia selalu always cinta ama D.O yang imut-imut itu bahkan D.O lagi hamil loh *WHAT!*
Oke, untuk chapter akan tamat empat chapter lagi *histeris* *teriak* Tebak hayo bakal sad or happy? *hahahaha*. Spoiler dikit nih, ya? Boleh? Boleh lah…
Yoongi akan balik lagi dan dia bakal jadi penentu ff ini bakal happy or sad *ketawanista*
Itu dulu bacot-bacotnya setelah sekian lama.
Terimakasih atas kesediaannya membaca ff ini, GOMAWO!
Kisah cinta, persahabatan, dan mobil.
"Deal? Kau bisa dapatkan delapan ratu ribu won dan mobilku"
"Serious?"
…
"Aku menyukaimu!"
"Kau tidak bisa mempunyai perasaan seperti itu padaku!"
…
"Kau berhutang satu mobil padaku"
"Arrayo
Mereka terus berlari, masuk, dan keluar di lubang yang sama.
"Kau selalu bisa memuaskanku"
"Aah! Aah!"
…
"Kau selamat, hyung?"
"Dia menolongku"
…
"Hyung bisa berhenti melakukan semua ini?"
"Tidak bisa"
Air mata, darah, sex dan mungkin cinta.
"Hiksss…"
"Jangan menangis lagi. Aku di sini"
…
"Aku tidak memaafkanmu! Kau menipuku! Kau menipu keluargamu sendiri!"
"Geurae! Aku menipumu, aku berniat membunuhmu dan keluargamu"
…
"Kau tahu, aku sering sekali menghukum anak nakal saat SMA"
"Aku dengan senang hati menerima hukumanmu"
…
"Aku tidak pernah menipu perasaanku padamu. Aku mencintaimu!"
"Geotjimal!"
RUN: Love, Friend and Fast (Judul masih bisa berubah)
Cast: BTS, Block B, BAP, EXO, etc
Coming Soon! Rated M! BL! YAOI!
Kisah seorang raja, pendiri, sekaligus penghancur.
"Salam kepada Raja!"
"MANSAE! MANSAE! MAN MANSAE!"
Kisah dibalik kebesarannya.
"Kau kenapa? Hwangjangnim!"
"Siapa yang kau sebut hwangjangnim"
Pertumpahan darah, saudara dan cinta.
"Kau membunuh dia!"
"Wae? Dia pantas mendapatkan hal itu"
…
"Bunuh… bunuh aku… bunuh aku hyungnim"
"Shireo!"
…
"Aku mencintaimu…"
"Aku tidak mencintaimu!"
Pengorbanan, air mata dan… perpisahan.
"Dia tidak pernah mencintaiku"
"Aku akan selalu mencintaimu…"
…
"Hwangjangnim!"
"Bogoshipeoda…"
…
"Aku tidak percaya padamu karena kau tidak jujur padaku"
"Aku jujur padamu, aku meminta bantuan dia karena kau tidak bisa aku percayai. Kau yang memulai keretakan ini. Kita tidak bisa menjalin hubungan seperti ini lagi"
Kebohongan dan kesetian.
"Kau tidak pernah mencintaiku! Hanya dia yang selalu ada di hatimu"
"Ani! Itu tidak benar, Yang Mulia!"
…
"Kau memberiku anak maka aku akan memberikanmu istana ini"
"Baik. Sekarang kita rekan"
Berakhir dengan penyesalan atau kebahagian.
"Aku akan pastikan kau kembali kepelukanku"
"Itu tidak akan pernah terjadi"
…
"Aku akan selalu bersamamu. Berdiri di sampingmu, menepuk punggungmu sebelum tidur dan akan selalu menjadi bagian dari hidupmu"
"Aku juga akan menjadi bagian dari hidupmu"
Cast: EXO, BTS, GOT7, Super Junior, SNSD, TVXQ, F(x), Red Velvet, etc.
The Secreat of the Prince Mask (Judul masih bisa berubah)
Cooming Soon!
