NOT YOUR FAULT

Chapter 12

by vvaulia

Cast: Park Chanyeol & Byun Baekhyun

Support cast: Oh Sehun , Luhan & others

Rate: T - M

Summary: penculikan dan pemerasan? Sungguh Baekhyun bosan mendengar gosipan aneh murid disekolahnya. Anyang High School, sekolah art ternama di daerah Gyeonggo tidak mungkin ada kasus aneh seperti itu | "Luhan!" "jangan berteriak bodoh" "bersembunyi disini saja" "mengapa cuma ada kita berdua di sekolah sialan ini" | "hei Baek bodoh, mengapa kau pergi kerumahnya terus" "maaf, Chanyeol tidak mahu bertemu denganmu"

WARNING: BOY × BOY . DONT BE PLAGIATORS . TYPO BERTEBARAN . HARAP MAKLUM

•●•●•●•●•

"halo"

'...'

"apa?!"

'...'

"b-baiklah"

TUT TUT TUT

"sungguh, kau tidak perlu terlalu kaget"

Chanyeol menatap Baekhyun dalam, mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan yang menari di dalam pikirannya. Chanyeol segera bangkit dan mendekati Baekhyun yang masih menggenggam ponsel Chanyeol. Pria yang lebih tinggi mengerutkan dahinya ketika wajah yang lebih rendah terlihat semakin resah

"katakan padaku, mengapa-"

"Pertandingannya dipercepat hingga kamis ini, jadi-"

"mari kita berlatih bersungguh-sungguh"

Baekhyun mendongak dan tepat bertatapan dengan mata Chanyeol. Secara tak langsung hati resahnya berganti menjadi hangat. Baekhyun sama sekali tak berniat menundukkan pandangannya ketika dia merasa sangat nyaman hingga Chanyeol membulatkan matanya tatkala Baekhyun melumat bibirnya pelan.

Chanyeol tersenyum ketika Baekhyun melepas pagutan yang diciptanya sendiri sementara Baekhyun malah merapatkan tubuhnya ke tubuh Chanyeol. Perlahan namun pasti, lengan Baekhyun berhasil merengkuh pinggang Chanyeol. Chanyeol menambah kelebaran senyumannya ketika Baekhyun mengubur wajahnya pada dada bidangnya

"jangan tanya mengapa, karna aku sedang dalam masa nyaman" Chanyeol mengangguk seperti orang bodoh sambil tersenyum dengan tangan yang ia tempatkan pada punggung Baekhyun

•●•●•●•●•

lima menit berlalu begith saja. Dan sekarang kedua pria berbeda tinggi itu sedang sibuk dengan kerja masing-masing. Chanyeol sibuk mencari kunci yang sesuai pada pianonya, sementara Baekhyun tak habis-habis memekik berusaha mencari nada tinggi yang pas

"Chanyeol, apa aku terlalu berisik dan menganggumu?"

"tidak selagi itu kau" Chanyeol menjawab tanpa memandang ke arah penyoal dan tak ada yang tahu bahwa Baekhyun bersemu disana. Baekhyun segera menggeleng ketika dia teringat sesuatu 'mengapa Chanyeol sempat menjauhiku? Aku harus bertanya-'

"Baek!"

Baekhyun terengah dari lamunannya ketika suara baritone itu mebuyar semuanya

"Aku rasa aku menemukan kuncinya. Coba kau dengarkan"

Baekhyun mendekat ke arah Chanyeol dan hampir saja terjungkal ketika tangan besar itu menarik pinggangnya untuk lebih kuat

"Lebih dekat Baek"

Baekhyun kira semu pada kedua pipinya akan hilang dalam jangka waktu yang lama, tapi sekarang ia malah merasa pipinya semakin memerah ketika Chanyeol malah menariknya untuk duduk dipangkuannya. Dan yang paling Baekhyun tak suka adalah jatungnya. Salah satu organ yang akan menjadi sangat hyper ketika Baekhyun berdekatan dengan Chanyeol.

Baekhyun mengutuk dirinya, dan juga Chanyeol atas keadaan jantungnya yang semakin menggila.

Fokus Baekhyun sama sekali tak menuju irama yang tercipta, malah menjalar ke arah lengan kekar yang tengah bergerak-gerak untuk mencipta sebuah irama. Ini adalah hal yang susah semenjak kedua lengan itu berada tepat dikedua pinggangnya

"kau terlalu modus"

"biarkan saja dan tetap fokus pada irama"

Baekhyun kembali terengah ketika Chanyeol bangkit dan menurunkan badannya perlahan.

"bagaimana?"

'bagaiman apa? aku bahkan apa-apa'

"itu bagus. Aku tak menyangka permainan pianomu sungguh menakjubkan"

"kau berlebihan Baek, aku hanya memainkan chorus-nya"

"well, itu tetap bagus"

'aku merasa akan gila sekarang'

Chanyeol kembali mendudukkan dirinya pada kursi piano, bersedia meletakkan jari-jarinya pada tuts piano tapi ia hentikan ketika menyadari Baekhyun masih bediri manis disebelahnya

"apa yang kau tunggu Baek? Kau boleh pergi berlatih disana sekarang"

Baekhyun menatap pada tempat yang ditujukan Chanyeol, penjuru ruangan. Apa Chanyeol mengusirnya secara halus?

Lupakan, Baekhyun melangkahkan kakinya ke tempat yang ditunjukkan Chanyeol. ia membersihkan sedikit debu disana dan langsung menempatkan bokongnya pada sofa disitu

"oneul bam barabon...cheo dar-i neomu cheoranghae...nado na cheoreom waeroun! tongbin gaseum anko saneunguna..."

"Chanyeol-i~"

Chanyeol tengah terpejam sambil menikmati alunan yang ia cipta hingga matanya tiba-tiba membulat tatkala indera pendengarannya menerima suara familiar itu. Noonanya pulang?

Chanyeol mendongak dan bertatapan dengan mata sipit Baekhyun yang menatapnya datar

"pasang pertahanan Baek, kau harus berhati-hati"

Baekhyun mengerutkan dahinya bingung, apa maksudnya? Apa dia harus memakai baju perisai? Untuk apa? Apa yang tadi berteriak adalah orang gila yang sering tersesat ke rumah Chanyeol?

Belum sempat Baekhyun menyelesaikan pertanyaannya, Chanyeol kembali berucap "jaga pipimu"

Setelahnya Chanyeol keluar dengan tergesa-gesa. Baekhyun yang baru menangkap kata-kata Chanyeol setelah satu menit buru-buru menutup kedua pipinya

"kau tau Yeol? aku terlepas pesawat-"

samar-samar Baekhyun mendengar suara itu. Tiba-tiba Baekhyun menegang, dia teringat kejadian yang lalu ketika wanita itu medekapnya di kamar Chanyeol. Baekhyun jadi ngeri sendiri ketika-

CKLEK

"tunggu noona!-"

mata Baekhyun tepat bertatapan dengan mata bulat Park Yoora. Dan secara tiba-tiba wanita cantik itu tersenyum antusias. Tunggu, Baekhyun tidak bisa mengartikan apa itu senyuman maut atau salam pertemuan atau...

"Baekhyun?! Ya Tuhan!"

Sekarang Baekhyun yakin bahwa dia memilih opsi yang pertama karna sekarang wanita itu sedang berlari ke arahnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

"akh!"

Baekhyun mengutuk dirinya habis-habisan ketika dia lalai dari menjaga pipi mulusnya dari serangan jari-jari panjang wanita itu. Kini yang ia sanggup hanyalah mengelusnya pelan, Baekhyun tidak merasa pipinya tengah baik-baik saja sekarang

"apa kau tak rindu pada kakak iparmu ini Baek-i? aaa! Aku sangat merindukanmu!"

Sekarang penyesalan Baekhyun bertambah dua kali lipat ketika Park Yoora memeluknya seakan akan hendak meremukkan badannya. Dia kewalahan ketika membayangkan tenaga wanita ini. Tiba-tiba pikiran idiot Baekhyun merayau ke puteri shrek. Apa Park Yoora salah satu diantaranya?

"sudah kukatakan Baek" Baekhyun yang masih menahan pelukan maut wanita itu langsung menatap ke sumber suara. Dari sini Baekhyun dapat melihat wajah datar Chanyeol yang seperti meminta bogeman. 'Sial, Apa dia tidak berniat untuk membantuku?' monolog Baekhyun yang hanya mampu diumbar di dalam hatinya

"huft, sekarang aku lega. Aku pikir kau akan menjauh dariku. Dan kupikir kata-kata si raksasa itu benar. Tapi sekarang aku sedih karna aku harus kembali ke lapangan terbang. Jadi, kuharap kau tidak akan merindukanku, maksudku kau harus merindukanku karna aku akan ke Thailand selama beberapa bulan. Kutitipkan raksasa imutku padamu. Jangan biarkan dia dekat-dekat dengan lelaki atau perempuan lain selain dirimu. Kuharap kau mengerti bahwa ini persetujuanku untuk hubungan kalian. Jadi, selamat tinggal"

wanita bermata bulat itu mengecek jam tangannya selama beberapa detik sebelum mengecup singkat pipi kiri Baekhyun. Baekhyun tersenyum ketika wanita itu melambaikan tangannya tanda perpisahan.

Baekhyun membuntut di belakang Chanyeol hingga pintu rumah utama. Ia sekali lagi melanbaikan tangannya ketika Park Yoora sudah duduk di dalam mobil Jazznya

"Jaga Chanyeolku!-maksudku Chanyeolmu dengan baik. Aku akan membelikanmu hadiah jika kau berhasil"

Chanyeol segera menggeleng sebaik saja mobik berwarna putih itu melesat.

"apa kau baik-baik saja Baek"

"ya...mungkin"

•●•●•●•●•

"kau bahkan tak pernah memberitahuku bahwa noona-mu sefanatik itu terhadapku"

"aku bahkan tak menyangka bahwa noona-ku akan sefanatik itu saat melihatmu"

"hentikan semua 'bahkan' ini, jadi sila beritahu sejak kapan noona-mu sepertu ini terhadapku"

Chanyeol kembali ke kursi pianonya ketika Baekhyun yang berdiri manis disebelahnya mulai bertanya. Mau tak mau Chanyeol harus menjawab bukan? Meskipun Chanyeol memang ingin memberitahu Baekhyun

"sejak kau memerhatiku dari semak sebelah rumah...mungkin"

Baekhyun menerjapkan matanya perlahan sembari memutar kembali memori otaknya. Jadi, Chanyeol mengetahuinya? Dan sekarang Baekhyun tidak akan berkata 'mau ditaruh dimana mukaku' karna pada kenyataannya memang tidak ada tempat bersembunyi disini. Tidak lucu jika Baekhyun tiba-tiba berlari ke arah belakang pintu ruangan dan berteriak 'aku malu dan ingin menutup mukaku!'

"lanjutkan ceritamu"

Chanyeol hampir tersedak melihat wajah memerah Baekhyun. Apa dia semalu itu? Tapi pria bertelinga peri itu tetap berdehem sebagai tanda penyambungan cerita

"aku tak tau, tapi dia mulai bertanya tentangmu dan berkata bahwa kau adik iparnya"

WTH?!

Kini Baekhyun yang tersedak. Buktinya Chanyeol sudah melesat ke dapur untuk mengambil air.

Baekhyun meraba keningnya yang kini berkeringat. Tanpa memikirkan apa-apa, Baekhyun berjalan mengikuti arah keberadaan Chanyeol. Ada sesuatu yang harus ia tanyakan iaitu...

"mengapa kau menjauhiku?"

Chanyeol yang tengah menarik pili dispenser terlepas tiba-tiba, bukan karna kaget dengan pertanyaan Baekhyun melainkan karna Baekhyun memegang tangannya yang tengah memegang pili dispenser

'Apa arti semua ini Baekhyun?!'

"Kau gila Yeol? Airnya meleleh kemana-mana?"

DEG

Chanyeol segera memerhati lantai yang ia pijaki, benar kata Baekhyun "apa yang kau pikirkan Yeol?"

Chanyeol tidam memperdulikan pertanyaan Baekhyun malah berjalan untuk mengambil pel lantai

Chanyeol sibuk membersihkan lantai dengan cara yang tak benar tanpa memperdulikan Baekhyun yang tengah mendekatinya untuk menagih jawaban.

"Chanyeol kau belum menjawab perta-akh!"

Chanyeol yang telah yakin sebelumnya bahwa perkara sebegini akan berlaku langsung menahan tubuh Baekhyun dari mencium lantai

"Sekarang aku tanya. Kapan saja kau bisa bersabar dan diam?"

Setelah itu yang Baekhyun tau hanya Chanyeol menggendongnya menuju kamar. Kamar Chanyeol. Baekhyun bahkan tak tau bahwa dia sudah terbaring di ranjang Chanyeol sanking gugupnya

"kau diam disitu dan aku akan bercerita"

Baekhyun yang baru saja akan bangkit langsung menghempaskan tubuhnya. Pria bermata sipit itu buru-buru duduk manis sementara Chanyeol mengambil posisi disebelah Baekhyun

"aku takut"

Baekhyun yang semula memancarkan senyuman lebarnya langsung musnah ketika mendengar ucapan Chanyeol barusan. Apa katanya? maksudnya?

"aku takut jika aku berbahaya bagimu"

Baekhyun kembali pada wajah datarnya. Sementara Chanyeol sibuk mengelamun disebelah, Baekhyun pula sibuk memikirkan arti ucapan Chanyeol. Apa yang berbahaya? Apa Chanyeol adalah vampire seperti yang wujud di film-film barat? Lalu Baekhyun aku ikut menjadi vampire karna Chanyeol menghisap darahnya dan-

"Apa kau tidak berpikir bahwa kau selalu dalam bahaya setiap kali aku disisimu"

Mau tak mau Baekhyun terpaksa menghentikan fantasinya tentang vampire ketika Chanyeol tiba-tiba membuyar lamunan konyolnya. Sekarang yang muncul dalam pikirannya adalah semua memori yang pernah mereka lalui

"aku membuat asma-mu kambuh padahal itu sudah lama sejak sembilan tahun yang lalu. Dan kau kembali terserang penyakit itu sejak aku menyekapmu"

"Kau juga hampir mati ketika aku menindihmu"

"dan-"

"Yeol, aku harus pulang"

Chanyeol menerjap kecil. Baekhyun berlalu begitu saja setelah mengatakan 'Yeol, aku harus pulang' dan mengapa sekarang Chanyeol merasa bahwa Baekhyun akan menjauhinya? Jadi benar, ini salahnya kan?

•●•●•●•●•

"kumohon Luhan. Hanya kau yang bisa membantuku. Aku perlu waktu untuk menetapkan semuanya"

'apa kau gila? Sekali lagi aku tanyakan idiot! Siapa yang akan memainkan pianonya?!'

"tidak usah memanggilku idiot! barbie jadi-jadian! Kau bisa menyuruh adik kelas kesayanganmu untuk bermain piano!"

'Aku tida punya adik kelas kesayangan Bacon!'

"berhenti menghinaku. Bukankah kau pernah berkata bahwa Sehun ahli dalam permainan piano?"

'apa yang kau maksudkan-'

"aku sudah menghubunginya dan dia telah bersetuju. Tidak ada pembantahan. Terima kasih"

TUT TUT TUT

Baekhyun kembali mengotak-atik ponselnta sebaik saja sambungan terputus

Jung

KLIK

butuh beberapa detik sehingga orang diseberang sana mengangkat panggilan Baekhyun. Baekhyun tersenyum ketika orang disana mulai menyapa

'Halo'

"ini Byun Baekhyun, sonsaengnim"

'mengapa dengan suaramu Baekhyun'

Baekhyun hampir saja melepaskan tawanya ketika suara serak yang dia buat-buat berhasil membutakan pria paruh baya itu

"aku terserang demam sejak sore tadi dan lebih buruk ketika batuk yang menyerangku tak bisa berhenti. Jadi kurasa aku tidak-"

'tidak Baekhyun, kau masih sempat menyembuhkan suaramu sehingga hari pertandingan'

Baekhyun seketika membulatkan matanya. Ini gila dan pemaksaan. Walaupun Baekhyun hanya berpura-pura, setidaknya dia harus memberi cuti

"tapi aku belum sempat berlatih. Suaraku akan hilang jika dipaksakan"

'hentikan semua alasanmu Byun Baekhyun. Aku tidak ingin mendengar alasanmu'

Baekhyun hampir saja melempar ponselnya jika dia tidak ingat betapa mahalnya ponsel yang sedang ia genggam kuat sekarang. Baekhyun kembali menekan suaranya agar terdengar serak

"selama ini aku diam. Tapi sekarang aku akan berterus terang. Cukup menindas semua muridmu semenjak mereka adalah manusia biasa sepertimu. Dan juga bukan robot sekolah. Apapun itu, aku tidak akan menghadiri pertandingan bodoh seumpama kotoran telingamu itu. Maaf jika aku terlalu tidak sopan, karna kau si tua sangat menyebalkan. Dan penggantiku sudah aku siapkan. Oh Sehun dan Xi Luhan. Selamat malam"

TUT TUT TUT

selang beberapa menit, Baekhyun kembali mengetik sesuatu pada layar ponselnya

"Yixing-a. Apa kau ada dirumah?"

"aku akan menginap untuk beberapa malam disana"

"terima kasih

•●•●•●•●•

"Apa Baekhyun ada dirumah?"

"maaf tuan, Tuan Baekhyun sedang tidak dirumah. Kemarin malam dia pergi membawa tas besar"

Chanyeol menggaru kepalanya yang tak gatal, sedikit tidak nyaman dengan panggilan tuan dari penjaga rumah Baekhyun. Tapi Chanyeol tidak terlalu memikirkannya karan tujuannya adalah mencari Baekhyun

"dan saya tidak tau keberadaanya, tuan"

Chanyeol baru saja hendak berucap, tapi dia kembali mengatupkan mulutnya ketika penjaga itu menjawab tanpa disoal

"terima kasih pak"

Chanyeol segera memutat badannya ke arah bertentangan ketika ucapan terima kasihnya telah dibalas dengan anggukan

'jadi, dimana aku bisa menemukan Baekhyun?'

Chanyeol tetap berjalan disepanjang jalan rumah taman ini semenjak dia menghubungi Sehun tadi. Sehun hanya memberinya alamat dan dengan polosnya Chanyeol mencari alamat tersebut

Sekarang langkah Chanyeol terhenti didepan sebuah pagar besar. Tanpa berpikir empat kali, Chanyeol langsung menekan bel yang ada disamping pagar tersebut

Tak lama muncul penampakan pria dari dalam rumah yang Chanyeol yakini adalah Luhan. Tunggu kenapa ada Luhan?

Mata Chanyeol tiba-tiba berjalan ke arah pagar didepannya yang terbuka dengan sendirinya. Chanyeol berjalan masuk tanpa menunggu persetujuan pemiliknya, toh Chanyeol juga tidak tau siapa pemilik rumah ini

"jika kau mencari Baekhyun, Baekhyun tidak ada disini"

Chanyeol tidak meladeni ocehan Luhan sejak rahangnya jatuh melihat Sehun didalam sana tanpa memakai...baju

"kau apakan temanku?" Kini mata bulat Chanyeol yang tak bisa mengecil pasca melihat keadaan Sehun didalam beranjak ke pria cantik yang tengah menahan pintu dari terbuja lebar

"bukan urusanmu"

BRAK

"cepat pergi sebelum pagarmu tertutup!"

Sekarang Chanyeol merasa bahwa dia diusir mentah-mentah oleh pria jadi-jadian tadi. Perasaan menyesal mulai membanjiri tubuhnya ketika mengingat kembali pesan Sehun yang menyuruhnya kesini

"sialan"

"mengapa tiba-tiba? mengapa tiba-tiba Baekhyun pergi? mengapa tiba-tiba Jung sonsaengnim menjadi baik? mengapa?"

•●•●•●•●•

"rumah-ku tidak seluas rumah-mu Baek. Jadi kuharap kau tak akan alergi"

"Kau berlebihan Yixing"

Pria berlesung pipi itu hanya tersenyum manis sambil merapikan beberapa barang di ruang tamunya

TING NONG TING NONG

Baekhyun tidak meladeni Yixing yang sekarang sudah tak terlihat. Baekhyun segera menghempas tubuhnya ke dalam sofa empuk dibelakangnya ketika bantal kecil berwarna abu-abu itu berhasil ia raih

"kau bisa meletakkan ice cream-nya dikulkas"

Baekhyun memutar kepalanya menghadap seseorang yang tengah membawa wadah berwarna ungu

"Suho?"

Pria yang tengah membawa wadah tu langsung menatap asal suara ketika namanya disebut

"Baekhyun?"

keduanya terdiam hingga Yixing datang dan mengambil alih wadah tadi sambik berkata "sepertinya kalian saling mengenal. Lanjutkan perbincangan kalian"

"aku pikir kau benar-benar sakit"

Baekhyun hanya tersenyum mendengar ucapan ringjas Suho. Dia membenarkan posisi duduknya ketika Suho sudah duduk tenang di sofa bertentangan

"well, aku sangat malas-"

"kau tau, Chanyeol sedari tadi mencarimu. Rupanya kau disini"

"jangan beritahu siapapun aku disini"

"ya ya ya"

Baekhyun kembali meraih bantal sofa tadi ketika sebelumnya dia membulatkan mata seakan ingin memakan Suho

"untuk apa kau disini?"

"jawab dulu, mengapa kau disini"

"Aku tinggal dirumah sebelah"

Baekhyun hanya mengangguk dan seterusnya dia membuka mulut

"aku hanya ingin memastikan perasaanku saja"

"perasaan pada Park...Chanyeol

UHUK UHUK

Suho segera merampas air yang ada di atas meja sesaat setelah dia mendengar nama Chanyeol

"dan aku berkata wow"

•●•●•●•●•

Seminggu berlalu dengan sangat cepat. Bahkan lebih cepat berbanding larian si kura-kura. Tak ada yang berubah. Semuanya terlihat sama. Kecuali pria tinggi yang tengah menyeret langkahnya kekelas ini

Park Chanyeol. Hampir dianggap orang gila jika tidak memakai seragam sekolah. Bahkan sekarang tidak ada yang berani bertanya tentang keadaannya kecuali pria bernama Suho. Pria yang setiap hari tak pernah absen untuk menanyakan kabarnya semenjak seminggu yang lalu.

Seperti hari ini. Suho kembali merangkul bahu Chanyeol, walaunpun agak sedikit susah melihat perbedaan tinggi mereka yang agak ketara

"apa kabarmu hari ini?"

"tidak baik-baik saja"

"ayolah Yoda. Kau harus berjalan jangan berhenti seperti pecundang seperti ini"

"ya, setelah aku melihat Baekhyun dengan mataku sendiri"

Yap. Suho kembali mendapat jawaban sama. Lelaki berkulit albino itu segera menarik kembali lengannya dan memasang wajah hampa. Chanyeol sepertinya sangat terpuruk sementara Baekhyun juga sama seperti Chanyeol walau bagaimanapun dia menyembunyikannya. Ayolah mereka berdua terlalu naif, ralat, Baekhyun terlalu memaksa sedangkan semua sudah tau perasaan sebenarnya

Semuanya berjalan lancar hingga guru matematika tambahan melumpuhkan semuanya dengan berteriak "Park Chanyeol. 12%!"

Semua mata didalam kelas serentak membulat. Ini semua pasti mimpi. Chanyeol berdiri tanpa rasa bersalah, mendekat ke arah meja guru

"jangan ulangi ini lagi. anda membuat sekolah kecewa termasuk saya"

Setelahnya guru bernama Nana itu segera berdiri lalu berkata "masih ada 30menit. Jika kalian ingin tau nilai masing-masing, temui saya diruang guru"

Guru perempuan itu lekas keluar dari kelas dengan wajah kecewanya

Seketika kelas itu menjadi bising atas bisikan-bisikan murid didalamnya. Chanyeol tau ini salahnya, tapi tak dia perdulikan sama sekali

"sepertinya Baekhyun harus bertanggungjawab"

•●•●•●•●•

"mengapa aku harus mengikuti ucapanmy?"

Suho menggeram untuk kesekian kalinya saat Chanyeol berkeras untuk tak mengikuti ucapannya

"ayolah Yoda, kau takkan rugi. Sekarang nyalakan mobilmu dan memandu ke arah rumahku dan kujamin kau akan bahagia"

sekarang Chanyeol menyerah dan hanya menuruti suruh pria disebelahnya

Perjalan ke rumah Suho cukup memakan waktu yang banyak. Dan sekarang Chanyeol merasa ingin memakan Suho hingga koma ketika dengan seenak dahinya dia menyuruh Chanyeol masuk ke rumah yang entah siapa pemiliknya

"kau gila Suho. Sekarang biarkan aku pulang sebelum aku benar-benar akan memakanmu"

Suho buru-buru mencegat Chanyeol dari berhasil membuka pintu mobilnya. Dan dengan penuh paksaan dia mendorong tubuh Chanyeol hingga sampai di depan pintu utama rumah tersebut

Tidak ada cara lain. Suho harus bermain kasar sebelum semuanya akan menjadi lebih parah. Jadi dia menekan bel sambik menahan kerah seragam Chanyeol. Takut-takut raksasa itu melarikan diri

Suho mendorong tubuh Chanyeol medekat ke arah pintu rumah dan segera kabur ketika pintu rumah terbuka perlahan. Dia yakin mereka akan bertemu semenjak Yixing belum pulang dari sekolah. Jadi yang akan membuka pintu pastinya Baekhyun

"Chanyeol?"

"Baekhyun?"

Baekhyun langsung berkomat-kamit tak jelas ketika melihat kelibat Suho berlari terbirit-birit dari tempat persembunyiannya 'sialan'

Baekhyun segera menunduk dan memutar badannya perlahan. Dia ingin enyah dari hadapan Chanyeol tapi tak mudah ketika pria tinggi itu malah mencegat lengannya dan menariknya dalam pelukan hangat yang sangat Baekhyun rindukan

"jangan lakukan ini lagi Baek. Aku sangat merindukanmu"

Baekhyun sedaya upaya melepaskan pelukan Chanyeol tapi terhenti ketika ria yang lebih tinggi berkata "kumohon"

Akhirnya pertahan Baekhyun runtuh saat itu juga. untuk beberapa detik, tangannya menjalar ke leher Chanyeol. Baekhyun menyesal, sedikit menyesal telah meninggalkan Chanyeol. Tapi setidaknya dia sudah tau betapa dia memerlukan Chanyeol setiap saat. Dan saat ini. Baekhyun hanya berharap semuanya takkan berakhir

"kau tak menangis Baek?"

Baekhyun hanya menggeleng sambil menatap Chanyeol dan pastinya masih belum melepaskan lengannya dari leher Chanyeol

"Aku sangat...mencintaimu"

mata Chanyeol membulat. Walaupun suara Baekhyun menegcut diakhir ucapannya, Chanyeol masih dapat mendengar apa yang dia katakan

"aku juga"

Baekhyun tersenyum sambil menahan pipinya yang merekah

"Sekarang aku memberitahumu bahwa ini semua bukan salahmu. Aku pergi hanya untuk memastikan perasaanku semenjak kau sering menyatakan perasaanmu secara gamblang. Dan sekali lagi aku katakan, ini bukan salahmu"

Chanyeol tersenyum manis dan mengecup dahi Baekhyun dalam sementara yang dicium memejamkan matanya mencoba menyerap semua ketulusan Chanyeol

"Sekarang aku akan memulainya lagi"

dahi Chanyeol berkerut mendengar ucapan Baekhyun, tapi tak berlangsung lama ketika Baekhyun mulai menempelkan bibirnya pada bibir Chanyeol

Chanyeol tak tau bahwa Baekhyun akan seagresif ini. Yang dia tau kini Baekhyun mulai menghisap lidah dan bibirnya. Chanyeol hanya mengikuti permainan Baekhyun sementara tangannya masih betah pada pinggang Baekhyun

Baekhyun melepas pagutan ketika dia sendiri kehabisan oksigen "berjanjilah bahwa setelah ini semua yang akan terjadi bukan salah diri masing-masing. Tetapi kesalahan kita berdua. Dan akan diselesaikan bersama-sama"

Chanyeol hanya mengangguk dan tersenyum melihat keimutan Baekhyun dari jarak sedekat ini

"Yeol. Dari dulu aku ingin katakan bahwa bibir mu membuatku ingin memakannya"

"jika begitu, makan saja"

tiba-tiba Baekhyun tersenyum penuh makna. Chanyeol hanya terdiam sehingga Baekhyun berkata "lanjutkan dirumahku"

•●•●•●•●•

"ini mobil Chanyeol"

Luhan sama sekali tak meladeni ucapan kekasihnya. Ya, kalian terlalu sibuk dengan perjalanan hidup Chanbaek sehingga tak menyadari bahwa Hunhan juga sudah berada di dalam satu hubungan

Luhan mengangkat lengannya untuk mengetuk pintu kamar Baekhyun, tetapi rahangnya yang terjatuh

"ahhh Yeol"

"sempit ahh"

"so big Yeol ahh I can't"

"faster ahh"

"Hun, sepertinya Baekhyun sedang sibuk. Kita harus pulang"

•●•●•●•●•

Chanyeol sempat mengecup dahi Baekhyun sebelum keduanya terlelap setelah permainan panas pertama mereka

keduanya tersenyum dalam tidur dengan moto 'bukan salahmu, tapi kita'

•●•●•●•●• THE END •●•●•●•●•

maaf ya endingnya kurang pas. Lagipula ini ff pertama aku, jadi belum cara endnya. jadi... semoga kalian suka.

Sebelumnya maaf apdet lama banget jujur lagi gaada ide. Apalagi sekarang masih nunggu ff lightsaber dari Dandelionleon *ngehehehe. Oya, ntar kapan kapan aku apdet ff baru, dengan judul Admire. covernya udah aku post di ig

Sekian~

review juseyo~