My Husband Is Park Chanyeol

ChanBaek

M

.

.

.

"Paman~"

"N-ne?"

"Rasanya aneh. Seperti sebelah putingku yang tidak dihisap Jackson merasa tegang"

"T-tegang?"

"Ne~"

Sekali lagi Chanyeol meneguk liurnya kasar, ia masih tatapi puting Baekhyun yang tengah ditekan-tekan oleh anak itu. Mem uat libidonya semakin meningkat karena memperhatikan hal seindah ini.

Diangkat tangannya untuk memegangi tangan Baekhyun yang sebelumnya menekan tonjolan kecoklatan itu. Ditatapnya dalam mata anak itu, memberikan kecupan singkat dibibir anak itu sebelum perhatiannya jatuh pada puting Baekhyun lagi.

"B-bolehkah aku menggantikan Jackson mengulum yang satunya?"

"P-pamanhh~"

Dengan mata terpejam Baekhyun berusaha menyingkirkan kepala Chanyeol diperpotongan lehernya. Ia dorong bahu lelaki tampan itu agar menjauh darinya. Ia masih ingat Jackson diantara ia dan juga Chanyeol, jadi ia pun harus memperhatikan jarak antara dirinya dan Chanyeol agar Jackson yang sudah tertidur itu tak akan terganggu.

"Aku bisa melakukannya sendiri! Aku tak mau sampai Jackson terbangun"

"Tapi Baek ka-"

"Tidak akan!"

Baekhyun pun memunggui Chanyeol dan juga Jackson, pakaiannya masih belum terkancingi karena ia masih merasa aneh pada puting kirinya yang sedikit menegang karena tak disentuh.

Penasaran, diam-diam Baekhyun mengangkat tangan kanannya, menyentuh pucuknya dengan jari telunjuk dan menekannya pelan. Rasanya menjadi lebih baik ketika ia menekan puting itu dengan jari telunjuknya, tetapi ia tetap tidak bohong kalau rasanya masih kurang.

Masih secara diam-diam tanpa sepengetahuan Chanyeol, Baekhyun menjepit putingnya diantara telunjuk dan ibu jarinya, memilinnya perlahan yang mana membuat matanya terpejam secara tak sadar. Bibirnya ia jaga rapat-rapat ketika ia mulai menikmati permainannya sendiri.

Bohong kalau Chanyeol tak mengetahui apa yang Baekhyun lakukan, salahkan saja nakas aluminium yang berada disebrang ranjangnya. Walaupun bayangan Baekhyun yang tengah memilin putingnya tidak terlalu jelas tapi Chanyeol bisa tahu dari deru nafas anak itu yang terdengar memburu diruang sesepi kamarnya ini.

Ia telusuri dari bahu hingga pergelangan tangan Baekhyun dengan jari telunjuknya, membuat tubuh Baekhyun langsung meremang dan ia menghentkan aksi pilinannya. Ia memejamkan matanya, merasakan hembusan nafas Chanyeol pada tengkuknya sebelum merasakan tangan lelaki itu memegangi tangannya yang masih berada didepan dada.

"A-aku tidakhh ingin! Nhh"

"Tapi tubuhmu menginginkannya!"

"T-tidak a-ahh, lupakan s-sajahh"

Masih tetap menjaga jarak dengan Jackson, kembali Chanyeol kecupi tengkuk Baekhyun dengan tangannya yang baru saja menggantikan pekerjaan Baekhyun. Sebuah kissmark keunguan kini nampak dengan sangat jelas ditengkuk Baekhyun, Chanyeol bersorak menang didalam hati melihat maha karyanya, mengabaikan kalau Baekhyun bisa saja merajuk kalau tahu ada kissmark yang bisa diekspose oleh publik ditengkukmya.

"M-menyingkir!"

Baekhyun menjauhkan tangan Chanyeol dari dadanya, membuat lelaki tampan itu menjauhkan wajahnya yang hendak saja mencium pipi Baekhyun dan malah menatap anak itu yang kini masih memejamkan matanya dengan nafas tak karuan.

Masih setia pada tempatnya Baekhyun langsung merapikan pakaiannya, mengancinginya dengan cepat dan segera berbalik untuk melontarkan kekesalannya pada pria yang lebih dewasa darinya. Matanya membulat kesal dengan tangan menyilang didepan dada untuk melindungi asetnya.

"Paman belum boleh menyentuhnya!"

"Apa?"

"Tentu saja semua asetku!"

"Ba-"

"Baik yang atas maupun bawah! Aku tak akan mengizinkan sampai kau sembuh dan kita kembali kerumah!"

"Aku sudah sehat dan besok akan kembali kerumah!"

"Yasudah tunggu saja sampai besok!"

"Tapi aku ingin sekarang Baek, kau tidak merindu-"

"Jangan bahas masalah rindu! Aku jauh lebih merindukan paman asal paman tahu! Tapi tidak untuk kali ini! Tidurlah, ini sudah malam!"

Dan mata Baekhyun langsung terpejam, mengabaikan tatapan terkejut dari Chanyeol yang sudah ia duga kalau ia berani menolak permintaan lelaki itu. Baekhyun bukanlah tipe anak pembangkang pada orang tua, namun saat ini ia benar-benar tak ingin mengganggu masa penyembuhan Chanyeol. Ia akan menunggu dengan sabar sampai Chanyeol sembuh dan bisa bermain dengan bebas bersamanya.

.

.

.

"U-ughh"

Suara itu terdengar ketika Baekhyun baru saja membuka pintu kamar mandi dikamar Chanyeol, beruntunglah tak ada yang mendengarnya karena kamar inap pamannya masih sangat sepi. Chanyeol menjadi satu-satunya saksi walau nyatanya Jackson si pelaku juga mendengar bagaimana lelaki manis lulusan luar negeri itu merintih sakit.

"B-baek?"

"Jackson menggigitnya~"

"A-ah, begitukah? Dia sudah tidak menangis, s-sepertinya kau bisa berhenti dulu"

"Sakit~"

"Bersabarlah sayang, paket susunya akan datang siang ini"

Baekhyun mengangguk dengan sangat manis dan segera menghampiri Chanyeol yang tengah bersantai sambil memandangi pemandangan jalan raya dari jendela kamarnya. Diterimanya Jackson dengan senang hati ketika Baekhyun memberikannya.

"Apa kau melakukan sedikit pemanasan sebelum menyusui Jackson?"

"Perlukah?"

"Entah, aku tidak tahu. Tapi bukannya lebih baik memilin atau memijat...dadamu s-sebelum kau menyusui Jackson?"

"Haruskah? Aku tak pernah tahu"

"A-aku juha tidak tahu. Hanya logika"

"Aku tidak tahu karena aku pikir aku tidak perlu mengetahuinya"

"T-terserah kau saja Baek!"

"Yasudah, aku mau ke kamar mandi dulu. Putingku menegang lagi"

"M-mwo?"

Dengan hati yang bersahaja Baekhyun melenggang pergi meninggalkan Jackson dan juga Chanyeol. Ia harus mandi dan juga menyelesaikan tegang di putingnya. Tubuhnya pun menghilang didalam kamar mandi setelah Chanyeol mendengar sebuah nyanyian disenandungkan oleh anak manis itu, Chanyeol yakin sekali kalau perasaan anak itu pasti sudah membaik setelah menangis berjam-jam kemarin.

"Kau sangat beruntung bisa merasakan susu mommy dengan bebas. Sedangkan Daddy? Mommy bahkan tidak mengizinkan Daddy untuk melihat susu miliknya"

Jackson yang tak mengerti apapun saat itu hanya tertawa ketika Chanyeol memberikan banyak kecupan diwajahnya. Chanyeol sendiri merasa senang mendengar Jackson tertawa dengan gembira, melupakan fakta bahwa ia sangat iri pada anaknya yang tampan itu karena bisa dua kali berturur-turut menyusu secara langsung pada Baekhyun dalam waktu kurang dari 20 jam.

"Chanyeol?"

"Ah, Noona"

"Mana Baekhyunnie?"

"Ada didalam kamar mandi"

"Semalam kau tidak macam-macam pada anakku kan?"

"Tanyakan saja sendiri padanya!"

Dengan wajah kesal Chanyeol kembali memunggungi Noona-nya, memilih menghibur Jackson dengan pemandangan jalan pagi hari itu.

Ia merasa sangat kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Minkyung. Bukankah pertanyaan Noona-nya terlalu menusuk, seolah-olah Chanyeol adalah pria brengsek yang senang mempermainkan tubuh dan juga perasaan anak kecil seperti Baekhyun.

"Dokter Ahn bilang kau boleh pulang setelah kau menjalani pemeriksaan sekali lagi"

"Ohiya, pemeriksaan pagi ini."

"Kau terlambat 10 menit ngomong-ngomong!"

"Noona, bisa aku titip Jackson? Katakan pada Baekhyun untuk rapi-rapi karena kita akan pulang satu jam lagi. Dan, apa Ayah sudah tahu?"

"Ne. Ayah ada pertemuan pagi ini. Ia minta maaf karena tidak bisa merayakan kepulanganmu, tapi ia berjanji akan pulang pada makan malam nanti"

"Ne. Kalau begitu aku akan menemui dokter Ahn sekarang"

"Hati-hati!"

Chanyeol segera bergegas, hendak saja berlari pergi sebelum ia melihat wajah Jackson yang ingin menangis. Ia pun menghampiri anak itu, mengecup pipinya sambil mengatakan pada Jackson kalau ia akan kembali secepatnya hingga anak itu diam. Tak sampai memakan waktu lama, setelah tak ada tanda-tanda Jackson akan menangis, Chanyeol pun benar-benar meninggalkan kamarnya.

"Sekarang kau sudah sangat dekat dengan Daddy-mu eum? Tapi...sekarang kau disini saja bersama Eomma~"

Eomma Byun tersenyum, memeluk Jackson dan menggendong anak itu sambil terus berceloteh tanpa peduli Jackson akan menanggapinya atau tidak.

"Apa tak apa kalau aku meminta Jackie memanggilku Eomma? Ah tak apa, pasti Baekkie tidak akan marah. Jackie, eomma menyangimu~"

.

.

.

"Hati-hatilah! Jangan lakukan pekerjaan berat dahulu, ganti penutup luka-lukamu setiap habis mandi, jangan lupa minum obatmu, ing-"

"Aku mengerti dokter~"

"Ah baiklah, kalau begitu hati-hati"

"Ne, terimakasih"

Dengan penuh senyum Chanyeol memeluk dokter paruh baya dihadapannya. Pakaian rumah sakitnya kini sudah tergantikan oleh kaos hitam yang tertutupi bomber dan juga jeans hitam yang disandingkan dengan sneakers putih dari merk terkenal. Kacamata hitam juga sudah bertengger dibidungnya, makin menunjukkan aura tampan yang memang sudah dimiliki Chanyeol sejak lama.

"Baek, Eomma akan membawa Jackson jalan-jalan sebentar. Kau pulang saja bersama Chanyeol. Kim ahjussi sudah menunggu kalian berdua"

"Eomma mau kemana?"

"Hanya jalan-jalan, kau tahu sendiri Eomma sangat senang menghabiskan waktu dengan anak-anak. Dan mungkin pulangnya Eomma akan mampir sebentar untuk membelikan perlengkapan seperti pakaian, susu, ma-"

"Tidak perlu. Jangan beli susu-nya!"

"Kenapa?"

"J-jackson alergi susu kemasan!"

"L-lalu?"

Chanyeol yang menyadari perbincangan Noona dan juga keponakannya langsung menghampiri setelah ia berpamitan pada dokter Ahn dan juga Arin yang mengantar kepulangannya sampai Lobby rumah sakit. Dia rangkul pinggang Baekhyun yang membuat anak itu menoleh padanya dalam sekejap.

"Aku sudah meminta Tiffany untuk memesan 30 botol susu sapi segar. Noona tidak perlu khawatir"

"T-tiga puluh? Paman serius?"

"Ne, tentu saja. Karena susu segar hanya bertahan 3-4 hari aku hanya memesan 30, kenapa? Apa kurang? Aku akan menghubungi Tiffany kalau beg-"

"Tak perlu! Itu sudah sangat banyak, siapa yang akan menghabiskannya?"

"Terlalu banyak? Kupikir malah kurang"

"Sudah terserah kalian saja! Aku dan Jackson akan pergi sekarang saja! Kalian pulanglah. Ingat, kalau sampai rumah jangan melakukan yang macam-macam karena kalian hanya berdua disana!"

"Memangnya para maid kemana?"

"Kakekmu meliburkannya sampai Chanyeol kembali kerumah. Mungkin besok mereka akan mulai bekerja lagi. Ingat, jangan macam-macam! Terutama kau Park!"

"Ck, tenanglah. Aku tidak akan macam-macam, paling hanya meniduri Baekhyun"

Chanyeol berbisik diakhir kalimatnya. Walau Minkyung tak mendengarnya, Baekhyun dapat mendengar Chanyeol dengan jelas. Ingat posisi mereka yang masih berdampingan karena Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun.

Keduanya melambai pada satu-satunya wanita dikeluarga mereka, Baekhyun tersenyum dan sempat memberikan flying kiss pada Jackson yang mengintip dari balik jendela mobil.

"Ayo kita pulang dan buat adik untuk Jackson"

"M-mwo? Tidak mau!"

"Tidak ada penolakan karena aku sangat menginginkanmu!"

Dengan tak sabaran Chanyeol membuka pintu mobilnya untuk Baekhyun, mendorong anak itu masuk yang mana langsung dihadiahi gerutuan kesal oleh Baekhyun. Chanyeol tak peduli dan duduk dengan tenang disamping anak itu, menyempatkan diri membalas sapaan dan juga beberapa pertanyaan Kim ahjussi sebelum ia menyandarkan kepalanya pada bahu Baekhyun.

Tangannya memeluk lelaki manis itu yang langsung disambut tatapan terkejut dan juga tak terima dari Baekhyun. Anak manis itu melirik kearah Kim Ahjussi takut-takut kalau ahjussi itu memperhatikannya.

"Paman~"

"Ssst!"

Baekhyun mempoutkan bibirnya karena kesal, tetapi tidak berniat mengusir Chanyeol dari posisinya sekarang. Tangannya malah memegangi tangan Chanyeol yang memeluk perutnya. Kepalanya pun sudah menyandar dikepala Chanyeol yang bersandar dibahunya. Ah, manis sekali. Mata keduanya pun terpejam, tak berusaha untuk memecah keheningan sama sekali karena keduannya merasa memang masih membutuhkan istirahat.

.

.

.

"Ayo Baekkie antar ke kamar Paman"

Setelah melepas rindu dengan kamarnya dirumah Kakek Park, Baekhyun kembali ke ruang tamu dimana Chanyeol masih duduk disana sejak mereka sampai. Ditangannya lelaki itu terdapat sebuah perban putih yang baru saja ia lepaskan dari kepalanya.

Setelah mengetahui apa yang Chanyeol lakukan Baekhyun segera bergegas menghampiri Pamannya. Merebut lilitan perban ditangan Chanyeol dan langsung menatap tajam lelaki yang kini masih bersandar di sofa.

"Apa yang Paman lakukan?"

"Apa? Aku hanya duduk!"

"Kenapa perban dikepala Paman dilepas?"

"Perban itu lepas sendiri"

"Sungguh?"

"Tentu saja."

"Baik, aku akan ganti perban Paman dengan yang baru"

"Ayo kekamarku! Ganti perbannya dikamarku saja Baek"

Tanpa merasa curiga atau semacamnya Baekhyun hanya menurut, memapah Chanyeol yang sudah tidak kenapa-napa itu menaiki tangga hingga kamarnya. Dengan sangat sabar Baekhyun menjaga Pamannya walau sesekali ia ingin berteriak ketika Chanyeol berkali-kali memukul bokongnya.

"Tunggu disini, aku akan mengambil perbannya"

"Kotak peralatannya ada didalam tas-ku Baek!"

Setelah membantu Chanyeol untuk duduk diatas ranjangnya, Baekhyun langsung bergegas membuka tas Chanyeol. Mencari gumpalan perban baru yang akan ia gunakan untuk membalut luka Chanyeol didahinya.

Baekhyun tersenyum ketika ia mendapatkan apa yang ia cari. Ia hampiri Chanyeol dengan senyum manis kebanggaannya. Dibawa tubuh manisnya untuk naik keatas ranjang Chanyeol, duduk diatas pangkuan Chanyeol dan mulai sibuk dengan alat-alatnya.

Chanyeol yang mendapati Baekhyun dipangkuannya senang bukan main, ia lingkarkan tangannya dipinggang Baekhyun ketika anak itu menumpukan tubuhnya pada lututnya yang berada disisi kanan dan kiri tubuh Chanyeol. Membuat lelaki tinggi itu makin leluasa untuk mengerjai bokong Baekhyun.

"Jangan main-main!"

"Selesaikan saja pekerjaanmu sayang!"

"A-aku tidak bisa fokus kalau paman..."

"Apa?"

Chanyeol masih bertanya, padahal sudah jelas kalau Baekhyun merasa tidak nyaman dengan bokongnya yang tengah dipermainkan oleh lelaki dewasa dihadapannya.

Chanyeol dapat melihat rona kemerahan dipipi Baekhyun saat itu, dan ia hanya bisa tersenyum ketika memperhatikannya. Ia rasa ia harus sedikit lebih sabar sampai Baekhyun menyelesaikan pekerjaannya, dan setelahnya ia baru bisa mengerjai keponakan manisnya.

"Bisa lepaskan aku? Aku sudah selesai ngomong-ngomong"

"Tak ingin lebih lama berada didalam pelukan pamanmu eum?"

"Terimakasih"

Dengan ekspresi wajah yang sedikit kesal, Baekhyun segera bangkit dari atas tubuh Chanyeol. Baru saja ia hendak meletakan kotak obatnya diatas nakas, tangan Chanyeol sudah terlebih dahulu mencegahnya. Membuat tubuh Baekhyun kembali terhuyung dan akhirnya jatuh diatas tubuh Chanyeol.

"J-jangan macam-macam paman!"

"Macam-macam bagaimana?"

"Lepaskan aku kalau begitu!"

"A-ni! Ti-dak akan! Aku sangat merindukanu sayang~"

"YAK!"

Baekhyun menjerit kaget hingga kotak obat ditangannya sudah jatuh dengan naas entah kemana. Chanyeol baru saja mengecup pipinya dan langsung menindihnya.

"Memangnya kau tidak merindukanku eum?"

"Tid- tentu saja! Jangan menanyakan hal yang sudah kau tahu jawabannya!"

"Baguslah kalau kau juga merindukanku. Jadi...tak apa kan kalau kita...melakukannya?"

"M-melakukan apa?"

Alis Chanyeol bergerak naik turun saat itu, membuat Baekhyun merasa harus berhati-hati dengan yang akan terjadi selanjutnya. Ia tatap Chanyeol dengan pandangan menusuk andalannya yang sialnya malah dihadiahi oleh gelak tawa dari pamannya.

Baekhyun mendengus pada akhirnya, mempoutkan bibirnya dengan sangat manja. Dan jangan lupakan kedua tangannya yang sebelumnya menahan dada Chanyeol kini tengah melipat didepan perutnya, ia benar-benar kesal ditertawai seperti itu oleh Chanyeol.

"O-oh, maafkan aku Baek. Habisnya kau sangat menggemaskan ketika matamu melotot seperti tadi"

"Aku membencimu asal kau mau tahu!"

"Maafkan aku eum?"

Terkutuklah wahai Chanyeol dengan segala hal indah yang ada didalam dirinya. Kenapa ia sekarang malah merendahkan tubuhnya, membuat keningnya menempel dengan kening Baekhyun. Lelaki manis dibawahnya bahkan sampai menggerak-gerakkan matanya, melirik kesana kemari untuk menghindari gugup.

"B-bukankah ini terlalu dekat paman?"

"Memang sengaja"

"B-bagaimana kalau nanti eomma pulang dan melihat kita seperti ini?"

"Hmm, sepertinya ide bagus. Aku tidak sabar melihat ekspresi eomma-mu kalau melihat kita seperti ini"

"B-baekkie tidak mau~ nanti eomma marah dan itu sangat menyeramkan. Lagipula, kalau kita ketahuan bagaimana? Nanti kalau Kakek mengirimku pergi jauh lagi bagaimana? Kalau ka-"

"Aku tidak peduli! Kau akan selalu berada disisiku Baek, pamanmu ini akan mempertahankanmu! Tak akan ada seorangpun yang bisa memisahkan kita lagi. Aku...benar-benar jatuh cinta padamu"

Mata Baekhyun rasanya benar-benar memanas sekarang, tangannya tanpa ragu membelai wajah Chanyeol. Ia bahkan menarik dagu Chanyeol agar ia dapat memberikan sebuah kecupan manis dibibir pamannya.

Rasanya melegakan, mendengar Chanyeol akan memperjuangkannya membuat Baekhyun tak bisa merasakan hal lain selain bahagia. Ia jatuh cinta pada pamannya sendiri. Dan seperti Chanyeol juga, Baekhyun berjanji akan mempertahankan pamannya, tak akan membiarkan orang lain mengganggunya dan juga Chanyeol.

"Baekkie...mencintai paman. Sangat!"

Persetan dengan Noona-nya yang bisa datang kapan saja. Chanyeol dengan penuh perasaan mulai memagut bibir Baekhyun, memperlakukannya dengan sangat lembut, seolah-olah ia tengah menyampaikan besarnya rasa rindu yang sudah lama ia rasakan.

Bukannya menolak, Baekhyun malah menyambut ciuman Chanyeol dengan senang hati. Matanya bahkan terpejam dengan tangan yang mengalung dileher Chanyeol. Bibir pink-nya yang sudah memerah terus melakukan hal yang sama dengan Chanyeol, saling menghisap bibir satu sama lain dengan penuh penghayatan.

"Aku juga sangat mencintaimu Baek!"

Ciumannya pun kembali berlanjut, saling menghisap disertai gigitan-gigitan lembut yang Chanyeol lakukan pada bibir manis milik Baekhyun. Rasanya menyenangkan, berada dalam jarak sedekat ini dengan orang tercintanya membuat Chanyeol tersenyum sendiri didalam ciumannya.

"Baek?"

Mendengar suara Chanyeol yang berbisik didepan bibirnya, membuat Baekhyun membuka matanya perlahan. Mata sayu itu kini saling beradu tatap dengan bola mata Chanyeol yang terlihat sangat lembut.

Mengerti dengan apa maksud Chanyeol memanggilnya, Baekhyun pun hanya tersenyum. Ia bahkan mengangguk beberapa kali sebelum ia mencoba untuk memagut bibir Chanyeol terlebih dahulu.

Chanyeol melepaskan bomber-nya dengan cepat tanpa melepaskan bibirnya dari Baekhyun. Dan saat Baekhyun memberikannya kesempatan beberapa waktu karena anak itu krhabisan nafasnya, Chanyeol pun langsung membuka pakaiannya. Membantu Baekhyun untuk segera membuka pakaiannya juga, seperti yang baru saja ia lakukan.

"A-aku malu~"

"Kita sudah pernah melakukannya sayang"

"Tapikan itu satu tahun yang lalu paman. Dulu dan sekarang itu berbeda"

"Ya memang berbeda. Tapi aku jamin rasanya tak akan berbeda, kau akan merasakan nikmat itu lagi. Aku janji"

"B-bukan itu maksudku, ak-hmpptt!"

Persetan dengan alasan yang akan Baekhyun lontarkan, Chanyeol cepat-cepat menambal mulutnya dan memegangi tangan Baekhyun yang memukuli dadanya. Chanyeol tersenyum menang didalam ciumannya, mengabaikan rutukan kesal yang pasti Baekhyun ucapkan didalam hatinya.

"S-sesakhh!"

"Hmm"

"Pa-mhh paman~"

Dengan sangat berat hati pun Chanyeol mengalah, mengabaikan bagaimana tatapan menusuk dari Baekhyun karena ia langsung menenggelamkan kepalanya diceruk leher Baekhyun. Ia tahu itu adalah area yang cukup sensitif bagi Baekhyun, dan tanpa ragu-ragu Chanyeol malah mempermainkannya. Bahkan tak segan untuk meninggalkan beberapa tanda kepemilikan disana.

"A-akhh, j-jangan leherkuhh"

Jemari-jemari kokoh Chanyeol bergerak untuk menyapa tubuh Baekhyun, membelai dari pinggang hingga dadanya sebelum akhirnya memilih untuk memilin nipple Baekhyun, kedua nipple-nya.

Baekhyun mengerang, melenguh menyenandungkan nama Chanyeol dengan sangat menggairahkan. Kejantanannya ia yakin kini sudah menegang, ia penasaran tetapi ia malu untuk melihatnya.

"Baek?"

"Neeehhh?"

"Aku masukkan ne?"

"Hnnnnn, masukan saja paman~"

Chanyeol menyeringai, ia kocok sebentar kejantanannya sebelum ia arahkan kedepan lubang Baekhyun. Matanya tak terlepas dari wajah manis Baekhyun yang kini terlihat sangat sexy karena peluhnya. Dan sebelum menggiring masuk kejantannya, Chanyeol pun menyempatkan diri untuk memagut bibir Baekhyun. Ia bahkan membiarkan Baekhyun menjilati bibirnya sedangkan ia sendiri mulai memasukan kejantannya secara perlahan-lahan.

"Mhhh, sak-mhh sakit mhh"

Kini Chanyeol berusaha dengan sangat perlahan, tak tega kalau misalnya Baekhyun malah merasa tersakiti nantinya. Ia mendorongnya perlahan, berusaha melakukannya sangat lembut agar Baekhyun tidak mengeluh lagi.

"D-dorong sajahhh pa-mhhh paman~"

"Yakin?"

"Nehh"

Tanpa sadar Chanyeol mengangguk, memgangi sebelah pinggul Baekhyun selama ia mencoba untuk mendorong langsung kejantanannya dengan lembut.

"Pam-akhh"

"Sakit?"

"S-sedikit"

"Kuhentikan saja?"

"J-jangan! B-bergeraklah nhh paman"

Dengan perlahan Chanyeol memulai pergerakan maju mundurnya, matanya terpejam sesekali ketika merasakan kejantanannya yang dimanjakan oleh lubang Baekhyun. Sudah lama ia tidak merasakan nikmat seperti ini, berterimakasihlah pada Baekhyun yang rela membiarkan lubangnya dimasuki tanpa syarat.

Berkali-kali Baekhyun menggeram. Ia juga memegangi lengan Chanyeol ketika ia merasa bingung harus melakukan apa, Chanyeol menusuk prostatnya berkali-kali dan ia tak tahu harus berbuat apa selain mendesah memanggil nama Chanyeol sambil memegangi lengan atas lelaki itu.

"Nhh, sampai paman, B-baekkie ahh sampai!"

"Bersamaku Baek!"

"Nehh"

Saat kejantanan Chanyeol membesar didalamnya, Baekhyun tahu kalau mereka berdua akan mencapai puncaknya tidak lama lagi. Cengkramannya makin menguat pada lengan Chanyeol. Dan saat puncaknya datang, Baekhyun membusungkan dadanya, mulutnya terbuka masih dengan mendesah merdu. Tak berbeda jauh dengan Chanyeol yang benar-benar menikmati klimaks-nya kali itu.

"Aku mencintaimu Baek"

"Berhenti mengatakan itu paman! Aku sudah tahu!"

"Lalu?"

"Lalu apa?"

"Kau mau menikah denganku?"

"Akan aku pikirkan"

"Aku butuh jawabannya sekarang!"

"Aku...baiklah. Aku mau"

"Bagus"

Chanyeol tersenyum, mengambil tempat disamping Baekhyun dan memluk tubuh keponakannya dengan sangat erat. Mengabaikan fakta bahwa mereka berdua bahkan tidak mengenakan satupun pakaian.

"Ingin melanjutkan? Siapa tahu kita bisa memberikan adik untuk Jackson"

"M-mwo?"

"Jadi, kau ma-"

"BAEKHYUNNIE~ KAU DIMANA SAYANG?"

"Sepertinya paman kurang beruntung, Eomma sudah pulang"

"Kita lakukan didepan eomma-mu!"

"M-mwo? Apa-apaan itu? Aku tidak mau! Cepatlah menyingkir! Aku ingin berpakaian, aku tidak mau dimarahi Eomma karena ketahuan bersrtubuh denganmu!"

"Ck, pakai bajumu dikamar mandiku. Aku yakin eomma-mu kini tengah berjalan menuju kamarku! Kalau kau tidak ingin ketahuan cepatlah"

"Ishh, paman jangan lupa mengenakan baju paman juga!"

"Ne sayang~"

Dengan cepat, sebelum eomma-nya malah memergokinya didalam kamar Chanyeol tanpa busana, Baekhyun segera turun dari ranjang Chanyeol. Ia memunguti pakaiannya dan segera berlari menuju kamar mandi yang ada dikamar pamannya.

Klik. Terkunci.

Cklek.

"Yeol, ada Baekhyun?"

Chanyeol agak terkejut ketika Noona-nya dengan tiba-tiba muncul dari balik pintunya. Ia tarik secepat kilat selimut tebalnya hingga menutupi dada. Tangannya disisi tubuhnya mengambil celana dalam Baekhyun yang tertinggal dan menyembunyikannya dibalik selimut.

"Hmmm, t-tidak ada Noona. Dia...tidak dikamarku"

"Kau tidak melihatnya?"

"T-tidak, sepertinya ia ada dikamarnya"

"Tidak mungkin aku sudah mengeceknya dan ia ti-"

"Mungkin ditaman belakang rumah"

"Ah kau benar, aku belum mengeceknya. Kalau begitu beristirahatlah lagi Yeol, maaf mengganggumu"

Chanyeol mengangguk, tersenyum pada Noona-nya dan memperhatikan hingga pintu kamarnya benar-benar tertutup. Ia menghela nafasnya lega ketika suara 'klik' terdengar dari pintu kamarnya, menandakan pintu itu tertutup dengan benar.

"Hampir saja"

Dan Chanyeol langsung membuang selimutnya jauh-jauh, ia punguti pakaiannya dan meletakannya didalam keranjang pakaian kotor. Ia berjalan kearah lemarinya berniat mengabil pakaian bersih, namun saat melewati pintu kamar mandinya ia malah menyeringai.

Toktoktok

"Kenapa?"

"Celana dalam-mu tertinggal diatas ranjang Baek"

Dan Chanyeol dapat mendengar banyak benda berjatuhan didalam kamar mandinya. Ia tersenyum, membayangkan betapa manisnya wajah Baekhyun yang dihiasi rona merah dipipinya.

TBC

Annyeong~

Masih adakah yang nungguin ini FF? Haha maaf, ini salahku yang ga update-update wkwk. Maaf karena telat update, maaf karena kurang panjang, maaf karena naena-nya kurang hawt, dan maaf buat typo-nya.

Makasih buat review yang udah kalian berikan buat FF ini, aku seneeeeeeeeengggg banget baca-bacanya, kalian bikin aku jadi semangat lagi ketika aku ngerasa ragu-ragu buat update hehe. Thank you so muchh honey-honeyku semuanyaaaa~ i love youuu~

Aku...gatau mau hiatus apa ngga nih wkwk, liat nanti aja hahayyy~

Mind to review?

Review juseyooooooooo~