Alis Rea naik sebelah, lalu ia menganggukkan kepalanya. "Ara~ Aku ngerti sekarang." Lalu pandangannya beralih ke dua pemuda yang menatap Rea dengan ingin tahu. "Sekarang, aku pengen tau nama kalian."
"Fujisaki Yuusuke. Tapi orang-orang memanggilku Bossun!"
"[Usui Kazuyoshi. Dan tolong, panggil aku Switch.]"
Rea langsung mendekati Switch yang masih duduk santai di depan komputernya, lalu mencengkeram leher seragam pemuda itu, dan menariknya agar pemuda itu berdiri menghadapnya. Lalu ia menatap tajam mata Switch yang tertutup kacamatanya.
"Oh, jadi kamu yang bikin Akira begini?" desisnya berbahaya. "Kamu benar-benar cocok jadi saklar lampu di dinding daripada jadi database dari Sket Club!"
Egao wa Mitai!
Summary : Rei, cewek yang gosipnya merupakan ketua geng berandalan, masuk menjadi anggota Sket Club. Dalam waktu singkat, Rei dan Switch menjadi akrab. Apa Rei masuk hanya untuk mendekati Switch?
Sket Dance by Shinohara Kenta
Semi-Canon, GaJe, Typo, dll.
This story is Mine.
DLDR, If you don't like, please click back button.
Chapter12: An Emotionally Truth
.
.
"Rea-san!" seru Himeko.
"Lho, lho, ada apa ini? Kok main serang segala?" tanya Bossun panik. Sedangkan Switch hanya menatap Rea datar.
"Kalo mau tau, ayo ke apartemennya Akira sekarang." jawab Rea tajam.
"Eh? Apartemennya Rei? Serius?"
"Tujuh rius malah…" Rea melepaskan cengkeramannya, membanting Switch ke tempat duduknya lagi.
"Aku benci melakukan ini sebenarnya, maaf…" ujar Rea tanpa rasa bersalah. Lalu berbalik menatap Himeko. Ia tersenyum lebar.
"Naa, Hime-chan. Ayo. Kita selesaikan masalah ini sekarang." ujarnya lalu duduk di kursi tempat Bossun biasanya berbaring.
Switch dan Himeko lalu menceritakan soal Rei dan Tsubaki, sementara Rea mendengarkan dengan serius.
"Hah, kalo gitu kita tanya Akira saja. Aku yakin ini cuma salah paham." Rea menghela nafas kesal. "Kamu mungkin cuma mendengar becandaan Akira, dan bikin kamu mikir yang gak-gak.
"[Hm… Mungkin…]"
"Mending kita ke apartemennya sekarang." Rea lalu berdiri. Sementara Bossun, Himeko, dan Switch membereskan barang-barang mereka.
Saat mereka sudah berada di depan gerbang, Switch mulai mengetikkan sesuatu.
"[Ada lagi yang ingin aku ceritakan…]"
"Hm?"
"[Aku akan cerita soal masa laluku. Mungkin Himeko dan Bossun udah tau.]"
Sepanjang jalan ke apartemen Rei, Switch pun lalu menceritakan masa lalunya, sementara Rea hanya bisa manggut-manggut.
"Jadi, hubungan Rei dengan itu apa?" tanya Rea. Tidak terasa mereka pun sudah sampai di depan pintu flat Rei. Rea pun memencet bel pintu. Sembari menunggu, Switch pun menjawab pertanyaan Rea.
"[Setelah ia mengganti gaya rambutnya, aku merasa kalau dia itu mirip dengan Hirai Yukino.]"
"Apa?" Rea, Himeko, dan Bossun terbelalak.
"[Dia mirip sama Yukino, yang udah celakain Masafumi.]"
"Cuma mirip. Gak ada hubungannya." ujar Rea santai. "Kamu terlalu mikirin soal itu."
Pintu pun akhirnya terbuka, dan Rei berdiri di depan pintu, mengenakan piyama bermotif mawar berdiri dengan mata terbelalak. Switch pun menatap Rei dengan kaget.
"Rei?" tanya Himeko cemas.
"Cih… Sou deshou ka…" Rei mendecih kesal, lalu berlari melewati mereka.
"Rei!"
"Jangan ikutin aku!" teriaknya sebelum menghilang di balik pintu lift.
"Kenapa lagi dia itu," gerutu Rea, saat gadis berambut coklat itu akan menyusulnya, Switch menahannya, dan menatap Rea serius.
"[Biar aku yang kejar!]" ketiknya lalu berlari menyusul Rei.
"Kenapa dia mesti dengar itu…" Rea menghela nafas. "Semuanya jadi kaya' benang kusut yang gak bisa diurai lagi."
"Kuharap Switch bisa nenangin Rei." ucap Himeko. "Rei lagi sakit."
"Eh? Sakit?" Bossun panik. "Kita harus kejar dia sekarang!"
Duakk!
Rea meninju Bossun, membuat pemuda itu jatuh terkapar. Sementara Switch sudah hilang di balik pintu lift. Dalam hati ia merasa kesal karena Rei sudah mendengar suaranya.
Kuso..
.
.
Dia mirip sama Yukino, yang udah celakain Masafumi.
"Baka!"
Rei masih terus berlari, tidak memperdulikan airmata yang mengaburkan matanya. Semua yang didengarnya sudah keterlaluan. Ia bahkan hampir menabrak beberapa orang yang memenuhi jalan.
Tiiin!
"Awas!"
Ckiiit!
Rei sudah tidak perduli lagi. Mati atau tidak, dia sudah tidak perduli lagi. Rei menutup matanya, bersiap untuk menerima rasa sakit.
Bruuk!
"Hei, liat-liat kalo jalan!"
Rei perlahan membuka matanya, dan menyadari bahwa ia bersandar pada sesuatu. Sesuatu berwarna hijau dan terbuat dari wol.
"[Lain kali kalo mau nyebrang liat kanan kiri.]"
Rei membuka matanya dan menyadari kalau ia hampir membuang nyawanya sendiri. Lalu ia menangis dalam pelukan Switch.
"Cih…"
Setidaknya itulah kejadian yang dipikirkan (atau mungkin dikhayalkan) Rei sekarang, namun ia hanya menatap Switch dengan tatapan kesal. Ia mendecih kesal lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Kaya'nya dia nguping…" Rea menempelkan telunjuknya ke bibirnya.
"Waduh, gawat! Switch, susul dia sekarang!" ujar Bossun panik sambil mendorong Switch masuk ke dalam apartemen. Switch yang cuma bisa bengong menoleh ke arah Bossun yang menatapnya kesal.
"Cepat minta maaf! Semua kesalahpahaman ini bikin aku kesal tau!"
Switch masih menatap Bossun dengan tatapan aku-gak-tau-apa-apa.
"Mou Switch! Cepat!" Himeko menjadi gusar dan mendorong Switch sampai ke depan pintu kamar Rei. Akhirnya Switch mengetuk pintu kamar Rei perlahan.
"…" tidak ada jawaban. Akhirnya Switch mengetuk sekali lagi.
"…"
"[Rei]"
"Kamu bilang aku mirip sama pembunuh adikmu, kan?" teriak Rei dengan nada menusuk.
"[Rei, dengar dulu.]"
"Aku udah dengar terlalu banyak. Jadi aku gak mau dengar apapun lagi."
Switch menghela nafas perlahan. Lalu kembali mengetik.
"[Rei, aku cuma mau jelasin—]"
"Penjelasan tadi sudah cukup jelas dan rinci untukku."
Akhirnya Switch kehilangan kesabaran, lalu memasang kuda-kuda untuk mendobrak pintu.
"[Kalo kamu gak mau buka pintunya, aku bakal dobrak.]"
"Dobrak aja kalo bisa." tantang Rei. "Itu bakal buktiin kalo kamu cuma pemaksa, penuduh, dan—"
"[Maaf Rei, kali ini aku gak bakal kalah berdebat denganmu.]"
Rei tertegun. Ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekati pintu. Sementara Switch yang sudah dalam sikap sempurnanya masih terus mengetik.
"[Aku kagum padamu, tapi sayangnya sikap keras kepalamu itu…]"
"Terus apa, kamu mau ngelunakin kepalaku pake cuka?"
"[Cuka ataupun asam sulfat pun gak bisa ngelunakin kepalamu itu.]" Switch terkekeh pelan. "[Hanya reaksi kimia tertentu yang bisa bikin kepalamu lunak.]"
"Apa?"
"[Ai desu…]"
Rei membeku di tempatnya.
"[Kalo kamu ngerasa sakit hati, kenapa kamu gak nangis aja? Bahuku lagi lowong nih..]"
"Baka!" Rei menyentuh pintu. "Aku bukan gadis cengeng!" teriaknya berbohong. Padahal matanya sudah mulai berkaca-kaca. Bahkan sudah mulai menetes.
"[Hei, suaramu bergetar. Kamu nangis?]"
Sial. Umpat Rei. Tebakan asal-asalan itu ternyata jitu juga. Namun Rei tetap tidak mau membuka pintu untuk Switch. Cukup lama dia terdiam sampai akhirnya ia membuka mulutnya.
"Pulang."
"[Hm?]"
"Kenapa kamu gak pulang aja, baka! Kamu ganggu!" teriaknya akhirnya. "Kamu otaku mesum bisu programmer menyebalkan! Kenapa kamu gak pernah bikin aku tenang sih! Aku sudah pusing dengan masalahku dengan Aoi, lalu denganmu lagi, Sawa dan Momoka! Apalagi Rea-nee sampe datang jauh-jauh dari Indonesia! I'm tired of this all!"
Akhirnya Rei mengeluarkan segala kecemasan yang ada di hatinya, namun ia masih belum berhenti juga. "Dan lagi rumor menyebalkan itu. Aku tau kamu udah nyelesaikan itu, tapi malah muncul masalah baru."
Switch tertegun mendengar teriakan histeris Rei. Namun ia diam saja, menunggu Rei selesai dengan curhatannya.
"Mereka bilang, 'Kazuyoshi-kun membantu gadis itu? Heh, emangnya dia pake pellet apa sih?' atau, 'Gadis itu maksa Usui buat ngebela dia. Pasti itu.'. Ah, seharusnya aku gak dengerin saranmu buat ke Sket Club. Atau harusnya aku gak ketemu kamu dari awal. Ini semua kesalahan!"
"[Oi…]"
"Dan lagi, kamu salah paham soal hamil itu kan?!" tuduh Rei. "Aku gak hamil, dan aku bersumpah kalo aku masih perawan!"
Entah mengapa, mendengar kata Rei barusan ia merasa lega. Namun sekaligus merasa bersalah karena ia langsung menuduh Rei. Dan juga merasa sedih karena secara langsung itu membuatnya ingat pada adiknya, Usui Masafumi.
"[Maaf.]" ketik Switch singkat. Untuk sekarang hanya itu yang bisa dia katakan.
Rei mendengar langkah kaki Switch menjauh dari kamarnya, dan samar-samar ia mendengar suara laptop Switch.
"[Bossun, Himeko. Ayo kita pulang.]"
"Heh, kamu belum bisa meyakinkannya ya?"
"[Gakpapa. Besok kita ke sini lagi.]"
Setelah memastikan bahwa Bossun, Himeko, dan Switch sudah pergi, ia pun mendengar ketukan di pintu.
"Akira…"
Dia sudah tahu itu suara siapa.
"Maaf Rea-nee. Aku cuma mau sendiri sekarang." kata Rei sembari membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelubingi tubuhnya dengan selimut.
.
.
Switch, Bossun dan Himeko tidak pulang. Ini cuma rencana Switch karena ia tahu Rei tidak akan membuka pintu untuknya. Namun rencana itu gagal, karena Rei juga tidak mau membuka pintu untuk Rea. Jadi mereka menunggu sampai Rei tenang.
"Aku gak tau kalo dia bisa sekeras kepala ini." Rea duduk di sofa. Himeko pun duduk di sebelahnya. Sementara Bossun dan Switch duduk di sebelah Himeko. Suara berat Rea terdengar frustasi.
"[Kita harus nunggu sampe dia tenang. Tadi dia histeris sekali.]" ketik Switch cemas. "[Aku khawatir kalo dia sampe depresi.]"
"Kalo itu terjadi, aku harus bawa dia ke Rumah Sakit Jiwa." jawab Rea enteng, mencoba mencairkan suasana. Namun sepertinya malah membuat keadaan menjadi semakin memburuk ketika Switch mulai mengetik.
"[Kau itu keterlaluan, Amelia.]" aura kegelapan menguar, membuat Himeko dan bossun bergidik. Mereka jarang sekali melihat Switch marah. Malah mungkin bisa dibilang baru kali ini. Namun hal itu tidak membuat Rea takut.
"Kamu itu yang keterlaluan, enak saja kamu bilang kalo Akira itu depresi. Dia itu mentalnya sekuat tank baja tau!" balas Rea. Lagi-lagi ia mencengkeram kerah baju Switch. Entah kenapa pemuda itu terlihat tenang.
"Hei, Rea-san! Tenang dulu…" Bossun hendak melerai mereka, namun karena aura kegelapan yang menyelubungi mereka berdua, ia mengurungkan niatnya. Akhirnya ia hanya bisa menatap Himeko dengan wajah gugupnya.
"Jangan tanya aku, baka!" ujar gadis pirang itu kesal.
"[Aku hanya khawatir dengan kondisinya, tapi kata-katamu itu keterlaluan.]" ketik Switch sembari menatap Rea tajam. "[Kamu mau ngelempar adikmu sendiri ke tempat itu, kamu harus ngelangkahin mayatku dulu.]"
"Hah? Hahahaha…" mendengar itu, Rea malah tertawa terbahak-bahak. Ia melepaskan cengkeramannya pada Switch, masih tertawa.
"Kau perhatian sekali~" goda Rea. Wajah Switch pun langsung merona.
"Kau ada rasa pada Akira ya~~" Rea semakin menggoda Switch, membuat wajah pemuda berkacamata itu semakin merah, membuat Himeko dan Bossun yang melihat adegan itu menjadi tertawa terpingkal-pingkal.
"Ah, Amelia-sama!" pemuda berambut hitam dan bermata hijau berjalan melewati ruang tamu sambil membawa belanjaan. Rea tersenyum melihat pemuda itu dan menghampirinya.
"Shinji, kemana saja kau? Kenapa kamu tinggal Rea sendirian di rumah?" Rea menjitak kepala Shinji keras. Namun anehnya pemuda itu tersenyum. Mungkin karena sudah terbiasa dengan perlakuan kasar Rea.
"Gomen, Amelia-sama. Saya baru saja habis berbelanja. Stok makanan Akira-sama di kulkas habis." senyumnya.
"Hah, ya sudahlah. Hari ini kamu masak enak ya. Kita ada tamu istimewa!" ujar Rea lalu kembali pada Bossun, Himeko, dan Switch yang menatap Shinji dengan kagum.
"Wah, dia tampan sekali. Itu pacarmu, Rea?" tanya Himeko dengan wajah yang berbinar-binar. Bossun mendecak kesal mendengar kata 'tampan'.
"Hahaha, kau ini bercanda. Itu butlerku. Namanya Aoki Shinji."
"Tetap saja dia tampan… Mirip…"
"[Mirip Utakata dari Anime N*r*t* kan…]" ketik Switch dengan semangat.
"Wah, kau hebat Switch!" puji Himeko.
"[Aku bahkan dapat semua datanya.]"
"Wah, cepat banget! Kita baru ketemu dia beberapa menit yang lalu!"
"[Hei, jangan meremehkan kekuatan internet!]" ketik Switch.
"[Aoki Shinji. Butler keluarga Sasayaka. Tinggi 175 cm, berat 56 kg. Sudah bekerja pada keluarga Sasayaka sejak masih kecil, dan juga akrab dengan Amelia.]"
"Yare yare~…" Rea hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kau hebat sekali sampai mendapatkan informasi seperti itu."
"[Ho ho ho… Aku memang hebat!]" Switch memuji diri sendiri.
"Nee, aku mau telpon Aoi. Kamu coba bujuk Akira lagi. Mungkin dia udah tenang." ujar Rea sambil mengeluarkan smartphone-nya.
"Halo? Iya Aoi? Bisa kesini sebentar?" Lalu ia pergi sembari menelepon. Switch pun mengetuk pintu kamar Rei.
"[Rei…]"
Tidak ada jawaban.
Switch pun mencoba membuka pintu kamar Rei yang ternyata tidak terkunci dari tadi. Kalau begitu untuk apa pertengkaran barusan? Switch pun mencari-cari Rei, dan mendapati gadis itu sedang duduk bersandar di dinding dengan tatapan kosong. Switch pun lalu berjongkok, meletakkan laptopnya di lantai, dan menepuk bahu Rei.
Reaksinya sungguh tidak terduga. Pemuda berkacamata itu mengira kalau Rei akan marah dan mendorong pemuda itu keluar dari kamarnya, namun gadis itu malah…
Memeluknya dan menangis kencang…
"Hiks.. Hiks… Huaaa…"
"[Gomenne, Rei…]" ketik Switch sambil mengelus rambut gadis itu.
"Hiks…" Rei masih terisak.
"[Maafkan aku karena bersikap egois… Maafkan aku atas kata-kataku…]" Switch menghela nafasnya. "[Aku sudah berhenti bicara, tapi aku masih menyakiti orang lain dengan kata-kataku.]"
Rei mengangkat kepalanya, dan menatap Switch kesal.
"Baka! Sudah membuang dirimu sendiri, berhenti bicara, sekarang kamu malah ngomong gitu!" isaknya. "Kamu manusia paling gak bersyukur yang pernah aku kenal!"
Switch terbelalak mendengar perkataan Rei.
"[Apa maksudmu… Gak bersyukur?]" ketik Switch kesal. Sebelum Rei membuka mulutnya, Switch mengetikkan sesuatu lagi.
"[Lebih baik kita liat apa yang Amelia lakukan di atap. Pembicaraan ini kita hentikan dulu.]"
"Atap?"
.
.
Atap Apartemen..
"Rea-nee-sama~~.. Aitaiii~~" Begitu sampai di atap, Aoi langsung berlari ke arah Rea yang bersandar di pagar atap.
Pong!
"Dasar Alay." Rea menjitak dahi Aoi dengan pisau tangannya.
"Rea-nee-sama! Kok tega banget sih!" keluh Aoi sambil mengelus bagian yang dijitak Rea. Rea hanya menatap kesal ke arah Aoi.
"Aku mau ngomong sama kamu." ucap Rea dengan raut wajah serius.
"Ada apa, Rea-nee-sama?" tanya Aoi. Rea menatap Aoi sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Aku cuma mau nanya, ada apa antara kamu dan Akira." tanya Rea datar.
"Tidak ada apa-apa, Rea-nee-sama." Aoi tersenyum manis.
"Uso janai zo…" ujar Rea sambil tersenyum jahil. "Biarpun kamu dan Akira gak ngomong, aku udah tau kalo kamu bikin ulah lagi."
Aoi mengepalkan kedua tangannya, wajahnya tertunduk, sehingga matanya tertutup poninya.
"Nee, kamu maksa Akira buat pulang ke Mansion Sasayaka kan?"
"Rea-nee-sama gak tau apa-apa!" teriaknya. Senyum Rea memudar, terganti menjadi tatapan datar. Ia menghela nafasnya sembari memperbaiki letak kacamatanya.
"Aku gak ngerti alasan kamu berbuat begitu, Aoi."
"Rea-nee-sama gak tinggal di Mansion Sasayaka dan berhadapan langsung dengan Okaa-sama."
"Okaa-sama?" tanya Rea. "Sou ka. Dia istri baru Otou-sama, nee?" Rea mendekati Aoi dan menatap Aoi.
"Sou desu." jawabnya. "Dia… Dia…"
"Hm?"
"Dia gak kaya' Rea-nee-sama dan Mama yang pilih kasih! Kalian semua lebih sayang Onee-chan daripada aku!"
"Hei…"
"Kalian semua jahat!" teriaknya, membuat Rea terbelalak kaget. Ia lalu berjongkok sedikit dan menghapus airmata yang mengalir deras dari mata Aquamarine gadis itu. Rea tersenyum lembut.
"Kamu salah sangka."
Aoi masih terisak.
"Aku dan Mama sayang kalian semua. Sama rata." Rea menyibakkan poni Aoi. "Dan kamu tau? Yang bikin kita jauh adalah istri baru Otou-sama. Dia yang udah bikin keluarga kita hancur. Dia yang udah mengusir Akira."
"Me…mengusir Onee-chan? K…kukira…"
"Dia mengusir Akira dan memutarbalikkan fakta dengan mengatakan bahwa Akira kabur dari rumah. Hei, kalo aku gak berteman dengan Unyu Mimori, dia jadi gelandangan. Aku mencarikannya pekerjaan dan membiarkannya berjalan sendiri."
"O..Okaa-sama… Benci Onee-chan?"
"Dia membenci kita semua, Aoi. Tapi dia lebih benci Akira. Dan pura-pura baik di matamu dan Otou-sama." Rea menggigit bibirnya. "Kamu pikir kami lebih sayang Akira? Gak Aoi. Kami mencari cara untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman nenek sihir itu, tapi kamu malah membelanya. Tentu saja aku tidak mengatakannya pada Akira. Kalo aku bilang, dia mungkin bakal nekat."
"G…Gomennasai…" Tangisan Aoi semakin menjadi. "K…kukira…"
"Gakpapa, Aoi…" Rea mengelus rambut pirang Aoi dengan penuh rasa sayang.
"Rea-nee-sama…" Aoi memeluk Rea dan menangis kencang. Mereka tidak menyadari bahwa Rei dan Switch mengintip mereka dari belakang pintu. Rei lalu menghapus setitik air mata yang mengalir dari sudut mata Ruby-nya yang sudah bengkak.
"[Rei…]"
"Aoi. Maafkan kakakmu yang bodoh ini ya." ucapnya perlahan, lalu mereka pergi meninggalkan Rea dan Aoi yang masih berpelukan.
.
.
Karena kejadian hari ini, mereka tidak berlatih bersama tim baseball, jadi mereka memutuskan untuk langsung memulai latihan untuk Kaimei Rock Festival.
Bossun pun pulang ke flat-nya untuk mengambil bass-nya sementara mereka memilih lagu.
Rea sedang menyetel gitar listriknya, yang ia bawa dari Indonesia. Himeko pun memainkan nada yang asal, sambil menunggu Bossun datang. Rei yang duduk di kursi, memperhatikan mereka.
"Akira, kamu istirahat aja.." ujar Rea.
"Nanti aja, Rea-nee." tolak Rea. Lalu mata Rubynya beralih ke arah Switch yang sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Nee, Switch! Bossun sudah milih lagu?" tanya Himeko.
"[Sepertinya belum, Himeko. Tapi aku menyarankan beberapa lagu!]" jawab Switch, lalu memainkan sebuah musik dari laptopnya.
Himeko diam sejenak untuk mendengarkan lagunya, lalu dahinya mengerut.
"Eh, Ini lagu anime kan?" protesnya. Rea pun mengangkat kepalanya dan menatap Switch dengan senyum lebarnya.
"Hei, lagunya bagus!" puji Rea. "Cocok dengan karakter suara Akira!"
"[Ho ho ho… Bagaimana dengan ini!]" Switch pun memainkan lagu lain. Rea mengernyitkan dahi lalu menatap Rei.
"Kamu bisa mainkan akustiknya?" tanya Rea. Rei tersenyum.
"Tentu saja bisa, Rea-nee!" ujar Rei. Ia mendengar lirik yang dinyanyikan, lalu menatap Switch bingung. "Lagu ini… Yang nyanyi sama dengan yang tadi kan?"
"[Ho ho ho… Tepat sekali!]" ketik Switch semangat. "[Dan juga satu anime!]"
"Dasar maniak!" gerutu Himeko. "Terus saran lain?"
Switch kembali memainkan lagu lain, kali ini lebih keras dari sebelumnya, tidak santai seperti lagu sebelumnya. Himeko mengernyitkan dahinya.
"Lagu anime lagi?"
"[Ho ho ho… Tapi ini keren banget, Himeko!]" ketik Switch dengan kacamata yang berbinar-binar. "[Cocok dengan karakter kerasmu dan Rei!]"
Pletak!
Dan Switch pun terkapar dengan tidak elitnya.
"Hm? Lagunya pun memiliki karakter suaramu, Akira." ujar Rea. "Walaupun chordnya lumayan susah."
"Semuanya sama-sama cempreng, Rea-nee!" keluh Rei.
"Tapi sesuai lho…"
"[Ho ho ho… Sudah, sudah… Nanti kita suruh Bossun untuk memilih.]"
"Tumben kamu bijaksana, Switch!" balas Himeko.
"[Aku memang selalu bijaksana, Himeko!]" ketik Switch lagi.
"Bijaksana. Bijaknya disana…" gurau Rea.
Pintu studio terbuka, dan muncullah pemuda yang memakai topi Poppman yang sedang menenteng bass-nya.
"Nah, itu dia datang." sambut Himeko senang.
"Udah. Cepat tentukan lagunya. Aku mau istirahat biar bisa masuk sekolah." kata Rei.
"Hm, Switch, coba putar lagu-lagu yang tadi?" kata Bossun. Switch pun memutar lagu-lagu itu secara bergantian.
"Ah, yang ini Switch!" Bossun memutar lagu pertama yang diputar oleh Switch. "Yang santai aja."
"Mou, Bossun! Aku lebih suka yang ketiga!" ujar Himeko.
"Aku lebih suka yang kedua. Jauh lebih simple, dan ada akustiknya." timpal Rea.
"[Ho ho ho…]" ketik Switch. "[Rei, giliranmu memilih.]"
"Hm.." Rei mulai berpikir. Lalu berjalan keluar dari ruangan. "Yang pertama aja bagus."
Setelah Rei meninggalkan ruangan, mereka pun berlatih untuk instrument. Tentu saja, karena untuk vocal, mereka harus menunggu Rei. Mereka pun berlatih sampai semua ingat bagian masing-masing.
TBC
Maafkan Amel karena cerita kemarin itu masih sangat mentah, dan belum diolah sehingga rasanya mungkin akan sedikit menjijikan dan membingungkan… Jadi Amel edit ulang secara keseluruhan.
Tapi dengan banyak perubahan dan penambahan semoga cerita ini menjadi lebih mudah dimengerti… ^^
Amel balas review dulu..
Calpa : Ini editannya sudah Aneki buat. Semoga gak keberatan buat ngebaca lagi ya…
Asahina Yuuhi : Wah, makasih udah membaca ya… semoga Anda puas… #plakk
In-chan : Cuma mirip aja… Gak ada hubungannya.. ^^ Dan tentang Shinji itu Amel buat rinciannya di cerita yang udah di edit ini… Semoga gak keberatan buat baca ulang yaa… Pertamanya Amel memang niat bikin wajah Rei mirip Hirai Yukino, dan fakta yang Amel dapat di eps. 25 bikin Amel dapet ide. ^^ Dan Amel udah bikin ekstra chapter tentang masa lalu Rei, pertemuannya dengan Switch, serta apa yang bikin dia masuk Sket Club! Harap bersabar yaa…
maggie98 : Iya, lagi semangat ngetik nih, habis nonton Sket Dance… ^^ belum tamat kok, masih banyak chapternya… ^^
YuIchi : Maafkan Amel kalo YuIchi-san bingung baca chapter ini… T,T Tapi udah di edit jadi semoga gak bingung lagi yaa… ^^
Makasih banget udah suka cerita Amel… hiks hiks, jadi terharu…
Review jangan lupa yaa… ^^
