Tittle : Love or Lust
Author : Momo
Genre : Romance, Drama, etc.
Pairing : SasuNaru, KakaIru, etc.
Rate : M
Warnings! : Yaoi, OOC, typos, LEMON, Rape scene, HardYaoi (may be), etc.
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
~Balasan review:
- Sasunarulovelove: Neji suka Naru hanya sebatas persahabatan ^^ untuk cepet updatenya bener2 g' janji.
- SingingBell: chap kemaren emang khusus untuk penjelasan doang, momo sendiri sebenarnya bingung gimana mengatur adegan kemaren. Gomen kalo masih membingungkan.
- Queen The Reaper: Untuk Itachi masih 50-50. Gomen updatenya lambat.
- namikaze malfoy: Arigatou ^^
- L: Asal g' dipanggil 'Mouu' (suara sapi ^^). Pastinya ntar dia shock banget klo ketemu sasu. Momo pengen buat naru nangis lebay gt, tp g' bisa! Ditunggu aja.
- Yashina Uzumaki: Adegan Naru pingsan emang g' ada, soalnya momo males! *dibantai massa* Keren? Arigatou ^^ Syukur dah dirimu bisa mengerti penjelasan yg momo buat.
- Satsuki Naruhi: Yap, Itachi sudah pasti diterima. Gomen updatenya lambat terus ^^'
- momo juga namanya: Hai momo ^^ thnx dah mau baca n review. Momo janji g' akan diputus di tengah2, cuman telat update aja (ngeles).
- Nara Hikari: Iya ya, kok kayaknya masalahnya makin banyak? Beneran g' nyangka! Padahal momo yg buat.
- shia naru: Untuk pair Itanaru sudah dipastikan ada, mungkin salah satu option dari shia akan jadi lanjutan ni fic. Momo pasti buat ni sampai end, tp klo buat update cepatnya momo g' berani janji. Arigatou dah mau nunggu kelanjutan ni fic ^^
- kYub No Yokou-chan: Chap kemaren dah termasuk panjang lho! Gomen momo g' bisa janji soal update cepet.
- Clein cassie: Iya nih, mungkin si teme tahu kalo dia bakalan nganggur setelah bunuh Itachong ^^
- ryu cassie: Gomeeee~~~n momo g' bisa update cepet kayak dulu. Sasunaru masih lama ketemunya, mohon ditunggu.
- Uciha Hikari: Arigatou dah mo baca n review ^^
- crybulgem: Syukur deh kalo masih bisa diterima logika. Momo pengen yg rada beda sich, jadi buatnya rada ribet gitu.
- blue night-chan: Nasib Naruto... ada di chap2 selanjutnya *dilempar kelaut*
- ChaaChulie247: Itachikan masih berstatus nukenin, jd hrs masuk penjara dulu. Sasu masih keliling dulu sebelum bisa dapatin naru ^^
- shin ryu harashi: Yoroshiku onegaishimasu Author chan ^^ . Kalo mo buat fic pelan2 aja, g' usah terburu-buru kayak momo gini. Biar nantinya Shin dan reader bisa sama2 menikmati. Ganbarimashu! Untuk masalah siapa yg bakalan jadian ma naru masih rahasia perusahaan dong. Kalo dikasih tahu skrg g' asyik dong.
- Rofuneko: Gomen telat... tp ni bkn karena malas, melainkan ada bbrp problem di rumah ^^ . suke dah jatuh cinta, tp dianya masih belum nyadar. Ditunggu aja lanjutannya ^^
- Missyoohee: Arigatou ^^ kadang momo suka kurang pede ama tulisan momo sendiri. Banyak author2 hebat di Ffn yg bisa menciptakan karya2 yg bagus. Tapi momo bersyukur banyak orang yg mau membaca fic ini ^^
- Doru Enamimaki: Hontou? Tapi momo baru nyadar kalo banyak fic yg judulnya Love or Lust ato Love and Lust. Seperti biasa, momo g' pernah mikir tentang judul.
- evi chaan: Arigatou ^^ silahkan dinikmati chap 12nya...
- hatakehanahungry: Iruka g' terpesona ma Itachi kok. Kakashi g' punya saingan (mungkin...).
-XXX: requesan masih berlaku kok. Cuman kapan diwujudkannya yg bakal lama. Untuk pertama memang agak aneh kalo baca fic Mpreg. Tapi disitulah daya imajinasi seorang author tertantang, seorang penulis akan dianggap hebat kalo dia bisa mendeskripsikan sesuatu yg mustahil menjadi nyata. Momo suka ama pair yg ke2, tp utk yg pertama momo kurang dapet feelnya, gomen.
- Imperiale Nazwa-chan: Sebenarnya momo terinspirasi dari dari seekor hewan yg berkembang biak dengan membelah diri. Gampangnya, ini cuman permainan chakra, jadi chakra sasu yg masuk kedalam tubuh naru melalui sperma bercampur dg chakra naru. Dan campuran kedua chakra yg bebeda itu berubah menjadi chakra baru, yaitu chakra janin di tubuh naru. Klo kurang faham silahkan tanya lagi ^^
- Ashya-chan: Gomen telat, ini chap 12 nya.
- Kishu Mars: Ditunggu lanjutannya ya ^,~
- icha22madhen: Nasib sasu masih lama. Dichap ni Itachi blm muncul.
Chapter 12, douzo...
Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya. Kedua bola saphire itu menyusuri ruangan disekitarnya. Putih, lalu juga tercium bau obat yang cukup menyengat. Ia mengangkat tangan kanannya yang kini 'dihiasi' dengan selang infus.
'rumah sakit...' pikir Naruto.
Ia mengarahkan pandangannya kearah meja kecil disamping ranjang, sebuah vas mini dengan dua tangkai bunga lily putih berdiri anggun diatasnya. Naruto tahu benar siapa yang meletakkannya, Sakura.
"Akhirnya kau bangun juga Naruto-kun" ujar seorang perawat yang baru memasuki ruangan Naruto. Wanita itu tersenyum kearah Naruto sambil mengganti kantung infus yang sudah hampir habis.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Naruto, suaranya terdengar agak serak.
Perawat itu membantu Naruto untuk duduk dengan meletakkan bantal secara vertikal dibedpost sebagai sandaran, ia lalu menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk hingga habis oleh Naruto.
"Kau pingsan sudah lima hari, semua orang sangat mengkhawatirkanmu"
Naruto menggumamkan kata 'terima kasih' setelah dahaganya terpenuhi.
"Aku akan mengabarkan hal ini pada Hokage dan yang lainnya!" seru perawat itu sebelum menghilang dari balik pintu.
Naruto mengangguk menyetujui.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian...
"NARUTOOO!"
Teriakan yang diikuti suara derap kaki menggema diseluruh sudut rumah sakit Konoha.
Tiga sosok 'berwarna' kuning, coklat, dan merah muda segera menerjang pemuda yang sudah bersiap menerima serangan itu. Ketiga sosok yang berhasil diidentifikasi sebagai Tsunade, Iruka, dan Sakura mengeluarkan seluruh chakra mereka dan mengeluarkan jutsu yang disebut dengan: P.E.L.U.K.A.N.
20 detik setelah serangan...
"Kau yakin sudah tidak apa-apa Naruto?" tanya Iruka untuk kesekian kalinya.
"Iya, Iruka sensei~ aku sudah menjawabnyakan~" seru Naruto bosan.
Iruka membelai rambut pirang Naruto, bibirnya tak henti mengukir senyum manis yang mampu menenangkan hati siapa saja.
Dahi Naruto mengernyit heran saat melihat ketiga orang disekitarnya memasang wajah tegang.
"A..ada apa?"
"Naruto, kau tahu kalau kami semua peduli padamukan?" tanya Iruka lembut, Naruto memandang wajah Iruka lekat-lekat. Ada yang aneh dibalik pertanyaan Iruka ini.
Naruto tidak tahu harus menjawab apa.
Tsunade duduk diatas ranjang didekat kaki Naruto.
"Naruto, kami..." Tsunade menatap wajah Iruka dan Sakura yang memberikan anggukan pelan kepadanya, "kami tahu kalau kau hamil..." ucapnya pelan.
Nafasnya tercekat saat mendengar penuturan singkat dari sang Hokage, kedua mata saphirenya melebar, cairan bening mengalir begitu saja. Mimik wajah pemuda itu berubah drastis.
"ITU BUKAN MAUKU!" teriak Naruto histeris, ia meronta dari pelukan Iruka yang berusaha menenangkannya, "SEMUA INI KARENA DIA! Bukan keinginanku menjadi orang aneh seperti ini..."
Semua memori tentang Sasuke yang memperkosanya beberapa waktu lalu berputar cepat tak terkontrol layaknya video tua yang mulai rusak. Dan perlahan bayangan akan penolakan dari orang-orang terdekatnya mulai memenuhi kepalanya.
Iruka mengeratkan pelukannya pada tubuh pemuda yang masih begetar hebat itu, tak terasa iapun mulai meneteskan air matanya. Ini semua terlalu berat untuk Naruto, oh Kami.. dia bahkan baru berusia 16th?
"A..aku tahu kalau aku..hiks.. memang aneh, aku juga..monster yang dibenci banyak orang..hiks.. tapi kumohon.. kumohon jangan usir aku dari Konoha, Tsunade-baa..hiks.. aku berjanji akan jadi anak baik..hiks" Naruto terus meracau tidak jelas.
"Naruto bodoh!" pekik Sakura mendahului Tsunade yang baru akan membuka mulut, Naruto menghentikan tangisannya dan memandang Kunoichi berambut merah muda itu, "jangan seenaknya bicara tidak jelas begitu! Memang siapa yang mengatakan kalau kau monster, hah? Kau ini Shinobi Konoha! Tidak ada yang akan mengusirmu, baka!"
"Sakura benar Naruto" ucap Tsunade, "kau adalah Shinobi Konoha yang akan menggantikanku nanti. Aku akan menghajar siapapun yang berani berpikir seperti itu! Aku juga akan melakukannya padamu kalau kau seperti itu, kau mengerti?"
Iruka melepaskan pelukannya setelah dirasa Naruto sudah mulai tenang.
"Te..terima kasih... semuanya.."
Naruto mengusap pipinya yang masih dibasahi air mata, meskipun kedua matanya terus mengeluarkan cairan itu.
Paling tidak saat ini pemuda itu sudah agak tenang, kesungguhan yang terpancar dari wajah orang-orang terdekatnya ini cukup membuat beban yang dipikulnya sedikit berkurang. Naruto sudah bisa bernafas lega dan ia tidak perlu dihantui dengan mimpi buruk hasil imajinasinya selama ini. Tapi...
"Naruto,aku tahu kau tidak ingin membahas hal ini, tapi mau tidak mau kita harus membahas hal ini" Tsunade kembali membuka suara, Naruto mengangguk ragu, ia meremas-remas ujung selimutnya "kau pastinya tahu kalau kehamilanmu ini tidak wajarkan?" tanya Tsunade sehalus mungkin, ia tidak ingin bocah kesayangannya kembali murung.
Lagi, Naruto hanya mengangguk.
"Aku ingin tahu... apakah kau akan mempertahankan bayi dalam kandunganmu ini atau tidak"
Naruto menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, kepalanya tertunduk dalam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Tubuhnya mendadak mati rasa...
"Tak perlu memaksakan diri Naruto..." ujar Sakura, "tidak perlu terlalu terburu-buru, apalagi kau juga baru sadar"
Naruto menatap gadis itu sekilas, lalu kembali menundukkan kepalanya.
Tsunade, Iruka, dan Sakura saling berpandangan. Disisi lain mereka juga tak tahu harus melakukan apa.
"Aku... tidak pernah menginginkan hal ini..." Naruto berkata lirih, tetes-tetes cairan bening berjatuhan membasahi permukaan selimut yang sudah tak berbentuk, "aku.. ingin kembali seperti dulu... berlatih keras dan tetap menjadi orang 'bodoh' yang selalu bertindak ceroboh tanpa berpikir..." Iruka meraih kedua tangan Naruto, meletakkan diatas pangkuannya dan meremasnya lembut. Chuunin berambut coklat itu mencoba menyalurkan kekuatannya pada Naruto.
Tidak ada hal yang abadi di dunia ini...
Seperti kelopak sakura yang berguguran dari pohonnya
Seperti matahari yang tergantikan oleh bulan
Seperti butiran kristal es yang mencair
Begitu pula hati manusia...
Terkadang dapat menjadi sekeras baja
Namun, bukan mustahil ia dapat menjadi serapuh istana pasir yang bisa hancur dengan mudahnya
"...aku... akan menggugurkan janin ini..."
Tapi, karena hal inilah manusia menjadi makhluq tuhan yang paling menarik
_#####****Sasu'momo'Naru****#####_
"Kau ini Kappa ya? Kita baru berjalan sepuluh menit!" seorang gadis berambut merah berteriak kesal, sedang sang objek yang sedang meneguk air dari botol minumnya tetap acuh tak peduli.
"Kau ini berisik sekali Karin! Lagipula tidak ada yang memaksamu ikutkan?" protes sang objek yang tidak lain adalah Suigetsu.
Gadis berambut merah bernama Karin itu nampak salah tingkah, ia berpura-pura membetulkan letak kaca mata yang bertengger dipangkal hidungnya.
"A..akukan sudah bilang kalau tujuanku searah dengan kalian, bukan berarti aku ikut dengan kalian!" jelasnya dengan suara terbata-bata.
Suigetsu menyeringai jahil saat melihat tatapan aneh Karin pada Sasuke yang berdiri cukup jauh dari tempat keduanya. Pemuda bergigi runcing itu berjalan menghampiri Karin.
"Psst.. memangnya kau tidak tahu apa tujuan Sasuke?" bisik Suigetsu.
"A..apa maksudmu?"
"Khekhekhe... Sasuke itu sudah punya pacar lho! Dan dia merekrut kita untuk merebut pacarnya itu!"
"EEEEHHH? Sasuke sudah punya pacar?"
Suigetsu tertawa puas melihat reaksi Karin. Rasanya ia harus meminta Sasuke untuk berterima kasih padanya karena sudah berhasil 'sedikit' menyingkirkan pengganggu berambut merah ini darinya.
"Hahaha... karena itu sebaiknya kau urungkan niatmu untuk menggodanya, apalagi pacarnya itu... laki-laki" Suigetsu sedikit berbisik saat menyebut kata 'laki-laki'.
Dan sekali lagi Suigetsu tertawa keras melihat reaksi gadis berambut merah ini, rasanya perjalanan bersama Sasuke tidak akan terlalu membosankan seperti bayangannya sebelum ini.
.
.
.
Pemuda bermarga Uchiha itu menghampiri kedua anggota timnya yang entah sedang melakukan apa.
"Kita harus segera pergi sebelum gelap" perintahnya.
Suigetsu berjalan meninggalkan Karin yang masih terpaku ditempat. Perutnya mulai terasa keram karena terlalu banyak tertawa.
Karin menatap sosok Sasuke lekat-lekat, meneliti sedikit saja keanehan yang mungkin akan ditemukannya pada Sasuke. Menyadari perilaku Karin, lama-lama pemuda itu mulai merasa risih, Sasuke merasa kalau dirinya jadi seperti ikan dipasar yang diteliti pembelinya.
"Karin, hentikan tatapan menjijikkan itu!" seru Sasuke kesal meski tetap berwajah datar.
"Tapi.. ano.. Sasuke... boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" tanya Karin gugup.
Sasuke memicingkan matanya. Ia sedang tidak mood untuk menjawab pertanyaan bodoh, tapi kalau ia menolak bisa dipastikan gadis ini akan terus menempel padanya.
"Hn, terserah kau"
Karin menundukkan kepalanya, tak ingin Sasuke melihat ekspresi galaunya.
"I..Itu.. kata Suigetsu, kau sudah punya pa..pacar ya?" jantung gadis itu berdebar makin kencang.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya bingung.
Pacar?
Sekelebat bayangan pemuda berambut pirang menginterupsi kesadarannya. Sasuke tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum, kalau saja saat ini dia tidak berada dihadapan orang lain. Tapi disisi lain Sasuke mulai memikirkan pertanyaan gadis berkacamata itu.
Karin mengangkat wajahnya. Ia bisa melihat perubahan diwajah Sasuke yang biasanya datar. Takut dan bingung, dua hal itulah yang berhasil ditangkap Karin. Sebagai orang yang sudah lama mengagumi Sasuke, sudah sewajarnya Karin sangat mengenal kebiasaan pemuda itu.
"Sa..Sasu_"
"Itu bukan urusanmu" potong Sasuke cepat, "kita pergi sekarang!" perintahnya.
_#####****Sasu'momo'Naru****#####_
Bulan purnama bersinar terang ditengah gelapnya langit malam, namun tidak ada satupun titik bintang yang terlihat.
Aneh
Kenapa? Apa karena para bintang membenci sang bulan? Memangnya apa salah bulan?
.
.
.
Naruto memandang hamparan langit hitam lewat jendela kamar tempat ia dirawat saat ini. Terlihat seperti sebuah lukisan langit malam dengan bulan purnamanya. Warna hitam yang indah, warna yang selalu cocok disandingkan dengan warna apapun. Hitam memang bukan warna kesukaan Naruto. Tapi entah kenapa ia merasa 'pernah' sangat menyukai warna ini. Dimana?
Tenang saja Naruto, aku tidak akan membunuhmu... tapi aku akan memberikan sesuatu yang lebih buruk dari pada kematian
Diam!
Ooh.. nikmat sekali Naruto...
...aku ingin membuatmu menyerah untuk mengejarku,
Aku ingin menikmati tubuhmu...
Naruto memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Sebelah tangannya meremas ujung bantal. Seakan itu adalah satu-satunya benda yang dapat menahannya kembali memasuki kenangan kelam itu.
Bagaimana Naruto bisa melupakannya? Warna hitam yang pernah disukainya itu telah menyakiti jiwanya, dan kini telah menjadi warna yang amat dibencinya. Ya, karena warna hitam itu sama dengan warna mata'nya'. Kelam, menakutkan, sekaligus menakjubkan. Membuat siapapun dapat tersedot kedalamnya. Seperti Black Hole.
'kenapa aku masih belum bisa melupakannya? Padahal sudah hampir satu bulan...'
Naruto meletakkan kedua telapak tangannya diatas perut datarnya. Ia bisa merasakannya. Ada kehidupan lain didalam perutnya –selain Kyuubi tentu. Kehidupan yang mungkin akan terus membawa mimpi buruk kedalam kehidupannya. Naruto tak punya pilihan lain lagi.
'maaf... maafkan aku, maaf...'
.
.
.
.
"Tidak. Jangan lakukan itu Naruto!"
.
.
.
.
Pemuda berusia 16th itu membuka matanya. Terkejut.
'Suara siapa itu?'
Sepasang saphirenya menyapu seluruh area disekitarnya. Dahinya berkerut bingung. Tempatnya sekarang berada bukanlah kamar rumah sakit Konoha, melainkan disebuah ruangan yang sudah tak asing lagi. Tempat dimana Kyuubi disegel.
Meski berada didepan 'penjara' Kyuubi, Naruto tak melihat dimana rubah tua itu dibalik terali besi emasnya.
Aneh...
"Kyuu! Apa kau disana? Hey, Kyuu!"
Naruto mulai menyusuri tempat itu. Hanya langkah kaki bergemanya yang terdengar. Ia menyipitkan mata, berusaha mencari keberadaan sang rubah didalam kegelapan. Tapi, bahkan batang hidungnya sekalipun tak dapat ditemukannya.
"Haah, kema_"
"Lama tidak bertemu, Naruto"
Suara itu lagi..
Naruto membalikkan badan. Seorang laki-laki yang pernah ia lihat fotonya diruang Hokage kini berdiri dihadapannya. Bagaiman mungkin?
"Ho..kage keempat?" Naruto memastikan.
Pria yang juga berambut pirang dan memiliki sepasang mata berwarna biru itu mengangguk pelan, sepasang bibir tipisnya membentuk sebuah senyum.
"Kenapa bisa tahu namaku? Dan Kyuubi..."
"Untuk sementara Kyuubi telah kupindahkan ke tempat lain, aku hanya ingin pertemuan berharga ini terganggu" jelasnya.
Tapi bagaimanapun juga, logika Naruto belum bisa menerima hal ini.
"Ta..tapi, bukankah Hokage keempat sudah..." Naruto tak berani melanjutkan ucapannya.
"Ini adalah chakra yang sempat kutinggalkan dialam bawah sadarmu sebelum aku meninggal, Naruto. Dan aku tidak sendirian..."
Sosok lain muncul dari dalam kegelapan. Sosok yang ternyata seorang wanita cantik berambut merah panjang itu berdiri disamping Hokage, ia tersenyum lembut menatap Naruto yang masih terpaku.
"Kau sudah besar ya, Naruto.."
Itu adalah suara yang didengarnya tadi! Tidak salah lagi.
"Siapa dia? Kenapa kalian tahu namaku?"
Kedua orang dewasa itu saling bertatapan dan melempar senyum, lalu kembali mengarahkan pandangan mereka pada Naruto.
"Karena aku yang memberi nama itu" ucap Hokage.
"...dan aku yang telah melahirkanmu Naruto" sahut wanita berambut merah. "Kau anak kami..." kedua orang itu berkata bersamaan.
Naruto tetap berdiri disana. Tubuhnya seakan membeku setelah mendengar pernyataan dari kedua han... eh.. orang dihadapannya. Mereka mengucapkan kenyataan itu dengan amat santai. Tanpa Naruto sadari, cairan bening mengalir dari kedua mata saphirenya.
Naruto tertawa canggung, ia masih tidak percaya. Naruto juga tidak tahu harus senang atau sedih.
"Kushina..." Minato, Hokage keempat, menegur istrinya, memberi syarat agar ia menghampiri Naruto terlebih dahulu. Wanita berambut merah itu mengangguk dengan antusias. Tanpa persetujuan dua kali, ia berlari kecil menghampiri putra semata wayangnya.
GREP!
"Naru-chanku sudah besaaar!"
Suara tawa ceria Kushina perlahan berubah menjadi isakan pelan. Hal yang dibenci Kushina sebagai seorang wanita adalah sisi sensitif yang membuatnya jadi mudah menangis.
"Ibu... ini benar ibu..."
Naruto bisa merasakan anggukan dari wanita dalam pelukannya ini. Pemuda berambut pirang itu semakin menenggelamkan wajahnya kedalam helaian rambut berwarna merah. Samar-samar tubuh Naruto mulai mengingat sensasi ini.
TBC...
#FINALLY!
-Gomen, momo sedikit punya masalah sama idm! Jadi setiap buka lappie bukannya ngelanjutin fic tapi malah sibuk ngurusin idm.
-Juga, minna-tachi pasti tahu kabar tentang SOPA dan PIPA. Karena hal ini momo jd susah klo mo cari donlotan yaoi yg tidak bisa dijangkau kantong klo harus beli yg ori (karena hal ini momo berniat jadi terorist anti amerika!).
-Btw, ada yg punya donlotannya Takumi-kun 2 g? Momo dah berhasil donlot yg ke3 doang.
-Sekedar pemberitahuan, fic ini momo buat benar2 merujuk pada manga aslinya jadi mungkin akan ada beberapa adegan yg di skip. Momo yakin minna dah baca mang NARUTOkan? Jadi pasti fahamlah.
