LAST CHAPTER

"Apa yang terjadi, Teme?" tanya Naruto yang heran dengan kelakuan dan situasi kedua sahabatnya itu.

"Dobe. Bunuh aku sekarang juga!" jawab Sasuke dingin dengan sorot mata yang tak memancarkan kehidupan.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Warnings : OOC (maybe), Typo(s), etc.

You Hate It, Don't Read and Please Leave This Page

CHAPTER 12

The Secret

Di ruang keluarga di sebuah apartemen mewah, kini beberapa pemuda sedang berkumpul dengan suasana tegang di antara mereka. Mereka adalah para anggota Dark Assassin namun minus seseorang di antara mereka. Mereka adalah pemuda dengan penampilan di atas rata-rata. Wajah tampan rupawan tanpa sedikitpun goresan yang mengurangi ketampanan mereka.

Mereka adalah seorang pemuda berambut emo dengan wajah khas stoic-nya yang tak lain adalah Uchiha Sasuke. Pemuda lain dengan rambut spike berwarna kuning menyala yang memiliki tanda tiga goresan di pipi kanan kirinya yaitu Namikaze Naruto. Lalu pemuda dengan kulit putih pucat yang selalu memberi senyum yang entah tulus atau tidak, Shimura Sai. Dan seorang pemuda yang selalu terlihat tak bersemangat dan selalu tertidur di manapun dia berada, Nara Shikamaru.

"Apa maksud mu, Teme?" tanya pemuda jabrik pirang yaitu Naruto pada Sasuke.

"Bunuh aku sekarang juga." Jawab Sasuke. Sorot mata onyx itu kini seolah sudah tak ada kehidupan.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Sasuke?" kini giliran Sai yang bertanya.

"…"

"Jika kau begini bagaimana kami bisa tahu masalahmu, hah mendoukusai." Shikamaru kini sadar dari tidurnya.

"Apa aku masih pantas? Hahaha.." jawab Sasuke dengan tawa getir yang mengakhiri kalimatnya.

"Teme…" Naruto prihatin akan keadaan sahabatnya itu.

Namun suasana tegang tersebut semakin menjadi kala Sasuke menarik sebuah pistol kecil di balik seragam Naruto. Lalu dengan cepat menodongkan pistol tersebut ke pelipis kanannya. Satu tangan lainnya menarik tangan Naruto dan menggenggamkan pistol tersebut. Membuat semua yang ada di ruangan itu tercengang dan langsung kaget berdiri.

"Hey, a-apa yang kau lakukan. Turunkan pistol itu Teme!" perintah Naruto pada Sasuke sambil menarik-narik tangannya.

"Bunuh aku sekarang juga! Sama seperti aku menembak mati Gaara!" bentak Sasuke.

"Sasuke, tenangkan dirimu. Jelaskan dulu." Kini Sai yang panik mulai berusaha menenangkan Sasuke.

"Hah, mendokusai. Jika kau begini apa masalahnya akan selesai?" Shikamaru kini mulai kesal dengan tingkah Sasuke.

"Benar, masalah akan selesai jika aku mati. Cepat tembak aku, Naruto!" bentak Sasuke sekali lagi pada Naruto.

BUUGK

Sebuah tinju keras mendarat di wajah tampan nan rupawan milik Sasuke, dan membuat pemuda itu jatuh tersungkur. Siapa lagi yang melakukan jika bukan Naruto. Pemuda pirang itu rupanya sangat kesal dengan tingkah sahabatnya tersebut. Pasalnya ia selalu melihat Sasuke dengan sikap yang tenang, bukannya seperti ini. Dan ini membuat semua yang melihat menjadi cengo.

"Sejak kapan Uchiha jadi pengecut seperti itu, hah? KATAKAN APA SEBENARNYA MASALAHMU, BRENGSEK!" emosi Naruto telah mencapai batasnya.

"…"

"Katakan Sasuke!" karena tak mendapat jawaban, Naruto menarik wajah Sasuke.

"Aku telah merebut apa yang selama ini Sakura jaga. AKU TELAH MEMPERKOSANYA! APA KAU PUAS?!" jawab Sasuke frustasi.

"A-APA KAU BILANG?!" teriak ketiga orang lain yaitu Naruto, Shikamaru, dan Sai secara bersamaan. Wajah mereka bertiga merah padam mendengar jawaban Sasuke. Ditambah wajah super duper konyol yang sangat tidak pantas bertengger di wajah mereka.

"E-Eh?" kini giliran Sasuke yang dibuat heran dengan tingkah dan ekspresi para sahabatnya. Plus kini Sasuke menampilkan wajah yang tak kalah aneh dengan ketiga sahabatnya itu. melupakan cukup sejenak saja hal yang membuat otaknya berhenti berpikir.

"Kau benar-benar keterlaluan Sasuke. Apa yang kau pikirkan sehingga berbuat sejauh itu?" kata Shikamaru.

"…"

"Bagaimana perasaan Sakura-san dengan ini?" Sai menimpali.

"…" Sasuke makin terpuruk dengan kata-kata para sahabatnya itu.

"Hah,bagaimanapun juga kau harus bertanggung jawab atas semua ini. kau yang memulai maka kau yang harus menyelesaikannya. Jika kau mati sekarang tanpa berbuat apa-apa, maka Sakura-chan akan semakin terluka. Uchiha tak pernah menyerah semudah itu. Lebih baik kau mati di tangannya atau Sasori-nii. Tenangkanlah dirimu, kami berangkat ke sekolah dulu. Jangan berbuat nekat!" kata Naruto sebelum meninggalkan apartemen dimana Sasuke kini sendirian.

.

.

.

Di sebuah kamar bernuansa pink seorang gadis eh, wanita bersurai merah muda kini terduduk lemas di sudut ruangan. Wajah yang biasanya cantik dan rupawan itu kini terlihat sangat lusuh. Rambut acak-acakan. Mata beririskan emerald hijau yang biasanya memancarkan cahaya kini seakan hilang dan berganti dengan sorot mata yang tak memancarkan cahaya kehidupan.

'Kenapa kau jadi seperti itu Sasuke-kun?' batin wanita itu.

Kini wanita yang tak lain adalah Haruno Sakura itu menatap sebuah meja yang berisikan berbagai senjata di atasnya. Perlahan tubuh mungil itu bangkit dan berjalan gontai ke arah meja tersebut. Melangkahkan kaki jenjang menuju meja tersebut. Setelah berada di depan meja tersebut, wajah lusuh itu berubah menjadi sendu. Tangan mungilnya mengambil bingkai foto yang terpajang di tengah-tengah meja.

"A-apa Kaa-san dan Tou-san marah dengan kelakuan anak kalian ini?" sebuah kalimat meluncur dari bibir mulut wanita ini dengan suara sedikit bergetar.

"Anak kalian ini memang tak bisa diandalkan ya? Haha.."

"Gomenasai kaa-san, tou-san? Sakura melupakan kalian." Kata Sakura di barengi dengan ambruknya tubuh wanita itu.

'Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Aku memang marah pada Sasuke-kun. Tapi aku tak bisa membencinya. Aku memang telah memberikan semua yang aku punya padanya. Tapi bukan begini caranya. Dia hanya ingin menjagaku. Tapi caranya yang salah.'

"AAAAAKKKHHHH….. Hikks…Hiks.. A-APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?!" teriak Sakura kini. Kepalanya menengadah memandang belati yang menancap di dinding kamarnya.

BRAAAK

Suara pintu di buka dengan paksa dari luar. Setelah itu muncullah sesosok pemuda berambut merah darah dengan wajah baby face-nya yang menunjukkan kepanikan.

"Sakura, ada apa? K-kau kenapa Sakura?" tanya Sasori saat mendapati adik perempuannya dengan kondisi seperti itu.

"…"

"Sakura, katakan kenapa kau berteriak? Dan ada apa denganmu?" Sasori makin panik saat tak mendapat jawaban dari Sakura.

"Saso-nii, apa Sakura salah jika Sakura tak memaafkannya?" tanya balik Sakura pada Sasori.

"A-Apa maksudmu?"

"Lalu, apa Sakura salah jika Sakura sangat mencintainya?"

"Apa ini semua gara-gara si Pantat Ayam itu? apa yang telah ia lakukan padamu, Sakura? Katakan!"

"Apa Sakura salah jika memaafkannya karena dia adalah orang yang sangat berharga bagi Sakura?" lagi, Sakura bertanya dengan tatapan kosong dari matanya.

"Akan ku penggal kepalanya!" kata Sasori yang hendak pergi menjalankan niatnya.

"Jika kau memenggalnya, atau sedikit saja menyentuhnya. Maka aku lah yang saat itu pula akan mengambil nyawamu sebagai gantinya." Kata Sakura yang kini tiba-tiba saja bagai orang lain. Matanya menatapa tajam ke iris hazel milik Sasori seakan Sakura ingin membunuh Sasori saat ini juga.

"Sakura ada apa sebenarnya dengan mu?" kata Sasori yang kaget dengan perkataan Sakura. Dan juga atmosfer di ruangan itu menjadi sangat mencekam.

"Jangan ikut campur urusan ini. aku sendiri lah yang akan menyelesaikannya." Kata Sakura tegas.

"Hn, wakatteru yo. Tapi ingat, aku tak akan membiarkan seorang pun menyakitimu."

"Tenang saja Sasori-nii. Aku ini kuat." Jawab Sakura dengan sebuah senyum yang sangat di paksakan. Setelah itu Sasori pergi meninggalkan kamar Sakura.

"Kaa-san, Tou-san aku akan membalas dendam kalian. Gomen ne, honto gomenasai karena telah melupakan kalian selama ini. Sakura akan kembali ke tujuan awal Sakura. Tunggulah dan lihatlah Sakura di sana." Setelah berkata seperti itu kini Sakura kembali menjadi seorang Sakura sebelum mengenal Sasuke. Sakura yang mempunyai sorot mata ingin membunuh dan dendam di sana.

.

.

.

Konoha High School siang itu sangatlah ramai, masalahnya kini seluruh siswa sibuk bercerita tentang salah satu siswa yang lumayan terkenal di antara mereka. Ya kini Konoha High School sedang gempar dengan berita meninggalnya Sabaku no Gaara secara mendadak. Salah satu siswa dari sekolah elit tersebut.

"Gaara-kun meninggal karena bunuh diri. Tapi itu sangat tidak mungkin."

"Di berita pagi tadi di jelaskan bahwa saat di temukan kondisinya tengah memegang pistol dan ada lubang di pilipis kanannya. Kasihan sekali."

Itulah sepenggal percakapan yang dapat di dengar oleh penghuni meja terluas di kantin. Wajah para Dark Assassin kini terlihat sangat murung. Bukan hanya mengenai berita tewasnya salah satu teman sekolah mereka, namun juga karena masalah yang terjadi di antara ke dua sahabatnya dan ini ada hubungannya dengan berita kematian Gaara.

"A-apa kalian yakin Sasuke yang melakukan ini semua?" tanya Ino tak percaya.

"La-lalu b-bagaimana dengan ke-keadaan Sakura-chan?" Hinata tak kalah panik mendengar cerita dari sahabatnya yang lain itu.

"Ini semua berawal dari ulah Gaara yang membawa Sakura-chan ke apartemennya saat Teme tak bisa mengantar dia pulang kemarin. Dan untungnya Itachi-nii tahu dan segera menghubungi Teme. Dan saat kami sampai disana, Gaara berada dalam posisi yang menyulut api emosi Sasuke dan itu memaksa Sasuke menggunakan matanya. Setelah itu ya terjadilah drama pembunuhan itu." jelas Naruto enteng.

"Tapi kenapa harus sampai membunuh Gaara?" tanya Ino lagi.

"Jika aku menjadi Sasuke, aku juga akan melakukan hal yang sama." Ucap Neji setelah itu.

"Hn, lalu apa yang dilakukan Sasuke selanjutnya pada Sakura? Kenapa mereka tak masuk hari ini?" tanya Ino lagi yang membuat para siswa laki-laki di meja itu memerah secara serentak.

"E-Etto a-anu ti-tidak ada kok. Hehehe…" Jawab Naruto gagap dan mencari alasan dengan asal.

"Pokoknya, itu urusan mereka berdua. Kita tak semestinya ikut campur." Jawab Shikamaru menengahi saat tahu Ino hendak menginterograsi Naruto.

Setelah itu mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tanpa sadar sedari tadi ada seorang gadis berambut pirang yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka dari jauh.

.

.

.

Keadaan di antara kedua sejoli kita tampaknya tak ada perubahan. Seminggu setelah kejadian itu, mereka sama sekali tak bertemu. Bahkan menghubungi lewat handphone pun tidak. Baik Sasuke atau Sakura sama-sama tidak ingin di ganggu.

Sasuke selama ini mengurung diri di kamar apartemennya. Kondisi kamar yang biasanya rapi kini sudah tak berbentuk. Jangankan kamar, orang yang punya kamar saja sudah tidak perduli lagi dengan penampilannya. Laki-laki yang biasa berpenampilan sangat cool ini saat ini sangat berantakan. Terlihat jelas raut penyesalan di wajahnya.

Sama halnya dengan wanita berambut soft pink yang tak lain adalah Sakura. Wanita ini terlihat sangat berbeda. Selain ia selalu mengurung diri di kamar dan juga ke tempat latihan, ia juga menjadi semakin pendiam. Dia selalu menghabiskan waktu untuk berlatih guna menghilangkan pikirannya tentang kejadian yang menimpanya seminggu lalu. Dan jika diperhatikan, ia menjadi sosok dingin seperti sebelumnya.

"Saku-chan, berhenti dulu. Kau harus makan!" kata Sasori saat menghampiri Sakura yang sedang berlatih dengan katana kesayangannya.

"…"

"Sakura-chan kau sudah seminggu seperti ini. dan kau juga tak masuk sekolah selama ini. bukankah senin depan kau ada ujian kenaikan kelas?" tanya Sasori lagi.

"Aku tak perduli. Jangan ganggu aku." Jawab Sakura ketus.

"Bukankah kau yang ngotot ingin sekolah di luar dulu? Lalu kenapa sekarang kau jadi begini?"

"Bilang saja aku akan ujian di rumah. Aku tak ingin ke sekolah. Bilang saja aku sakit." Jawab Sakura lagi.

"Tapi…." Perkataan Sasori terpotong dengan bentakan Sakura.

"Urusai! Jika tidak mau ya sudah!" bentak Sakura kini dengan nada yang sangat tak bersahabat.

"Hn, aku akan ke sekolah mu hari ini untuk mengurusnya." Setelah berkata seperti itu Sasori segera meninggalkan Sakura sendirian. Pasalnya ia tahu jika Sakura sudah seperti itu maka lebih baik untuk tidak membuat ulah lagi. Atau ya jika kau tak sayang akan keselamatan dan bahkan nyawamu kau boleh mencoba.

.

.

"Sasuke? Kau sudah seminggu tak pulang ke rumah. Tou-san selalu menanyakanmu." Sapa seorang pemuda berambut raven panjang saat ia memasuki kamar apartemen milik Sasuke.

"…"

"Wah-wah, kamarmu berantakan sekali? Ada apa dengan Baka Outoto ku ini, hmm?" tanyanya lagi saat pandangannya beredar melihat seisi kamar Sasuke yang berantakan.

"…"

"Hei, jangan diam saja? Sejak kapan kau tak mau cerita padaku, hah?"

"Tinggalkan aku sendiri. Itachi-nii" Jawaban singkat Sasuke. Kini ia sedang duduk bersandar pada tembok disudut ruangan kamarnya dengan wajah yang tertunduk dalam.

"Hn, bukankah kau senin depan ada ujian kenaikan kelas?" tanya nya lagi.

"…"

"Oh, ayolah. Sejak kapan Uchiha harus mencatat sejarah dengan nilai buruk dan harus tinggal kelas? Itu akan sangat memalukan." Itachi mencoba untuk mengibur adik tersayangnya.

"Aku tidak tertarik dengan hal itu sekarang." Jawab Sasuke ketus.

"Hmm, jadi apa yang membuat mu tertarik, hah? Gadis cantik? Hah, tidak. Sakura-chan?" pertanyaan yang membuat Sasuke langsung mendongakkan kepala dan terlihat ekspresi kaget di wajahnya.

"Sa-Sakura…." Panggil Sasuke dengan nada pilu.

"Eh.. Nani? Apa ada masalah?" tanya Itachi ingin tahu.

"Bilang aku ingin ujian di rumah saja." Jawab Sasuke yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Itachi.

"Hah, baiklah. Akan ku urus itu semua." Jawab Itachi sebelum meninggalkan kamar Sasuke.

.

.

.

Siang itu Sasori pergi ke Konoha High School untuk mengurus ijin bagi Sakura. Dan kebetulan saat hendak masuk ke dalam lingkungan sekolah, ia bertemu dengan Itachi yang kebetulan juga sedang mengurus hal yang sama dengan Sasori.

"Itachi? Sedang apa kau di sini?" sapa Sasori pada Itachi saat ia melihat Itachi keluar dari mobilnya.

"Kau Sasori. Ada yang perlu ku urus di sini. Kau sendiri?" jawab Itachi atas pertanyaan Sasori.

"Hn, ku rasa aku juga memiliki kepentingan yang sama."

"Hmm, lebih baik lekas sebelum bel pulang berbunyi. Aku tak ingin sekolah ini heboh dengan kedatangan dua pangeran tampan seperti kita. Hahaha…" kata Itachi yang menurut author udah over confident. # Aish Itachi-nii malu-malu in dech… ,"a

"Heh…?" sahut Sasori dengan wajah cengo atas kelakuan sahabatnya itu.

Mereka berdua kini berjalan menuju ruang kepala sekolah guna mengurus keperluan adik mereka. Saat berjalan melewati koridor, tak mereka sadari seorang gadis pirang mengetahui keberadaan mereka. Sasori khususnya. Shion, gadis tersebut mengetahui bahwa Sasori adalah pemuda yang biasa mengantar Sakura ke sekolah dan dia mengetahui bahwa Sasori adalah kakak dari Sakura. Dan diam-diam gadis itu mengikuti mereka dari jauh.

"Arigatou atas pengertian bapak kepala sekolah. Kami permisi." Ucap Itachi saat hendak keluar dari kantor kepala sekolah.

"Sasori, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" tanya Itachi saat berada di luar ruang kepala sekolah.

"Aku pun tak mengerti situasi ini. tapi sepertinya terjadi sesuatu antara Sakura dan Sasuke." Jawab Sasori.

"Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan kejadian 10 tahun lalu?"

"Apa maksudmu? Sakura tak mungkin tahu pembunuh orang tuanya adalah Fugaku-san." Elak Sasori saat itu juga.

"Hn, aku juga tidak tahu. Tapi kemungkinan Saku-chan telah mengetahui bahwa pembunuh orang tuanya adalah ayahku, seorang Uchiha. Aku sungguh menyesal, Sasori." Kata Itachi dengan nada penuh penyesalan.

"Hn, tapi Itachi bagaimana ini bisa terjadi? Harusnya mereka berdua tidak mengetahui hal ini." kata Sasori lagi.

"Hn, entahlah Sasori. Tapi sepertinya rahasia yang kita jaga akhirnya akan terbongkar juga. Melihat kondisi mereka berdua seperti ini, sepertinya hal ini sudah sampai pada telinga mereka." Kata Itachi mencoba mencari penyebab masalah yang timbul di antara adik-adik mereka.

"Hn, ku rasa ju….. siapa di sana?" jawab Sasori. Namun kalimatnya terpotong saat ia menyadari ada orang lain di balik dinding.

"A-Anoo. Apa anda kakak dari Sakura-chan? Tadi saya melihat anda saat di koridor. Dan saya mencoba mencari anda, namun sayang saya kehilangan anda. Dan ternyata anda di sini." Jawab seorang gadis pirang yang muncul dari balik dinding dengan senyum yang sangat menawan.

"Apa kau teman Sakura?" tanya Sasori pada gadis itu.

"Hn, watashi Shion desu. Saya teman sebangku Sakura-chan. Ettoo, Sakura-chan sudah seminggu tidak hadir. Apa ada sesuatu terjadi padanya?" tanya Shion dengan ekspresi perduli pada Sakura.

"Hn, arigatou telah menghawatirkan Sakura. Tenang saja, dia tak apa-apa. Dia hanya sedikit sakit." Jawab Sasori dengan senyum menawan di wajah baby face-nya.

"Hmm, baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu" Kata Shion sebelum pamit meninggalkan kedua pemuda itu.

'Hn, apa benar Sakura baik-baik saja? Bagaimana jika ia tahu kalau pembunuh orang tuanya adalah keluarga kekasihnya sendiri. Hahaha pasti menarik. Akan ku nanti saat itu tiba.' Batin Shion saat berjalan meninggalkan kedua pemuda itu di tutup dengan sebuah seringai tipis di wajahnya.

Setelah kepergian gadis pirang tadi, Sasori dan Itachi pun memutuskan untuk pergi juga. Mereka berpisah di halaman parkir KHS.

.

.

.

Hari ujian pun tiba. Semua siswa KHS sibuk dengan kertas dan pensil di meja mereka. Memutar otak sekeras mungkin guna menyelesaikan soal ujian. Membuka berangkas file yang terekam di dalam otak guna mencari jawaban atas soal-soal yang tertera di setiap lembar soal ujian. Suasana tenang dan khusyuk kini hinggap di KHS.

Namun tidak bagi kedua murid yang mendapat dispensasi ujian dari sekolah. Mereka adalah Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke. Dengan alasan yang cukup rapi yang dibuat oleh kakak mereka, mereka diijinkan untuk menjalani ujian di rumah. Tentunya dengan seorang pengawas yang di tugaskan untuk menjaga saat ujian mereka. Dan sangat mengesankan, mereka meminta ujian yang harusnya di jalani selama seminggu, menjadi hanya dua hari. Ini bukanlah hal yang mengejutkan melihat prestasi akademik mereka di sekolah.

"Sakura, ini hari kedua, hanya tinggal empat mata pelajaran. Kemarin kau telah menyelesaikan enam mata pelajaran. Apa kau yakin akan menyelesaikannya hari ini?" tanya seorang guru wanita berambut hitam beriris merah yang sangat cantik.

"Hn, lebih cepat lebih baik, Kurenai-sensei." Jawab Sakura dengan malas.

"Baiklah, kerjakan yang menurutmu mudah terlebih dahulu." Jawab sang guru yang diketahui adalah Kurenai.

"Hn,"

.

.

"Hei, Sasuke. Kau terlihat semakin kacau dari pada kemarin?" tanya guru bermasker pada Sasuke di sela-sela kegiatannya menjaga ujian Sasuke.

"Urusai yo Kakashi!" Jawab Sasuke pada guru bermasker yaitu Kakashi. Hmm, sepertinya hubungan guru dan murid yang dekat.

"Sejak kapan kau jadi begini? Hahaha.. apa kau sedang punya masalah?" tanya Kakashi lagi di balik buku mesum yang selalu ia baca.

"Kau lah masalahku. Kau terlalu cerewet. Aku tak bisa berfikir." Jawab Sasuke di sela-sela bergulat dengan soal-soal di kertas ujian.

"Sudah cepat selesaikan ujiannya. Hanya tinggal 2 mata pelajaran. Dan juga cepat selesaikan masalahmu." Saran Kakashi pada muridnya.

"…"

Satu jam kemudian, Sasuke telah selesai dengan soal ujiannya. Kini ia duduk santai di atas sofa apartemennya. Sedangkan Kakashi sedang sibuk membereskan soal dan jawaban Sasuke saat Naruto dan yang lainnya datang.

"Wah, Kakashi-sensei? Sedang apa di sini?" tanya Naruto dengan wajah sok tidak tahu apa-apa.

"Hah, kau Naruto. Untuk apa lagi jika bukan menjaga sahabat es mu ini untuk ujian. Nah aku sudah selesai dengan tugasku. Aku harus menjemput Kurenai di rumah Sakura. Kurasa ia telah selesai. Jaa ne?" kata Kakashi saat meninggalkan apartemen Sasuke.

"Eh,Sakura-chan ujian di rumah juga?" tanya Naruto entah pada siapa.

"…"

Kini para anggota Dark Assassin tengah berkumpul di ruang keluarga. Sejenak mereka melepas lelah setelah mengerjakan soal ujian. Begitupun Sasuke. Dia tak lagi mengurung diri di kamarnya. Kini ia sudah mulai menjalani aktivitas walau belum ingin ke sekolah.

"Hey, sepertinya kita mendapat misi kali ini." seru Naruto saat membuka e-mail di laptopnya.

"Misi? Benarkah?" tanya Sai.

"Hn, dan sepertinya imbalannya tak main-main. Kita bisa meminta apa saja yang kita inginkan. Wah sepertinya aku ingin mobil sport baru." Seru Naruto girang.

"Siapa dan seperti apa misinya?" tanya Neji kini mulai antusias.

"Hanya membunuh pimpinan organisasi The Skull yang juga ternyata adalah seorang yang penting di pemerintahan. Sepertinya orang yang meminta tolong jasa kita ini adalah orang yang tak ingin karir politiknya hancur oleh saingan yang lumayan kuat seperti orang ini. The Skull adalah organisasi besar. Yang markasnya menjadi satu dengan masion sang pimpinan organisasi." Jelas Naruto.

"Hn, menarik. Apa akan kita ambil tawaran ini?" tanya Neji yang sepertinya tertuju pada Sasuke.

"Ambil saja." Seakan tahu apa yang sedang din anti oleh anggotanya. Sasuke menjawab pertanyaan Neji.

"Tapi, kau kan tidak dalam kondisi yang bagus Teme." Sangkal Naruto.

"Kita akan pergi. Sudah diputuskan. Waktu pelaksanaan adalah setelah kalian selesai ujian. Atur segalanya. Strategi, Shikamaru kau tahu apa yang harus kau lakukan? Dobe, urus tugasmu. Neji, Sai senjata dan perlengkapan ku serahkan pada kalian." Setelah berkata seperti itu, Sasuke meninggalkan ketiga sahabatnya dan masuk ke dalam kamarnya.

"Yosh!" jawab Naruto semangat.

"Hah, apa tidak apa-apa membiarkannya ikut?" Shikamaru mulai khawatir pada keadaan sahabatnya itu.

"Hn, dia tak akan apa-apa." Jawab Naruto.

.

.

.

Di sebuah ruang kerja yang lumayan besar, seorang wanita cantik berambut pirang yang di kuncir dua sedang berbincang pada seorang pemuda berambut merah darah yang memiliki wajah tampan bak boneka. Siapa lagi jika bukan Tsunade dan Sasori.

"Nani? The Skull? Bukankah pemimpin kelompok itu adalah salah satu orang paling berperan di pemerintahan. Kenapa ada yang menginginkan kepalanya?" tanya Sasori pada Tsunade.

"Ini adalah tawaran yang menarik. Sebentar lagi kan ada pemilihan kandidat yang entalah aku juga tak tahu di pemerintahan. Orang yang menyewa jasa The Reapers bukanlah orang sembarangan. Dia akan memberikan apapun yang kalian inginkan. Asalkan kalian membawa kepala orang ini." jawab Tsunade.

"Hn, aku mengerti. Tapi melihat keadaan Sakura seperti ini, tak mungkin aku akan pergi bersamanya" kata Sasori.

"Kau benar, aku juga tidak mengerti kenapa Sakura kembali seperti dulu. Namun jika kau tak ingin mengambil pekerjaan ini, tak masalah. Aku akan membatalkannya." Kata Tsunade.

"Kita akan mengambil pekerjaan ini." kata seorang wanita bersurai merah muda yang berdiri bersandar di daun pintu ruangan itu.

"Saku-chan? Tapi kau? Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu." Jawab Sasori khawatir.

"Aku tak apa Saso -nii. Kita akan baik-baik saja." Jawab Sakura.

"Tapi-…." Perkataan Sasori terpotong oleh kata-kata Sakura.

"Hah, jika kau khawatir, tunggu setelah ujian selesai. Selama itu aku akan berlatih." Potong Sakura.

"Hah, baiklah-baiklah. Jadi lima hari lagi?" Jawab Sasori pasrah.

"Hn, selama itu aku akan berlatih lagi. Jadi kau tak perlu khawatir." Jawab Sakura sebelum meninggalkan ruang kerja tersebut.

.

.

.

Selama lima hari setelah itu, selama itu pula Sakura selalu berlatih mengasah kemampuannya. Tak perduli akan omelan Sasori yang selalu berkoar menggunakan Toa untuk sekedar menyuruh Sakura istirahat barang sejenak. Dia hanya ingin fokus pada latihannya dan tujuan awalnya.

Dan hari ini adalah hari dimana misi di akan di jalankan. Malam hari sekitar pukul 7 malam, Sakura tengah bersiap-siap dengan perlengkapannya. Dengan seragam khusus yang selalu ia pakai jika berpasangan dengan Red Devil kini sudah melekat di tubuhnya. Sebuah atasan kulit ketat dengan belahan dada rendah berwarna hitam kini melekat dan sangat kontras dengan warna kulit Sakura. Baju tanpa lengan itu menampakkan lekuk tubuh wanita itu. sebuah lambang tergambar di belakang baju tersebut. Ya lambang dari The Reapers. Sebuah Hot Pants super pendek telah menghiasi tubuh bagian bawah wanita ini.

Sepatu boat sebatas betis bawah menambah keindahan kaki jenjang wanita ini. Katana kesayangannya kini pun telah siap untuk mencabik tubuh korbannya. Sederet belati telah menghiasi pinggul wanita pink ini sekaan ikatan belati ini adalah ikat pinggang baginya. Dan di tambah satu belati istimewa miliknya yang selalu menancap di dinding kamarnya itu kini terpasang rapi di sarungnya dan di taruh di paha mulus Sakura. Rambut indahnya kini ia sanggul ke belakang agar tidak mengganggu jalannya misi.

"Kaa-san, Tou-san hari ini Sakura akan menjalankan misi lagi. Semoga Sakura makin dekat dengan pelaku pada kejadian 10 tahun lalu." Kata Sakura tepat di depan foto orang tuanya.

"Nah, Sakura kali ini juga akan membawa ini." Kata Sakura lagi sambil mengambil potongan kain yang berhiaskan darah kering dan mengikatnya dengan tali di pegangan Katana-nya.

"Saku-chan, apa kau siap?" tanya seseorang yang mengagetkan kegiatan Sakura.

"Hmm, hai Saso-nii" jawab Sakura setelah nya.

"Nah, Kaa-san, Tou-san Sakura pergi dulu. Ittekimasu?" kata Sakura sambil meninggalkan kamar dan membawa Katana-nya.

Setelah itu, Sasori dan Sakura berangkat menuju tempat eksekusi. Setelah merencanakan dengan matang rencana untuk malam ini. mereka menuju lokasi dengan menggunakan motor Sport milik Sasori. Mereka tak memerlukan banyak orang untuk menghabisi seluruh anggota dari sebuh organisasi besar. Cukup mereka saja, cukup hanya The Reapers yang melakukannya. misi akan berjalan tanpa adanya kegagalan.

.

.

.

Di lain tempat, di sebuah apartemen mewah. Sekelompok pemuda kini tengah bersiap dengan peralatan masing-masing. Mereka adalah Dark Assassin. Dengan seragam serba hitam kini mereka bersiap untuk menjalankan misi.

"Yosh, aku telah mempelajari sistem keamanannya. Dan ku rasa tidak terlalu sulit untuk di tembus." Seru seorang pemuda berambut kuning menyala, Naruto.

"Hoooaa, strateginya juga sudah ku jelaskan. Jika ada situasi mendadak aku akan memikirkan strategi dadakan." Ucap pemuda yang sepertinya baru bangun dari tidurnya. Yaitu Shikamaru.

"Senjata dan yang lainnya sudah kami siapkan. Ne Neji?" kata Sai.

"Hm, itu benar." Jawab Neji.

"Baiklah, kita berangkat sekarang." Ujar seorang laki-laki berwajah stoic dengan model rambut khas pantat ayam. Uchiha Sasuke.

Setelah mendapat perintah dari sang pemimpin, Dark Assassin pun kini berangkat menuju lokasi pembantaian. Dengan menggunakan mobil khusus yang lebih besar, mengingat kelompok yang mereka hadapi adalah kelompok yang tergolong besar. Maka segala peralatan dan segala keperluan telah terancang dan tersedia di mobil ini. Kini mereka pun segera melaju menuju lokasi.

.

.

.

Setelah sampai, mereka memarkir mobil mereka agak jauh dari lokasi. Mereka memastikan terlebih dahulu keamanan dan penjagaan di pintu gerbang. Dengan Naruto sebagai hacker ahli, kini mereka telah menyusup sistem keamanan mansion tersebut sekaligus dengan tayangan CCTV yang mereka sadap.

"E-Eh..? ternyata ada pembunuh lain selain kita?" kata Naruto saat melihat tayangan CCTV yang muncul di layar laptopnya.

"Apa maksudmu, Naruto?" tanya Shikamaru.

"Lihatlah, ada dua orang yang dengan membabi buta membunuh para penjaga. Mereka sangat sadis. Tak tanggung-tanggung mereka memenggal dan bahkan membelah tubuh penjaga menjadi beberapa potongan. Hiiiiii….." jelas Naruto pada yang lain.

"Bukankah itu seorang wanita?" Kini Neji yang mengamati gerak-gerik dua orang tadi mulai mengetahui salah satu diantara mereka adalah seorang wanita.

"Dan dia membawa Katana sebagai senjata." Tambah Sai.

1 Detik

5 Detik

10 Detik

"SAKURA-CHAN!" teriak keempat pemuda bersamaan. Tentu saja minus Sasuke yang sedari tadi diam.

Setelah mendengar itu, Sasuke berbalik untuk memastikan apa yang telah di teriakan oleh para sahabatnya. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat betapa wanita yang telah mencuri hatinya itu mampu berbuat hal sesadis itu. tanpa di komando lagi Sasuke langsung turun dan diikuti oleh seluruh anggota Dark Assassin. Dan segera mereka berlari menghampiri dua orang yang tengah 'bermain' dengan para penjaga.

"Sa-Sakura?" kata Sasuke saat menghampiri seorang wanita yang tengah duduk di atas potongan tubuh seseorang dengan membawa sebuah kepala di tangannya.

"Hn," jawab Sakura. Namun saat melihat siapa yang memanggilnya, ia pun sempat kaget. Namun dia mengontrol emosinya dan kembali ke wajah datarnya.

"Wah Sakura-chan kau sa… Huueeekk.." sapa Naruto. Namun ia mual saat melihat dari dekat keadaan pintu gerbang yang telah berubah menjadi lautan darah dan mayat manusia yang tak utuh lagi. Di tambah sahabat pinknya itu kini tengah memegang sebuah kepala dengan santainya.

"Nani? Wah ada temannya Saku-chan? Sedang apa disini?" sapa Sasori yang baru sadar akan kedatangan para Dark Assassin. Dia berbalik dan tampaklah bahwa seluruh tubuhnya telah berlumuran dengan darah. Wajah bak boneka itu walau sekarang ia tersenyum, namun tak menutupi bahwa orang tersebut adalah pembunuh berdarah dingin. Di tambah dengan potongan tangan manusia yang masih menancap di pedang besarnya.

"Ja-Jadi Sasori-nii adalah Red Devil itu? Hooooeeekk.." kata Naruto ingin tahu di sela-sela acara muntahnya.

"Wah kalian tahu rupanya. Padahal peraturannya, siapapun yang tahu harus mati saat itu juga." Kata Sasori dengan nada horror.

"Na-Nani?" ucap Naruto, Shikamaru, Sai, dan Neji bersamaan dengan nada bergetar dan wajah pucat.

"Haha, tidak kok. Aku hanya bercanda." Kata Sasori dengan tawa kemenangannya dan lalu melempar potongan tangan manusia itu ke sembarang arah.

"Sakura, bisakah kita bicara." Tiba-tiba Sasuke membuyarkan suasana aneh antara Sasori vs Naruto CS dengan pertanyaannya.

"Kau tak lihat aku ada misi. Lagi pula, aku masih belum bisa memaafkanmu." Hanya kata-kata itu yang meluncur dari bibir mungil Sakura. Sangat bertolak belakang dengan isi hatinya.

'Gomen ne Sasuke-kun. Sulit untuk melupakan kejadian itu' batin Sakura setelahnya. Ia melempar potongan kepala yang ia bawa ke atas, dan dengan cepat membelahnya menjadi dua bagian.

"Apa yang telah kau lakukan pada Saku-chan hah, Pantat Ayam? Akan ku penggal kau jika memang kau melakukan hal yang tak temaafkan." Kata Sasori tiba-tiba pada Sasuke. Dan kini ia menghunuskan pedang besarnya ke leher Sasuke.

CRIIIIIIING

Dengan cepat Sakura menangkis pedang besar Sasori dari leher Sasuke dengan Katana-nya. Membuat pedang besar itu jatuh begitu saja. Dan ini membuat seluruh yang melihat menjadi speech less.

"Sudah ku bilang untuk tidak menyentuhnya. Aku sendirilah yang akan menyelesaikan ini semua." Kata Sakura dengan nada dingin penuh aura membunuh. Dan lalu sekarang ia lah yang menghunuskan Katana-nya di leher kekasihnya. Saat itu pula, Sasuke melihat lambang yang tergantung di pegangan Katana milik Sakura. Walau tertutup noda darah, namun sebagai orang yang memiliki lambang tersebut, tak mungkin ia tak mengenalinya.

"Lambang itu?" tanya Sasuke saat melihat lambang yang tergantung di pegangan Katana milik Sakura.

"Kau tak perlu tahu. Aku akan membunuh orang yang memiliki lambang ini. sebab karena orang ini, keluargaku mati." Jawab Sakura sambil pergi meninggalkan Sasuke yang kaget bukan main dengan penuturan Sakura.

'Lambang itu adalah lambang Uchiha. Walau itu terpotong dan tertutup oleh noda, tapi tak di ragukan lagi. Itu adalah lambang Uchiha. Apa artinya, Uchihalah yang telah menyebabkan keluarga Sakura terbunuh?' Batin Sasuke setelah mendengar penuturan pelan dari Sakura. Hanya ia yang mendengar perkataan Sakura. Sebab Sakura mengatakannya dengan pelan sekali.

"Jangan ganggu misi kami. Misi kami adalah membawa kepala dari pimpinan organisasi ini." kata Sakura setelah ia sedikit menjauh dari Sasuke yang masih terdiam kaku.

"Tenang saja Sakura-san. Kami hanya bertugas membunuh dan menghancurkan seluruh yang ada di sini." Terang Sai ditutup dengan sebuah senyum.

"Sakura, apa jika aku mati. Kau akan puas dan berhenti balas dendam?" kata Sasuke tiba-tiba yang membuat semua orang menoleh kepadanya.

"Hn, mungkin."

"Wakatta" jawab Sasuke dengan sebuah senyum yang sulit diartikan.

Setelah itu mereka serentak bergerak masuk ke dalam mansion. The Reapers dan Dark Assassin kini berkolaborasi menjalankan satu misi dari orang yang berbeda. Terlihat mereka sangat menikmati apa yang mereka lakukan malam itu.

Sakura dan Sasori tanpa ragu langsung mengayunkan Katana dan pedang mereka ke tubuh para korbannya. Menyayat tubuh-tubuh manusia tersebut dengan sebuah seringai yang tak pernah hilang dari wajah mereka. Memotong kepala, tangan, kaki, bahkan tubuh para musuh hanya dengan sekali tebas. Tubuh putih mereka kini telah tertutupi oleh darah dari para korbannya. Bau anyir darah kini menyebar ke seluruh penjuru mansion.

Berbeda dengan mereka, Dark Assassin lebih menikmati pertarungan beladiri sebelum akhirnya mereka menembak mati para korbannya. Mereka menunjukkan keahlian dalam beladiri sesuai kemampuan dan karakteristik masing-masing. Bergerak lincah menghindari serangan dari para musuh dan membalasnya dengan tembakan mati untuk mereka.

CRAAAASSHHHHH

Dengan satu tebasan, Sakura memisahkan kepala dari tubuh seorang musuh yang hendak menyerang Sasuke.

"Kenapa kau menolongku?" tanya Sasuke saat tahu Sakura menyelamatkannya.

"Baka! Aku hanya tak ingin mangsaku di bunuh orang lain selain aku. Maka teruslah hidup sampai akulah yang mengambil nyawamu!" jawab Sakura di selah kegiatannya menebas tubuh korbannya.

"Hn," jawab Sasuke di tutup dengan sebuah senyum.

Mereka terus bertarung dengan musuh dari The Skull. Kondisi mansion itu sudah tak lagi bisa di sebut mansion. Tubuh yang tercecer berserakan di mana-mana. Entah kepala, tangan, kaki, tubuh mereka yang telah menjadi mayat itu tak ada yang utuh. Semua tubuh tersebut saling terpisah dari anggota badan lainnya. Darah kini membanjiri lantai mansion tersebut.

"Hah, capek sekali. Tinggal pimpinannya saja yang belum mendapat kejutan." Ucap Sasori saat melempar potongan kepala yang menancap di pedangnya.

"Hooooeek…. Ku rasa aku akan muntah lagi." Kata Naruto saat selesai sesi pertarungan melawan para anggota The Skull dan melihat keadaan sekitarnya.

"Sakura ternyata kau lebih mengerikan dari yang kami lihat sebelumnya." Kara Shikamaru pada Sakura.

"Hn," jawab Sakura saat mengusap wajahnya yang penuh darah. Bahkan seluruh tubuh, mulai rambut hingga ujung kaki kini telah tertutupi oleh darah.

"Sebelumnya? Kau pernah melihat Sakura bertarung?" kata Sasori antusias.

"Kami pernah bekerjasama sekali saat menghancurkan sebuah organisasi. Dan saat itu Sakura tak sesadis ini." terang Neji.

"Hah, sudahlah lebih baik segera temukan pimpinannya dan ambil kepalanya. Lalu segera pergi dari sini." Kata Sakura seraya bangkit dari tumpukan tubuh yang tak utuh yang tadinya menjadi tempat duduknya.

"Hai" ucap semua yang ada di sana.

Mereka berjalan santai. Sebab tahu bahwa sudah tidak ada jalan keluar lagi bagi sang pimpinan untuk kabur. Mereka menaiki tangga dan langsung menuju sebuah ruangan besar di lantai dua. Dan memang itu adalah tempat tujuan mereka. Tempat di mana pimpinan The Skull berada.

"Hah, ternyata memang sudah saatnya ya?" ujar seorang pria paruh baya yang duduk di atas sebuah sofa.

"Maaf, tapi kami memerlukan kepalamu untuk menyelesaikan misi ini."Kata Sakura santai sambil memutar-mutar Katana-nya.

"Sombong sekali anak muda. Aku lah pemimpinnya. Jangan samakan aku denga para anak buahku itu." jawab sang laki-laki dengan sombongnya. Lalu ia mengeluarkan pistol yang terlihat sangat canggih dan di todongkan ke arah Sakura.

"Kami, sudah capek melawan ratusan anggota mu. Jadi mudahkanlah pekerjaan kami." Kata Sasori setelahnya.

"Cih, AKU TAK AKAN MENYERAH BEGITU SAJA" teriak bos tersebut.

DOOOOR

DOOOOR

DOOOOR

DOOOOR

DOOOOR

Lima tembakan terdengar secara bersamaan. Dark Assassin secara serempak menembak pimpinan tersebut. Dan ini membuat kecewa The Reapers.

"Kenapa kalian tembak, hah. Ini tak akan menyenangkan saat kami memenggal kepalanya dengan saat kondisi ia masih hidup."Protes Sasori pada Dark Assassin.

"Gomen, Gomen. Kalian terlalu lama bicaranya." Jawab Naruto di sertai cengiran rubahnya.

Tanpa mereka sadari Sakura telah maju ke depan menuju tubuh pimpinan The Skull. Lalu dengan sekali tarikan napas, ia mengayunkan Katana-nya dan memenggal kepala pimpinan itu dengan santai sampai kepala pimpinan itu terlepas dari badannya dan jatuh di lantai. Setelah itu ia mengambil potongan kepala itu dan melemparkannya ke arah Sasori dengan wajah tak berdosanya.

"Ini, tugas kita telah selesai." Kata Sakura saat melempar potongan kepala itu pada Sasori.

"Hah, akhirnya kita bisa pulang. Nah kami serahkan sisanya pada kalian, Dark Assassin." Kata Sasori setelah menerima kepala dari Sakura pada Dark Assassin dengan senyum ala bonekanya.

"Baik, Saso-nii kita pe…. Eh ada yang tertinggal rupanya." Kata Sakura saat ia menyadari adanya orang di balik sebuah pintu. Dan terdengar seperti suara tangis seorang perempuan.

BRAAAAAK

Pintu di buka dengan keras oleh orang yang di maksud oleh Sakura. Seorang gadis berambut pirang yang kini tengah memegang sebuah pistol dan menangis sesenggukan. Para Dark Assassin kaget saat mengetahui siapa orang yang baru muncul dari balik pintu. Namun tidak bagi Sakura. Ia masih dengan wajah innocent-nya saat menatap gadis itu.

"S-Shion? Apa itu kau?" tanya Naruto memastikan.

"Bukankah kau gadis yang waktu itu di sekolah Sakura kan?" tanya Sasori selanjutnya.

"Ke-Kenapa kalian me-melakukan ini? Hiks..hiks.." kata gadis pirang yang ternyata adalah Shion itu.

"Gomen ne Shion-chan." Jawab Sasori.

"Ini adalah misi. Dan misi harus tetap berjalan tanpa adanya hambatan." Jawab Sakura dingin dan menatap tajam pada Shion.

"M-Maka kau harus mengganti nyawa Tou -sanku?" kata Shion yang lalu menodongkan pistol tepat ke arah Sakura. Dan hendak ia menarik pelatuknya saat dengan sadar Sakura menutup matanya.

DOOOOOOR

Suara tembakan pun pecah. Sakura yang menutup mata kini membuka kembali iris emerald-nya saat di rasa seseorang memeluk tubuhnya. Dan juga perasaan saat ia tak merasakan sakit akibat tembakan itu. dan betapa terkejutnya Sakura saat melihat Sasuke tersenyum tulus padanya dan dari mulut Sasuke mengalir darah segar.

"SASUKEEE…?"teriak Naruto Cs dan Sasori saat melihat punggung Sasuke berlubang oleh timah panas.

"Apa kau kini puas Sakura? Apa kau bahagia? Aku bahagia jika kau bahagia Sakura." Kata Sasuke sebelum keseimbangannya hilang dan jatuh menimpa tubuh Sakura.

"…" Sakura hanya diam tak mampu berkata apa-apa. Matanya telah di penuhi oleh liquid bening yang siap meluncur kapan saja.

"Jangan menangis Sakura. Aku memang pantas mendapat ini semua atas apa yang telah… uhuk aku lakukan padamu." Kata Sasuke lagi.

"TIDAK! KAU TAK BOLEH BILANG BEGITU. AKU LAH YANG AKAN MEMBUNUHMU. BUKAN ORANG LAIN. KAU SUDAH BERJANJI KAN? BERTAHANLAH SAMPAI AKU YANG MENGAMBIL NYAWAMU. KUMOHON SASUKE-KUN?" teriak Sakura saat sadar akan kondisi kekasihnya. Pasalnya ini adalah kali kedua ia melihat orang yang ia kasihi bersimbah darah seperti ini.

"Tidak apa. Kau bisa memenggalku saat ini juga" kata Sasuke dengan sedikit meringis menahan sakit.

"TIDAK. AKU TIDAK MAU. AKAN KU URUS GADIS JALANG ITU. TAK AKAN KU BIARKAN ORANG YANG TELAH MELUKAIMU HIDUP" kata Sakura seraya menatap Shion. Hendak Shion kabur meninggalkan tempat itu, namun dengan cepat Sakura menarik belati yang berada di pahanya dan melemparkannya ke arah Shion dan mengenai pahanya.

"Kau akan menyesal karena telah membuat orang yang aku cintai terluka." Kata Sakura saat berjalan mendekat ke arah Shion.

"Hah, apa kau masih ingin menolong orang itu hah?" kata Shion dengan angkuhnya.

"Apa maksudmu?" kini Sakura telah meletakkan Katana-nya di leher Shion.

"Kasihan sekali kau telah di bohongi oleh mereka." Tambah Shion lagi yang makin memperburuk suasana.

"…"

"Kakak tersayangmu telah menyembunyikan kenyataan tentang siapa pelaku pembantaian keluargamu. Hah ternyata kita sama. Orang tua kita sama-sama di bantai. Tapi sayangnya aku tahu siapa yang membantainya yaitu kalian, namun kau, kau sama sekali tak tahu dan hidup di liputi kebohongan" kata Shion sambil meringis kesakitan merasakan sakit di pahanya.

"Apa yang kau katakan?" kata Sakura dingin dengan tatapan menuntut penjelasan dari Shion.

"Saku-chan. lebih baik kita segera membawa Sasuke ke rumah sakit." Kata Sasori mencoba membuat Sakura beralih dari Shion.

"Hmm, kau tak ingin Sakura tahu kan bahwa pembunuh orang tuanya adalah keluarga dari kekasihnya sendiri. Seorang Uchiha? Betapa ironis sekali?" tambah Shion. Ini membuat semua orang kaget. Temasuk Sakura dan Sasuke.

"Cukup…" kata Sakura lirih saat mendengar penuturan Shion.

"Kenapa apa kau tak percaya? Lambang di katana mu itu adalah lambang dari Uchiha. Keluarga dari kekasihmu. Lambang keluarga yang telah membantai orang tua mu. Apa kau masih bisa mencintai dia, hah? Orang tuanya lah yang telah membunuh orang tua mu" kata Shion yang semakin menyulut api amarah Sakura.

"KU BILANG CUKUP!"

CRAAAAASH

Sakura yang telah emosi mengayunkan Katana yang bertengger cantik di leher Shion dan sekali tebas kepala gadis cantik itu pun hampir putus. Sangat mengerikan melihat kondisi gadis pirang itu. kepalanya kini tergantung ke sisi kanan tubuhnya. Hanya kurang beberapa sentimeter saja daging yang masih bersatu itu terpotong,maka kepala gadis itu akan tergeletak di lantai. Namun kekuatan ayunan Katana Sakura nyatanya tidak cukup keras untuk melepaskan kepala gadis tersebut dari badannya. Gadis tersebut telah meregang nyawa dengan sangat sadis di tangan Sakura akibat ucapannya.

"SASUKE, BERTAHANLAH SASUKE?" teriak para Dark Assassin saat melihat kondisi Sasuke yang semakin memburuk. Ini membuat Sakura sadar dari lamunannya. Dan segera berlari menuju Sasuke.

"Sasuke-kun. Ku hiks…hiks mohon bertahanlah. Jangan ingkari janjimu untuk kedua kalinya. Ku mohon. Aku tak ingin melihat orang yang ku sayang seperti ini lagi. Hiks.. ku mohon bertahanlah." Kata Sakura. Melihat kondisi kekasihnya seperti ini, sontak ia melupakan apa yang telah ia dengar dari Shion.

"Jangan mengangis..uhuk… Sakura. Melihatmu me..uhuk..nangis jauh lebih sakit dari ini." kata Sasuke dengan senyum dan menyentuh wajah Sakura untuk mengusap air matanya.

"Jangan banyak bicara. Kau harus bertahan sampai di rumah sakit." Kata Sakura.

"…"

"Baiklah sekarang kita bawa Sasuke ke rumah sakit. Hn, ada yang ingin melanjutkan tugasnya untuk malam ini?" tanya Sasori.

"Hn, Biar aku dan Sai yang mengurus sisanya. Kalian pergi saja dulu." Kata Neji mengingat ia harus menambah penutup dari misi ini.

"Hn, baik. Gunakan motor ku. Aku akan pergi bersama mereka. Jaga diri kalian. Ayo kita pergi." Kata Sasori sebelum memapah tubuh Sasuke bersama Shikamaru. Sedangkan Naruto telah pergi dahulu guna menyiapkan mobil. Sakura berjalan di belakang mereka. Ya misi malam ini telah selesai, walau hal menyakitkanpun kini terkuak.

.

.

.

To Be Continued

A/N :

Gomen Minna….?

#nunduk nunduk segala ampe kejedot tembok. Trus pake nangis Bombay pula

x" SaGaa-chan telat update gara-gara UTS..

#udah di todong ama readers pake Katana, pistol, belati, sapu lidi, meja, kursi. Apaan sih salah sendiri kagak ngasih kabar dahulu.

SaGaa-chan baru tahu kalau ada UTS hari kamis setelah chapter 11 update. Itu aja SaGaa-chan langsung ribet ngurus keuangan yang sempat ketilep. :p hehe maaph ya?

Hehe gomen ya? Ini sudah update kok. Tapi maaph low gak menarik. Coz ini ngebut karena udah telat seminggu lebih.

Nah untuk reviews SaGaa-chan gak bales satu-satu coz hampir semua reviewnya mirip. Kenapa Sasuke ngelakuin itu ke Sakura pake acara pemaksaan segala. Dan kenapa selalu ada konflik di antara mereka?

Jawabnya karena sifat alami Sasuke yang kalau udah kalut gak kebendung deh marahnya. Itu yang SaGaa-chan pikirin. Konflik seperti yang SaGaa-chan bilang di chap-chap sebelumnya bahwa SaGaa-chan emang pecinta konflik. Jadi maaph jika para readers mulai bosan atau bahkan bosan dengan konflik. T,T Jadi maaph kalo chap kemarin membuat reader kecewa.

Nah untuk para reviewers, Honto ni arigatou ya?

Guest, angodess, AdlinAfifah, sasusaku kira, mako-chan, RyeoRezClouDy, LeEdacHi aRdian Lau, sasusaku uciha, sasu lve saku,SaSakuToCherry, Guest, Tsurugi De Lelouch, white moon uchiha, ocha chan, hanazono yuri, fira sasusaku, namiiko-chan, sasusaku lovers , SuntQ

Dimohon kesediaannya untuk review kembali.