Dumped Princess
Chapter 12
GS! EXO OFFICIAL COUPLE
MONARCHY CONSTITUTIONAL! AU
HUNHAN AS MAIN COUPLE
. . .
Luhan diusir dari rumahnya ketika pemilihan Putri Mahkota Korea Selatan akan dilaksanakan. Pilihan yang diberikan Xi Hangeng—ayahnya hanyalah masuk ke istana atau keluar dari rumah selamanya. Luhan yang bingung tak tau harus bagaimana. "UJIAN TAHAP PERTAMA DIMULAI!" TENGGG! Suara gong kerajaan berbunyi! Putra Mahkota yang duduk disinggasana yang tertutup tirai hanya menatap semua calon Putrinya.
. . .
Oh Sehun as Crown Prince Oh Sehun
Xi Luhan as Crown-Princess-to-be Xi Luhan
Wu (Oh) Yifan as Crown Prince's Brother
Oh Yunho as South Korea King
Kim Jaejoong as South Korea Queen
Tan (Xi) Hangeng and Kim Heechul as Luhan's parents
. . .
FujoAoi present…
Studio yang awalnya begitu hangat menjadi mencekam karena pertanyaan pembawa acara yang sangat sensitif. Pengawal kerajaan menerobos masuk ke dalam studio dan segera menghentikan acara yang sedang disiarkan secara live ke penjuru negeri.
Pembawa acara, Son Hangyu langsung dibawa oleh beberapa pengawal menuju belakang panggung. Luhan sendiri masih terdiam dan badannya serasa akan luruh ke dalam sofa yang tadinya adalah sofa yang nyaman tapi tiba-tiba menjadi kursi kayu berduri. Sehun menggeram kesal. Dia menggenggam tangan Luhan dan membawa Luhan keluar dari studio. Seluruh studio riuh karena kepergian Putra dan Putri Mahkota.
Sehun membawa Luhan ke parkiran dan segera memasukkan Luhan ke mobil. Luhan diam melihat Sehun yang emosi. Sehun terlihat sedang marah kepada supir kerajaan karena tak memberikannya kunci mobil. Hingga akhirnya Sehun mendapatkan kunci, Luhan masih diam di kursinya.
Sehun menghidupkan mobil dan melajukannya kencang sekali. "Se-Sehun…" cicit Luhan. Sehun masih marah dan mengabaikan cicitan ketakutan Luhan. "SEHUN!" panggil Luhan. Sehun mengeram mobil dengan mendadak, membuat mobil-mobil di belakang terpaksa berhenti mendadak juga dan mengklaksonnya beberapa kali.
Luhan menangis karena merasa karena dirinyalah Sehun menjadi seperti ini. Semuanya terlalu berat untuk di pikul. Terlalu banyak yang dikorbankan hingga dia berada di puncak kerajaan. "Ka-Kau! Bagaimana jika kita kecelakaan, hm? Kalau kau mati aku akan sendirian di dunia ini!"
Luhan membentak Sehun yang masih diam dengan wajah yang sudah tidak terlalu mengeras menahan emosi. Luhan membuka pintu mobil dan segera pergi keluar dari mobil. Sehun kaget karena Luhan tiba-tiba pergi. "LUHAN!"
Luhan terus saja berjalan. Beberapa orang mengambil fotonya dengan wajah yang sembab akibat tangisan. Sehun menarik tangan Luhan hingga akhirnya Luhan menghempaskan tangannya dari genggaman Sehun. "Aku tidak ingin melihatmu sekarang!"
Pejalan kaki yang melihat kejadian itu berbisik-bisik dan bahkan beberapa dari mereka mengabadikannya. "APA YANG KALIAN LIHAT?!" bentak Luhan sebelum akhirnya berlari menjauhi Sehun.
Luhan berlari menuju sebuah bus yang tengah berhenti di satu halte dan segera masuk karena bus itu akan segera berangkat. Sehun mengejar bus itu karena ia melihat Luhan dalam keadaan pikiran yang kacau karena emosi. Salahnya juga membuat Luhan semakin kacau.
Beberapa penumpang bus kaget melihat Luhan dengan pakaian mahalnya berada di dalam bus dengan wajah yang sembab. Kaki Luhan lecet-lecet karena di menggunakan highheels ketika berlari tadi. Perih hati Luhan semakin bertambah dengan perih fisik yang dia rasakan.
Luhan hampir saja meraung keras sebelum mendengar seorang anak kecil memanggilnya dan memberikannya sebuah plester bemotif bunga-bunga dengan tatapan polosnya. Luhan menerimanya dengan senyum yang dipaksakan. "Terima kasih…" ucapnya.
Anak itu tersenyum dan mengangguk. Luhan teringat ketika ibunya sering memberikan pelester kepada dirinya karena dia sering jatuh ketika berlari di sekolahnya. Tangan Luhan bergetar ketika membuka lapisan plester.
Luhan melihat ke halte pemberhentian pertama bus yang ia naiki. Daerah tempat tinggalnya.
. . .
Jaejoong mondar-mandir di dalam paviliun yang menjadi ramai karena siaran langsung wawancara yang dihentikan. Jaejoong masih menggunakan hanboknya karena saat ini ada beberapa anggota Dewan Tetua Korea berkumpul di dalam ruang tamu paviliun.
"Kelakuan pewawancara itu sangat kurang ajar!" ucap Yunho geram hingga ia menggebrak meja di depannya. Beberapa anggota Dewan Tetua Korea berjengit kaget melihat kelakuan Yang Mulia Raja mereka. "Ini karena usulan kurang ajar Lee Ki Hyo!" ucap Yunho lagi.
Jaejoong menyambut kedatangan Sehun dengan sebuah pelukan penenang agi anaknya. "Tenanglah. Mereka akan mengurus semuanya," bisik Jaejoong pada Sehun. Sehun mencoba melepaskan pelukan Jaejoong dan ingin segera masuk ke dalam kamarnya.
"Dimana Luhan?" tanya Jaejoong.
Sehun segera pergi ke kamarnya dan mengganti bajunya meninggalkan Jaejoong yang bertanya-tanya. Sehun keluar dari kamarnya dan membuat Jaejoong berteriak-teriak karena bertanya Sehun akan kemana dengan wajah panik dan kunci mobil di tangannya.
. . .
Luhan menelentangkan badannya di ruangan tengah apartement keluarganya yang sangat sepi. Luhan meletakkan high heels-nya di sampingnya sambi memejamkan mata, mencoba menenangkan diri setelah perjalanan menuju rumah yang membuatnya teringat semua kenangan bersama orang tuanya. Luhan mendengar ponselnya berbunyi dan melihat nama Sehun tertera di sana.
Luhan memilih menolak panggilan Sehun dan kembali menenangkan diri. Lantai terasa dingin di hari yang hangat. Sekali lagi ponsel berdering. Luhan terpaksa mematikan ponselnya demi mencapai ketenangan yang ia dambakan saat ini.
. . .
Sehun memukul stirnya dengan keras karena Luhan mematikan ponselnya beberapa saat lalu. Kemana dia harus mencari Luhan? Dia tidak bisa meminta tolong pada pengawal, karena jika kabar tersebar, semuanya akan jadi kekacauan yang lebih besar.
Sehun melihat sebuah televisi besar yang tergantung di sebuah gedung. Berita tentang siaran langsung yang membuat Luhan pergi berulang kali ditayangkan. Namun, ada berita baru yang menarik minat masyarakat.
'Putri Mahkota, Xi Luhan dan Putra Mahkota Oh Sehun telihat bertengkar di jalanan. Apa yang sedang terjadi diantara pasangan muda ini?'
Sehun menyaksikan sendiri rekaman kejadian yang terjadi beberapa jam lalu. Semuanya terekam dari awal hingga akhir dengan lengkap. Bahkan, bagian Luhan mengamuk kepada orang yang menatapnya dengan tatapan penasaran.
Sepertinya Sehun akan berurusan dengan para tetua demi menyelamatkan Luhan. Oh Tuhan!
. . .
Pagi menjelang dan Luhan sudah berada di dalam dapur rumahnya dengan celemek di badannya. Luhan menghela nafas pasrah karena tak ada yang dapat dimakan. Semua stok makanan yang ada di kulkas sudah dikosongkan. Yang ada di kulkas hanya air dingin dengan satu kotak susu kadaluarsa. Kimchi pun sudah tinggal sedikit.
Luhan berpikir bagaimana dia akan keluar dari apartement? Ah! Itu dia!
. . .
Luhan memakai maskernya yang berwarna putih dengan gambar mulut Cony, coat berwarna hitam dan topi putih bertuliskan 'Hokkaido' pemberian Hangeng. Setelah memastikan apartementnya aman, Luhan segera naik ke dalam bus yang akan membawanya ke pasar tradisional.
Luhan tiba di pasar yang ramai oleh pembeli. Banyak binatang seperti gurita, abalon, ikan tuna dan berbagai makanan lainnya. Luhan membeli beberapa sawi dan pasta cabe untuk membuat kimchi. Luhan juga membeli daging sapi dan telur. Senyuman Luhan tak terhapus hari ini.
Luhan melihat gurita yang akan dibersihkan oleh seorang ahjumma. "Ahjumma, aku beli guritanya!" ucap Luhan semangat. "Ya!" ucap ahjumma itu. Luhan tersenyum dan melihat potongan tentakel gurita yang meliuk-liuk di mangkuk plastik yang tersedia. Luhan menurunkan maskernya karena ingin mencicipinya. "OH TUHAN!"
PRANG!
Ahjumma yang sedang memotong tentakel gurita itu menganga tak percaya melihat gadis di depannya. "YANG MULIAAA!"
Ahjumma tadi langsung berlutut kepadanya. Luhan panik dan kembali menutup wajahnya dengan masker. Beberapa pembeli berbisik-bisik karena melihat Putri Mahkota yang menjadi berita hangat dari tadi malam di depan mata mereka sendiri.
Luhan membisikkan sesuatu pada ahjumma itu dan mencoba bertingkah layaknya orang aneh. "AHAHAHA! Banyak orang yang menyangkaku seperti Putri Mahkota. Aduh… Rasanya… Aku tidak pantas…" ucap Luhan sambil menggaruk-garuk lengannya yang tak gatal.
Ahjumma yang menjual gurita itu tersenyum kikuk melihat tingkah Luhan yang berusaha membuat orang-orang tak yakin di adalah calon ibu negara negeri itu. Setelah membungkuskan gurita yang sudah dibersihkan, ahjumma itu berbisik kepada Luhan agar Luhan segera pergi. Luhan meletakkan uang pembelian gurita dan segera pergi keluar area pasar.
Luhan naik ke atas bis dengan wajah penuh keringat. Bis sepi karena belum banyak orang akan pergi sekolah dan pergi ke kantor. Luhan menurunkan maskernya dan melihat ke arah jalanan. Beberapa orang terlihat berjalan menuju tempat bekerja dan beberapa siswa yang berangkat sekolah.
Luhan terdiam ketika melihat seorang siswa dari sekolah yang sama dengannya berjalan sendirian. Luhan teringat dengan sekolahnya dan teman-temannya. Sehun. AH! SEBAL!
Luhan menutup wajahnya dengan masker sebelum bus berhenti dan menurunkannya di halte yang tepat.
. . .
Luhan menikmati kimchi, sup daging dan salad sederhana yang ia buat dengan kemampuan memasak yang diturunkan Heechul padanya. Luhan menghidupkan televisi dan menonton cuplikan reality show. Setelah makan, Luhan segera membereskan semua sisa makannya dan membersihkan rumah.
"Video Putri Mahkota yang mengamuk ini telah disaksikan oleh hampir 2 juta penonton Youtube. Berdasarkan keterangan yang ditulis peng-upload video, Putri Mahkota sempat terlibat permasalahan dengan Putra Mahkota."
Luhan menutup matanya mendengar berita yang tersebar dan menyesali perbuatannya yang akhirnya membuat lebih banyak masalah lagi. Tadi malam itu bagai mimpi buruk panjang yang akan menghampirinya.
Ting… Ting…
Luhan segera menuju interkom dan melihat siapa yang berada di depan pintu. Jantungnya serasa diremas melihat anak lelaki yang diagungkan negara berdiri di depan sebuah apartement biasa memencet interkom. Ia telah membuat orang yang ada di balik pintu ini menderita terlalu lama.
Sehun…
"Luhan, buka pintunya… Aku tau kau di dalam…" Sial! Siapa yang memberitahukannya dia ada di apartement keluarganya? Siapa yang membuat pria yang ia cintai ini menyusulnya kemari?
Luhan membekap mulutnya menahan isakan yang mulai keluar melihat Sehun tampak panik melihat ke arah CCTV yang terletak di ujung koridor. Oh sial! Itu dia. Keluarga kerajaan punya akses ke CCTV milik seluruh apartement di Korea Selatan.
"I-ITU PUTRA MAHKOTA SEHUN!"
Luhan bisa mendengar awak media mencoba mengejar Sehun. Sehun panik dan segera lari menjauhi pintu apartement Luhan dengan berat hati. Luhan lebih shock mengetahui banyak media datang dan menutupi interkomnya. Ia terjebak. Bagaimana ini?
Luhan melihat ke bawah, masih banyak wartawan yang sedang meliput bagian depan gedung apartement. Sehun berhasil kabur dan langsung mempercepat mobilnya meninggalkan apartement Luhan.
Sehun mengusak rambutnya panik, Luhannya terjebak di dalam sana. Sekarang, ia harus kembali dan mempersiapkan diri untuk menyerbu masuk ke dalam gedung apartement dan membawa istrinya kembali.
. . .
Jaejoong menghela nafas berat melihat anak bungsunya sudah siap dengan setelan hitam beserta kantung mata hitam di bawah matanya. "Bawa Luhan kembali baik-baik. Jangan membuatnya sedih ataupun bersalah. Karena, ini bukan salahnya. Yakinkan ia seperti itu…"
Sehun mengangguk. Ia segera berjalan menuju mobilnya yang dikawal tujuh mobil berisi bodyguard keluarga kerajaan. Jalanan tak terlalu ramai karena orang sudah pergi bekerja dan jalanan juga telah diamankan jika Sehun lewat.
Ketika delapan mobil hitam tiba di depan gedung apartement dan mendesak awak media pergi, Sehun segera naik ke lantai tempat istrinya terjebak. Bodyguard kerajaan segera mengosongkan koridor dan memastikan tak ada kamera tersembunyi, penyadap dan alat yang dapat mengganggu Putra Putri Mahkota.
Setelah status koridor aman, Sehun kembali membunyikan interkom Luhan. Jantungnya berdegup kencang berharap pujaan hatinya yang menghilang semalaman mau membukakan pintu untuknya. Tiga kali Sehun membunyikan interkom, dan saat keempat kalilah baru Luhan membukakannya.
"Selamat datang, Yang Mulia."
Luhan menyambut Sehun dengan bungkukan dalam sebagai tanpa penghormatan.
. . .
Daeun tersenyum melihat cuplikan video yang ditayangkan melalui televisi di ruang makan tahanan. Tahanan khusus. Daeun awalnya tak mau ditahan karena merasa tak bersalah sama sekali. Tapi, setelah pihak kepolisian mengancam akan memasukkan Daeun ke ruang isolasi, Daeun akhirnya menurut.
"Haish… Kenapa semuanya jadi semudah ini? Kan jadi tidak seru!" ujarnya sambil menghentakkan tangannya gemas. "Kau terlalu payah Xi Luhan. Banyak masyarakat jadi tak menyukaimu, lebih baik aku menggantikanmu… Tapi, aku ada di sini. Terkurung karena Sehunku…"
Daeun terus berbicara sendiri di ruangan makan tahanan yang sepi. Seolah berbicara pada Luhan yang tengah duduk di depannya dengan menundukkan kepala tanda menyesal.
. . .
Luhan meletakkan secangkir green tea hangat di meja tamu dan duduk di depan Sehun dengan suasana yang canggung. Sehun melihat keseluruhan rumah, "Rumahmu rapi dan bersih," puji Sehun. ia bukan hanya sekedar memuji, tapi kenyataannya memang begitu.
Luhan tersenyum. "Apa yang membawamu kemari, Yang Mulia?" tanya Luhan. Sehun mengambil cangkir tehnya, membawa cangkir berisi green tea hangat itu keliling ruangan tamu dan memperhatikan foto keluarga Luhan. "Membawamu kembali, tentu saja," kata Sehun.
Luhan menggeleng. "Belum. Aku masih ingin tinggal disini," tolak Luhan. Sehun meletakkan cangkirnya dan kemudian berlutut di depan Luhan. "Maafkan keegoisanku dan kelalaianku membuatmu tak nyaman," cicitnya lirih.
Terlalu banyak konflik yang muncul setelah pernikahan kerajaan terlaksana. Semuanya sudah menorehkan luka yang mendalam di hati Luhan. Luka-luka di hatinya serasanya sudah bernanah.
Luhan menggeleng. "Tidak. Aku tidak i—"
"Kau harus, Yang Mulia," potong Yifan yang muncul dari pintu bersama dengan Yang Mulia Raja. Yunho datang mengenakan coat hitam tebal dan masuk bagaikan seorang bos mafia. Sehun berdiri dan bersama Luhan langsung membungkukkan badan.
Luhan segera menyajikan green tea hangat untuk Yunho dan Yifan. "Putri Mahkota, tak usah repot-rpot menyajikan hidangan. Duduklah," kata Yunho. Luhan segera duduk di samping Sehun dengan kepala tertunduk. "Kau tidak pasti tau apa yang terjadi di luar sana. Benar-benar kacau," ucap Yunho dengan nada penuh kekecewaan.
"Sepantasnya sebagai seorang Putri Mahkota, kau tak boleh kabur seperti ini!" tambah Yunho dengan nada meninggi. "kau melarikan diri dari masalah, Putri Mahkota. Putri Mahkota macam apa yang kabur dari masalah yang ia buat? HAH?!" bentak Yunho akhirnya. Sehun berdiri mencoba membela Luhan.
"Yang Mulia!"
"Sehun, duduk," perintah Yifan. Sehun dengan berat hati kembali duduk. Sedangkan Luhan memejamkan matanya, memikirkan semua kalimat Yunho. "Apa kau tak berpikir apa yang terjadi di dalam istana? Apa yang terjadi di dewan tetua? Kau tak pernah memikirkannya!"
"Ayah!" Sehun kembali berdiri, namun Yifan segera menariknya menjauh.
Yunho berdiri di depan Luhan dengan tatapan kecewa. "Tuan Shin, tolong duduk dan siapkan peralatan untuk menuliskan keputusan resmi. Bawa cap kerajaan kemari," perintah Yunho pada Tuan Shin—atasan Tuan Hong. "Baik Yang Mulia!"
Yifan akhirnya mendudukkan Sehun di ruang makan keluarga Luhan. "Kau tak pantas bertindak seperti itu, Oh Sehun!" bentak Yifan pelan. Yifan memukul kepala adiknya layaknya kakak adik lainnya. Sehun mengelus kepalanya perlahan. "Kenapa kau seperti ini? Kau pasti juga melakukan hal yang sama jika Zi—"
"HAISH! Zitao itu bukan urusanmu!"
Yunho menatap Tuan Shin yang siap menulis. "Hari ini. Aku, Oh Yunho, Yang Mulia Raja dari Korea Selatan, memerintahkan Yang Mulia Putri Mahkota Oh Luhan untuk kembali ke istana. Mulai dari kartu kredit, hingga kartu bis akan dipegang oleh istana dan diawasi penggunaannya demi menghindari perginya dari istana."
Tuan Shin selesai menulis, ia memberikan stempel kerajaan kepada Yunho. Luhan menarik nafas panjang dan menghembuskannya keras. Tamatlah riwayatnya. Mendengar suara stempel kerajaan beradu dengan meja di depannya, Luhan mengangkat wajahnya.
"Sekarang, tanpa penolakan…"
Dua bodyguard perempuan menarik Luhan ke mobil yang menunggu di bawah. Semua awak media meliput kepergiannya. Sehun mengikuti dengan mobil pribadinya kemana Luhan pergi.
. . .
"Baiklah, ini kemunculan pertama anda setelah video yang menjadi viral itu menyebar ke pelosok negeri, benar?"
"Benar sekali. Acara kalian beruntung memilikiku," ucap Luhan menampilkan senyum manisnya.
"Terima kasih banyak, Yang Mulia!"
"Aku yang berterima kasih,"
"Hahaha, baiklah. Jadi, ada yang ingin anda sampaikan kepada seluruh rakyat Korea Selatan?"
Luhan meneguk liurnya gugup.
"Kepada seluruh rakyat Korea Selatan yang diberkahi oleh Tuhan dan aku sayangi. Aku, Putri Mahkota Oh Luhan mengucapkan permintaan maafku sebesar-besarnya untuk semua orang yang telah merasa terancam dan merasa terluka baik fisik dan psikis karena kelakuanku yang tak sepantasnya."
Luhan membungkukkan badannya ke depan kamera yang meliputnya. "Terima kasih…" ucapnya dengan isak tangis penuh penyesalan.
. . .
TBC
. . .
Mian…
Maaf ya, Aoi baru bisa update hari ini. Terlalu banyak alasan Aoi kali ini. Sumpah.
Yang mau komunikasi sama Aoi, silahkan buka ig Aoi ohvelia_
Info update Aoi kasih tau disana
Review juseyo.
