Disclaimer :
Detektif Conan milik Aoyama Gosho
Catatan Penulis :
Terima kasih kepada claire nunnaly, Nivellia Neil, nazliahaibara, hiru nesaan, shihoCool'n, Shinju Yoichi, haibara111, Cute Bee, moonlight me, PriscilaIka, KrulciferAkitsukii, akako48, tina, ariabr, aishanara87, Dilara Patricia, rukia, uyab4869, Shiina481 untuk komentarnya.
Maaf karena update-nya luama buanget. XD
Selamat membaca dan berkomentar!
Aku Memilihmu
By Enji86
Chapter 12- Begitu Mudah
Ini adalah kesempatannya. Begitulah pikir Amuro sambil memandang Shinichi dari kejauhan dengan senyum di bibirnya. Ah, tapi bisa juga sebaliknya. Bisa saja Shinichi malah merasa takut. Senyum Amuro pun menghilang, berganti menjadi wajah serius. Tidak, dia tidak pernah salah mengenali orang sebelumnya. Ini akan berhasil.
Saat Amuro sudah berada di belakang Shinichi, pintu ruang operasi terbuka. Amuro langsung terbelalak melihat pasien yang akan dibawa ke kamar rawat tersebut.
"Sherry? Apa yang...? Bagaimana bisa...?" tanya Amuro dalam hati dengan kaget.
Amuro hanya berdiri di tempatnya sambil menatap Shinichi dan rombongannya yang mengikuti pasien yang baru dikeluarkan dari ruang operasi tersebut dalam diam. Lalu tiba-tiba dia menyeringai.
"Bagaimana bisa? Ini begitu mudah. Yang benar saja?" ucap Amuro dalam hati. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.
XXX
Ai tidak mempedulikan orang yang baru masuk ke kamar rawatnya sambil membawa bunga sampai orang itu berdiri di samping tempat tidurnya. Dia tidak mengenal orang itu makanya dia mengira orang itu tamu pasien sekamarnya, tapi sepertinya dia salah. Dia pun menoleh sambil menaikkan alisnya pada orang yang membawa buket bunga besar hingga menutupi wajahnya itu.
"Bagaimana kabarmu, Sherry?" ucap orang itu sambil menaruh buket bunga yang dibawanya di meja di samping tempat tidur Ai lalu menatap Ai sambil tersenyum.
"Bourbon? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ai dengan terkejut.
"Sudah jelas kan? Aku mengunjungimu yang sedang sakit di rumah sakit," jawab Amuro dengan santai sambil duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Ai.
Ai menatap Amuro dengan terpana selama beberapa saat kemudian dia tertawa geli.
"Jadi kau tidak membenciku lagi sekarang?" tanya Ai dengan nada meledek.
"Aku tidak pernah membencimu," sahut Amuro dengan angkuh.
"Benarkah? Bourbon yang sangat baik padaku, tiba-tiba menjadi dingin saat dia mendengar gosip bahwa aku berkencan dengan orang itu, begitu kan?" ucap Ai dengan geli.
"Jangan bohong padaku, Sherry. Aku tahu itu bukan sekedar gosip. Aku tahu kau mengencaninya," ucap Amuro dengan tajam.
"Terserah kau saja. Tapi apa kau tidak merasa lelah hidup seperti ini? Dia sudah hidup bahagia dan sukses, namun kau tetap begini-begini saja. Kau bahkan tidak punya teman karena kau mendekati orang lain untuk membencinya...," ucapan Ai dipotong oleh Amuro.
"Kau tidak mengerti jadi jangan menceramahiku, Sherry. Dia selalu mengambil semua yang kuinginkan sejak dulu. Selama dia ada, aku tidak akan pernah mendapatkan apa-apa," ucap Amuro dengan nada tinggi.
Ai pun menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
"Jadi sekarang kau ingin memanfaatkan Kudo-kun untuk melampiaskan kebencianmu, huh?" ucap Ai.
"Bukankah kau juga membantu bocah Kudo itu untuk sampai sejauh ini? Kau juga ingin balas dendam padanya karena dia meninggalkanmu untuk wanita lain, kan?" ucap Amuro dengan sinis.
"Ck, ck, ck. Apa kau pikir semua orang sama sepertimu?" ucap Ai dengan nada tidak habis pikir.
Ai kemudian memajukan wajahnya sedikit dan menatap Amuro lekat-lekat.
"Aku akan memberitahumu sesuatu. Kau mungkin bisa mengantarkan Kudo-kun ke kursi gubernur Tokyo, tapi jangan harap kau akan mendapatkan kursi perdana menteri karena kursi itu adalah milik gubernur Osaka, kau mengerti?" ucap Ai sambil menyeringai.
Amuro pun menatap Ai dengan terpana selama beberapa saat. Namun sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu, orang lain sudah bersuara terlebih dahulu.
"Amuro-san, apa yang kau lakukan disini?" tanya Shinichi.
Amuro sudah akan menjawab tapi Shinichi langsung memotongnya.
"Ikut denganku," ucap Shinichi sambil menarik lengan Amuro.
"Aku akan ikut pilkada Tokyo, jadi berhentilah mendekati orang-orang di sekitarku untuk membujukku," ucap Shinichi dengan tajam saat mereka berdua berada di atap rumah sakit yang sepi.
Amuro pun tersenyum.
"Itu keputusan yang bagus. Tapi kau sudah salah paham. Aku tidak sedang mendekati orang-orang di sekitarmu untuk membujukmu. Aku memang kenal dengan Sherry," ucap Amuro.
"Sherry?" ucap Shinichi dengan penuh tanda tanya.
"Begitulah semua orang memanggilnya di sekolah. Aku tidak tahu bagaimana kau memanggilnya di sini, tapi begitulah aku memanggilnya," ucap Amuro.
"Sekolah?" ucap Shinichi lagi dengan bingung.
"Ya. Kau mungkin sudah tahu kalau Sherry lulusan Golden Apple Academy. Aku juga bersekolah disana," ucap Amuro.
"Begitu ya," ucap Shinichi.
"Sekolah kami merupakan sekolah untuk murid-murid terbaik dari seluruh dunia dan di sekolah terdapat klub untuk murid-murid terbaik sesekolah. Murid-murid yang tergabung dalam klub mendapatkan nama panggilan dari sekolah sebagai penghargaan. Jadi begitulah dia mendapatkan nama Sherry," ucap Amuro panjang lebar.
Shinichi hanya diam saja. Terbaik dari yang terbaik. Itu membuatnya sedikit iri. Sekolah itu terdengar sangat menantang. Tapi tentu saja dia tidak bisa memutar waktu kembali, ya kan?
"Nama panggilanku adalah Bourbon," lanjut Amuro.
"Kau juga?" seru Shinichi dengan agak terpana.
"Ya. Dan juga Gubernur Osaka. Dia termasuk anggota klub," ucap Amuro.
"Benarkah?" tanya Shinichi dengan nada tidak percaya.
"Ya. Saat di sekolah dulu, aku sempat mendengar gosip kalau Sherry dan Gubernur Osaka berkencan. Tapi setelah Gubernur Osaka menikahi putri tunggal keluarga terkaya di negeri ini, aku berpikir mungkin itu hanya sekedar gosip bohong. Namun melihat apa yang dilakukan Perdana Menteri kemarin untuk melukai Sherry, aku kira gosip itu memang benar. Jadi kau harus lebih melindungi Sherry karena mereka bisa melukainya lagi nanti," sahut Amuro.
Melihat Shinichi terdiam, Amuro pun tersenyum.
"Aku harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu lagi nanti untuk membicarakan pencalonanmu. Sampai jumpa," ucap Amuro. Kemudian dia melangkah pergi.
"Sudah kuduga, Sherry ternyata belum kehilangan pesonanya. Yah, apa boleh buat. Bahkan dua orang sahabat karib bisa bermusuhan karenanya," ucap Amuro dalam hati sambil menyeringai.
Sementara itu, Shinichi mulai mengingat sikap Ai yang aneh di Osaka. Lalu kencan Ai dengan teman masa kecilnya, yang merupakan sopir gubernur Osaka, dan berakhir dengan tangis Ai. Kemudian dia ingat kata-kata Ai tentang gubernur Osaka, "muda, berprestasi dan tampan", dan bahwa gubernur Osaka adalah tipe pria idaman Ai.
Shinichi pun menundukkan wajahnya.
"Kenapa? Setelah semua ini, setelah semua yang dilakukannya padamu... kenapa...? Kenapa kau masih begitu menyukainya, Haibara?" batin Shinichi dengan geram.
"Tidak boleh begini. Aku akan membuatmu berpaling. Aku akan membuatmu melihatku. Hanya aku," ucap Shinichi dalam hati dengan penuh determinasi.
Ketika Shinichi kembali ke kamar Ai, ternyata Ai sudah tidur lagi. Shinichi pun menghela nafas. Dia kemudian duduk di kursi di samping tempat tidur Ai lalu bertopang dagu sambil memandangi wajah Ai.
XXX
Di sebuah kamar hotel bertipe president suite, terlihat seorang pria dan seorang wanita yang sedang berhubungan intim dengan sangat panas. Mereka tidak berhenti mendesah dan mengerang sampai mereka berteriak di puncak kenikmatan mereka.
"Kau luar biasa, Kudo," ucap si wanita yang sedang berada dalam pelukan si pria.
"Kau juga, Sayang," ucap si pria sambil membelai rambut si wanita.
"Ah, aku senang sekali hari ini. Impian kita akan menjadi kenyataan. Kita akan menguasai negeri ini," ucap si wanita.
"Yah, sebenarnya itu masih jauh, Sayang," ucap si pria sehingga si wanita menepuk dadanya sambil nyengir.
"Hei, ada apa denganmu? Pesimis sekali. Ini memang baru langkah awal tapi aku punya firasat bagus tentang ini," ucap si wanita.
"Baiklah," sahut si pria.
"Kalau saja wanita itu tidak berkeliaran di sekitar kita, tentu aku akan percaya firasat baikmu," ucap si pria dalam hati.
"Akhirnya putramu itu berhenti bermain-main dan mulai menjadi orang yang berguna, jadi aku akan segera mengatur acara pertunangannya dengan Ran. Bagaimana kalau setelah pilkada?" ucap si wanita.
"Terserah kau saja, Eri," ucap si pria sambil tersenyum.
Si wanita pun membalas senyum si pria dan tak lama kemudian mereka berdua mulai terlelap.
XXX
"Apa kau tidak ke rumah sakit?" tanya Eri.
Ran yang sedang melamun langsung tersadar dari lamunannya setelah mendengar pertanyaan ibunya.
"Aku akan kesana nanti," sahut Ran dengan lesu sehingga Eri mengerutkan keningnya.
"Nanti? Kenapa nanti?" tanya Eri.
Ran hanya menghela nafas dan tidak menjawab. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Selama di rumah sakit, Shinichi benar-benar tidak menghiraukannya dan hanya mau berada di sisi Ai.
Eri pun merasa heran dengan sikap Ran. Dia bertanya-tanya apa Ran dan Shinichi sedang bertengkar.
"Kalau begitu kau ikut ibu saja sekarang karena ibu akan menengoknya," ucap Eri sehingga Ran menatapnya dengan kaget.
"Ibu akan menengoknya?" seru Ran.
"Iya. Kenapa kau kaget begitu? Dia kan calon menantu ibu jadi wajar kalau ibu menengoknya. Ibu sudah memutuskan pertunangan kalian setelah pilkada," ucap Eri.
"Benarkah?" tanya Ran dengan nada tidak percaya sekaligus senang bukan main.
"Iya. Karena itu segeralah bersiap-siap. Ibu akan menunggumu di mobil," sahut Eri.
"Baik, Bu," ucap Ran dan dia segera melesat ke kamarnya dengan riang. Dia tidak sabar ingin memberitahu Shinichi tentang pertunangan mereka sehingga dia melupakan keberadaan Ai di rumah sakit.
Ran sangat panik saat melihat kegeraman ibunya ketika melihat Shinichi menyuapi Ai dari luar kamar rawat inap pasien. Dia harus berusaha keras melarang ibunya melabrak Shinichi dan Ai. Dia terus menjelaskan pada ibunya bahwa Ai sudah menyelamatkan nyawa Shinichi makanya Shinichi sangat perhatian kepada Ai dan bahwa Shinichi dan Ai hanya berteman. Dia pun menghela nafas lega ketika ibunya akhirnya mengajaknya pulang.
XXX
"Ran? Ada apa?" seru Kaito saat dia membuka pintu.
Ran tidak mengatakan apapun namun matanya berkaca-kaca. Melihat hal itu, Kaito pun segera meresponnya.
"Ah, masuklah. Kita bicara di dalam," ucap Kaito sambil memberi jalan sehingga Ran bisa masuk.
Kaito pun mulai mengira-ngira apa yang sudah dilakukan Shinichi kali ini sehingga Ran kembali mengunjungi apartemennya dengan mata berkaca-kaca.
Kaito sudah terbiasa dengan semua ini. Setiap kali Ran merasa sedih karena Shinichi, Ran selalu datang padanya. Dia tidak pernah keberatan dengan itu karena Ran sangat baik padanya sejak pertama kali mereka berkenalan. Ran suka membuatkan makanan untuknya juga saat membuatkan makanan untuk Shinichi. Lalu saat dia sakit, Ran lah yang merawatnya sementara Aoko sibuk mengomelinya.
"Jadi kali ini karena Ojou-sama, huh?" batin Kaito setelah mendengarkan curahan hati Ran.
Kaito pun memegang bahu Ran dan berusaha menenangkan Ran. Dia berusaha meyakinkan Ran bahwa tidak ada apa-apa antara Shinichi dan Ojou-sama-nya. Namun Ran malah semakin terisak sehingga akhirnya Kaito memeluknya.
Memeluk Ran selalu membuat jantung Kaito berdebar. Dia selalu merasa Ran seperti ibu. Ibunya tidak pernah menyayanginya. Bahkan bisa dibilang ibunya membencinya, makanya dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Akan sangat menyenangkan kalau Ran selalu ada bersamanya, namun tentu saja itu tidak mungkin. Seluruh dunia sudah tahu bahwa Shinichi dan Ran saling mencintai.
Kaito pun menutup matanya dan tiba-tiba sebuah memori menyeruak ke dalam pikirannya. Memori masa kecilnya bersama seorang wanita. Wanita itu suka sekali memeluknya dan menciumnya. Wanita itu juga yang menemaninya bermain, menyuapinya, bahkan memandikannya dan menidurkannya. Pelukan wanita itu begitu hangat sampai dia ingin menangis karenanya.
"Mami," gumam Kaito sehingga Ran yang berada di pelukannya terkejut dan melepaskan diri dari pelukannya.
Dengan wajah galak, Ran meminta penjelasan siapakah wanita yang bernama "Mami" itu. Kaito mengelak dengan berkata bahwa dia memanggil ibunya dengan panggilan mami. Ran pun tertegun. Baru kali ini Kaito menyebutkan tentang orang tuanya. Namun ketika Ran ingin menggali lebih dalam, Kaito tidak mau menanggapinya.
Setelah mengobrol tentang hal lain selama beberapa waktu, Ran akhirnya pamit. Kaito kembali duduk di sofanya setelah menutup pintu lalu menghela nafas. Dia pun kembali ingat pada maminya. Malam itu adalah malam pertama dia tinggal bersama wanita yang dipanggilnya mami itu.
"Jangan panggil nyonya. Panggil saja mami, kau mengerti?" ucap Elena.
"Tapi nanti aku dimarahi ibuku," ucap Kaito.
"Dasar ibumu itu. Dia galak sekali ya? Tapi aku yakin dia sayang sekali padamu. Semua ibu pasti sayang pada anaknya," ucap Elena.
"Benarkah?" ucap Kaito dengan nada ragu.
"Tentu saja, meskipun dengan cara yang berbeda-beda. Contohnya aku sendiri. Aku sangat menyayangi bayiku ini," ucap Elena sambil mengelus perutnya yang besar dengan sayang. Lalu dia melanjutkan dengan nada agak sendu. "Tapi karena aku sangat menyayanginya, aku harus meninggalkannya saat dia lahir."
"Kenapa kau harus meninggalkannya?" tanya Kaito dengan heran.
"Karena aku ingin dia lahir ke dunia. Shiho-ku yang tersayang," jawab Elena. Lalu dia tersenyum karena Kaito menatapnya dengan bingung. "Aku dengar kau akan menjadi guardiannya. Kau harus menjaganya baik-baik, oke?" lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Iya, aku pasti akan menjaganya," ucap Kaito sambil mengangguk.
"Good boy. Sekarang waktunya tidur. Tidur yang nyenyak ya," ucap Elena. Lalu dia menyelimuti Kaito dan mengecup kening Kaito. "Selamat malam."
"Ssselamat malam," sahut Kaito dengan gugup dan wajah memerah.
Elena pun tersenyum geli melihatnya. Dia lalu mematikan lampu dan keluar dari kamar Kaito.
Kaito pun memegangi rambutnya dengan frustasi.
"I'm sorry, Mami," ucap Kaito dalam hati dengan perasaan bersalah.
XXX
Masa kampanye dan masa pemilihan sudah berakhir. Shinichi memenangkan kursi gubernur Tokyo dengan perolehan suara hampir 70%. Perdana menteri dan kroninya hanya bisa gigit jari karena Grup Kudo dan Grup Kisaki mengerahkan bodyguard terbaik mereka untuk melindungi Shinichi. Shinichi pun memaksa Ai mengikutinya kemanapun ia pergi agar Ai juga aman dari gangguan Perdana Menteri dan kroninya.
Beberapa hari setelah Shinichi resmi dilantik menjadi gubernur, keluarga Kisaki dan keluarga Kudo mengadakan makan malam bersama. Shinichi kembali memaksa Ai ikut meskipun Ai tidak mau. Eri begitu geram melihat semua ini, tapi setelah berpikir ulang, dia malah merasa senang karena dengan begini Ai akan tahu kalau Ran akan bertunangan dengan Shinichi sehingga Ai akan segera menjauhi Shinichi.
"Jadi aku akan mengadakan acara pertunangannya minggu depan," ucap Eri setelah mereka selesai makan malam.
Ran langsung tersenyum bahagia dan menoleh pada Shinichi tapi Shinichi hanya diam sambil tertunduk.
"Aku tidak bisa melakukannya," ucap Shinichi saat dia mengangkat kepalanya.
"Apa katamu?" tanya Eri dengan nada berbahaya sementara Ran dan Ai menatap Shinichi dengan terkejut.
"Aku baru saja dilantik jadi banyak yang harus kupelajari dan kukerjakan sebagai gubernur," ucap Shinichi dengan tenang.
"Apa kau sedang bercanda? Aku yang akan mengurus semuanya. Tugasmu hanya tanda tangan dan menikah dengan Ran. Itu saja," sahut Eri dengan agak sinis.
"Apa maksudmu, Eri? Shin-chan adalah gubernurnya, jadi kenapa kau bilang kau akan mengurus semuanya?" ucap Yukiko sambil mengangkat alisnya.
"Kau tahu sendiri bagaimana anakmu itu. Dia tidak akan bisa mengurus semuanya," ucap Eri dengan ketus.
"Jadi begitu ya? Aku tidak bisa menerima semua ini. Kau merendahkan anakku lalu berharap anakku akan menikah dengan anakmu? Kau pasti sedang bercanda," ucap Yukiko dengan tak kalah ketus. Kemudian dia berdiri. "Yusaku, Shin-chan, ayo kita pulang," ucapnya pada suami dan anak laki-lakinya.
"Yukiko...," Yusaku mulai berbicara tapi Shinichi memotongnya.
"Enam bulan," ucap Shinichi sehingga semua orang memandang ke arahnya. "Aku baru bisa bertunangan enam bulan lagi," lanjut Shinichi. Kemudian dia meraih tangan Ai sambil berdiri, lalu pergi dari sana bersama Ai.
Bersambung...
