POWER OF LOVE
Disclaimer : Naruto
Masashi Kishimoto
Rate : M (18+)
Pairing : SasuNaru,xxxNaru,NejiGaara,ShikaKiba dll
Warning : Yaoi, boys love, boyxboy,OOC , typo , Mpreg (?),Lemon,OC

Yang gak suka ceritanya maupun antiyaoi dimohon untuk tidak membaca ini

ω●

Chapter 12

"Suke ada apa?" Entah apa yang terjadi, setelah mereka berciuman. Sasuke tiba-tiba memeluknya. Kepalanya terbenam di leher Naruto. Hembusan nafas hangat begitu terasa disana. Naruto merasa khawatir.

"Dobe,Maaf karena aku bersikap kasar padamu"

"Suke…" Raut wajah Naruto berubah sendu. Sasuke masih memikirkan kejadian kemarin. Sasuke bisa merlihat jelas bekas genggamannya yang membiru di pergelangan Naruto. Ia menggam Naruto dengan sangat kuat. Walau begitu Naruto tidak marah padanya. Menurut Naruto,Sasukelah yang berhak marah. Naruto menerima segala keputusan Sasuke.

Naruto tidak menyukai Sasuke yang seperti ini. Sasuke terlihat begitu rapuh. Naruto mengusap lembut rambut Sasuke. Semakin diusapnya rambut raven itu, aroma mint semakin tercium. Aroma yang menenangkan."Suke kau tak perlu minta maaf. Aku sudah sangat senang jika Suke menerimaku"

Sasuke semakin memperat pelukannya. "Dia menemuiku" Belum sempat Naruto bertanya,Sasuke kembali bersuara."Sai Danzo" Naruto terhenyak. Sai melakukan apa yang dikatakannya kemarin. Apa Sai yang meyakinkan Sasuke hingga Sasuke mau datang menjenguknya? Naruto masih tak mengeluarkan sepatah kata pun. Naruto membiarkan Sasuke mengeluarkan semua yang ingin dikatakannya."Kau tau apa yang dia katakan? Dia akan merebutmu jika aku tidak datang hari ini."

Kata-kata Sai terniang dengan jelas. Sai bukanlah ancaman yang besar bagi Sasuke,hanya saja kata-kata Sai begitu meyakinkan. Sasuke tidak bisa tenang. Semalaman ia memikirkan Naruto. Ia takut terjadi apa-apa dengannya.

"Suke…lihat aku"

Naruto mendorong pelan bahu Sasuke. Baru ia sadari,bahu Sasuke begitu lebar dan tegap. Naruto tersenyum. Ia memang tak memiliki tubuh seperti Sasuke tapi dia senang Sasuke memilikinya. Tubuh yang membuatnya aman.

Wajah Sasuke berada sangat dekat dengan Naruto. Namun mata Sasuke tertutup. Tangan mungil Naruto perlahan mendekat dan menangkup wajah Sasuke. Sasuke merasakan pipinya terasa begitu hangat. Membuat Uchiha bungsu penasaran. Kedua mata onyxnya terbuka. Mata bulat Naruto yang pertama kali dilihatnya. Setiap melihatnya Sasuke merasa terhipnotis dengan keindahannya.

"Suke…" Sasuke melihat wajah Naruto memerah. Sasuke penasaran apa yang ingin diucapkan Naruto. "Aku…mencintaimu" Bibir ranum Naruto bertemu dengan bibir Sasuke. Tak lama tapi Naruto melakukannya dengan sepenuh hati. "dan aku hanya milik Uchiha Sasuke. Hati dan…." Bibir Naruto sejenak berhenti bergerak. "Tubuhku hanya untukmu Su…AH."

Sasuke mendorong dan menindih tubuh Naruto. Mata mereka saling bertemu. Ujung hidung mereka saling bersentuhan. Menjelaskan seberapa dekat jarak mereka sekarang. "Kau mencoba menggodaku dobe?"

"Suke bukan begitu aku.." Naruto memalingkan wajahnya. Dia tak sanggup menatap Sasuke. Entah keberanian darimana ia mampu mengucapkan semua itu.

"Aku apa dobe?"

"Aku…" jawab Naruto gelisah.

Ganggang pintu bergeser turun. Suara pintu terbuka memenuhi ruangan."Naruto"

Mereka berdua serempak menoleh ke asal suara.

"Kyuu..bi" gumam Naruto. Naruto mendorong tubuh Sasuke menjauh. Sedangkan Sasuke hanya bisa mendecak kesal dengan kedatangan Kyuubi.

"Maaf mengganggu kalian,aku akan keluar"

"Ah,tidak Kyuubi. Tidak apa-apa kami.." Naruto melirik Sasuke. Tak lama Naruto menghela nafas , Sasuke terlihat sangat kesal. "…sudah selesai"

"Syukurlah, bagaimana keadaanmu Naru?"

"Eh,sudah membaik Kyuubi"Jujur Naruto sedikit kaget dengan panggilan Kyuubi padanya. Terlihat dirinya dan Kyuubi sudah sangat dekat.

"Ini untukmu Naru"
Kyuubi menyerahkan sebuket bunga pada Naruto. Buket bunga itu menarik perhatiannya. Sebuah buket bunga matahari.

"kau menyukainya?"

"Aku sangat menyukainya. Entah kenapa aku sangat menyukai bunga matahari ini"

Kyuubi tersenyum. "Dan ini…" Kyuubi menyerahkan sebuah tas belanja pada Naruto. Dengan senang Naruto melihat barang yang ada di dalamnya. Mata sapphirenya berbinar-binar, barang yang selalu diinginkannya. Ramen limited edition yang belum sempat dibelinya.

"Aku sudah lama menginginkan ini. Terima kasih Kyuubi"

"Sama-samaNaru. Aku senang kau menyukainya"

Mereka sepertinya melupakan sang Uchiha yang sejak tadi geram melihat interaksi mereka. Apalagi melihat Naruto yang begitu senang karena pemberian Kyuubi,semakin membuat Sasuke memanas. Sasuke mampu membeli semua yang diinginkan oleh Naruto. Jika perlu pabrik ramen dan ladang bunga matahari dapat dengan mudah dibelinya. Dengan bodohnya dia tidak pernah tau apa yang diinginkan Naruto.

BRAKKK

Tiba-tiba pintu terbuka dengan tidak elitnya. Entah siapa yang membuka pintu dengan tidak berperasaan. Hingga beberapa kali pintu menghantam tembok di belakangnya.

"Suigetsu sudah berapa kali aku bilang jangan asal membuka pintu"

"Kau cerewet sekali, Juugo"

Dari percakapan yang mereka dengar Sasuke dan Naruto tau siapa yang datang. Suigetsu dan Juugo. Suigetsu masuk dengan riang dan Juugo harus menundukkan sedikit kepalanya karena tinggi badannya yang melebihi kapasitas pintu.

"Yoo Naruto, bagaimana keadaanmu?" tanya Suigetsu duduk di samping ranjang Naruto.

"Sudah membaik Suigetsu san"

"Hei,lihat apa yang ku dan Juugo yang memilihnya." Ia memperlihatkan sebuah boneka rubah pada Naruto. Naruto menerimanya dengan senang hati.

Walau baru mengenal, Naruto merasa Suigetsu dan Juugo begitu baik padanya. Sasuke beruntung memiliki mereka.

"Terima kasih Suigetsu san dan Juugo san"

Suigetsu mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan. Indra pengelihatannya, melihat ada orang lain di sana. Salah satunya belum pernah ia temui. Tentunya ia melihat Sasuke juga. Keberadaan Sasuke membuatnya sedikit bingung, baru kemarin rasanya Sasuke menolak ajakannya dan Juugo menjenguk Naruto.

"Sasuke kau disini?..aku kira kau tidak…" Tau apa yang dikatakan Suigetsu ,dengan sengaja Juugo menginjak kakinya. Juugo sudah tau bahwa masalah Sasuke dan Naruto selesai,jangan sampai hanya karna perkataan Suigetsu membuat Naruto merasa khawatir kembali "ouchhh…Juugo sakit"

"Ada apa Suigetsu san?"tanya Naruto khawatir

Suigetsu terkekeh sambil menahan sakit. "Tidak apa-apa Naruto" Juugo dengan seenaknya menginjak kakinya. Sekarang kakinya berdenyut kesakitan. Apa yang salah dari ucapannya?

Drrttt Drttt.

Sasuke mengambil ponselnya. "Aku keluar sebentar"ucap Sasuke pada Naruto. Naruto mengangguk mengerti.

Suigetsu mengalihkan pandangannya pada Juugo. Mencoba membuat Juugo bertanggung jawab atas kakinya. Tapi tatapan Juugo yang tak mengarah padanya maupun Naruto membuatnya penasaran. Ia mengikuti arah pandang itu. Tatapan matanya tidak sengaja saling tertubruk dengan seorang pria tampan. Siapa dia?

Naruto mengerti kenapa Juugo dan Suigetsu menatap intens Kyuubi. "Suigetsu san dan Juugo san,dia temanku dan seorang guru sama denganku"

"Kenalkan,aku Suigetsu dan dia Juugo"

"Aku Kyuubi,Namikaze Kyuubi salam kenal"

"Salam kenal Kyuubi"

Juugo membulatkan matanya tapi secara cepat kembali ke wajahnya yang datar. Sepertinya hanya dirinya yang mendengar nada penekanan dari kalimat Kyuubi.

"Namikaze?"gumam Juugo.

Selagi Juugo berkecambuk dengan pikirannya,Kyuubi terlihat sudah akrab dengan Suigetsu. "Suigetsu san apa kau berpacaran dengan Juugo san?"tanya Kyuubi polos.

"Ti..dak,kami hanya teman!"seru Suigetsu. Jika mau Suigetsu dapat menjawabnya dengan santai tapi mendengar nada bicara Suigetsu sepertinya mereka memang memiliki hubungan. Dimana ada Suigetsu pasti ada Juugo. Mereka selalu bersama. Naruto menghela nafas panjang. Ia jadi iri. Apa dirinya dan Sasuke bisa seperti itu juga?

"Kau dimana aniki?"

"Maaf otouto aku tak bisa menyusulmu,aku mendadak ada pekerjaan"

"Hn"

"Jangan lupa sampaikan salamku pada Naru chan"

"Hn"

Sasuke mengantongin kembali ponselnya. Sasuke tau anikinya berbohong. Indra pendengarannya tak mungkin salah ,kalau Itachi sudah mengatakan pada seketarisnya untuk membatalkan semua janji lewat telepon. Dirinya yakin Itachi mempunyai urusan lain yang sangat penting.

Sasuke mengarahkan kakinya kembali ke dalam ruangan Naruto. Baru satu langkah kakinya bergerak,pintu ruangan terbuka,menampilkan sosok pria beriris rubby. Onxy dan Rubby bertemu. Entah mengapa Sasuke tak menyukai tatapan milik Kyuubi.

"Sasuke,kau akan menemani Naru?"

"Hn"

"Kuharap kau bisa menjaganya dengan baik"

"Hn"

Ujung bibir Kyuubi sedikit tertarik membentuk seringai. Sangat tipis,hingga tak mampu dilihat Uchiha bungsu. Kyuubi mengubah seringainya menjadi senyuman hangat. "Sampai jumpa ,Sasuke"

.

Sebuah tangan pucat, memegang foto lama yang sudah usang. Mata obsidiannya hanya berfokus pada sosok pria yang lebih pendek darinya. Tangannya bergetar. Perlahan wajahnya tertunduk. Begitu banyak pertimbangan,yang dipikirkan.

Itachi kembali menegakkan tubuhnya. Mata onyxnya mengarah ke pintu utama rumah sakit. Dia bermaksud menunggu Kyuubi untuk memastikan apa yang dilihatnya tadi tidak salah.

Tak lama sosok yang dinantinya muncul. Sosok yang sama dalam foto. Itachi menatap lekat dari dalam mobil. Jantungnya berdetak keras. Disatu sisi dia ingin menyentuhnya tapi disisi lain ,ia yakin bahwa sosok itu tidak mungkin orang yang dia cintainya.

Kyuubi menuju pintu keluar dengan motor. Itachi tidak mengabaikan kesempatan ini. Itachi menyalakan mobilnya dan mengikuti Kyuubi.

Mobil miliknya menembus keramainya kota. Disaat Kyuubi melaju kencang, dia terpaksa harus melaju cepat juga, melewati kendaraan lain yang menghalanginya. Beberapa kali ia harus menerima makian dari pengguna jalan yang lain. Itachi bukanlah tipe orang yang ugal-ugalan,yang akan membawa mobil seperti orang kesetanan. Hanya kali ini saja,dia harus melanggar dirinya sendiri.

Mata onyxnya menangkap sebuah lampu rambu lalu lintas di depannya. Kyuubi menambah kecepatannya. Itachi juga melakukan hal yang sama, namun nasibnya tak beruntung. Lampu berubah menjadi merah sebelum Itachi melewati garis batas rambu. Ia kehilangan jejak. Tangan pucatnya memukul keras setir mobil.

"SIAL"

Tubuhnya tiba-tiba melemah dan jatuh bersandar pada jok mobil. Itachi menengadah ,menatap langit-langit mobil. Rambut yang selau dirawatnya dengan baik,diacak-acaknya frustasi. Perasaannya sangat kacau saat ini.

"Kyuu…" panggil Itachi lirih.

(•̀ㅂ •́)و

"Benarkah Suigetsu san?"

"Kau tidak percaya? aku melihatnya dengan mataku sendiri. Sasuke memuntahkannya di depan Juugo"

"Bagaimana bisa Suke tidak suka susu tapi tubuhnya bisa seperti itu?"

"Mungkin saja karena dia maniak tomat"

"Kau benar ,Suigetsu san"

Suigetsu dan Naruto tertawa bersamaan. Sejak tadi tak henti-hentinya mereka mengejek Sasuke. Dari pakaiannya yang selalu rapi hingga ketidaksukaannya pada susu. Sasuke hanya bisa memijat keningnya. Bisa bisanya kekasih tercintanya ikut mengejeknya. Tapi dia senang Suigetsu datang jadi ia tak perlu mendengar rengekan bosan sang Uzumaki.

Naruto sudah pulang kemarin sore hanya saja dia masih perlu istirahat. Kondisi rumah Naruto benar-benar sepi tadinya. Walau Sasuke ada disana, Naruto tetap saja bosan. Uchiha bungsu itu tak berpaling dari layar laptop miliknya.

Neji pergi ke sekolah seperti biasanya. Padahal Neji ingin sekali menjaga Naruto tapi ia merengek agar Neji pergi saja. Ia tidak mau merepotkan Neji tapi jika begini akhirnya lebih baik Neji yang menjaganya. Dan Menma…. Naruto belum bertemu dengannya. Entah apa yang harus ia lakukan saat melihat Menma. Pikiran itu terus mengganggunya sampai Suigetsu datang mengunjunginya.

Naruto terseyum tipis. Mengeratkan genggaman tangannya. Setelah tau semuanya apa yang akan dilakukan sekarang? Tak ada gambaran pasti. Sedalam apapun jawabannya belum ditemukan Naruto. Situasi yang akan ditakutinya pasti akan terjadi. Bertemu Menma dan menjalankan tugas menjadi kaasan. Hatinya masih goyah. Perasaannya tak tentu arah. Apa dia harus senang,sedih ataupun kecewa untuk sekarang? Walau ia kecewa, dia tetaplah yang melahirkan Menma. Ia tak bisa lari dari kenyataan. Satu hal yang sangat mengganggu pikirannya,siapa ayah Menma? Apa dulu dia sudah menikah? Tidak..Tidak mungkin. Dia masih sangat muda. Banyak sekali spekulasi dalam kepalanya sampai hal yang terburuk. Dia dilecehkan dan mengandung Menma diluar nikah.

Naruto memeluk tubuh lemahnya. Memikirkan itu membuatnya merinding. Jika itu yang terjadi,bagaimana bisa? Apa dia terlalu lemah? Apa karena ia tidak mampu menjaga dirinya sendiri? Ia tak bisa mengingat apa pun tentang masa lalunya. Ingatannya hilang. Setiap ia bertanya pada Neji, Neji akan mengalihkan pembicaraan. Karena terlalu bodohnya, ia sampai lupa kembali bertanya. Tapi…..

"Dobe…"

Siapa? Siapa yang melakukan itu padanya? Diusia muda ia harus mengandung Menma? Bagaimana keluarganya? Apa mereka menerimanya? Atau mereka…..

…Membencinya

"Dobe"

Membuangnya? Dimana orangtuanya? Kenapa tak ada yang mencarinya? Mungkinkah itu benar? Dadanya begitu sesak.

Tiba-tiba sebuah pemikiran mengahampiri. Menma. Bagaimana jika dirinya sendiri membencinya , membuangnya untuk sebuah kesalahan yang tidak dia ketahui? Bagaimana perasaannya? Bukankah itu sangat menyakitkan!

Naruto mengeratkan pelukkannya. Jari lentiknya,menekan kulit tannya kuat. Menma masih sangat kecil dan ia membencinya? Kaasannya sendiri. Begitu jahatkah dirinya. Apa yang dilakukannya?

"Menma" gumam Naruto sangat pelan.

"DOBE" Sasuke menarik tangan Naruto. Onyx Sasuke menatap dalam Sapphire milik Naruto. Begitu dalam hingga seperti ia tersedot ke dalam mata kelam itu.

"Su…ke"

"Sasuke, ada anak kecil diluar. Apa itu adik Naruto?"tanya Suigetsu yang baru saja dari dapur.

Sasuke melepaskan tangan Naruto dan melangkah keluar. Suigetsu menggindikan bahu melihat Sasuke. "Naruto kau menangis?" Tangan Naruto teragkat, menyentuh pelan pipinya. Terasa basah. Dia menangis?

Menma memandang kamar Naruto penuh harap. Ia ingin masuk tapi Neji melarangnya untuk sekarang. Neji hanya takut Naruto masih belum bisa menerima Menma.

Menma akan membalikkan badannya ketika Sasuke menggengam tangannya. "Sasuke touchan" Menma memalingkan wajahnya. Ia tak berani menatap mata Sasuke. Ia masih takut kejadian beberapa lalu. "Bagaimana keadaan kaasan Sasuke touchan?"

"Kenapa tidak kau lihat sendiri?"

"Tapi Neji nii melarangku" Belum sempat Sasuke menjawab,teriakan Naruto membuatnya berlari ke kamar Naruto.

"GYAAAAA!"

"Kaasan" Menma yang khawatir mengikuti Sasuke.

Manik obsidian Sasuke berkilat penuh amarah. Bagaimana tidak Suigetsu dengan sembarangan menindih Naruto. "Suigetsu san,be..rat" protes Naruto.

Suigetsu baru saja bergeser beberapa inci,merasakan hawa yang tidak enak. Sangat perlahan dia moleh ke arah belakang. Suigetsu menelan ludah,menerima deathglare dari sang Uchiha. "Sasuke, ini tidak seperti yang kau….. "

"Menjauh"

Secepat kilat Suigetsu bangun dari tubuh Naruto. Sebenarnya Suigetsu tak sengaja menimpa Naruto. Ia tersandung selimut Naruto yang menjuntai ke lantai. Refleks Naruto berteriak. Ia jadi tidak enak dengan Suigetsu yang ditatapan seperti itu oleh kekasihnya.

"Kaasan.."

Tubuh Naruto menegang. Suara yang memanggilnya membuatnya tercengang. Ditundukkan kepalanya dalam. Ia belum siap.

"Bicaralah dobe,bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?"

Naruto menggeleng kepalanya cepat. Tidak! Jangan sekarang. Ia benar-benar belum siap. Naruto menggenggam tangannya erat.

Sasuke mengelus rambut Naruto lembut. Ia tau kekawatiran kekasihnya. Tapi masalah ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. "Aku sudah menerimanya, apa yang kau takutkan Naru?"

"Suke,aku belum siap"

"Tidak,kau harus mengatakannya sekarang. Katakan semua yang ingin kau katakan Naru"

"Tapi…"Naruto menghentikan ucapannya. Tidak! Sasuke benar, jika dia tak mengatakannya sekarang masalah ini tak akan selesai. Naruto menghembuskan nafas pelan. Hirup,lalu dibuangnya.

"Aku..Aku terkejut mengetahui kau adalah anakku tapi mungkin kau lebih terkejut mengetahui kaasanmu adalah seorang laki-laki kan? Aku tidak mengerti bagaimana bisa ini terjadi? Walau begitu semua sudah terjadi,kau lahir dari perutku."

Naruto kembali mengatur nafasnya. "Aku tak menyukaimu. Aku bahkan membencimu. Aku merasa saat melihatmu mengingatkanku pada seseorang yang aku benci. Tapi aku tidak tau siapa" jeda Naruto.

"Kau tak bicara padaku,kau tak bisa menyentuhku,kau tak bisa memelukku,kau tak bisa merengek padaku. Kau hanya bisa melihatku dari jauh. Aku tetap melakukan hal itu,padahal aku tau itu menyakitimu"

Suara Naruto mulai bergetar. Manik Sapphirenya berkaca-kaca. Perasaan ini begitu menguras dirinya. "Ma..af aku bukanlah kaasan yang baik,aku…"

Naruto menegakkan wajahnya. Terlihat air mata mengalir ,membasahi wajahnya. Sapphire bertemu Sapphire. Naruto menatap Menma sendu,tapi tatapan itu segera sirna dengan senyuman yang sangat lebar.
" Aku menyayangimu,Menma"

Naruto memeluk Sasuke. Suara isakan mulai terdengar. Menma hanya terdiam. Ia senang Naruto mengatakan itu. Tidak! Dia sangat bahagia. Tapi apa itu berarti kaasan menerimanya? Menma terlalu cerdas untuk menganggap itu sebagai penerimaan baginya. Ia ingin satu hal lagi dari kaasannya.

"Kemarilah,Menma"ucap Naruto masih menangis.

Menma berlari menerjang Naruto dan dipeluk eratnya. Naruto membalas pelukannya tak kalah erat. Perasaan sesak di dadanya perlahan menghilang menjadi perasaan hangat.

Menma menatap wajah kaasannya lekat. Ia tak akan melepaskan kaasannya. Tak akan pernah. Air mata mengalir dari sudut matanya. Menma terisak sangat keras. Ia meluapkan segala perasaannya.

Sasuke tersenyum lembut. Dielusnya dua rambut yang berbeda warna. Sekarangpun secara tak langsung dia menjadi seorang tousan. Walau bukan ayah kandung tapi dia merasa Menma mirip dengannya. Hanya sebuah manik sapphire yang membuat mereka berbeda.

Suigetsu yang bersandar ditembok sejak tadi, tak mengerti apa yang terjadi. Tapi hatinya berdesir, melihat apa yang terjadi di depannya. Perasaan hangat. Jujur dia sangat penasaran. Apalagi ekspresi Sasuke yang berubah 180 serajat. "Sebenarnya apa yang terjadi?"

Sasuke mendeathglare kembali Suigetsu. Bertanya di waktu yang benar-benar tidak tepat. Terlebih lagi Menma yang masih terus menangis. Suigetsu bodoh. Walau begitu Naruto menanggapi pertanyaan Suigetsu. Dihapus air mata yang membasahi wajahnya.

"Suigetsu san. Dia anakku" Suigetsu melirik Menma ,Naruto dan Sasuke bergiliran.

"HAH?! SASUKE KAU MENGHAMILI NARUTO?" teriak Suigetsu kesetanan.

"Bukan,Suigetsu san. Dia….bukan anak Sasuke"

"Jadi kau sudah menikah Naruto?"

"Aku….." Naruto bingung harus jawab apa. Tidak mungkin blakblakan dia mengatakan Menma anak diluar nikah.

"Jangan-jangan pria rambut panjang itu suamimu? pantas kalian tinggal satu rumah. Tapi kenapa kau pacaran dengan EMMM…" tiba-tiba mulutnya dibekap. Suigetsu membalikkan tubuhnya,mendapati Juugo berdiri dibelakang. Entah sejak kapan ia sudah berada di sana.

"Berhentilah bertanya Suigetsu"Bibir Juugo mendekati telinganya. "Naruto belum menikah. Kau mengertikan Suigetsu?"

Suigetsu berfikir sejenak. Mencerna ucapan Juugo. Ia mengerti sekarang. Jika Naruto mempunyai anak dan belum menikah berarti….. "Naruto,aku tidak bermaksud.."

"Tidak apa-apa Suigetsu san. Aku baik-baik saja"ucap Naruto tersenyum.

Kepala yang semula tenggelam di pelukan Naruto,menengadah. Mata berairnya menatap Naruto."Aku ingin kare,kaasan"

Naruto tersenyum lembut menanggapi sikap manja Menma. tentu dia tak akan menolak permintaan Menma. "iya, kaasan akan membuatnya untukmu"

"Arigatou kaasan,Menma menyayangi kaasan" gumam Menma. Naruto tersenyum. Dielusnya rambut hitam Menma penuh kasih sayang. Dia merasa lebih bahagia sekarang.

Akhirnya Naruto memasak kare untuk semuanya. Sasuke melarangnya,tapi Naruto bersikeras karena ini permintaan Menma. Sasuke hanya menghela nafas dan mengizinkannya. Dengan syarat setelah memasak,ia kembali istirahat. Naruto menyetujui itu. Naruto senang Sasuke begitu menjaganya. Seperti seorang suami yang khawatir pada "istri"nya. Memikirkan itu membuat wajahnya memerah.

Setelah mengosongkan piring mereka masing-masing,Suigetsu dan Juugo berniat untuk pergi ke bar. Niat Juugo datang ke rumah Naruto untuk menjemput Suigetsu. Sudah waktunya mereka membuka bar yang mereka bangun bersama-sama. Lebih mudah bagi mereka untuk mengatur waktu dengan memiliki usaha sendiri. Kadang kala mereka juga bekerja pada Sasuke jika Sasuke memang benar-benar terdesak. Tentu saja karena Uchiha mampu melakukan semuanya dengan sempurna sendiri. Mereka mengantar kepergian Suigetsu dan Juugo.

"Terima kasih Naruto ,masakanmu sangat enak. Kau beruntung Sasuke mendapatkan calon "istri" seperti Naruto" Mendengar ucapan Suigetsu,Naruto tersipu malu.

"Hn"

Suigetsu mengalihkan pandangannya pada Menma yang ada dalam gendongan Naruto. Menma tertidur. Sepasang tangan kecilnya, melingkar erat dileher Naruto seakan tak ingin melepaskan Naruto. "Dia pasti sangat lelah,sampai tertidur lelap begitu"

"Kami pergi Sasuke ,Naruto san" pamit Juugo.

"Hati-hati dijalan" Naruto melambaikan tangan,mengantar kepergian mereka.

Juugo dan Suigetsu berjalan santai menghadapi hirup pikuk jalan yang mulai ramai. Jam-jam seperti ini adalah jam pulang karyawan. Juugo tidak membawa motor karena merasa bar mereka tak jauh dari apartemen Naruto. Lagipula Juugo tidak terlalu suka menggunakan motor atau mobil. Ia lebih memilih berjalan ataupun naik bus untuk sampai ke tempat yang ditujunya.

Walau begitu tak jarang ia menggunakannya karena Suigetsu yang tak ingin naik kereta atau bus karena berdesakan. Belum lagi tangan-tangan nakal yang dengan seenaknya meraba bokong kenyal miliknya. Ia tak akan tahan.

" Juugo ,kalau dilihat lihat Menma mirip dengan Sasuke kan?"

"Hanya kebetulan"

"Apa memang kebetulan?"

"Selamat sore,Suigetsu san dan Juugo san" Mereka berdua menoleh ke belakang dan mendapati Kyuubi yang masih menggunakan pakaian kerja.

"Kyuubi"

"Aku senang Suigetsu san mengingatku"

"Suigetsu,lebih baik kita cepat ke bar ini hampir jam tujuh"sergah Juugo. Juugo tak ingin Suigetsu telalu akrab dengan orang yang ada di depannya sekarang. Firasatnya mengatakan ia seseorang yang berbahaya.

Suigetsu menghela nafas. Baru saja ia ingin berbicara dengan Kyuubi,teman barunya. "Maaf Kyuubi kami pergi dulu. Sampai jumpa"

"Sampai jumpa Suigetsu san dan…Juugo san"balas Kyuubi.

Suigetsu dan Juugo bergegas pergi. Suigetsu merasa ada yang aneh dengan Juugo. Raut wajahnya begitu serius. "Ada apa Juugo?"

"Tidak ada"ucap singkat Juugo. Juugo merasa harus mencari informasi tentang Kyuubi nanti. Dia harus menyelidikinya.

.

Sudah lima hari Naruto tak mengajar. Baru saja dia sampai di sekolah,semua muridnya dan para guru menanyakan keadaanya. Seantero sekolah sudah tau terjadi pada Naruto. Naruto berangkat lebih pagi hari ini. Niatnya untuk bertemu dengan Sai untuk mengatakan terima kasih. Tapi ia tak menemukannya dimana-mana. Apa Sai tidak sedang mengajar hari ini? Mungkin besok ia akan mencari Sai lagi.

"Hueeee,Naruto akhirnya kau kembali ke sekolah" Kiba memeluk sahabatnya. Ia senang Naruto sudah kembali sehat seperti semula.

"Jangan memelukku Kiba"

"Kau tidak merindukan sahabatmu ini?"

"Kita baru saja bertemu kemarin,bagaimana bisa aku merindukanmu Kiba. Benarkan Gaara?" tanya Naruto. Lama menunggu tak ada jawaban yang terdengar. Naruto menoleh ke arah Gaara.

Gaara terlihat melamun. Tatapannya terus ke depan. "Gaara…"panggil Naruto.

Gaara tersentak. "Ah,Naruto kau sudah datang?"

"Ah,iya Gaara"

Gaara tersenyum lalu melirik alroji di tangan kirinya. "Sudah waktunya aku mengajar. Jaa ne" Gaara bergegas pergi.

Naruto tampak heran dengan sikap Gaara yang tak seperti biasanya. "Ada apa dengannya?"

"Entah ,sejak beberapa hari yang lalu dia sering melamun"

Naruto Gaara memiliki masalah? Gaara seseorang yang fokus hampir tak pernah melamun. Mungkin ia harus menunggu sampai Gaara ingin bercerita padanya dan Kiba.

"Ah,tidak aku lupa meminjam buku untuk materi hari ini. Aku akan ke perpus dulu"

"Jangan lama-lama Naruto, temani aku makan siang"

"Oke Kiba"

Naruto memasuki ruang perpustakaan. Rak buku menjulang tinggi. Saat menemuikan buku yang dicarinya, Naruto mendecak kesal. Buku itu berada di deretan rak paling atas dan ia tak mampu menjangkaunya.

Naruto tak pantang semangat. Kakinya mulai menjijit dan mencoba meraih buku. "Tinggi sekali"

"Eh…" Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari belakang dan meraih dengan mudah buku yang diinginkannya. Naruto sedikit melirik ke belakang dan menemukan sosok Kyuubi. Kyuubi menyerahkan buku bersampul merah itu pada Naruto.

"Arigatou Kyuubi"

SeketikaNaruto merasakan bulu tengkuknya merinding saat nafas dingin menerpa kulitnya. Kyuubi tepat berada dibelakangnya.

"Sama-sama Na ru~"Suara berat dan rendah tepat terdengar ditelinga. Hembusan nafas Kyuubi memasuki telinganya yang sensitif. Desahan tak bisa terelakkan keluar dari bibirnya "Ngh~"

Naruto tak bisa bergerak bebas. Setiap kali ia bergerak, tubuhnya akan bergesekan dengan tubuh Kyuubi. Apalagi saat merasakan milik Kyuubi yang tepat menusuk bokongnya. Warna merah menjalar ke wajah Uzumaki. Dia tak nyaman. Kyuubi tidak menggeser tubuhnya sedikit pun dari posisinya malah Naruto merasa Kyuubi semakin merapatkan dirinya hingga tubuh Naruto bersentuhan dengan rak buku.

Tengkuknya terasa dihirup dan itu membuatnya merasa kegelian. Tak lama sesuatu yang basah menyentuh lehernya. Kyuubi mengecup tengkuknya.

"Kyuu..bi apa yang kau lakukan?"

"Kau harum Naruto" Kyuubi semakin berani. Ia mengulum cuping telinga Naruto.

"Kyuubi aku mohon Nghh~ berhenti" Naruto tidak mungkin berteriak dan mengundang semua orang disana melihat dirinya yang bisa dikatakan dilecehkan.

"Ah~…Kyuu" desah Naruto saat Kyuubi dengan sengaja menggesekkan miliknya tepat pada lubang Naruto. Jika seperti ini terus, Kyuubi bisa….

Mata bulat Naruto tak sengaja melihat Kiba yang kebingungan mencarinya. Sebelum Kiba melihat mereka,dengan berani Naruto mendorong Kyuubi hingga membentur rak buku dibelakangnya. Lalu berlari menghampiri Kiba.

"Naruto kenapa kau lama sekali?"

"Ah,maaf Kiba"

"Ayo cepat" Naruto menggangguk dan mengikuti Kiba. Sebelum pergi Naruto melirik Kyuubi yang masih terdiam. Ia bingung ada apa dengan Kyuubi? Setelah kepergiaan Naruto,tubuh Kyuubi bergetar. Suara tawa terdengar lalu menyunggingkan sebuah seringai. "Kau sangat polos Namikaze".

(•̀ㅂ •́)و

Angin berhembus kencang. Daun-daun kering yang baru saja berguguran tertiup tak tentu arah. Suara angin terdengar keras. Namun suara itu tak mampu meredam suara Itachi.

"Kyuu…."

Flashback

Musim gugur kali ini terasa lebih dingin dari tahun lalu. Daun-daun berguguran memenuhi jalan-jalan kota Ame. Orang berlalu lalang berjalan disetiap sudut kota, menikmati suasana sore hari. Tak jauh dari pusat keramaian kota. Sebuah cafe bernuansa putih berdiri tegak tak jauh dari sebuah perguruan tinggi ternama di Ame.

Begitu banyak orang di dalam sana. Suara pelayan maupun pengunjung bercampur menjadi satu tapi tidak mengganggu sang Uchiha sulung. Saat ini Itachi tengah duduk bersama seorang pria. Sahabat baiknya sejak ia melanjutkan studynya di Ame.

Kopi hitam yang dipesannya sekitar lima menit lalu masih mengeluarkan uap. Hening. Tak ada yang mencoba memulai pembicaraan. Mata onyxnya tak lepas memandang mata rubby yang membuatnya tepikat hanya sekali lihat. Merasa terus diperhatikan sang pria mencoba mulai berbicara. Itachi kelihatan sangat serius kali ini,membuatnya penasaran.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan ,Tachi?"tanya sang pria.

"Kyuu,aku mencintaimu" Tanpa ragu Itachi mengunggkapkan perasaannya.

Pria didepan Itachi tersentak. Raut wajahnya terlihat sangat terkejut. Matanya bergirilia ke segala arah. Tak ingin membalas tatapan Itachi."Hah? Jangan bercanda Tachi. Ini tidak lucu"

"Apa aku terlihat bercanda?" Kyuubi terdiam. Itachi benar-benar serius. Ia merasa tidak nyaman disituasi ini. Tapi seharusnya Itachi sudah tau apa jawab yang akan diberikannya. Dia mencintai orang lain.

"Kau tau aku mencintai orang lain"

"Adikmu?" Tubuh Kyuubi menegang. Itachi tersenyum pahit. Entah apa yang harus dikatakannya lagi pada Kyuubi jika hubungan cinta itu tidak mungkin." Kyuu kau tak mungkin…."

"Dia juga mencintaiku" Itachi tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Sahabatnya sendiri melakukan hubungan terlarang dengan adiknya sendiri. Apa yang sebenarnya Kyuubi dan adiknya pikirkan?

"Kyuubi mengertilah hubungan kalian tak akan…"

"Bukan kau yang menentukannya Itachi, dan aku mohon untuk tidak mengganggu hubunganku. Permisi" Suara kursi bergeser mengakhiri obrolan mereka. Itachi mencoba meraih tangan Kyuubi tapi diurungkannya. Ia membiarkan Kyuubi pergi. Itachi tak bisa melakukan apapun. Kyuubi mencintai orang lain bukan dirinya.

"Kyuu…"gumamnya lirih.

Kyuubi menerjang ramainya keramaian kota. Kakinya sangat cepat melangkah. Tak memperdulikan makian orang yang ditabraknya. Dadanya entah kenapa sangat sesak. Apa yang salah dengan keputusannya?

Dia memang mencintai adiknya. Tapi perasaan itu lama kelamaan memudar. Setiap hari Itachilah yang selalu bersamanya. Disamping Itachi,ia merasa nyaman. Langkah Kyuubi terhenti. Matanya menatap langit senja. Ada apa dengannya? Apa dia mencintai Itachi?

Walau dia mencintai Itachi, mereka tak akan bisa bersama. Ada seseorang yang mencintai Itachi. Dan orang itu adalah sahabatnya juga. Tidak! Dia tak akan menerima Itachi. Ini sudah keputusannya.

Dimalam hari, Kyuubi tak bisa tidur. Ia masih memikirkan Itachi. Dia menyakitinya. Kyuubi menutup rapat kelopak matanya. Mencoba kembali terlelap.

TOK TOK

Kyuubi membuka matanya. Ia mendecak kesal. Siapa yang berkunjung tengah malm begini? Tak taukah ia hampir terlelap tidur.

Kyuubi membuka pintu apartemen. Betapa terkejutnya,ia mendapati Itachi tengah setengah sadar. Tubuhnya bergerak tak tentu arah. Aroma alkohol juga tercium cukup keras. Bisa diambil kesimpulan Itachi mabuk.

"Tachi,kau mabuk?"

Mendengar suara yang begitu selalu ingin didengar,Itachi menatap sendu Kyuubilalu memeluknya. "Kyuu…"

Kyuubi menutup hidungnya. Dia sungguh tidak tahan dengan bau Itachi saat ini. Berapa banyak yang diminum Itachi hingga seluruh tubuhnya hampir tercium alcohol? "Huekk…kau bau sekali"

Kyuubi membawa Itachi ke kamarnya. Maklum apartemen Kyuubi hanya memiliki satu kamar tidur. Dibaringkannya tubuh Itachi. Saat akan mengganti pakaian Itachi, ia ditarik hingga jatuh dipelukan Itachi. Itachi membalik posisi mereka,sehingga Kyuubi ada dibawahnya. Tangan Kyuubi dicengkram kuat.

"Kenapa? Kenapa? Kau tak menerimaku?"

"Tachi lepaskan aku" Kyuubi meronta namun tenaganya kalah dengan tenanga Itachi yang lebih kuat.

"Kau hanya milikku Kyuu"

Itachi mencium kasar Kyuubi. Lidahnya ingin menyelusup masuk tapi Kyuubi menutup rapat bibirnya. Itachi tak hilang akal. Dia meremas keras milik Kyuubi hingga bibir Kyuubi terbuka. Langsung saja lidah Itachi bergrilia dalam sana.

"Mnnnhhh~ ber..henti"

Mendengar suara sexy Kyuubi, Itachi semakin memperdalam ciuman mereka. Tangannya tak tinggal diam. Dibukanya celana Kyuubi dan meleparnya kesembarangan tempat. Tanpa aba-aba Itachi memasukkan benda miliknya ke dalam lubang sempit Kyuubi.

Kyuubi terbelalak. Lubang sempitnya dipaksa melebar tanpa pemulas sedikitpun. Rasa perih menjalar ke seluruh tubuhnya. Kyuubi menggigit lidah Itachi hingga rasa asin darah terasa. Itachi menghentikan ciumannya.

"Keluarkan brengsek, AKH..SAKIT "

Itachi menulikan telinganya dan terus mengenjot lubang Kyuubi yang berdarah. Kyuubi tak mampu menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Ia mencoba mendorong Itachi sekuat tenaga, tapi tubuh Itachi tak bergerak seinci pun. Sang Namikaze akhirnya pasrah.

"Kau sangat nikmat Kyuu…" Itachi merasakan kenikmatan ketika lubang sempit Kyuubi mengapit miliknya. Tak henti-hentinya ia memaju mundurkan miliknya. Hingga Kyuubi tak sadarkan diri. "Kau hanya milikku Kyuu" bisik itachi ditelinga Kyuubi.

.

Cahaya matahari menemus jendela kamar. Sebagian cahaya itu menerpa wajah Itachi. Itachi pun tebangun. Ia mengerjap matanya.

Itachi menyadari bahwa ini bukanlah kamarnya melainkan kemar Kyuubi. Itachi mendudukan dirinya. Ia terkejut melihat tubuhnya yang tak mengenakan apa pun. Mata onyx itu teralih melihat Kyuubi duduk di tepi ranjang. Selimut membungkus tubunya yang bergetar.

Itachi memegang kepalanya yang sedikit sakit. Apa yang terjadi kemarin? Itachi berusaha mengingatnya. Itachi tersentak. Bayangan kejadian tadi malam tergambar jelas dalam benaknya. Ia melakukan sex dengan Kyuubi. Mampu dilihatnya bercak darah yang mengotori sprai.

"Kyuu maafkan aku…."

"Pergi…"

"Kyuu…"

"PERGI" teriak Kyuubi

Itachi menatap sendu Kyuubi. Itachi memakai pakaiannya yang berserakan dilantai dan bergegas keluar dari kamar.

Itachi terdiam di depan pintu kamar Kyuubi. Suara tangisan terdengar cukup keras. Apa yang dilakukannya? Dia menyakiti orang yang dicintainya. Itachi mengepalkan tangannya kuat. Sekarang Itachi hanya mampu meruntuki bodohannya.

Setelah kejadian itu,Kyuubi menjauh darinya. Mereka tak pernah bicara lagi. Itachi hanya mampu memandangnya dari jauh. Tapi tak lama Kyuubi tak pernah terlihat. Dimana pun. Apartemen Kyuubi telah kosong. Tak ada yang tau dia pergi kemana. Itachi sudah mencari ke penjuru kota. Hasilnya tetap nihil.

Berbulan-bulan Itachi berusaha mendapat informasi tentang Kyuubi. Dan usahanya membuahkan hasil. Kyuubi berada di Konoha. Itachi tak tinggal diam,ia bergerak menuju Konoha.

Itachi tak membuang-buang waktunya. Setelah tiba ,ia segera mencari Kyuubi. Tak ada petunjuk yang dimilikinya. Tapi ia tak menyerah. Ia harus bertemu Kyuubi. Setidaknya dia ingin meminta maaf walau Kyuubi tetap membencinya tak masalah. Yang terpenting sekarang menemukan Kyuubi terlebih dahulu.

Itachi mendecak kesal. Mobilnya tak mampu bergerak. Entah apa yang terjadi hingga terjadi kemacetan panjang seperti ini. Itachi memutuskan keluar dari mobil. Terlihat kerumunan orang. Dadanya berdetak kencang. Kaki jenjangnya melangkah mendekati kerumunan dengan sendirinya. Kaki yang semula berjalan ,berlari kencang. Itachi tidak tau apa yang terjadi dengan tubuhnya. Rasa khawatir tiba-tiba hinggap. Sekilas wajah Kyuubi muncul di kepalanya.

Itachi masuk ke dalam kerumunan. Nafasnya terhenti. Seorang pria yang sangat dikenalnya tergeletak penuh darah.

"KYUUUBIII" Itachi mendekati Kyuubi. Didekapnya tubuh itu. ia tidak peduli dengan pakaiannya yang sekarang penuh akan darah. "Ta..chi,kenapa kau menangis?"

"Kyuu kenapa ini bisa terjadi?"

Kyuubi hanya tersenyum. Tangannya menyentuh pipi Itachi. "Ta..chi bisakah kau berjanji padaku untuk menjaga adikku uhukk…" Betapa terkejutnya Itachi melihat Kyuubi batuk darah. Kyuubi terluka parah. Itachi mengambil ponselnya dan menghubungi rumah sakit tapi Kyuubi menghentikannya.

Kyuubi menggelengkan kepalanya. Tak ada gunanya menelpon rumah sakit. Kyuubi merasa ia sudah mencapai batasnya.

"Berjanjilah Tachi,kau akan menjaga adikku"

"Aku berjanji Kyuu" Kyuubi kembali tersenyum. Hanya itachi yang bisa dipercaya oleh Kyuubi. Itachi akan menempati janjinya.

"Katakan kau mencintaiku Tachi"

"Aku mencintaimu Namikaze Kyuubi,sangat mencintaimu"

"Aku juga mencintaimu uhukk.. Uchi..ha Ita..chi" Kyuubi menutup rapat matanya. Hembusan nafas hangatnya tak terasa lagi. Mata onyx Itachi menatap kosong ke depan. Kalimat terakhir Kyuubi membuat Itachi syok. Kyuubi mencintainya.

Air mata mengalir deras membasahi wajah Itachi. Tidak! Kyuubi tak boleh meninggalkannya.

"Kyuu bangun…." Itachi mengguncang tubuh tak bernyawa itu. Ia yakin Kyuubi hanya tertidur. Sebuah senyuman terukir manis dibibir Kyuubi. Itachi terdiam. Lalu dipeluknya tubuh ringkih itu.

"KYUUUBIII" teriak Itachi. Teriakan pilu itu terdengar ke segala penjuru. Semua orang menatap iba Itachi tapi tidak dengan satu orang yang menyeringai senang atas karya yang dilakukannya.

Beberapa hari sudah berlalu sejak kematian Kyuubi. Itachi menatap makam Kyuubi yang penuh dengan bunga mawar merah. Bunga kesukaan Kyuubi. Setiap hari tak lupa selalu membawa bunga itu.

"Kyuu…aku mencintaimu"

Flashback off

Hari yang sama dengan waktu itu, Itachi berdiri di depan makam yang sama. Sebuket bunga mawar merah menghiasi makam Kyuubi.

"Kyuu..bagaimana keadaanmu?"

"Maaf aku belum bisa menepati janjiku. Aku belum bisa menemukan adikmu" Selama enam tahun Itachi mencari tau tentang adik Kyuubi tapi nihil. Bahkan menurut informasi yang diterimanya ,Kyuubi tidak memiliki adik. Dia anak tunggal.

Kyuubi tak pernah sekalipun memperlihatkan wajah adiknya. Jadi bukanlah hal mudah bagi Itachi. Walau begitu ia tidak menyerah. Sampai saat ini ,ia terus mencari adik Kyuubi.

"Kau tau ada seseorang yang menggunakan identitasmu? Aku yakin kau akan mengamuk jika mengetahuinya"

"Aku harus pergi Kyuu,kau tau kan aku orang yang sangat sibuk"

Itachi tersenyum. "Aku akan mengunjungimu lagi,jadi kau tak perlu takut"

"Aku mencintaimu Kyuu" Itachi mencium nisan sang Namikaze. Hembusan angin menerpa wajahnya. Itachi menutup matanya sejenak lalu terbuka kembali. Itachi tersenyum. Ia seperti merasakan kehadiran Kyuubi disisinya. "Sampai jumpa Kyuu.." Itachi melangkah pergi.

Setelah Itachi pergi, sepasang kaki berhenti di dekat makam Kyuubi. Buket bunga yang tersusun rapi,terangkat dan diremasnya kuat. Kelopak-kelopak mawar berjatuh menerpa makam Kyuubi.

Sang pelaku tersenyum licik. "Senang bertemu denganmu lagi Namikaze Kyuubi"

ToBeCountinue

(•̀ㅂ •́)و

Hallo semua…. Gak terasa sudah hampir 1,5 bulan aku gk uptade. Aku pengen bilang, maaf kalau bahasa yang aku gunain berulang-ulang,karna kosakata yang aku punya gk terlalu banyak. Maaf juga kalau cerita ini belum ke inti cerita dan semakin ribet wkwkwk Dan tak lupa maaf kalau ada typo. Aku gak sempet buat ngecek kembali tulisanku karena waktu yang terbatas. Aku merasa chapter ini full drama wkwkw dan maaf kalau tidak menyentuh kalian semua. Kebanyakan maaf kayaknya hehe. Terima kasih sudah membaca.

See youu

.