CHAPTER 11

*

*

-:-:-:-:-:-

*

*

Mata sipit milik Baekhyun terbuka dengan perlahan menatap langit biru dipagi hari lewat jendela kaca kamarnya, sedangkan tubuhnya masih dalam keadaan tanpa sehelai pakaianpun dibalik selimut tebalnya. Jari lentiknya menyingkap selimut itu dan ia hendak bangkit dari berbaringnya, namun Baekhyun sedikit mendesis nyeri saat bagian bawah tubuhnya terasa sakit. Namun gadis itu tetap memaksakan dirinya untuk bangkit dari berbaringnya, mata sipitnya bisa melihat bercak darah dan sperma diseprai putihnya yang sudah mengering. Baekhyun hanya menghela nafasnya perlahan saat mengingat kejadian semalam yang ia lalui bersama daddy tampannya. Gadis cantik itu mulai berjalan dengan telanjang mengambil handuk yang tergeletak diatas lantai, memakainya dan kemudian berjalan kearah kamar mandi.

.

.

Seorang wanita berdiri dibelakang punggung suami tingginya yang kini tengah sibuk memilih pakaian yang akan ia pakai untuk ketempat kerjanya. Punggung suaminya yang terpampang tanpa sehelai kain itu hanya dipandanginya dengan banyak pertanyaan. Bekas luka dipunggung Chanyeol, lebih tepatnya bekas cakaran dipunggung suaminya membuat Irene berpikir tentang apa yang dilakukan Chanyeol kemarin malam. Irene seorang wanita dewasa, ia tidak bodoh dengan bekas cakaran yang jelas terlihat dipunggung suaminya itu. Irene hendak bertanya namun urung saat Chanyeol membawa langkahnya kearah wanita itu dengan mengecup kening sang istri dan memintanya untuk memakaikan dasinya.

"Pagi ku selalu indah, saat aku melihat istri secantik dirimu." Irene hanya tersenyum dengan lontaran Chanyeol.

.

.

Sedangkan disalahsatu kelas, saat ini tengah menonton sirusa manis yang bertransformasi menjadi seorang monster cantik. Tangan Luhan mencengkram dengan sangat kuat wajah Xiumin hingga gadis itu mendesis nyeri, bahkan yang melihatnya pun bergidik ngeri.

"Jadi kau yang melakukannya?" teriak Luhan tepat dihadapan wajah Xiumin, sedangkan tangannya semakin mencengkram wajah gadis itu.

"Apa maksudmu Lulu?"

"Ck, jangan pernah memanggil namaku dengan mulut kotormu itu!" desis Luhan dan melepaskan cengkramannya dengan sangat kasar. Tangannya langsung merogoh ponsel milik Xiumin disaku seragamnya tanpa seizin gadis itu. Xiumin jelas berontak dan berusaha mengambil ponsel miliknya, namun sayang kekuatan Luhan lebih besar darinya. Saat jari-jarinya sibuk mencari rekaman video itu dan hanya butuh waktu sebentar untuk Luhan menemukannya. Dan...

Pranggg...

Luhan melempar ponsel milik Xiumin kedinding yang tak berdosa. Sipemilik ponsel itu langsung membolakan matanya, begitupun dengan murid yang berada didalam kelas. Namun berbeda dengan Daniel, laki-laki itu hanya menikmati apa yang dilakukan Luhan pada Xiumin. Sedangkan Yuzu gadis yang berdiri disamping Daniel nampak terkejut dengan apa yang dilakukan Luhan, karena selama ini gadis rusa itu dikenal sebagai gadis yang manis.

"Apa yang kau lakukan?" teriak Xiumin saat kedua matanya melihat ponsel miliknya diinjak oleh kaki Luhan tanpa belas kasihan.

"Kau ingat?" ucap Luhan dengan suara pelannya tepat ditelinga Xiumin.

"Jika aku menemukan seseorang yang menyakiti Baekhyun, aku tidak akan tinggal diam!" desisnya lagi dengan mencengkram kerah seragam Xiumin dan mendorongnya hingga menabrak meja dibelakangnya. Xiumin hanya mendesis nyeri saat punggungnya menabrak kaki meja, sedangkan jari-jari tangan Luhan kini melingkar dileher Xiumin dengan ketat membuat sosok itu terbatuk-batuk. Daniel yang melihat perbuatan gadis rusa itu akhirnya membawa langkahnya dan hendak menarik Luhan.

"Kau bisa membunuhnya!" ucap Daniel.

"Diam ditempatmu, ini urusanku dengan gadis sialan ini!" desis Luhan dengan membawa telunjuknya kearah Daniel, sedangkan mata gadis itu sudah memerah dengan emosi yang menguasai dirinya.

"Luhan!"

Xiumin dengan sekuat tenaga mendorong Luhan dan membuat gadis bermata rusa itu terdorong kebelakang dengan wajahnya menubruk kaki meja, membuat sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah yang anyir. Luhan yang melihat keberanian Xiumin hanya tersenyum kecut dengan ibu jarinya mengusap darah disudut bibir miliknya.

"Kau berani melawanku rupanya." ucap Luhan dan...

Plakkk...

Tak main-main Luhan langsung menampar pipi Xiumin hingga meninggalkan bekas tamparan disana, sedangkan tangan kirinya langsung menarik rambut Xiumin hingga gadis itu menengadah keatas. Daniel mencoba kembali untuk menghentikan Luhan, namun sayang gadis rusa itu tidak mengidahkan ucapan laki-laki itu. Bahkan semua murid dikelas itupun tidak berani menolong Xiumin, begitupun dengan Yuzu gadis itu hanya menelan ludahnya melihat sikap Luhan yang kini seperti monster tanpa belas kasihan sedikitpun.

"Kenapa kau melakukan itu pada Baekhyun?" teriaknya, namun Xiumin tetap diam dan itu benar-benar membuat Luhan semakin diliputi emosi.

"Jawab brengsek!" desisnya.

"Aku muak, aku muak dengan jalang itu. Gara-gara jalang itu aku selalu diperlakukan seperti robot oleh eomma ku sendiri, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit aku harus belajar, belajar dan belajar. Aku lelah selalu dibanding-bandingkan dengan Baekhyun. Aku ingin menyingkirkan jalang itu dari sekolah ini!" Luhan yang mendengar semua lontaran Xiumin semakin menarik rambut gadis itu.

"Jangan pernah memanggil Baekhyun dengan panggilan seperti itu!" desis Luhan kembali dan melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Xiumin dengan kasar.

"Jadi hanya karena itu kau menyakiti sahabatmu sendiri?" tanya Daniel dengan senyumannya yang tampak meremehkan.

"Ck, jalang itu bukan sahabatku. Dan kau, kau mencintai seorang jalang yang bahkan sudah pernah ditiduri oleh..."

"Apa yang kalian lakukan? apa kalian tidak malu dengan seragam yang kalian pakai, hah? bahkan kalian seorang gadis, apa kalian ingin menjadi gadis berandalan? kalian berdua ikut keruang guru, sekarang!" bentak seorang guru yang baru saja memasuki kelas itu.

.

.

.

.

.

Siang ini Chanyeol tampak sibuk dengan beberapa dokumen miliknya, sesekali ia melemaskan otot-otot kakunya. Namun tanpa diundang gadis mungilnya datang begitu saja mengisi pikirannya. Bibir tebalnya tampak tersenyum dengan tampan saat malam panasnya ia lakukan bukan hanya karena tergoda oleh gadis itu, namun juga karena perasaan lain didalam hatinya yang mulai tumbuh. Tangannya mengambil ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja, namun saat jarinya menyentuh layar ponselnya nampaklah sebuah potret dirinya bersama Irene yang tengah tersenyum bersama.

"Maafkan aku yang tidak menepati janji ku dulu. Hatiku mulai goyah saat ini, namun percayalah kau tetap yang terindah. Kau yang pertama dan terakhir untuk hidupku, perasaan ini... mungkin hanya sesaat untuk kurasakan." gumamnya dengan terus mengelus potret Irene dilayar ponsel miliknya.

.

.

Baekhyun hanya duduk tanpa melakukan apapun didalam kamarnya. Kedua lututnya tampak ia tekuk dengan dagu yang ia tumpukan disana. Sedangkan isi pikirannya berkelana atas apa yang sudah ia lakukan dan sudah mereka lakukan bersama. Tatapannya tampak kosong menatap kearah depan dengan bayang-bayang malam panas yang dilaluinya. Namun ditengah-tengah lamunannya terdengar dering ponsel miliknya yang berada disamping kakinya. Tangannya langsung mengambil ponsel itu dan membuka pesan masuk dengan senyuman miliknya.

--

From: Handsome Daddy

01:45 pm

Tunggu daddy sore ini.

--

.

.

Brakkk...

Sehun yang tertidur diatas ranjangnya langsung terbangun begitu saja, saat terdengar suara pintu yang dibanting dengan sangat keras.

"Astaga, chagi!"

Brukkk...

Luhan membanting tas miliknya yang tak berdosa itu tepat mendarat diatas lantai dingin dengan raut wajahnya yang tampak mengerikan.

"Brengsek!"

"Chagi, kau mengataiku brengsek!"

"Gadis sialan itu yang brengsek!" desis Luhan. Sehun yang mendengar desisan kekasihnya itu hanya menghela nafasnya pelan. Laki-laki albino itu bangkit dari atas ranjangnya dan merengkuh bahu Luhan untuk duduk diatas ranjang. Tangannya tampak mengelus bahu kekasih cantiknya itu berharap elusan lembut dari tangannya bisa menenangkan Luhan.

"Ayo ceritakan semuanya pada oppa." ucap Sehun dengan pelan.

.

.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam terlewati kini siang digantikan sore. Bahkan langit sudah menampakan warna senjanya yang indah. Seorang gadis dengan hotpants dan loose shirtnya yang memamerkan sebelah bahunya terlihat sangat seksi dengan rambut hitamnya yang ia cepol dengan asal. Gadis itu tengah berdiri dengan pan dan spatula yang berada digenggaman tangannya, jari-jari lentiknya tengah sibuk memasukan bahan-bahan makanan kedalam pan yang tengah mengeluarkan aroma yang tampak menggoda siapapun yang mencium aroma masakannya. Tanpa disadarinya seorang laki-laki mengendap masuk kedalam dapur dengan senyuman tampan miliknya. Dan...

Greppp

Laki-laki itu langsung memeluk tubuh mungil Baekhyun dari belakang dengan sangat erat.

"Daddy."

"Iya ini daddy, sayang." sahut Chanyeol dengan mencium bahu Baekhyun, gadis itu hanya tersenyum dengan apa yang dilakukan Chanyeol. Jari-jari besarnya ia tautkan dengan jari-jari lentik Baekhyun dan membawanya memeluk perut gadis itu. Chanyeol terus mengecup dan mengendus bahu Baekhyun membuat gadis itu terkikik geli.

"Daddy merindukanmu." ucapnya dengan berbisik tepat ditelinga Baekhyun. Lidah basah Chanyeol terus menggoda leher Baekhyun membuat gadis itu dengan terpaksa mematikan kompor yang kini menyala. Tangan Chanyeol langsung membalik tubuh Baekhyun dan mendaratkan bibir tebalnya tepat dibibir cherry milik gadis cantik itu. Dan kini tangan Baekhyun melingkar dengan nyaman dileher Chanyeol, sedangkan bibir keduanya tengah beradu dengan panas. Terdengar suara kecipak mengisi kesunyian ruang dapur, Chanyeol langsung membawa Baekhyun kedalam gendongannya tanpa melepaskan pagutannya. Langkah lebarnya ia bawa memasuki salahsatu kamar yang ditempati oleh Baekhyun. Laki-laki tinggi itu langsung membaringkan tubuh gadis cantiknya dan menindihnya, sedangkan jari-jarinya sibuk membuka dasi dan setiap kancing kemejanya dan melepaskannya lalu melemparnya tepat keatas lantai.

Pagutan itu kini terlepas dengan nafas terengah dari keduanya, namun senyuman milik keduanya terpatri dengan hangat. Chanyeol membawa tangannya untuk mengelus helaian hitam Baekhyun dengan sangat lembut. Sedangkan kedua mata besar miliknya tepat menatap ke mata sipit Baekhyun.

"Daddy merasakan sesuatu yang berbeda disini." ucap Chanyeol dengan menuntun sebelah tangan Baekhyun untuk menyentuh dada kirinya. Dan Baekhyun dengan jelas bisa merasakan detakan yang tak biasa itu, detakan yang sama seperti yang ia rasakan.

"Apa ini perasaan cinta?" lanjut Chanyeol. Baekhyun hendak mengeluarkan suaranya, namun urung saat Chanyeol kembali berucap.

"Mungkin ini hanya perasaan sesaat!" lanjutnya dan langsung menenggelamkan wajahnya diceruk leher Baekhyun dengan lidah yang mulai menggoda leher mulus gadis itu. Hati Baekhyun terasa tertusuk oleh ribuan duri tak kasat mata saat mendengar lontaran sederhana 'lagi' dari Chanyeol. Sedangkan laki-laki itu terus menggoda Baekhyun dengan lidah basahnya. Tangan Baekhyun mulai membuka pakaiannya sendiri, Chanyeol hanya memandangi gadis itu yang kini tengah melepaskan seluruh pakaiannya. Chanyeol langsung membawa gadis itu yang kini sudah tanpa sehelai kain pun duduk dipangkuannya dengan tangan yang melingkar dipinggang Baekhyun.

"Sangat cantik! Jika baby yang kau kandung nanti perempuan, baby itu akan mirip seperti dirimu cantik dan manis." ucap Chanyeol dengan mengelus perut rata Baekhyun, sedangkan tangan kirinya mengelus wajah gadis itu. Baekhyun seharusnya merasa bahagia namun tidak, hatinya merasa sedih. Karena bayi itu tidak akan jadi miliknya, namun bayi itu akan menjadi milik Chanyeol dan Irene.

Baekhyun langsung berpura-pura tersenyum dan mengelus tangan Chanyeol yang berada diatas perutnya.

"Jika baby ini laki-laki maka baby nya akan tampan seperti daddy nya" ucap Baekhyun dengan terkekeh, namun hatinya jelas terasa sedih. Chanyeol langsung menindih tubuh Baekhyun dan melumat kembali bibir manis itu dengan mata terpejam. Baekhyun mencoba menikmatinya walau setengah hatinya tidak menginginkannya. Tangan Chanyeol mulai melepaskan celana hitamnya dengan susah payah dan melemparnya begitu saja keatas lantai. Tangan Chanyeol kini menggoda lubang sempit Baekhyun dengan menggesekan kejantanan besar miliknya yang kini sudah mengeras meminta untuk dimanjakan oleh lubang kenikmatan milik Baekhyun.

"Aumpphhh" tanpa sadar Baekhyun mulai mendesah ditengah-tengah pagutannya. Chanyeol melepaskan pagutan itu dan turun kebawah untuk menggoda lubang sempit milik Baekhyun yang kini sudah basah dan siap untuk dimasukinya.

Sedangkan ponsel milik Chanyeol yang tergeletak dimeja ruang santai tampak berkedip tanda ada seseorang yang menelponnya.

.

.

Seorang wanita cantik kini sibuk menyiapkan makan malam untuk dirinya dan menunggu kedatangan suaminya. Wanita itu terus mengintip jam yang tergantung di dinding dengan suara detak jarum jam yang terdengar dengan jelas. Semua masakannya bahkan sudah terhidang dimeja makan dan meminta untuk segera dilahap. Namun dengan sabar Irene menunggu kepulangan Chanyeol.

"Aku menunggumu." gumamnya.

.

.

Suara decit ranjang dan gesekan kulit bagian bawah keduanya terdengar menemani suasana sunyi malam ini. Lagi-lagi keduanya membuat malamnya berubah jadi panas kembali, keringat yang membasahi tubuh keduanya dengan di iringi desahan indah milik Baekhyun membuat Chanyeol yang berada diatas tubuh gadis itu semakin bersemangat untuk melakukan tumbukannya.

"Aughhh oughh dadhh aughhh terus dadhh aughh terushh."

"Baekhyun, kau benar-benar sangat nikmat sayang." ucapnya dengan terus menumbuk lubang sempit Baekhyun dengan tempo yang semakin cepat. Jari-jari lentik Baekhyun kembali mencengkram punggung Chanyeol saat ia merasakan sesuatu didalam dirinya mendesak untuk keluar. Chanyeol yang merasakan cengkraman kuku dipunggungnya hanya mendesis nyeri.

"Aaaaaaaaugh."

.

.

Jam di dinding sudah menunjukan pukul 08:15 malam. Irene masih duduk dikursi meja makannya dengan makanan yang terhidang dihadapannya bahkan sudah mendingin sedari tadi. Ponsel yang tergeletak dimeja makan pun hanya Irene pandangi tanpa berani menyentuhnya. Tiba-tiba Irene merasakan sesak dihatinya, saat ia ingat kembali dengan luka dipunggung Chanyeol. Tanpa disadarinya tiba-tiba airmata menetes dari sudut matanya.

"Kenapa aku harus menangis, ini semua keinginanku dan demi keluarga Park." gumam Irene dengan menarik nafasnya mencoba untuk menenangkan hatinya.

.

.

Permainan panas keduanya telah usai beberapa menit yang lalu, kini Chanyeol tengah memakai pakaiannya kembali. Sedangkan Baekhyun ia sudah memejamkan matanya dengan selimut tebal yang menutupi tubuh telanjangnya. Setelah Chanyeol selesai memakai pakaiannya, laki-laki itu langsung membawa langkahnya kearah Baekhyun dan mengecup pucuk kepala dan bibir tipis milik gadis itu. Tangannya tidak lupa untuk mengelus surai hitam itu dengan bisikannya.

"Tidurlah yang nyenyak, maaf daddy sudah membuatmu lelah lagi malam ini. Daddy harus pulang." tangannya membenarkan selimut itu. Sebelum beranjak pergi Chanyeol memandangi wajah cantik Baekhyun terlebih dahulu.

"Daddy mencin..." namun Chanyeol membawa langkahnya sebelum ucapan itu selesai. Baekhyun yang mendengar suara pintu kamarnya yang tertutup akhirnya airmata menetes dari sudut matanya. Dengan perlahan mata sipitnya terbuka dengan airmata yang semakin menetes melewati pipinya. Ruangan kamarnya kini hanya terisi oleh isak tangisnya bukan lagi oleh desahan kenikmatan seperti tadi.

.

.

Chanyeol memarkirkan mobilnya tepat dihalaman rumahnya yang tampak luas. Saat pintu utama ia buka nampak seorang wanita yang menyambutnya dengan senyuman cantiknya dan pelukan hangatnya. Irene sedikit terdiam saat memeluk tubuh Chanyeol dengan aroma yang berbeda, namun seperkian detik Irene kembali merubah raut wajahnya.

"Maaf aku pulang terlambat, istri cantik ku ini pasti menungguku cukup lama." ucap Chanyeol dengan mengelus rambut Irene, namun wanita itu menggelengkan kepalanya.

"Itu bukan masalah bagiku, ayo kau harus mandi lalu kita makan malam bersama." ucap Irene dan menuntun Chanyeol kelantai atas.

Setelah Chanyeol selesai dengan acara membersihkan tubuhnya, kini laki-laki itu menikmati makan malamnya berdua bersama Irene.

.

.

Baekhyun terbangun dari tidur lelapnya saat ia merasakan tenggorokannya yang kering. Dengan terpaksa Baekhyun bangkit dari tidurnya, namun sayang gadis itu lagi-lagi mendesis nyeri saat bagian bawah tubuhnya kembali terasa sakit. Baekhyun menggapai pakaiannya yang tergeletak diatas lantai dan memakainya kembali, ia berjalan kearea dapur. Namun langkahnya terhenti saat kedua mata sipitnya melihat beberapa hasil masakannya terhidang dimeja makan tanpa tersentuh sedikitpun. Baekhyun hanya menghela nafasnya dan kemudian tangannya langsung memasukan semua hasil masakannya kedalam lemari es untuk dihangatkan besok pagi. Gadis itu mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya untuk menghilangkan rasa hausnya.

.

.

.

.

.

Pagi sudah menjelang, suara cicit indah dari burung yang bertengger diatas pohon terdengar merdu. Sedangkan seorang wanita kini menatap wajah suaminya yang baru terbangun dari tidur lelapnya. Chanyeol yang baru saja terbangun langsung mengembangkan senyumnya dan menyapa Irene seperti biasanya.

Irene tengah menyiapkan pakaian kerja untuk Chanyeol, namun saat laki-laki itu keluar dari kamar mandi dengan keadaan bertelanjang dada sontak membuat Irene terpaku kembali dengan bekas luka baru dipunggung suaminya. Bekas cakaran yang sama seperti hari sebelumnya, namun Irene tidak mau memikirkan hal itu ia membawa pakaian pada Chanyeol dan membantu laki-laki itu untuk memakainya.

.

.

Sedangkan ditempat lain seorang wanita terus mengetuk kamar anaknya sedari tadi. Namun sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. Tanpa lelah wanita itu terus mengetuk pintu kamar sang anak semakin keras.

"Xiumin, cepatlah bangun kau harus pergi kesekolah."

"Aku tidak akan pergi kesekolah!" teriaknya.

"Apa maksudmu, kau harus sekolah!" ucapnya dengan sedikit menaikkan nada bicaranya. Dan akhirnya pintu kamar itupun terbuka.

"Ini semua gara-gara eomma!" teriak Xiumin.

"Jangan berteriak pada eomma."

"Aku di skors dari sekolah karena eomma, aku berkelahi dengan sahabatku sendiri karena eomma, Baekhyun keluar karena eomma, dan aku kehilangan sahabatku sendiri karena eomma, semuanya karena eomma!"

Brakkkk

"Xiumin kau mau kemana?" teriaknya dengan memandangi kepergian anaknya yang terisak.

.

.

Chanyeol kini berada diperjalanan menuju keperusahaannya. Disaat lampu merah Chanyeol merogoh ponselnya yang sejak semalam tidak ia cek. Saat jarinya menyalakan layar ponsel miliknya, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari orang yang sama.

"Sehun, ada apa dia menelponku kemarin malam." gumamnya. Akhirnya laki-laki itu menelpon balik Sehun.

"Halo."

.

.

Baekhyun tengah sibuk memanaskan masakannya, namun terdengar suara bel yang dibunyikan oleh seseorang. Akhirnya Baekhyun membawa langkahnya keluar dari area dapur untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka nampaklah seorang gadis cantik yang Baekhyun rindukan, ia langsung memeluk sosok itu dengan senyuman lebarnya.

"Lulu, kau tidak pergi kesekolah?"

"Apa kau akan membiarkan tamu mu untuk berdiri diluar?" cibir Luhan dan Baekhyun sontak terkekeh dengan ucapan sahabatnya. Keduanya akhirnya melangkah masuk dan duduk diatas sofa.

"Luhan, dari mana kau tahu tempat ini?"

"Kau lupa, jika Xi Luhan adalah kekasih dari Oh Sehun sahabat laki-laki brengsek itu!"

"Lulu jangan berbicara seperti itu, ahjussi itu sudah membantuku." Luhan yang mendengar lontaran Baekhyun hanya berdecak kesal.

"Dia membantumu dengan cara merusakmu!" Baekhyun hanya menghela nafasnya, namun apa yang diucapkan Luhan memanglah ada benarnya.

"Lulu kau belum menjawab pertanyaanku!"

"Aku di skors dari sekolah!"

"Bagaimana bisa?"

"Aku berkelahi dengan gadis sialan itu." Baekhyun menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti dengan orang yang dimaksud Luhan.

"Gadis sialan, siapa yang kau maksud?"

.

.

Sehun dan Chanyeol kini duduk saling berhadapan sejak beberapa menit yang lalu dengan kopi yang tampak masih mengepul. Setelah Chanyeol menelponnya Sehun langsung memutar arah untuk ketempat Chanyeol setelah mengantarkan kekasihnya.

Keduanya kini menikmati kopi panas itu sebelum membuka percakapannya.

"Chanyeol." panggil Sehun dengan menatap wajah sahabatnya itu.

"Apa kau tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi pada Baekhyun?" sontak pertanyaan tiba-tiba Sehun membuat Chanyeol menghentikan menikmati kopinya.

"Memangnya ada apa dengan Baekhyun? Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku." Sehun yang mendengar sahutan Chanyeol hanya menghela nafasnya.

"Baekhyun sudah keluar dari sekolah!"

"Apa?" Chanyeol jelas terkejut dengan ucapan Sehun. Kini ingatannya kembali saat hari dimana Baekhyun dengan sikapnya yang tampak berbeda dan ada keputusasaan dalam dirinya, namun Chanyeol tidak menyadari hal itu pada waktu yang tepat.

"Waktu itu dia berhasil menggodaku. Aku melihat Baekhyun yang berbeda saat itu, aku tidak tahu jika hari itu... Ah!" Chanyeol mengacak rambutnya sendiri dengan kesal.

"Jadi kalian sudah melakukannya?"

"Aku harus menemui Baekhyun!"

"Disana ada Luhan, jika dia melihatmu dia bisa saja menghabisimu."

"Ck, bukankah kekasihmu itu seorang gadis bukan seorang psikopat."

"Luhan sangat menyayangi Baekhyun, dia sampai di skors dari sekolah karena berkelahi dengan sahabatnya sendiri yang membuat Baekhyun sampai dikeluarkan dari sekolah itu! kau jangan meremehkan emosi Luhan. Bahkan aku berkali-kali harus menahan emosinya saat dia melihatmu." Chanyeol hanya diam dengan perkataan Sehun saat ia ingat sesuatu yang ia lupakan. Tangannya merogoh laci mejanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci itu.

.

.

"Tidak mungkin Xiumin melakukan itu pada sahabatnya sendiri." ucap Baekhyun dengan tawa kecilnya yang tampak sendu. Setelah mendengar semua cerita dari Luhan, Baekhyun berharap telinganya saat ini tengah rusak. Ia tidak percaya sahabatnya sendiri berada di balik semua perjalanan hidupnya yang semakin rumit. Luhan menggenggam kedua tangan Baekhyun dan mengelusnya dengan ibu jarinya.

"Masih ada aku yang akan selalu berada disampingmu." Baekhyun langsung memeluk tubuh Luhan begitu saja dengan meneteskan airmatanya. Sedangkan tangan Luhan tampak mengelus punggung Baekhyun untuk menguatkannya.

"Kau tidak perlu takut, saat semua orang membencimu masih ada aku yang akan memelukmu. Aku orang pertama yang akan mengusap airmata mu saat seseorang menyakitimu." ucapnya dengan mengusap airmata Baekhyun, sedangkan matanya sendiri sudah berkaca-kaca menahan tangisannya. Kini kedua gadis itu saling berpelukan kembali dengan Luhan yang meneteskan airmatanya diam-diam.

.

.

.

.

.

TBC

Akhirnya bisa update juga :D

Tapi ceritanya jadi kaga jelas gini

Happy satnight guys.

Ada yang gak malam mingguan?

jangan sedih okay, author juga gak malam mingguan ko :D

.

Neni Komala, loeyaBee, hulas99, 1004teuk, neomuchanbaek1, babygurlz, babee.ch, chanbaek92, Ljsljh, veraparkhyun, Wiwiet, jyongjae, Guest, EvieBeeL, Ekayoon, BaekHill, rly.