"Walking the tightrope, With you"

.

.

.

Do Not Edit and Repost


Crennica, June 20, 1854

Teriknya matahari pagi itu amat menyengat. Cicitan burung merpati yang hinggap di pepohonan maple sepanjang jalan setapak menuju mansion keluarga Oh membuat suasana pagi itu amat tenang. Seorang lelaki mungil yang rambutnya tengah berkebar seirama dengan semilir angin, tengah mendongak kearah langit biru yang terhampar diatas sana. Senyuman manis menghiasi paras cantik tersebut, merasakan hangat sinar sang bola api yang mengenai tubuhnya yang semakin hari kian berisi. Sesekali jemari lentik miliknya memberi elusan di perut yang mulai nampak tersebut.

Kikikan manis terdengar pelan, ketika sebuah tendangan pelan ia rasakan. Hatinya berdesir bahagia merasakan interaksi kecil yang terjadi antara ia dengan si mungil didalam sana. Semakin hari, perutnya semakin membesar. Bersamaan dengan itu, aktifitas kecil didalam sana juga meningkat. Ketika gelap malam menjemput, si kecil seolah mengerti, akan ikut diam, tertidur didalam kehangatan Rahim sang mama. Dan kala sinar pagi mulai menerangi bumi, si kecil akan menjadi alarm tersendiri bagi sang ratu Alderth. Memberikan tendangan dan tinjuan kecil dari dalam sana, menarik sang mama dari alam mimpinya.

Tidak hanya itu, seolah memahami apa yang dikatakan Baekhyun, si kecil juga akan memberikan tendangan atau tinjuan ketika mendengar suara lembutnya. Atau ketika Baekhyun merasa gelisah, sedih, dan tidak nyaman. Seolah memberikan semangat.

"hey berry, bukankah hari ini sangat cerah? Mama amat bahagia melihat mawar merah yang kita tanam tumbuh amat subur", kikiknya. Yang kembali mendapat tendangan dari dalam sana.

"benar, mama tidak sabar bertemu langsung. Melihatmu, membawamu bermain, mengajarimu menanam bunga. Semua yang bisa kita lakukan bersama, hanya mama dan kau, berry".

Desahan angin pagi kembali berhembus, seolah merespon apa yang dikatakan oleh sang ratu. Menerpa wajahnya, membawa sebuah kenangan manis yang disaat bersamaan juga amat menyakitkan. Memunculkan satu sosok yang sesungguhnya amat ia rindukan. Sebesar apapun Baekhyun berusaha menghalangi agar perasaan itu kembali muncul, sesering itu jugalah wajah tampan yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta itu terlihat. Membuat hatinya berdesir sakit.

"mama harap…", sekuat tenaga ia menahan air mata sembari mengelus gundukan di perutnya. "mama harap, kau akan bertemu papamu, suatu hari nanti", lirihnya.

Dug.

Itu adalah sebuah tendangan yang sedikit lebih keras dari biasanya, membuat Baekhyun meringis pelan. Merasakan nyeri yang mendera secara tiba-tiba akibat tendangan tersebut.

"apakah kau bersemangat?", kekehnya. "mama akan mencoba, membuatmu bertemu dengan papa. Ketika waktunya sudah tepat".

Jemari lentik itu kemudian perlahan mengusap sungai kecil yang terbentuk di pipi mulusnya ketika mendengar derap langkah semakin mendekat. Tidak ingin ada yang mengetahui seberapa hancur si lelaki mungil itu sebenarnya.

"Baek, astaga jangan terlalu lama berdiri seperti itu. Nanti kau lelah", itu adalah ocehan khas Luhan, yang membuat si mungil lainnya tersenyum.

"aku tidak apa-apa Lu, jangan khawatir".

Mendengar itu, si lelaki cantik bermata rusa hanya mendecak pelan. Ia tahu Baekhyun adalah seseorang yang keras kepala. Sehingga, agak sulit untuk memperingatkannya. Luhan memutuskan tidak memperpanjang perdebatan mereka, dan memutuskan fokus ke hal lain yang mendadak menarik perhatiannya.

"yatuhan! Semua bunga-bungamu sudah mekar Baek! Cantik sekali".

Anggukan menjadi jawaban sang ratu sebelum dirinya berjongkok dengan hati-hati untuk memotong beberapa daun yang sudah mengering.

"astaga, bahkan bunga merah aneh ini tumbuh amat subur. Kau tampaknya menyukai bunga ini Baek. Jumlahnya bahkan lebih banyak dari mawar merahmu".

"ya, aku amat menyukainya", kekeh Baekhyun.

"apa jenis bunga ini?"

"red spider lily"

"apa itu? Artinya pasti amat indah seperti bentuknya hingga kau menyukainya seperti ini".

Keheningan menyapa, jemari-jemari lentik itu berhenti dari kegiatannya untuk sesaat. Luhan hanya mengerjap bingung, menunggu jawaban dari sahabat mungilnya.

"kematian", lirihnya, jemari lentik itu kembali bergerak.

"apa?".

"artinya adalah kematian. Di setiap tangkainya, tumbuh perasaan dukaku, mekar dan subur bersama bunga itu. Perasaan duka, atas matinya perasaan cinta seseorang, terhadapku".

Luhan tidak perlu bertanya lagi apa maksud si kalimat si mungil, dan langsung memberinya pelukan yang amat hangat. Sembari mengusap surai terang itu dengan sayang.

"dia akan menyesal, Baek".


Etuviel Palace, June 20, 1854

"Yang mulia sudah tiba! Cepat kembali pada posisi kalian!".

Do Kyungsoo, atau yang kini kembali menjabat sebagai kepala pelayan sayap barat, berteriak panik kepada para pelayan lainnya yang tengah berjejer di sepanjang jalan berbatu di taman wonderbush.

Secara tiba-tiba pada dentingan jam ke tujuh di pagi itu, sang raja sudah berpakaian rapi dan meminta mereka berkumpul di taman wonderbush pada pukul delapan. Pimpinan Alderth itu mengatakan sudah lama sejak terakhir ia mengunjungi taman indah kesayangan sang ratu. Sehingga ia memutuskan hari itu adalah saat yang tepat.

Semalam, sang raja tidak dapat tidur nyenyak. Ia bahkan melepaskan paksa tubuh Subin yang menempelinya dan berjalan menyeret menuju Eagle room. Tepat pada pukul tiga dini hari, sang raja akhirnya tertidur dengan memeluk erat bantal milik suami mungilnya. Membuatnya merasa lebih tenang dan berakhir berjumpa dengan sosok cantik itu dalam mimpi.

Pagi itu, sambaran rasa rindu membuat Chanyeol sesak. Menyadari bahwa ketika matanya terbuka, lelaki mungil yang merupakan suaminya itu sudah tidak ada lagi di sisinya. Menghadapkannya pada realita dimana dialah penyebab kepergian sang ratu. Karena kesalahannya yang teramat fatal. Kesalahannya yang telah merusak janji mereka berdua.

Itulah alasan dirinya meminta seluruh pengawal dan pelayan berkumpul di wonderbush. Tidak lupa dirinya meminta kepala taman untuk hadir dan menyapa sang raja.

"Tuan Bertram", sapa sang raja dengan wajah datarnya.

Seluruh pengawal dan pelayan disana bersama si kepala taman membungkuk sopan kemudian mengikuti kemana langkah sang raja membawa mereka.

Sepasang mata kelinci itu menatap sekeliling taman yang tampak banyak berubah tersebut. Memang sudah lebih dari delapan bulan ia tidak kesana, karenanya wajar jika sudah banyak yang berubah.

"kemana mawar-mawar yang ditanam ratu?", ujarnya.

Kepala taman membungkuk lalu berjalan tepat dibelakang sang raja.

"yang mulia ratu meminta semua mawar diganti dengan bunga red spider lily dan helenium, yang mulia".

Dahi sang raja mengernyit mendengar pernyataan tersebut. Ia tahu pasti arti bunga red spider lily. Namun Helenium? Sang raja belum pernah mendengar apa arti bunga itu sebenarnya.

"kenapa? Apakah ia memberitahukan alasannya?".

"yang mulia ratu meminta semuanya diganti tepat sebulan setelah anda kembali dari Patrathia, yang mulia. Permintaan beliau pun amat spesifik. Yakni membuang tiap tangkai bunga mawar merah dan mawar merah muda di taman wonderbush untuk diganti dengan bunga-bunga ini", ujar pak tua itu dengan nada sopan. Dibelakang mereka, Kyungsoo menundukkan kepalanya. Ia berada disana ketika itu terjadi. Membuatnya kembali mengingat hari itu dan mendadak amat rindu pada sahabat cantiknya tersebut.

"apakah… apakah kau tahu apa arti bunga helenium, Bertram?".

"mohon ampun jika saya menjadi sok tahu. Namun seperti yang saya dengar, bunga helenium berarti air mata, dan kesedihan yang amat dalam. Dua minggu sebelum kepergian yang mulia ratu, beliau meminta saya menancapkan papan emas dengan ukiran tulisan di batu. Saya tidak bisa membaca, namun saya bisa menunjukkan kepada yang mulia".

Mendengar itu, rahang sang raja mengeras. Berusaha sebisa mungkin menahan perasaannya. Takut jika semua yang ada disana melihat, betapa rapuh dirinya kala itu.

"tunjukkan", hanya itu yang bisa ia ucapkan sebelum kakinya melangkah mengikuti pak tua bertubuh gempal tersebut.

Langkah itu berhenti tepat dimana kedua bunga tersebut bersatu, melebur menjadi perpaduan warna yang amat indah. Mata sang raja menangkap sebuah papan emas yang diukir indah dengan batu berbentuk kotak ditengahnya.

Dengan ragu-ragu ia mendekat. Berusaha menguatkan dirinya sebelum melihat apapun yang ada di atas batu tersebut.

..

'Di setiap tangkai bunga ini, tumbuh subur rasa dukaku atas matinya perasaan cintamu. Air mata yang terus mengalir menjadi pupuk yang amat kuat, menjadi alasan mengapa tiap kelopak bunga ini bisa amat terang. Amat indah, hingga tiada seorangpun yang mengetahui dalamnya duka yang tertanam bersama akar dibawah sana.'

..

Perlahan pundak sang pimpinan Alderth itu bergetar, semakin lama semakin kuat hingga lututnya jatuh menyentuh bumi. Tangan besarnya meremat kuat salah satu kelopak bunga disana hingga tak berbentuk. Setiap mata disana menatap prihatin pada junjungan mereka. Begitupun Kyungsoo yang sekuat tenaga menahan air matanya.

Sungguh, lelaki pendek itu serba salah. Ia ingin menenangkan sang raja, namun dirinya tidak pantas melakukan itu. Sehingga hanya bisa mematung ditempatnya.

"astaga! Yang mulia".

Pekikan itu membuat semua mata menoleh keasal suara, kecuali sang raja tentu saja. Ia masih larut dalam kesedihannya. Suara tangisan semakin lama semakin keras keluar dari mulutnya.

Kyungsoo bernafas lega begitu mengetahui itu adalah suara Jongin. Yang berjalan tergopoh menghampiri sang junjungan lalu merangkul pundak lebar tersebut.

"Yeol, para pengawal melihat", bisiknya.

"Jongin, bagaimana bisa aku membiarkannya pergi dengan ia mengira bahwa perasaan cintaku telah mati", itu suara sang raja, yang masih terisak dalam tangisnya. Membuat semua yang ada disana menunduk karena untuk pertama kali melihat si pimpinan Alderth seperti ini.

"Chanyeol…"

"aku harus menemuinya. Aku harus pergi sekarang. Aku akan menanam ribuan mawar dengan tanganku sendiri untuknya. Agar ia tahu betapa besar perasaan cintaku padanya", dengan terburu, tubuh kekar itu berdiri lalu melangkah cepat tanpa arah. Jongin tahu, sahabatnya tengah mengalami breakdown seperti yang terjadi beberapa minggu lalu bersama tabib Zhang dan kakeknya. Sehingga secepat mungkin lelaki tan itu menyusul si pimpinan Alderth.

"Park Chanyeol! Sadarlah. Kau harus menyelesaikan semuanya. Demi Baekhyun", Jongin mencengkram kuat lengan sang raja. Berusaha menyadarkan sahabatnya.

"tapi…"

"Baekhyun tidak akan pernah kembali, kecuali kau menyelesaikan semuanya terlebih dahulu".

Kalimat itu seketika menyadarkan sang raja. Membuatnya mengingat hal penting yang harus segera ia lakukan demi suami mungil yang amat ia cintai tersebut.


Etuviel Palace, July 11, 1854

(Tiga jam sebelum Alyssum of The Throne)

Pagi itu, suasana riuh sudah terdengar memenuhi istana. Untuk kedua kalinya dalam masa jabatan Chanyeol, prosesi Alyssum of The Throne akan kembali diadakan. Tentu saja kali ini untuk calon yang berbeda, yakni puteri Subin.

Hampir seluruh rakyat Alderth sudah mendengar kepergian ratu mereka secara mendadak, dan diangkatnya Subin sebagai calon ratu. Protesan terjadi di mana-mana di seluruh penjuru Alderth. Namun seolah tuli, sang raja tetap memaksa untuk diadakan prosesi tersebut.

Di ruangannya, Chanyeol tengah berdiri tegap sembari menatap keluar jendela. Menatap ke burung-burung yang beterbangan membelah birunya langit. Senyuman miring menghiasi wajah tampan tersebut.

"sayang, astaga kau sedang apa disana? Aku mencarimu kemana-mana", itu adalah suara Subin yang mendadak masuk dan merusak suasana sunyi diruangan tersebut. Kakinya yang dilapisi sepatu berwarna emas berderap cepat untuk mendekat ke sosok tinggi sang kekasih.

"aku sangat gugup", ujarnya.

Chanyeol berbalik lalu tersenyum manis sembari mengusap surai wanita itu. Berusaha menenangkannya.

"kau pasti bisa melakukannya. Aku akan menemanimu sepanjang acara".

"kau janji?"

Chanyeol mengangguk lalu menjawil hidung mancung tersebut.

"tentu. Sekarang kembalilah ke velvet main hall. Kau harus bersiap terlebih dahulu".

Wajah gadis itu merengut kesal, sembari bersedekap.

"disana ada ibumu. Dia menatapku seperti aku adalah hama".

"tenang saja, kau akan menjadi ratu setelah ini. Ibuku akan menjadi ibumu juga".

Mendengar itu, mau tidak mau Subin mengangguk dan berusaha tersenyum semanis mungkin. Meski didalam hatinya perasaan kesal membuncah. Alasan ia mengunjungi Chanyeol adalah karena dirinya merasa terintimidasi oleh tatapan benci ibu suri yang tak henti dilayangkan padanya.

Oh betapa tidak sabar Subin naik tahta dan menyingkirkan wanita tua menyebalkan itu.

"baiklah, aku akan kembali sekarang. Jangan lupa kau habiskan wine mu sayang", kikik Subin sembari memberikan kecupan manis di bibir sang raja.

Wanita itu kemudian melangkah anggun keluar dari ruangan. Meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri ditempatnya. Mata kelinci itu menatap sekilas ke segelas wine yang masih tak tersentuh di meja jati mewah miliknya.

Begitu bunyi debuman pintu terdengar, dan langkah itu sudah tidak lagi terdengar, sang pimpinan Alderth meraih gelas wine tersebut. Menatap ke cairan ungu itu sekilas kemudian melangkah mendekat kearah salah satu pot bunga besar terbuat dari batu di ujung ruangan.

"ya, aku akan menghabiskannya sayang", kekeh Chanyeol sembari menuangkan seluruh isi gelas itu ke tanah yang memenuhi pot bunga. Senyuman miring dan tatapan tajam menghiasi paras tampan itu.

Suara tepuk tangan riuh memenuhi ruangan usai puteri Subin menampilkan tariannya. Sudah dua jam berlalu sejak dimulainya prosesi, dan wanita tersebut tampaknya dengan mudah melalui semua prosesi. Hal itu tentu karena dirinya memang terlahir sebagai bangsawan. Ia sudah terbiasa melakukan semuanya. Selama dua jam, si wanita dengan percaya diri melakukan tiap syarat yang diberikan. Mengabaikan tatapan mengintimidasi orang-orang diruangan itu.

Subin merasa diatas angin, karena kepercayaan dirinya bahwa ia akan berhasil melewati prosesi ini dengan mudah. Ditambah, semua orang hadir untuk menyaksikannya. Mulai dari para lord, para petinggi hukum, sang raja sendiri bersama keluarganya, dan beberapa rakyat yang memang diundang. Subin mendengar bahwa ketika Baekhyun melakukan prosesi ini, sang raja bahkan tidak hadir, membuatnya merasa menang. Satu nilai lebih untuknya.

Senyuman bangga sedari tadi tak luput dari wajahnya yang berhias makeup. Menatap ke seluruh orang yang ada diruangan itu. Disampingnya, Lord Oswald berdiri tegap sembari tersenyum licik.

"Puteri Subin, telah berhasil melewati seluruh prosesi Alyssum of the Throne tanpa cacat. Menjadikan beliau secara resmi kandidat ratu Alderth selanjutnya", itu adalah suara Oswald, yang terdengar amat bangga.

"Puteri Subin adalah wanita cerdas, bangsawan hebat, seseorang yang sehat dan berpendidikan. Menjadikannya seorang ratu yang pantas untuk Alderth. Saya yakin, tiada seorangpun disini yang dapat membantah hal tersebut", lanjut Oswald.

Seluruh orang diruangan itu terdiam, termasuk sang raja. Menatap fokus kedepan mendengarkan apa yang pak tua itu katakan.

"saya keberatan", suara lembut itu terdengar secara tiba-tiba.

Yeri perlahan berdiri dari duduknya sembari melepaskan kupluk jubah merah yang sedari tadi menutupi parasnya. Senyuman mengembang di bibir itu. Menimbulkan pekikan kaget dan gumaman yang langsung terdengar memenuhi ruangan.

"hey rakyat jelata! Kau tidak berhak berbicara seperti itu", hardik Oswald. Namun nyatanya hardikan pak tua itu tak membuat si gadis gentar.

"saya menolak seorang penyihir menjadi ratu Alderth", ujar Yeri lagi. Kali ini lebih lantang.

Ditempatnya berdiri, Subin sudah mengepalkan tangan marah. Ia mengingat gadis itu sebagai orang yang menabraknya malam itu. Subin bahkan masih menyimpan dendam karena gadis itulah ia harus membuat ulang semua wine nya.

"kau akan digantung jika mengatakan sesuatu tanpa bukti, nona".

"aku punya bukti tuan, sangat banyak".

Oswald kembali menggeram, siap memanggil penjaga untuk mengenyahkan gadis itu. Mereka sudah sangat dekat dengan keberhasilan, tiada yang bisa menghalangi.

"Sunbin, hentikan semua ini", pekikan kaget terdengar lagi begitu sosok lelaki berbaju pendeta tiba-tiba muncul dibalik penasihat Kim yang setia memasang wajah datarnya. Semua orang bertanya-tanya kenapa sosok itu ada disana setelah menghilang bertahun-tahun.

"J…Jisung", sepertinya kehadiran lelaki itu juga membuat si pemeran utama dalam prosesi tersebut kaget hingga tergagap dan membelalak lebar.

"sampai kapan kau akan berbohong dan mengatakan janin diperutmu itu anak yang mulia raja Edmund? Sampai kapan kau akan berbohong dan menjauhkan aku dari anak kandungku?", Jisung berucap tenang. Berbanding terbalik dengan semua orang yang ada diruangan itu.

"JISUNG! T…tidak Ed ini tidak benar. J…jangan dengarkan dia…"

"Puteri Subin, atau Kang Subin adalah adik tiriku. Aku adalah kakak angkatnya. Jika kalian ingat, aku adalah raja dari kerajaan yang hancur karena ketamakanku sendiri", potong Jisung. Membuat Subin makin panik ditempatnya.

"runtuhnya kerajaan itu seperti menyakiti hati adik tiriku yang amat kucintai. Membuatnya amat membenci diriku karena dengan kehadiranku, ia gagal menjadi ratu. Hari itu, ketika kerajaan Qaigia berhasil merebut kerajaan kami, Subin menghilang, meninggalkanku. Dan tak terlihat lagi…"

"Tuan Jisung, sebaiknya anda berhenti sekarang atau…"

"atau apa Oswald? Berhentilah berbicara, biarkan pendeta Kang menyelesaikan", itu adalah suara raja. Yang kini menatap mereka dengan senyuman miring. Membuat Subin membola kaget.

"E…ed…"

"lanjutkan, pendeta Kang"

Jisung membungkukkan tubuhnya perlahan lalu berjalan menuju tengah ruangan, menatap semua orang yang ada disana.

"hingga pada pertengahan tahun lalu ia tiba-tiba muncul di gereja tempatku mengabdi. Ia meminta bantuanku, mengungkit kesalahanku. Memberikanku seribu alasan kenapa aku harus membantunya merebut Yang mulia raja Edmund yang sudah menikah. Membantunya menjadi ratu untuk menebus kesalahanku", Hembusan nafas lolos dari bibir si pendeta. Menatap penuh arti pada sang raja. Sebelum melanjutkan.

"aku menolak tentu saja. Aku sudah lama meninggalkan semua dosaku. Bahkan pendosa pun memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan kembali ke jalan tuhan. Dan itulah yang kulakukan. Namun ia tetap memaksaku, membuatku terjerumus ke dosa lainnya hingga membuat anak itu tumbuh didalam rahimnya. Rahim adik tiriku sendiri.

Ia mengancam akan membunuhku, dan membunuh ratu Aidyn jika aku mengatakan yang sebenarnya. Membuatku bersembunyi hingga Jenderal Oh dan Penasihat Kim menemukanku. Sejujurnya, aku tidak akan mau melakukan ini, jika aku tidak bertemu seorang lelaki mungil cantik yang ternyata tengah mengandung. Ia terlihat amat sedih tiap kali ia ke gereja. Hanya berdiam disana selama berjam-jam hingga aku memutuskan untuk mendekatinya. Sungguh terkejut mengetahui bahwa ia adalah ratu Alderth, yang dibuang oleh rajanya karena kesalahan adik tiriku. Karena kesalahanku…"

"HENTIKAN KANG JISUNG! HENTIKAN OMONG KOSONG INI", entah bagaimana, wanita itu kini sudah berada dihadapan sang pendeta, satu tangannya terulur dan menekan leher lelaki tersebut.

"Aku bersaksi melihat Nona Kang membawa berbotol-botol wine setiap malam. Membawanya masuk ke kereta kuda kerajaan. Hingga aku sengaja menabraknya dan mengambil bercak sisa wine ditanah untuk kuberikan pada tabib Zhang", itu suara Yeri yang kembali menyahut. Membuat Subin menoleh cepat dan reflek melepaskan cekikannya. Kesempatan bagi pendeta Kang menghempaskan tangan itu.

"Itu adalah wine biasa yang dicampur dengan tumbuhan Bristly Roman dosis tinggi. Ramuan yang sering digunakan penyihir untuk membantu pelanggannya membuat seseorang jatuh cinta, hingga lupa pada sekelilingnya", kali ini suara lembut tabib Zhang menyahut. Subin mati kutu ditempatnya. Tidak tahu harus berbuat apa. Ia sudah tamat.

Melihat anggukan penyemangat dari tabib Zhang, si pendeta mulai melanjutkan pernyataannya.

"Ketika pertemuan kami tahun lalu, Subin mengatakan ia sudah berubah. Ia sudah menjadi lebih kuat. Karena ia menghilang bertahun-tahun untuk mempelajari sihir di kerajaan Nalyra. Pusat dimana semua ilmu hitam berada. Aku tidak menyangka, ketamakanku membuat adik manisku berubah menjadi orang yang tidak kukenal. Hingga tega membuang surat berita kehamilan sang ratu sehingga raja Edmund tidak mengetahui kehamilan suaminya sendiri. Meracuni seorang raja, bekerja sama dengan Lord Oswald untukl membohongi semua orang, demi duduk di kursi tahta", akhir Jisung. Semua orang disana masih tercengang dengan apa yang mereka dengar.

Semua tindakan sang raja yang mendadak berubah kini bisa mereka pahami. Semua karena minuman itu. Minuman yang Subin akui sebagai wine terbaik buatannya selama ia bekerja di kerajaan Staria sebagai pelayan. Nyatanya semua itu hanyalah tipuan belaka, tipuan demi jalan menuju ke tahta.

"Y…yang mulia kumohon… semua itu tidak benar. Ini adalah anak anda. Anda yang melakukan ini. Mereka berbohong. Ini pasti rencana Aidyn untuk menjatuhkan ku. Menutup jalan bagi anak kita menjadi putera mahkota", wanita angkuh itu kini meluruhkan seluruh harga dirinya untuk bersimpuh sembari memeluk kaki sang raja. Berharap sedikit wine nya masih berfungsi dan membuat raja percaya padanya.

Dehaman pelan lolos dari bibir sang raja sebelum lelaki tampan itu berdiri tegap. Mengabaikan Subin yang bersimpuh di kakinya untuk berjalan ke tengah ruangan.

"Aku sudah cukup mendengar semuanya. Aku sudah kembali menjadi diriku sendiri beberapa minggu lalu. Membuang tiap wine yang kau siapkan. Dan aku sudah sadar sebenarnya siapa dirimu. Aku ingat malam itu kau memberikanku minuman itu sebelum kita melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan. Sesuatu yang akan kusesali seumur hidupku…", sang raja menarik nafasnya perlahan. Tiba-tiba wajah cantik suaminya muncul di kepala. Membuat tangannya mengepal marah.

"karena itu, aku King Edmund Danvers the 6th, pimpinan Alderth, memutuskan memberikan hukuman kurungan selama sebulan hingga anakmu lahir. Setelahnya anak itu, akan diberikan ke ayahnya untuk ia rawat dengan baik. Dan kau, bisa melanjutkan ke hukuman selanjutnya. Hukuman pancung di tengah kota Rissingshire. Disaksikan seluruh rakyat agar mereka tahu siapa penyihir keji yang bertanggung jawab atas perginya ratu mereka".

"Ed… Ed kumohon kau tidak mungkin melakukan ini padaku! Ed… aku…"

"dan kau Oswald Warrer, hukuman gantung akan dilakukan padamu terhitung tepat seminggu dari hari ini. Aku menunjuk Kris Warrer, anak tertuamu untuk menggantikan posisimu", potong Chanyeol tanpa sudi menatap wanita dihadapannya.

"y…yang mulia! Ini tidak adil!".

"penjaga! Tangkap mereka", tegas sang raja, sebelum lelaki tua itu sempat menyentuhnya. Suara Chanyeol amat tenang, wajahnya tidak menampakkan emosi apapun bahkan ketika teriakan nyaring Subin yang memekakkan telinga memenuhi ruangan itu. Bersautan dengan teriakan Oswald. Semakin lama, suara itu semakin menjauh, menggema di Lorong yang mereka lewati. Membuat setiap insan di ruangan velvet main hall menahan nafas karena kentalnya ketegangan disana.

Sang raja masih berdiri ditempatnya hingga suara mereka tidak terdengar. Lalu menatap seluruh mata disana.

"siapapun yang terlibat, juga akan dihukum mati. Tidak ada remisi. Pertemuan kububarkan", ucapnya, sebelum langkah kaki tegap itu ia bawa keluar dari sana. Diikuti iring-iringan pengawal serta Jongin dan Sehun yang sedari tadi berdiri diujung ruangan.

"terimakasih, kau mau kembali dan membantuku menyelesaikan kasus ini, Sehun", ujar Chanyeol ketika mereka bertiga sudah kembali ke ruangan sang raja. Mantan Jenderal Alderth itu berdiri tegap disamping sang penasihat yang tersenyum.

"aku melakukan ini untuk ratu Aidyn, bukan untukmu", jawab Sehun dingin, menusuk hati sang raja.

"aku tahu, aku sadar bahwa kesetiaanmu sudah beralih pada ratu sejak dia datang. Aku bisa memahaminya. Tinggallah mala mini, dan pulanglah besok. Aku akan ikut denganmu untuk bertemu Baekhyun".

"siapa yang mengatakan bahwa aku mengijinkanmu bertemu dengan yang mulia?".

"apa maksudmu Oh Sehun? Dia suamiku", wajah sang raja tampak bingung sembari bejalan mendekat kepada sahabatnya.

"Kau sudah menyuruhnya pergi, ingat? Aku hanya berjanji pada Jongin untuk menjadi saksi. Tidak untuk mempertemukanmu dengan Baekhyun jadi berhentilah…"

BUGH

"BRENGSEK!", Chanyeol melayangkan satu pukulan diwajah itu sembari mengumpat. Dadanya naik turun dipenuhi amarah. Sehun yang tidak siap menerima pukulan itu jatuh tersungkur. Membuat dirinya semakin menjadi sasaran empuk pukulan sang raja yang membabi buta.

"HENTIKAN KALIAN BERDUA HENTIKAN!", teriak Jongin sembari sekuat tenaga menarik tubuh Chanyeol. Membuat sang raja jatuh terlentang di lantai.

"kalian berdua adalah sahabat! Hentikan semua ini! Dan kau Park Chanyeol, kau pantas menerima semuanya. Kau harusnya bersyukur kami membantumu! Kau adalah raja, tapi kami tidak akan dengan mudah memberitahu keberadaan Baekhyun. Jika kau amat mencintainya, seharusnya kau berusaha! Bukan seperti ini".

Chanyeol menggeram marah mendengan ucapan Jongin, lalu tanpa berkata apapun langsung berlalu pergi meninggalkan debuman pintu yang amat keras hingga terdengar ke seluruh penjuru sayap barat istana Etuviel.


Etuviel Palace, July 12, 1854

Matahari belum muncul dari peraduannya ketika sang raja Alderth tengah mengendap-endap mengikuti sosok lelaki tegap berkuda cokelat yang berada tidak terlalu jauh dihadapannya. Ia menjaga jarak aman agar lelaki itu tidak menyadari bahwa dirinya sedang diikuti.

Setelah pertengkarannya kemarin, Chanyeol memutuskan akan diam-diam mengikuti sang jenderal. Ia yakin Sehun akan membawanya langsung kepada Baekhyun. Dan Chanyeol akan melakukan apapun untuk itu. Pimpinan Alderth itu bahkan rela terjaga semalaman agar tidak tertinggal dan mengacaukan seluruh rencana yang ia susun seorang diri. Ia menanti Sehun di kandang kuda selama dua jam sebelum akhirnya jenderal itu terlihat.

Dan disinilah mereka sekarang, di gelapnya hutan yang menjadi perbatasan antara Rissingshire dan desa Loca. Hanya suara langkah kaki kuda yang terdengar dan pepohonan menjadi satu-satunya hal yang ada sejauh mata memandang. Ini pertama kalinya sang raja melalui hutan sendirian tanpa pengawalan, dan ia sesungguhnya merasa tidak aman.

Sang raja berusaha keras menahan matanya yang amat mengantuk, sesekali ia akan meletakkan kepala di bagian belakang leher Jillian. Namun Chanyeol tetap fokus, agar tidak kehilangan jejak sang jenderal.

Tetapi, sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak pada si raja Alderth. Sehingga membuat dirinya tertidur setelah mengikuti ritme tapakan kaki Jillian yang teratur. Membawanya kealam mimpi meskipun hanya sekejap. Hingga tak lama kemudian suara tawa seseorang menyadarkan sang raja. Kedua tangan lebar itu mengusap wajah lelahnya perlahan. Berusaha mengusir kantuk sejauh mungkin dari matanya.

Sang raja tidak menyadari apa yang ada dihadapannya hingga kikikan panik Jillian membuatnya awas, sesuatu yang buruk terjadi. Dan terbukti ketika raja Alderth itu menyadari lima orang bertubuh gempal dengan senjata tajam tengah mengelilingi dirinya dan Jillian.

Wajah bengis mereka tampak senang, tentu senang karena mereka mendapat mangsa empuk di pukul sedini itu.

"siapa kalian?", suara berat sang raja amat tegas dan mendominasi. Nada yang biasa ia gunakan untuk menakuti bawahan dan musuhnya.

"Well well well, apa yang seorang raja lakukan di pukul sedini ini, di hutan, tanpa pengawal?", kekeh salah satu dari mereka. Ia adalah seorang lelaki botak bertubuh besar dengan pedang berada di genggaman.

"kalian mau apa? Jika ini perampokan, aku bersumpah akan menjebloskan kalian ke penjara sampai mati".

"tenang tenang yang mulia. Kami tidak akan merampok harta, tapi kami akan mengambil paksa nyawa anda. Bagaimana kedengarannya?".

Perlahan, tangan Chanyeol menggenggam gagang pedang miliknya. Siaga untuk sewaktu-waktu mencabut pedang itu jika diperlukan.

"katakan siapa tuan kalian".

"tuan kami? Tuan kami akan anda hukum gantung minggu depan. Kami akan memastikan anda musnah sebelum itu sempat terjadi, yang mulia", itu adalah ucapan terakhir si pimpinan. Sebelum ia berteriak memberikan aba-aba untuk menyerang.

Salah seorang anak buah yang bertubuh pendek mengarahkan obornya ke rumput kering disekitar mereka. Menutup akses kalau-kalau raja Alderth itu akan kabur.

Chanyeol melompat lincah dari punggung Jillian dan dengan lihai melawan mereka satu-persatu. Rasa kantuk yang tadi ia rasakan sudah lenyap entah kemana, bahkan ia sudah lupa tujuannya berada disitu. Yang ia harus lakukan sekarang adalah lari dan lolos dengan selamat. Ia memiliki jutaan jiwa yang bergantung padanya.

Dentingan suara pedang yang beradu terdengar di kesunyian hutan, bahkan teriakan kesakitan menjadi music pengiring pertengkaran hebat itu. Sang raja menusukkan pedangnya pada dada pemimpin kelompok. Menjadi yang terakhir gugur. Kelima tubuh tak bernyawa itu tergeletak di sekeliling Chanyeol. Membuat wajahnya mengernyit jijik.

Tanpa menunggu lebih lama, pimpinan Alderth itu kembali melompat naik ke punggung Jillian dan berbalik arah. Memutuskan kembali ke istana karena jika ia mengejar Sehun pasti sudah terlambat. Ia sudah kehilangan jejak terlalu jauh.

Tali kekang Jillian ditarik membuat kuda putih gagah itu berlai cepat dan melompati api yang membara disekeliling mereka. Sang raja mempercepat pacuan kudanya sembari memejamkan mata. Menekan rasa kecewa karena gagal mengikuti Sehun dan bertemu dengan suami mungilnya.

"Jillian, kurasa kita gagal hari ini karena merek…Huk",

Sang raja perlahan terbatuk, dari mulutnya mengeluarkan darah.

Sebuah panah menghunus punggungnya tepat di belakang jantung. Rasa sakit yang amat luar biasa membuat sang raja terdiam. Ia tidak menyadari bahwa salah satu anak buah komplotan itu masih ada yang berada di akhir kesadarannya dan berusaha sekuat tenaga melesakkan panah itu kearah sang raja Alderth.

Hanya butuh waktu sepuluh menit, pimpinan Alderth itu sudah dilingkupi kegelapan. Tubuhnya terhentak-hentak di punggung Jillian yang terus berlari kencang menuju istana. Ikatan yang terjalin antara keduanya mampu membuat si kuda putih menyadari bahwa sang tuan dalam keadaan bahaya.

Dari kejauhan, penjaga gerbang istana melihat Jillian yang berlari kencang. Lelaki itu menyipitkan mata untuk melihat hingga ia menyadari, sang raja sudah tidak sadarkan diri di punggung si kuda. Membuatnya berteriak panik memecah ketenangan pagi di istana Etuviel.


Crennica, October 11, 1854

Derap langkah panik memenuhi mansion Oh malam itu. Beberapa pelayan berlarian untuk mengambil handuk dan perlengkapan lainnya. Mereka semua menuju ke satu kamar. Kamar dimana asal suara teriakan kesakitan yang amat nyaring terdengar. Suara-suara lain yang memintanya bernafas dan kembali mengejan terdengar. Beberapa suara lain seperti berusaha menenangkan seseorang yang tengah berteriak tersebut.

Benar, sudah tepat Sembilan bulan kehamilan sang ratu Alderth. Dan malam ini harus menjadi malam dimana ia akhirnya bertemu sang buah hati. Baekhyun sedang makan malam bersama Luhan, Sehun dan Wendy ketika perutnya tiba-tiba terasa amat sakit. Kepanikannya bertambah ketika campuran air dan darah mengalir menuruhi pahanya dan menggenang dibawah telapak kaki dimana ia berpijak.

Seketika Luhan berteriak, memberi tahu setiap orang disana bahwa sang ratu akan melahirkan. Membuat suasana nyaman dan tenang di mansion Oh berubah kacau.

"papa, yang mulia akan baik-baik saja bukan", itu suara Wendy, yang berada didepan bersama sang ayah. Luhan melarangnya masuk sehingga anak kecil cantik itu harus menekan seluruh rasa penasarannya dan terjebak diluar dengan sang ayah.

"berdoalah agar yang mulia dan pangeran kecil selamat ya", ujar Sehun sembari mengusapkan telapak tangan pada surai blonde milik anaknya.

Anggukan menjadi jawaban Wendy sembari anak itu memejamkan mata erat. Tidak membiarkan teriakan yang semakin lama semakin nyaring itu mengganggu konsentrasi berdoanya.

"Yang mulia, tekan! Ayo yang mulia", itu adalah suara tabib Jean. Yang terdengar tenang namnun tegas memberikan arahan agar proses melahirkan berjalan lancar.

Sehun reflek memeluk pundak anaknya. Berusaha mencari kenyamanan dari sana. Ia merasa amat bersalah karena tidak mengijinkan sang raja bertemu Baekhyun dan membiarkan ratu Alderth itu melahirkan tanpa sosok Chanyeol disampingnya.

Mantan jenderal Alderth itu merasa amat bersalah hingga ia tidak dapat merasa tenang sejak tadi. Teriakan-teriakan yang terdengar seolah tidak membantu dan semakin menekannya tiap menit. Membuat kedua telapak kakinya bergerak-gerak tidak beraturan.

Ia hanya berharap Baekhyun dan bayinya akan baik-baik saja. Hingga ia bisa mempertemukan keluarga kecil itu agar semuanya bisa kembali seperti semula.

Sehun merasa seperti seabad telah berlalu ketika suara tangisan bayi yang amat memekakkan terdengar. Nafas yang sudah ditahannya sejak tadi akhirnya dengan lega ia hembuskan.

"ayo, sepertinya pangeran kecil sudah lahir. Mau mendekat?".

Wendy mengangguk bersemangat mendengar ajakan sang ayah kemudian dengan ceria melompat dari kursinya dan berjalan cepat menuju kamar dimana persalinan itu dilaksanakan. Namun, baru sepuluh langkah, suara lain terdengar. Suara yang membuat Sehun terdiam ditempatnya. Kakinya seolah kaku.

"BYUN BAEKHYUN BUKA MATAMU!"

"BYUN BAEKHYUN LIHATLAH ANAKMU SUDAH LAHIR!"

Kaki panjang Sehun berjalan kaku untuk mendekat ke kamar yang pintunya terbuka sedikit itu. Semakin lama, teriakan suara suami cantiknya terdengar jelas.

"DEMI TUHAN BYUN AKU TIDAK AKAN RELA MEMBIARKANMU PERGI SEPERTI INI! BYUN BAEKHYUN! BYUN BAEKHYUN!".

Mata Sehun membelalak begitu ia sudah bisa melihat gambaran dari suara-suara tadi. Disana, Luhan sedang mengguncang hebat tubuh sang ratu Alderth yang terdiam. Kedua iris yang selalu berbinar itu memejam. Tiada gerakan naik turun pada dada dan perutnya, seolah nafas nya sudah tidak lagi berada disana.

Hingga gelengan pelan sang tabib sembari lepasnya pergelangan tangan milik sang ratu dari genggaman tabib Jean menyadarkan Sehun apa maksud semua itu. Tangisan pilu Luhan seolah menyadarkan dirinya. Didalam gendongan salah satu pelayan, bayi lelaki yang masih merah dengan balutan selimut tebal itu ikut menangis. Seolah mengerti apa yang terjadi.

Seketika itu luruh sudah semua pertahanan sang Jenderal. Lututnya bersatu dengan bumi tempat ia berpijak. Air mata menggenang di matanya.

"papa, ada apa? Kenapa papa menangis?", Wendy berusaha bertanya. Kejadian ini masih terlalu rumit untuk dipahami anak seusianya.

"Papa?".

DUARR

Suara petir yang menyambar dengan tiba-tiba membuat Wendy berjengit kaget lalu memeluk papanya yang masih terdiam.

"papa, aku takut", lirih Wendy bersamaan dengan hujan deras` yang turun secara tiba-tiba. Pengiring tangisan kedua pasangan Oh atas berhentinya detak jantung sang ratu Alderth.


Crennica, October 25, 1854

"katakan, dimana ratuku Oh Sehun…"

"y…yang mulia"

"KATAKAN!"

"maafkan hamba, yang mulia"

"AKU DATANG KEMARI KARENA INGIN MEMBUKTIKAN BAHWA SURATMU OMONG KOSONG. KATAKAN DIMANA BAEKHYUN SIALAN!", bentak Chanyeol.

Membuat semua orang diruangan itu berjengit kaget. Kyungsoo yang sudah berada dipelukan Jongin tidak henti mengeluarkan air matanya. Tidak percaya bahwa sahabatnya telah pergi dengan cara seperti itu. Selama ini ia berharap setidaknya dapat bertemu Baekhyun karena lelaki bermarga Do itu tahu dimana keberadaan sang ratu.

Namun nyatanya takdir seolah bermain-main dengan mereka semua. Baekhyun pergi begitu saja. Tampaknya dewa amat mencintai lelaki manis itu hingga tidak bisa telalu lama membiarkan derita dirasakan olehnya.

"Baekhyun sudah pergi! Dia sudah pergi Park Chanyeol! Ia meminta kami menghanyutkan tubuhnya di laut Arst. Maafkan aku, maafkan aku yang melarangmu menemuinya", perlahan Jenderal Alderth itu memeluk kedua kaki panjang sahabatnya.

Sedangkan Chanyeol, raja Alderth itu masih mematung ditempatnya. Seminggu lalu ia mendapat surat yang mengatakan bahwa anaknya telah lahir. Dan kabar buruk datang bersama kabar gembira itu. Baekhyun telah pergi meninggalkan dirinya. Bukan pergi untuk beberapa hari, atau minggu, atau tahun. Melainkan untuk waktu tidak terbatas. Baekhyun telah menghadap sang penciptanya ketika melahirkan Jackson Park, anak mereka.

Chanyeol menyesali semuanya, menyesali takdir yang membuatnya koma selama dua bulan lebih karena insiden pengepungan itu. Takdir yang membuatnya tidak dapat bertemu sang suami disaat-saat terakhirnya.

Sang raja menerima surat 'hitam' itu hanya seminggu setelah dirinya bangun dari tidur panjang. Luka di punggung kirinya masih berdenyut nyeri, kini denyutan sakit di hatinya menambah parah semua rasa sakit yang ia rasakan.

Mungkin inilah hukuman yang pantas ia dapat karena menyia-nyiakan seorang malaikat seperti Baekhyun. Malaikat yang mencintainya tanpa syarat. Menunggunya tanpa henti, memberinya kesempatan tak terbatas. Namun ia hanyalah seorang lelaki bodoh yang dengan begitu mudah menyia-nyiakan semuanya. Hingga tidak tersisa lagi kesempatan untuknya.

"yang mulia…", suara lembut Luhan menarik perhatian sang raja.

Air mata yang memenuhi iris itu berhasil memburamkan objek dihadapannya. Yang ternyata adalah seorang bayi mungil tampan berbalut selimut tebal dengan lambang Alderth. Anaknya dan Baekhyun.

Tangan bergetar Chanyeol perlahan menerima makhluk mungil lemah itu. Membawanya kedalam pelukan hangat sang papa. Perlahan mata Chanyeol menyusuri tiap detail paras tampan anak mereka. Mata, telinga dan hidung itu adalah warisan dirinya. Bukti nyata bahwa Chanyeol adalah ayah dari bayi itu. Sedangkan bibir dan dagu runcing itu adalah milik Baekhyun, mamanya.

"i…ini adalah buku harian milik yang mulia ratu. Saya rasa anda berhak memilikinya, yang mulia".

Chanyeol menatap nyalang benda bersampul cokelat itu. Perlahan ia menumpu berat anaknya di satu lengan, sedangkan tangan lain menggenggam benda tersebut. Tanpa menunggu dan menghiraukan semua yang ada di ruang tamu Mansion Oh, sang raja berbalik melangkah menuju kereta kuda mahalnya.

Dengan berhati-hati, sang raja mendudukkan dirinya sembari memangku sang putera mahkota yang sedang tertidur. Raja Alderth itu memberanikan diri membuka buku bersampul cokelat dihadapannya.

Membalik tiap lembar dan melihat tanggal yang tertera disetiap lembar buku tersebut. Sejak awal kedatangannya ke Alderth, hingga dua hari sebelum kelahiran Jackson. Sang raja Alderth memejamkan mata, menyiapkan hatinya membaca tulisan sang ratu di hari itu. Hari terakhir tangan lentiknya menorehkan tinta untuk menulis cerita di selembar kertas kosong di buku tersebut.

..

Crennica, October 09, 1854

Baiklah, aku memutuskan akan memberimu nama Jackson Park, terlepas papamu menyetujuinya atau tidak. Jackson adalah nama yang indah, seindah dirimu puteraku. Mama sungguh tidak sabar bertemu denganmu, menggendongmu, dan menyayangimu. Entahlah, mama rasa sebentar lagi kita akan segera bertemu. Meskipun Sembilan bulan ini amat menyenangkan bersamamu didalam perut mama, namun mama lebih tidak sabar untuk bertemu dan menyentuhmu langsung.

Jackson, jika suatu saat kau membaca ini, mungkin mama sudah keriput, sakit-sakitan, atau bahkan mama sudah pergi jauh ketempat yang lebih indah, berjanjilah kau akan ke Alderth. Pergilah ke istana Etuviel, disanalah ayahmu berada. Disanalah takdirmu seharusnya. Kau lahir, ditiupkan nyawa oleh dewa, untuk menjadi seorang pemimpin. Maka, kejarlah takdirmu. Mama sangat menyayangimu, apapun yang terjadi kau selamanya permata dalam hidup mama. Satu-satunya alasan kenapa mama masih bertahan hingga kini.

Jagalah papa, jadilah seseorang yang bisa membanggakan papa. Mama percaya padamu.

Mama amat menyayangimu anakku. Mama tidak sabar untuk segera bertemu. Mama yakin kau akan setampan papa, atau bahkan lebih tampan dari papamu yang pemarah itu. Sampai kita berjumpa, anakku. Pangeran kecilku.

Salam sayang,

Byun Baekhyun.

.

.

.

THE END

Maafkan aku guys. Aku baca dari kalian banyak yang minta happy end untuk BBH dan sad END untuk PCY. Dia pantes dapet ganjarannya kan? :') please dont hate meeee :(

Btw makasih ya buat kalian yang udah baca, fav, dan follow ff ini sejak awal dan terakhir. Udah mau review di tiap chapternya. Aku bener-bener makasih sama kalian udah support FF pertamaku.

I Love u guys...

Semoga enjoy bacanya ya, sekali lagi terimakasih.

jangan lupaa review juga disini yaa?

Thank Youuu.

regards,

Kileela.

.

.

.

.

.

.

PS: see you at the epilogue guys :)