Title : One More Time
Author : DandelionLeon
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Seulgi, Lee Daehee, Oh Sehun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Xi Luhan, and other cast temukan sendiri.
Genre : Romantic, Drama. Lil bit of fluffy moment.
Rate : M (Mature)
Disclaimer : This story is mine... Semua pemain di cerita ini cuma pinjam nama. Mereka milik Tuhan dan agency nya.
Warning ! YAOI, mature content. Buat yg merasa masih di bawah umur, harap undur diri dari sini. Tapi kalo kalian memaksa, dosa tanggung sendiri ya? Kkkk ... Don't Like ? Don't read!
Recomended song : Lyn ft. Leo VIXX - Blossom Tears.
.
.
Oke...
.
.
DandelionLeon Present...
.
.
Here we go!
.
.
Baekhyun berlari masuk ke dalam wilayah apartemen Chanyeol berada. Tak mempedulikan sudah berapa banyak orang yang telah ditabraknya. Bahkan umpatan seorang nenek tua baru saja di hiraukan Baekhyun. Lelaki itu memencet bel apartemen Chanyeol berulang-ulang. Belum ada sahutan, dan itu membuat Baekhyun frustasi tak terkendali. Ia menjambak rambut coklatnya hingga tampak berantakan.
Baekhyun tak pula menyerah. Bahkan kini ia sudah berteriak di depan pintu kamar itu. Tak sedikit pun khawatir jika nanti para pihak keamanan bisa saja mengusirnya dari sana.
"Chanyeol!" Pekiknya kuat. Tangannya masih setia memencet bel disana.
Chanyeol tak tuli untuk mendengar bel yang di bunyikan sejak tadi. Ia menatap Baekhyun melalui layar intercom di dekat pintunya. Ia menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.
'Tidak Yeol, dia tidak membutuhkanmu.' batinnya meyakinkan. Sudah cukup di rasanya. Ia tak ingin mengganggu Baekhyun lagi.
"Chanyeol! Ku mohon, buka pintunya."
Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya berdenyut sakit. Melihat Baekhyun seperti itu membuatnya kesal. Mengapa seperti dia yang bersalah disini? Dan Chanyeol benci, karena ia tak dapat membenci lelaki itu.
Baekhyun menanti di luar dengan was-was. Bertanya-tanya apakah Chanyeol ada di dalam sana atau tidak. Namun, Baekhyun meyakini bahwa dia ada di dalam sana.
Saat jemarinya hendak mengetuk pintu, justru tangannya menyentuh yang lain. Tak sengaja, ia mendaratkan ketukan tangannya pada dada bidang Chanyeol. Chanyeol berdiri disana. Dengan sweater putih dan celana tidur panjangnya yang berwarna serupa. Rambutnya terlihat kusut. Wajahnya pucat, Baekhyun tersentak. Tatapan dingin itu seakan menusuknya.
"Y-Yeol?"
"Pergilah."
Dahi Baekhyun mengkerut. Ia menarik nafasnya dalam.
"Aku ingin menjelaskan hal kemarin... A-aku..."
"Ku mohon, jangan bahas itu lagi. Aku berusaha melupakannya." Ucap Chanyeol datar, namun tersirat nada kecewa di dalamnya. Ia membuang wajahnya, enggan menatap Baekhyun. Ia akan lemah, apalagi kini lelaki mungil itu telah mengeluarkan tangisannya.
"Kau akan mengatakan 'maaf' atau membenarkan hal kemarin itu tak ada gunanya sama sekali. Sekarang pulang lah Baek. Aku butuh istirahat."
Baekhyun menggeleng kuat. Tidak! Ia tak ingin lelaki di depannya itu kembali bersikap dingin padanya.
"Ti-Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan aku!"
Chanyeol membalikkan tubuhnya. Lalu menutup pintu tanpa persetujuan Baekhyun sama sekali.
"Pulanglah, dan sadari bahwa hal itu tak penting. Aku bukan siapa-siapa mu. Kau tau itu." Ucap Chanyeol sebelumnya.
Baekhyun teruduk lemas di depan pintu apartemen Chanyeol. Sedangkan lelaki di dalam sana terdiam dengan pandangan kosongnya. Ia terkekeh, hanya saja sudut matanya berair.
"Mengapa kita harus menjadi seperti ini?" Tanyanya lirih entah pada siapa.
.
.
Baekhyun duduk dengan pandangan kosongnya. Fikirannya semakin bercampur aduk. Sudah seminggu lamanya, Chanyeol tak juga memasuki kantornya. Berulang kali Baekhyun menghubunginya, tetapi lelaki itu tak menjawab satu pun panggilannya atau membalas pesan singkatnya.
Luhan dan Kyungsoo saling tatap. Ia tau, Baekhyun memiliki masa terberatnya kini. Tidak! Chanyeol lebih merasakan bebannya. Baekhyun merenung tanpa menyentuh sedikit pun makanannya.
"Baek, makanlah. Kau tidak makan sejak kemarin." Ucap Kyungsoo memohon. Baekhyun tersenyum tipis lalu menyuapkan makanannya.
"Apa kata Chanyeol?" Tanya Luhan sambil melipat kedua tangannya. Ia telah mengetahui kejadian beberapa waktu lalu dari tunangannya, Sehun. Dan Baekhyun juga telah menceritakan kejadian sesungguhnya pada dua sahabatnya itu.
Luhan sempat menceritakan bagaimana Chanyeol saat di Amerika. Berbagi sedikit fakta yang ia dapat dari mulut Sehun dan Jongin. Ia hanya ingin Baekhyun tau bahwa Chanyeol tak main-main. Chanyeol serius mencintainya. Sedangkan sisanya, Daehee telah menjelaskannya tadi.
Dia benar-benar mencintaimu, Baekhyun. Dia merasa bersalah dengan kelakuannya padamu di masa lalu. Rasa bencinya yang terlalu besar ternyata berubah menjadi cinta. Kau boleh mengatakan aku hanya membual, aku mengatakannya bukan hanya karena dia sahabatku. Tapi, yang harus kau ketahui. Dia serius dengan semuanya. Bahkan dulu, Chanyeol pernah mencarimu ke Swiss. Kau tau Baekhyun? Dia bisa bertingkah segila itu hanya untukmu. Kau fikirkan kembali.
Ucapan Daehee itu semakin membuat Baekhyun terdiam. Hatinya sakit. Chanyeol mencarinya? Baekhyun jadi merasa bersalah padanya. Ia ingin segera menemui Chanyeol, tetapi lelaki itu seperti menghindarinya.
"aku ingin pulang. Aku permisi dulu." Baekhyun berlalu begitu saja. Meninggalkan Luhan, Kyungsoo serta Daehee disana. ketiganya menatap Baekhyun sendu.
"Aku harap hubungan mereka segera membaik." Ucap Kyungsoo.
.
.
Baekhyun menangis, menangis di dalam kamarnya. ia tak mempedulikan jika lelaki itu tak boleh menangis, ia juga manusia biasa. Memangnya hanya kaum hawa yang boleh menangis?
Ia mengambil jaket yang tersangkut di belakang pintu kamarnya. Ia benar-benar ingin menemui Chanyeol sekarang juga. Sudah cukup. Baekhyun tak ingin mengulangi pahitnya cinta.
Ia berjalan keluar apartement, mengendarai mobilnya gila-gilaan menuju apartement Chanyeol berada.
.
.
Chanyeol terlihat tengah mengetik, menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kisah drama konyolnya. Ia sempat menguap beberapa kali lalu memutuskan untuk meletakkan laptopnya pada nakas di sebelah tempat tidur. Chanyeol menekan panel lampu di dekat jendela besar kamarnya.
Ia menatap langit hitam diluar sana. Ternyata sudah malam, fikirnya. hujan turut menyertai malam ini. Begitu deras. Petir menyambar-nyambar dengan kuat. Dengan segera Chanyeol menutup gorden jendelanya. Ia hendak merebahkan tubuhnya di ranjang jika saja bel sialan di luar sana tak mengganggunya.
"Siapa?" Tanyanya. Matanya membulat saat melihat Baekhyun berdiri disana dengan baju basahnya. lelaki itu menangis, Chanyeol tau itu.
"Baekhyun? Kau... Kenapa di_hmmmph..."
Diameter mata Chanyeol melebar saat Baekhyun tiba-tiba saja menciumnya. Terkesan menuntut dan penuh dengan keputusasaan. Chanyeol tak membalas saat bibir dingin itu menyesap bibirnya kuat. Ia melepas Baekhyun darinya dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriaknya tanpa sadar.
"Mengapa kau terus bersembunyi di dalam sana seperti pengecut?! Kau menjauhiku karena melihat kejadian sialan itu 'kan? Kau berkata bahwa kau mencintaiku! Kau ingin memperjuangkan cintaku lagi. Lalu apa? Kau menyerah hanya karena melihat hal itu?"
Chanyeol tersentak. Bibirnya terkatup rapat dengan rahang berkedut-kedut. Tangannya
terkepal erat.
"Lalu aku harus apa? Memperjuangkan seseorang yang telah memiliki tunangan? Memperjuangkan seseorang yang bahkan tak menginginkan aku lagi! Dan kau bilang 'hanya karena melihat hal itu'?"
Baekhyun terisak pelan. Ia memukul dada Chanyeol kuat. Bibirnya mencibik tak tertahankan lagi.
"Rasanya sakit bukan? Itu juga yang ku rasakan dulu Chanyeol."
"Semua masa lalu, dan aku telah meminta maaf padamu." Lirih Chanyeol. Ia berjalan masuk ke dalam apartemennya. Baekhyun mengikutinya, menatap lelaki itu dengan bibir bergetar-kedinginan.
"Mengapa kau masuk?" Tanya Chanyeol dengan wajah tak senang. Baekhyun menggigit bibir bawahnya.
"Katakan..." Cicitnya.
"Katakan bahwa kau mencintaiku Chanyeol." lanjutnya lagi. Chanyeol tertawa, namun terkesan di paksa.
"Kau ingin mempermainkanku? Apakah ucapanku selama ini tak cukup membuatmu yakin? Ah~ aku paham, kau takkan yakin bahwa orang brengsek sepertiku juga memiliki cinta yang seperti itu. Benar bukan?"
"Justru aku yang takut di permainkan olehmu. Hiks..."
Chanyeol berjalan melewati Baekhyun begitu saja. Nafasnya memburu, emosinya benar-benar membuncah di dadanya. Hampir saja ia lepas kendali untuk membanting barang-barang di depannya jika saja pelukan di belakangnya tak terjadi.
"Hiks... Maafkan aku. Maaf telah memberimu waktu sulit. Aku terlalu egois. Aku mencintaimu..."
Baekhyun berfikir ini akan hancur jika Chanyeol kembali mendiamkannya. Mendapati reaksi diam dari lelaki itu membuat senyum kecut terpatri di bibirnya. Ia melepaskan pelukannya. Perlahan berjalan mundur, lalu berbalik hendak pergi. Tetapi, tarikan kuat itu membuatnya terhenti.
Matanya membulat. Mendapati mata Chanyeol berada dalam jarak sedekat ini dengannya. Lelaki itu menciumnya. Matanya menutup setelahnya. Chanyeol menciumnya kuat, seolah tak ingin lepas. Baekhyun membalasnya, walau sedikit sulit dirasanya. Bibir keduanya bertaut. Lidah Chanyeol masuk saat Baekhyun lengah membuka mulutnya. Lelaki tinggi itu mengobrak-abrik rongga mulut Baekhyun dengan kasar. Baekhyun tak tau, apakah Chanyeol memang seperti ini? Ya, Chanyeol yang dulu menciumnya memang seperti ini. Hatinya terasa perih, ia tau ini hanyalah ciuman penyalur emosi semata.
Baekhyun bernafas sedikit lega, saat Chanyeol menyudahi ciuman kasarnya. Ia mengais oksigen dengan rakus. baru beberapa saat, ia kembali menahan nafas saat Chanyeol kembali menciumnya, kali ini berbeda. ia mencium Baekhyun penuh kelembutan. Membuat Baekhyun terlena.
Sentuhan tangan Chanyeol yang bergerak tanpa permisi di sekitar pinggul dan punggungnya membuat suara erangan pelan lolos dari bibir Baekhyun tanpa tau malu.
Bibir tebal itu mengecup dagu, rahang lalu kini terhenti di leher Baekhyun. Menyesap aroma manis dari sana lalu mulai menjilatinya penuh perasaan. Baekhyun mencengkram erat pundak Chanyeol kuat. Ia tak tahan dengan sentuhan yang membuatnya seakan terbakar ini.
Tangan terampil Chanyeol membuka resleting jaket Baekhyun dengan cepat. Melepasnya lalu melemparnya sembarangan.
"Emmhh..." Desah Baekhyun tak sengaja saat bibir Chanyeol mengecup putingnya yang menonjol di balik kemeja basahnya.
Baekhyun pasrah, jika malam ini ia akan berakhir di bawah Chanyeol. Ia tak ingat kapan lelaki itu menelanjangi tubuhnya. Baekhyun terlalu terbuai dengan sentuhan-sentuhan menggoda di sekujur tubuhnya. Jemari lentiknya ikut meraba dada bidang Chanyeol yang telanjang. Lelaki itu telah melepas bajunya pula. Chanyeol memegang kedua paha Baekhyun lalu mengangkatnya, mengisyaratkan lelaki mungil itu untuk melingkarkan kakinya pada pinggul Chanyeol. Mereka masih berciuman, dengan gairah yang telah menyelimuti.
Chanyeol menendang pintu kamarnya hingga tertutup rapat. Ia menidurkan tubuh telanjang Baekhyun ke atas ranjang. Bibirnya mencium beberapa titik sensitif lelaki dibawahnya. Menciumi kedua putingnya yang mengeras lalu menghisapnya dengan menggoda.
"Angghh..." desah halus itu menaikkan nafsu Chanyeol. ciumannya turun, menuju perut lalu daerah sensitif Baekhyun. Ia pernah melakukan ini dengan Baekhyun, hanya saja saat itu Baekhyun dalam keadaan mabuk bukan?
Lidahnya menjulur, membasahi lubang rektum Baekhyun yang berkedut. Baekhyun menggelinjang tak tertahankan. Ia menjambaki rambut Chanyeol
ini terlalu nikmat, fikirnya. Dapat di dengarnya nafas memburu Chanyeol yang terbakar gairah.
"Chanyeol... Kenapa... Ahh.. Kau menjilatinya? Ngghh...itu kotor."
Chanyeol tak mempedulikan ucapan polos Baekhyun-atau terdengar seperti kalimat kotor di telinganya. Ia menggenggam penis Baekhyun, mengocoknya kuat.
"Oh... Tidak!" Baekhyun mendesah frustasi. Ini terlalu menggodanya.
"Kau tau? Hanya aku yang boleh merasakan ini." Ucap Chanyeol dengan suara seraknya. Ia mengulum penis Baekhyun. Sedangkan Baekhyun hanya mampu mendesah-desah memalukan. Mencengkram erat sprei Chanyeol hingga kusut tak berbentuk. Ia memekik saat dirinya mencapai puncaknya.
"dan bibir ini, hanya aku yang boleh merasakannya. Bukan perempuan sialan itu atau siapapun!"
Baekhyun mengangguk dengan mata terpejam. Merasakan sentuhan jemari Chanyeol di wajah dan bibirnya.
"Maafkan aku, karena dulu aku menyakitimu. Mata ini, aku tak ingin melihatnya mengeluarkan air mata lagi."
CUP...
"Aku mencintaimu... Aku mencintaimu seperti rasanya ingin mati."
Hati Baekhyun menghangat. Ia tersenyum, mengusap wajah Chanyeol dengan tangannya.
"Aku mengira kau takkan pernah mengucapkan itu. Aku mengira dulu semua hanya mimpiku untuk bisa bersamamu. Aku juga... Aku mencintaimu, Yeol..."
Tangan Baekhyun berpindah pada pundak lelaki itu. Ia menggigit bibir bawahnya saat Chanyeol berusaha memasukinya.
"Kita pernah melakukan ini, Baek."
Baekhyun mengangguk.
"Lakukanlah, miliki aku sepuasmu malam ini... Aaaaahhh..."
"nggh... Bolehkah aku memilikimu sekali lagi? Aku ingin...ssssh... Kau menjadi milikku lagi."
"Aaanngghh..."
Baekhyun mendesah kuat saat penis Chanyeol masuk menerobos lubangnya kuat. Lelaki itu mulai bergerak konstan saat dirasanya Baekhyun mulai rileks dengan prilakunya. Suara-suara desahan kembali terdengar.
"Lihat aku... Hanya aku yang boleh menyetubuhimu seperti ini."
Baekhyun menatap Chanyeol dengan pipi merona. Ia mengangguk, ikut menggerakkan pinggulnya. Keduanya semakin di geluti nafsu dan gairah membuncah. Gerakan Chanyeol semakin cepat.
"Chanyeol..." pekikan tersebut menandakan pria di bawahnya telah klimaks. Chanyeol menyusul setelahnya.
Baekhyun menatap lelaki itu lelah. Ia tau, Chanyeol masih diselimuti gairah yang menggebu-gebu.
"Menungging." Titah Chanyeol dan Baekhyun menuruti. Baekhyun mengerti bahwa Chanyeol memang kasar dan memiliki gairah nafsu tinggi.
"Aaahh...ngghh ... Aaaah..." air liurnya meluber di bantal. Baekhyun tak kuasa menahan kenikmatan duniawi. Ia telah mengeluarkan cairannya entah berapa kali. Sedangkan lelaki di belakangnya yang kini menungganginya belum keluar sejak klimaks pertamanya tadi.
"Aaaah... Baekhyun..."
Baekhyun bernafas lega. Chanyeol telah menuntaskan hasratnya. tubuhnya ditarik ke dalam pelukan hangat Chanyeol. Keduanya tertidur dengan tubuh telanjang.
"Yeol... Sebenarnya aku dan Seulgi..."
"Tidurlah Baek, ini sudah malam."
Baekhyun mengangguk lemah, sejujurnya ia terlalu lelah untuk mengutarakan kebenarannya pada Chanyeol. Sedangkan Chanyeol, ia hanya tak ingin momen bahagianya terusik hanya karena perempuan menyebalkan itu. Ia hanya tak ingin sakit saat Baekhyun berkata mereka memang bertunangan. Jadi, biarkan seperti ini dulu, fikirnya.
Ia mengecup bibir Baekhyun lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Setelahnya ia ikut terjun menuju alam mimpi.
.
.
Pagi hari telah datang. Mentari telah menampakkan dirinya, sinarnya menyusup sebagian ke dalam kamar Chanyeol berada. Baekhyun masih tertidur di sana. Tepatnya berbaring tanpa mau bergerak sedikit pun. Saat sebuah aroma roti terpanggang memasuki indera penciumannya, barulah mata cantiknya yang semula terpejam kini terbuka. Menampilkan sepasang iris kecoklatan yang begitu indah.
Ia memperhatikan sekitarnya, termasuk pula tubuhnya yang telah terbalut oleh sweater hitam kebesaran yang tentunya milik Chanyeol. Lelaki mungil itu tersenyum sendiri, saat mengingat beberapa potongan kilas balik kejadian semalam. Ia tak menyangka akan berani bertindak senekat itu di depan Chanyeol.
Kaki mulusnya perlahan turun, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang sedikit berminyak. Ia menyikat giginya pula dengan sebuah sikat gigi baru yang sepertinya telah di sediakan Chanyeol untuknya.
Baekhyun berjalan keluar dari kamar Chanyeol, setelah sebelumnya merapikan ranjangnya tentu saja. Ia berjalan dengan malu, tangannya berusaha menarik sweater kebesaran itu untuk menutupi bagian bawahnya yang tak terutupi apapun. Sungguh sialan karena celana jeans dan boxer yang ia pakai semalam masih basah akibat terkena hujan.
Netranya menatap punggung tegap Chanyeol di mini counter bar dapur. Lelaki itu sepertinya tengah membuat kopi. Baekhyun menggigiti bibirnya, enggan kesana.
"Oh! Baekhyun? Kau sudah bangun? Ayo ke sini."
Baekhyun tersentak saat Chanyeol memanggilnya disertai sebuah senyuman manis yang sialan membuat debaran jantungnya berdegup cepat. Chanyeol tampak segar pagi itu. Tentu saja karena ia telah mandi, terbukti dari rambutnya yang terlihat masih basah. Lelaki itu mengenakan kaos polo putih dan celana rumahan selutut berwarna hitam.
"Apa kau punya celana?" Pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol melirik pinggang hingga kaki Baekhyun. Lelaki itu berdehem lalu menggaruk tengkuknya.
"celanaku kebesaran untuk ukuranmu. Biarkan saja, kau tampak seksi jika seperti itu."
Baekhyun ingin saja berteriak keras di depan Chanyeol, tapi itu bukan dirinya sama sekali. Ia hanya mampu mencubit lengan Chanyeol keras-keras.
"A-aw... Kenapa di cubit?"
"Diam lah, aku malu!"
Chanyeol hampir terbahak mendengar penuturan Baekhyun itu. Ia mengacak rambut Baekhyun hingga berantakan. Lelaki itu mengarahkan wajahnya pada leher Baekhyun yang entah mengapa selalu terasa wangi baginya. Ia mengendusnya lalu menciumnya gemas, seolah Baekhyun adalah Bayi.
"Kau bau, pasti belum mandi kan? Kau bau asam!"
Baekhyun tegang di tempatnya. Perlakuan Chanyeol ini secara tiba-tiba, membuat perutnya seperti di tinggali ribuan kupu-kupu.
"i-itu karena aku tidak punya baju! A-aisssh! Aku mandi dulu jika begitu."
Chanyeol menarik lengan Baekhyun yang hendak pergi. Ia tau lelaki mungilnya itu malu.
"Jangan merajuk seperti itu. Aku bercanda. Akan ku siapkan pakaian untukmu, tapi jangan berlama-lama di dalam kamar mandi, nanti kopinya menjadi dingin."
Baekhyun mengangguk. Ia mengendus udara, seperti aroma gosong mampir ke hidungnya. Chanyeol ikut melakukan hal itu pula.
"Chanyeol, sepertinya roti panggangmu gosong." Ucap Baekhyun dengan wajah datarnya.
"Ap_ Astaga! Sialan!" Lelaki tinggi itu berlari menuju roaster di atas meja bar nya dengan wajah panik. Baekhyun terkekeh pelan. Ia benar-benar senang, bisa melihat sisi lain dari Park Chanyeol adalah suatu hal yang menakjubkan baginya.
.
.
Tak butuh waktu lama untuk mandi. Baekhyun telah memakai pakaian Chanyeol-yang dipinjamnya. Walau pakaian tersebut kebesaran, tetapi itu lebih nyaman dari pada ia harus telanjang. Tangannya mengusak rambut basahnya dengan handuk putih. Ia berjalan menuju ruang makan. Chanyeol duduk disana dengan wajah seperti di tutupi mendung. Baekhyun duduk di sebelahnya, menatapnya penuh kebingungan.
"Kau kenapa?"
"Sarapan kita gagal. Kopinya sudah dingin, rotinya gosong pula. Kenapa roaster sialan itu bisa membakar habis roti panggangku?!"
Baekhyun tertawa tergelak. Hingga Chanyeol menatapnya tajam, barulah lelaki bermarga Byun itu menghentikan tawanya.
"Apa yang lucu?" Tanya Chanyeol tak senang.
"Kau yang lucu."
"Memangnya aku badut?"
Baekhyun menggeleng. Ia meletakkan handuk basahnya ke atas kepala Chanyeol. Kedua telapak tangannya menangkup wajah Chanyeol lalu mengelusnya pelan. Terang saja Chanyeol gugup bukan main. Wajahnya sampai merona karena hal itu.
"Ayo kita memasak!"
.
.
Baiklah, sepertinya insiden roti gosong itu membawa berkah juga. Akhirnya kini Baekhyun yang memasak, dengan Chanyeol sebagai asistennya. Tidak terlalu istimewa. Hanya dua piring omurice dan dua gelas susu vanilla. Itu juga karena Chanyeol tak memiliki bahan makanan lain di kulkasnya.
Chanyeol menatap hidangan di depannya diam. Melihat telur yang melapisi nasi goreng di dalamnya itu membuatnya heran.
"Kenapa? Kau tidak pernah makan ini?" Tanya Baekhyun takut-takut.
"aku pernah, hanya saja ini terlihat lucu dimataku."
Baekhyun menggeleng, ia mengisyaratkan Chanyeol untuk segera makan. Dengan cepat, Chanyeol meraih sendoknya, menyendok nasi goreng tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Sialan! Ini benar-benar enak, Baekhyun!" Ujarnya dengan mata berbinar. Baekhyun tersenyum manis, ia mendesah senang. Ternyata Chanyeol menyukai masakannya.
"Jika begitu, makanlah."
Chanyeol mengangguk antusias. Ia makan dengan lahapnya sampai beberapa kali Baekhyun harus menegurnya agar pelan-pelan jika tak ingin tersedak.
"Aku tidak tau, ternyata kau sangat pintar memasak!"
Baekhyun menggaruk pipinya ringan. Di puji seperti itu tentunya membuatnya malu.
"itu bukan apa-apa. Aku sering belajar dengan appa dan juga Kyungsoo dulu."
Chanyeol mengangguk. Ia meneguk susunya sampai habis. Tangannya mendorongkan piring dan gelasnya yang sudah tandas tak bersisa makanan itu sedikit menjauh dari hadapannya.
"Sering-seringlah memasak untukku."
Baekhyun mengangguk kuat. Ia sangat senang jika harus memasak setiap harinya untuk Chanyeol. Bukankah itu tandanya lelaki itu ingin Baekhyun terus berada di sisinya?
Chanyeol membantu Baekhyun mengangkat piring kotor mereka ke tempat cuci piring. Baekhyun melakukan kegiatannya dengan serius. Tak menyadari bahwa Chanyeol sudah berada di belakangnya. Hingga tangan Chanyeol yang terjulur ikut membersihkan piring membuat Baekhyun tersentak. Tubuhnya merinding seketika saat merasakan hembusan nafas Chanyeol mengenai leher dan telinganya. Entah lelaki itu sengaja atau tidak, Baekhyun tak tau. Tangan Baekhyun yang berada di dalam bak cuci piring di genggam oleh Chanyeol. Baekhyun terdiam. Berdiri kaku seakan ingin pingsan.
"Apa sudah selesai?" Suara Chanyeol terdengar berat dan serak.
"A-akan segera selesai jika kau menyingkir dulu Chanyeol." dan suara Baekhyun terdengar bergetar.
"Aku mencintaimu." Bisik Chanyeol, ia mengecupi leher Baekhyun yang sempat di beri nya 'tanda' semalam. Baekhyun menutup matanya rapat. Berusaha berkosentrasi dengan pekerjaannya.
"Tinggalkan Perempuan itu, Baek."
Baekhyun menggeliat geli, saat bibir Chanyeol mengecupi lehernya dengan seenaknya. Tangan-tangan nakal itu juga ikut mengelus beberapa bagian tubuhnya,
"Uh? P-perempuan yang... Hm.. Mana?"
"Seulgi atau siapapun itu namanya."
Baekhyun terdiam, ia memang belum bercerita siapa itu Seulgi. Tubuhnya ia balikkan, wajahnya kini berjarak begitu dekat dengan Chanyeol, walau ia harus mendongak.
"Kau pasti tidak akan percaya hal ini. Dia... Dia bukan tunanganku Yeol."
Alis Chanyeol bertaut. ia menyelami mata Baekhyun mencari kebenaran disana.
"A-aku tau ini terdengar aneh. Tapi... Aku sengaja membuat hal ini seolah benar. Mengatakan bahwa dia tunanganku agar kau menjauhiku. Tetapi nyatanya, kau tak bisa dikalahkan dengan hal itu." Baekhyun tertunduk malu. Takut pula jika Chanyeol mengamuk setelah ini.
"Maaf Yeol, sungguh. Aku mengira dengan menjauh darimu aku bisa bahagia, nyatanya tidak sama sekali."
Chanyeol menarik dagu Baekhyun. Ia tersenyum begitu lembut.
"Jika begitu, mengapa kita tak mencoba saja untuk merajut kembali hubungan kita?"
"apa?"
Chanyeol berdecak menanggapi kelambatan Baekhyun dalam mencerna ucapannya. Ia mencium bibir Baekhyun yang sedari tadi seperti memanggilnya. Ciuman penuh perasaan yang datang secara tiba-tiba. Baekhyun membalasnya pula penuh perasaan. Tautan keduanya berubah semakin dalam, namun saat Chanyeol hendak bertindak lebih, Baekhyun menghentikan itu.
"seharusnya kau sudah tau apa jawabanku."
Chanyeol melepaskan telapak tangan Baekhyun yang tadi menutupi mulutnya. Ia menyeringai, khas Park Chanyeol sekali. Ia memeluk tubuh Baekhyun setelah itu dengan erat. Ia benar-benar bahagia sekarang.
"Terima kasih Baekhyunnie, aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku mencintaimu. Aku akan memperbaiki semuanya kembali."
"Aku juga Mencintaimu Chanyeol. Sangat mencintaimu." Ucap Baekhyun diiringi air mata kebahagiaannya.
.
.
Seperti yang terlihat dengan jelas. Chanyeol sudah tersenyum seperti biasa, bahkan ini luar biasa. Jongin dan Sehun telah menebak, semua masalah sahabat mereka itu telah usai. Sudah dua hari, Chanyeol bersikap kelewat semangat.
"wow! Sangat senang sekali ya?" Ejek Sehun seraya memberi obat demam yang tadi di minta Chanyeol untuk Baekhyun-nya. Omong-omong keduanya tengah berada di klinik Sehun sekarang.
"Ck! Diam saja kau!"
Sehun mencibir, ia lantas mengabaikan Chanyeol begitu saja saat seorang ibu dan anaknya memasuki ruangannya itu. Chanyeol menatap Sehun yang tengah memeriksa si anak kecil dengan datar. Ternyata Sehun bisa bersikap ramah juga pada anak-anak, fikirnya.
Ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan singkat masuk. Ia membukanya dengan malas-malasan.
'Aku ingin kita bertemu di La Lune Resto, ada hal yang ingin ku bicarakan. Kim Seulgi.'
Melihat Nama itu membuat rahangnya mengeras. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun saat Sehun meneriakinya dengan bingung. Chanyeol harus menemui perempuan itu. Ia tak peduli apa yang akan Seulgi katakan sekali pun itu sebuah ancaman untuk menjauhi Baekhyun. Justru, Chanyeol yang akan menyuruh perempuan itu untuk segera pergi menjauh dari kekasihnya.
.
.
To be continued
.
.
Hiks... Akhirnya, gue bisa bikin adegan fluff ... Sumveh yeth? Aku itu suka banget dengan adegan rumantisan chanbaek. Maaf kalo fluff nya dikit, dan yg minta NC, juga udah aku buatin kok, walau belum sampe matahin ranjang, karena mereka belum punya hubungan yg jelas waktu itu. Aku ngebayangin baekhyun ujan-ujanan itu terus mereka ber-tjintah, beneran unyu banget :3 aku juga mau kek gitu beeeb /peluk Hyuk/
btw, Seulgi gak akan jahat kok. Walau dia musyuh dalam seyimut, tapi tenang aja, dia gak bakal jahat sejahat yg ada dalam fikiran kalian.
Finally, tinggal mikirin adegan kemesraan Chanbaek, uhh yeaaah ... Siapa yang mau Chanbaek punya anak? Plisss, tunjuk kaki kalian! XD
Oke, sekian dulu. Makasih buat REVIEW kalian semua. Aku terkesan... Kalian luar biasa.
Tapi, terkadang saat beberapa pembaca gak mau nyumbangin review mereka... Disitu kadang saya merasa sedih /plakk/ XD
mau lanjut? Review dulu dong...
Salam cinta dari saya... Leon Pacarnya Hyuk VIXX anaknya ChanBaek EXO, Istri sahnya Kwangmin Boyfriend.
Bye ... Sampai jumpa di chapter depan...
