Title : Tears in the Thorn

Author : Elle Riyuu

Main Cast : Chanbaek

Genre : Romance, hurt/comfort

Rate : M

Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.

.

.

[CHAPTER 12]

.

.

.

Hari masih biru pekat saat tubuh dalam sebuah pelukan itu bergerak-gerak ringan. Jam masih menunjukkan sudut siku-siku pada angka 12 dan 3, pukul tiga pagi, masih dini hari. Tapi pria mungil dengan wajah indah dan menawan telah mengerjapkan matanya. Dan ketika mata bulatnya terbuka, yang ia dapatkan adalah dada bidang seorang pria. Ia mengerang kecil sebelum akhirnya bergerak pelan menyingkirkan sebuah lengan yang merengkuh pinggang rampingnya.

"Telah bangun, Taeyong?" Pria itu terlonjak kecil saat pria yang tadi merengkuhnya telah terbangun. Tuhan, Taeyong bahkan tidak ingat sejak kapan Chanyeol menjadi sesensitif itu.

"Yah... Kupikir aku membangunkanmu?" Taeyong mengangkat tubuhnya dan Chanyeol melakukan hal yang sama. Chanyeol menyandarkan tubuhya pada kepala ranjang lalu menarik Taeyong ke dadanya, membuat pria manis itu bersandar pada dadanya.

Chanyeol menurunkan tatapannya, menatap Taeyong yang tengah meringkuk di dadanya yang masih berbalut kemeja kemarin. Indah, sangat cantik, menawan, dan sempurna. Demi apapun, inilah yang membuat Taeyong menduduki tahta cinta pertamanya. Begitu indah, begitu mempesona. Dan mata itu, mata bulatnya yang berkedip tampak sangat cantik. Bagaimana bisa orang yang baru saja bangun dari arungan mimpi menjadi sebegini indah? Chanyeol sedikit mengerang lalu mengecup bibir Taeyong sekilas, mengundang senyum Taeyong untuk mengembang di bibirnya yang tipis.

"Apa tidurmu nyenyak?" Taeyong menyamankan posisinya, menyandarkan kepalanya pada dada Chanyeol yang hangat dan bidang.

"Cukup nyenyak, terima kasih." Chanyeol mengecup pucuk kepala Taeyong.

"Terima kasih? Untuk?" Taeyong terdengar kebingungan, tapi sebenarnya wajah cantiknya yang menunduk tengah menunjukkan senyuman jahil yang lucu.

"Menghangatkanku?" Dan Chanyeol menyahut dengan suara yang sarat dengan kegelian. Taeyong memukul dada Chanyeol main-main karena sahutan itu.

"Itu terdengar seperti kita melakukan sesuatu yang lebih dari sebuah pelukan." Mereka lalu tertawa setelahnya, menanggapi percakapan konyol yang masing-masing mereka ciptakan pagi ini.

Chanyeol merasa dirinya membaik, dadanya tidak lagi sesesak semalam dan ia merasa sedikit lepas. Pagi ini adalah salah satu pagi terbaik setelah setahun ia tidak bertemu dengan pria yang ada di pelukannya ini. Dan ia tahu itu akan terjadi , karena itu lah seluruh tubuh, pikiran, dan hatinya menyeretnya ke sini kemarin, fisik dan batinnya jauh terasa lebih baik.

"Chanyeol." Taeyong akhirnya memanggilnya setelah menghentikan tawanya yang merdu, Chanyeol menyahutnya dengan sebuah guamaman.

"Kupikir itu akan lebih baik jika kau kembali lebih awal, mungkin Baekhyun akan merasa lebih baik. Aku rasa semalaman ini ia mungkin saja hanya meratap, mengkerut memeluk dirinya sendiri dengan dikelilingi lampu yang temaram." Ya, Taeyong mengatakannya karena ia pernah di dalam kondisi yang sama, disakiti lalu dicampakkan. Karena ia juga pernah merasakannya, disakiti oleh pria yang sama.

.

.

Suara sesegukan diiringi suara lirih tangisan yang menggema adalah apa yang terdengar dari ruangan itu. Ruangan itu remang dan kental dengan aroma kesedihan. Dan pria mungil ada di sana, satu-satunya yang ada di sana. Meringkuk memeluk dirinya sendiri dengan posisi tidur menyamping. Ia Baekhyun, seorang pria mungil yang menangis dengan wajah yang benar-benar sembab.

"Kenapa?" Lirihannya kembali terdengar.

Ia tidak bertanya pada siapapun, tapi pada apapun. Baik takdir dan jalan kehidupan tentang apa yang membuatnya menjadi sebegitu pantas menanggung semua rasa sakit. Ia telah lelah untuk menjadi tempat bersandar duka.

Dan sekarang semuanya tidak jauh berbeda, ia sendirian. Ia sungguh tidak lagi bisa, kaki ketegaran dan kekuatanya telah kurus dan gemetar, sebentar lagi itu akan patah. Ia tidak lagi sanggup, karena kesakitan yang menerpanya terlalu bertubi-tubi.

"Sakit..." Baekhyun kembali menangis keras. Tangan yang tadi memeluk lututnya bergerak ke depan dadanya, mengepal dan mulai memukulnya.

Rasanya sakit sekali, sesak. Perasaan sakit itu telah menggerogoti jantungnya dan terasa akan membunuhnya. Itu karena penderitaan tanpa akhir yang harus selalu ia lewati tanpa sempat berpaling.

Baekhyun akhirnya menutup matanya, mencoba memutus untaian air mata yang sedari tadi turun tanpa henti. Tapi hal itu malah semakin menyakitinya karena kilasan-kilasan masa lalu yang kembali ia lihat. Besar dan hidup di panti asuhan, hari-hari yang sulit dan melelahkan, diadopsi dan penganiyayaan, perjodohan dan persetubuhan, mengandung dan ditinggalkan.

Baekhyun membuka matanya dengan tiba-tiba, napasnya tercekat. Mengandung, kehamilan, seorang bayi. Baekhyun menurunkan tatapannya untuk menatap perutnya. Tangannya yang sedari tadi memukul dadanya kini mengusap perutnya dengan lembut. Seorang bayi telah berada di dalamnya. Jiwa baru yang bersih hidup di dalam dekapannya.

Tangis Baekhyun sedikit mereda dan bibirnya sedikit menunjukkan senyum. Di perutnya, di dalam rahimnya kini bayinya tumbuh dan berkembang. Bayinya pastilah bayi yang indah. Bayinya, bayi Chanyeol, bayi mereka. Chanyeol, senyum Baekhyun memahit. Pria itu tidak kembali, Chanyeol meninggalkannya, pergi dan menjauh. Sungguh, Baekhyun mencintai bayi mereka, sangat mencintai dengan seluruh apapun yang ia miliki. Tapi dengan memikirkan pria itu pergi, dunia bayinya pasti akan runtuh. Bayi ini butuh tempat berteduh, pengisi perut, pendidikan dan kehidupan layak, serta seorang ayah. Cukup sudah ia yang hidup tanpa cinta kasih kedua orang tuanya, tidak dengan bayinya. Cukup ia yang merasakan pahit dan perihnya kehidupan tanpa orang tua, tidak dengan anaknya. Tidak dengan bayi mereka.

.

.

Chanyeol menutup pintu mobilnya lalu menghela sebuah napas panjang. Ia pergi setelah mendengar kalimat panjang yang Taeyong katakan padanya. Dan ia memilih untuk mengikutinya mengingat Taeyong juga pernah ia letakkan pada posisi yang sama. Terluka dan menangis di bawah kekuasaannya, menjadi tidak berdaya.

Chanyeol memijat pangkal hidungnya, ia merasa sedikit pening. Ingatannya kembali melayang pada apa yang telah ia lakukan. Saat ia menyakiti Baekhyun, saat ia melihat pria itu memeluk dirinya sendiri dengan tubuh telanjang yang gemetar. Lagi dan lagi ingatan itu kembali membayanginya. Chanyeol masih tenggelam dalam rasa sesaknya saat ponselnya berdering dan tanpa pikir panjang ia memilih untuk menyahutnya.

"Ya, sayang?" Kyungsoo yang meneleponnya, Chanyeol merasa kalau ia harus berbicara selembut mungkin.

"Hyung, aku merindukanmu." Suara yang begitu manja , Chanyeol sedikit terkekeh.

"Aku telah kembali."

"Kupikir belum, kapan?" Ada bunyi kelegaan di sana, juga desakan akan merindu.

"Kemarin, tepatnya. Tapi aku baru akan pulang ke rumah saat saat ini."

"Apa aku akan mengganggumu jika meminta sedikit waktumu?" Kyungsoo berbicara dengan hati-hati, seperti khawatir itu akan mengusiknya.

"Tentu tidak, sayang. Aku tidak dapat menentukan waktu tepatnya, tapi bersiap-siaplah, aku akan menjemputnya nanti."

"Hm, ya. Aku akan terlihat cantik untukmu."

Dan Chanyeol terkekeh lagi, kali ini terdengar lebih lepas.

"Untukku?"

"Hanya untukmu." Chanyeol dapat mendengar nada geli yang terselip dalam suara pria itu. Chanyeol yakin, bibir tebal dan manis itu pasti tengah menyunggingkan senyum yang sangat cantik.

"Baiklah, jadilah cantik untukku. Buat aku tergoda untuk mengecupimu."

Kyungsoo tertawa kecil, tawa yang manis.

"Tentu, bahkan mungkin lebih dari itu?"

Kali ini Chanyeol yang tertawa, Kyungsoo dan kata-katanya adalah perpaduan yang luar biasa.

"Apa? Dasar penggoda ulung. Kita hanya kencan, bukan untuk menderitkan ranjang." Mereka tertawa setelahnya.

"Baiklah, aku akan menutup panggilan ini. Sampai jumpa, Kyungsoo."

"Ya, hyung. Aku mencintaimu." Chanyeol berdehem lalu memutuskan panggilan mereka. Chanyeol tahu ia akan menemui Baekhyun, tapi setelah apa yang ia lakukan, Chanyeol tidak yakin kalau ia akan baik-baik saja. Atau apakah Baekhyun akan baik-baik saja? Chanyeol tidak tahu. Tapi yang pasti ia akan memilih untuk pergi, sebentar saja. Menghindar, sampai dirinya kembali, sampai Phoenix telah berada dalam dirinya lagi.

.

.

Ruangan yang tadi dipenuhi oleh bunyi tangisan sekarang telah sunyi. Pria dengan tubuh mungil telah terdiam dengan posisi tidur menyamping, baru mengarungi dunia mimpi sekitar 30 menit yang lalu. Ia baru bisa tertidur saat rasa kantuk benar-benar merenggut paksa kesadarannya. Ia kelelahan setelah menangis sepanjang malam, setelah meratapi apa yang telah dialaminya hari ini, sebuah kejadian yang sangat jauh dari kata menyenangkan.

Tapi perlahan tubuh itu menggeliat, gelisah dalam tidurnya. Ia bermimpi buruk, juga karena sesuatu yang terasa mengganggunya. Perutnya terasa aneh, mual dan teraduk, sesuatu seperti terasa mendesak keluar.

"Eungh..." Baekhyun melenguh dengan kening yang berkerut, tangannya terangkat untuk mengusap perutnya perlahan. Ia lelah, ia hanya ingin tidur, tapi rasa tidak nyaman itu mengusiknya.

"Ugh..." Baekhyun menggigit bibirnya saat rasa tidak nyaman itu semakin menjadi. Bulir-bulir keringat mulai muncul dari dahinya, perlahan matanya terbuka. Dan suara-suara ringisan akhirnya terdengar dari sela bibirnya

Baekhyun mencoba bangun dengan sedikit kesulitan. Tangannya yang kurus memegang kepalanya yang benar-benar terasa pening. Kakinya yang rapuh tampak menginjak lantai dengan gemetar. Baekhyun merasa tubuhnya sangat lemas, tapi ia tetap bangun untuk mengeluarkan isi perutnya.

"Shh..." Baekhyun meringis saat merasa dalam setiap langkah yang ia ambil yang terasa adalah rasa ketidakberdayaan. Ia ingin jatuh saat ini juga atau mungkin kehilangan kesadarannya. Rasa itu menekannya dan menyiksanya dengan tidak main-main, menyakitinya. Tapi ia tidak boleh jatuh atau menyakiti dirinya sendiri. Itu semua untuk bayinya, ia tidak ingin bayinya terluka.

Baekhyun akhirnya berhasil mencapai kamar mandi dan berdiri di depan washtafel dengan goyah, tangannya mencengkeram pinggiran washtafel untuk membantu tumpuan tubuhnya. Dan pada detik berikutnya Baekhyun telah mengeluarkan suara-suara yang menusuk telinga, bentuk dari seberapa besar usahanya untuk mengeluarkan isi perutnya. Tapi sesuatu yang menyakitinya tidak juga kunjung keluar, yang keluar hanyalah lendir dan juga sedikit cairan berasa asam.

Baekhyun lalu mulai menangis. Ia tidak tahu kenapa ia menangis, yang ia tahu ia tiba-tiba saja merasa sedih. Mungkin karena rasa lelah, frustasi, terluka, dan ketakutan yang ia rasakan. Baekhyun juga tidak yakin, tapi ia butuh Chanyeol. Ia memang tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan, tapi ia tahu ia ingin Chanyeol memeluk dan menenangkannya. Ia ingin Chanyeol kembali dan merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan yang menyenangkan. Ia ingin calon suaminya berada di dekatnya saat ia merasa sebegini kesakitan.

Dan bagai sebuah harapan menjadi kenyataan, Baekhyun mendengar bebunyian dari halaman. Baekhyun benar-benar berharap kalau itu Chanyeol. Ia benar-benar berharap kalau Chanyeol kembali untuk dirinya. Baekhyun membasuh bibir juga wajahnya dengan cepat dan sedikit merapikan penampilannya, lalu kembali meuju ke tempat tidurnya. Baekhyun rasa ia hanya bisa menunggu sambil berbaring, tapi setidaknya ia sempat sedikit merapikan dirinya agar menjadi cukup layak untuk menyambut calon suaminya pulang.

Cklek.

Pintu akhirnya terbuka setelah Baekhyun berbaring cukup lama di ranjangnya. Dan yang pertama kali netranya tangkap adalah Chanyeol yang masih tampak mempesona, ia masih tampak tampan meski di tubuhnya masih melekat kemeja kemarin yang telah kusut. Wajahnya terlihat cukup segar, Baekhyun bersyukur bahwa Chanyeol dapat tidur dengan baik. Tapi di saat itulah mata mereka bertemu, netra Chanyeol yang sedikit sendu dan netra Baekhyun yang sangat lelah.

"Oh, hai, Baekhyun." Chanyeol masuk dan menutup pintu, menatap Baekhyun yang terjaga.

"Ya, C-Chanyeol." Baekhyun menyahut dengan suara yang tergagap. Ia memang menginginkan Chanyeol, tapi rupanya ia masih sedikit takut dengan pria itu. Karena dengan apapun yang telah terjadi, Baekhyun sedikit merasa gentar saat harus berhadapan dengan pria itu.

"Kukira kau masih tidur." Chanyeol mencoba memberi sedikit senyumnya, senyum yang tampak sedikit kaku. Chanyeol meyadari Baekhyun yang tampak sedikit ketakutan dan itu karena dirinya.

"Aku t-terbangun." Baekhyun menunduk saat menemukan Chanyeol yang yang bergerak mendekatinya, Chanyeol tampak semakin mempesona di bawah ampu yang temaram.

"Apa kedatanganku telah membangunkanmu?" Chanyeol duduk perlahan di samping Baekhyun yang menunduk. Baekhyun yang cantik, Chanyeol kembali merasa menyesal.

"Tidak, ti-tidak. A-aku terbangun s-sebelum k-kau datang." Baekhyun berbicara lirih, seakan ia bisa mengusik orang lain jika ia berbicara sedikit lebih keras.

Suasana terisi hening, menemani sepasang insan yang setia bergelut di dalamnya. Baekhyun masih menundukkan kepalanya dengan jemari yang memainkan pinggiran selimutnya dan Chanyeol tampak meneduhkan senyumannya. Tapi Baekhyun sedikit tersentak saat tangan besar dan kasar Chanyeol menyentuh dagunya, mengangkatnya agar Baekhyun menatapnya.

"Chan..." Baekhyun memanggilnya lirih dan Chanyeol menyahutnya dengan gumaman pendek disertai tangan lainnya yang menggenggam tangan Baekhyun hangat.

"Wajahmu sembab." Tangan Chanyeol yang tadi mengangkat dagunya kini beralih menangkup wajahnya. Ibu jarinya bergerak lembut di sekitar pipi Baekhyun, Baekhyun kini telah membalas tatapannya, menatapnya tepat pada netra.

"Matamu bengkak." Suara Chanyeol yang dalam terdengar sedikit berbisik. Matanya yang bulat menatap dua netra Baekhyun dengan lekat, mata itu tampak lelah. Akhirnya Chanyeol memajukan wajahnya, membuat Baekhyun sontak menutup kedua matanya. Dan betapa pagi itu terasa begitu manis setelah kejadian menyakitkan kemarin, Chanyeol mengecup kedua kelopak Baekhyun dengan lembut dan sarat kemesraan.

Baekhyun terengah karena sentuhan lembut Chanyeol, bahkan setelah pria itu tidak lagi mengecup kelopaknya, matanya masih tertutup. Baekhyun sangat mencintainya, bagaimana perlakuan lembut pria itu padanya. Baekhyun sangat mencintainya, ia mencintai calon suaminya. Dan Chanyeol menemukan betapa mempesonanya Baekhyun saat ini, sangat cantik, indah, dan memikat.

"Mereka sedikit mengganggu." Baekhyun membuka matanya, ia sadar 'mereka' yang Chanyeol maksud adalah wajah sembab dan mata bengkaknya.

"Ya." Baekhyun lalu berdehem setelahnya, merasa sedikit canggung karena menyambut kepulangan calon suaminya dengan sebegini tidak pantas.

"Seakan kau tidak memiliki waktu tidur yang cukup, benar, Baekhyun?" Dan pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun meneguk ludahnya gugup.

"Ya, C-Chanyeol, i-itu benar." Suara Baekhyun kembali terdegar begitu lirih, seakan takut kalau ia kembali membuat kesalahan. Tapi napas Baekhyun tercekat saat Chanyeol malah menariknya dalam sebuah pelukan.

"Maafkan aku." Chanyeol berucap dengan sedikit nada menyesal di dalamnya. Ia mengecup kepala Baekhyun beberapa kali, membuat Baekhyun tersenyum dan balas memeluknya, itu adalah perumpamaan dari kaya 'ya' yang tidak ia suarakan.

Baekhyun begtu menikmati ini, rengkuhan Chanyeol yang begitu nyaman. Setelah apa yang terjadi kemarin serta apapun yang ia tangisi tadi malam, semua seakan lenyap. Baekhyun memang sangat terluka, tapi calon suaminya kembali dengan baik serta memeluknya, rasa sakit itu menguap. Baekhyun telah merasa bersyukur dengan Chanyeol yeng kembali dengan keadaan yang baik-baik saja. Tidak perlu ia tahu dimana Chanyeol menginap, Baekhyun sangat senang Chanyeol tidak kekurangan waktu tidurnya.

"Kau masih memakai kemeja kemarin." Suara Baekhyun yang lembut kini terendam dalam dada Chanyeol, terdengar seperti gumaman yang sangat manis.

"Hm... Aku bahkan tidak mandi." Dan Chanyeol tersenyum saat suara kekehan Baekhyun terdengar menggetarkan hatinya.

"Aku akan menyiapkan air untukmu mandi, tunggulah seben-"

"Tetap di sini." Baekhyun terdiam saat Chanyeol kembali menariknya ke dalam pelukan hangat pria itu. Cukup kuat, tapi tidak cukup kasar untuk membuatnya kembali merasa kesakitan.

"Tapi kau-"

"Istirahatlah, Baekhyun. Aku tidak akan menghancurkan kamar mandi hanya karena menyiapkan air untukku sendiri mandi." Baekhyun kembali terkekeh, nada suara itu cukup menghiburnya.

"Baiklah." Baekhyun menyahut lembut.

Chanyeol menghela napasnya sekali, sempat terpikir olehnya Baekhyun akan menjadi sedikit keras kepala. Tapi melihat apa yang baru saja terjadi, Chanyeol sadar bahwa Baekhyun tidak pernah diajarkan bagaimana caranya untuk menjadi keras kepala. Hanya mendapatkan hidup layak dan dilindungi, itu yang Baekhyun harapkan dan Chanyeol sejak awal sebenarnya telah memadamkan harapan itu. Chanyeol merasa semakin menyesal sekarang.

"Beristirahatlah, aku akan mandi." Chanyeol membantu Baekhyun berbaring lalu mengecup kening pria itu. Baekhyun telah lemah dan terluka, tapi Chanyeol semakin menyakitinya dengan memecahkan harapannya.

.

.

Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Ia sengaja, mengingat ia masih menekan gairahnya sejak kemarin dan ia yakin segalanya akan berakhir mengerikan jika ia tidak melakukan hal itu.

Chanyeol mengusap rambutnya yang masih sedikit basah. Ia hanya mengenakan pakaian santai, ia akan bekerja di rumah mengingat ada beberapa dukumen penting yang langsung dikirim ke rumahnya saat ia pergi. Juga mungkin ia akan keluar menjemput Kyungsoo nanti siang untuk mendapatkan beberapa makanan.

Sebenarnya dengan apa yang telah terjadi, Chanyeol tidak ingin meninggalkan pria itu lagi. Tapi dengan berada di sekitar pria itu ia malah merasa atmosfer yang mendesaknya. Ia merasa sesak dan seakan berada di dalam tempat yang kelam. Dan Chanyeol benar-benar merasa terganggu karena ia belum pernah merasa hal-hal seperti itu di dalam hidupnya. Ia telah banyak menyakiti orang lain, melihat orang lain terluka dan menangis di depannya. Tapi tidak pernah terasa sesesak ini, bahkan meski dibandingkan saat ia menyakiti Taeyong.

Chanyeol berhenti berpikir lalu menatap ke arah ranjang, bermaksud untuk menemukan Baekhyun yang telah memasuki tidurnya. Tapi rupanya Baekhyun tidak tidur, mata cantiknya terbuka di bawah cahaya lampu yang temaram.

"Tidak tidur, Baekhyun?" Chanyeol mendekatinya lalu duduk di sisi ranjang.

"Sekarang telah dini hari, aku tidak mampu untuk tidur." Baekhyun menyahut dengan suara yang serak.

"Kau tampak lelah, sudah seharusnya kau beristirahat." Suara Chanyeol terdengar dalam, tangan kekarnya terangkat untuk mengusap surai Baekhyun dengan lembut.

Baekhyun mendesah pelan saat merasakan usapan lembut Chanyeol pada rambutnya, matanya tertutup karena itu terasa sangat nyaman.

"Kau lelah, tidurlah."

"Aku tidak bisa, sulit bagiku untuk terlelap, pagi telah menjelang." Dan sekarang Chanyeol lah yang mendesah pelan, menyadari bahwa itu bukanlah bentuk dari kekeraskepalaan, tapi bentuk lain dari kebiasaan yang didapat dari kehidupannya yang keras.

Chanyeol akhirnya bangkit dari duduknya, mengundang mata Baekhyun untuk terbuka. Dan mata Baekhyun menyipit saat ruangan itu telah berubah benderang. Chanyeol menyalakan lampu agar dapat melihat Baekhyun dengan lebih jelas. Tapi saat ia kembali menatap pada tempat yang sama, yang ia temukan adalah Baekhyun yang kacau. Wajah sembab dan pucat, rambut yang berantakan, juga tatapan yang terluka.

"Baekhyun, kau..."

"Aku baik-baik saja." Baekhyun menyahut cepat saat suara Chanyeol terdengar sendu dan menggantung.

"Tidak, kau tidak." Chanyeol berjalan dengan cepat lalu kembali duduk di sisi ranjang.

"Baekhyun, aku telah menyakitimu dan itu adalah sebuah kesalahan." Kata-kata Chanyeol yang terdegar tulus menarik sudut-sudut bibir Baekhyun.

"Tidak, Chanyeol. Kau tidak membuat suatu kesalahan apapun. Kau hanya mengajarkanku untuk membuat suatu keputusan. Aku yang bersalah di sini, aku hanya mendapatkan sebuah hukuman." Baekhyun berujar lembut lalu meraih tangan kanan Chanyeol untuk digenggamnya.

"Tapi sebuah hukuman tidak harus memberikan rasa sakit." Chanyeol membalas genggaman Baekhyun dengan lebih erat.

"Aku mencoba mengkhianatimu, Chanyeol. Hanya rasa sakit yang yang pantas diterima oleh seorang pengkhianat."

Chanyeol terdiam saat mendengar ucapan yang sangat tulus itu. Baekhyun begitu tulus dan bersih, mereka telah membuatnya terbiasa pada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dikatakan biasa. Mereka telah menjebaknya pada sesuatu yang mengerikan, mengajarkannya tentang sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

"Tapi aku telah berbuat sesuatu yang mengerikan. Aku memukulmu, memakimu, dan menyetubuhimu dengan liar. Tidak kah kau pikir aku telah menyakitimu terlalu jauh?" Chanyeol berujar dengan suaranya yang terdengar keras tapi penuh sesal, tangannya menggenggam tangan Baekhyun semakin erat.

"Kau adalah calon suamiku, calon pendampingku. Kau adalah orang yang akan menjadi poros dan arah hidupku. Kau yang akan memimpin dan melindungiku dan anak-anakku. Kau berhak atas diriku, seluruhnya. Hati, tubuh, dan pikiranku, kau berhak memiliki itu semua. Aku tidak apa-apa, Chanyeol. Aku baik-baik saja, kau tidak menyakitiku." Baekhyun sedikit merasa nyeri muncul pada hatinya karena suara Chanyeol yang terdengar berbeda. Calon suaminya yang biasanya kuat dan berkuasa kini terlihat sedikit layu.

Chanyeol sedikit terhenyak saat kata-kata itu keluar dengan lancar dari bibir Baekhyun, seakan ia telah melakuakn hal yang benar. Chanyeol masih akan tenggelam dalam rasa sesalnya saat matanya menatap sesuatu yang mengganggu. Semangkuk bubur yang telah tampak dingin. Chanyeol pikir itu makan malam Baekhyun, tapi itu masih utuh. Apa Baekhyun tidak memakan apapun tadi malam?

"Baekhyun." Dan Baekhyun segera menatap Chanyeol dengan penuh tanya setelah panggilan itu.

"Apa kau telah memakan makan malammu?"

"Em... C-Chanyeol, a-aku-" Kedua manik mata Baekhyun gemetar bersamaan dengan suaranya, ia kembali tampak gugup dan terganggu. Oh Tuhan, Baekhyun lupa memakan makan malamnya karena ia hanya terlalu banyak menangis.

"Kau tidak, Baekhyun?" Baekhyun yang tergagap, Chanyeol rasa ia harus sedikit mendesaknya.

Ia merasa bersalah dan jujur saja ia lelah. Ia pergi empat belas hari lamanya, untuk bekerja juga berusaha dengan keras untuk menyelesaikan berkasnya, ia mengejar agar segera wisuda. Dan dengan seluruh kuasanya, ia bisa membuat hal itu menjadi sebuah kepastian. Ia lelah karena itu semua, ditambah setelah kepulangannya ia malah menemukan calon istrinya yang mencoba berkhianat. Ia sudah sangat lelah, tapi sekarang Baekhyun semakin menekannya dengan bertingkah bodoh karena tidak memakan makanannya.

"Y-ya, Chanyeol, a-aku ti-dak." Dan Baekhyun menunduk dengan rasa takut saat Chanyeol menggemeletukkan giginya.

"Aku lelah, Baekhyun. Aku kembali setelah pekerjaanku dan aku menemukanmu yang mencoba mengkhianatiku. Tapi aku telah menyesal karena menyakitimu, sekarang aku lelah dan menyesal. Namun kau malah semakin menekanku dengan bertingkah semakin gila. Apa kau sengaja, Baekhyun?" Demi apapun, ini sebuah kabar buruk. Chanyeol yang sempat tenang kini kembali murka. Chanyeol berpikir ia sengaja, tapi ia tidak.

"Kau sengaja, Baekhyun? Kau ingin membuatku semakin merasa menyesal dengan tidak memiliki makan malammu? Dengan menunjukkan kalau kau benar-benar terluka?" Chanyeol merasa itu salah, Baekhyun telah bersandiwara.

"Ti-tidak, Chanyeol. Ku-kumohon j-jangan salah m-memikirkanku, a-aku tidak." Baekhyun kembali menangis karena sebelumnya ia memang telah merasa dalam emosi yang tidak baik.

"Kau sialan, Baekhyun! Kau jalang sialan! Kau tidak lebih dari sampah! Tidak berharga dan sudah seharusnya terbuang!" Chanyeol berteriak dengan wajah sangat marah. Baekhyun merasa petir menyambarnya, mencuri napasya untuk beberpa detik. Chanyeol dan makiannya membuat Baekhyun benar-benar terluka, ia merasa merana. Cara Chanyeol mengatakannya seakan ia tidak berarti dan tidak berharga. Seakan ia adalah makhluk yang paling menjijikkan.

"Tidak, Chanyeol. K-kumohon j-jangan salah paham."

"Bagaimana tidak, Baekhyun? Kau bertingkah sebegini jauh. Apa kau pikir kau pantas untuk dipertahankan?" Kening Chanyeol berkerut dalam sementara ia menatap Baekhyun yang sesegukan.

"Ti-tidak! Chanyeol, C-Chanyeol." Baekhyun menangis kalut, ia benar-benar takut sekarang.

"Hey, apa yang kau lakukan?" Chanyeol terkejut dengan apa yang Baekhyun lakukan selanjutnya.

Baekhyun bangun dengan tiba-tiba, mengagetkan Chanyeol. Ia mencoba bangun dengan beberapa kali meringis. Punggungnya sakit dan kepalanya pening, tapi Baekhyun harus melakukan sesuatu agar Chanyeol tidak berpikir untuk meninggalkannya. Ia menangis semakin tersedu saat merasa punggungnya yang terasa seperti teriris.

"Akh!" Dan Baekhyun sedikit menjerit saat ia hampir terjatuh, tapi sebuah tangan yang kokoh meraihnya.

"Berhati-hatilah." Chanyeol mengintrupsinya. Chanyeol masih merasa marah, tapi ia menahannya untuk melihat apa yang akan Baekhyun perlihatkan. Perlahan-lahan ia membantu Baekhyun berjalan.

"Shh..." Baekhyun menggiggit bibir bawahnya dan tangannya mencengkeram tangan Chanyeol yang tidak memeluk pinggangnya.

"Ada apa, Baekhyun?" Chanyeol akhirnya bertanya, sedikit merasa khawatir saat melihat Baekhyun yang menangis terseu-sedu karena menahan sakit.

"K-kau h-harus- shh.. m-melihatnya..." Baekhyun menyahutnya semampunya, menuntun Chanyeol ke arah laci lemari.

Chanyeol mengerutkan keningnya, membiarkan Baekhyun yang sedikit menariknya. Ia akui ia sedikit kebingungan dengan apa yang pria itu maksudkan. Hingga Baekhyun membuka laci dan meraih sesuatu dari dalamnya, tidak besar tapi tidak juga terlalu kecil. Chanyeol rasanya mengetahui benda itu.

"Tunggu, Baekhyun. Ini..." Pertanyaan yang menggantung, tanda bahwa Chanyeol mengetahuinya.

"Milikmu?" Chanyeol mengambilnya dari tangan Baekhyun yang gemetar, ia mendapatkan sebuah anggukan.

Chanyeol tidak mengerti kenapa Baekhyun memberikannya benda itu, jadi ia memperhatikannya. Dan napas Chanyeol terasa tercekat saat ia melihat sesuatu di sana, benda itu menunjukkan hasil positif. Demi apapun, Chanyeol mengerti apa keguanaan benda ini dan itu terasa menghempasnya.

"Kau... hamil, Baekhyun?" Chanyeol menatap Baekhyun yang masih gemetar dan kembali mendapatkan anggukan.

Suasana menyepi dan hanya berisikan bunyi isakan tangis, Chanyeol terdiam karena ini sungguh mengejutkannya. Positif, Baekhyun hamil. Tidak ada pria lain yang pernah menyentuh Baekhyun dengan begitu jauh selain dirinya. Itu anaknya, sesuatu yang tumbuh dan berkembang di dalam rahim Baekhyun adalah bayinya, miliknya. Itu adalah hasil dari persetubuhan yang ia dan Baekhyun lakukan sebelumnya.

"Bagaiaman bisa sebegini cepat?" Chanyeol bertanya dengan suaranya yang berbisik.

Dan yang kali ini ia terima adalah sebuah gelengan kepala. Baekhyun juga tidak tahu karena itu berada di luar kendalinya. Yang ia tahu bayi ini telah hadir dan hidup di dalam dirinya, tumbuh dan berkembang dengan aliran darahnya.

Sedangkan Chanyeol menatap Baekhyun dengan manik yang bergerak-gerak. Ia sendiri bingung dengan perasaan yang dirasakannya. Senang, takut, atau gelisah. Ia senang dengan fakta bahwa Baekhyun mengandung anaknya. Tapi ia takut dengan kehamilan Baekhyun musuhnya akan menyerang dengan semakin brutal. Dan ia gelisah karena ia tidak yakin ia dapat menjaga bayi itu dengan baik. Hingga jalan terakhir yang bisa ia lakukan adalah memberikan Baekhyun dua pilihan.

"Baekhyun, kau memiliki dua pilihan." Chanyeol berdehem, tidak begitu yakin dengan kalimat selanjutnya.

"Memilih bayi ini dan meninggalkan pendidikanmu atau memilih pendidikanmu dan menggugurkan bayi ini." Chanyeol bisa mendengar napas Baekhyun yang tercekat dan bisa melihat matanya yang terbelalak. Tapi di detik selanjutnya Baekhyun jatuh merosot dengan wajah yang menyiratkan rasa sakit. Baekhyun menangis tersedu dengan tangan yang mencengkeram perutnya serta teriakan suara serak yang terlalu memilukan.

.

TBC/END?

.

.

Telat lagi! Sorry ya? aku mulai sibuk ngampus, gais. Plus, aku dapet saran buat nonton series BL baru, yang 2moons itu. Awalnya aku udah diwarning buat jangan nonton itu pas lagi banyak tugas ato ada kerjaan lain. Tapi aku ngeyel, akhirnya aku nonton. Dan yang terjadi adalahhhh

JENG!

JENG!

JENG!

SAYA WEBEH, PEMIRSAH! T^T

Ide ada, tapi tiba-tiba stuck soalnya cari kata-kata yang cocok itu susah pake banget! Yah mau gimana lagiii.. FF ku itu pait-pait gimana gitu, 2moons manis-manis asek gitu.. keju banget pokoknyaaa.. yang awalnya udah nulis setengah malah jadi amburadul gitu, apalagi pas nonton spoiler season 2 nyaa, PIKIRAN SAYA MULAI NYELENEH!

Aku yang bersalah di sini dan aku baper T^T series ini berbahaya karena buat saya jadi addicted, sampai sekarang demamnya ga ilang.. T^T mana S2 nya nunggu taon depan lagi, merana lah saya..

Okehh, itu curcol saya.. maaf mengganggu hidup tentram Anda sekalian :')

.

Yang udah review :

milkistbee | Jiyeonasya614 | Find who am i | AlexandraLexa | Bbasjtr | Aisyah304 | Annisa Lee | barbiebaek | rahelazzahra | tercyduck | light195 | Chanbaeknaena | RateMLovers614 | LUDLUD | EmperorVer | LyWoo | BAEKBAEK04 | chanyeonlee | YvkariKim | auliaMRQ | angelbear61 | Linaexoss | Nhon-Bibiil243 | Eriiiii09 | Nurfadillah | Winter Jun09 | Aoki Reika | rusacadel | berrybyun | Park RinHyun-Uchiha | park yeolna | anahkyungie | nocbnolife | pla | Leon | yousee | Guest | B | LightPhoenix614 | Ayaa | Miftakhul498 | cmCLA | baeksootao | misterooh | Guest (2) | Aisyah6104 | Dwi3761 | LavenderCB | Aisyah1 | Parkbaexh614 | byunbaek | Ddsianz610494 | Bubble

Q : Taeyong bukan PHO kan?

A : Gimana yaaa? XD akan saya jawab pada chapter-chapter selanjutnya~

Q : Kyungsoo bicara sama siapa di telepon?

A : Sama Kai, mereka kan dari kubu negara api *eh XD

Astagaaaahhh! Mata ku seger baca review kalian. Ada yang panjang cetar gitu, ada juga yang pendek tapi penuh arti mendalam XD sukaakkkk! Buat yag nanya kok Baek terus disakitin Chan nya kapan? Jangan lupa ada karma, karma berlaku di ff ini XD

Aku ga maksud bikin kalian nangis lho ya, tapi kalian malah nangis XD dan akuuu... sukaakkk XD

Yuk review lagu hayuk~ biar nulisnya makin semangat :) I love youuuuuu :*

.

Last, you reviewing and I writing~ ^^