Dalam setiap deru nafas serta derap langkahnya yang cepat sekarang, pikiran David Swarastika hanya tertuju kepada Assasin semata. Ia sedikit ketakutan kalau-kalau dirinya sudah tiba diruang tamu dan hal yang pertama kali menyapanya adalah kematian sahabat barunya itu.
Hampir terpeleset pada setiap belokan yang ada, pemuda ini jelas terlalu khawatir. Berusaha menenangkan baik diri David ataupun juga Linda—yang meskipun sudah tahu dari awal tapi tetap terlihat ketakutan saat melihat korban-korban David dengan mata kepalanya sendiri—Caster berbicara.
"Tenang saja anak muda, sampai saat ini, prana milik Assasin ataupun Servant yang baru tiba itu salah satunya belum menghilang. Pertanda bahwa pertarungan belum dimulai."
Terang Caster, David tidak percaya—matanya tetap terpatri pada satu tujuan semu; menemukan Assasin sebisa dan secepat mungkin.
Menelisik setiap kata yang diucapkan Caster dengan rinci, 'Assasin ataupun Servant yang baru tiba itu salah satunya belum menghilang. Pertanda bahwa pertarungan belum dimulai', David Swarastika dengan pikiran paranoianya pun menarik kesimpulan bahwa bisa saja pertarungan sudah dimulai sekarang tapi pemenangnya belum ditemukan—sejalan dengan penjelasan Caster yang mengatakan bahwa 'salah satu dari mereka belum menghilang sekarang'.
Berhadapan satu lawan satu dengan seorang Servant jelas sangat berbeda apabila dibandingkan dengan berhadapan langsung dengan sekompi pasukan anti-teror atau lebih, Servant lebih berbahaya. David sudah dijelaskan akan hal itu dan sekarang ia ketakutan karenanya.
[Heroic Spirit] itu tidak ada yang lemah.
Meghitung bahwa bisa saja saat ini Assasin tengah berhadapan dengan Hercules, raja Arthur, Scathach, ataupun juga salah seorang tokoh favorit David, 'si tua dari gunung' Rashid ad-Din Sinan, benar-benar membuat hati David menjadi harap-harap cemas.
Ini bukan seperti David meragukan kecakapan Assasin dalam bertarung, bukan seperti itu. Ini hampir seperti perasaan cemas seorang bapak kala menyaksikan anak-anaknya berlaga dalam suatu kompetisi untuk pertama kalinya.
Iya, mungkin perasaan David sama seperti itu. Hanya saja saat ini keadaannya yang berbalik, sang anak yang jadi mencemaskan kondisi bapaknya.
Mempercepat langkahnya pada belokan terakhir sebelum sampai di ruang tamu, David Swarastika terlihat tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya tatkala menangkap bahwa di ambang lorong terlihat Assasin sedang berdiri dengan gagahnya tengah melihat sesuatu yang menunggunya di ruang tamu.
Hampir ingin menyapa Assasin, David berhenti tepat disamping kiri Servantnya tersebut dan saat ini ikut melihat apa yang Assasin lihat sedari tadi.
Seorang anak laki-laki tampan tengah duduk bersila diatas sofa dan melemparkan senyuman yang sangat bersahaja ke arah David dan Assasin.
"Anak itu...Servant?"
Tanya David dalam hati.
Memang, dengan postur tubuh yang tidak lebih besar maupun tidak lebih tinggi dari murid kelas lima SD, anak ini tidak terlihat memenuhi kriteria sebagai seorang Servant sama sekali—tidak—bahkan tampaknya anak ini tidak memenuhi segala sesuatu yang diperlukan untuk menjadi [Heroic Spirit]—Dimana Hercules ataupun juga Scathach yang tadi David pikirkan akan muncul?
Apakah ini sebuah bercandaan? Anak kecil di depan sana itu Servant? Yang benar saja. Bahkan Caster milik Linda lebih terlihat tahan banting apabila dibandingkan dengan bocah berwajah ceria tersebut.
Mau dilihat dari segi manapun juga, Assasin pasti akan melumat anak itu mentah-mentah. Tidak peduli ada voor atau tidak.
"Sepertinya dikau cukup meremehkan daku ya, pemuda berupa tampan?"
Anak kecil itu berkata seolah-olah dia dapat membaca pikiran seseorang, David pun terkesiap. Tak beberapa lama setelahnya, Caster dan Linda pun muncul di belakang David. Anak kecil tadi—Rider, terlihat menghilangkan senyumannya dengan sengaja saat melihat kedatangan Caster.
Dilain pihak, Caster tampak mengenali Rider.
Jubah itu, adalah jubah golongan Brahma—kaum para petapa. Dan entah mata Caster sedang menipu dirinya atau apa, tapi yang pasti anting-anting yang menggantung di telinga kanan Rider adalah [Pancanaka] yang sama dengan yang dimiliki oleh putera ketiganya; Bima.
[Kadang Tunggal Bayu]
Adalah sebutan bagi orang-orang ataupun dewa-dewa yang memiliki hubungan langsung dengan dewa Bayu. Total, ada sembilan orang yang masuk kedalam golongan [Kadang Tunggal Bayu]. Dan sebagai puteranya, Bima jelas masuk kedalam golongan ini bersama dewata-dewata lainnya seperti misal Hanoman si kera putih.
Dan sebagai perlambang dari [Kadang Tunggal Bayu], [Pancanaka] ada. sebuah simbol yang menunjukkan bahwa sang pemilik adalah orang-orang yang sama kuatnya atau bahkan setingkat diatas Bima—sang Pandhawa terkuat.
Orang-orang yang ada di dalam golongan ini pastilah adalah orang-orang hebat dengan ilmu yang sangat tinggi. Memilih golongan ini sebagai musuh jelas merupakan kebodohan terbesar, dan akan menjadi kemalangan terbesar apabila orang-orang ini secara sengaja menjadikan kalian sebagai musuhnya.
Seperti saat ini misalnya.
"Hormat dewa, bagaimana kabar dikau wahai ibu agung?"
Rider berbasa-basi dengan ramah, membuat Caster kembali tersentak. Anak kecil ini tahu siapa identitasnya yang sebenarnya, tatapan matanya tidak hanya menggertak. Berusaha mengendalikan diri agar tidak terpancing dengan konfrontasi Rider, mulut Caster membungkam, wajahnya ia buang, terlihat tidak ingin berhubungan dengan Rider sama sekali.
"Menolak keberadaan daku, ibu agung?"
Rider menyindir tatkala melihat tindak-tanduk Caster kepadanya. Entah kenapa, kata-kata 'ibu agung' itu terdengar begitu menjengkelkan di telinga Caster—seolah-olah Rider sedang menertawakan masa lalunya.
Tetap tidak mendapatkan respon apa pun, Rider terus berbicara.
"Padahal, perlu ibu agung ketahui, daku merasa sangat senang waktu pertama kali bertemu dengan seseorang yang memiliki asal yang sama dengan daku dalam Perang Cawan Suci ini. Keberadaan ibu agung sungguh mencerahkan—"
Rider tidak meneruskan perkataannya, lebih tepatnya, ada seseorang yang memotongnya. Dan orang itu adalah Assasin yang dengan sangat cepat menerjang maju ke arah Rider, belati terkutuknya telah persiapkan untuk menebas senyuman Rider yang baginya menjengkelkan.
Suara dentingan besi pun terdengar menggema di seantero ruangan, Rider menahan tebasan Assasin dengan menggunakan pedang kecilnya. Kehilangan keseimbangan, sofa yang di duduki Rider pun terjungkat kebelakang lalu jatuh berdebuk ke lantai.
"Wah, wah, tidak sabaran benar dikau ini."
Melompat sebelum tubuhnya juga ikut jatuh, Rider mendarat dengan kedua kakinya. Melepas dan membuang jubah Brahmanya ke sembarang tempat, Rider menyiapkan dirinya untuk menghadapi serangan-serangan Assasin berikutnya.
Ternyata tanpa di duga-duga siapapun, dibalik jubah yang mengeluarkan aura mahaguru serta wajah kekanak-kanakkan Rider, tersimpan tubuh atletis yang mungkin hampir sebagian kaum adam idam-idamkan—meskipun tidak terlalu kekar, tapi dada bidang serta otot-otot Rider yang sudah membentuk sempurna itu adalah pertanda bahwa tubuh anak kecil ini telah melalui berbagai latihan fisik yang cukup menyiksa.
Sementara itu, Assasin yang melompat mundur kala serangan kejutannya berhasil ditahan Rider kini kembali menerjang dan menyerang secara membabi buta.
Ia menebas ke kanan, kemudian ke kiri, menusuk wajah Rider tiga kali lalu menebas ke kanan lagi. Semua serangan itu Assasin terapkan tidak lebih dari hitungan tiga detik—Cepat, Servant ini sungguh cepat.
Tebasan diagonal, tebasan melintang. Karena tubuh Rider yang kecil, Assasin terlihat cukup kesusahan menetukan target serangan.
Memindahkan belatinya dari tangan kanan ke tangan kiri, dari tangan kiri ke tangan kanan dan begitu seterusnya. Assasin menaikkan tempo serangannya lagi dan lagi. Dalam satu kali kesempatan, Assasin terlihat membungkuk nyaris sejajar dengan lantai kala berusaha menyerang kaki-kaki Rider yang kecil.
Tusuk, tusuk, tusuk, dan tusuk lagi. Dirasuki oleh adrenalin yang meningkat tidak karu-karuan, Assasin menggenggam belatinya ke arah bawah dan mulai menghujami Rider dengan beratus-ratus tusukan berkecepatan tinggi.
Melihat segala daya upaya yang dilakukan Assasin untuk menjatuhkan Rider, siapapun pasti berpendapat bahwa alur pertarungan sedang dikuasi oleh Servant bermata juling tersebut. Tapi pada kenyataannya,
Rider tidaklah terdesak sama sekali.
Tersenyum bahkan sedari awal pertarungan, Rider sama sekali tidak terlihat terbebani dengan semua serangan yang Assasin lancarkan dengan penuh semangat kearahnya—ia terlihat cukup santai.
Berbanding terbalik dengan pergerakan Assasin yang sangat cepat, Rider—meskipun juga berada dalam kecepatan yang sama dengan Assasin—terlihat cukup kalem menangkis semua serangan yang dilancarkan Assasin betubi-tubi kepadanya.
Melangkahkan kakinya kebelakang setiap kali Assasin bergerak maju, Rider seolah menarikan tarian waltz. Pola langkahnya tetap sama, ia hanya berjalan mundur tanpa pernah sekalipun membuat gerakan tiba-tiba. Ia hanya menangkis serangan-serangan mematikan Assasin dengan sangat gampang.
"Ayo bocah kecil! Lawan aku, lawan aku!"
Kata Assasin congak.
Dan sekalinya Rider membuat gerakan tiba-tiba, ia mengunci belati Assasin dengan pasti—meletakkan pedang kecilnya diatas keris Assasin, Rider lantas menekan belati itu kebawah. Membungkuk secara paksa, kini wajah Assasin sejajar dengan wajah Rider.
Tertegun, Assasin hendak menelan ludah tapi Rider tidak memperbolehkannya. Mengepalkan tangan kirinya, Rider tersenyum sebelum meninju wajah pria juling di depannya itu keras-keras.
"Jangan panggil daku bocah kecil, Assasin."
Kata Rider kala menyaksikan tubuh Assasin terdorong sangat jauh kebelakang karena pukulannya.
"Panggil daku, Rider."
Rider menepuk-nepuk dada kirinya dengan bangga, berusaha memanas-manasi musuhnya. Sementara itu Assasin, yang baru saja berhenti karena membentur tembok dengan cukup keras, tampak mengelus-ngelus bagian wajahnya yang kena pukul dengan perasaan jengkel.
Meludahkan darah serta satu gigi yang tanggal, Assasin pun kembali menyerang Rider dengan semangat yang lebih menggebu-gebu daripada yang awal tadi ia tunjukkan. Derap langkahnya terkesan lebih berat dan entah karena alasan apa ia melempar belatinya keatas kepala Rider.
Melihat keatas karena reflek, untuk sepersekian milidetik Rider melupakan Assasin yang saat ini tengah berlari kearahnya. Menurunkan kembali kepalanya dan memandang lurus kedepan, Rider berharap ia tidak terlambat untuk mengantisipasi serangan Assasin berikutnya. Akan tetapi pada kenyataannya,
Assasin sudah tidak ada disana.
"Hehehe..."
Tawa mengerikan itu berasal dari atas. Mengangkat kepalanya kembali, Rider mendapati bahwa saat ini Assasin telah berada diatasnya. Memegang kembali senjatanya yang berputar-putar di udara dengan tangan kanannya, tanpa sempat menarik nafas, pria itu lantas berusaha membenamkan belati terkutuknya kedalam tengkorak Rider.
Tring!
Bunyi besi terdengar beradu, ujung-ujung senjata Rider dan Assasin saling bertemu.
Menang dalam urusan gravitasi, hanya dialah yang saat ini memijak tanah, Rider mengipatkan belatinya kebelakang—sekaligus juga mengipatkan pria juling diatasnya itu kedepan.
Tidak ada waktu untuk tidak menyerang, siapa yang tidak mengambil inisiatif terlebih dahulu akan mati dalam pertarungan ini.
Kembali menerjang maju meskipun tidak sampai satu detik kakinya baru memijak tanah, Assasin sekarang hanya terfokus untuk menghabisi Rider—menghabisi anak kecil dengan senyuman menyebalkan yang saat ini juga ikut menerjang kearahnya.
Trang! Tring! Trang! Tring!
Pergelutan kedua Servant ini sungguh seru sekali.
Bergerak secara acak bahkan terksesan tidak karu-karuan, Assasin berpindah dari depan lalu kebelakang Rider. Berada tepat di titik buta musuhnya tersebut, Assasin berniat sedikit menggores tengkuk Rider dengan harapan dapat membuat Servant kecil itu merasakan kutukan mematikan yang ada tersimpan di dalam belatinya.
Dan harapan Assasin semestinya dapat terkabul andai saja Rider tidak mengarahkan pedang kecilnya ke belakang dari atas kepalanya, ia melindungi lehernya dari sayatan Assasin yang mematikan tanpa perlu menoleh kebelakang sedikitpun.
Jengkel, Assasin menggertakkan giginya. Mata kirinya yang juling berputar-putar tanpa arah, melotot seolah-olah akan melompat keluar dari rongga matanya.
"Bagaimana kalau dikau menyerah saja, Assasin?"
Tanya Rider, kini ia berbalik untuk menghadap Assasin. Tapi sayangnya Assasin sudah tidak ada di tempatnya semula. Terus-terusan mengincar titik buta Rider, Assasin berpindah tempat secara dinamis.
Menyerang, ditangkis, berpindah tempat lalu menyerang lagi dan kemudian ditangkis lagi, lama-kelamaan pergerakan Assasin terlihat dapat dipetakan dengan amat baik oleh Rider—buktinya sampai sekarang anak kecil itu tetap terlihat santai meskipun saat ini dirinya tengah dikepung oleh pergerakan Assasin yang mengitarinya.
Bergerak dengan kecepatan yang sungguh cepat, tubuh Assasin sampai tidak terlihat jelas lagi—seolah-olah menyatu dengan bayangan, Assasin berpindah dari satu tempat lain ke satu tempat lainnya tanpa lupa untuk menyerang Rider sekurang-kurangnya satu kali dalam setiap perpindahannya.
"Menyerah?"
Dalam penghentian waktu, bisa terlihat jelas apabila saat ini Assasin sedang melayang tepat di depan wajah Rider. Melihat dari cara memegang belatinya sekarang, mudah menebak apabila jenis serangan yang akan dipilih oleh Assasin kali ini adalah tusukan.
"Yang benar saja!"
Bersamaan dengan kata-kata penolakan yang terlontar dari mulutnya, Assasin melancarkan serangannya.
Tring!
Dan kembali, Rider masih dapat menangkisnya.
Meletakkan pedangnya diatas senjata Assasin, Rider lantas menekan belati aneh itu kebawah. Sontak, pemandangan yang beberapa saat lalu terjadi kembali terulang sekarang. Hanya saja bedanya, yang saat ini mengepal dan melancarkan tinjunya adalah,
"Kau pikir aku akan terkena trik yang sama dua kali!?"
Teriak Assasin kala tinjunya berhasil terbenam semuanya di wajah Rider. Hanya saja, anehnya, Rider tampak tidak bergerak sama sekali—pukulan Assasin yang jelas-jelas mampu melukai anak kecil sepertinya dengan amat sangat sekarang tidak terlihat ada apa-apanya sama sekali.
Senyuman lebar itu, tidak luntur sedikitpun dari wajah Rider. Anak kecil itu tetap bisa tersenyum sedemikian cerahnya meskipun saat ini hampir sebagian wajahnya terhalangi oleh kepalan tangan seorang pria dewasa.
"Bagus, sungguh bagus,"
Ujar Rider, tangan kirinya mengepal tanpa diketahui oleh Assasin sama sekali.
"Tapi dikau akan sangat naif apabila berpikir dapat menjatuhkan daku dengan taktik yang daku gunakan sediri."
Dan bebarengan dengan itu, ulu hati Assasin dihantam dengan sangat keras oleh pukulan kidal milik Rider—dalam beberapa detik yang diperlambat, jelas sekali terlihat apabila tubuh Assasin sedikit terangkat keatas sebelum akhirnya terpental ke belakang lalu jatuh berdebuk ke lantai.
"Assasin!"
Teriak David.
Menghampiri Servantnya, pemuda ini lantas membantu Assasin yang mengerang-ngerang kesakitan tuk berdiri kembali. Sementara itu, Caster hanya dapat terperanga. Salah seorang [Kadang Tunggal Bayu] memang bukan main kuatnya.
Mengambil lalu mengenakan kembali jubah cokelatnya, Rider terlihat sama sekali tidak berkeringat. Berjalan ke arah sofa yang jatuh, Rider memberdirikan tempat duduk tersebut dan kembali duduk bersila diatasnya.
Melihat Assasin beserta juga David yang memeloti dirinya dengan tatapan permusuhan, Rider tersenyum puas. Ganti melihat Caster dan Linda yang saat ini tengah menatapnya dengan penuh perasaan was-was, Rider tampak sedikit bermuram durja.
"Jangan duduk dulu kau bocah kecil!"
Geram Assasin, ia dengan cukup kasar menampik tangan David yang berusaha membopongnya dan berusaha untuk berdiri sendiri meskipun salah satu kakinya—yang sebelah kiri—bergetar secara tidak wajar.
"Salah satu dari kita belum ada yang mati. Dan sampai saat itu tiba, kita berdua akan terus berta—"
"Cukup Assassin!"
Dengan suara yang lebih tinggi daripada biasanya, Caster menyela Assasin. Saat ini, dengan sangat gemulai, perempuan itu tengah menuruni tangga dan bermaksud untuk menghampiri Rider yang ada di depan sana, yang saat ini tengah menunggunya sembari memangku dagu.
"Sampai kapanpun juga, manusia tidak akan bisa sebanding dengan [Demi God]."
Imbuh Caster, kata-katanya tertuju kepada Assasin dengan cukup dingin.
"Jadi bocah itu setengah dewa?"
Caster mengangguk.
"Setengah dewa dari ajaran mana?"
"Hindu."
"Yang benar saja..."
Assasin terkesiap mungkin untuk kali pertama dalam hidupnya. Jadi, sedari tadi ia sedang bergelut dengan suatu entitas yang selama ini ia percayai? Benar-benar suatu hal yang mencengangkan.
Terlihat cukup tertarik dengan apa-apa yang dibicarakan Caster kepada Assasin barusan, Rider terkekeh sebelum membuka mulutnya kembali.
"Berkenan tuk berbincang-bincang sebentar dengan diri daku, ibu agung? Sepertinya dikau sudah tahu identitas daku dengan sangat baik."
Menggeleng, Caster hanya menggeleng—sebuah jawaban, 'tidak', yang singkat untuk pertanyaan-pertanyaan Rider barusan.
"Mohon maaf, tapi sampai saat ini saya belum mengetahui siapa nama tuan yang sebenarnya."
Memposisikan kedua telapak tangannya yang menyentuh satu sama lain tepat dibawah dagu, Caster bertutur dengan bahasa serta intonasi yang teramat sangat sopan. Tersanjung melihat sopan-santun yang Caster tunjukkan, Rider tertawa senang sembari melambaikan tangan kanannya kekiri dan kekanan—ia berkata bahwa semua itu tidak apa-apa.
"Apakah [Mantra] mengalami gangguan?"
Pertanyaan Rider yang spontan membuat Caster menaikkan kedua alisnya dengan heran—ia cukup terkejut kala mendengar Rider menyanyakan perihal [Mantra] miliknya.
Di dunia ini, hanya ada tiga orang manusia saja yang mengetahui mengenai berkat yang dimiliki oleh Kunti. Orang-orang itu antara lain adalah Resi yang memberikannya berkat, istri kedua Pandu yang ia ajari menggunakan [Mantra], dan terakhir adalah diri Kunti sendiri. Sudah, selebih itu, yang mengetahui perihal-perihal mengenai [Mantra] yang dimiliki Caster tidak lain adalah para dewa dan dewi penghuni surga.
Memikirkan bahwa Rider bukanlah tiga orang yang mengetahui [Mantra], maka hanya ada satu kemungkinan yang dapat ditarik Caster dengan mengandalkan segala informasi yang ada,
Rider adalah seorang dewa. Dan dalam artian yang sebenarnya.
"Puji dewa, [Mantra] masih dalam kondisi yang baik-baik saja. Terimakasih atas kepedulian anda."
Caster berbicara, formal sekali, membuat Rider terkekeh entah karena alasan apa. Dalam sekilas pandang, sosok kecil di depannya ini terlihat tidak menyiratkan aura yang membahayakan sama sekali. Tapi tidak ada salahnya membuat praduga diawal, setidaknya itu lebih baik daripada menyesal di akhir. Begitu pikir Caster.
Dan dengan pikiran seperti itu, Caster pun bertanya—nada bicaranya memang masih sopan, namun tidak sesopan biasanya.
"Maafkan ketidaksopanan saya,"
Kata Caster.
"Tapi jika boleh tahu, apa maksud kedatangan tuan ditempat seperti ini?"
"Untuk membunuh kalian semua."
Semua orang terkesiap, Caster, Assasin, David dan juga Linda, menunjukkan air muka keterkejutan yang tidak dibuat-buat. Kekuatan dari kata-kata Rider barusan sangatlah besar, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang kecil.
Memberikan tekanan psikologi kepada orang-orang yang terlihat jauh lebih dewasa daripada dirinya, verba yang dipilih oleh dewa identitas dan jati diri manusia ini selamanya akan mencengangkan—itu sudah bakat.
Bangkit dari tempat duduknya secara tiba-tiba, Rider melompat ke depan. Nyaris terjatuh dibuatnya, tubuh semampai Caster seharusnya sudah menyentuh tanah sekarang andai saja tidak ada tangan kecil nan kekar yang dengan sigap menahan dan menarik tangan kanannya kedepan.
"Tapi, ketika daku memikirkannya sekali lagi, akan jauh lebih menarik apabila daku berhasil mengajak dikau-dikau ini berkerja sama. "
Mengarahkan punggung tangan Caster sedikit lebih dekat kewajahnya, Rider tampak seperti akan mencium tangan wanita rupawan itu—padahal kenyataannya tidak. Menarik tangan kanannya karena takut, Caster mengambil dua langkah mundur dan kini berdiri disamping kanan Assasin yang memasang posisi siaga satu.
Memejamkan matanya, Rider tersenyum. Membuka matanya, senyuman itu terlihat jauh lebih mencerahkan lagi.
"Jadi, daku ditolak?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Rider. Tapi, melihat dari gestur yang ditunjukkan Caster, maka tampaknya jawabannya adalah, 'iya', dan Assasin semakin memperjelas hal tersebut dengan mengacungkan ujung belatinya ke arah wajah Rider.
Tertawa sebentar, Rider mengosongkan semua kesenangannya sebelum berbicara lagi. Kali ini ia terlihat cukup serius.
"Dikau tidak menyesal?"
Tanya Rider, Caster pun menjawab,
"Tidak."
"Apakah itu juga hal yang dikau katakan saat membuang Karna dulu? Sekedar ingin tahu saja."
Batin Caster terhenyak, emosinya tersulut tidak sedikit, kata-kata Rider barusan sungguh menyinggung perasaannya. Marah akan hal tersebut, Caster merubah ekspresinya menjadi sedikit lebih dingin—ia menatap ke arah Rider dengan pandangan antipati.
"Apa maksud anda?"
Kebencian Caster menular hingga ke tutur bahasanya, suaranya terdengar begitu dingin dan cukup menusuk sekarang. Melihat perubahan Caster, baik David, Assasin, atau bahkan Linda sendiri, tampak cukup keheranan.
Terperangah, ketiga orang itu tidak percaya apabila Caster disana adalah Caster yang sama dengan yang beberapa saat lalu berbincang-bincang dengan mereka. Tersenyum, Rider senang karena konfrontasinya ternyata dimakan mentah-mentah.
"Ternyata yang namanya manusia itu memang mudah lupa akan kesalahan yang dulu mereka perbuat ya?"
Dengan wajah tanpa dosa, Rider bertutur. Semua telapak tangannya ia pertemukan di depan muka, sungguh sebuah gestur yang teramat bagus ia peragakan, kedua matanya yang terpejam tidak terlalu erat jelas menambah kekhusyukkan ini lagi dan lagi.
Dan dengan itu semua, Rider pun melanjutkan. Suaranya menjadi satu-satunya pemecah keheningan sementara ini
"Jadi, tolong beritahukan pada daku, bagaimana rasanya menjadi ibu yang buruk?"
"Jaga bicara anda!"
Rider menginjak ladang ranjau. Suara Caster meninggi, percikan listrik terlihat mengalir dengan jelas di seluruh tubuhnya—[Mantra] telah diaktifkan. Sungguhan, sifat yang ditunjukkan Kunti saat ini benar-benar berbeda dengan semua deskripsi yang ada di kitab Mahabarata.
Semua orang berhak untuk tersinggung, semua orang berhak untuk marah. Tapi ketika hal itu jatuh ke wanita seperti Kunti, entah kenapa rasa-rasanya menjadi sangat aneh. Melirik tangan kanan Caster yang merupakan pusat terkumpulnya percikan petir dari pangkal matanya, Rider menyeringai.
"Melaporkan daku kepada tuan Indra huh? Ternyata tidak hanya anaknya saja yang dikau favoritkan, bapaknya pun juga dikau perlakukan sama ternyata. Kasihan Karna dan tuan Surya—"
Dan setelah itu suara Rider tidak lagi terdengar, digantikan oleh suara petir yang menggelegar ke seantero mansion dengan megahnya. Menyambar dan menghancurkan pintu depan, petir tersebut tidak mengenai targetnya dengan benar.
Hanya menggeser tubuhnya sedikit kekanan, Rider berhasil menghindari serangan mematikan barusan dengan remeh. Langsung terduduk setelahnya, Caster terlihat sangat kepayahan—Keringatnya bercucuran dengan deras dan nafasnya memburu tidak karuan.
Walaupun hanya satu kali dan tidak terhitung dahsyat, penggunaan [Mantra] barusan jelas menghabiskan semua energi Caster untuk hari ini.
"Hanya segini kemampuan dari raja para dewa? Oh yang benar saja. Helaan nafas bapak Bayu jelas jauh lebih kuat daripada ini."
Kata Rider angkuh, Assasin yang tidak banyak membuang waktu pun maju menyerang. Kembali, pertarungan antar belati pun terjadi. Besi diadu dengan besi.
Meliuk-liukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, pergerakan Rider sedikit terlihat berbeda. Sesekali, anak kecil ini terlihat seperti terpeleset dan hendak terjatuh. Mengetahui bahwa dengan menahan diri waktunya dapat tercuri cukup banyak, ia pun dengan sengaja menjatuhkan dirinya sekalian lalu berimprovisasi setelahnya.
Berbaring, Rider lalu berguling ke kanan beberapa kali guna menghindari tusukan-tusukan yang dilancarkan Assasin sebelum akhirnya kembali berdiri dengan satu kali roll belakang. Lewat satu sepersekian detik saja, dapat dipastikan keris terkutuk [Mpu Gandring] sudah berhasil mengoyak tubuh kecil Rider.
Ada sesuatu yang salah, Rider tidak seharusnya terdesak seperti ini. Kepayahan menangkis setiap serangan Assasin, semua anggota tubuh Rider ikut bergerak sekarang. Lain dengan diawal tadi, dimana yang bergerak hanya tangan dan kakinya saja.
Ada sesuatu yang salah, pasti ada sesuatu yang salah. Tapi apakah itu Rider belum tahu. Sampai,
"Oh..."
Matanya bertemu dengan mata kiri Assasin yang juling—Terpaku tepat di titik tengah, pupil matanya yang berwana putih tampak berputar secara konstan dengan arah berlawanan jarum jam.
[Eye of Mind and Body (True)]
Itulah nama skill yang dimiliki oleh Assasin.
Mengobservasi setiap pergerakan lawan lalu membuat rencana yang tepat untuk melawannya, skill ini ada untuk menghindarkan sang pemilik dari marabahaya serta menjaga kemungkinan untuk menang tetap ada meskipun persentase yang didapat hanya 1% saja.
Di dapat dari latihan yang keras, skill ini memiliki efek yang berbeda-beda tergantung dengan [Heroic Spirit] mana yang memilikinya.
Dalam kasus Ken Arok, skill ini berada dalam tingkat medioker—Yang mana artinya, Ken Arok adalah orang yang cukup mampu untuk membaca strategi lawan tapi memerlukan waktu yang lumayan lama untuk membiasakan diri dengan strategi-strategi tersebut dikarenakan sifat, 'lakukan dulu baru berpikir kemudian', miliknya.
Tidak ingin terlalu lama terdesak, itu jelas menyakiti harga dirinya sebagai dewa, Rider pun berbalik menyerang. Jika sedari tadi ia hanya menunggu dan menangkis setiap serangan yang datang kepadanya, sekarang Rider malah yang lebih banyak mengambil inisiatif mengendalikan pertarungan.
Menusuk, menebas, dan kadang kala, menendang. Seolah tidak menghiraukan postur tubuhnya yang kecil, semua itu Rider lakukan dengan determinasi yang tinggi. Teramat sangat tinggi.
Tikamannya entah kenapa berhasil menjangkau hingga ke kepala Assasin, tebasannya juga, tendangannya juga. Apakah otot-otot anak kecil ini terbuat dari pegas? Tidak ada yang tahu. Yang pasti, Rider melakukannya secara kontinu.
Tring! Bunyi kedua senjata mereka beradu.
Duk! Suara yang dihasilkan dari pukulan mereka yang saling bertemu.
"Hahahahahaha!"
Dan itu adalah suara tawa dari Assasin—hanya Assasin. Rider cukup hanya tersenyum seperti biasa.
Tiga menit sudah dua Servant ini saling beradu kemampuan bertarung, tapi pemenangnya juga belum kunjung ditentukan. Pukulan-pukulan yang mereka lancarkan, tebasan-tebasan mereka yang keluarkan, kuantitasnya bertambah secara pasti seiring dengan semakin lamanya waktu berjalan.
Adu senjata itu terlihat seperti akrobat. Memindah-mindahkan belatinya dari satu tangan ke tangan yang lain guna mencari presisi yang terbaik untuk menyerang lawan, baik Assasin ataupun juga Rider jelas sangat piawai mengendalikan senjata mereka masing-masing—orang awam pasti akan terluka sendiri apabila mencoba meniru apa yang mereka lakukan.
Terpukau oleh pertunjukkan ini, baik Linda Syarasvati atapun juga David Swarastika hanya bisa terperangah.
"Jadi inilah pertarungan antar [Heroic Spirit]? Pertarungan antar Servant?"
Jika boleh berkata, pasti itulah hal yang saat ini tengah mereka berdua pikirkan. Wajah keduanya tidak dapat menyembunyikannya sama sekali.
Tap! Tap!
Satu orang melangkah mundur dan satu orang lainnya melangkah maju. Itu memang tidak tertulis sebagai sebuah aturan, tapi entah kenapa Rider dan Assasin terlihat menjadikan hal tersebut sebagai pedoman dalam pertarungan ini.
"Itu gila."
Komentar David singkat, mendapatkan perhatian dari Linda dibelakangnya.
"Assasin sekarang mengenakan jubah yang lumayan tebal, sesuatu yang jelas mengganggu setiap pergerakannya, anak kecil itu juga sama. Tapi, melihat dari fakta dilapangan sekarang, bagaimana ceritanya mereka berdua dapat bergerak dalam kecepatan yang seperti itu? Aku benar-benar tidak habis pikir."
Disaat David selesai berkata seperti itu, Rider menghentak maju kearah Assasin dengan kecepatan yang menakjubkan. Pedang kecil di tangan kanannya ia arahkan kedepan, ia berniat menusuk ulu hati Assasin dengan pasti. Tapi sayang, Assasin berhasil menghentikannya dengan menginjak bagian atas dari pedang kecil tersebut.
Mematikan pergerakan musuh, Assasin menarik lengannya kebelakang—kuda-kuda untuk melakukan tikaman. Dan dalam hitungan satu-dua, ia pun mengarahkan ujung belati tersebut kearah kepala Rider dengan sangat cepat.
"Mungkin,"
Linda berkata, matanya tetap tertuju kedepan. David menoleh kebelakang.
Angin seolah terbelah, waktu seperti diperlambat.
Serangan Assasin benar-benar membunuh, tidak ada seorang manusia pun yang dapat menghindari serangan ini tanpa menerima dampak yang lumayan fatal. Akan tetapi, perlu diingat, Rider bukanlah manusia.
Menepis pergelangan Assasin kala matanya dan mata belati yang terarah kepadanya hanya tinggal beberapa mili saja dengan menggunakan punggung tangan kirinya, Rider terhindar dari bahaya. Menyerang balik musuhnya tersebut, Rider melepaskan pegangan pada gagang pedangnya yang saat ini sedang diinjak Assasin dan melancarkan pukulan lurus tangan kanan kepadanya.
Assasin melompat mundur kala kepalan kecil bertenaga besar itu baru mengenai sedikit bagian tubuhnya—ia menghindari dampak yang terlalu parah. Mencungkil pedang kecilnya keatas dengan menggunakan kaki, pertarungan kembali berlanjut setelah Rider berhasil memegang pedang yang berputar secara cepat itu tepat di gagangnya.
"Itulah kekuatan dari orang-orang yang layak menyandang gelar 'Roh para pahlawan'. Mungkin."
Dan tepat saat itu, Rider dan Assasin saling menekan senjata mereka satu sama lain—pisau berlekuk delapan di kiri dan pedang kecil dengan banyak sekali huruf Sanksekerta di kanan. Mengiyakan perkataan Linda barusan, David pun mengangguk mengiyakan.
"[Heroic Spirit] ya?"
Ujar David Swarastika lirih sebelum pandangannya kembali tertuju kearah Rider dan Assasin yang mulai beradu senjata kembali. Membelakangi Caster, pergelutan antara seorang pria dewasa dengan seorang anak kecil itu kini memasuki tahap yang jauh lebih seru.
Kecepatan ditambah, kebrutalan dinaikkan. Pertarungan ini hampir mencapai klimaksnya.
Tusukan demi tusukan yang datang silih berganti setiap detiknya, tiada henti mengincar semua titik vital musuh. Tebasan demi tebasan yang terlihat dilancarkan dengan serampangan itu juga sama saja—baik Assasin ataupun juga Rider sekarang hanya memikirkan satu hal; mereka ingin mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin.
Berlandaskan pemikiran tersebut, kedua senjata mereka terlempar cukup jauh ke atas setelah sebelumnya sempat beradu dengan keras.
Ada tenggat waktu enam detik sebelum senjata-senjata itu menyerah kepada gravitasi dan jatuh ketanah.
Detik pertama. Assasin menendang Rider dengan kaki kirinya, Rider menahan dengan kedua tangan. Menarik kaki kirinya dengan cepat, ia lantas memasang kuda-kuda silat—itu sungguh kembangan yang layak dipuji karena keindahannya—sebelum menyerang Rider dengan kombinasi antara sapuan tangan dan tendangan kaki yang sangat sinkron.
Detik kedua. Rider terlihat cukup kesusahan menahan gempuran Assasin yang bertambah gesit setelah tidak lagi menggunakan belatinya. Tetapi, ketika sudah mendapatkan momentumnya kembali, Rider perlahan-lahan mampu mengimbanginya lagi.
Detik ketiga. Belati Assasin dan pedang kecil Rider sudah berada di titik puncak—tidak bisa bertambah tinggi lagi.
Detik keempat. Rider melompat dan menendang muka Assasin kuat-kuat, Assasin berhasil menahannya dan berniat menyerang balik. Tapi Rider sudah tidak lagi berdiri disana. Berputar kebelakang Assasin, Rider berniat menyerang dari titik buta. Namun sang target berhasil menghentikannya dengan berbalik terlebih dulu.
Detik kelima. Dua Servant ini kembali ke posisi semula, mereka masih tetap baku hantam tentu saja.
Detik keenam. Senjata mereka masing-masing kini berada tepat di depan wajah. Mengambil belatinya dengan sigap, Assasin menerjang. Mendorong pedang kecilnya ke depan dengan satu sentakan tangan kanan, Rider mengalihkan perhatian Assasin untuk sementara.
Menyelamatkan diri dari serangan yang tidak terduga, Assasin mengipatkan belatinya. Terpental kembali kearah sang pemilik, pedang kecil itu sekarang kembali dipegang oleh Rider dan digunakan untuk melancarkan berpuluh-puluh tebasan mematikan ke arah Assasin.
Menaikkan ujung-ujung bibirnya yang tipis, Rider tersenyum. Ini adalah kali pertamanya ia mempraktekkan seni berperang miliknya secara langsung, dan lewat pertarungan seintens ini pula.
Dalam hati, anak kecil ini bersyukur dapat berhadapan dengan lawan seperti Assasin—dan tampaknya musuhnya tersebut juga sedang memikirkan hal yang sama dengannya sekarang.
"Kenapa kau senyam-senyum sendiri, anak kecil?"
Assasin bertanya, itu hanya basa-basi, dia tidak memperlukan jawaban sama sekali.
"Tidak apa, daku hanya senang saja. Tidak bolehkah seseorang mendapatkan kebahagiaan, Assasin?"
Jawab Rider, separuh bertanya. Peluh yang menetes dari pelipisnya entah kenapa merubah perawakan anak kecil ini yang seharusnya manis menjadi sangat jantan.
"Boleh-boleh saja. Tapi perlu kau ingat, kita ini sedang dalam pertarungan lho."
Assasin menangkis serangan terbaru Rider dengan cukup mudah—tusukan itu cukup lemah daripada biasanya—dan mulai menyerang balik dengan banyak sekali tebasan diagonal maupun melintang.
"Itu bukan alasan. Mau dimanapun dan kapanpun, setiap insan manusia wajib berbahagia. Dikau akan melupakan betapa berharganya kehidupan apabila dikau lupa caranya berbahagia, iya kan?"
Rider memberikan wejangan, Assasin terkekeh. Ada sesuatu yang lucu dari kata-kata Rider barusan.
"Tapi kau ini dewa"
Katanya, Rider pun memuji.
"Sudut pandang yang bagus, Assasin. Sudut pandang yang bagus."
Dan dengan itu, kedua Servant ini pun melanjutkan pertarungan tanpa berbicara sama sekali. Mereka masih terus beradu senjata dengan asyiknya.
Sampai,
"Assasin segera menyingkir dari sana!"
Caster tiba-tiba berteriak memberi perintah.
Menurutinya, padahal ia sekarang sedang mengambil ancang-ancang untuk menebas Rider, Assasin melompat ke kiri seolah-olah hal itu dapat menyelamatkan hidupnya. Mendapatkan penglihatan yang lega karena Assasin dihadapannya telah menghilang, Rider kini dapat dengan jelas menyaksikan sambaran petir putih yang mengarah langsung padanya.
"Heh..."
Rider menyeringai.
Dan seringaian itu pun lenyap bersamaan dengan terpentalnya tubuh kecil Rider kebelakang. Menyisakan bekas terbakar yang cukup sedikit baik itu dilantai ataupun juga didinding, dampak yang ditimbulkan oleh serangan Caster yang sekarang jelas terlihat lebih lemah apabila dibandingkan dengan serangan yang ia lancarkan diawal tadi.
Tapi, mengingat-ingat kondisi Caster sekarang ini, semua itu tampak wajar-wajar saja.
Semakin kehabisan nafas, Caster terlihat cukup tersiksa—Pandanganya kabur dan keringat dingin bercucuran tidak karu-karuan dari semua pori-pori yang ada ditubuhnya, itu juga belum menghitung bagaimana tangan serta kaki Caster yang tampak bergetar hebat seolah-olah tidak sanggup lagi menopang tubuh Caster.
Benar saja, tidak sampai dua menit setelah menembakkan [Mantra] terakhir serta tidak sampai satu menit dalam posisi bersujud, tubuh Caster roboh ke lantai tanpa adanya daya yang tersisa sama sekali. Matanya memejam erat mencoba menahan perih yang menggerogoti mulai dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya.
Sementara itu, terkapar tapi tidak terluka sama sekali, Rider nampak tersenyum. Serangan barusan tidak memberikan dampak apapun kepadanya. Melompat lalu berdiri, keadaan Rider yang sehat-sehat saja sekarang jelas membuat Caster terkejut—ia memang tidak melihat secara langsung, tapi mendengar dari betapa lugasnya Rider berdiri, ia bisa tahu bahwa Servant kecil tersebut baik-bik saja.
Petir itu adalah petir Indra—sebuah serangan yang memiliki [Divinity] sangat tinggi, pertahanan macam apapun pasti akan tembus olehnya, seseorang macam apapun pasti akan terluka olehnya, dan itu sudah jaminan.
Namun Rider disana berbeda, ia tidak terluka sama sekali meskipun telah menerima serangan langsung seperti tadi. Malahan, jangankan terluka, jubah yang ia kenakan saja tidak berkurang satu helai pun kainnya.
Serangan Caster seolah diredam. Dan jika boleh menebak, itu pasti karena sebuah benda berukuran seperti bola tenis berwarna kuning yang melayang-layang serta berputar diatas bahu kanan Rider.
"Wah, wah, daku kira ada apa, ternyata 'cuma' ibu agung toh?"
Komentar Rider setengah menyindir. Dari arah sebelah kanan, Assasin terlihat kembali menerjang kearahnya.
"Jangan ganggu daku dulu, Assasin."
Rider mengangkat telunjuk kanannya, sebuah bola kecil lainnya muncul disana—kali ini berwarna merah. Mengeluarkan petir berkapasitas tidak terlalu besar, bola merah itu langsung menyambar dan menjatuhkan Assasin dalam satu kali sentuhan saja.
Pria juling tersebut terkapar dilantai, ia kejang-kejang, saat Rider berjalan tanpa beban melewatinya. Mengangkat sedikit kepalanya, Caster berusaha untuk melihat keributan di depan sana dengan matanya sendiri.
Saat itu, Kunti bertanya—Senyuman anak kecil itu sungguh mengganggunya,
"Siapa anda ini?"
Wanita itu bertanya dengan suara yang parau, tenggorokannya masih terasa sakit dan tenaga yang ia himpun sekarang mestinya belum cukup untuk dapat membuatnya berbicara seperti tadi.
Tetap menjaga senyumannya, Rider pun menjawab singkat.
"Seorang dewa."
Tidak ada kesombongan atau rasa sok yang terasa dari jawaban tersebut, Rider murni hanya memberikan informasi saja. Tidak ada yang akan menyalahkan raja apabila menunjukkan semua harta kekayaannya apabila diminta oleh seseorang kan?
"Dewa yang mana?"
Caster bertanya lagi.
Dari ratusan atau bahkan ribuan dewa yang terhubung dengan dirinya secara langsung melalui [Mantra], Kunti sama sekali tidak mengingat adanya dewa yang memiliki perawakan atau wajah seperti yang dimiliki Rider.
Memikirkan bahwa Rider berbohong memang adalah sebuah jawaban yang realistis, tapi setelah melihat semua hal yang dimiliki Rider—baik itu ciri-cirinya, kemampuan bertarungnya, ataupun juga sifatnya yang abstrak—maka sulit rasanya untuk tidak mempercayai jika Rider bukanlah suatu entitas setingkat dewa.
Memamerkan deretan gigi putih miliknya yang tertata rapih, Rider diam sejenak.
"Dikau tidak perlu tahu."
Kata Rider masih tetap tersenyum.
"Ibu agung tidak punya kodrat untuk menanyakan hal semacam itu kepada daku."
Rider memperjelas.
"Apakah itu suatu bentuk kesombongan, dewata?"
"Bukan, itu bukan kesombongan. Kesombongan adalah ketika seseorang berpikir bahwa dengan tidak memikirkan segala perbuatan buruk yang pernah dia lakukan, maka dia pun tidak akan mendapatkan yang namanya dosa. Itu baru yang namanya kesombongan, ibu agung."
Rider kembali menyindir, Caster bungkam beberapa saat—mencari dan menyusun kata-kata yang tepat untuk membalas. Tapi apa daya, dia tidak menemukannya. Caster pun hanya bisa bertanya dengan iba sekarang, memohon sebuah belas kasihan seperti yang selayaknya dilakukan hamba kepada tuhan yang ia percayai.
"Apakah anda sebegitunya membenciku, wahai dewata yang tidak kukenal."
Rider mengangguk mantap, Caster syok melihatnya. Wanita itu nyaris menitikkan air mata, hatinya sakit mendengar jawaban Rider yang tidak terlihat segan sama sekali.
Untuk selamanya, Kunti akan menjadi—dan pasti akan menjadi—anak kesayangan dewa. Ia tidak akan terkena hukuman apapun meskipun ia yang berbuat salah. Tapi, apa yang terjadi malam hari ini sungguh berbeda, ada satu dewa yang secara terang-terangan mengatakan bahwa dia membenci sosok Dewi Kunti.
Itu pasti adalah kesalahan, itu jelas-jelas adalah kesalahan, tidak diragukan lagi. Tapi kenyataannya tidak begitu, penjelasan demi penjelasan Rider setelahnya telah memastikan semuanya.
"Ini bukan pengecualian. Daku memang membenci ibu agung, sama seperti daku membenci manusia yang lain. Tapi disatu sisi, daku juga menyayangi ibu agung sama seperti daku menyayangi manusia yang lain. Dan itu juga bukan pengkhususan, murni seperti perasaan seorang ayah kepada anaknya."
Selayaknya paradoks, kata-kata Rider terdengar sulit dimengerti. Bagaimana bisa ia membenci dan menyayangi sesuatu dalam waktu yang bersamaan? Semua itu sulit dimengerti, seolah-olah ada beberapa fakta yang telah terbiaskan secara sengaja ditiap bait kata-katanya yang lugas.
"Mau semurka apapun seorang ayah, dia pasti tidak akan pernah bisa membenci darah dagingnya sendiri selamanya. Iya bukan?"
Mulut Rider berucap, matanya memejam, air mukanya terlihat sangat tenang. Caster tanpa sadar menganggukkan kepala, ia mengiyakannya dengan sedikit terpaksa.
"Namun, juga sama seperti perasaan seorang bujangan yang menikah dengan seorang wanita yang tidak dicintainya karena sebuah perjodohan, rasa sayang yang daku berikan kepada ibu agung tidaklah pernah tulus sampai kapanpun juga."
Merentangkan kedua tangannya seolah-olah ia dapat meraih apapun yang ia kehendaki, Rider menambahkan penjelasannya. Untuk selamanya, anak kecil ini adalah misteri. Dia sungguh terlalu abstrak untuk dapat dijabarkan dengan menggunakan alat bernama 'kata-kata' semata. Caster mengamininya, tetapi Linda tidak.
"Kau salah adik kecil!"
Teriak Linda Syarasvati kepada Rider.
"Ada sesuatu yang ingin dikau sampaikan kepada daku, pemudi berupa rupawan dan bermasa depan panjang?"
Menoleh ke kanan masih dengan senyuman bersahaja miliknya, Rider menyahuti. Mata anak itu terbuka lebar sekarang. Entah kenapa, meskipun tidak sedang mengintimidasi sama sekali, hawa yang dikeluarkan anak ini terasa cukup menyesakkan—Seperti berhadapan dengan seekor pemangsa tulen, aura semacam itulah yang dipancarkan oleh Rider sedari tadi.
Meneguk ludahnya sendiri, Linda berusaha mengurangi ketegangan yang ia rasakan. Terbata-bata membuka muluntya, gadis yang tengah hamil beberapa minggu itu berniat membela Caster dengan mengucapkan beberapa kalimat sanggahan.
Sebelum, tanpa diduga-duga siapapun, Caster berdiri dan menyuruh Linda berhenti.
"Cukup Linda, kamu tidak perlu berkata apa-apa lagi."
Caster berbicara, nadanya lemah tidak bertenaga.
Saat ini, jelas sekali terlihat, ada cukup banyak butiran-butiran cahaya berwarna cerah, kuning emas, yang mengudara dari beberapa bagian tubuh Caster—pertanda bahwa Servant wanita itu sudah berada di titik nadir.
"Itu sudah menjadi hak seseorang untuk membenci atau mencintai orang lain. Kewajiban kita sebagai orang-orang yang dibenci atau disukai hanyalah menerima perasaan mereka dengan lapang dada saja."
Rider bertepuk tangan sekali dua kali, memuji kata-kata Caster barusan dengan sangat sumringah.
"Tapi, dewata, ada sesuatu yang perlu anda ketahui pula,"
Seketika hawa terasa dingin. Angin berhembus cukup kencang disekitar Caster, menyibakkan rambut hitamnya yang tergerai panjang kesegala arah. Suatu hal yang aneh mengingat saat ini mereka semua berada di dalam ruangan yang tertutup.
"Dunia ini tidak berjalan secara satu arah saja."
Bebarengan dengan terucapnya kata-kata tersebut, Caster mengangkat kepalanya. Sekarang, sekujur tubuh wanita ini terselimuti oleh aliran-aliran listrik bertegangan tinggi yang bersumber entah darimana.
Menyambar apa saja yang berada dalam radius 2 meter darinya, petir itu menggila, mengeluarkan bunyi 'ciap-ciap' seperti barisan burung bulbul di subuh hari. Tengah mewujud di sebelah kanan Caster, sesuatu seperti sebuah tombak dengan ujung yang tampak aneh muncul dari ketiadaan bebarengan dengan bertambah kuatnya aliran listrik yang mengalir tersebut.
Tombak itu sangat panjang, tingginya melebihi tinggi badan Kunti sendiri, tapi meskipun begitu Caster tidak terlihat kesusahan sama sekali saat memegangnya.
Mengacungkannya dengan angker kearah Rider, semua aliran listrik yang tadi menyambar-nyambar tanpa tujuan yang jelas sekarang tersedot kesalah satu bagian tombak yang menyerupai sebuah mata raksasa.
Ini adalah salah satu bentuk [Mantra] milik Caster—Divine Tools Projection [Mantra: Khajaana].
Berbeda dengan [Mantra] yang biasanya Caster gunakan, [Khajaana] tidak memakan terlalu banyak prana—bahkan dapat dikatakan—ia tidak memakan prana sama sekali.
Jika hanya untuk mematerialisasi ratusan senjata-senjata dewa saja, Caster dapat melakukannya dalam waktu kurang dari satu setengah jam. Dalam keadaan seperti sekarang ini dan tanpa kehabisan prana sedikitpun.
Akan tetapi ketika sudah berada dalam konteks, 'menggunakan', ceritanya sudah tidak lagi sama. Caster kembali membutuhkan prana, dan dalam jumlah yang amat banyak pula. Keberadaannya kembali dipertaruhkan.
Mengingat bahwa tadi Caster sudah menghabiskan jatah [Mantra] miliknya selama tiga hari kebelakang dalam satu kali kesempatan saja, Servant wanita ini jelas kehabisan prana sekarang—bukan tidak mungkin apabila dirinya akan lenyap setelah berhasil memunculkan senjata itu, senjata yang ditempa oleh pemimpin para dewa di kahyangan, Indra.
Konta namanya.
Sebuah senjata pemusnah masal yang digunakan untuk membunuh Gatotkaca yang agung dalam satu kali kesempatan, nama asli senjata ini adalah [Indrasta]. Namun, dikarenakan perubahan jaman yang berlangsung dinamis, khalayak luas banyak mengenal tombak besar ini dengan sebutan,
[Vasavi Sakti]
Senjata milik Karna, raja dari Angga, anak yang Kunti buang.
"Dengan mengetahui segala belas kasih dari raja segala dewa, Indra, lihatlah saya!"
Terpingkal-pingkal saat mendengar Caster mulai merapal mantera, Rider mengangkat tangannya ke atas lalu mulai bertepuk tangan dengan hebat selayaknya menikmati keseronokan suatu festival.
"Apa ini, lelucon terbaikmu, ibu agung?"
Rider berkelakar lalu setelah itu tertawa. Suaranya benar-benar melukai telinga Caster dengan amat sangat.
"Berhenti berbicara...berhenti berbicara...berhenti berbicara..."
Gumaman dalam hati itu lebih pantas disebut geraman kecil. Caster menggertakkan giginya dengan kemarahan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun sebelumnya, tidak kepada suaminya dulu, anak-anaknya, ataupun juga para dewa sekalipun.
Tapi kali ini berbeda, dihadapan seorang dewa yang tidak ia kenali sama sekali, amarah Kunti meledak dengan hebat. Pemantiknya adalah setiap kalimat yang diucapkan Rider sedari tadi dengan tanpa dosa.
Tidak ada satu orang pun yang suka kesalahannya diungkit-ungkit, Caster pun begitu.
Ini bukan berarti Caster adalah seseorang berhati lemah yang tidak bisa menerima kritik model apapun—Sesungguhnya Kunti adalah pribadi penyabar lagi lemah lembut. Namun, sebagai makhluk yang memiliki perasaan, yang namanya manusia pasti memiliki satu atau dua kalimat tabu.
Dan bagi Kunti, dua kalimat-kalimat itu adalah,
'Kunti ibu yang baik', serta, 'Kunti ibu yang buruk'.
Mendengar salah satunya saja hati Caster sudah tersayat tidak karu-karuan, apalagi kedua-duanya?
"Bersama satu serangan tunggal ini, saya akan membawa kepunahan."
Caster memasuki bait rapalan kedua, ia sempat terhenti sebentar tadi—prananya benar-benar tidak mencukupi.
Sedikit-sedikit, kaki Kunti bergetar seolah ia sedang menitih di atas papan kayu yang sangat tipis. Pandangannya putih, ia tidak dapat melihat apapun, tapi hal itu sama sekali tidak menghalanginya untuk tetap mengetahui harus di arahkan kearah mana serangan pamungkasnya ini ditembakkan.
Kerlap-kerlip cahaya berwarna kuning emas yang semakin banyak, terlihat kontras dengan kulit putih Caster yang mengeluarkannya—Tidak ada yang mengetahui perihal ini sama sekali. Kilatan-kilatan petir yang tiada henti telah menyembunyikan tanda-tanda kematian Caster dari mata orang-orang awam dengan sangat sempurna.
Caster akan menghilang selepas serangan ini dilancarkan, itu fakta, Caster sendiri pasti mengetahuinya. Dan ketika memikirkannya kembali, ia jadi sedikit merasa bersalah kepada Linda, Masternya.
Sebagai seseorang yang telah menjanjikan banyak hal kepada gadis lemah itu, apa-apa yang Caster pikirkan sekarang tidaklah salah—wanita ini memang jahat sejahat-jahatnya. Dan karena itu, ia mengutuk takdir.
Menyuruh Linda untuk tidak menyerah, Caster sendiri kini menyerah.
Menyuruh Linda untuk tetap menyayangi anaknya apapun yang terjadi, Caster membuang Karna.
Menyuruh Linda untuk terus percaya padanya, Caster sendiri masih belum bisa mempercayai dirinya.
Memikirkan itu semua, hati Caster terasa sesak. Sesak, sesak sekali. Ia benar-benar bukan pribadi yang baik, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rider. Caster seharusnya bisa menerima fakta tersebut jauh-jauh hari.
"Aku benar-benar bodoh..."
Untuk kali terakhir, Caster menoleh kearah Linda—mulutnya bergetar seolah berkata 'maaf', air matanya menitik satu bulir dari ujung kelopak matanya lalu menetes ke pipi kemudian terjun bebas dan hangus karena disambar oleh percikan listrik yang tiada reda menyambar-nyambar.
Bohong apabila Caster berkata, 'aku tidak menyesal', ia pasti menyesal sekarang. Air mukanya mengatakan semuanya dengan amat jelas, dapat dilihat sendiri.
Tetapi, apa lagi kiranya yang bisa ia perbuat? Semuanya sudah terlambat, [Mantra] sudah aktif, tidak bisa ditarik kembali meskipun Caster menginginkannya dengan amat sangat-—apapun yang terjadi, [Mantra] tidak dapat dibatalkan.
"Aku benar-benar bodoh!"
Dan bersamaan dengan keluarnya kata-kata itu dalam hati, Caster mengumandangkan bait terakhir rapalannya dengan sangat megah.
"Hanguslah menjadi abu!—"
Kelopak mata Caster yang berair, terbuka saat ia menggenggam tombak miliknya dengan kedua tangan. Menarik gagangnya kebelakang, Caster membuat kuda-kuda yang menandakan serangan berjenis tusukan.
Petir berhenti menyambar kala itu, tergantikan oleh bunga api besar berwarna jingga khas matahari yang mulai menyala dari ujung tombak sampai ke pangkal senjata dimana kedua telapak tangan Caster terletak.
Serangan ini murni mematikan, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menahan atau menghentikannya—itu bukan jaminan, itu fakta—semuanya tertulis jelas di dalam sejarah. Dan pada malam ini, sejarah tersebut akan terulang.
Seiring dengan tarikan nafasnya yang berat, Caster meneguhkan mental. Ia menerima semua ini dengan penolakan yang amat sangat, hal yang sudah tidak bisa lagi ditolong. Apakah pengampunan itu benar-benar ada? Kunti tidak tahu, ia tidak menemukannya sampai sekarang.
Maka dari itu, biarkan saja semuanya terbakar dalam kobaran api yang menggelegar dahsyat.
"—[Vasavi Sakti]!"
Dan setelahnya, suara Caster pun tidak lagi terdengar. Cahaya putih berkilat memenuhi seluruh ruangan.
Catatan kecil
Ah, Rashid ad-Din Sinan. Senang rasanya bisa memunculkan namamu disini (Walaupun yang muncul memang hanya nama sih).
Sedikit bercerita, sebenarnya saat pertama kali menulis Perang Cawan Suci yang terabaikan ini, saya tidak pernah mempunyai niatan untuk menggunakan pahlawan-pahlawan yang memiliki hubungan dengan Nusantara (hanya ada satu Servant saja yang berasal dari Indonesia).
Rashid ad-Din Sinan (Si tua dari gunung yang asli) sebagai Assasin, Kubilai Khan (Raja segala dinasti) sebagai Rider, Galileo Galilei (Ilmuwan yang dihukum mati karena temuannya) sebagai Berserker, Gadjah Mada sebagai Saber (Yang ini tetap), Ferdiad (Adik Cu cullain) sebagai Lancer, Arakhne (Cikal bakal laba-laba) sebagai Archer, dan favorit saya, Albert Einstein sebagai Caster.
Melanjutkan cerita, di rencana awal, Rendy Irawan sebenarnya di desain sebagai tokoh antagonis utama dan yang menjadi protagonisnya adalah Koenraad van Eych (Meskipun sekarang keduanya malah bersaing menjadi antagonis sih) dengan Servantnya yaitu Kubilai Khan (Digambarkan sebagai gadis muda energik lagi tidak tahu malu yang mempunyai hobi memasak sesuai dengan sejarahnya).
Ya, rasanya sekian dulu nostalgianya.
Saudara Broiskander, sebelumnya terimakasih atas perhatian anda (Saran anda sungguh membangun). Kalau boleh jujur, 4 chapter kebelakang ini (Chapter ini juga termasuk) sebenarnya adalah dua chapter yang saya potong jadi 2 karena alasan kepanjangan (Di laptop saya, Chapter ini adalah chapter 10 dengan chapter kemarin sebagai intronya). Tapi saya juga tidak bisa mengelak selamanya, chapter kemarin saya akui juga datar-datar saja sih (Mohon maaf).
Kemudian, saya juga ingin menjelaskan bahwa, Caster tidak mesum! (Singkirkan pikiran jorok anda, saudara kwitiaw). Maksud dari 'tidak suci' yang kemarin saya tuliskan itu bukan berarti 'Caster adalah pribadi yang genit', tidak baik. Ya, maksud saya Caster adalah pribadi yang tidak baik (Maafkan ambiguitas saya).
Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih untuk para pembaca, untuk saudara MagatsuIza (Saya abang betulan ternyata ya -,-), saudara New Reader (Terimakasih masukannya), Saudara Alter Emiya Shiorou (Makasih thor), saudara Sweeny the barber (Bukan Indrajid, kakek buyutnya dulu yang mau saya pakai), dan juga saudara bejo selalu (Jujur, saya juga suka Ken Arok), terimakasih yang sebanyak-banyaknya.
Dikarenakan kondisi badan saya yang tidak menentu (Makanya jangan keseringan kelayapan malam tong!*Suara nyak saya) serta kesibukan di dunia nyata, maka sebelumnya saya minta maaf kalau saya jadi telat update (Biasanya kalau gak hari minggu ya kamis).
Salam hangat, F. Anzhie.
