YOU AND I
CHAPTER TWELVE
Aku adalah Kim Jaejoong. Saat ini aku sudah lulus dari sekolah-ku. Tidak pernah terlintas dibenakku untuk melanjutkan kuliah. Aku terlalu lelah untuk belajar lagi. Seperti aku terlalu lelah mengahdapi masalahku. Apakah aku harus bersyukur atau tidak menjadi seorang kekasih Jung Yunho. Aku tahu aku telah terikat dilingkaran cinta-nya. Hatiku telah bersatu dengannya. Bagaimana mungkin aku akan melepaskan separuh jiwaku ?
"Hyung, apakah hari ini ikut ke cafe ?"
"Ne, Suie-ah."
"Apa tidak apa-apa ?"
Aku sedikit bingung dengan pertanyaan adikku, Kim Junsu. Ah, pasti tentang hal itu.
"Ne, aku baik-baik saja."
"Baiklah hyung."
Tentu saja aku tidak sedang dalam keadaan baik. Hari esok akan segera tiba, dan jujur saja hal itu membuat jantungku semakin berdebar cepat. Apa yang akan terjadi padaku ?
"Hyung, sudah sampai."
"Oh, cepat sekali."
"Hyung sedari tadi kulihat hanya melamun saja sih."
Aku hanya tertawa selintas. Aku sedikit iri akan hubungan Junsu dengan Yoochun yang berjalan mulus. Aku menghela nafasku dan itu terasa sangat berat. Setiap aku menarik nafas selalu saja dadaku terasa ngilu.
"Hyung, hari ini aku dan Yoochun akan ke Seoul University. Aku dan Yoochun akan mendaftar disana. Apa tidak apa-apa hyung sendiri menjaga cafe ?"
"Ne, pergilah. Semoga kalian diterima."
"Gomawo hyung."
.
.
.
Pagi ini keadaan cafe cukup sepi. Hanya beberapa pegawai kantoran yang membeli kopi. Aku duduk di salah satu meja yang menghadap jalan raya dengan jelas. Aku sesekali meminum coklat panas kesukaanku. Sungguh terasa nikmat.
Aku tersenyum ketika melihat sebuah mobil parkir tepat di depan cafe-ku. Namja bertubuh tinggi itu memasuki cafe-ku. Dia selalu ada disaat diriku sendiri. Terimakasih, Shim Changmin.
"Hyung, apakah sendirian ?"
"Ne, tadi Yoochun dan Junsu pergi ke Seoul University. Semoga saja mereka diterima."
"Benarkah ? Apakah nilai Junsu sangat bagus hingga mendaftar disana eoh ?"
Aku sedikit kesal mendengar perkataan dari mulut tajam Changmin. Yah, walaupun aku tidak menyangkal perilah nilai ujian Junsu.
"Setidaknya dia berusaha, Minnie-ah. Apakah kamu ingin minum sesuatu ? Akan hyung buatkan."
"Milkshake coklat, hyung."
"Tunggu sebentar."
Anak itu padahal sudah berbadan tinggi, tapi masih saja minum susu.
"Ini Minnie-ah."
Kulihat wajah Changmin yang berseri-seri setelah meminum milkshake buatanku. Apakah sangat enak eoh ?
"Enak sekali hyung. Oh ya hyung, bagaiman ? Apa keputusanmu eoh ?
Aku mengeryitkan kening pertanda aku bingung akan pertanyaannya.
"Keputusan apa eoh ?"
"Umm, tentang hyung ikut aku. Aku kuliah di Oxford dan hyung membuka butik disana. Bagaimana ?"
Ah, perihal itu. Aku harus menjawabnya sekarang ? Tapi apa yang harus kujawab ?
"Beri aku waktu sebentar lagi, Minnie-ah."
"Tapi, aku akan berangkat besok hyung."
"Secepat itu ?"
"Ne, karena tahun ajaran baru akan segera dimulai hyung."
Bagaimana ini ?
"Kalau begitu beri aku waktu sampai besok."
"Mwo ?"
"Ne, berilah aku waktu sampai besok."
"Ck, apa kamu masih mengharapkannya eoh hyung ?"
Anak ini selalu saja bisa membaca pikiranku. Benar Changmin, aku masih mengharapkannya mendatangiku.
"Aku.."
"Baiklah, aku mengerti hyung !"
Mwo ? Changmin baru saja membentakku. Bahkan dia memukul meja itu. Tubuhnya mulai menjauh dari pintu cafe-ku.
"Tunggu, Minnie-ah."
"Hm ?"
"Jangan bersikap begitu Minnie-ah. Kamu tahu aku sangat menyayangimu sama seperti aku menyayangi Junsu."
"Junsu ? Oh begitu."
Kenapa dengan Changmin ? Kenapa dia seperti ingin menangis. Apakah aku salah berbicara dengannya ?
"Wae Minnie-ah."
"Cukup hyung ! Kenapa hyung tidak menyadari bahwa aku telah lama mencintaimu ! Kenapa !"
"Apa ?"
"Aku mencintaimu hyung."
"Mianhe. Aku tidak bisa."
Maafkan aku Changmin. Aku tidak bisa membalas cintamu. Maafkan aku.
"Baiklah, seperti janji hyung. Aku akan menunggu jawaban hyung besok."
Changmin ternyata telah tumbuh dewasa.
Sekali lagi aku menghela nafasku dan rasanya sangat sakit. Sakit sekali. Aku teringat kembali akan hari esok. Apa benar dia menepati janjinya ?
.
.
.
Namja tampan bermata musang itu duduk termenung menghadap jendela kamarnya. Hanya itu yang dia lakukan semenjak kemarin.
Tatapannya kosong. Dirinya tidak ada lagi semangat hidup. Keputusan Appa-nya yang mutlak akankah ditentangnya ?
"Yunho-ah, ayo makan siang bersama Umma."
"Nanti saja Umma, aku tidak selera untuk makan."
Umma Jung mengelus lembut punggung Yunho. Berusaha memberi kekuatan untuk Yunho. Yunho semakin menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.
Bahunya bergetar dan air matanya jatuh begitu saja. Seorang Jung Yunho menangis hanya untuk Kim Jaejoong.
"Yunho-ah, temuilah dia."
"Umma."
"Temuilah saja dia, Appa sedang tidak berada di rumah."
Tanpa basa-basi lebih lanjut lagi, Yunho berdiri dari duduknya. Mengambil kunci mobil dan jaketnya. Dengan langkah tergesa-gesa menuruni anak tangga.
Tidak lama kemudian, mobilnya telah meninggalkan kediaman Jung itu.
.
.
.
Hanya memakan waktu yang terbilang sebentar, Yunho telah sampa di cafe milik namja cantik itu. Seorang namja yang mampu membuatnya tidak normal. U-know what i mean.
"Boojaejoongie !"
Yunho membuka pintu kaca itu dengan kuat. Mata musangnya meneliti segala arah mencari sosok yang sangat dirindukannya. Dan..
"Aw, sakit." Lirih Jaejoong.
"Joongie, aku..aku sangat merindukanmu."
Jaejoong sangat mengenal suara itu. Suara orang yang telah memeluknya dari belakang dengan tiba-tiba.
"Yunho ?"
"Ne, ini aku Jaejoongie. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga Yunnie. Aku juga sangat merindukanmu."
Jaejoong membalik badannya dan kini dia memeluk erat Yunho seaakan takut akan kehilangan.
"Yunnie, besok kamu akan.."
"Ne, aku tahu. Jangan membahas hal tersebut. Masih ingat dengan janjiku eoh ?"
"Hm, tapi aku."
Sejenak Jaejoong melepaskan pelukannya.
"Aku meragukannya."
"Mwo ? Kamu meragukanku Joongie ?"
"Bukan begitu maksudku. Cuma Appa-mu bagaimana ? Dia pasti akan sangat marah kepadamu Yunnie."
"Aku tidak peduli Joongie-ah. Aku hanya ingin bersamamu. Ingatlah hanya ada kamu dan aku."
"Ne, Yunnie. Gomawo. Aku sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
"Yunnie, apakah ingin minum sesuatu ?"
"Tidak, Jaejoongie aku ingin mengajakmu kencan."
"Kencan ? Selalu saja mendadak. Baiklah tunggu sebentar"
Jaejoong tentu saja tidak menolak ajakan kencan Yunho. Karena hal itu jarang sekali terjadi. Dia mulai merapikan dapurnya dan meja. Untung saja hari ini cafe-nya sepi. Dan terakhir dia mengunci pintu cafe-nya.
"Jadi, kali ini mau kemana eoh ?"
"Aku mau ke taman dekat apartement-ku saja."
"Baiklah, ayo kita kesana."
.
.
.
Rasanya aku sangat tidak percaya akan hari ini. Seorang namja yang selalu aku pikirkan muncul tiba-tiba dihadapanku. Dan dia selalu saja mengajakku kencan secara tiba-tiba. Entah kenapa saat itu aku hanya berpikir tentang taman dekat apartementku. Walaupun itu hanya taman biasa saja yang memiliki danau, tapi memiliki arti yang besar bagiku. Bahkan taman tersebut akan menjadi saksi kelanjutan hidupku.
Dalam perjalanan menuju taman, aku hanya memandang ke arah jendela. Melihat jalanan kota yang tidak pernah sepi. Kulirik sebentar dirinya yang terlihat serius menyetir. Aku sangat suka melihat wajah seriusnya. Bukankah namja itu selalu serius dalam hidupnya ?
Aku jadi teringat ketika dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Dia berbeda dari Siwon maupun Hyunjoong. Aku tersenyum sendiri mengingat perkataannya yang masih saja diucapkannya hingga sekarang. Hanya ada kamu dan aku. Hanya ada Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Benarkah akan begitu Jung Yunho ?
"Joongie, kita sudah sampai."
"Hm ? Cepat sekali."
"Daritadi kamu melamun terus eoh."
Tangannya selalu terasa nyaman. Aku suka ketika tangannya mengelus rambutku.
"Mianhe."
Aku turun dari mobilnya dan aku melangkahkan kakiku ke sebuah pohon yang tepat berada di depan danau.
Pohon ini saksi bisu atas perjanjianku dengannya. Ya, tepat sebelum jam dua belas malam. Akankah kamu datang kesini Yunho-ah ? Hal yang selalu membuatku risau untuk memikirkannya.
"Jaejoongie, kenapa meninggalkanku ?"
"Mianhe."
.
.
.
Yunho duduk di bawah pohon tersebut, kemudian menarik tangan Jaejoong yang masih berdiri di sampingnya. Dan sekejap Jaejoong terduduk dipangkuan Yunho.
"Aku selalu menyukai bau tubuhmu, Joongie."
Yunho memeluk erat tubuh Jaejoong dan menaruh kepalanya dipundak namja cantik itu. Sesekali mencium leher Jaejoong.
"Hentikan Yunnie, aku menjadi merinding."
"Sebentar saja."
Dan akhirnya Jaejoong pasrah menerima perlakuan dari Yunho. Dia hanya diam menghadap danau yang terlihat silau karena pantulan sinar matahari.
Tiba-tiba Yunho menarik dagunya hingga mereka berdua bertatapan. Yunho mencium lembut bibir Jaejoong. Jaejoong awalnya tersentak kaget, namun tentu saja dia tidak menolak ciuman yang menurutnya membuatnya nyaman itu. Dia mulai membalas ciuman Yunho. Tangannya dilingkarkan dileher Yunho, berbeda dengan tangan Yunho yang sudah berada dibalik kaus yang dipakainya. Mengelus lembut punggung Jaejoong.
Jaejoong yang masih sadar seutuhnya mendorong dada Yunho sebelum Yunho berbuat lebih lanjut lagi.
"Wae ?"
"Ini ditempat umum Yunnie."
"Tapi tidak ada yang melihat kan ?"
"Ya, tapi tetap saja ini ditempat umum."
"Aku mengerti."
.
.
.
Aku sungguh sangat menikmati ciumannya. Terasa hangat dan lembut. Aku selalu menyukai perlakuannya kepadaku. Kini aku dalam posisi tidur dan tentu saja kepalaku beralaskan paha Yunho. Aku menatap wajahnya dan sesekali aku tersenyum. Dia menyadari tatapanku, dan tangannya dengan lembut mengelus rambutku. Aku belum pernah menerima perlakuan lembut seperti ini.
Ternyata aku salah, cinta itu sangat menyenangkan. Setidaknya untuk saat ini aku berpikir seperti itu.
"Yunnie."
"Hm ?"
"Besok aku pasti akan menunggumu disini."
"Ne, dan aku pasti akan datang."
"Yunnie, sebenarnya dari dulu aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa aku harus menunggumu disaat kamu akan menikah ?"
"Kamu ingin tahu jawabannya ?"
Aku menganggukkan kepalaku. Ya, sebenarnya sejak pertama kali kami berjanji, aku selalu memikirkan hal tersebut. Kenapa Yunho-ah ?
"Itu karena aku ingin membuktikan kepada semua orang kalau aku hanya mencintaimu Jaejoongie."
Aku sedikit bingung atas perkataannya. Oh, bukankah di pernikahan itu akan dihadiri oleh banyak orang dan masuk di televisi.
"Kamu mengerti ?"
"Hm, tapi aku takut akan reaksi orang-orang yang tidak menerima cinta kita. Aku seorang namja dan dirimu juga."
"Jangan membahas itu Joongie. Yang aku tahu aku mencintai seorang Kim Jaejoong. Aku rela bila diusir Appa bahkan dicoret didaftar warisan asal aku bisa bersamamu."
Aku sedikit terharu mendengar ucapannya. Ternyata Yunho memang seorang yang serius. Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Aku semakin tidak meragukannya. Aku yakin dia pasti akan datang.
.
.
.
Dilain tempat, terlihat seorang yeoja yang menurutnya sendiri dia itu cantik sedang memandang gaun pengantinnya. Yang seperti kita ketahui, yeoja bernama Go Ahra ini memperhatikan gaun pengantin hasil rancangan Jaejoong. Jujur saja, dia terpukau melihatnya. Gaun yang terlihat begitu glamorous dimatanya. Sedikit ingatannya berputar dimana ketika dia akrab dengan Jaejoong. Menyadari kebaikan Jaejoong terhadapnya yang selalu berbuat semaunya. Selalu saja menyuruh Jaejoong membuatkannya gaun untuk pesta dan sebagainya, dan Jaejoong dengan senang hati membuatkannya.
Go Ahra tersenyum miris mengingat kenangan tersebut. Entah kenapa dia sendiri susah untuk melupakannya. Waktu satu tahun itu cukup lama baginya berteman dengan Jaejoong, karena Ahra sendiri yang pada dasarnya tidak memiliki seorang teman apalagi sahabat. Kenapa ? Tentu saja karena sifat egoisnya. Karena keegoisannya hingga melayangkan satu nyawa.
Ah, Go Ahra teringat kembali akan Seul Gi. Sampai sekarang dirinya sendiri pun tidak percaya telah membunuhnya. Karena besarnya cintanya terhadap Jung Yunho. Dia tersadar akan keadaan sekarang, dimana Jung Yunho mencintai Kim Jaejoong. Ternyata karma berlaku kepadanya.
Hey, sadarlah Go Ahra, Jung Yunho tidak pernah sekalipun mencintaimu.
Ahra memeluk gaun pengantinnya, dan tanpa sadar airmatanya membasahi gaunnya. Untuk apa kamu menangis Ahra ? Menyesali perbuatanmu ?
Terkadang Ahra berpikir, kenapa Tuhan begitu jahat kepadanya. Tidak bisakah dia bersatu dengan seorang namja yang sangat dicintainya ?
Kali ini airmatanya jatuh lebih deras lagi mengingat Umma-nya dan Umma Jung yang membela Jaejoong.
Sadarlah Ahra, dirimu kini sendiri. Lepaskanlah namja itu.
"Tiidakk !"
Ahra berteriak cukup kencang di kamarnya. Masih dalam posisi memeluk gaun pengantinnya, namun kini dia terduduk di lantai mengakibatkan gaun pengantinnya terlipat.
.
.
.
"Terimakasih untuk hari ini Joongie."
"Ne,apakah kamu mau mampir ?"
"Bolehkah ?"
"Tentu saja."
Jadilah Yunho untuk pertama kalinya memasuki rumah Jaejoong . Dia cukup gugup untuk saat ini.
"Joongie, siapa yang bersamamu ?" Tanya Umma Kim
"Dia Jung Yunho, Umma."
"Oh, ayo masuklah."
Umma Kim tersenyum melihat kedua namja tersebut. Kali ini Umma Kim berusaha menerima kenyataan anak pertamanya.
"Yunnie, aku akan membuatkan minuman dulu. Kamu bersama Umma dulu ne ?"
"Okey."
Jaejoong meninggalkan Yunho bersama Umma-nya. Sebenarnya membuatkan minuman hanya alasannya saja. Dia hanya ingin melihat reaksi sang Umma.
"Apakah kamu kekasih Joongie, Yunho-ah ?"
"Ne, Ahjumma." Nada canggung pun dikeluarkan dari mulut Yunho.
"Tidak usah setengang itu Yunho-ah. Apakah kalian sudah lama berpacaran ?"
"Cukup lama Ahjumma. Semenjak kami kelas tiga."
"Oh, begitu. Sepertinya dirimu memiliki pengaruh yang besar kepada anakku. Lihatlah, dia sudah kembali ceria bahkan dia pulang ke rumah."
Umma Kim berbicara dengan nada bergetar. Tapi senyuman mengembang diwajahnya menandakan betapa senangnya Jaejoong pulang ke rumah. Untuk saat ini, biarlah Umma Kim tidak mengetahui alasan yang sebenarnya.
"Oh, ne. Gomawo Ahjumma. Aku sangat mencintainya."
Entah darimana Yunho dengan berani mengucapkan kata-kata tersebut.
"Aku mempercayaimu Yunho-ah. Bahagiakanlah dia."
"Yunnie, ini aku membuat teh saja."
Dua orang yang terlihat serius tadi menolehkan kepalanya kea rah Jaejoong yang membawa minuman.
"Ne, gomawo Joongie-ah."
"Umma permisi dulu ne. Umma mau ke klinik sebentar."
"Mwo ? Apakah Umma sakit ?" Tanya Jaejoong.
"Tidak, Umma hanya mau check up saja."
"Apakah mau aku temanin Umma ?"
"Tidak usah. Umma baik-baik saja."
Jaejoong menganggukkan kepalanya. Umma Kim sangat senang saat ini, anak pertamanya begitu perhatian kepadanya.
"Hati-hati Umma."
.
.
.
"Joongie, sepertinya aku harus pulang sekarang."
"Secepat itu ?"
"Aku takut Appa akan pulang duluan ke rumah. Tadi Umma-ku berpesan agar aku tidak keluar hingga malam."
"Oh, aku mengerti."
"Mianhe, aku hanya ingin rencanaku tidak berantakan."
Yunho memeluk erat Jaejoong. Sebenarnya dirinya sendiri susah untuk melepaskan namja cantik itu. Tapi, dia tidak ingin mendapat tamparan untuk kedua kalinya dari sang Appa.
Hari besok masihlah sebuah misteri untuk mereka semua. Apakah yang akan terjadi ?
To be continued.
Review ?
*Masih berlanjut ternyata, mau dijadikan satu nanti kepanjangan :O
It's like you're my mirror
My mirror staring back at me
I couldn't get any bigger
With anyone else beside of me
And now it's clear as this promise
That we're making
Two reflections into one
Cause it's like you're my mirror
My mirror staring back at me, staring back at me
Justin Timberlake - Mirror
Balikpapan, 21 Mei 2013
ZE
