A/N : Yahhooo! Here comes chapter 12! Update cepat lagi di hari Sabtu! BU BU BU BAH BU BAAAAH! *abaikan* Review-nya cepat sekali datang! Senangnya. *sujud syukur-lebay*

Oke! Balas review!

-crossmix-

Blossom : Da yo ne! Jadi Xujie emang enak banget! Jadi iri nih!
Scarlet : Kau kayak tante-tante aja.
Blossom : OH RLY? *cekik Scarlet*
Xujie : Kalian memang tidak bisa berdamai... *sigh*
Guo Jia : Maa maa~ Tidak usah pedulikan mereka. Oh? Anda terlalu memujiku. Aku menyerang Xujie baru sekali—duh.
Xujie : *cekik Guo Jia dari belakang* Kenapa Fengxiao mengatakan hal seperti itu di depan umum!?
Blossom : Wew, tampangmu mesum banget, Guo Jia. Dada Xujie empuk ya?
Xujie : A-A-Apa yang kau bicarakan!? *lempar buku* T-Terima kasih atas reviewnya!

-Yanagi277-

Blossom : Ara, sugguh? Reader lama ya. *manggut2*
Xujie : If yu—apa? Fengxiao mengerti?
Scarlet : Xujie, lakimu memang cerdas banget. Tapi ini jaman dahulu kala mana mungkin dia mengerti.
Guo Jia & Xujie : *musou Scarlet*
Scarlet : *kematian seketika*
Blossom : Oi oi, udahan! Nanti jadi merepotkan pasangin badan si Scarlet. Terima kasih atas reviewnya!

-safniradhika-

Blossom : MWAHAHAHA! Mau rate m Xujie x Guo Jia? Tunggu saya setahun lagi oke!?
Scarlet & Xujie : JANGAN!
Guo Jia : *chuckle* Aku setuju.
Xujie : Fengxiao pengkhianat! *nangis*
Guo Jia : A-Aku hanya bercanda, Xujie... *elus kepala Xujie*
Scarlet : Terima kasih atas reviewnya!

-xtreme guavaniko-

Scarlet : Hmhm... Loli Xujie ya? Fufufufu... *gambar loli Xujie*
Blossom : Dasar lolicon.
Scarlet : Daripada shota?
Blossom : Yeah right. *ngebayangin shota Guo Jia* Gak bisa bayangin...
Xun Yu : Cinta segitiga? Aku memang mencintai putriku, tapi sebagai keluarga.
Scarlet : KAU ITU MUSUME-COMPLEX di fic ini, jadi DIAM. Oke?
Xun Yu : Apa? *ambil wand, musou Scarlet*
Scarlet : AKU HANYA BERCANDA WOI! UGH! *mati*
Guo Jia : Oh? Sudah berapa kali dia mati tapi hidup lagi ya?
Xujie : Aku tidak tahu dia manusia atau tidak...
Guo Jia : Hm? Xujie sakit karena salahku? Ah, tidak perlu khawatir. Xujie akan sembuh setelah kami menghabiskan malam bersama.
Xujie : *tutup mulut Guo Jia pake baozhi* D-Diam! Terima kasih atas reviewnya!

Disclaimer : Dynasty Warrios milik KOEI, kami mengatur alur dan fic ini milik kami.

Warning : Guo Jia x OC (Mei Xujie), fic abal(?), gak sengaja typo, OOC mungkin ada(?) Tapi ada yang sengaja ada yang tidak demi lancarnya alur cerita.

Happy reading!


The Blue Butterfly : The Warmth of Life

Chapter 12

Treasured Memories


Guo Jia membuka matanya dengan perlahan, kedua matanya masih mengabur. Ia sadar Xujie masih tertidur lelap disampingnya. Istrinya yang tidur menyamping dan tangannya menggenggam pakaian Guo Jia, ia teringat dengan malam yang mereka habiskan bersama. Guo Jia mendaratkan kecupan singkat pada keningnya. Kemudian dia mengeratkan gaun tidurnya dengan perlahan agar Xujie tidak kedinginan. Kemudian ia mengeluarkan rambutnya yang masuk ke dalam bajunya. Setelah itu, Guo Jia kembali membaringkannya.

Ia beranjak dari kasurnya, Guo Jia kembali menutup tirai ranjang. Ia mengambil mantel di dalam lemari. 'Aku akan mencari tahu tentang keberadaan marga Mei itu.'

Namun disaat dia memegang gagang pintu. "Kkh...!" Rasa sakit dari dalam tubuhnya kembali muncul. Ia menggenggam dadanya yang sakit, nafasnya terengah-engah. Ia menyandarkan kepalanya di dinding. "..." Ia menghela nafas panjang, rasa sakitnya kini terasa lebih ringan. Berkat ramuan yang dibuatkan Xujie setiap hari sehingga sakitnya berkurang. Ia tidak tahu sampai kapan penyakitnya akan sembuh total, tapi ia bersyukur Xujie yang selalu memerhatikan kondisi suaminya. Guo Jia menoleh kebelakang, memeriksa Xujie apakah dia terbangun atau tidak. Beruntungnya, dia masih tertidur. Pria tersebut tersenyum lega. Lalu ia keluar dari kamar.

-xxx-

Guo Jia memanggil prajuritnya yang sedang menjaga daerah Yangzhai, ia menyuruh prajurit tersebut untuk mencari keberadaan keluarga Mei dengan mengirimkan mata-mata. Prajurit tersebut mengundurkan diri dan langsung mengerjakan tugasnya. Setelah itu, Guo Jia kembali ke dalam rumahnya.

"Ah, Tuanku. Selamat pagi!" ucap Fei Ling. "Apa yang Tuan lakukan diluar?"

"Hanya berjalan-jalan. Yangzhai sudah banyak berubah ya..." ucap Guo Jia tersenyum.

"Benar, Tuan. Yangzhai kini terlihat semakin damai. Saya yakin ini semua berkat Tuan Cao Cao dan Anda!"

Guo Jia tertawa pelan. "Begitukah."

"Oh iya, kami akan menyiapkan makan paginya segera. Apakah makan paginya saya antarkan ke kamar?"

"Tidak perlu. Xujie sudah hampir sembuh. Aku yakin dia bisa berjalan."

"Baiklah, Tuan. Permisi." Fei Ling mengundurkan diri dan langsung melakukan pekerjaannya.

Setelah itu, Guo Jia kembali masuk ke dalam kamar, di dapatinya Xujie yang sudah bangun dan sedang memasang pakaian. "Ah." Wajah Xujie merona merah. "S-Selamat pagi, Fengxiao." Ucap Xujie pelan.

Guo Jia tersenyum lembut dan mengecup singkat bibirnya, membuat Xujie tersentak kaget. "Selamat pagi, istriku."

"A-Anu... F-Fengxiao darimana?"

"Hm? Hanya berjalan-jalan. Kau baru saja bangun?"

"I-Iya. Aku akan langsung berangkat mandi."

"Kalau begitu, mau mandi bersama?"

"E-Eh!?" Xujie membelalakkan matanya dan wajahnya semakin memerah padam.

"Ada apa? Apa ada yang belum kau perlihatkan padaku?" tanya Guo Jia berbisik ke telinganya sambil menyentuh pinggangnya.

"T-Tidak...Tidak ada...!" ucap Xujie panik.

"Nah, kalau begitu. Ayo."

Xujie tidak dapat protes lagi, ia hanya bisa mengangguk dengan pelan.


Tempat pemandiannya yang mirip dengan rumah Guo Jia yang di Xu Chang. Xujie membalutkan tubuhnya dengan kain putih basahan yang menutup dada sampai pahanya. "A-Anu... A-Aku..."

"Ya?"

"Aku akan menggosok punggung Fengxiao. B-Boleh?" ucap Xujie tersipu dan masih tidak berani menatapnya.

Guo Jia tersenyum. "Ah, aku sebenarnya juga ingin memintamu untuk melakukannya."

Setelah Xujie membantu suaminya menggosok punggung kini giliran Guo Jia yang membantunya. Xujie yang pemalu itu bersikeras tidak mau Guo Jia melakukannya. Tetapi Guo Jia terus memaksa dan menggodanya, Xujie menyerah.

Setelah itu, mereka merendamkan tubuh di dalam kolam hangat berkayu. Xujie yang masih tersipu tidak mau menghadap ke arah suaminya. Guo Jia kemudian menyentuh bahunya. "Oh? Aku baru tahu ada tahi lalat dibelakang bahumu."

"Eek!" Xujie tersentak kaget.

"Kalau tidak salah juga ada tahi lalat di dada kirimu." Ucap Guo Jia tersenyum.

"E-Eeeh!?" Xujie menutup dadanya dengan kedua tangannya. Kemudian ia menatap dadanya yang ternyata ada. "A-Aku baru tahu..." gumamnya."

"Xujie." Ia memegang tangan Xujie dengan lembut.

"Y-Ya!?"

Ia berbisik ke telinganya. "Apa aku menyakitimu?"

"Eh?"

"Tadi malam."

Xujie memiringkan kepalanya. "Menyakitiku...? Uhm... eh, t-tidak kok." Xujie baru menyadari apa yang dibicarakan oleh suaminya. "...Entah kenapa aku merasa... aku jadi merasa semakin dekat dengan Fengxiao... aku jadi ... merasa sedikit senang..." ucap Xujie tertunduk dengan nada pelan.

Guo Jia tersenyum lega. "Begitu... Syukurlah." Ia mengecup telapak tangannya.

"..." Xujie tersenyum malu.


Setelah mandi bersama, Guo Jia membantu Xujie memasangkan ruqun. Pakaian tersebut memiliki lengan yang panjang sehingga Xujie sedikit sulit menggerakkan tangannya.

"Sepertinya mereka membuat ruqun yang terlalu besar untukmu." Ucap Guo Jia heran.

"Ah, tapi tidak apa. Pakaiannya juga hangat."

"Hm." Guo Jia manggut-manggut. "Aku akan mengikatkan rambutmu."

"Eh? Ah... terima kasih."

Guo Jia mengambil sisir, ia menyentuh rambut Xujie yang panjang dan bergelombang. 'Apakah keluarga Mei memiliki ciri-ciri fisik sama seperti Xujie?' batin Guo Jia. Warna rambutnya yang merah tetapi agak kecoklatan memang jarang ditemukan, ditambah lagi dengan warna mata Xujie yang merah dan kulitnya putih seperti pualam. Guo Jia menghela napas pendek, ia sangat penasaran dengan keberadaan keluarga Mei. Xujie juga pernah bilang kalau dia tidak diperbolehkan keluar rumah dari kecil. Oleh karena hal tersebut, membuat Guo Jia terpikir bahwa Xujie tidak pernah bertemu dengan wanita bermarga Mei selain kakak dan ibunya. Dan Guo Jia ingin memastikan kakaknya masih hidup atau tidak. Ia yakin Xujie sangat merindukannya.

"Ngomong-ngomong, Xujie..."

"Um?"

"Tentang kakakmu itu... Apa dia berada di desa Xi Jiang waktu desa itu terbakar?"

Xujie menundukkan kepalanya, kedua matanya menurun. "Tidak, kakak tidak pernah pulang sejak aku berumur 10 tahun. Aku tidak tahu dia pergi kemana..."

"...Begitu."

"Apakah kakak masih hidup...?"

"Aku harap begitu." Hibur Guo Jia.

Xujie tersenyum kecil. Beberapa menit kemudian, Guo Jia selesai mengikat rambut Xujie, rambutnya yang tebal membuatnya sedikit sulit, namun rambut tebal sangat cocok untuknya.

"Rambutmu sangat indah, Xujie."

"S-Sungguh? Tapi, saat perang kadang-kadang menganggu. Aku sampai ingin memotongnya."

"Tidak, kau terlihat sangat cantik dengan rambut panjang. Kalau dipotong, akan sia-sia. Lagipula, nanti akan panjang lagi kan kalau dipotong?"

"Iya ya." Xujie membelai rambut panjangnya. "Baiklah. Aku tidak akan memotongnya." Ucap Xujie tersenyum.

"Nah. Kita sarapan dulu, setelah itu kita akan pergi ke makan orangtuaku."

"Ah, um." Xujie mengangguk.


Setelah makan pagi, Guo Jia mengajaknya berjalan-jalan ke pegunungan. Dia bilang disanalah kedua orangtuanya dimakamkan. Fei Qi sudah mempersiapkan kuda untuk dibawa kesana.

"Ayo, Xujie. Kau naik duluan."

"T-Tapi aku belum pernah naik kuda..."

Guo Jia tertawa pelan. "Belum? Baiklah, aku akan membantumu."

"M-Maafkan aku. Aku tidak tahu banyak hal sampai membebanimu..." ucap Xujie panik.

"Tidak apa. Apapun itu akan aku ajarkan padamu." Ucap Guo Jia dan membantunya menaiki kuda.

"...U-Um. Terima kasih..." ucap Xujie pelan dan berusaha untuk tersenyum.

Setelah suaminya membantu Xujie menaiki kuda, kini gilirannya naik. Xujie duduk menyamping di depan Guo Jia. Wajah Xujie kembali memerah, jarak mereka sangat dekat sehingga telinganya terasa hangat akan nafasnya. Guo Jia menariknya dengan perlahan dengan menyentuh pinggangnya. "Sebaiknya kau lebih dekat denganku, Xujie. Kau bisa jatuh."

"B-baik!" Xujie menggeserkan tubuhnya namun kepalanya mengenai dagu Guo Jia. "Aduh! Hwaah! Fengxiao! Maaf! Maafkan aku!" pekik Xujie semakin panik.

"A-Aku baik-baik saja. Tidak usah cemas." Guo Jia memegang dagunya sambil tertawa pelan untuk menghibur Xujie.

"M-Maafkan aku! Maaf! Maaf!" ucap Xujie.

"Sudah tidak apa." Guo Jia mengecup kepalanya yang terkena dagunya. "Nah, apa sakit di kepalamu sudah hilang?" tanya Guo Jia.

"..." Xujie tertunduk, wajahnya memerah hebat sehingga Xujie semakin sulit berbicara. "I-Iya... S-Sudah...Sudah hilang..." ucap Xujie terbata-bata. Guo Jia tersenyum hangat padanya, lalu tangannya bergerak menuju pinggangnya sambil memegang tali kuda.

"Kita pergi sekarang?"

"Y-Ya..." Xujie mengangguk pelan.

-xxx-

Kudanya terus mendaki, Xujie yang melihat kekanan dan kekiri takjub akan melihat hutan yang terlihat sangat bersih dan sejuk. Ia merasa di hutan tersebut tidak ada binatang buas karena pegunungan tersebut dekat dengan Yangzhai. Dia memang tidak tahu banyak, tapi ia yakin suaminya akan mengajarinya semua hal yang tidak diketahuinya.

"Sebentar lagi kita sampai." Kata Guo Jia.

Xujie semakin tidak sabar menunggu, tetapi dia juga tidak tahu harus mengatakan apa setelah mereka sampai di makam mendiang kedua orangtuanya.

-xxx-

Guo Jia menarik tali kudanya. Kemudian ia langsung turun. Ia mengulurkan tangan pada Xujie. "Kau bisa turun?"

"Bisa...m-mungkin." Ucap Xujie pelan dan menangkap tangannya. Lalu dengan perlahan dan hati-hati, ia turun dari kuda. Setelah itu Guo Jia mengikat tali kuda dipohon agar kuda tersebut ditinggalkan.

"Yuk, lewat sini." Mereka menulusuri jalan yang mulai sempit, Xujie mendekati Guo Jia lalu memegang mantelnya dari belakang. Guo Jia mengambil tangan Xujie dan menggandengnya. "Tidak apa, disini aman kok." Hibur Guo Jia.

"Uhm... apa makamnya dekat?"

"Dekat. Nah, kita baru sampai."

"Eh?" Xujie meluruskan penglihatannya, dua batu nisan di tempatkan di tengah tanah kosong yang dikelilingi pepohonan. Dedaunan hijau jatuh satu persatu dan mendarat diatas kedua batu nisa tersebut. Guo Jia berjalan menuju makam mendiang orangtuanya, kemudia berlutut.

"Sudah lama tidak bertemu..." lirihnya mengusap batu nisan tersebut dengan tangan kanan. Keduanya sudah hampir tertutup kabut dan dedaunan. Xujie berjalan mendekati Guo Jia dan berlutut disampingnya, kemudian membantu suaminya membersihkan batu nisan.

"Eh." Tangan mereka saling bertabrakan, dua sejoli tersebut lalu saling bertatapan. Xujie hanya tertawa kecil dan Guo Jia tersenyum hangat.

"Dia adalah istriku... Mei Xujie." Ucap Guo Jia kembali menghadap ke batu nisan. "Dia adalah satu-satunya orang yang akan kubahagiakan di dunia ini." Xujie terdiam dan wajahnya merona, namun dia tersenyum. Gadis tersebut menoleh kedepan.

"Aku Mei Xujie... um... S-Senang bisa bertemu dengan ayah dan ibu mertua. Walaupun ayah dan ibu mertua sudah berada di surga. T-Tapi, aku yakin kalian bisa mendengar kami. U-Uhm..." Guo Jia terus menatap Xujie dan mendengarkannya, namun Xujie tidak sadar. "U-Uhm... a-aku... aku sangat senang Fengxiao menjadi suamiku. Fengxiao... selalu tersenyum... membangkitkanku dari semua penyesalan. Sejak kami bertemu, aku... merasa hidupku lebih berarti."

Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Xujie, Guo Jia merasa istrinya sedikit demi sedikit sudah mulai terbuka. Sebelumnya, Xujie merasa malu mengungkapkan semua perasaannya secara langsung, walaupun tadi dia berbicara masih terbata-bata namun ia berani mengungkapkannya.

"...Kau sudah berubah, Xujie."

"Eh?" Xujie menoleh ke arah Guo Jia, ia mengedipkan matanya berkali-kali. Xujie bingung apa maksudnya. Karena saling bertatapan terlalu lama, Xujie mengalihkan pandangan kembali kearah batu nisan. "S-Sebaiknya kita mulai bakar dupanya dan berdoa..." ucap Xujie pelan.

"Ya..."


Setelah berziarah, mereka kembali dimana kuda putihnya ditinggalkan. Guo Jia membuka ikatan tali pada pohon, kemudian membantu Xujie menaikinya setelah itu gilirannya menaiki kuda.

"Apa kita langsung pulang, Fengxiao?"

"Hm... Kalau langsung pulang rasanya cepat sekali. Bagaimana kalau kita lihat-lihat disini? Seingatku kita bisa melihat pemandangan dari tepi tebing, dan juga air terjun."

"Pemandangan dari tepi tebing? Air terjun? Aku belum pernah melihatnya..." Xujie memiringkan kepalanya, ia mencoba untuk membayangkan seperti apa tempatnya. "Aku penasaran..."

"Baiklah, kita pergi ke tempat air terjun dulu."

"Um." Xujie mengangguk semangat.

-xxx-

"Kau bisa mendengar suara airnya, Xujie?"

"Suara air? Ng... Ah! Iya. Keras sekali. Kita sudah dekat disana ya?" tanya Xujie.

"Ya. Lihat." Guo Jia menunjuk ke depan. "Kita sudah sampai."

"Waaah! Hebat!" seru Xujie takjub, ia mengepalkan kedua tangannya dan tersenyum lebar. Guo Jia memberhentikan kudanya. Xujie langsung turun dari berlari ke tepi sungainya. "B-Benar-benar hebat!" seru Xujie lagi. Guo Jia tertawa pelan, ia turun dari kuda lalu mengikat tali kudanya di pohon. Xujie melepas sandalnya dan memasukkan kakinya ke dalam air. "H-Hangat! Sama seperti kemarin. Ah, jangan-jangan ini air dari gunung?"

"Ya. Ternyata kau tahu."

"Eh, tidak. Aku hanya menebak kok..." Xujie tertawa kecil. Lalu ia terus berjalan ke tengah sungai dan melihat dari dekat air terjun tersebut. Ia mengangkat kepalanya. "Tinggi sekali!"

"Xujie, mendekatlah kesini. Kau bisa basah." Guo Jia menariknya dengan perlahan. Ia juga sudah melepas sepatu dan melipat ujung celananya.

"Ah, iya—Uwah!"

Guo Jia langsung menangkap Xujie yang hampir terpeleset. Lengan kanannya melingkari tubuhnya dan lengan kiri menyentuh punggung Xujie. "Untung saja, kau sudah di dekatku." Ucap Guo Jia tersenyum.

"M-Maaf. Aku selalu saja ceroboh... aku terlalu senang sampai—ah?" Perkataan Xujie terpotong karena Guo Jia mencium pipinya. Wajah Xujie memerah padam.

"Kau terlalu sering meminta maaf, istriku."

"E-Eh, maaf—M-Maksudku...t-terima kasih." Ucap Xujie pelan. Guo Jia hanya tersenyum hangat padanya.


Setelah mereka bermain sungai dekat air terjun. Lalu mereka pergi menuju tebing agar bisa melihat pemandangan dari atas.

"Lihat."

"T-Tinggi! Hebat!" ucap Xujie kembali takjub. "Pemandangannya indah sekali!" Xujie tidak turun dari kuda, ia melihat pedesaan dengan pernghuni yang sibuk melakukan aktivitas masing-masing. Tapi mereka tidak dapat mendengarkan suara riuh para penghuni Yangzhai. Gadis itu kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan pemandangan indah dari sana. Kedua matanya bersinar, bibirnya menyinggungkan seulas senyuman bahagia, kedua tangannya menggenggam satu sama lain. "Fengxiao... Terima kasih."

Guo Jia tertawa pelan. "Senang kau menyukai tempat ini. Masih ada banyak lagi yang ingin kuperlihatkan padamu, Xujie." Ia menumpukan dagunya diatas kepala sang istri. "Jika negeri ini sudah damai, aku yakin akan semakin banyak tempat yang akan kita lakukan disana. Kita bisa menghabiskan waktu bersama dan membuat kenangan yang tak terhitung jumlahnya." Xujie mengangkat kepalanya agar bisa menatap Guo Jia. "Dengan demikian, hidupku lebih membahagiakan. Berkat dirimu yang akan menjadi pendamping hidupku, Xujie..."

"..." Xujie tersenyum malu, ia menundukkan kepalanya dan kembali melihat pemandangan. Xujie memegang kedua tangan Guo Jia yang kekar. "...Um, aku juga merasakan hal yang sama." Kemudian ia mendekatkan kedua tangan mereka dan menggenggamnya erat. "Aku harap kita bisa bisa meraih masa depan itu." Gumam Xujie pelan.

"Ya. Kita harus percaya." Ucap Guo Jia. Xujie menjawab dengan anggukan kepala.

Hari demi hari mereka tak kunjung bosan untuk menghabiskan waktu bersama, mereka terus membuat kenangan di setiap tempat mereka kunjungi.

Pada sore harinya, Xujie menjahit ruqun miliknya karena terlalu besar, sedangkan Guo Jia memerhatikan istrinya sambil meminum teh hijau. Chou Xin menghampiri mereka berdua, ia memberi hormat terlebih dahulu. "Tuanku, ada laporan. Bawahan Tuan sudah datang."

"Hm? Oh, baiklah. Terima kasih." Guo Jia bangkit dari kursinya dan keluar. "Tunggu disini, Xujie. Aku akan kembali."

"Eh? Ada apa?"

Guo Jia mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum. "Kau akan tahu sebentar lagi." Lalu ia keluar dari ruangan. Xujie hanya menatapnya penasaran, ia menghela napas panjang dan meneruskan jahitannya.

"Huh, apa ya. Fengxiao terus saja membuatku penasaran..." Xujie menggembungkan sebelah pipinya.

-xxx-

"...Maafkan hamba. Hanya itu yang dapat hamba cari." Ucap prajuritnya dengan wajah merasa bersalah dan membungkukkan badannya.

"Begitukah. Tak apa."

"Lalu, sebenarnya masih ada satu hal lagi, Tuanku."

"Hm?"

"Setelah saya mencari informasi tersebut. Dia menyadari saya, dan dia memaksa hamba untuk mengatakan tujuan hamba."

"...Oh, itu lebih bagus."

"M-Maaf?" Prajurit tersebut mengangkat kepalanya.

"Dia akan menemuiku secara langsung, benar begitu?" ucap Guo Jia tersenyum.

"Ya, Tuanku." Prajurit tersebut mengangguk.

"Kalau begitu, ini tugas terakhirmu. Besok siang, bawa dia kesini."

"...B-Baik Tuan! Saya akan melaksanakannya sekarang juga." Prajurit tersebut memberi hormat kemudian mengundurkan diri.

Kemudian Guo Jia kembali ke dalam menemui Xujie, ia tidak pernah berpikir 'dia' akan menemuinya secara langsung. Dengan demikian, Xujie akan senang.

"Xujie—"

Didapatinya Xujie sedang menjahit dan terlihat berpikir sangat keras sambil menjahit ruqunnya. Ia juga menggumam sesuatu yang tidak terdengar jelas oleh Guo Jia. Suaminya menaikkan alis dan menatap Xujie heran, lalu ia duduk disamping istrinya.

"Xujie? Ada apa?"

"...Tidak...Tidak mungkin... ya kan...Haha... Pasti itu—" Xujie berhenti bergumam, ia baru menyadari seseorang duduk disampingnya. "Kya! Terlalu dekat!" Xujie mundur.

"Kau terlalu cemas, Xujie. Semuanya akan berjalan lancar." Guo Jia tertawa pelan.

"...Um, aku tidak mengerti apa maksud Fengxiao tapi baiklah... Kalau Fengxiao berkata begitu." Xujie mengambil jarum jahit dan ruqun-nya. "Auh!" Xujie menjerit kecil, jari telunjuknya tertusuk jarum. "Huuuh, kenapa aku selalu saja seperti ini sih—Eh?" Guo Jia langung menyentuh jarinya dan mengecup jari telunjuknya yang mengeluarkan sedikit darah segar.

"Kau tidak apa?"

"E-Eh? Tidak terlalu sakit kok..." ucap Xujie datar.

"Begitu?" Guo Jia melepas tangannya. "Hm? Hanfu ini?"

"Ah. Gawat. Ketahuan..." Gumam Xujie. Ia mengalihkan pandangan.

"Bukannya tadi kau menjahit ruqun milikmu?"

"T-Tadinya iya, kukira Fengxiao akan pergi lama. Jadi... aku membuatkan hanfu baru... untuk Fengxiao." Ucap Xujie tersipu dan masih tidak menatapnya. "Sebenarnya aku akan memberi ini pada Fengxiao kalau hanfu-nya sudah selesai kujahit..."

Guo Jia tertawa pelan. "Begitukah." Ia mengambil hanfu tersebut. "Jahitanmu bagus sekali dan kau mengerjakannya sangat cepat."

"...S-Sungguh?" Xujie tertawa kecil. "Aku baru saja selesai mengerjakannya. Jadi... pakailah." Ucap Xujie pelan dan tersenyum kecil. Guo Jia kemudian memasangkan hanfu tersebut. "A-Ah, terlalu besar." Ucap Xujie kecewa.

"Tidak kok. Terasa pas sekali."

"Benarkah? Syukurlah..." Xujie menghela napas lega.

Guo Jia mengurut dagunya. "Kau memang hebat mengerjakan pekerjaan rumah. Kau sudah menjadi istriku yang sempurna." Puji Guo Jia.

"E-Eh? T-Tidak sebegitunya kok... A-Aku masih perlu banyak belajar. T-Tidak mungkin aku melakukannya dengan sempurna kan... Dan...um...A-Aku pasti punya kelemahan dalam hal itu." Xujie mengangguk kencang. "A-Ah, aku bicara terlalu banyak...!" Guo Jia hanya tertawa pelan mendengarnya. "K-Kenapa Fengxiao tertawa!?" tanya Xujie panik.

Guo Jia memeluk Xujie sambil membelai rambutnya. "Kau selalu menghiburku, Xujie."

"E-Eh...?" Xujie mengangkat kepalanya.

"Xujie, terima kasih." Guo Jia mengecup pipi kanannya dengan penuh kasih sayang. Wajah Xujie memerah hebat dan dia kembali kesulitan berbicara.

"K-Kembali..." ucap Xujie pelan.


Sementara itu, di suatu desa yang terpencil. Dua orang prajurit yang mengendarai kereta kuda turun. Seorang wanita berambut hitam pendek melipat tangannya.

"Nona. Kami akan mengantarkan Nona kesana sekarang. Silakan naik."

"Heh. Laki-laki memang menyebalkan." Gumamnya. Ia pun menghampiri kereta tersebut, salah satu prajurit membukakan pintu kereta dan mempersilakan wanita itu masuk ke dalam.

"Yujie!" seru seorang wanita yang juga memiliki rambut hitam panjang bergelombang sebahu. "Tunggu sebentar."

"Chen? Ada apa? Kan sudah kubilang aku akan kembali secepatnya."

"Aku tahu itu. Tapi kalau terjadi apa-apa padamu..."

"Apa sih? Kau cemas? Aku tidak tahu mereka ini menjebakku atau tidak, aku akan kembali secepatnya. Jika adikku benar-benar ada disana. Aku akan membawanya pulang." Dua orang prajurit tersebut merasa kesal dengan sikap wanita bernama Yujie tersebut, ia tidak segan-segan menghina mereka bahkan mereka tepat didekatnya. Chen menghela napas.

"Baiklah... Hati-hati."

"Cerewet ah." Yujie langsung masuk kedalam kereta. "Ayo! Cepat!" seru Yujie kesal.

"B-Baik!" Mereka bergegas menaiki kuda dan mengendarainya menuju tempat tertentu.

"Membawa Xujie pulang... kah? Benar juga. Sudah berapa tahun aku tidak bertemu dengannya. Kira-kira dia seperti apa ya sekarang?" gumam Chen sambil memandang langit cerah.


A/N :

Blossom : Yosha! Siap-siap Yujie! Mou sugu kisama no deban da!
Scarlet : WOI! SPOILER! WOI! *lakban mulut Blossom*
Blossom : ...(kusso)
Scarlet : Abaikan saja Blossom. Oke? OKE!?
Blossom : *buka lakban* Osoi sugi da! Ohohohoho!
Scarlet * ikat Blossom di pilar, lakban lagi mulut Blossom*
Guo Jia & Xujie : ... *sweatdrop*
Scarlet : Oke! Mohon reviewnya! Pretty please!