Previous Chap :
Gadis itu menatapnya lama. Tak sekali pun ia berkedip.
"Seperti yang kuduga. Selera lagumu memang aneh."
If our love... is tragedy, why are you my remedy?
If our love's... insanity, why are you my clarity?
Dan bagaikan suara yang dilatarbelakangi oleh lagu Zedd – Clarity itu, Sakura pun bergetar. Bergetar di tengah keterpakuannya terhadap sosok Sasuke Uchiha. Dimulai dari garis bibirnya, rahang, kacamata, rambut biru dongker, serta suara baritonnya yang benar membuat Sakura bahagia.
Semua itu tak bisa Sakura pungkiri lagi.
Jantungnya menggila. Nyaris membuatnya air matanya terjatuh tanpa alasan.
'Apa... aku benar-benar sudah jatuh cinta?' Ia membatin lirih. 'Jatuh cinta... ke orang cupu sepertinya?'
Di detik itu, semuanya pun terasa begitu lambat... dan membahagiakan.
.
.
Blam!
Setelah sampai ke dalam kamar pribadinya, gadis bersurai merah muda itu menutup pintu dengan dorongan punggung. Ia hela nafas panjang-panjang dan kemudian terdiam di tempat. Tali tas jinjing yang semula tersampir di bahunya pun merosot turun, menjatuhi bagian atas koper yang gagangnya masih ia pegang erat.
Dan Sakura memejamkan mata.
Hari ini ia baru pulang dari kegiatan outing sekolah. Namun saat ia menginjakkan kaki di rumah, bukannya menyapa kedua orang tuanya yang sedang menyantap hidangan bersama di ruang makan, Sakura malah buru-buru menaiki anak tangga. Berlari ke lantai dua dan mengunci dirinya di dalam kamar.
Saat ini ia sedang ingin sendirian. Sebab dari belasan jam yang lalu otaknya penat karena terus diselubungi oleh bayangan Sasuke Uchiha.
Perlahan-lahan pipi Sakura merona. Dirinya kembali mengingat kejadian di siang lalu—sewaktu di bis. Duduk di sebelah Sasuke dan mendengarkan lagu dengan headset yang sama.
Hal itu mungkin sepele, tapi efeknya besar bagi Sakura. Sasuke pasti tidak tau seberapa keras jantungnya berdegup ketika momen itu berlangsung. Apalagi saat ia melirik Sasuke di bangku sebelah, menangkap ekspresi orang cupu yang terlihat unik di matanya. Dimulai dari gerak bibirnya; kadang datar, kadang turun, kadang bergerak dan kadang kali mengeluarkan kalimat yang menyebalkan.
Seharian ini Sakura memang marah-marah ke Sasuke, namun gadis aries tersebut tidak kesal. Ia malah senang, menikmati tiap waktu yang bergulir ketika mereka berdua bertarung bacotan yang di ujungnya selalu ia menangi.
Terus terang saja, semua itu menyenangkan. Tapi sayangnya kejadian di bis tak berlangsung lama. Sesampainya rombongan di stasiun mereka harus berpindah tempat duduk dari bis ke kereta. Karena alat transportasi utama untuk kembali ke Tokyo ialah kereta. Bis hanya menjadi perantara dari kota Ame ke stasiun.
Sakura menghela nafas. Kelima jari di tangannya bergerak, mencengkram pakaiannya. Lalu ia menggeleng ragu.
Dari semua perasaan yang telah ia rasakan ke Sasuke, perlahan-lahan Sakura mulai sadar. Tampaknya ia telah sungguh-sungguh menyukainya. Orang cupu yang sebelumnya ia masuk ke dalam list laki-laki yang paling dibencinya.
Iya, kan?
"Ahh!" Ia berteriak frustasi. "Sasuke cupu! Kenapa aku bisa sukanya sama yang begituan sih!?"
Sakura berlari maju dan menjatuhkan tubuhnya ke permukaan kasur. Seketika dirinya memeluk guling dan membenamkan wajahnya ke bantal. Tak peduli dengan tubuhnya yang masih kotor, Sakura memilih untuk tidur. Tentunya sambil menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
.
.
.
TWINS ALERT!
"Twins Alert!" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[SasuHina—SasuSaku & NaruHina]
Romance, Friendship, Drama
AU, OOC, Typos, Multipair, etc.
.
.
TWELFTH. Suka ke Siapa?
.
.
Setelah outing murid-murid diberikan waktu libur selama beberapa hari. Itu mereka gunakan untuk beristirahat. Dan ketika memasuki hari Senin, tibalah momen di mana warga Konoha Internasional High harus kembali masuk dan menjalankan rutinitasnya di sekolah seperti biasa.
Tidak jauh berbeda dari sebelumnya, suasana pagi di koridor telah ramai oleh gosip yang sedang hangat-hangatnya untuk dibicarakan. Hanya saja kali ini berita tersebut terkesan lebih heboh, apalagi dengan bukti keromantisan 'dua insan itu' saat kegiatan outing kemarin.
Ya, siapa lagi kalau bukan Naruto dan Hinata, pria idaman sekolah dan seorang gadis kuper.
Kabar-kabarnya mereka baru dekat. Dan Naruto lah yang pedekate duluan.
Ada yang memuji-muji pasangan itu, dan ada juga yang mencela. Sebagian dari warga sekolah mengira kisah mereka se-so sweet drama-drama romantis yang sering ditayangkan di televisi. Sedangkan sisanya kesal karena tidak terima Naruto yang tampan bisa didapatkan oleh gadis berkacamata tebal yang entahlah dari mana sisi menariknya. Biasalah, alasan klise.
Sebetulnya banyak anggota Naruto FC yang juga sedih dan nyaris menangis saat mendengar berita tersebut, termasuk Shion, ketua FC yang berada di bangku kelas XII. Tapi tidak ada yang bisa berbuat apa-apa selain mendukung keduanya. Sebab kebahagiaan Naruto Uzumaki adalah kebahagiaan mereka. Itulah motto dari Naruto FC.
Toh, lagi pula Naruto dan Hinata belum pacaran. Baru gosip doang kalau si Naruto lagi mendekati Hinata. Seperti hari ini misalnya...
Naruto sengaja datang lebih awal. Kali ini pakaian pria jabrik itu tersetrika sampai mulus. Kancingnya pun terkait dari bawah sampai atas. Bahkan sisa-sisa kemeja—yang biasanya ia biarkan keluar—telah ia masukan ke dalam. Pria itu bukan lagi mencoba mengikuti gaya formal Sasuke dan Hinata dalam berpakaian. Ia hanya ingin rapi.
"Cie, mau ke mana nih~?"
Naruto hanya berdesis sambil meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir kalau ada orang yang bersiul kepadanya. Ia tidak peduli pada pandangan yang lain, jadi ia tetap berdiri tegap di depan loker sepatu milik siswa-siswi kelas XI-A.
Parfum citrus yang menguar dari tubuhnya membuat banyak murid perempuan yang melirik, memperhatikan Naruto yang selalu dapat memikat mereka dengan sejuta karisma. Pria tan itu melipat kedua tangannya di dada, sementara bahunya menyandar di salah satu sisi loker. Lama terdiam, Naruto mengisi waktu dengan menata ulang rambutnya yang menantang gravitasi.
"Tumbenan udah dateng..."
Naruto menoleh dan mendapati Sakura. Ia menaruh sepatunya ke loker lalu menggantinya dengan alas kaki yang sekolah sediakan. Karena siswi pink itu sekelas dengan Hinata, wajar kalau letak loker mereka berdekatan. Kemudian iris emerald Sakura mengernyit melihat penampilan Naruto yang lumayan asing di pandangannya.
Naruto hanya nyengir.
"Rapi banget."
"Iyalah."
"Mau ngapain?"
"Aku mau menyambut kedatangan seorang malaikat."
"Kamu mau mati, ya?"
"Enak aja. Ini malaikat versi manusia, tau."
Alis Sakura naik. Namun karena dia lagi tidak mood mengurusi kekepoannya, akhirnya dia melambaikan tangan dan melintas di sebelah Naruto dengan tenang. "Yaudah. Good luck dan bye, ya."
Naruto menjawab seraya mengangguk singkat.
Beberapa menit usai Sakura menghilang dari pandangan, terdengarlah obrolan kecil dari arah depan. Dari nadanya yang lembut dan kekhasan tutur katanya, Naruto menoleh cepat. Ia hafal di luar kepala siapa pemilik suara tadi. Hinata Uchiha pastinya. Gadis berkepang dua itu sedang berbicara sama kakaknya yang hanya menanggapinya dengan kata-kata irit.
Naruto menegakkan tubuhnya. Ia menepuk-nepuk debu dari baju dan berdehem.
"Hai."
Hinata mengadah—menatap lurus. Dilihatnya Naruto yang tersenyum lebar kepadanya. Di balik kacamata besarnya Hinata mengerjap pelan. Ia kaget. Bibirnya terkatup dan kulit pipinya memanas. Mungkin dia malu, Naruto bisa membaca dengan mudah gerak-gerik siswi manis yang satu itu.
"A-Aa... h-ha—"
Naruto menahan nafas. Caranya tergagap, caranya memeluk buku, caranya bercicit benar-benar imut. Mirip malaikat kecil~
"Hai."
Senyuman Naruto sontak melonggar ketika didapatinya Sasuke yang meneruskan jawaban sang adik. Jelas dengan irama berat yang penuh penekanan. Semacam nada permusuhan.
"Apa?" Sasuke bertanya. Ekspresinya datar. "Aku cuma membantu Hinata untuk menjawab."
"Kalo gitu makasih deh, 'Niisan'..." Naruto balas memberikan penekanan, lalu ia dia fokus ke Hinata. Ia memasang wajah cerianya lagi. "Bareng yuk ke kelas?"
"Ngga usah. Dia akan menemaniku ke ruang administrasi. Kami mau bayar uang sekolah." Sasuke menambahkan. Ragu-ragu Hinata mengangguk. "Lagian ngapain barengan? Kalian ngga sekelas."
"I-Iya... g-gomen ne, Naruto-kun."
Naruto memasang wajah lempeng.
Ganggu orang pedekate saja. Seandainya Sakura tidak pergi cepat, pasti dia akan memblokade Sasuke agar tidak mengganggunya dengan Hinata. Hh, tapi kalau terlanjur begini mau bagaimana lagi? Naruto belum mau menyerah.
"Yaudah, aku ikut, yaa."
"Siapa yang ngizinin kau ikut?"
Toh, saingannya untuk merebut hati Hinata paling cuma kakaknya yang kelewat sensi.
Naruto memeluk tangan Sasuke. "Hee? kok gitu sih, Sasuke-nii? kita kan teman sekelas~!"
"Jangan panggil aku 'Sasuke-nii', dasar menjijikkan." Sasuke menarik tangannya dengan kasar. "Dan juga lepasin tanganku."
Hinata hanya bingung di tempatnya.
Tampaknya Naruto sedang berusaha berkawan dulu dengan Sasuke. Manja-manja sama dia juga tak apa deh. Asal nantinya dapat restu.
.
.
~zo : twins alert~
.
.
Beberapa jam setelahnya, kelas XI-B sedang melangsungkan pembelajaran. Sasuke duduk diam di deretan bangku terbelakang. Dia tidak sedang menyimak penjelasan yang saat ini Kakashi-sensei terangkan di depan, dia hanya melamun. Melamunkan sebuah pemikiran yang lumayan mengganggunya.
Bukan tentang Sakura Haruno, tapi Naruto Uzumaki—seorang siswa eksentrik yang sekelas dengannya di ruangan ini.
Sebenarnya Hinata juga terlibat di pikirannya. Singkatnya Naruto dan Hinata.
Sambil menghela nafas Sasuke menaruh pena yang dia pegang ke atas buku. Ia pun bertopang dagu dan kemudian menghadapkan kedua pendar onyx-nya ke punggung Naruto yang sedang membungkuk. Pria tan itu duduk di bangku tengah, dan dia tertidur dengan lelap. Sasuke terdiam. Ia meneliti.
Kalau amati dari penglihatan Sasuke, Naruto bukan termasuk tipe-tipe pria berbahaya ataupun brengsek. Malah terkesan polos dan childish. Namun tetap saja ia kurang suka apabila adiknya bersama laki-laki seperti Naruto. Terlebih lagi dulu Hinata pernah dibuat nangis oleh pria pirang itu.
Tapi mengingat Hinata yang selalu tersenyum untuknya, sedikit jahat kalau ia mencegah Naruto mendekati Hinata. Dia nyaman dengannya. Itu bisa dilihat dari raut wajah si Uchiha bungsu yang begitu cerah saat berada di samping Naruto.
Mungkin sudah saatnya membiarkan Hinata berpacaran.
Sasuke mendesah pelan, ia coba buyarkan pikirannya agar bisa kembali fokus ke whiteboard, di mana banyak catatan materi yang harus disalin ke buku tulis.
"Hoaaaamm...!" Tiba-tiba suara menguap itu keluar dari mulut Naruto. Sasuke—bahkan Kakashi-sensei dan warga kelas—memperhatikannya. Naruto yang masih tertidur berubah posisi. Dan karena pria itu memiringkan wajah, pipinya diletakkan di permukaan meja, dari jarak bangku yang tidak terlalu jauh Sasuke dapat melihat iler bening yang membasahi mulut Naruto.
Sasuke berdesis, sedangkan yang lainnya tertawa.
Tidak ia sangka Hinata menyukai orang jorok.
Kriiiiing!
Bel tanda istirahat berdering. Sontak saja raut wajah malas-malasan berubah menjadi ceria. Bahkan yang awalnya mengantuk pun langsung segera menegakkan posisi duduk mereka masing-masing sambil meregangkan badan. Hal tersebut sangat berlaku buat Naruto Uzumaki.
Setelah guru bermasker itu pamit, tanpa memedulikan catatan mereka yang belum lengkap, siswa-siswi langsung berhambur keluar, melakukan kegiatannya masing-masing.
Sasuke pun sama. Ia menutup buku. Setelahnya ia bangkit. Berbeda dari yang lain, ia tidak berminat ke kantin. Siswa berkacamata tebal itu mau ke toilet. Tapi saat ia baru membuka pintu kelas, pandangan matanya disambut oleh siswi bersurai pink sedada yang kali ini hanya seorang diri—tidak ditemani Ino, Tenten atau siapa pun di balik punggungnya.
Itu Sakura. Sakura yang sudah melipat kedua tangannya di dada. Mata mereka bersibobrok. Sasuke tak bergerak. Otaknya sibuk memikirkan apa alasan gadis itu ke kelas XI-B.
"Naruto lagi ngga ada." Katanya sambil melangkah melewatinya. Tapi belum sampai tiga langkah, tangan Sakura menangkap kemejanya.
"Aku nyari kamu. Bukan Naruto..."
Sasuke menatap gadis yang sedikit lebih pendek di bandingkan dirinya. Dan dari sela wajah mereka, Sasuke dapat melihat sepercik kegugupan dari wajah cantik itu. Tapi tentu saja raut kejutekannya masih mendominasi.
Dia terlihat seperti tsundere.
"Aku mau ke kantin. Temenin aku."
Sasuke menolak seraya menaikkan kacamatanya. "Aku ada tugas. Sana cari orang lain."
Bibir Sakura mengerucut dan alisnya menukik turun. "Ino sama yang lain pada sibuk."
"Aku juga sibuk."
Ia kembali menarik kemeja Sasuke. "Pokoknya temenin aku ke kantin!"
Sasuke memutar matanya. Ia kira setelah outing sifat Sakura juga berubah, ternyata tetap persis seperti sebelumnya.
.
.
~zo : twins alert~
.
.
"..."
Kedua manik mata Sasuke terus memandangi Sakura yang berada di hadapannya. Mangkuk udon berukuran sedang dan juga sushi menghiasi permukaan meja kantin yang saat ini mereka tempati. Secara tak langsung kedua makanan enak itu diabaikan Sasuke yang masih tidak mengerti maksud kelakuan Sakura.
Kalau dulu sih Sakura cuma mengajaknya ke sini untuk mempermalukannya doang. Seperti menyuruhnya membelikan makanan atau mungkin menghina-hinanya dengan bangga di depan umum. Tapi sekarang berbeda. Bahkan jajanan yang tersaji adalah hasil traktiran gadis itu.
"Ayo dimakan." Sakura memulai.
"Kau lah yang makan."
"Aku? Aku ngga makan. Dua makanan ini buat kamu kok."
Sasuke kembali terdiam. Menyentuh sumpit pun tidak.
"Buat apa mengajakku ke sini?"
Sakura tersenyum tiga jari. "Aku cuma mau ke kantin. Emangnya itu salah ya?"
"Salah." Sasuke menjawab cepat, ia tidak mau kalah. "Aku ngga lapar. Kalau kau minta ditemenin, harusnya kau yang makan."
"Udahlah jangan alesan. Mana mungkin kamu ngga lapar."
Sasuke membuang muka. Karena malas berdebat, ia mulai memakan udon-nya. "Ck, ngerepotin aja bisanya."
Kalimat Sasuke membuat urat di dahi Sakura berkedut kesal. Tapi mau bagaimana pun juga, Sasuke yang dia sukai adalah Sasuke yang menyebalkan. Jadi tak apa. Sakura tersenyum lebar di dalam hati. Toh, ia tetap nyaman. Dia suka sama pria itu sih.
Merasa tak ada alasan lagi untuk menutup-nutupi perasaannya, Sakura bertopang dagu sambil memperhatikan wajah Sasuke yang berada di depannya. Sesekali ia bersenandung senang.
"Diamlah. Ini bukan rumahmu." Mata Sasuke menatapnya, sedangkan Sakura memejamkan mata sambil menggeleng.
"Bukan urusanmu."
Sakura benar-benar menyerupai sang ratu yang baru pertama kali jatuh cinta. Menunjukkan rasa suka dan rasa kesal secara frontal.
Ya, memang. Bagi Sakura pribadi, sudah lama sekali ia tidak merasakan hal seperti ini; mengalami emosi cinta yang berdasarkan dari sifat. Entahlah saat ini Sasuke menyukainya juga atau tidak. Ia tak peduli. Yang penting ia bisa menikmati kejadian-kejadian yang dialaminya bersama Sasuke Uchiha, seorang siswa berkacamata yang rambut raven-nya selalu mencuat di bagian belakang.
"Sasuke, ini..."
Tiba-tiba Sakura mengangkat sushi pesanannya dengan sumpit. Melihatnya, Sasuke memasang ekspresi stoic.
"Buat siapa?"
"Buat orang cupu yang ada di depanku."
Sasuke memandang mata emerald Sakura. Sekitar lima detikan. Lalu ia kembali menyantap udon-nya sendiri, mengabaikan sushi yang gadis itu sodorkan secara sengaja. Sakura pun berdecak. Tidak mau menyerah sekaligus menanggung malu, segeralah ia tempelkan sushi tersebut ke bibir Sasuke.
"Cepet makaan! Udah bagus aku suapin!"
Sasuke menolak. Ia memalingkan wajah. Tapi sushi Sakura tetap mengikutinya. Dan karena Sakura tak berhenti memberikannya paksaan, Sasuke memakan sushi tunanya dengan wajah kesal. Meski wajahnya tetap datar ada sudut siku-siku yang tertempel jelas di keningnya.
"Nah, gitu dong..." Sakura tertawa. Senyumannya yang lebar terpatri di bibirnya yang tipis. "Sekarang lagi, ya."
Sakura memberikannya sepotong sushi lagi. Sasuke sempat tak merespons. Tapi saat sushi itu diletakkan di depannya, sekarang ia memakannya tanpa basa-basi. Sakura sampai heran sendiri karenanya. Ada sebuah perasaan senang.
"Wah, tumbenan mau aku suapin—eh?" Saat Sakura mau menarik sumpit dari mulut Sasuke, ia tidak mengizinkannya. Tampaknya pria itu menggigit ujung sumpit. Dan akhirnya Sasuke menarik sumpit tersebut dan kemudian melepaskannya ke lantai.
Sakura mendelik. Jari telunjuknya mengacung ke depan wajah pria raven itu. "Oh, jadi kau sengaja membuangnya ke lantai supaya aku ngga nyuapin kamu lagi, ya!"
Sasuke memilih untuk memakan udon-nya kembali. Tanpa bicara sepatah kata pun.
"Hih, nyebelin! Sasuke nyebelin!"
"Ehm."
Seseorang dari kejauhan berdehem.
"Ehm, ehm, ehm, ehmm..."
Sakura menoleh ke arah kiri—asal suara. Lagi-lagi dilihatnya Ino, Tenten, Kiba dan teman-temannya yang lain sedang menggodanya. Tidak tau kenapa selalu ada mereka kalau dirinya sedang berduaan dengan Sasuke. Padahal Sakura sengaja duduk di wilayah kantin yang cukup jauh dari tempat rombongannya biasa berkumpul.
"Kalian apa-apaan sih!?" Sakura marah. Tapi tidak dapat dipungkiri lagi pipinya sedikit memerah. Apalagi baru kemarin ia menceritakan perasaannya mengenai Sasuke ke Ino—hanya Ino. Tapi kelihatannya gadis pirang berkuncir satu itu sudah menyebarkannya ke semua orang. Tau sendirilah seberapa ember mulut seorang Ino Yamanaka.
"Ada yang ngga mau kalah nih sama Naruto..." Godanya. "Dulu bilangnya ngga suka, tapi sekarang malah—"
"Ki-Kiba, kamu diem aja deh!" Sakura berdesis pelan. Sebenarnya ia lebih malu kalau Sasuke mendengar kalimatnya. Sepertinya sepulang sekolah ia harus memberikan pelajaran tata krama ke pria pencinta anjing itu.
Bukannya berhenti, Kiba dan yang lainnya malah kian bersorak. Dan karena tidak tahan dengan kelakuan teman-temannya, Sakura memilih membuang muka. Ia berdiri.
"Tau, ah. Aku mau pergi aja." Katanya, sengaja dibesar-besarkan agar Sasuke tidak salah paham—takutnya Sasuke mengira dirinya suka; walau itu memang benar. Tapi sebelum pergi sungguhan, ia mencoba berbisik sebentar kepadanya.
"Sasuke, aku mau bicara pas pulang sekolah. Aku nunggu di lab Biologi, ya." Ucapnya cepat. "Awas kalau ngga dateng."
Sesudah ancaman itu Sakura melenggang pergi. Ia tinggalkan Sasuke sendirian di meja dengan beberapa makanan yang masih setengah utuh.
.
.
~zo : twins alert~
.
.
Berjam-jam setelahnya, di pukul 15.00 tepat sekolah dibubarkan. Itu tandanya semua murid diharuskan pulang ke rumahnya masing-masing. Di bangkunya Sasuke menghela nafas dan melirik jam. Tentu saja ia masih mengingat janjinya dengan Sakura, yaitu ketemuan di ruang lab Biologi.
Sasuke tidak tau apa maksud orang itu memintanya ke sana. Akhir-akhir ini Sakura memang suka tidak jelas. Paling ujung-ujungnya di lab dia cuma dimarah-marahi sambil dikritik sampai sore. Tapi itu biasanya terjadi kalau mereka ada masalah. Kan sekarang hubungan mereka damai-damai saja.
Malas berpikir, Sasuke mendengus. Ia hempaskan buku-buku pelajarannya ke tas.
"Uchiha-san?"
Pria berambut biru dongker itu menoleh ke arah pintu. Di sana ada kepala Shion yang menyembul dari sela pintu.
"Lagi apa?" Berhubung siswa-siswi kelas XI-B di ruangan ini banyak yang telah keluar, Shion memberanikan dirinya untuk berbaur masuk dan menghampirinya. "Udah seminggu ngga bertemu denganmu." Katanya sambil tertawa kecil. "Kamu terlihat semakin tinggi..."
Sasuke mengangguk. Kemarin kan mereka memang outing ke tempat yang berlainan. Kelas XI ke kota Ame dan kelas XII ke kota Iwa. Jadi wajar kalau Shion mengatakan itu.
"Kelas hampir sepi loh. Ayo pulang bareng-bareng..."
"Kau duluan aja. Aku harus ke lab."
"Lab? Untuk apa?"
"Ketemu... orang."
"Siapa?"
"Sakura."
Shion refleks membuat mulutnya menjadi huruf 'O'. "Aku baru tau kalo kamu sama Haruno itu akrab. Soalnya pas terakhir kali lihat interaksi kalian, jaman Sakura marah-marah terus kepadamu, kupikir kalian saling benci..." Lalu gadis bersurai pirang pucat itu mengingat-ingat. "Terus pas jam istirahat siang aku sempat nemu kalian lagi berduaan di kantin..." Katanya sambil tertawa kecil. "Apa jangan-jangan kalian sudah pacaran, ya? Ayo ngaku..."
Sasuke menguap. "Ngga usah dibahas."
"Aa, Uchiha-san jahat..." Ia cemberut, tapi dengan mudahnya ia memutar topik. "Oh, iya, apa kabar Naruto-kun? Dia kemarin outing-nya sekelompok denganmu, kan? Kamu sempat foto-foto sama dia, ngga? Kayak foto pas dia tidur, atau lagi jalan-jalan gitu. Kalau ada aku minta, ya!"
Shion ber-fangirling-an. Sepertinya itulah niat awal Shion Miiko mendatanginya ke sini.
"Lalu bagaimana kabar adikmu? Dia kan siswi yang lagi dideketin Naruto-kun! Uchiha Hinata hebat, ya! Aku ngiri banget sama dia~! Pasti seru kalau dideketin sama Naruto-kun! Kyaaa!"
Dia kembali OOC dan Sasuke mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Perempuan memang selalu aneh kalau lagi membicarakan orang yang ditaksirnya...
.
.
~zo : twins alert~
.
.
Tep.
Kaki Sasuke menapak di koridor lantai tiga. Pria berkacamata itu melanjutkan perjalanannya sampai dia berdiri di depan pintu besar. Dari papannya tertulis 'Lab Biologi'. Perlahan tangannya meraih kenop yang terpasang di sana, tapi ia tidak langsung membukanya. Ia terdiam sesaat.
Ia luruskan wajah dan melihat kaca tembus pandang yang ada di badan pintu. Sasuke memperhatikannya. Memperhatikan sosok Sakura yang sedang duduk sendirian di bangku depan kelas. Dia memilih tempat yang dekat dinding, sehingga punggungnya bisa ia sandarkan ke sana.
Sakura melipat kedua tangannya di dada dan manik hijaunya terasa kosong. Dia pasti melamun.
Cklek.
Sakura menoleh.
"Ah, rupanya kamu udah dateng..."
Sasuke menatapnya. Sorotan mata mereka bertemu lama. Sampai akhirnya Sakura kembali menghadap ke depan—sedikit menunduk. Tangannya sibuk membereskan buku-bukunya yang masih berantakan di atas permukaan meja.
"Kok ngga ngetuk sih? Bikin kaget aja."
Sasuke tak menjawab. Ia malah berjalan maju, memilih sebuah bangku yang agak jauh dari meja yang Sakura gunakan. Namun suara gadis itu terlebih dulu mencegahnya.
"Kenapa harus jauh-jauh? Di sini kan banyak kursi kosong..."
Nada menyebalkan ala Sakura Haruno keluar. Sasuke memberikannya tatapan datar dan kemudian mematuhinya. Ia letakan tas selempang hitamnya ke meja yang berada tepat di sebelah Sakura. Namun Sasuke tidak duduk. Ia malah menempelkan pinggangnya ke meja lalu matanya terus mengamati Sakura.
"Perlu apa manggil ke sini?"
Sakura mengangkat bahu. "Harus ya ngomong to the point gitu?"
Sasuke berdecak. Fix, semenjak siang tadi ada yang berbeda dari Sakura. Tapi Sasuke kurang tau di bagian mananya. Barangkali dia menjadi... lebih aneh, menyebalkan dan sering menyuruhnya melakukan hal-hal yang tak berguna, kali ya? Walau dulu sebenarnya juga begitu; seperti menemaninya shopping dan lain-lain. Hanya saja hari ini segala kemauannya menjadi dua kali lipat lebih tidak penting.
"Kalau ngga ada urusan, aku pulang."
"Enak aja." Sakura menangkap tangan Sasuke. Mengaitkan jemarinya dengan sengaja. "Siapa yang ngizinin kamu pergi?"
"Lalu sekarang kau butuh apa?"
Sakura—yang sudah menghadap Sasuke—segera mengadah. Wajah cantiknya menatap Sasuke yang sedang berdiri dari bawah. Pegangan Sakura mengerat.
"Sasuke..."
"Hn?"
Gadis itu tersenyum lebar sampai giginya terlihat.
"Kenapa kamu nyebelin banget?"
Angin sore berhembus, dengan cepat masuk ke dalam kelas karena jendela di sebelah Sakura terbuka lebar. Helaian merah mudanya yang bergoyang pelan.
Sasuke sedikit menunduk—memberikan tatapan balasan. Ia membiarkan jemari lentik Sakura menyentuh tangannya. "Itu pertanyaan?"
"Iya. Cepet jawab."
Sakura terkekeh pelan. Diam-diam Sasuke memperhatikan pendar emerald yang sangat indah di kedua matanya. Sebab pandangan Sakura di detik ini terasa lain. Dia terkesan lebih lembut, mencerminkan sebuah perasaan hangat yang tidak bisa didefinisikan olehnya pribadi.
"Mana jawabanmu?"
"Ngga ada jawaban."
Sakura bergumam. Ia berpikir.
"Yaudah... ganti pertanyaan. Coba kasih tau tipe cewek kesukaanmu."
Sasuke terdiam sebentar. Ia tidak mengerti apa maksud Sakura yang menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh.
"Sasuke lama nih..."
"Ngga ada."
"Ahh, jawabannya itu terus..."
"Kau mau aku jawab apa?"
"Aku juga bingung." Sakura meremas tangan Sasuke. "Jujur aja itu basa-basi. Aku cuma mau ngobrol lebih banyak denganmu. Tapi sayangnya aku ngga tau mau ngomong apa."
Srek.
Sakura bergerak. Kali ini berdiri secara tiba-tiba. Membuat keduanya menjadi berhadapan. Jarak di antara wajah mereka hanya terpaut satu jengkal. Dan tak ada satu pun dari keduanya yang berniat memundurkan kepala mereka agar menciptakan sekat yang lebih leluasa.
"Kalau begitu kita langsung aja..." Sakura menatap Sasuke. Lurus dan tegas. "Menurutmu... aku ini bagaimana?"
Sasuke nyaris tak bisa bernafas saat Sakura memberikan pertanyaan barusan kepadanya. Kalau saja kacamatanya diepas, mungkin gadis pink itu akan melihat matanya yang sedikit terbelalak. Ia sendiri juga tidak tau kenapa dia bisa begitu.
Dan setelah beberapa saat terlewat, Sasuke mengeluarkan suara. "Apa maksudmu?"
"Apa aku ini cantik? Baik? Nyebelin? Atau apa?" Sakura mendesak. Tangannya menggenggam keras tangan Sasuke yang masih dipegangnya. "Apa bagimu ini aku menarik?"
"Kh..." Baru sekarang Sasuke ingin mundur selangkah tapi tangan Sakura duluan menahan kemejanya di bagian dada. "Kau ini apa-apaan?"
"Aku kan hanya bertanya. Ngga boleh, ya?" Wajah polosnya mendekat. "Terus... apa sebelumnya kamu pernah ditembak cewek?"
Sakura menarik seragam Sasuke, kali ini lebih keras. Semua itu ia lakukan agar bisa meminimalisasi jarak di antara mereka. Dan ketika tubuh bagian depan mereka sedikit bersinggungan, Sakura menunduk. Dia terdiam. Lama. Sangat lama. Jantungnya menggila.
Semua perasaan ini terlalu menggebu-gebu.
Kemudian Sakura pun mengadah. Matanya yang menyipit menatap lurus ke kacamata bulat Sasuke.
"Anata ga... suki."
Pupil Sasuke melebar.
"Suki..."
Suara Sakura memelan. Ia berbisik lirih. Wajahnya merona drastis.
"Daisuki."
Suka.
Aku suka kamu.
Alunan angin kembali mereka rasakan. Anak rambut keduanya terayun pelan, bahkan ada helaian pink milik Sakura yang menutupi kulit wajahnya. Waktu seolah berhenti meski nyatanya momen ini masih terus berjalan seperti biasa.
Mencekam. Berdebar-debar. Pikiran kacau. Lupa cara menarik nafas. Ingin menjadi tuli mendadak. Itulah yang saat ini dideskripsikan oleh gejolak batin yang dialami Sakura. Ia ingin langsung berlari pergi dan menyembunyikan semburat merah yang sudah mewarnai masing-masing pipinya. Tapi sayang ia terlalu penasaran untuk menunggu kalimat yang akan dikeluarkan Sasuke.
Karena... itulah jawabannya. Jawaban dari perasaannya.
"H-Hei, a-aku ngga bisa menunggu lama-lama, tau." Gadis itu menelan ludah. Jemari dan tubuh Sakura bergetar hebat. Dia menelan ludah, mencoba menelan segala kegugupannya. "A-Ayo j-jawab..."
Sampai suatu ketika Sasuke membuka bibirnya.
"Kau..."
Ia berdesis, persis seperti orang kebingungan.
"Kau aneh."
Mendapati jawaban itu, hati Sakura seolah terpukul. Ia buru-buru menunduk. Takut kehadiran air mata yang memenuhi pelupuk matanya disadari oleh Sasuke. Tapi Sakura mencoba kuat. Ia berusaha tertawa walau dengan paksaan.
"Ahaha... a-aku aneh, ya?" Ia bertanya—lebih ke diri sendiri. "Ta-Tapi iya sih... s-suaraku sampai bergetar..."
Jadi...
Cuma itu?
Tanggapan Sasuke mengenai perasaannya... cuma sebatas itu?
Kenapa?
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tahan segala tangisan yang nyaris pecah secara bulat-bulat. Ia mengambil oksigen banyak-banyak dan kemudian tersenyum.
"Tapi aku awalnya juga ngga ngerti..." Ia tiba-tiba mengadah. Masa bodo dengan air mata yang sudah mengalir turun, hidung memerah, serta bibirnya yang kesulitan menjaga lekungan naiknya. "Aku sendiri bingung kenapa aku bisa suka sama cowok cupu... b-berkacamata tebal... rambut ngga jelas bentuknya apa... dan juga... salah satu cowok yang sama sekali ngga eksis di mana-mana..."
Air matanya menetes. Bukan hanya satu, melainkan berkali-kali.
"Karena itu... aku hebat, kan?" Ia memejamkan mata. Bahunya berguncang pelan. "Ta-Tapi kalau kamu cuma nganggep perasaanku itu adalah sesuatu yang aneh... n-ngga apa kok. Aku setuju..."
Sakura tidak bisa menahan lagi. Hatinya tidak sanggup.
"Pendapat kita sama... semua i-ini aneh..."
Buru-buru ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia berupaya tegar. "Jadi... makasih. Makasih atas jawabannya."
Sasuke benar-benar membisu. Tak ada sepatah pun kata yang ia keluarkan.
Sakura berpaling. Ia rapikan tasnya sebelum disampirkannya ke bahu. Ia mau pulang. Ia mau menangis sepuasnya di dalam kamar pribadinya. Setelah siap, Sakura pun berniat pergi.
Set.
Tapi sayangnya ada sesuatu yang menghambat ketika ia akan melewati Sasuke. Pria berambut raven itu menarik lengannya, memeluk pinggangnya dan kemudian membuat dirinya sedikit berputar.
Dan Sakura baru sadar bahwa bibirnya menabrak sesuatu. Matanya terbuka. Ia merasakan sesuatu yang lembut.
Seperti... bibir Sasuke.
Bukh.
Tasnya terjatuh ke lantai.
Pria berkulit putih itu menciumnya. Sesuatu yang dalam, tidak sekedar menempel. Bahkan salah satu tangan Sasuke juga menekan tengkuknya.
"Hmh..."
Merasakan kehadiran lidah Sasuke, Sakura memejamkan matanya erat-erat. Syarafnya kaku. Ia sama sekali tak bisa merespons sentuhan Sasuke yang begitu sensual. Ia hanya mendengar suara dentuman keras yang berangsur-angsur keluar dari dadanya. Bahkan suara jarum jam, decapan, maupun kain seragam yang bergesekkan pun tidak lagi terdeteksi oleh daun telinga Sakura.
"Emh..."
"Anh..."
Mereka terus berciuman. Sasuke melumatnya, memagutnya. Mendesak kepalanya agar tidak menghindar dari tekanan bibir, gigi serta lidahnya.
"Sa-Sasu..."
Namun ada yang aneh. Sakura merasa ada sebuah kekasaran yang Sasuke ciptakan di sentuhannya. Bahkan Sakura sampai perlu mendorong dadanya dan menyampingkan wajah agar bisa terlepas dari ciuman Sasuke yang begitu intens.
"Nh..."
Sakura mengambil nafas dengan susah payah. Dan baru saja ia ingin berbicara di depan wajah Sasuke, bibirnya kembali ditangkap oleh Sasuke. Ia sampai terkejut. Bahunya naik. Lidah lunak Sasuke yang menyusup masuk dan mengait lidahnya semakin membuat Sakura tersentak hebat.
"Mffh..."
Sakura tidak bisa bernafas karena belum memasok udara ke paru-parunya. Karena itu ia segera memundurkan kepalanya agar kulit bibir mereka kembali terlepas.
"Tu-Tunggu..." Gadis itu terengah. Pipinya luar biasa memerah. "Da-Dari mana kau bisa mencium orang sampai sebegitunya?"
Sasuke tak berkomentar. Namun ekspresi Sakura sama sekali tak terlepas dari iris obsidiannya. Ia dekatkan lagi wajahnya. Sakura nyaris memekik saat ia kira bibirnya kembali diincar. Namun nyatanya hal yang dituju Sasuke adalah sesuatu yang lain.
Kali ini leher.
"Sasuke!"
Sakura sedikit menjerit. Lidah Sasuke membasahi kulit lehernya yang jenjang. Di saat-saat awal ia memang mendesah. Itu refleks; tanpa disadarinya. Namun setelah itu Sakura panik. Sasuke pun semakin bergerak tak terkendali.
"Sasu!" Sakura mulai memberontak. Gigitan kecil yang terus diterima kulitnya membuat ia memekik. "Sasuke!"
Tubuh Sakura yang semakin mundur menjadi limbung. Tak terasa dirinya terjatuh, menciptakan suara debaman yang terdengar kencang. Punggung Sakura menempel erat di lantai sedangkan Sasuke masih membenamkan wajah ke pundaknya.
Batin Sakura membuncah.
Ada apa dengan Sasuke?
Dan yang paling membuatnya tak bisa berpikir lagi; ialah ketika tangan Sasuke hadir menyentuh dadanya.
Aura hangat yang semula dikeluarkan oleh pria itu berubah.
Menjadi suatu yang dingin...
Yang asing.
PLAK!
"Jangan sembarangan!"
Sakura mengubah posisinya menjadi terduduk. Matanya yang masih basah menajam, mencerminkan sebuah perasaan marah yang tak mudah untuk diartikan.
"A-Aku suka sama kamu... aku akui itu! Ta-Tapi bukan berarti kamu bisa ngelakuin hal yang kayak tadi!"
Usai berteriak Sakura berdiri. Tanpa kata-kata lagi ia segera berlari keluar ruangan—tak lupa setelah menyambar tasnya yang sempat tergeletak begitu saja dia atas lantai.
Mengingat peristiwa ini, mungkin sedikit mirip dengan momen saat mereka pertama kali berciuman. Tapi bedanya yang sekarang duluan pergi meninggalkan ruangan adalah Sakura.
Sambil terus mengayunkan kakinya agar dapat berlari kencang, Sakura menutupi setengah bagian wajahnya dengan telapak tangan. Emosi gadis itu sedang tidak stabil. Entahlah perasaan apa yang saat ini lebih dominan di dalam dirinya.
Senang karena Sasuke menciumnya... atau mungkin marah? Kesal? Atau takut karena Sasuke yang begitu melewati batasan?
Tak ada yang tau.
Sedangkan di ruangan lab, Sasuke masih terdiam. Pria itu memejamkan mata lalu menyandarkan punggungnya ke tembok. Dihelanya nafas panjang-panjang sambil membuka mata, membiarkan iris hitamnya mengamati plafon dengan tatapan kosong.
Pipinya kirinya memerah. Rasa perih yang ia rasakan seperti menusuk-nusuk alas kulitnya dengan jarum yang tak kasat mata. Tamparan Sakura memang menyakitkan. Tapi ia sama sekali tidak menyesal, karena itulah yang telah menyadarkan Sasuke atas perbuatan yang ia lakukan kepadanya.
Sasuke memejamkan mata, tangannya mengacak-acak surai birunya yang tak beraturan.
Kenapa ia bisa bertindak di luar kendali?
Kenapa dia kelepasan menjadi... Sasuke Uchiha yang dulunya selalu mempermainkan perempuan?
Prakh!
Kacamata tebal itu Sasuke lempar ke lantai. Ada bagian sampingnya yang retak, tapi ia sama sekali tidak peduli. Merasa pusing, Sasuke berdesis kesal. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh kalimat yang Sakura lontarkan.
Ternyata... Sakura menyukainya.
Dilihat dari ekspresi, nada bicara, gerak-gerik, semuanya... semua itu mencerminkan kejujuran.
Tapi kenapa? Kenapa Sakura bisa menyukai dirinya yang 'cupu'—tapi giliran ia memakai kepribadian aslinya, Sakura malah menolaknya secara telak?
Aneh. Ini aneh.
Sasuke menggeram kesal.
Jadi Sakura lebih menyukai dirinya yang cupu dibandingkan dirinya yang asli?
Begitu, ya?
"Cih, brengsek..."
Dan tanpa Sasuke sadari, ada seorang Sabaku yang memperhatikannya dari sela pintu. Pria itu menyeringai.
.
.
~zo : twins alert~
.
.
Masih di kawasan gedung belajar yang sepi, Sakura terburu-buru menuruni anak tangga. Suara langkah kaki yang tak kunjung berhenti itu terus mewarnai kawasan di sekitarnya. Sampai suatu ketika sol sepatunya berhenti saat menginjak daerah lantai satu, dirinya terengah.
Ia duduk di anak tangga terakhir agar dapat mengistirahatkan kedua kakinya yang lelah. Kepalanya tertunduk pasrah, sedangkan rambut merah mudanya menggantung bebas menyentuh lutut.
"Astaga..." Lirihnya. "Yang tadi tuh... apa?"
Dadanya masih terus berdetak tak karuan. Ingatannya berputar ke kejadian beberapa menit yang lalu. Di mana Sasuke menyentuhnya dari bibir ke leher... sampai akhirnya tangannya mulai menyentuhnya ke sebuah bagian yang membuatnya langsung menggeleng histeris.
Sakura berdesis. Kedua matanya ia katupkan agar pandangannya menghitam. Siapa tau dengan itu ia bisa menyingkirkan bayangan-bayangan tersebut dari otaknya.
Perlahan Sakura memeluk dirinya sendiri. Ia ketakutan. Seandainya dirinya terus terdiam menerima segala perlakuan Sasuke, mungkin saat ini mereka berdua sedang melakukan sesuatu yang 'berbahaya'.
Sakura bergidik dan menggigit bibir bawahnya keras-keras.
Ia merutuki dirinya secara pribadi.
Jujur saja dia suka ciuman Sasuke. Dia suka apabila pria itu menyentuhnya secara mendalam. Tidak yang tadi. Ia tidak suka cara Sasuke yang kasar dan seolah-olah menuntut supaya nafsunya dipenuhi.
Namun seingatnya Sasuke bukanlah orang yang seperti itu.
Sekalipun menyebalkan, Sasuke tipikal pria yang lembut. Ia tidak pernah kasar ataupun memaksa.
Benar-benar lain dari sosok 'Sasuke' yang sebelumnya ia dapati...
Yang benar-benar mengerikan.
"Sakura?"
Sakura terkejut saat namanya dipanggil oleh seorang laki-laki. Ia mengadah dan menemukan Gaara yang ternyata berdiri di belakangnya. Kelihatannya pria berambut merah itu baru saja turun. "Ngapain di tangga?"
Sakura berdiri seraya mengaliri kerongkongannya dengan saliva. "A-Aku jatuh, ahaha..." Ia menepuki lututnya yang tidak sakit. Pura-pura.
"Oh, pantes kayak orang abis nangis..." Gaara mendengus pelan. "Kukira kau barusan berantem sama Sasuke di lab."
Sepasang iris hijau Sakura terbelalak. Bagaimana Gaara bisa tau? Apa jangan-jangan dia melihat segala perbuatan yang mereka berdua lakukan di dalam sana?
Menyadari wajah Sakura yang memucat, Gaara terkekeh pelan. "Ngga usah heran, kan aku remed Fisika di ruangan sebelah. Dan kebetulan pas mau pulang, aku malah ngeliat ada cewek yang keluar lab Biologi sambil lari..."
Ia mengarang bebas. Padahal dari awal pria itu terus membututi Sasuke dan Sakura untuk mengetahui apa yang mereka lakukan di sana. Dan tak disangka-sangka olehnya, ia malah mendapatkan hasil yang menarik.
Oleh karena itu sepertinya akan lebih seru kalau masalah ini makin dibesar-besarkan.
Gaara tersenyum licik.
Sebab inilah saat yang tepat untuk balas dendam ke Sasuke. Tentu melalui Sakura. Gadis yang memiliki ikatan terkuat dengan Sasuke di sekolah ini—dari sudut pandang Gaara dan segala tes yang sebelumnya ia berikan.
"Gaara..."
"Ya?"
"Tolong jangan ceritain ini ke Ino atau ke siapa pun, ya. Pokoknya aku ngga mau pertemuanku sama Sasuke di lab sampai kesebar." Bisiknya.
"Hm." Gaara mengangguk. Sekarang ia akan memulai aksinya. "Oh, ya, Sakura. Aku mau nyaranin sesuatu."
"Apa?" Gadis itu memberikan tatapan lesu.
"Aku saranin jangan terlalu deket sama Sasuke."
Kefokusan Sakura terkumpul. Ia mengerjap. "Ke-Kenapa?"
Gaara mengangkat bahu. "Aku teman SMP-nya. Kami pernah sekelas jadi aku lumayan tau banyak tentang Sasuke Uchiha." Pandangan Gaara menjadi gelap. Soalnya apa yang saat ini ia katakan adalah kisah nyatanya. Sebuah kenangan yang membuatnya menyimpan dendam ke si Uchiha sulung.
Tapi Gaara belum mau membukanya sekarang. Rahasia itu buat nanti.
"Setauku... dia muka dua."
Ia mengernyit. "Hah?"
"Jangan tertipu sama penampilan luarnya. Di luar emang ia terlihat baik. Kayak sok pake kacamata, seragam yang rapi, jadi kutu buku setiap saat..." Gaara berdecak. "Tapi aslinya dia orang yang busuk. Dia cuma mau memakai tubuhmu."
Mulut Sakura terbuka lebar, alisnya tertekuk. "Apa maksudmu?"
Gaara berdesis. wajahnya berpaling, menunjukkan raut jijik.
"Buktinya kemaren di kamar outing, dia bilang kalo kau adalah wanita murahan yang terus-terusan ngedeketin dia. Jadi Sasuke mikirnya dia bisa menyentuhmu kapan aja. Soalnya kau selalu ngasih dia kesempatan tiap detik."
Sakura membisu. Ia tidak tau harus bicara apa.
"Lalu setelah dia menyelamatkanmu di pantai... kau pikir pas dia membawamu sendirian ke kamar dia ngga melakukan yang aneh-aneh, hm?" Gaara tertawa menghina. "Dia berfantasi. Fantasi yang melecehkanmu, Sakura. Dan aku jamin kau ngga bakalan mau mendengar versi lengkapnya."
"Demi... apa?"
Suara Sakura memelan. Ia sama sekali tak berkedip. Pikirannya kembali ke insiden di lab. Tepat ke bayangan di mana Sasuke menyentuhnya secara gencar.
"D-Dia beneran ngomong gitu?"
"Hm."
Bohong.
Jelas itu hanya karangannya semata.
Tapi di sisi Sakura, gadis itu tidak bisa menahan segala kekecewaannya. Ia shock dan juga kesal.
Dan pola pikirnya tergerak memberikan hipotesis; itu merupakan... sifat asli Sasuke. Sifat busuk yang baru ia ketahui—sebagian besar dari aduan Gaara mengenai pembicaraannya dengan Sasuke.
Sakura menggeram. Nafasnya memburu selagi ubun-ubunnya terasa panas. Segala rasa suka yang sempat membuatnya terbuai itu langsung memudar dan terus memudar. Habis sampai tak tersisa sampai sedikit pun.
"Sasuke... sialan..." Sakura berteriak. Afeksinya terpecah. "SASUKE SIALAN!"
Dan Gaara kembali tersenyum. Ia mencium bau kemenangan yang akan di mulai dari detik ini.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Gomen. Sepertinya scene romance fluffy SasuSaku akan berakhir sampai sini. Ada yang rindu scene SasuSaku dan NaruHina pas musuhan? (Aku pribadi rindu banget loh—soalnya ngga bisa bikin romance sih wkwk). Oke, salahkan semuanya ke Sabaku Gaara yang mengisi peran antagonis ala sinetron Indonesia :)) #pelukgaara. Gaara emang selalu awesome kalo dikasih sifat jahat.
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
stillewolfie, Tsurugi De Lelouch, Nauri Aconitumferox, Deauliaas, Akasuna Sakurai, Eunike Yuen, SayuriOrchidflen, S-S-L, Hikari Ciel, Hinamori Miko Koyuki, Guest, Syanata-Hime, kHaLerie Hikari, Vermthy, Ricchi, Ifaharra sasusaku, m-u-albab, aiyu-elfishypinocchiosuju, Karizta-chan, Natsumo Kagerou, Hitaiyo Mangetsu, summer dash, iya baka-san, Ramen Panas, Nataniaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, merynca-chan, hevy-lovato, Siput puput, spring field sakura, Yukina Itou Sephiienna Kitami, Guest, Benrina Shinju, salsalala, shawol21bangs, Namikaze-san, Yami Gloria, Soputan, chikionew, uchiha yardi, airawliet2327, kagima-aiko, Chikal, Chimunk, Lhylia Kiryu, TheBrownEyes'129, Kujyou Kazusa, Jacqline Emms, Ribby-chan, Zeroxi CR, cheinnfairy, eureka aklesius, YashiUchiHatake, tataruka0588, ichi, sasuke lovers, lawliet uzumakie, Kyoanggita, MXMXM, LotuS-Mein319.
.
.
Pojok Balas Review :
NaruHina-nya keren. Arigatou. Banyakin NaruHina. Iya, bakalan ada porsinya kok. Kapan NaruHina ngelakuin kayak SasuSaku. Ahaha, menyusul. NaruSaku sekelas, ya? Chap 2 dibilangnya mereka kelas XI-B. Ngga. Itu salah. SakuHina XI-A dan SasuNaru XI-B. Makasih ralatannya. Udah kuedit. Gaara-nya jahat, ya? Iya dong. Gaara cocok sama Shion. Iya, ya? Biasanya SHL anti sama SSL, tapi zo beda. Mungkin karena aku basisnya NHL, kali ya. Kan partneran tuh pairing-nya. SasuSaku-nya greget. Terima kasih. Jadi tertarik sama fict SasuSaku dan SasuHina. Baguslah. Ada kalimat yang salah di chap 11. Thanks, udah kuedit. Pengen Sasuke cemburu. Siap-siap. Kok kamu bikin SasuSaku? Karena tema cerita ini pantesnya ke SasuSaku. Aku ngerasa chap 11 pendek. Chap 12 1k lebih panjang kok. Aku lebih minat baca A/N-nya. Ahaha. Kenapa Gaara benci Sasuke? Nanti dibahas. SasuSaku-nya makin romantis aja. Sip. Aku kepengen ada scene NaruHina kissu. Astaga lupa. Aku baru sadar mereka belum kissu. Ditunggu, ya. Apa yang mau dilakuin Gaara? Hal-hal antagonis ala sinetron. Tau sendirilah. Sasuke lawan Gaara, Naruto lawan siapa? Lawan Sasuke wkwk. Tapi kayaknya Gaara juga jadi musuhnya Naruto deh. Yah, liat aja nanti.
.
.
Next Chap :
"Apa kau benar-benar mendengar kalimat... Sakura?"
"Jauhin Naruto."
"Buka penyamaran."
'Niisan, aku suka sama Sasuke Uchiha! Dia kan teman seangkatanmu, coba deh kenalkan aku padanya! Please, please, pleasee...!'
"DIA PEMBUNUH!"
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
