Remake dari Novel milik E.L James.
Fifty Shades of Choi.
BL, Romance, OOC, BDSM.
Cerita asli milik E.L James, saya hanya meremake dan memotong seperlunya.
-Fifty Shades of Choi-
Previous Part.
Aku nyaris tak bisa menahan diri, berbaring tak berdaya, mengamatinya bergerak dengan anggun di sekitar kamarku. Perlahan, dengan santai dia melepas sepatu dan kaus kaki, membuka celananya dan mengangkat bajunya ke atas kepalanya. Dia menarik t-shirtku, dan aku pikir dia akan melepasnya tapi dia gulungkan ke leherku dan kemudian menarik itu di atas kepalaku.
"Mmm.." Dia mengambil nafas sambil memuji. "Ini makin lama makin baik. Aku akan mengambil minum." Condong ke bawah, dia menciumku, bibirnya lembut menyentuhku dan badannya bergeser dari tempat tidur. Aku mendengar derit pelan pintu kamar tidur.
Aku berusaha keras untuk mendengarnya. Aku bisa menangkap suara obrolan pelan, aku tahu dia berbicara dengan Henry. Oh tidak! Dia nyaris telanjang. Apa yang akan dia katakan? Aku mendengar suara botol dibuka. Apa itu? Dia kembali, pintu berderit sekali lagi, terdengar pelan suara kakinya berjalan di lantai kamar tidur. Dia menutup pintu dan melepas celana pendeknya, sepertinya celananya turun ke lantai dan aku tahu dia telanjang!
Fifty Shades of Choi, Chapter 11.
All Kyuhyun's POV-
Aku mendengar denting es batu di gelas. Ia menempatkan ke bawah lagi dan membungkuk lalu menciumku. Sepertinya dia menuangkan cairan segar dan lezat ke dalam mulutku, mungkin anggur putih. Ini tak terduga sangat panas, meskipun anggurnya dingin dan bibir Siwon juga terasa dingin. "Lagi?" Bisiknya. Aku mengangguk, rasanya jadi lebih indah karena berasal dari dalam mulutnya. Dia membungkuk dan aku minum seteguk lagi dari bibirnya.
"Tidak boleh terlalu banyak, kita tahu kemampuanmu terhadap alkohol sangat terbatas, Kyuhyun." Dia memasang wajah dingin dan sombong. Aku tidak bisa membantahnya. Aku menyeringai dan dia membungkuk memberikan seteguk lagi. Dia bergeser berbaring diatasku, bagian tubuhnya yang mengeras menempel diantara pahaku. "Apa ini enak?" Tanyanya, tapi aku mendengar suaranya berat.
Aku menegang. Dia minum lagi dan membungkuk, menciumku, memasukkan pecahan es kecil ke dalam mulutku dengan sedikit anggur. Perlahan-lahan dan santai dia memberi ciuman dengan bibirnya yang dingin menyusuri dari pangkal tenggorokan, antara dadaku, turun kebagian tengah tubuhku dan ke perut. Dia mengeluarkan es dari mulutnya menggenang dingin di tengah pusarku.
"Sekarang kau harus tetap diam." Bisiknya. "Jika kau bergerak, kau akan mendapati anggur di seluruh tempat tidur."
"Oh tidak. Jika kau menumpahkan anggur, aku akan menghukummu, Mr. Cho."
Aku merintih dan putus asa melawan dorongan untuk memiringkan pinggul, menahan diriku dengan susah payah. Condong ke bawah, dia mencium dan menarik setiap putingku bergantian dengan bibirnya yang dingin. Aku berusaha menahan tubuhku untuk bereaksi dengan melengkungkan tubuhku.
"Seberapa nikmatnya ini?" Dia mengambil nafas sambil meniup salah satu putingku.
Aku mendengar lagi suara denting es, dan kemudian aku bisa merasakan es itu berada di sekeliling puting sebelah kananku saat dia menarik yang sebelah kiri dengan bibirnya. Aku mengerang, berjuang untuk tidak bergerak. Ini siksaan yang manis tapi menyiksa. Jari-jarinya yang dingin melintasi perutku. Kulitku terasa sangat sensitif, pinggulku mengejang secara otomatis, dan sekarang cairannya menjadi hangat dari pusarku merembes di atas perutku. Siwon bergerak dengan cepat, menjilati dengan lidahnya, mencium, menggigitku pelan.
"Oh, Kyuhyun, kau bergerak. Apa yang akan aku lakukan padamu?"
Aku terengah-engah dengan keras. Aku hanya bisa berkonsentrasi pada suaranya dan sentuhannya. Selain itu tak ada yang nyata. Tak ada lagi yang penting, tak ada lagi yang tertangkap di radarku. Jari-jarinya masuk ke celanaku. "Oh, Baby!" bisiknya dan ia mendorong jarinya masuk dalam diriku. Aku menahan diri untuk tidak berteriak. Jari-jarinya bergerak perlahan-lahan menggoda, masuk, keluar dan aku menekan ke arahnya.
Aku merintih keras saat tubuhku melonjak di balik jari-jarinya yang terlatih. Tangannya ke atas dan mendorong t-shirt di atas kepalaku sehingga aku bisa melihat dia saat aku berkedip dalam cahaya lembut lampu sampingku. Aku rindu untuk menyentuhnya. Dia membungkuk dan menciumku, jari-jarinya masih bergerak berirama dalam diriku, ibu jarinya berputar-putar dan menekan.
Dia berlutut diantara kakiku, dengan sangat perlahan dia menarik lepas celana dalamku, matanya menatap ke arahku. ''Oh, Kyuhyun... Lihatlah betapa menggodanya dirimu. Aku akan melakukannya sekarang, berbalik!'' Ini membuatku terkejut, karena tanganku diikat, aku harus menyangga diri pada sikuku. Dia mendorong kedua lututku diatas tempat tidur sehingga pantatku menghadap ke atas dan dia menepuk dengan keras. Aku bisa mendengar saat dia menurunkan resleting celananya.
''Akh!'' Aku menahan diri untuk tidak berteriak saat miliknya masuk dengan mudah ke dalam. Rasanya sakit, perih seperti terbakar namun memabukan. Aku menjerit karena tamparan dan serangan mendadak darinya. Aku langsung keluar lagi dan lagi, berantakan di bawah tubuhnya saat ia terus mendorong dengan nikmat ke dalam diriku.
"Ayo, Kyuhyun, sekali lagi." Ia menggeram dengan gigi terkatup. Dia ambruk di atasku, terengah-engah. "Sungguh sangat menyenangkan?" Tanya dia dengan giginya terkatup.
Aku berbaring terengah-engah, mataku tertutup saat dia perlahan-lahan menarik keluar dariku. Dia segera bangkit dan memakai baju. Saat dia sudah berpakaian lengkap, dia naik ke ranjang dan dengan lembut melepas dasi dan menarik t-shirtku lepas. Aku melenturkan jari-jariku dan menggosok pergelangan tanganku. Aku menatap ke arahnya, "Ini benar-benar sangat menyenangkan." Bisikku, tersenyum malu-malu.
''Jadi apa kau masih mempertimbangkan penawaranku?" Tanya Siwon dengan alis sedikit berkerut, selalu tampan.
"Proposal tak senonohmu itu? Aku akan mempertimbangkannya tapi aku memiliki masalah."
Dia menyeringai ke arahku seakan lega. "Aku akan kecewa jika kau mengatakan tidak.''
''Aku akan memberitahumu secepatnya.'' Aku berusaha tersenyum manis.
''Aku pikir kau mengatakan tidak, tidak ada pembahasan sama sekali." Suaranya turun.
"Apakah kau akan menginap?" Tanyaku kemudian, penuh harap.
"Aku punya acara pertemuan besok pagi. Selain itu, aku sudah katakan kalau aku tidak tidur dengan siapapun. Jumat dan sabtu malam adalah pengecualian. Itu tidak akan terjadi lagi."
Dalam hatiku aku kecewa. "Aku lelah sekarang." Aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
"Apakah kau mengusirku keluar?" Dia mengangkat alisnya padaku, geli dan sedikit kecewa.
''Ya!'
"Jadi tak ada yang ingin kau diskusikan sekarang? Tentang perjanjian itu."
"Tidak!" Jawabku kesal.
"Kita akan bertemu lagi hari rabu." Dia menegaskan, mencondongkan tubuhnya dan mencium lembut. Ada suatu perubahan saat dia menciumku, bibirnya menjadi lebih mendesak bibirku, tangannya bergerak naik dari daguku dan dia memegang sisi kepalaku, tangannya yang lain di sisi lain. Nafasnya menjadi cepat, ia memperdalam ciuman sambil bersandar ke dalam diriku.
''Sampai jumpa, sayang.'' Dia tersenyum manis lalu keluar dari kamarku, aku langsung meloncat turun untuk mengintip. ''Untunglah Henry tidak ada.'' Aku bernafas lega karena Henry tidak ada saat kami melakukan itu. Aku tahu betul kalau sahabatku itu sangat pengertian walaupun dia bawel dan selalu ingin tahu.
Aku berbalik lalu mengintip melalui jendela di kamarku. Dia menyusuri jalan menuju mobilnya, dia berjalan sambil mengacak-acak rambutnya. Dia mendongak saat membuka pintu mobilnya, dia tersenyum mempesona. Aku membalas dengan senyum lemah, benar-benar terpesona padanya. Aku menutup gorden saat dia naik ke dalam mobil sporty-nya. Aku jadi ingin menangis, sebuah nada melankolis sedih dan kesepian.
-Fifty Shades of Choi-
Setelah dia pergi, aku duduk dan membaca perjanjian lagi, meneruskan membuat catatan lagi. Ketika aku selesai, aku nyalakan laptop, siap untuk menanggapi. Ada email dari Siwon di inbox-ku.
From : Choi Siwon
Mr. Cho aku menantikan catatanmu untuk perjanjian itu. Sebelum itu, tidurlah yang nyenyak sayang.
Aku membalas cepat.
From : Cho Kyuhyun
Dear Mr. Choi
Ini adalah daftar masalahnya. Aku berharap bisa mendiskusikannya lebih lengkap saat makan malam pada hari Rabu.
Pasal 2 : Tak yakin mengapa hal ini semata-mata untuk keuntungan-KU - yaitu untuk mengeksplorasi sensualitas-KU dan batas-batasnya. Aku yakin aku tak perlu perjanjian sepuluh halaman untuk melakukan itu! Tentunya ini untuk kepentingan-MU.
Pasal 4 : Sebagaimana kau tahu kau satu-satunya pasangan seksualku. Aku bukan pemakai obat terlarang, dan aku tak pernah transfusi darah. Aku mungkin aman. Bagaimana denganmu?
Pasal 8 : Aku dapat berhenti setiap saat jika aku berpikir kau tak berpegang pada batas yang disepakati. Oke - Aku suka ini.
Pasal 9 : Mematuhi perintahmu dalam segala hal? Menerima tanpa ragu mengenai disiplinmu? Kita perlu bicara tentang hal ini.
Pasal 11 : Satu bulan masa percobaan. Bukan tiga.
Pasal 12 : Aku tak bisa melakukan setiap akhir pekan. Aku punya kehidupan, atau akan memilikinya. Mungkin tiga dari empat minggu?
Pasal 15.2 : Menggunakan tubuhku seperti yang kau anggap cocok secara seksual atau lainnya - silahkan mendefinisikan "atau lainnya."
Pasal 15.5 : Seluruh pasal tentang disiplin. Aku tak yakin aku ingin didera, dicambuk, atau hukuman fisik. Aku yakin ini akan dianggap melanggar pasal 2-5. Dan juga "karena alasan lain". Itu hanya berarti - dan kau mengatakan padaku bahwa kau tidak sadis.
Pasal 15.10 : Seperti meminjamkanku pada orang lain tak pernah akan menjadi pilihan. Tapi aku senang ada di sini hitam diatas putih.
Pasal 15.14 : Peraturan. Lebih banyak nantinya.
Pasal 15.19 : Menyentuh diri sendiri tanpa izinmu. Apa masalahnya dengan ini? Kau tahu aku juga tak melakukannya.
Pasal 15.21 : Disiplin - Silakan lihat butir 15.5 di atas.
Pasal 15.22 : Aku tak bisa menatap matamu? Mengapa?
Pasal 15.24 : Mengapa aku tak bisa menyentuhmu?
Peraturan:
Tidur - Aku akan setuju sampai 6 jam.
Makanan - Aku tidak makan makanan dari daftar yang ditentukan. Daftar makanan aku yang memutuskan atau perjanjian batal.
Pakaian - Selama aku hanya mengenakan pakaian darimu saat aku bersamamu.
Fitness - Kita sepakat 3 jam, ini masih mengatakan 4 jam.
Tolong beritahu rencana hari Rabu? Aku bekerja sampai jam 05:00 sore hari itu.
Selamat malam.
From : Choi Siwon
Itu daftar yang panjang. Mengapa kau masih belum tidur?
From : Cho Kyuhyun
Jika kau ingat aku sudah menulis daftar itu, ketika aku terganggu dan ditiduri oleh seseorang gila kontrol yang lewat. Selamat malam.
From : Choi Siwon
PERGILAH TIDUR Kyuhyun!
Astaga! Dia berteriak dengan huruf besar. Bagaimana dia bisa mengintimidasiku saat dia berada enam mil jauhnya? Aku menggelengkan kepala. Hatiku masih berat, aku naik ke tempat tidur dan langsung jatuh tertidur dengan gelisah.
-Fifty Shades of Choi-
Keesokan harinya, aku menelepon ibuku setelah pulang dari kerja. Hari ini cukup santai, membuatku jadi banyak waktu untuk berpikir. Aku gelisah, gugup tentang konfrontasiku dengan Mr. Freak besok, dibagian belakang pikiranku khawatir mungkin aku terlalu negatif menanggapi perjanjian itu. Mungkin dia mau berkompromi?
Dengan sangat menyesal ibuku minta maaf karena tak bisa hadir pada saat acara wisudaku. Suaminya terkilir di sendi kakinya sehingga jalannya terpincang-pincang. Jujur saja, dia adalah orang yang gampang celaka seperti aku. Diperkirakan dia bisa cepat sembuh, asalkan beristirahat total dan ibuku harus menjaganya.
''Sayang, aku sangat menyesal." Ibuku merengek di telepon.
"Tidak apa-apa, Eomma. Appa yang akan hadir disana."
"Kyu, dari nada suaramu sepertinya kau sedangi bingung. Apa kau baik-baik saja?''
"Iya, aku baik-baik saja." Oh seandainya kau tahu, aku telah bertemu dengan seorang pria menjijikkan, kaya dan dia ingin memiliki hubungan seksual yang ganjil dan aneh.
"Apa kau sudah bertemu seseorang?"
"Tidak, aku tidak bertemu siapa pun." Sekarang aku merasa sangat tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
"Oke, sayang, aku merasa sangat menyesal, tentang wisudamu. Aku mencintaimu, kau tahu itu kan sayang?''
Aku memejamkan mata, kata-kata yang sangat berharga memberiku sebuah cahaya yang hangat di dalam hatiku.
"Aku juga sayang padamu, Eomma.''
''Sampai ketemu lagi sayang."
"Sampai ketemu lagi, Eomma.''
Aku diam sesaat di kamar tidurku setelah menelepon. Iseng-iseng, aku beralih menyalakan laptop dan membuka email. Ada email dari Siwon dikirim saat larut malam atau sangat pagi sekali. Jantungku langsung melonjak dan aku mendengar darah memompa ke telingaku. Dengan cepat aku membuka email.
From : Choi Siwon
Dear Mr. Cho
Setelah aku memeriksa lebih menyeluruh dari masalah keberatanmu, mungkin aku harus menjelaskan tentang definisi dari submisiv.
Submisiv artinya cenderung atau siap untuk menyerah, ditandai dengan menunjukkan kepatuhan. Yang artinya penurut, patuh, lembut, setuju, pasif, pasrah, sabar, jinak dan tenang.
Silahkan sayang pikirkan ini untuk pertemuan kita pada hari Rabu. Aku akan menjemput dari apartemenmu besok jam 7:00.
Perasaanku jadi lega. Setidaknya dia bersedia untuk membahas keberatanku dan dia masih ingin bertemu besok. Setelah berpikir sejenak, aku menjawab.
From : Cho Kyuhyun
Sir,
Aku punya mobil. Aku lebih suka untuk bertemu di suatu tempat. Di manakah aku harus bertemu denganmu? Di hotelmu pada jam 7:00?
From : Choi Siwon
Aku berharap kau mau melakukan apa yang telah diperintahkan.
From : Cho Kyuhyun
Mr. Choi aku ingin mengemudi, aku mohon.
From : Choi Siwon.
Baik. Aku di hotel pada jam 7:00, kita ketemu di Marble Bar!
Dia bahkan pemarah di email. Apa dia tidak mengerti bahwa aku mungkin perlu melarikan diri. Bukan berarti aku bisa berlari cepat tapi tetap saja aku perlu memikirkan rencana untuk melarikan diri.
-Fifty Shades of Choi-
Hari ini tiba, hari dimana aku akan bertemu lagi dengan Siwon, Mr. Pemarah yang tampan itu. Apa ini kencan? Entahlah aku harus menyebutnya apa jika statusku hanyalah seorang sub, mengingat itu membuatku mual seketika. Aku mandi, mencukur kaki dan ketiak lalu mencuci rambutku. Aku harus tampil rapih, bersih dan menawan tentunya. Bersih tentu suatu keharusan, walaupun pria kasar itu suka sesuatu yang kotor.
''Bagaimana?'' Tanyaku pada Henry, aku keluar dengan sleeveless t-shirt berwarna hitam dipadukan dengan celana hitam. Untuk luaran, aku hanya memakai coat cokelat muda.
''Kau akan terlihat sexy jika tidak memakai coat.'' Henry mengangkat bahu.
Aku melotot padanya, ''Aku bertemu dengannya malam hari, kau ingin aku kedinginan dan membeku. Lagipula, kaos tanpa lengan bukan styleku.''
''Ya Tuhan, berhenti jadi orang pemalu. Kau indah dan cocok memakai apa saja.''
''Terserah, jangan lupa doakan aku.''
"Kau membutuhkan keberuntungan untuk kencan?" Alisnya mengerut, bingung.
"Ya, Henry."
"Kalau begitu... Semoga berhasil." Dia memelukku dan aku keluar dari pintu depan.
Aku sampai di luar hotel pada pukul 6.58 tepat dan menyerahkan kunci mobilku untuk diparkir. Mengambil nafas dalam-dalam, aku masuk ke hotel. Aku melihat Siwon bersandar santai membelakangi bar, minum segelas anggur putih. Dia mengenakan kemeja linen putih, celana jeans hitam, dasi hitam, dan jaket hitam. Aku menghela nafas, tentu saja dia terlihat tampan. Aku berdiri selama beberapa detik di pintu masuk bar.
Dia melirik dengan gugup ke arah pintu masuk dan diam saat dia melihatku. Berkedip beberapa kali, kemudian dia tersenyum culas, nakal, senyum seksi yang membuatku terdiam dan meleleh. Berusaha untuk tidak menggigit bibirku, aku melangkah maju, menyadari bahwa aku Cho Kyuhyun yang kikuk.
"Kau sangat mempesona." Gumamnya sambil membungkuk dan mencium pipiku singkat. Menggenggam tanganku, dia membawaku ke pojok yang terpisah dan memberi isyarat kepada pelayan.
"Apa yang ingin kau minum?"
Aku langsung tersenyum rahasia saat aku duduk, setidaknya dia bertanya dulu padaku.
"Aku mau seperti apa yang sudah kau pesan." Lihat! Aku bisa bermain bagus dan berperilaku seperti diriku sendiri. Geli, dia memesan segelas Sancerre dan duduk di depanku.
"Mereka punya gudang anggur yang sangat baik di sini." Katanya, memiringkan kepalanya ke satu sisi. Dia menempatkan siku di meja, jari-jarinya menyentuh bibirnya yang indah, mata hitamnya menyala dengan emosi yang tak bisa terbaca. Dan ada tarikan yang akrab dan getaran listrik darinya, menghubungkan suatu tempat di dalam diriku. Aku bergerak tak nyaman di bawah tatapannya, jantungku berdebar.
"Apakah kau gugup?" Tanyanya lembut.
"Ya."
Dia membungkuk ke depan. "Aku juga." Bisiknya penuh rahasia.
Mataku terpaku saat bertemu matanya. Dia tak pernah gugup. Aku berkedip padanya dan dia tersenyum miring sangat menggemaskan ke arahku. Pelayan datang membawa anggurku, piring kecil berisi bermacam-macam kacang, dan satu lagi buah zaitun.
"Jadi, bagaimana kita akan membahas hal ini?" Aku bertanya. "Menjelaskan setiap poin keberatanku satu per satu?"
"Tak sabar seperti biasa, Mr. Cho."
"Baik, aku bisa bertanya padamu mengenai apa pendapatmu tentang cuaca hari ini?"
Dia tersenyum dan mengambil buah zaitun. Dia masukkan ke dalam mulutnya dan mataku terpaku di mulutnya, mulut itu sudah pernah mencium semuanya bagian tubuhku. Mukaku memerah.
"Aku pikir cuacanya tidak istimewa hari ini." Ia menyeringai.
"Apakah kau menyeringai padaku, Mr. Choi?"
"Ya, Mr. Cho!"
"Kau tahu perjanjian ini secara hukum tak boleh diterapkan."
"Aku sepenuhnya menyadari itu, Mr. Cho."
"Apa kau akan menjelaskan setiap point keberatanku?"
Dia mengerutkan kening, "Kau mengira aku memaksamu pada sesuatu yang tidak ingin kau lakukan dan kemudian beranggapan bahwa secara hukum aku akan menguasaimu?"
''Ya.'' Nafasku terengah.
"Apa kau tidak berpikir untuk menghargaiku sama sekali?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Kyuhyun, ini merupakan peraturan yang ingin aku buat denganmu. Apa yang kuinginkan darimu dan apa yang dapat kau harapkan dariku. Jika kau tak menyukainya, maka jangan menandatangani. Jika kau sudah menandatangani dan kemudian memutuskan berhenti, kau bisa pergi meninggalkanku. Bahkan jika itu mengikat secara hukum, apa kau pikir aku akan menyeretmu ke pengadilan jika kau memutuskan untuk lari?"
Aku meneguk banyak anggurku. Bawah sadarku menepuk bahuku dengan keras. Kau harus menjaga kecerdasanmu. Jangan minum terlalu banyak!
"Hubungan seperti ini dibangun di atas kejujuran dan kepercayaan." Dia melanjutkan. "Jika kau tidak percaya padaku untuk mengetahui bagaimana aku mempengaruhimu, seberapa jauh aku bisa melakukannya denganmu, jika kau tak bisa jujur denganku, maka kita benar-benar tak bisa melakukan ini."
"Jadi cukup sederhana, Kyuhyun. Apa kau percaya padaku atau tidak?" Matanya membara.
"Apa kau memiliki diskusi yang seperti ini dengan um... lima belas itu?"
"Tidak."
"Mengapa tidak?"
"Karena mereka semua sudah submisiv. Mereka tahu apa yang mereka butuhkan dari hubungan denganku dan umumnya apa yang aku harapkan.''
Aku menelan ludah. Apa aku percaya padanya? Apa ini semua bermuara pada kepercayaan? Tentu seharusnya menjadi dua arah. Aku ingat dia sangat kesal saat aku menelepon Changmin.
"Apakah kau lapar?" Ia bertanya, mengalihkan perhatian dari pikiranku.
"Tidak."
"Apa kau makan hari ini?"
Aku menatapnya. Jujur, dia tak akan menyukai jawabanku. "Tidak." Suaraku pelan.
Dia menyempit matanya, "Kau harus makan, Kyuhyun. Kita bisa makan disini atau di kamarku. Kau pilih yang mana?"
"Aku pikir kita harus tinggal di depan umum, daerah yang netral."
Dia tersenyum sinis, "Apa kau pikir bisa menghentikanku?" Katanya lembut, sebuah peringatan sensual.
Mataku melebar, dan aku menelan lagi. "Aku berharap demikian."
"Ayo, aku sudah memesan ruang yang lebih pribadi." Dia tersenyum padaku penuh rahasia dan berdiri, menggenggam tanganku.
-Fifty Shades of Choi-
Kami sampai di ruangan yang lebih pribadi dengan tempat duduk yang sangat mewah. Di bawah sebuah lampu gantung berkilauan, taplak meja dari kain linen berkanji, gelas kristal, sendok garpu perak, dan karangan bunga mawar putih. Pelayan menarik kursi untukku dan aku duduk. Ia menempatkan serbet di pangkuanku. Siwon duduk di depanku, aku mengintip ke arahnya.
"Jangan menggigit bibirmu." Bisiknya. Aku mengerutkan kening. Aku bahkan tak sadar jika aku melakukannya.
"Aku sudah memesan makanannya. Aku harap kau tak keberatan."
Terus terang, aku lega. Aku tak yakin aku bisa membuat keputusan lebih lanjut. "Tidak, itu bagus." Aku menyetujui.
"Ada baiknya untuk tahu bahwa kau bisa lebih terbuka. Sekarang, sampai di mana kita tadi?"
"Pokok permasalahan." Aku meneguk banyak anggur lagi. Ini benar-benar lezat. Siwon benar-benar tahu tentang anggur yang enak. Aku teringat terakhir meneguk anggur yang dia berikan di tempat tidurku. Aku malu pada bayangan yang sangat mengganggu itu.
"Ya, masalah keberatanmu." Tangannya merogoh ke dalam saku jaket dan menarik keluar secarik kertas. Aku rasa kertas print out emailku, berisi keberatanku.
''Hal ini untuk kepentingan kita berdua. Aku akan merumuskan kembali."
Pelayan datang dengan hidangan pertama kami. Bagaimana mungkin aku bisa makan? Dia memesan tiram di atas hamparan es.
"Aku harap kau suka tiram." Suara Siwon lembut.
"Aku belum pernah makan tiram." Jujurku.
"Benarkah?" Dia mengambil satu. "Yang kau lakukan hanya memegang ujungnya dan menelannya. Aku pikir kau bisa melakukannya." Dia menatap padaku.
Aku tahu apa yang dia maksud, aku tersipu memerah. Dia nyengir, menyemprotkan air jeruk lemon ke tiram dan memegang ujungnya kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. "Hmm, lezat, cita rasa laut." Dia nyengir, "Cobalah." Dia memberikan padaku.
"Jadi, aku tak perlu mengunyahnya?"
"Tidak, Kyuhyun, tak perlu." Matanya menyala dengan humor.
Dia tampak begitu muda seperti ini. Aku menggigit bibir dan ekspresinya langsung berubah, dia tampak tegang melihatku. Aku mengulurkan tangan dan mengambil tiram pertamaku. Dengan mudah tiram itu meluncur ke tenggorokan, semua air laut, garam, bau tajam jeruk, dan kenyal. Aku menjilat bibirku, dia menatapku penuh perhatian, matanya berkabut.
"Bagaimana?"
"Aku harus mencoba satu lagi." Kataku datar.
"Good boy." Katanya bangga.
"Apa kau sengaja memilih ini? Bukankah tiram terkenal dengan afrodisiak yang bisa meningkatkan libido?"
"Tidak, itu adalah makanan pertama di menu. Aku tak perlu afrodisiak saat di dekatmu. Aku pikir kau tahu itu dan aku pikir kau bereaksi dengan cara yang sama saat di dekatku." Katanya singkat. "Jadi sampai dimana kita?" Dia melirik kertas tadi saat aku meraih tiram lain.
''Ini dari semua pertanyaanmu adalah kepatuhan. Patuh padaku dalam segala hal, aku ingin kau melakukan itu. Anggap saja sebagai bermain-peran Kyuhyun. Semua yang kau khawatirkan, tidak akan terjadi."
"Tapi aku khawatir kau akan menyakitiku."
"Menyakitimu seperti apa?''
"Secara fisik." Dan secara emosional tentunya.
"Apa kau benar-benar berpikir aku akan melakukannya? Melampaui batasmu yang tidak bisa kau terima?"
"Kau bilang kau telah menyakiti seseorang sebelumnya."
"Memang, aku pernah. Tapi itu sudah lama."
"Bagaimana kau menyakiti mereka?"
"Aku menggantung mereka di langit-langit ruang bermainku. Bahkan itu adalah salah satu pertanyaanmu. Itu gunanya karabiner yang ada di ruang bermain.''
Aku mengangkat tanganku dan memohon dia untuk berhenti, "Aku tak perlu tahu lagi. Jadi kau tak akan menggantungku?"
"Tidak jika kau benar-benar tak mau. Kau bisa buat itu sebagai batas keras."
"Oke."
"Jadi tentang mematuhi, apa kau berpikir bahwa kau bisa melakukannya?" Dia menatapku dengan mata abu-abunya yang intens.
"Aku akan mencoba." Bisikku.
"Bagus." Dia tersenyum. "Sekarang soal jangka waktu. Tiga bulan waktu yang terlalu singkat terutama jika kau ingin akhir pekan jauh dariku setiap bulan. Aku tak berpikir aku akan bisa menjauh darimu untuk waktu yang lama. Aku nyaris tak bisa mengendalikannya sekarang." Ia berhenti sejenak.
Dia tak bisa tinggal jauh dariku? Apa?
"Bagaimana kalau satu hari selama satu akhir pekan per bulan kau mendapatkan waktu untuk dirimu sendiri, tapi aku mendapatkan malam pertengahan minggu pada minggu itu?"
"Oke."
"Dan kumohon, mari kita coba selama tiga bulan. Jika tiba-tiba kau tak menyukainya maka kau dapat pergi kapan saja."
"Tiga bulan?" Aku merasa agak kecewa dengan pendapatnya. Aku meneguk anggur cukup banyak untuk mengobati kekecewaanku dan mengambil tiram lain.
"Mengenai kepemilikan, itu hanya istilah dan kembali ke prinsip tentang mematuhi. Ini untuk membuatmu berpikir dengan tepat dan memahami dimana aku berasal. Dan aku ingin kau tahu bahwa begitu kau melewati ambang batasku sebagai submisiv, aku akan melakukan apa yang aku suka pada dirimu.''
''Kau harus menerima itu dengan rela. Itulah mengapa kau harus percaya padaku. Aku akan menidurimu, kapanpun, dengan cara apapun, aku mau di tempat mana pun aku mau. Aku akan mendisiplinkanmu karena kau pasti akan gagal. Aku akan melatihmu untuk menyenangkanku tapi aku tahu kau belum pernah melakukan ini sebelumnya.''
''Pertama-tama, kita akan melakukannya pelan-pelan dan aku akan membantumu. Kita akan membangun berbagai skenario. Aku ingin kau percaya padaku, tapi aku tahu aku harus lebih dulu mendapatkan kepercayaanmu. Yang lainnya itu untuk membantumu masuk ke dalam pola pikir, itu bisa berarti apa saja."
Dia begitu bergairah, mempesona. Ini jelas obsesinya, aku tak bisa mengalihkan pandangan dari dia. Dia benar-benar menginginkan ini. Dia berhenti berbicara dan menatapku, "Kau mengerti, kan?" Bisiknya, suaranya lucu, hangat dan menggoda. Ia meneguk anggurnya, menatapku dengan tajam.
Pelayan muncul di pintu, Siwon secara halus mengangguk mengizinkan pelayan untuk membersihkan meja kami.
"Apakah kau ingin anggur lagi?"
"Tidak, aku nanti akan menyetir."
"Mungkin air?"
''Yes, please.''
Pelayan meninggalkan kami.
"Kau sangat tenang." Bisiknya.
"Bicaramu sangat bertele-tele."
Dia tersenyum, "Ada garis sangat tipis antara kenikmatan dan rasa sakit Kyuhyun. Aku bisa menunjukkan padamu cara mendapatkan rasa nyeri yang menyenangkan. Kau tak percaya padaku sekarang, tapi ini adalah apa yang aku maksud tentang kepercayaan.''
"Ya, aku akan mencoba." Aku merespon secara spontan, tanpa berpikir karena dia benar, aku percaya padanya.
"Baik." Dia tampak lega. "Sisanya hanya berupa rincian."
"Rincian yang penting."
"Oke, mari kita bicara tentang ini juga."
Kepalaku mengambang dengan semua kata-katanya. Aku seharusnya membawa mini disc-nya Henry supaya aku bisa mendengarkan lagi. Ada begitu banyak informasi, begitu banyak untuk diproses. Pelayan muncul kembali dengan hidangan kami, ikan cod hitam, asparagus, dan kentang tumbuk dengan saus belanda.
"Aku harap kau suka ikan." Kata Siwon ringan.
"Aturan, mari kita bicara tentang itu. Makanan adalah pembatal perjanjian?"
"Ya. Dapatkah aku memastikan bahwa kau harus makan setidaknya tiga kali sehari?"
"Tidak." Aku tak akan mundur dalam hal ini. Tak ada yang akan mendikte apa yang kumakan. Bagaimana aku bercinta, boleh, tapi makan, tidak bisa.
Dia mengerutkan bibirnya, "Aku perlu tahu bahwa kau tidak lapar."
Aku mengerutkan kening, "Kau harus percaya padaku."
Ia menatap padaku selama beberapa saat, dan dia rileks. "Setuju, Mr. Cho." Katanya pelan. "Aku menyerah mengenai makan dan tidur."
"Mengapa aku tak boleh menatapmu?" Tanyaku lagi.
"Itu hanya masalah tentang seorang Dominan/submisiv. Kau akan terbiasa."
"Mengapa aku tak boleh menyentuhmu?"
"Karena kau tidak bisa." Mulutnya membentuk garis keras kepala.
"Apakah karena teman Ibumu?"
Dia tampak bingung mendengar pertanyaanku. "Kenapa kau berpikir begitu?" Dan segera dia mengerti. "Kau pikir aku trauma karena dia?" Aku mengangguk.
"Tidak Kyuhyun, dia bukan alasannya. Selain itu, dia tidak akan menerima omong kosong itu dariku."
Aku cemberut, "Jadi tak ada hubungannya dengan dia?''
"Tidak, dan aku tak ingin kau menyentuh dirimu sendiri."
''Memangnya mengapa?"
"Karena aku menginginkan semua kenikmatanmu." Suaranya serak penuh tekad.
Aku mengernyit dan menggigit ikan cod, mencoba menilai dalam hati kelonggaran apa yang bisa aku dapat. Makanan, tidur, aku bisa menatap matanya. Dia akan menerimanya dengan perlahan dan kami belum membahas tentang batas lunak. Tapi aku tidak yakin aku bisa menghadapi lebih dari makanan.
"Aku sudah memberikan banyak hal untuk berpikir bukan?"
"Ya."
"Apa kau ingin membahas batas lunak sekarang juga?"
"Tidak saat makan malam." Jawabku cepat, nafsu makanku bisa hilang jika membahas itu sekarang.
"Kau ingin makanan penutup?"
"Ya."
"Kau bisa menjadi makanan pencuci mulut." Bisiknya penuh arti.
"Aku tak yakin aku cukup manis."
"Kyuhyun, kau nikmat dan manis. Aku tahu."
"Siwon, kau menggunakan seks sebagai senjata. Itu benar-benar tak adil." Bisikku, menatap tanganku dan kemudian menatap langsung padanya. Dia mengangkat alis, terkejut dan aku melihat dia mempertimbangkan kata-kataku.
"Kau benar, akan aku lakukan. Dalam hidupmu kau menerapkan apa yang kau tahu, Kyuhyun. Ini tidak mengubah betapa aku menginginkanmu, disini, sekarang!"
Bagaimana dia bisa merayuku hanya dengan suaranya? Aku sudah terengah-engah, darahku memanas mengalir melalui pembuluh darahku, kegelisahan menggelitikku.
"Aku ingin mencoba sesuatu." Dia mengambil nafas. Aku mengerutkan kening, dia hanya membebaniku dengan ide omong kosong untuk diolah pada saat ini. "Jika kau adalah subku, kamu tak harus berpikir tentang hal ini. Ini akan lebih mudah." Suaranya lembut.
Batinku merengut. Kau dapat melakukan ini, tapi bagagimana denganku? Apa yang harus kulakukan? Kurangnya pengalamanku seperti seekor albatros terbang di sekitar leherku. Mengambil asparagus, aku menatapnya dan menggigit bibirku. Kemudian dengan sangat perlahan meletakkan ujung asparagus dingin ke mulutku dan menghisapnya.
Matanya membelalak dan aku menyadari itu, "Kyuhyun. Apa yang kau lakukan?"
Aku menggigit ujungnya, "Makan asparagusku." Jawabku cepat.
Siwon bergeser di kursinya, "Aku pikir kau bermain-main denganku, Mr. Cho?"
Aku berpura-pura merasa tak bersalah, "Aku hanya menghabiskan makananku, Mr. Choi."
Tiba-tiba pelayan mengetuk dan tanpa diminta lalu masuk. Dia melirik sebentar ke Siwon, yang mengerutkan kening padanya tapi kemudian mengangguk, jadi pelayan itu membersihkan piring. Kedatangan pelayan telah merusak suasana.
"Apa kau ingin makanan penutup?" Siwon bertanya dengan sopan, tapi matanya masih membara.
"Tidak, terima kasih. Aku rasa aku harus pulang." Aku menatap tanganku.
"Pulang?" Dia tak bisa menyembunyikan kekagetannya.
Pelayan buru-buru meninggalkan kami.
"Ya." Ini keputusan yang tepat. Jika aku tinggal di sini, di kamar ini bersama dia, dia akan meniduriku. Sengaja aku langsung berdiri. "Kami berdua akan mengikuti upacara wisuda besok."
Siwon berdiri secara otomatis, memperlihatkan kesopanan. "Aku tak ingin kau pergi."
"Tolonglah, aku harus pulang."
"Kenapa?"
"Karena kau telah memberiku begitu banyak hal untuk dipertimbangkan dan aku perlu jarak."
"Aku bisa membuatmu tinggal." Dia mengancam.
"Ya, kau pasti bisa. Tapi aku tak ingin kau melakukan itu."
Dia mengacak-acak rambutnya, sangat hati-hati mengamatiku. "Kau tahu, saat kau jatuh ke dalam kantorku, untuk mewawancaraiku, yang bisa kau katakan adalah ya sir, tidak sir. Kupikir kau terlahir sebagai submisiv yang alami. Tapi terus terang saja, aku tak yakin kau memiliki sebuah tulang submisiv dalam tubuhmu yang lezat."
"Kau mungkin benar." Aku mengambil nafas.
"Aku ingin memberimu peluang untuk melakukan penyelidikan." Bisiknya, menatap ke arahku. Dia membelai wajahku, ibu jarinya menelusuri bibir bawahku. "Aku tak tahu cara yang lain, Kyuhyun. Ini adalah siapa aku."
"Aku tahu."
Dia membungkuk ingin menciumku tapi berhenti sebentar sebelum bibirnya menyentuh bibirku, matanya langsung melihat mataku, ingin minta izin. Aku menempelkan bibirku ke bibirnya, aku membiarkan tanganku bergerak atas kemauanku sendiri dan memutar ke dalam rambutnya.
Tangannya menggenggam tengkukku saat dia memperdalam ciumannya, menanggapi semangatku. Tangan satunya meluncur ke punggungku dan menempel ke dasar tulang belakangku sambil mendorongku ke tubuhnya. "Aku tak bisa membujukmu untuk tinggal?" Dia mengambil nafas diantara ciuman.
"Tidak."
"Habiskan malam bersamaku?"
"Dan tak boleh menyentuhmu? Tidak."
Dia mengerang, "Kau keras kepala." Dia menarik diri, menatap ke arahku. "Mengapa aku berpikir kau mengucapkan selamat tinggal?"
"Karena aku akan pergi sekarang."
"Bukan itu maksudku, dan kau tahu itu."
"Siwon, aku harus berpikir tentang hal ini. Aku tak tahu apakah aku bisa memiliki jenis hubungan yang kau inginkan."
Dia menutup matanya dan menekan dahinya di bibirku, memberi kami berdua kesempatan mengatur pernapasan. Setelah beberapa saat, ia mencium keningku, menghirup dalam-dalam, mencium rambutku kemudian dia melepaskan aku, melangkah mundur.
"Terserah kau, Mr. Cho." Katanya tanpa ekspresi di wajahnya. "Aku akan mengantarmu ke lobi."
-Fifty Shades of Choi-
TBC.
Cho Kyuhyun akan jadi tahanan Choi Siwon selama tiga bulan ke depan. Apa dia bisa bertahan?
