Even Death Won't Do Us Apart
Gundam Seed/Destiny (c) Sunrise
Act Nine : Half-Blood
Bagi mereka yang berada di tengah, bagi mereka yang tidak diterima di manapun, bagi mereka yang abu-abu.
Yang mereka inginkan hanyalah satu kalimat sakti, yaitu...
Pengakuan...
"Nee-Chan, kau..." Meyrin masih belum percaya dengan apa yang dilihat dengan kedua matanya, tubuhnya bergetar karena rasa takut. Apa yang selama ini ia kira hanya berupa cerita dari masa lalu, ternyata masih ada, hingga detik ini, dan anggota keluarganya yang tersisa adalah bukti hidup bahwa cerita tersebut bukanlah hanya sekedar cerita. Itu nyata. Senyata kakaknya yang sekarang berdiri dalam posisi bertahan dan melindungi dirinya.
Lunamaria yang tengah menatap pria berambut navy blue tersebut tahu, bahwa adiknya sedang terguncang karena melihat kobaran api kecil dari telapak tangannya. Tapi dia harus melakukan ini, pria yang ada di depan mereka sekarang bukan pria biasa, atau lebih tepatnya, bukan Penyihir biasa. Dia Penyihir tingkat tinggi, yang bahkan dalam kondisi luka sedemikian parahnya, dia masih tetap bisa mengeluarkan aura yang sangat kuat. Jika dia tidak melawan, nyawa mereka berdua dalam bahaya.
"Kalian, siapa kalian?!" bentak pria itu untuk yang kesekian kalinya.
"Tenang, kami bukan orang jahat." Lunamaria menjawab dengan sedikit takut. "Kami kenalan Kisaka..."
"KISAKA?" Si pria berteriak. "Kau, kalian kenal Kisaka?"
"Ya, dia dia tetangga kami."
Dengan susah payah, pria itu berdiri, tubuhnya sempoyongan. "Katakan, di mana, Kisaka... Aku, aku harus bertemu dengannya..." Tubuhnya nyaris terjatuh menghantam lantai jika saja Meyrin tidak sigap menahannya dari depan.
"Kau masih terluka, lebih baik jangan bergerak dulu." kata Meyrin lembut.
Pria itu memberontak, meski dia tahu bahwa tubuhnya belum boleh bergerak, bahkan ketika dia menggunakan kekuatannya saja, sakit yang dia rasakan menjadi berlipat-lipat. Tapi sakit yang dirasakan oleh tubuhnya, tidak sebanding dengan sakit yang dirasakan oleh hatinya."Aku harus..."
"Tenang," suara Lunamaria terdengar. "Kisaka bilang, jika kau sudah pulih, dia akan mengatakan di mana kau bisa menemukan apa yang kau cari-cari selama ini."
Mata hijau miliknya berkilat penuh kebahagiaan. "Apakah kau mengatakan yang sesungguhnya?"
"Ya, karena itu, kau harus istirahat. Begitu kata Kisaka."
"Akan aku pegang kata-katamu, Kisaka..." sedetik kemudian, pria itu pingsan dalam pelukan Meyrin.
Hening menyergap keduanya, hingga Meyrin menatap Lunamaria dengan penuh arti.
Tidak perlu ada kata yang terucap, sang kakak mengerti apa yang diinginkan oleh adiknya. Mungkin, memang sudah waktunya bagi Meyrin untuk mengetahui kenyataan tentang keluarga mereka...
.
.
.
.
.
Sebuah saluran televisi swasta tengah menyiarkan wawancara dengan Lacus Clyne, seminggu lagi adalah hari peringatan meninggalnya Siegel Clyne. Tidak semua orang tahu mengenai kebenaran dibalik cerita sedih itu...
"Gilbert, apa rencananya?" Mwu mengepalkan tangannya untuk meredam emosi yang semakin meletup keluar.
"Mungkin sudah waktunya." Seorang wanita berambut pink terlihat berdiri di tangga.
"Lacus..."
Yang sekarang sedang siaran tidak lain adalah Meer Campbel, seorang wanita muda yang memiliki paras yang sangat mirip dengan Lacus. Tetapi kemiripannya itu tidak alami, dia harus meminum sebuah ramuan tertentu untuk tetap menjaga efek perubahan wajahnya. Semua bermula dua tahun silam, ketika Athrun Zala berkhianat dari PLANT. Keluarga Clyne yang mulai bertentangan dengan keluarga Zala memanfaatkan momen ini untuk menghentikan perang konyol antara manusia dengan Penyihir. Siegel berusaha membujuk Patrick sekali lagi, tetapi itu rupanya hal terakhir yang dia lakukan sebelum akhirnya dia dijebloskan ke penjara. Dan tentunya, ZAFT menggunakan hal ini untuk semakin memojokkan kru Archangel, dengan menyebarkan fitnah bahwa Siegel Clyne telah dibunuh oleh mereka. Ditengah kekacauan yang terjadi, Lacus kabur bersama Athrun yang menyerahkan diri setelah dia berhasil menghentikan serangan pasukan khusus ZAFT di Orb. Namun ZAFT membutuhkan sosok Lacus Clyne untuk menjadi public figure mereka. Dan Gilbert menemukan Meer, seorang gadis yang rela untuk melakukan apa saja demi keinginannya untuk menjadi diva seperti Lacus. Lengkap sudah 'boneka' ZAFT untuk menjalankan rencana mereka. Dengan ayahnya yang menjadi tawanan, Lacus tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu. Terlebih lagi dengan munculnya sosok Meer yang mengaku-aku sebagai dirinya. Menunggu...
Menunggu saat yang tepat untuk bergerak.
Menunggu salah satu diantara mereka ada yang melakukan kesalahan.
Atau menunggu keajaiban datang...
"Apa maksudmu, sudah waktunya...?" Mwu bertanya dengan nada was-was.
"Aku harus kembali ke PLANT." Kata Lacus tegas.
Pria berambut pirang itu berdiri, remote televisi yang berada di atas pahanya terjatuh. "Kau tidak bisa melakukan itu, Lacus! Apa kau sadar apa yang akan terjadi nanti?"
"Tapi..."
"Untuk kali ini, aku setuju dengan Mwu," terdengar suara dari arah dapur.
Seluruh mata tertuju kepada Murrue yang tadi bicara.
Murrue berjalan mendekati sosok Lacus, dipegangnya bahu Lacus dengan erat. "Jangan pernah berpikir untuk pergi ke PLANT, paling tidak bukan sekarang. Kira belum sadarkan diri, kami tidak bisa melindungimu dari pasukan ZAFT."
"Tapi ada Waltfeld-San, dan..."
"Aku tetap tidak bisa membiarkanmu pergi, Lacus." Mwu besikeras.
"Tapi dia benar, Mwu, ada aku." Sahut seseorang dari belakang.
Seluruh mata mencari sumber suara tersebut. Terlihat seorang pria berkulit kecokelatan berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan jaket berwarna cokelat dengan logo ZAFT di dada sebelah kirinya. "Yo," ia tersenyum lebar. "apa kabar?"
"Apakah aku harus mengingatkan kepadamu, bahwa kau sedang menyamar?" Mwu berdiri menghadap Andrew.
"Hei, hei, santai," Andrew mengangkat kedua bahunya, "aku tahu itu. Tentu saja aku tidak akan membawa Lacus masuk dari pintu depan. Dan aku akan mencari cara agar dia bisa bertemu dengan ayahnya."
Mwu mengepalkan kedua tangannya di samping, wajahnya terlihat tegang.
"Jika sampai terjadi sesuatu kepada Lacus... Kau harus bertanggung jawab, Andrew."
Wajah Lacus berseri, langsung dipeluknya Mwu dari belakang. "Terima kasih, Mwu-San!"
"Tapi kita tidak bisa pergi menggunakan pesawat, jadi kita harus melalui jalur darat. Jadi butuh waktu sekitar dua atau tiga hari untuk sampai di PLANT. Itu dengan catatan kalau jalanan tidak macet."
Dua sampai tiga hari, mungkin bisa lebih. Mwu menatap Lacus dalam diam, sekarang wanita berambut pink itu sedang diceramahi oleh Murrue. Mwu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya berharap, keputusannya ini tidak salah.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Sebentar lagi akan ada turnamen olahraga se-Orb, dan sebagai salah satu sekolah di Orb, OIHS harus mengirim wakil untuk bertanding di turnamen tersebut. Cabang olahraga yang ditandingkan adalah basket, voly, sepak bola, baseball, renang, tenis dan tenis meja. Biasanya tim yang dikirim adalah mereka yang ikut dalam kegiatan ekstrakulikuler olahraga tersebut, tetapi tentunya selalu dibuka pendaftaran bagi mereka yang ingin ikut, tapi tentunya harus diseleksi. Dan sekarang sedang dilakukan seleksi untuk tim voly putri. Semua bermain dengan baik, tapi hanya satu yang menjadi bintangnya...
Lunamaria Hawke.
Semua menyayangkan keputusan Lunamaria yang tidak pernah mau bergabung dengan tim olahraga manapun, padahal kemampuan olahraga Lunamaria di atas rata-rata, ditambah dengan refleks yang bagus serta tubuh yang menunjang. Lunamaria berkata bahwa dia tidak pernah tertarik dengan olahraga, dia berolahraga hanya untuk menjaga kesehatan tubuh, tidak lebih. Setiap tahun, Lunamaria selalu diminta oleh teman-teman sekelasnya untuk mewakili mereka, sebab setiap kelas setidaknya harus mengirim minimal satu perwakilan untuk mendaftar menjadi wakil untuk bertanding ke turnamen. Urusan diterima atau tidak, itu belakangan.
"Huaaaa, kakakmu memang jago berolahraga yah, Meyrin!" Puji Miriallia yang melihat dari jendela lantai 2. Di sampingnya, Meyrin membelakangi jendela, menatap ke arah pintu kelasnya yang terbuka dengan tatapan kosong.
Pikirannya masih berusaha mencerna kenyataan yang baru saja ia dengar tadi malam...
"Jadi, kau Penyihir?" Meyrin memastikan.
"Kau juga, Meyrin. Hanya saja tidak memiliki kekuatan." Lunamaria menjawab dengan tenang.
Suasana kembali sepi, hanya terdengar detik jam dinding dan suara-suara tidak jelas yang berasal dari luar. Hembusan nafas sesekali terdengar dari keduanya, makan malam yang sudah siap masih utuh dan sudah dingin.
"Lalu..." suara bimbang Meyrin memecah keheningan. "apa yang terjadi dengan orang tua kita? Apa mereka memang benar tewas karena kecelakaan seperti yang kau katakan? Dan kenapa aku tidak bisa ingat apa-apa tentang hal itu?"
Lunamaria mengangkat kepalanya, menatap Meyrin tepat ke manik matanya. "Mereka, mereka tewas dibunuh oleh anggota ZAFT. Karena ayah menikahi manusia biasa, dan ibu melahirkan anak berdarah campuran."
Wajah Meyrin menjadi kaku sejenak, dia bisa melihat kilatan kesedihan di mata kakaknya. "Lalu, kenapa aku tidak ingat mengenai hal itu?"
Lunamaria menghembuskan nafas, suara sedikit bergetar."Para pembunuh yang datang ke rumah kita saat perayaan ulang tahun pernikahan ayah dan ibu yang ke-10 menghapus ingatanmu mengenai kematian orang tua kita..."
"Tapi kenapa kau masih ingat?"
Sebulir air mata menetes dari pipi Lunamaria. "Kenapa? Karena aku berdarah campuran, aku manusia biasa, tapi juga memiliki kekuatan seorang Penyihir. Mereka bilang, itu adalah hukuman untukku. Terus ingat bagaimana orang tua kita dibunuh dengan sadis. Hukuman, serta peringatan bahwa di dunia ini tidak ada tempat untuk manusia biasa, apalagi dia yang berdarah campuran..."
Baru kali ini, dan semoga hanya kali ini, Meyrin melihat kakaknya yang selalu tegar dan dewasa menangis. Meski Lunamaria menangis dalam diam, tapi Meyrin tahu, rasa sakit yang dia rasakan. Tanpa disadari, Meyrin menyentuh dadanya sendiri, berusaha meredam perasaan pedih yang telah membuat matanya memanas.
"Dengan atau tanpa kekuatan, kau adalah Penyihir. Kau memiliki darah Penyihir mengalir dalam nadimu." ucap Lunamaria setelah menghapus air matanya.
"Hei, Meyriiiiin, kau tidak dengar yah?" teriakan Miriallia berhasil membawa Meyrin kembali ke masa sekarang.
Meyrin gelalapan. "Eh, oh, tidak. Ada apa?"
Miriallia mengamati Meyrin dengan seksama. "Kau tidak apa-apa?"
Yang ditanya berusaha tersenyum."Ya, tidak apa-apa."
Miriallia mengangkat kedua bahunya, dan kembali melihat pertandingan voly di lapangan. Meninggalkan Meyrin sibuk dengan dunia yang dia ciptakan dalam pikirannya.
.
.
.
.
.
Lunamaria meminum air putih yang diberikan oleh salah satu anggota inti tim voly putri OIHS, dari sudut matanya dia bisa melihat punggung adiknya. Semenjak tadi malam, mereka belum bicara apa-apa lagi, sarapan pun mereka lewati dalam diam. Pria berambut biru itu juga belum bangun ketika Lunamaria meninggalkan makanan untuknya.
"Tahun ini kau juga menjadi tim inti yang akan dikirim untuk bertanding, Lunamaria." suara seorang pria mengejutkan Lunamaria.
"Rey!" Lunamaria menggumamkan nama pria itu, sementara dia tersenyum. "Kau tahu dari mana?"
Rey menunjukkan selembar kertas. "Aku ketua OSIS, jadi aku tahu siapa yang terpilih."
Lunamaria hanya ber-oh, dan kembali menatap ke jendela di lantai dua. Tapi sekarang Miriallia sudah tidak lagi melihat ke arah lapangan, dia sedang bercakap-cakap dengan Meyrin.
"Aku tidak mau ikut campur, tapi..." Rey terdiam sejenak. "Apa kau sedang ada masalah dengan Meyrin?"
Lunamaria menghembuskan nafas panjang. "Kurang lebih begitu." Dia tidak bisa menjelaskan alasannya kepada sembarang orang.
Rey mengangguk pelan. "Semoga masalah kalian bisa selesai secepatnya."
"Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut masalah atau bukan." gumam Lunamaria pelan.
"Keluargamu satu-satunya hanya Meyrin, Luna. Jika kau kehilangan dia..."
Lunamaria menatap Rey dengan bingung. Tapi rasanya Lunamaria mengerti. Rey tidak memiliki keluarga, orang tuanya sudah meninggal ketika dia masih kecil, dan dia tidak memiliki sanak saudara di dunia ini.
"Aku tidak tahu siapa yang salah, tapi salah satu diantara kalian harus ada yang meminta maaf. Dan jika kau berbohong kepadanya, jelaskan kenapa kau melakukannya."
"Kau benar, Rey. Maaf."
Rey tertawa. "Jangan minta maaf kepadaku, minta maaf kepada Meyrin."
Lunamaria memandang Rey lekat-lekat, entah sejak kapan Lunamaria bisa bercakap-cakap selepas ini dengan Rey. Dulu, bahkan bayangan pria ini terasa berada di luar jangkauan Lunamaria, tapi sekarang mereka begitu dekat. Sapa yang mereka berikan, bukan lagi sekedar formalitas, tetapi sebuah sapaan antar sahabat. Dan mungkin, hanya mungkin, Rey adalah salah satu orang yang bisa mengerti bagaimana rasanya kehilangan keluarga.
Rey tidak melepaskan tatapannya dari sosok Lunamaria. Baru kali ini dia bisa berada begitu dekat dengan Lunamaria. Meski orangnya sendiri tidak menyadarinya, sebetulya Lunamaria adalah salah satu murid perempuan yang diidolakan di sekolah mereka. Tapi hingga kini belum ada yang berhasil menaklukan hati Lunamaria. Dan walaupun Rey memiliki kesempatan untuk melakukannya, dia tidak mau. Dia dan Lunamaria memiliki nasib yang sama, tidak memiliki orang tua. Meski Rey tidak bisa menjelaskan secara jujur mengenai kondisinya, tetapi hanya dengan memiliki Lunamaria sebagai teman, itu sudah lebih dari cukup. Untuk sekarang.
"Terima kasih, Rey." Ucap Lunamaria dengan tulus.
Rey terkesima. Bukan karena ketulusan Lunamaria, atau kecantikan perempuan itu. Tetapi karena sensasi aneh yang dia rasakan. Sebuah perasaan, yang membuat Rey ragu sejenak.
"Tadi itu, apa?" gumam Rey pelan ketika Lunamaria telah meninggalkannya. Tangannya menyentuh dadanya. "Lunamaria, apakah dia Penyihir?" bisiknya pelan.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Seleksi untuk tim inti akhirnya selesai, Rey juga telah bercakap-cakap dengan masing-masing ketua kegiatan ekstrakulikuler yang akan bertanding. Ada tiga cabang olahraga yang memperebutkan Lunamaria, basket, voly, dan renang. Tapi kelas 3-1 mendaftarkan Lunamaria di cabang voly, sehingga tim voly putri bersorak penuh kemenangan. Tetapi, kedua cabang olahraga yang kalah meminta Rey untuk membujuk Lunamaria agar dia juga mau masuk ke cabang olahraga itu. Tapi Rey menjawab, yang menjadi masalah apakah Lunamaria mau atau tidak, tapi memang peraturannya, satu orang hanya boleh bertanding di satu cabang olahraga.
Rey memijat-mijat keningnya, diskusi barusan benar-benar membuat kepalanya pening. Mata abu-abunya melihat buku catatan Lunamaria yang harus dia antarkan ke Stellar. Tanpa dikomando, senyum berkembang di bibirnya. Dari seluruh kegiatannya dalam sehari, mengunjungi Stellar adalah yang paling dia tunggu. Entah sejak kapan, melihat sosok Stellar membuatnya merasa bahagia. Melihat senyumnya, membuat harinya menjadi cerah kembali, setelah seharian harinya terasa suntuk.
Seperti biasa, Yuuna sudah tiba di saa terlebih dulu. Entah terbuat dari apa orang itu, padahal sudah berkali-kali ditolak oleh Stellar, tapi dia masih saja sering mengunjungi , maksudnya, mengunjungi Stellar untuk mengganggunya. Rey tidak mau berubah menjadi seorang kekasih yang posesif, tunggu, apa? Kekasih? Yang benar saja! Ok, itu tadi salah. Pikiran Rey nampaknya masih agak kacau.
Rey berdahem pelan. "Maaf, apa aku menganggu kalian?"
Stellar memberi tatapan kepada Rey 'Terima-kasih-sudah-datang!'. "Tidak, ayo masuk." ia beralih ke Yuuna. "Yuuna, kenapa kau tidak pulang sekarang? Hari sudah sore..."
"Stellar-Chaaaaaaan, kenapa kau selalu mengusirku setiap pria ini datang?"
Rey hanya bisa memasang tampang 'kapan-orang-menyebalkan-ini-keluar?', sementara Stellar menghembuskan nafas lelah. "Aku dan Rey ingin berdiskusi mengenai pelajaran hari ini, Yuuna. Itulah alasannya."
Yuuna membuang mukanya kesal, dan jujur, itu membuat Stellar sedikit tersinggung. Dia sendiri masih bingung, kenapa dia bisa meladeni manusia macam ini hingga sekarang. Pria berambut ungu itu berhenti di depan Rey, kemudian mencibir.
"Kau beruntung, bocah tampan! Seandainya aku juga satu sekolah dengan Stellar-Chan, aku pasti..."
"Sampai jumpa, Yuuna." kata Stellar datar.
Yuuna membuang muka, dan kali ini Rey yang menjadi korbannya.
"Aku penasaran, bagaimana caranya kau bisa bertahan berhadapan dengan pria itu?" tanya Rey setelah Yuuna keluar.
Stellar hanya mengangkat bahu. "Salah satu misteri dunia yang belum terpecahkan."
Tawa mereka berdua bergema di dalam kamar perawatan Stellar.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Lunamaria berhenti di sebuah supermarket tidak jauh dari stasiun kereta. Sekarang sudah akhir bulan, jadi wajar jika supermarket sangat ramai. Sebetulnya tidak ada yang harus dibeli, tetapi dia masih agak enggan untuk pulang ke rumah. Dia tidak tahu harus berkata apa. Apakah keputusannya untuk memberi tahu adiknya mengenai siapa mereka sebenarnya adalah salah?
"Dan dari seluruh murid di OIHS, kenapa aku harus bertemu denganmu?" celetuk seseorang dari belakang Lunamaria.
"Shinn Asuka..." Lunamaria menggeram kesal. "Tidak bisakah, meski hanya sehari saja, kau tidak menyebalkan?"
"Aku rasa kalimat itu lebih cocok untukmu." sahut Shinn ketus.
"Ya, terserah." Lunamaria mengambil sembarang barang, kemudian menaruhnya ke dalam keranjang belanjanya.
Shinn tertawa. Tawa merendahkan.
"Apa?" Tanya Lunamaria kesal.
"Nampaknya kau akan kembali melakukan hobimu yah?"
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."
"Kau tidak lihat barang apa yang kau ambil tadi?"
Lunamaria mengeritkan kening, kemudian matanya beralih ke keranjang belanjanya. Dia berteriak tertahan. Ternyata dia tadi mengambil sebuah kondom. Dengan wajah merah karena menahan malu, dia buru-buru membuang benda itu. Shinn tertawa semakin keras, beberapa orang sempat melirik mereka.
"Apa yang lucu?!" bentak Lunamaria.
"Tidak ada," Shinn tersenyum jahil. "Tapi nampaknya, salah satu murid idola di OIHS lucu juga yah."
"Itu tidak lucu, Shinn!"
"Oh ya? Lucu-lucu saja bagiku."
Lunamaria mempercepat langkahnya, begitu juga dengan Shinn.
"Apa yang kau inginkan, Shinn Asuka?"
"Kau sedang ada masalah dengan adikmu?"
Lunamaria berhenti mendadak. "Apa?"
"Kau tuli? Kau tidak mendengar pertanyaanku barusan, huh?"
"Dengar, tuan-sok-baik-dan-sok-perhatian, meski aku bertengkar dengan presiden Orb sekali pun, aku tidak akan membicarakannya denganmu! Jadi, jauhi aku!"
"Santai." Shinn mengangat kedua tangannya ke atas. "Aku bukannya ingin mencampuri urusanmu atau apa, tapi beberapa anggota ekskul robot mengeluhkan pertengkaran kecil kalian."
Lunamaria menepuk keningnya, dia lupa kalau hari ini ada jadwal rapat untuk membahas turnamen Teknika Robota yang akan digelar ulang dua bulan sebelum ujian akhir. Pikiran Lunamaria sedang kacau. Jika saja teman-teman sekelasnya tidak mendorong dia ke tengah lapangan, mungkin Lunamaria juga tidak akan ikut tes seleksi tadi. "Ya, terima kasih untuk informasinya. Sekarang, bisa kau tinggalkan aku?" Lunamaria berjalan meninggalkan Shinn.
"Hei, apakah begitu caranya berterima kasih?" Shinn mengejar Lunamaria, kemudian menangkap pergelangan tangannya.
Lunamaria berusaha melepaskan cengkraman lengan Shinn, tetapi tidak berhasil. Pria itu mencengkram dengan sangat kencang. "Lepaskan, Shinn."
"Dengar, kau boleh memaki atau membentak, tapi aku tidak bisa terima jika ada orang yang tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih!"
"Itu karena aku sudah kesal kepadamu, Shinn! Sekarang lepaskan, atau..."
Tanpa diduga, Shinn mendorong tubuh Lunamaria hingga membentur tembok di belakangnya, keranjang belanjanya terjatuh entah kemana. Tangannya yang masih dicengkram oleh Shinn sudah terangkat tinggi-tinggi di tembok. Belum sempat Lunamaria mengeluarkan keluhannya, bibir Shinn sudah melumat bibir tipis Lunamaria. Terkejut, Lunamaria berusaha melepaskan diri, tetapi sia-sia, sekarang dua tangan Lunamaria sudah dicengkram oleh Shinn yang semakin ganas melumat bibir Lunamaria.
Sepuluh detik kemudian Shinn baru melepaskan ciumannya, tetapi bagi Lunamaria itu terasa seperti berjam-jam. Nafasnya keduanya terengah-engah, cengkraman Shinn di tangan Lunamaria sudah mulai melonggar, dan Lunamaria langsung memanfaatkan ini. Satu tamparan mendarat di pipi Shinn, membuat dia mundur selangkah.
"Brengsek!" maki Lunamaria dalam tangis. Dia berlari meninggalkan Shinn yang masih terpaku di tempatnya dalam diam, dan memegangi pipinya yang baru saja ditampar.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Meyrin baru saja selesai memasak makan malam ketika dia mendengar pintu depan di buka, dengan tergopoh-gopoh, dia melihat siapa yang datang. Ternyata itu kakaknya.
"Nee-Chan..." Meyrin sedikit bingung melihat sosok Lunamaria yang jatuh tersungkur di depan pintu. Wajahnya terlihat merah padam, matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Ditambah lagi kakaknya berkali-kali mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya.
"Nee-Chan, apa yang terjadi?" Meyrin langsung lari dan memeluk kakaknya.
Lunamaria tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menangis tersendu-sendu dalam pelukan Meyrin. Satu menit keduanya saling berpelukan dalam diam.
"Maaf," kata Meyrin pelan.
Lunamaria melepaskan pelukannya. "Eh?"
"Aku minta maaf karena aku mengacuhkanmu tadi pagi, dan juga di sekolah. Aku, aku tidak tahu harus berkata apa."
"Oh, Meyrin..." Lunamaria kembali memeluk adiknya. "Tidak apa-ap. Kau tidak perlu minta maaf, dan kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf."
"Maaf, aku tidak bermaksud memotong reuni keluarga," sosok seorang pria terlihat. "tetapi nampaknya makan malam kalian gosong."
Meyrin dengan sigap melepaskan pelukan kakaknya. "Ya ampun, aku lupa!"
Sekarang tinggal Lunamaria dengan pria berambut navy blue itu, keduanya saling tatap.
"Apa kau tidak akan mengeluarkan bola api lagi seperti kemarin?" tanya Lunamaria was-was.
"Tidak. Dan seharusnya aku minta maaf atas sikapku kemarin. Itu hanya sekedar perlindungan diri saja."
"Ya, aku tahu..." Lunamaria melihat pria itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Apa kau sudah tidak apa-apa? Bangun dari tempat tidur dan berjalan seperti itu?"
"Aku memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, jadi tidak apa-apa. Yang aku perlukan hanya asupan gizi yang pas, agar kadar kekuatan yang aku keluarkan dan aku dapatkan seimbang."
"Aku tidak mengerti apa-apa soal itu..."
Pria di hadapan Lunamaria tersenyum. "Tentu saja tidak, kau tidak pernah menggunakan kekuatanmu, kan?" ia mengulurkan tangannya.
Dengan ragu Lunamaria menerima uluran tangannya. "Kenapa kau membantuku?"
"Aku bisa bertanya seperti itu kepadamu. Kau bisa saja membunuhku tadi malam, ketika kondisiku sedang terpuruk. Tapi toh buktinya kau tidak melakukannya, kan?"
"Mungkin Penyihir berdarah campuran memang pengecut." kata Lunamaria asal. "Dan karena aku tidak memiliki kekuatan seperti yang kau miliki..."
""Dengan atau tanpa kekuatan, kau adalah Penyihir. Kau memiliki darah Penyihir mengalir dalam nadimu."" Pria itu mengutip ucapan Lunamaria, sementara perempuan di hadapannya hanya mengerutkan kening. "Maaf, semalam aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan adikmu di dapur."
"Ah, jadi kau mempunyai hobi menguping huh, tuan?"
Pria itu tertawa. "Tidak. Tentu saja tidak." Sedetik kemudian dia kembali serius. "Berdarah campuran atau murni, kau adalah Penyihir."
Lunamaria tertawa sinis. "Sayangnya, tidak semua orang setuju denganmu."
Pria itu menatap lantai. "Ya, kau benar."
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Athrun. Athrun Zala," Athrun mengulurkan tangannya. "Dan kau?"
"Lunamaria Hawke. Adikku bernama Meyrin Hawke."
"Senang berkenalan dengan kalian."
"Sama-sama, Athrun Zala."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Matahari baru saja muncul dari ufuk timur, langit malam belum sepenuhnya bertukar posisi dengan langit pagi. Suasana tentram menyelimuti seluruh wilayah Orb, sementara di permukaan bumi masih terlihat sisa-sisa pertempuran hebat yang telah terjadi semalam tadi.
Seorang wanita berambut pirang terlihat berdiri menyamping, wajahnya terkena terpaan sinar matahari. Sementara di hadapannya berdiri seorang pria berambut silver, tangannya menggenggam sebilah pedang.
"Yzak!" teriak wanita tersebut.
"Siaaaaaaaaal!" Pria bernama Yzak itu berlari. "Mati kau, Cagalliiiiiiiii!"
Yzak menusuk Cagalli tepat di perutnya hingga pedang itu menembus ke belakang tubuh Cagalli.
.
.
.
.
.
Yzak terbangun dengan nafas yang tidak teratur. Sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari lubang ventilasi kamarnya menyilaukan mata Yzak yang masih tertutup setengah.
"Sial, mimpi itu lagi..." gerutu Yzak kesal. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Sampai kapan mimpi itu terus menghantuiku?"
Berapa lama lagi kau akan menyiksa kami, Cagalli?
Bunyi weker membuat Yzak tersentak kaget, dengan nyawa yang genap mendadak dia meraih jam tersebut. Sudah jam tujuh pagi, itu artinya dia harus segera berangkat ke kantor. Semua ini karena rencana Gilbert yang menginginkan Lacus palsu – yaitu Meer – untuk mengeluarkan album baru. Dan Yzak ditugaskan untuk ambil bagian dalam proyek tersebut.
"Sial, bekerja sama dengan Lacus asli saja belum tentu aku mau, apalagi dengan yang palsu!" rutuk Yzak sambil berjalan menuju kamar mandi.
.
.
.
.
Meer menatap poster Lacus Clyne berukuran A1 yang dia dapat dari sebuah majalah, tertempel di dinding kamar tidurnya tanpa berkedip. Sudah hampir dua tahun dia menjadi sosok pengganti Lacus Clyne, dia tidak masalah, meski dia harus berpura-pura mejadi Lacus untuk sisa hidupnya, dia malah senang. Jika dengan begitu dia bisa mendapatkan sebuah pengakuan di kalangan para Penyihir.
Ya, pengakuan.
Sebagai seorang Penyihir berdarah campuran, sebuah pengakuan adalah segalanya. Pengakuan, tidak peduli sebagai manusia biasa atau Penyihir, itu adalah sebuah anugrah yang tidak ternilai harganya. Kau bukan manusia biasa karena memiliki kekuatan seorang Penyihir, di sisi lain, kau bukan Penyihir, sebab kau memiliki darah manusia biasa mengalir dalam urat nadimu. Mereka yang berdarah campuran tidak memiliki tempat di kedua sisi, mereka hanya bisa berdiri di tengah-tengah, antara diakui dan tidak.
Oleh sebab itu, banyak mereka yang beradarah campuran akan melakukan apapun demi mendapat sebuah pengakuan, yang biasanya mereka cari dari sisi Penyihir, sebab mendapatkan pengakuan dari mereka lebih mudah, karena mereka sama-sama memiliki kekuatan seperti dirimu. Yang membuatnya berbeda, hanya darah yang mengalir dalam nadi saja.
"Ayo Meer, sambut hari ini dengan senyuman indah! Kau akan meluncurkan album sebagai Lacus Clyne!"
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Seorang pria berkulit cokelat membuka pintu sebuah restoran di daerah perbatasan antara PLANT dengan Heliopolis. Restoran itu terlihat sepi, bangunannya juga sudah sangat tua dan tidak terurus lagi. Hanya ada tiga pelanggan, empat, dengan si pria yang baru saja masuk ke dalam. Seorang pelayan yang usianya mungkin sudah memasuki angka 50 menatap sosok pelanggannya dengan acuh, kemudian menyapanya dengan kalimat seadanya dan nada suara yang datar.
Heliopolis, kota yang dulunya terkenal dengan universitas-universitas ternamanya, sekarang sudah menjadi debu dan terlantar. Kota itu sudah mati, tetapi belum menyatu dengan tanah, masih ada bangunan yang berdiri, tetapi terlihat sangat rapuh dan seakan-akan akan ambruk kapan saja. Dua setengah tahun silam kota itu dihancurkan oleh pihak PLANT, dengan alasan bahwa di kota itu terdapat kelompok terosis yang bersembunyi. Heliopolis sendiri merupakan kota yang tidak masuk ke dalam negara maupun, sebab dia berada di wilayah perbatasan, sementara pihak PLANT dengan Earth Alliance tidak mau membagi kota itu menjadi dua. Alhasil, kota itu menjadi kota netral, tidak berada dalam kekuasaan siapa-siapa.
Pria berkulit cokelat itu menyeruput kopi kental yang dingin (padahal dia ingat kalau dia memesan kopi panas), kemudian menatap ke arah langit sore yang kelam dan tidak bersahabat. "Tinggal sebentar lagi... Ayo cepat, Athrun. Kita tidak memiliki waktu yang banyak."
gyaaaa,akhirny kelar juga chap ini *nangis bahagia*, well karena sekarang sedang liburan, saia usahakan bisa update cepat :). Duh, tadiny saia pengen bikin scene rey ciuman sama stellar, tapi setting lokasi sama sikonny kurang pas, jadi,karena saia,ehem,sedang ingin membuat scene ciuman yang berawal dari sebuah penyerangan,maka,begitulah,jadiny *blush*. Tidaaaaaak,otak saia lagi pervert! Tolong maafkan saia...
Anyway, tinggal satu chap lagi bagi cagalli untuk bangkit. Please bear with me guys.
Makasih untuk kalian yang udah setia baca sampai chap ini. Kritik, saran dan koreksi sangat saia harapkan. Jadi, sumonggo, silahkan isi kotak review di bahwa :d. See you in the next chap
