FAST UPDATE (again) guys! Here we go~
.
.
.
...
Peramal Itu Bilang Kau Adalah Suami Masa Depan-Ku
(The Fortune-Teller Said That You're My Future Husband)
[Lik Original:: com/story/view/591693 || tambahkan alamat webs asianfanfics di depannya ]
The Real Author :: Otpismyoxygen
Translator :: Sayaka Dini
Disclaimer: This story belong to Otpismyoxygen.
Cast:
Baekhyun; Chanyeol; Jongin; Kyungsoo; Kris; Jongdae; Tao
Pairing: Chanbaek / Baekyeol (Slight:Kaisoo)
Setting: AU
Genre: Romance—Fluff—Comedy
Rated: T.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read.
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
.
.
.
.
...
Bagian 12 ::
.o.o.o.o.o.o.
Leher Chanyeol sudah terasa lelah dari peregangan yang telah ia lakukan selama hampir setengah jam karena mencari sosok mungil yang familiar. Festival ini sudah berlangsung selama hampir empat jam tapi Chanyeol tidak pernah sekalipun bertemu dengan kekasihnya. Dan bisa dibilang, itu membuatnya frustrasi.
Chanyeol perlu tahu apakah Baekhyun sudah makan siang atau belum, atau bahkan beristirahat. Namja mungil itu masih dalam kondisi yang tidak baik, tapi tentu saja dia bersikeras untuk tetap bekerja keras. Sedangkan Chanyeol hanya berperan menjadi butler di cafe kelasnya dalam festival tersebut, dan setelah shift-nya selesai ia segera pergi untuk bisa menemukan Baekhyun.
Selain kekasihnya memiliki tubuh pendek, Chanyeol cukup yakin kalau ia dengan mudah bisa menemukannya karena rambut magenta khas yang dimiliki kekasihnya itu. Tapi ternyata itu sungguh sulit karena festival sekolah benar-benar penuh sesak dengan orang.
"PARK CHANYEOL!"
Chanyeol memutar kepalanya setelah mendengar suara keras perempuan yang memanggil namanya. Dia menemukan kakak perempuannya sendiri, Yura, melambai padanya dengan semangat saat ia berlari ke arah Chanyeol.
"Noona?"
Yura melingkarkan tangannya di sekitar tubuh adiknya dan memeluknya erat, "Chanyeol-ah, aku merindukanmu."
"Apa-apaan–Noona, hentikan, kau membuatku malu," katanya sambil mendorong Yura perlahan. "Kita baru saja bertemu pagi tadi. Dan mengapa kau ada di sini?"
Kini, beberapa orang sedang mengamati mereka berdua. Tak heran, kakak perempuannya itu adalah penyiar berita TV nasional, jadi dia pasti cukup populer.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh mengunjungi event besar sekolahmu? Aku ingin memberikan semangat untukmu dan Baekkie."
"Jangan panggil dia dengan sebutan itu," Chanyeol adalah satu-satunya orang yang bisa memanggilnya dengan sebutan itu. Dia tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan kakaknya sendiri, untuk memanggil Baekhyun dengan sebutan itu. "Dan tolong jujur saja, kau datang ke sini bukan untuk memberikan kami semangat, itu sudah pasti."
Yura memutar matanya dan mendesah, "Baiklah, kau benar. Aku datang ke sini untuk bertemu Baekkie-maksudku Baekhyun. Dimana dia? "
"Kenapa kau ingin bertemu dengannya? Lagipula, Baekhyun sibuk–"
"Chanyeol?"
Chanyeol berbalik dan melihat Baekhyun di belakangnya, membawa beberapa poster di tangannya, "Baek, ya Tuhan akhirnya, aku menemukanmu."
"Ada apa? Aku mendengar seseorang mengatakan namaku dan ketika aku berbalik itu kau," Baekhyun melangkah mendekati Chanyeol.
Alis Chanyeol berkerut ketika ia bisa dengan jelas melihat seluruh wajah Baekhyun. Dia terlihat sedikit pucat dan rambutnya menempel di dahinya karena keringat. "Aku sudah mencarimu. Apa kau sudah makan siang?"
"Sudah," jawab Baekhyun dengan senyum, meskipun faktanya dia lelah, "Umm Yeol, siapa dia?" Baekhyun menunjuk Yura yang melompat penuh semangat di belakang Chanyeol.
Yura mendekati Baekhyun tanpa izin Chanyeol dan dia benar-benar melompat sekarang, "Kau Baekhyun, kan?" Baekhyun mengangguk, sedikit ketakutan. "Oh Tuhan, akhirnya aku bertemu denganmu. Aku Park Yura, kakaknya Chanyeol."
Chanyeol mendesah dan menepuk wajahnys sendiri.
"Yach Chanyeol, cepatlah, memperkenalkan aku kepadanya," Yura berteriak tapi wajahnya berubah cerah lagi ketika dia menghadap Baekhyun.
"Noona, ini Baekhyun. Baekhyun, ini noona-ku, Park Yura," Chanyeol akhirnya melakukannya.
Baekhyun tersenyum lagi, "Oh, jadi itulah mengapa kalian berdua mirip. Halo, noona. Aku Baekhyun, Byun Baekhyun," ia membungkuk sedikit. "Maaf tanganku penuh."
"Tidak, tidak, tidak apa-apa. Kau sibuk, aku bisa melihat itu," Yura menepuk bahu Baekhyun.
"Kau ingin aku membantumu membawa itu?" tanya Chanyeol, khawatir dengan kondisi Baekhyun.
"Ya, please. Tanganku sakit," Baekhyun memberikan gulungan poster-poster itu kepadanya.
"Aaaww, kalian berdua sangat cute," Yura menggenggam tangannya bersama-sama dan membawanya ke samping pipinya, mengusap di wajahnya sendiri.
Chanyeol memutar matanya sambil ia mengambil gulungan poster dari Baekhyun, "Noona, tolong hentikan."
"Baiklah, aku tahu kalian berdua sibuk. Kalau begitu, aku hanya akan melihat-lihat festival ini sendiri."
"Apa itu tidak apa-apa, noona?" Baekhyun tampak merasa bersalah. "Maaf, aku membawa Chanyeol jauh darimu."
"Neh, aku tidak peduli tentang dia. Aku datang ke sini untukmu, Baekhyun," dia terkikik, membuat Baekhyun bingung. "Kau bisa membawanya sepanjang hidupmu. Lagipula dia suami masa depan-mu."
"Daaaaaaan itu saja. Ayo kita pergi, Baek," Chanyeol mendorong punggung Baekhyun dan meninggalkan Yura di belakang mereka.
"Tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi Baekhyun. Bye!" Teriak Yura.
Baekhyun berbalik dan sedikit melambaikan tangan kepada Yura sebelum ia akhirnya menghadap Chanyeol, "Kau mengatakannya kepada kakakmu?" Baekhyun bertanya sambil mereka berjalan.
"Kau juga mengatakannya kepada ibumu," kata Chanyeol, menyeringai.
"CHANYEOL HYUNG!"
Yang benar saja. Mengapa semua orang suka sekali memanggil namanya hari ini.
Chanyeol, begitu pun Baekhyun, berbalik dan melihat Jongin berlari ke arah mereka.
"Ada apa, bocah?" Chanyeol malas bertanya. Dia tidak suka kalau ada orang yang mengganggu waktunya saat bersama dengan Baekhyun. Dia harus menghargai waktu kebersamaan mereka karena Baekhyun sibuk, dan dia yakin Baekhyun akan meninggalkannya lagi untuk bekerja.
"Kau tidak akan percaya ini hyung," kata Jongin di antara napas terengahnya. "Hai Baekhyun hyung!"
Baekhyun kembali melambai sambil tersenyum. Tubuhnya sedikit menyandar ke arah Chanyeol karena merasa lelah.
Pemuda yang lebih tinggi itu menyadarinya sehingga ia meletakkan tangannya yang bebas dari gulungan poster ke bahu pacarnya, "Percaya dengan apa? Jongin, ini benar-benar bukan waktu yang tepat–"
"Peramal wanita itu ada di sini!" Jongin berteriak. "Dia ada di sini, Demi Tuhan hyung."
Rahang Chanyeol turun, "Apa? P-peramal yang itu?"
"Iya! Peramal yang itu. Memangnya berapa banyak peramal yang kita tahu." Jongin tampak tidak sabar berdiri di atas kakinya.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Untuk sesaat, Chanyeol benar-benar lupa bahwa Baekhyun ada di sana. Astaga, si peramal itu berada di festival ini, juga. Apa artinya ini? Semacam deja vu?
"Apa yang kau maksud itu adalah peramal yang memberitahumu tentang aku jadi suami masa depanmu?" Baekhyun bertanya pada Jongin dan Chanyeol.
Jongin mengangguk semangat, "Iya, yang itu hyung."
"Aku ingin bertemu dengannya," seru Baekhyun sambil melepaskan pegangan Chanyeol di bahunya.
Sedikit terkejut, Chanyeol tergagap, "A-apa? Kau ingin bertemu dengannya? Tidak, Baek, tidak."
Baekhyung mengangkat alisnya, "Kenapa? Aku ingin bertemu dengan cupid kita, Yeol. Ayo, Jongin."
Jongin meraih bahu Baekhyun dan keduanya berjalan menjauh dari Chanyeol yang tercengang. Dia akhirnya segera mengikuti duo itu di depannya.
Chanyeol mendengar Jongin mengatakan sesuatu seperti 'Kelas 2-4 menyewa stan untuk peramal'. Chanyeol sedang berpikir jadi ia tidak begitu jelas mendengar apa yang dikatakan Jongin. Sejujurnya, ia takut. Dia takut bertemu wanita tua itu lagi karena dia tahu bagaimana ramalan bisa berubah sepanjang waktu. Bagaimana jika saat ini wanita tua itu mengatakan kalau bola kristalnya telah berubah dan mengatakan kalau Baekhyun bukan suami masa depannya lagi. Meskipun ia tidak peduli tentang hal itu, karena ia menyukai Baekhyun bukan karena ramalan itu, tetapi karena ia benar-benar menyukai Baekhyun dari pertama kali ia mendaratkan pandangan matanya pada sosok Baekhyun. Tapi, tetap saja, ia merasa gelisah.
"Selamat datang."
Chanyeol terlalu disibukkan oleh pikirannya sampai ia tidak menyadari bahwa mereka sudah tiba di depan kelas 2-4, di depan peramal tepatnya. Itu benar-benar peramal yang sama. Jonging tidak berbohong.
Mereka bertiga berdiri di depan wanita tua itu dan Jongin adalah orang yang membungkuk pertama kali padanya, "Selamat sore, Madam. Senang bertemu denganmu lagi. Apa kau mengingatku? Aku Jongin."
Peramal itu diam, bahkan ekspresinya tidak berubah. Jongin mulai merasa gelisah, sampai bibir wanita itu perlahan melengkung membentuk senyum. "Tentu saja aku ingat. Kau, Jongin, dan Chanyeol..." dia menatap Chanyeol, "...bertemu denganku tiga minggu lalu," katanya.
Jongin tampak bersemangat sedangkan Chanyeol membeku. Jongin gelisah di tempat duduknya dan menunjuk Chanyeol, "Kau ingat memberitahukan dia tentang suami masa depannya? Kau tahu apa Madam? Dia-"
"Yach, Kim Jongin!" Chanyeol berteriak kepadanya.
"Aku ingat dengan jelas, sayangku," jawab wanita itu dan mengalihkan tatapannya ke Baekhyun yang berdiri di samping Jongin, "Dan aku bisa melihat kalau mereka sudah berpacaran."
Mata sepasang kekasih itu melebar terkejut, terutama Baekhyun, yang memiliki pertemuan pertamanya dengan si peramal. Jadi itu benar, pikirnya.
"Wow, seperti yang diharapkan, kau sudah tahu," Jongin terpesona. Dia berdiri dan menarik Baekhyun untuk duduk di kursi sebagai gantinya, "Hyung, kau perlu mencoba," katanya kepada Baekhyun.
"Tunggu, tunggu," Chanyeol mendekati mereka. "Baek, ayo kita pergi."
"Tidak apa-apa, aku ingin mencobanya," Baekhyun membungkuk di tempat duduknya, "Salam Madam, aku Byun Baekhyun."
"Mencoba apa, Baek? Ayolah, kita pergi," Chanyeol merengek sambil menarik-narik jaket Baekhyun.
"Apa yang ingin kau tahu, sayang?" Si peramal akhirnya bertanya.
"Aku ingin tahu siapa suami masa depanku,"
Mulut Chanyeol menganga tak percaya, "Apa? Baekhyun, kau suami masa depanku."
"Hanya karena aku suami masa depanmu, bukan berarti kau suami masa depanku, Yeollie."
"Apa-apaan itu, Baek," sekarang Chanyeol panik.
Baekhyun tertawa gembira melihat reaksi kekasihnya, "Aku bercanda, Yeol. Ya ampun," ia mengusap tangan Chanyeol sebelum kembali berpaling pada si peramal, "Aku bersedia untuk mengetahui apa pun yang kau miliki. Tentang hubungan kami juga tidak apa-apa."
"Kau yakin, sayang?" Wanita tua itu memastikan. Baekhyun mengangguk meyakinkan, jadi wanita itu meletakkan tangannya di atas bola kristalnya.
Dan sekali lagi, Chanyeol dan Jongin menyaksikan hal yang ajaib terjadi. Bola kristal dipenuhi dengan kabut sementara peramal melihat dari dekat di atas bola kristal tersebut. Sementara itu, Baekhyun tampak terkejut dan terpesona oleh itu.
Chanyeol bisa melihat bahwa wanita tua itu mengangkat alisnya sebelum akhirnya kabut dalam kristal lenyap. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun dengan mata serius, "Akan ada sesuatu yang sedikit buruk, atau mungkin baik, terjadi di masa depan, tapi jangan khawatir. Tidak ada masalah yang orang tidak bisa menanganinya."
Baekhyun berkedip, "Apa yang kau maksud dengan sesuatu yang buruk? Bisakah kau memperinci itu?"
Sang peramal menggeleng, "Mungkin sesuatu itu akan berubah baik atau buruk, tergantung dari bagaimana kau menanganinya."
"Hentikan," Chanyeol melangkah maju, "Kau membuatnya takut. Baekkie, ayo kita pergi."
"Chanyeol," wanita itu menghentikannya, "Aku juga melihat kau–"
"Aku tidak peduli tentang diriku sendiri," bentak Chanyeol tapi kemudian ia menyesalinya setelah itu. "Aku minta maaf aku tidak bermaksud bersikap kasar. Sekarang, kami berdua permisi," Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menyeretnya ke luar dari kelas itu, dengan Jongin mengikuti mereka di belakang.
Ketika mereka sampai di koridor, Chanyeol berpaling ke Baekhyun, "Kau baik-baik saja?"
"Hyung, aku minta maaf sudah mengajakmu ke sana," kata Jongin juga.
"Hei, aku baik-baik saja. Itu bukan apa-apa, sungguh," Baekhyun mengangkat bahu dan memberikan senyumannya pada dua namja tinggi itu.
Chanyeol mendesah dan menatap Jongin, berharap kalau pemuda tan itu bisa menangkap tanda Chanyeol untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua. Yang mana Jongin lakukan. Jongin melambaikan tangan kepada pasangan itu sebelum ia pergi. Chanyeol fokus pada kekasihnya lagi, "Baek, Kau tidak harus percaya pada peramal itu."
"Jika aku tidak percaya kata-katanya barusan, itu berarti aku juga tidak percaya kau sebagai suami masa depanku, iya kan?" ujar Baekhyun. Ketika ia melihat tatapan mata Chanyeol melunak, ia melanjutkan, "Lagipula, dia tidak benar-benar mengatakan sesuatu itu akan menjadi buruk, itu bisa berubah menjadi baik. Aku percaya itu."
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Jika hal itu terjadi, aku akan melindungimu, Baek."
Baekhyun merasa hatinya menjadi hangat karena kata-kata meyakinkan Chanyeol itu. "Aku tahu, Chanyeol. Kau tidak perlu memberitahukan aku itu."
Chanyeol senang Baekhyun tidak terlalu dipengaruhi oleh ramalan tersebut. Dia sudah punya firasat buruk tentang hal itu ketika Jongin menyebutkan peramal itu sejak awal. Ternyata, itu bukan sesuatu tentang suami masa depan. Tapi, ini mungkin lebih buruk. Dia tidak ingin Baekhyun merasa buruk dengan cara apapun. Tidak pernah.
"Syukurlah kau masih memegang posterku," Baekhyun terkekeh.
Chanyeol menunduk, dan ya, dia masih memiliki poster, untungnya. "Yeah, suami masa depanmu tidak terlalu bodoh, Baek," katanya sambil tertawa. "Jadi, ke mana aku harus membawa ini?"
Baekhyun tersenyum sambil menarik-narik baju Chanyeol, "Ikuti aku."
Chanyeol melakukan persis apa yang dikatakan Baekhyun. Mereka berjalan berdampingan, dan tiba-tiba Chanyeol ingat apa yang Baekhyun katakan sebelumnya, "Hei, Mengapa tadi kau bilang kalau aku mungkin saja bukan suami masa depanmu?"
Baekhyun memutar matanya, "Aku bilang aku hanya bercanda, Yeol."
Chanyeol pura-pura cemberut, "Aku tidak suka kalau kau bercanda tentang hal itu."
Sekali lagi, Baekhyun memutar matanya tapi akhirnya dia tersenyum karena Chanyeol masih cemberut, "Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji."
Kemudian Chanyeol juga tersenyum.
.
.
.
.
.
Chanyeol jelas bisa mendengar suara nyaring dari MC melalui speaker kanan dari belakang panggung. Dia juga bisa mendengar sorak-sorai dari para penonton yang sudah mengisi auditorium dan mengubahnya menjadi semacam tempat konser.
Siswa sebelumnya sudah melakukan pertunjukkannya di atas panggung tersebut, dan akhirnya itu gilirannya, giliran mereka berdua, untuk naik ke atas panggung. Chanyeol diam-diam mengetukkan jarinya pada gitar dengan gugup. Dia hanya punya 4 menit tersisa sebelum MC memanggil mereka. Tapi Baekhyun masih di toilet, mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang tepat untuk tampil di atas panggung. Chanyeol sendiri sudah mengganti pakaiannya menjadi baju kotak-kotak biru tua dan jaket cokelat muda, dengan syal merah membungkus lehernya.
Tepat di saat Chanyeol hampir bangkit untuk menjemput kekasihnya, yang ditunggu akhirnya keluar dari balik pintu belakang panggung membuat Chanyeol menghela napas lega. Baekhyun berjalan mendekatinya sambil memperbaiki blazer hitamnya yang dilapisi sweater merah. Dan Chanyeol pikir Baekhyun tampak benar-benar mengagumkan. Terlihat cute dan cool di waktu yang sama.
"Maaf aku terlalu lama," kata Baekhyun ketika ia akhirnya mengambil kursi di samping pemuda yang lebih tinggi itu.
Chanyeol meneliti wajah Baekhyun, "Apa kau memakai eyeliner?"
Baekhyun tampak sedikit terkejut dengan Chanyeol yang menyadarinya. Dia mengangkat bahu sebelum ia menjawab, "Sedikit. Mataku bengkak karena kurang tidur, jadi aku pikir eyeliner bisa membantu."
"Kau tampak hebat dengan itu, Baek."
Baekhyun tersenyum dan seketika itu ia menyadari betapa ia merindukan saat-saat ia berada di dekat Chanyeol. Ia sudah bertemu dengan Chanyeol sebelum ini, tapi itu singkat dan ia sedang terburu-buru sampai ia bahkan tidak punya waktu untuk lebih dekat di sisi Chanyeol.
"Apa?" tanya Chanyeol, sedikit gugup dengan Baekhyun yang meneliti wajahnya. "Apa ada sesuatu di wajahku?" Ia mengusap tangannya di wajahnya.
Baekhyun tertawa, "Tidak, hanya saja-"
Perkatan Baekhyun terpotong oleh sorak-sorai keras dari penonton, kemudian Baekhyun baru ingat bahwa ia akan tampil di atas panggung. Rasanya aneh. Karena dia sempat lupa tentang pertunjukkan itu selama satu menit di sana saat ia sedang berbicara dengan Chanyeol.
"Apa kau gugup?"
Baekhyun menyentakkan kepalanya ke arah Chanyeol ketika ia mendengar suaranya yang husky. Ia bisa melihat Chanyeol khawatir dan menatap Baekhyun dengan tatapan mendalam yang intens. "Anehnya, tidak. Tidak sama sekali," jawab Baekhyun sambil tersenyum. Dia mengalihkan tatapannya dari Chanyeol dan melihat ke depan. "Aku merasa senang dan juga sedih dengan festival ini yang akhirnya akan berakhir."
Chanyeol meletakkan tangannya di bahu Baekhyun dan mengusapnya perlahan-lahan, "Kau sudah melakukan hal besar, Baekkie. Aku yakin semua orang setuju denganku."
"Benarkah?" Ia memutar kepalanya ke arah Chanyeol lagi, "Aku masih merasa kalau aku seharusnya bisa melakukan yang lebih baik dari ini, Yeol."
Chanyeol menggeleng, "Berhenti merendahkan diri sendiri, Baek. Aku yakin jika orang lain yang diberikan tugas ini, dia tidak akan mampu untuk membuat semua ini terjadi. "
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Itu selalu membuatnya bertanya-tanya bagaimana Chanyeol selalu memiliki kemampuan untuk menenangkannya dan membuat jantungnya berdebar dalam waktu yang sama.
"Jangan pikirkan tentang semua masalah itu lagi, hanya nikmati perform kita, oke?" Chanyeol mengacak-acak rambut magenta Baekhyun. Namja mungil itu menjawab dengan anggukan sederhana dan senyuman mempesona.
"Dan penampilan terakhir untuk malam ini, yang sudah kalian tunggu-tunggu, ... Chanyeol dan Baekhyun!" MC memanggil Chanyeol dan Baekhyun.
Mereka berdua langsung berdiri dari kursi mereka. Chanyeol mengambil gitar dengan tangan kirinya dan meraih tangan Baekhyun dengan tangan kanannya. Kemudian ia memimpin Baekhyun ke pintu masuk panggung.
Ketika mereka tiba di pintu masuk, mereka berhenti dan Baekhyun tiba-tiba menghembuskan nafas gugup sebelum Chanyeol akhirnya memegang bahunya dengan lembut, "Tunggu di sini, Baek," katanya.
Baekhyun membelalakkan matanya, "Apa? Apa maksudmu?"
Chanyeol hanya tersenyum, "Tunggu di sini sebentar, aku akan memanggilmu nanti."
"Tunggu, apa? Chanyeol, tunggu!" Baekhyun mencoba untuk menghentikan Chanyeol tapi kekasihnya sudah berjalan duluan ke panggung.
Chanyeol melangkah ke panggung dan cahaya terang langsung menyorot sosoknya. Dia bisa mendengar sorak-sorai keras dari teman-teman dan juniornya saat ia mendekati kursi yang sudah disiapkan untuknya dan Baekhyun di tengah panggung. Dia mengulum senyum lebar ketika ia akhirnya berdiri di depan standing-mic dan ia duduk di salah satu kursi.
Chanyeol mengamati penonton dan ia segera melihat sahabat-sahabatnya dan kakak perempuannya yang berdiri dengan penuh semangat di baris depan. Chanyeol tersenyum kepada penonton dan berdeham.
"Selamat malam semuanya," katanya dan kerumunan penonton terdiam. "Pertama-tama, jangan khawatir, Baekhyun sedang menunggu di belakang panggung. Aku hanya akan mengatakan beberapa kata sebelum aku memanggilnya ke sini, tidak apa-apa 'kan? "
Para penonton itu berteriak 'ya' secara serempak, dan Chanyeol tersenyum. Sementara itu, di belakang panggung Baekhyun hanya bisa mengerutkan kening dengan pidato kekasihnya yang mendadak. Mengapa Chanyeol tidak membicarakan hal ini dengannya sebelumnya?
"Aku ingin mengucapkan selamat kepada kita semua untuk keberhasilan festival ini," lanjut Chanyeol. "Siapa yang tahu bahwa kita bisa melakukannya hanya dalam dua minggu? Karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah mendorong kita semua untuk mengambil risiko ini. Tanpa dia dan usahanya yang besar, kita tidak akan berdiri di sini sekarang."
Chanyeol memutar kepalanya ke pintu masuk panggung dan menemukan Baekhyun berdiri di sana dengan matanya yang berkilauan air mata.
Chanyeol memutar kepalanya ke penonton lagi dan melanjutkan, "Dan aku merasa terhormat memiliki kesempatan untuk melakukan duet dengan dia malam ini. Juga, aku bangga untuk mengatakan bahwa orang ini adalah pacarku, jadi,"
Chanyeol berhenti dan tersenyum ketika ia mendengar tawa dan peluit dari keramaian penonton. Dia memutar kepalanya ke Baekhyun yang memiliki ekspresi 'aku-akan-membunuhmu-Chanyeol', dan Chanyeol hanya bisa tertawa.
"Orang yang sedang ku bicarakan tampaknya terlihat sudah kesal karena ocehanku, jadi mari kita sambut dia. Dan tolong bersorak keras untuknya, okay guys? Baekhyun, ayo keluar!"
Baekhyun menggigit bibirnya untuk menghindari senyum lebar yang akan muncul di wajahnya karena sorak-sorai keras yang ia terima dari teman sekolahnya. Chanyeol melambai padanya dengan tangannya yang bebas dan memintanya untuk bergegas masuk di atas panggung. Jadi Baekhyun melakukannya. Dia melangkah keluar dari belakang panggung dan menahan napas saat kini ia bisa melihat kerumunan besar di depannya.
Sang ketua Osis dengan melamun berjalan menuju Chanyeol di tengah panggung. Ketika sampai di kursinya di samping Chanyeol, pemuda tinggi itu meraih tangan Baekhyun dan mencondongkan tubuh ke arahnya, "Jangan menangis," bisiknya.
Baekhyun membalas dengan pukulan ringan di dada Chanyeol itu, "Aku tidak menangis."
Baekhyun tahu kalau Chanyeol hanya menggodanya sehingga dia tidak akan gugup. Meskipun ia merasa sedikit kewalahan oleh perasaan emosional mendadak tapi ia bisa mempertahankannya.
Chanyeol tertawa padanya sebelum ia berpaling ke mic lagi, "Ladies and gentlemen, Byun Baekhyun, Ketua Osis kita," Chanyeol memperkenalkan Baekhyun.
Pemuda yang disebut menyesuaikan posisinya di atas kursi saat ia juga mendekati mic, "Ladies and gentlemen, Park Chanyeol, uhm, pacarku yang bodoh."
Pernyataan Baekhyun mendapatkan gelak tawa besar dari Chanyeol serta kerumunan di depannya. Dia menunggu sampai lorong terdiam sebelum ia melanjutkan, "Jadi, uhm, Chanyeol dan aku hanya menyiapkan perform ini selama seminggu. Dan karena aku sedang dalam kondisi buruk, juga suaraku yang agak serak–"
"Suaranya masih luar biasa bagus, guys," Chanyeol memotongnya, dan menerima silau kematian dari pacarnya.
"Aku sangat berharap bahwa ini akan berubah dengan baik. Silakan menikmati penampilan kami," Baekhyun berhenti untuk sementara dan menelan ludah sebelum ia berbicara lagi, "Dan aku mencintai kalian semua, terima kasih untuk dua minggu ini."
Kerumunan memberi Baekhyun tepuk tangan, dan tiba-tiba adrenalin bergegas ke dalam dirinya. Dia tersenyum bersinar ke arah Chanyeol sampingnya, dan pemuda tinggi itu menerimanya sebagai isyarat baginya untuk mulai bermain gitar.
Chanyeol memetik not pertama dari lagu sebelum kerumunan akhirnya bersorak dan berteriak untuk mereka. Kemudian, Chanyeol menutup matanya karena ia tahu suara Baekhyun akan datang.
If tommorow's judgement day
Jika besok adalah hari penghakiman
And I'm standing on the front line
Dan aku berdiri di garis depan
And the lord ask me what I did with my life
Dan sang Penguasa bertanya padaku apa yang sudah aku lakukan dengan hidupku
I will say I spent it with you
Aku akan mengatakan aku menghabiskannya denganmu
Chanyeol tersenyum dan membuka matanya. Dia memutar kepalanya untuk menatap Baekhyun, dan serius, dia pikir Baekhyun terlihat bersinar.
If I wake up in world war III
Jika aku bangun di perang dunia ke-3
I see destruction and poverty
Aku melihat kehancuran dan kemiskinan
And I feel like I want to go home
Dan aku merasa seperti aku ingin pulang
It's okay, if you're coming with me
Itu tidak apa-apa, jika kau datang bersamaku
Chanyeol sudah menyaksikan Baekhyun menyanyikan lagu ini tak terhitung jumlahnya saat mereka berlatih. Tapi dia pikir ini adalah yang terbaik dari Baekhyun meskipun suaranya sedikit serak.
If I lose my fame and fortune
Jika aku kehilangan ketenaran-ku dan keberuntungan-ku
And I'm homeless on the street
Dan aku adalah tunawisma di jalan
And I'm sleeping in the grand central station
Dan aku tidur di tengah-tengah gedung stasiun
It's okay, if you're sleeping with me
Itu tidak apa-apa, jika kau tidur denganku
Chanyeol menatap kerumunan di depannya. Satu-satunya suara yang terdengar di seluruh auditorium itu hanya gitar Chanyeol dan suara Baekhyun sekarang. Dan orang banyak itu melambaikan tangannya sesuai dengan melodi.
As the years they pass us by
Seperti tahun-tahun yang melewati kita
We stay young through each other's eyes
Kita tetap (terlihat) muda melalui mata (kita) masing-masing
And no matter how old we get
Dan tidak peduli berapa usia kita
It's okay, as long as I got you babe
Itu tidak apa-apa, asalkan aku memilikimu babe
Chanyeol benar-benar tidak tahu bagaimana ia masih bisa bermain gitar sepanjang lagu karena jelas ia terpesona dengan suara Baekhyun. Dan itu juga tidak membantu ketika ia memutar kepalanya untuk menatap Baekhyun lagi, dimana Baekhyun sedang ...
If I should die this very day
Jika aku harus meninggal hari ini
Don't cry, cause on earth we wasn't meant to stay
Jangan menangis, karena bumi bukan dimaksudkan untuk tinggal (selamanya).
And no matter what people say
Dan tidak peduli apa yang orang katakan
I'll be waiting for you after the judgment day
Aku akan menunggumu sampai hari penghakiman
... Baekhyun juga sedang menatapnya dengan pandangan lembutnya, menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan seolah ia bersungguh-sungguh dalam semua kata-katanya. Dan dia menyanyikannya untuk Chanyeol, dan hanya Chanyeol. Sementara semua orang di sana di depan mereka, tidak ada.
Cause your love is my love
Karena cintamu adalah cintaku
And my love is your love
Dan cintaku adalah cintamu
It would take an eternity to break us
Ini akan menjadi abadi sampai menghancurkan kita
And the chains of Amistad couldn't hold us
Dan rantai Amistad tidak bisa menahan kita
Cause your love is my love
Karena cintamu adalah cintaku
And my love is your love
Dan cintaku adalah cintamu
Baekhyun menyelesaikan not terakhir, dan Chanyeol memetik melodi terakhir. Keduanya berhenti dan membeku, saling memandang untuk beberapa detik sebelum tepukan dan teriakan seluruh auditoriom menyentakkan mereka dari dunia mereka.
Baekhyun yang pertama memutuskan tatapan mereka dan beralih melihat kerumunan sambil tersenyum canggung, masih terpesona dengan moment kecil antara dia dengan Chanyeol. Sedangkan pemuda tinggi yang satunya membersihkan tenggorokannya dan juga menyeringai canggung.
Chanyeol tiba-tiba berdiri dari bangku dan meraih tangan Baekhyun, mengisyaratkan namja mungil itu untuk juga berdiri. Baekhyun melakukannya dan mereka berdua sedikit membungkuk, sementara Chanyeol menautkan jari-jari mereka bersama-sama.
"Terima kasih sekali lagi, guys," Chanyeol berteriak melalui mic dan orang-orang masih bertepuk tangan untuk mereka.
Sedangkan Baekhyun di sampingnya kebingungan. Mengapa Chanyeol segera mengatakan terima kasih seperti itu tanpa pidato penutupan.
Masalahnya adalah, Chanyeol benar-benar ingin mereka berdua bisa keluar dari sana, ia ingin sendirian dengan Baekhyun, secepat yang dia bisa.
"Uhm, ya, terima kasih banyak, harap kalian menyukainya," Baekhyun melanjutkan, "Dan jangan lupa festival kembang api di luar sana dalam waktu sepuluh menit lagi, oke?"
Setelah itu, Chanyeol dengan cepat menggenggam tangan kekasihnya dan menyeretnya dari panggung.
"Yeollie, kita mau ke mana?" kata Baekhyun, sedikit meninggikan suaranya jika saja Chanyeol tidak mendengarnya karena sekarang pemuda yang lebih tinggi itu tampak sibuk menyeret dia melalui koridor sekolah yang berantakan dan kosong. Melalui jendela, ia bisa melihat bahwa beberapa siswa sudah berkumpul di lapangan sekolah untuk menonton kembang api. Acara final festival malam ini. "Chanyeollie, Aku-"
"Ikuti saja aku, oke?" kata Chanyeol, memotongnya dan membuat Baekhyun tinggal diam sepanjang jalan ke tempat kekasihnya menyeretnya.
Tubuh Chanyeol itu dalam mode autopilot sejak dia mendengar suara Baekhyun tadi di sana. Dia tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Dia hanya membiarkan kakinya membawanya ke suatu tempat.
Dan di suatu tempat yang ternyata adalah atap sekolah, atap rahasia Baekhyun itu. Atap rahasia mereka.
Chanyeol berhenti, dan mereka tetap diam untuk sejenak, tangan masih saling bertautan bersama-sama. Dan dengan udara dingin dari angin, menyentakkan Chanyeol kembali pada kenyataan, ia berbalik untuk menghadap Baekhyun.
"Baek–"
"Ya Tuhan, ini dingin sekali," Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol dan membungkus tubuhnya dengan tangannya sendiri.
Itu mengingatnya kalau kekasihnya tidak menyukai cuaca dingin, Chanyeol cepat membuka syalnya sendiri dari lehernya dan dengan lembut menutupi leher Baekhyun, juga setengah dari wajah Baekhyun dengan syal yang besar milik Chanyeol. Baekhyun sungguh tampak sangat cute dan manis membuat Chanyeol sangat ingin memeluknya.
Jadi dia melakukannya.
Baekhyun tersentak ketika ia merasa tangan besar Chanyeol membungkus tubuhnya. Dan anehnya itu membuatnya hangat. "Yeol, ada apa? Mengapa kau membawaku ke sini?"
Chanyeol menumpukan kepalanya di bahu Baekhyun, dan membenamkannya di atasnya, "Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak sadar kalau aku sudah membawamu ke sini."
Angin di atap itu begitu kuat sampai Baekhyun berharap ia punya topi sekarang karena dia bertaruh rambutnya kini berantakan. "Kau bodoh," Baekhyun tertawa, "Ada apa? Katakan padaku, Yeol."
Chanyeol bergumam kata-kata tidak koheren dengan pelan membuat Baekhyun tidak bisa menangkapnya sama sekali, tapi kemudian Chanyeol perlahan mengangkat suaranya dan melepaskan pelukannya memeluk. "Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu, tapi aku tidak tahu bagaimana," kata Chanyeol sambil menyeret Baekhyun lagi ke pinggir pagar atap. Dan sekarang keduanya dapat melihat orang-orang di bawah sana, menunggu kembang api yang akan diluncurkan dalam satu menit atau lebih.
"Aku punya semua waktuku di dunia ini sekarang untuk mendengarkanmu, lagipula festival sekolah sudah berakhir." Baekhyun menyandarkan tangannya di pagar.
Chanyeol memandang ke cakrawala dan akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan semua kata yang ia simpan di dadanya, "Pertama, perform kita sukses besar. Tidak kah kau berpikir begitu?"
Baekhyun mengangguk setuju, "Tentu saja."
"Dan aku masih bertanya-tanya di sini, bagaimana sih, kau bisa memiliki suara yang indah, Baek"
"Diam, Yeol. Kita berdua bagus."
"Kedua," Chanyeol melanjutkan, "Aku sangat bangga padamu karena sudah membuat festival ini sukses besar."
Baekhyun menahan senyumnya, tidak ingin menunjukkannya karena ia diam-diam juga bangga pada dirinya sendiri. Dan memiliki Chanyeol, kekasihnya, yang bangga padanya, dan juga, membuatnya merasa benar-benar istimewa.
"Ketiga, kau akhirnya bertemu noona-ku. Sepertinya dia menyukaimu dan aku lega. Bukan berarti aku meragukan dia tidak akan, karena semua orang menyukai mu."
"Aku juga menyukai noona-mu." Baekhyun nyengir, "Dia seperti versi wanita dari dirimu. Sekarang aku tahu bagaimana rupamu jika kau melakukan cross-dressing."
"Yach," Chanyeol menyikut pelan Baekhyun, lalu berdeham, "Keempat, aku benar-benar terkejut kalau aku, dan kau, bertemu dengan peramal itu hari ini. Aku benar-benar tidak suka saat dia bilang padamu tentang sesuatu hal yang buruk. Kita tidak harus mengikuti Jongin lain kali, dia semacam–"
"Yeol, kau bertele-tele."
"Benar," Chanyeol berdeham lagi, "Kelima,"
"Wow, kau punya banyak hal untuk dikatakan padaku," Baekhyun menggeleng tak percaya.
"Iya, aku serius. Dan kelima," Chanyeol menatap Baekhyun intens, "Aku sangat begitu menyukaimu sampai itu membunuhku."
Mulut Baekhyun menganga beberapa detik sebelum akhirnya berubah menjadi senyum lebar, jenis senyuman yang Chanyeol tak akan pernah bosan melihatnya. "Aku juga menyukaimu, Chanyeol."
Chanyeol memegang bahu Baekhyun dan perlahan membuatnya berbalik untuk menghadap ke arahnya. Dia sedikit menunduk sehingga ia bisa beradu pandang dengan mata Baekhyun, "Apa itu sangat? Karena aku bilang aku sangat menyukaimu."
Baekhyun tertawa dan dia bisa mendengar orang-orang di lapangan sekolah menghitung mundur untuk menyalakan kembang api.
Sepuluh
"Ya, aku juga sangat menyukaimu, Park Chanyeol."
Sembilan
Chanyeol menghembuskan nafasnya yang dia tidak sadar sudah ia tahan, dan bibirnya berpisah membentuk senyum yang sangat besar sampai mata kanannya bergerak-gerak.
Delapan
Dan sebagai balsannya, Baekhyun terkekeh melihat ekspresi bodoh kekasihnya, tapi itu adalah sesuatu yang ia mulai menyukainya.
Tujuh
"Baek?"
Enam
"Hmm?"
Lima
"Yang keenam, boleh aku menciummu?"
Empat
Baekhyun menahan nafas dan ia hampir tersedak dengan air ludahnya sendiri. Dia menatap Chanyeol yang juga menatapnya dengan rona pink di pipinya.
Baekhyun mengangguk.
Tiga
Mata Chanyeol melebar terkejut melihat Baekhyun benar-benar mengabulkan keinginannya. Tapi kemudian ia cepat mengendalikan kegembiraannya. Chanyeol mengangkat tangannya dan meletakkannya di tengkuk Baekhyun.
Dua
Chanyeol perlahan-lahan menarik Baekhyun mendekat. Dia membungkukan sedikit tubuhnya dan memiringkan kepalanya.
Satu
Chanyeol menelan ludah dan akhirnya menutup matanya saat wajahnya dan wajah Baekhyun itu hanya satu inci terpisah.
Tembak!
Bibir Chanyeol menyentuh bibir Baekhyun dan ia merasa aliran listrik berlari melalui setiap bagian dari tubuhnya. Bibir Baekhyun itu terasa lebih lembut dari yang ia bayangkan. Itu benar-benar hangat dan dia bisa mencium bau manis strawberry milik Baekhyun yang membuatnya merasa sedikit pusing. Chanyeol benar-benar bisa merasakan perutnya berkerut karena perasaan yang luar biasa hingga ia benar-benar berpikir jantungnya akan meledak.
Dan mereka berdua benar-benar tidak mendengar atau pun melihat kembang api yang indah berkembang dan bermunculan di atas kepala mereka, di atas langit malam yang indah.
.
.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
...
o.o.o.o.o.o.o.o
A/N [Icha] :: YES FIRST KISS!
Lagu di atas itu lagunya whitney houston yang berjudul my love is your love. Lagu favoritku sepanjang waktu!
o.o.o.o.o.o.o.o
T/N [Aya] :: Sudah berapa kali Aya baca ulang ini dan mengetik ulang translatenya, tapi hasilnya gak pernah berubah, selalu membuatku ber-bulshing ria di akhir chapter. Seolah-olah Aya yang menggantikan posisi Baekhyun di atas atap... kyahahahaha... #lol#plak
o.o.o.o.o.o.o.o
...
Balasan Review ::
Wu Xinlian :: Makasih~~ yup, fast update yo! :D
laliceeuuu :: halo reader baru~~ gak papa, yg penting skg udh ripiu :D semangaat!
Kim Sun Mii:: Annyeong reader baru~~, moga betah baca n review di sini :D,
raul sungsoo12 :: sip, lanjuuut~~ :D
sunsehunee :: Baru sadar sudah jadi sider gatau diri yah? Itu kamu sendiri yg bilang lho... bukan saya... #wink. #plak. Kata peramal Baekhyun adalah suami masa depannya Chanyeol, bukan? So, mereka akan menikah atau tidak? Bukan kah jawabannya sudah jelas? #smirk
Rei Fujoshi Official Couple :: kalau ada waktu dan idenya kembali, saya usahakan update ff yang lain. :)
Special bubble :: hehehe, yup, deni Chanyeol, ciyeee...
Orikarun Ori :: baru sadar jadi siders? Syukurlah sudah tobat, moga bisa dipertahankan #pray. Makasih udah kangen akuuu... meski sebenarnya yg dikangenin update ff-nya bukan aku (ya iyalah). Ada rated M di akhir sekuel, tapi sy masih ragu mau ngetranslate-nya... hehehehe
NyunSehun :: Yup, Semangat!
cumisaustiram :: hehehehe. SIIIIPPP! :D
Baekhyun92 :: ouuuh, harus dong, Baekyeol mmg manis dan wajib makin dicintai.. :D
Fosbaekliner :: Makasih~ Di sini mereka malah makin so sweeet (melting sendiri) :D pasti dilanjutinnn, kalau masih mau setia lagi, hahahaha...
lulufika :: Chenmin? Mmm, kayaknya gak ada, ini author-nya cuma fokus ke Chanbaek.
Re Tao :: Yeolli makin lama makin berani ngegombal tapi kata-katanya tulus dan jujur, :D
park hyun in :: Anyeong~ hehehe, makasih udah mau review terus, janji lho yah *nagih#plak. Makasih kalimat semangatnya! :D
Guest (1) :: koprol di tengah sawah? Gak sekalian dari punggung kerbau aja chingu? Nyahahaha #plaak, nih, sy kasi fast update lagi, kali ini mau kopral di mana lagi? :D
Babies BYUN :: hai-hai, maaf udah membuatmu nunggu lama, hohoho... siiip... nanti disampaikan! :D
kim jung chan :: Okay! :)
evilwu79 :: Lanjuuttt :D
BaekhyunBerry :: Gak apa-apa :D, moga hasil ujiannya nanti bagus! Ingat kok (meski gk sepenuhnya#plak), saya 92line~ beagle line~ :D
luhansmanly :: hai pembaca baru~~ oooh, moga baca yang ini bisa ngebantu kamu yg gak bingung. Yup Figting!
L A :: hahahaha... ati-ati omongnya, bisa di-hapkido Baekhyun..
exindira :: Makasih! Yup, Keep Writing for me! Keep Review for you! #lol#plaak
haecha lee :: hehehe, namanya sama dengan author-nya. Yup hwaiting :D
aivoniras :: Nih, udah selesai festivalnya! :D
ShalsaKMCB kyeowo :: Senang bisa membuatmu membaik~ :D
Chanbaeknim :: nggak kok, tenang aja, fanfic pilihanku gk berakhir angst, pasti happy~
ParkDoMyon Zi Tao :: Udah aku acc kan? #wink pasti keren klo exo baca ff ni. Hahaha, singgah di fanficku lainnya juga klo mau baca ff Baekyeol lagi :D makasih~
KJhwang :: ini fanfic translate, author aslinya juga orang Indonesia, aku sudah minta izin untuk buat translate-nya ke indo, dan tentu saja ini sama persis, hanya tatanan bahasanya yang beda, dari Inggris ke Indo. Aku juga gak berani untuk mengubahnya dan gak niat untuk mengubahnya,bisa jadi nanti malah mendekati plagiator. Jadi isi cerita fanfic ini sama persis dengan orginal-nya. Yang asli di AFF udah tamat, dalam bahasa inggris tentunya. Dan yup, di sini cuma ada Chanbaek/Baekyeol, dengan sedikit cameo dari Kaisoo. :D
N-Yera48 :: Nah, Udah CIUMAN. Kyahahahaha... boleh –boleh manggil Kak Aya. :D
Oh Lana :: woi, woi, puasaaa... #lol
CB11270506 :: Yes, I'm comeback! :D hahhaha... aku setuju, sekarang udh byk buktinya, 'Baek tidak bisa tanpa Chanyeol'. Yeheeet! :D
Byunkkaeb :: Hai-hai-hai~ ooooh... sideeeer #manggutmanggut# udah sadar yah? #glare#plaak# konfliknya... nanti diliat aja... #smirk# kalau fanfic yg It's Overdose itu sebenarnya ada sekuelnya, yang S3 pasti lanjut tapi gak tau kapan #double-plak# nodongin saya dengan mandau? Gak mempan, coba alat nodong-nya diganti dg foto naked baekhyun, pasti mempan #triple-plaak#
arvita kim :: yang main basket itu blom ditranslate unnie, tapi yah, ff ini memang romantis :D
exoel :: Yup, Chanbaek overdose!
Baekkie :: jangan jatuh cinta beneran, nanti diisemprot ma Baek :D
hwangpark106:: Iya donk, Chanyeol udh perhatian gitu :D
Ranny :: gak papa dibayangin kok... aku juga sama, hahhahaha :D
BabyByunYeol :: Boleh-boleh, panggil sesuka hatimu :D makasih~
Bumble Bee Baek :: hehehe... makasih sayaangg~ sipp, diusahain lanjuut :D
Eunmi :: iyaaa! Makasih~ :D
ChanBaek :: yaaa, kita liat saja nanti konfliknya #smirk
Baekyeolxx :: iya, saya usahain sampe tamat, itu juga butuh dukungan reader juga :D
uchanbaek :: hehehehe... karakter Yeol di sini idaman banget ya? :D
hunhan shipper :: yup, Fighting!
Zelo ChanBaek :: Yuup... makasih~ :D
Hyunsaa :: Iyaa, Chanbaek Kisseu~~ :D
rachel suliss :: nggak kok, kemarin mimisan itu cima gara-gara kelelahan, gk ada penyakit mematikan. :)
Babyexotics :: Ikut Senang Mood-nya udh balik lagi. :D liat aja nanti konflik-nya seperti apa. :)
stykiees :: hehehe... yup, fighting! :D
Guest (2) :: bener banget, mereka kan slalu bling-bling, jadi cocok yg fluff gini. Makasih banyak~
shitsuka :: Yup, Update! :)
:: So Lucky Baekhyun~ #nyanyi#plaak# Fighting!
angeleeteuk alwaysaranghae :: Anyyeong~, gak papa, makasih udah mau ninggalin review. *senyum*, iya, saya memang usahain biar bahasanya senyaman mungkin. :D
lolamoet :: iya, bener, sweet banget, makanya sy langsung tergila-gila ma ni ff, :D
Rizsasa :: hehehe, makasih. :D
sarymaryani48 :: Yup, Update kilat! :D
A Y P :: sebenarnya... aku sendiri blom baca yg bagian epilognya itu, jadi belum yakin mau ditranslate epilognya atau nggak. :p, yup, fighting!
Kim Bo Mi :: udah ada di atas kan? Mereka duet bareng. :D
melissa luph :: iya, susah cari cowok kayak Chanyeol, udah tinggi ca'em imut tulus lucu dan bodoh pula #plaak
ayume :: Iyaaaa... :D
Jihyunnn :: siapa dulu donk, aya yng dapet mood banget buat fast-nya :D, miaan untuk bagian yg tdk dimengerti -_-, itu udah batas saya...
Hunaaa :: Sippp, udh di acc kan? :D
hunipples :: saya usahain kok. :D
Beechanie :: Maaf, authornya gak menyertakan taoris kayaknya, cuma nyempil sedikit-dikit tapi gak dijelasin...
ayuputeri :: tenang, gak ada crack kok :D
Meriska-Lim :: saya juga gitu, pengen pacar kyk Chanyeol. :)
realkkeh :: mau suami kayak chanyeol, tapi napa meluk Sehun? -_-
Baekhyunniee :: iya sihh banyakk, tapi sy usahain smpe tamat, selama banyak yg dukung, :P
Indaaaaaaahhh :: iyaaaaa... sy udah update kilattt. :D
ByunBina :: Iya gak papa, panggil Oppa juga gk papa, (WHAT THE-#plaak) kidding, lol, yup Hwaiting! :D
Natsuko Kazumi :: nanti juga pasti bs nilai sndiri gimana kadar konflik-nya? Fighting!
Prince Changsa :: Masih sekolah, sebagai anak baek, gk boleh asak nginep :D
Guest (3) :: Yup, update kilat, fighting! :D
Nenehcabill :: Yup, Hwaiting! :D
BaekheeChanlove :: jangan jadi hantu gentayangan lagi yahhh :D nado saranghae~~
Chanbaek :: Iyaaaaa... makin so sweet...
Yuan Lian :: sippp,,,, kilaaaat! :)
Kukuri :: ehehhehehe... :D
lee chan hyun :: Hwaitingggg! :D
Shouda Shikaku :: hahhahahaha panik-nya kek suami yang nungguin istri-nya lahiran? #tawa ngakak# yup, Fighting! :D
ChaaChulie247:: Ada orang ketiga dan keempat, yah, liat aja siapa itu.. :D
Byunbaekk :: Next chap, konflik akan dimulai~ :D
RLR14 :: iyaa, selama ada mood dn waktu:D
Fabchanbaek :: nanti konfliknya pasti ada~ :D
park y kyu 7 :: Author-nya cuma fokus dg Chanbaek, Kaisoo-nya cuma jadi cameo sekali-kalii.
Tikha Semuel RyeoLhyun :: hehehe,, yup, fighting! :D
mirarose86 :: mian udh buat nunggu lama~ *bow*
...
o.o.o.o.o.o.o.o
...
T/N [Aya] :: By the way any bus way(?), PERHATIAN! Bagi reader/review yang mengaku sebagai BAEKYEOL HARD SHIPPER dan masih TERJEBAK / TERSANGKUT dalam SKANDAL BAEK*PIP*EON, dan masih BERGALAU ria, saya dengan amat SANGAT menyarankan baca fanfic saya yang berjudul O3, sekali lagi, O3, (...) errr, yup, judulnya emang aneh, tapi kau tak bisa menilai tanpa mencoba membacanya...yeah, jika Anda berkenan... agar kegalauan anda tentang Baekyeol bisa sedikit terhibur...
And...
Chapter depan dari fanfic ini... Konflik akan mulai muncul!
So... cukup sampai di sini atau lanjut di-translate-kan?
Review?
Thanks again for Author Otpismyoxygen (Icha) \^o^/
~Sayaka Dini~
[07 Juni 2014]
