Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.

.

.

Love story

.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

.

Love story by author03

Uzumaki Naruto x Hyuga Hinata

Romance\Drama

.

.

.

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 12

.

.

.

"Hentikan Uzumaki Naruto. Abaikan dia. Jangan memikirkannya dan kau akan terbiasa dengan hal itu. Berhenti memikirkannya." perintah Naruto untuk dirinya sendiri. Tapi mengapa perasaannya menolak perintah itu?

"Berhenti."

"Hentikan."

"Apapun tentangnya. Berhenti khawatir padanya. Berhenti memikirkannya."

.

"HYUUGA HINATA!"

DEG!

Naruto mengangkat kepalanya dan mencari asal suara yang berhasil ditangkap indra pendengarnya.

Hinata..

.

.

"Aku sedang tak mood bercanda, Ino." sang gadis bernama Hinata itu melangkah melewati temannya dengan lesu.

Ino menahan kedua pundak Hinata yang belum sempat melewatinya dan mengguncangnya kasar seolah hendak menyadarkannya.

Wajahnya sudah kembali normal, tak merah, tak bengkak hanya terlihat sedikit lesu tapi.

Tapi!

Dimana lipstik merah dan bulu mata cetarnya itu?!

Dimana?

Dimana ohhh dimana?!

"Sadarlah Hyuuga Hinata. Atas nama kecantikan, keluarlah setan.."

.

.

.

"Hinata.." senyum lebar menghiasi bibir Naruto tanpa sadar. Matanya tertuju jauh pada Hinata yang tengah di guncang Ino.

Dengan secepat kilat, ia berdiri dari posisi duduknya dan berlari turun menuju Hinata.

Tapi...

Dirinya kembali sadar setelah tiba di lapangan.

Apa yang kau lakukan Uzumaki Naruto?

Hentikan!

Hentikan langkah kakimu.

Seolah terkendali kan.

Kaki itu terus berlari menghampiri Hinata meskipun pikiran nya telah mati-matian memberhentikan langkah kaki itu.

Hentikan!

Hentikan!

Hentikan langkah kakimu!

Tap!

Tap!

Tap!

Tap..

...

.

"Hinata! Akhirnya kau keluar dari sangkarmu juga?" Toneri memeluk erat Hinata. Rasanya sudah lama sekali ia tak melihat gadis ini padahal baru melihatnya semalam sore.

.

Langkah Naruto berhenti tepat di belakang pungung Toneri dengan jarak satu meter.

Ia lega karena akhirnya langkahnya berhenti tapi..

Deg

Mengapa dada nya malah terasa tersayat karena melihat pelukan itu?

Mengapa setelah mati-matian ingin menghampiri Hinata, kaki ini malah terasa tak bisa di gerakan seolah di gembok oleh banyaknya gembok?

.

.

"Angkat aku ke kelas." Hinata mengulurkan ke dua tangannya ke depan. Badannya seolah tak bertulang.

"Jangan malas begitu Hinata. Mari kita pergi." Ino mengapit lengan kanan Hinata sedangkan Toneri mengapit lengan kiri Hinata dan menyeretnya pergi melewati...

.

.

..Melewati Naruto yang tak terlihat oleh mata Hinata.

...

"Hinata ayolah. Jalan yang benar." pinta Ino kesusahan menaiki anak tangga.

"Aaa.. Aku baru saja kena ceramah asisten ayahku. Jadi berhenti berteriak padaku." jawab Hinata tak suka.

...

Mata Naruto masih tertuju pada punggung Hinata yang perlahan menjauh darinya.

Deg

Apa yang terjadi padamu Uzumaki Naruto?

Mengapa sekerang mata mu tak bisa berpaling ketika aku menyuruhnya berpaling?

Mengapa kaki ini membeku ketika aku menyuruhnya pergi?

Apa yang terjadi?

Mengapa aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri?

.

.

.

Toel

Toneri menoel pipi Hinata, berniat membuat Hinata mengangkat kepalanya dari atas meja, sayangnya gagal.

Ia sungguh tak tahu mengapa.

Mengapa ketika ia melihat Naruto, ia merasa sangat bersalah?

Melihat Naruto menjadi pendiam dan dingin seperti itu membuatnya merasa bersalah padahal ia sama sekali tak berbuat salah apapun.

.

.

Jauh di belakang, terlihat seorang gadis bersurai pink tengah mengamati sang gadis yang terduduk lesu di depan itu.

Siapa lagi kalau bukan Sakura.

Dua belas hari ini semenjak Hinata kembali ke sekolah, dia terlihat berbeda. Dia tak lagi berteriak bahkan terlihat lesu. Tak ada lipstik merah, buku mata cetar ataupun tingkah anehnya dan Naruto...

Naruto menjadi pendiam, sangat pendiam. Dingin dan mengabaikannya.

Tapi bukan itu yang Sakura pikirkan.

Apa yang ia pikirkan adalah apakah mereka bertengkar? Mereka sama sekali tak berbicara sepatah katapun ataupun saling memandang. Sakura cukup penasaran dengan apa yang terjadi.

Keadaan ini membuatnya tak tenang. Terserah kalian mengiranya kepo pada mantannya ataupun perduli.

"Sakura?"

"Ha?! Iya, ada apa Sasuke?" tanya Sakura tersadar dari lamuannya.

.

.

Ting

Tong

Tak terasa bel pulang telah berbunyi.

Waktu pun telah berlalu

Jam telah menunjuk pukul 22.31 dan si Hyuuga Hinata itu masih saja terduduk melamun ditas ranjang besarnya.

"Dua hari lagi.." ia berguman ragu.

Kepalanya tertunduk.

Mengingat bagaimana ia dan Naruto selalu saling melewati membuat dadanya berdenyut. Ia selalu ingin menyapa lelaki itu tapi ia terlalu takut.

Lelaki itu pasti sangat senang saat ini karena tak lagi di ganggu Hinata.

Hinata mengigit bibit bawahnya.

Ia butuh ketenangan saat ini.

Hinata mengambil ponsel miliknya yang terletak tak jauh darinya dan mengotak-atiknya sejenak.

.

.

.

Kuharap ada yang menemani ku disini.

Grap

Naruto langsung meraih jaket kulitnya di atas kursi di dekatnya dan melangkah keluar dari kamarnya.

Status yang baru saja ia baca dengan gambar lapangan sekolah berhasil membuatnya bergerak tapi bukan karena kedua hal itu ia bergerak melainkan karena sang penulis status.

Hinata...

.

.

.

"Haah~" Hinata menghembus nafasnya lagi. Terduduk di tangga pentas dengan menghadap ke lapangan pada tengah malam membuatnya takut sekali.

Ia berharap rasa takut bisa menjadi obat untuk hati nya ini tapi nyatanya sakit di hatinya tak berkurang dan parahnya saat ini ia malah tak berani bergerak karena sangking takutnya pada sekolah yang sepi ini.

Hinata memainkan jari-jari di atas lututnya yang terlipat dengan kepala tertunduk. Ini sungguh rencana yang bodoh.

"Hinata!"

"Aaaaaaa!" Hinata memekik syok ketika mendengar namanya entah dipanggil oleh siapa.

"Hei, ini aku."

Deg

Mata Hinata memberanikan diri terbuka dan menatap lelaki yang kini berada di hadapannya dengan jarak setengah meter.

"Ka-kau... Bukan hantu kan?" tanya Hinata ragu dan takut. Bisa panjang urusannya jika lelaki ini adalah hantu yang tengah menyamar.

"Aku bukan hantu yang lagi menyamar. Ini aku." lelaki itu tersenyum lucu dan menaiki anak tangga menuju Hinata di tengah-tengah anak tangga dan duduk di sebelahnya.

"Toneri.." tambah nya.

Hinata menunduk sejenak sebelum menatap Toneri. Padahal aku berharap Naruto yang datang tadi.

"Kau menakutiku." ucap Hinata dengan senyum lucu nya yang sedikit dipaksakan.

Toneri tersenyum lucu sebelum menjawab. "Mengapa kau disini?" tanya nya yang membuat Hinata kembali memainkan jari-jari nya di atas lutut.

"Aku kira rasa takut bisa menghilangkan rasa kecewaku ternyata tak berhasil. Itu sungguh rencana yang bodoh." Hinata tersenyum frustasi akan rencana bodohnya.

...

Toneri terdiam sebelum mengatakan "kau terlihat sangat tak bersemangat." ucap Toneri entah dengan nada apa. Ia ragu dan kecewa. Ia ingin sekali menghibur Hinata, itu sebabnya ia disini tapi di satu sisi, ia merasa Naruto lah yang harus disini.

"Aku mengantuk." Hinata menyandarkan samping kepalanya ke pundak Toneri sambil terus menatap lurus ke depan. Setidaknya rasanya tak begitu menakutkan karena ada yang menemaninya.

"Tidurlah. Aku akan mengantarmu pulang nanti." jawab Toneri sambil meraih satu tangan Hinata dan mengengamnnya guna membuat Hinata merasa nyaman.

Mata Hinata berkedip sekali. Hatinya masih terasa kosong sekali.

"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Toneri ketika Hinata masih tak memejamkan matanya.

"Jangan katakan apapun pada siapapun." pinta Hinata beberapa menit kemudian.

Toneri tahu jelas apa arti ucapan itu. Jangan mengatakan bahwa dia akan pergi besok ataupun soal dia mencintai Naruto..

"Kau yakin?" tanya Toneri memastikan. Dadanya juga terasa sakit sekali karena gadis ini akan pergi. Gadis ini akan meninggalkannya. Apakah ini rasanya kehilangan seseorang yang tak di miliki?

Lucu sekali rasanya. Ingin sekali Toneri tertawa berbahak-bahak atau lebih tepatnya miris. Ia bahkan tak berani mengatakan ia mencintai Hinata dengan serius tapi ia malah sesakit ini kerena akan di tinggalkan.

Mata Hinata terpejam setelah ia mengangguk kecil. Sekarang rasanya sedikit lebih benar..

.

.

"Hinata, aku mencintaimu.."

Inner Toneri menggantikan mulutnya yang tak berani berkata.

.

.

.

Naruto pov

"Kuso! Bergerak!"

Teet!

Teet!

Aku menekan kesal klason mobilku.

Sial sekali karena hari adalah sabtu. Aku harus dengan sabar melewati jalanan yang di penuhi mobil-mobil. Aku bahkan tak tahu sudah berapa lama aku disini.

Mobil merah ku melaju setelah berhasil lolos dari keramaian di lampu merah.

Tanpa menginjak rem, mobilku masuk ke daerah parkiran sekolah dan berhenti dengan mantap.

Aku berlari masuk ke daerah sekolah tapi langkahku terhenti ketika aku melihat Hinata dan Toneri duduk berdampingan di anak tangga di tangga pentas menuju lantai satu. Sejujurnya aku lumayan penasaran mengapa Hinata bisa masuk kesekolah ini dengan mudah. Bukankah ada peraturan dilarang masuk ketika tak ada kepentingan? Bahkan sekolah ini dikunci tapi biarkan saja.

Aku melihat Toneri

Mengapa Toneri terlihat gelisah?

...

Dengan sengaja aku melangkah menuju tangga kecil untuk naik ke atas pentas setelah menyaku kedua tanganku, tak lupa memasang wajah datarku.

"Hei, Naruto." dia memanggilku seolah berbisik dan aku menatapnya.

"Mengapa kau disini?" tanya Toneri gelisah.

"Barangku ketinggalan dikelas." bohongku sambil melangkah naik tangga melewatinya tapi dia menarik sisi celana jeansku.

"Bisakah kau menggantikanku sebentar. Aku harus ke toilet." pinta nya semakin gelisah. Dia terlihat sangat darurat.

"Cepatlah." jawabku sambil menggantikan tempatnya. Bohong kalau aku bilang aku terpaksa. Ini memang tujuanku kemari.

...

Mataku melirik ke wajah Hinata yang telah tertidur pulas ketika Toneri menghilang di belokan.

Dia terlihat sangat cantik tanpa lipstik merah dan bulu mata tebalnya.

Aku merindukannya.

Hah?!

Sungguh aku mengatakan aku merindukannya?

Apa aku baru saja membuat pengakuan lagi?

Tidak. Aku tak merindukannya, maksudku aku hanya merasa bersalah padanya karena kenyataannya aku tidaklah sesedih itu berpisah dengan Sakura. Aku kira aku akan gila, tak mandi lima hari, tak makan tiga hari, mengurung diri dikamar karena dia menolak kembali padaku tapi nyatanya aku lebih memikirkan Hinata yang tak lagi di dekatku daripada Sak

Tidak! Apa yang aku katakan?

Naruto pov end.

.

.

.

"Terima ka" ucapan dan langkah Toneri terhenti ketika dua manusia di anak tangga tadi menghilang.

"Dia tak bisa dipercaya." pikir Toneri entah dengan raut wajah apa. Padahal ia ingin bersama Hinata lebih lama tapi si iblis itu entah membawanya kemana.

"Aku menyuruhnya menggantikan ku sebentar. Mengapa dia malah membawanya?!" oceh Toneri tak terima.

.

.

.

Lagi-lagi Naruto memalingkan wajahnya ke samping, tepatnya pada Hinata yang tertidur di kursi di sebelah kursi pengemudi.

Mobil merahnya sedari tadi terpakir di depan rumah Hinata tapi ia masih tak bergerak dari dalamnya karena entahlah.

Ia hanya ingin lebih lama menatap gadis ini.

Mengapa kini semuanya terasa rumit?

Ia bahkan sampai tak ingat sudah berapa banyak kali ia bertanya "apa yang terjadi?"

Sungguhkah...

...Aku merindukan gadis ini?

Apa aku telah jatuh hati pada gadis ini?

Mengapa aku merasa gila hanya karena memikirkan gadis ini tak berada di dekat ku?

Wajah Naruto di benamkan di antara lengannya di atas setir.

"Aku pasti sudah gila." pikir Naruto frustrasi.

Aku?

...

Aku tak mungkin jatuh hati pada gadis tak waras ini. Apa kata dunia?

Uzumaki Naruto jatuh hati pada gadis sinting bernama Hyuuga Hinata?

"Nngh.." badan Hinata sedikit mengeliat yang di akhiri oleh senyuman lucu di bibirnya. Sedikit gerakan yang tak luput dari mata biru langit Naruto.

Naruto mengangkat kepalanya dan menatap Hinata.

"Apa yang lucu? Apa kau senang melihatku gila seperti ini?" tanya Naruto merasa terejek oleh senyuman Hinata yang tengah tertidur.

Ia pasti sudah gila karena berbicara pada orang yang tengah tidur. Mungkin ia memang sudah gila karena gadis ini mengabaikannya selama lebih dari sepuluh hari dan malah bermesraan(menurut Naruto) dengan si perak brengsek itu. Lelaki bernama Toneri dengan status temannya itu pun terlihat sangat mengejeknya(menurut Naruto lagi) padahal sebenarnya tidak. Toneri hanya menghibur Hinata dan Hinata mengabaikannya dengan kelesuannya.

"Kalian memang brengsek."

Lagi-lagi Hinata tersenyum lucu. Dia pasti sedang bermimpi indah tapi terkesan mengejek untuk Naruto.

"Semua ini karenamu. Apa yang kau lakukan padaku? Mengapa aku malah menjadi satu genk denganmu?" tanya Naruto lagi. Ia sungguh bingung tapi pengamatannya seketika intens ketika alis Hinata berkerut dan dia sedikit mengulum bibirnya.

"Ssstt.." Naruto membelai lembut pipi Hinata dengan ibu jarinya ketika Hinata menghembus panjang nafasnya. Naruto jadi penasaran apa yang tengah Hinata mimpikan saat ini?

"Tapi jika dipikirkan lagi. Aku sungguh ingin mencekikmu." geram Naruto ketika ia mengingat kelakuan jahil Hinata padanya selama ini.

"Ha?!" senyum bahagia menghiasi bibir nya tanpa sadar. Itu sungguh memori yang indah.

...

"Fuuh~" Naruto meniup jahil lubang telinga Hinata dengan jarak satu jengkal. Ia masih ingat jelas si sinting ini mengerjai nya dengan meniup telinganya di saat dirinya tengah tertidur lelap! Sialan bukan?

Hinata menepuk telinganya dan memalingkan wajahnya menjauh dari sang angin yang entah berasal dari mana.

Melihat alisnya berkerut sungguh membuat Naruto semakin senang mengerjainya.

"Fuuh~" senyum semakin lebar di bibir Naruto ketika alis Hinata semakin berkerut.

"Rasakan kau setan. Bluek." Naruto menggelitik samping leher Hinata dengan satu jari telunjuknya guna membuatnya geli tapi dirinya langsung membeku ketika wajah Hinata kembali berpaling ke arahnya yang membuat jarak wajah mereka menjadi setengah jengkal.

Deg!

Naruto mengamati wajah Hinata dengan keadaan membeku. Ia bahkan sampai lupa bernafas karena sangking dekatnya dengan Hinata.

"Fuh" ia meniup pelan dan singkat bibir Hinata yang berada tepat di depan bibirnya dengan jarak 2cm

"Aku tak tahu mengapa pikiranku terus mengatakan aku sangat sangat membencimu." ucap Naruto tak mengerti. "Tapi.. Aku tahu aku sangat senang bersamamu meskipun kau tengah tertidur." tambahnya lembut seolah berbisik didepan bibir Hinata. Perasaan dan pikirannya mengatakan hal yang berlawanan tapi apa daya jika perasaannya lebih kuat dari pada pikirannya?

Senyum tipis lagi-lagi menghiasi bibirnya. Hinata yang tengah tertidur saja bisa membuatnya tersenyum beberapa kali apalagi jika dia tidak tidur?

...

Perlahan Naruto mendorong kepalanya yang membuat bibirnya menyentuh bibir Hinata.

Satu tangannya menempel di pipi Hinata, matanya terpejam ketika ia menikmati ciuman lembut sepihak itu.

Sejujurnya ia senang bisa mencium Hinata...

Tapi..

.

Anggap saja ini adalah pembasalan karena kau telah berani merebut ciuman pertamaku.

.

.

.

.

"Hinata-sama? Hinata-sama?" panggil sang maid bingung pada anak majikannya yang terus saja tersenyum, memamerkan gigi-giginya dalam keadaan tidur. Ia sungguh merasa bibir itu akan koyak sebentar lagi karena sangking lebar senyumannya itu.

...

Mata Hinata terbuka dan langsung menatap tajam manusia yang baru saja membangunkannya dari mimpi indahnya.

"Aku pernah bilang. Jangan pernah mengangguku kalau lagi tidur!" marah Hinata tanpa bergerak dari posisinya. Sialan! Ia tengah mimpi indah. Ia harus tidur dan melanjutkan mimpi itu.

"Keluar! Aku mau menyambung mimpiku." tambahnya sambil menarik selimut besarnya untuk menutup wajahnya dan kembali memejamkan matanya. Dasar maid sia*sensorsensor*

"Tapi Hinata-sama. Anda sudah terlambat kesekolah. Ini sudah mau jam tujuh."

.

.

.

.

Jam terus saja berputar tanpa berhenti. Malam hari kembali tiba, bulan telah di atas kepala, bintang-bintang sudah berhamburan di langit dan kini gadis bernama Hinata itu kembali bingung di atas ranjangnya.

Jam telah menunjuk pukul 23.11

Ia ragu, lusa ia akan pergi dan besok ia tak akan kesekolah karena harus sibuk dengan keperluannya. Ia hanya memiliki sedikit waktu untuk melihat teman-temannya. Ia ingin menemui Naruto untuk terakhir kalinya tapi ia tetap saja tak berani.

Tapi di ingat-ingat lagi.

"Siapa yang mengantarku pulang? Aku rasa aku pergi ke sekolah semalam? Apa itu juga mimpi?" tanya Hinata ragu entah pada siapa tapi abaikan itu.

Hinata membulatkan niatnya untuk menghubungi Naruto. Ia sungguh tak sabar.

Hinata menekan-nekan layar ponsel di tangannya.

Hanya untuk terakhir kalinya.

.

.

.

Ting

Hinata : hmmm... Kau punya waktu? Bisakah kita bertemu di sekolah?

Naruto di atas ranjang besarnya mencermati lumayan lama pesan yang baru saja masuk ke aplikasi line nya dengan Hinata sebagai nama pengirim. Apakah dia salah kirim atau ada kesalahan? Sudah lama mereka bahkan tak saling pandang dan Hinata malah mau menemuinya?

.

.

"Haaaaaaaa!" Hinata bersimpuh furstasi di atas ranjangnya dengan ponsel setia digengaman tangan kanannya. Mengapa dia tak balas setelah membacanya? Apakah dia tak mau? Apakah dia kesal karena Hinata mengganggunya lagi?

"Sudah ku duga, ini sungguh rencana yang bur"

Line

Hinata menatap cepat layar ponselnya.

Naruto : Kebetulan aku sedang di perbus. Waktumu dua menit. Kau terlambat, aku pulang.

Senyum hadir dan mengembang di bibir Hinata. Perutnya berbunga-bunga.

"Ini rencana yang bagus."

.

.

.

.

"Mengapa aku mengajaknya bertemu?" langkah Hinata naik menelusuri tagga menuju perpustakaan dengan mata menatap ke flat hitamnya.

"Apa yang ingin aku katakan?" tanya nya lagi entah pada siapa. Mengapa bisa rencana ini muncul tanpa tahu untuk apa rencana ini?

Apakah ia hanya akan duduk dan menatap Naruto? Bukankah itu rencana yang buruk?

"Apa?"

"Astaga!" Hinata terperanjak kaget ketika suara muncul secara misterius.

"Kau mengagetkanku." ucapnya syok setelah tahu dari mana asal suara itu.

Naruto ternyata.

Naruto menyaku kedua tangannya sebelum membalikkan badannya, menghadap Hinata yang berada di hadapannya dengan jarak sekitar satu meter.

"Eemm.." Hinata memainkan jari-jari di dekat perutnya sambil melangkah menghampiri Naruto.

"Aa.. Ka-kalender rumahku hilang jadi aku tak tahu tanggal berapa hari ini." ucap Hinata asal. Ia bahkan tak sadar itu adalah alasan yang sangat bodoh.

"Kau punya hp?" balas Naruto datar, tepatnya berpura-pura datar.

"Kau benar. Aku sungguh bodoh. Maafkan aku. Aku akan pulang. Selamat malam." sungguh bodoh! Mengapa kau begitu bodoh!?

Hinata membalikkan badannya dan melangkah pergi. Hanya mendengar jawaban datar itu sungguh membuatnya ingin menjauh dari pria ini. Ia sungguh bodoh karena sempat berpikir ini rencana yang bagus.

"23. Hari ini tanggal 23." langkah Hinata terhenti.

Tunggu tunggu.

Ini bukan tanggal 22?

Harusnya ia senang karena Naruto menjawab pertanyaan bodohnya tapi tanggal 23...

Naruto menaikan satu alisnya ketika Hinata membalikkan badannya dan menampilkan wajah syoknya.

"Kau serius?! Yaampun! Bagaimana bisa aku salah melihat tanggal?!" pekik Hinata syok. Itu artinya besok ia harus pergi.

"Apa?" Naruto semakin penasaran akan wajah syok Hinata. Mengapa dia begitu kaget?

"Aa.. A-aku harus pulang." Hinata berlari pergi. Ia bahkan belum berbasa-basi pada Ino untuk terakhir kalinya. Ino pasti akan marah besar jika dia tahu Hinata menemui Naruto tanpa menemuinya. Bodoh! Bodoh! Bagaimana bisa kau salah tanggal? Kau sungguh bodoh.

Grap

Langkah Hinata terhenti ketika tangannya di tahan sebuah tangan kekar yang pastinya milik Naruto.

"Kau mau kemana?" tanya Naruto setelah Hinata menatapnya.

"Aku harus menemui Ino. Dia akan membunuhku jika bertemu lagi denganku." jawab Hinata cepat yang membuat Naruto menatapnya curiga.

"Aaa. Maksudku. Ya begitulah. Bukan urusanmu." sela Hinata cepat ketika ia sadar atas apa yang baru saja ia katakan.

Naruto tak mau bertanya soal ucapan 'bertemu lagi' kerena ia punya firasat gadis ini tak akan menjawabnya.

"Semalam aku harus mengantarmu pulang karena Toneri. Kau menyusahkanku jadi hari ini kau harus menungguku tidur dan mengantarku pulang." Naruto menarik Hinata pergi menuju pentas.

Ternyata Naruto yang mengantarnya pulang. Tapi "Tap-tapi ini darurat. Setidaknya aku harus berbicara padanya hari ini." jawab Hinata.

"Masih ada hari besok." jawab Naruto enteng.

...

Hinata terdiam. "Tak ada lagi besok untuk berbicara tepat dihadapanya."

.

.

"Duduk disini dan diamlah." Naruto menarik Hinata agar duduk di anak tangga di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya ke pundak Hinata. Mungkin ini yang dinamakan kesempatan. Uhuk.

Hinata masih terdiam. Mungkin ia akan mengirimi Ino sebuah pesan? Mungkin ia akan mengatakan.. Ee.. Maaf aku tak memberitahumu dan mengatakan langsung padamu?

...

"Katakan padaku. Apa yang telah terjadi di luar sepengetahuan ku." Hinata menatap Naruto yang bersuara tanpa membuka matanya.

...

"Aku akan memberitahumu ketika kau tidur." jawab Hinata sama sekali tak berniat memberitahu Naruto tahu apapun. Tentang kejadian itu ataupun sekarang. Lagipula dia tak akan perduli bukan? Untuk apa Hinata memberitahunya? Supaya dia bisa mencaci Hinata? Tidak, maaf.

...

Naruto tak menjawab. Ya, baiklah. Rencana memalukannya adalah berpura-pura tidur.

.

.

30 menit kemudian.

"Kau sudah tidur?" tanya Hinata ketika Naruto tak beruara sedikitpun.

Dinilai dari nafasnya yang sangat teratur, sepertinya dia sudah tidur.

"Apa yang terjadi ketika kau mabuk? Tepatnya apa yang terjadi setelah kau menicumku?" Hinata memulai mengingat memorinya yang sangat sering ia ingat sebelumnya.

...

Senyum lembut menghiasi bibirnya ketika matanya menerawang lurus ke depan, ke lapangan yang kosong dan gelap tapi bedanya kini lapangan gelap itu sama sekali tak menakutkan untuknya entah dengan alasan apa.

"Aku bilang.. Aku mencintaimu dan.." Hinata seolah bisa melihat kejadian itu berputar seperti film di kosongnya lapangan.

"Kau tersenyum sangat lembut sebelum kau memejamkan matamu dan tertidur." senyuman lembut penuh cinta Naruto kembali dilihat Hinata layaknya film.

Kejadian yang sering membuatnya berpikir Naruto mencintainya. kejadian tanpa sadar yang membuatnya berharap dan kejadian yang tak bisa ia lupakan bahkan membuatnya sedih dan senang secara bersamaan.

Sama sekali tak bisa. Tak bisa ia lupakan tapi kini.. Ia harus membiarkan kenangan tanpa sadar itu pergi.

Hinata mengeluarkan ponsel nya dan mengotak-atiknya sejenak.

Rasanya lelah sekali memikirkan semua ini tapi apa yang bisa ia katakan?

...

Satu mata Naruto terbuka dan megintip layar ponsel Hinata.

Sepertinya dia ingin mengirim pesan untuk Ino tapi?

Mengapa dia malah mengirim tanda-tanda dan angka-angka bukannya huruf. Dia mengetik seolah.. Angka-angka dan tanda-tanda itu adalah hu.m

Huruf?

Souka...

Naruto mengerti.

Ternyata ini sangat mudah.

Tak heran Naruto tak tahu bahasa aliennya itu karena pikiran mereka sangat jauh bagaikan langit dan bumi. Naruto sungguh tak mengira pemikiran gadis itu sangat mudah. Bukan tak mengira, tepatnya tak percaya meskipun ia sudah sering melihat mudahnya pemikiran gadis itu.

.

.

00.32

Hinata mendorong pelan kepala Naruto dan menyandarkannya ke tiang-tiang penghalang samping tangga.

Maaf Ino karena hanya mengirimu pesan dan..

"Selamat tinggal Naruto. Aku mencintai mu dan semoga kau tak mendengarnya." Ucap Hinata menyesal dan kemudian melangkah pergi. mungkin ia akan bisa kembali ke jepang lagi setelah lima tahun? Enam tahun lagi? Siapa tahu..

Waktu berjalan dengan cepat.

Seberapa kecewa dirinya, ia akan bisa bertemu Naruto dan yang lainnya lagi meskipun semuanya akan berbeda setelah ini..

.

.

.

...

?

Naruto mengambil ponsel di saku celananya setelah Hinata menghilang dari matanya dengan cepat.

"Aku mencintaimu. Semoga kau tak mendengarnya." senyum lebar nan bahagia nan tulus menghiasi bibir Naruto. Perutnya terasa berbunga-bunga.

Hal ini sangat menarik.

Ia membuka chat antara dirinya dan Hinata yang sama sekali tak pernah ia hapus dari awal hingga kini.

Jari jempolnya menarik ke bawah secara terus menerus hingga tiba di awal percakapan.

Mari kita lihat apa yang selalugadis itu katakan dalam bahasa asingnya.

...

Deg!

.

.

.

.

03.11

"Ibu,,,,,,,,,,, persawat mana yang berangkat jam 3 pagi?!" Tanya Hinata frustasi sambil menyandar ke dinding airport dengan luar biasa malasnya. Iya, ia tahu ia akan berangkat hari ini tanggal 23 tapi jam tiga pagi? Ibunya pasti sudah tak waras. Membangunkannya jam satu pagi dimana tanggal baru saja menjadi 23, dimana ia baru saja memejamkan matanya dan kini aah sudahlah. Tapi bagaimana bisa mereka masuk dengan mudahnya kesini padahal tempat ini ditutup? Entahlah. Abaikan. Hinata masih terlalu mengantuk untuk bisa berpikir.

"Jika kita punya persawat pribadi, mengapa kita harus ikut pesawat yang lain?" fix, intinya jawabannya adalah mereka menaiki persawat pribadi milik Hyuuga yang standy kapanpun.

"Jika matahari masih belum terbit, mengapa kita sudah harus bangun dan berada disini?" jawab Hinata malas dan tak suka.

"Itu karena ayahmu. Aku mengatakan jam tiga siang, dia malah mendengar jam tiga pagi. Dia bahkan berpura-pura tak bersalah setelah membuatku terbangun tengah malam di bandara dengan piyama dan rambut kacau!" sepertinya ibu anak itu sedang kesal.

"Kalau begitu, mengapa kita harus berdiri disini? Bukankah lebih baik jika kita naik ke dalam persawat, ke kamar pribadi dan tidur?" ucap Hinata masih tanpa membuka matanya.

"Salahkan juga ayahmu yang secara tiba-tiba ingin ole-ole jepang dan menyuruh semua pekerja beserta pilot dan asistennya pergi mengetuk pintu para toko untuk membeli ole-ole dan melupakan kita." ibu Hinata menyandarkan dirinya ke tubuh putrinya. Berani sekali kepala keluarga itu membuat Hyuuga ini seperti pengemis. Dia harus di beri pelajaran. Sialan!

...

30 menit tanpa suara. Sepertinya mereka berdua sungguh tertidur dalam keadaan berdiri dan menyandar.

.

.

"Hinata-sama. Hana-sama. Semuanya sudah selesai." lebih dari lima belas pramugari, 10 pengawal, 2 pilot, 4 asisten pilot berdiri dihadapan Hinata dan ibunya, jangan lupakan rata-rata tangan mereka dipenuhi kantong-kantong yang pastinya berisi makanan.

"Angkat/angkat." perintah kedua perempuan itu serentak sambil menyodorkan satu tangan mereka, masih tanpa membuka mata mereka. Mungkin beginilah kata orang. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

"Ha'i" empat orang pramugari tadi mengangkat empat koper besar milik ibu dan anak itu.

Dua orang pengawal menghampiri Hinata dan Hana guna mengendong mereka di punggung tapi acara bergerak semua manusia di bandara saat itu terhenti kerena sebuah suara.

"Hentikan Hyuuga."

Suara itu!

Mata Hinata terbuka, ia membalikkan badannya di sertai oleh semua mata tertuju pada apa yang ia tatap.

"Naruto!?" Panggil Hinata terkejut. Seketika saja dirinya langsung terbangun 100persen. Bagaimana tidak? Bagaimana bisa lelaki itu disini?

Naruto melangkah menghampiri Hinata dan berhenti tepat di hadapannya.

"Ada apa Hinata?" tanya Hana mulai berfirasat buruk ketika lelaki kuning itu menatapnya dingin.

"Kau kira kau bisa pergi setelah merusak hidupku?" Naruto memulai pembicaraan yang cukup membuat Hana penasaran, sedangkan cukup mengimidasi Hinata.

"Ibu, aku akan berbicara dengan Naruto sebentar." Hinata menarik Naruto pergi tapi Naruto sama sekali tak mau bergerak.

"Ada apa?" mau tak mau, Hinata harus memulai percakapan tepat di sebelah ibunya.

"Tante, asal kau tahu. Putrimu ini telah membuatku putus dengan kekasihku. Merusak hariku, reputasiku, harga diriku dan semuanya tentangku." Hana masih tak mengerti.

"Dengan tak tahu malunya dia mengatakan dia mencintaiku di hadapan pacarku dan membuat kami berselisih dan berakhir." baiklah, Hana mulai mengerti dan ia tahu putrinya memang tak waras tapi ia tak pernah mengajarkan Hinata untuk merebut lelaki orang.

"Apakah itu benar Hinata?" Hana menegaskan katanya.

"I-ibu.. A-aku ha"

"Bagaimana kau mengajari putrimu ini? Tanpa rasa bersalah pergi tanpa suara dan bahkan permintaan maaf? Apa kau tak tahu malu?" suara dingin Naruto membuat jantung Hinata berdebar semakin kencang. Matanya berkaca-kaca. Ia tahu Naruto memang tak suka padanya tapi bukankah berlebihan melaporkan semua itu pada Ibunya ditambah dengan semua bahasa kasar itu? Dan apa yang dia katakan tidak sepenuhnya benar. Baiklah, benar ketika dia bilang Hinata tak tahu malu karena mengatakan ia menyukai Naruto di hadapan Sakura tapi ia tak pernah merusak hubungan itu. Naruto sendiri yang mengabaikan Sakura. Ia bahkan tak pernah menghasut mereka berdua untuk putus tapi mengapa kini mulutnya malah tak bisa menjelaskan penjelasan yang panjang itu?

Mengapa denyut di dadanya membuatnya hampir membisu?

"Oh satu lagi. Dia bahkan memberi harapan palsu untuk temanku. Dia memang gadis yang bur"

"Hentikan!" marah Hinata. Naruto tega sekali padanya. Ia tak perduli bagaimana lelaki itu bisa disini atau apapun. Tapi dia sangat keterlaluan. Mengapa dia harus membahas masalah itu sekarang? Apa karena Hinata mengajaknya bertemu tadi? Dia marah hanya karena itu? Ternyata itu memang rencana yang buruk.

"Kau keterlaluan. Mengapa kau harus mengatakan hal seperti itu di depan banyaknya orang?!" semua mata langsung berpaling dari Hinata ketika mata sedikit berair Hinata menatap selikas mereka semua. Cukup sekali Naruto mempermalukan nya di hadapan para pelanggan di cafe dulu tapi jangan kali ini di hadapan ibu dan para pekerjaannya.

Asal tahu saja, Naruto memang sengaja ingin mempermalukan gadis ini di hadapan banyak orang.

"Kau bisa berbicara empat mata padaku." tambah Hinata. Apakah dia tak bisa memikirkan betapa malunya Hinata dengan apa yang akan dipikirkan semua pekerja ayah nya tentang apa yang dia katakan, ia bahkan tak bisa menjelaskan hal itu, ia bahkan ragu bisakah ia menjelaskan hal itu?

"Bukannya kau memang tak tahu malu? Mengapa kau malu sekarang?" Jangan salah paham, Naruto bukannya tak bisa memikirkan harga diri Hinata melainkan dia tak perduli soal harga diri gadis ini.

"Hinata." Hana menunggu penjelasan.

"Itu tidak benar ibu, dia hanya melebih-lebihkannya." Hinata menghapus air mata nya yang mengalir tanpa isakan. Sudah cukup ia sakit hati karena akan pergi meninggalkan Naruto, Ino, Toneri dan yang lainnya dan kini Naruto malah menambah sakitnya dengan cinta miris nya itu. Naruto sungguh jahat. Bagaimana bisa Hinata jatuh hati pada lelaki ini? Lelaki ini sengaja ingin mempermalukannya. Ia sungguh tak mengira Naruto akan tega melakukan hal ini.

"Kau jahat sekali. Kau keterlaluan. Kau tahu aku hanya bercanda." Hinata memperjelas ucapannya, bohong kalau Hinata bilang cuma bercanda tapi tetap saja apakah harus mempermalukan nya begini? Mengapa sekarang? Mengapa tiba-tiba?

"Ha?!" Naruto tersenyum tak terima. "Aku keterlaluan? Bukankah kau yang keterlaluan? Setelah membuat kesalahan tanpa kata maaf dan merusak semuanya. Kau mau bilang semua ini hanya bercanda?" jelas Naruto sinis.

"Wow. Hebat sekali Hyuuga ini."

.

.

.

.

To be continue.

.

.

.

Sorry baru up. Author sibuk beberapa hari ni.

Penasaran gak bagaimana nanti? :v

Hahaha..

Ps : bagi yang tanya soal fic stupid or kind. Fic itu akan di up setelah satu chap terakhir dari fic ini. Sabar ya..

Maaf ya kalau ficnya kurang bagus. Author memang bisa ngarang sebuah cerita tapi susah bangat penulisan nya biar bagus gitu. Author udh usahain sebagus mungkin. Meskipun tak bagus, setidaknya bisa di baca. Hehe

Moga suka. Moga bagus..

Bye bye