Yukeh: Akhirnya, tamat juga XD Saya jadi bisa konsen ke fanfic yang lain. Saya udah bosen humor nih, pengen nge-angst melulu T.T
Okeh, chapter terakhir ini semua saya dedikasikan untuk my danna fans, SasoDei fans, dan tentunya Uchiha Yuki-chan fans! XD
Happy reading, minna ^^
-oOo-
Sasori memakai menutup koper yang cuman berisi beberapa helai pakaiannya itu. Sedangkan ransel hitam yang digendongnya membludak dengan foto semua cewek cantik yang pernah menjadi kekasihnya. Entah untuk apa dia membawa benda demikian (-.-;)
Pemuda itu kembali melihat ke cermin. Perawakannya tinggi. Tubuhnya pun berdiri tegap sempurna, dengan balutan jaket kulit putih terlapisi dengan kemeja berwarna senada rambutnya. Kakinya pun terselubungi oleh kain jins berwarna biru gelap. Dengan sepasang sneakers yang melindungi kakinya.
Sasori menarik ujung bibirnya. Tersenyum samar.
"Hey, handsome," ujarnya sembari menatap wajahnya di depan cermin. Narsis banget nih cowok.
Tetapi senyum Sasori segera menghilang saat ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya. Entah mengapa, ia merasa bahwa ia terlupa akan sesuatu yang penting. Entah mengapa, jiwa dan raganya tiba-tiba menolak untuk segera hengkang dari rumah setan ini. Entah mengapa pula, ia merasa separuh jiwanya akan tertinggal tanpa sesuatu itu!
Sesuatu yang sangat berharga.
Satu-satunya hal yang selama ini memiliki jiwa dan raganya.
"Ah! Kichi-chan!"
Kichi-chan. Itulah sesuatu itu –w-
Sasori keluar dari kamarnya sembari menyeret kopernya dengan tangan kiri, dan menggendong kucing manis itu dengan tangan kanan di dadanya.
"Sas, kamu yakin mau ke Rusia? Gak nunggu lulus dulu?" tanya Konan yang menunggu Sasori di ruang tamu, bersama dengan Yuuichi, Yuki dan Tobi. Sedangkan Orochimaru dan Hidan duduk bersimpuh bagai budak di dekat kaki mereka.
Sasori menggeleng, "Enggak. Aku udah yakin."
"Papi pilih kasih!" gerutu Yuuichi gak terima, "Mentang-mentang Kak Sasori anak haramnya, jadi disekolahin di luar negeri!" ujar Yuuichi tanpa sadar membuka aib keluarga di depan dua pembantunya.
Ya, belakangan Yuuichi tahu, bagaimana rupa Ibu kandungnya. Itupun dia tahu dari usahanya meneror Kepala Desa agar memberinya informasi tentang siapa wanita tolol yang mau menikah dengan Ayahnya dan mau dimadu seumur hidup dengan benda bernama 'uang'. Dan apa yang didapat Yuuichi? Kepala Desa menunjukkan tiga buah foto wanita yang berbeda.
"Saya juga gak tahu, yang mana Ibu kamu, Nak," kata Kepala Desa dengan memberi tatapan yang seolah-olah berkata 'Kasihan…'
Pantes saja selama ini Yuuichi, Yuki dan Sasori kelihatan kayak bukan saudara kandung! Kata Hidan dulu malah, Yuki mirip ama wajah tetangganya yang ada di kampung! Kurang hajaaaar!
"Kata Papi, nanti semua anaknya akan disekolahkan di luar negeri. Tenang saja," ujar Sasori membujuk adiknya. "Nih, baca aja kalo gak percaya," ujar Sasori sembari menyodorkan HPnya.
Yuuichi menerimanya. Dia membaca sms itu.
Anak-anakku gak akan kusekolahkan di dalam Negeri. Karena kau adalah anakku dengan umur yang tertua, kau k kirim ke luar negeri duluan. Bilang pada Yuki dan Yuuichi, tahun depan mereka berdua akan pindah sekolah ke Ethiopia. Bye-bye!
"Tuh kan! Papi emang pilih kasih!" Yuuichi niat mau banting HP Sasori. Tapi gagal saat Sasori keburu merebut kembali HPnya.
"Udahlah, ayo kita berangkat! Pesawatmu bukannya take off 1 jam lagi, Sas?" tanya Konan.
Sedangkan Yuki sedari tadi hanya menunduk.
Deidara….
"Den, saya pasti akan merindukan Aden," ujar Orochimaru sembari menyeka air mata palsunya. Padahal dalam hati ia berteriak senang karena gak akan ada lagi yang memarahinya kalo ular-ularnya lepas dari kandang. Dan yang penting, gak ada lagi yang bisa melindungi Yuki dan Yuuichi dari ancaman mautnya. Buwahahahah…! Victory is going to be his!
"Oro," Sasori menepuk pundak koki itu. Setelah itu, Sasori meneteskan cairan antiseptic ke tangan yang abis ia gunakan untuk menyentuh Orochimaru. "Jaga adik-adikku, ya. Jika kau jadi koki baik, nanti sepulang dari Rusia kubelikan ular Sanca dan Anaconda deh."
Oro langsung tersenyum girang dan melupakan niatnya untuk menganiaya Yuki dan Yuuichi.
"Den, jaga kesehatan ya. Jangan lupa makan, minum, tidur siang, dan mandi. Jangan lupa untuk kirim email ke saya. Saya juga akan selalu kirim komen ke wall dan status Aden di facebook," ujar Hidan sok canggih, "Oh ya, jangan lupa update fic Aden yang terakhir itu, ya?"
Yang lain hanya melengos. Kirim komen ke facebook? Jah! Yang dipegang sehari-hari ama Hidan kan cuman pentungan, tikus, sabit. Sabit, pentungan, tikus.
"Udah, aku pergi yah," ujar Sasori sembari menatap kedua babunya.
"Ayo, Kak!" ujar Tobi yang udah nangkring di dalam mobil Limosine Sasori.
Sasori memandang rumah megah tapi kelihatan angker itu cukup lama. Rumah yang sudah membesarkannya selama belasan tahun. Rumah yang menyimpan banyak kenangan indah dan buruk, tapi 90 persen adalah kenangan buruk.
Sasori pun akhirnya masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kemudi.
"Kakak gue, tunggu bentar! Elo belom pamitan ma Deidara!" ujar Yuki yang entah kenapa gak dari tadi aja ngingetinnya.
"Buat apa sih dapet pamit dia? Cuman babu doang!" ujar Tobi sok dewasa.
Sasori hanya terdiam.
Namun, setelah menghembuskan nafas berat, ia mulai menstarter mobilnya.
Di luar sana, Orochimaru melambaikan tangannya dan Hidan melambaikan kaki kirinya.
"Jaga rumah, ya, Oro, Hidan," ujar Sasori.
"Okeh!" ujar Orochimaru sembari mengangkat obor yang menyala dan Hidan yang mengangkat sebotol minyak tanah.
Entah kenapa, perasaan Sasori jadi gak enak melihat dua pembantu psycho-nya itu.
"Goodbye, home."
-oOo-
"Kak, apa gak ada yang ketinggalan?" tanya Yuuichi pada Sasori saat mereka udah tiba di bandara.
Sasori melengos, "Kenapa kamu baru nanya sekarang saat aku udah nyampek airport?" ujar Sasori.
"Ada yang ketinggalan, Kakak gue! Elu lupa sesuatu yang penting dan berharga!" kata Yuki yang entah kenapa sepanjang perjalanan mewek mulu. Jadi gak tega Sasori ngelihatnya. Emang sih, Sasori sadar, pasti berat bagi Yuki untuk kehilangan satu-satunya Kakak yang dipuja banyak insan seperti dirinya.
Sasori hanya mengacak kecil rambut adiknya itu.
"Jangan suka kabur dari rumah dan ngerjain temen Kakak lagi, ya?" Sasori tersenyum.
Yuki menggeleng.
"Good girl."
"Gak mau, maksudnya."
Sasori langsung kembali melengos.
"Kak Sasori, entar siapa yang nemenin Tobi maen PS?" tanya Tobi manja. Namun hal itu malah membuat Sasori muak.
"Kan ada Kak Yuuichi."
"Kak Yuuichi payah! Maennya yang game cemen mulu! Donald bebek lah, doraemon lah, sponge bob lah."
Dan berakhirlah Tobi dengan cekikan maut Yuuichi.
Sasori tersenyum melihat tingkah Yuuichi dan Tobi. Ah…di Rusia nanti, pasti kehidupannya akan sepi…
"Makasih semua, atas perhatian kalian ke aku selama ini," ujar Sasori tiba-tiba.
Yuuichi dan Tobi berhenti bertengkar dan menatap Sasori. Demikian juga dengan Yuki dan Konan.
Sasori tersenyum, "Aku bangga punya keluarga kayak kalian. I'm going to miss you. Maaf jika aku ada salah. Kuharap kalian mengikhlaskan apapun milik kalian yang pernah ada padaku dan belum kukembalikan."
Yuki memegang tengkuknya.
"Kok kayak mau mati aja nih orang," bisiknya pada Konan.
"Kak Sasori! Hueeee….!" Tobi menghambur ke Sasori, diikuti Konan dan Yuuichi.
"Sasori, jaga dirimu baik-baik yah," ujar Konan.
"Makasih Konan," Sasori terharu.
"Kak Sasori kalo kepeleset, bangun sendiri yah," ujar Tobi.
"Makasih Tobi," Sasori tersenyum.
"Tetaplah jadi playboy kebanggaan Yuuichi, Kak," ujar Yuuichi.
"Hehe…," Sasori ketawa garing.
Sudah terdengar suara petugas untuk mempersilahkan pemumpang untuk boarding.
Sasori melepas pelukannya. Ditatapnya anggota keluarganya yang udah nangis gak keruan. Sasori menghela nafas. Jadi rada gak tega untuk ninggalin mereka.
"Nunggu apalagi sih, dia? Lama banget!" batin Konan.
"Take care," Sasori tersenyum sebelum dia berbalik. Namun langkahnya terhenti oleh sebuah suara yang kontan membuatnya menoleh kembali.
"Kak Sasori," ujar Yuki pelan. "Jaga diri baik-baik yah."
Tak hanya Sasori, Konan, Yuuichi dan Tobi nyaris kena serangan jantung saat mendengar untuk pertama kalinya Yuki memanggil saudaranya dengan nama panggilannya.
"Yuki," Sasori terharu.
"Kakak gue, udah sono," ujar Yuki kembali ke style awalnya.
Sasori pun berbalik. Namun ia belum sempat melangkah saat ada sebuah teriakan yang memanggil namanya. Dalam hati Sasori mengumpat. Kenapa dari tadi ia seakan dicegah untuk melangkah pergi?
Ia berbalik. Tak hanya Sasori. Keempat orang yang lain juga menoleh. Dan mendapati seorang dengan rambut pirang berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Rambutnya yang panjang sepunggung bergerak-gerak kala tubuhnya ia buat berlari. Separuh wajahnya tertutup oleh poninya yang memanjang.
Entah mengapa, lagu Ada Apa Dengan Cinta terdengar dari neraka.
Tanpa babibu lagi, Deidara langsung memeluk Sasori begitu ia berada di dekat pemuda itu. Membuat Tobi langsung menutup mata, Yuuichi langsung mengangkat kursi yang ada di dekatnya untuk ia lempar ke Deidara, membuat Konan hanya mengucapkan 'Another fu*king romantic scene', dan membuat Yuki mengucapkan hamdalah beberapa kali.
Sedangkan Deidara tak peduli dengan pandangan orang lain. Bodo amat! Mau dia dikira homo kek, uke kek, yaoi kek, murtad kek, banci kek, yang penting ia bisa melampiaskan perasaannya pada Sasori untuk yang mungkin, terakhir kalinya ini.
Sasori pun hanya terdiam. Ia tak membalas pelukan Deidara, namun juga tak menendangnya seperti yang biasa ia lakukan jika banci itu berniat menyentuh ujung jarinya sekalipun.
Sasori hanya merasa…entah kenapa, otaknya sekarang tak memberi perintah yang sama. Seakan seluruh syarafnya lumpuh begitu pemuda berambut kuning itu menyentuhnya. Sasori tak tahu kenapa, ada rasa yang gak enak juga di dalam sini.
Sedari tadi, ia tahu, Deidara tak ikut mengantarnya ke bandara. Bahkan ia juga sadar, Deidara tak mengantarnya hingga ke halaman rumah, seperti Hidan dan Orochimaru. Ingin Sasori mencarinya. Ingin ia mengatakan bahwa ia akan segera pergi dari sini. Ia akan berada di lindungan langit lain dengan Deidara. Ingin ia dengar respon Deidara. Ingin juga Sasori lihat tatapannya yang memohon agar Sasori tidak pergi.
Egois memang. Namun itulah Sasori. Itulah ciri khas keturunan Kakuzu. Egonya tak akan mampu mau menistakan dirinya dengan mengakui perasaan yang selama ini tak pernah ia akui keberadaannya di hatinya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk sekedar mencari pembantunya itu dan mengatakan 'Aku akan pergi'. Keangkuhannya yang memaksa otaknya hanya menyuruh Sasori tetap pergi tanpa sekalipun melihat wajah Deidara meski untuk yang terakhir. Rasa sempurna inilah yang membuatnya bersikap demikian. Angkuh. Tak butuh. Penyangkalan atas perasaan yang jelas-jelas ia tahu, sudah mulai bersemi di dalam sini. Mungkin ini warisan dari Mr Kakuzu.
"Pikirkan lagi, Den," ujar Deidara terisak, "Jangan pergi."
Permintaan yang terdengar tulus. Meski tetap saja ada nada-nada lebay dan menjijikkan yang terkandung.
Sasori hanya menghela nafas. Ia memejamkan kedua matanya. Andai ia bisa, ia juga ingin tetap tinggal. Andai ia bisa, ia juga ingin tetap bertemu Dhien-chan, Jezz-chan, dan sederet fansgirl-nya. Andai ia bisa, ia juga ingin ikut dalam sabotase DVD bokep Pein yang akan segera dilakukan Itachi. Andai ia bisa….
Perlahan Sasori melepaskan pelukan Deidara.
Kedua mata coklat dan biru itu bertemu. Mata biru yang kini basah oleh air mata dan menatap penuh luka. Dan mata coklat yang masih bersorot sama. Dingin. Angkuh. Dan mempertahankan benteng egonya.
"Aku mencintaimu, Den," ujar Deidara lembut, tanpa sadar membuat semua orang yang kebetulan mendengarnya langsung nyungsep ndelosor di lantai. Namun Deidara tak peduli. Ia berharap kisahnya ini akan seperti Rangga dan Cinta. Dimana berakhir dengan Rangga yang mencium Cinta dengan mesra.
Namun Deidara sadar, mungkin Sasori bisa disejajarkan dengan Nicholas Saputra. Namun Deidarawati dengan Dian Sastro?
"Excuse me, your destination is Russia, right?" ujar seorang wanita bule seenak jidatnya dan langsung membuyarkan angan Deidara dengan sadis. "You have to go to boarding now, otherwise you will miss your flight."
Sasori hanya mengangguk dan wanita bule itu pergi.
Perlahan, tangan Sasori yang mencekal tubuh Deidara terlepas perlahan. Memberi kesan sok dramatis di mata Yuki, Yuuichi dan Konan. Sinetron banget!
"Aku pergi."
Hanya satu kata itu yang terucap.
"Den!"
Bahkan panggilan Deidara pun tak mampu menghentikan langkah Sasori lagi.
Aku pergi.
Apa itu? Jawaban atas pernyataan cinta Deidara? Kata lain dari 'Tidak akan pernah gue cinta ama elo, budak hina yaoi!'? begitu?
"Huh…untunglah," Yuuichi mengelus dadanya. Padahal dari tadi adegan ciuman mesra ala Rangga dan Cinta udah kelibetan di otaknya.
"Maksa sih. Yaoi kok ngajak-ngajak," ujar Konan.
"Deidara ditolak! Dua kali! Dua kali!" Tobi mulai menari-nari dan mengacungkan kedua jarinya. Tak peduli pada petugas bandara yang menatap horror padanya.
"Dei, sesuai janji, gue gak bakal anggap elo jadi babu gue lagi," ujar Yuki menepuk pundak Deidara.
-oOo-
"Gue berangkat! Ya-ha!" ujar seorang gadis sembari menstarter motor Harley-nya dengan brutal dan meninggalkan kebisingan di halaman rumah itu.
Ya, dia masih bernama Yuki Kakuzu. Dia masih menjadi satu-satunya cewek yang tinggal di rumah besar nan gede ini. Dia masih suka kirim sms ke 0909 tentang info sehari-hari Shinigamu Ryuuk. Namun bedanya, kali ini ia membawa Harley ke sekolah. Sedangkan motor ninja sportnya ia ikhlaskan untuk dipakai Mang Hidan ke sawah sehari-hari. Dan kabarnya, dia sekarang udah bubar ama geng Panda-wa L-ima dan membentuk geng lagi dengan seorang pemuda bernama Hiruma Youichi. Geng yang kerjaannya mengkoleksi senjata ilegal dan ngumpulin aib orang.
"Kak Yuki! Tunggu!" ujar seorang pemuda yang tergesa-gesa mengayuh sepeda vederal yang tua.
Dia masih Yuuichi Kakuzu. Masih anak Papi. Masih sangat memuja Mr Kakuzu dan masih sangat taat menganut golden rule Mr Kakuzu yang berkata Money is everything. Masih pula juga ia suka dianiaya oleh Deidara, dan masih pula ia suka menganiaya Orochimaru. Dan MASIH juga ia menaiki sepeda vederal bututnya ke sekolah. Tak ada yang berubah.
"Hey, sekarang tanggal merah!" teriak seorang berambut putih sembari mengacungkan sabitnya yang diujung sabit itu tertancap bangkai tikus malang yang menjijikkan.
Dia dulu bernama Hidan. Namun semenjak Sasori pergi, dia sok mengganti namanya menjadi Hadin. Entah apanya dari namanya itu yang terlihat lebih agak keren (-.-;). Dia masih suka iseng nyari tikus di sawah dan melakukan ritual gak jelas itu. Dan dia masih menjadi pemuja berat makanan sampah yang bernama burger.
"Semenjak ditinggal Den Sasori, kejiwaan Den Yuuichi dan Non Yuki agak keganggu, yah," ujar seorang lelaki berambut panjang.
Masih bernama Orochimaru. Rambutnya masih sepanjang dulu. Masih hitam tak berketombe dan cuman pake shampoo. Masih pemuja berat makanan gak modal dan beracun. Bedanya, sekarang dia gak takut-takut lagi melepas ular-ularnya di segenap penjuru rumah ini. Membuat rumah yang awalnya emang serem, jadi semakin horror. Bahkan ketika makan malam pun, dia sengaja membiarkan ada seekor ular menggeliat di meja makan, di depan Yuki dan Yuuichi.
"Eh, beliin gue telur dong!" ujar Orochimaru pada Hidan, maksudnya pada Hadin.
"Eh, gue bukan pembantu yah!" Hadin gak terima.
"Siapa bilang elo presiden! Elo kan satpam!" ujar Orochimaru.
"Trus emang sejak kapan satpam tugasnya beli telur?"
"Eh, elu mau gue aduin ke Mr Kakuzu? Sejak Den Sasori pergi, gue adalah majikan baru elo!" ujar Orochimaru sepihak dan dengan PDnya.
"Kenapa musti gue?" Hadin melengos, "Suruh aja si malas itu!"
Tahu kan, siapa si malas yang dimaksud Hadin?
Yep! Namanya masih Deidara, cuman akhir-akhir ini entah mengapa Yuki suka memanggilnya dengan nama panggilan 'Ipar Deidara'. Masih berambut kuning. Masih bermata biru. Masih malas. Masih jadi pembantu. Masih suka nonton TV dengan gaya sok punya rumah. Masih suka juga percaya pada acara-acara dan iklan-iklan nista semacam NDB dan Briliantidea-nya Mail Jeevas. Dan yang paling kentara, masih juga suka bangun 3 jam lebih lambat dari semua makhluk yang ada di kawasan ini.
Sembari merengut, pemuda itu berjalan tanpa alas kaki menuju warung. Bagaimana bisa pakai alas kaki kalo sendalnya kemarin baru aja dibakar dengan sadis oleh Orochimaru akibat Deidara lupa matiin keran abis mandi? Memang kejam dan tambah sok aja pembantu tua itu!
Deidara menoleh ke langit. Biru. Cerah.
Langit yang ia pandang untuk ke-360 kalinya semenjak dulu ia rasakan separuh dari jiwanya sudah terbang ikut dengan pemuda berambut merah itu ke Rusia.
Ah, apa kabarnya Den Sasori? pikirnya. Pasti sekarang dia lagi kencan ama gadis-gadis yang gak kehitung jumlahnya. Atau dia sekarang juga lagi mandang langit kayak gue. Hh…gue kangen lihat mukanya. Kenapa tidak bisa bersatu? Kenapa aku harus dilahirkan ke dunia ini jika hanya untuk merasakan sakit karena mencintainya?
Deidara tersenyum. Ia menggelengkan kepala. Itu adalah pikiran yang dulu selalu mengusiknya selama 1 bulan setiap ia teringat Sasori. Namun sekarang?
Hey, life must go on, right? Terkadang, kita harus merubah hidup kita. Semua pasti akan berujung pada keadaan yang semestinya.
"Dei-kun!"
Deidara menoleh dan mendapati seorang gadis tersenyum di depannya. Seorang gadis yang kulit wajahnya rusak, seperti kena luka bakar. Namun cukup manis. Siapa dia? Hah? Mihael Keehl? Tentu saja BUKAN!
"Hey," ujar Deidara balas tersenyum. Ia menghampiri dan menggamit jari-jemari gadis itu. "Kau jelek sekali," ujar Deidara yang langsung kena gampar.
"Kau pikir gara-gara siapa wajahku hancur begini?"
Flashback
"Kita mulai." Yuuichi melempar sebuah batu ke jendela di belakang cewek itu. Dan tentu saja, jendela itu pecah dan batu itu akhirnya nyemplung di panci berisi air yang sedang dimasak tuh cewek.
"Kyaaaaaa!" Cewek itu menjerit kaget campur kesakitan. Gimana gak sakit, kalo wajahnya kecipratan air panas dari panci itu saat batu yang di lempar Yuuichi nyemplung!
End of Flash Back
"Ngomong-ngomong, kau sudah gak gay lagi, kan?" ujar gadis itu tak sopan.
Deidara cemberut, "Ya gak lah! Kalo enggak ngapain aku berani lamar kamu?"
"Siapa tahu aku cuman jadi pelampiasan kamu doang!"
"Sempet sih…."
"Tuh kan?"
"Dulu, kok! Aku sekarang udah normal. Itu berkat kamu!"
"Beneran?"
"Pernah aku bohong?"
"Cih, sok gak nyadar."
"Ehe…"
"Kalo seandainya sekarang majikan kamu pulang, kamu cinta padanya lagi?"
"Mr Kakuzu? Ya gak lah! Gile apa?"
"Ya Sasori itu, Dei!"
"Oh…," Deidara tersenyum dan menghela nafas kecil sebelum menjawab, "Gak. Aku udah gak gak normal lagi!"
"?"
"Aku udah straight!"
"Beneran?"
"Sekalipun Sasori telanjang di depanku, aku gak akan terpengaruh!"
Dan Dei kena gaplok. Dei hanya tersenyum sembari mengelus pipinya yang memerah karena memar.
Iya! Semua udah berlalu.
Tin! Tin!
Suara dentinan mobil terdengar. Deidara dan gadis itu menoleh dan mendapati sebuah mobil mewah dan lux datang dari arah depan mereka.
Mobil itu berhenti di dekat mereka. Kaca sebelah samping kemudi terbuka dan memperlihatkan seorang berambut merah dan memakai kacamata hitam.
"Dei? Ngapain elo di sini?" ujar suara yang tak terdengar nyaris setahun itu.
Deidara menatap horor.
"Oh no!" batin Deidara, "Jangan lagi!"
END!
Happy ending! XD *digaplok SasoDei fans* Sudahlah, saya bukan penggemar SasoDei lagi
Tuh kan, suasana nge-angst-nya kerasa ya? T.T entahlah, hidup saya kok jadi melankolis begini T.T
Makasih BANYAK BANGET buat semua yang udah review, baca, ngelirik, kasih komen doang lewat fb, masukin ke fave, ke alert, dan semua yang udah kasih partisipasinya. Maap bila ada bagian yang tidak kalian suka. Yuki gak sengaja, kok. Yuki gak niat menyinggung siapapun disini. Yuki hanya ingin bikin fic selucu mungkin untuk menghibur kalian XD Makasih yang udah menemani perjalanan MCAA hingga akhir ini.
Makasih….makasih banyak! Love you all –dirajam, dibantai, di bakar-
Review, kritik, saran, pendapat, apapun asal bukan flame,
Akan sangat saya nantikan dan hargai :D
Maret 2011
Yukeh
