Disclaimer © GUNDAM SEED / DESTINY by sunrise
Warning: Typoo, OOC, AU, hurt inside, tears, shock. Dont like Dont read :) chapter terpanjang dari OLA
Banyak air mata yang telah tercurah...
Banyak tangisan yang menggema
Banyak perasaan yang terluka...
Kau...
Aku dan dia
Lalu mereka...
Kita...
Kita semua menangis
kita semua bersedih
namun...
Jangan khawatir...
Ini adalah yang terakhir
OUR LITTLE ANGEL
.
.
BY. PANDAMWUCHAN
CHAPTER 12
Final Chapter: Final Tears
enjoy it!
Suasana yang sunyi senyap menyelimuti dua insan yang sedang berbagi pelukan, berbagi kehangatan, berbagi kesedihan.
Athrun masih mencoba menenangkan Cagalli yang masih saja terisak dalam pelukannya. Tangannya mengelus-elus lembut punggung Cagalli, meski ia sendiri yakin, jika saat ini tangannya gemetaran. Untuk beberapa saat ini, bahkan beberapa hari ini, perasaan duka masih menghantui mereka. Tak ada cobaan yang lebih berat menghampiri. Tuhan tahu akan kemampuan makhluknya.
Masih mencoba untuk berpikir se-positif mungkin, Athrun mengeratkan pelukannya dan melontarkan beberapa kalimat penyemangat pada Cagalli yang sudah 3 hari ini merasa begitu depresi. Tangisannya bahkan memenuhi relung jiwa Athrun. Siapa yang tak akan menangis, siapa yang tak akan bersedih. Disaat ia ingin mengakhiri semua kesedihannya, namun ia tak bisa.
"Athrun..."
Athrun menatap Cagalli yang mulai melepaskann dirinya dari pelukan Athrun. Sebisa mungkin Athrun tersenyum untuknya. Sebisa mungkin menghapus kesedihannya. Walau...
Hatinya jauh terasa lebih sakit.
"Ada apa, Cagalli?" tanyanya dengan penuh kelembutan. Ia mengerti apa yang Cagalli rasakan saat ini.
"Sudah 3 hari sejak Kira membawa Leona. Ini tak akan berakhir." Cagalli menatap Athrun dengan mata yang sangat sembab.
Berusaha untuk tidak menangis, Athrun memejamkan matanya sejenak. Menenangkan hatinya. Kali ini, ia harus benar-benar memendam perasaannya. "Cagalli," gelengnya pelan, "jangan menangis lagi. Kita akan mencoba menemui Kira," ucapnya yang kembali memeluk erat Cagalli.
(our little angel)
Seorang pria dengan rambut hitam terlihat sedang berdiri di depan sebuah pagar rumah yang tertutup rapat. Tangannya mencengkram kuat pagar besi itu, matanya melihat jauh ke dalam. Sepuluh menit sudah ia berdiri di sana. Masih penuh pengharapan, ia berharap agar sahabatnya mau menemuinya.
Tangannya lalu bergerak untuk mengambil ponsel yang ada dalam saku celananya. Mencari kontak seseorang untuk dihubungi. Meski ia tahu usahanya tak akan membuahkan hasil. Tapi ia tetap mencoba. Mencoba untuk menghubungi Kira, yang sudah 3 hari ini tak pernah mau mengangkat telepon darinya.
(our little angel)
Tck... Decak Kira saat ia memandang keluar melalui jendela rumahnya yang ada di ruang tamu. Getaran ponsel yang ditimbulkan lalu mengalihkan pandangannya. Hh, ia tahu jika 'dia' tak akan menyerah. Karena menyerah bukanlah sifat'nya'. Dengan perasaan kesal ia meninggalkan ruang tamu dan beranjak menuju dapur, saat ia mendengar namanya dipanggil. Ponselnya yang bergetar masih ia abaikan.
.
.
.
"Kira, dari mana saja kau?" tanya Lacus pada Kira yang baru saja memasuki dapur. "Aku memanggilmu, tapi kau tak menyahut panggilanku."
Sorot mata Kira meneduh saat ia melihat istrinya yang sedang sibuk membuat pancake kesukaannya, dibantu dengan seorang gadis mungil berambut hitam. Gadis mungil itu terlihat begitu senang, meski wajahnya sudah belepotan dengan tepung. Tapi ada senyum, saat ia menuangkan krim topping rasa coklat ke atas pancake yang telah ia buat.
"Apa itu untuk paman?" tanya Kira begitu ia menghampiri gadis cilik itu.
"Hm, begitulah. Lihat, bentuknya bagus bukan?" Senyum Leona sembari memperlihatkan pancake buatannya.
Kira terkekeh melihat bentuk pancake yang tersaji di hadapannya. "Apa ini aku?"
"Mm," angguk Leona dengan antusias, "apa terlihat mirip?"
"Bentuknya bagus, tapi aku tak yakin dengan rasanya." Ucap Kira sambil tertawa pelan saat ia melihat Leona yang sudah cemberut karena ucapannya. Aneh rasanya, sungguh aneh. Melihat Leona yang begitu bahagia seakan tanpa beban. Awalnya Kira merasa begitu bingung. Alasan apa yang akan ia berikan pada Leona, jika gadis itu bertanya padanya, mengapa ia bisa berada di sini -di rumah Kira. Tapi, hari itu. Ketika terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di rumah sang paman, tak ada pertanyaan yang terlontar, tak ada raut wajah yang bingung, yang ada hanya senyum serta tawa yang terukir di wajahnya. Ya hanya senyum...
Namun, meskipun Leona tak bertanya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin tahu dimana orang tuanya, dan mengapa tak mencarinya sampai hari ini.
(Our little angel)
"Baiklah, kondisi Anda sekarang sudah sehat, Nyonya Zala. Anda sudah bisa kembali ke rumah."
Cagalli mengangguk pelan dan menatap Athrun yang duduk di dekatnya. Ada senyum yang terukir di wajahnya saat ia melihat wajah Athrun. Athrun terlihat sedikit lega daripada kemarin. Wajah muramnya mulai berseri lagi.
"Tuan Zala, bisa ikut saya sebentar," pinta sang dokter usai mencatat sesuatu di buku kecilnya. Ada raut wajah yang tak begitu menyenangkan.
Dan Athrun hanya bisa mengangguk pelan. Ia menoleh sejenak ke arah Cagalli yang sudah menatapnya dengan wajah yang bingung. "Aku akan kembali." Senyum Athrun yang dibalas dengan anggukan pelan dari Cagalli.
.
.
.
"Jadi, ada apa?" tanya Athrun pada sang dokter, ketika mereka berdua sudah berada di luar ruang perawatan Cagalli.
Sejenak terlihat bila dokter itu menghela napasnya. Ditatapnya Athrun dengan pandangan yang amat serius. "Saya rasa tak apa bila mengatakannya pada Anda. Saya tak bisa mengatakan hal ini pada Nyonya Zala, melihat matanya yang sembab seperti itu. Hal ini hanya akan memperburuk keadaan."
"Maksud dokter?"
"Istri Anda tidak bisa mengandung lagi, akibat keguguran yang ia alami. Terlalu riskan jika ia mengandung, nyawanya bisa terancam."
"Ma-maksudnya, Cagalli..."
Sang dokter mengangguk pelan, "Ya, sudah tidak ada harapan lagi bagi Nyonya Zala untuk mengandung."
Tanpa dokter itu sadari, bahwa dirinya telah salah memilih orang. Ya, dia salah karena mengatakan semua hal ini pada Athrun... Sangat salah.
(our little angel)
"Nomor yang Anda tuju, tidak dapat dihubungi. Silahkan tinggalkan pesan, setelah bunyi."
piip
"Kira, aku tahu kau marah. Aku tahu kau tak mengizinkanku untuk membawa Leona. Tapi, aku mohon. Dengarkan aku. Aku ingin bertemu denganmu. Jika kau sudah mendengar pesan ini, segera hubungi aku."
pip
Shinn mematikan saluran ponselnya usai menyampaikan pesan suara kepada Kira. Dirinya lalu menatap pagar rumah Kira yang masih tertutup rapat, sejenak. Ada raut wajah yang begitu sedih. Dengan langkah yang pelan ia berjalan menuju mobilnya.
'Kapan ini akan berakhir?'
(our little angel)
Cagalli mengalihkan pandangannya saat melihat Athrun yang masuk ke dalam ruangan. "Athrun," ucap Cagalli saat ia melihat ada yang berbeda dari ekspresi wajah Athrun. Apa terjadi sesuatu lagi?, batin Cagalli.
Athrun yang semula menunduk langsung menatap Cagalli. Ia lalu menghampiri Cagalli yang masih duduk di atas ranjang perawatan. Dipeluknya tubuh Cagalli dengan erat. "Kau ingin pulang?" tanyanya dengan suara yang pelan. Beberapa detik kemudian, ia merasakan Cagalli yang mengangguk dalam pelukannya. Dilepaskan pelukannya dan ditatapnya Cagalli dengan lekat, tangannya bergerak untuk membelai lembut pipi istrinya. "Ayo kita pulang," ucapnya yang kembali memeluk Cagalli.
(our little angel)
Kira duduk diam di dalam kamarnya, matanya menerawang jauh ke langit. Tangannya menggenggam erat ponsel touch screen miliknya. Helaan napas yang berat terdengar darinya.
"-Jika kau sudah mendengar pesan ini, segera hubungi aku."
Hh, desahnya lagi ketika mengingat pesan suara yang Shinn kirimkan kepadanya. Sorot matanya mendadak sendu. "Sepertinya aku tak bisa, Shinn," ucapnya dengan pelan.
Drrrrtt...drrrttt...
Dengan segera Kira melihat ponselnya, saat ponsel itu bergetar. Ada pesan yang masuk.
"Athrun?"
Hari ini, Cagalli kembali dari Rumah Sakit.
Sebisa mungkin...
Kami ingin berbicara padamu.
Aku tahu kau mungkin akan menolak kami.
Tapi...
Tolong dengarkan kami, Kira.
Ini demi Cagalli.
Kira menutup matanya secara perlahan. Haumea, kenapa seperti ini? Kenapa mereka begitu keras kepala?
"Kira."
Kira menoleh ke arah pintu saat ia mendengar seseorang memanggilnya. Di sana, sudah ada Lacus berdiri sembari tersenyum. Kira tentu membalas senyuman yang diberikan Lacus untuknya. Ia pun mengulurkan tangannya, menyuruh agar Lacus mendekat kepadanya.
"Kau sepertinya kelelahan setelah membuat pancake yang banyak bersama Leona." Kira menuntun Lacus yang sudah berada di dekatnya untuk duduk di sampingnya. Digenggam erat tangan Lacus.
"Tidak," Lacus menggeleng kemudian membelai kepala Kira dengan tangan kanannya, "sepertinya kau yang kelelahan, Kira."
Kira menundukkan kepalanya sejenak dan tersenyum dengan raut wajah yang sedih. Kemudian, ditatapnya Lacus. "Dimana Leona?"
"Sedang berada di halaman belakang, bermain bersama Tori," ujar Lacus sembari membelai lembut rambut Kira, saat Kira menyandarkan kepalanya ke pundak Lacus. Dipeluklah tubuh Lacus dengan sebelah tangan Kira.
"Aku tak mengerti, mengapa mereka begitu egois," gumam Kira.
Lacus hanya mengangguk pelan dan menyandarkan kepalanya di atas kepala Kira. Cukup lama mereka berdua berdiam dan merenung dalam posisi seperti ini, sampai akhirnya getaran ponsel Kira menyadarkan keduanya.
Cih, alis Kira kembali bertautan saat ia melihat nama seseorang yang sedang meneleponnya saat ini.
'Shinn Asuka, lagi.'
"Kau tak ingin mengangkatnya?" tanya Lacus saat Kira hanya terdiam menatapi layar ponselnya. Kira hanya bisa tersenyum hambar dan menggeleng.
"Aku rasa tidak perlu."
"Kira." Lacus memegang erat tangan Kira. Pandangannya terlihat memelas. "Sudah 3 hari kau tak mengangkat telepon dari Shinn. Tidakkah kau ingin mendengarkan apa yang ia katakan? Mungkin berkaitan dengan Leona. Tapi, tidak ada salahnya jika kau mendengarkan apa yang ingin ia katakan terlebih dahulu."
Kira hanya bisa menghela napasnya, mendengar ucapan Lacus. Mendengarkan ya? Apa Shinn akan mendengarkannya juga, bila ia ingin menyampaikan sesuatu? Karena jujur saja, Kira punya alasan kuat mengapa ia tidak mengizinkan Shinn untuk membawa Leona. Lagi-lagi Kira mendesah sesaat sebelum menjawab panggilan dari Shinn.
Pip
"Kira, syukurlah kau mau menjawab panggilanku-"
"Cepat katakan yang ingin kau katakan. Aku tak punya banyak waktu." Kira berucap dengan suara tegas.
"Baiklah, aku ingin menjelaskan alasanku membawa Leona."
Cih, itu lagi...
"Kau mungkin akan bertanya, mengapa aku harus membawa Leona. Tapi, aku rasa ini memang yang terbaik, Kira. Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku tak ingin jika keberadaan Leona di dekat Cagalli, bisa menyakiti-"
"Bagaimana bisa Cagalli akan tersakiti!?" Spontan Kira memotong ucapan Shinn.
"..."
Kira sempat terdiam karena ia merasa jika matanya sudah panas dan berair. Oh, Tuhan, emosinya mulai terpancing lagi. "Bagaimana bisa keberadaan Leona bisa menyakiti orang tuanya?" suara Kira bergetar. Jujur, sebagai calon ayah, ia merasa sakit hati dengan permasalahan ini.
"Tidakkah kau mengerti, Shinn. Tidak mungkin anak seperti Leona menyakiti hati orang tuanya. Kau hanya termakan rasa bersalahmu. Kau tak memikirkan apa yang akan dirasakan oleh Leona. Ikut bersamamu dan meninggalkan kedua orang tua yang sudah membesarkannya. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya, haa?"
"Tapi... Kira, kumohon-"
"Cukup! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!" teriak Kira sembari mematikan saluran ponselnya. Gila, Shinn gila, batinnya.
Apa hanya karena itu ia ingin membawa Leona? Alasan yang tak masuk akal! Kira mengepalkan tangannya dengan kuat. Ditatapnya Lacus yang sudah melihatnya dengan pandangan yang sedih. Digelengkannya kepalanya perlahan, "Aku rasa kau mengerti dengan apa yang aku maksud, Lacus."
Lacus menunduk dan terdiam. Benar, ia mengerti secara keseluruhan apa yang dimaksud oleh Kira. Bila melihat dari pemikiran Kira, tindakan Shinn memang tergolong salah. Sangat salah. "Aku mengerti, Kira," gumamnya.
Kira memandang Lacus sejenak dengan pandangan yang sedih. Beberapa detik kemudian ia memalingkan wajahnya. Namun, matanya membulat sempurna, saat ia memalingkan wajahnya. Di sana... Tepat di ambang pintu,
Leona berdiri sambil memandangnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Leona."
Gadis kecil itu melangkah maju dengan perlahan. Ditatapnya paman dan bibi yang ia sayangi. Raut wajah mereka terlihat shock. "Maaf, Leona tidak bermaksud untuk menguping. Tapi..." Gadis kecil ini menggigit bibir bagian bawah. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa ada yang paman sembunyikan?"
Kira terdiam dan memalingkan wajahnya untuk beberapa detik. Kemudian ia tersenyum lembut ke arah Leona. Didekatinya gadis cilik berusia 7 tahun itu. Dipegangnya kedua bahu Leona. "Tidak ada-"
"Paman," sela Leona dengan cepat. Sorot matanya...
Sejak kapan anak ini berubah? Kira membatin begitu ia menyadari tatapan mata Leona yang berbeda dari biasanya. Tatapan polos itu telah berganti menjadi tatapan serius namun penuh pengertian. Kira langsung menatap ke bawah dan memeluk tubuh Leona erat. "Kau yakin ingin mendengarnya?"
"Mm," angguk Leona, "jika ini berkaitan dengan Leona..." gadis cilik itu memejamkan matanya.
"Leona sudah siap."
Kira merasa sedikit sesak mendengar ucapan Leona. Dilepasnya pelukannya, kemudian dipandanginya wajah Leona. Anak yang tegar, batinnya. Sesaat Kira tersenyum pada Leona. "Apa yang ingin kau ketahui?"
Leona membuka kedua matanya dan menatap serius sang paman, tak ada keraguan tersirat dari dirinya. "Apa benar Leona bukan anak ayah?"
Hening menyelimuti mereka dalam sekejap. Lacus bahkan terbelalak tak percaya. Mengapa pertanyaan yang terlontar harus se-frontal itu? Mendengar pertanyaan Leona, lidah Kira seakan menjadi kelu. Haruskah ia menjawabnya?
"Kau...," ucapannya terhenti saat Leona memegang lengannya dengan kuat. Gadis cilik itu telah menunduk.
"Tak perlu dijawab. Leona sudah tahu jawabannya," ucapnya dengan pelan.
"Leona."
Leona menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Kira yang sekarang menatapnya nanar. Ada buliran air mata yang mulai menumpuk di kedua pelupuk matanya. Sedetik kemudian gadis itu tersenyum.
"Leona ingin bertemu dengan ibu."
(our little angel)
"Beristirahatlah, aku tahu kau masih lelah." Athrun membelai lembut kepala Cagalli, setelah ia menidurkan Cagalli di atas ranjang. Kini mereka berdua sudah kembali ke rumah.
Cagalli terlihat mengangguk pelan. Ada yang ia pikirkan saat ini. Entah perasaannya saja, atau... Senyum Athrun kembali menghilang, usai berbicara pada dokter yang menanganinya, sebelum pulang ke rumah.
"Athrun," panggilnya sembari memegang erat lengan kemeja Athrun. Dan Athrun hanya bisa menatap Cagalli dengan raut wajah datar.
"Apa-" ucapan Cagalli terhenti saat mereka mendengar sebuah suara dari lantai dasar rumah mereka.
Suara bel...
"Ada tamu. Tunggulah, biar aku yang melihat." Athrun pergi menuju keluar kamar. Ditinggalkannya Cagalli yang masih memandangnya dengan ekspresi khawatir.
.
.
.
Pintu rumah terbuka. Menampakkan sang pemilik telah keluar untuk menemui tamunya.
"..."
Athrun mendadak membatu saat melihat siapa yang datang untuk menemuinya. Seorang pria! Dan pria itu adalah...
"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanyanya dengan suara penuh penekanan. Jujur saja, Athrun tak terlalu suka dengan kedatangan pria tersebut. "Shinn Asuka."
Shinn sekejap mengalihkan pandangannya. Ada raut cemas yang terpancar dari wajahnya. "Aku, baru saja dari Rumah Sakit, ingin menjenguk Cagalli. Tapi, seorang perawat berkata padaku kalau kalian sudah kembali. Jadi," ucapan Shinn spontan terhenti begitu ia menatap wajah Athrun yang tiba-tiba berubah shock.
Ada apa?
Dengan cepat Shinn menoleh ke belakang, mengikuti arah pandang Athrun. Matanya melebar begitu ia melihat sebuah Bettle hitam yang memasuki halaman rumah Athrun. Ia tahu siapa yang datang kemari. Terlihat dari seorang pria berambut coklat yang keluar dari mobil itu dan menatapnya serta Athrun. Wajahnya menunjukkan ekspresi datar.
"Jadi, semuanya sudah berkumpul? Sungguh sebuah kebetulan yang tak terduga."
.
.
.
"Kira," ucap Athrun dengan pelan. Ingin ia menghampiri, namun Kira menghentikannya.
"Aku ingin bertemu dengan Cagalli sekarang!" Kira memandang Athrun dan Shinn dengan serius. Ia lalu berjalan mendekati Lacus yang duduk di kursi penumpang bagian depan, bersama Leona. Dibukanya pintu mobilnya, lalu tersenyum pada Leona yang juga tersenyum padanya. Kira mengulurkan tangannya.
"Ayo."
Dengan penuh senyuman, Leona menyambut uluran tangan Kira, dan keluar dari mobil. Ia sempat memandangi kedua pria yang tengah berdiri di depan pintu. Ayah dan... Segera ia palingkan wajahnya untuk menatap Kira. Lagi-lagi senyum kesedihan terpancar. "Leona akan menunggu di kamar bersama bibi Lacus." Leona menoleh ke arah Lacus.
Terlihat Lacus mengangguk pelan, "Hm, ayo kita pergi."
(our little angel)
"Athrun-" hening menghampiri Cagalli, begitu ia melihat seseorang yang memasuki kamarnya seorang diri. Seseorang dengan rambut coklat dan mata berwarna ungu.
"Kira."
Kira tersenyum hambar melihat Cagalli yang duduk di atas ranjangnya. Wajahnya terlihat begitu kusut. Kira bergerak untuk mendekati Cagalli. "Aku kemari untuk berbicara padamu. Ada yang ingin aku tanyakan."
"Di mana Leo-"
"Kau tak perlu mencarinya saat ini! Kita, perlu bicara, Cagalli." Sela Kira yang sudah berada di hadapan Cagalli. Ia menatap sendu adiknya yang sedikit kacau dari biasanya.
"Katakan apa alasanmu ingin memberikan Leona kepada Shinn. Jika alasan yang kau berikan terdengar sama gilanya dengan alasan yang diberikan Shinn padaku. Aku akan tetap menolak."
Cagalli tahu ini bukanlah hal sepele. Kira tak pernah bercanda dengan kata-katanya. Dengan perlahan ia menghela napasnya, dan menatap sebuah foto yang tertempel di dinding, tepat di depannya. "Aku, ingin mengakhiri semuanya."
Kira menyipitkan kedua matanya mendengar ucapan Cagalli. Apa, apa alasan yang terlontar akan sama seperti sebelumnya? "Berakhir?"
Cagalli mengangguk. "Hm, begitulah. Dan juga, sepertinya Leona sudah tahu siapa ayah kandungnya. Tak masalah jika ia tinggal bersama Shinn. Mereka pasti ingin bersama tentunya-"
"Apa kau merasa sakit?"
Cagalli terdiam dan menatap Kira yang sudah merasa kesal padanya. "Apa kau merasa tersakiti dengan keberadaan Leona?"
"Kira."
Kira mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali berkata, "Shinn beranggapan bila kau tersakiti dengan keberadaan Leona. Ia ingin mengakhiri rasa sakitmu. Ia merasa bersalah atas semua ini, dan karena itulah...ia merasa harus membawa Leona."
"..." Cagalli memalingkan wajahnya dan tersenyum sedih.
"Ini tak masuk akal! Aku tak percaya kalian mengorbankan perasaan Leona hanya untuk mengobati rasa sakit kalian. Benar-benar egois!"
Cagalli menunduk dan bahunya terlihat sedikit bergetar.
"Kau seharusnya sadar, Cagalli. Tindakanmu ini sangat salah. Tak seharusnya kau mengorbankan Leona hanya karena kau merasa ter-"
"BUKAN AKU, KIRA!" Cagalli akhirnya berteriak. Ia memandang Kira yang terdiam saat itu juga. Air matanya bahkan sudah bercucuran. Diremasnya selimut yang membungkus kakinya.
"Bukan aku, Kira!" Cagalli menunduk dan menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Lalu ditatapnya Kira dengan penuh air mata. "Tapi Athrun!"
Seketika itu juga Kira terdiam, hanyut dalam keheningan yang begitu menyesakkan.
(our little angel)
Shinn mengalihkan pandangannya menuju ke atas ketika ia mendengar suara teriakan penuh emosional dari Cagalli. Apa terjadi sesuatu? Batinnya merasa cemas. Apakah Cagalli tak berhasil meyakinkan Kira? Dengan perasaan gundah Shinn menggenggam erat tangannya sendiri. Ia lalu mengalihkan pandangannya menuju sebuah pintu kamar yang letaknya tak berjauhan dari kamar Cagalli. Pintu kamar itu sedikit terbuka.
"Leona."
Athrun menatap Shinn tajam ketika telinganya mendengar Shinn yang menyebut nama Leona. Dengan cepat dipalingkannya wajahnya, sebelum Shinn sadar akan tatapannya.
'Leona, huh?'
(our little angel)
"Bibi," panggil Leona saat ia mendengar suara teriakan ibunya. Wajahnya nampak gelisah. "Ada apa dengan ibu?"
Lacus hanya bisa tersenyum sedih dan membelai lembut rambut Leona, "Mau melihatnya?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan pelan dari Leona.
(our little angel)
"Athrun, selama ini dia merasa tersakiti. Dia sungguh terbebani, Kira."
"Bagaimana bisa? Bukankah Athrun..."
"Dia memendam semua perasaannya selama ini." Cagalli menutup mulutnya dengan kedua tangannya, karena isak tangisnya yang tak bisa lagi ia bendung, "Semua itu... Demi kami."
Kira kembali termenung memikirkan ucapan Cagalli. Athrun! Benar, ia tak pernah tau isi hati Athrun. Selama ini Kira hanya melihat Athrun yang tegar, dan Athrun yang nampak menyayangi Leona. Cukup aneh bila Athrun yang sangat menyayangi Leona secara tiba-tiba setuju memberikan Leona kepada Shinn. Kira tak pernah menyangka bila Athrun merasa sangat terbebani dan rela menyakiti dirinya hanya untuk membahagiakan Cagalli dan Leona.
"Caga." Suara Kira serasa tercekat.
"Kau pikir aku melakukan ini tanpa memikirkan semuanya? Aku melakukan ini dengan penuh pertimbangan, Kira. Walaupun aku memang sedikit merasa sakit dengan Leona, tapi... Aku juga punya rasa sayang terhadap anakku sendiri. Aku sadar, dan aku khilaf karena sudah bersikap seperti itu pada Leona. Tapi, percayalah. Aku melakukan ini demi dia, demi Athrun, dan demi semuanya."
Air mata Kira akhirnya terjun bebas menuju pipinya. Sungguh, sebuah pengorbanan yang begitu besar. Ia akhirnya mengerti mengapa Cagalli ingin memberikan Leona pada Shinn. Ini bukan hanya semata-mata untuk menyembuhkan rasa sakit Cagalli dan rasa bersalah Shinn. Tapi ini untuk semuanya!
"Jadi, kau ingin menebus semua kesalahanmu pada Athrun, menghilangkan beban yang ia pikul. Menghapus rasa bersalah Shinn. Menghilangkan rasa sakitmu akan masa lalu, dan... Kau ingin menyelamatkan Leona dari semua yang akan menimpanya di kemudian hari, bila ia terus bersamamu."
Cagalli mengangguk pelan. Syukurlah bila Kira mengerti apa yang ingin ia lakukan. Kira lalu mendekat ke arah Cagalli dan memeluk tubuh Cagalli erat. "Aku mengerti, Cagalli," ucapnya dengan suara yang begitu pilu. Sekarang, Cagalli hanya perlu menjelaskan hal ini pada Leona.
Tok...tok..
Serempak Cagalli dan Kira memalingkan wajah mereka ke arah pintu. Di sana, sudah ada Leona dan Lacus. Kira segera melepas pelukannya pada Cagalli dan berjalan menghampiri Leona. Disentuhnya kedua tangan Leona. Lalu dikecupnya kening Leona.
"Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Kau hanya perlu mendengarkan ibumu."
Leona mengangguk pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah Cagalli. Mereka berdua menangis, batinnya saat melihat jejak air mata yang membasahi kedua pipi ibu dan pamannya.
Kira melepaskan pegangannya pada Leona dan beralih pada Lacus yang sudah tersenyum lembut melihatnya. Kira menganggukkan kepalanya, setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan Leona dan Cagalli.
'Semua ini akan berakhir.'
.
.
.
Athrun dan Shinn segera berdiri begitu melihat Kira dan Lacus berjalan menuruni tangga.
"Kira." Shinn menyebut namanya.
Kira tersenyum dan mengangguk ke arah Shinn, membuat Shinn lega. Kira menyetujuinya! Kira lalu memalingkan wajahnya menatap Athrun. "Athrun."
Yang dipanggil hanya bisa menatap datar Kira. "Kau tak ingin menemui mereka?" tanya Kira, dan Athrun kembali memalingkan wajahnya.
"Tidak perlu, Cagalli bisa menyelesaikannya sendiri."
.
.
.
"Ibu."
Perlahan Leona berjalan mendekati Cagalli yang dengan setia menunggunya. Cagalli lalu mengulurkan tangannya dan menyambut Leona ke dalam pelukannya. Tangis Leona pecah saat merasakan pelukan ibunya yang akhir-akhir ini tak pernah ia rasakan.
Selama 10 menit mereka berdua tenggelam dalam suasana yang mengharu biru. Leona lalu mengambil inisiatif untuk melepaskan pelukan ibunya. Ia lalu memandang Cagalli dengan tatapan yang sangat sendu, "Ibu.."
"Ya, Sayang."
"Apa ibu berniat membuang Leona?" Air matanya kembali menetes. "Apa arti Leona bagi ibu?"
Napas Cagalli seakan berhenti. Mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir putri kecilnya, sanggup menyesakkan dadanya. Dengan pelan ia kembali merengkuh tubuh mungil Leona. Tak lupa ia ciumi puncak kepala Leona dengan penuh kasih. "Tidak, Leona. Ibu tak pernah berniat untuk membuangmu. Kau adalah anak yang sangat berharga bagi ibu."
Leona kembali melepaskan pelukan Cagalli. "Jika benar begitu, mengapa ibu bersikap seakan Leona adalah musibah? Leona anak yang tidak diinginkan, dan Leona bukan anak ayah."
Cagalli menggeleng pelan, entah sudah berapa kali ia menangis hari ini. "Kau bukan musibah, sayang. Meski kau terlahir karena ketidak sengajaan, bukan berarti kau tidak diinginkan. Dan mengenai ayah, walaupun dia bukan ayah kandungmu, tapi ia akan tetap menjadi ayahmu."
Leona menggigit bibirnya, ia terdiam sejenak. Tapi kemudian ia tersenyum meski dengan air mata. "Leona, maaf jika Leona menyakiti ibu dan ayah. Leona juga menyayangi kalian."
Cagalli menyentuh dadanya menanti kelanjutan ucapan Leona. Rahangnya mengatup keras.
"Leona sudah mendengar semuanya dari paman Kira sebelum pergi kemari. Tentang apa yang ingin ibu lakukan. Tentang paman Kira yang menentang ibu, tapi..."
Tanpa basa-basi, Cagalli sekejap menarik Leona ke dalam pelukannya. Air matanya bercucuran dengan deras.
"Leona bersedia pergi bersama papa Shinn."
Akhirnya kejadian yang menyakitkan ini pun berakhir. Leona akhirnya dengan tulus memilih untuk pergi bersama Shinn, ayah kandungnya. Mengetahui hal itu membuat Shinn menangis. Berulang kali ia lontarkan kalimat sayang untuk putrinya, Leona.
'Papa menyayangimu. Kau anakku, anakku, Leona.'
Dan semua kesalahpahaman antara Kira, Cagalli, dan juga Shinn akhirnya terselesaikan dengan baik. Kesalahan Shinn yang terjadi di masa lalu pun, sudah Cagalli maafkan dengan tulus. Kini, tak akan ada lagi yang merasa tersakiti, tak akan ada lagi rasa bersalah, penyesalan, dan amarah. Semua sudah kembali menjadi sedia kala.
Namun...
.
.
.
2 hari kemudian.
Seorang pria berambut navy blue sedang duduk termenung di dalam kamar. Matanya melirik ke sana kemari, memperhatikan segala sesuatu yang ada di kamar itu. Serpihan penyesalan pun menyeruak dalam dadanya. Benarkah ini yang ia inginkan? Benarkah ini yang ia rasakan? Tangannya lalu tergerak ke samping untuk menyentuh boneka panda yang sering menjadi pelabuhan putrinya kala ia merasa sedih, senang, dan marah. Air mata menetes membasahi pipinya.
Sungguh ia merasa menyesal. Menyesal karena membiarkan dirinya tenggelam dalam luapan kesedian yang menghantuinya sejak lama. Andai saja ia merasa ikhlas sejak awal, semua tentu tak akan seperti ini. Tapi itu wajar, manusia pasti punya rasa sesal, dan rasa salah. Ia akui bila kemaren ia merasa sedih, karena orang yang ia cintai telah mengandung anak dari pria lain. Ia sakit, karena anak yang ia harapkan malah lahir persis seperti pria itu. Dan ia terluka, saat mengetahui bila ia kehilangan calon anaknya, serta istrinya yang tak bisa mengandung lagi.
Tapi ini semua bukan salah 'anak' itu! Ini hanya perasaannya saja yang tak mau mencoba untuk mengerti. Dari awal anak itu, putrinya, tidak pernah bersalah. Dia lahir bukan karena keinginannya, dan mengapa dia harus disalahkan?
Lama merenungi rasa sesal yang ia rasakan, membuatnya tak menyadari kehadiran seseorang di dekatnya.
"Athrun."
Ya, pria bernama Athrun itu langsung menoleh saat ia merasakan pelukan yang diberikan Cagalli untuknya. Ia tersenyum dan membelai lembut rambut istrinya. "Ada apa?"
Cagalli diam sejenak lalu dikecupnya kening Athrun. "Athrun, kau tak ingin pergi? Hanya ini kesempatanmu untuk bertemu dengannya."
Kesempatan terakhir...
Mata Athrun pun melebar begitu menyadari jika hari ini, 'dia' akan pergi. "Aku..."
.
.
.
"Baiklah, Leona, jaga dirimu baik-baik, jangan nakal, selalu dengarkan apa yang papa Shinn ucapkan, ok. Karena sesungguhnya papa Shinn orang tua yang galak."
Leona tertawa renyah mendengar ucapan paman Kira. Dan tawanya semakin terdengar saat ia melihat Shinn menyikut pelan perut Kira. "Jangan menyebar kebohongan pada Leona, Kira," protes Shinn sambil melotot ke arah Kira.
Dan Shinn langsung mengalihkan pandangannya ketika ia merasa Leona yang menggenggam erat tangannya. Gadis itu menggeleng pelan, "Papa Shinn tidak galak. Papa Shinn orang yang lucu."
Shinn tersenyum dan mengacak rambut Leona dengan gemas. Putrinya memang terlihat begitu lucu, ia bersyukur karena putrinya memilih untuk mengikutinya. Beberapa menit mereka semua tertawa dan bercanda bersama, tiba-tiba terdengarlah sebuah suara pengumuman, yang mengatakan bahwa pesawat yang menuju Italia, sebentar lagi akan lepas landas.
"Ah sudah saatnya kami pergi. Ayo Leona, ucapkan salam pada paman Kira dan bibi Lacus."
Leona mengangguk dan menghampiri Kira dan Lacus. Dipeluknya kedua orang yang ia kasihi itu. Lacus sempat menangis ketika mengucap salam perpisahan untuk Leona. "Bila ada waktu, kami akan mengunjungimu."
"Mm, tentu saja paman. Leona akan menunggu hari itu tiba."
"Leona." Segera gadis itu melepaskan pelukannya pada paman dan bibinya, ketika ia mendengar namanya dipanggil. Dengan perasaan yang haru ia berjalan menghampiri Shinn yang sudah menunggunya. Leona sempat menoleh ke belakang untuk beberapa saat. Ada sesuatu yang nantikan. Sebisa mungkin ia ingin melihat wajah 'mereka' sebelum ia benar-benar pergi.
'Leona sayang kalian.'
Gadis itu memalingkan wajahnya, dan berjalan bersama Shinn. Mungkin inilah pertemuan terakhir-
"Tunggu!"
Mata gadis kecil itu melebar. Spontan ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Di sana, ada ayahnya yang berlari untuk menghampirinya. Melihat itu, dengan cepat ia melepaskan genggaman tangan Shinn dan berlari menuju Athrun.
"Ayah!"
Suasana haru menyelimuti mereka semua saat melihat Leona yang memeluk erat tubuh Athrun. Tangis Leona bahkan sampai pecah. Ia tak menyangka, di saat ia mengira ayahnya sudah tak ingin menemuinya. Ayahnya secara tiba-tiba datang menghampirinya dan memeluknya erat.
"Ayah menyayangimu. Maafkan ayah! Sungguh ayah menyayangimu." Athrun mempererat pelukannya dan menciumi kepala putrinya.
Leona pun mengangguk dan membalas pelukan sang ayah. "Leona tahu, ayah. Leona tahu."
Melihat ayah dan anak yang saling berbagi pelukan itu, membuat hati Cagalli yang baru saja tiba menjadi hangat. Harusnya ia tahu, bila Athrun akan selalu menyayangi Leona, putri mereka. Dengan langkah pelan, Cagalli menghampiri mereka berdua. Direngkuhlah tubuh mereka berdua.
"Ibu." Leona sedikit terkejut melihat ibunya yang memeluknya dan juga ayahnya. Sekilas senyum mengembang di wajah gadis cilik itu.
.
.
.
Kepulan asap membentang luas di angkasa. Athrun dan Cagalli terdiam menatapi pesawat yang sudah lepas landas di langit. Senyum mereka merekah. Meski ada air mata yang mengalir. Tapi mereka merasa bahagia. Bahagia karena telah diberi kesempatan untuk bersama putri mereka.
7 tahun bersama, dan itu bukanlah waktu yang singkat. Meski Leona benar-benar pergi, setidaknya mereka punya kenangan manis yang akan selalu diingat sepanjang waktu.
Tak ada lagi rasa sedih yang abadi...
Tak ada lagi tangisan sejati...
Tak akan ada air mata lagi...
Semua, sudah berganti menjadi senyuman.
Dan perasaan bahagia...
Ini, adalah yang terakhir.
The End
Thanks to: YukiShiro-1412, Guest, luca, lia, popcaga, CloudXLightning, Scarlet, Soshi, Setsuko Mizuka, miliuna rash, TheHouseOfAthhaZala, Cyaaz, Hoshi Uzuki, Dandeliona96, L, ai chan, ShaNelSha, lezala, kun, ffionn, alya130590, fichan, , NelshAZ, aeni hibiki, MuFylin, Fuyu Aki, tisaaaa, Neerval-Li, RenCaggie, blondeprincessa, review kalian sangat memotivasi panda untuk menyelesaikan fic ini :)
and very Special thanks to: NelshAZ, miliuna rash Neerval-Li, popcaga, setsuko mizuka, cyaaz, karena udah mampir dari awal sampai akhir :'D panda cinta kalian... arigatou
maaf ngga bisa bales review, dan maaf juga kalau endingnya kurang memuaskan, atau malah terlalu panjang. hehe... tapi, makasih banget buat dukungannya...
.
.
.
Cagalli ingat terakhir kalinya ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan dan membuatkan bekal makanan untuk seseorang. Hh, ia menghela napasnya dengan kuat, sungguh keterlaluan! Mengapa suaminya yang jelas-jelas hari ini libur kerja, memintanya untuk bangun pagi dan menyiapkan beberapa makanan spesial. Tidak ada yang berulang tahun! Dan ini bukan hari jadi pernikahan mereka.
"Oh Tuhan, celakalah aku!" Pekiknya saat melihat jarum jam yang bergerak menuju angka 12. Ia harus menyelesaikannya dengan segera. Jika tidak, suaminya pasti akan memberikannya hukuman. Entah permainan apa yang suaminya lakukan. Hanya saja, terlambat 1 detik, hukuman menantimu.
Ting!
Cagalli menghela napasnya dan mengusap keringatnya. Tepat pukul 07.00 pagi, waktu yang tepat, ia tak akan dihukum tentunya. Cagalli lalu beranjak menuju kamar untuk menemui suaminya. Namun saat ia hendak pergi. Suara bel rumah berbunyi.
"Tamu sepagi ini?" dengan penuh tanda tanya Cagalli menuju pintu.
Brak! Pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis manis berusia 16 tahun. Gadis itu membawa koper berukuran sedang di belakangnya.
"Siapa kau?" Cagalli merasa tak kenal dengan gadis blonde di hadapannya saat ini.
"Apa ini kediamannya pak Athrun Zala? Saya datang untuk mencarinya."
Hah? Kerutan mulai muncul di kening Cagalli. Seorang gadis muda datang mencari suaminya, di pagi hari seperti ini? Oh, Tuhan. Apa suaminya telah bermain mata? Dengan perasaan kesal, Cagalli berbalik. Tak perlu repot-repot untuk mencari sang suami. Karena begitu ia berbalik, suaminya sudah ada di sana, berjalan menghampirinya.
"Cagalli?" tanya Athrun yang melihat istri tercintanya berdiri di depan pintu bersama dengan seorang gadis muda, yang manis.
Melihat suaminya yang berjalan menghampirinya, sekejap membuat Cagalli ingin bertanya, "Apa kau-"
Bruk! Cagalli melotot tak percaya. Gadis muda itu bergerak memeluk Athrun. "Apa yang-"
"Ayah, aku merindukanmu!"
Hening!
Ayah? Ingin Cagalli bertanya maksud ucapan gadis itu. Tapi, secara mendadak suara Athrun membuatnya shock. "Leona, kau sudah tiba!"
"Apa? Leona?!"
Dan gadis blonde itu saling tatap dengan Athrun, lalu tertawa melihat Cagalli yang shock. "Sepertinya ibu memang tidak mengenali Leona"
"Ta-tapi, bagaimana bisa? Rambutmu?"
"Ahaha, maaf, bu. Ini usul papa Shinn."
Cagalli mulai menahan napas mendengar ucapan Leona, "Dan Athrun sudah tahu?"
Leona menatap Cagalli, masih dengan memeluk Athrun. "Ah, Leona pikir ayah sudah memberitahu ibu, jika Leona ingin kemari. Papa Shinn mengirim Leona untuk melanjutkan sekolah di sini. Jadi, mohon kasih sayangnya, ibu."
Dan seketika Cagalli merasa dirinya harus mengamuk pada Athrun karena tak memberitahunya hal ini.
Owari
(^_^)
