Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. saya hanya pinjam.
.
.
Fight
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Fight by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 12
.
.
.
Naruto membaringkan dirinya disebelah Hinata dan langsung memeluk erat Hinata hingga tak ada jarak seincipun diantara mereka. Hinata sedikit menatap atas atau lebih tepatnya ke wajah Naruto tak lupa dengan senyuman yang entah dalam artian apa.
Cup.. Naruto kembali mengecup singkat bibir Hinata yang entah sudah ia kecup berapa puluh kali dan kembali menatap Hinata. Ia merasa sangat senang begini dekat dengan Hinata tapi disatu sisi rasanya sangat aneh..
"Selamat malam." ucap Hinata yang kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Naruto sambil membalas memeluk erat punggung Naruto. Ia sungguh masih tak mengerti apa yang ia rasakan kini tapi ia tahu, ia sangat senang berada didalam dekapan ini, tak perduli Naruto menganggapnya apa. Tak perduli dirinya siapa nya Naruto. Lihatlah, senyuman yang sama sekali tak luntur dari bibir Hinata maupun Naruto.
"Selamat malam..." jawab Naruto sambil mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya. Ia tahu apa yang aneh sekarang.. Ia ragu pada apa yang ia rasakan kini. Dimana seharusnya kata cinta keluar dari mulutnya malah tidak terdengar. Ia ragu... Apakah sungguh ia jatuh hati pada Hinata? Jika iya, Mengapa ia ragu untuk mengatakannya? Jika tidak, mengapa ia mencium Hinata dan memeluknya erat?
.
.
.
.
.
07.31
Hinata membelakkan matanya. menatap tak percaya selembar foto ukuran sedang yang menempel di mading dan tengah di lihat banyaknya mata.
Itu foto dirinya dicium Naruto waktu dikamar Hanabi! Siapa yang mengambil foto itu dan menempelkannya disini? Dilihat dari arah fotonya, harusnya foto ini diambil dari ambang pintu tapi siapa? Tak ada orang dirumahnya semalam kecuali Shion, tapi dia telah pergi entah sejak kapan dan tak mungkin ia menempelkan foto itu ke sini kan?
Hinata langsung mengambil foto dimading itu dan berlari pergi, mengabaikan semua mata yang menatapnya entah dengan tatapan tak percaya atau apa. Siapa yang tahu? Kedua manusia yang selalu bertengkar itu ternyata memiliki hubungan sampai berciuman di kamar. Apakah mereka telah melakukan lebih dari itu?
.
.
.
"Kyaaaahh!" Hinata yang terus berlari tapi tiba-tiba saja beberapa manusia yang entah datang dari mana menyeretnya pergi entah kemana.
.
.
Lima orang yang menyeret Hinata tadi mendorong kuat Hinata ke pojokan ruangan yang dipenuhi barang-barang tak terpakai, meja dan kursi yang sudah berdebu yang membuat Hinata terjatuh ke melanggar meja dibelakang nya itu.
"Hei! Apa-apaan ini!" marah Hinata setelah ia membenarkan posisi berdiri nya.
Kedua matanya menatap satu persatu lima orang gadis didepannya yang masih menatapnya dengan tatapan kesal. Firasat Hinata sungguh buruk kini.
"Hei! Kau yang apa-apaan?! Berani sekali kau mencium Naruto kami! Dasar murahan! Tak tahu malu!" jawab salah satu gadis kesal. Gadis ini sungguh pandai mencari kesempatan!
"Naruto kami?" Hinata tersenyum lucu dan meremehkan.
"Aku jadi bisa menyimpulkan bahwa selama ini kalianlah yang selalu mengacau tasku dan mejaku." ucap Hinata yang membuat kelima gadis tadi terdiam. Asal tahu saja, mengapa Hinata bilang dirinya sudah lebih baik daripada dulu karena ia membiarkan orang-orang gila menjaili barang nya!
"Akhirnya kalian menampakkan wajah sialan kalian. Dasar rendahan. Jika berani langsung datang kedepanku, jangan main dibelakang." Sambung Hinata yang kembali membuat amarah para gadis tadi mengelonjak.
"Kau akan menyesal karena telah berani menantang kami." ucapnya menahan amarah.
Keempat gadis yang tiba-tiba berlari kearah Hinata dan menyerangnya. Hinata berhasil lolos untuk beberapa kali tapi kini mereka berempat mengunci tangan Hinata ke samping.
"Lepaskan sialan! Apa yang kalian lakukan!?" Rontak Hinata kesal. Kalian sudah tahu Hinata kalah jumlah.
"Aaa!" desis Hinata sakit ketika gadis dibelakangnya menarik kuat rambutnya ke belakang.
"Kau harus diberi pelajaran agar kau tak berani mendekati Naruto kami lagi." ucap gadis dihadapan Hinata yang bisa disimpulkan bos dari keempat orang sialan ini.
"Cih! Kau marah karena dia menciu"
"Kau yang menciumnya, jalang!" Selanya marah yang membuat satu sudut bibir Hinata terangkat.
"Asal kau tahu. Waktu itu hanyalah kecelakaan. Dia tengah mengerjaiku. Aku bahkan tak mengingat kejadian itu lagi, itu bukan apa-apa untukku" ucap Hinata jujur. Awalnya memang Naruto mengerjai nya kan?
"Jangan berbohong!" marah gadis yang menarik rambut Hinata dan semakin menariknya yang membuat Hinata menahan ringisannya.
"Cih! Terus apa yang jujur menurut kalian? Aku menciumnya dan menidurinya? Apakah kalian punya buktinya?" tanya Hinata menantang.
"Buktinya kau membiarkan dia menciummu." jawab salah satu gadis tadi.
"Itu bukan bukti!" marah Hinata tak terima. Bagaimana bisa hal itu disebut bukti? Jika saja mereka berada diposisi Hinata waktu itu. Mereka juga pasti akan membeku tanpa sadar kan?!
"Jangan membuat asalan! Sudah jelas bahwa kau menciumnya! Kau malah berani mengatakan Naruto menciummu?!" jawab gadis tadi tak terima.
"Sudah kukatakan, dia tengah mengerjaiku! Jika kau tak percaya, tanya saja padanya!" tantang Hinata yang sudah muak dengan permainan cemburu buta ini. waktu itu hanya sebuah tempelan bibir! Tak lebih!
"Mengerjai atau tidak. Tetap saja intinya kau menciumnya. Dasar jalang!" marah gadis didepan Hinata sambil mendorong kuat lengan Hinata yang membuatnya terjatuh kebelakang dan keempat gadis tadi kembali mengangkatnya untuk berdiri dan mengunci tangannya.
"Jika kau tak terima, marah padanya! Bukan padaku! Jika aku yang dicium adalah jalang, maka yang mencium adalah apa?! Hah?!" marah Hinata yang semakin membuat amarah lima gadis tadi memuncak.
Plaaaakk! Satu tamparan mendarat di pipi kanan Hinata.
"Apa?! Kalau berani lepaskan aku dan lawan aku satu persatu. Jangan jadi pecundang!" marah Hinata kembali memberontak tapi ke empat gadis tadi sama sekali tak mau melepaskannya.
Plaaaaakkk! Satu tamparan lagi yang membuat Hinata berhenti memberontak. Bukan berhenti karena menjinak, tapi berhenti karena berusaha bersabar untuk tak membunuh gadis ini ketika ia berhasil lolos dari sini.
"Kau sudah tak punya malu kan? Kau akan tahu apa akibatnya." ucap sang bos sambil mengeluarkan ponsel dari saku roknya. Perasaan Hinata kembali tak enak.
"Cih! Kau mau menelanjangiku dan merekamku? Kau kira kau bisa mempermalukanku dengan cara itu? Ha?! Tidakkah kalian merasa kalianlah yang harus malu atas perbuatan kalian?" Ucap Hinata yang membuat gadis tadi mengangkat sudut bibirnya.
"Kau benar. Mungkin kami harus membawamu ke suatu tempat yang cocok untuk jalang sepertimu." jawabnya santai yang langsung membuat Hinata memberontak.
"Sialan! Lepaskan aku! Kalian sungguh akan menyesal!"
.
.
.
.
"Hinata!"
"Hinata?" tanya Naruto bingung ketika ia menghalang jalan Sasuke yang terlihat panik.
"Hinata kenapa?" tanya Naruto penasaran.
"Hinata, dia dibawa beberapa perempuan tadi." jawab Sasuka sambil melirik kesana-sini. Gawat.. Perasaannya tak enak dan karena Naruto yang tiba-tiba muncul, membuatnya tak melihat kemana Hinata dibawa.
"Mengapa?" tanya Naruto tak mengerti.
"Barusan.. Ada foto kau dan Hinata tengah berciuman dimading dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya kan?" jelas Sasuke singkat yang langsung membuat Naruto menampilkan wajah paniknya. Aaa.. Pasti Hinata sedang terkena amukan fans nya.. Haa~ susah sekali menjadi orang yang tampan dan disukai para gadis tapi tunggu? Siapa dan dari mana dia mendapatkan foto yang di maksud Sasuke?
"Aku akan mencarinya." Ucap Sasuke yang langsung berlari pergi.
"He-hei! Aku ikut." Naruto yang langsung mengekori Sasuke.
.
.
.
Naruto dan Sasuke terus saja mencari ke ruangan sana sini tapi mereka tak menemukan Hinata dan ini, ruangan yang disebut gudang didepan mereka lah yang terakhir.
"Ini yang yang haah terakhir." ucap Naruto terengah-engah. Aduh.. Lelah sekali.
.
.
"Dasar sialan! Mati saja!" marah gadis berrambut pendek sambil mencakar wajah Hinata dan mendorong Hinata hingga kepala Hinata terbentur tumpukan meja dibelakangnya.
Blaaamm!
"Hinata! / Hinata!" panggil Sasuke dan Naruto kompak ketika mereka mendobrak pintu tadi dan mereka melihat Hinata tak sadarkan diri diantara lima orang gadis.
"Sialan! Apa yang kalian lakukan padanya?!" geram Naruto sambil menghampiri Hinata yang langsung membuat lima gadis tadi melangkah mundur.
"Na-na-naruto?" panggil salah satu gadis takut yang membuat Naruto menatapnya tajam. Ternyata sekumpulan perempuan yang selalu terlihat lembut dan baik didepannya sangat berbahaya. Dasar berwajah dua. Mereka bahkan lebih buruk dari Hinata. Tidak, mereka seratus kali lebih buruk dari Hinata.
Naruto menghampiri gadis yang baru saja memanggil nya. "Kau kira ini tempat nenekmu? Berani sekali kau!" geram Naruto setelah ia menarik kuat kerah baju gadis didepannya.
"Ta-tapi kami melakukan ini untukmu." jawabnya takut. Mengapa Naruto tiba-tiba muncul disini? Dan mengapa Naruto khawatir pada gadis itu?
"Aku tak meminta nya, sialan!" marah Naruto yang langsung mendorong gadis tadi.
Naruto menghampiri Hinata yang masih terbaring dilantai dan mengendongnya ala bridel style dan berlari keluar.
"Sasuke, kunci mereka. Aku akan mengurus mereka nanti." Ucap Naruto ketika ia melewati Sasuke diambang pintu.
Sasuke yang langsung menutup pintu didekatnya dan menguncinya dari luar tanpa menghiraukan lima gadis didalam terus berteriak ingin keluar.
"Hei, keluarkan kami!"
"Tolonglah!" Sasuke mengabaikan teriakan gadis-gadis di dalam dan langsung berlari mengekori Naruto.
.
.
.
Satu jam kemudian..
"Nnggh?" mata Hinata yang perlahan terbuka. Ia melirik sejenak ke sekelilingnya. Ia melihat tempat yang terang, putih.. Tunggu? Hinata belum mati kan? Entahlaa..
Mata Hinata yang kembali terpejam dan terbuka. Matanya terasa berat pada terangnya lampu di langit-langit yang terasa sangat menyilau..
"Hinata?!" sebuah wajah yang tiba-tiba muncul didepan mata Hinata yang membuat Hinata menatapnya sejenak. Oh Kami-sama, jika pun anakmu ini sudah mati, mengapa kau harus mengajak si kuning pembawa masalah ini?
"Hei, bangun. Hei. Hinata!" Naruto menguncang kuat badan Hinata yang membuat Hinata mau tak mau membuka lebar matanya dan mendudukan dirinya dari posisi baringnya. Oh.. Hinata tak mati, tapi ia berada di UKS.
"Dimana Sasuke? Tadi aku mendengar dia memanggilku?" tanya Hinata pelan yang membuat mata Naruto menyipit. Hei! Lelaki tampan ini berada didepan matamu, mengapa kau malah memanggil lelaki itu?
"Aku mengusirnya karena dia sangat cerewet." jawab Naruto jujur. Iya, belum dua menit Hinata terbaring di ranjang. Seribu pertanyaan kekhawatiran terus saja keluar dari mulut sialan itu, Jadi Naruto mengusirnya.
"Shion?" tanya Hinata lagi yang membuat Naruto menatapnya tak suka.
"Aku tak melihatnya dari tadi." jawab Naruto jujur yang membuat Hinata kembali membaringkan dirinya. Hinata merasa.. Belakangan ini Shion tak pernah ada untuknya. Bahkan ketika Hinata berkelahi dengan Naruto, Shion lebih memilih pergi dengan Naruto daripada dirinya.
"Kau tak mau menanyaiku?" tanya Naruto tak terima. Hei, asal kau tahu. Naruto yang menjagamu dan mengobati luka diwajahmu.. Oh, rasanya de javu.
"Semua ini karenamu." jawab Hinata yang membuat Naruto memanjangkan bibirnya, ia yang terduduk dipinggir ranjang Hinata.
"Apa yang kau lakukan disini? Pergi." usir Hinata tak suka pada Naruto yang membaringkan dirinya menghadap ke Hinata, satu tangannya melingkar di pinggang Hinata dengan jarak 5cm antara tubuh dan wajah mereka.
"Maafkan aku.. Aku tak tahu ketampananku sangat berbahaya." ucap Naruto menyesal yang membuat Hinata tersenyum lucu. Narsis sekali lelaki ini, Hinata jadi tak bisa marah..
"Aku juga tak tahu fans perempuan ku sangat berbahaya, padahal mereka selalu terlihat lembut dan baik didepanku." sambung Naruto ketika keningnya menempel di kening Hinata.
"Bisakah kau pergi? Aku sungguh masih tak punya tenaga untuk menendangmu." ucap Hinata pelan. Ia sungguh merasa sangat lemah saat ini dan ia tak mau Naruto berada didekatnya.. Eehh.. Atau mungkin hanya mulutnya saja yang berbicara bukan hatinya.
"Tak apa, aku suka Hinata yang lemah." jawab Naruto jujur sambil menarik Hinata kedalam pelukannya. Menghilangkan jarak diantara mereka dengan mata mereka yang masih bertatapan dengan jarak yang sangat dekat, bahkan Naruto bisa merasakan nafas Hinata begitu juga dengan sebaliknya. Naruto bahkan tak tahu sejak kapan ia begini dekat dengan Hinata tapi yang ia tahu, ia menyukai kedekatan ini.
"Entah mengapa, aku merasa belakangan ini Shion tak selalu ada untukku." ucap Hinata membuka percakapan tanpa merubah posisinya. Jujur, ia kecewa tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia merasa belakangan ini banyak masalah yang membuatnya terpaksa jauh dari Shion. Shion pasti kecewa padanya.
"Semua orang bisa berubah." jawab Naruto singkat. Sejujurnya, ia tak perduli dengan Shion.
"Tapi aku penasaran. Siapa yang menaruh foto itu dimading?" tanya Naruto penasaran. Siapa yang masuk kerumah Hinata dan mengambil foto itu?
"Aku tak tahu.. Setahuku tak ada orang dirumah kecuali Shion semalam. Tapi dia sudah tak ada ketika aku kembali ke kamar." jawab Hinata apa adanya. Ia juga sangat penasaran pada foto itu. Siapa yang mengambilnya?
"Mungkin kau harus mencurigai Shion?" tebak Naruto. Tak mungkin kan foto itu bisa muncul sendiri tanpa alasan?
"Tidak, Shion tak mungkin begitu." jawab Hinata tak percaya, Shion tak mungkin melakukannya.
"Aku akan mencari tahunya nanti." ucap Naruto. Sejujurnya, ia juga tak percaya Shion yang melakukannya. Dia bahkan tak berani membunuh semut seekor pun, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu? Tapi jika bukan dia, siapa?
"Apa kau mau pulang dan beristirahat di rumah?" tanya Naruto ketika Hinata memejamkan matanya.
"Aku lupa, bagaimana dengan perempuan gila tadi?" tanya Hinata teringat pada lima gadis sialan yang membullynya.
"Aku mengunci mereka digudang. Aku akan mengurus mereka setelah mereka mati nanti." jawab Naruto yang langsung membuat Hinata menahan tawanya. Lelaki ini ternyata sangat kejam, ucapannya maksud Hinata. Hinata tahu, Naruto hanya bercanda.
"Kalau begitu mari pulang. Aku akan istirahat dirumah."
.
.
.
.
Naruto membaringkan Hinata keranjang king size yang terdapat didalam kamar Hinata.
"Apakah kau butuh sesuatu?" tanya Naruto setelah ia menyelimuti Hinata.
"Tidak, aku hanya perlu tidur." jawab Hinata apa adanya yang kemudian memejamkan matanya. Kepalanya masih terasa berdenyut dan Hinata rasa ia akan segera baik-baik saja setelah istirahat.
...
"Kau tak mau pulang?" tanya Hinata ketika Naruto membaringkan dirinya ke sebelah Hinata.
Naruto mengubah posisinya menghadap ke Hinata dan dan menarik Hinata kedekapannya.
"Aku tak bisa meninggalkan Hinata yang lemah sendiri." jawab Naruto jujur. Ia merasa tak bisa jauh dari Hinata saat ini. Ia ingin lebih lama berada didekat Hinata.
Hinata mengubah posisinya menghadap ke Naruto hingga kening mereka menempel. Kedua mata itu yang masih saling menatap entah dengan artian apa. Mereka bahkan bisa merasakan helaan nafas masiang-masing.
...
"Apa kau menaruh sihir padaku?" tanya Hinata tak mengerti. Sejujurnya, disaat-saat seperti ini, ia berharap Naruto selalu berada didekatnya dan memeluknya.
"Kau yang melakukannya padaku." jawab Naruto yang mengerti arti perkataan Hinata barusan. Untuk saat ini, ia sungguh ingin selalu mendekap Hinata. Itu sebabnya, ia disini sekarang. Hinata pasti telah melakukan sesuatu padanya hingga ia mau melakukan hal ini.
Hinata tersenyum tipis yang kemudian memejamkan matanya. Ia ingin selalu begini dengan Naruto tapi ia masih tak mengerti apa maksudnya ini? Bagaimana perasaannya? Ia masih tak mengerti atau lebih tepatnya, ia tak mau menerima perasaannya ini.
.
Naruto mengeratkan dekapannya sambil melingkarkan satu kakinya ke kaki Hinata. Ia sungguh merasa sangat nyaman dan tenang begini dekat dengan Hinata. Ia ingin selalu begini tapi ia sendiri bingung mengapa ia menginginkannya? Ia sangat yakin ia menginginkan Hinata tapi ia tak yakin ia punya perasaan pada Hinata atau lebih tepatnya, Naruto tak bisa mempercayai perasaannya sendiri.
Bahkan kini pun, Naruto merasakan jelas bahwa Hinata terus menariknya agar ia semakin mendekat. Apa ini hanya perasaannya saja?
...
Naruto menempelkan bibirnya ke bibir Hinata yang membuat mata Hinata perlahan terbuka.
"Mengapa aku menginginkanmu?" tanya Naruto tak mengerti. Jantungnya berdebar, ia senang, sangat senang. Tapi disatu sisi dimana ia tak mengerti perasaannya sendiri membuatnya sangat bimbang.
"Aku tak tahu.." jawab Hinata apa adanya. Ia sendiri pun bingung dengan apa yang ia rasakan kini, jadi bagaimana bisa ia memahami isi hati Naruto?
Naruto kembali mengecup bibir Hinata. Lagi dan lagi, ia menjadi semakin menginginkan Hinata.
Hinata mengangkat satu tangannya dan menempelkannya di pipi Naruto. Mengelusnya pelan tanpa mengalihkan matanya dari mata Naruto. 'Aku mencintai mu' hati Hinata menolak kata-kata ini. Tapi jika Hatinya menolak kata-kata ini. Sebetulnya apa perasaan yang ia rasakan kini? Mengapa ia menginginkan Naruto? Jika ia tak mencintainya?
.
Mungkin mereka harus terus membiarkan apa yang akan terjadi kedepannya tanpa menghiraukan perasaan mereka yang bingung ini.
Jari-jari Hinata berpindah ke bibir merah Naruto, mengelus pelan bibir itu dan kembali berpindah pada pipi Naruto.
Satu tangan Naruto berpindah ke tengkuk Hinata, menarik wajah Hinata mendekat kearahnya dan mencium bibir mungil Hinata.
Hinata membalas mengulum bibir Naruto dengan matanya yang terpejam. Ia tak mengeti perasaan apa ini, tapi ia menginginkan sentuhan Naruto. Ia mungkin tak mau perduli pada apa yang ia rasakan kini, selama ia bisa dekat dengan Naruto.
Naruto melepaskan ciumannya dan menempelkan keningnya ke kening Hinata. "Aku ingin mengatakan ini dari awal. Kau tak seharusnya berada didalam tempat yang sepi dengan aku yang adalah seorang lelaki" ucap Naruto entah dengan artian apa. Tembok penghalangnya sungguh akan hancur berkeping-keping jika ia terus didekat Hinata ditembah, tempat yang sepi.
...
"Aku tak takut." jawab Hinata lucu yang juga entah dalam artian apa. Ia yakin, Naruto tak akan menyentuhnya lebih jauh lagi meskipun ia sendiri 'mungkin' mengharapkannya.
Naruto mengecup kening Hinata, kelopak mata kanan, pangkal hidung dan pipinya. Hinata sungguh menguji kesabarannya.
Ia yang kembali menarik tengkuk Hinata dan melahap bibir manis Hinata. Mungkin ia hanya akan mencium Hinata, yaa.. Hanya itu tak lebih. Ia tak akan menyentuh Hinata lebih jauh lagi. Hanya sebuah ciuman.
Hinata membuka mulutnya dengan matanya yang masih terpejam. membiarkan lidah Naruto memasuki mulutnya dan menjelajahi isinya.
"Mmmm.." kedua bibir itu yang kembali beradu, tanpa menghiraukan jika mereka sudah hampir kehabisan oksigen.
"Aahmm" desah Hinata ketika Naruto menjilati jejang lehernya dan menghisapnya.
Naruto kembali meninggalkan kissmark di leher Hinata. Bahkan jejak kissmark semalam masih belum menghilang dan Naruto sudah menambahnya lagi. Ia pasti sudah gila karena melakukan hal yang sama lagi pada Hinata.
Naruto mengecup singkat leher Hinata dan kembali berpindah pada bibir Hinata. Kedua bibir dan kembali saling berpaut. Saling mengulum, saling mengecup dan saling mengigit. Nafas mereka memburu.
Satu tangan Naruto yang perlahan masuk kedalam baju Hinata dan mengelus pinggang mulus Hinata. Mungkin saat ini, Naruto berpikir untuk menikahi Hinata agar dirinya bisa memiliki Hinata seutuhnya.
Hinata menarik keluar tangan Naruto dadi pinggangnya dan mengrngamnya erat. Tangan yang besar dan hangat..
"Kau tak boleh membiarkan lelaki manapun menyentuhmu kecuali aku." ucap Naruto tanpa sadar yang membuat Hinata tersenyum lucu. Apa dia sedang cemburu? Ayolah.. Hinata bukan perempuan murahan.. Ia tak akan membiarkan lelaki manapun menyentuhnya karena Naruto sudah terlebih dulu menyentuhnya. Dengan alasan apapun, entah sejak kapan dan bagaimana, Naruto sudah menjadi yang pertama dan yang terakhir untuknya.
"Mengapa aku harus mendengarkanmu?" tanya Hinata yang berhasil membuat alis Naruto berkerut.
"Tak bisakah kau menurut?" tanya Naruto tak suka sambil terus melototi Hinata.
"Tentu saja tidak." jawab Hinata lucu yang semakin membuat bibir Naruto memanjang. Gadis ini tak pernah mau mendengarkannya.. Aarrgghh.. Sialan.. Sungguh membuat harga diri Naruto tercoret.
"Kalau begitu aku akan membuatmu menurutiku." ucap Naruto yang langsung membuat Hinata beranjak dari tempatnya dan berlari pergi.
"Hei, bahkan aku tak pernah mau menuruti ayahku, apa lagi kamu." jawab Hinata lucu sambil terus berlari mengelilingi kamarnya, menghindari Naruto yang terus mengejarnya.
"Aku berbeda. Kau harus menurutiku!"
"Kyaahh!" pekik Hinata terkejut ketika Naruto berhasil menangkapnya dan langsung mengendongnya ala bridel style.
...
Kedua mata itu yang kembali bertemu..
"Kau tahu? Belakangan ini aku belajar sesuatu. Terkadang kita harus bisa mengalahkan rasa ego dan harga diri kita untuk bisa tahu bagaimana perasaan kini yang sebenarnya." ucap Naruto pada Hinata digendongannya. Tapi sayangnya, hingga kini Naruto hanya bisa mengatakannya. Ia tak tahu bagaimana cara melakukannya.
Hinata terdiam. Itu benar.. Dimana harusnya ia mengatakan ia telah jatuh hati pada Naruto tapi ia tak melakukannya. Ia lebih suka meninggikan ego dan harga dirinya hingga ia tak mengerti perasaannya sendiri dan jangan pernah ditanya. Karena sampai detik ini pun Hinata tak akan bisa menurunkan sifatnya ini. Bukan ia tak mau, tapi ia memang tak bisa. Naruto lah yang harus mengalah, bukan dirinya.
...
"Aku.." ucapan Naruto yang terhenti. Matanya yang masih terkunci pada mata Hinata yang menatapnya seolah menunggu apa yang akan dikatakan Naruto.
...
"Aku rasa.. Aku sudah.. Aku sudah.. jatuh ha"
"Oneeeeeeee-saaaaaannnn!" suara yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu yang langsung berhasil mengagetkan Naruto dan Hinata.
"Aduh!" desis Hinata sakit ketika Naruto tiba-tiba melepaskan pegangannya yang membuat Hinata terjatuh kelantai. Naruto sialan!
"Hei! Sakit bodoh!" marah Hinata setelah ia berdiri sambil mendorong dada bidang Naruto. Naruto sialan! Merusak suasana saja.
"Waaaaaaa.. Apa yang kalian lakukan disini?" suara dari ambang pintu yang membuat Hinata menatap asal suara.
Eh? Mengapa adiknya balik lagi?
"Hanabi? Siapa itu?" suara berat yang berhasil membuat jantung Hinata berhenti berdetak. Itu.. itu bukan kakaknya. Itu
.
.
Ayahnya!
...
"Hanabi, tolong." pinta Hinata berharap yang kemudian langsung menarik Naruto masuk kedalam kamar mandi di kamarnya.
"Hei. Jangan menarikku."
...
"Ada apa?"
"Aa.. Ayah? Tidak.. Tadi aku kira aku melihat kakak, ternyata hanya foto.. Hehe.." jawab Hanabi pada ayahnya yang kini berdiri didekatnya. Deg.. Semoga saja ayahnya dalam fase bodohnya.
"Mengapa mobil kakakmu ada disini? Apa dia tak bersekolah?" Tanyanya lagi.
"Aaa.. Nee-san? Oh.. Kemarin wa-waktu aku pulang. Nee-san bilang belakangan ini dia naik bis." bohong Hanabi cepat yang membuat Hiashi menatapnya curiga.
"Iya.. Aku melihatnya sendiri." ucap Hanabi menyakinkan.
.
.
Hinata masih bersembunyi dibalik pintu sambil terus menguping pembicaraan ayah dan adiknya. Ia yang masih menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya sedangkan satu telapak tangan nya menutup mulut Naruto yang berjarak beberapa cm dari wajahnya. Sialan... Mengapa keluarganya suka sekali muncul tiba-tiba..
Tak adik, tak kakak, tak ayah, tak ibunya. Semuanya sama saja.
...
Naruto menyingkirkan pelan telapak tangan Hinata di bibirnya. Naruto bahkan tak tahu harus berterima kasih pada Hanabi yang tiba-tiba muncul atau tidak? Berterima kasih karena dia muncul sebelum Naruto sempat menyelesaikan kata-katanya yang mungkin akan menghilangkan harga dirinya, jika Hinata menolaknya, atau tidak, karena dia merusak suasana yang sudah sangat bagus.
Entahlah.. Tapi mengapa Naruto tiba-tiba merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan sesuatu pada Hinata?
...
Naruto menyingkirkan telapak tangan Hinata yang menutup bibirnya.
Satu kecupan yang diberikan untuk bibir Hinata yang kemudian menatap dalam mata Hinata dalam jarak lima cm.
"Hei, ini bukan waktunya bercanda." inilah yang tengah Hinata pikirkan saat Naruto mengecup bibirnya. Ia bisa mati jika ketahuan..
.
.
.
"Hinata... -
.
.
- Aku rasa aku sudah jatuh hati padamu..."
.
.
.
.
To be continue..
.
.
.
Haaii.. Moga suka.. Maaf kalau tak bagus.. Ohh sedikit pemberitahuan.. Jika ada dari kalian yang bertanya apakah sudah mau tamat? Jawabannya, Tidak.. Kerena..
Satu, masalah mantan Hinata masih belum beres. Wkwkw..
Dua, Shion.
Tiga, ego dan harga Naruto dan Hinata.
Empat, rahasia ..
Sejujurnya, author berharap fic ini cepat tamat tapi ternyata bahkan tak mendekati kata tamat.. Wkwkw.. Udahla.. Nikmati aja dlu yang ada..
Bye bye..
