Title: After A Minute
Cast: Kyuhyun, Donghae, Changmin, and others
Desclaimer: Semua cast milik Tuhan YME, but this story is mine
Genre: Family, hurt, brothership, friendship
Rating: Fiction T
Warning: just fanfic, don't like don't read, typos, OOC, masih author baru, alur membosankan, cerita pasaran
Summary: Keadaan yang memaksanya untuk berubah. Hanya ingin membalas semua rasa sakit yang ia terima di masa kecil.
Happy reading
Puput257™
Based on true story
Chapter 12
"Kyu, Jungsoo hyung ingin bicara denganmu." Donghae yang baru keluar dari dapur mengulurkan ponselnya pada Kyuhyun -yang duduk di sofa ruang tamu.
"M-mwo? Aku?" tanya Kyuhyun sarat dengan keterkejutan. Ia menatap ragu ponsel di depannya.
Donghae mengangguk dengan senyum, "Jja, Jungsoo hyung sudah menunggu," ucapnya semakin menyodorkan ponsel yang masih tersambung pada Jungsoo kearah Kyuhyun.
Nampak Kyuhyun yang menarik napas panjang sebelum akhirnya menerima ponsel dari Donghae. Ia dengan ragu mendekatkan benda pipih itu pada telinga kanannya.
"Yeoboseo, Kyu..."
Terdengar suara Jungsoo dari seberang panggilan. Kyuhyun menggigit pipi bagian dalamnya lalu menatap Donghae, ia bingung. Sedangkan Donghae justru berjalan menjauh, kembali ke dapur. Ia sempat tersenyum pada Kyuhyun sebelum berlalu.
"Y-ya" jawab Kyuhyun pada akhirnya. Ia memejamkan matanya sejenak, menahan perasaannya saat ini.
"Bagaimana kabarmu?"
"B-baik"
Diseberang telepon, Jungsoo tersenyum. Ia bersandar pada pintu rumahnya, menatap lampu jalan yang bersinar di kegelapan.
"Jangan gugup begitu. Santai saja. Hyung tidak akan memakanmu," ucap Jungsoo diselingi candaan. Ada rasa hangat di hati namja tiga puluh tahun itu saat mendengar suara sang keponakan yang sudah lama tidak didengarnya.
Kyuhyun menengadah, menatap langit-langit rumahnya. "Aku hanya merasa canggung," balasnya.
Hening, Jungsoo dan Kyuhyun larut dalam kesunyian.
"Maafkan hyung,"terdengar nada menyesal dalam kalimat Jungsoo. "Terlalu banyak yang harus hyung sesali. Tapi, maukah kau memaafkan pamanmu ini?"
Terdengar helaan napas, Kyuhyun yang melakukannya. Ia berpikir sejenak, menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan. Terus berulang sampai tiga kali. Sedangkan Jungsoo menunggu jawaban Kyuhyun dengan hati berdebar.
"Tentu saja," ucap Kyuhyun diiringi senyum. Entahlah, lidahnya sulit untuk berkata 'tidak'.
Jungsoo, ia hanya bisa menghembuskan napas lega. Jantungnya kembali berdetak normal, ia tersenyum dengan mata yang berkaca.
"Terima kasih."
Jungsoo seolah kembali menemukan orang yang ia rindukan selama ini. Panggilan selama setengah jam itu terasa sangat lama.
Canggung dan kaku masih mendominasi kata-kata yang terlempar dari mulut Kyuhyun. Ya, ia merasa sulit untuk memulainya lagi.
"Ingat, dengarkan kata Donghae. Ia hanya ingin yang terbaik untukmu, Kyu." suara lembut Jungsoo kembali terdengar.
"Katakan apa yang ingin kau katakan padanya. Ia berhak tau. Jangan sampai ini terulang," lanjut Jungsoo.
"Ya, Jungsoo...hyung. Aku mengerti," jawab Kyuhyun walau lidahnya terasa sedikit kelu.
"Sampaikan salam hyung pada Donghae. Hyung akan menutup teleponnya."
"Ya"
"Hyung menyayangimu."
Hening
"Aku juga menyayangimu...hyung."
Pip
Selama beberapa detik, Kyuhyun hanya terdiam dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Seolah membatu sampai Donghae datang menghampirinya.
"Ada apa?" tegur Donghae pada sang adik yang terlihat membatu. Kyuhyun menoleh pada Donghae dengan senyum ringan.
"Tidak," jawabnya sambil mengulurkan ponsel ditangannya pada Donghae.
Senyum miring tercetak di bibir Donghae, ia menerima ponselnya lalu duduk di samping Kyuhyun. Sejauh ini, interaksinya bersama Kyuhyun semakin baik. Kyuhyun bahkan terlihat nyaman saat mengobrol dengannya. Dan Donghae hanya bisa bersyukur karena itu.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanyanya setelah duduk. Setiap hari Donghae akan menanyakan pertanyaan yang sama pada Kyuhyun. Ia hanya ingin tau bagaimana sang adik di sekolah.
"Baik, seperti biasa." Donghae berdecak mendengar jawaban Kyuhyun sama dengan hari-hari sebelumnya.
"Jawablah dengan lebih kreatif. Jangan hanya dengan tiga kata itu. Setidaknya jelaskan lebih terperinci, Kyu." ucap Donghae terdengar seperti protes.
Kyuhyun refleks menoleh. "Donghae hyung juga. Kau selalu menanyakan pertanyaan itu setiap hari. Aku bosan, hyung." jawabnya mencibir.
Bukankah mulai terlihat keakraban diantara keduanya?
Donghae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia juga bingung sendiri. Kyuhyun pintar sekali membalik perkataannya.
"Sudahlah, lupakan saja. Kau selalu bisa mengelak."
Kyuhyun hanya mengangkat bahunya acuh. Ia beralih menatap lurus lantai rumahnya. Percakapannya dengan Jungsoo berkeliaran di pikirannya.
"Jungsoo hyung tidak menitipkan sesuatu untuk hyung?" tanya Donghae lagi, membuat Kyuhyun menoleh pada hyung nya itu.
Kyuhyun nampak berpikir. "Oh, ya. Dia menitipkan salam untukmu," jawab Kyuhyun kemudian.
"Baiklah. Sampaikan salam hyung juga untuk Jungsoo hyung."
"Maksudnya?" tanya Kyuhyun -tidak mengerti.
"Katakan padanya jika hyung juga menitip salam balik untuknya."
Kyuhyun menatap Donghae tanpa kedip. Apa maksud Donghae sebenarnya?
Seolah tau akan kebingungan dongsaengnya itu, Donghae melanjutkan. "Telepon Jungsoo hyung. Ingat, sampaikan salam hyung untuknya."
Donghae beranjak tanpa menjelaskan lebih pada Kyuhyun. Berlalu dari ruang tamu dengan senyum menuju dapur.
"Oh, ya! Telepon Jungsoo hyung memakai ponselmu. Hyung hanya bingung untuk apa ponselmu selama ini. Kau tidak pernah mengangkat telepon dari hyung. Jangan bilang kau menggunakannya untuk pajangan?"
Kyuhyun mengedipkan matanya berulang kali mendengar suara kekehan dari arah dapur. Ia bingung dengan Donghae yang menyuruhnya menelpon Jungsoo. Padahal Donghae sendiri bisa menelpon Jungsoo untuk membalas salam dari pamannya itu.
Bicara soal ponsel, Kyuhyun kemudian merogoh saku celananya. Tidak ada.
"Dimana ponselku?" ucapnya kemudian merogoh saku celananya yang lain. Tetap tidak ada.
"Mungkin di kamar," ia beranjak dari sofa lalu naik ke lantai dua -kamarnya.
Sampai di kamar, Kyuhyun mencari ponselnya di ranjang, laci, dan meja belajarnya. Ia mengerutkan dahi ketika tidak mendapati benda persegi itu.
"Ck, dimana?"
Entah kapan terakhir kali Kyuhyun memegang ponselnya. Yang jelas, ia lupa dimana menaruh benda itu.
Tangannya yang membolak-balik benda di atas meja belajar berhenti bergerak. Ia menumpukan pandangannya pada tas sekolahnya yang tergeletak di pinggir meja. Diraihnya tas berwarna hitam itu lalu dibukanya dengan tergesa.
"Ternyata di sini," gumamnya ketika mendapati ponselnya berada di tas.
Ponsel dengan layar lima koma lima inchi itu dalam keadaan mati. Kyuhyun mendesah, berapa lama ia tidak mengisi baterai ponselnya?
Matanya berhenti saat melihat sebungkus rokok dalam tasnya. Ia mengambilnya.
Kyuhyun berjalan kearah ranjang dengan tangan yang masih mengobrak-abrik isi tasnya. Ia kemudian duduk di pinggir ranjang.
Di dalam tasnya hanya ada ponsel, sebungkus rokok dan juga pemantiknya, beberapa bungkus coklat, dan earphone.
Lagi-lagi Kyuhyun mendesah. Ia tidak pernah membawa buku pelajaran. Betapa nakalnya ia selama ini, begitu pikir Kyuhyun.
"Hhah, haruskah?"
.
.
.
Kyuhyun memandang layar ponselnya yang masih menyala. Setelah bergelut dengan pikirannya, cukup lama. Kyuhyun memutuskan untuk menelpon Jungsoo walau dengan durasi hanya tiga menit.
"Yeoboseo..."
Suara di seberang telepon yang sempat ia dengar sejam yang lalu kembali terdengar di telinganya.
"Kyuhyun, ini kau?"
Kyuhyun terdiam beberapa detik.
"Yeoboseo, ini Kyu."
Kyuhyun meneguk ludahnya pelan, ia harus memulai darimana?
"Eoh, ada apa menelpon hyung lagi? Apa terjadi sesuatu?" suara Jungsoo terdengar panik. Kyuhyun tersenyum tipis menyadari betapa perhatiannya sang paman.
"Aniya, semuanya baik."
Terdengar helaan napas lega. Kyuhyun mendekati sisi jendela.
"Jungsoo hyung..." entah keberanian darimana Kyuhyun bisa menyebut nama Jungsoo dengan lancar.
"Ya, Kyu. Ada apa?"
Kyuhyun mengeratkan pegangannya pada sisi jendela.
"Donghae hyung juga menitipkan salam untukmu," ucapnya pelan. Jungsoo terdiam selama beberapa detik, begitupula Kyuhyun.
"Ya." Jeda, "Jadi kau menelpon hyung hanya untuk bilang itu?" tanya nya.
"Hmm..." Kyuhyun menjawabnya dengan gumaman. Terdengar suara tawa di seberang panggilan.
"Kalau begitu sering lah menelpon hyung, Kyu. Hyung akan senang mendengar suaramu."
"Akan ku usahakan."
Hening.
"Kau mau menutup teleponnya?" tanya Jungsoo lagi.
Kyuhyun mengangguk pelan, namun menyadari Jungsoo tidak akan melihatnya, ia segera bersuara. "Ya"
"Baiklah, kau boleh menutup teleponnya."
Sebuah senyum terulas di bibir Kyuhyun. Ia tidak tau karena apa. Yang jelas, ia hanya ingin tersenyum.
Tok tok
"Kyu, ada Max di luar."
"Ya, hyung."
Kyuhyun segera meletakkan ponselnya lalu bergegas keluar. Seperti biasa, Changmin akan datang ke rumahnya saat sore hari. Entah untuk sekedar menemuinya, menonton film, mengobrol, atau menumpang makan. Ya, garis bawahi untuk pilihan terkahir. Itu sudah menjadi kebiasaan.
Tiba di lantai bawah, Kyuhyun tidak mendapati Changmin di ruang tamu.
"Kyu, aku di dapur." teriak sebuah suara yang ia kenal. Kyuhyun memutar bola matanya. Pasti mengusik acara memasak Donghae.
Dengan cepat Kyuhyun menoleh kearah dapur yang memang tidak memiliki sekat dengan ruang tamu. Changmin duduk manis di kursi makan dengan Donghae yang masih sibuk memasak.
"Jangan menggangu Donghae hyung, Max." ucap Kyuhyun setelah berdiri diantara Changmin dan Donghae yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya.
"Aku tidak menggangu Donghae hyung. Kau itu pelit sekali, eoh. Aku kan hanya mengajaknya mengobrol. Atau jangan-jangan kau cemburu karena kami lebih cocok menjadi hyung dan dongsaeng?"
Kyuhyun mengacuhkan Changmin yang menaik turunkan alisnya dengan wajah konyol. Ia menarik kursi yang berhadapan dengan Changmin.
Donghae hanya terkikik mendengar ocehan Changmin, ia memilih meneruskan acara memasaknya. Sudah terbiasa menjadi pendengar saat Kyuhyun dan Changmin 'mengobrol'.
"Hentikan mulut besarmu itu! Mau apa kesini?!"
Jawaban Kyuhyun membuat Changmin menekuk wajahnya. Ia menggerutu pelan.
Dasar! Coba saja aku tidak bicara ini itu pada Kyuhyun sehingga Donghae hyung tidak menyadarinya. Pasti dia tidak akan bicara seperti itu
Melihat Changmin yang terdiam -dengan mulut yang berkomat-kamit- membuat Kyuhyun mendesah. Apa temannya -ah Kyuhyun telah mengakuinya- itu sudah gila?
"Donghae hyung, kita butuh pskiater." Donghae menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan bingung. Ia tergelak setelah beberapa detik.
"Max, kau membuat kami takut." ujar Donghae kemudian mematikan kompor. Ia baru selesai menggoreng udang -makanan kesukaan Changmin.
Selama beberapa detik Changmin masih terdiam. Ia memproses ucapan Kyuhyun dan Donghae barusan.
"Yak! Kyu! Kau mengataiku gila, eoh?!" seru Changmin dengan mata melotot. Ia menatap Kyuhyun dan Donghae bergantian.
Kyuhyun tersenyum miring, ia berdiri disamping Donghae.
"Donghae hyung lebih cocok menjadi hyungku. Kau seperti tiang listrik jika berdiri disampingnya. Benar, kan hyung?" Kyuhyun berucap sambil merangkul tubuh Donghae, membuat Donghae tersenyum. Ah, ada rasa syukur yang mendalam dari tatapan mata Donghae pada Kyuhyun.
Begitupun Changmin, ia melihat mata Donghae yang seolah memancarkan kebahagiaan. Ia tersenyum tipis melihat kedua orang di depannya. Mungkin sedikit mengerjai Kyuhyun tidak masalah. Changmin tersenyum penuh arti.
"Tidak! Mana mungkin Donghae hyung yang tampan punya dongsaeng sepertimu? Ugh, rambut merahmu merusak pemandangan. Juga tindikmu yang membuatku gatal ingin mencopotnya."
Ucapan panjang lebar dari Changmin sukses membuat Kyuhyun terdiam. Wajah yang menampilkan rasa bangga itu kini sarat akan kesenduan. Donghae melempar pandangan menegur pada Changmin, namun dibalas dengan 'tidak apa, hyung' oleh Changmin lewat gerakan tangan.
Kyuhyun menatap Changmin dan Donghae bergantian. "Benarkah?" tanya Kyuhyun dengan nada rendah.
Donghae kelabakan melihat Kyuhyun yang nampak tersinggung. Ia kembali melotot pada Changmin yang justru tersenyum lebar.
"Itu benar, Kyu."
"Max!"
"Ups!"
Gertakan Donghae membuat Changmin menutup mulutnya. Namun senyuman tidak lepas dari bibirnya melihat Donghae menarik Kyuhyun dalam pelukannya.
"Aniya, jangan dengarkan Max. Kau tetap dongsaeng ku, entah bagaimanapun," ucapnya dengan jeda.
"Tapi Max juga benar. Setidaknya kau harus mengecat ulang rambutmu dengan warna asli rambutmu. Dan tindikmu itu, kau lebih baik melepasnya," lanjut Donghae dengan lembut. Ia melempar tatapan 'kau berurusan denganku setelah ini' pada Changmin.
"Hanya itu?" tanya Kyuhyun lagi.
Oh, Changmin seolah melihat adegan di drama. Ia berdecak kemudian. Sepertinya ia menarik gerutuannya tadi. Mana mungkin ia akan melihat adegan seperti ini jika ia tidak melakukan hal itu?
.
.
.
Waktu menujukkan pukul enam, Kyuhyun mematut dirinya di cermin. Hal yang jarang ia lakukan sebelumnya. Niatnya untuk segera berangkat harus tertunda.
Ia terdiam, memandang pantulan tubuhnya dengan seksama. Rambut merah menyala, tindik di telinga kirinya, badan kurus, begitupula pipinya yang tirus.
"Kau terlihat mengerikan, Kyu." ujar Kyuhyun pada pantulannya di cermin.
Tangannya menyentuh helaian rambutnya yang mulai memanjang kemudian beralih menyentuh telinga kirinya. Ia menghela napas panjang.
"Aku ingin menyarankan padamu. Jangan memakai tindik atau mengecat rambutmu menjadi merah. Kau pasti akan terlihat lebih tampan jika rambutmu berwarna coklat almond dan tanpa tindik."
"Tapi Max juga benar. Setidaknya kau harus mengecat ulang rambutmu dengan warna asli rambutmu. Dan tindikmu itu, kau lebih baik melepasnya,"
"Nanti saja," ucapnya lalu meraih tas hitam di ranjang. Ia menyampirkannya di bahu kiri lalu keluar dari kamar.
"Pagi, hyung." sapa Kyuhyun pada Donghae yang sedang menyiapkan sarapan. Ia menarik salah satu kursi makan lalu mendudukinya.
"Pagi, Kyu. Hyung tidak sempat masak. Sarapan dengan roti tidak masalah, 'kan?" tanya Donghae pada Kyuhyun dan dijawab dengan anggukkan olehnya.
Dengan cekatan Donghae mulai mengeluarkan roti dari panggangan lalu meletakkannya di atas piring sang adik dan di piringnya sendiri.
Ting tong
Suara bel rumah membuat kegiatan Donghae terhenti, ia berniat membukakan pintu depan.
"Stop, hyung. Biar aku yang membukanya. Mungkin Max yang datang," tanpa menunggu jawaban dari Donghae, Kyuhyun telah berjalan menuju pintu depan.
Senyum kembali terulas di bibir Donghae melihat Kyuhyun yang lebih perhatian dengan sekitarnya. Walaupun hanya dalam konteks di rumah.
Dan benar saja, nampak Kyuhyun masuk dengan Changmin yang berjalan di belakang sang adik.
"Selamat pagi, Donghae hyung." sapa Changmin ceria seperti biasanya.
"Eoh, Max. Pagi juga. Mau sarapan dengan kami?" tawar Donghae pada Changmin yang mendudukkan diri di kursi -disamping Kyuhyun.
Changmin mengetukkan jarinya pada dahi. Ia mengangguk kemudian.
"Jadi kau kesini hanya untuk menumpang sarapan." cibir Kyuhyun pada Changmin. Ia hapal betul kebiasaan Changmin yang selalu -menumpang- makan di rumahnya.
"Tidak apa, Kyu. Mungkin Changmin memang belum sempat sarapan dari rumah."
Kyuhyun kembali mencibir Donghae yang membela Kyuhyun. Ia merasa menjadi orang yang jahat dengan mengatakan hal tadi.
"Sebenarnya aku sudah sarapan. Tapi untuk menghormati Donghae hyung yang menawari sarapan, aku menerimanya."
Mereka memulai sarapannya setelah ucapan Changmin yang membuat kedua orang lainnya tergelak.
Changmin dan Donghae lebih banyak mengobrol dibanding dengan Kyuhyun yang lebih banyak diam menikmati sarapannya.
Setelah selesai sarapan, Kyuhyun dan Changmin pamit untuk berangkat ke sekolah. Kyuhyun berjalan mendahului Changmin yang masih terhenti karena ditarik oleh Donghae.
"Awas kau, Max! Kyuhyun pasti tersinggung karena ucapanmu kemarin." ucap Donghae terdengar seperti ancaman.
Tidak ada rasa takut ataupun rasa bersalah pada raut wajah Changmin, ia justru tersenyum.
"Tenang saja, hyung. Kau akan tau nanti." jawab Changmin sambil menatap Donghae yang nampak tidak mengerti.
"Max! Kau mau berangkat atau tidak!"
Changmin terlonjak mendengar teriakan Kyuhyun yang sedang menatapnya tajam dari ujung gerbang rumah.
"Yak! Sebentar, Kyu!" jawab Changmin lalu berlari mengejar Kyuhyun.
"Astaga! Apa dia benar-benar Kyuhyun?" tanya Donghae dengan senyum. Ia tergelak mendengar teriakan Kyuhyun tadi.
Jika dulu Kyuhyun akan acuh jika Changmin tertinggal dibelakang, kini Kyuhyun akan berteriak agar Changmin lebih cepat. Jika dulu Kyuhyun akan terganggu akan kehadiran Changmin, kini Kyuhyun seolah hanya akan pergi bersama Changmin.
Donghae sebenarnya kagum pada Changmin. Jika Changmin mau egois, ia pasti lebih memilih berangkat dengan motornya. Tidak perlu susah naik bus lalu berjalan kaki bersama Kyuhyun.
Namun, Donghae kenal baik Changmin. Anak itu bahkan rela meninggalkan motornya karena takut mengganggu ia dan Kyuhyun malam itu. Dan hal yang sama Changmin lakukan pada Kyuhyun, ia tau Kyuhyun tidak suka naik kendaraan. Jadi, Changmin mau repot berjalan kaki asal itu bersama Kyuhyun.
"Persahabatan kalian memang aneh," cibir Donghae lalu masuk kedalam. Ia ada kuliah jam sembilan nanti.
"Mungkin berangkat bersama Hyukjae saja. Terdengar lebih baik daripada sendirian."
.
.
.
Bel masuk akan berbunyi empat puluh lima menit lagi. Changmin mengetukkan jarinya pada meja yang ia jadikan tempat untuk merebahkan kepalanya.
"Kyu, ayo keluar. Aku bosan di kelas terus," keluh Changmin pada Kyuhyun yang setia memejamkan matanya.
"Tidak mau," jawab Kyuhyun tanpa membuka matanya. Changmin menghembuskan napasnya kesal.
Hampir sebulan sejak kejadian Kyuhyun berterima kasih padanya dan Kyuhyun masih enggan untuk membuka dirinya pada orang lain. Terkecuali pada Changmin, Donghae, dan baru-baru ini pada Jungsoo.
Kyuhyun yang saat ini mengingatkan Changmin akan Kyuhyun yang dulu. Hanya mau bicara dan berinteraksi dengannya seorang. Mengingatnya membuat Changmin meringis.
"Ah, Kyu. Ayo ke atap sekolah." ajak Changmin lagi.
Kyuhyun membuka matanya, menoleh pada Changmin. "Ayo," ia beranjak dari kursi, namun tangan Changmin mencekalnya.
Kyuhyun menatapnya penuh tanya, Changmin tersenyum.
"Pakai mantelmu, udara cukup dingin di luar."
Dan disinilah keduanya, di atap sekolah yang tinggi. Kyuhyun duduk menyender pada dinding dan Changmin yang berdiri disampingnya.
"Udara sudah sedingin ini, tapi salju belum juga turun." gumam Changmin dapat didengar Kyuhyun.
Namja belasan tahun itu merapatkan mantel yang dipakainya kala angin musim dingin menerpa kulitnya. Ia menatap lurus langit yang menampilkan gurat biru.
"Belum waktunya turun salju. Jangan terlalu banyak mengeluh," ucap Kyuhyun.
"Aku tidak mengeluh, hanya tidak sabar saja menanti salju turun." tutur Changmin hanya ditanggapi anggukkan oleh Kyuhyun.
Changmin berjalan beberapa langkah, menengok sedikit ke bawah. Gerombolan siswa terlihat berdatangan. Ada yang berjalan dengan santai, berlarian, dan ada yang justru sibuk mengobrol.
"Kenapa kau begitu menanti salju turun?" tanya Kyuhyun menatap punggung Changmin.
"Saat salju turun untuk pertama kalinya di musim dingin, saat itu peristiwa yang tidak akan bisa kau lupakan dalam hidupmu." jawab Changmin tanpa berbalik.
"Setahun sekali, ya."
"Tentu saja. Karena itu aku selalu senang saat salju turun. Terutama untuk pertama kalinya di musim dingin."
Beberapa saat kemudian, Changmin membalikkan badan.
"Kau tidak pernah ke kantin, 'kan?" tanya nya tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Jawab saja. Kenapa tidak pernah ke kantin?"
"Hanya tidak ingin"
"Bohong, semua pasti ada alasannya."
Kyuhyun menghela napas mendapati rasa ingin tau Changmin sangat tinggi kali ini.
"Aku tidak terbiasa dengan suasana kantin yang ramai."
"Lalu?"
"Tatapan mereka seolah mengintimidasi keberadaanku."
"Karena itu kau enggan masuk kesana?"
"Aniya, masih ada alasan lain."
Kyuhyun kecil melangkah kedalam kantin dengan ceria. Ia mencari teman-teman sekelasnya yang tadi masuk kesini. Ah, ia juga lapar.
Dengan langkah ringan Kyuhyun mengantri makan siang. Setelah itu ia mencari-cari tempat dimana teman sekelasnya duduk.
"Disana..." ujarnya lalu berjalan menuju meja di deret kedua dari kiri.
Senyum riang itu terlukis di bibirnya kala teman sekelas -yang ingin ia jadikan teman- itu melambai kearahnya.
Sampai di dekat meja itu, Kyuhyun berniat menyapa mereka. Namun...
Byurr
Belum sempat ia membuka mulutnya, segelas air sukses sukses mengguyur kepala dan tubuhnya. Membuat seragam sekolahnya pasti basah. Kyuhyun bahkan tanpa sengaja menjatuhkan makan siang ditangannya.
Kyuhyun menutup mata merasakan dinginnya air -jus jeruk- tersebut. Ia mendengar gelak tawa dari beberapa siswa disana, membuat matanya yang menutup kembali terbuka.
"Ups...kukira tidak ada orang," ujar salah seorang diantara mereka dengan nada meremehkan. Senyum sinis terlukis di bibir siswa-siswa itu.
"Memang tidak ada orang, 'kan?"
Salah satu anak yang lain kembali menuang semangkuk sup dingin di atas kepala Kyuhyun. Gelak tawa kembali terdengar di sekitarnya.
Kyuhyun memandang sekeliling dengan tatapan terluka. Tawa yang terdengar seolah mengejek Kyuhyun. Tatapan acuh dari beberapa siswa yang melihatnya seolah menjadi pil pahit. Belum lagi tatapan kasihan tanpa niatan untuk menolong dari beberapa siswa membuat Kyuhyun merasa sendirian di tempat seluas ini.
Kyuhyun kembali menatap teman sekelasnya itu dengan air mata menggenang, bercampur dengan jus jeruk dan sup yang dituang ke atas kepalanya.
Tanpa mengucap apapun, Kyuhyun berjalan cepat meninggalkan kantin. Tangis yang ia tahan pecah saat beberapa siswa memandangnya heran. Tatapan mereka... seolah menciutkan hati Kyuhyun.
Dalam hati Kyuhyun bersumpah, ia tak akan masuk kedalam tempat terkutuk itu.
Changmin menggenggam erat tangan Kyuhyun yang bergetar. Ia bisa merasakan ketakutan dari diri Kyuhyun saat ini.
"Kyuhyun, dengarkan aku." ucap Changmin membuat Kyuhyun menoleh. Ia menatap mata Kyuhyun dalam.
Mata yang menyiratkan kegelisahan itu seolah mengingatkan Changmin dengan kejadian sebulan lalu. Mata itu menyiratkan hal yang sama.
"Kejadian itu sudah lama berlalu. Kau tidak bisa menyamakan kejadian dulu dan saat ini. Semua sudah berubah, Kyu." jelas Changmin mencoba meyakinkan Kyuhyun.
Kyuhyun menggeleng keras. "Mereka sama. Tawa mereka dan tatapan itu sama. Aku tidak bisa," ucapnya dengan suara bergetar.
Tubuh kurus berlapis mantel cokelat itu juga nampak bergetar, membuat Changmin tidak tega. Ia menarik Kyuhyun dalam pelukannya.
Jadi ini alasan kenapa Kyuhyun sangat menghindari tempat bernama kantin.
Trauma
Ya, entah seburuk apa kejadian yang Kyuhyun alami saat itu. Yang jelas, kejadian itu meninggalkan bekas luka yang mengangga di hati Kyuhyun. Bekas luka yang tidak akan pernah hilang.
Rringg
Bel masuk berbunyi, namun Changmin enggan melepas pelukannya pada Kyuhyun. Ia justru menikmati posisinya saat ini.
"Kyu, ayo kita membolos hari ini."
.
.
.
Dua orang dengan status siswa SMA itu berjalan santai di trotoar. Tidak memperdulikan jika ada orang yang mengenalinya sebagai siswa. Lagipula keduanya memakai mantel yang menutupi seragam yang mereka pakai.
"Jadi seperti ini rasa membolos. Ini menyenangkan, Kyu." ucap Changmin dengan senyum.
Setelah berhasil menenangkan Kyuhyun, Changmin dengan ngotot mengajak Kyuhyun membolos. Dan tentu saja Kyuhyun menyetujui hal tersebut.
Namja yang lebih pendek beberapa sentimeter dari Changmin itu tidak bereaksi. Ia sendiri telah lama tidak membolos. Jadi, membolos lagi kali ini tidak masalah, 'kan?
"Biasanya kau pergi kemana saat membolos?" tanya Changmin pada Kyuhyun yang nampak memandang kearah jalan disamping mereka.
"Tidak pasti," jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
Changmin hanya mengangguk saja. Ia sendiri tidak tau mau kemana kali ini. Matanya berputar melihat deretan bangunan di samping trotoar.
Tiba-tiba Changmin menghentikan langkahnya. Ia menumpukan pandangannya pada satu tempat yang menarik perhatiannya.
"Kyu, ikut aku!" tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Kyuhyun yang berjalan beberapa langkah di depannya.
"Kemana kau membawaku?" tanya Kyuhyun begitu tersadar dari keterkejutannya.
"Sudah, diamlah. Ikut saja."
Kyuhyun memutar bola matanya kala Changmin terus menyeretnya memasuki sebuah bangunan. Tunggu... ini 'kan...
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang pegawai salon ketika Changmin dan Kyuhyun masuk.
"Max, ini..."
"Tolong ganti warna rambutnya dengan warna lain. Kira-kira warna apa yang cocok untuknya?"
"Aku tidak mau, Max!" protes Kyuhyun. "Aku tidak membawa uang."
"Tenang saja, aku membawa uang." jelas Changmin lalu mengeluarkan dompet dari sakunya.
"Aku tetap tidak mau!"
"Jadi kau mau Donghae hyung menjadi hyungku?"
"Ck, itu tidak mungkin."
"Karena itu turuti permintaanku kali ini."
"Ehem, bagaimana?" tanya pegawai salon. Mungkin jengah karena percakapan kedua orang didepannya.
"Lanjutkan saja."
Pegawai salon itu nampak memperhatikan Kyuhyun, mulai dari postur tubuh dan wajahnya.
"Uhm...sepertinya warna merah sangat kontras dengan kulitnya yang pucat," ucap pegawai itu mengomentari penampilan Kyuhyun saat ini.
"Warna coklat terlihat bagus untuknya. Dan dia juga butuh memangkas sedikit rambutnya," lanjutnya lagi.
"Baiklah, tolong lakukan jika itu perlu. Yang jelas aku ingin rambut merah itu menghilang," tutur Changmin kemudian menepuk bahu Kyuhyun pelan.
Pegawai itu tersenyum pada Changmin, kemudian beralih pada Kyuhyun.
"Tentu saja, salon kami terpercaya soal itu. Mari Tuan, silahkan duduk disini."
Kyuhyun melempar pandangan protes pada Changmin yang justru 'mengusirnya' dengan gerakan tangan.
"Aku menunggu disini," ucap Changmin sebelum Kyuhyun pergi mengikuti pegawai salon itu.
Dalam hati ia terkikik geli melihat Kyuhyun yang melempar tatapan protes dan itu terlihat lucu di mata Changmin. Sangat kontras dengan dengan penampilan Kyuhyun yang terlihat seperti berandalan.
"Biar saja. Kalau tidak begini, kapan dia mau mengganti warna rambutnya?" komentar Changmin sambil melirik Kyuhyun yang juga melirik padanya lewat cermin.
Changmin hanya terkekeh lalu mulai membaca majalah fashion yang tersedia disana. Sebenarnya ia tidak mengerti dengan apa yang ia baca, tapi itu lebih baik daripada hanya diam saja. Beruntung ia selalu mengantongi dompetnya kemanapun pergi.
Mereka berdua langsung membolos setelah turun dari atap sekolah. Changmin bahkan dibuat takjub dengan ketenangan Kyuhyun saat melewati pagar sekolah. Ia sendiri sudah berkeringat dingin karena takut ketahuan.
"Aissh... aku mengantuk." keluh Changmin setelah menguap lebar. Ia baru menunggu lima belas menit dan rasanya seperti telah menunggu berjam-jam. Kalau keluar dari tempat itu pun Changmin tidak tega untuk meninggalkan Kyuhyun.
"Mungkin tidur sebentar saja," Changmin menutup majalah ditangannya lalu menutup mata. Ruangan dalam salon itu memiliki penghangat dan hal itu membuat Changmin merasa nyaman.
Tidak sampai lima menit, Changmin telah terlelap dalam tidurnya. Meninggalkan Kyuhyun yang kini tengah mengumpat dalam hati.
.
.
.
"Aku pulang"
Kyuhyun kembali menutup pintu rumahnya. Ia melirik jam dinding.
"Oh, Kyu. Kau sudah pul..." ucapan Donghae terhenti kala melihat penampilan Kyuhyun. Mulutnya terbuka cukup lama.
Kyuhyun menghela napas melihat respon Donghae. "Sudah, hyung. Aku lelah, ingin tidur. Tanya nanti saja." selanya cepat sebelum Donghae melempar pertanyaan yang lain.
Kyuhyun melangkah melewati Donghae yang hanya bisa membuka lalu menutup mulutnya lagi tanpa mengucap apapun.
Ia naik ke lantai dua lalu masuk ke kamarnya. Mantel yang tadi menyelimuti tubuhnya kini berpindah di gantungan baju.
"Max Changmin, bodoh!" umpat Kyuhyun begitu melihat pantulan tubuhnya pada cermin.
Rambut merahnya yang memanjang kini terlihat lebih rapi setelah dipangkas dan diganti dengan warna coklat.
Rasanya Kyuhyun ingin mengumpat pada Changmin habis-habisan. Ia bahkan harus menutup mulut Changmin yang terus mengoceh ini itu tentang tampilannya setelah keluar dari salon.
"Ck..." decaknya. Namun terlihat senyum yang terulas di bibirnya.
"Kau memang Max yang kukenal." ucapnya seraya menggelengkan kepalanya. Changmin memang tidak pernah berubah dari dulu. Selalu seenaknya sendiri pada Kyuhyun.
Tangan pucat itu bergerak mengelus rambutnya yang kini berwarna coklat.
"Kau selalu tau bagaimana aku."
Kemudian, Kyuhyun beralih menyentuh telinga kirinya. Terdiam sebentar menatap pantulan pada cermin.
"Selamat tinggal berandalan bermuka datar. Yang ada hanya Kim Kyuhyun adik Kim Donghae."
Kyuhyun melepas tindik di telinga kirinya. Ia kemudian berjalan mendekat pada ranjang, lalu meraih tas -yang ia dan Changmin ambil sebelum pulang ke rumah- nya.
Sebungkus rokok dan pemantik yang tidak pernah absen dalam tasnya kini berpindah masuk ke tempat sampah di pojok kamar.
"Eomma... Mulai hari ini aku berjanji akan hidup lebih baik. Kau juga hidup lah yang tenang di surga."
.
.
TBC
.
.
Annyeong~
Author update chapter 12 nih. Maafkan baru bisa update hari ini. Maklumin lagi kena krisis moneneter*eh maksudnya krisis kuota -_- kantong pelajar mah gini.
Gimana komentar buat chapter ini? Hancur? Aneh? Nyleneh? Cukup bales di kolom review.
Masih nungguin appa Kim balik ke Seoul, ya?*smirk
Terima kasih buat semua review, follow, sama favorit dari kalian. Author bakal kerja keras buat ngetik tiap chapter biar bisa maksimal hasilnya. Tapi kalau hasilnya ngecewain, maafkan deh.
Balesan review
Anna505 chapter 11 . Mar 15
Khamsahamnida buat reviewnya. Yup, ini udah cukup banyak kah momentnya?
Park Rinhyun-Uchiha chapter 11 . Mar 15
Chwang emang bukan cast utama tp punya peran penting bgt buat ini fanfic. Buat Jungsoo emang belum ada scene yg full buat dia. Trus soal badai belum berlalu tungguin aja, ya. Kode dikit gapapa, kan? Kkkk Khamsahamnida udah review
Awaelfkyu13 chapter 11 . Mar 15
Ya ya ya ini masih dalam proses kasih moment yg sweet. Masih kurang? Khamsahamnida buat reviewnya.
kyuhae chapter 11 . Mar 15
Kehangatan di tengah salju, oh ini perumpamaan yg keren kkkk. Tunggu chapter selanjutnya, ya. Khamsahamnida
jenny hzb chapter 11 . Mar 15
Ommo, sebelumnya author mau minta maaf. Itu emang balesan review buat chingu. Kemarin lupa ngedit namanya, jadi gak keluar. Maaf bgt. Itu kesalahan teknis*eh
Trus ini udah banyak loh moment chang ama kyu. Masih kurang gitu? Khamsahamnida buat reviewnya. Janji deh gak bakal kek kemarin lg.
Choding chapter 11 . Mar 15
Tuh, kyu udah ngecat rambut 'gegara si chang'. Chapter kemarin manis, trus yg sekarang apa? Tambah pahitkah?
Masalah ujan gak ush dibales lg atuh. Biar aja, gak ujan udah bisa update :3
Maaf ini gak update cepet, ya. Khamsahamnida buat reviewnya.
Songkyurina chapter 11 . Mar 15
Yup, tungguin aja deh. No comment soal itu kkkk. Khamsahamnida
AtikahSparkyu chapter 11 . Mar 15
Uhm, semoga chapter yg ini jg gak ngebosenin deh*amin. Khamsahamnida udah review
meimeimayra chapter 11 . Mar 15
Ini udah lumayan tuh, gak canggung sama hae. Ya, moga aja masih panjang*plakk. Paling beberapa chapter lagi. Khamsahamnida udah review
jihyunelf chapter 11 . Mar 15
Jungsoo masukin kemana?*kedippolos. Kkkk becanda, khamsahamnida udah review
dewiangel chapter 11 . Mar 15
Dan ini masih soal hujan T_T udah gapapa. Gak harus ujan juga bisa nulis ini tadi. Khamsahamnida buat reviewnya.
angel sparkyu chapter 11 . Mar 15
Khamsahamnida, ini udah dilanjut. Jg bosan review
yunacho90 chapter 11 . Mar 15
Eih, konflik lagi?*mendadakamnesia. Kkk nanti bisa diatur. Khamsahamnida
okaocha chapter 11 . Mar 15
Khamsahamnida ini udah lanjut.
kyuli 99 chapter 11 . Mar 15
Semanis author kah?*digeplakreader. Keknya suka bgt kalo kyu menderita. Tunggu aja kalo gt. Khamsahamnida
Lily chapter 11 . Mar 15
Ini aku bacanya sambil ketawa. Lucu bgt baca kalimat yg gak ada titik komanya*peace. Tp ini yg bikin seneng author waktu baca review :). Khamsahamnida semoga ini chapter bikin puas.
Guest chapter 11 . Mar 15
Khamsahamnida, author jg seneng kalo kyu sama hae bisa akrab.
mmzzaa chapter 11 . Mar 16
Siap deh. Semoga chapter ini bikin puas. Khamsahamnida
Cuttiekyu94 chapter 11 . Mar 16
Khamsahamnida, tungguin chapter selanjutnya biar tau jawabannya.
Aya chapter 11 . Mar 16
Jgn gila, please. Author gak mau punya reader yg miring*peace. Becanda loh itu, kkkk. Khamsahamnida buat reviewnya.
dek indah chapter 11 . Mar 16
Kayanya udah kejawab deh. Khamsahamnida udah review. Tunggu updatean selanjutnya, ya.
Wonhaesung Love chapter 11 .
Mar 16
Khamsahamnida, ini udah dilanjut.
dewidossantosleite chapter 11 .
Mar 15
Kayaknya udah ada pemikiran sejauh ini nih chingu. Tungguin aja pokoknya. Khamsahamnida udah review.
Apriliaa765 chapter 11 . Mar 15
Itu emang scene spesial di chapter kemarin. Seneng kalo chingu suka. Tungguin chapter selanjutnya, ya. Khamsahamnida
riritary9 chapter 11 . Mar 15
Semua emang butuh proses, chingu. Trus buat kyu emang lelet abis euy, 11 chapter baru bisa nyadar*peace. Khamsahamnida
lydiasimatupang2301 chapter 11 . Mar 15
Aduh ini reader satu emang bikin keinget terus. Reviewnya bikin ketawa :3 pokoknya kejawab di chapter ini deh. Trus buat chapter nya berapa biji emang belum ketebak. Tunggu aja ampe end. Khamsahamnida
dwi-yomi chapter 1-11
Sebelumnya terima kasih bgt buat chingu. Ni reviewnya author jadiin satu balesan, bingung mau ngebales satu satu. Keknya baca marathon gitu? Tp yg bikin salut author, chingu mau review per chapternya. Khamsahamnida buat reviewnya. Buat appa kim emang belum waktunya balik ke Seoul.
maya kyu chapter 11 . 17 Maret
Khamsahamnida buat reviewnya. Author seneng kalo readers bisa suka sama chapter kemarin.
sparkyunee13 chapter 11 . 17 Maret
Khamsahamnida udah review. Kyu sakit? No comment-_-. Appa kim emang belum waktunya balik. Tapi tunggu aja deh.
Hyunhua chapter 9- 11
Ini author rangkum jadi satu aja reviewnya. Khamsahamnida sebelumnya karena mau terus review tiap chapter. Ini cast utamanya kyu, donghae ama chang aja. Trus tambah jungsoo sedikit. Alasan kyu pake earphone itu ada di chapter awal, author lupa berapa*plakk, mianhe. Kalo kyuline kayaknya gak.
Pertanyaan dr review chingu di chapter 10 udah kejawab di chapter 11. Trus soal appa kim, tunggu aja chapter selanjutnya.
Sparkyubum chapter 11 . 17 Maret
Itu masih dalam proses. Mungkin iya, mungkin tidak*eeh. Pokoknya tunggu chapter selanjutnya*maksa. Kkkk Khamsahamnida
Guest chapter 11 . Mar 16
Manis gula jawa, duh semanis itu kah. Khamsahamnida kalo bgt. Semoga chapter ini jg manis gula jawa deh.
Atik1125 chapter 11 . Mar 16
Ga perlu minta maaf, kamu ga salah kok. Soal konflik emang masih dipertimbangkan ini. Eoh, apa sehidup itu castnya si chwang? Author gak nyangka. Kkk Khamsahamnida kalau bgt.
kyuhaeteuk chapter 11 . Mar 16
Khamsahamnida. Ini yg nulis masih belajar kok, ga bagus bagus amat. Ah, akhirnya ada yg setuju ga nyiksa kyu di fanfic*tosbareng.
LilisssRY chapter 11 . Mar 16
Semanis itu kah? Eits, jgn senyum terus nanti dikira... kkkkk. Becanda loh. Khamsahamnida udah review.
Pcyckh chapter 11 . Mar 19
Ayahnya masih belum mau nongol. Tungguin chapter selanjutnya aja kalo penasaran. Khamsahamnida udah review
Novi chapter 11 . Mar 22
Khamsahamnida, ini gak sekeren itu. Masih banyak salah sana sini
.
.
Buat yg mau add fb : Jung Je Ah
Terus yg mau follow : et puput257
