FANFICTION

MY LOVE, MY STEPMOTHER

CAST : KIM JAEJOONG, JUNG YUNHO, SHIM CHANGMIN, VICTORIA SONG

RATE M/TYPOS/GS

DLDR!

CHAP 12

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah hampir dua bulan jaejoong dan chaerin tinggal di apartment yang changmin sediakan ini. Dan sampai saat ini, keberadaan jaejoong dan anaknya belum juga ditemukan oleh Yunho. Changmin pun masih sering mengunjungi jaejoong sehabis pulang kerja. Changmin selalu datang dan hebatnya, baik Victoria maupun Yunho tidak dapat melacak keberadaan changmin walaupun mereka sedikit curiga.

"Changmin ah, sepertinya sudah saatnya aku bertemu dengan yunho oppa. Chaerin pun sudah hampir tiga bulan dan sudah bisa dibawa keluar." Kini jaejoong sedang duduk diruang tamu apartment. Dengan changmin yang memeluk mesra tubuh jaejoong dari samping.

"Kau yakin sayang? Karena aku tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Tapi aku bisa memastikan bahwa kita akan tetap bersama dengan halangan apa pun."

"Ne, aku sudah memikirkannya. Semuanya…. Semua konsekuensinya pun aku sudah tahu."

"Baiklah. Aku akan menemani mu menemui Appa." Putus changmin

"Aniya. Aku akan datang dengan chaerin saja. Jeball, biarkan aku datang dulu dengan damai. Setelah itu. Kita bisa menyusun rencana untuk selanjutnya."

"Rencana selanjutnya? Maksud mu?" tanya changmin yang sedikit bingung

"Kau tidak berniat untuk segera memiliki ku seutuhnya eoh? Dasar…..!" jaejoong sudah melotot menatap changmin.

"Aigoo mianhe sayang. Bukan begitu maksud ku." Changmin langsung memeluk jaejoong erat.

"….." jaejoong hanya terdiam, menunggu penjelasan changmin.

"Aku sangat ingin menjadikan kau milik ku sayang. Bahkan tubuh dan hati mu sudah menjadi milik ku. Hanya tinggal menunggu kepastian secara hukum saja kan?"

"Arraseo. Mianhe. Aku langsung kesal, tanpa mendengar penjelasanmu." Jaejoong menyenderkan kepala didada changmin.

"Gwaenchana sayang. Baik jika itu mau mu. Kau bisa pergi dengan chaerin. Aku akan dimansion saja bersikap biasa dan menunggu mu. Arra?" changmin mengangkat dagu jaejoong dan jaejoong mengangguk sambil tersenyum manis.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Akhir pekan yang dinanti pun akhirnya tiba. Tepat pukul 9 pagi, jaejoong sudah berdiri didepan gerbang Mansion keluarga Jung dengan mengendong chaerin ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggenggam gagang koper. Penampilan jaejoong pun sudah berubah. Rambutnya tetaplah sebahu, akan tetapi dia mengecat rambut pirangnya menjadi warna Coklat Marron. Hot Mama!

Dengan tarikan nafas panjang, jaejoong memberanikan dirinya untuk memencet bel. Tidak butuh waktu lama sampai muncul wajah kepala pelayan dilayar intercom.

"Selamat Pagi Kepala Kang, bisa kah saya masuk?" jaejoong berkata dengan sedikit ragu.

"Astaga nyonya Jung. Silahkan masuk." Kepala pelayan Kang langsung memutus sambungan intercom dan tidak lama pintu gerbangpun terbuka, dengan pengawal keluarga Jung yang sudah menyambutnya dan dengan sigap mereka mengambil alih koper jaejoong.

"Selamat datang kembali nyonya Jung." Para penjaga membungkuk memberi hormat.

"Ne, senang bisa kembali bertemu dengan kalian lagi." Sapa jaejoong ramah walaupun sedikit gugup.

.

.

.

.

.

Baru beberapa langkah jaejoong berjalan memasuki halaman mansion dengan diikuti oleh beberapa penjaga. Dari arah depannya terlihat seseorang sedang berjalan cepat menuju dirinya.

Grab….. Dengan sangat erat yunho memeluk jaejoong. Sangat erat, sehingga membuat Chaerin yang berada dalam gendongan jaejoong menangis karena kaget.

"Kau kembali Boo….?" yunho melepaskan pelukannya karena mendengar tangisan seorang bayi?

"Dan….. Ya Tuhan Boo, apakah ini anak kita?" yunho akhirnya menatap bayi dalam gendongan jaejoong.

"Ne oppa, dia anak kita. Namanya Chaerin." Jaejoong berusaha menjelaskan.

"Ya Tuhan Jung Jaejoong….." yunho berbicara setengah memekik antara terkejut dan senang.

"Wae oppa?" tanya jaejoong sedikit takut. Jaejoong sudah berpikiran buruk, takut jika yunho menolak chaerin.

"Kau benar – benar jahat memisahkan kami Boo… Boleh kah oppa menggendongnya?" yunho menatap jaejoong

"Tentu boleh oppa." Dengan hati – hati, jaejoong memindahkan tubuh kecil chaerin ke gendongan yunho.

.

.

.

.

"Jaejoong!" dari dalam rumah, dengan masih memakai piyama tidur Victoria berlari menuju jaejoong dan langsung memeluknya.

"Vict…?" ada perasaan tidak nyaman saat Victoria memeluk jaejoong. Pikir jaejoong dia terlalu jahat untuk merebut changmin dari wanita sebaik dan secantik Victoria.

"Kau kemana saja eoh? Kami mencari keseluruh Korea, bahkan hingga ke luar negeri. Kasihan aboji…." Victoria berceloteh dengan masih memeluk jaejoong.

"Kalian bertemu rindu dihalaman rumah. Tidak kah seharusnya kalian membawa jaejoong eomma ke dalam terlebih dahulu? Baru kalian bisa bertanya? Aboji? Vict?" changmin berdiri tidak jauh dari mereka bertiga.

"Ah benar juga. Kajja joongie…." Victoria melepaskan pelukannya, kemudian menuntun jaejoong masuk ke dalam mansion dan melewati changmin.

"Welcome back eomma….." changmin sedikit berbisik ketika jaejoong lewat didepan nya. Dan jaejoong hanya tersenyum menanggapi changmin. Dibelakang jaejoong dan victoria, terdapat yunho yang mengikuti dengan chaerin didalam pelukannya.

.

.

.

.

.

Mereka kini sudah duduk diruang keluarga. Jaejoong duduk disamping yunho, dengan Victoria yang juga duduk berdampingan didepan yunho dan jaejoong. Chaerin pun kini sudah berada dalam gendongan Victoria.

"Chaerin sangat cantik seperti mu joongie eomma." Ucap Victoria sambil mencium pipi gembul chaerin.

"Tentu, bibit keluarga Jung sangat unggul. Keturunan nya pun pasti Tampan dan Cantik. Lihat saja changmin."

"Uhuk…. Yaa appa berhentilah berkata seperti itu. Aku tahu aku terlahir tampan, tapi bisa kan tidak membahas masalah bibit. Itu agak menjijikan." Changmin yang sedang minum capucinno nya terbatuk mendengar kata frontal yunho.

'Ck, ternyata dari yunho oppa, changmin mendapatkan mulut kotor dan otak mesumnya itu.' Batin jaejoong berbicara.

"Haha, mian mian. Lalu kapan kalian akan memberikan cucu untuk appa? Agar Chaerin pun memiliki teman bermain." Yunho mulai membahas masalah anak lagi.

Seketika wajah jaejoong langsung murung. Changmin sedikit terkejut tapi . Dan Victoria tersenyum malu – malu.

"Aboji….. kami masih sibuk masing – masing. Apalagi changmin sedang membuka perusahaan baru lagi."

"Appa kan sudah ada chaerin, bermainlah dengan chaerin dulu." Changmin ikut menimpali.

"Huh kalian ini selalu banyak alasan. Baiklah, jika itu sudah keputusan kalian. Appa hanya ingin yang terbaik."

"Eomma, sepertinya wajah mu terlihat pucat. Lebih baik eomma istirahat terlebih dulu."

"Iya jae, sepertinya kau harus istirahat dulu. Vict, kau akan pergi hari ini?"

"Aniya abojie. Waeyo?

"Kau bisa menjaga Chaerin sampai jaejoong bangun nanti…"

"Aniya oppa, chaerin bisa tidur dengan ku. Kasian Victoria. Aku tidak ingin merepotkan."

"Gwaenchana joongie eomma. Jja sana eomma tidurlah. Biar aku dan changmin yang menjaga uri Princess"

"Arraseo, gomawo." Jaejoong berdiri dari duduknya. Yunho pun ikut berdiri memeluk pinggang jaejoong dan membawanya ke kamar utama. Changmin hanya memandang kepergian jaejoong dan yunho dalam diam.

.

.

.

.

.

"Biar aku yang menggendongnya Vict. Kau mandilah. Adik ku pasti terganggu karena eonni nya masih bau. Hahaha…."

"Ya kau ini nappeun sekali. Baiklah. Ini gendong dengan hati – hati ne." victoria memberikan chaerin kepada changmin.

"Humm…." Kini chaerin sudah berada dalam dekapan hangat oppanya. Yang mungkin tidak lama lagi akan menjadi Ayah tiri nya.

.

.

.

.

.

.

Kini jaejoong masih tertidur dalam kamar nya bersama yunho. Yunho pun sedari tadi sebenarnya tidak tidur. Dia hanya takut, jika nanti terbangun, jaejoongnya akan menghilang. Terhitung sudah hampir jam 12 siang jaejoong belum terbangun. Memang dari semalam sebenarnya jaejoong tidak bisa tidur. Ditambah Chaerin yang memang suka terbangun saat malam hari.

Tok.. Tok… Pintu kamar yunho terketuk dari luar. Dengan perlahan tanpa mengganggu jaejoong, yunho segera turun dari kasur dan membuka pintu.

"Tuan, makan siang sudah siap. Nyonya Muda dan Tuan Muda sudah menunggu diruang makan." Salah seorang pelayan menyampaikan kepada yunho.

"Baiklah, lima menit lagi, kami akan turun bilang pada mereka."

"Ne tuan. Saya permisi." Yunho pun menuntup pintu kamarnya.

Dengan langkah perlahan, yunho mendekati ranjangnya dan duduk disamping tubuh jaejoong yang masih tertidur. Diusapnya pipi putih jaejoong dengan sayang.

"Boojae, saatnya makan siang. Ayo bangun." Dengan lembut yunho berbisik. Tidak perlu menunggu lama sampai akhir nya jaejoong membuka mata indahnya.

"Oppa…? Apakah aku tertidur terlalu lama?" suara jaejoong serak

"Aniya sayang. Kajja kita makan siang. Changmin dan Victoria sudah menunggu kita."

"Ne oppa." Jaejoong bangun dari tidurnya dan yunho dengan begitu perhatiannya membantu jaejoong berdiri.

"Kajja…." Yunho memeluk pinggang jaejoong. Jaejoong merasa sangat asing ketika berdekatan dengan yunho seperti ini lagi. Karena selama ini, changmin lah yang menyentuhnya.

.

.

.

.

.

"Selama ini eomma tinggal dimana eoh?" tanya victoria disela – sela acara makan siang ini.

"Aku tinggal di Jeju. Chaerin pun lahir disana."

"Jeju? Aku sudah menyuruh orang – orang ku untuk mencari mu disana, tapi tidak ada yang menemukan." Terang yunho

"Maaf oppa….. aku memakai nama samaran. Tidak juga sih, sebenarnya itu nama kecil ku." Jelas jaejoong.

"Sudah lah appa… yang penting kan sekarang eomma sudah kembali dan datang bersama anak kalian. Sekarang tinggal appa mengurus semua keperluan adik ku. Mungkin vict noona bisa membantu eomma untuk membeli perlengkapan Chaerin." Changmin berbicara sangat tenang dan santai. Jaejoong hanya menatap changmin kagum.

'dasar manipulator' ucap jaejoong dalam hati.

"Ah benar juga. Kajja eomma, bagaimana jika hari ini saja kita berbelanja. Biar chaerin bersama appa dan changmin saja di Mansion."

"Andwae!"

"Shirreo!" jawab yunho dan changmin bersamaan.

"Eh? Waeyo?" jaejoong menatap changmin dan yunho bergantian

"Mana mungkin chaerin ditinggal? Jika dia menangis bagaimana? Pasti dia juga kan masih menyusu kan?" jawab changmin.

"Betul kata changmin. Kami akan ikut kalian. Dan ada maid yang akan menjaga chaerin." Yunho menambahkan.

"Aish, kalian membuat kaget saja. Iya lebih baik chaerin dibawa." Jaejoong menyetujui usul ayah dan anak ini.

.

.

.

.

.

Sehabis makan siang, mereka berempat berserta Chaerin ditemani seorang maid dan supir berangkat menuju ke Pusat Perbelanjaan terbesar di Seoul. Mereka diantar dengan mobil limosin hitam milik yunho yang dapat menampung mereka semua.

Selama perjalanan, chaerin sangat nyaman dalam dekapan yunho. Terkadang yunho dan Victoria yang duduk berhadapan menggoda chaerin sehingga bayi tersebut tersenyum lucu yang membuat kedua orang ini memikik kegirangan.

"Changmin ah, kapan kalian akan punya anak eoh? Kau tidak lihat betapa Victoria sangat senang menggoda Chaerin?" yunho bertanya pada changmin namun matanya memandang Victoria dan Chaerin.

"Nanti appa, aku akan membuat anak yang sangat banyak. Agar mansion appa tidak sepi lagi." Changmin berkata sambil menatap jaejoong dan Jaejoong yang ditatap changmin merasa sedikit bahagia, bisa saja changmin ingin anak yang banyak dari jaejoong kan?

Akan tetapi kebahagiaan itu sirna ketika changmin beralih menatap Victoria. Bahkan changmin menggenggam tangan Victoria dan mencium punggung tangannya serta menatap Victoria dengan cinta. Ya begitu lah pemikiran jaejoong. Jaejoong pun langsung membuang muka asal tidak melihat mereka.

.

.

.

.

.

.

Hampir setengah jam mereka melintasi jalanan kota seoul diakhir pekan yang cukup padat ini. Dengan perlahan yunho turun dari mobil diikuti oleh Victoria, jaejoong dan kemudian changmin. Saat jaejoong turun, dengan sengaja changmin mencubit pantat jaejoong yang pastinya tidak terlihat oleh yunho maupun Victoria. Mau tidak mau jaejoong harus turun dengan menahan rasa kesal.

"Oppa, biar aku saja yang menggendong Chaerin. Tangan oppa pasti pegal." Jaejoong mendekati yunho.

"Aniyo eomma, biar aku saja yang menggendong chaerin. Eomma berjalan dengan aboji saja" Victoria buru – buru menggendong Chaerin.

"Yaa anak nakal, pelan – pelan. Kau tidak tahu sangat susah membuat seorang bayi sampai secantik itu eoh?" yunho sedikit berteriak.

"Ya oppa… jangan berbicara sevulgar itu.." jaejoong tersipu malu. Changmin menatap jaejoong tidak suka.

'Kenapa harus merona seperti itu?' ucap changmin dalam hari

"Appa berhenti untuk berkata tanpa disaring seperti itu arra? Kajja eomma…" changmin memarahi yunho dan berjalan menarik tangan jaejoong untuk masuk ke dalam pusat perbelanjaan.

"Ya changmin ah jangan marah seperti itu. Hati – hati membawa jaejoong. Awas jika eomma mu sampai lecet." Lagi – lagi yunho berteriak. Yunho tersenyum melihat changmin sudah menerima jaejoong dan sudah berusaha akrab.

'Semoga ini menjadi awal yang baik. Terima kasih Min ah~' ucap yunho dalam hati.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mereka berjalan beriringan memasuki sebuah Butik baju khusus anak – anak. Butik ini menjual berbagai macam jenis baju, celana, coat, topi, sepatu hingga stroller bayi dari berbagai macam merk fashion bayi terkenal dunia seperti Burberry, Chloe, dan Lili Gaufrette.

Karena butik ini disediakan sofa untuk pengunjung, maka changmin membawa jaejoong untuk duduk disana. Dan tangan changmin masih dengan nyaman menggenggam tangan mungil jaejoong. Baru saat yunho dan Victoria memasuki butik, jaejoong memaksa untuk melepaskan genggaman tangan changmin.

"Eomma biarkan aku saja yang memilih eoh? Eomma duduk dan gendong chaerin saja." Victoria memberikan chaerin kepada jaejoong yang duduk disamping changmin.

Tanpa disuruh pun, yunho sudah duduk disamping jaejoong yang masih kosong. Yunho sudah menggoda chaerin lagi. Sepertinya ayah baru kita ini tidak ingin berjauhan dengan anak perempuannya.

Victoria dengan dibantu oleh beberapa pelayan butik memilihkan beberapa baju dan gaun untuk Chaerin.

"Sayang, umur chaerin baru 3 bulan dan kau sudah membelikan baju untuk anak 1 tahun." Ucap changmin yang melihat kelakuan istrinya.

"Aniya, aku juga membeli baju kodok yang fleksibel." Victoria menunjukkan baju kodok berwarna pink dan putih merk Chloe.

"Boo, lebih baik kau temani Victoria membeli, agar tidak satu toko ini diborong nya. Berikan chaerin pada changmin saja. Biar dia latihan menjadi ayah."

"Tapi oppa…"

"Sudah, berikan chaerin pada ku. Toh dia tidak akan nangis, karena aku Oppa nya." Changmin sudah memposisikan tangannya untuk menggendong chaein. Mau tidak mau, jaejoong akhirnya memberikan chaerin pada changmin.

'Kasihan sekali kau uri aegi. Sudah berapa tangan yang menggendong tubuh mungil mu nak?' tanya jaejoong dalam hati.

Chaerin akhirnya berpindah tangan untuk kesekian kalinya. Dan kali ini berpindah ke tangan oppanya. Tanpa ada rasa canggung atau kaku changmin menggendong chaerin. Sama seperti changmin menggendong chaerin tadi pagi. Ya karena changmin sudah terbiasa dengan chaerin dan sepertinya chaerin pun sudah terbiasa dengan oppanya.

Jaejoong beranjak dari duduknya dan menghampiri Victoria.

Jaejoong memilih beberapa baju dan dress yang lucu, kemudian dia beralih ke tempat sepatu dan topi. Warna putih, kuning dan pink menjadi pilihan jaejoong. Disini juga terdapat beberapa baju yang changmin pernah belikan untuk chaerin selama mereka bersembunyi.

.

.

.

.

.

"Changmin ah…. Kau sepertinya sudah terbiasa menggendong bayi eoh?" tanya yunho

"Aniya, hanya mengikuti insting saja. Hanya perlu berhati – hati saat menggendongnya."

"Ah, appa kira kau sudah terbiasa. Hehehe…." Yunho terkekeh. Sebenarnya yunho sedikit curiga saat changmin tidak canggung sewaktu menggendong chaerin.

"Aboji, kami sudah selesai." Victoria datang sambil menggandeng tangan jaejoong dan dibelakang mereka terdapat tiga pelayan butik yang setia mengikuti sambil membawa barang yang telah mereka pilih.

"Kajja kita bayar." Yunho sudah berdiri terlebih dahulu, diikuti oleh changmin yang masih menggendong chaerin yang tengah tertidur.

Chaerin pun terlihat sangat nyaman saat berada dalam dekapan changmin.

"Eomma, appa, bisa kah malam ini chaerin tidur dengan kami?" changmin bertanya pada jaejoong dan yunho yang berada didepannya.

"Aniyo, appa saja yang appa nya belum pernah tidur dengan dia. Tidak bisa. Kau lain kali saja." Yunho menolak dengan tegas.

"Dasar pelit." Protes changmin

Yunho hanya tersenyum menang dan membayar semua belanjaan untuk sang princess tercinta.

"Tolong semua dikirimkan ke alamat ini saja." Yunho memberikan kartu namanya.

Drrtttt….. drttt…. Ponsel yunho bergetar dalam saku celananya.

Saat melihat caller id penelepon, yunho langsung mengangkat telepon tersebut dan berjalan menjauh dari jaejoong.

"Ada apa?"

[Wanita yang diduga bersama dengan Tuan Muda Changmin saat terlihat di bandara penerbangan domestic bernama Han Youngwoon Tuan. Akan tetapi ada yang aneh Tuan.]

"Lanjutkan….." yunho masih mendengarkan dengan seksama.

[seminggu sebelum saya melihat Tuan muda changmin di bandara, Nama Tuan Muda tercantum pada penerbangan ke Inggris. Dan dua hari setelah saya melihat Tuan muda, nama tuan muda tercantum lagi di kedatangan dari Inggris.]

"Kau yakin dengan data yang kau dapatkan ini?" yunho mengerutkan keningnya. Yunho seakan tidak percaya.

[Ne Tuan, saya sudah memeriksa penerbangan domestic dan international selama sebulan setelah dan sesudah saya melihat Tuan Muda Changmin.]

"Baiklah. Dapatkan informasi lebih akurat lagi.

[Baik Tuan.] Yunho langsung mematikan teleponnya.

'Han Youngwoon? Siapakah yeoja itu?' Dia memandang changmin dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kajja oppa. Terima kasih atas belanjaannya." Jaejoong menghampiri yunho.

"Eoh? Sudah kewajiban ku sayang. Chaerin kan anak Jung Yunho, sudah sepantasnya dia mendapatkannya. Kajja, bisa makan malam diluar sekalian." Yunho memeluk pinggang jaejoong dan changmin melihat itu.

"Appa, kita langsung pulang atau bagaimana?" changmin bertanya

"Aniyo, kita sekalian makan diluar saja. Kau ingin makan apa Boo?"

"Aku? Ingin makan ramen saja oppa."

"Mwo? Ramen?" yunho sedikit kaget. Ramen? Pinggir jalan? Bukannya yunho tidak suka ramen, akan tetapi jika dipinggir jalan.

"Ne, ramen pinggir jalan. Dulu saat aku sekolah, ada kedai ramen yang enak didekat disini.

"Tapi eomma, ramen pinggir jalan? Eomma yakin?"

"Waeyo? Ada masalah jika dipinggir jalan? Ah….. mianhe oppa. Kalian kan mana mau makan dipinggir jalan. Hehehe…. " hati jaejoong sedikit sakit, karena dia sendiri lah disini yang tidak sebanding dengan gaya hidup keluarga Jung. Siapakah dirinya yang hanya mahasiswa beasiswa yang berkesempatan bekerja diPerusahaan Jung dan menikah dengan Pemiliknya pula. Jaejoong hanya beruntung. Dan hari ini dengan tidak sopannya jaejoong mengajak pemilik perusahaan besar beserta keluarganya untuk makan di Kedai pinggir jalan.

"Kajja eomma…" dengan tangan kanan yang masih menggendong chaerin, changmin menarik tangan kanan jaejoong. Dan otomatis membuat tubuh jaejoong terlepas dari rangkulan yunho yang tidak terlalu yang masih sedikit shock ikut saja saat changmin membawa nya pergi.

"Boojae tunggu… " yunho menyusul jaejoong dan changmin dan mendekati jaejoong.

Mau tidak mau, changmin berhenti. Jaejoong yang sudah tersadar malah menunjukkan gestur menolak untuk didekati yunho. Sehingga sebagian tubuh jaejoong bersembunyi dibelakang tubuh changmin. Dan jangan lupa, tangan mereka yang masih bertautan.

"Sebaiknya appa pulang saja bersama dengan vict noona. Biar aku saja yang mengantar jae eomma." Sebelum yunho berbicara lagi, changmin langsung memotong omongan yunho.

"aniya, kau saja yang pulang bersama victoria. Bia appa yang mengantar eomma mu. Bawa juga chaerin pulang."

"Mianhe oppa, lebih baik changmin saja yang mengantar ku. Dan biarkan chaerin bersama kami. Kajja... min.." jaejoong yang membalikkan badan terlebih dahulu tanpa melihat raut wajah yunho maupun jawaban yunho.

"Baiklah, pulanglah setelah makan malam mu selesai. Oppa minta maaf boo..." ucapan yunho hanya dianggap angin lalu oleh jaejoong

Jaejoong dalam mood yang buruk karena perkataan yunho dan ditambah ucapan victoria yang semakin menegaskan posisi kasta nya yang tidak lah pantas bersanding dengan yunho.

"tolong jaga eomma dan adik mu changmin ah. Jangan biarakan eomma mu pergi sendirian." Ucap yunho sedikit berteriak. Karena jaejoong sudah menyeret tubuh besar changmin menjauh.

"Aboji... mianhe, ucapan ku sepertinya menyinggung eomma. Mianhe..." victoria menghampiri yunho.

"Gwaenchana, mungkin eomma mu hanya lelah atau sedang bad mood. Kajja kita makan malam di mansion saja." Yunho mendahului victoria untuk menuju lobby mall.

'Waeyo changmin ah?' Victoria memandang sendu punggung changmin yang sudah menaiki taxi. Kemudian victoria berjalan menyusul yunho.

.

.

.

.

.

"Gwaenchana baby?" changmin mencium punggung tangan jaejoong yang masih berada didalam genggamannya.

"Not really..." jaejoong menyenderkan kepala nya dibahu changmin.

"Kau masih ingin makan? Atau ingin pergi ke tempat lain hum?"

"Aku masih ingin makan ramen pinggir jalan itu. Lalu..."

"Lalu?" changmin menunggu kelanjutan kata – kata jaejoong.

"tidak ingin pulang ke mansion... aku..."

"Aniya, habis makan, kita akan tetap pulang. Aku yakin victoria dan appa tidak bermaksud seperti itu. Appa anak tunggal keluarga Jung. Aku pun begitu. Tapi bedanya, karena aku pemakan segala. Jadi asal itu enak, tidak peduli dipinggir jalan atau restoran mahal, tetap saja aku makan."

"Tapi kata yunho oppa dan vict memang benar. Aku malu... malu bahwa aku tidak sepadan dengan kalian para bangsawan."

"Geumanhae... jangan membahas tentang kasta atau golongan lagi. Kau sekarang Nyonya Jung. Suka tidak suka, kau harus terima. Appa dibesarkan dengan peraturan dan kediplinan. Aku beruntung karena appa tidak terlalu keras mendidik ku. Ya walau pada akhirnya aku jadi seperti ini. Sedikit pembangkang dan egois."

"Ish, kenapa kau yang malah bercerita. Aku kan sedang kesal." Jaejoong bosan mendengar cerita changmin.

"Arra.. arra... kajja kita sudah sampai. Benar ini tempatnya kan?" taxi berhenti disebuah kedai pinggir jalan yang cukup ramai. Changmin melihat ke sekeliling kedai tersebut.

"Not Bad. Aku rasa ini enak. Karena ramai dikunjungi. Kajja sayang." Sebelum turun, tidak lupa changmin membayar taxi.

Changmin turun terlebih dahulu bersama chaerin didalam gendongannya, kemudian diikuti oleh jaejoong. Digenggamnya tangan jaejoong saat memasuki kedai ramen tersebut.

"Ahjumma, ramennya dua. Yang satu extra pedas ya." Jaejoong berteriak menghampiri ahjumma yang sedang sibuk membuat ramen.

"Eoh? Kim Jaejoong kan? Aigoo... sudah lama sekali kau tidak kemari. Kau datang bersama siapa eoh?" ahjumma tersebut berhenti memasak, untuk melihat jaejoong.

"Hehehe... Oraemaniyeyo ahjumma..." jaejoong sedikit membungkuk kan badannya. Diikuti oleh changmin yang tersenyum.

"Aigoo... apa ini suami dan anak mu eoh? Tampan sekali. Kau memang pintar mencari suami jae... jja duduk lah, nanti sooyoung yang akan mengantarkan nya untuk mu."

"Ne ahjumma..." jaejoong menuntun changmin untuk duduk.

"Aigoo tampannya suami mu..." setelah duduk, changmin sengaja menggoda jaejoong dengan menirukan kembali ucapan ahjumma yang tadi.

"Aish jinjja... ne ne ne... kau memang yang paling tampan. Suami ku tersayang Jung Changmin..." jaejoong terkekeh geli.

'Seandainya aku memang suami sah mu jae.' Changmin hanya tersenyum mendengar perkataan jaejoong yang barusan.

.

.

.

.

.

Setelah hampir menunggu sepuluh menit, akhirnya pesanan jaejoong pun tiba. Mangkuk ramen tersebut diantar oleh seorang remaja muda yang sangat cantik. Namanya Choi Sooyoung. Anak ahjumma pemilik kedai ramen ini.

"Jaejoongie eonnie. Ini pesanan mu." Dengan sopan sooyoung meletakkan mangkuk – mangkuk tersebut diatas meja.

"Aigoo, benarkah ini uri sooyoung? Ck, kau cantik sekali. Kau tumbuh dengan sangat baik."

"Hahaha, aniya eonnie ya. Eonnie pun makin cantik saja. Dan... Omoo... bukan kah ini tuan muda Jung?" sooyoung melihat changmin.

"Ah ne, annyeonghaseyo. Jung Changmin imnida..." changmin tersenyum lagi.

"Ah sooyoung ah, jika kau tidak sibuk. Mau kah kau dan ahjumma mengobrol dengan kami? Aku rindu sekali dengan kalian." Jaejoong memegang tangan sooyoung.

"Ne eonnie, kebetulan ramen eonnie adalah ramen terakhir."

Changmin melihat jam tangan mahalnya.

"Ini baru jam enam sore dan sudah habis?"

"Ne Tuan muda, eomma sekarang sering sakit jadi tidak banyak membuat mie nya." Sooyoung menjelaskan.

"Ah, arrayo. Jja, kembali lah bekerja." Jaejoong menepuk lengan sooyoung.

"Ne eonnie. Tunggu kami ya." Sooyoung membungkuk dan meninggalkan meja jaejoong.

"Ahjumma itu yang membuat mie nya sendiri. Nanti akan aku ceritakan. Sekarang kajja makan." Jaejoong langsung melahap ramen extra pedasnya.

Melihat kelakuan jaejoong, changmin hanya tersenyum. Mana bisa changmin makan sedangkan tangannya masih menggendong chaerin yang tertidur. Changmin harus rela menunda bercinta dengan makanan tercintanya, demi sang pujaan hati. Biarlah dia menunggu jaejoong menyelesaikan makan nya dulu.

Hanya butuh waktu kurang dari lima belas menit, jaejoong sudah menyelesaikan makan malamnya. Bibir dan pipi nya belepotan noda kuah ramen. Dengan sabar changmin membersihkan bibir dan pipi jaejoong. Jaejoong yang mendapat perlakuan manis dari changmin hanya tersenyum saja. Sampai akhirnya jaejoong sadar bahwa changmin belum sama sekali menyentuh mangkuk ramennya.

"Min, kenapa belum dimakan? Apa tidak enak atau…" ucapan jaejoong terputus karena changmin mengangkat tubuh chaerin.

"Astaga Min, mianhe." Jaejoong langsung mengambil alih tubuh mungil chaerin dari gendongan changmin. Jaejoong jadi tidak enak sendiri karena sudah berpikiran yang macam - macam tentang changmin. Hufttt….

Changmin hanya membalas jaejoong dengan senyuman. Entah mengapa, jaejoong merasa bahwa hari ini changmin lebih banyak diam dan tersenyum. Biarlah nanti saja dia bertanya. Sekarang jaejoong ingin menikmati pemandangan indah saat pujaan hatinya ini sedang makan. Menurut jaejoong, changmin akan berlipat lebih sexy saat makan dan saat sehabis bercinta. kkkkkk...

Kurang dari lima menit, changmin sudah menandaskan ramen dalam mangkuknya. Mungkin karena ramennya sudah dingin, jadi changmin tidak perlu meniupnya lagi. Dan karena changmin foodmonster yang kelaparan, jadi bisa secepat itu menyelesaikan acara makannya.

"Eh? Cepat sekali?" jaejoong terkaget melihat changmin dengan cepat menyelesaikan makannya.

Padahal jika sedang bercinta, changmin akan sangat lama keluarnya. Ehh….' jaejoong memerah sendiri karena perkataannya dalam hati.

"Kau kenapa sayang? Pipi mu kenapa memerah? Apa terlalu dingin? Atau terlalu pedas makanannya?" changmin mengusap pipi merah jaejoong. Uh, changmin tidak tahu saja jika jaejoong sedang membayangkan yang iya - iya dengan changmin.

"Aniya changmin ah, hanya ramennya terlalu pedas. Jadi wajah ku ikut memerah"

"Ck, sebenarnya aku ingin sekali mencium bibir mu yang merah menggoda ini jae. Tapi aku sadar ini didepan umum."

mendengar ucapan changmin seperti itu, jaejoong malah menggigit bibir merahnya yang terlihat semakin menggoda karena efek pedas dan panasnya ramen yang baru dia makan. Dan changmin makin frustasi melihat kelakukan jaejoong ini.

"Aku bersumpah akan segera melempar mu ke ranjang dan memperkosa mu sampai kau lemas jae." changmin sedikit berbisik saat mengucapkan kalimat itu. Dan pasti jaejoong masih dapat mendengarnya.

"Aish, bicara mu itu selalu frontal. Tidak lihat situasi. Kalau ada orang yang dengar bagaimana hah?"

"Biar saja, toh aku tidak peduli" jawab changmin acuh.

"Maaf menunggu lama ne." ahjumma pemilik kedai beserta anak nya duduk bergabung dengan jaejoong dan changmin.

"Gwaenchana ahjumma. Apa kami mengganggu ahjumma?" jaejoong merasa tidak enak jika ahjumma tersebut menutup kedainya lebih awal.

"Aigoo, gwaenchana. Jja jadi kemana saja kau selama ini eoh? Menikah dan memilki anak, tapi tidak bilang pada ahjumma."

"Eomma, joongie eonnie menikahi seorang Jung. Presdir Jung pemilik Hotel dan Mal."

"Omo omo…. Pantas saja, ahjumma tidak diundang, kau malu ya…." ahjumma tersebut menampakkan wajah yang kecewa.

"Aniya ahjumma… kenapa aku harus malu.. Mianhe ahjumma.." jaejoong memegang tangan ahjumma tersebut.

"Mianhe ahjumma, jaejoong dan appa menikah di jepang. Itu pun yang hadir hanya keluarga inti saja." changmin bantu menjelaskan. Changmin jadi merasa tidak enak juga.

"Ah? Appa? Maksud kalian?" ahjumma tersebut bingung.

"Aniya ahjumma… kenapa aku harus malu.. Mianhe ahjumma.." jaejoong memegang tangan ahjumma tersebut.

"Ah bisa kah kalian memanggil saya dengan Changmin saja? Tidak usah pakai tuan muda segala. Saya merasa tidak enak."

"Tapi Tuan muda…"

"Sudah lah sooyoungie, changmin saja tidak keberatan dipanggil hanya nama saja."

"Baiklah…" jawab Choi Ahjumma dan sooyoung bersamaan sambil tersenyum.

"Lalu yang dalam gendongan mu itu, anak mu dengan appa nya changmin ssi?" tanya ahjumma penasaran.

"Tentu saja ahjumma." jawab jaejoong

"Ah tadinya ahjumma kira, dia itu anak dari changmin ssi, karena anak ini lebih mirip changmin. Mungkin karena mereka kakak beradik. Hahaha, maafkan ahjumma ne…"

"Gwaenchana ahjumma, keturunan Jung memang lebih banyak mirip. Makanya banyak yang salah mengira. Saya pun jika sedang berjalan dengan appa, sering kali dibilang kakak beradik."

"Ah seperti itu. Mungkin karena bibir unggul kali ya. Hahaha…" semua nya ikut tertawa.

"Changmin oppa… boleh kah saya memanggil seperti itu?" sooyung memberanikan diri bertanya.

"Dengan senang hati sooyoung ah, saya anak tunggal, jadi tidak tahu rasanya memilki adik perempuan. Sekalinya dapat, dia masih sangat kecil." changmin tersenyum

"Jaejoong ah, kemana suami mu? Apa dia tidak ikut?"

"Ah, appa masih ada urusan dikantor, jadi saya yang ditugaskan untuk menemani eomma makan disini. Lain kali, saya akan mengajak beliau dan istri saya kemari."

"Kau pun sudah beristri ya? Wah pasti istri mu sangat cantik sekali ne. beruntungnya yeoja itu."

"Eomma, istri dari changmin oppa itu seorang model dan desaigner terkenal." sooyoung menambahkan.

"Aigoo, ahjumma jadi minder karena bertemu dengan orang - orang terkenal seperti kalian ini."

"Ahjumma sudah lah. Jangan seperti itu. Kami tidak sehebat yang ahjumma pikirkan."

"haha, arra arra. Ahjumma akan berhenti menggoda kalian."

"Sooyoungie, apakah kau sekarang sudah masuk kuliah? Tahun ini kau lulus Senior High School kan?"

"Aniya eonnie, mungkin baru tahun depan, karena uang untuk biaya kuliahnya belum ada. Hehe." jaejoong yang mendengarnya hanya tersenyum maklum.

"Ahjumma, bagaimana jika sooyoung bekerja part time saja? Untuk orang yang membantu ahjumma, akan jae carikan. Biar jae yang menggaji mereka untuk sementara. Rencananya kau ingin masuk jurusan apa sooyoung ah?"

"Aku ingin masuk di desaign eonnie, aku ingin menjadi desaigner."

"Arraseo, kau bisa bekerja di Butiknya Victoria dulu untuk sementara. eonnie akan berbicara dengannya. kau sudah tahu ingin masuk Universitas mana?"

"Untuk Universitasnya aku belum memilih eonnie. Apa tidak apa jika aku bekerja di tempat victoria ssi? Apalagi aku tidak memiliki basic apa - apa eonnie."

"Gwaenchana, jika tidak di butik victoria, aku akan mencari tempat kerja untuk mu. Ya kan changmin?" jaejoong menatap changmin tajam.

"Ne kau tenang saja. oppa memilki beberapa koneksi di bidang fashion dan entertaiment. tapi oppa tidak menjanjikan posisi yang baik, oppa hanya pembuka jalan." changmin menjelaskan.

"Ne oppa, gwaenchana." sooyoung tersenyum senang.

"Ini kartu nama oppa, kau bisa menelepon ke kantor oppa atau… ini ada nomor ponsel pribadi oppa.." changmin menuliskan nomor posel pribadinya dibalik kartu nama berwarna Silver tersebut.

"Apa tidak apa - apa oppa? Aku jadi tidak enak."

"Gwaenchana sooyoung ah. ini waktunya eonnie balas budi pada ahjumma dan kamu."

"Joongie, ahjumma sebenarnya kesal, kenapa kau bisa sebaik ini pada kami. Kita kan bukan saudara kandung, tapi kau begitu baik…"

"Ahjumma jangan berbicara seperti itu. Ahjumma yang selalu memberikan makanan gratis pada joongie, jika joongie sedang kesusahan. jika sooyoung namja, mungkin joongie akan menikahi sooyoung untuk berbakti pada ahjumma." jaejoong tersenyum manis pada Choi Ahjumma.

'Heh, untung saja sooyoung yeoja. Terkadang aku tidak paham dengan jalan pikiran jaejoong.'

"Kajja eomma kita pulang. Appa pasti sudah pulang."

"Baiklah, ahjumma kami pamit dulu ne, kapan - kapan kami akan makan kesini lagi." Changmin berdiri terlebih dahulu sambil mengeluarkan dompetnya.

"Aniya jangan dibayar changmin ah, ini gratis."

"Ahjumma..." jaejoong merengek karena merasa tidak enak

"Aniya. Pokoknya ahjumma tidak mau menerima."

"Aish, baiklah. Tapi lain kali, ahjumma jangan menolak eoh."

"Arraseo… jja pulang sana. Hati - hati dijalan ne." ahjumma dan sooyoung berjalan mengantar jaejoong dan changmin ke depan kedai.

Changmin sudah berada dipinggir jalan untuk menyetop taxi. Tidak sampai semenit, taxi sudah terpakir manis didepan kedai ramen choi ahjumma.

"Eomma, taxinya sudah ada, kajja." changmin menghampiri jaejoong kemudian mengambil chaerin dari gendongannya.

"Ne, annyeong ahjumma." jaejoong sedikit membungkuk kepada Choi Ahjumma. Kemudian memasuki Taxi diikuti oleh changmin.

.

.

.

.

.

.

.

"Min, aku tidak mau pulang." jaejoong memeluk changmin dari samping dan menyenderkan kepalanya dibahu changmin.

"Baiklah, tapi kita harus melakukan beberapa adegan dulu bagaimana? Ahjusshi, bawa kami ke Grand Hilton"

"Melakukan apa Min?" tanya jaejoong bingung

"Sudah pokoknya ikuti saja. Agar kita aman di kemudian hari."

"Ish, arraseo."

"Gomawo." jaejoong mengecup pipi changmin sekilas.

"Aku minta hadiah ku sayang." changmin membisikkan kalimat tersebut sambil menjilat telinga jaejoong.

"Arra arra…. Untuk changminie ku yang paling tampan dan baik hati. Aku akan memberikan mu hadiah."

"Bagaimana dengan blow job dan empat ronde liar?"

"Aniya, blow job dan satu ronde saja. Aku lelah sekali hari ini." jawab jaejoong manja

"Deal." changmin mengecup bibir jaejoong.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya sampai lah mereka di Grand Hilton, changmin turun terlebih dahulu dan langsung menuju Resepsionis. Jaejoong yang masih belum mengerti hanya mengikuti changmin tanpa proses.

"Saya pesan dua kamar atas nama Jung Changmin." changmin kemudian menyerahkan credit cardnya dan kartu identitasnya.

Resepsionis pun langsung memproses semuanya. Hanya butuh waktu lima menit sampai changmin mendapatkan kartu kamarnya.

"Ayo jae." changmin berjalan terlebih dahulu sambil memegang dua buah kartu. Jaejoong lagi - lagi hanya bisa diam mengikuti changmin

Mereka memasuki Lift yang sudah ada penjaga lift disana.

"Lantai berapa tuan?"

"Lantai 12" jaejoong berdiri disamping changmin.

Ting…. Sampai lah mereka dilantai dua belas. Changmin lagi - lagi meninggalkan jaejoong dibelakang.

Changmin mencari nomor kamarnya dan nomor kamar jaejoong. Setelah ketemu, Changmin langsung memberikan kartu milik jaejoong.

"Tiga puluh menit lagi, tunggulah aku didepan pintu kamar ini. arraseo. Jangan kurang dari tiga puluh menit. Jja beristirahatlah sebentar."

"Ada apa sih?" akhirnya jaejoong bertanya.

"Sudah turuti saja perintah ku. Sana masuk. Kamar ku ada tepat didepan kamar mu."

"Ne." jaejoong memasukkan kartu nya ke dalam slot, dan pintu terbuka. Jaejoong langsung masuk tanpa menoleh ke arah changmin. Begitu pintu kamar jaejoong tertutup, changmin langsung mendial nomor kyuhyun.

"Cho Kyuhyun ssi….." suara changmin dingin

"Eoh? Nuguya?" disebrang telepon terdengar suara kyuhyun yang bingung. Kyuhyun langsung melihat ID Caller. Yang ternyata tertera nama 'Lord Min'.

"Neo! Kenapa nada suara mu begitu eoh? Ada apa chwang?"

"Tolong Matikan CCTV di Grand hilton lantai 12 dan sekitar Lift sampai ke Lobby. Matikan sampai besok pagi."

"Waeyo? Memangnya kenapa?"

"Aku dan jaejoong sedang di Grand Hilton. Dia marah pada appa makanya tidak mau pulang dan aku bawa dia kesini. Tapi….."

"Tapi?"

"Sebelum kesini kami sudah berjanji untuk menghabiskan malam panas. Dan akan sangat beresiko jika kami melakukan di hotel, makanya tiga puluh menit lagi kami akan check out."

"Dasar Brengsek. Kau bilang jaejoong? Jadi kau sudah berhasil menemukannya eoh?"

"Ya, nanti akan ku ceritakan semua. Sekarang tolong lah aku. Ku beri waktu hanya tiga puluh menit saja."

"Aish, baiklah tuan tukang suruh. Tunggu sepuluh menit lagi. Akan ku telepon kembali"

"Humm" changmin langsung mematikan tanpa mendengar jawaban dari kyuhyun.

Disebrang telepon, kyuhyun hanya bisa mengumpat. Dia sedang asik - asikan bermanja dengan sungmin. Kemudian, manusia brengsek yang sayangnya adalah sabahatnya mengganggu waktu tenangnya.

"Ada apa kyunie?"

"Maaf sayang, seperti biasa. Changmin mengganggu. Beri aku waktu setengah jam ne untuk menyelesaikan misi." kyuhyun langsung duduk dari tidur - tiduran manjanya di pangkuan sungmin.

Dia langsung melesat menuju ruang kerjanya dan membuka laptop rahasianya. Ya sebagai Pengusaha dan seorang hacker, kyuhyun memiliki dua laptop terpisah. Langsung dibukanya akses untuk melancarkan misinya. Dengan mudahnya dibobol sistem keamanan Hotel sekelas Hilton.

Terpampanglah gambar denah hotel tersebut,dan tujuan khyuhyun adalah Lantai 12, sekitar lift dan lobby hotel.

Dengan cekatan, jari jemari kyuhyun mencari dimana titik - titik letak CCTV. Dilantai dua belas hanya terdapat enam buah CCTV, kyuhyun langsung merubah domain rekaman CCTV tersebut ke lantai enam. sehingga, yang akan terekam adalah aktivitas dilantai enam, bukannya dilantai dua belas. Kyuhyun langsung melakukan video call dengan changmin.

"Changmin ah, kau bergerak ke arah kiri mu, sekitar 10 langkah dipojok kanan atas ada CCTV, dan lambaikan tangan." changmin langsung menuruti perkataan kyuhyun. Dan benar saja, disitu ada CCTV, dan changmin melabaikan tangannya.

"ok, aku sudah melihat mu. Sekarang kau ke lantai 6. posisi CCTV nya sama seperti dilantai ini. Palli."

"Kau mengerjai aku?"

"Aniya pabbo. Kau itu sudah dibantu malah marah - marah. Sudah cepat sana." kini giliran kyuhyun yang mematikan sambungan video call nya.

Dengan menggerutu changmin mau tidak mau menuruti perintah kyuhyun. Karena changmin yakin bahwa kyuhyun akan berhasil. Makanya changmin mau saja melakukannya.

"Bagus. Sekarang kita hapus rekaman empat puluh detik ini, kemudian pindahkan ke lantai enam." tangan kyuhyun langsung menari - nari diatas keybord dan memasukkan huruf sandi - sandi rumit. Dan Viola… CCTV lantai enam berhasil diretas. Sebelum kyuhyun memindahkan sambungan CCTV lantai dua belas ke lantai enam, kyuhyun masih menunggu changmin.

Tidak sampai semenit, changmin sudah sampai dilantai enam. Changmin berjalan menuju arah yang kira - kira sama dengan posisi CCTV berada. Kini giliran changmin yang menelepon kyuhyun.

"Kyu, benarkah posisinya?" changmin sudah berdiri depan CCTV.

"Yeah, kau benar dude. Ok, beri aku waktu dua puluh menit lagi okay. Ini akan agak lama. Jja kembali lah ke kamar mu lagi Tuan Muda Jung Changmin."

"Damn it! Kau itu…. Baiklah. Ku tunggu kabar mu. Gomawo" changmin berbalik menuju lift lagi untuk kembali ke kamarnya dilantai dua belas. Changmin melihat jam rolex yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Sudah hampir setengah jam.

Pintu lift terbuka, changmin keluar dan menelepon jaejoong.

"Jangan keluar dulu. Tunggu lima belas menit lagi." changmin mematikan telepon lagi tanpa menunggu jawaban jaejoong. Changmin berjalan menuju kamarnya. Sebelum masuk, changmin meliriik pintu kamar jaejoong sejenak. Kemudian masuk ke dalam kamarnya.

"Yaa! Dasar Brengsek. Selalu sesuka hatinya!" jaejoong berteriak kesal dengan sikap changmin ini.

.

.

.

.

.

Sesampainya didalam kamar, changmin duduk disofa panjang dekat ranjang dan melempar ponselnya ke sofa.

'Shit' changmin mengumpat karena kesal tidak bisa langsung menyentuh jaejoongnya.

Drrrttttt…. Drrtt… ponsel changmin bergetar diatas sofa.

"Yeobseo…."

"Roger.. Area aman untuk dilewati, Tuan Muda.. "

"Gomawo, aku akan menyiapkan tiket untuk mu dengan noona ke Kyoto. Berliburlah disana."

"Gomawo Tuan Muda, silahkan menikmati malam panas anda bersama ibu tiri anda."

"Sialan kau kyu…."

"Aku hanya mengingatkan Jung Changmin. Jika kalian memang serius, maka teruskan lah. Jika tidak, maka berhentilah. Kasihan Jaejoong noona."

"Arraseo kyu. Gomawo sekali lagi."

"Ne, kau keluarlah dulu. Aku akan memantau lagi. Jika aku tidak menelepon, maka semuanya aman."

"Baiklah." changmin memastikan teleponnya dan berjalan ke luar kamar.

.

.

.

.

.

.

Dia berjalan ke arah CCTV dan melambaikan tangannya didepan kamera. Changmin melihat layar teleponnya. Kyuhyun tidak menelepon. Berarti Aman.

changmin berjalan ke depan kamar jaejoong dan memencet bel kamarnya.

Ting Tong…. Ting Tong….

Jaejoong membuka pintu kamarnya dengan chaerin yang sudah berada dalam gendongannya. Saat jaejoong beranjak keluar, changmin menatap jaejoong dari atas ke bawah.

"Kau mandi?"

"Ne wae? Ada masalah?"

"Aniya, untuk apa kau mandi jika tubuh mu nanti akan aku kotori dengan sperma ku hmm? Ayo…" changmin mengambil alih chaerin dari jaejoong, kemudian dia menggenggam tangan jaejoong dan mengambil kartu kamar dari jaejoong.

"Kau itu kenapa sih…. Mulut mu tidak bisa sehari saja tidak berkata mesum eoh?"

"aku mesum hanya dengan mu sayang." mereka berjalan beriringan menuju lift.

"Kita mau kemana lagi?" mereka memasuki lift.

"Kita akan ke apartment mus aja."

"Lalu kartu kamarnya?"

"Besok akan ku suruh orang mengembalikan."

"Arraseo."

Lift telah berhenti di lobby hotel, changmin langsung berjalan cepat menuju luar lobby dan memasuki taxi yang sudah terparkir si lobby. Sebenarnya jaejoong kesal dengan changmin yang seenaknya menarik tubuh nya kesana kemari. Tapi mau bagaimana lagi, pasti changmin sedang pusing karena menuruti kemauan jaejoong untuk tidak pulang ke Mansion Jung.

"Tolong ke Apartment Samsung do…" ucap changmin tanpa ekspresi.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sekitar tiga puluh menit, mereka sudah sampai di area apartment. Dan changmin minta pada supir taxi untuk menurunkan mereka di Basement saja. biar tidak terlalu mencolok. Entah kenapa Changmin merasa pergerakkannya sedang diawasi.

Changmin keluar terlebih dahulu kemudian diikuti oleh jaejoong. Tidak lupa changmin membayar taxi langsung menggenggam tangan jaejoong dan buru - buru menuju lift.

"hei kenapa terburu - buru sekali sih. Dasar Tuan tidak sabar."

"Biarkan saja." Changmin menekan tombol lift.

"Aku akan menelepon appa, kau naiklah duluan . Bawa Chaerin juga hmm.." changmin memindahkan chaerin kembali ke dekapan sang ibu.

"Ne jangan lama - lama ne." jaejoong memasuki lift.

"Arraseo." saat changmin tersenyum. Pintu lift pun tertutup.

.

.

.

.

.

.

"Appa… jaejoong eomma sepertinya tidak mau pulang. Jadi aku membawanya menginap di Grand hilton. Tenang saja kami beda kamar. Kamar ku terletak didepan kamarnya."

"Yeobseo changmin ah…. Kenapa kalian belum pulang eoh? Makannya sudah selesai kan?"

"jaejoong eomma sepertinya tidak mau pulang. Jadi aku membawanya menginap di Grand hilton. Tenang saja kami beda kamar. Kamar ku ada didepan kamarnya."

"Kenapa begitu? Kenapa boojae tidak ingin pulang? Appa akan menyusul kesana ne…"

"Aniyo appa…. Tidak usah. Sepertinya jaejoong eomma masih kesal dengan appa…"

"Kesal karena apa? apa karena…"

"Ne sepertinya tentang yang tadi sore."

"Aish jinjja, appa kan tidak bermaksud untuk berkata seperti itu."

"Ah molla. Appa telepon dia saja lah. Aku mau tidur dulu.'

"Hei, kenapa kau malah ikutan tidak pulang?"

"Arra aku akan pulang. Tapi, jika eomma kabur lagi, jangan salah kan aku eoh."

"Andwaeyo. Kau jaga lah eomma dan adikmu disana. Tolong jangan biarkan mereka pergi lagi min." suara yunho terdengar lirih.

"Tapi bagaimana caranya aku menjaga mereka? Sepertinya aku lebih baik pulang saja."

"Kau bisa ke kamar mereka dulu. Jaga mereka sampai mereka tertidur. Baru kau bisa kembali ke kamar mu lagi."

"Ck, menyusahkan. Baiklah, aku akan ke kamarnya dan menunggu sampai mereka tidur baru kembali ke kamar ku."

"Ne, gomawo changmin ah."

"Ne appa, sebaiknya appa telepon eomma dulu biar tidak ada salah paham."

"Baiklah, aku akan menelepon jaejoong dulu."

"Ne, ku tutup teleponnya. Annyeong." changmin langsung memutuskan sambungan teleponnya.

.

.

.

.

.

Changmin memasuki apartment jaejoong ketika jaejoong sedang menelepon yunho. Jaejoong terlihat malas – malasan saat menerima telepon. Mungkin jaejoong masih kesal.

Dipeluknya tubuh jaejoong dari belakang. Rupanya jaejoong sudah mengganti baju nya dengan baju tidur satin berwarna hitam. Seingat changmin, changmin tidak pernah membelikan baju tidur sexy ini.

Dengan nakalnya changmin menjilati leher jaejoong yang terbuka. Dan jangan lupa tangan nakal changmin yang sudah menjalar dipaha jaejoong. Lalu reaksi jaejoong? Dia sudah menggigit bibir bawahnya menahan desahan karena dia masih menelepon sang suami.

"Baiklah oppa, aku akan pulang besok pagi. Jaljayo." Suara jaejoong terdengar dingin dan tanpa mendengar balasan dari yunho, jaejoong langsung mematikan ponselnya.

"Kenapa suara mu dingin sekali hum? Kan kasihan appa. Aku rasa dia sangat menyesal."

"Apa yunho oppa kan menyusul ke Hotel? Kalau dia tahu bahwa kita tidak menginap disana bagaimana min?" raut wajah jaejoong langsung berubah cemas.

"Tenang sayang. Semua sudah ku urus. Bahkan jika ponsel mu dilacak pun, appa dan orang suruhannya tidak akan bisa."

"Hufftt…. Baikllah"

Jaejoong menghadap changmin dan mengalungkan lengannya dileher changmin. Diusapnya dengan seduktif tengkuk changmin sambil mendekatkan bibir mereka. Walaupun jaejoong harus berjinjit untuk dapat menggoda bibir tebal kesukaannya itu.

"Waeyo? Kenapa jadi nakal begini?

"Waeyo? Kau tidak suka eoh?" jaejoong mempoutkan bibir pink nya.

"Tentu saja suka sayang. Apalagi jika setiap hari kau berpakaian seperti ini. ughh… aku rasa kau harus minum gingeng terus untuk menambah stamina agar bisa terus menggempur vagina mu sayang."

"Aish kau itu mesum sekali sih. Sana mandi dulu."

"Habis mandi, aku akan mendapatkan hadiah ku kan?"

"Ne… Palliwa." jaejoong mendorong tubuh changmin.

"Arraseo." changmin langsung bergegas menuju kamar mandi. Dia tidak mau membuang waktu lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jaejoong sudah menidurkan chaerin dan sekarang dia sudah duduk manis diatas ranjang memakai celemek maid berwarna putih renda - renda lengkap dengan bando maid yang berwarna senada dengan celemeknya. Sebenarnya baju maid ini memang sengaja jaejoong beli untuk menggoda changmin. akan tetapi, khusus malam ini, jaejoong sengaja tidak memakai seragam maid ini lengkap. seharusnya ada kemeja berwarna hitam lagi dibalik celemek yang dipakainya. namun dengan nakalnya jaejoong tidak memakai kemeja tersebut dan langsung memakai celemek serta stocking berwarna putih selututnya.

Dibalik celemek putih itu pun jaejoong tidak memakai apa - apa lagi. Payudara besarnya pun sedikit menyembul keluar disisi celemeknya dan Putingnya tercetak jelas dibalik celemek itu. Jaejoong yakin seribu persen bahwa changmin tidak akan tahan untuk segera menggagahinya. Membayangkan ke ganasan changmin, jaejoong mulai basah karena terlalu lama menunggu changmin mandi.

Bosan menunggu changmin yang tidak kunjung selesai mandi, jaejoong menelungkupkan badannya sambil bermain game dalam ipad milik changmin. Alhasil pantat bulat putih milik jaejoong pun terpampang nyata. Ckck, ibu muda ini sangat tidak sadar bahaya disekitarnya. karena tidak lama setelah jaejoong asik bermain game, changmin pun keluar dari kamar mandi

Changmin sedikit terkejut ketika dia keluar dari kamar mandi malah disuguhkan pantat mulus milik jaejoong. Dengan perlahan dia mendekati ranjang dan Hap! Ditindihnya tubuh jaejoong.

"Ya! Ini berat sekali min." jaejoong protes karena badannya ditindih changmin yang bobot tubuhnya pasti lebih berat dari jaejoong.

"Arra mianhe sayang" changmin tidak beranjak dari atas tubuh jaejoong, melainkan hanya mengangkat sedikit tubuhnya agar tidak memberatkan jaejoong. Dengan nakalnya changmin menggesekkan penisnya yang belum sepenuhnya tegang dibelahan pantat mulus jaejoong.

"Eungg min~" jaejoong mengeluh karena kegelian

"Waeyo hum?" changmin mengecup cuping telinga jaejoong

"Uhh, geli tuan…" jaejoong mengeluh lagi

"Tuan? Hmm… boleh juga. Aku suka dengan panggilan mu itu maid ku sayang." changmin menggigit cuping telinga jaejoong

Changmin sekarang berlutut diatas bongkahan pantat jaejoong. Dibukanya handuk yang melilit pinggangnya dan dengan sengaja digesekkan lagi penisnya pada belahan pantat jaejoong sambil meremas pantat putih itu hingga memerah akibat ulah tangan nakal changmin.

Setelah puas dengan hanya menggesek, changmin kemudian bangkit dari tubuh jaejoong kemudian pindah duduk dipinggiran ranjang.

"Turun dan layanilah tuan mu ini Maid nakal."

"Ne arraseo tuan." Dengan patuh jaejoong turun dari kasur dan berlutut dihadapan changmin.

"Good girl" changmin mengusap rambut jaejoong. Jaejoong hanya membalas dengan senyuman manis miliknya.

.

.

.

.

Jaejoong mulai dengan menggesekkan pipi nya di batang penis milik changmin. Tangan nya pun tidak tinggal diam, dengan nakalnya diremas - remasnya twinsball milik changmin. Mau tidak mau, changmin pun mendesah. Changmin tidak akan pernah tahan dengan setiap godaan yang jaejoong berikan dalam bentuk apa pun dan baik disengaja atau pun tidak. Intinya changmin akan luluh pada setiap godaan jaejoong.

Jaejoong tetap melanjutkan pekerjaannya. Kini dia sudah mengulum kepala penis changmin dan digesekkannya gigi - gigi nya pada kepala penis itu. Tangannya kini tidak lagi meremas namun mulai mengocok batang penis changmin. Tangan satu nya yang bebas dipakai untuk mengelus paha changmin yang berbulu. Kata orang, jika pria memiliki bulu kaki yang lebat, maka pria tersebut memilki libido yang tinggi dan jago di ranjang. Dan... jaejoong sudah membuktikan hal tersebut.

jaejoong terus mengulum penis changmin, kini tiga per empat penisnya bahkan sudah tenggelam ke dalam mulut jaejoong. Mulut mungil jaejoong tidak dapat menampun seluruh penis panjang dan besar itu.

"Eummm… cmppkkk…" jaejoong terus mengulum batang penis itu dengan semangat dan tangannya kembali meremas twinsball changmin

"Sudah cukup. Sekarang aku haus. Berikan aku minuman." changmin memerintah. Jaejoong melepaskan kulumannya dan penis changmin nampak begitu menggiurkan karena basah oleh liur jaejoong dan mungkin juga bercampur dengan precumnya sendiri. Jaejoong kemudian berdiri dan duduk dipangkuan changmin.

"Kenapa duduk disini? Memang aku memerintahkan mu untuk duduk? Aku kan haus."

"Diam dan nikmati saja tuan. Chu~" jaejoong mengecup sudut bibir changmin.

Setelah jaejoong duduk mengangkang dipangkuan changmin, dibukanya kancing dengan celemek putih penutup satu - satunya tubuh jaejoong. Maka terpampanglah dua buah gunung kembar penghasil susu murni milik jaejoong. Kedua nipple coklat milk jaejoong seakan sudah siap untuk dihisap oleh Tuan muda nakal dihadapannya ini. changmin menjadi anak yang penurut. dia pun hanya diam melihat kegiatan jaejoong.

"Sekarang buka mulut mu Tuan muda.." changmin membuka lebar mulutnya.

Syurrrr…. Jaejoong meremas salah satu payudaranya dan otomatis Asi yang dihasilkan pun menyemprot keluar ke arah mulut changmin yang terbuka. Jaejoong termasuk ibu menyusui yang banyak menghasilkan Asi. Sehingga, terkadang empat jam sekali, jaejoong harus memompa Asinya.

Changmin tidak menyia - nyiakan kesempatan ini pun langsung meraup nipple jaejoong kedalam mulutnya. Hisapnya dengan rakus nipple tersebut sehingga jaejoong memekik ngilu karena dihisap terlalu keras.

"Ahhh, min… calm down… tidak akan ada yang mau merebutnya." jaejoong mengusap rambut tebal milik changmin. Changmin hanya mengangguk.

Tangan changmin tidak tinggal diam, diremasnya payudara jaejoong sebelah kiri yang menganggur untuk dimainkan. Jaejoong yang kenikmatan pun bergerak gelisah. Vagina nya beberapa kali menggesek penis changmin yang sudah sepenuhnya berdiri.

"eungg… Tuan muda.. Sepertinya penis mu sudah tidak tahan ingin dimasukkan. Penis mu terus menggoda vagina saya, Tuan…"

"Eumm… masukkan saja. Mungkin dia sudah kedinginan." changmin berpindah penghisap nipple kiri jaejoong.

Sudah mendapatkan izin dari changmin, bukannya langsung dilaksanakan, jaejoong malah dengan nakalnya menggoyangnya pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Otomatis vagina jaejoong semakin menggesek penis changmin.

"Sshh.." changmin mendesis dan menggigit nipple jaejoong.

"Ahh…"

"Masukkan jae!"

Mau tidak mau, jaejoong memasukkan penis changmin yang mengeras itu ke dalam vaginanya. Padahal jaejoong masih belum puas bermain menggoda changmin.

"Eunggg…." dengan perlahan jaejoong memasukkan penis changmin yang ada dalam genggamannya.

"Sekarang bergeraklah..." changmin sudah melepaskan kulumannya dari dada jaejoong dan tidak lupa changmin memberikan kecupan manis di bibir jaejoong.

"Ne tuan muda..." jaejoong mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Penis changmin pun timbul tenggelam dalam vagina hangat jaejoong.

"Lebih cepat sayang..." changmin meremas dada jaejoong dan jaejoong pun bergerak makin cepat.

Vaginanya menjepit penis changmin dengan begitu kuat. Changmin merasa penisnya seperti di peras dan dihisap oleh vagina jaejoong.

"Good... seperti ini sayang.. " changmin memberikan smirknya untuk jaejoong.

"Ohhh tuan muda... ahhhh..." baru sepuluh menit jaejoong bermain dengan penis changmin, malah jaejoong lah yang keluar terlebih dahulu.

"Kau kalah sayang. Sekarang menungging lah."

"Tunggu dulu. Biarkan aku bernafas min..." jaejoong merengek. Jaejoong menyandarkan kepala nya dibahu kokoh changmin.

"Kau lelah hum?" Dengan sayang changmin membelai punggung jaejoong.

"Aniya. Kajja..." jaejoong sudah bangkit dari pangkuan changmin. Dan dia sudah berada diposisi menungging disamping changmin.

Changmin tersenyum puas, kemudian dia mengambil vibrator yang ada di laci meja nakas dengan ranjang. Vibrator berwarna ungu dengan tipe rabbit vibrator.

"Kau siap maid nakal?"

"Ne tuan muda... penuhi saya dengan penis besar anda..." jaejoong mendesah disela ucapannya dan dia pun memasang wajah super polosnya.

"Geure..."

Jlebb! Dengan tergesa, changmin langsung menghujam vagina basah milik jaejoong dengan penisnya yang sudah sangat siap untuk bertempur.

"Ahhh~~~" desahan nikmat keluar dari mulut jaejoong.

"Sssh..." changmin menggeram tertahan menerima pijatan pada penisnya didalam vagina jaejoong. Ini pertama kali nya mereka bercinta setelah jaejoong melahirkan. Dan rasa vagina jaejoong tidak berubah. Tetap rapat dan nikmat. Changmin rasa dia akan semakin cinta dengan jaejoong.

"Bergeraklah tuan"

"Baik. Dan jangan meminta ku untuk berhenti menyetubuhi vagina nakal mu ini hm?!"

Changmin mulai menghujam vagina jaejoong dengan gerakan cepat dan brutal. Tangan kanannya bergerak mengeluar masukkan vibrator dalam hole jaejoong. Changmin sebenarnya sangat ingin untuk meninggalkan tanda cintanya disekujur tubuh jaejoong. Tapi apalah daya, yunho pasti akan sangat curiga jika melihat bercak merah pada sekujur tubuh istrinya. Dan mau tidak mau, changmin pasti jadi tersangka utamanya.

"Ohh tuan... ini sangat nikmat! Please... fuck me hard!" Jaejoong mulai merancau

"Beg it baby!"

"Please master, fuck my slut pussy deeper and harder! Aahh~"

Plak! Plak! Changmin menampar pantat jaejoong lagi. Sehingga penis yang berada di dalam vaginanya dan vibrator dalam holenya ikut bergetar. Dan jaejoong merasa seperti tersengat, namun tersengat kenikmatan.

"Fucking Bitchy!" Changmin memegang pinggul jaejong dan langsung menaikkan tempo permainnya. Disodok dengan keras dan dalam vagina jaejoong yang sudah semakin licin.

"Oh yeah... like that master! Deeper please!" jaejoong terus memohon

Dengan tusukan yang cepat dan keras, changmin terus menggenjot vagina jaejoong. Jaejoong pun membantu changmin dengan bergerak berlawanan arah dengan hujaman changmin.

In... Out... In.. Out... changmin seakan menggila dengan vagina jaejoong. Apalagi jaejoong dengan sengaja mengetatkan vaginanya yang semakin membuat penis changmin sesak di dalam sana. Penisnya semakin susah bergerak karena dijepit kuat.

"Jae! Jangan diketatkan! Damn you!"

Bukannya dilonggarkan, jaejoong malah semakin membuat otot – otot vaginanya mengetat menjepit penis changmin.

"Shit!" changmin mengumpat lagi. Changmin semakin cepat bergerak. Dia rasa sebentar lagi dia akan sampai karena kenakalan jaejoong ini.

"Changmin ah~~ Oh Goshh~~ I'm close..."

"Wait me baby..."

"Ahhh I can't wait... Ahh... Changmin ah~~~~"

"Joongie!"

Crottt... crootttt... crottt... tubuh kedua manusia ini bergetar hebat setelah melepaskan hasrat mereka.

Changmin dan jaejoong sama – sama memejamkan matanya menikmati saat – saat klimaks mereka.

Changmin mendorong penisnya semakin dalam ke dalam vagina jaejoong, agar tidak ada setetes pun spermanya yang tumpah. Setelah dirasa cukup, changmin mengeluarkan penisnya yang mengkilap oleh cairannya dengan cairan jaejoong. Tidak lupa changmin pun mengeluarkan vibrator yang ada didalam hole jaejoong.

"Gomawo sayang..." changmin merebahkan tubuh berkeringat nya disamping jaejoong. Diangkatnya tubuh lemas jaejoong ke atas tubuh nya, sehingga kini jaejoong tertidur diatas tubuh changmin.

"Ne Cheonma min..." jaejoong menyandarkan kepala didada changmin.

"Kajja kita tidur, besok kita harus bangun pagi dan mandi."

"Huhh... tidak bisa kah kita terus bermesraan seperti ini terus hum?"

"Shhh... tidurlah sayang. Jangan memikirkan yang berat – berat." Changmin menarik selimut untuk menutupi tubuh polos nan lengket mereka berdua.

"humm..." jaejoong menganggukkan kepalanya manja. Sambil mengecupi dada changmin.

"Jae..." changmin protes. Jika changmin membiarkan jaejoong mengecupi dada nya seperti tadi, bisa – bisa akan ada ronde berikutnya.

"arra arra... jaljayo..."

"Nappeun yeoja..." changmin tersenyum.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika changmin terbangun. Dan jaejoong tidak ada diatas tubuhnya. Ditengokkan kepala nya ke samping, namun jaejoong tetap tidak ada.

Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu, changmin selalu takut jika jaejoong tidak ada disisi nya ketika dia terbangun. Ya, hanya saat mereka bersama saja.

Buru – buru changmin turun dari ranjang dan menghampiri box chaerin. Chaerin masih tidur terlelap. Changmin bertanya – tanya, apa chaerin tidak terbangun ya ketika dia dan jaejoong bercinta? Karena jaejoong termasuk wanita yang berisik ketika bercinta. Dan changmin menyukai itu. Apalagi ketika jaejoong klimaks dan menyebut namanya.

"Changmin... ayo mandi... Eoh? Baru aku akan membangunkan mu sayang..." jaejoong masuk ke dalam kamar sambil membawa gelas susu dan roti.

"Selamat Pagi Sayang.." changmin merengkuh pinggang jaejoong dan mengecup bibir manis yang menjadi candunya itu.

"Aigoo... selamat pagi sayang. Sana cepat mandi. Kita sarapan dan pulang. Yunho oppa pasti akan menelpon terus jika kita tidak segera pulang."

"Ne arraseo..." changmin mengambil gelas susu dan langsung meneguk habis susu dingin yang jaejoong bawa.

"Susu mu jauh lebih nikmat, walaupun rasanya hambar. Tapi aku menyukainya."

"Aish, mulut mu itu. Sudah cepat sana mandi." Pipi jaejoong merona karena godaan frontal changmin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

#At Jung Mansion

Yunho dan Victoria sarapan bersama. Hilang sudah harapan mereka berdua untuk dapat sarapan bersama dengan pasangan mereka masing – masing.

"Aboji, apa joongie eomma belum ada kabar. Aku merasa sangat bersalah. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud untuk menyinggung atau apa pun..."

"Ne aboji pun meresa begitu. Aboji..."

"Kami pulang." Jaejoong memasuki rumah dengan chaerin dalam gendongannya. Changmin dengan setia berjalan dibelakang jaejoong.

"Boo?"

"Eomma..."

Victoria dan Yunho berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri jaejoong. Victoria bahkan sedikit berlari dan memeluk jaejoong.

"Eomma mianhe... aku tidak ada maksud untuk..."

"Gwaenchana. Eomma yang harusnya yang minta maaf karena terlalu sensitif. Maafkan eomma ne." jaejoong merasa tidak enak dengan victoria.

"Boo... kalian sudah sarapan?"

"Ne appa, kami sudah sarapan di hotel appa. Aku ganti baju dulu dan akan langsung berangkat ke restoran kemudian ke kantor. Permisi." Changmin permisi pamit.

"Aboji, aku akan menyiapkan perlengkapan changmin dulu." Victoria pun pamit.

"Oppa, kau tidak bekerja? Aku akan menyiapkan kebutuhanmu juga."

"Aniya jae. Oppa libur dulu. Oppa masih ingin bersama mu dan chaerin lebih lama."

"Arraseo... oppa mianhe untuk kemarin..." jaejoong mendudukkan kepalanya. Menyesal.

"Gwaenchana jae. Oppa yang harus meminta maaf membuat mu tersinggung." Yunho memeluk tubuh jaejoong.

"Ne oppa."

"Kajja..." yunho mengajak jaejoong menuju kamar untuk melepas rindu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jaejoong sedang duduk santai disofa ketika victoria dan changmin sudah kembali dari kantor.

"Selamat sore eomma." Victoria menyapa jaejoong.

"Annyeong... kalian sudah datang. Ah... vict, adakah waktu sebentar. Eomma ingin berbicara dengan mu sebentar."

"Tentu eomma."

"aku ke kamar duluan ne." changmin mengecup kening victoria dan jaejoong melihat adegan itu.

"Ada perlu apa eomma? Sepertinya penting sekali." Victoria sudah duduk dihadapan jaejoong.

"Begini, apa di butik mu ada lowongan pekerjaan?"

"Hmm, sebenarnya kami sedang menerima pegawai sih. Memang ada apa?"

"Ah begitu ya..." jaejoong menggigit bibir bawahnya.

"Memang ada apa?" victoria penasaran.

"Begini, anak ahjumma kedai ramen yang kemarin eomma datangi sedang menganggur. Dia belum ada biaya untuk kuliah. Eomma berencana merekomendasikan kepada mu. Apalagi dia berniat kuliah jurusan desaigner."

"Eoh jinjja? Dia bisa jadi assisten ku jika mau."

"assisten? Tapi dia sepertinya belum berpengalaman. Takutnya dia mengecewakan."

"Kita coba saja dulu eomma. Aku yakin rekomendasi eomma tidak akan salah. Asal dia mau belajar dan berusaha. Semuanya akan mudah."

"Baiklah. Nanti akan eomma telepon dan memintanya dengan eomma nya untuk datang kemari besok. Tidak masalah kan?"

"Ne tidak apa. Baiklah, aku mandi dulu ne. aku akan membantu eomma menyiapkan makan malam."

"Ne. gomawo vict." Jaejoong tersenyum.

"Cheonma eomma... aku permisi dulu ne."

.

.

.

.

.

Makan malam telah berakhir. Victoria dan changmin sudah kembali ke kamar mereka. Yunho sedang bermain di ruang keluarga bersama chaerin yang ditidurkan di sofa.

Jaejoong sedikit kesal karena setelah makan, victoria kemudian mohon pamit untuk ke kamar bersama changmin. Katanya mereka ada urusan dan mereka saling melempar senyum. Shit! Jaejoong tidak senang.

Jaejoong duduk didepan yunho sambil menelepon sooyoung. Jaejoong meminta sooyoung untuk datang ke rumahnya dengan ahjumma Choi saat siang hari. Agar mereka bisa datang ke butik milik victoria.

"Habis menelepon siapa boo?" yunho bertanya.

"Oh, itu... aku menelepon sooyoung, anak ahjumma pemilik kedai ramen. Aku ingin dia bekerja dengan victoria sambil mengumpulkan uangnya untuk kuliah."

"Ah begitu."

"Oppa, aku akan bilang ke victoria dulu ne." jaejoong beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar victoria dan changmin yang ada dilantai dua.

Tok Tok Tok... jaejoong mengetuk pintu kamar changmin pelan.

"Apa mereka sudah tidur? Apa aku masuk saja ya?" jaejoong memutar knop pintu. Dan pintu tidak dikunci.

"Permisi..." jaejoong membuka pintu perlahan dan mengintip ke dalam. Ternyata kasur mereka kosong.

"Eoh? Mereka kemana? Bukan kan pamit untuk ke kamar?" jaejoong masuk lebih jauh ke dalam changmin dan victoria.

Jaejoong kemudian berjalan menuju kamar mandi yang dindingnya hanya dilapisi kaca buram, namun masih terlihat jelas apa yang ada didalam. Kaca dinding terlihat berembun. Jaejoong yang penasaran mu semakin mendekat.

Jaejoong berusaha untuk melihat ke dalam kamar mandi dari balik kaca yang tidak berembun. Dan betapa terkejutnya jaejoong atas apa yang dia lihat.

Dia melihat changminnya dan victoria sedang mandi bersama dalam bathub. Karena sebagian tubuh mereka tenggelam dalam bathub, jadi jaejoong tidak melihat jelas apa yang mereka lakukan.

Akan tetapi dengan jelas jaejoong dapat melihat changmin yang wajahnya sedang ditampar – tampar oleh payudara victoria yang besar. Jaejoong rasanya payudaranya terasa kalah besar jika dibandingkan dengan milik victoria.

Jaejoong melihat wajah changmin yang puas dan bahagia. Tubuh victoria pun tidak lama naik turun dengan tempo yang cukup cepat. Jaejoong tidak lah bodoh. Karena semalam pun jaejoong melakukan hal tersebut dengan pria yang sama yang ada didalam sana. Mereka bercinta! Dan changmin bahagia. Karena mereka suami istri!

Jaejoong jaejoong berdenyut sakit membayangkan bahwa dia dan changmin bukan lah siapa – siapa. Mereka hanya lah ibu dan anak tiri yang terlibat cinta gila.

"Aniyo. Hanya aku yang pantas untuk changmin. Hanya aku yang dapat memuaskan changmin." Jaejoong menghapus air matanya dan berjalan keluar dari kamar changmin dan victoria tanpa menutup kembali pintu kamarnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi menjelang dan jaejoong sedang menyiapkan sarapan untuk para anggota keluarganya. Namun ada yang berbeda dari jaejoong. Dan membuat para maid yang membantu jaejoong pun terkejut.

Bagaimana tidak terkejut jika jaejoong hanya memakai bathrobe yang tidak diikat talinya dan dibalik bathrobe itu jaejoong memakai lingerie korset berwarna hitam seperti baju renang dengan simpul – simpul seperti tali sepatu dibagian dada hingga perut.

Untung saja didalam rumah ini tidak ada butler pada jam segini. Biasanya butler akan melayani sarapan para pelayan yang lain dulu sebelum melayani para majikan di rumah utama.

"Nyonya... tali bathrobe anda belum terikat." Salah satu maid memberanikan diri menegur jaejoong.

"Ah, gwaenchana. Tadi saya buru – buru turun sehingga belum sempat mengikat. Gomawo." Jaejoong mengikat asal bathrobenya. Agar nanti bisa terlepas dengan tidak sengaja. Jaejoong tersenyum.

"Selamat pagi eomma..." victoria datang ke ruang makan disusul oleh changmin. Setelah mereka berdua duduk. Yunho pun datang menghampiri jaejoong dan mengecup mesra bibir jaejoong.

"Kajja duduk. Kita sarapan." Jaejoong berdiri diantara kursi yunho dan changmin untuk meletakkan cangkir kopi mereka.

Saat jaejoong akan menaruh cangkir dimeja tiba – tiba tangan yunho malah menampik cangkir yang sedang jaejoong pegang, sehingga cangkir beserta isi nya tumpah ke perut jaejoong.

"Akhhh... panas.. panas..." jaejoong dengan reflek membuka bathrobenya dan bathrobe malang itu terlepas begitu saja dari tubuh jaejoong.

Yunho, changmin dan victoria kaget bukan main dengan teriakan jaejoong. Mereka semakin terkejut ketika melihat pakaian jaejoong yang sangat menggoda dengan lingerie yang membuat dadanya membusung menatang.

Jaejoong masih membersihkan perutnya dari tumpahan kopi dengan serbet.

"Boo... pakaian mu..." yunho dibuat terkaget dengan pemandangan menggiurkan ini.

Sadar atau tidak, changmin menelan ludah dengan kasar melihat pemandangan yang jaejoong suguhkan ini.

"Astaga eomma..." victoria yang terlebih dahulu sadar, langsung melepaskan blazer merah yang dipakainya dan dipakaikan di bahu jaejoong.

"Eo...mma kau tidak apa – apa?" tanya changmin sedikit terbata.

"Gwaenchana... maaf – maaf. Akan ku ganti kopi mu oppa." Jaejoong menunduk masih membersihan perut dan dadanya.

"Masuklah ke kamar jae. Biar maid yang menggantinya nanti. Pakailah baju yang pantas."

Jaejoong menatap yunho. Jaejoong memberikan tatapan kecewanya sambil melepaskan blazer yang victoria berikan.

"Pelayan. Siapkan kopi untuk Tuan besar Jung." Teriak jaejoong entah pada pelayan yang mana.

"eomma..." victoria menyentuh pundak jaejoong yang terbuka.

"Maaf... kalian lanjutkan lah makan. Maaf kalian harus melihat wanita murahan ini berpakaian yang tidak pantas." Jaejoong berbalik tanpa melihat yunho atau pun changmin lagi.

"Jae! Jaejoong! Yaa Kim Jaejoong! Shit!" yunho berteriak memanggil jaejoong.

Yunho baru sadar jika dia melakukan satu kesalahan lagi. Ani, bukan satu melainkan tiga kesalahan. Pertama, dia mengatakan bahwa baju jaejoong tidak pantas, walaupun itu memang benar. Yang kedua berteriak memanggil jaejoong dan ketiga yunho menyebut Kim jaejoong, bukannya Jung Jaejoong.

Saat yunho akan mengejar jaejoong, tangan yunho ditahan oleh changmin.

"Jangan dikejar. Dia pasti sedang kesal. Appa jangan terlalu memanjakannya. Kajja kita berangkat saja. Noona, kau diantar dengan supir dulu ne. aku akan berangkat bersama appa ke kantor."

"Baiklah. Hati – hati ne." victoria mengambil blazer yang tadi diberikannya kepada jaejoong dan dibawanya pergi.

"Jaejoong eomma sudah keteraluan appa. Dia berpakaian tidak pantas berkeliaran di dalam rumah. Biarkan dia merenungi kesalahannya. Jika appa kalah dan meminta maaf kepadanya. Dia akan semakin besar kepala dan semakin berbuat seenaknya."

"Min, jaejoong bukan wanita seperti itu..."

"Appa... ku mohon dengarkan lah aku. Biarkan dia merenung dulu. Kajja..." changmin membawa tas kerja yunho dan menuntun yunho menuju keluar rumah.

'Kucing nakal...' ucap changmin dalam hati

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Sudah lama banget ya kan? Hehehe...

Cuma bisa begini aja. Maaf kalau ada typo atau makin gak nyambung.

See you next chapter. Keep Read and Review Juseyo.

Gomawo, Annyeong~~

-XOXO-

.

.

.

.

.

Nb: kalau ada yang mau sharing bisa ke BBM aku aja ya 59F7CE75.

Yang mau sharing aja loh, kalau yang mau ngebash atau macem – macem mending gak usah nyampah. Okay~~