Four Brothers
Remake The Chronicles of Audy: 4R by Orizuka.
Character(s): Oh Sehun, Lu Han, and EXO members.
Pairing: SehunxLuhan, slight! Chanbaek and SuLay
Rating: T
Genre: Romance, Family, Drama, lil bit Humor, Yaoi
[Warn!] Bahasa amburadul, typo(s), boyxboy, dll.
I own nothing but this fanfic! Semua milik Tuhan Y.M.E—EXO teteup milik SM.
Enjoy!
Chapter 12: Disturbing Behavior.
Biasanya, Luhan suka hari Minggu. Namun sekarang, ia benar-benar berharap setiap hari adalah Senin, supaya para pelajar bisa selalu pergi ke sekolah.
Semalaman, Luhan memikirkan sikap Sehun yang seperti bunglon. Baru beberapa hari lalu dia menyatakan perasaan kepadanya, kemarin dia mengusirnya. Harusnya Luhan tidak perlu memikirkan sikap superlabil itu, tapi Sehun benar-benar membuatnya jengkel.
Luhan menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya ke atas untuk menerbangkan poni madunya, lalu teringat kata-kata Sehun kalau ia terlalu banyak menggunakan oksigen. Jangan-jangan itu memang benar? Aku kan sering melakukan terapi pernapasan...terlalu sering malah. Jangan-jangan, dia kesal karena harus berebut udara denganku? Cukup masuk akal sih, karena dia kan penderita asma.
Namun kemudian, bukannya oksigen di dunia ini masih cukup banyak? Apa dia cuma berlebihan dan cari-cari alasan untuk marah kepadaku? Atau ini hanya karena dia remaja labil?—Luhan begitu sibuk berkontemplasi sampai tidak sadar kalau Sehun sudah berada di sampingnya. Luhan baru menoleh saat aroma khasnya sampai ke hidungnya.
"Mwo?" semprot Luhan begitu melihatnya menatap curiga buncis di baskom. Saat ini, Luhan sedang bersiap membuat tumis buncis untuk makan siang.
Sehun melirik Luhan sekilas, lalu minum dari gelasnya dengan mata terpancang ke buncis. Luhan mendengus sebal, lalu meraup buncis itu dan meletakkannya ke talenan. Tanpa mengindahkan kehadiran si remaja, Luhan mulai memotong sebatang.
"Ya!" seru Sehun tiba-tiba, sambil menyambar tangan kanan Luhan yang memegang pisau.
Si empunya tangan menoleh kaget, tapi Sehun masih mencengkram tangannya. "M-Mwoya?"
"Jari kamu," kata Sehun, membuat Luhan menatap jemari kirinya yang sepenuhnya menutupi ujung buncis. Kalau Sehun tadi tidak mencegahnya, mungkin tumisnya akan berbonus kuku telunjuk Luhan.
Luhan segera menarik tangannya, bersyukur belum sempat mengiris apapun. Walaupun demikian, ia malas berterima kasih kepada Sehun karena masih keki soal kemarin. Jadi, Luhan melepas genggamannya, lalu berkonsentrasi memotong.
"Memang selama ini kalau motong buncis begitu ya?"
Luhan mendengus keras-keras. Sehun yang dulu sudah kembali. Anak itu mungkin sudah menyadari kalau menyatakan perasaan kepada Luhan adalah hal paling tolol yang pernah dia lakukan dan dia menyesalinya.
"Sini," katanya lagi, sambil menggeser tubuhnya mendekati Luhan. Sebelum Luhan sempat melakukan apapun, Sehun mengubah posisi buncis yang tadi Luhan letakkan mendatar jadi tegak lurus. Setelahnya, dia mengenggam tangan Luhan yang memegang pisau, lalu menggerakkannya ke atas buncis itu dan memotongnya miring.
Luhan tahu, selama ini metode pengirisan buncisnya bukan yang paling hebat di dunia, tapi metode milik remaja tampan ini benar-benar praktis. Luhan jadi tidak perlu mengangkat kedua sikunya dan memiringkan tangannya ke dalam sudut yang hampir mustahil supaya hasil potongannya bisa ikut miring.
Harusnya itu yang Luhan pikirkan, tapi kenyatannya, saat ini, ia tidak bisa memikirkan apapun kecuali cara untuk memperlambat detak jantungnya yang sialan ini.
Kenapa aku harus berdebar-debar hanya karena diajari memotong buncis oleh seorang remaja berusia tujuh belas tahun?! Labil, lagi!—Luhan merutuk dalam hati, mata cantiknya terpejam gemas.
Sehun mengajari Luhan dalam diam, sehingga Luhan bisa mendengar napasnya yang mengiringi suara pisau yang beradu dengan talenan. Luhan lantas tersadar kalau bukan hanya kali ini Sehun berada di dekatnya seperti ini. Dulu, dia sering membasuh tangan saat Luhan sedang mencuci piring tanpa pernah menyuruhnya minggir.
Namun, saat itu Luhan hanya menganggapnya bocah, seperti halnya Ziyu.
Namun kemudian, bocah apa yang tingginya 180 sentimeter dan punya aroma menyenangkan seperti ini? Belum lagi, Luhan lupa kalau dia punya sepasang tulang selangka itu!
Tepat ketika Luhan tak sengaja menoleh dan dihadapkan langsung dengan tulang selangkanya (vertigo Luhan langsung kumat), Sehun memisahkan diri. Ternyata, buncisnya sudah terpotong dalam ukuran seragam yang sempurna. Luhan melirik Sehun yang bersandar di bak cuci, seperti menunggunya untuk mengulang metodenya dengan batang buncis yang lain.
Namun, Luhan masih sedikit kewalahan. Pipinya terasa panas dan tangannya sedikit bergetar. Untuk mendapatkan kembali akal sehatnya, Luhan melakukan terapi pernapasan. Saat melakukannya, ia teringat sesuatu.
Luhan menoleh ke arah Sehun. "Kamu udah nggak marah lagi?"
Yang ditanya menelengkan kepala. "Siapa yang marah?" tanyanya balik, membuat Luhan membelalak tak percaya.
"Nggak inget kemarin ngusir-ngusir?"
Sejenak, Sehun terdiam. "Aku memang nyuruh kamu untuk nggak masuk ke kamarku lagi. Tapi aku nggak marah."
Luhan benar-benar tak habis pikir. Jadi, kemarin itu dia tidak marah? Terus, kenapa dia mengusirnya kalau dia tidak marah? Ini benar-benar membingungkan.
"Jadi, kamu masih suka sama aku?" tanya Luhan lagi, tergelincir begitu saja.
Sehun sepertinya agak terkejut, tapi mungkin itu hanya perasaan Luhan saja karena berikutnya dia menjawab kalem, "Masih."
Luhan tahu harusnya ia tidak terkejut—berhubung ia yang bertanya duluan—tapi nyatanya, ia seperti tersetrum belut listrik. Sementara itu, Sehun mengambil gelas dan mengisinya di dispenser dengan santai.
"Bisa, kamu jawabnya nggak datar begitu?" tanya Luhan.
Sehun menengok, lalu tersenyum miring. "Kamu nanyanya juga datar."
Setelah mengatakannya, Sehun membawa gelas yang sudah penuh ke kamarnya dan menghilang disana. Luhan sendiri hanya bisa menatap kepergiannya tak habis pikir. Apa Plato menulis teori rumit mengenai perasaan yang hanya bisa dipahami orang-orang ber-IQ tinggi?
Tuhan, Luhan harap hanya Sehun orang yang memiliki perpaduan rumit antara genius dan labil di dunia ini. Maksud Luhan, kan kasihan orang-orang simpel sepertinya.
Ketika ia masih sibuk berpikir, pintu kamar Chanyeol terbuka. Pemiliknya muncul, meregangkan tangan dengan rambut awut-awutan. Tak lama, Ziyu menyusul sambil membawa ponsel Chanyeol dan langsung duduk di sofa.
"Makan siangnya udah?" Chanyeol menghampiri Luhan dengan riang, tapi segera mendesah kecewa begitu tak mendapati apapun di kompor. "Geundae..kemampuan masakmu sudah meningkat, ya."
Luhan menoleh ke arahnya, yang sedang menatap takjub irisan buncis di talenan. Luhan meringis, lalu buru-buru memotong batang buncis yang lain.
"Mungkin ini yang dimaksud dengan ramalan dengan 'akan ada peningkatan karier'?" komentar Chanyeol lagi, membuat Luhan mendeliknya. Namun, dia sudah meluncur ke sofa dan bergabung dengan Ziyu, menyanyikan lagu 'Pom Na Tu Ri' dengan lirik yang sama sekali kacau.
Luhan menggeleng-geleng, tidak habis pikir mengapa Chanyeol masih membicarakan ramalan minggu lalu. Namun, Luhan tiba-tiba teringat akan ramalan asmaranya sendiri: 'akan ada perkembangan berarti'.
Seperti ditampar, ia menengok ke arah pintu kamar Sehun. Jantungnya kembali berdetak tak karuan.
Perkembangan inikah yang dimaksud ramalan itu?!
...
"Oke. Mulai sekarang, aku janji, nggak akan percaya ramalan lagi."
Ucapan Chanyeol membuat mereka semua memberi perhatian kepadanya. Saat ini, mereka sudah berkumpul di meja makan untuk makan siang, setelah Luhan akhirnya berhasil menyelesaikan tumis buncisnya. Chanyeol sempat masuk kamar lagi saking lamanya waktu yang Luhan butuhkan untuk memasaknya.
"Nggak setelah aku gagal menyelamatkan Marines untuk kesekian kalinya..." Chanyeol berkata geram, lalu mengangkat sumpit penuh buncis yang tampak lembek dan pucat. "Dan setelah Luhan gagal masak untuk yang kesekian kalinya."
Luhan menyeringai. Setelah diajari Sehun tadi, kemampuan memasaknya malah jadi berantakan. Selain terlalu banyak memasukkan santan, irisan buncis yang Luhan hasilkan tidak karuan dan sepenuhnya menenggelamkan mahakarya Sehun. Belum lagi, ia menumisnya terlalu lama.
Luhan mencuri pandang ke arah Sehun yang sedang menatapnya seolah dirinya membuat Sehun malu, lalu segera menunduk. Di samping Luhan, Chanyeol masih terus misuh-misuh. Kalau dipikir-pikir, baru kali ini Luhan melihatnya sesewot ini. Ia tidak tahu apa-apa soal Marines yang tadi Chanyeol sebut-sebut, tapi mungkin itu cuma tokoh yeoja di dalam game yang sedang dimainkannya.
Luhan menyuap pure, maksudnya, tumis buncis itu tanpa semangat. Sebenarnya, rasanya tidak buruk-buruk amat, tapi hey, seleranya kan rendahan.
Dari sudut mata, Luhan mengawasi Sehun yang sedang menyumpit dua buah buncis dan mengamatinya lekat-lekat, seolah sedang menimbang resiko apa saja yang bisa terjadi kalau dia memakannya. Luhan tidak menyalahkannya. Dia boleh membuangnya kalau dia mau, Luhan tidak akan marah.
Di luar dugaan, Sehun melahapnya. Setelah mengunyah beberapa kali dengan ekspresi lempeng, dia pun menelan masakan si pemuda cantik.
Selama sekian detik yang menentukan, Luhan menunggu dengan hati berdebar. Namun, tak terjadi apa-apa. Dia tidak batuk, tidak muntah, tidak pula berkomentar dan hanya menyumpit beberapa butir nasinya.
Wow. Sehun memakan sesuatu yang Chanyeol anggap sebagai kegagalan? Seseorang, tolong catat itu di buku rekor dunia.
Oh, tunggu. Tambahkan catatannya. Sehun bukan hanya memakannya, tapi dia juga tidak menyentuh bukunya (sama sekali!) dan intens menatap Luhan. Ini benar-benar tidak masuk akal. Cinta bisa membuat orang tergenius sekalipun jadi gila!
Ziyu sepertinya juga menyadari hal itu, karena saat Luhan tak sengaja mengerlingnya, dia sedang menatap Sehun dengan mata terbuka lebar. Pandangan bocah itu beralih ke arah Luhan, lalu kembali lagi ke Sehun. Sementara itu, si tiang listrik (Chanyeol) masih mengoceh (kali ini soal para gamer yang suka menggunakan cheat code—ahem) dan Suho anteng menghabiskan makanannya seolah tumis buncis Luhan itu foie gras.
Sehun akhirnya menyadari tatapan Ziyu. Dia balas menatap adiknya itu tajam, lalu menyumpit banyak-banyak tumis buncis ke mulutnya. Dari ekspresinya, Ziyu jelas sudah tidak tampak bernafsu makan. Dan Luhan yakin itu bukan karena tumis buncisnya.
Sebenarnya, Luhan ingin memberitahunya tentang Plato itu, tapi ia tidak tega. Siapa tahu citra Sehun di kepalanya jadi runtuh atau bagaimana.
Sepuluh menit berikutnya, makan siang berakhir. Chanyeol dan Suho segera masuk kamar untuk menyelesaikan urusan masing-masing, sementara Ziyu duduk di sofa, mengawasi bergantian Luhan yang sedang mencuci piring dan Sehun yang masih di meja makan.
Secepat mungkin, Luhan berusaha menyelesaikan pekerjaan ini, tahu kalau Sehun bisa muncul kapan saja untuk mencuci tangan. Namun, bocah tinggi itu tetap lebih cepat. Tahu-tahu saja, dia sudah berdiri di samping Luhan, membasuh tangannya tanpa menyuruh Luhan minggir seperti biasanya.
Lengannya yang menempel di bahu Luhan membuat Luhan risi. Saat Luhan sedang berusaha bergeser tanpa kentara, Sehun menjulurkan tangan kanannya melalui Luhan, membuatnya mendapat pandangan sebening kristal ke arah sepasang tulang selangka si remaja tampan itu.
Karena terlalu kaget, Luhan mundur selangkah ke belakang, memberinya jalan. Ternyata, dia cuma mau mengambil lap untuk mengeringkan tangan. Sok aksi banget sih! Kenapa tidak pakai tangan kiri, coba?—batin Luhan kesal.
Tidak sepertinya, Sehun tampaknya tidak ambil pusing. Dia malah sengaja menyenggolnya lagi saat bergerak menuju dispenser.
Rasanya, Luhan mau gila. Dapur ini memang sempit, tapi tidak bisakah dia tidak menyenggol-nyenggolnya seperti ini? Pakai gaya ala iklan susu pelangsing itu!
Luhan menoleh ke arah Sehun yang sedang minum, bermaksud memberinya tatapan judes. Akan tetapi, niat hanya tinggal niat. Begitu Luhan melihat jakunnya yang bergerak naik-turun, niat itu menguap ke udara.
Kenapa sih pria punya jakun? Ini tidak adil!
Oh, tunggu. Luhan juga pria. Ia juga memiliki yang namanya jakun.
Tetapi miliknya tidak terlalu menonjol seperti punya Sehun...ah, sudahlah. Kalau terus membahasnya, ia hanya akan terdengar seperti orang aneh.
Sehun meletakkan gelasnya di bak cuci piring, lalu menangkap basah Luhan yang masih mengamatinya. Dia menaikkan dua alisnya dan memberi Luhan tatapan bertanya-tanya, sebelum akhirnya mengangkat sudut bibirnya dan melangkah pergi begitu saja.
Luhan tidak yakin dengan apa yang baru saja terjadi, tapi mata cantiknya tidak bisa berhenti mengikuti sosok Sehun. Ketika dia akhirnya menghilang dari pandangan, Luhan mendesah berat, lalu mendapati Ziyu yang melongo dengan sorot mata nyalang. Bocah malang itu menyaksikannya.
"Ziyu, yang tadi itu..." Luhan memeras otak. "Kerjaan Plato."
Ziyu berkedip, tapi mulut mungilnya masih terbuka. Sebenarnya, Luhan mau menjelaskan siapa Plato ini, tapi ia sendiri tak tahu apapun tentangnya kecuali dia adalah filsuf zaman dulu. Mencoba menjelaskan sesuatu yang tidak benar-benar ia pahami hanya akan membuatnya tampak semakin kurang intelek, maka ia tidak melakukannya.
"Jadi, kamu udah pilih lagu untuk pertunjukan seninya?" Luhan buru-buru mengganti topik, tapi tentunya, Ziyu tidak memakan umpannya. Sorot matanya malah berubah penuh selidik.
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka berdua. Sambil bersyukur karena ada penyelamat, Luhan meninggalkan bak cuci, lalu melangkah ke pintu depan. Ia membukanya dan mendapati seorang pemuda bertubuh mungil di teras depan. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Hei," sapanya.
Seumur hidupnya, Luhan tidak pernah sesenang ini melihat Baekhyun.
...
"Sebenernya, aku ke sini mau nanyain perkembangan skripsimu karena aku nggak pernah liat kamu sekalipun di kampus buat bimbingan. Ternyata, yang berkembang malah hal lain."
Luhan meringis ke arah Baekhyun, yang sekarang duduk memangku sebelah kaki di tempat tidurnya. Luhan sendiri bersimpuh di lantai di hadapannya, seolah sedang disidang. Setelah sekian lama tidak bertemu (Luhan sudah tidak mengambil mata kuliah apapun dan belum punya ponsel lagi), Luhan akhirnya punya kesempatan untuk bercerita banyak, hingga ke detail-detailnya.
"Aku memang nyangka kamu bakal naksir dari salah satu dari mereka." Baekhyun lalu menggeleng-geleng. "Tapi DUA?"
"Aku nggak naksir Suho, apalagi Sehun," sangkal Luhan. "Dia yang nembak aku. Walaupun butuh Plato untuk tahu alasannya."
Baekhyun sepertinya tidak butuh Plato. "Alasannya ya karena dia suka sama kamu."
"Baek, yang aku nggak paham itu alasan dia suka sama aku," kata Luhan, lalu mengambil jeda sejenak. "Aku takut."
"Takut dia.." Luhan memutar telunjuknya di samping pelipis, berharap Baekhyun menangkapnya.
Baekhyun mengangkat alis. "Kamu takut dia gila, atau kamu takut kamu kurang worthy?"
Pertanyaan Baekhyun menyambar Luhan seperti petir di siang bolong. Tentu saja ia takut Sehun kehilangan akal sehatnya. Kenapa aku harus takut aku kurang layak bagi Sehun?, pikirnya.
"Lu, kamu oke," kata Baekhyun dengan raut wajah sungguh-sungguh. Luhan akan senang kalau dia mengatakannya di waktu-waktu tertentu, tapi bukan saat ini.
"Bukan gitu, Baek..."
"Lagian, kenapa sih, kamu repot-repot pengin tahu alasan dia suka sama kamu?" tanya Baekhyun lagi. "Pernah denger 'cinta nggak butuh alasan'?"
Pernah, tapi membayangkan hal seindah itu yang terjadi pada Sehun membuat Luhan geli.
"Oke, katakanlah aku nggak mau tahu alasan dia suka sama aku," kata Luhan, lama-lama capek juga. "Geundae, terus aku sekarang harus gimana? Aku bingung."
"Bingung kenapa?" Baekhyun balas bertanya. "Biasanya kamu juga suka cuek sama senior-senior yang suka sama kamu."
Yah, senior-senior yang suka sama Luhan ini ada yang namja dan ada juga yang yeoja. Tapi, karena Luhan ingin fokus sama kuliah dulu, jadi dia menolak semua senior yang sudah menyatakan perasaannya kepadanya. Anak teladan.
Luhan menatapnya datar. "Aku kan nggak tinggal sama senior-senior itu."
"Good point." Baekhyun mengakui. "Tapi kamu tetep bisa cuek."
"Baek, aku baru aja jadi bagian dari keluarga ini. Aku nggak bisa nyuekin dia begitu aja," kata Luhan. "Lagipula, keluarga nggak semestinya punya perasaan suka, dalam artian...suka, suka,kan?"
Baekhyun mengerjap dua kali. "Aku nggak yakin aku paham maksudmu, Lu."
"Maksudku." Luhan menggaruk kepalanya, putus asa. "Aku nggak siap sama perasaan suka dia yang, kamu tahu, dalam artian, suka terhadap lawan—ani, mungkin sesama jenis."
Baekhyun mengangguk-angguk, sepertinya paham—akhirnya. "Kamu sendiri, nggak ada perasaan suka-terhadap-sesama-jenis sama Sehun?"
Jantung Luhan seperti dibetot keluar. "Ke-Kenapa aku harus punya perasaan suka-terhadap-sesama-jenis sama Sehun?"
"Barusan kamu gagap, Lu." Baekhyun mengingatkan, membuat Luhan ingin menampar mulutnya sendiri.
"Aku cuma kaget kamu tanya begitu," sergahnya. "Kenapa aku harus suka sama bocah SHS, coba?"
Baekhyun mengangkat bahu, lalu balas bertanya. "Kenapa kamu harus salah tingkah kalau dia nyenggol-nyenggol kamu?"
"Mungkin...karena dia nggak biasa melakukan hal-hal manis." Luhan mencoba menganalisis permasalahannya sendiri. "Jadi, pas dia begitu, aku jadi kayak 'ooh...Sehun kiyo banget', terus aku jadi excited sendiri, gitu?"
Baekhyun menyipitkan mata. "Kamu tuh...apa, ahjumma-ahjumma?"
"Sial," umpat Luhan.
"Perasaan, kamu yang aku tahu nggak senorak ini," tambah Baekhyun, seolah komentar sebelumnya belum cukup tajam. "Kamu nganggep disenggol-senggol itu hal yang manis.."
Setelah Baekhyun mengatakannya, Luhan jadi sadar kalau ia memang norak. Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya, sih?!
"Baek...kamu nggak mikir kalau aku suka sama Sehun, kan?" tanya Luhan, benar-benar berharap dia bilang 'tidak'.
Namun, tentu saja dia bilang, "Ne. Aku mikir begitu."
"MALDO ANDWAE!" Luhan bangkit sambil menekap kedua pipinya keras-keras, ngeri sendiri.
"Emangnya kenapa?" tanya Baekhyun, membuat Luhan membuka mata lebar-lebar.
"Emangnya kenapa?" ulang Luhan. "Aku sama dia beda lima tahun, Baek. Lima tahun! Itu kriminal! Aku yakin masalah ini ada di undang-undang perkawinan!"
Baekhyun memberinya tatapan nyaris jijik. "Lu, kamu tuh kadang-kadang berlebihan ya. Undang-undang perkawinan? Seriously?"
Tahu-tahu saja, Luhan menyadari sesuatu. Rasa panik mulai merayapi tubuhnya.
"Kalau beneran ada di undang-undang, aku bisa dituntut Suho..." gumamnya, lalu menggeleng-geleng. "Aku nggak mau masuk penjara, Baek!"
Baekhyun memutar bola matanya. "Drama."
Luhan sendiri tidak mengacuhkannya dan sudah kembali terduduk lemas. Masalah ini bisa membuatnya kehilangan segalanya. Mimpinya, gelarnya, masa depannya...lebih dari apapun, ia tidak ingin kehilangan ikatannya dengan keluarga ini.
Luhan harus tegas terhadap Sehun. Ia harus memberinya pengertian dan tidak boleh memberinya harapan. Luhan harus menolak perasaan Sehun, demi dirinya sendiri, dan juga keluarga ini.
"Lu?"
Tak mendengar panggilan Baekhyun, Luhan mengangguk mantap. Ia harus menyelesaikannya, hari ini juga.
...
Segera setelah Baekhyun pulang, Luhan mengetuk pintu kamar Sehun. Rumah utama saat ini sedang lengang karena Suho sedang mengajak Ziyu berjalan-jalan, sementara Chanyeol mengurung diri di kamarnya semenjak usai makan siang, mungkin masih sibuk menyelamatkan si Marines. Tuhan seperti memberinya kesempatan ini, maka Luhan akan menggunakannya sebaik-baiknya.
Sehun membuka pintu. Hari ini, dia kembali mengenakan kaus V-neck yang menampakkan tulang selangkanya. Serius deh, memangnya dia anggota boyband? Tidak bisakah dia pakai kaus yang biasa-biasa saja?
"Wae?" tanyanya acuh tak acuh—yang sedikit mengejutkan Luhan. Tidak ada tanda-tanda dia sedang tergila-gila kepada Luhan. Maksudnya, normalnya, dia akan menyambut Luhan dengan nada penuh cinta, kan?
Ih. Geli.
Luhan tak tahu apa yang Plato ajarkan kepadanya, tapi ia tak boleh membuang-buang waktu.
"Na halmari isseo," kata Luhan, setelah berhasil mengumpulkan keberanian.
Sehun mengerjap, lalu melangkah keluar sambil menutup pintu kamarnya. "Silakan."
"Yeogi?" tanya Luhan, merasa tak aman.
"Nggak ada orang. Chanyeol hyung pasti lagi sibuk sama game-nya." Sehun bersandar di pintu, lalu menyelipkan dua tangannya ke saku celana. "Jadi?"
Luhan menatapnya tak habis pikir. Dia seperti punya banyak waktu-waktu tertentu untuk menunjukkan atau tidak menunjukkan perasaannya kepada Luhan.
"Emang gini ya, sikap orang kalau lagi jatuh cinta?" tanya Luhan.
Sehun mengedikkan bahu. "Tergantung. Banyak variabel."
Luhan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya, berusaha tidak terpancing kelakuan Sehun. Kelakuan yang, kalau dipikir-pikir lagi, mungkin muncul karena ada konflik internal di dalam dirinya. Di suatu waktu dia akan mendekati Luhan karena merasa menyukainya, tapi dia akan segera menyesal begitu sadar kalau dirinya yang maha pintar itu sudah mendekati namja bego. Akan tetapi, dia tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk mengulanginya. Jadi, sebagai gantinya, dia akan menghukum dirinya sendiri—juga Luhan—dengan kembali bersikap brengsek.
Luhan harap tidak ada asap keluar dari telinganya.
Ia melirik Sehun, yang sudah mengangkat alisnya tinggi-tinggi, menunggu apapun yang akan Luhan katakan.
Luhan berdeham. "Oke, Sehun. Jadi begini." Ia mengambil napas. "Aku..berterima kasih kamu udah suka sama aku. Walaupun aku sendiri nggak yakin kenapa."
Sehun tampak mendengarkan dengan penuh minat. Entah kenapa, itu malah membuat Luhan ciut. Rasanya seperti sedang menjelaskan rumus gravitasi kepada seorang Einstein.
"Hajiman...mian, aku nggak bisa menerima perasaan kamu itu."
Oke. Luhan sudah mengatakannya.
Selama beberapa detik, Sehun hanya menatapnya lurus-lurus. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Itu membuat Luhan ngeri. Bagaimana kalau Sehun selama ini benar-benar cuma mengerjainya? Bagaimana kalau kata-kata yang keluar dari mulutnya setelah ini adalah, 'April Mop!'?
"Aku nggak ingat pernah minta kamu menerima apa-apa," kata Sehun akhirnya, membuat Luhan mengerjap.
"Ha?" sahut Luhan.
"Aku cuma ngasih tahu kalau aku suka sama kamu," lanjut Sehun. "Nggak perlu diterima. Nggak perlu ditolak. Cukup untuk kamu ketahui."
Rahang Luhan rasanya seperti lepas. Luhan cukup yakin Sehun barusan menggunakan bahasa Korea, tapi anehnya, mengapa ia kesulitan memahaminya?
"HA?" sahut Luhan lagi, setelah yakin dengan apa yang ia dengar. Mendadak, Luhan jadi berharap Sehun tadi mengatakan 'April Mop' saja.
Sehun melepaskan punggungnya dari pintu. "Ada lagi?"
Ada lagi? Ada lagi, katanya? Selain dia adalah remaja paling labil dan menyebalkan di seluruh dunia? Tidak ada lagi, kok. Luhan selesai.
"Nggak ada lagi." Luhan mengatakannya dengan geraham rapat.
Sehun mengangguk-angguk, lalu memutar tubuh untuk kembali ke kamarnya. Luhan sudah bersiap mencibirnya tanpa suara ketika dia tiba-tiba menoleh.
"Daripada mikirin yang macem-macem, mending skripsinya dipikirin," katanya sebelum menutup pintunya dari dalam.
Begitu dia tak tampak lagi, Luhan terhuyung ke sofa. Kepalanya terasa pening.
Ada yang salah dengan Baekhyun kalau menyangka Luhan bisa menyukai seorang Oh Sehun.
.
.
.
To be Continued...
WHO WANTS SOME UPDATE?! /dibakar/
Saya minta maaf dengan keterlambatan update chapter. *bungkuk 360 derajat (?)* saya sedang mengalami sindrom uts, duh, mengerikan sekale. Saya bisa pusing 5x dalam sehari. Thumbs up buat saya. /gaadayangmau. Saya bener-bener minta maaf.
Terus sebelah saya anak kelas 9, cowok, badannya bantet, mukanya kek tempe—astaga, pokoknya is so sick. Btw, ini saya masih uts dua hari lagi loh. Terus habis uts gaada libur sama sekale. Bakar aja yuk, sekolahnya? Bareng-bareng biar seru. :))) #curcolAuthor
Dan tentang sehun ngusir luhan dari kamarnya itu, emang kayaknya iya, sehun ga tahan sekamar sama luhan. Nanti kalo lama-lama sekamar sama luhan mungkin dia bakalan ngeluarin sifat liarnya. Lol.
Oke, next chapter saya USAHAKAN update cepet. Saya mau terapi otak dolo pake neko atsume.
H-3 Sehun's birthday :3
-Ann
