A/ N : Oke langsung balas review! Lagi-lagi nulis terburu-buru...

-RosyMiranto18

Blossom : Nah lho, sesama Li tapi beda warna mata...

Scarlet : Hm... kalau soal Ohatsu belum muncul sih ya. Terus, sayang sekali aku gak bikin CAW-nya Ohatsu dan Oeyo.

Blossom : Udah penuh sih ya. Lagian cuma bisa bikin 20 CAW di SW 4-II.

Scarlet : Gyaaah! Aku pengen main SW 4 Empires! Oh anakku! *guncangin Suzu*

Suzu : Awawaaaa! *pusing*

Takatora : *bekuin Scarlet* ...Terima kasih atas review-nya.

-Hayashinkage17

Blossom : Mueheheheh, mas pantat bebek itu sebenarnya pengen lakuin 'ini itu' lho.

Scarlet : Sembarangan ngomong lu, Som! Jangan sop ilerin!

Suzu : ...apa sih yang kalian bicarakan.

Takatora : ... *muka datar*

Suzu : Anak Hana-san? Tapi kenapa sampai ada suara kaca pecah?

Blossom : Okeh! Makasih banyak atas review-nya!

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto.

Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?) *plak*. Chapter ?-A berisikan rute BAD END. CHAPTER KALI INI AKAN MEMUNCULKAN UNSUR R-15 *janganmaafinsaya-plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XxX-

Bell of the White Hare

-XxX-

CHAPTER 10-A

Hollow World

-XxX-

Suzu memainkan jemarinya yang beristirahat diatas pahanya. Ia duduk di roka di depan ruangan Takatora, sembari memandang langit malam berbintang yang selalu menjadi kebiasaan rutinnya. Rasa gugup dicampur gelisah yang mempermainkan perasaanya membuatnya tak bisa berhenti berpikir. Tidak, mengapa ia harus gelisah? Takatora hanya menyuruhnya untuk datang ke ruangannya. Meski Suzu tak bisa menebak apa yang ingin dibicarakannya, seisi kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tak tahu apa jawabannya.

Sejak ia berjalan mengelilingi kota bersama Oeyo. Suzu tak melihat tanda-tanda bahwa ia terpukul karena kematian Oichi beberapa hari yang lalu. Namun itu benar jika Takatora sama sekali tak terpukul? Oichi adalah sosok ibu yang tak tergantikan baginya dan bagi Suzu. Tentu saja ia merasa sedih. Namun kenapa ia terlihat seperti tak terjadi apapun?

"Kenapa kau tidak masuk ke dalam?"

Suzu langsung tersentak kaget dari renungannya. Ia meengadahkan kepalanya untuk menatap Takatora yang menghampirinya sambil membawa nampan dengan dua gelas teh hijau dibawanya.

"Ah, aku hanya..." Suzu menjernihkan tenggorokannya sembari menyimpan kekhawatirannya. "Itu..." Suzu mengarahkan telunjuknya ke langit. "Karena bulan ini musim panas, bintangnya berkumpul di langit. Jadi aku tak bisa mengabaikannya," jawab Suzu sembari tertawa canggung.

Takatora menaruh nampan itu di belakangnya setelah duduk di samping Suzu. Lalu menawarinya teh yang telah diseduh. "Begitu rupanya," gumam Takatora sembari mengarahkan pandangannya ke langit berbintang. "Kau masih saja menyukai hal seperti ini. Aku tidak mengatakan itu hal yang buruk."

Suzu tertawa kecil sebelum meneguk tehnya. "...Takatora-san hebat. Tehnya sangat harum dan enak." Selama ini dia sering hidup berpindah tempat sendirian, wajar baginya bisa menyeduh teh dan memasak. Sedangkan Suzu yang selama ini selalu dimanjakan oleh orang tua dan bibinya, dia jarang menyentuh peralatan dapur. Sebagai perempuan, tentu ia merasa malu.

Namun dulu ia ingat saat pertama kali membuat manju untuk Takatora saat ia tinggal bersama bibinya, Ryoko. Suzu tertawa kecil.

"Apa yang kau tertawakan?"

Suzu menggeleng pelan. "Tidak. Hanya saja aku senang, ini pertama kalinya aku meminum teh buatan Tuan. Lalu aku jadi teringat saat aku pertama kali membuatkan manju untuk Tuan."

Takatora terkekeh pelan. "Ya, rasanya sama sekali tidak enak."

Suzu ikut tertawa kecil. "Tapi Tuan bahkan menghabiskan semuanya. 'Aku tak mungkin membuang makanan yang sudah susah payah dibuatkan untukku,' kata Takatora-san waktu itu. Aku sama sekali tidak menyangka. Lalu aku juga memberikannya pada Nagamasa-sama dan Oichi-sama. Mereka mengatakan hal yang sama dengan Tuan."

Takatora terdiam mendengar ceritanya sembari meratapi senyuman yang mengembang pada bibir merah jambunya.

"Mereka sangat baik. Ah, selain itu Oeyo-sama sudah tumbuh besar, ya? Aku ingat dulu saat aku pernah menyentuh pipinya. Oeyo-sama sangat menggemaskan. Tapi hari ini aku masih belum menemui Ohatsu-sama dan Chacha-sama. Dulu aku pernah mengajari mereka membuat mahkota bunga, lho! Obaa-sam yang mengajariku membuat mahkota bunga," ucap Suzu tersenyum bangga. Namun kemudian senyumannya berubah menjadi sendu. "Andai saja kenangan itu bisa terulang kembali. Andai saja kita hidup bukan di dunia yamg penuh dengan peperangan dan kekacauan. Aku sangat merindukan mereka."

Takatora mengerjapkan mata.

Suzu melirik kearah Takatora, tak sengaja ia telah membuat atmosfer disekitar mereka menjadi berat. "Takatora-san, anu..."

"Bukan salahmu. Sama sekali bukan..." potong Takatora sembari mengalihkan pandangannya menuju angkasa.

"...itu bukan salahmu juga, Tuan." Lalu Suzu menutup rapat bibirnya.

Seisi kepalanya mulai berpikir untuk mencari cara untuk meringankan suasana hatinya. Padahal dari tadi ia berusaha ingin meringankan suasana namun malah terjadi sebaliknya. Mereka berdua masih belum mengucapkan sepatah kata pun. Semua cerita yang menyenangkan yang ada di dalam kepala Suzu ditelan begitu saja.

Sedangkan Takatora berpikir bahwa ia lagi-lagi telah menggagalkannya. Mendengarnya menceritakan masa lalu mereka saat itu, mendengar bahwa ia sangat merindukannya. Dia menyalahkan diri karena telah gagal menyelamatkan mereka. Nagamasa, Oichi dan bibinya. Padahal dulu ia telah meminta Suzu untuk percaya padanya bahwa ia akan membantunya mencarikan kebahagiaannya namun takdir tidak berada di pihaknya.

"Tuan..." Suzu dengan pelan mendekat. Tak sempat menebak mengapa Suzu tiba-tiba mengurangi jarak diantara mereka, kepalanya sudah rebah di atas paha Suzu.

"...Suzu? Apa yang kau-"

"J-Jangan katakan itu! Aku tahu kok! Ini sangat memalukan tapi... Yoshitsugu-san pernah bilang kalau Takatora-san akan merasa lebih nyaman kalau tidur di pangkuanku. Jadi..."

"... kau terlalu mudah dijahili olehnya," ucap Takatora sembari menengadahkan wajahnya pada Suzu yang tersipu, terlihat jelas wajahnya merona kemerahan.

"E-Eh!? Jadi Yoshitsugu-san berbohong kalau Tuan-"

"Sejujurnya aku tidak pantas mendapatkan ini, tapi kuakui rasanya sangat nyaman. Terima kasih." Lalu Takatora memejamkan mata, menikmati semilir angin berhembus lembut, helai demi helai rambut mereka berdua melambai-lambai mengikuti irama naik turun gelombang angin.

"O-Oh, senang mendengarnya." Suzu tertawa kecil.

Hening.

Suzu menatap wajah Takatora yang terlihat begitu nyaman dan tenang. Dia terlihat seperti tak sempat untuk mengistirahatkan pikiran dan tenaganya sejak ia bernaung pada Hidenaga. Dia sudah berjuang keras berkat kepercayaan Hidenaga padanya. Namun ia sama sekali melupakan kondisinya.

Tak hanya itu, Suzu selalu ingin tahu bagaimana dan apa yang dipikirkan pria itu. Oichi telah pergi meninggalkan mereka dan menyerahkan mimpinya pada mereka. Mengingat hal itu, Suzu berniat untuk menyampaikannya pada Takatora. Tetapi sebelum itu, ia harus bertanya-

"Anu, Takatora-san..."

"Hm?" Takatora masih memejamkan mata.

"Tuan baik-baik saja...?"

Sepasang matanya separuh terbuka mendengar pertanyaan Suzu. Dirinya bertanya-tanya apakah ia membicarakan tentang luka yamg ia dapat saat perang di Shizugatake? "...ya."

"Tuan... tidak merasa lelah?"

Takatora berhenti sejenak lalu menjawab, menjauhi kontak mata dengan gadis bersurai perak tersebut. Menolak untuk terlihat lemah di hadapan gadis itu, tak ingin mengkhawatirkannya. "...tidak."

Sekarang Suzu yakin bahwa Takatora berusaha untuk tidak membuatnya khawatir, ia mulai menyadarinya. Dia adalah pria yang memiliki jiwa yang mudah rapuh. Ia tak pernah menyembunyikan rasa pedulinya pada seseorang. Namun sebaliknya, jika seseorang memperdulikan dirinya. Takatora selalu menganggap hal itu tak pantas untuknya dan menyembunyikannya dengan berprilaku seperti orang yang berkepala dingin. Karena itu Suzu paham betul bahwa tak ingin orang terdekatnya ikut merasakan penderitaannya. "Apakah sulit bagi Tuan... untuk mengalami semua ini?"

Tetesan air mata jatuh membasahi pipi Takatora. "Suzu?"

Suzu langsung mencegah air matanya agar tak jatuh menetes dengan jemarinya. "Bukan, bukan itu. Takatora-san seharusnya tidak perlu menahan seluruh beban sendirian terus menerus seperti ini. Jika sakit, katakan saja padaku. Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Setelah semua apa yang terjadi... Aku tahu selama ini Takatora-san menyembunyikan kesedihan Tuan dengan bersikap tegar. Tapi, aku tahu. Karena selama ini aku selalu memperhatikan Tuan."

Takatora bangkit, membetulkan posisinya agar bisa duduk menghadapnya.

"Tuan menyalahkan dirimu dan menolak semua yang telah terjadi. Yang seperti itu, bukanlah Takatora-san yang selama ini kukenal. Saat aku bertemu dengan Oichi-sama, beliau meminta Tuan untuk tetap hidup dengan menghargai nyawamu agar Takatora-san bisa membawa mimpi mereka pada kedamaian. Aku juga sudah mengatakan pada Tuan bahwa aku tidak akan membiarkan Tuan berjuang sendirian. Tapi, Tuan-"

"Maaf." Takatora langsung memotong dengan menyandarkan kepala Suzu di dadanya. "Apa aku terlihat begitu menyedihkan olehmu?" Suzu tak menjawab, ia masih menangis. Namun ia memberikan jawaban dengan melingkari lengannya ke punggung kekar pria itu. "Kau benar. Semuanya terasa begitu berat. Sangat."

Suara pria itu bergetar, ia merengkuh erat tubuh mungil Suzu. "...aku sudah berusaha agar bisa meluruskan semuanya. Tapi Oichi-sama..."

Apakah dia... menangis? Tak apa, itu bukanlah hal yang buruk. Selama ini Suzu belum pernah melihatnya meluapkan emosinya dengan berkeluh kesah dan meneteskan air mata. Sebagian dari diri Suzu merasa lega. "Um, aku mengerti..." Suzu memejamkan mata, memyandarkan kepalanya pada pundak lebar pria itu.

"Perjuanganku semuanya sia-sia...! Aku ingin menyelamatkannya, aku tidak peduli bahwa aku terlalu mementingkan tekad pribadiku. Meski beliau adalah mantan majikanku, aku tidak akan pernah menerima Oichi-sama mati...! Nagamasa-sama sudah mempercayakanku untuk melindungi Oichi-sama tapi aku gagal...!"

"Um, aku mengerti..."

"Bahkan aku akan mati sekalipun... aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin melindungi segalanya. Tapi aku tidak mengerti apakah kesetiaanku pada tuanku itu salah atau tidak...!" Kali ini pelukannya lebih erat. Terasa sedikit sesak, tapi Suzu tak mempermasalahkannya.

"Um, aku mengerti." Suzu membelai kepalanya dengan pelan dan lembut.

Manusia memang lemah, selalu menyalahkan takdir buruk yang menimpa mereka. Tapi setelah ini, Suzu ingin melihat Takatora berdiri dari segala yang telah menguji hatinya.

Takatora berhenti bicara namun masih belum mau melepas Suzu. Kimono pada bagian bahunya sedikit basah, menyadari bahwa dia benar-benar menangis. Namun Suzu merasa sedikit senang, selama ini ia jarang menunjukkan wajah aslinya. Sekarang ia sudah tahu semua wajah yang ia sembunyikan. "Dasar. Dikasihani olehmu... aku sungguh bukan seperti pendekar yang kau kagumi. Tapi, terima kasih." Takatora melepas dekapannya dan menatap Suzu.

Suzu menyinggungkan senyuman pada bibirnya. "Sama-sama. Aku tidak akan menceritakannya pada siapapun kok."

Takatora mengerjapkan mata lalu tangannya berpindah menuju wajah Suzu, menyeka bulir air mata yang membasahi mata indahnya. "Kau juga menangis..."

"Ah, sungguh?" Suzu tertawa kecil sambil berusaha menyeka matanya dengan jemarinya. "Disaat Tuan sedih, tentu saja aku juga merasakannya..."

"Begitu 'kah...?" Takatora menurunkan tangannya. Mereka kembali terdiam. Menyadari jarak mereka begitu dekat, namum Suzu terlalu khawatir untuk bergerak mengingat hening yang menyambut mereka.

"Suzu..." Suzu menengadahkan wajahnya menatap pria itu. "Aku sudah memikirkannya, jalan dimana kau bisa bahagia tanpa menderita seperti ini." Suzu mengedipkan kedua matanya. "Kau... harus menjauh dariku, menjauh dari perang. Semuanya..."

"...eh?"

Nada suaranya masih terdengar lembut, namun biji mata birunya tak sama sekali tak menatapnya. Menghindari pertanyaan yang memenuhi seisi kepala Suzu. "Jika kau sungguh ingin hidup tenang dan bahagia, jika kau sungguh ingin menjauh dari kekejaman dunia ini... kau bisa melarikan diri. Tak ada yang orang yang akan menghalangimu, semuanya hanya demi keselamatanmu."

Suzu terbungkam, tak bisa menjawab apapun. Sepasang matanya masih membulat sempurna.

"Kau tak pernah mungkin bisa bertahan. Perempuan sepertimu tak sepantasnya mengotori tangannya yang bukan demi dirimu sendiri. Karena itu kau harus bertanya pada dirimu apakah kau benar-benar ingin berada disini untuk berjuang demi dirimu sendiri. Bertempur dan mencucurkan darah, apakah itu jalan hidupmu untuk bertahan hidup di dunia ini atau bukan. Kau harus memutuskannya. Karena itu..."

"Maksud Tuan... aku harus meninggalkan segala yang kumiliki?"

"Ya. Dengan meninggalkan segalanya, kau bisa mengulangnya dari awal. Dan membuat jalan kehidupanmu yang baru tanpa harus mengotori tanganmu menghadapi kekejaman dunia. Dengan demikian, kau akan bahagia."

"T-Tidak... aku tidak mau! Jika aku meninggalkan segalanya, artinya aku akan..."

Takatora memindahkan pandangannya pada gadis itu. "'Akan'...?"

"...aku akan... tak pernah ada disisi Takatora-san." Tangannya menarik pelan jubah biru Takatora. Dilema oleh dua pintu yang tak ia ingin buka, sorot matanya yang sendu membuat Takatora tak sanggup memandangnya.

Takatora terdiam sejenak. Ia tahu bahwa ia takkan pernah bisa menarik ucapannya kembali. Namun demi dirinya, ia harus mengatakannya. "Itu sama saja. Jika kau tetap berada di sisiku, kau takkan pernah bisa bahagia."

"Tidak! Tuan salah! Justru karena Takatora-san... adalah alasan kebahagiaanku." Ia mencengkram lebih kuat pakaian Takatora. "Meninggalkan semua yang telah Tuan berikan padaku, aku tak mungkin bisa melakukannya...! Semuanya sangat berarti untukku. Berkatmu, aku sudah menemukan alasan aku bertahan hidup. Seberapa besar bahagianya diriku terselamatkan olehmu, Tuan mungkin takkan pernah tahu. Karena itu, aku tak ingin pergi meninggalkan Takatora-san!"

Takatora sudah pernah mendengar kalimat itu. Meski dulu hatinya terasa hangat dan lapang mendengarnya, kini ia tak bisa merasakan kehangatan dari ucapannya itu lagi.

"...Apakah aku tidak bisa untuk mencintai Tuan?"

Hening serta angin sepoi berhembus lembut seketika menyambut kedua belah pihak. Sepasang manik biru laut itu membulat sempurna ketika Takatora mendengar pengakuannya, kemudian ia menurunkan kelopak matanya.

Akhirnya dia telah mengatakannya. Untaian kata yang ingin Takatora keluarkan dari hatinya yang hendak meledak. Untaian kata yang ingin dan tidak ingin Takatora dengarkan. Ingin ia katakan namun tak bisa ia katakan. Karena itu hanyalah perkataan yang bisa menghancurkan segalanya.

Ia sama sekali tak salah dengar berkat keheningan dan kesunyian yang menyambut malam. Angin musim panas yang berhembus lembut membawa untaian kata gadis itu ke sepasang telinganya.

Suzu mencengkram erat dadanya yang sudah terasa sesak dan berat. Tubuhnya tak dapat berhenti bergemetar oleh isakan kesedihannya. Ia tetap menurunkan kepala, tak sanggup untuk memandang wajah Takatora. Hanya bisa memejamkan mata dengan rapat untuk menahan air mata yang hendak kembali menetes dari kelopak matanya.

Suzu mencintainya.

Itu sudah menjadi bukti yang kuat bahwa ia tak ingin jauh darinya. Untuk hidup bahagia bersama layaknya sebuah dongeng adalah mimpi yang ingin ia raih.

Namun mimpi tetaplah mimpi, takkan pernah menjadi kenyataan. Takatora sangat sadar akan hal itu. Jika Suzu mengatakan bahwa mimpi itu bisa menjadi kenyataan, jawaban Takatora adalah mustahil. Baginya, kebahagiaan yang diberikan dan memberikan kebahagiaan untuknya sangat mustahil.

"Kau harus melupakan itu," ucap Takatora sembari melepas cengkraman sebelah tangan Suzu pada jubahnya dengan perlahan.

Sepasang mata Suzu terbuka lebar seketika, menengadahkan wajahnya untuk kembali menatap pria itu. Meminta sebuah jawaban dari pertanyaan yang berkumpul lewat sorot matanya. Takatora telah menduga air muka yang terukir jelas pada wajah manisnya. Ia memiliki alasan yang akan ia buktikan pada Suzu. "Kenapa...?"

"Sudah kubilang, bukan? Kau takkan mungkin bisa menemukan kebahagiaan yang kau cari."

Suzu menggeleng kencang dan menahan tangan besar Takatora dengan kedua tangannya.

Sepasang alis pria itu menyempit begitu Suzu masih bersikeras. "...Suzu. Jangan membuatku mengatakannya. Apa kau tidak mengerti? Alasan mengapa Oichi-sama telah pergi, Nagamasa-sama dan bibimu, adalah karena ketidakberdayaanku. Jika kau tetap bersamaku, aku akan menjadi penyebab kematianmu."

Suzu tak menjawab, ia mengeratkan genggaman tangannya. Itukah alasan Takatora? Apakah dia serius ingin Suzu melupakan perasaannya itu?

"Coba kau pikirkan, aku adalah pria yang tidak tahu apa arti kesetiaan yang sesungguhnya. Melayani sang tuan hingga akhir yang seharusnya seorang prajurit penuhi meski harus mempertaruhkan nyawa adalah kesetiaan. Mereka tak mengakui keberadaanku. Suatu saat, mungkin aku akan pergi meninggalkanmu. Kau adalah keluarga bagi Hashiba. Sedangkan aku hanyalah prajurit yang tak paham arti kesetiaan. Dengan aku meninggalkanmu, semua yang kau berikan padaku dan yang kuberikan padamu akan sia-sia."

Suzu masih tak menjawab. Hanya mendengar masa depan yang akan terukir pada takdir mereka berdua lewat mulut pria yang ia cintai itu.

"Jika tanganku terselip sedikit saja, mungkin kau takkan bisa bertahan hidup. Bahkan tak ada jaminan apakah kau atau aku masih bisa bernapas esok hari. Ketidakmampuan dan ketidakberdayaanku akan mempertaruhkan nyawa kita berdua. Jika aku tak dapat menyelamatkanmu, apakah aku masih pantas menerima cintamu...!?" Takatora berusaha mempertahankan nada suaranya yang hampir membuat Suzu ketakutan. Gadis itu melepas genggamannya.

"T-Tapi... aku tetap... tidak mau meninggalkan Tuan."

Takatora menggertakkan gigi, mengepalkan tangannya lalu memukul lantai kayu roka dengan keras. Suzu memekik kaget. Untuk apa dia bersikeras untuk tetap bersamanya kalau masa depan gadis itu hanyalah kekosongan? Segala emosi pria itu akhirnya meledak. "Aku mengatakan ini demi dirimu, Suzu! Aku ingin kau tetap hidup, tanpa diriku pun kau pasti bisa bahagia. Kau tahu semuanya akan percuma jika aku terus berusaha melindungimu! Selalu ada pengecualian untuk segalanya! Nagamasa-sama, Oichi-sama dan bibimu, kau akan berakhir seperti mereka! Apa tidak masalah bagimu!?"

Kedua tangan mungil Suzu berpindah mencengkram kimono merah gelapnya. Tubuhnya bergemetar dan ia terlalu takut untuk memandang Takatora. "Jika aku mati demi Takatora-san, itu tak apa. Aku tetap bahagia asalkan Tuan tetap bertahan hidup..."

Takatora mengepalkan tangannya. "Tidak apa, katamu? Apa maksudmu?! Jangan bercanda!" Tangannya mencengkram kedua bahu Suzu dengan kuat. "Bagaimana dengan diriku!? Aku tak mungkin bisa menerima jika kau akan mati hanya demi diriku yang tidak berdaya!"

"T-Takatora-san...!" Suzu menjerit ketakutan, ia menutup wajahnya dengan kepalan tangannya.

"Kau pikir sudah berapa nyawa yang melayang akibat ketidakmampuanku!? Mereka yang sangat berharga bagiku, secara bergantian pergi meninggalkanku begitu saja." Takatora mendengus dengan getir. "'Demi diriku', kau bilang? Kau mencintaiku tapi kau sama sekali tidak mencintai dirimu sendiri! Cinta tak semudah itu...!"

Suzu hanya bisa terdiam bergemetar mendengar teriakan yang terlepas oleh pria yang dihadapannya. Sepasang matanya kembali basah akan air matanya.

Dia tak akan bisa mencintainya sampai kapanpun.

"Kita tak memiliki penyelamat hidup, harapan takkan terkabulkan dan doa takkan tersampaikan. Meski kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Tetapi kau tak memiliki harapan pada dirimu sendiri! Buktinya kau sama sekali tak bersedih saat kau mengatakan kau rela mengorbankan nyawamu demi kebodohanku. Yang benar saja...! Kita berdua tak memiliki masa depan yang pasti!"

Napas Suzu bergetar, ia masih menangkupkan kedua belah tangannya pada wajahnya. Melihat gadis itu tak dapat menjawab apapun dan hanya bisa menangis, Takatora berusaha menenangkan diri, lalu memindahkan genggamannya pada pergelangan tangan Suzu dengan lembut. Memintanya untuk berkontak mata. Biru bertemu dengan merah, pandangan pria itu terkunci melihat linangan air mata yang membasahi pipinya.

"Maafkan aku." Kini lantunan nadanya berubah lembut namun terisi penuh penyesalan. "Hanya ini jalan yang bisa kau tempuh agar kau tidak menderita. Jika ada cara lain agar aku bisa menyelamatkanmu, aku bisa terus mencintaimu. Tapi jalan itu tak pernah ada. Karena itu kau tak mungkin bisa mencintaiku. Dan aku tak mungkin bisa mencintaimu. Ini adalah permintaan terakhirku padamu, Suzu. Demi diriku, demi dirimu dan demi takdir kita berdua."

Lagi-lagi, pancaran cahaya pada manik merahnya sirna, sorot mata yang kosong penuh kesengsaraan. Suzu dengan lemah melepas genggaman pria itu pada pergelangan tangannya.

"Um, aku mengerti... Kurasa memang inilah waktunya untuk berpisah." Seulas senyuman sedih mengembang pada bibirnya yang tipis.

Ah, padahal ia sudah siap untuk mendengarkan ucapan selamat tinggal darinya. Namun tetap saja menyakitkan. Tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Takatora takkan pernah bisa menarik kembali waktu dan perkataannya. Suzu mengerti bahwa Takatora melakukan hal yang baik demi dirinya, selalu. Namun Takatora menyadari bahwa perkataannya baru saja bermaksud untuk menyingkirkan Suzu dari kehidupannya.

Namun ketika melihat senyumannya, Takatora tahu betul bagaimana kepribadian gadis itu. Selalu mengiyakan apapun yang menurutnya benar. Jika Takatora tak ingin dirinya menderita, maka ia harus melupakan segalanya.

Segalanya yang ia tahu tentang pria itu.

Demi Takatora, pria yang ia cintai, ia mau melakukan apapun demi dirinya.

Karena, mana yang benar dan mana yang salah. Dan mana yang baik dan mana yang buruk.

Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.

"Sebesar itukah perasaanmu padaku...?" bisik Takatora.

Pria itu kembali menangkap pergelangan Suzu. "Tuan-?" Suzu belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena dalam sepersekian detik kemudian Takatora telah menekan bibirnya pada bibir lembut milik gadis itu.

Itu adalah kecupan pertama kali yang Suzu rasakan. Kepalanya sampai terantuk pada dinding karena dorongan Takatora begitu kuat. Ia memindahkan tangannya menuju belakang kepala Suzu, menahannya agar ia tak dapat melawan dan memutuskan ciuman. Sedangkan tangannya yang bebas mengusap punggungnya. Merasa belum cukup, dia menjilat bagian bawah bibir Suzu sebelum menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Suzu.

Tubuh gadis itu seolah-olah seperti terkena sambaran petir, seluruh tubuhnya mulai melemah dan bergemetar akan setiap kontaknya. Suzu yang tak tahu bagaimana meresponnya hanya bisa mendesah dan mencengkram jubah biru Takatora dengan kuat.

Tidak berhenti sampai di situ saja, bibir Takatora menjamah leher kurus Suzu, memberi tanda pada kulitnya.

"T-Takatora-san...!" pekik gadis itu pelan sembari menguatkan cengkram jubahnya.

Kepalanya memanas namun jemarinya terasa dingin, degup jantungnya terpompa kencang. Ia terlihat begitu ketakutan dan bertanya-tanya apa yang telah membuat Takatora melakukan hal seperti ini. Tetapi tetap saja, Takatora tak bisa menahan lebih lama. Segala emosi yang ia simpan sudah tak bisa dipertahankan, dadanya sudah terasa berat dan sesak. Hasrat untuk mengisi kehampaan di dalam diri Takatora kelak, telah menguasai akal sehatnya.

Hanya memikirkan kenyataan bahwa Suzu mencintainya.

Sedangkan dirinya tak dapat mencintainya.

Apakah ada balasan yang bisa ia lakukan untuknya?

Takatora pun memutuskan kecupan lalu menatapnya lekat, tapi masih menahan tubuh mungil gadis itu. "Maaf, aku tahu ini terdengar egois. Tetapi biarkan aku melakukannya. Setidaknya sebelum kau pergi, aku ingin mendekatkan diri padamu." Suaranya berbisik, Suzu yang masih merasa sekujur tubuhnya meleleh, belum bisa menjawab. Tak hanya itu, ini pertama kalinya ia melihat raut wajah Takatora yang memancarkan hasrat untuk memiliki dirinya.

Malam ini, sudah banyak hal yang belum pernah ia ketahui tentang pria itu, semuanya baru untuknya. Namun tak lama lagi, ia takkan melihat semua itu di masa yang akan datang.

Di saat akhirnya pria itu melepas jalinan tangannya dengan gadis itu.

Di saat akhirnya pria itu melepas pandangannya pada gadis itu.

Dan di saat pria itu berjalan menjauh tak akan terlihat lagi oleh gadis itu.

Semuanya, ikatan mereka takkan bisa tersambung dan akan berakhir.

Setelah menarik napas untuk mengatur ketidakteraturan detak jantungnya, Suzu hanya tersenyum, memberinya jawaban untuk melakukan apa yang ia inginkan. Takatora terpana, menatapnya tak menyangka Suzu akan menerimanya. "...Kenapa kau tidak menghentikanku?"

"...Habis ini pertama kalinya aku bisa mengabulkan permintaan Tuan. Apapun caranya aku ingin melakukannya demi Tuan. Untuk pertama dan terakhir kalinya..." lirihnya.

"...Apakah tidak masalah bagimu jika orang itu adalah aku?"

"Justru karena Takatora-san, aku tidak menginginkan orang lain selain Tuan." Suzu meraih wajah Takatora dengan kedua tangan kecilnya. "Karena aku sangat mencintai Takatora-san..."

"..." Takatora terdiam sejenak, pandangannya seolah-olah tenggelam pada iris merah berkilauan pada matanya yang indah. Namun dirinya telah tenggelam terlalu dalam oleh kasih sayang gadis itu.

Dia lalu menopang lengannya di punggung dan kakinya kemudian menggendong Suzu masuk ke dalam kamar, lalu membaringkannya diatas futon. Ia telah menutup rapat pintu kamar, membiarkan jendela terbuka namun menutup tirainya. Membiarkan angin malam menyusup masuk ke dalam kamar.

"Anu... Takatora-san...?" Suzu mengedipkan matanya kebingungan. Belum sempat ia bergerak, Takatora menumpukan lengan disamping kepala Suzu.

"Jangan bergerak," tegasnya. Kemudian sebelah tangannya bergerak keatas menyentuh pinggangnya, jemarinya membuka obi -nya. Ia menurunkan kepala untuk kembali menjamah leher Suzu. Perlahan menenggelamkan wajahnya di pundak kecil Suzu demi merasakan kehangatan serta aroma manisnya.

"E-eh...? Takatora-san... Obi-ku, kenapa...?" desah Suzu mulai panik, ia menahan lengan Takatora yang hendak melepas obi-nya. Jarak mereka yang begitu dekat seakan dirinya terkurung berkat tubuh Suzu yang lebih kecil dari Takatora.

"Ketika aku menginginkan sesuatu, akan sulit bagiku untuk berhenti. Kau sendiri mengatakan kalau tidak akan menghentikanku." Setelah melepas obi-nya dan kimono-nya mulai longgar, tangannya bergerak meraih wajah Suzu. "Tutup matamu..."

Dengan ragu-ragu, ia memejamkan rapat matanya sembari menahan ujung lengan kimono-nya dengan erat. Tak sempat bertanya 'mengapa' ia harus menurutinya. Merasa jarak wajah mereka begitu dekat, ia terlalu takut untuk melawan. Tak hanya itu, aroma serta napasnya yang menyapu kulit wajah Suzu membuat seluruh tubuhnya melemah. Entah apa yang akan ia lakukan, Suzu sama sekali tak tahu.

Pria itu memandang wajahnya sejenak. Jika dilihat dari dekat kemolekan wajahnya, itu sudah cukup menyesakkan napasnya. Tubuhnya yang jauh lebih kecil, juga rapuh, kulit putih pucatnya yang hampir menandingi pualam, pipinya merona kemerahan membuatnya semakin terlihat menawan serta rambut perak yang halus seperti sutra dan mata merah rubinya yang sangat indah dan bulu mata yang melentik sedikit lembab oleh setitik bulir air mata yang masih tertinggal.

Dirinya yang bodoh baru menyadari betapa menawan gadis itu. Memikirkan bahwa dia telah tumbuh dan berkembang menjadi satu-satunya perempuan-

Yang terlalu ia cintai.

'Menawan... sangat menawan. Berpikir untuk menyingkirkannya dari genggamanku- aku benar-benar bodoh. Tetapi, menghargainya dengan menyimpannya sejauh mungkin agar tak ada satu pun yang dapat menemukannya, kurasa itu adalah jalan yang lebih baik. Untuk dirinya, dan untuk diriku.'

Suzu hanya bisa terbaring lemah diatas futon. Napasnya seolah-olah direbut akan setiap sentuhannya tadi. Takatora mulai menurunkan kepalanya, mengisap kulit tulang selangkanya lalu berganti menggigitnya.

"Hyah...!" Suzu memekik kesakitan, memejamkan kedua matanya dengan rapat sembari mencengkram jubah biru Takatora.

Sadar karena telah menyakitinya, Takatora berusaha keras untuk menarik keinginannya untuk menyentuh Suzu. "...Maaf." Pria itu beranjak lalu kembali mengeratkan obi pada kimono gadis itu. Sekali lagi ia mengutuk dirinya sendiri.

Suzu memaksakan diri untuk mengabulkan hasratnya untuk mendorongnya lebih dekat, namun pada akhirnya Suzu begitu ketakutan. Tak hanya itu, baginya, Suzu- "Aku tidak bisa melakukannya. Kau... terlalu berharga bagiku."

Netra merahnya membulat, lalu menurun. Menyadari bahwa kalimat itu terdengar kosong bagi Suzu. Sama sekali tidak merasakan kepuasan oleh hatinya. Merasa bahwa dirinya hanyalah benda keramat yang tak tersentuh oleh Takatora.

Berpikir bahwa mereka akan berada di pandangan yang berbeda- dunia yang berbeda. Kalimat itu sama sekali tak membuatnya bahagia. Apa artinya menjadi orang yang istimewa jika mereka akan berpisah? Apa artinya menjadi orang yang istimewa jika mereka takkan bisa lagi menyembuhkan penderitaan mereka masing-masing? Suzu ingin mengatakannya. Namun, ia tahu bahwa itu akan merusak segalanya.

Demi itu, ia hanya menyimpan kesepiannya sendirian.

Demi Takatora dan demi dirinya.

Ia harus berhenti mengejarnya kebahagiannya yang sesungguhnya.

Ia takkan pernah bisa meraihnya.

"Maaf sudah memaksamu untuk melakukan ini denganku," ucapnya sembari membantunya bangkit dari futon.

Dia menggeleng dan tersenyum. Senyuman palsu yang tidak ingin ia gunakan. "Jika itu bisa membuat Tuan tenang, aku tak keberatan. Lagipula, aku juga ingin membantu Tuan. Selama ini, aku selalu saja dilindungi. Jadi Takatora-san tak perlu cemas lagi. Setelah aku pergi, aku tidak akan pernah menginjak medan perang bersamamu. Berkat Tuan, nyawaku akan aman. Terima kasih... atas segalanya."

Hentikan, Takatora tak ingin mendengar rasa terima kasihnya. Ia tak pantas menerimanya.

"Anu, apakah aku boleh mengirim surat untukmu jika aku sudah berada di sana, Tuan?"

Setidaknya jika itu dapat mengurangi kesepiannya yang akan datang, ia bersedia melakukan apapun meski ia sangat jauh dari jangkauan. "...Ya, tentu." Takatora mendaratkan kecupan di dahinya kebawah menuju kelopak mata lalu terakhir pada bibirnya. Mendekap erat tubuh mungilnya ke dalam pelukannya sekali lagi.

Air mata mereka takkan terjawab, hati mereka takkan bersatu. Di dalam hati mereka yang paling dalam, mereka berdua tetap ingin bersama. Namun masa depan serta takdir tak akan bisa menjamin nyawa masing-masing diantara mereka.

Melepas, mungkin hanya itulah jawaban yang terbaik.

-XxX-

"Mohon maaf telah menganggu, Onene-sama."

Suzu yang secara tiba-tiba meminta untuk masuk. Nene menyuruh pelayan istana untuk mempersilahkan Suzu masuk ke dalam ruangan.

"Ada apa, Suzu-chan? Di malam hari seperti ini-" Pertanyaan Nene langsung terpotong ketika ia melihat wajah Suzu yang pucat, matanya membengkak dan tubuhnya begitu lemah. "Kau kenapa, Suzu-chan!?"

Suzu bergegas duduk di hadapan Nene lalu menunduk dalam kepalanya. "Onene-sama, aku punya permintaan. Mohon berikan aku izin untuk berangkat dari sini."

Nene tak pernah menyangka Suzu akan meminta permohonan padanya. "Tunggu dulu, kenapa?" tanya Nene semakin kebingungan. Ia meminta dayang untuk segera menghimbau suaminya.

"Aku..."

Suzu berhenti sejenak. Di dalam benaknya, ia tak ingin berbohong. Namun ia harus mencari alasan agar ia dapat meninggalkan istana dengan segera.

"Selama ini, aku merasa tak berguna untuk membalas hutang budiku pada Hideyoshi-sama dan Onene-sama. Aku sudah tak sanggup hidup di tengah peperangan. Mohon maafkan aku."

Nene tak bisa berkata-kata, ia bergegas menghampiri Suzu dan membantunya mengangkat wajahnya. "Suzu-chan, kamu tidak perlu melakukan hal seperti membalas kebaikan pada kami. Kami bersyukur kau bisa bertahan hidup hingga kini. Mengikuti medan perang pun tak apa. Lagipula bukankah sudah kubilang sebelumnya kalau kau tidak perlu melibatkan diri di medan perang?"

"Aku sangat menyesal, Onene-sama. Mohon maafkan aku karena telah mengabaikan nasihatmu."

Lalu Hideyoshi masuk ke dalam ruangan. "Apa terjadi sesuatu, Nene?" Lalu pandangannya berpindah kearah Suzu. "Oh, Suzu? Apakah ada sesuatu yang ingin kau ceritakan pada kami?" Hideyoshi segera duduk di samping Nene.

"Omae-sama. Suzu-chan bilang dia ingin berangkat meninggalkan istana."

"Hah? Kenapa?"

"Aku... akan pergi ke Pulau Sado. Disana adalah tempat kelahiran ibuku." Hideyoshi dan Nene menatap Suzu dengan tatapan penuh simpati.

"Ah, jadi kamu sangat merindukan orang tuamu? Baiklah," jawab Hideyoshi sambil manggut.

"Tapi, Omae-sama..."

"Tak apa, Nene. Sekali-kali kita harus membiarkan Suzu pergi, dia butuh waktu sendirian. Nah, kau boleh kembali ke sini kapan saja, Suzu."

Suzu kembali menundukkan kepala. "Terima kasih banyak, Hideyoshi-sama. Aku juga sangat bersyukur telah mengizinkanku tinggal bersama kalian selama ini."

Hideyoshi mengangguk. "Nah, kalau begitu aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu kesana."

"Anu, maaf menyela. Takatora-san... yang akan mengantarku kesana."

"Oh, kalau begitu semuanya sudah beres! Nah, karena sudah larut kau harus tidur secepatnya agar kau tidak kelelahan di perjalanan besok."

"Ya, Hideyoshi-sama.

-XxX-

Malam berganti pagi, pancaran sinar matahari masih belum nampak sepenuhnya.

Takatora memerintah beberapa prajurit dari pasukannya untuk mengemas semua barangnya yang kemudian dibawa ke dalak kapal.

Jemarinya menyentuh bel kecil yang dikalungkan pada lehernya. "Ini... hal yang baik, 'kan?" Ia berharap kedua orang tua dan bibinya dapat menjawabnya. Sadar bahwa ia takkan mendapat jawaban, pikirannya mulai terarah pada kehidupannya kelak di tempat yang asing. Takkan ada orang yang ia kenal. Sendirian tanpa ada Takatora dan yang lain berada di tempat itu. Hari-hari yang mereka habiskan takkan berulang.

Takatora berjalan menghampiri Suzu yang tengah menantikan matahari terbit. Namun kekosongan pada matanya masih belum berubah sejak malam itu. Matanya membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, bahkan ia terlihat sama sekali belum tidur.

"Suzu... kau baik-baik saja?"

Ia merasa seperti orang bodoh memberi pertanyaan itu padanya padahal dia sendiri telah menyadarinya. Namun tak ada ucapan yang lain yang muncul di dalam kepalanya.

"...ya." Suaranya terdengar begitu kecil. Ia masih belum mengalihkan pandangannya.

Takatora perlahan menaruh tangannya diatas pundak Suzu. Mempertemukan masing-masing netra mereka. Dahi Takatora berkerut ketika memandang tatapan kosong gadis itu tak berubah. "Suzu..."

"...Tuan tidak perlu cemas. Aku akan baik-baik saja." Nada suaranya terdengar begitu lembut dan menentramkan hati. Namun Takatora tahu bahwa ia menyembunyikannya.

Ia tak pantas untuk menyangkalnya.

Takatora dan Suzu.

Mereka berdua telah saling berbohong dan memalsukan hasrat mereka yang sesungguhnya.

Takatora membelai rambut Suzu dengan lembut, lalu menempelkan dahinya pada dahi gadis itu. Tangannya perlahan mengusap pipinya. Suzu memejamkan matanya dengan gugup dan takut akan sentuhan Takatora.

"Tuan, sebentar lagi kita akan berangkat..."

Takatora tak bergeming. Memandang manik merah Suzu yang separuh terbuka namun tak ikut membalas tatapnnya. Kemudian Takatora memindahkan tangannya pada tangan Suzu, mengiringnya masuk ke dalam kapal. "Ya, ayo..."

Para prajurit mulai menaikkan jangkar. Kapal itu mulai berlayar kearah timur laut. Suzu memandang laut yang berkilauan oleh pancaran matahari, gelombangnya bergerak tenang dan angin berhembus lembut menyapu wajahnya.

"Indah, ya?" gumam Suzu. Takatora masih belum melepaskan genggamannya pada tangan gadis bermanik merah itu.

"...kau benar. Bukankah ini pertama kalinya kau melihat laut?"

Suzu mengangguk.

Takatora ingin menarik ucapannya. Memang benar bahwa Suzu pertama kali melihatnya, namun itu artinya ini terakhir kali ia akan memandang laut yang sama berdua dengannya.

-XxX-

Mereka sampai di Pulau Sado pada sore hari. Para prajurit segera membawakan barang dan perbekalan ke dalam kediaman rumah mendiang ibu Suzu. Rumah tua itu begitu luas, hanya berdebu dan kotor karena tak ada yang merawatnya selama bertahun-tahun.

Suzu membiarkan kelelahan menguasai kesadarannya. Ia duduk di roka, menyandarkan kepala ke tiang kayu. Onigiri yang di tangannya hanya menyisakan satu gigitan.

Setelah selesai mengurus segala kekurangan, Takatora bergegas mencari Suzu di roka. Setiap melihat gadis itu dalam keadaan lemah, hatinya tak bisa tenang.

Ia menempatkan posisinya di hadapan Suzu. Matanya terpejam, ritme napasnya pelan dan lembut, kulitnya masih pucat tak berubah. Takatora melihat setetes bulir air mata yang ada di mata kiri Suzu.

Takatora mulai menyesali perbuatannya.

"Apa yang harus kulakulan demi dirimu...?" lirihnya sembari mengecup kelopak mata kirinya.

"Takatora-san...?" Suzu akhirnya bangun, perlahan ia membuka matanya. Jemari Takatora mengusap mata Suzu dengan lembut.

"Kau seharusnya tidur di dalam. Mereka sudah menyiapkan futon."

"Baik..." Suzu bangkit dari posisinya lalu berjalan. Melihatnya berjalan terhuyung, Takatora bergegas membantunya berjalan menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar, Suzu mengganti kimono-nya sebelum mengisitirahatkan diri dalam futon. Takatora menunggunya selesai mengganti pakaian di luar kamar.

Tiba-tiba Takatora mendengar suara gedebuk yang cukup keras. Selain itu, ia juga mendengar suara isakan tangis Suzu.

Tanpa berpikir panjang, Takatora langsung memasuki kamar, di dapatinya Suzu yang duduk di membelakangi sebuah cermin. Kimono putih yang ia kenakan longgar sehingga mengekspos tubuh rampingnya. Suzu menutup wajahnya dengan kepalan tangannya. "Suzu, mengapa kau-" Tangannya berhenti bergerak memasang kimono Suzu ketika pandangannya terarah ke kulit punggung Suzu.

Takatora tak pernah tahu di tubuhnya terdapat bekas luka bakar. Luka yang ia dapat saat ia terkurung sendirian di dalam Istana Odani. Tubuhnya terhimpit oleh reruntuhan kayu yang panas.

"Kau... luka ini..."

Tangisannya yang kencang masih belum berhenti. Takatora mengusap air matanya, lalu membawanya ke dalam pelukannya. "Selama ini, aku tak ingin melihatnya. Aku berusaha menganggap luka ini tak pernah ada...! Tapi kenapa...?" Suzu berhenti berbicara sejenak, kesulitan berbicara akibat isakan tangisnya. "Hatiku terasa lebih sakit ketika Tuan akan pergi meninggalkanku..."

Takatora mengeratkan dekapan, napasnya kini sangat berat. Menenggelamkan wajahnya di pundak Suzu.

Andai saja ia lebih cepat menemukannya.

Andai saja ia sempat menenangkan raganya saat itu. Suzu takkan pernah mendapatkan luka bakar itu.

Takatora mendaratkan kecupan pada bekas luka punggungnya tersebut. Kemudian berpindah pada tengkuk leher Suzu. "T-Tuan..." desahnya pelan sembari menahan lengan Takatora yang melingkari perutnya. Lalu menengadahkan wajah gadis itu, memberikan ciuman pada bibir merah jambunya- begitu dalam. Berharap dapat mengurangi kepiluan yang menyelimuti hatinya. Tak tahu apa yang harus ia lakukan selain merasakan kelembutan bibir tipisnya itu.

Ia tahu percuma untuk menyesalinya, segalanya takkan bisa kembali seperti semula.

-XxX-

Malam kembali silih berganti, Takatora memerintah bawahannya untuk bersiap-siap untuk kembali menuju istana.

Ia menoleh ke belakang, tatapan gadis itu seolah-olah memintanya untuk menemaninya lebih lama lagi. "Kalau begitu, aku harus kembali. Jaga dirimu." Lalu Takatora meraih tangannya. "Akan kupastikan kau aman disini. Karena itu aku minta padamu jangan pernah pergi dari pulau ini sampai perang benar-benar berakhir. Jika saat itu telah tiba, aku akan datang padamu."

Suzu masih tak mengatakan sepatah kata pun, raut wajahnya masih belum berubah, begitu pula kekosongan pada manik merahnya.

"Tuan berbohong..."

Takatora mengerjapkan matanya. "Kau tidak percaya padaku?"

"Aku ingin percaya. Aku sangat ingin percaya pada Takatora-san. Aku ingin percaya, tetapi Tuan tidak mau memberiku alasan untuk percaya padamu...!" Suzu melepas genggaman pada tangannya, ia menggigit bawah bibirnya.

"...kau benar." Takatora kemudian berbalik. "Jika kau membenciku, itu sudah wajar. Setelah semua yang kulakukan padamu, aku takkan bisa menariknya kembali."

"Tapi aku tetap mencintai Takatora-san!"

"Suzu, aku takkan mengulang perkataanku. Aku tak pantas... tak bisa menarik kata-kataku. Karena itu, aku ingin kau melupakan semuanya. Jangan membuat dirimu menderita lebih jauh."

Tidak bisa. Apapun yang akan Suzu katakan takkan ada artinya. Ia telah memutuskan ikatan mereka sepenuhnya, takkan pernah tersambung lagi.

Percuma. Semuanya percuma.

"Baiklah. Kalau begitu aku pun sama, aku juga tidak akan membuat Tuan menderita. Karena itu, aku akan mengembalikan segalanya... dan mengakhirinya sekarang juga." Suzu beringsut mundur, meremas pakaian pada dadanya. "Apakah Tuan tahu? Sejujurnya, aku berharap banyak padamu. Kukira hanya Tuan yang akan memperlakukanku dengan istimewa. Terima kasih atas segala yang Tuan berikan padaku selama ini." Suzu membungkuk dalam lalu kembali menuju kediamannya tanpa berbalik atau pun menoleh ke belakang.

Takatora menoleh, menatapnya gadis itu menjauh dari pandangannya sampai sosoknya tak terlihat. Pria itu berjalan memasuki kapal, memerintah pasukannya untuk segera berangkat kembali menuju istana.

-XxX-

Gadis itu memandang pohon sakura yang bermekaran di taman. Tiap helai daun bunga yang berjatuhan mengingatkannya akan salju.

"Apakah dia juga melupakanku?"

Gadis bersurai perak itu menghela napas. "Aku... sudah tidak ingat. Kapan dia meninggalkanku. Kenapa dia meninggalkanku sendirian disini? Aku juga sudah tidak ingat bagaimana wajah dan suaranya. Tapi aku sangat merindukannya. Apakah tidak apa jika aku menunggunya disini?"

-XxX-

-xxx-

-XxX-

Berhari, berminggu, berbulan, dan bertahun. Suzu masih menunggu, tatapan matanya yang kosong menatap lurus pohon yang tak berdaun yang berganti setiap musim. Lalu memandang ke langit yang menurunkan butiran salju yang tak terhitung jumlahnya. Merentangkan kedua tangannya sejajar dengan bahu, membiarkan setiap tetes salju mencair diatas telapak tangannya. Rambut peraknya mulai tumbuh panjang hampir menyapu lantai.

"...belum datang. Kenapa? Kenapa aku masih menunggu? Siapa... yang aku tunggu? Aku tidak tahu... aku tidak bisa mengingatnya. Apakah tidak masalah jika aku melupakannya? Um, kurasa... tidak mengetahui apapun lebih baik daripada mengetahui. Aku sudah berada di tempat yang tenang. Meski aku tak punya tujuan, kurasa seperti ini... lebih baik. 'Dia' pasti juga akan tenang."

Senyuman lega terbentuk pada bibirnya. Lalu ia memejamkan mata, merasakan semilir angin yang mengusap kulit wajahnya, mengibarkan tiap helai rambut peraknya. "Aku benar, 'kan?"

-XxX-

-xxx-

NEVER END

-xxx-

-XxX-

A/ N : Dark side saya muncul lagi. Saya udah usahain supaya rating-nya gak M wkwkwk. Yosh, nantikan rute anti bad end-nya ya!

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa review!