Summary: no summary for this chapter, just read and review^^
Warning : maaf jika ada typo, karena typo itu manusiawi, jadi mohon dimaafkan wkwk
Secret Family 12
Kibum benar-benar tidak bisa tidur malam ini. Ditemani Changmin yang sudah menguap sedari tadi, Kibum tidak menghiraukannya sama sekali. Kyuhyun sendiri masih tidur hingga berlanjut di tengah malam tanpa membuka matanya. Kibum sempat khawatir dan ingin menghubungi Jung Uisa atau Hangeng. Tapi, Changmin bilang bahwa Kyuhyun tidak apa-apa dan hanya perlu istirahat.
"Jam berapa kau berangkat besok?" tanya Changmin sambil mengucek matanya yang sudah memerah.
"8"
"Mau ku antar?"
"Tidak."
Changmin menggaruk tengkuknya. Kibum seperti itu sejak tadi. Sangat dingin dan menakutkan menurut Changmin.
"Besok sebagian maid kemungkinan akan datang. Tapi aku hanya mempercayaimu untuk menjaga Kyuhyun."
Changmin mengangguk mengerti. Ketika seorang Kibum yang memberi kepercayaan kepadanya. Changmin tidak akan bisa menolak. Itu artinya dia memang benar-benar sudah dipercaya dan bisa menjamin keselamatan Kyuhyun.
"Kau bisa mengandalkanku." Ungkap Changmin bangga.
"Hanya jangan menelan mentah-mentah perkataannya lagi, Shim."
"Ishhh, aku tau. Aku tadi memang salah."
Hening.
Changmin sibuk memainkan bantal sofa dengan ke dua tangannya. Rasa kantuknya menguap begitu saja setelah mendengar petuah Kibum.
"Kalian tidak tidur?"
Kibum dan Changmin langsung berdiri dan menghampiri Kyuhyun yang tiba-tiba muncul tak jauh dari hadapan mereka.
"Ada apa terbangun di tengah malam seperti ini? Kau istirahat saja," todong Changmin ketika melihat wajah Kyuhyun yang masih pucat dan lesu.
"Aku lapar."
Changmin hampir saja akan membuka mulutnya jika saja Kibum tidak menahannya.
"Kau duduk saja, akan ku buatkan makanan."
"Aku ingin ramyeon."
Kibum berbalik, menatap adiknya sekilas. Kemudian menggelang pelan.
"Kau tak boleh memakan makanan seperti itu," tolaknya.
"Tapi aku hanya ingin makan itu."
"Yang lain saja. Bagaimana? Aku akan membuatkanmu makanan lain yang kau inginkan asal bukan ramyeon."
Kyuhyun terlihat menghela napas kasar. Dia kesal karena permintaannya tidak dituruti. Dia hanya ingin makan makanan yang sangat jarang sekali ia makan. Hanya itu. Tapi lihatlah bagaimana reaksi Kibum.
"Aku akan membuatnya sendiri."
Kyuhyun melangkah menuju dapur. Tak menghiraukan protesan Kibum dan juga Changmin. Mereka hanya akan banyak bicara dan tidak akan mau menuruti permintaannya jika Kyuhyun terus berada di depan mereka dan mendengarkan ceramah gratis 2 orang terpenting dalam hidupnya di tengah malam seperti ini. Yang ada perutnya akan semakin lapar.
Kyuhyun hampir frustasi saat tak kunjung menemukan ramyeon yang ia inginkan. Semua yang ada di pantry dan lemari di dapur kotor hanyalah beberapa perlengkapan dapur, setumpuk bungkusan kopi, coklat, susu, dan bumbu dapur yang tidak ia tau namanya.
"Kau duduklah bersama Changmin. Akan ku buatkan."
Kibum menarik tangan Kyuhyun, mendudukkan adiknya di kursi depan meja makan. Kemudian berbalik kembali menuju dapur. Kyuhyun mendelik saat Kibum membuka sebuah lemari 'rahasia' berisikan makanan instan disana.
"Kalian menyembunyikannya? Ish, tega sekali. Appo, appo. Yak! Chwang, kenapa memukulku?" protesnya saat Changmin memukul kepalanya sebanyak 2 kali.
"Itu demi kebaikanmu bodoh!"
"Sepertinya kau amnesia. Aku bahkan lebih genius darimu, Shim Chwang."
"Tapi malam ini kau menjadi orang yang sangat bodoh Tuan muda Park."
"Aku tidak akan menjadi bodoh dan mati hanya karena makan satu bungkus ramyeon, Chwang. Kalian terlalu berlebihan menjagaku."
Kyuhyun merengut. Hal itu membuat Changmin semakin gencar menjahilinya, hingga keduanya terus beradu mulut. Mereka tak menyadari senyum Kibum yang merekah sejak perdebatan itu di mulai. Kibum tidak tau apa masalah Kyuhyun sebelumnya. Tapi melihat Kyuhyun sudah baik-baik saja, bersikap seperti tidak terjadi apapun, dan Kibum juga tidak membaca pikiran yang aneh dalam diri adiknya membuat namja berwajah datar itu terus memamerkan senyumnya. Ntah kepada siapa, karena dua namja lainnya disana masih sibuk dengan gerutuan masing-masing. Mungkin kepada angin. Atau kepada sosok ahjumma yang tengah memandangi mereka dengan bercucuran air mata dari tepi kolam?
"Hyung, berangkat jam berapa besok?"
Kibum mengangkat alisnya. Dia tengah meletakkan 3 mangkuk ramen di meja makan dan mengambilkan minum untuknya dan juga 2 orang disana. Yang membuat Kibum heran adalah Kyuhyun yang tumben sekali memanggilnya 'Hyung'. Bahkan Kibum sudah lupa kapan terakhir kali Kyuhyun memanggilnya dengan sebutan Hyung.
"Jam 8. Kau tak usah masuk besok. Arra?"
"Arraseo. Aku memnag tidak akan masuk sekolah. Aku ingin tidur seharian, dan jangan harap kalian bisa memasuki kamarku dan menggangguku."
Kibum kembali mengernyit heran. Yang ada di depannya sekarang ini seperti bukan Kyuhyun sekali. Terlalu menurut dan tidak membantah seperti kebiasaannya.
"Aku hanya tidak biasa jika tidak ada kau, Kibum."
Kibum tentu paham dengan alasan yang ini. Pada akhirnya Kibum hanya mengangguk, mendudukkan dirinya dan mempersilahkan keduanya makan sebelum ia menyantap ramyeonnya sendiri.
"Enak sekali. Kau hebat, Hyung."
"Ini hanya ramyeon, Kyu." Cibir Changmin yang kebetulan makan dengan ekspresi biasa saja ramyeon di depannya. Dia sering makan ramyeon bersama Minho dan sahabatnya yang lain bernama Jonghyun ketika Kyuhyun sibuk dengan Hyungdeulnya atau ketika Kyuhyun sedang sakit. Bahkan biasanya namja itu bisa menghabiskan 4 bungkus ramyeon sekaligus.
"Aku tidak berbicara denganmu, Chwang!" gerutu Kyuhyun kesal. Anak itu terlihat serius mengambil mienya dengan sumpit dan langsung melahapnya.
"Auh, hwanas. Hyunghiew (panas, hyungie)."
Kyuhyun tengah sibuk menjulurkan lidahnya ketika Kibum mengangsurkan segelas air yang langsung disambarnya dan diteguk dengan cepat hingga habis sepertiga gelas.
"Hyung hwidahku hebal (Hyung lidahku tebal)."
Kibum tersenyum geli melihat adiknya yang masih menjulurkan lidah. Sementara Changmin, jangan ditanyakan lagi. Namja itu bahkan sudah tertawa keras hingga beberapa kuah serta mie yang dikunyahnya muncrat mengotori meja makan.
"Itu bukan tebal, Kyu. Itu hanya reaksi sementara. Besok akan sembuh. Sementara lidahmu akan terasa kasar." Jelas Kibum lumayan 'panjang'.
"Kau memang berbeda jika dengan Kyuhyun, Kibum-ah," ungkap Changmin. Dia beberapa kali melihat Kibum yang berbeda jika dengan Kyuhyun di sekolah. Dan akan lebih berbeda lagi jika di rumah. Kibum akan menjadi sesosok Hyung yang cerewet dan banyak bicara.
"Sebenarnya Kibum itu sangat cerewet. Lain kali aku akan merekam suaranya ketika dia sedang berceramah."
Kyuhyun tersenyum jahil melihat wajah Kibum yang tiba-tiba berubah dingin setelah sebelumnya melempar pandangan menegur kearahnya. Kyuhyun harus membuat suasana malam ini menjadi baik sebelum dia memulai rencananya besok. Kibum akan kembali ke Busan dengan tenang dan Changmin bisa berangkat sekolah dengan damai.
"Aku selesai. Jaljayo Hyung, Chwang."
"Jaljayo, Kyu/Kyu-kyu."
Changmin tersenyum geli ketika Kibum menyebut nama saudaranya dengan panggilan yang menurutnya sangat manis. Changmin masih belum terbiasa mendengar sesuatu yang manis keluar dari mulut Kibum, walaupun dia sering mendengarnya jika hanya dengan Kyuhyun.
-SF-
Berjaket tebal, bercelana jeans panjang, memakai beani hat, syal, serta ransel hitam yang sedikit menggembung. Begitulah kiranya penampilan Kyuhyun di pagi buta ini. Namja itu sudah berada di dalam bus ketika Kibum dan Changmin bahkan belum terbangun. Kyuhyun sudah menempelkan kertas bertuliskan kalimat yang sengaja ia tulis menggunakan bolpoin hitam besar, bahwa tidak ada seorangpun yang boleh masuk kamarnya dan mengganggu tidurnya karena hari ini dia akan menikmati kesendiriannya di dalam rumah hingga Kibum, Heechul dan Jungsoo pulang.
"Kyuhyun memang sangat pintar." Pujinya sambil menepuk-nepuk tasnya yang sedikit menggembung. Jam masih menunjukkan pukul 05.30, dan dia sudah setengah perjalanan menuju tempat yang akan dikunjunginya. Namun sebelum itu Kyuhyun sudah menghabiskan 1 buah roti yang ia ambil dari dalam kulkas pukul 3 pagi tadi. Jangan menganggap seorang Park Kyuhyun bodoh dengan kabur dari rumah di pagi buta. Karena kaburnya hari ini sudah ia rencanakan secara matang.
Kyuhyun kabur dengan membawa beberapa roti di dalam tasnya, beberapa susu kotak rasa coklat, botol minuman yang berisi air putih, handuk kecil, topi, payung, obat, psp, dan yang paling penting adalah guling kecil. Kyuhyun bersorak senang hingga beberapa penumpang menengok kearahnya dengan pandangan menegur. Dia senang karena berhasil membawa banyak keperluannya sendiri. Semalam Kyuhyun sengaja meminta ramyeon, karena Kibum tidak mungkin akan memberikannya, di saat Kibum menolak dan Kyuhyun masuk ke pantry dan dapur kotor, Kyuhyun beraksi memeriksa semua makanan dan keperluan yang bisa ia bawa hari ini. Memeriksa semuanya hingga dia hafal letaknya. Dan saat Kibum dan Changmin sudah tidur, dia mengambil perlengkapan yang ia butuhkan diam-diam, setelah itu mandi, menulis note, berdoa sebelum berangkat dan misipun berjalan lancar. Kyuhyun berhasil keluar dari rumah dan menjalankan misinya mulai pagi ini.
"Lain kali jika aku mempercayakannya kepadamu, jangan menerima semua perkatannya mentah-mentah. Kau harus tau kemana dia akan pergi."
"Hanya jangan menelan mentah-mentah perkataannya lagi, Shim."
Kyuhyun mengingat percakapan Kibum dengan Changmin yang kebetulan ia dengar kemarin. Terimakasih untuk Park Kibum karena sudah menyadarkan Park Kyuhyun untuk tidak menerima semua 'perkataan' secara 'mentah-mentah'. Itulah yang menjadi misi Kyuhyun sekarang. Dia akan mencari bukti atas perkataan Ryeowook dan Kim Saem kemarin di atap sekolah. Sekali lagi dia mengingat perkataan Kibum yang sebenarnya ditujukan kepada Changmin, 'Jangan menerima semua perkataannya mentah-mentah'.
"Aku akan segera kembali, Bum-bum, Hyungdeul."
-SF-
"Jika Hyungdeulmu tau, aku bisa dibunuh."
Namja berkaca mata itu mengusap wajahnya kasar. Ini masih pagi buta, masih jam 6, dan dia sudah menerima tamu yang dengan tidak tau dirinya memamerkan senyum lebar dan menyapanya, kemudian dengan ringannya dia mengatakan kalau dia sedang menjalankan misi kabur dari rumah 1 hari ini untuk melakukan sesuatu.
"Mereka tidak akan melakukan itu, Jung."
Namja itu membelalakkan matanya, mendengus marah, tapi tidak bisa melakukan apapun selain mengumpat.
"Aku hampir 10 tahun lebih tua darimu, bocah. Panggil aku, Hyung."
"Tidak mau, Jung. Aku akan memanggilmu ahjussi saja."
Jung Yunho. Namja itu kembali mendesah keras. Dia tidak akan bisa melakukan apapun untuk mengalahkan lidah tajam adik Heechul ini.
"Yak, kau sangat kurang ajar seperti Heechul. Apa yang sebenarnya kau inginkan pagi-pagi begini di rumahku? Jika ingin kabur jangan kesini. Aku benar-benar akan mati jika Hyungdeul mu tau."
Yunho semakin kesal saat Kyuhyun –tamu yang datang di rumahnya dengan tak tau diri- justru tersenyum begitu lebar.
"Hanya kau yang bisa membantuku, Hyung."
Kyuhyun mengkedip-kedipkan matanya. Jurus puppy andalannya sedang beraksi. Lihatlah, Yunho bahkan sudah akan mengulurkan tangannya karena gemas. Namun sebelum itu, Kyuhyun sudah menahannya.
"Hyung boleh mencubitku, dan mencium pipiku jika Hyung bersedia membantuku hari ini. Yakseo?"
"Ya..ya..ya, baiklah."
Tak butuh waktu lama. Pipi Kyuhyun sudah habis dicubiti Yunho dan di cium secara bergantian karena gemas. Yunho adalah anak tunggal. Jadi tidak heran jika dia sangat menginginkan seorang dongsaeng. Terlebih jika ada yang imut seperti di depannya ini. Rugi jika harus dibiarkan.
"Aku benar-benar tidak mengetahuinya, Kyu. Aku belum lama menjadi dokter pribadimu. Dan aku juga tidak tau pasti pernah ada operasi transplantasi jantung atau tidak 13 tahun lalu atas namamu di Rumah Sakit tempat ku bekerja sekarang."
Kyuhyun menunduk sedih. Padahal hanya Yunho yang menjadi harapannya sekarang. Tapi lihatlah, namja itu seperti orang bodoh yang benar-benar tidak tau apa-apa.
"Sebelum aku, Appa ku adalah dokter pribadi keluargamu. Ahh..maksudku doktermu. Beliau adalah spesialis jantung sama sepertiku."
Mata bulat Kyuhyun berbinar. Ternyata Tuhan masih memberikan harapan untuknya.
"Pertemukan aku dengannya. Jebalyo, Hyungie. Jebal, jebal, jebal."
Yunho tak tahan dengan mata itu. Ingin rasanya ia mencongkel dan menimang-nimangnya, tapi sayang sekali dia bukan seorang psikopat yang bisa dengan mudah melakukannya.
"Arraseo, tapi beliau berada di Ulsan sekarang. Jung Hook Hospital. Beliau adalah pemiliknya. Dan Ayahku pasti tau banyak tentangmu. Jadi…"
"Jadi, Hyung akan mengantarku sekarang?"
Yunho menggeleng."Jadi….bolehkan kau mencubit pipimu lagi. Mumpung Hyungdeulmu sedang tidak ada."
"Yak! Kau terlalu banyak mengambil kesempatan. Coba saja kalau di rumah, kau selalu terlihat sok cool di depan Hyungdeul."
"Aishh, itu karena aku sedang berhadapan dengan orang-orang hebat."
Kyuhyun melotot,"Maksud Hyung aku tidak hebat? Asal Hyung tau saja, aku lebih hebat dari Hyungdeul. Hyung harusnya juga sungkan dengan ku."
Yunho mengerling, mencoba menggoda Kyuhyun.
"Sungkan dengan namja seimut puppy sepertimu? Ti-dak a-kan."
"Waaaaaaaa!"
Kyuhyun berlari tunggang langgang mengitari rumah dokter muda itu. Dia tidak ingin pipinya habis di cubit dan diciumi secara tidak hormat oleh namja yang tingginya hampir menyamai Changmin. Oh ya ngomong-ngomong tentang Changmin, sebenarnya Yunho adalah sepupu sahabat Kyuhyun tersebut.
"Hhh..Hyung, aku hampir lupa. Jangan…beritahu Changmin aku…menemuimu." Jelas kyuhyun sambil mencoba mengatur napasnya yang tersenggal akibat terlalu lama berlari. Hal itu membuat Yunho sedikit menyesal.
"Arra. Kau duduklah, akan ku buatkan minum sebentar sebelum aku besiap."
"NE!"
Kyuhyun tertawa keras saat Yunho terlonjak kaget mendengar teriakkannya yang tiba-tiba. Kyuhyun memang suka menjawab dengan lantang seperti anak TK.
-SF-
Kyuhyun masih tersenyum canggung melihat Jung Hook Do yang tengah mengelus kepalnya seperti mengelus anak kucing. Jika yang memperlakukannya adalah Hyungdeul, Changmin atau Yunho, dia pasti sudah mencacimakinya habis-habisan. Tapi lihatlah sekarang, Kyuhyun hanya mampu tersenyum sambil menunduk.
"Kau sudah sangat besar dan tinggi."
"Tapi aku masih kalah tinggi dari Changmin." Protesan Kyuhyun yang spontan justru membuat namja paruh baya itu tertawa begitu keras.
"Kau masih suka merajuk, eoh?"
Kyuhyun merengut. Ntah kemana sikap canggungnya tadi.
"Aigoo, andai Yunho bisa seimut ini, pasti sangat menggemaskan."
"Appa, aku ini namja dewasa, imut itu bukan aku sekali." Protes Yunho yang kemudian disusul tawa Kyuhyun.
"Yunho Hyung itu seperti ahjussi-ahjussi cerewet. Dia tidak akan pantas menjadi imut, Ahjussi."
Yunho berusaha menekan emosinya. Appanya justru tertawa mendengar ejekan Kyuhyun padanya.
"Appa, jangan dengarkan anak ini. Dia sangat kurang ajar, persis seperti Heechul."
"Tidak. Dia sangat manis dan jujur."
"Ahjussi, aku menyayangimu." Kyuhyun memeluk pinggang Jung Hook hingga membuat laki-laki itu terkekeh geli. Dia sangat mengenal Kyuhyun dan keluarganya. Namun setelah kecelakaan yang dialami Kyuhyun 3 tahun lalu, dia sudah mulai berhenti menjadi dokter dan mulai fokus menjadi kepala Rumah Sakit yang dibangun orang tuanya setelah ayahnya meninggal.
"Sebenarnya ada apa kau kemari? Apa kau merindukan Ahjussi?"
Kyuhyun mengangkat kepalanya. Berkedip sebentar, lalu tensenyum kecil. Mendadak ada rasa sungkan lagi yang timbul dari dalam dirinya.
"Sebenarnya dia ingin mengetahui apakah dia pernah melakukan transplantasi jantung atau tidak, Appa."
Yunho mempermudah langkah awal Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk membenarkan.
"Ahh itu. Kalau tidak salah kau masih kecil saat itu. Mungkin usiamu masih 3 tahun."
"Ahjussi mengetahuinya." Mata Kyuhyun berbinar.
Jung Hook mengangguk, "Untung saja ada seseorang yang mau mendonorkan jantungnya untukmu."
Kyuhyun terdiam. Dia sangat yakin sekarang bahwa Jung Hook mengetahui semuanya. Termasuk kebenaran tentang siapa yang memberikan jantung baru untuknya.
"Apa dia seorang wanita?"
"Kau sudah tau?"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Aku hanya tau sedikit. Apa Ahjussi mengenalnya?"
"Tentu saja. Dulu dia adalah salah satu apoteker di sini."
"Jeongmal? Dia berkerja di sini?"
"Ne. Namanya Kim Minji, tinggal di daerah sini bersama suami dan anaknya yang masih kecil-."
"Sebenarnya dia dari Seoul. Tapi dia memilih bekerja di Ulsan dan memulai hidup barunya di sini. Ku dengar kehidupan keluarganya sangat sulit. Orang tuanya bekerja sebagai pelayan. Dia dan kakaknya adalah orang-orang genius yang menerima beasiswa penuh di salah satu Universitas di Seoul."
Tidak salah lagi, itu pasti Kim Min Soo dan Kim Minji adik eomma.
"Apa ahjussi juga tau tentang keluarganya?"
"Aniyo. Aku hanya penah bertemu dengan Kakak laki-laki, suami dan anaknya. Itu pun sudah sangat lama. Setelah Minji meninggal karena kecelakaan, aku tidak pernah tau lagi dimana keluarganya tinggal."
Kyuhyun mengangguk-angguk paham. Terjadi keheningan sebentar sebelum Kyuhyun kembali menanyakan hal yang lebih ingin ia ketahui.
"Apa kondisi Minji Ahjumma waktu itu sangat parah?"
"Ne. Sangat parah, tapi dia masih bertahan sampai 2 hari. Itupun sepertinya sudah mukjizat mengingat betapa parahnya kecelakaan itu. Ada pendarahan di kepalanya. Ahh…sebenarnya dia sempat sadar setelah koma selama 2 hari."
Kyuhyun langsung mengangkat kepalanya. Matanya berbinar cerah, hal itu membuat Jung Hook dan Yunho mengernyit keheranan.
"Ada apa?"
"Aniyo. Ahjussi, apa Ahjussi bisa menceritakannya kepadaku? Bagaimana operasi itu bisa berlangsung sedangkan Minji ahjumma sudah sadar?"
Jung Hook mengangguk. Namja paruh baya itu mulai mengerti apa yang diinginkan anak yang memiliki banyak ekspresi di depannya ini.
"Aku sudah bercerita bahwa kondisinya sangat parah tadi. Dia sadar, tetapi bukan sadar dalam arti membaik. Kondisinya justru memburuk. Dia mengalami pembengkakan pada pembuluh otak. Aku tengah memeriksa kondisinya saat itu. Tapi saat itu dia terus menerus memanggil nama Kim Yuri. Kami kebingungan karena saat itu keluarganya tidak ada yang bisa dihubungi. Suaminya pergi mengantar anaknya untuk dititipkan kepada Kakak Minji di Seoul. Lalu Minji kembali memanggil nama Kim Hanna. Dan kebetulan sekali saat itu kau juga di rawat disini setelah kolaps saat liburan di pantai di daerah sini beberapa hari sebelumnya. Eommamu datang, mereka berbicara berdua…aku tak tau apa yang mereka bicarakan. Ternyata mereka pernah bertemu sehari setelah kau dirawat di Rumah Sakit ini"
Jung Hook memandang Kyuhyun sekilas. Anak itu sedang mendengarnya walaupun pandangannya terlihat kosong.
"Saat itu kondisimu benar-benar sangat mengkhawatirkan, keluargamu sudah hampir putus asa. Kondisimu waktu masih kecil lebih parah daripada sekarang ini..."
"Tidak apa. Dia sekarang sering sekali kambuh. Anak ini tidak bisa diam hingga menyiksa dirinya sediri," potong Yunho yang langsung mendapatkan respon terkejut dari sang Ayah.
"Apa benar seperti itu?" tanyanya pada Kyuhyun yang justru menunduk. Namja itu menggeleng.
"Aniyo Ahjussi, itu tidak penting sekarang. Yang terpenting saat ini adalah aku segera mengetahui tentang bagaimana operasi jantung itu bisa dilakukan? Apa Minji ahjumma tidak bisa diselamatkan waktu itu? Atau..atau aku yang.." Kyuhyun tidak berani mengatakan kalimat selanjutnya. Dia tidak mau menduga tentang hal yang bisa menjadikannya sebagai orang jahat sebagai perampas milik orang lain.
"Kau jangan berfikir macam-macam. Kondisi Minji kembali kritis 1 jam setelah kau dipindahkan di Rumah Sakit Seoul karena kondisimu yang semakin memburuk. Dia memintaku membuatkan sebuah surat perjanjian. Dimana dia akan mendonorkan jantungnya untukmu jika dia tidak berhasil diselamatkan."
"Lalu…lalu apa yang terjadi?"
Jung Hook menghembuskan napasnya sejenak, "Minji meninggal. Tanpa keluarga yang mendampingi. Mungkin ini salahku."
"Appa?" Yunho menggenggam tangan Appanya yang sudah mulai keriput dimakan usia.
"Pihak Rumah Sakit di Seoul menghubungi kami, menanyakan tentang pendonor jantung yang mungkin tersedia. Di kesempatan terakhirnya hidup, Minji memohon kepadaku untuk segera melakukan operasi dan mendonorkan jantungnya. Tentu saja aku menolak karena itu menyalahi aturan. Namun setelahnya kondisi Minji benar-benar sudah tidak tertolong. Disitulah aku segera mengambil tindakan untuk melakukan operasi dengan bekal surat perjanjian yang sudah di tanda tangani Minji. Kau juga membutuhkannya Kyu, kau benar-benar tidak akan bisa tertolong jika saat itu Minji tidak mendonorkan jantungnya. Tetapi, setelah itu semuanya menjadi semakin sulit. Keluarganya tidak bisa menerima bahwa Minji meninggal dan melakukan operasi transplantasi jantung tanpa sepengetahuan mereka. Walaupun aku sudah menjelaskan bahwa Minji sudah tidak bisa ditolong dan menunjukkan surat yang sudah Minji tanda tangani, mereka tetap tidak percaya…"
"Aku sempat mengusulkan bahwa aku bersedia menyelesaikan semuanya di meja Hukum jika mereka masih tidak menerima itu semua. Disatu sisi aku memang bersalah karena tidak menunggu mereka. Tapi, saat kejadian itu tidak satupun dari mereka yang bisa pihak Rumah Sakit hubungi, sedangkan keadaan sangat mendesak. Setelah itu, aku tidak tau apa yang terjadi. Keluarga mereka seperti menghilang. Mereka tidak berada di Ulsan dan aku pun tidak mengetahui alamat keluarganya yang lain di Seoul."
Jung Hook memandang iba Kyuhyun yang sudah menangis. Walaupun namja itu hanya duduk berdiam, namun bahu yang gemetar dan suara isakan lirih yang terdengar tidak mampu menyembunyikan betapa sedihnya anak itu.
"Kau jangan berpikir yang tidak-tidak, itu bukan salahmu. Kau tidak tau apapun saat itu. Semua yang terjadi tidak ada yang menyalahi aturan. Jika memang ada yang harus disalahkan, itu adalah aku. Kau tak usah sedih, arra?"
Jung Hook menarik tubuh Kyuhyun lebih dekat dan memeluknya. Menepuk punggung namja itu hingga tangisnya mereda.
"Ahjussi?"
"Ne?" Jung Hook masih menepuk punggung Kyuhyun, walaupun dia tau anak itu sudah tidak menangis lagi.
"Apa aku bisa melihat arsip rekam medis kondisi terakhir Minji ahjumma saat itu. Dan…arsip data apoteker disini 13 tahun lalu?" pinta Kyuhyun dengan nada putus asa.
"Kau sedang melakukan apa? Apa kau bertemu dengan salah satu keluarga mereka? Apa mereka menyalahkanmu?"
Yunho yang juga berada disana terhenyak. Dia tidak berpikir sejauh itu. Tetapi melihat Kyuhyun yang nekat kabur, datang ke rumahnya pagi-pagi, hingga memintanya untuk berkunjung ke Ulsan dan percakapan yang baru saja terjadi, Yunho dapat menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Kyuhyun sudah bertemu dengan salah satu anggota keluarga dari seseorang yang mendonorkan jantungnya.
"Bolehkah?"
Kyuhyun tidak sedang mengeluarkan jurus berkaca-kaca sekarang. Tapi tetap saja air bening yang berasal dari ke dua matanya keluar.
"Baiklah."
-SF-
"Kyuhyun-ah, Appa sedang menghadiri rapat sebentar. Kau sudah membaca hasil rekam medis Kim Minji?"
Kyuhyun mengangguk. Kali ini anak itu sedang membuka arsip data apoteker yang dimintanya tadi. Tidak terlalu tebal sebenarnya, tapi cukup membutuhkan waktu yang cukup lama karena data yang dimasukkan adalah data campuran baik apoteker magang maupun apoteker yang sudah bekerja tetap per 3 tahun.
"Aku akan keluar sebentar untuk mencari makan siang. Kau tunggu disini, ne?"
Yunho mendengus kesal saat pertanyaannya hanya dijawab oleh anggukan. Anak pucat itu masih terlalu sibuk dengan banyak data di depannya dan sedang tidak bisa diganggu.
Di ruangan pribadi Kepala Rumah Sakit Jung Hook milik Jung Hook Do, disinilah Kyuhyun sekarang. Membuka dengan tidak sabar lembar perlembar kertas yang tercetak dalam sebuah buku arsip. Sedikit merutuki kenapa Rumah Sakit besar ini tidak memasukkan data sebanyak itu ke dalam komputer disebuah data base agar mempermudah pencarian.
Setiap lembar data dalam arsip disisipkan sebuah photo berukuran 4x6, berwarna. Sehingga akan sangat jelas nantinya jika Kyuhyun ingin tau seperti apa wajah orang yang mendonorkan jantung untuknya.
"Eh?"
Kyuhyun memandang penasaran sebuah halaman yang memuat sebuah photo seorang wanita cantik yang wajahnya sangat familiar menurutnya. Kyuhyun mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah melihat wajah itu. Namun setelah ia berhasil mengingatnya…
"Ahjumma?"
Kyuhyun ingat, wanita dalam photo itu adalah ahjumma yang sering ia lihat di rumahnya. Ahjumma yang pernah membantu membuat cokat panas. Ahjumma yang terakhir kali Kibum lihat sebelum jatuh ke dalam kolam renang, dan ahjumma yang terkahir ia lihat sebelum pingsan di kediaman eommanya.
Kyuhyun masih memperhatikan wajah wanita itu hingga sederet nama berhasil menyedot perhatiannya.
"Kim Min..ji"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ahjumma yang sering ia lihat sejak kecil, yang sering menemuinya dan Kibum, dan yang sering diajaknya berbicara. Ternyata wanita itu bukanlah penghuni asli rumahnya. Melainkan Kim Minji. Orang yang sudah menberikan jantung untuknya.
Kyuhyun merobek halaman itu, menutup buku arsip dengan kasar, kemudian beranjak setelah sebelumnya mengambil tas dan jaketnya. Kyuhyun ingin pulang ke rumahnya sekarang. Bertemu dengan sosok ahjumma yang ternyata adalah Kim Minji. Semuanya hanya salah paham, dan Kim Minji lah salah satu saksi yang bisa ia mintai keterangan dan menjelaskan kepada keluarganya bahwa semuanya adalah salah. Bahwa perkataan Ryeowook dan Kim Minsoo tidak benar. Keluarganya tidak bersalah dan tidak mengambil itu dengan prosedur yang tidak benar. Eomma mereka memang sudah meninggal. Dan jika memang harus ada anggota keluarga Park yang harus disalahkan. Itu adalah dirinya. Karena jantung itu sekarang ada di dalam tubuhnya. Jantung yang sekarang bahkan sudah tidak dapat bekerja dengan baik dan selalu menyakitinya disetiap kesempatan.
Mendadak hujan turun begitu deras. Kyuhyun terpaksa menghentikan langkahnya menuju halte bus dan berteduh di salah satu emperan toko yang tutup. Dia tidak mau pulang dengan keadaan sakit, karena itu akan membuang waktunya untuk bertemu dengan Minji dan bertanya apa maksud wanita itu selama ini berada di rumahnya dan tidak mengatakan apapun bahwa dia adalah Minji?
Hujan semakin deras. Sudah hampir 90 menit dan Kyuhyun masih betahan disana dengan udara yang semakin dingin, karena hujan kali ini disertai dengan angin kencang.
Mendadak Kyuhyun mengingat sesuatu, bukankah dia membawa payung? Ahh…betapa bodohnya Kyuhyun, kenapa dia bisa melupakan payung yang dibawanya?
"Dasar Kyuhyun bodoh," rutuknya pada diri sendiri.
Setelah payung berwarna biru itu terbuka. Kyuhyun mulai merapatkan jaketnya dan berjalan keluar pelataran toko. Namun baru beberapa langkah ia berjalan. Angin berhembus sangat kencang hingga payung yang dipegangnya tidak terlalu kuat terbang di tengah jalan raya.
"YAK! Kenapa kau terbang? Kau tidak tau aku sedang terburu-buru?"
Namja itu menghentakkan kakinya kesal. Kyuhyun ingin mengambil payungnya, namun seseorang menarik tubuhnya dari belakang hingga memasuki sebuah minimarket.
"Hei anak bodoh, sudah selesai berpetualangnya?"
Kyuhyun membuka mulutnya lebar-lebar. Matanya mengerjab beberapa kali. Sungguh dia dibuat terkejut oleh orang yang saat ini sedang berdiri santai di samping tempatnya duduk.
"Bum-bum"
Kyuhyun masih memandangi kembarannya yang ntah bagaimana bisa berada di tempat ini.
"Aigoo, lihat jaketmu basah. Kau bisa sakit. Dasar anak nakal!."
Kyuhyun tidak menanggapi gerutuan Kibum. Dan tidak protes ketika Kibum dengan cekatan membukakan jaketnya dan memakaikan jaket baru yang dimunculkan dengan ajaib oleh Kibum dari dalam ransel besar yang dipanggul Kibum di punggunya. Tidak ajaib sebenarnya. Karena Kibum memang sengaja membawa 2.
"Tunggu sebentar."
Kibum menghilang sebentar, ntah kemana, Kyuhyun tidak mau tau. Dia masih penasaran, bagaimana saudara kembarnya itu tau keberadannya dan bisa berada di tempat ini pada saat yang tepat.
Kibum kembali dengan sebuah handuk berukuran sedang yang dibelinya dari mini market. Mengusak wajah dan rambut Kyuhyun yang sedikit basah. Kemudian beralih di kedua tangan adiknya. Menggosoknya sebentar hingga hangat.
"Lepas kaos kaki dan sepatumu. Aku akan membelikan kaos kaki dan sepatu ganti sebentar di samping toko ini."
Kyuhyun tidak melakukan apapun. Dia masih takjub dengan tingkah Kibum yang datang seperti seorang pahlawan.
"Apa Kibum bisa berteleportasi?" tanyanya pada rintik hujan yang merembes di kaca minimarket yang menjadi pemandangannya.
"Aku membeli topi, mantel dan sepatu karet juga kaos kaki. Ini tidak akan membuat kita basah jika kita memaksa menembus hujan." Jelas Kibum setelah kembali masuk ke dalam mini market.
"Aigoo, kau belum melepas sepatumu?"
Kibum berjongkok, melepas satu persatu sepatu milik Kyuhyun beserta kaos kakinya. Mengelapnya sebentar dengan handuk kering.
"Bum-bum, kau tau aku disini?" tanya Kyuhyun yang sudah tidak bisa mengendalikan rasa penasarannya.
"Tentu saja."
"Bagaimana bisa? Aku kan sedang kabur."
Kibum terkikik di bawah sana, namja itu tengah memasangkan kaos kaki baru sekarang. Diam-diam Kibum mentertawakan tingkah adiknya yang begitu polos.
"Kau kabur?"
Kyuhyun menutup mulutnya. Sadar bahwa baru saja dia mengakui sendiri tanpa sengaja bahwa hari ini dia sedang kabur.
"Bukannya kau sedang di Busan?"
Kibum berdiri setelah selesai memakaikan kaos kaki dan sepatu untuk adiknya kemudian beralih melepas sepatunya sendiri. Dan menggantinya dengan yang baru.
"Itu benar."
"Lalu?"
"Lalu apa?"
Kyuhyun mengurucutkan bibirnya, "Kau menyebalkan, Bum-bum."
Kibum tertawa kecil. Kyuhyun mendengar itu.
"Tunggu disini sebentar."
Kyuhyun tidak menyahut. Dia lebih memilih mengambil PSP dari dalam ranselnya dan memainkannya dalam diam. Tidak memperdulikan kemana Kibum pergi dan untuk apa.
"Segelas coklat panas dan roti coklat."
"Aku tidak mau." Tolak Kyuhyun masih sibuk dengan PSPnya.
"Ini sudah lewat makan siang. Kau butuh makan untuk meminum obatmu."
"Aku bilang tidak mau."
Kibum pasrah melihat Kyuhyun yang masih keukuh tidak mau menyentuh roti dan coklat panas yang dibelikannya tadi. Dan pada akhirnya Kibum memilih membuka roti coklat kesukaan adiknya, kemudian mengangsurkannya di depan mulut Kyuhyun.
Kibum tersenyum tipis sambil menggeleng saat tanpa sadar Kyuhyun justru menerima suapannya.
"Enak?" Tanyanya.
"Kibum! Kenapa kau menyuapiku?" Protes Kyuhyun yang baru sadar bahwa dirinya tengah mengunyah roti yang tadi ia tolak untuk di makan.
"Kenapa kau menggigit dan mengunyahnya jika tidak mau?"
Kyuhyun melipat tangannya di depan dada, "Karena aku tidak tahan dengan bau coklatnya."
"Itu artinya kau sedang lapar anak nakal."
"Berhenti memanggilku anak nakal. Mana rotimu?"
Kibum menunjuk roti yang masih terbungkus dengan gerak matanya. Roti keju kesukaannya. Kyuhyun membukanya dengan diam sambil sesekali menerima suapan roti coklat dari kibum.
"Buka mulutmu."
Kibum mengernyit saat Kyuhyun menyodorkan roti keju di depan mulutnya. Kibum yang mengerti segera menggigitnya dan mengunyahnya dengan senang hati.
"Enak?" Tanya Kyuhyun dengan mata berbinar. Kibum mengangguk.
"Kyu?"
"Ne? Wae?"
"Aku haus."
Kyuhyun mengambil segelas kopi ekspresso yang tadi di beli Kibum selain coklat panas miliknya. Mengangsurkan sedotannya tepat di mulut Kibum.
"Ahhh, rasanya hangat."
Kyuhyun tersenyum lebar saat Kibum menerima dengan baik suapannya.
"Sekarang giliranmu. Buka mulutmu."
Kyuhyun menurut, dan membuka mulutnya saat sedotan kecil yang terhubung dengan gelas berisi coklat panas diangsurkan padanya. Namja itu meminum beberapa teguk kemudian tertawa puas.
"Ini sangat enak. Bum-bum lain kali kita keluar saat hujan lagi dan membeli makanan yang sama, ne?"
"Tidak mau," tolak Kibum tegas.
"Waeyo?"
"Karena hari ini kau sangat nakal. Kau pergi dari rumah tanpa seijin ku."
"Tapi kau berhasil menemukanku." Protes Kyuhyun yang tidak terima dirinya disalahkan.
"Itu karena aku memasang GPS dan perekam suara di jam tanganmu."
Mata Kyuhyun melebar, dengan segera namja itu membuka jam tangannya dan memeriksa komponen di dalamnya.
"Kau sama seperti Heechul Hyung. Mengganggu privasiku!"
"Dan aku tidak peduli itu."
"Ishh, Kibum menyebalkan."
Kibum menggelengkan kepalanya. Dia tau Kyuhyun pintar, Kyuhyun tau apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Kyuhyun tau kemana dia harus pergi dan kemana dia harus pulang. Tetapi satu hal terpenting yang Kibum tau, bahwa Kyuhyun adalah anak yang ce-ro-boh.
"Jika tidak begitu kau akan hilang bodoh."
"Tidak akan, aku itu pintar, Kibum bodoh."
Kibum membalikkan tubuhnya menghadap Kyuhyun yang tengah memandang rintik hujan dari belakang kaca mini market.
"Jika kau pintar kemana tadi kau akan berjalan sebelum aku menemukanmu?"
Kyuhyun menoleh, memandang saudaranya itu dengan pandangan kau-bodoh-atau-apa?
"Tentu saja ke halte bus."
Kibum menjitak gemas kepala adiknya hingga Kyuhyun mengaduh.
"Kau berjalan ke arah pemberhentian Bus menuju Hakdong, daerah pegunungan, bukan Seoul."
Kibum menggelengkan kepala, sebenarnya dia sanksi dengan tittle genius yang dimiliki adiknya. Kyuhyun kadang memang sangat pintar, tetapi terkadang sangat polos, ceroboh dan gampang dibodohi.
"Jadi…."
"Jadi, kau itu sangat ceroboh. Jika aku tidak sampai disini tepat waktu. Aku bisa kehilanganmu. GPS tidak akan berkerja di daerah sana."
Kyuhyun menunduk malu. Kedua tangannya memilin milin tali jaketnya yang menjuntai ke bawah.
"Lain kali aku akan membawa peta," ungkapnya masih menunduk.
"Jadi kau masih berniat kabur lagi dengan membawa peta?"
Kyuhyun merutuki perkataan bodohnya. Ntahlah, sepertinya hari ini dia sudah cukup lelah hingga otaknya tidak bisa bekerja dengan benar.
"Kau memasang perekam suara di jam tanganku?"
"Lebih tepatnya penyadap."
Mata Kyuhyun membola. Jika Kibum melakukannya, itu berarti…
"Aku mendengar semuanya. Dan siapa Minji? Kenapa kau buru-buru ingin pulang setelah mengetahuinya?"
Kyuhyun menunduk, dia tidak berani bercerita tentu saja. Atau Kibum akan marah kepada Ryowook dan Kim Min Soo yang telah membuatnya tumbang kemarin.
"Aku hanya tau bahwa dia adalah pendonormu. Tapi kenapa tiba-tiba kau mencari tau tentangnya?"
Kibum benar-benar gemas karena Kyuhyun tak kunjung memberinya penjelasan. Bahkan dia tidak bisa membaca pikiran adiknya.
"Seseorang menemuimu?"
Kyuhyun memandang Kibum sejenak. Dia sudah berusaha menutup pikirannya tetapi kenapa Kibum bisa menebak seperti itu?
"Apa mereka meminta pertanggung jawabanmu?"
Kyuhyun masih tidak bereaksi, namun Kibum sudah mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa itu alasannya kenapa kau nekat mencari tau kenapa Minji mendonorkan jantungnya untukmu? Kau ingin menjelaskan kepada keluargannya bahwa semua yang mereka tuduhkan tidak benar?"
Kyuhyun akhirnya mengangguk.
"Apa mereka menyakitimu?"
"Ani, aniyo."
Kibum menautkan alisnya. Kyuhyun menjawab begitu cepat dan itu semakin membuatnya curiga.
"Kau berbohong. Mereka menyakitimu. Menyakiti perasaanmu." Nada bicara Kibum berubah dingin.
"Tapi mereka salah paham. Mereka melakukan itu karena mereka tidak tau yang sebenarnya. Mereka hanya tidak tau."
"Mereka?"
Kibum meremas kedua bahu Kyuhyun cukup keras, hingga adiknya itu meringis sakit.
"Jelaskan berapa orang yang menemuimu? Dan siapa mereka?"
Kyuhyun menatap takut-takut sorot mata Kibum yang begitu tajam dan dingin. Kemudian menggeleng.
"Mereka kesulitan karena kehilangan anggota kelarganya. Aku mohon jangan marah, Hyung."
'Hyung'?
Kibum tersadar, sorot matanya melembut saat melihat wajah Kyuhyun yang sudah ketakutan melihat kemarahannya. Hati seorang Park Kibum kembali melembut.
"Mianhae. Aku tidak memarahimu dan aku tidak akan marah kepada mereka."
Kibum menarik tubuh Kyuhyun ke dalam pelukannya. Menepuk pungguh tubuh ringkih terbalut jaket tebal itu penuh sayang.
"Tapi, bisakah kau menceritakannya?" Kibum melepaskan kembali pelukannya, menatap adiknya dengan sorot mata yang sangat lembut agar Kyuhyun dapat yakin dan tidak segan lagi untuk menceritakan rahasianya.
Kyuhyun menatap ragu sorot mata Kibum. Anak itu masih belum terlalu yakin untuk menceritakannya sekarang.
"Aku disini untuk membantumu. Aku tidak peduli apa yang kau bagi Kyu. Walaupun itu sangat menyakitkan, kau bisa membaginya dengan ku. Jika tidak, apa gunanya aku masih disini sebagai saudara kembarmu?"
Kyuhyun menggeleng keras, dengan satu gerakan tubuhnya sudah memeluk erat tubuh Kibum. "Tidak, jangan bicara seperti itu. Aku akan menceritakannya, tapi jangan bicara seperti itu."
Kibum menarik tubuhnya. Memandang mata Kyuhyun yang sudah basah oleh air mata. "Jadi apa kau siap bercerita?" Kibum mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Kyuhyun. Masih menunggu adiknya membuka suara dengan sabar.
"Ryeowook dan Han Saem. Mereka menemuiku kemarin.."
"Ryeowook adalah anak dari Minji Ahjumma. Dan Han Saem, nama sebenarnya adalah Kim Min Soo bukan Han Min Soo. Dia adalah adik Kim Minji. Mereka datang dan mengatakan tentang keluarga mereka. Ayah Ryeowook yang juga menjadi korban atas kesalahanku.."
Tangan Kyuhyun meremas satu sama lain. Rasa bersalah kembali merayapi perasaannya. Bagaimanapun jika operasi itu tidak dilakukan setidaknya Ayah Ryeowook masih hidup. Mungkin.
"Apa maksudmu, Kyu? Apa kesalahan yang kau perbuat?"
"Appa Ryeowook bunuh diri tidak lama setelah Minji Ahjumma meninggal. Mereka menginginkan jantung ini. Seharusnya jantung milik Minji Ahjumma tidak berada disini.."
Kibum segera menarik tangan Kyuhyun yang berusaha memukul-mukul dadanya sendiri.
"Kau jangan berbuat bodoh, Kyu."
"Aniyo. Semuanya salahku. Salahku hingga sekarang kau juga dalam bahaya, Kibum. Kau tau namja berjaket yang kita lihat di taman tempo hari. Namja yang juga hampir membunuhmu di kolam renang? Dia…"
"Dia mendatangimu?"
Kyuhyun mengangguk, "Dia Han Saem. Maksudku Kim Saem, Kim Min Soo."
Kyuhyun bisa melihat kedua tangan Kibum terkepal kuat hingga buku tangannya memutih. Giginya bergemelatuk menahan marah, namun tidak ada yang bisa Kibum lakukan sekarang sebelum dia bertemu dengan orang yang sudah membuatnya dan adiknya celaka.
"Kita harus melaporkannya ke Polisi. Mereka sudah bertindak kriminal dan hampir membunuhku dan juga dirimu, Kyu. Jika Hyungdeul tau, aku pastikan Han Saem dan Ryeowook akan mendapatkan hukumannya."
"Ani. Jangan lakukan itu, Bum. Kita tidak akan bisa melakukannya."
Kibum memandang dingin Kyuhyun yang masih menunduk.
"Han Saem dan Kim Minji, mereka adalah adik eomma. Kim Yuri Eomma."
"MWO?"
"Mereka tidak hanya membalaskan dendam atas kematian Minji Ahjumma. Tetapi juga membalaskan sakit hati karena kehilangan eomma hingga puluhan tahun. Juga tentang beasiswa Ryeowook."
Kibum semakin memicingkan matanya. Sebanyak apa sebenarnya dendam keluarga Kim pada keluarganya?
"Beasiswa? Apa maksudnya? Kita tidak pernah mengambil atau merecoki beasiswa siapapun"
"Kita memang tidak mengambilnya. Kita hanya tidak sengaja mengambilnya."
"Jelaskan dengan benar, Kyu!"
Kyuhyun sedikit meringis saat tangan Kibum menekan bahunya dengan kuat.
"Sakit… Bum-bum."
Kibum yang tersadar segera melepaskan tangannya. "Ryeowook tidak berasal dari keluarga mampu. Sehingga dia harus mengejar beasiswa untuk bersekolah. Tetapi, beasiswa itu selalu bergilir untuk kita berdua. Kita tidak menyadari bahwa ada orang lain yang lebih membutuhkannya. Tidakkah kesalahan kita begitu banyak Kibum?"
Kibum menggelengkan kepalanya. Tanpa sadar tangan besarnya memukul meja hingga retak. Hal itu tak luput oleh perhatian karyawan mini market dan pengunjung yang datang. Namun Kibum tidak mempedulikan itu.
"Tidak Kyu, itu bukan kesalah kita. Beasiswa di sekolah kita bukanlah beasiswa yang berlaku seperti di sekolah lain. Jika memang ingin bersaing untuk mendapatkan beasiswa, yang dijadikan patokan adalah otak bukan uang. Pihak sekolah memberikan persyaratan khusus, mereka tidak pernah melihat latar belakang calon penerima beasiswa. Mereka hanya akan melihat prestasi dan penghargaan yang pernah didapat. Bukan yang lain," jelas Kibum dengan emosi yang menggebu.
"Jadi semuanya hanya salah paham. Dan tentang eomma, tidak seharusnya mereka menyalahkan kita. Semua bermula dari keluarga Lee. Jungsoo Hyung pernah bilang jika kita saat itu hanyalah anak kecil yang tidak tau apa-apa dan tidak meminta untuk dilahirkan dari sebuah dendam. Semuanya tidak ada kaitannya. Kau paham?"
Kibum mengangkat kepala Kyuhyun yang masih menunduk. Wajah Kyuhyun sudah benar-benar basah oleh air mata yang ntah sejak kapan mengalir begitu deras. Tangan Kibum mengusap air mata yang masih mengalir disana. Mengambil sebuah sapu tangan dari saku jaketnya dan membersihkan air mata yang bercampur dengan keringat.
"Ada yang sakit? Apa aku membuatmu terkejut?" tanya Kibum panik.
Kyuhyun mengangguk. Dia terkejut ketika Kibum tiba-tiba memukul meja tadi. Itu cukup keras dan berhasil membuat jantungnya berdenyut sakit.
"Mianhae, mianhae." Kibum mengedarkan pandangannya. Dan baru disadari, hampir semua pengunjung tengah memperhatikannya. Ntah sejak kapan.
"Bum-bum, apa semuanya akan berakhir dengan baik?"
Pandangan Kibum kembali terfokus pada Kyuhyun yang tengah memandangnya penuh harap.
"Tentu saja."
-SF-
Kibum dan Kyuhyun tiba di kediaman Park saat waktu menujukkan pukul 8 malam. Ada beberapa mobil yang terparkir di teras. Dan ada 2 mobil yang tidak dikenali Kibum.
Kyuhyun berjalan sambil menuntun Kyuhyun yang setengah mengantuk. Anak itu tertidur di sepanjang penjalanan pulang tadi. Dan Kibum tak habis pikir dengan Kyuhyun saat adiknya itu mengeluarkan sebuah guling kecil saat mengantuk di dalam bus tadi. Hingga memasuki pintu utama, adiknya itu masih setia memeluk guling kecil bermotif Pinguin dengan erat.
"Kibumie, Kyuhyunie!"
Kibum dan Kyuhyun sama-sama mendongak. Ada banya orang disana. Ada Hyungdeul, Yuri, Hangeng, Victoria, Changmin, Sungmin, Yunho dan Im Saem.
"Eomma."
Yuri berjalan cepat dan menarik tubuh kedua anaknya ke dalam pelukannya.
"Kalian kemana saja eoh? Berniat meninggalkan eomma? Begitu?" Yuri tidak tahan lagi untuk tidak memberi pelajaran kepada ke dua anaknya.
Kedua namja itu mengaduh kesakitan saat Yuri menarik telinga Kibum dan juga Kyuhyun. Walaupun masih berurai air mata, yeoja itu masih tak ingin melepaskan hukuman kecilnya kepada ke dua anaknya yang hari ini seukses membuatnya panik setengah mati.
"Eomma, ini sakit,"protes Kibum disertai ringisan.
"Hyungdeul, duwajuseoyo!" Kyuhyun bahkan sudah berteriak-teriak meminta pertolongan kepada ke 4 Hyungnya. Tidak ada yang bereaksi kecuali Siwon si baik hati. Namun Heechul mencegah namja berhati lembut itu untuk menolong adik kembarnya.
"Eomma, aku menyayangimu. Jebal, lepaskan ini eomma. Aku pernah operasi telinga 2 tahun lalu."
Yuri refleks melepaskan kedua tangannya di telinga Kyuhyun dan Kibum. Dipandanginnya si bungsu yang masih meringis kesakitan. Kemudian beralih memandang ke empat namja yang masih tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Apa benar Jungsoo-ah?"
"Ne. Infeksi telinga kiri. Kyuhyunie melakukan operasi 2 tahun yang lalu saat libur musim panas."
Yuri kembali berbaik menatap kedua anak kembarnya. Mata yeoja itu kembali berkaca-kaca melihat kedua anaknya yang masih mengelus-elus telinga masing-masing yang berwarna merah akibat dari ulah tangannya.
"Minhae. Apa sangat sakit?"
"Appo appo appo," ungkap keduanya serentak. Yang membedakan hanyalah ekpresi. Jika Kibum mengatakannya dengan ekspresi yang biasa saja, maka Kyuhyun mengatakannya dengan wajah yang dibuat semelas mungkin. Tidak lupa jurus mata berkaca-kaca.
"Kibumie, kau membuat Im-ssi panik karena menghilang dari pengumuman Olimpiade, untung saja kau memperoleh medali emas, jika tidak Hyung pasti akan menghukum mu. Dan kau setan kecil…"
Heechul menunjuk Kyuhyun dengan wajah menakutkan.
"Kau membuat Yunho bersujud-sujud di depan kami karena merasa bersalah kehilanganmu tanpa jejak. Apa yang kau lakukan hingga ke Ulsan?"
Kibum dan Kyuhyun tak menjawab. Keduanya saling melirik satu sama lain, berbicara dengan hati bersama Yuri tentu saja.
"Eomma. Kami lelah," ungkap Kibum dengan wajah yang dibuat selesu mungkin.
"Ne eomma. Napasku sesak, tas ini sangat berat," ungkap Kyuhyun kemudian.
Yuri yang mengerti ide jail kedua anaknya langsung menoleh ke arah beberapa orang disana. Menghitung dengan akurat kira-kira berapa pasukan yang bisa ia kerahkan.
"Jungsoo, buatkan kopi dan coklat panas. Heechul, bawakan tas uri adeul ke dalam kamar masing-masing dan siapkan baju ganti di atas tempat tidur. Donghae, siapkan air hangat untuk mandi. Siwon dan Sungmin-goon, kedua anakku sangat lelah, pasti tubuhnya pegal-pegal. Bagaimana dengan pijatan untuk mereka setelah mandi? Changminie, tolong antarkan Donghae, dia akan takut jika sendirian. Hangeng dan Yunho, tolong periksa kedua anakku. Apa mereka baik-baik saja setelah mereka selesai membersihkan diri nanti. Xian-ah, bantu eomma memasak ne? Dan Im-ssi, maaf membuat anda repot dengan semua ini, kau bisa pulang sekarang."
Mendadak seisi rumah itu begitu ramai oleh protes, gerutuan dan lainnya. Im Saem yang tidak memiliki kepentingan langsung meminta izin untuk mengundurkan diri. Dan berbahagialah Kibum dan Kyuhun malam ini, keduanya mendapatkan pelayanan gratis setelah perjalanan panjang dan melelahkan yang mereka lakukan sepanjang hari ini.
"Aku baru sadar bahwa neo eomma lebih evil daripada kau setan kecil. Yak..yak appo."
Semuanya tertawa saat Heechul mendapatkan sebuah tarikan kecil di telinganya. Yuri sebagai pelaku tertawa keras, disambut oleh sorakan Kyuhyun yang tampak bahagia melihat Hyungdeulnya menderita malam itu.
Kegiatan itu berlanjut hingga tengah malam. Kibum dan Kyuhyun tertidur di sofa besar dengan posisi saling berhadapan. Yuri menyisipkan guling kecil milik Kyuhyun ditengahnya. Victoria memilih tidur di kamar tamu sejak tadi. Jungsoo, Heechul, Siwon, Donghae, Changmin dan Hangeng tertidur di atas karpet berbulu dengan posisi kaki saling menindih satu sama lain. Yunho sendiri sudah meminta izin untuk tidak menginap dan pulang 1 jam yang lalu.
Yuri melihat pemandangan di depan matannya dengan mata berkaca-kaca. Dia kembali teringat sebuah email yang masuk siang tadi. Mulai dari situ dia sedikit banyak tau bahwa pengirim email tersebut tak lain adalah keluarganya. Keluarga yang tanpa sengaja sudah mengantarkannya ke dalam kesengsaraan sejak ia kecil.
Yuri-ah, Kim Yuri.
Kami sudah lama menemukanmu.
Tapi kau berubah. Kau bukan Yuri kami.
Bahkan kau mengambil milik Minji untuk anak bungsumu.
Mengenai anak bungsumu. Kami menemuinya.
Kau tau kami sangat membecinya bukan?
Apa kau tidak bisa melepaskannya saja anak itu kepada kami?
Kami hanya ingin Minji kami yang ada dalam tubuhnya kembali.
Kedua anakmu. Kami membecinya
Mereka selalu membuat keluarga kita sulit.
Kembalilah Yuri-ah.
Mata Yuri kembali memanas. Dipandanginya wajah Kyuhyun yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Anak itu tidak pernah bisa bernapas hanya mengandalkan hidung. Napasnya pasti akan sesak.
"Kau mencari tau sendirian, eoh?" Yuri mengelus puncak kepala Kyuhyun. Mencium keningnya sebentar sebelum kembali menatap wajah yang tengah tertidur pulas itu.
"Mianhae. Semuanya akan segera berakhir. Eomma berjanji akan memberi kekuatan lebih untukmu dan Kibumie. Kalian harus bertahan hingga saat itu tiba."
-SF-
Keesokan harinya keributan terjadi di kediaman keluarga Park. Seorang Shim Changmin dengan suara melengkingnya sudah berteriak-teriak semenjak bangun tidur karena lupa tidak membawa tas, buku dan seragam sekolah untuk dipakai hari ini. Untung saja seorang penyelamat yang tidak lain adalah supir pribadi keluarganya datang untuk mengantarkan kebutuhannya. Jika tidak, sudah dipastikan telinga Keluarga Park, Hangeng dan Victoria yang juga ada di sana bisa terserang tuli di usia muda.
"Setan kecil, makan sayurmu!" teriak Heechul setiap kali melihat Kyuhyun menyisihkan sayuran yang hanya masuk sedikit di dalam mangkuknya.
"Tidak mau."
Kyuhyun masih sibuk membolak-balik isi mangkuknya agar tidak ada satu sayur pun yang tersisa.
"Kau belum makan dan sibuk dengan sayuran yang hanya sehelai. Makanlah dengan benar," Victoria ikut menimpali. Kyuhyun bukannya sibuk mencari sayur. Dia hanya sedang tidak nafsu makan. Perutnya mual seperti di aduk. Dia khawatir akan memuntahkannya jika memaksa untuk makan.
"Kau tidak suka masakan, Eomma?" tanya Yuri yang langsung mendapatkan respon dari Kyuhyun.
"Aniyo, bukan seperti itu Eomma."
"Makanlah barang sedikit. Kau harus meminum obatmu"
Kyuhyun merengut melihat beberapa butir obat yang diangsurkan Kibum. Hyung kembarnya itu selalu melakukan hal yang lama setiap acara makan berlangsung.
"Eomma akan pulang setelah ini. Kalian boleh datang ke rumah kapan saja kalian mau."
Kyuhyun kembali meletakkan sumpitnya. Padahal tadi anak itu hampir menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
"Eomma tidak disini saja?" tanyanya.
Yuri tersenyum, kemudian melirik Victoria, "Wu Xian masih di China, Hangeng kemungkinan akan pulang malam. Xian tidak akan ada yang menemani jika eomma disini."
"Jika memang begitu, eomma dan Victoria menginap saja disini. Tidak baik jika wanita berada di rumah sendiri."
"Aku setuju dengan Jungsoo Hyung," ungkap Kibum dengan suara yang membuat Victoria merinding.
"Itu benar. Eomma dan Noona menginap saja disini, ne?"
Salahkan Kyuhyun yang tengah menunjukkan wajah imutnya hingga pipinya sudah habis di ciumi dan dicubit oleh Hyungdeul, termasuk Changmin. Jangan lupakan matanya yang mengerjab kebingungan.
"Aigoo, hentikan ekspresi itu," Siwon menutup matanya rapat-rapat. Namja itu paling tidak tahan untuk tidak mencium Kyuhyun. Perbuatan Siwon langsung emngundang gelak tawa anggota keluarga lainnya.
"Hyungdeul, apa aku juga boleh menginap disini lagi?" tanya Changmin antusias.
"ANDWE!"
Kyuhyun tertawa keras saat melihat wajah Changmin yang kebingungan ditambah dengan mulut yang seperti bakpao karena terlalu banyak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Kyuhyun kemudian memeluk Changmin yang masih terlihat kebingungan.
"Hyungdeul hanya tidak ingin isi kulkas kami habis," bisiknya di telinga Changmin. Changmin menoleh, mendapati Kyuhyun yang tengah tersenyum dan menepuk kedua bahunya berusaha memberi pengertian.
"PARK HYUNGDEUL, KALIAN SANGAT PELIT!"
Pagi itu berakhir dengan kemenangan Changmin. Namja itu dijanjikan mendapatkan banyak makanan dan boleh menginap asalkan mau menghentikan raungan yang membuat telinga penghuni rumah keluarga Park sakit. Kyuhyun sempat mendapat teguran karena memancing teriakkan Changmin dan membuat Hyungdeulnya harus merugi banyak pengeluaran untuk bulan ini. Namun melihat senyum Kyuhyun yang begitu lebar, membuat Hyungdeul terutama Jungsoo si pelit menjadi luluh.
-SF-
Suasana kelas saat belajar mengajar sangat kondusif. Semuanya tenang dan mendengarkan dengan baik. Salah satu kelas unggulan tingkat kedua yang telah menjadi incaran oleh semua pengajar setiap ada lomba, kompetisi dan olimpiade untuk mengikut sertakan kebanyakan dari penghuni kelas itu untuk berpartisipasi.
Tok
Tok
Terdengar ketukan sebanyak dua kali yang berhasil menarik perhatian seluruh penghuni kelas. Di ambang pintu terlihat Guru Lee yang tengah meminta maaf kepada guru pengajar karena telah mengganggu proses belajar mengajar. Yeoja cantik itu memperhatikan seisi kelas, kemudian tersenyum untuk permisi setelah memanggil Ryeowook keluar kelas. Hal tersebut berhasil menyedot perhatian Park bersaudara. Semua siswa tau, semua yang berurusan dengan Guru Lee adalah anak-anak yang tidak jauh dari masalah keuangan sekolah atau beasiswa. Mendadak keduanya khawatir. Pasti ada sesuatu dengan Ryeowook.
"Kalian sudah mendengarnya?" tanya Guru Kang di tengah acara mengajarnya. Seorang murid laki-laki mengangkat tangannya.
"Ku dengar Ryeowook akan dikeluarkan dari sekolah karena tidak bisa memenuhi biaya administrasi sekolah tahun ini dan tahun kemarin. Dan tentang mencontek…"
Guru Kang mengangguk, "Rupanya kabar ini sudah menyebar dengan cepat."
Kyuhyun yang tidak mengetahui apapun menyikut perut Changmin, "Apa ada masalah selama aku tidak masuk kemarin?" bisiknya. Changmin mendekatkan wajahnya, membalasnya dengan berbisik.
"Ne. Ujian semester lalu, pengawas menemukan cctv yang memperlihatkan Ryeowook sedang mencontek. Padahal anak itu sedang mengajukan beasiswa untuk kesekian kalinya. Dia juga tidak bisa memenuhi biaya administrasi sekolah."
Kyuhyun terdiam. Dia sudah tau kesulitan keluarga Ryeowook. Tapi dia tidak tau jika semuanya menjadi serumit ini.
Jangan berfikir macam-macam. Kyuhyun mendengar peringatan Kibum. Ia mendapati saudara kembarnya itu tengah berbalik menatapnya. Kyuhyun hanya mampu tersenyum dan mengangguk, berusaha meyakinkan Kibum bahwa dia tidak akan memikirkan apapun lagi.
-SF-
Ryeowook tak kunjung kembali ke kelas hingga jam istirahat tiba. Kyuhyun yang memang tidak tenang sejak tadi memutuskan untuk mencarinya. Terlepas dari pandangan Kibum yang tengah menghadap Im Saem untuk mengambil medali yang tidak sempat ia bawa kemarin. Sebenarnya ada Changmin dan Victoria, tetapi Kyuhyun lebih cerdik dan mampu berkilah dari keduanya dengan mudah.
Kyuhyun menemukannya. Di atap sekolah, di tempat yang sama 2 hari yang lalu ketika Ryeowook dan Han Saem menemuinya. Namja bertubuh mungil itu tidak melakukan apapun selain berdiri di depan pembatas atap yang dibagian atasnya terdapat pagar besi yang tinggi menjulang. Kyuhyun tidak berfikir bahwa Ryeowook akan bunuh diri, karena pembatas itu tidak cukup pendek jika digunakan untuk melompat.
"Wook-ah," sapanya. Kyuhyun berjalan mendekat. Dia tidak peduli apa yang akan Ryeowook lakukan. Kyuhyun hanya ingin memastikan bahwa namja itu baik-baik saja.
"Gwaenchana?" tanyanya hati-hati.
Ryeowook masih diam, tak berniat merespon ataupun menoleh.
"Aku tidak tau kau mengalami hal sesulit ini. Apa kau baik-baik saja?" tanyanya berharap kali ini Ryeowook akan memberikan respon.
"Tidak. Aku hanya akan baik-baik saja jika Eomma dan Appa masih disini," ujar Ryeowook dingin. Kyuhyun menunduk. Dia mengerti kesulitan Ryeowook berawal karena kedua orang tuanya meninggal dan tentu saja itu membuat kehidupannya menjadi sulit.
"Apa kau bisa mengembalikannya?"
"Ne?"
Ryeowook bergerak menghadap Kyuhyun yang berdiri di sampingnya. Mata namja itu memerah, tetapi tidak menangis.
"Kalian…kenapa kalian selalu egois? Kalian tidak pernah memikirkan bagaiamana sulitnya keluargaku. Aku, halmoeni dan haraboeji. WAE?"
Ryeowook mendorong tubuh Kyuhyun hingga terjatuh ke belakang. Kyuhyun meringis saat lengannya yang ia gunakan untuk menumpu tubuhnya terasa ngilu dan perih. Ternyata ada potongan beton disana. Beruntung bukan kepalanya yang terantuk.
"Harusnya aku bisa membayarnya hari ini. Tetapi kau egois. Kau selalu egois!"
Ryeowook yang tidak tahan lagi segera melayangkan kepalan tangannya di wajah pucat Kyuhyun. Tidak peduli dengan apa yang akan dia dapat nanti jika keluarga Park mengetahui adik bungsu kesayangan mereka terluka.
Kyuhyun meringis menahan denyutan di rahangnya yang merambat hingga kepala. "Aku tidak mengerti…apa maksudmu?"
Ryeowook tampak semakin geram, terlihat dari sorot matanya dan rahangya yang mengeras.
"Kau pikir siapa supir Kim dan pelayan Kim yang ada di rumahmu?"
Kyuhyun terhenyak. Kim ahjumma dan Kim ahjussi. Tentu dia mengenalnya. Dan salahkan otak Kyuhyun yang tidak memahami keadaan sekitarnya. Ternyata selama ini hampir seumur hidupnya dia dikelilingi oleh orang-orang bermarga Kim yang memiliki dendam kepadanya.
"Kau menghilang kemarin, dan semua maid di rumahmu kembali diliburkan dengan alasan yang egois. Asal kau tau saja seharusnya 2 hari yang lalu semua maid sudah menerima gaji. Aku, haraboeji dan halmoeni masih bersabar karena keesokan harinya mereka akan kembali berkerja dan mendapatkan gajinya untuk menambah kekurangan biaya sekolahku di kesempatan terkahirku hari ini. Tetapi apa yang kau lakukan Park bodoh?!"
Satu pukulan kembali melayang di perut Kyuhyun, membuat namja itu terbatuk beberapa kali.
"Kau menghilang dan membuat maid belum diperbolehkan kembali. Kalian tidak memikirkan bagaimana kesulitanku. Kau egois bodoh! Aku kehilangan Eomma dan Appa karena mu. Dan sekarang, aku kehilangan pendidikan juga karena mu. Kau SIALAN!"
Belum sempat Ryeowook melayangkan kepalan tangannya. Namja itu sudah dikejutkan dengan Kyuhyun yang tiba-tiba muntah. Ada bercak darah yang tercampur dengan cairan bening disana. Ryeowook berani bersumpah bahwa dia tidak melakukan apapun selain memukul rahang dan perut Kyuhyun. Tapi reaksi tubuh Kyuhyun benar-benar di luar dugaannya.
"Akh..urghh.." Kyuhyun masih merintih dan terus memuntahkan isi perutnya berikut bercak-bercak darah disana. Ryeowook kalut, dia panik tentu saja.
"Kyuhyun-ah, apa yang terjadi?" tanyanya panik. Tangannya berusaha menarik tubuh Kyuhyun untuk duduk bersandar di pembatas atap.
"Bum..h..hyung. Akh..a..appo."
Ryeowook tampak berpikir, reaksi Kyuhyun sama dengan reaksi orang yang terkena racun Ethyline Glycol. Dengan cekatan Ryeowook memeriksa pergelangan tangan Kyuhyun. Tidak ada bekas suntikan disana. Pasti terjadi sesuatu sebelum Kyuhyun datang menemuinya.
"KIM RYEOWOOK!"
To Be Continue
Maafkan saya. Lebih dari 1 minggu, tepatnya 9 hari
Semoga masih banyak yang nunggu dan baca.
Aku sempet worried banget, takut kalau reviewnya berkurang kalo aku updatenya lamaa…
Tapi mohon mengerti, aku bener-bener kehilangan ide
Sepertinya SF akan segera saya buat ending karena saya udah punya konsep buat ff selanjutnya
FFnya masih seputar KiHyun kembar+Heechul, brothership pasti, dan….kalian bisa baca kalo SF udah ending hehehehe
Untuk part ini sudah dibikin 30 page sebagai permintaan maaf karena udah molor lumayan lama
Semoga suka, dan jangan lupa review yaaaaa?
Ketik 'lanjut' aja di kolom review juga nggak apa-apa, yang penting keliatan kalau kalian baca dan aku juga jadi tau siapa aja yang memperhatikan FF ku hehehhe
See you on the next chapter. Love Youuuuu readers!
