Pertama-tama, terima kasih kepada yang sudah mau mereview, fav, dan follow. Terima kasih banyak, ya!

LutfiyaR benar-benar berterima kasih pada Cocoa2795 dan Hikage Natsuhimiko-san yang selalu mereview cerita-cerita saya. Sebagai tanda terima kasih, cerita ini ditujukan untuk kalian berdua, meskipun kalian mungkin tidak tau anime mirai nikki. Membuat cerita yang ditujukan untuk seseorang itu terasa lebih berarti.

Chapter kali ini menceritakan episode terakhir Mirai Nikki jadi bagi yang belum lihat animenya silahkan memencet tombol Back.

~o~o~o~

Disclaimer : I do not own Katekyo Hitman Reborn and Mirai Nikki

Dedicated to : Cocoa2795 and Hikage Natsuhimiko

~o~o~o~

"Tsu-kun, aku mencintai siapapun yang bisa membuatku bergantung kepadanya dan kau mencintai siapapun selama orang itu melindungimu."

Tsuna membuka mulut memanggil nama gadis berambut oranye yang sudah menjungkir balikkan hidupnya. Tapi, suaranya tidak keluar.

Penjara yang dipenuhi dengan kebahagiaan itu perlahan menutup dan Tsuna telah terperangkap di dalamnya.

~o~o~o~

Saat mendengar kata-kata gadis kecil itu, Kyoko merasa sulit bernafas.

Gadis yang masih tidak mengerti betapa kejamnya dunia itu berkata dengan polosnya bahwa dia mencintai keluarganya.

Dulu sekali, Kyoko juga pernah menjadi gadis baik dan polos. Bagaimana dia bisa menjadi seperti ini?

Kyoko menggertakkan gigi. "Tapi, aku punya seseorang yang harus kutemui!"

Untuk bertemu dengan orang itu, gadis kecil yang tebaring tak berdaya itu harus mati.

"Apa kau..." gadis kecil itu berbisik.

Kyoko yang siap untuk maju, menghentikan langkahnya.

"...punya seseorang kau cintai juga?"

~o~o~o~

Kedua orang tuanya sudah berjalan mendahuluinya. Tsuna hanya perlu mengikuti mereka. Dengan begitu impiannya melihat bintang bersama keluarganya bisa terkabulkan.

Tapi, kakinya tidak bisa digerakkan.

"Tsu-kun?"

Kenapa kakinya tidak mau bergerak?

"Ada apa, Tuna-fish?"

Oh, benar juga. Pasti karena perasaan ini.

"Maaf, tou-san, kaa-san," Perasaan yang sejak tadi memenuhi dadanya sekarang bergejolak seakan bisa meledak kapan saja. "Ternyata, aku memang tidak bisa pergi."

"Kenapa tidak?"

"Bukankah kau sudah menunggu saat ini?"

Tsuna menatap lurus kedepan tanpa ekspresi sementara kedua orang tuanya berdiri diam menunggu jawaban.

"Aku merasa ada hal penting yang harus kulakukan sekarang. Jadi..."

~o~o~o~

"Aku ingin bertemu dengan Tsu-kun..."

Kyoko melihat layar handphonenya. Semua kata-kata yang tertulis disana berisi tentang laki-laki yang dia cintai.

"Itu benar... Karena itu aku harus membunuhmu..."

Bunuh.

Demi Tsuna, Kyoko akan membunuhnya.

Demi Tsuna, Kyoko akan membunuh dirinya dari dunia ini.

Kyoko mengayunkan pisaunya. Sebelum ujung pisau itu bisa menusuk targetnya, seseorang datang menghalangi.

"Kyoko..." Laki-laki dewasa itu bergumam pelan. Suara yang tidak asing itu membuat Kyoko terhuyung-huyung mundur.

"Tou-san..."

~o~o~o~

"Ya, aku merasa ada sesuatu yang harus aku lakukan."

"Tsu-kun."

"Aku tidak terlalu yakin apa itu, tapi bukan berarti aku tidak ingin pergi."

Titik-titik air mulai berkumpul di sudut matanya.

"Apa ini tentang gadis itu?" tanya ayahnya. Tsuna tersentak kaget.

"Gadis yang kau sukai, tapi tidak bisa kau ingat namanya," ibunya melanjutkan.

Saat itu juga Tsuna tau. Kedua orang tuanya mengerti. Semua kejadian ini sangat membingungkan dan mengguncang pikiran, tapi mereka mengerti.

~o~o~o~

"Kyoko!"

Kyoko melihat wanita yang pernah menguncinya ke dalam kandang sekarang berlari kearah dirinya yang lain. "Kaa-san..."

Sepasang suami istri itu memeluk anak perempuan mereka.

Mereka bertiga terlihat seperti keluarga. Kyoko selalu percaya hari seperti saat ini akan datang. Tapi, hari itu tidak pernah datang untuknya.

"Kenapa?" Kyoko membisikkan kata itu pelan.

"Aku akan menyelamatkannya meski itu artinya mengubah masa depan dunia ini."

Benar, mereka pasti bisa berkumpul bersama karena Tsuna mengubah masa depan.

Bibir Kyoko bergetar. Air mata membasahi pipinya.

Tsu-kun memang luar biasa.

~o~o~o~

"Kami dipihakmu, Tuna-fish."

"Bagaimanapun juga, kau adalah anak kami."

Nana dan Iemitsu tersenyum. Tidak ada penyesalan atau amarah. Mereka berdua menatap kedepan dengan penuh keyakinan. Tsuna terdiam.

"Kau akan mengingat namanya."

"Kau seharusnya bisa mengingatnya sekarang, Tsu-kun. Karena dia begitu berharga sampai kau lebih memilihnya daripada impianmu yang telah hilang."

"Tou-san... Kaa-san..."

"Pergilah, Tuna-fish."

"Ikuti kata hatimu."

Tsuna menarik nafas. Lalu, dengan sekuat tenaga menerikkan nama wanita yang dia cintai.

~o~o~o~

"Aku cemburu..." Kyoko menatap kedua orang tuanya yang bergetar ketakutan. "Baik, aku akan membunuh kalian bertiga bersama."

~o~o~o~

"...n!"

Retakan besar muncul.

~o~o~o~

Gadis kecil yang sekarang terbaring di pelukan ayahnya itu pernah bertanya, 'Apakah kau punya seseorang yang kau cintai juga?'

"Ya, aku sangat mencintai Tsu-kun," Kyoko mengangkat pisau setinggi dadanya. Setelah sekian lama, dia akhirnya bisa tersenyum bahagia.

~o~o~o~

"...chan!"

Tanah tempatnya berpijak retak.

~o~o~o~

"Aku menyukai Tsu-kun."

~o~o~o~

"K...-chan!"

Semuanya, termasuk orang tuanya, retak.

~o~o~o~

"Aku sangat menyukai Tsu-kun."

Kyoko berjalan maju.

~o~o~o~

"Kyo...-chan!"

Impiannya telah retak.

~o~o~o~

"Aku mencintai Tsu-kun," Kyoko mengayunkan pedangnya. "Jadi, meskipun aku harus mati..."

~o~o~o~

"KYOKO-CHAN!"

Seluruh tempat yang dipenuhi kebahagiaan itu retak.

~o~o~o~

"Tsu-kun..."

Hal berikutnya yang Kyoko tau, Tsuna muncul dan memeluknya.

"Kyoko-chan..." Tsuna membisikkan namanya dengan emosi yang tidak bisa dia pahami.

"Kenapa?" Tidak ada lagi yang bisa Kyoko pahami.

"Aku datang untuk menyelamatkanmu."

"Aku tidak percaya ini," Kyoko meletakkan kepalanya di bahu Tsuna. "Kau lebih memilihku daripada dunia yang dipenuhi mimpi indah."

"Kyoko-chan, bunuh aku sekarang."

Kyoko tersentak. Di balik bahu Tsuna, dia bisa melihat keluarga kecil yang bahagia.

"Kau sudah mengerti, benarkan? Kau bukan milik dunia ini," Tsuna mengeratkan pelukannya. "Jadi aku akan mati dan membuatkan tempat untukmu."

Handphonenya berbunyi. Masa depan telah berubah.

"Aku mengerti, jika itu memang yang kau inginkan."

Salju-salju turun dari langit malam.

"Aku telah membunuh banyak orang. Tapi, aku tidak bisa membunuhmu."

"Kau sangat bodoh, Tsu-kun," Untuk sekian kalinya, Kyoko mengayunkan pisaunya. Tapi, ini adalah yang terakhir.

Suara tusukannya bisa terdengar jelas.

"Kenapa?"

Kyoko memutuskan untuk menusuk dirinya sendiri.

"Aku akan tetap disini."

"Kenapa?"

"Sudah kubilang, kan," Tubuh Kyoko terjatuh lemas. "Aku tidak akan menusukmu."

"Kyoko-chan!" Tsuna menangkapnya. Handphonenya yang berisi diary masa depan dibiarkan tergeletak. Diantara kalimat-kalimat disana ada dua kata yang paling menonjol.

[DEAD END]

"Itu adalah masa depan."

"Itu..." Suara Tsuna bergetar.

Kyoko tersenyum. "Cium aku, Tsu-kun."

Tsuna mengangguk. Kepala mereka mendekat. Saat bibir Kyoko menyentuh milik Tsuna, dia bisa memastikannya.

Ini adalah tempatku.

"Kau semakin bagus dalam berciuman, ya..."

Pikiran Kyoko menjadi buram. Dia berusaha tetap sadar. Setidaknya, biarkan dia memanggil namanya satu kali lagi.

"...Tsu-kun."

~o~o~o~

"Kita tidak punya banyak waktu, [First]," Pelayan Checker Face menarik kerah bajunya. "Kita akan melompati waktu sekarang juga."

Tubuh Tsuna melayang meninggalkan mayat Kyoko, gadis yang dicintainya.

"Tunggu sebentar!" Tsuna hanya bisa meratap dan membiarkan tubuh kekasihnya menjauh. "Kyoko-chan..."

Kyoko-chan sudah... tidak ada lagi...

"KYOKO-CHAN!"

~o~o~o~

A/N : Sengaja hanya memasukkan Tsuna, Kyoko, dan pelayan Checker Face yang saya tidak ketahui namanya. LutfiyaR tidak bisa menentukan pemeran lainnya.

Jadi, hanya tokoh dibawah ini yang LutfiyaR tau :

Tsunayoshi-Yukiteru

Kyoko-Yuno

Checker Face-Deus Ex Machina

Pelayan Checker Face-MuruMuru

Lalu, yang jadi Akise adalah Gokudera dan Haru yang menjadi Tsubaki alias Sixth. Meskipun mereka berdua tidak diceritakan disini.

Pertanyaan hari ini : Mungkin mina-san mau membantuku menentukan pemeran lainnya?